Teori Belajar dan Pembelajaran Matematika
Ayu Setyawati dan Raflialdi
Pendidikan Matematika, Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
[email protected] , [email protected]
Abstrak
Tulisan ini mencoba untuk menganalisis mengenai teori belajar dan pembelajaran matematika yang menampilkan masalah dalam matematika yang dapat dijumpai dalam kehidupan kita sehari – hari. Belajar merupakan suatu proses, kegiatan ataupun aktivitas bukan suatu hasil atau tujuan yang dilakukan seseorang terutama pelajar.
Proses belajar dapat berupa pengalaman bukan hanya memahami tapi bagaimana seseorang khususnya pelajar mampu mengalami sehingga terjadi sebuah perubahan dari tingkah lakunya. Karena sebaik – baiknya belajar ialah bagaimana mereka mampu memahami dengan menggunakan panca indranya dan terjadi interaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Jadi, belajar bukanlah suatu tujuan melainkan proses perubahan seorang pelajar dan dari proses tersebut akan mendapatkan sebuah hasil yaitu berupa ilmu pengetahuan. Sehingga dengan adanya penerapan ilmu pengetahuan tersebut yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku seorang pelajar berupa pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), serta nilai dan sikap (afektif).
Seorang pengajar yang mampu membimbing para pelajar dalam proses belajar hingga terjadi perubahan yang baik bagi pelajarnya. Maka, seorang pengajar akan dapat melihat bahwa setiap siswa – siswi memiliki karakteriktiknya masing – masing atau memiliki perbedaan di setiap individunya terutama dalam pembelajaran matematika.
Kata kunci : Teori belajar, Proses belajar, Kognitif, Psikomotor, karakteristik siswa, perbedaan individu, pembelajaran matematika.
A. Pendahuluan
Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan atau aktivitas yang dilakukan seorang pelajar dan bukan suatu hasil ataupun tujuan tertentu. Belajar bukan hanya mengingat dan memahami tetapi juga mencakup ke dalam hal mengalami atau sebuah pengalaman. Suatu proses yang membawa perubahan tingkah laku pada diri individu karena adanya usaha dan belajar bukanlah suatu tujuan utama, tetapi merupakan suatu sarana untuk mencapai tujuan. Hasil dari proses belajar adalah bertambahnya ilmu pengetahuan sehingga muncul kemampuan baru pada peserta didik yaitu perubahan tingkah laku berupa pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), serta nilai dan sikap (afektif) (Lubis, 2016).
Dalam psikologi dan pendidikan, pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai proses yang menyatukan pengaruh kognitif, emosional, dan lingkungan dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan dalam pegetahuan seseorang, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2004;
Ormrod, 1995). Pembelajaran matematika di kelas lebih cenderung siswa mendengarkan dan mencatat, sesekali guru bertanya dan siswa menjawab. Aktivitas pembelajaran tersebut mengakibatkan terjadinya proses penghafalan terhadap konsep atau prosedur, pemahaman konsep matematika rendah, dan jika siswa dihadapkan pada permasalahan yang kompleks mereka cenderung tidak dapat menyelesaikannya (Prayitno, 2014). Untuk itu perlu diadakannya perubahan terhadap pembelajaran matematika di kelas.
B. Definisi dan Klasifikasi Teori Behaviorisme
Teori behaviorisme menekankan bahwa hasil belajar terbentuk dari adanya stimulus yang dilakukan oleh pengajar dan respon yang ditimbulkan oleh pelajar.
Dalam prespektif behaviorisme, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Contohnya, apabila seorang siswa belum
mampu menguasai suatu materi matematika, walaupun seorang guru sudah tekun dalam memberikan pengajaran, namun jika anak tersebut belum dapat menguasai, maka belum dapat dikatakan belajar. Seorang anak dapat dikatakan belajar, jika sudah menunjukkan perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubahan tersebut terjadi karena adanya interaksi antara stimulus dan respon.
Psikologi behavioris disebut juga psikologi stimulus respon karena behavioristik melihat adanya hubungan sebab akibat. Hubungan ini adalah hubungan antara unsur terkecil yang ada di lingkungan (environment) dan unsur terkecil dari tingkah laku (behavior)(khoiriyah, 2018). Menurut percobaan yang dilakukan oleh Thorndike dapat disimpulkan bahwa teori behaviorisme memiliki 3 hukum, seperti :
1. Hukum kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap seorang pelajar maka akan diperoleh perubahan tingkah laku yang terjadi. Untuk itu peran guru dalam memberikan sangat diperlukan dalam kesiapan ini.
2. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering seorang pelajar dilatih dan diulang dari kegagalan – kegagalan yang terjadi, maka semakin baik hasil perubahan yang terjadi.
3. Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan diperlemah jika tidak memuaskan.
C. Definisi dan Klasifikasi Teori Kognitivisme
Menurut teori kognitivisme, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Teori ini menekankan faktor pengalaman sedia ada para pelajar untuk memikirkan cara penyelesaian masalah yang dihadapi. Implikasi teori pembelajaran kognitif ialah merangsang ingatan para pelajar. Contohnya, Ketika masa kanak – kanak sudah belajar mengenai membaca, menulis, dan berhitung. Kemudian saat berada di jenjang berikutnya terdapat materi yang lebih kompleks, mereka bisa menemukan cara
penyelesaiannya dikarenakan sudah memiliki pengalaman dasar dari materi tersebut (Kognitivisme, 2014). Prinsip umum teori belajar kognitif yaitu lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil. Jadi teori belajar kognitif ini lebih memperhatikan proses keilmuan yang berdimensi ranah cipta seperti berpikir, mempertimbangkan, dan mengambil kesimpulan.
D. Definisi dan Klasifikasi Teori Humanism
Teori Humanism lahir karena dihadapkan pada teori behaviorisme dan kognitivisme yang kemudian menjawab berbagai pertanyaan tentang kesadaran pikiran, kebebasan kemauan, martabat manusia, kemampuan untuk berkembang dan kapasitas refleksi diri. Humanisme dipelopori oleh pakar psikologi Carl Rogers dan Abraham Maslow. Menurut Rogers, semua manusia yang lahir sudah membawa dorongan untuk meraih sepenuhnya apa yang diinginkan dan berperilaku dalam cara yang konsisten menurut diri mereka sendiri (Ahmadi, 2009).
Gagasan lain dari humanisme adalah sebagai berikut : 1. Setiap orang memiliki kapasitas untuk berkembang.
2. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih tujuan hidupnya.
3. Humanisme menekankan pentingnya kualitas hidup manusia.
4. Setiap orang memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya.
5. Persepsi pribadi seseorang terhadap dirinya sendiri lebih penting dari lingkungan.
6. Setiap orang memiliki potensi untuk memahami dirinya sendiri.
7. Setiap orang seharusnya memberikan dukungan pada orang lain sehingga semua memiliki citra diri yang positif serta pemahaman diri yang baik.
8. Abraham Maslow berpendapat bahwa potensi kita sesunggahnya tidak terbatas.
9. Konsep-diri adalah bagaimana seseorang mengenal potensinya, perilakunya, dan kepribadiannya.
10. Realita adalah bagaimana sesungguhnya diri seseorang sedangkan idealisme adalah bagaimana seseorang menginginkan dirinya menjadi apa.
E. Definisi dan Klasifikasi Teori Konstruktivisme
Menurut teori konstruktivisme, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi Pendidikan adalah guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswanya. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya.
Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar (Prayitno, 2014).
Contoh pendekatan kontruktivisme dalam pembelajaran adalah siswa belajar bersama dalam kelompok – kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain yang terdiri dari campuran siswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.
Prinsip – prinsip yang sering diambil dari konstruktivisme antara lain : 1. Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif.
2. Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa.
3. Mengajar adalah membantu siswa belajar.
4. Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir.
5. Kurikulum menekankan partisipasi siswa.
Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya.
F. Proses Siswa Mengkonstruksi Pengetahuannya
Konstruksi pengetahuan adalah kegiatan atau proses mental seorang siswa dalam menemukan dan mengubah informasi yang diperoleh sehingga terbentuk pemahaman atau tafsiran secara menyeluruh tentang suatu pengetahuan. Proses konstruksi pengetahuan adalah suatu cara atau langkah-langkah yang dilakukan seorang siswa untuk membangun pengetahuannya, yang berlangsung melalui dua proses konstruktif yakni: proses asimilasi dan proses akomodasi.
Asimilasi adalah proses perubahan apa yang dipahami sesuai dengan struktur kognitif yang ada sekarang, dengan kata lain, apabila individu menerima informasi atau pengalaman baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya. Sementara akomodasi adalah proses perubahan struktur kognitif sehingga dapat dipahami atau penyesuaian struktur kognitif yang sudah dimilikinya dengan informasi yang diterima.
Ciri Pembelajaran konstruktivisme adalah mengutamakan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan juga pengalaman belajar yang bermakna. Menurut pandangan konstruktivisme tentang belajar, Ketika individu dihadapkan dengan informasi baru, ia akan menggunakan pengetahuan siap dan pengalaman pribadi yang telah dimilikinya untuk membantu memahami materi baru tersebut.
