FUNGSI DAN REVITALISASI TEATER DEWA MENDU MASYARAKAT MELAYU KEPULAUAN ANAMBAS
SKRIPSI
DIKERJAKAN OLEH :
NAMA : AMRULLAH NIM : 120702004
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA
DAPARTEMEN SASTRA DAERAH
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA MELAYU MEDAN
2017
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul Fungsi dan Revitalisasi Teater Dewa Mendu Masyarakat Melayu Kepulauan Anambas. Penul isan skripsi ini bertujuan untuk memaparkanunsur-unsur pembentuk serta fungsi dan revitalisasi teater Dewa Mendu. Adapun yang menjadi objek kajian penulis yaitu teater Dewa Mendu yang terdapat di Desa Mampok, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas.
Teori yang penulis gunakan adalah teori Teori Fungsi Bascom dalam buku Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain dan teori rivitalisasi Robert Sibarani dalam buku Kearifan Lokal, Hakikat, Peran, dan Metode Tradisi Lisan. Adapun metode yang penulis gunakan dalam melakukan penelitian adalah metode dengan teknik penelitian lapangan. Penulis menggunakan metode analisis deskriptif agar dapat menyajikan dan menganalisis data secara sistematik, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi daerahnya. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa teater Dewa Mendu memiliki unsur-unsur pembentuk sebagai bagaian dari seni pertunjukan masyarakat Melayu. Fungsi yang terdapat pada teater Dewa Mendu merupakan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman kehidupan. Untuk itulah teater Dewa Mendu masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas perlu dijaga kelestariannya, dengan cara merevitalisasi teater Dewa mendu yang ada di Desa Mampok.
Kata Kunci : Teater, Fungsi, Revitalisasi, Teater Dewa Mendu
كترسبا
ويلام تكراشم ودنم اويد ترٸيت سياسيلاتيفر ناد سيڠوف لودوجرب نيا سيفيركس ولاوفك روسنوا نكرفامم قوتنوا نٸوجوترب نيا سيفيركس نسيلونف .سبنما نٸ -
روسنوا
قيبجوا يداجنم ݞي نوفادا .ودنم اويد ترٸيت سياسيلاتيفر ناد سيڠوف تاسر نكوتنبفم ,اجماج تنماچك ,قوفمم اسيدد تفادرت ڠي ودنم اويد ترٸيت وتيٸيا سيلونف ٸنيجكا ݞي يروايت .سبنما نٸولاوفك ينتافوبكا موچسب سيڠوف يروايت لهادا نكناوڬ سيلونف
نٸلا ناد ,غيغود ,في سوڬ لمع : أي سنودنيا روكللوف وكوب لماد -
يروايت ناد نٸلا
يدوتم ناد ,نارف ,تكيكاح ,كلول نفيٸرك وكوب لماد نيرابيس تيربور سياسيلاتيفر ٸنيتيلنف نكوكلام لماد نكناوڬ نسيلونف ݞي يدوتم نوفادا .نسيل سييدارت لهدا
سيسيلناا يدوتم نكناوڬڠم نسيلونف .نڠفلا ٸنيتيلنف قينكت نعد يدوتم لٸوتقف ,قيتتما سيس اراچس تاد سيسيلنااڠم ناد نكيجاچم تفاد رڬا فيتفيركسد اتقاف يانيڠم تروكا ناد -
تفي س ناد اتقاف -
لي ساه .ثهرياد سيلاوفوف تفي س
ودنم اويد ترٸيت اوبه نكقونجونم نڠفلاد ٸنيتيلنف روسنوا كييليمم
- قوتنبفم روسنوا
ترٸيت دف تفادرت ݞي سيڠوف .ويلام تكراشم نكونجوترف نييس يراد ٸنيڬبا ياڬاب س يلاين نكفورم ودنم اويد -
لهتيا قوتنوا .نفوديهك نمودف نكداجد تفاد ݞي يلاين
نڠد ,ثنئيرات سكل ڬاجد ولرف سبنما نٸولاوفك ينتافوبكا تكراشم ودنم اويد ترٸيت چ .قوفمم اسيدد ادا ڠي ودنم اويد ترٸيت سياسيلاتيفرم را
ودنم اويد ,سياسيلاتيفر ,سيڠوف ,تٸيت :يچنوك تكا
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi syarat untuk dapat menempuh ujian sarjana pada program studi Sastra Melayu, Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan.
Skripsi ini berjudul Fugsi dan Revitalisasi Teater Dewa Mendu Masyarakat Melayu Kepulauan Anambas. Skripsi ini terdiri atas 5 bab, yaitu:
bab pertama berisi pendahuluan, terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Bab kedua berisi tinjauan pustaka, terdiri atas kepustakaan yang relevan, dan teori yang digunakan. Bab ketiga berisi metode penelitian, terdiri atas metode dasar, lokasi penelitian, instrumen penelitian, sumber data penelitian, metode pengumpulan data, dan metode analisis data. Bab keempat berisi pembahasan yang terdiri atas unsur-unsur Teater Dewa Mendu, fungsi Teater Dewa Mendu, dan revitalisasi Teater Dewa Mendu. Bab kelima memuat kesimpulan dan saran.
Penulis menyadari penulisan skripsi ini belum sempurna. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis.
Medan, Januari 2017 Penulis,
Amrullah
NIM : 120702004
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini, dengan kerendahan hati yang tulus dan ikhlas penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, beserta Wakil Dekan I, II, dan III.
2. Bapak Drs. Warisman Sinaga, M.Hum., sebagai Ketua Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara sekaligus sebagai pembimbing II penulis yang telah banyak mengorbankan waktu dan tenaga serta memberikan perhatiannya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Dra. Herlina Ginting, M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Yos Rizal, MSP., selaku pembimbing I penulis yang telah banyak mengorbankan waktu dan tenaga serta memberikan perhatiannya untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Bapak / Ibu staf pengajar dan pegawai di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik penulis sejak berada di Departemen Sastra Daerah Universitas Sumatera Utara serta tata usaha Sastra Daerah Kak Fifi Triyani, S.S., yang telah banyak membantu dan melancarkan admistrasi selama kuliah di Fakultas Ilmu Budaya.
6. Kedua orang tua Penulis Tarmirin dan ibunda tercinta Hanna Toli, yang telah banyak berkorban baik dalam materi, tenaga, pikiran, yang telah banyak melimpahkan kasih sayangnya kepada penulis serta doa. Kepada abanganda penulis, Adnan TM Eko Saputra dan kakak Ipar penulis, Anggi Purwandani, yang selalu memberikan motivasi dan dorongan serta bantuannya kepada penulis selama penyelesaian skripsi ini.
7. Bapak Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas, Bapak Abdul Haris, S.H., yang telah memberikan beasiswa kepada penulis dan instansi yang terkait yang telah membimbing penulis dan memberikan bantuan baik secara materi maupun motivasi untuk terus belajar.
8. Rekan – rekan seperjuangan stambuk 2012, Renny Puspa Sari, Apriliana Lase, Yuyun Chairani Nst, Fella Kaulika, Lisa Andriani, Nilova Giostina, Gemi Sasnika, Ika Lia Juliana, Alawiyah, Nurlaila, M. Dedi, M. Iqbal Marliza, M. Arfan, Ricky Yudhistira, Rizky Fiandra, Mas Ageng, Ariya Isnain, Tri Bima Sanjaya, dan Hendriadi Siregaryang selalu memberikan motivasi dan dorongan serta bantuannya kepada penulis selama penyelesaian skripsi ini. Abang-abang di IMSAD (Bobbi Tarigan, Andika Saputra Lubis, Surya Dharma, Rendy Novrizal, Eka Riwanda Sitepu, Dedi Rahmad Sitinjak, Fachrizal Fahri). Adik-adik di IMSAD (Ari, Rena, Nadila, Bella, dan semua adinda-adinda stambuk 2014-2016 yang tidak bisa peulis sebutkan satu per satu), yang tela memberi motivasi dan besedia untuk berbagi candaan kepada penulis. Keluarga Besar Hijau Hitam, HMI FIB USU (Bang Eko, Om Daru, Bang Erianto, Bang Wahyu, kepengurusan periode 2014-2015 dan kepengurusan sekarang), yang telah bersedia menjadi sahabat berdikusi dalam segala hal yang memberikan wawasan kepada penulis.
