• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

34

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Hasil penelitian adalah data yang diperoleh dengan melakukan analisis potensi likuifaksi yang terjadi pada Desa Sambik Bengkol, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Berupa hasil analisis potensi likuifaksi dan faktor keamanan tanah di desa tersebut.

Hasil penelitian didapat dari beberapa langkah perhitungan dengan metode-metode yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya. Dari hasil analisis penelitian data yang telah didapatkan, baik dari pengujian secara langsung di lapangan ataupun pengujian di laboratorium untuk mengetahui potensi likuefaksi pasca gempa yang terjadi pada Desa Sambik Bengkol, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara adalah jenis tanah pada wilayah tersebut sangat berpotensi untuk mengalami likuefaksi.

Adapun setiap langkah, penjelasan dan keterangan yang dilakukan dalam penelitian ini demi menemukan hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditentukan sebelumnya oleh penulis akan dijelaskan secara detail pada bab ini.

(2)

35 4.2 Analisis Potensi Likuefaksi

Pada penelitian ini untuk menganalisis potensi terjadinya likuefaksi adalah menggunakan metode simplified, yang mana metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Seed dan Idriss pada tahun 1971. Data yang digunakan untuk menganalisis menggunakan metode simplified adalah hasil pengumpulan dari pengujian data yang ada di lapangan dan di laboratorium, yang kemudian diolah menjadi tabel untuk menganalisis potensi likuefaksi menggunakan metode simplified berdasarkan kepadatan relatif (Dr) dan butiran rata – rata (D50) dengan tujuan dapat diketahuinya apakah akan terjadi likuefaksi dengan percepatan maksimum 0,3gpada permukaan tanah. Adapun pengertian dari D50 adalah ukuran butiran rata – rata yang ada dalam satuan contoh tanah tersebut, seperti yang sudah dibahas pada bab sebelumya yaitu yang mempunyai nilai D50 kurang dari 0,07 mm dan lebih dari 2 mm tidak akan berpotensi likuefaksi. Sedangkan untuk Dr jika pada kedalaman yang memiliki nilai Dr lebih dari 70% juga dapat dikategorikan tidak memiliki potensi likuefaksi. Kemudian nilai – nilai Dr dan D50 yang sudah didapatkan dimasukkan ke dalam diagram likuefaksi untuk mengetahui titik – titik yang terdampak atau berpotensi terjadi likuefaksi.

(3)

36 Berikut adalah tabel dan diagram untuk menganalisis potensi likuefaksi berdasarkan Dr dan D50 :

Tabel 4.1 Tabel korelasi Dr dan D50

Z (m) D50 SPT Dr (%) Seleksi (L/NL)

1 0.25 7 20 Non Liquefied

3 0.25 10 35 Non Liquefied

5 0.2 17 46.05 Non Liquefied

7 0.2 17 46.05 Non Liquefied

9 0.2 17 46.05 Non Liquefied

11 0.1 18 47.89 Liquefied

13 0.175 11 35 Liquefied

15 0.25 12 38.68 Non Liquefied

17 0.205 15 42 Non Liquefied

19 0.16 16 44.21 Liquefied

21 0.279 23 58.94 Non Liquefied

23 0.3945 35 69.21 Non Liquefied

25 0.51 35 69.21 Non Liquefied

27 0.56 32 66.05 Non Liquefied

29 0.61 33 67.1 Non Liquefied

31 0.66 30 65 Non Liquefied

33 0.71 27 53.42 Non Liquefied

35 0.76 31 65 Non Liquefied

37 0.62 33 67.1 Non Liquefied

39 0.48 33 67.1 Non Liquefied

(4)

37 Tahap ini adalah proses dilakukannya analisis potensi likuefaksi berdasarkan dengan Dr dan D50 yaitu melakukan seleksi untuk menentukan apakah kandungan tanah dalam kedalaman tersebut akan mengalami likuefaksi atau tidak. Karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, jika pada kedalaman tertentu memiliki kandungan D50 kurang dari 0,07mm dan yang lebih dari 2 mm maka tanah tersebut akan tidak berpotensi likuefaksi.

