SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Bisnis pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur
Oleh :
VICTOR SUBAY NPM. 0842010009
YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS
PENGARUH VARIABEL-VARIABEL RASIO KEUANGAN
TERHADAP KINERJ A KEUANGAN PERUSAHAAN
(Studi Pada PT. Inti Kapuas Arowana Tbk yang Listing di Bursa Efek Indonesia)
Disusun Oleh :
VICTOR SUBAY NPM. 0842010009
Telah disetujui untuk mengikuti Ujian Skripsi
Menyetujui,
Pembimbing Utama
Dr. J OJ OK D, S.Sos, M.Si NPT. 370119500421
Mengetahui,
DEKAN
segala karunia serta rahmat-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul “Pengaruh Variabel-Variabel Rasio Keuangan Terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Pada PT Inti Kapuas Arowana
Tbk Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia).”
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih kepada Dr. Jojok. D, S.Sos, M.Si selaku dosen pembimbing yang
telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan
petunjuk sehingga terselesaikannya skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis
juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Dra. Hj. Suparwati, Dra. M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Dra. Lia Nirawati, M.Si, selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi
Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Dra. Siti Ning Farida, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu
Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
4. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran “
6. Semua pihak yang berperan serta dalam penulisan laporan ini.
Dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis menyadari
banyak kekurangan, untuk itu, penulis senantiasa bersedia dan terbuka dalam
menerima saran dan kritik yang bersifat membangun.
Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga
Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan petunjuk bagi kita semua.
Amin.
Surabaya, Desember 2012
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
ABSTRAKSI ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II LANDASAN TEORI ...10
2.1 Penelitian Terdahulu ...10
2.2 Landasan Teori ...12
2.2.1 Manajemen Keuangan ...13
2.2.2.2 Jenis-Jenis Saham ...16
2.2.2.3 Karakteristik Saham ...17
2.2.2.4 Keuntungan dan Resiko Saham ...20
2.2.3 Laporan Keuangan ...22
2.2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan ...22
2.2.3.2 Tujuan dan Pemakaian Laporan Keuangan ...23
2.2.3.3 Karakteristik Laporan Keuangan ...24
2.2.3.4 Bentuk-Bentuk Laporan Keuangan ...25
2.2.3.5 Keterbatasan Laporan Keuangan ...26
2.2.4 Analisis Laporan Keuangan ...27
2.2.4.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan ...27
2.2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan ...28
2.2.5 Analisis Rasio Keuangan ...29
2.2.5.1 Pengertian Analisis Rasio Keuangan ...29
2.2.5.2 Jenis-Jenis Rasio Keuangan ...30
2.2.6 Kinerja Keuangan ...37
2.2.6.1 Pengertian Kinerja Keuangan ...37
2.2.6.2 Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan ...38
2.2.7 Variabel-Variabel Rasio Keuangan Yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan Perusahaan ...39
Perusahaan ... 40
2.2.7.3 Pengaruh Quick Ratio Terhadap Kinerja Keuangan
Perusahaan ... 40
2.2.7.4 Pengaruh Working Capital to Total Assets Ratio Terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan ... 40
2.2.7.5 Pengaruh Total Debt to Equity Ratio Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 40
2.2.7.6 Pengaruh Total Debt to Total Capital Assets Terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan ... 41
2.2.7.7 Pengaruh Long Term Debt to Equity Ratio Terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan ... 41
2.2.7.8 Pengaruh Tangible Assets Debt Coverage Terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan ... 41
2.2.7.9 Pengaruh Times Interest Earned Ratio Terhadap
Kinerja Keuangan Perusahaan ... 42
2.2.7.10 Pengaruh Total Assets Turnover Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 42
2.2.7.11Pengaruh Receivable Turnover Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 43
2.2.7.12 Pengaruh Average Collection Period Terhadap Kinerja
2.2.7.14 Pengaruh Average Days Inventory Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 44
2.2.7.15 Pengaruh Working Capital Turnover Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 44
2.2.7.16 Pengaruh Gross Profit Margin Terhadap Kinerja Keuangan
Perusahaan ... 44
2.2.7.17 Pengaruh Operating Profit Margin Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan... 45
2.2.7.18 Pengaruh Operating Ratio Terhadap Kinerja Keuangan
Perusahaan ... 45
2.2.7.19 Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Kinerja Keuangan
Perusahaan ... 45
2.2.7.20 Pengaruh Rate of Return on Total Assets Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 46
2.2.7.21 Pengaruh Rate of Return on Investment Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 46
2.2.7.22 Pengaruh Rate of Return on Net Worth Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan ... 47
2.3 Kerangka Berpikir ... 47
3.2 Populasi, Sampel Dan Teknik Sampling ... 60
3.2.1 Populasi dan Sampel ... 60
3.2.2 Teknik Penarikan Sampling ... 61
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 61
3.4 Uji Asumsi Klasik ... 61
3.5 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 65
3.5.1 Teknik Analisis ... 65
3.5.2 Uji Hipotesis ... 66
DAFTAR PUSTAKA
Keuangan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Pada PT. Inti
Kapuas Arowana Tbk yang Listing di Bursa Efek Indonesia).
Analisis rasio keuangan merupakan analisis yang paling banyak digunakan untuk menunjukkan tingkat keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan, serta
memberi gambaran kelemahan dan kemampuan financial perusahaan dari tahun
ketahun.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh baik secara simultan dan parsial variabel-variabel rasio keuangan terhadap variabel Kinerja keuangan perusahaan(Y).
Populasi penelitian ini adalah laporan neraca dan laba rugi PT. Inti Kapuas Arowana Tbk. sejak berdiri pada tahun 2007 sampai dengan sekarang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi PT. Inti Kapuas Arowana Tbk. pada periode 2007 – 2011
dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan
dengan teknik dokumentasi dan analisis data yang digunakan analisis regresi linier berganda.
Berdasarkan hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa dari 22 variabel bebas hanya 3 variabel yang dimasukkan dalam analisis data karena 19 variabel bebas lainnya terbukti terjadi multikolinieritas sehingga dikeluarkan dari analisis
data dalam model penelitian ini. Adapun ketiga variabel tersebut adalah Current
Ratio (X1), Working Capital Turnover (X15), dan Rate of Return on Investment
(X21). Berdasarkan hasil dari analisis regresi linier berganda dapat diketahui
bahwa baik secara simultan dan parsial variabel Current Ratio (X1), Working
Capital Turnover (X15), dan Rate of Return on Investment (X21) berpengaruh
signifikan terhadap variabel Kinerja keuangan perusahaan(Y). Variabel Rate of
Return on Investment (X21) merupakan variabel bebas yang memiliki pengaruh
yang paling dominan terhadap variabel kinerja keuangan perusahaan (Y).
Victor Subay, NPM. 0842010009, Variables Influence Financial Ratios
The purpose of this study was to determine the effect of both simultaneously and partial financial ratio variables on financial performance variables (Y). The population of this research is the balance sheet and profit and loss PT. Inti Kapuas Arowana Tbk. since its establishment in 2007 until now. The sample used in this study are the financial statements of the balance sheet and income statement PT. Inti Kapuas Arowana Tbk. in the period 2007 - 2011 using purposive sampling technique. Data collection was done by using the documentation and analysis of the data used multiple linear regression analysis.