9. Seluruh keluarga yang berada di Desa Mampok terutama pada informan yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan keterangan kepada penulis.
10. Adinda Metti Rizky yang telah memberikan motivasi, doa, dan tetap setia menanti kepulangan penulis.
Akhir kata, atas bantuan dari semua pihak, penulis mengucapkan terima kasih, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Januari 2017 Penulis,
Amrullah
NIM : 120702004
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iv
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 10
1.4 Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kepustakaan yang Relevan ... 11
2.2 Teori yang Digunakan ... 12
2.2.1 Teori Fungsi ... 13
2.2.2 Teori Revitalisasi ... 15
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Dasar ... 18
3.2 Lokasi Penelitian ... 18
3.3 Instrumen Penelitian ... 18
3.4 Sumber Data Penelitian ... 19
3.5 Metode Pengumpulan Data... 19
3.6 Metode Analisis Data ... 20
BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Unsur-Unsur Pembentuk Teater Dewa Mendu... 21
4.3 Revitalisasi Teater Dewa Mendu ... 46
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 53
5.2 Saran ... 55
DAFTAR PUSTAKA ... 56 LAMPIRAN
1. Daftar Informan
2. Beberapa lirik lagu teater Dewa Mendu 3. Surat izin penelitian Fakultas
4. Surat keterangan dari Desa Mampok
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seni pertunjukan sebagai ciptaan dan kreasi manusia mengantarkan kita pada suatu pesan yang hendak disampaikan. Melalui aksi pemeran seni, pekerja seni mencoba untuk menggambarkan pesan yang ingin disampaikan. Pesan yang disampaikan membawa kita pada pengenalan kehidupan. Dengan orentasi akhir untuk menemukan norma-norma dan pikiran-pikiran yang ada dalam kehidupan.
Seni pertunjukan merupakan karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Pertunjukan biasanya melibatkan empat unsur: waktu, ruang, tubuh si seniman dan hubungan seniman dengan penonton.
Yang termasuk dalam seni pertunjukan adalah seni akrobat, mengamen, komedi/lawak, tari, pentas musik, opera, sulap, teater film, dan lain-lain.
Teater merupakan salah satu jenis seni pertunjukan. Teater merupakan tempat dilangsungkannya sebuah pertunjukan yang dilakoni oleh pelaku (pemain dan kru panggung) dan disaksikan oleh penonton sebagai sebuah pertunjukan atau tontonan. Di Indonesia istilah teater sering dikaitkan dengan drama. Sulit untuk memberikan perbedaan antara teater dan drama. Dikarenakan, keduanya melibatkan unsur penonton dan lakon dalam melakukan aksinya. Mengenai hal ini perlu juga disampaikan batasan mengenai pengertian teater dan drama sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penggunaannya.
Kata teater berasal dari bahasa Yunani, theatron yang artinya tempat atau gedung pertunjukan yang terbentuk dari kata theaomai yang berarti melihat.
Dengan demikian pada awal mulanya teater diartikan sebagai gedung tempat menyaksikan pertunjukan (seeing place). Dalam perkembangannya, secara lebih luas teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dalam rumusan yang sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai dokter dan pasien, bermain perang-perangan, dan lain sebagainya (Santosa 2013:4).
Kata drama yang juga berasal dari bahasa Yunani Kuno draomai yang berarti bertindak atau berbuat dan drame yang berasal dari kata Perancis untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata drama juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Soemanto dalam Santosa, 2013: 5).
Dari pengertian di atas, maka teater berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan drama berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang
akan dipentaskan. Jika drama adalah lakon dan teater adalah pertunjukan, maka drama merupakan bagian atau salah satu unsur dari teater.
Sementara itu, Rahmanto dan Adji (2007: 14) memberikan simpulan tentang pengertian drama dan teater sebagai berikut:
Dalam pengertian yang paling umum drama adalah setiap karya yang dibuat untuk dipentaskan di atas panggung oleh para aktor yang menggambarkan kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan dengan gerak dan laku.
Sementara teater adalah sebuah istilah lain dari “drama” dalam pengertian yang lebih luas, termasuk pentas, penonton, dan gedung pertunjukan.
Selain drama, kata sandiwara pun sering menjadi istilah untuk menyebutkan teater. Harymawan (dalam Santosa 2013: 42) mengatakan bahwa istilah sandiwara dicetuskan oleh P.K.G. Mangkunegara VII sebagai pengganti kata “toneel” dalam bahasa Belanda. Sandiwara berasal dari kata “sandi” yang artinya “rahasia” dan “wara (warah)” yang artinya “pelajaran”. Dengan demikian dapat dirumuskan pengertian sandiwara sebagaimana yang sudah disebutkan oleh Ki Hajar Dewantoro bahwa sandiwara adalah pengajaran yang dilakukan dengan perlambang. Pada perkembangannya, kata sandiwara tidak begitu populer digunakan. Bahkan kata sandiwara mengalami pergeseran makna peyoratif dan menyempit. Secara peyoratif, kata sandiwara dimaknai sebagai kejadian-kejadian yang dipertunjukkan untuk mengelabui mataatau tidak sungguh-sungguh.
Sementara penyempitan makna terjadi karena sandiwara hanya digunakan untuk menyebutkan cerita-cerita yang disiarkan melalui radio atau disebut sandiwara
radio. Dengan demikian, istilah sandiwara menjadi kalah populer jika dibandingkan dengan istilah drama atau teater.
Teater merupakan seni pertunjukan yang sangat kompleks, yang di dalamnya terdapat beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut, jalin-menjalin membentuk satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Unsur pelaku sebagai unsur utama ditopang dengan unsur benda, suara, dan ruang sebagai penopangnya dan dijalin oleh sebuah cerita sehingga terwujudlah sajian dalam bentuk seni pertunjukan. Semua unsur ini tidak dapat dilepaskan salah satu karena akan menciderai nilai pertunjukan dalam teater sendiri.
Unsur pelaku di dalam pertunjukan drama ada beberapa macam. Disana ada pemain, sutradara, kru panggung, bahkan penonton. Ada pula unsur penopang yang berupa panggung, tata busana, musik, tata cahaya, dan tata rias. Kedua unsur tersebut dirangkai oleh cerita dan bersama-sama membangun cerita sehingga terjadilah sebuah pertunjukan teater secara lengkap, yaitu sebuah pertunjukan yang menceritakan kehidupan manusia di atas panggung yang diperankan oleh pelaku dengan berbagai unsur penunjangnya dan disaksikan oleh penonton.
Vsevolod Meyerhold (dalam Eko Santoso 2013: 89) menyebutkan bahwa unsur utama atau unsur pokok pembentuk teater adalah penulis yang menghasilkan lakon, sutradara, pemain, dan penonton. Ketiga unsur pertama adalah penghasil pertunjukan teater sedangkan penonton merupakan penanda adanya aktivitas sebuah pertunjukan. Tanpa penonton, maka tidak ada kegiatan teater yang disebut sebagai pertunjukan atau pementasan. Sedangkan unsur pendukung dalam teater adalah Tata arsitik yang tidak dapat dipisahkan dalam
pertunjukan teater. Tata artistik merupakan unsur pendukung dalam pertunjukan yang diadakan. Tata artistik, meliputi tata panggung, tata rias, tata busana, tata busana, dan tata cahaya.
Hasanuddin W.S. (dalam Ulya, 2011: 20) mengatakan bahwa unsur-unsur drama dalam kaitannya dengan seni pertunjukan dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu (1) unsur utama, terdiri dari sutradara, pemain, teknisi (pekerja panggung), dan penonton, serta (2) sarana pendukung, yang terdiri dari pentas dan komposisinya, kostum (busana), tata rias, pencahayaan, serta tata suara dan ilustrasi musik.
Perbedaan pendapat mengenai unsur teater sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa, Hasanuddin tidak meletakkan unsur cerita sebagai penjalin di antara unsur-unsur yang ada.
Etnik Melayu sebagai salah satu etnik yang ada di Indonesia, telah memberi warna pada keberagaman di Indonesia. Keberagaman yang dimiliki etnik Melayu dapat dilihat dari kebudayaan yang dimilikinya. Jika kita menggunakan tujuh unsur kebudayaan secara universal yang dikatakan C. Kluckhohn yaitu, sistem data pencaharian hidup (ekonomi), sistem peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi), sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan sistem religi, maka kita akan menjumpai ketujuh unsur kebudayaan tersebut pada masyarakat Melayu.
