• Tidak ada hasil yang ditemukan

18 Media Bina Ilmiah ISSN No

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "18 Media Bina Ilmiah ISSN No"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

_____________________________________________

Volume 8, No. 5, Agustus 2014 http://www.lpsdimataram.com KARAKTERISTIK DAS DI WILAYAH DAS DODOKAN KOTA MATARAM

KABUPATEN LOMBOK BARAT Oleh :

Mareta Karlin Bonita

Dosen Fakultas Ilmu Kehutanan UNTB, Mataram

Abstrak : DAS merupakan satuan ekosistem yang memiliki karakteristik yang berbeda, tergantung dari hasil interaksi manusia dan lingkungan sekitar DAS tersebut. Karakteristik DAS merupakan ciri khas atau karakter dari suatu DAS yang dipengaruhi oleh sistem hidrologi, sehingga dapat mempengaruhi besar atau kecilnya debit erosi yang terjadi pada suatu sungai, selain itu dalam tata guna lahan juga dapat mempengaruhi erosi dan debit sungai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Karakteristik morfometri DAS pada DAS Dodokan Kota Mataram, mengetahui tipe karakteristik fisik DAS pada setiap penggunaan lahan di wilayah DAS Dodokan Kota Mataram, serta mengetahui indeks penutupan lahan permanen pada DAS Dodokan Kota Mataram. Analisis yang digunakan adalah analisis hubungan variable-variabel yang menyusun komponen DAS dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hal ini dilakukan pada data fisik DAS Dodokan. Hasil penelitian diketahui bahwa karakteristik DAS Dodokan Kota mataram memiliki bentuk agak membulat dengan nilai Circularity Ratio sebesar 0,402. Berdasarkan kondisi morfometrinya, DAS Dodokan ini berkelok memutar dengan panjang sungai yang dua kali lebih panjang dari panjang DAS (selisih + 37,552 km) dari panjang sungai Utama DAS Dodokan sebesar 30,985 km. dengan panjang anak sungai 1.104,3338 km dari panjang sungai total seluas 1.172,874 km. memiliki lebar DAS 28,541 km, keliling DAS 132,568 km, Kerapatan sungai Dodokan adalah 2,085. Gradien sungai 0,481% serta memiliki pola aliran dendritik. Kemudian tipe karakteristik fisik pada setiap penggunaan lahan hasil pengamatan pada bentuk lahan, DAS Dodokan merupakan bentuk lahan dataran (72,88%), perbukitan (15,88%), dataran Alluvial (6,80%), Pegunungan (3.96%), pantai (0.32%) dan rawa pasang surut (0.15%). Sebagian besar pegunungan ditutupi oleh hutan lahan kering sekunder. Keberadaan sawah paling banyak pada lokasi dataran, perbukitan dan dataran alluvial yang berpotensi subur untuk lahan sawah. Variable jenis tanah, sebaran jenis tanah paling dominan adalah jenis Kompleks Mediteran Coklat dan Mediteran Coklat Kemerahan yang terdapat di daerah selatan wilayah DAS Dodokan dengan luasan sebesar 20.618,695 ha sedangkan jenis tanah yang terdapat pada luasan yang paling sedikit adalah Kompleks Mediteran Coklat dan Litosol yang terdapat di sebelah timur laut wilayah DAS Dodokan dengan luasan 1.435,615 Ha. Serta variable kelerangan, pada DAS Dodokan memiliki lahan dengan lereng agak curam (25 - 40%) didominasi oleh hutan lahan kering sekunder dengan luas total 619,447 Ha. Sementara lereng curam (>40%) didominasi oleh pertanian lahan kering campuran dengan luas total sebesar 465,955 ha. Disisi lain jika yang cukup berarti hingga tersisa lahan-lahan terbuka ataupun tersisa sebagai hutan sekunder. Kemudian untuk Indeks Penutupan Lahan wilayah DAS Dodokan sebagian besar didominasi oleh persawahan serta pertanian lahan kering.

persawahan dan pertanian lahan kering pada lokasi tersebut memiliki luas 36.311,605 Ha dan 10.276,532 Ha. Sementara tanah terbuka kering dan tambak merupakan daerah yang paling kecil luasannya yakni 0.35% dan 0.3%. Indeks Penutupan Lahan permanen (IPLP) DAS Dodokan adalah 8,97% yang berasal dari penutuan hutan dan semak belukar.