Based on the test results show that the classical assumption of 22 independent variables only 3 variables included in the data analysis because the 19 other independent variables shown to occur multicollinearity thus excluded from data analysis in this research model. The three variables are Current Ratio (X1), Working Capital Turnover (x15), and the Rate of Return on Investment (X21). Based on the results of multiple regression analysis can be seen that both variables simultaneously and partially Current Ratio (X1), Working Capital Turnover (x15), and the Rate of Return on Investment (X21) a significant effect on a company's financial performance variables (Y). Variable Rate of Return on Investment (X21) is a free variable that has the most dominant influence on a
company's financial performance variable (Y).
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dunia usaha agrobisnis di Indonesia berkembang dengan sangat pesat
akhir-akhir ini, termasuk diantaranya usaha penangkaran ikan hias arwana asia
(Scleropages Formosus), khususnya arwana jenis super red. Penyebaran arwana
super red, hanya ada di Kalimantan Barat, terdapat di Kapuas Hulu (Sungai Tawang, Sungai Puyam, Sungai Seriang), dan danau-danau di Kalimantan Barat
(Danau Aji, Danau Saih, Danau Maid, Danau Siluk). Ikan hias arwana super red
yang banyak dikenal juga sebagai ikan Naga atau ikan Kayangan banyak memikat
masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri. Pemanfaatan arwana umumnya
untuk pets sebagai sarana hobi, warna sisik yang cerah, gerakan yang lamban
tetapi anggun, dan liukan tubuh yang indah bisa menjadi obat stres bagi yang
memandangnya. Harga jenis super red di pasaran dalam negeri ukuran 10
sentimeter sekitar Rp, 4 - 5 juta. Itupun tergantung kualitas, sedangkan harga
pasaran luar negeri umumnya lebih besar sekitar dua kali lipat. Statusnya sebagai
hewan yang dilindungi dalam The Convention on International Trade In
Endangered Species (CITES) Appendix I menunjukkan betapa langkanya ikan hias yang diyakini sebagai salah satu peninggalan jaman purbakala ini. Status
Appendix I dalam CITES berarti ikan ini termasuk dalam daftar tumbuhan dan satwa liar yang sudah langka. Pemanfaatannya harus diawasi secara ketat, yaitu:
untuk konservasi, pendidikan, dan ilmu pengetahuan. Bukan semata-mata untuk
CITES melalui Keputusan Presiden RI nomor 43 tahun 1978, yang selanjutnya membawa konsekuensi perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilaksanakan
pemerintah Indonesia harus mengikuti ketentuan-ketentuan CITES. Sebagai
pelaksana Otoritas Pengelola CITES di Indonesia adalah Departemen Kehutanan
sesuai Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 1999. Banyaknya permintaan
(demand) akan ikan jenis ini dan langkanya ketersediaan di habitat aslinya
membuat banyak usaha penangkaran ikan hias arwana super red bermunculan di
Indonesia pada era awal tahun 2000-an. Maraknya usaha penangkaran membuat
arwana menjadi komoditi komersial. Pasarannya dari lokal hingga internasional.
Hingga kini, jumlah penangkar ikan arwana mencapai 172 unit, yang tersebar di
empat kabupaten: Ketapang, Pontianak, Sintang, dan Kapuas Hulu. Di Kapuas
Hulu, banyak masyarakat yang menangkar arwana skala rumah tangga. Secara
perizinan, usaha ini tergolong ilegal. Mereka memiliki keengganan mengurus izin
karena usahanya skala kecil dengan jumlah induk yang tak banyak. Belum lagi
waktu mengurus izin cukup lama dengan birokrasi yang berbelit-belit.
Dari sisi pemodalan, usaha penangkaran arwana perlu dana yang besar.
Untuk bibit indukan penangkaran yang matang secara kelamin dengan umur
empat tahun, harganya berkisar Rp. 25 juta-Rp. 30 juta per ekor. Pembuatan
kolam mencapai Rp. 50 juta per kolam siap pakai. Hal ini menunjukkan bahwa
memiliki kemampuan menangkarkan ikan arwana dengan benar bukan menjadi
satu-satunya jaminan bahwa bisnis penangkaran dan perdagangan ikan arwana
akan berhasil, namun juga diperlukan modal yang kuat dan manajemen keuangan
yang sangat baik untuk dapat bertahan dalam bisnis ini. Oleh karena itu banyak
daya saing dan efisiensinya. Untuk tujuan tersebut maka perusahaan
membutuhkan dana yang relatif besar. Ada berbagai cara untuk dapat
mendapatkan dana, dan PT. Inti Kapuas Arowana Tbk adalah satu-satunya
perusahaan penangkaran dan perdagangan ikan Arwana yang berusaha
mendapatkan tambahan modal melalui menjual sebagian besar sahamnya di pasar
modal.
Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen
keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan seperti saham, obligasi,
reksadana dan waran. Pasar modal tersebut mempertemukan pihak yang
membutuhkan dana jangka panjang dan pihak yang membutuhkan sarana investasi
terpercaya dan prospektif. Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian
suatu negara karena pasar modal mempunyai fungsi untuk meningkatkan efisiensi
dalam perekonomian.
Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal. Membeli suatu
saham mempunyai resiko cukup yang tinggi dibandingkan dengan investasi
lainnya. Terutama resiko yang ada di saham lapis bawah. Sehingga informasi
mengenai kinerja suatu saham ini sangat dibutuhkan oleh para investor sebagai
bahan pertimbangan didalam menginvestasikan dananya pada suatu saham di
pasar modal para investor memerlukan tolak ukur atas kinerja suatu saham.
Kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor
internal. Pengaruh dari faktor eksternal antara lain valas, inflasi, dan suku bunga.
Pengaruh dari faktor internal dapat dilakukan dengan cara melalui perhitungan
rasio keuangan perusahaan. Rasio keuangan merupakan informasi penting dari
disajikan kinerja keuangan PT. Inti Kapuas Arowana Tbk kurun waktu selama 4
(empat) tahun, yaitu sebagai berikut:
Tabel 1.1. Kinerja Keuangan PT. Inti Kapuas Arowana Tbk Tahun 2008-2011
No. Tahun Laba Bersih
Sumber : Laporan Keuangan PT. Inti Kapuas Arowana Tbk periode Tahun 2007 - 2011 (data diolah)
Bedasarkan tabel 1.1. di atas, dapat diketahui bahwa kinerja keuangan
perusahaan PT. Inti Kapuas Arowana Tbk kurun waktu selama 4 (empat) tahun
menujukan kecendurungan penurunan kinerja keuangan perusahaan kecuali pada
tahun 2009 kinerja keuangan perusahaan PT. Inti Kapuas Arowana Tbk
peningkatan yang sangat signifikan yaitu sebesar 179,70%.
Sawir (2005) mengemukakan bahwa analisis laporan keuangan sangat
dibutuhkan untuk memahami informasi laporan keuangan. Analisis rasio
keuangan merupakan alternatif untuk menguji apakah informasi keuangan
bermanfaat untuk melakukan klasifikasi atau prediksi terhadap harga saham.