Kemudian jika pada kedalaman tertentu Dr memiliki nilai lebih dari 70% juga dapat dikatakan tidak memiliki potensi likuefaksi.

Gambar 4.1 Diagram analisis potensi likuefaksi pada Desa Sambik

Bengkol, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara.

Keterangan :

Titik merah : Jenis tanah yang berpotensi terjadi likuefaksi Titik biru : Jenis tanah yang tidak berpotenisi likuefaksi

(5)

38 Dari hasil analisis potensi likuefaksi di atas, kita dapat mengetahui pada grafik tersebut bahwa potensi terjadinya peristiwa likuefaksi ada pada kedalaman 11 meter, 13 meter, dan 19 meter, dengan simbol titik berwarna merah yang berada dibawah garis dengan keterangan 0,3g. Sedangkan tanah yang tidak berpotensi likuefaksi dengan percepatan maksimum gempa 0,3g adalah dengan simbol berwarna biru.

Hal ini didasarkan pada teori analisis praktis potensi likuifaksi yang disusun oleh Prof. Abdul Hakam (2020), yang menjelaskan bahwa titik yang berada diluar batasan adalah tanah yang tidak berpotensi mengalami likuefaksi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Selain itu metode Dr dan D50 juga cukup efektif dan mudah diterapkan untuk menganalisis potensi yang disertai dengan metode perbaikan dan meminimalisir potensi tersebut.

Namun, proses yang dilakukan tidaklah hanya sampai mengetahui potensi likuefaksi yang ditentukan oleh Dr dan D50 saja seperti diatas. Karena pada tahap selanjutnya kita belum mengetahui tingkat keamanan tanah pada wilayah yang memiliki indikasi bahaya potensi likuefaksi. Maka pada sub bab selanjutnya akan membahas tentang perhitungan lebih lanjut terkait beban gempa, kekuatan tanah, hingga faktor keamanan.

(6)

39 4.3 Pembahasan dan Perhitungan Lanjut

4.3.1 Pembahasan

Setelah melakukan analisis potensi likuefaksi berdasarkan korelasi Dr dan D50 yang kemudian diplotkan pada diagram likuefaksi, didapatkan hasil dari korelasi tersebut yaitu terjadi likuefaksi dengan percepatan maksimum kurang dari 0,3g pada kedalaman 11 meter, 13 meter, dan 19 meter. Maka dari itu gempa yang terjadi pada tanggal 29 Juli 2018 di Desa Sambik Bengkol kemungkinan terjadi likuefaksi pada kedalaman 11 meter, 13 meter, dan 19 meter. Karena jenis tanah pada kedalaman tersebut memiliki potensi yang lebih besar untuk terjadinya likuefaksi, adapun pada kedalaman lainnya akan terjadi peristiwa likuefaksi pada percepatan permukaan maksimum 0,4g.

4.3.2 Perhitungan Lanjut

Setelah mendapatkan hasil analisis potensi likuefaksi, maka akan dilakukan perhitungan lanjut apakah wilayah tersebut aman atau tidak bila memang terjadi peristiwa likuefaksi. Adapun beberapa data yang harus diketahui untuk menghitung faktor keamanan, baik dari pengujian di lapangan maupun di laboratorium. Berikut adalah beberapa data yang diperlukan untuk melakukan perhitungan lanjut :

(7)

40 Tabel 4.2 Hasil pengujian N-SPT di lapangan

Kedalaman atau (z)