Kata kunci : DAS Dodokan, karakteristik fisik, penutupan lahan

PENDAHULUAN

Sumber daya air sangat diperlukan untuk mendukung kehidupan manusia, flora dan fauna, oleh sebab itu sumber daya air perlu dikelola

secara baik, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pembangunan. Kekurangan air dapat menimbulkan kekeringan dan berdampak pada kehidupan spesies

(2)

_____________________________________

http://www.lpsdimataram.com Volume 8, No. 5, Agugstus 2014

yang semakin rentan pada kesehatan, panen dan kepunahan. Di sisi lain, kelebihan air yang ekstrim dapat juga berdampak buruk pada kehidupan manusia, pertanian dan spesies tertentu. Salah satu bentuk pengelolaan yang dilaksanakan oleh berbagai pihakdalam mempertahankan sumberdaya alam adalah mengkonservasi tanah dan air serta manajemen DAS. Upaya-upaya tersebut dilakukan agar sumber daya alam dan pemanfaatannya dapat optimal, berkelanjutan dan lestari.

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini terbagi atas 18 (delapan belas) Satuan Wilayah Pengelolaan (SWP) DAS, terdiri dari 4 SWP DAS berada di Pulau Lombok dan 14 SWP DAS lainnya berada di Pulau Sumbawa. Total DAS di NTB berjumlah 627 DAS, dengan sebaran 145 DAS berada di Pulau lombok dan 482 DAS berada di pulau Sumbawa. Salah satu dari 38 DAS yang termasuk dalam SWP DAS Dodokan diantaranya adalah DAS Dodokan yang berada di wilayah administratif Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Tengah.

Kerusakan ekosistem dalam tatanan DAS di Provinsi NTB telah teridentifikasi seperti ditunjukkan dengan fenomena sering terjadinya bencana banjir, erosi, sedimentasi dan tanah longsor. Berdasarkan hasil identifikasi dan inventarisasi lahan kritis Provinsi NTB tahun 2009 yang dilaksanakan oleh Balai Pengelolaan DAS Dodokan Moyosari (BPDAS DMS), luas lahan kritis Provinsi NTB adalah 444.409,2 ha atau sekitar 22,04% dari luas total wilayah Provinsi NTB. Sedangkan luas lahan kritis di DAS Dodokan adalah 7.199.596 ha atau 12,8% dari luas total wilayah DAS Dodokan.

Sungai Dodokan khususnya dan sungai - sungai lainnya di Pulau Lombok umumnya merupakan sungai yang berperan sangat penting untuk memenuhi berbagai keperluan, diantaranya sebagai sumber air bersih maupun irigasi.

Disamping itu, sebagian wilayah DAS Dodokan juga berperan penting dalam fungsinya sebagai kawasan konservasi. Seiring dengan usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat, perkembangan kawasan untuk berbagai pemenuhan kebutuhan (sarana pemukiman, perdagangan & industri, perhubungan, perkantoran, pariwisata dan lain-lain) akan

meningkat dengan cepat. Dengan adanya perubahan penggunaan lahan tersebut maka implikasinya adalah adanya perubahan perilaku hidrologis sungai maupun perubahan kualitas sumberdaya air sungai tersebut. Perubahan perilaku hidrologis pada DAS Dodokan antara lain berupa ; abrasi, sedimentasi, serta kurang idealnya neraca air (seperti terjadinya kekeringan pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan).

Oleh karena itu untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul di dalam sistem DAS sebagai upaya dalam menjaga keutuhan maka diperlukan wawasan dan informasi mengenai karakteristik DAS yang mendukung dalam pengelolaan DAS tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut penelitian ini diberi judul “Karakteristik Daerah Aliran Sungai di wilayah DAS Dodokan Kota Mataram “ yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfometri DAS pada DAS Dodokan Kota Mataram, mengetahui tipe karakteristik fisik DAS pada setiap penggunaan lahan di wilayah DAS Dodokan Kota Mataram, serta mengetahui Indeks Penutupan Lahan pada DAS Dodokan Kota Mataram.

METODE PENELITIAN

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi dan pengukuran langsung di lapangan. Pengumpulan data melalui kegiatan observasi dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap obyek-objek yang menjadi fokus studi. informasi yang diperoleh atau obyek yang diamati didokumentasikan dalam bentuk gambar. Pengamatan bertujuan untuk memudahkan peneliti yang selanjutnya dijadikan bahan atau data serta mengumpulkan keterangan dari pihak lain yang lebih dulu telah mengumpulkan informasi yang sama. Pada aspek yang bersifat biofisik, survei dilakukan dengan cara pengukuran langsung mempergunakan parameter Morvometri (luas, keliling, lebar panjang DAS, panjang sungai utama, panjang anak sungai, panjang sungai total, kerapatan sungai,bentuk DAS, gradient sungai, Pola Aliran dan IPLP). Sedangkan parameter tipe karakteristik Fisik DAS pada setiap penggunaan lahan diukur dari variable geologi, bentuk lahan, jenis tanah dan kelerangan.

(3)

_____________________________________________

Volume 8, No. 5, Agustus 2014

Studi dokumen atau pustaka digunakan untuk mendapatkan data dan informasi dari

resources berupa hasil-hasil peneliti

peta, data statistik, dan dokumen-dokumen terkait lainnya. Untuk melengkapi proses pengumpulan data, photo digunakan untuk mempertegas objek objek di lapangan.