Analisis rasio keuangan didasarkan pada data keuangan historis yang tujuan
utamanya memberikan suatu indikasi kinerja perusahaan pada masa yang akan
Ada empat jenis rasio keuangan yaitu rasio likuiditas (Current Ratio, Cash Ratio, Quick Ratio, dan Working Capital to Total Assets Ratio), rasio leverage (Total Debt to Equity Ratio,Total Debt to Total Capital Asset,Long Term Debt to Equity Ratio, Tangible Assets Debt Coverage,Time Interest Earned Ratio), rasio
aktivitas (Total Asset Turnover Ratio, Receivable Turnover, Average Collection
Period, Inventory Turnover ,Average Days Inventory, Working Capital Turnover), dan rasio profitabilitas (Gross Profit Margin, Operating Profit Margin, Operating Ratio, Net Profit Margin, Rate of Return on Total Assets, Rate of Return on Investment, Rate of Return on Net Worth).
Analisa laporan keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan
dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan hasil operasi
perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan untuk menentukan
estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja
perusahaan pada masa mendatang. Pada penelitian kali ini penulis menggunakan
analisa rasio keuangan karena hasil analisis rasio keuangan akan lebih informatif
dan relevan bagi para pengambil keputusan maupun bagi para pemakai laporan
keuangan secara keseluruhan.
Analisa rasio keuangan adalah perbandingan antara dua/kelompok data
laporan keuangan dalam satu periode tertentu, data tersebut bisa antar data dari
neraca dan data laporan laba rugi. Tujuannya adalah memberi gambaran
kelemahan dan kemampuan finansial perusahaan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut di atas, maka dalam
-Variabel Rasio Keuangan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi
Pada PT Inti Kapuas Arowana Tbk Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia).”
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut, rumusan masalah penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Apakah variabel-variabel rasio keuangan yang terdiri dari Current Ratio
(X1), Cash Ratio (X2), Quick Ratio (X3), Working Capital to Total Assets
Ratio (X4), Total Debt to Equity Ratio (X5), Total Debt to Total Capital Assets (X6), Long Term Debt to Equity Ratio (X7), Tangible Assets Debt
Coverage (X8), Times Interest Earned Ratio (X9), Total Assets Turn Over
(X10), Receivables Turnover (X11), Average Collection Period (X12), Inventory
Turnover (X13), Average Day Inventory (X14), Working Capital Turnover
(X15), Gross Profit Margin (X16), Operating Profit Margin (X17), Operating
Ratio (X18), Net Profit Margin (X19), Rate of Return on Total Assets (X20),
Rate of Return on Investment (X21 ), Rate of Return on Net Worth (X22 ) secara simultan berpengaruh terhadap kinerja keuangan PT. Inti Kapuas
Arowana Tbk. ?
2. Apakah variabel-variabel rasio keuangan yang terdiri dari Current Ratio
(X1), Cash Ratio (X2), Quick Ratio (X3), Working Capital to Total Assets
Assets (X6), Long Term Debt to Equity Ratio (X7), Tangible Assets Debt
Coverage (X8), Times Interest Earned Ratio (X9), Total Assets Turn Over
(X10), Receivables Turnover (X11), Average Collection Period (X12), Inventory
Turnover (X13), Average Day Inventory (X14), Working Capital Turnover
(X15), Gross Profit Margin (X16), Operating Profit Margin (X17), Operating
Ratio (X18), Net Profit Margin (X19), Rate of Return on Total Assets (X20),
Rate of Return on Investment (X21 ), Rate of Return on Net Worth (X22 ) secara parsial berpengaruh terhadap kinerja keuangan PT. Inti Kapuas
Arowana Tbk. ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan variabel-variabel rasio keuangan
yang terdiri dari Current Ratio (X1), Cash Ratio (X2), Quick Ratio (X3),
Working Capital to Total Assets Ratio (X4), Total Debt to Equity Ratio (X5),
Total Debt to Total Capital Assets (X6), Long Term Debt to Equity Ratio
(X7), Tangible Assets Debt Coverage (X8), Times Interest Earned Ratio
(X9), Total Assets Turn Over (X10), Receivables Turnover (X11), Average
Collection Period (X12), Inventory Turnover (X13), Average Day Inventory
Profit Margin (X17), Operating Ratio (X18), Net Profit Margin (X19), Rate of
Return on Total Assets (X20), Rate of Return on Investment (X21 ), Rate of Return on Net Worth (X22 ) terhadap kinerja keuangan PT. Inti Kapuas Arowana Tbk.
2. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel-variabel rasio keuangan
yang terdiri dari Current Ratio (X1), Cash Ratio (X2), Quick Ratio (X3),
Working Capital to Total Assets Ratio (X4), Total Debt to Equity Ratio (X5),
Total Debt to Total Capital Assets (X6), Long Term Debt to Equity Ratio
(X7), Tangible Assets Debt Coverage (X8), Times Interest Earned Ratio
(X9), Total Assets Turn Over (X10), Receivables Turnover (X11), Average
Collection Period (X12), Inventory Turnover (X13), Average Day Inventory
(X14), Working Capital Turnover (X15), Gross Profit Margin (X16), Operating
Profit Margin (X17), Operating Ratio (X18), Net Profit Margin (X19), Rate of
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis
terkait dengan pengembangan ilmu Administrasi Bisnis utamanya teori
Manajemen Keuangan yang terkait dengan variabel-variabel rasio keuangan yang
mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.
1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh manajemen
perusahaan sebagai dasar menetapkan kebijakan keuangan yang berhubungan
dengan variabel-variabel rasio keuangan yang mempengaruhi kinerja keuangan
perusahaan serta kaitannya dengan meningkatnya harga saham. Bagi investor
hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
pengambilan keputusan berinvestasi pada saham di pasar modal, terutama yang
berhubungan dengan variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja keuangan
perusahaan.
Selain bermanfaat untuk manajemen perusahaan dan investor, penelitian
ini juga dapat dipakai sebagai bahan referensi untuk penelitian yang akan datang
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang menguji pengaruh rasio keuangan terhadap kinerja
keuangan perusahaan telah banyak dilakukan, namun penelitian yang
menganalisis dan menguji pengaruh rasio keuangan terhadap kinerja keuangan
perusahaan terutama pada perusahaan penangkaran dan perdagangan ikan arwana
belum ditemukan dalam publikasi-publikasi ilmiah. Oleh karena itu, dibawah ini
akan disajikan secara ringkas hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan
variabel-variabel dalam penelitian ini.
Sujiati Putri (2002). Penelitian yang berjudul “Evaluasi Kinerja
Perusahaan dengan Analisis Rasio Keuangan PT. Komatsu Indonesia Periode
1998-2002”. Pengukuran ini menggunakan analisis rasio keuangan yang meliputi
rasio likuiditas (current ratio, quick ratio, cash ratio), rasio solvabilitas (total debt to equity ratio, total debt to total Asset ratio), ratio aktivitas (inventor turn over ratio, total Assets turn over, fixed Asset turn over ratio, day sales outstanding),
rasio profitabilitas (gross profit margin, net profit margin, return on Investment,
return on equity). Penelitian ini diharapkan dapat diidentifikasi kelebihan, kelemahan dan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi guna mencapai suatu
perbaikan kinerja ke arah yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa rasio likuiditas PT. Komatsu Indonesia secara keseluruhan dalam keadaan
yang aman dan menunjukkan peningkatan yang berarti bagi perusahaan, begitu
bahwa perusahaan mempunyai kemampuan kemampuan untuk membayar utang.