(m) SPT

Koreksi N-SPT

CE CB CR CS

1 7 0.9 1 0.75 1

3 10 0.9 1 0.75 1

5 17 0.9 1 0.75 1

7 17 0.9 1 0.75 1

9 17 0.9 1 0.75 1

11 18 0.9 1 0.75 1

13 11 0.9 1 0.75 1

15 12 0.9 1 0.75 1

17 15 0.9 1 0.75 1

19 16 0.9 1 0.75 1

21 23 0.9 1 0.75 1

23 35 0.9 1 0.75 1

25 35 0.9 1 0.75 1

27 32 0.9 1 0.75 1

29 33 0.9 1 0.75 1

31 30 0.9 1 0.75 1

33 27 0.9 1 0.75 1

35 31 0.9 1 0.75 1

37 33 0.9 1 0.75 1

39 33 0.9 1 0.75 1

Keterangan :

Ce : Faktor koreksi terhadap hammer yang digunakan Cb : Faktor koreksi terhadap diameter bor

Cr : Faktor koreksi terhadap panjang batang uji Cs : Faktor koreksi terhadap contoh yang digunakan

(8)

41 Tabel 4.3 Hasil pengujian laboratorium

Kedalaman atau (z)

(m)

(t/m³) D50 Dr (%)

1 1.78 0.25 20

3 1.78 0.25 35

5 1.83 0.2 46.05

7 1.83 0.2 46.05

9 1.83 0.2 46.05

11 1.83 0.1 47.89

13 1.83 0.175 35

15 1.83 0.25 38.68

17 1.83 0.205 42

19 1.94 0.16 44.21

21 1.94 0.279 58.94

23 1.94 0.3945 69.21

25 1.94 0.51 69.21

27 1.94 0.56 66.05

29 1.94 0.61 67.1

31 1.94 0.66 65

33 1.94 0.71 53.42

35 1.94 0.76 65

37 1.99 0.62 67.1

39 2.04 0.48 67.1

Keterangan :

ɣ : Berat volume tanah D50 : Ukuran butiran rata – rata Dr : Kepadatan relatif

Setelah mengetahui potensi dan telah memperoleh data yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah mengolah data dari kedua hasil pengujian di lapangan dan di laboratorium yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan perhitungan untuk mengetahui faktor keamanan yang

(9)

42 ada pada wilayah tersebut. Langkah pertama adalah menghitung nilai CSR (Cyclic Stress Ratio) yaitu dimulai dari menghitung gamma efektif pada setiap kedalaman yang ditinjau. Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan tegangan vertikal dan tegangan vertikal efektif tanah pada kedalaman yang ditinjau.

v = z x 

Dimana :

v = Tegangan vertikal Z = Kedalaman yang ditinjau

  = Berat volume tanah

’v = z x ’

Dimana :

’v = Tegangan vertikal efektif Z = Kedalaman yang ditinjau

’ = Berat volume tanah efektif Contoh :

v= z x 

 x 1,78 = 1,78

’v = z x ’

 x 0,78 = 0,78

(10)

43 Tabel 4.4 Perhitungan gamma efektif, tegangan vertikal, serta tegangan vertikal efektif.

Z

(m) SPT 

(t/m³)

'

(t/m³)

v

(t/m²)

'v

(t/m²)

1 7 1.78 0.78 1.78 0.78

3 10 1.78 0.78 5.34 2.34

5 17 1.83 0.83 8.95 3.95

7 17 1.83 0.83 12.61 5.61

9 17 1.83 0.83 16.27 7.27

11 18 1.83 0.83 19.93 8.93

13 11 1.83 0.83 23.59 10.59

15 12 1.83 0.83 27.25 12.25

17 15 1.83 0.83 30.91 13.91

19 16 1.94 0.94 34.68 15.68

21 23 1.94 0.94 38.56 17.56

23 35 1.94 0.94 42.44 19.44

25 35 1.94 0.94 46.32 21.32

27 32 1.94 0.94 50.2 23.2

29 33 1.94 0.94 54.08 25.08

31 30 1.94 0.94 57.96 26.96

33 27 1.94 0.94 61.84 28.84

35 31 1.94 0.94 65.72 30.72

37 33 1.99 0.99 69.65 32.65

39 33 2.04 1.04 73.68 34.68

Kemudian dilanjutkan dengan menghitung faktor reduksi (rd) pada setiap kedalaman lapisan permukaan yang ditinjau. Menggunakan rumus seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, yang kemudian dimodelkan dalam bentuk tabel seperti berikut :