Selanjutnya, data yang sudah terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif

data yang dilakukan meliputi : analisis spasial (Sistem Informasi Geografis - SIG), analisis citra satelit, dan analisis data kuantitatif

(analisis deskriptif) pada variabel fisik DAS HASIL PENELITIAN

Sesuai dengan tujuan penelitian

pengamatan dan pengukuran diuraikan dibawah ini:

a. Karakteristik Morfometri DAS Dodokan Kondisi morfometri DAS dodokan secara kuantitatif dinyatakan beberapa parameter antara lain nilai Circularity Ratio sebesar 0,402 hal ini menunjukkan bahwa DAS Dodokan memiliki bentuk agak membulat. Bentuk DAS ini akan mempengaruhi karakteristik debit sungai.

Tabel 1. Morfometri DAS Dodokan

Pada DAS yang agak membulat menyebabkan waktu konsentrasi debit banjir agak cepat sehingga debit puncak berpotensi menyebabkan banjir.

Namun sungai utama DAS Dodokan ini berkelok memutar dengan panjang sungai yang dua kali lebih panjang dari panjang DAS (selisih + 37,552 km) dari panjang sungai Utama DAS Dodokan _____________________________________________

http://www.lpsdimataram.com digunakan untuk

mendapatkan data dan informasi dari non-human hasil penelitian terdahulu, dokumen terkait lainnya. Untuk melengkapi proses pengumpulan data, photo digunakan untuk mempertegas objek-

Selanjutnya, data yang sudah terkumpul kuantitatif. Analisis data yang dilakukan meliputi : analisis spasial SIG), analisis citra kuantitatif-kualitatif pada variabel fisik DAS.

Sesuai dengan tujuan penelitian maka hasil engukuran diuraikan dibawah

Karakteristik Morfometri DAS Dodokan Kondisi morfometri DAS dodokan secara kuantitatif dinyatakan beberapa parameter antara sebesar 0,402 hal ini menunjukkan bahwa DAS Dodokan memiliki bentuk agak membulat. Bentuk DAS ini akan mempengaruhi karakteristik debit sungai.

Tabel 1. Morfometri DAS Dodokan

Pada DAS yang agak membulat menyebabkan waktu konsentrasi debit banjir agak cepat sehingga debit puncak berpotensi menyebabkan banjir.

Namun sungai utama DAS Dodokan ini berkelok memutar dengan panjang sungai yang dua kali (selisih + 37,552 km) dari panjang sungai Utama DAS Dodokan

sebesar 30,985 km. Sungai utama yang panjang menyebabkan waktu mencapai puncak atau waktu konsentrasi menjadi lama, sehingga adanya potensi banjir akibat bentuk DAS Dodokan dan panjangnya sungai utama Dodokan akan mereduksi debit banjir. Hasil perhitungan morfometri DAS Dodokan dapat dilihat pada tabel 1.

Kerapatan sungai Dodokan adalah 2,085 sedikit lebih kecil dari batas atas untuk ciri DAS berpengatusan (drainage) baik/mudah mengalami kekeringan. Menurut Linsley (1949) dalam Handayani (2006) kerapatan sungai kurang dari 0,62 km/km2 akan menyebabkan DAS mudah mengalami penggenangan, sedangkan nilai lebih besar dari 3,1 km/km2 akan menyebabkan DAS sering mengalami kekeringan. Dengan demikian DAS Dodokan termasuk kriteria DAS berpengatusan baik yang berpotensi mengalami kekeringan.

b. Karakteristik Fisik DAS pada setiap Penggunaan Lahan

1. Geologi

Batuan tertua di Pulau Lombok dan DAS Dodokan khususnya

Pengulung terdiri dari satuan batuan breksi volkanik, tufa andesit, dasit piroklastik, lava andesit dan batuan G. Api tua tak terpisahkan.

Sebaran batuannya dijumpai di bagian Barat dan Selatan.

[[[

Gambar 1. Peta Geologi

http://www.lpsdimataram.com

sebesar 30,985 km. Sungai utama yang panjang menyebabkan waktu mencapai puncak atau waktu konsentrasi menjadi lama, sehingga adanya potensi banjir akibat bentuk DAS Dodokan dan utama Dodokan akan mereduksi debit banjir. Hasil perhitungan morfometri DAS Dodokan dapat dilihat pada tabel Kerapatan sungai Dodokan adalah 2,085 sedikit lebih kecil dari batas atas untuk ciri DAS ) baik/mudah mengalami an. Menurut Linsley (1949) dalam Handayani (2006) kerapatan sungai kurang dari akan menyebabkan DAS mudah mengalami penggenangan, sedangkan nilai lebih akan menyebabkan DAS sering mengalami kekeringan. Dengan demikian S Dodokan termasuk kriteria DAS berpengatusan baik yang berpotensi mengalami

Karakteristik Fisik DAS pada setiap

Batuan tertua di Pulau Lombok umumnya adalah dari Formasi Pengulung terdiri dari satuan batuan breksi volkanik, tufa andesit, dasit piroklastik, lava andesit dan batuan G. Api tua tak terpisahkan.