Sedangkan profitabilitas cenderung mengalami penurunan yang disebabkan oleh
kecil laba yang dihasilkan perusahaan dan kerugian yang dialami perusahaan.
Rasio aktivitas yang cederung mengalami penurunan yang kenaikan penjualan
yang tidak sebanding dengan total aktiva dan modal kerja.
Berdasarkan uraian diatas, bahwa penelitian Sujiati Putri (2002) dengan
penelitian ini memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan yaitu menggunakan
analisis rasio keuangan yang meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio
aktivitas, rasio profitabilitas dan rasio nilai pasar atau secara keseluruhan
menggunakan 16 variabel sebagai variabel penelitian. Dan perbedaannya yaitu
pada perusahaan yang diteliti. Penelitian Sujiati Putri (2002) menguji dan
menganalisis rasio keuangan PT. Komatsu Indonesia Periode 1998-2002,
sedangkan pada penelitian ini melakukan penelitian pada perusahaan kategori
perusahaan lapis kedua yang listing di BEI periode 2006-2009.
Riyadi Arie (2006). Penelitian yang berjudul “Analisis Rasio Keuangan
Sebagai Alat untuk Menilai Kinerja keuangan Pada Perusahaan Asuransi
Kerugian yang Go Publik Di Bursa Efek Indonesia”. Permasalahan yang diambil
adalah apakah rasio Early Warning System mampu memprediksi kinerja keuangan
pada perusahaan Asuransi kerugian yang go publik di Bursa Efek Indonesia.
Hipotesis yang diambil adalah diduga bahwa 14 rasio Early Warning System
dapat memprediksi kinerja keuangan di masa yang akan datang. Hasil penelitian
ini adalah bahwa diantara 14 rasio early warning system yang diajukan dalam
memprediksi kinerja keuangan di masa yang akan datang tidak terbukti
sebenarnya.
Penelitian Riyadi Arie (2006) berjudul “Analisis Rasio Keuangan Sebagai
Alat untuk Menilai Kinerja keuangan Pada Perusahaan Asuransi Kerugian yang
Go Publik Di Bursa Efek Indonesia” dengan penelitian ini juga memiliki
persamaan dan perbedaan. Persamaannya yaitu menggunakan analisis rasio
keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan yang listing BEI.
Perbedaannya yaitu penelitian Riyadi Arie (2006) menggunakan 14 variabel
sebagai variabel penelitian dan berfokus pada perusahaan asuransi, sedangkan
pada penelitian ini menggunakan 16 variabel sebagai variabel penelitian dan
berfokus pada perusahaan lapis kedua yang listing di BEI.
2.2 Landasan Teori
Tujuan utama dari suatu perusahaan adalah meningkatkan kemakmuran
pemilik perusahaan (pemegang saham) yang ditunjukkan oleh meningkatnya nilai
perusahaan yang tercermin dari harga saham perusahaan. (Husnan, 2004 : 54).
Untuk mencapai semua hal itu, terlebih dahulu investor melakukan evaluasi
kinerja keuangan pada perusahaan yang telah listing di Bursa Efek Indonesia
(BEI). Banyaknya saham perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia membuat
investor harus mencermati variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja
2.2.1 Manajemen Keuangan
2.2.1.1 Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan adalah manajemen yang mengkaitkan pemerolehan
(acquitition), pembiayaan atau pembelanjaan (financing) dan manajemen aktiva dengan tujuan secara menyeluruh dari suatu perusahaan. Selain itu, manajemen
keuangan juga dapat diartikan sebagai semua kegiatan atau aktivitas perusahaan
yang bersangkutan dengan usaha mendapatkan dana yang dibutuhkan oleh
perusahaan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut se-efisien
mungkin.(Sartono, 2001 : 2).
Ruang lingkup manajemen keuangan terdiri dari :
1. Pembicara tentang keputusan-keputusan dalam bidang keuangan yaitu
keputusan investasi, keputusan pembelanjaan dan kebijaksanaan
deviden dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan atau
memaksimumkan kemakmuran pemegang saham.
2. Pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen keuangan yaitu penggunaan
dana dan memperoleh dana, melalui keputusan-keputusan investasi,
pembelanjaan dan kebijaksanaan deviden agar nilai perusahaan
meningkat.
2.2.1.2 Fungsi dan Tujuan Manajemen Keuangan
A. Fungsi Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan dapat didefinisikan dari tugas dan tanggung
jawab manajer keuangan. Tugas pokok manajemen keuangan antara
lain meliputi keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha
manajer keuangan adalah merencanakan untuk memaksimumkan nilai
perusahaan. (Moeljadi, 2006 : 9)
Keputusan dalam manajemen keuangan antara lain :
1. Keputusan investasi (Investment decision)
Keputusan ini meliputi penentuan aktiva riil yang dibutuhkan untuk
dimiliki perusahaan.
2. Keputusan pembelanjaan (Financing decision)
Keputusan yang berkaitan dengan bagaimana mendapatkan dana
yang akan digunakan untuk memperoleh aktiva riil yang
diperlukan.
3. Keputusan manajemen aktiva
Keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan atau penggunaan
aktiva dengan efisien (biasanya lebih memperhatikan manajemen
aktiva lancar (kas, piutang, dan pendanaan).
B. Tujuan Manajemen Keuangan
Pada dasarnya tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan
nilai perusahaan. Akan tetapi dibalik tujuan tersebut masih terdapat
konflik antara pemilik perusahaan dengan penyedia dana sebagai
kreditur. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan
akan meningkat, sedangkan nilai hutang perusahaan dalam bentuk
obligasi tidak terpengaruh sama sekali. Jadi dapat disimpulkan bahwa
nilai dari saham kepemilikan bisa merupakan indeks yang tepat untuk
maka tujua manajemen keuangan dinyatakan dalam bentuk
memaksimalisasi nilai saham perusahaan atau memaksimalisasi harga
saham. (Sartono, 2001 : 6)
Tujuan perusahaan adalah memaksimumkan nilai perusahaan dengan
pertimbangan sebagai berikut :
1. Memaksimumkan nilai bermakna lebih luas daripada
memaksimumkan laba, karena memaksimumkan nilai berarti
mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang.
2. Memaksimumkan nilai berarti mempertimbangkan berbagai resiko
terhadap arus pendapatan perusahaan.
3. Mutu arus dana yang diharapkan diterima di masa akan datang
yang mungkin beragam.
2.2.2 Saham
2.2.2.1 Pengertian Saham
Saham adalah tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan
dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas. Wujud saham adalah selembar
kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik
perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. (Darmadji dan Fakhrudin,
2001 : 5).
Menurut Suad Husnan (2004 : 29) sekuritas merupakan secarik kertas yang
menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk
sekuritas tersebut, dan bagian kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut
menjalankan haknya.