Contoh :

=

= 0,984979589

(11)

44 Tabel 4.5 Hasil perhitungan faktor reduksi pada setiap

kedalaman yang ditinjau Z

(m) Faktor Reduksi

(rd)

1 0.984979589

3 0.956207652

5 0.925835022

7 0.889760217

9 0.844187975

11 0.787721018

13 0.723876102

15 0.660658258

17 0.606026604

19 0.563689417

21 0.532992292

23 0.511235623

25 0.495590829

27 0.483867104

29 0.474580269

31 0.46678995

33 0.459920565

35 0.453626251

37 0.447701485

39 0.442025247

Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai beban siklis atau Cyclic Stress Ratio (CSR), dengan menggunakan rumus yang ada pada

persamaan (2.9). Berikut adalah contoh perhitungan nilai beban siklis yang dikerjakan sesuai dengan persamaan (2.9) yang kemudian diolah kedalam bentuk tabel seperti berikut :

Contoh :

CSR = 0,65 ( ) (

) CSR = 0,65 ( )(

) 0,984979589 = 0.4383159

(12)

45 Tabel 4.6 Hasil perhitungan Cyclic Stress Ratio (CSR).

Z

(m) SPT 

(t/m³)

'

(t/m³)

v

(t/m²)

'v

(t/m²)

Faktor Reduksi

(

r

d)

a

max CSR

1 7 1.78 0.78 1.78 0.78 0.98498 0.3 0.4383159

3 10 1.78 0.78 5.34 2.34 0.95621 0.3 0.4255124

5 17 1.83 0.83 8.95 3.95 0.92584 0.3 0.4090667

7 17 1.83 0.83 12.61 5.61 0.88976 0.3 0.3899957

9 17 1.83 0.83 16.27 7.27 0.84419 0.3 0.3684062

11 18 1.83 0.83 19.93 8.93 0.78772 0.3 0.3428174

13 11 1.83 0.83 23.59 10.59 0.72388 0.3 0.314435

15 12 1.83 0.83 27.25 12.25 0.66066 0.3 0.2865774

17 15 1.83 0.83 30.91 13.91 0.60603 0.3 0.2626021

19 16 1.94 0.94 34.68 15.68 0.56369 0.3 0.2431126

21 23 1.94 0.94 38.56 17.56 0.53299 0.3 0.2282275

23 35 1.94 0.94 42.44 19.44 0.51124 0.3 0.2176381

25 35 1.94 0.94 46.32 21.32 0.49559 0.3 0.2099613

27 32 1.94 0.94 50.2 23.2 0.48387 0.3 0.2041627

29 33 1.94 0.94 54.08 25.08 0.47458 0.3 0.1995508

31 30 1.94 0.94 57.96 26.96 0.46679 0.3 0.1956882

33 27 1.94 0.94 61.84 28.84 0.45992 0.3 0.1923055

35 31 1.94 0.94 65.72 30.72 0.45363 0.3 0.1892383

37 33 1.99 0.99 69.65 32.65 0.4477 0.3 0.1862349

39 33 2.04 1.04 73.68 34.68 0.44203 0.3 0.1831269

(13)

46 Tahapan selanjutnya adalah menghitung nilai Cyclic Resistance Ratio (CRR) yang selanjutnya akan digunakan untuk mencari faktor keamanan pada wilayah yang ditinjau. Adapun beberapa tahap untuk menghitung nilai CRR dimana, langkah awal untuk menghitung CRR adalah menghitung faktor normalisasi pada nilai N-SPT terhadap tekanan overburden seperti pada umumnya. Dengan menggunakan rumus :

CN = (Pa/

'v)0,5 Dimana :

Pa = Tekanan Atmosfer sekitar 100 kPa atau 1at,m

'v = Tegangan vertikal efektif

Contoh :

CN = (Pa/

'v)0,5

= (1/0,78)0,5

= 1,1323

Setelah dilakukan perhitungan menggunakan rumus tersebut faktor nilai normalisasi N-SPT terhadap tegangan overburden pada setiap lapisan kedalaman yang ditinjau, kemudian akan diolah kedalam bentuk tabel seperti berikut:

(14)

47 Tabel 4.7 Tabel perhitungan faktor normalisasi nilai N-SPT

terhadap tegangan overburden pada umumnya.