Dari berbagai kebudayaan yang dimiliki etnik Melayu. Teater merupakan salah satunya. Keberadaan teater pada etnik Melayu sama halnya dengan sastra
disimpan dalam ingatan dan diwarisi secara turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sistem penyimpanan dan pewarisan tradisi tersebut membuat kita sangat sulit untuk menemukan bentuk asli dari teater yang dimiliki etnik Melayu ditambah perkembangan zaman yang bersifat dinamis sehingga tradisi yang telah diturunkan mengalami modifikasi sesuai dengan kebutuhan. Sesuai dengan itu Sibarani (2012 :2) mengatakan;
“Tradisi budaya atau tradisi lisan masa lalu tidak akan mungkin dapat lagi dihadirkan pada masa kini persis seperti dahulu karena telah mengalami transformasi sedemikian rupa bahkan mungkin telah “mati” karna tidak lagi hidup dikomunitasnya, tetapi nilai dan normanya dapat diaktualisasikan pada masa sekarang”.
Namun sebagai kreativitas dalam menyatakan diri dengan bahasa yang artistik etnik Melayu telah menunjukkan nilai dan fungsi sastra lisan sebagai media pengantar suatu kebudayaan sehingga membuat hal tersebut menjadi menarik (Teeuw, 1989: 10).
Salah satu teater yang ada pada etnik Melayu adalah Teater Dewa Mendu.
Teater Dewa Mendu yang selanjutnya disingkat dengan TMD, terdapat di daerah Bunguran, Kabupaten Natuna. Tidak ada catatan pasti mengenai kapan dimulainya pertunjukan TMD. dalam pementasannya sebagai seni pertunjukan, TMD banyak menyerap dari pertunjukan Wayang Parsi yanng dibawa oleh orang India ke jajahan Inggris di Penang pada tahun 1870-an.
Dalam pementasannya, cerita tersebut terbagi menjadi tujuh episode.
Episode pertama, menceritakan kehidupan di kayangan dan turunnya Dewa Mendu dan Angkara Dewa ke dunia. Dalam episode ini juga diceritakan bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan Siti Mahdewi hingga keduanya
bersepakat untuk membentuk sebuah keluarga (episode ini kadangkala dibagi menjadi dua, yakni turunnya Dewa Mendu dan Angkara Dewa, dan perkawinan Dewa Mendu dengan Siti Mahdewi). Episode kedua, menceritakan berpisahnya Dewa Mendu dengan Siti Mahadewi akibat perbuatan jin jahat yang diutus oleh Maharaja Lak Semalik. Dalam episode ini juga diceritakan bagaimana Sang Dewa Mendu mencari isterinya. Episode ketiga, menceritakan perjalanan Siti Mahadewi, melahirkan anaknya yang kemudian diberi nama Kilan Cahaya, dan perjumpaannya dengan Nenek Kabayan. Episode keempat, mengisahkan tentang perjalanan Dewa Mendu yang kemudian sampai di sebuah kerajaan yang rajanya bernama Bahailani. Masih dalam episode ini, diceritakan juga bahwa Dewa Mendu akhirnya menikah dengan putri Raja Bahailani. Episode kelima, menceritakan perjalanan Dewa Mendu ke sebuah kerajaan yang rajanya bernama Majusi. Dalam episode ini juga diceriterakan tentang perkawinan Angkara Dewa dengan puteri Raja Majusi. Episode keenam, menceritakan perjalanan Dewa Mendu ke sebuah kerajaan yang rajanya bernama Firmansyah. Konon, raja ini sedang mengalami masalah karena puterinya dipinang oleh Raja Beruk yang tidak disukainya. Dalam episode ini juga diceritakan puteri Firmansyah bertemu dengan Kilan Cahaya. Episode ketujuh mengisahkan bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan Kilan Cahaya yang diawali dengan perkelahian antarkeduanya (http://uun- halimah.blogspot.co.id/2008/02/mendu-kepulauan-riau.html, di akses pada tanggal 5 Mei 2016).
Selain terdapat di Kabupaten Natuna, TMD juga terdapat di Kabupaten Anambas, Kecamatan Jemaja. Ada perbedaan yang terdapat dalam penampilan
TMD di Kabupten Anambas Kecamatan Jemaja tepatnya di Desa Mampok. Dari segi lakon, pertunjukan teater Dewa Mendu di Desa Mampok, hanya melaksanakan penampilan satu episode dengan waktu 3 malam yang menceritakan turunnya Dewa Mendu dan adiknya Angkara Dewa Mendu mengembara di dunia hingga bertemulah ia dengan Gajah Putih yang merupakan jelmaan dari Siti Mahdewi anak dari Raja Langkedure. Raja Langkedure yang menolak pinangan dari Raja Laksemalek untuk menjadikan anak Raja Langkedure sebagai istrinya membuat Raja Laksemalek marah dan mengubah wujud Siti Mahdewi menjadi Gajah Putih melalui bantuan Nenek Sejanggi yang merupakan sahabat dari Raja Laksemalek. Pengasingan Gajah Putih ke hutan mempertemukan dengan Dewa Mendu. Dengan kesaktiannya sebagai Dewa maka dikembalikan wujud Siti Mahdewi ke wujud asalnya dan dibawanya pulang, lalu dinikahkanlah Siti Mahdewi dengan Dewa Mendu oleh Raja Langkedure.
Penulis memilih TMD sebagai bahan penelitian karena TDM merupakan kebudayaan nasional yang wajib kita jaga kelestariannya. Penyajiannya sebagaimana yang dikemukakan di atas, bahwa untuk penampilan TMD dibutuhkan tujuh episode atau tujuh malam penampilan. Dengan konteks yang kekinian tidak lagi memungkinkan untuk penampilan yang begitu lama dari suatu seni pertunjukan. Karena kebutuhan masyarakat dahulu dan kini tentu berbeda.
Apalagi TDM diangkat dari cerita yang bersifat kayangan sehingga sulit untuk dirasionalisasikan. Maka penulis tertarik melakukan penelitian di Kabupaten Anambas, Kecamatan Jemaja Desa Mampok karena dari segi lakon masih
memberikan ruang untuk melakukan revitalisasi terhadap seni pertunjukan yang hampir tidak dikenal pasa masa ini.
Dewasa ini, dalam perhelatannya TDM hanya dipentaskan satu malam saja sebagai pengenalan kepada masyarakat. Maka dari itu pengkajian cerita rakyat yang menjadi rujukan pembentukan TDM dan fungsinya, harus dipahami oleh masyarakat sehingga hakikat TDM dapat diketahui. Jika pun hal tersebut tidak dapat dipertahankan karena kemajuan zaman maka perlu adanya penataan ulang atau revitalisasi terhadap TDM sesuai konteks zaman kekinian sehingga memberi warna baru bagi seni pertunjukan di Indonesia.
Untuk mengembangkan TDM di masyarakat, tentunya masyarakat harus mengetahui fungsi TDM itu. Karena teater bukan hanya merepresentasikan apa yang terjadi di kehidupan yang sesungguhnya, tetapi juga memberikan alternatif dan pelajaran tentang bagaimana kehidupan manusia, sehingga nilai-nilai yang ada dalam pertunjukan TDM dapat tersampaikan kepada khalayak dan kelestarian TDM serta keutuhan nilainya di tengah masyarakat terkhusus di Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, dapat dijaga dan dipertahankan.
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan judul skripsi, maka masalah yang akan dibahas adalah : 1. Unsur-unsur pokok dan pendukung apa sajakah yang terdapat dalam TDM ? 2. Apakah fungsi TDM bagi masyarakat Melayu?
3. Bagaimana cara merevitalisasi TDM ?
1.3 Tujuan Penelitian
Pembahasan dalam skripsi ini memiliki sasaran ataupun tujuan. Adapun tujuan yang hendak dicapai antara lain :
1. Memaparkan unsur-unsur pokok dan pendukung dalam TDM.
2. Memaparkan fungsi TDM bagi masyarakat Melayu.
3. Memaparkan cara merevitalisasi TDM.
1.4 Manfaat Penelitian
Ada beberapa manfaat yang penulis harapkan dapat dirasakan oleh pembaca. Manfaat tersebut di antaranya adalah :
1. Membantu pembaca untuk memahami unsur-unsur yang membangun TDM.
2. Memelihara kebudayaan lokal agar terhindar dari kemusnahan dan sebagai dokumentasi sehingga dapat diwariskan serta dilestarikan pada generasi yang akan datang.