Saham merupakan salah satu bagian dari beberapa alternatif yang dapat
dipilih untuk berinvestasi. Dengan membeli saham suatu perusahaan, berarti telah
menginvestasikan dana dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dari hasil
penjualan kembali saham tersebut.
2.2.2.2 J enis-J enis Saham
Saham merupakan suatu hak kepemilikan dari perusahaan yang diperjual
belikan. Adapun saham dibagi menjadi dua yaitu saham biasa dan saham preferen.
(Darmadji dan Fakhruddin, 2001 : 6)
A. Saham Biasa
Saham biasa adalah saham yang tidak memperoleh hak istimewa.
Pemegang saham biasa mempunyai hak untuk memperoleh dividen
sepanjang perseroan memperoleh keuntungan. Pemilik saham mempunyai
hak suara pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) sesuai dengan
jumlah saham yang dimilikinya (one share one vote). Pada likuidasi
perseroan, pemilik saham memiliki hak memperoleh sebagian dari
kekayaan setelah semua kewajiban dilunasi.
Saham biasa (common stock) merupakan salah satu jenis efek yang paling
banyak diperdagangkan di pasar modal. Bahkan saat ini dengan semakin
banyaknya emiten yang mencatatkan sahamnya di bursa efek, perdagangan
saham semakin marak dan menarik para investor untuk terjun dalam jual
bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun institusi dalam suatu
perusahaan. Apabila seorang investor membeli saham, maka ia akan
menjadi pemilik dan disebut sebagai pemegang saham perusahaan
tersebut. Saham biasa ada dua jenis yaitu
1. Saham atas nama yaitu nama pemilik saham tertera di atas saham
tersebut.
2. Saham atas unjuk yaitu nama pemilik saham tidak tertera di atas saham,
tetapi pemilik saham adalah yang memegang saham tersebut. Seluruh
hak-hak pemegang saham akan diberikan pada penyimpan saham
tersebut.
B. Saham Preferen
Saham preferen merupakan saham yang diberikan atas hak untuk
mendapatkan dividen dan/ atau bagian kekayaan pada saat perusahaan
dilikuidasi lebih dahulu dari saham biasa, di samping itu mempunyai
preferensi untuk mengajukan usul pencalonan direksi/ komisaris.
2.2.2.3 Karakteristik Saham
Setiap saham memiliki karakter tersendiri, tetapi secara garis besar saham
dapat dibedakan berdasarkan sebagai berikut :
A. Kapitalisasi Pasar
Kapitalisasi pasar merupakan perhitungan dari harga saham dikalikan
dengan jumlah lembar saham yang beredar di pasar (bursa). Berdasarkan
1. Saham berkapitalisasi besar.
Saham-saham yang berkapitalisasi besar ini sering disebut dengan
saham unggulan Blue Chip atau saham papan atas. Yang masuk ke
dalam kategori ini biasanya saham yang kapitalisasi pasarnya
mencapai lebih dari 10 triliun Rupiah. Ciri-cirinya adalah perusahaan
tersebut memiliki fundamental yang bagus. Selain itu, perusahaan ini
juga memiliki kinerja yang kuat, bergerak di bidang industri yang
dibutuhkan orang banyak, mampu mencetak untung besar, dan rutin
membagikan dividen.
2. Saham berkapitalisasi sedang
Yang termasuk ke dalam kategori ini biasanya memiliki kapitalisasi
pasar dalam jumlah yang sedang antara 1 milyar - 10 triliun Rupiah.
Biasanya saham-saham ini dikenal juga dengan sebutan Second Linier
atau saham lapis kedua. Biasanya yang termasuk ke dalam kategori ini
adalah saham-saham perusahaan yang fundamental perusahaannya
cukup bagus, tapi masih dalam prospek berkembang. Tingkat
keaktifan saham ini relatif stabil di lantai bursa tetapi tidak menutup
kemungkinan ada saham lapis kedua yang sangat aktif
diperdagangkan.
3. Saham berkapitalisasi kecil.
Jumlah saham yang kapitalisasinya kecil di bursa cukup banyak.
Saham-saham ini dikenal dengan sebutan saham Third Linier atau
saham lapis ketiga. Biasanya, saham-saham di lapis ketiga ini
harganya pun pada umumnya cenderung murah. Selain itu, biasanya
saham-saham yang kapitalisasinya kecil jarang disentuh oleh para
pemegang saham. Alhasil, saham-saham seperti ini lebih sering tidur
daripada bergerak.
B. Likuiditas
Likuiditas suatu saham akan mempengaruhi mudah tidaknya
mendapatkan saham atau menjual saham. Berdasarkan likuiditas,
karakteristik saham dibagi menjadi :
1. Saham Berlikuiditas Tinggi.
Saham yang tingkat likuiditasnya tinggi akan mempermudah investor
untuk mendapatkan dan ingin menjual saham tersebut, biasanya ada
pembeli yang siap menampung saham tersebut. Saham-saham yang
tergolong kategori ini adalah saham-saham yang berkapitalisasi pasar
besar dan fundamental yang bagus. Tapi, tidak semua saham
berfundamental bagus likuiditasnya tinggi. Ada sebuah perusahaan
memiliki fundamental yang bagus, tapi sahamnya tidak likuid.
2. Saham Musiman (cyclical stock).
Biasanya, saham-saham seperti ini baru akan bergerak aktif, jika ada
kejadian tertentu yang mempengaruhi kondisi bisnis pada saham
tersebut, baik itu kejadian politik atau ekonomi. Misal : saham pada
PT Matahari Putra Prima. Saham emiten yang berkode MPPA ini
biasanya bergerak aktif saat musim liburan atau menjelang Hari Raya.
Biasanya, pada saat seperti itu orang akan belanja besar-besaran.
3. Saham Tidur.
Saham-saham ini likuiditasnya sangat rendah dan baru bisa bergerak
kalau ada suatu aksi korporasi atau suatu berita yang terkait dengan
eksistensi emitennya. Bahkan, pergerakannya bisa sangat drastis dan
informasi yang ada mengenai perusahaan tersebut seringkali hanya
berupa rumor saja. Akibatnya, saham tidur ini biasanya sering jadi
sasaran gorengan.
2.2.2.4 Keuntungan dan Resiko Saham
A. Keuntungan
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2001 : 8-10) pada dasarnya ada dua
keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham
yaitu :
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan
dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen
diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam
RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka
pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu
yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada
dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak
mendapatkan dividen.
Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai artinya
dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham atau dapat pula berupa
dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan
dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang
pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham
tersebut.
2. Capital Gain
Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual saham,
apabila harga penjualan diatas harga pembeliannya. Capital gain
terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar
sekunder.
B. Resiko Saham
1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana
investor menjual saham lebih rendah dari harga beli.
2. Resiko Likuidasi
Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh
Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak
klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh
kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan
perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan
perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional
kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa
kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh
dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut
untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan
perusahaan.(Darmadji dan Fakhruddin, 2001 : 11).
2.2.3 Laporan Keuangan
2.2.3.1 Pengertian Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2007 : 2), laporan keuangan adalah hasil dari proses
akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data
keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang
berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.