Z

(m) SPT Pa

(at,m)

'v

(t/m²) CN

1 7 1 0.78 1.1323

3 10 1 2.34 0.6537

5 17 1 3.95 0.5032

7 17 1 5.61 0.4222

9 17 1 7.27 0.3709

11 18 1 8.93 0.3346

13 11 1 10.59 0.3073

15 12 1 12.25 0.2857

17 15 1 13.91 0.2681

19 16 1 15.68 0.2525

21 23 1 17.56 0.2386

23 35 1 19.44 0.2268

25 35 1 21.32 0.2166

27 32 1 23.2 0.2076

29 33 1 25.08 0.1997

31 30 1 26.96 0.1926

33 27 1 28.84 0.1862

35 31 1 30.72 0.1804

37 33 1 32.65 0.175

39 33 1 34.68 0.1698

Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan untuk memberikan koreksi terhadap nilai (N1)60, dimana perhitungan ini bertujuan untuk mengkoreksi nilai N-SPT yang telah diperoleh di lapangan. Sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya menurut persamaan (2.11), kemudian dilakukan penyetaraan nilai clean sand yang dapat mempengaruhi ketahanan tanah terhadap peristiwa likuefaksi. Rumus

(15)

48 penyetaraan nilai clean sand ditunjukkan pada persamaan (2.12), yang kemudian diolah menjadi bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 4.8 Perhitungan koreksi nilai N-SPT dan penyetaraan clean sand.

Z

(m) SPT CN CE CB CR CS FC (N1)60 (N1)60cs 1 7 1.1323 0.9 1 0.75 1 0.7643 5.35 5.35 3 10 0.6537 0.9 1 0.75 1 0.4413 4.4126 4.4126 5 17 0.5032 0.9 1 0.75 1 0.3396 5.7737 5.7737 7 17 0.4222 0.9 1 0.75 1 0.285 4.8447 4.8447 9 17 0.3709 0.9 1 0.75 1 0.2503 4.2558 4.2558 11 18 0.3346 0.9 1 0.75 1 0.2259 4.0658 4.0658 13 11 0.3073 0.9 1 0.75 1 0.2074 2.2816 2.2816 15 12 0.2857 0.9 1 0.75 1 0.1929 2.3143 2.3143 17 15 0.2681 0.9 1 0.75 1 0.181 2.7148 2.7148 19 16 0.2525 0.9 1 0.75 1 0.1705 2.7274 2.7274 21 23 0.2386 0.9 1 0.75 1 0.1611 3.7048 3.7048 23 35 0.2268 0.9 1 0.75 1 0.1531 5.3583 5.3583 25 35 0.2166 0.9 1 0.75 1 0.1462 5.1166 5.1166 27 32 0.2076 0.9 1 0.75 1 0.1401 4.4845 4.4845 29 33 0.1997 0.9 1 0.75 1 0.1348 4.4479 4.4479 31 30 0.1926 0.9 1 0.75 1 0.13 3.9 3.9 33 27 0.1862 0.9 1 0.75 1 0.1257 3.3937 3.3937 35 31 0.1804 0.9 1 0.75 1 0.1218 3.7753 3.7753 37 33 0.175 0.9 1 0.75 1 0.1181 3.8983 3.8983 39 33 0.1698 0.9 1 0.75 1 0.1146 3.7825 3.7825

(16)