Sebaran batuannya dijumpai di bagian Barat dan

[[[

Gambar 1. Peta Geologi DAS Dodokan

(4)

http://www.lpsdimataram.com

Pada gambar 1 DAS Dodokan didominasi oleh tanah datar (plains) yang memiliki jenis kandungan batuan basalt, gabbro, andesite dan breccias. Sementara dibagian selatan DAS Dodokan merupakan daerah perbukitan (berbatuan andesit dan basalt) dan di bagian timur terdapat daerah dataran alluvial, pegunungan dan pantai (beaches).

Tabel 2. Luas Tipe Batuan Geologi (Lithologi) pada Setiap Penggunaan Lahan DAS Dodokan

Keterangan :

G1 : Basalt, andesite, breccia G2 : Basalt, gabbro G3 : Limestone, coral G4 : Andesit, basalt

G5 : Alluvium, recent riverine, alluvium estuarine marine, peat

G6 : Alluvium, recent marine (beach sands gravels)

G7 : Alluvium, recent estuarine

Terdapat tujuh jenis batuan geologi (lithologi) di dalam DAS Dodokan. Seperti pada tabel 2 terlihat bahwa jenis batuan Basalt, Andesite, Breccia merupakan jenis batuan yang paling banyak tersebar di tengah DAS Dodokan dengan wilayah seluas 27.525.964 Ha (51% dari total luas DAS Dodokan). Sementara jenis Alluvium, recent estuarine-marine (saline) merupakan jenis batuan yang paling sedikit terdapat pada wilayah DAS Dodokan dengan luasan yang hanya 84.135 Ha atau 0% dari total luas. Jenis batuan tersebut dapat dijumpai pada wilayah pesisir pantai di sebelah barat wilayah DAS Dodokan.

_____________________________________

Volume Pada gambar 1 DAS Dodokan didominasi

) yang memiliki jenis kandungan batuan basalt, gabbro, andesite dan breccias. Sementara dibagian selatan DAS Dodokan merupakan daerah perbukitan (berbatuan bagian timur terdapat daerah dataran alluvial, pegunungan dan pantai

Luas Tipe Batuan Geologi (Lithologi) pada Setiap Penggunaan Lahan DAS

Basalt, andesite, breccia Basalt, gabbro Limestone, coral Alluvium, recent riverine, alluvium Alluvium, recent marine (beach sands

estuarine-marine (saline) Terdapat tujuh jenis batuan geologi (lithologi) di dalam DAS Dodokan. Seperti pada tabel 2 terlihat bahwa jenis batuan Basalt, Andesite, Breccia merupakan jenis batuan yang paling banyak tersebar di tengah DAS Dodokan dengan ah seluas 27.525.964 Ha (51% dari total luas DAS Dodokan). Sementara jenis Alluvium, recent marine (saline) merupakan jenis batuan yang paling sedikit terdapat pada wilayah DAS Dodokan dengan luasan yang hanya 84.135 Ha Jenis batuan tersebut dapat dijumpai pada wilayah pesisir pantai di sebelah

2. Bentuk Lahan

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan berkaitan dengan bentuk lahan yang diperkuat juga dengan hasil penelitian Handayani (2006) menunjukkan bahwa Land System

terdapat 4 (empat tipe dataran, yaitu Ampang (dataran datar/berombak vulkanik basa/ sedang pada daerah kering), Benteng (sisipan aliran lava sedang/basa), Piaga (dataran hingga berombak vulkanik basa/sedang) dan Sakra (datar

rolling dengan bukit-bukit kecil pada daerah kering). Selain itu terdapat pegunungan yang terdiri dari Gunung Beliling (punggung gunung di atas vulkanik sedang hingga basa pada daerah kering) dan Gamkonora (gunung api atrato di atas vulkanik sedang hingga basa). Terdapat pula perbukitan yang terdiri dari Belo (bukit sangat curam di atas vulkanik sedang/basa pada daerah kering) dan Konang (bukit karst tidak beraturan pada daerah kering). Dalam liputan spasial DAS yang tersempit, terdapat rawa pas

Land System Kajapah (Inter

halophytic vegetation). Terakhir terdapat Dataran Aluvial (Alluvial Plain) dengan

Nae (Coalescent estuarine/ riverine plains in dry areas) serta pantai dengan

(Coastal beach ridges and swales

Land System tersebut maka DAS Dodokan dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk lahan, yaitu dataran (Plain), pegunungan, perbukitan, rawa pasang surut (Tidal Swamp

dan pantai (Beaches).

