538 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
PENINGKATAN HASIL BELAJAR FIKIH MELALUI METODE KERJA KELOMPOK DI KELAS IV
MI MIFTAHUSSUDUR 02 TUBAN
NURUL MUBTADIIN Email. [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Fikih siswa kelas IV MI. Miftahussudur 02 Tuban mengunakan Penerapan Strategi Kerja Kelompok. Dalam penelitian ini rumusan masalahnya “ Bagaimana peningkatan hasil belajar setelah menggunakan metode kerja kelompok Pada Siswa kelas IV MI Miftahussudur 02 Tuban, Berdasarkan analisis data yang telah penulis sajikan pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dinyatakan bahwa Penerapan Strategi Kerja Kelompok dengan menerapkan langkah-langkah sesuai RPP I dan RPP II (Siklus I dan Siklus II) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fikih kelas IV MI Miftahussudur 02 pada pokok bahasan Tanda-tanda Balig, Hasil belajar siswa tanpa tindakan rata- rata secara individu 64.10 dan secara klasikal 45,00 % , sedangkan pada siklus I rata-rata secara individu 72,40 dan secara klasikal 70,00 %. Sedangkan pada siklus II rata-rata secara individu 78,40, sedangkan secara klasikal adalah 85,00
% berarti ada peningkatan dari siklus I ke siklus II. Sehinngga penelitian ini dikatakan berhasil karena telah tercapainya indikator keberhasilan yang telah penulis tetapkan. Jadi, setelah diadakan Siklus II hasil belajar siswa meningkat sebesar 15%.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Fikih, Tanda-Tanda Balig, Metode dan Kerja Kelompok PENDAHULUAN
Pembelajaran yang digunakan pada saat ini dapat di sebut sebagai proses belajar mengajar, yang banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitifholistik.
Menurut aliran ini pembelajaran intinya menempatkan siswa sebagai sumber aktivitas belajar. Pada bagian lain istilah pembelajaran juga banyak dipengaruhi oleh kajian teknologi pendidikan dan teknologi pembelajaran. Teknologi pendidikan dan teknologi pembelajaran memandang bahwa pembelajaran adalah proses memfasilitasi siswa untuk melakukan tindakan belajar. Kegiatan memfasilitasi dalam proses adalah melibatkan berbagai sumber pembelajaran (hardware and software) (Sukirman, 2007:6).
539 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
Pada kenyataan di lapangan, fenomena yang terjadi pada umumnya siswa sekolah dasar, khususnya siswa kelas IV MI Miftahussudur 02 Tuban terlihat bahwa siswa masih belum mampu memahami materi pelajaran Fiqih.
Dilihat dari data hasil observasi awal terhadap siswa kelas IV MI Miftahussudur 02 Tuban menunjukan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh sebagian besar siswa masih rendah yaitu 60 hal tersebut menunjukkan nilai siswa masih belum memenuhi nilai KKM yang ada yaitu 62. Dari data hasil observasi awal terhadap siswa kelas IV MI Miftahussudur 02 Tuban yang berjumlah 20 siswa, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas IV MI Miftahussudur 02 Tuban pada umumnya masih mengalami kesulitan untuk memahami materi yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan, terlihat ada beberapa penyebab hal ini bisa memungkinkan terjadi, yaitu kemampuan siswa dalam proses pembelajaran Fiqih masih kurang, sehingga hal tersebut berpengaruh pada hasil belajar siswa. Selain itu, siswa juga kurang merespon dan terlihat kurang berminat bila ditugaskan menyelesaikan soal-soal Fiqih. Berdasarkan hasil analisis, permasalahan di atas disebabkan oleh dominasi guru masih tinggi, peran guru dalam proses pembelajaran sebagai penyebar ilmu kurang berperan sebagai fasilitator, guru masih banyak tergantung pada buku, guru masih dominan menggunakan ceramah dan mencatat, guru kurang mengoptimalkan bekerja bersama-sama dan siswa dianggap lulus tes atau dapat mengerjakan tes tanpa memperhatikan aspek lain seperti kejujuran, pengendalian diri, penghargaan kepada orang lain, kemampuan bekerja sama. Demikian gambaran situasi pembelajaran saat ini yang terjadi di lapangan.