3. Sebagai landasan atau titik tolak bagi peneliti yang akan dilakukan oleh siapa saja untuk penelitian lebih lanjut.
4. Penelitian ini diharapkan mampu menarik perhatian masyarakat terhadap teater daerah yang banyak menyimpan nilai-nilai yang sangat besar manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kepustakaan yang Relevan
Mengenai masalah dan bidang yang akan diteliti dalam menulis karya ilmiah diperlukan kajian pustaka. Kajian yang dimaksud adalah penelaahan terhadap hasil penelitian lain yang relevan dengan skripsi ini. Dalam mencari informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti dan memperdalam pengetahuan penelitian.
Sesuai judul skripsi, yaitu Fungsi dan Revitalisasi Teater Dewa Mendu Masyarakat Kabupaten Kepualauan Anambas, maka dalam memecahkan persoalan yang timbul dalam penelitian ini penulis menggunakan buku-buku yang relevan sebagai pendukung yaitu buku-buku seperti Kearifan Lokal : Hakikat, Peran, Dan Metode Lisan (Sibarani, 2012), Pengatahuan Teater: Sejarah dan Unsur Teater (Santoso, 2013), Teori Pengkajian Fiksi (Nurgiyantoro, 1995), dan sebagainya.
Penulis juga juga membaca buku-buku, skripsi, dan tesis terdahulu. Skripsi dan tesis yang mendukung kajian yang dianalisis adalah sebagai berikut.
Skripsi Handayani (2000) yang berjudul “Drama Bangsawan Sulung Karya Rokyoto : Analisis Struktur”. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat struktur intrinsik seperti tema, alur/ plot, latar dan tokoh dan penokohan.
Penelitian serupa yang akan dikemukakan adalah, yang dilakukan oleh Ulya (2011). Penelitian dalam bentuk tesis ini berjudul “Kajian Historis dan Pembinaan Teater Tradisional Ketoprak”. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat
sejarah, pengorganisasian, dan pembinaan Teater Ketoprak di Surakarta. sehingga memiliki informasi yang signifikan bagi generasi selanjutnya.
Adapun persamaan antara penelitian Handayani (Skripsi) dan Ulya (Tesis) dengan kajian penulis adalah sama-sama memuat informasi struktur intrinsik.
Sedangkan perbedaan penelitian Handayani (Skripsi) dengan kajian penulis yaitu pada skripsi Handayani hanya mencakup strukturnya saja. Sedangkan pada kajian penulis tidak hanya mengkaji secara struktur namun juga fungsi Teater bagi masyarakat. Dan perbedaan penelitian Ulya (Tesis) dengan kajian penulis yaitu pada tesis Ulya, terdapat fungsi yang dijadikan pengalaman hidup dan nilai budaya yang terkandung merupakan cerminan perilaku dan pola hidup masyarakat pada zamannya, sehingga memiliki informasi yang signifikan bagi generasi selanjutnya. Sedangkan penulis mengkaji fungsi teter bagi masyarakat Melayu menggunakan fungsi dari Bascom.
Sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan penelitian terhadap TDM, baik dalam bentuk makalah maupun skripsi yang secara khusus membahas struktur dan fungsi TDM pada masyarakat Melayu Kepulauan Anambas.
2.2 Teori yang digunakan
Teori merupakan suatu prinsip dasar yang terwujud dalam bentuk dan berlaku secara umum yang akan mempermudah seorang penulis dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Teori yang diperlukan untuk membimbing dan memberi arah sehingga dapat menjadi penuntun kerja bagi penulis. Menurut Pradopo, dkk (2001 : 35) teori ialah seperangkat proposisi yang
terintegrasi secara sintaksis dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan, atau menjelaskan suatu fenomena. Teori juga dapat dilepaskan dari fakta atau menjelaskan suatu fenomen. Adapun teori yang digunakan yaitu teori fungsi Bascom (1984) untuk mengkaji fungsi TDM dan teori revitalisasi Sibari (2012) untuk mengetahui cara revitalisasi TDM.
Kedua teori pendekatan tersebut digunakan untuk mendeskripsikan fungsi teater bagi masyarakat Melayu dan konsep revitalisasi terhadap suatu kebudayaan lokal masyarakat Melayu setempat. Berikut akan dipaparkan kedua teori pendekatan tersebut.
2.2.1 Teori Fungsi
Dalam ilmu antropologi, teori fungsioalisme dikembangkan oleh Bronislaw Malinowski yang mengembangkan teori fungsi tentang unsur kebudayaan yang sangat kompleks Malinowski (dalam Takari, 2008:17) mengatakan ;
“Pendirian bahwa segala kegiatan kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dari sejumlah keperluan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh hidupnya”
Namun, teori ini dibantah oleh ahli-ahli lain, seperti halnya Radliffe- Brown, yang mengemukakan agar fungsi dikaitkan struktur.
Hal tersebut diakui oleh Dorson (dalam Endraswara, 2009:26) bahwa teori fungsi dalam folkor juga telah berkembang luas di Amerika. Sejak Boas menerapkan dan Benedict menerapkan etnografi budaya. Hal ini semakin tampak
lagi ketika Bascom mengungkap fungsi folklor dengan memperluas pandangan Malinowski.
Pada dasarnya folklor berfungsi memantapkan identitas serta meningkatkan integrasi sosial, dan secara simbolis mampu mempengaruhi masyarakat. Bahkan, kadang-kadang folklor justru lebih kuat pengaruhnya dibanding sastra modern. Folklor akan memiliki pengaruh terhadap pembentukan tata nilai yang berupa sikap dan perilaku.
Menurut Bascom (dalam Endraswara, 1984:19) ada empat fungsi dalam satra lisan, yaitu :
1. Sebagai sebuah bentuk hiburan masyarakat,
2. Sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, 3. Sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device,.
4. Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.
Fungsi-fungsi semacam ini, dapat dilacak berdasarkan data di lapangan.
Fungsi tersebut masih dapat berkembang. Varian-varian fungsi sastra lisan masih dapat dilakukan, sejauh didukung oleh data yang jelas.
Menurut Bascom (dalam Danandjaja, 1984:19) pembicaraan fungsi folklor tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kebudayaan secara luas, dan juga dengan konteksnya. Folklor milik seseorang dapat dimengerti sepenuhnya hanya melalui pengetahuan yang mendalam dari kebudayaan orang yang memilikinya.
Dari berbagai fungsi tersebut berarti mengarahkan bahwa kebudayaan memang penting bagi kehidupan. Karya seni pertunjukan yang sama mungkin
berbeda di wilayah yang satu dengan yang lainnya. Fungsi sebuah seni pertunjukan tergantung ekspresi pencipta dan tuntutan lingkungan.
2.2.2 Teori Revitalisasi
Revitalisasi merupakan proses, cara, perbuatan menghidupkan kembali atau menggiatkan kembali. Revitalisasi sangat dibutuhkan, mengingat sifat kebudayaan yang dinamis dalam masyarakat sering kali kebudayaan-kebudayaan lampau banyak dilupakan atau tidak muncul di permukaan sebagai kebutuhan masyarakat, karena dianggap tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan zaman dewasa ini. Maka dari itu, konsep revitalisasi diharapkan pula dapat memberikan penyegaran terhadap kebudayaan lampau yang telah hilang kedudukannya di masyarakat sehingga nilai-nilai yang kearifan lokal dalam suatu kebudayaan dapat ditemukan dan dapat dilestarikan sesuai dengan kebutuhan zaman kekinian.
Model revitalisasi tradisi lisan membutuhkan perencanaan dan penelitian yang khusus karena menyangkut komoditas pemiliknya. Salah satu metode kombinasi penelitian dan perencanaan yang dapat diterapkan dalam metode revitalisasi tradisi lisan adalah Participatory Planning and Research (PPR).