Dalam proses memahami ini menurut King (1994), individu dapat membuat inferensi tentang informasi baru tersebut, kemudian menarik perspektif dari beberapa aspek pada pengetahuan yang dimilikinya, mengelaborasi materi baru dengan menguraikannya secara rinci dan menggenerasi hubungan antara materi baru dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa (Herman Tatang, 2007).
G. Proses Siswa Berpikir Tingkat Rendah, Sedang dan Tinggi
Sumarmo (2010) menyatakan secara umum indikator pemahaman matematika meliputi mengenal, memahami dan menerapkan konsep, prosedur, prinsip dan ide matematika. Sedangkan pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap konsep matematika berdasar NCTM dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam :
1. Mendefinisikan konsep secara verbal dan tertulis 2. Mengidentifikasi membuat contoh dan bukan contoh
3. Menggunakan model, diagram, dan symbol – symbol untuk contoh 4. Mengubah suatu bentuk presentasi ke dalam bentuk lain
5. Mengenal berbagai makna dan interpretasi konsep
6. Mengidentifikasi sifat – sifat suatu konsep dan mengenal syarat yang menentukan suatu konsep
7. Membandingkan dan membedakan konsep – konsep.
Keterampilan berpikir kreatif adalah keterampilan kognitif untuk memunculkan dan mengembangkan gagasan baru, ide baru sebagai pengembangan dari ide yang telah lahir sebelumnya dan keterampilan untuk memecahkan masalah secara divergen (dari berbagai sudut pansang). Untuk memunculkan kreativitas dapat melalui berbagai pembelajaran, seperti pembelajaran kooperatif yang terdiri dari berbagai metode yang dapat dipakai (Fasha et al., 2017).
Menurut Ennis (Sabandar, 2007) berpikir kritis merupakan suatu proses berpikir yang terjadi pada seseorang serta bertujuan untuk membuat keputusan - keputusan yang masuk akal mengenai sesuatu yang diyakini kebenarannya serta akan dilakukan nanti. Sabandar mencontohkan dalam belajar matematika ataupun menyelesaikan soal matematika yang sulit siswa harus fokus, misalnya tentang apa masalahnya, apa yang diketahui, apa yang merupakan inti persoalan sebelum ia memutuskan untuk memilih strategi ataupun prosedur yang tepat dan sesuai, hal itu
diperlukan untuk membantu untuk mengetahui suatu konsep yang digunakan untuk menyelesaikan soal matematika (A. Karim, 2011).
Proses siswa berpikir tingkat rendah (LOTS) yaitu :
1. Mengingat adalah mengambil pengetahuan yang relevan dari ingatan (C1).
2. Memahami adalah membangun arti dari proses pembelajaran, termasuk komunikasi lisan, tertulis, dan gambar (C2).
3. Menerapkan/Mengaplikasikan adalah melakukan atau menggunakan prosedur di dalam situasi yang tidak biasa (C3).
Proses berpikir tingkat tinggi (HOTS) yaitu :
1. Menganalisis adalah memecah materi ke dalam bagian – bagiannya dan menentukan bagaimana bagian – bagian itu terhubungkan antar bagian dan ke struktur atau tujuan keseluruhan (C4).
2. Menilai/Mengevaluasi adalah membuat pertimbangan berdasarkan kriteria atau standar (C5).
3. Mengkreasi/Mencipta adalah menempatkan unsur – unsur secara bersama – sama untuk membentuk keseluruhan secara koheren atau fungsional, Menyusun kembali unsur – unsur ke dalam pola atau struktur baru (C6).
H. Karakteristik Siswa
Karakteristik siswa merupakan kondisi pengajaran atau kualitas perseorangan siswa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya. Karakteristik siswa akan sangat mempengaruhi dalam pemilihan strategi pengelolaan yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran agar sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa.
Pendidikan dan pembelajaran merupakan satu paket yang tak terpisahkan.
Pembelajaran merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Untuk memiliki kualitas pendidikan yang baik maka perlu konsep pembelajaran yang baik pula.
Kegiatan pembelajaran diselenggarakan untuk membentuk watak, membangun pengetahuan, sikap dan kebiasaan-kebiasaan untuk meningkatkan mutu kehidupan peserta didik (Anwar, 2017).
I. Perbedaan Individu
Setiap anak yang dilahirkan telah memiliki potensi yang berbeda. Tidak ada invidu yang identik di muka bumi bahkan anak kembar sekalipun. Secara fisik, mungkin bentuk wajah sama. Bahkan secara spiritual mungkin kapasitas kecerdasannya sama tetapi untuk kecenderungan, antusiasme, dan daya tahannya berbeda. Dalam kehidupan sehari – hari dua siswa dengan nama yang sama tidak pernah setuju untuk disamakan satu sama lain. Masing – masing ingin mempertahankan karakter sendiri (B. A. Karim, 2020).