49 Setelah perhitungan – perhitungan seperti yang dilakukan diatas, barulah dilakukan evaluasi dengan cara menghitung nilai CRR yang ditambahkan dengan momen magnitude sebesar 7,5 yang diformulasikan seperti pada persamaan (2.13) dan hasil dari perhitungan tersebut akan diolah kedalam bentuk tabel seperti berikut :

Contoh :

= exp {

+ [

]2 – [

]3 + [

]4 – 2,8}

= 0,0903

Tabel 4.9 Hasil dari perhitungan nilai CRR7,5

Z

(m) (N1)60cs CRR7.5

1 5.35 0.0903

3 4.4126 0.0839

5 5.7737 0.0934

7 4.8447 0.0867

9 4.2558 0.0829

11 4.0658 0.0817

13 2.2816 0.0716

15 2.3143 0.0718

17 2.7148 0.0739

19 2.7274 0.0739

21 3.7048 0.0795

23 5.3583 0.0903

25 5.1166 0.0886

27 4.4845 0.0843

29 4.4479 0.0841

31 3.9 0.0807

33 3.3937 0.0777

35 3.7753 0.0799

37 3.8983 0.0807

39 3.7825 0.08

(17)

50 Sedangkan untuk menghitung nilai CRR dengan magnitudo selain 7,5 perlu dilakukan faktor koreksi yang disebut dengan Magnitude Scale Factor (MSF), yang diformulasikan oleh Seed (1983) seperti yang

dituliskan pada bab sebelumnya yaitu persamaan (2.14). Dikarenakan untuk menghitung nilai CRRMW diperlukan koreksi terhadap gempa yang terjadi dengan skala kurang dari 7,5M, sebagaimana telah dibahas pada bab sebelumnya telah diformulasikan oleh Youd dan Idriss (2001).

Karena beban gempa yang melanda Lombok Utara sebesar 6,4M maka perhitungan MSF adalah sebagai berikut :

MSF = (

)-2,95 MSF = (

)-2,95 = 1,6

Setelah dilakukan perhitungan nilai MSF, maka hasil dari perhitungan CRRMW akan diolah kedalam bentuk tabel seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut :

Contoh :

CRRMW= CRR7,5 MSF K K

= 0,0903 1,6 1 1 = 0,1444

Catatan : Perhitungan nilai variabel Kdan Kbiasanya hanya dalam kasus khusus, sehingga pada kasus kali ini nilai Kdan Kbernilai 1.

(18)

51 Tabel 4.10 Hasil perhitungan Nilai CRRMW

Z

(m) (N1)60cs CRR7.5 MSF K K CRRMW

1 5.35 0.0903 1.6 1 1 0.1444

3 4.4126 0.0839 1.6 1 1 0.1342

5 5.7737 0.0934 1.6 1 1 0.1494

7 4.8447 0.0867 1.6 1 1 0.1388

9 4.2558 0.0829 1.6 1 1 0.1326

11 4.0658 0.0817 1.6 1 1 0.1307

13 2.2816 0.0716 1.6 1 1 0.1145

15 2.3143 0.0718 1.6 1 1 0.1148

17 2.7148 0.0739 1.6 1 1 0.1182

19 2.7274 0.0739 1.6 1 1 0.1183

21 3.7048 0.0795 1.6 1 1 0.1272

23 5.3583 0.0903 1.6 1 1 0.1445

25 5.1166 0.0886 1.6 1 1 0.1418

27 4.4845 0.0843 1.6 1 1 0.135

29 4.4479 0.0841 1.6 1 1 0.1346

31 3.9 0.0807 1.6 1 1 0.1291

33 3.3937 0.0777 1.6 1 1 0.1243

35 3.7753 0.0799 1.6 1 1 0.1279

37 3.8983 0.0807 1.6 1 1 0.1291

39 3.7825 0.08 1.6 1 1 0.1279

Setelah mengetahui nilai CSR dan CRR untuk setiap kedalaman tanah yang ditinjau, yang kemudian akan dilanjutkan dengan perhitungan safety factor. Dimana penghitungan safety factor memiliki tujuan untuk

menentukan faktor keamanan dari perilaku likuefaksi pada tanah yang ada pada wilayah yang sedang ditinjau. Perhitungan safety factor dilakukan dengan cara seperti pada persamaan (2.16), dan diolah kedalam bentuk tabel dan diagram seperti di bawah ini :