Tabel 3. Luas Tipe Bentuk Lahan pada Setiap Penggunaan Lahan DAS Dodokan.

_____________________________________

Volume 8, No. 5, Agugstus 2014 Berdasarkan hasil pengamatan lapangan berkaitan dengan bentuk lahan yang diperkuat juga dengan hasil penelitian Handayani (2006) Land System DAS Dodokan, terdapat 4 (empat tipe dataran, yaitu Ampang (dataran datar/berombak vulkanik basa/ sedang pada daerah kering), Benteng (sisipan aliran lava sedang/basa), Piaga (dataran hingga berombak vulkanik basa/sedang) dan Sakra (dataran vulkanik bukit kecil pada daerah kering). Selain itu terdapat pegunungan yang terdiri dari Gunung Beliling (punggung gunung di atas vulkanik sedang hingga basa pada daerah kering) dan Gamkonora (gunung api atrato di atas dang hingga basa). Terdapat pula perbukitan yang terdiri dari Belo (bukit sangat curam di atas vulkanik sedang/basa pada daerah kering) dan Konang (bukit karst tidak beraturan pada daerah kering). Dalam liputan spasial DAS yang tersempit, terdapat rawa pasang surut dengan Inter-tidal mudflats under ). Terakhir terdapat Dataran ) dengan land System Nanga Coalescent estuarine/ riverine plains in dry ) serta pantai dengan land system Putting Coastal beach ridges and swales). Berdasarkan tersebut maka DAS Dodokan dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk lahan, ), pegunungan, perbukitan, Tidal Swamp), dataran Alluvial Luas Tipe Bentuk Lahan pada Setiap Penggunaan Lahan DAS Dodokan.

(5)

_____________________________________________

Volume 8, No. 5, Agustus 2014

Pada tabel 3 tampak bahwa sebagian besar DAS Dodokan merupakan bentuk lahan dataran (72,88%), kemudian perbukitan (15,88%) dan dataran Alluvial (6,80%). Sebagian besar pegunungan ditutupi oleh hutan lahan kering sekunder. Keberadaan sawah paling banyak pada lokasi dataran, perbukitan dan dataran alluvial yang berpotensi subur untuk lahan sawah.

3. Jenis Tanah

Sebaran jenis tanah paling dominan adalah jenis Kompleks Mediteran Coklat dan Mediteran Coklat Kemerahan yang terdapat di daerah selatan wilayah DAS Dodokan dengan luasan sebesar 20.618,695 ha sedangkan jenis tanah yang terdapat pada luasan yang paling sedikit adalah Kompleks Mediteran Coklat dan Litosol yang terdapat di sebelah timur laut wilayah DAS Dodokan dengan luasan 1.435,615 Ha. Luas Jenis Tanah berdasarkan setiap Penggunaan Lahan diuraikan pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4 Luas Jenis Tanah pada Se Penggunaan Lahan DAS Dodokan

Keterangan :

T1 : Komp Med Cok & Med Cok Kemerahan

T2 : Komp Med Cok & Grum Klb Reg Cok dan Litosol T3 : Komp Reg Cok & Kelabu & Litosol

T4 : Komp Regosol Coklat & Litosol

_____________________________________________

http://www.lpsdimataram.com Pada tabel 3 tampak bahwa sebagian besar

DAS Dodokan merupakan bentuk lahan dataran (72,88%), kemudian perbukitan (15,88%) dan dataran Alluvial (6,80%). Sebagian besar pegunungan ditutupi oleh hutan lahan kering sekunder. Keberadaan sawah paling banyak pada lokasi dataran, perbukitan dan dataran alluvial yang berpotensi subur untuk lahan sawah.

Sebaran jenis tanah paling dominan adalah jenis Kompleks Mediteran Coklat dan Mediteran Coklat Kemerahan yang terdapat di daerah selatan wilayah DAS Dodokan dengan luasan sebesar 20.618,695 ha sedangkan jenis tanah yang terdapat ikit adalah Kompleks Mediteran Coklat dan Litosol yang terdapat di sebelah timur laut wilayah DAS Dodokan dengan luasan 1.435,615 Ha. Luas Jenis Tanah berdasarkan setiap Penggunaan Lahan diuraikan

Luas Jenis Tanah pada Setiap Penggunaan Lahan DAS Dodokan

T1 : Komp Med Cok & Med Cok Kemerahan

T2 : Komp Med Cok & Grum Klb Reg Cok dan Litosol T3 : Komp Reg Cok & Kelabu & Litosol

T5 : Komp Reg Klb & Litosol T6 : Komp Med Cok & Litosol

Luas sebaran jenis tanah pada setiap penggunaan lahan antara lain sawah, pertanian lahan kering, semak belukar, hutanlahan kering sekunder, pertanian lahan kering campuran, pemukiman, tubuh air, tanah terbuka kering dan tambak. Luas jenis tanah dominan ya

20.618.697 Ha atau 36.70 %, T2 seluas 13.446.414 Ha atau 23.93 %, T3 seluas 10.995.778 Ha atau 19.57 %, kemudian T4 seluas 7.654.203 Ha atau 13,62 %, T5 seluas 2.033.998 Ha atau 3.62 % dan T6 seluas 1.435.615 Ha atau 2.55 %.