Berikut aspek – aspek perbedaan individu sebagai berikut :
1. Perbedaan kognitif, yaitu kemampuan yang terkatir dengan penguasaan sains dan teknologi. Keterampilan kognitif pada dasarnya adalah hasil belajar yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan pengaruh lingkungan.
2. Perbedaan kecakapan Bahasa, keterampilan berbahasa sangat dipengaruhi oleh faktor kecerdasan dan lingkungan. Faktor penting lainnya juga faktor fisik, khususnya organ yang berbicara.
3. Perbedaan kecakapan motorik, organ sensorik menerima rangsangan, rangsangan ditransmisikan oleh saraf sensorik ke pusat otak untuk diproses, dan hasilnya diangkut oleh saraf motoric untuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan atau kegiatan.
4. Perbedaan latar belakang, minat dan sikap individu terhadap sekolah dan mata pelajaran tertentu, pendekatan kolaboratif, keterampilan atau kemampuan
untuk fokus pada materi pembelajaran dan cara belajar adalah semua faktor yang berbeda di antara siswa.
5. Perbedaan bakat, kemampuan khusus yang dikenakan sejak lahir dan dapat berkembang dengan baik pada stimulasi dan pemupukan yang tepat.
6. Perbedaan kesiapan belajar.
Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi perbedaan individu, antara lain : 1. Faktor keturunan
2. Faktor lingkungan/keluarga 3. Faktor campuran
Implikasi perbedaan individual dalam proses pembelajaran, setiap individu memiliki berbagai macam tipe dalam belajar, seperti :
1. Siswa dengan tipe visual lebih banyak menyerap/menangkap informasi melalui indera penglihatan/mata dapat dimaksimalkan dengan belajar menggunakan diagram, peta konsep, dan flow chart dalam menjelaskan bahan atau materi.
2. Siswa dengan tipe auditori lebih banyak menyerap/menangkap informasi lewat indera pendengaran, dapat dimaksimalkan menggunakan audio (music,radio, dan sebagainya), saat belajar menggunakan rekaman, membaca dengan nyaring dan suara keras dan lain – lain.
3. Siswa dengan tipe kinestetik lebih banyak memperoleh/menyerap informasi melalui gerakan fisik, hal yang dapat dimaksimalkan adalah dengan belajar melaui praktek lapangan, kegiatan praktikum dan perbanyak simulasi serta role playing (Zagoto, 2019).
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi. (2009). Teori Belajar dan Pembelajaran. In Teori Belajar dan Pembelajaran (Vol. 9, Issue April).
Anwar, M. K. (2017). Pembelajaran Mendalam untuk Membentuk Karakter Siswa sebagai Pembelajar. Tadris: Jurnal Keguruan Dan Ilmu Tarbiyah, 2(2), 97. https://doi.org/10.24042/tadris.v2i2.1559
Fasha, E. F., Pendidikan, P., & Universitas, M. (2017).
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN MATHEMATICS IN CONTEXT PADA KEMAMPUAN DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF. 3(1), 87–94.
Herman Tatang. (2007). Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Educationist, 1(1), 3.
http://ejournal.sps.upi.edu/index.php/educationist/article/view/28/22 Karim, A. (2011). Penerapan metode penemuan terbimbing dalam
pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar. Seminar
Nasional Matematika Dan Terapan, 32.
Karim, B. A. (2020). Teori Kepribadian dan Perbedaan Individu. 1(1), 40–49.
khoiriyah, fathul. (2018). Pembelajaran Pendidikan Akhlak (Karakter) Perspektif Teori Behaviorisme. Jurnal Subulana, 2(1), 46–59.
http://journal.stitmu.ac.id/index.php/Subulana/article/view/22 Kognitivisme, P. T. (2014). Jurnal Biology Science & Education 2014
Wiwik widiyati. 3(2).
Lubis, M. S. (2016). Teori Belajar dan Pembelejaran. In Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (pp. 0–74).
Prayitno, A. T. (2014). Pembelajaran Matematika Dengan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Fslc Bernuansa Konstruktivisme Pada Materi Turunan Fungsi Untuk Meningkatkan Kemampuan
Komunikasi Matematis Siswa Sma. Euclid, 1(1), 22–32.
https://doi.org/10.33603/e.v1i1.341
Zagoto, M. M. (2019). Perbedaan individu dari gaya belajarnya serta implikasinya dalam pembelajaran. 2, 259–265.