Memperhatikan kondisi yang telah diuraikan di atas, maka untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran Fiqih salah satu alternatif yang dapat digunakan yaitu dengan menggunakan metode yang tepat di dalam kelas. Salah satu metode metode kerja kelompok.
Metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran dimana peserta didik dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama. (Soli Abimanyu 2006 : 7-2 unit 7)
Kelebihan metode kerja kelompok salah satunya adalah dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah. Bagi guru kelebihannya yaitu dapat memungkinkan untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta
540 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
kebutuhan belajar. Sedangkan kelemahannya yaitu strategi ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dengan gaya yang berbeda-beda pula.Salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa adalah melalui pembelajaran atau pendekatan yang tidak hanya memposisikan siswa sebagai pendengar, pemerhati, dan pencatat apa yang diterangkan, diperagakan, dan ditulis guru, tetapi yang melibatkan siswa sebagai individu yang aktif dalam mengkonstruk pengetahuan melalui proses belajar interaktif.
Siswa sebagai aktor yang menyusun sendiri pengetahuan melalui pemahaman, pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya.
Tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk mengetahui mengetahui apakah metode kerja kelompok dapat meningkatkan hasil belajar materi Fikih kelas IV MI Miftahussudur 02 Tuban Tahun pelajaran 2022/2023.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan model pembelajaran metode Kerja Kelompok dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan hasil belajar siswa mata pelajaran Fiqih materi Tanda-tanda balig pada siswa kelas IV MI Miftahussudur 02 Tuban.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ). Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar murid. Untuk itu Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu: tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan, dan tahap refleksi. Tahap demi tahap ini dilakukan oleh guru untuk menjadikan murid lebih tertarik dengan pelajaran yang sedang dihadapinya.
Alur penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain:
1. Perencanaan
2. Implementasi Tindakan 3. Observasi
4. Refleksi
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (1988:87), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.
541 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
HASIL PENELITIAN
Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 07 Desember 2022. Pada pertemuan ini, kegiatan pembelajaran yaitu membahas pokok bahasan tentang Tanda-tanda balig dengan sub pokok bahasan menganalisis Tanda-tanda balig yang berpedoman pada RPP-I (Lampiran B1 ) dan LKS (Lampiran B2 ). Sebelum pelajaran dimulai terlebih dahulu guru memberi salam kepada siswa dilanjutkan dengan berdo’a selanjutnya guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan memotivasi siswa dengan mengenal manfaat-manfaat ilmu Fikih. Selanjutnya guru memberi contoh menentukan tanda-tanda balig bagi laki-laki, selanjutnya guru membagikan LKPD sebelumnya adalah membagi kelompok, dari jumlah siswa 20 menjadi 5 kelompok yang beranggotakan 4 siswa setiap kelompok. Selanjutnya Guru memberikan kesempatan kepada semua kelompok untuk memahami dan menanyakan soal-soal yang belum difahami. Dilanjutkan dengan mengerjakan soal-soal tersebut, selama siswa- siswa mengerjakan soal-soal dalam kelompoknya masing-masing, guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain sambil memberikan bantuan ketika ada siswa yang kesulitan. Ketika setiap kelompok sudah selesai mengerjakan, maka guru menunjuk satu siswa setiap kelompok untuk mengerjakan satu soal dipapan tulis. Diakhir pembelajaran guru bersama-sama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Akhir dari kegiatan ini adalah tes kemampuan menjawab soal tes, yang telah disediakan.
Berdasarkan hasil SIKLUS I diperoleh data yang menunjukan hasil belajar siswa yang memperoleh ketuntasan 14 siswa masih tersisa 6 siswa yang Tidak Tuntas. Sedangkan Presentase hasil belajar secara mencapai 72,40 % maka dapat diartikan hasil belajar kurang berhasil . Sedangkan aktivitas guru dalam proses penerapan Strategi Kerja Kelompok diperoleh presentasi 75% . Hasil ini (75%) dalam katagori kurang berhasil. Maka perlu dilanjutkan pada siklus ke II.