Laporan keuangan yang dihasilkan oleh pihak manajemen suatu
perusahaan merupakan hasil akhir dari proses atau kegiatan-kegiatan akuntansi
yang dilakukan oleh perusahaan. laporan keuangan dibuat untuk
mempertanggungjawabkan kegiatan perusahaan terhadap pemilik dan memberi
informasi mengenai posisi keuangan yang telah dicapai perusahaan. Laporan
keuangan adalah suatu laporan tertulis yang merupakan bentuk pandangan secara
wajar mengenai posisi keuangan., kinerja dan arus kas perusahaan yang
bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka
membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka
(IAI, 2002).
Melalui laporan keuangan itu, secara periodik dilaporkan informasi
1. Informasi mengenai sumber-sumber ekonomi, kewajiban dan modal
perusahaan.
2. Informasi mengenai perubahan-perubahan dalam sumber-sumber
ekonomi netto atau kekayaan bersih (modal = aktiva dikurangi
kewajiban), yang timbul dari aktivitas perusahaan dalam rangka
memperoleh laba.
3. Informasi mengenai hasil usaha perusahaan yang dapat dipakai
sebagai dasar untuk menilai dan membuat estimasi tentang
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.
4. Informasi mengenai perubahan sumber-sumber ekonomi dan
kewajiban yang disebabkan oleh aktivitas pembelanjaan dan investasi.
5. Informasi penting lainnya yang berhubungan dengan lapran keuangan,
seperti kebijaksanaan akuntansi yang dianut oleh perusahaan.
2.2.3.2 Tujuan dan Pemakaian Laporan Keuangan
Ikatan Akuntansi Indonesia dalam PSAK (Prosedur Standar Akuntansi
Keuangan) paragraf 12 mengemukakan tujuan dari laporan keuangan adalah
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.(IAI, 2002)
Tujuan dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang
menyangkut posisi keuangan, kenerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar pemakai dalam pengambilan
2.2.3.3 Karakteristik Laporan Keuangan
Karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas yang
membuat informasi dalam keuangan tersebut berguna bagi pemakai dalam
pengambilan keputusan ekonomi. Terdapat empat karakteristik pokok kualitatif
lapran keuangan menurut IAI (2002 ; 6-10) yaitu :
1. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan
adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh para pemakai.
Dalam hal ini, para pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang
memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan
untuk mempelajari informasi kompleks yan seharusnya dimasukkan dalam
laporan keuangan tidak dapa dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan
bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai
tertentu.
2. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan
pemakai dalam proses pengambilan keputusan, informasi memiliki
kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai
dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini
atau masa depan, menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di
masa lalu.
3. Keandalan
dapat diandalkan pemakaiannya sebagai penyajian yang tulus dan jujur
dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat
disajikan.
4. Dapat dibandingkan
Pemakai harus dapat mempertimbangkan laporan keuangan perusahaan
antar periode untuk mengidentifikasikan kecenderungan posisi dan kinerja
keuangan. Pemakai juga harus dapat membandingkan laporan keuangan
antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan secara relatif. Oleh
karena itu pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan
peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk
perusahaan yang berbeda.
2.2.3.4 Bentuk-Bentuk Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2007 : 13-14) Laporan keuangan suatu perusahaan
biasanya terdiri atas 4 jenis laporan :
1. Neraca adalah daftar yang sistematis dari aktiva, utang dan modal pada
tanggal tertentu, yang biasanya dibuat pada akhir tahun. Disebut sebagai daftar
yang sistematis, karena neraca disusun berdasarkan urutan tertentu. Dalam
neraca dapat diketahui berapa jumlah kekayaan perusahaan, kemampuan
perusahan membayar kewajiban serta kemampuan perusahaan memperoleh
tambahan pinjaman dari pihak luar. Selain itu, dapat diperoleh informasi
tentang jumlah utang perusahaan kepada kreditur dan jumlah investasi pemilik
2. Laporan rugi laba adalah ikhtisar mengenai pendapatan dan beban suatu
perusahaan untuk periode tertentu, sehingga dapat diketahui laba yang
diperoleh dan rugi yang dialami.
3. Laporan perubahan modal adalah laporan yang menunjukkan perubahan
modal untuk periode tertentu, mungkin satu bulan atau satu tahun. Melalui
laporan perubahan modal dapat diketahui sebab-sebab perubahan modal
selama periode tertentu.
4. Laporan arus kas, dengan adanya laporan ini pemakai laporan keuangan dapat
mengevaluasi perubahan aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan
(termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan perusahaan didalam
menghasilkan kas di masa mendatang.
2.2.3.5Keterbatasan Laporan Keuangan
Menurut Munawir (2007 : 9-11) Laporan keuangan mempunyai
kelemahan antara lain :
1. Laporan keuangan yang dibuat secara periodik pada dasarnya merupakan
laporan yang dibuat antara waktu tertentu yang sifatnya sementara.
2. Laporan keuangan menunjukkan angka yang kelihatannya bersifat pasti dan
tepat, tetapi dasar penyusunannya dengan standar nilai yang mungkin berbeda
atau berubah-ubah.
3. Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat
mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan.
4. Laporan keuangan yang bersifat sejarah (historis) yang merupakan laporan
5. Laporan keuangan yang bersifat umum dan bukan untuk memenuhi keperluan
tiap-tiap pemakai.
6. Laporan keuangan itu bersifat konservatif dalam sikapnya menghadapi
ketidakpastian.
7. Laporan keuangan lebih menekankan keadaan yang sebenarnya dilihat dari
sudut ekonomi daripada berpegang pada formilnya.
8. Laporan keuangan menggunakan istilah teknis,sering terdapat
istilah-istilah yang umum tetapi diberi pengertian yan khusus.
2.2.4 Analisis Laporan Keuangan
2.2.4.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan adalah penerapan alat-alat dan teknik analitis
terhadap laporan keuangan dan data terkait untuk mendapatkan perkiraan dan
kesimpulan yang berguna bagi suatu analisis bisnis.
Analisis laporan keuangan adalah suatu proses yang penuh pertimbangan
dalam membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil perusahaan pada masa
sekarang dan masa lalu. Tujuan utamanya menentukan estimasi dan prediksi yang
paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan di masa yang akan
datang.
Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan ditujukan untuk
mengetahui tingkat profitabilitas (keuntungan) dan tingkat resiko atau tingkat
kesehatan suatu perusahaan. Analisis keuangan yang mencakup analisis rasio
keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan di bidang finansial akan sangat
datang. Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan
gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh
suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu. Keadaan inilah yang digunakan
untuk menilai kinerja keuangan. Informasi mengenai kinerja keuangan suatu
perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai pihak, seperti investor, kreditur,
pemerintahan, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang
berkepentingan.
Arti penting analisis laporan keuangan yaitu :
1. Bagi pihak manajemen yaitu untuk mengevaluasi kinerja perusahaan,
kompensasi dan pengembangan karier.
2. Bagi pemegang saham yaitu untuk mengetahui kinerja perusahaan,
pendapatan, dan keamanan investasi.