Metode ini sering digunakan dalam lingkungan sosial-budaya dan kajian masyarakat pedesaan sebagai perkembangan dari metode Rapid Rural Appraisal (RRA). Metode Rapid Rural Appraisal lebih menekankan perlunya pemahaman dan pembelajaran terhadap masyarakat pedesaan dari orang-orang luar yang memberikan perhatian dan kepedulian kepada mereka. Metode ini memang
dianggap sudah efisien sesuai dengan namanya rapid ‘cepat’, tetapi juga masih kurang efektif karena kurang memanfaatkan potensi masyarakat setempat.
Metode Rapid Rural Appraisal lebih menekankan perlunya pemahaman bersama yang membuat anggota masyarakat itu saling berbagi untuk memberdayakan masyarakat setempat. Participatory Planning and Research (PPR) lebih menekankan penggalian informasi melalui penyelidikan yang seksama terhadap potensi masyrakat setempat, saling berbagi antarmasyarakat untuk pemberdayaan mereka, dan selanjutnya melaksanakan perencanaan yang bermanfaat untuk masyarakat setempat. Dalam revitalisasi tradisi lisan dengan model PPR, ada dua kegiatan yang dapat dilakukan yakni Penelitian tradisi lisan (bentuk dan isi) secara partisipatoris dan perencanaan tradisi lisan dan pendukungnya secara partisipatoris.
Penelitian bentuk dan isi tradisi lisan yang akan direvitalisasi dilakukan secara emik dengan observasi partisipatoris dan langsung, wawancara terbuka dan mendalam, diskusi kelompok terarah, kepustakaan atau dokumen tertulis.
Perencanaan tradisi lisan dan pendukungnya mengikutsertakan masyarakat setempat dalam (1) menetapkan prioritas terhadap tradisi lisan yang akan direvitalisasi, (2) merencanakan dan menyusun program revitalisasi termasuk rencangan revitalisasi terhadap sebuah tradisi lisan, (3) membentuk kelompok tradisi lisan dengan program dan pembelajaran, (4) mengelola kelompok tradisi lisan secara terus-menerus, (5) mensosialisasikan tradisi lisan kepada pendukungnya dengan menanamkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai
kandungan tradisi lisan, dan (6) merancang regenerasi pelaku dan pendukung tradisi lisan sebagai bagian dari pewaris budaya.
Dari dua kegiatan revitalisasi yang dijelaskan di atas penulis menggunakan kegiatan penelitan tradisi lisan (bentuk dan isi) sebagai langkah untuk melaksanakan revitalisasi objek kajian penulis. Dikarenakan penulis melihat jangkauan penulis terhadap objek yang akan penulis teliti, revitalisasi dengan perencanaan dari segi pendukungnya tentunya akan membutuhkan ruang lingkup yang besar di mana adanya keikutsertaan masyarakat sebagai pendukung dalam tahap revitalisasi. Selain itu, perencanaan tradisi lisan dan pendukungnya secara partisipatoris tersebut, membutuhkan kerja secara berkelanjutan, mengingat kebutuhan seseorang akan nilai-nilai terhadap suatu kebudayaan dapat berubah seketika sesuai dengan perubahan arah zaman.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Dasar
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan bersifat deskriptif, yang oleh Nawawi (1987 : 63) diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek atau subjek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.
Dengan demikian, dalam penelitian ini penulis hanya mendeskripsikan data-data fakta yang terdapat di dalam teater sehingga dapat diketahui unsur-unsur pokok dan pendukung teater, fungsi, dan cara merevitalisasi.
3.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian berada di Desa Mampok, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas. Pemilihan lokasi ini karena penulis mengetahui bahwa di lokasi masih terdapat TDM. Penulis ingin mengatahui lebih banyak tentang TDM agar nantinya, cerita dan pementasan TDM bisa dinikmati oleh generasi penerus.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah alat perekam untuk melakukan wawancara kepada informan, alat tulis berupa pulpen, buku catatan untuk mencatat informasi, dan kamera sebagai alat dokumentasi gambar.
3.4 Sumber Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian ini adalah data lisan, yang diambil langsung ke lapangan dengan mengambil data dari beberapa informan di Desa Mampok, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas. Selain itu, sumber data juga diambil dari buku-buku yang relevan dengan skripsi ini.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan, maka digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
1. Metode observasi, penulis langsung melakukan pengamatan pada objek penelitian.
2. Metode wawancara tidak berstruktur, melakukan wawancara terhadap informan yang dianggap dapat memberikan informasi atau data-data tentang objek yang diteliti tanpa memberikan daftar pertanyaan, dengan menggunakan teknik :
a. Teknik rekam, yaitu merekam informasi atau data yang diberikan informan.
b. Teknik catat, mencatat semua keterangan yang diperoleh dari informan.
3. Metode kepustakaan, mempelajari buku-buku dan bahan-bahan tertulis lainnya yang berhubungan dengan topik penelitian.
3.6 Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Dalam metode analisis deskriptif dengan menggunakan teori fungsi dan revitalisasi, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasikan data dari lapangan, artinya setelah data terkumpul dari lapangan maka diklasifikasi dan dipilah-pilah sesuai dengan kebutuhan akan data. Hal ini bertujuan untuk mempermudah penulis dalam menganalisis data- data yang didapat,
2. Data yang diperoleh akan disusun menjadi tulisan yang baik. Setelah data diklasifikasi sesuai dengan jenis data yang diperoleh, kemudian data-data yang telah terkumpul dan terklasifikasi dibuat dalam bentuk tulisan atau naratif, 3. Mengklasifikasikan TDM tersebut berdasarkan fungsi yang dikemukakan oleh
Basom,
4. Mengkalsifikasi cara merevitalisasi TDM berdasarkan revitalisasi yang dikemukakan oleh Sibarani,
5. Menguraikan TDM tersebut sesuai dengan fungsi yang dikemukakan oleh Bascom,
6. Menguraikan TDM sesuai dengan konsep revitalisasi yang dikemukakan oleh Sibarani,
7. Menarik kesimpulan dari hasil penilitian.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Unsur-Unsur Pembentuk TDM
Unsur cerita atau lakon merupakan bagian inti dari dalam membangun jalur cerita sebagai jalan mencapai maksud dan tujuan dari pertunjukan teater.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ada tiga unsur penting dalam teater, yaitu manusia sebagai unsur utama, benda sebagai unsur penunjang, dan lakon sebagai unsur penjalin.
4.1.1 Penulis/lakon
Semua wujud ekspresi di atas panggung didasari pada isi cerita dan lakon.
Sebagai karya tulis, lakon memiliki struktur khusus yang membedakan dengan jenis karya sastra lain yang disebut sebagai struktur dramatik (Santosa 2013:89)
Struktur dramatik lakon bisa dikatakan sebagai bagian dari plot karena didalamnya merupakan satu kesatuan peristiwa yang terdiri dari bagian-bagian yang memuat unsur-unsur plot. Rangkaian ini memiliki atau membentuk struktur dan saling berkaitan dari awal sampai akhir cerita.
Struktur dramatik dalam TDM memiliki struktur yang digambarkan oleh Skema Hudson. Menurut Hudson (dalam Santoso, 2013: 89), plot dramatik tersusun menurut apa yang dinamakan garis laku. Garis laku dalam sebuah lakon meliputi eksposisi, Insiden permulaan, pertumbuhan laku, krisis atau titik balik, penyelesaian atau penurunan laku, dan keputusan.
Dalam pementasan, ekposisi merupakan tahap awal lakon atau saat memperkenalkan dan memaparkan materi-materi yang relevan dalam lakon tersebut. Bagian eksposisi dalam pementasan TDM terdapat pada babak 1-5.
Babak pertama
Raja Langkedure keluar bersama 2 orang menteri, hulubalang, dan pahlawan sebagai perkenalan kerajaan yang dipimpinnya dengan tujuan memeriksa negerinya. Perkenalan yang dilakukan dengan nyanyian yang diiringi musik.
Babak kedua
Tokoh anak muda keluar, dimulai dengan seorang anak muda pertama yakni Dewa Mendu yang tersesat di hutan dan seorang anak muda kedua pun keluar yakni Angkara Dewa Mendu yang sesat di hutan yang sama namun tempat yang berbeda. Diketahui mereka berasal dari khayangan. Dewa Mendu penasaran akan kehidupan manusia di bumi dan diputuskan ia akan turun ke bumi. Setelah mengetahui Dewa Mendu tidak ada di khayangan ayah dari Dewa Mendu mengutus Angkara Dewa Mendu untuk turun ke bumi mencari kakaknya.