Diharapkannya pada siklus ke II, adanya suatu peningkatan yang lebih baik. Untuk mencapai harapan tersebut, penulis mengidentifikasi penyebab- penyebab kurang berhasilnya dalam penerapan Strategi Kerja Kelompok.
Siklus II dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2022. Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus II hampir sama dengan siklus I karna pelaksanaan ini berdasarkan hasil dari refleksi pada siklus I.
Pada pertemuan ini, kegiatan pembelajaran yaitu Berani ber Khitan dengan sub pokok bahasan Ketentuan Khitan yang berpedoman pada RPP-II (Lampiran C1) dan LKPD (Lampiran C2). Diawali absensi, Apersepsi, dan Motivasi, selanjutnya guru membentuk kelompok secara hitrogen sekaligus membagikan LKPD, Selanjutnya Guru memberikan kesempatan kepada semua kelompok untuk memahami dan menanyakan soal-soal yang belum difahami .
542 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
Dilanjutkan dengan mengerjakan soal-soal tersebut, selama siswa-siswa mengerjakan soal-soal dalam kelompoknya masing-masing, guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain sambil memberikan bantuan ketika ada siswa yang kesulitan. Ketika setiap kelompok sudah selesai mengerjakan, maka guru menunjuk satu siswa setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Diakhir pembelajaran guru bersama-sama siswa menyimpulkan materi pembelajaran. Setelah itu guru memberikan pertanyaan/kuis secara indivudual dengan jumlah soal 5 buah.
Berdasarkan hasil tes pada siklus II ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 83,33% maka dapat dinyatakan tuntas seperti tergambar pada tabel 4.7. Begitu juga prensentase aktifitas guru dalam proses penerapan Strategi Kerja Kelompok yaitu sebesar 83,33% , dengan demikian dapat dikatagorikan Sangat Baik, Oleh karana itu peneliti menghentikan penerapan proses pembelajaran pada siklus II.
Berdasarkan hasil analisis data yang telah penulis sajikan, menjelaskan bahwa rata-rata hasil belajar Fikih siswa melalui penerapan Strategi Kerja Kelompok meningkat dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar tanpa tindakan.
Tingkat aktifitas guru selama proses pembelajaran dalam katagori baik pada siklus I. Setelah adanya refleksi pada siklus I dilanjutkan pada siklus II hasilnya sangat memuaskan lebih meningkat dari pada siklus I. Semua itu bisa diperhatikan pada tabel Rekapitulasi Hasil Belajar Siswa dan Rekapitulsi Aktifitas Guru dalam penerapan Strategi Kerja Kelompok sebagai berikut :
No Nama Siswa Tanpa
Tindakan
Melalui Tindakan Keterangan Siklus I Siklus II
1 Achmad Fariz Rafi
Syahputra
55 55 80 Meningkat
2 Ahmad Bayu Setiawan 70 85 85 Meningkat
3 Aina Nur Ilma Lailatul
Ulya
65 75 80 Meningkat
4 Aisyah 70 85 90 Meningkat
5 Faroycha Amalia
Azzahra
70 70 80 Meningkat
6 Fina Azka Mazaya 75 76 86 Meningkat
7 Indri Nova Efa Otaviani 70 80 80 Meningkat 8 Irsyad Minjahul Abidin 60 60 60 Tetap
9 Kayla Arina Azzahra 65 80 80 Meningkat
10 Laura Nazila Alya 60 75 75 Meningkat
543 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
11 Luthfi Ainun Najib 55 85 85 Meningkat
12 Mohammad Aditya
Pratama
55 75 75 Meningkat
13 Mohammad Sholikin 56 56 56 Tetap
14 Naeysila Aprilia 55 80 80 Meningkat
15 Neisti Oktafya 60 60 80 Meningkat
16 Putri Nafisatun Najah 70 80 80 Meningkat 17 Siti Amelia Salsabela 70 75 85 Meningkat 18 Siti Ilma Nur Syafina 70 85 85 Meningkat 19 Ulil Albabul Fitroni 75 75 80 Meningkat
20 Wahyuda Sulaiman 56 56 76 Meningkat
Rata-rata Individu 64.10 72,40 78,40 Meningkat Rata-rata Klasikal 45,00% 70,00% 85,00 % Meningkat
Berdasarkan analisis data pada tabel di atas hasil belajar siswa tanpa tindakan rata-rata secara klasikal 45,00 % , sedangkan pada siklus I 70,00 % berarti ada peningkatan dari tanpa tindaka ke siklus I sebesar 25%, dilanjutkan pada siklus II 85,00% berarti ada peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar 15,00% . Maka dapat dijelaskan dua kali pertemuan atau dua siklus menunjukkan peningkatan hasil belajar bila dibandingkan dengan hasil belajar Fikih sebelum menggunakan Strategi Kerja Kelompok.