3. Bagi kreditur yaitu untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang
beserta bunganya.
4. Bagi pemerintah yaitu pajak, persetujuan untuk go public.
5. Bagi karyawan yaitu sebagai penghasilan yang memadai, kualitas hidup dan
keamanan kerja.
2.2.4.2 Tujuan Analisis Keuangan
Menurut Munawir (2007 : 31-33) analisis keuangan seringkali menilai
suatu usaha berdasarkan :
1. Profitabilitas adalah kemampuan perseroan untuk menghasilkan suatu
jangka panjang. Profitabilitas perseroan biasanya dilihat dari laporan laba
rugi (income statement) yang menunjukkan laporan hasil kinerja perseroan.
2. Solvabilitas adalah kemampuan perseroan untuk memenuhi seluruh
kewajibannya yang diukur dengan membuat perbandingan seluruh kewajiban
terhadap seluruh aktiva dan perbandingan seluruh kewajiban terhadap
ekuitas.
3. Likuiditas adalah kemampuan perseroan untuk memenuhi kewajiban
lancarnya yang diukur dengan menggunakan perbandingan antara aktiva
lancar dengan kewajiban lancar.
4. Stabilitas adalah kemampuan perseroan dalam mempertahankan usahanya
dalam jangka waktu panjang tanpa harus menderita kerugian. Untuk menilai
stabilitas perseroan digunakan laporan laba rugi dan neraca keuangan
perseroan serta berbagai indikator keuangan dan non keuangan lainnya.
2.2.5 Analisis Rasio Keuangan
2.2.5.1 Pengertian Analisis Rasio Keuangan
Menurut Sawir (2005 : 6) untuk menilai kondisi keuangan dan prestasi
perusahaan, analis keuangan memerlukan beberapa tolak ukur. Tolok ukur yang
sering dipakai adalah rasio atau indeks, yang menghubungkan dua data keuangan
yang satu dengan yang lainnya. Analisis dan inteprestasi dari macam-macam rasio
dapat memberikan pandangan yang lebih baik tentang kondisi keuangan dan
prestasi perusahaan bagi para analis yang ahli dan berpengalaman dibandingkan
analisis yang hanya didasarkan atas data keuangan sendiri-sendiri yang tidak
Analisa rasio keuangan adalah perbandingan antara dua/kelompok data
laporan keuangan dalam satu periode tertentu, data tersebut bisa antar data dari
neraca dan data laporan laba rugi. Tujuannya adalah memberi gambaran
kelemahan dan kemampuan finansial perusahaan dari tahun ketahun.
2.2.5.2J enis-J enis Rasio Keuangan
Menurut Riyanto (2001 : 254) rasio-rasio keuangan dikelompokkan
menjadi empat kelompok dasar yaitu likuiditas, leverage, aktivitas, dan
profitabilitas.
a. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur likuiditas perusahaan. Rasio
likuiditas terdiri dari :
1. Current Ratio
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan
aktiva lancar. Current Ratio dapat dihitung dengan rumus :
Current Assets Current Ratio =
Current Liabilities
2. Cash Ratio
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar hutang yang segera harus dipenuhi
dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan modal (efek/cash
Cash + Cash Equivalents Cash Ratio =
Current Liabilities
3. Quick Ratio
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan
aktiva lancar yang lebih likuid. Quick Ratio dapat dihitung dengan
rumus :
Current Assets - Inventory Quick Ratio =
Current Liabilities
4. Working Capital to Total Assets Ratio
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas dari total
aktiva dan posisi modal kerja (netto). Working Capital to Total Assets
Ratio dapat dihitung dengan rumus:
Current Assets – Current Liabilities
Working Capital to Total Assets Ratio =
Total Assets
b. Rasio Leverage
Rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva
perusahaan dibiayai dengan hutang. Rasio yang ada dalam rasio leverage
adalah :
1. Total Debt to Equity Ratio
Menunjukkan bagian dari setiap Rupiah modal sendiri yang dijadikan
Current Liabilities + Long Term Debt Total Debt to Equity
Ratio =
Total Equity
2. Total Debt to Total Capital Asset
Menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan kebutuhan dana yang
dibelanjai dengan hutang atau berapa bagian dari aktiva yang digunakan
untuk menjamin hutang. Rasio dapat dihitung dengan rumus :
Current Liabilities + Long Term Debt
Total Debt to Total
Capital Asset Ratio = Total Assets
3. Long Term Debt to Equity Ratio
Menunjukkan bagian dari setiap Rupiah modal sendiri yang dijadikan
jaminan untuk hutang jangka panjang. Rasio ini dapat dihitung dengan
rumus :
Long Term Debt Long Term Debt to Equity Ratio =
Total Equity
4. Tangible Assets Debt Coverage
Besarnya aktiva tetap tangible yang digunakan untuk menjamin hutang
jangka panjang setiap Rupiahnya. Rasio ini dapat dihitung dengan
rumus :
Total Assets – Intangibles Assets – Current Liabilities Tangible Assets
Debt Coverage = Long Term Debt
5. Time Interest Earned Ratio
Besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga hutang jangka
EBIT Time Interest Earned Ratio =
Interest Expense
c. Rasio Aktivitas
Rasio akitivitas mengukur sampai seberapa besar efektifitas perusahaan
dalam mengerjakan sumber-sumber dananya (inventory turnover, average
collection period dan lain sebagainya). Rasio aktivitas terdiri dari : 1. Total Asset Turnover Ratio
Merupakan rasio untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam keseluruhan aktiva berputar dalam suatu periode tertentu atau
kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan revenue.
Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Net Sales
Total Asset Turnover Ratio =
Total Assets
2. Receivable Turnover
Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam piutang berputar dalam suatu periode tertentu. Rasio ini dapat
dihitung dengan rumus yaitu :
Credit Sales
Receivable Turnover =
Average Account Receiveable
3. Average Collection Period
Rasio ini digunakan untuk menafsirkan periode rata-rata yang
diperlukan untuk mengumpulkan piutang. Rumusnya yaitu :
Average Account Receiveable x 360
Average Collection Period =
4. Inventory Turnover
Merupakan rasio yang mengukur kemampuan dana yang tertanam
dalam inventory berputar dalam suatu periode tertentu atau likuiditas
dari inventory dan tendensi untuk adanya overstock. Rasio ini dihitung
dengan rumus yaitu :
Cost of Goods Sold
Inventory Turnover =
AverageInventory
5. Average Days Inventory
Rasio ini digunakan untuk menafsirkan periode menahan persediaan
rata-rata atau periode rata-rata persediaan barang berada dalam gudang.