(19)

52 Contoh :

SF =

= 0,3295 (Termasuk Kriteria Tidak Aman) Tabel 4.11 Hasil perhitungan safety factor

Z

(m) CSR CRR SF Kriteria

1 0.4383 0.1444 0.3295 Tidak Aman 3 0.4255 0.1342 0.3154 Tidak Aman 5 0.4091 0.1494 0.3652 Tidak Aman

7 0.39 0.1388 0.3558 Tidak Aman

9 0.3684 0.1326 0.3599 Tidak Aman 11 0.3428 0.1307 0.3813 Tidak Aman 13 0.3144 0.1145 0.3643 Tidak Aman 15 0.2866 0.1148 0.4006 Tidak Aman 17 0.2626 0.1182 0.4501 Tidak Aman 19 0.2431 0.1183 0.4867 Tidak Aman 21 0.2282 0.1272 0.5573 Tidak Aman 23 0.2176 0.1445 0.6639 Tidak Aman

25 0.21 0.1418 0.6752 Tidak Aman

27 0.2042 0.135 0.661 Tidak Aman

29 0.1996 0.1346 0.6744 Tidak Aman 31 0.1957 0.1291 0.6596 Tidak Aman 33 0.1923 0.1243 0.6462 Tidak Aman 35 0.1892 0.1279 0.6757 Tidak Aman 37 0.1862 0.1291 0.693 Tidak Aman 39 0.1831 0.1279 0.6986 Tidak Aman

(20)

53 Gambar 4.2 Grafik safety factor pada setiap lapisan kedalaman yang ditinjau

Dari Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa lapisan tanah pada kedalaman 11 meter memiliki potensi likuefaksi dengan percepatan kurang dari 0,3g.

Sedangkan pada kedalaman 13 dan 19 meter akan sangat berpotensi terjadi peristiwa likuefaksi pada percepatan kurang dari 0,4g. Maka dari itu kemungkinan terjadinya likuefaksi pada Desa Sambik Bengkol, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara adalah pada kedalaman 11 meter, karena pada lapisan kedalaman tersebut memiliki potensi yang lebih rawan dibandingkan titik – titik potensi yang lainnya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pada pertanyaan yang terlampir dalam kuesioner mewakili item baru dalam riset Sense of online Community ini ditambah dengan semua item yang terdapat pada item Existing

Koordinator penelitian klinik kerjasama dengan National Institute of Allergy and Infectious Diaseses (NIAID) untuk Acute Febrile Illness dan South East Asia Infectious

HAFISZ TOHIR DAERAH PEMILIHAN SUMATERA SELATAN I.. Oleh karena itu Anggota DPR RI berkewajiban untuk selalu mengunjungi ke daerah pemilihan telah ditetapkan sesuai dengan

Jadi dalam penelitian ini fenomena yang akan diteliti adalah mengenai keadaan penduduk yang ada di Kabupaten Lampung Barat berupa dekripsi, jumlah pasangan usia

Sedangkan untuk menyatakan suatu model fit, karena hanya ada tiga item pengukuran, dengan sendirinya merupakan model yang just identified, dan merupakan model yang fit sempurna.

Melakukan sima’ (mendengarkan) qari’ kesayangan lalu kemudian dibacakan secara ber- ulang-ulang, juga bisa dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan tersebut. “Apalagi

Pada penelitian ini, penulis mengajukan hipotesis: portfolio saham kedua perusahaan akan menunjukkan portfolio optimum dan pada portfolio optimum tersebut akan berada pada

Karya seni “Penerapan Konsep Penyutradaraan Penceritaan Terbatas Dalam Penciptaan Film Fiksi “Titik Terendah” ini bertujuan untuk menyajikan sebuah film yang memberikan