Berdasarkan analisis data bahwa persentase aktifitas yang dilakukan oleh guru pada siklus I adalah 75 % dengan katagori kurang berhasil, sedangkan pada siklus II sebesar 83,33%, dengan katagori berhasil. Maka dapat dijelaskan penerapan Strategi Kerja Kelompok untuk meningkatkan hasil belajar siswa MI Miftahussudur 02 Tuban.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang telah penulis sajikan pada Bab II, Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dinyatakan bahwa Penerapan Strategi Kerja Kelompok dengan menerapkan langkah-langkah sesuai RPP I dan RPP II (Siklus I dan Siklus II) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Fikih kelas IV MI Miftahussudur 02 pada pokok bahasan Tanda- tanda Balig dengan sub pokok bahasan Tanda-tanda balig bagi laki-laki dan tanda-tanda balig bagi perempuan.
544 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
Hasil belajar siswa tanpa tindakan rata-rata secara individu 64.10 dan secara klasikal 45,00 % , sedangkan pada siklus I rata-rata secara individu 72,40 dan secara klasikal 70,00 %. Sedangkan pada siklus II rata-rata secara individu 78,40, sedangkan secara klasikal adalah 85,00 % berarti ada peningkatan dari siklus I ke siklus II. Sehinngga penelitian ini dikatakan berhasil karena telah tercapainya indikator keberhasilan yang telah penulis tetapkan.
Walaupun Strategi Kerja Kelompok dapat meningkatkan hasil belajar, namun masih terdapat kekurangan-kekurangan diantaranya :
1. Dari segi waktu yang dipergunakan untuk membentuk kelompok memerlukan waktu yang lama.
2. Memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan merlukan tempat yang luas.
3. Kerja kelompok sering didominasi oleh siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang mampu .
DAFTAR PUSTAKA
Jumantoro Totok dan samsul Munir Amin. 2009. Kamus Usul Fikih. Jakarta:
Amzah.
Nasiruddin, 2005 “Pendidikan Fiqih Berbasis Kompetensi” Jurnal Pendidikan Islami.
McNiff dalam Suharsimi Arikunto, dkk. (2006). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : PT Bumi Aksara.
Aini, M.N, (2003), Pengaruh Kecemasan Siswa terhadap Hasil Belajar Fikih (Studi Kasus pada Siswa Kelas II Jurusan Otomotif SMK Negeri 3 Malang).
Dept. of Computation and Mathematics Education,1(1),1-5
Degeng, Nyoman Sudana. (1997). Strategi Pembelajaran. Malang: IKIP Malang.
Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. (1988).The Action Research Planner. Victoria Dearcin University Press
Kemmis dalam Suharsimi Arikunto, dkk. (2006). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta : PT Bumi Aksara.
Shabri, H. A, (2005), Strategi Belajar Mengajar Micro Teaching, Jakarta: Quantum Teaching
Sudjana, N, (2005), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Suryabrata, S, (2001), Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Sardiman,A.M.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar Pedoman Bagi Guru dan Calon Guru, Rajawali Pers, Jakarta 1990.
Suryosubroto, B, (2002) Proses belajar mengajar di sekolah, Jakarta: Rineka Cipta.
545 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, (1997) Strategi Belajar Mengajar ,Cet. I;
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Udin.S.Winataputra dkk, (1997) Strategi Belajar Mengajar, Depdikbud, Jakarta.
Uyoh Sadulloh, (2009) Pedagogik, Dirjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Jakarta.