4. Kelerengan

Kemiringan lereng DAS akan mempengaruhi sistem erosi dan sedimentasi. Pada awalnya hujan yang jatuh di permukaan tanah memiliki daya penghancur agregat tanah menjadi butiran

tanah sebagai materi erosi dan pada hujan selanjutnya terbentuk daya angkut y

material erosi ke daerah pengendapan. Pada lereng datar atau landai, daya pengangkutan hujan berkurang karena terdapat kesempatan hujan meresap ke dalam tanah, tetapi sebaliknya pada lereng terjal, daya pengangkutan hujan bertambah besar karena berkurangnya kesempatan air hujan meresap ke dalam tanah. Kondisi Kelerengan Wilayah DAS Dodokan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5. Kondisi Kelas Kelerengan di Wilayah DAS Dodokan

No Kelas Lereng Luas (Ha)

1 0-8% 19,294,195

2 8-15% 19,079,349

3 15-25% 7,011,984

4 25-40% 3,163,343

5 >40% 7,704,172

Jumlah 56,253,043

Sumber : DAS Dodokan Tahun 2008 BPDAS Dodokan Moyosari

http://www.lpsdimataram.com

Luas sebaran jenis tanah pada setiap penggunaan lahan antara lain sawah, pertanian lahan kering, semak belukar, hutanlahan kering sekunder, pertanian lahan kering campuran, pemukiman, tubuh air, tanah terbuka kering dan tambak. Luas jenis tanah dominan yaitu T1 seluas 20.618.697 Ha atau 36.70 %, T2 seluas 13.446.414 Ha atau 23.93 %, T3 seluas 10.995.778 Ha atau 19.57 %, kemudian T4 seluas 7.654.203 Ha atau 13,62 %, T5 seluas 2.033.998 Ha atau 3.62 % dan T6 seluas 1.435.615 Ha atau 2.55 %.

iringan lereng DAS akan mempengaruhi sistem erosi dan sedimentasi. Pada awalnya hujan yang jatuh di permukaan tanah memiliki daya penghancur agregat tanah menjadi butiran-butiran tanah sebagai materi erosi dan pada hujan selanjutnya terbentuk daya angkut yang membawa material erosi ke daerah pengendapan. Pada lereng datar atau landai, daya pengangkutan hujan berkurang karena terdapat kesempatan hujan meresap ke dalam tanah, tetapi sebaliknya pada lereng terjal, daya pengangkutan hujan bertambah berkurangnya kesempatan air hujan meresap ke dalam tanah. Kondisi Kelerengan Wilayah DAS Dodokan dapat dilihat pada tabel

Kondisi Kelas Kelerengan di Wilayah

Luas (Ha) Prosentase (%)

19,294,195 34%

19,079,349 34%

7,011,984 12%

3,163,343 6%

7,704,172 14%

56,253,043 100%

DAS Dodokan Tahun 2008 BPDAS Dodokan

(6)

http://www.lpsdimataram.com

Sebagian besar wilayah DAS Dodokan berada pada lereng datar (0-8%) dan landai (8 dengan luas masing-masing 37.189,363 ha dan 13.743,142 ha (tabel 5). Dengan demikian DAS Dodokan memiliki karakter yang cenderung meredam terjadinya daya angkut hujan te material erosi. Tanpa pengatusan yang baik dari sistem pengatusan sungai dan daya serap tanah (Infiltrasi atau permeabilitas), maka DAS dapat mengalami penggenangan pada saat hujan berlebih.

Tabel 6. Kondisi Kemiringan Lereng Pada Setiap Penggunaan Lahan DAS Dodokan.

Sumber : Karakteristik Lahan DAS Dodokan, 2008 Lahan dengan lereng agak curam (25

didominasi oleh hutan lahan kering sekunder dengan luas total 619,447 Ha. Sementara lereng curam (>40%) didominasi oleh pertanian lahan kering campuran dengan luas total sebesar 465,955 ha. Disisi lain jika yang cukup berarti hingga tersisa lahan-lahan terbuka ataupun tersisa sebagai hutan sekunder.

3. Indeks Penutupan Lahan

Gambar 4. Peta Penutupan Lahan di Wilayah DAS Dodokan

Pada gambar 4 terlihat bahwa wilayah DAS Dodokan sebagian besar didominasi oleh persawahan serta pertanian lahan kering.