Babak ketiga
Raja Laksemalek keluar bersama 2 orang menteri, hulubalang, dan pahlawan.
Memperkenalkan kerjaan dengan nyanyian yang bermaksud memeriksa negeri yang dipimpinnya.
Babak keempat
tokoh anak muda keluar, pada bagian ini kedua anak muda tersebut bertemu, diketahui mereka berdua merupakan kakak beradik yakni Dewa Mendu merupakan kakak dari Angkara Dewa Mendu.
Babak kelima
Pada babak kelima diperkenalkan seorang tokoh, yakni Siti Mahdewi yang merupakan putri dari Raja Langkedure. Putri Mahdewi yang selama pembesarannya tidak menetap di istana raja, melaikan di tempat pembesaran anak raja. Rindu akan kehadiran Siti Mahdewi, Raja Laksemalek mengutuskan pahlawan kerajaan untuk membawa Siti Mahdewi ke istana kerajaan. Pada babak kelima ini juga diperkenalkan tokoh pembantu yakni Inang, Dayang, dan Cik ali sebagai pembantu kerajaan yang dipimpin Raja Laksemalek. Munculnya tokoh pembantu ini untuk menemai pahlawan yang diutuskan Raja Laksemalek mengantarkan putri Siti Mahdewi ke tempat pembesarannya karena Siti Mahdewi rindu akan tempat di mana ia dibesarkan.
4.1.1.2 Insiden Pemula
Insiden pemula ditandai dengan teridentifikasinya insiden-insiden yang memicu konflik (Santosa 2013:92). Insiden pemula pada pementasan TDM dimunculkan oleh tokoh pahlawan dari pihak Raja Laksemalek yang diutus untuk memeriksa keadaan negeri, baik dari ujung maupun pangkal negeri. Dalam menjalankan titah Raja Laksemalek pahlawan berjumpa dengan rombongan Siti Mahdewi yang hendak pergi ke tempat dimana Siti Mahdewi dibesarkan. Melihat
selama penjagaan yang dititah Raja Laksemalek, bahwa selama penjagaannya di ujung dan di pangkal negeri ia berjumpa dengan seorang gadis yang cantik dari kerajaan Melayu. Maka, berniatlah Raja Laksemalek untuk meminang putri Mahdewi. Dipanggillah datuk Kerani, seorang ahli bahasa untuk membuat surat pinangan yang ditujukan kepada Raja Langkedure, bahwa Raja Laksemalek hendak beristrikan anak Raja Langkedure. Insiden pemula ini terjadi pada babak pertama malam kedua.
4.1.1.3 Pertumbuhan Laku
Tahapan ini merupakan tindak lanjut dari insiden-insiden yang telah terjadi. Konflik-konflik semakin menanjak dan semakin mengalami komplikasi yang ruwet.
Tidak diterimanya pinangan ditambah hinaan oleh Raja Langkedure terhadap Raja Laksemalek, membuat Raja Laksemalek marah. Diputuskanlah Raja Laksemalek setelah berunding dengan menteri bahwa untuk mengubah wujud Siti Mahdewi dengan bantuan makhluk halus yang merupakan sahabat raja Laksemalek. Pada babakan inilah pertumbuhan lakon dimulai. Nenek Sejanggi dengan segera meluruskan niat Raja Laksemalek dan merubah Siti Mahdewi menjadi gajah putih. Mengetahui bahwa anaknya telah berubah menjadi Gajah Putih, Raja Langkedure putus asa dan malu. Lalu beliau mentitahkan pahlawannya untuk mengusir Siti Mahdewi dan membunuhnya di hutan.
Pahlawan dengan setengah niat menjalankan titah raja. Dibawanya Gajah Putih yang merupakan jelmaan Siti Mahdewi, namun pahlawan tidak membunuh Siti
Mahdewi melainkan dibunuhnya seekor anjing untuk diambil darahnya sebagai pembuktian kepada Raja bahwa ia telah membunuh Siti Mahdewi.
Dengan keadaan putus asa, Raja Langkedure ingin minum air darah yang dianggap darah putrinya dengan dalih “jika tidak dapat bersatu di Dunia biarlah darahnya tetap menyatu denganku”. Seketika pahlawan dan menteri langsung
memberhentikan niat Raja Langkedure dengan dalih “yang terjadi biarlah terjadi”. Peristiwa yang menunjukkan pertumbuhan lakon ini terjadi pada babak
malam kedua.
4.1.1.4 Krisis atau Titik Balik
Krisis atau titik balik terjadi pada malam ketiga, di mana emosi lakon sudah menurun. Bertemunya Siti Mahdewi atau Gajah Putih dengan anak muda atau Dewa Mendu dan Angkara Dewa Mendu merupakan bagian dari krisis atau titik balik. Dengan kesaktian yang dimiliki Dewa Mendu, dikembalikannya wujud Siti Mahdewi. Pada peristiwa inilah emosional dalam lakon telah mulai menurun.
Perjumpaan Dewa Mendu dengan Siti Mahdewi sebagai pemecahan masalah yang dicoba perlihatkan.
4.1.1.5 Penyelesaian atau Penurunan Lakon
Sewaktu Dewa Mendu hendak mengantarkan Siti Mahdewi pulang, berjumpalah mereka dengan rombongan Pak Ng-ngoh, Selamat, Selabe, Situah, Sikembang yang diutus oleh Raja Langkedure untuk mencari kayu bakar di Hutan. Berjumpa dengan Siti Mahdewi membuat Pak Ng-ngoh sebagai ketua rombongan tidak percaya, karena ia mengetahui bahwa Siti Mahdewi telah berubah menjadi Gajah Putih dan di bunuh. Lalu Siti Mahdewi menunjukkan
mahkota sebagai bukti. Maka, percayalah Pak Ng-ngoh bahwa wanita yang berhadapan dengannya benar Siti Mahdewi.
Pada bagian ini jalan keluar dan penurunan lakon telah terlihat jelas.
Perjumpaan Siti Mahdewi dengan pegawai istana mengarahkan jalan keluar di mana Siti Mahdewi dapat kembali ke tempat asalnya dan berjumpa dengan ayahnya.
4.1.1.6 Keputusan
Keputusan merupakan bagian akhir yang ditandai dengan semua konflik yang terjadi dalam sebuah lakon bisa diakhiri. Dibawa pulang Siti Mahdewi menghadap Raja Langkedure tidak diterima begitu saja karena sepengatahuan ia anaknya telah berubah menjadi Gajah Putih dan telah dibunuh oleh pahlawan yang diutusnya. Maka pahlawan pun menjelaskan semuanya. Dan diterimalah Siti Mahdewi dan dinikahkan dengan Dewa Mendu. Raja pun memberikan tahtanya kepada Dewa Mendu untuk memimpin negerinya.
4.1.2 Sutradara
Sutradara adalah orang kedua setelah penulis lakon dalam proses penciptaan karya teater. Ia mempelajari lakon untuk kemudian membuat konsep pementasan dan mengarahkan para pemain (aktor) sesuai dengan konsep yang telah ditentukan bersadarkan naskah lakon (Santosa, 2013:107). Sutradara pun dapat dikatakan pimpinan dalam pementasan sebuah teater. Efektif tidaknya sebuah pementasan sangat tergantung bagaimana sutradara membawa alur cerita agar sesuai situasi dan kondisi yang tergambar dari naskahnya.
Meskipun pada teater tradisional yang ada di nusanntara tidak menunjukkan adanya peranan sutradara melainkan lebih kepada laku pemain diatas pannggung bersifat improvisasi, namun lain halnya dengan TDM yang merupakan salah satu teater yang ada di nusantara.
Dalam TDM, penyebutan sutradara dikenal dengan istilah “Guru”. Dalam pengertiannya secara umum tidak ada perbedaan antara sutradara dan guru.
Seorang guru juga mengarahkan pemain dan membuat konsep untuk pementasan.
Namun seorang Guru hanya menjalankan cerita yang telah ada dimasyarakat dan diadopsi menjadi seni pertunjukan TDM.
Tugas seorang guru sebelum diadakannya pementasan, pertama seorang guru akan mengajak anggota atau pemain untuk rapat membahas pementasan.