Rumusnya yaitu :
Rasio profitabilitas disebut juga sebagai rasio keuntungan yaitu rasio yang
keputusan-keputusan (Profit Margin on Sales, Return on Total Assets,
Return on Net Worth dan lain sebagainya). Rasio profitabilitas terdiri dari : 1. Gross Profit Margin
Rasio ini mengukur laba bruto per Rupiah penjualan. Rasio ini dihitung
dengan rumus :
Net Sales – Cost of Goods Sold
Gross Profit Margin =
Net Sales
2. Operating Profit Margin
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba operasi sebelum
bunga dan pajak (net operating income) yang dihasilkan oleh setiap
Rupiah penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Net Sales – Cost of Goods Sold –
Operating Expense
Operating Profit Margin =
Net Sales 3. Operating Ratio
Merupakan rasio yang digunakan untuk menghitung biaya operasi per
Rupiah penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Cost of Goods Sold + Operating Expense Operating Ratio =
Net Sales
4. Net Profit Margin
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur keuntungan netto per
Rupih penjualan. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Net Income after Tax Net Profit Margin =
5. Rate of Return on Total Assets
Rasio ini menunjukkan kemampuan dari modal yang diinvestasikan
dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi semua
investor (pemegang obligasi dan saham). Rasio ini dihitung dengan
rumus yaitu :
EBIT Rate of Return on Total Asset =
Total Assets
6. Rate of Return on Investment
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari
modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk
menghasilkan keuntungan netto. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus
yaitu :
Net Income after Tax Rate of Return on Investment =
Total Assets
7. Rate of Return on Net Worth
Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari
modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham
preferen dan saham biasa. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Net Income after Tax Rate of Return on Net Worth =
2.2.6 Kinerja Keuangan
2.2.6.1 Pengertian Kinerja Keuangan
Setiap organisasi (termasuk perusahaan) akan selalu dihadapkan pada
permasalahan menyangkut kinerja. Kinerja sangat penting artinya bagi setiap
organisasi, sehingga hampir semua organisasi menggunakan kinerja untuk
mengukur kemampuan, keberhasilan dan kegagalan mereka didalam mengelola
sumber daya agar tercapai tujuan.
Kinerja adalah suatu usaha formal yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mengevaluasi efisien dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah
dilaksanakan pada periode waktu tertentu (Hanafi, 2003 : 69)
Pengukuran kinerja merupakan analisis data serta pengendalian bagi
perusahaan. Pengukuran digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan diatas
kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Bagi
investor informasi mengenai kinerja perusahaan dapat digunakan untuk melihat
apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut
atau mencari alternative lain. Selain itu, pengukuran juga dilakukan untuk
memperlihatkan kepada penanam modal maupun pelanggan atau masyarakat
secara umum bahwa perusahaan memiliki kreditibilitas yang baik.
Menurut Halim (2003 : 17) kinerja keuangan perusahaan mempengaruhi
harga saham. Apabila kinerja keuangan perusahaan baik maka nilai usaha akan
tinggi. Dengan nilai usaha yang tinggi membuat para investor melirik perusahaan
tersebut untuk menanamkan modalnya sehingga akan terjadi kenaikan harga
saham. Sebaliknya apabila terdapat berita buruk mengenai kinerja keuangan
Menurut Meriewaty dan Yuli (2005 : 106) kinerja keuangan perusahaan
adalah pengukuran prestasi perusahaan yang ditimbulkan sebagai akibat dari
proses pengambilan keputusan manajemen yang kompleks dan sulit karena
menyangkut efektivitas pemanfaatan modal, efisiensi dan rentabilitas dari
kegiatan perusahaan. Laba, pertumbuhan laba, aktiva, penjualan, dan
pertumbuhan saham merupakan salah satu indikator kinerja dalam suatu
perusahaan. Salah bentuk informasi akuntansi yang penting dalam proses
penilaian kinerja perusahaan adalah rasio-rasio keuangan perusahaan untuk
periode tertentu. Dengan rasio-rasio keuangan tersebut akan tampak jelas berbagai
indikator keuangan yang dapat mengungkapkan kondisi keuangan perusahaan
maupun kinerja yang telah dicapai perusahaan untuk periode tertentu.
2.2.6.2 Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan
Penilaian kinerja keuangan sangat penting artinya bagi setiap perusahaan,
sehingga hampir semua perusahaan menggunakan kinerja keuangan untuk
mengukur kemampuan, keberhasilan dan kegagalan mereka didalam mengelola
sumber daya agar tercapai tujuan.
Menurut Munawir (2002, 31-33) tujuan penilaian kinerja keuangan yaitu :
1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas yaitu kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi tau
kemampuan untuk memenuhi kewajiban saat ditagih.
2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas yaitu kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan
3. Untuk mengetahui tingkat rentabilitas yaitu menunjukkan kemampuan
perusahaan untuk menghasilkan laba dalam periode tertentu.
4. Untuk mengetahui stabilitas usaha yaitu kemampuan perusahaan
untuk melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan
mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar
kembali pokok hutangnya dengan tepat waktu, serta kemampuan
perusahaan untuk membayar deviden secara teratur kepada pemegang
saham tanpa mengalami hambatan atau krisis keuangan.
2.2.7 Variabel-Variabel Rasio Keuangan Yang Mempengaruhi Kinerja
Keuangan Perusahaan
Hubungan antara rasio dengan kinerja adalah agar dapat menunjukkan
perubahan dalam kondisi keuangan atau kinerja operasi saham, dan dapat
membantu menggambarkan kecenderungan serta pola perubahan tersebut yang
pada giliranya dapat menunjukkan kepada analis terhadap resiko dan peluang bagi
perusahaan yang ditelaah. (Erich A. Helfert, 1997 : 68)
2.2.7.1Pengaruh Current Ratio Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menutup hutang
lancar yang juga disebut sebagai modal kerja, karena modal kerja merupakan
selisih lebih antara aktiva lancar diatas hutang lancar. Manajer akan melihat
kinerja perusahaan berdasarkan keuntungan atau laba dari setiap kegiatan operasi
yang dilakukan. Semakin tinggi nilai current ratio, maka semakin baik kinerja
2.2.7.2Pengaruh Cash Ratio Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan
Rasio ini untuk menguji kemampuan membayar (kolektibilitas) hutang
yang harus segera dipenuhi dengan kas yang tersedia dalam perusahaan dan efek
yang dapat segera diuangkan. Semakin tinggi nilai rasio ini menunjukkan kinerja
keuangan yang semakin bagus (Bambang Riyanto, 2001 : 256)
2.2.7.3Pengaruh Quick Ratio Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan
Rasio ini untuk menguji kemampuan membayar (kolektibilitas) kewajiban
lancar bilamana terjadi krisis yang nyata, dengan asumsi bahwa tidak ada nilai
pada persediaan sama sekali. Semakin tinggi nilai rasio ini berarti kondisi
perusahaan dalam mengatasi hutang jangka pendek semakin baik. (Bertouche and
Knight, 2001 : 96)
2.2.7.4Pengaruh Working Capital to Total Assets Ratio Terhadap Kinerja
Keuangan Perusahaan
Menunjukkan likuiditas dari total aktiva dan posisi modal kerja netto.
Semakin tinggi nilai rasio ini menunjukkan semakin tingginya likuiditas aktiva
perusahaan. (Bambang Riyanto, 2001 : 256)
2.2.7.5Pengaruh Total Debt to Equity Ratio Terhadap Kinerja Keuangan
Perusahaan
Rasio ini menunjukkan proporsi dana perusahaan yang bersumber dari
hutang, hal ini membawa konsekuensi peningkatan resiko keuangan bagi
perusahaan. Bila kondisi industri baik, tercermin dari peningkatan penjualan,