Persawahan dan pertanian lahan kering pada lokasi tersebut memiliki luas 36.311,605 Ha dan 10.276,532 Ha. Sementara tanah terbuka kering dan tambak merupakan daerah yang paling kecil luasannya yakni 0.35% dan 0.3% yang terdapat

_____________________________________

Volume Sebagian besar wilayah DAS Dodokan berada

8%) dan landai (8-15%) masing 37.189,363 ha dan 13.743,142 ha (tabel 5). Dengan demikian DAS Dodokan memiliki karakter yang cenderung meredam terjadinya daya angkut hujan terhadap material erosi. Tanpa pengatusan yang baik dari sistem pengatusan sungai dan daya serap tanah (Infiltrasi atau permeabilitas), maka DAS dapat mengalami penggenangan pada saat hujan

Kondisi Kemiringan Lereng Pada Setiap n Lahan DAS Dodokan.

Sumber : Karakteristik Lahan DAS Dodokan, 2008 Lahan dengan lereng agak curam (25 - 40%) didominasi oleh hutan lahan kering sekunder dengan luas total 619,447 Ha. Sementara lereng curam (>40%) didominasi oleh pertanian lahan campuran dengan luas total sebesar 465,955 ha. Disisi lain jika yang cukup berarti hingga lahan terbuka ataupun tersisa sebagai

Gambar 4. Peta Penutupan Lahan di Wilayah DAS

terlihat bahwa wilayah DAS Dodokan sebagian besar didominasi oleh persawahan serta pertanian lahan kering.

Persawahan dan pertanian lahan kering pada lokasi tersebut memiliki luas 36.311,605 Ha dan 10.276,532 Ha. Sementara tanah terbuka kering merupakan daerah yang paling kecil luasannya yakni 0.35% dan 0.3% yang terdapat

pada wilayah DAS Dodokan seperti yang terlihat pada tabel 7.

Tabel 7. Luas Penutupan Lahan di Wilayah DAS Dodokan

Indeks Penutupan Lahan permanen (IPLP) DAS Dodokan adalah 8

penutuan hutan dan semak belukar. Dengan demikian hanya 8,97% luas lahan DAS yang dapat terlindungi dengan cukup baik oleh tajuk tanaman.

PENUTUP a. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Karakteristik DAS Dodokan Kota mataram memiliki bentuk agak membulat dengan nilai Circularity Ratio sebesar 0,402. Berdasarkan kondisi morfometrinya, DAS Dodokan ini berkelok memutar dengan panjang sungai yang dua kali lebih panjang dari panjang DAS (selisih + 37,552 km) dari panjang sungai Utama DAS Dodokan sebesar 30,985 km.

dengan panjang anak sungai 1.104,3338 km dari panjang sungai total seluas 1.172,874 km.

memiliki lebar DAS 28,541 km, keliling DAS 132,568 km, Kerapatan sungai Dodokan adalah 2,085. Gradien sungai 0,481% serta memiliki pola aliran dendritik. Berdasarkan bentuk morfometri tersebut, DAS Dodokan memiliki potensi banjir serta baik/mudah mengalami kekeringan.

2. Tipe Karakteristik Fisik pada setiap Penggunaan Lahan

_____________________________________

Volume 8, No. 5, Agugstus 2014 pada wilayah DAS Dodokan seperti yang terlihat

Luas Penutupan Lahan di Wilayah DAS

Indeks Penutupan Lahan permanen (IPLP) DAS Dodokan adalah 8,97% yang berasal dari penutuan hutan dan semak belukar. Dengan demikian hanya 8,97% luas lahan DAS yang dapat terlindungi dengan cukup baik oleh tajuk-tajuk

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat DAS Dodokan Kota mataram memiliki bentuk agak membulat dengan nilai sebesar 0,402. Berdasarkan kondisi morfometrinya, DAS Dodokan ini berkelok memutar dengan panjang sungai yang dua kali lebih panjang dari panjang DAS isih + 37,552 km) dari panjang sungai Utama DAS Dodokan sebesar 30,985 km.

dengan panjang anak sungai 1.104,3338 km dari panjang sungai total seluas 1.172,874 km.

memiliki lebar DAS 28,541 km, keliling DAS 132,568 km, Kerapatan sungai Dodokan Gradien sungai 0,481% serta memiliki pola aliran dendritik. Berdasarkan bentuk morfometri tersebut, DAS Dodokan memiliki potensi banjir serta baik/mudah mengalami kekeringan.