Hasil dari rapat tersebut akan menghasilkan kapan akan dimulai latihan untuk pementasan. Disinilah dimulainya peran besar seorang guru. Dimulai memilih pemain sesuai dengan peranan, mengatur konsep pementasan, dan memgajarkan dialog secara lisan kepada pemain.
Pementasan TDM pun tak terlepas dari hal mistis. Seorang guru adalah orang yang bertangung jawab dalam pementasan berkaitan dengan hal mistis. Ia dipercayai jika pementasan TDM ingin mengundang makhluk kayangan maka guru mempunyai tugas untuk memanggil dan memulangkannya.
4.1.3 Pemain
Pemain teater disebut juga sebagai aktor. Secara dasar arti dari aktor adalah orang yang melakukan aksi. Sejarah pementasan teater mencatat bahwa aktor lebih dahulu ada jauh sebelum sutradara lahir. Dalam mewujudkan pementasan, sekumpulan aktor bertemu untuk berlatih bersama berdasarkan naskah cerita yang ada. Mereka saling berlatih peran dan memberikan masukan sampai akhirnya pertunjukan itu terwujud. Kedudukan aktor pada zaman dahulu tidak semulia sekarang. Bahkan pada zaman tertentu, aktor dianggap orang yang mengabarkan kebohongan melalui aksi-aksinya di atas panggung. Itu terjadi karena cerita yang mereka kisahkan tidak diambil dari kitab suci. Namun sekarang seiring dengan perkembangan kebudayaan masyarakat, aktor mendapat tempat yang khusus dan memiliki kelas tersendiri.
Dalam pementasan TDM yang menjadi aktor atau pemain adalah sekelompok masyarakat Kepulauan Jemaja yang ingin bergabung dalam pementasan. Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi aktor TDM. Cukup melaporkan keinginan untuk ikut serta kepada komoditas TDM yang berada di Dusun I, Desa Mampok, maka akan diberi kesempatan untuk ikut berperan dalam pementasan TDM. Keterbukaan ini dikarenakan kurangnya pemain, sementara banyaknya peranan yang harus ditampilkan dalam pementasan TDM.
Jumlah peran dalam TDM ada 29 peranan, yang artinya membutuhkan 29 aktor ditambah 5 orang pemain musik. Sementara itu, dalam pelaksanaan keanggotaan yang masih aktif dalam penampilan TDM sekitar 16-19 pemain.
Sehingga untuk menangani permasalahan dilakukanlah rangkap peran dalam pementasan.
Adapun peran-peran dalam teater Dewa Mendu untuk tokoh utama dan pembantu adalah :
NO NAMA PERANAN
1 Dewa Mendu Pemeran utama
2 Angkara Dewa Mendu Adik dari Dewa Mendu
3 Raja Langkedure Raja dari sebuah kerajaan Melayu 4 Menteri I Penasehat Raja Langkedure 5 Menteri II Penasehat Raja Langkedure
6 Pahlawan Penjaga di luar kerajaan yang dipimpin Raja Langkedure
7 Hulubalang Penjaga di dalam kerjaan yang dipimpin Raja Langkedure
8 Siti Mahdewi Putri dari Raja Langkedure 9 Raja Laksemalek Raja dari sebuah kerajaan Cina 10 Menteri I Penasehat Raja Laksemalek 11 Menteri II Penasehat Raja Laksemalek
12 Pahlawan Penjaga di luar kerajaan yang dipimpin Raja Laksemalek
13 Hulubalang Penjaga di dalam kerajaan yang dipimpin Raja Laksemalek
14 Nenek Beragas Sahabat Dewa Mendu 15 Nenek Sejanggi Penyihir Raja Laksemalek 16 Burung Bayan Sahabat Dewa Mendu
17 Burung Cacah Sahabat Dewa Mendu
18 Datok Kerani Sebagai ahli bahasa di dua kerjaan
19 Inang Pembantu kerajaan Raja Langkedure
20 Dayang Pembantu kerajaan Raja Langkedure 21 Cik Ali Pembantu kerajaan Raja Langkedure 22 Pak Ngngoh Pembantu kerajaan Raja Langkedure 23 Selamat Pembantu kerajaan Raja Langkedure 24 Selabe Pembantu kerajaan Raja Langkedure
25 Tuah Pembantu kerajaan Raja Langkedure
26 Kembang Pembantu kerajaan Raja Langkedure
4.1.4 Penonton
Penonton merupakan unsur dalam teater, dilihat dari proses akhir dari karya teater sebagai penikmat pertunjukan teater. Respon penonton atas pementasan tidak hanya terjadi satu arah. Komunikasi antaraksi yang terjadi di atas pentas dan penonton berjalan dua arah atau melingkar (Santosa, 2013:127).
Penonton menjadi unsur utama dalam teater karena tanpanya apalah artinya sebuah pertunjukan teater. Eric Bentley menyebutkan bahwa ”sesuatu”
dibuat oleh A (seniman) menjadi B (karya seni) untuk C (penonton). Penonton merupakan elemen penting sehingga sebuah pertunjukan bisa disebut sebagai teater. Pemain, sutradara, dan seperangkat pendukungnya bekerja untuk menyampaikan pesan dalam teks lakon kepada penonton.
Pementasan TDM di buka secara umum. Tidak ada batasan bagi orang untuk menonton pertunjukan tersebut. Selama pertunjukan yang pernah dilaksanakan oleh komoditas TDM Dusun I, Desa Mampok penonton TDM merupakan masyarakat Jemaja.
4.1.5 Tata Suara
Tata suara dalam hal ini berupa instrumen yang mengiringi sebuah pertunjukan teater. Wujudnya bisa berupa musik, efek suara, juga seperangkat teknologi yang dikembangkan untuk menghasilkan bunyi. Fungsinya sama dengan tata artistik yang lain yaitu memberi suasana dalam pertunjukan teater.
Musik biasanya digunakan pula untuk membangkitkan emosi pemain, mengatur tempo dan irama permainan, dan menambah nuansa sehingga muncul suasana tertentu. Efek suara biasanya dihadirkan ketika suatu adegan perlu penekanan.
Misalnya suara hujan, petir, pistol, telepon, dan sebagainya. Pada teater modern, suara pemain bahkan sudah dibantu dengan menghadirkan teknologi, misalnya teknik miking, pengeras suara, dan sebagainya.
Alat musik dalam TDM merupakan unsur pokok dalam pementasan.
Penggunaan alat musik tidak hanya sebagai pengiring lagu tetapi juga digunakan sebagai tanda dimulainya lakon. Misalnya, ketika pertama akan dilaksanakan pementasan, para pemain melakukan ladun yakni tarian melingkar sambil bernyanyi bersama-sama. Alat musik yang digunakan, antaranya : piul (biola), gong, belek, gendang dan beduk.
a. Piul (biola) yang digunakan dalam pementasan TDM sama dengan biola pada
dawai atau senar biola dengan menggunakan busur biola yang terbuat dari kayu dan berhelai-helai rambut kuda yang dipasang pada ujung tongkat ke ujung yang lain.
b. Gong merupakan alat musik pukul yang terbuat dari perunggu. Gong berbentuk lingkaran yang memilki tonjolan pada bagian tengahnya. Tonjolan bagian tengah inilah yang dipukul dengan menggunakan kayu untuk menghasilkan suara.
c. Gendang merupakan alat musik pukul. Di Indonesia gendang merupakan alat musik yang sering dijumpai di setiap etnik. Gendang yang digunakan dalam penampilan TDM menggunakan dua sisi atau dikenal dengan Gendang Panjang. Gendang tersebut berukuran 1 meter dan memiliki diameter sebelah kanan 14cm dan sebelah kiri 12cm. Gendang tersebut berbahan kayu yang diberi ruang dan ditutupi dengan kulit lembu. Kulit lembu inilah yang dipukul dengan menggunakan tangan untuk menghasilkan bunyi.
d. Belek merupakan alat musik pukul dari kaleng. Tidak ada ukuran pasti untuk alat musik tersebut. Untuk memperoleh alat musik tersebut kadang kala para pemain musik menggunakan kaleng-kaleng bekas rumahan. Cara memainkannya dengan menggunakan dua batang kayu dengan panjang berkisar 50cm lalu memukul kaleng tersebut.