Tipe Karakteristik Fisik pada setiap

(7)

_____________________________________________

Volume 8, No. 5, Agustus 2014 http://www.lpsdimataram.com a) Bentuk Lahan

DAS Dodokan merupakan bentuk lahan dataran (72,88%), perbukitan (15,88%), dataran Alluvial (6,80%), Pegunungan (3.96%), pantai (0.32%) dan rawa pasang surut (0.15%). Sebagian besar pegunungan ditutupi oleh hutan lahan kering sekunder.

Keberadaan sawah paling banyak pada lokasi dataran, perbukitan dan dataran alluvial yang berpotensi subur untuk lahan sawah.

b) Jenis Tanah

Sebaran jenis tanah paling dominan adalah jenis Kompleks Mediteran Coklat dan Mediteran Coklat Kemerahan yang terdapat di daerah selatan wilayah DAS Dodokan dengan luasan sebesar 20.618,695 ha sedangkan jenis tanah yang terdapat pada luasan yang paling sedikit adalah Kompleks Mediteran Coklat dan Litosol yang terdapat di sebelah timur laut wilayah DAS Dodokan dengan luasan 1.435,615 Ha.

c) Kelerangan

Lahan dengan lereng agak curam (25 - 40%) didominasi oleh hutan lahan kering sekunder dengan luas total 619,447 Ha.

Sementara lereng curam (>40%) didominasi oleh pertanian lahan kering campuran dengan luas total sebesar 465,955 ha. Disisi lain jika yang cukup berarti hingga tersisa lahan-lahan terbuka ataupun tersisa sebagai hutan sekunder.

3. Indeks Penutupan Lahan

Wilayah DAS Dodokan sebagian besar didominasi oleh persawahan serta pertanian lahan kering. Persawahan dan pertanian lahan kering pada lokasi tersebut memiliki luas 36.311,605 Ha dan 10.276,532 Ha. Sementara tanah terbuka kering dan tambak merupakan daerah yang paling kecil luasannya yakni 0.35% dan 0.3%. Indeks Penutupan Lahan permanen (IPLP) DAS Dodokan adalah 8,97% yang berasal dari penutuan hutan dan semak belukar.

b. Saran

1. Berdasarkan karakteristik DAS Dodokan yang memiliki potensi banjir dan baik/mudah mengalami kekeringan maka disarankan untuk melakukan studi/kajian mengenai potensi sumber daya air baik dari segi iklim (curah hujan, suhu, kelembaban), potensi debit air dan mata air, pola aliran serta kualitas air.

2. Saran bagi instansi atau para pihak yang berkepentingan di wilayah DAS Dodokan perlu adanya kepedulian bersama menjaga lingkungan yang lestari baik dari hulu tengah dan hilir DAS sehingga tujuan pembangunan dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

BPDAS DMS 2008.Laporan Identifikasi Karakteristik DAS Dodokan Tahun 2008 Balai Pengelolaan DAS Dodokan Moyosari. Mataram

BPDAS DMS., 2009. Laporan Hasil identifikasi dan Inventarisasi Lahan Kritis Provinsi NTB Balai Pengelolaan DAS Dodokan Moyosari. Mataram

Gambar

Tabel 1. Morfometri DAS Dodokan
Tabel 3.  Luas  Tipe  Bentuk  Lahan  pada  Setiap  Penggunaan Lahan DAS Dodokan.
Tabel 4   Luas  Jenis  Tanah  pada  Se Penggunaan Lahan DAS Dodokan
Tabel 6.   Kondisi Kemiringan Lereng Pada Setiap  Penggunaan Lahan DAS Dodokan.

Referensi

Dokumen terkait

ayam ras strain leghorn yang telah divaksinasi dengan antigen Vibrio cholerae,mengukur titer antibodi Ig Y pada kuning telur ayam dan serum secara bakterial aglutinasi

Dari hasil penilaian pada masing-masing aspek kemampuan berbicara siswa, diperoleh nilai secara klasikal bahwa kemampuan berbicara siswa meningkat dari 3,53 (70,6%) pada

Penelitian tentang Persepsi Mahasiswa Akademi Pariwisata (AKPAR) Mataram Mataram Program Studi Diploma Tiga Perhotelan terhadap pembelajaran bahasa Inggris

Mengingat bahwa penelitian ini menggunakan metode social network analisis (SNA) maka hasil dicapai adalah gambaran network atau pola jaringan komunikasi komunitas

Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : 1) Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses dapat menuntaskan prestasi belajar IPA

Secara keseluruhan dapat dijelaskan bahwa untuk pencapaian persentase dari aktivitas peneliti dalam melakukan workshop pada siklus III mengalami peningkatan sebesar

menunjukkan data kadar kadar gula darah pasien sebelum dan setelah menjalani proses terapi oksigen hiperbarik memiliki perbedaan yang bermakna karena nilai

Ketika air dimasukan dalam turbin dengan ketinggian air jatuh(head) 2.64 meter turbin berputar semakin tinggi sampai putaran maksimal sebesar 764 rpm. Apabila