Gambar 1. Pemain musik TDM
e. Beduk merupakan alat musik yang dibuat mengunakan kayu yang berdiamer 30cm. Kayu tersebut diberi ruang pada tengahnya dan pada salah satu sisinya ditutupi dengan kulit lembu atau kambing. Cara menggunakan alat musik ini dengan memukul pada kulit yang dijadikan tutup pada sisi, menggunakan dua buah kayu dengan panjang berkisar 70cm. Selain sebagai alat musik dalam pementasan, beduk diyakini sebagai alat musik mistis untuk memanggil orang khayangan untuk turun ke bumi menyaksikan atau ikut bermain dalam penampilan TDM.
4.1.6 Tata Panggung
Dalam teater, tata panggung sering disebut dengan istilah scenery. Dalam istilah lain, sering dipakai pula set panggung, setting panggung, atau dekorasi.
Harymawan (1993:108) mendefinisikan (scenery) sebagai pemandangan latar belakang (background) tempat memainkan lakon. Pengertian tersebut meliputi pula peletakan perabot (properti) dan komposisi panggung.
Tata panggung adalah pengelolaan unsur kebendaan yang ada di
digariskan. Sebagaimana pemain, penata panggung pun harus terlebih dahulu mempelajari naskah sebelum menata atau mendekor panggung. Dari naskah yang dibaca, penata panggung menggambar, mengkomunikasikan dengan sutradara, pemain, dan kru panggung lainnya, lalu merealisasikan ide dan gagasannya tersebut.
Pertunjukan TDM dilakukan di tanah lapang dengan ukuran lapangan lebar 7 meter dan panjang 20 meter. Dari keseluruhan lapangan yang digunakan untuk pertunjukan, dibagi seperempat yang digunakan untuk kamar pemeran, di mana pemeran melakukan persiapan sebelum melaksanakan penampilan, atau dengan istilah masyarakat Dusun I, Desa Mampok disebut bilek. Sekeliling lapangan dibatasi dengan tali plastik, dibalut dengan ayaman daun kelapa. Dalam lapangan atau pentas lakon dilaksanakan, terdapat batang pinang sebanyak 3 batang. Posisi batang pinang dibagi menjadi 3 tempat, yakni di haluan lapangan, di tengah lapangan (tepat di depan singgasana Raja), dan di belakang, di dalam bilek. Kegunaan batang pinang sebagai tempat berdiamnya orang khayangan yang dipanggil oleh guru yang memukul beduk sebelum acara dimulai.
Gambar 2. Lapangan pertama pementasan TDM, di Desa Mampok.
4.1.7 Tata Rias
Dengan rias, pemain dapat disulap menjadi karakter yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pertunjukan teater. Tata rias berkaitan erat dengan tata busana. Keduanya akan selalu berunding untuk memperoleh karakter yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pertunjukan.
Riasan pemeran TDM disesuaikan dengan peranan masing-masing tokoh, pada umumnya tidak ada dandanan yang mencolok dari setiap tokoh. Hanya sekedar pemakaian bedak yang wajar untuk meningkatkan kecerahan wajah pemeran. Namun untuk pemeran pembantu seperti Pak Ng-ngoh, Tuah, Selabe, Kembang, dan Selamat memiliki riasan tersendiri. Riasan yang digunakan harus dapat menggambarkan tokoh komedian untuk memancing tawa.
Gambar 3. Penampilan Pak Ng-ngoh, Tuah, Selabe, Kembang, dan Selamat
4.1.8 Tata Busana
Untuk mendukung watak dan karakter tokoh, dibutuhkan busana yang mampu memisahkan, membedakan, dan memberikan bentuk pada masing-masing tokoh. Salah satu yang membedakan tokoh juragan dan pembantu adalah pakaian yang dikenakannya.
Eko Santosa (2013: 145) menjelaskan fungsi busana dalam teater, yaitu (a) mencitrakan keindahan penampilan; (b) membedakan satu pemain dengan pemain yang lain; (c) menggambarkan karakter tokoh; (d) memberikan efek gerak pemain; dan (e) memberikan efek dramatik. Fungsi-fungsi tersebut akan tampak ketika dikaitkan dengan lakon yang dibawakan.
Busana yang digunakan cukup sederhana dan disesuaikan dengan lakon yang dimaikan. Tokoh pemeran utama seperti Raja Langkedure, Raja Laksemalek, Anak Muda (Dewa Mendu dan Angkara Dewa Mendu), dan Putri Mahdewi menggunakan busana yang menggambarkan sebagai pemeran utama dalam lakon, seperti penggunaan ikat kepala khas kerajaan Melayu atau dikenal
dengan Tajak. Sedangkan pemeran pembantu menggunakan busana keseharian masyarakat pada umumnya.
Gambar 4. Berbagai Busana TDM
4.2 Fungsi TDM
Pada umumnya, teater memiliki fungsi dan peranan yang sama, tidak dibeda-bedakan antara tradisional dan modern. Fungsi utamanya tentu saja sebagai hiburan atau tontonan. Fungsi utama yang kedua yaitu memberikan tuntunan. Fungsi dan peranan yang lain bersifat praktis, tergantung bagaimana penonton ataupun pelaku dapat mengambil sebanyak mungkin peluang manfaat dari sebuah pertunjukan teater.
Teater yang juga bagian dari folklor rakyat sebagian lisan, tidak melepaskan fungsi sebagai mana yang telah dinyatakan bascom (dalam Dananjaya, 1982 :19). Fungsi-fungsi tersebut akan dijelaskan berikut ini;
4.2.1 Sebagai Pencarian Angan-Angan Suatu Kolektif
Fungsi TDM lebih dilihat sebagai sarana hiburan sebagai mana dikatakan di atas dari fungsi teater, karena fungsi dari angan-angan suatu kolektif itu sendiri dimaksudkan dalam upaya untuk mencapai sesuatu secara bersama-sama. Maka adanya TDM dilihat dari segi hiburan sebagai tujuan utamanya. Fungsi hiburan ini dilihat dari pertunjukannya secara keseluruhan. Hal ini didasari oleh minat penonton kepada pemeran Pak Ng-ngoh sebagai pemeran komedian. Kehadiran tokoh Pak Ng-ngoh dan pemeran pembantu lainnya pada malam akhir pertunjukan yakni pada malam ketiga. Maka tidak heran jika pertunjukan TDM yang dilaksanakan oleh Dusun I Desa Mampok ramai pada malam ketiga atau malam terakhir selaras dengan kehadiran tokoh Pak Ngo-ngoh. Hal lain yang mendapat perhatian yakni alat musik. Secara keseluruhan penggunaan alat musik dalam pertunjukan TDM sama dengan alat musik pertunjukan kebudayaan Melayu umumnya, namun adanya alat musik Belek, memberikan ciri khusus dalam penggunaan alat musik pada umumnya yang digunakan masyarakat Melayu. Alat musik Belek adalah kaleng yang berbentuk balok dan memiliki ruang di dalamnya. Cara memainkannya dengan memukul kaleng tersebut dengan dua batang kayu.
Jika dilihat dari pelakon dalam konteks angan-angan kolektifnya, para pelakon lebih mempertahankan dan melestarikan TDM sebagai seni pertunjukan masyarakat Melayu yang ada di Dusun I Desa Mampok.
4.2.2 Sebagai Alat Pengesahan Pranata-Pranata dan Lembaga-Lembaga Kebudayaan
Seni pertunjukan teater merupakan repersentasi dari kehidupan manusia.
Dari kehidupan, seseorang menghasilkan seni pertunjukan teater, sebagai jembatan untuk memahami nilai kehidupan. Pranata-pranata dan lembaga kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Melayu terlihat pada penampilan TDM.
Pranata-pranata dan lembaga kebudayaan yang terdapat dalam cerita Dewa Mendu memperlihatkan adanya kelas sosial dari raja, menteri, hulubalang, pahlawan dan pembantu istana. Dewasa ini kelas sosial tersebut tidak menunjukkan adanya lapisan pada kehidupan masyarakat Dusun I Desa Mampok sebagai komoditas TDM. Kelas sosial yang ditampilkan pada TDM memperlihatkan adanya lapisan sosial pada masyarakat Melayu pada saat itu.
Catatan sejarah telah membuktikan, bahwa masyarakat Melayu telah hidup dengan kelas sosial yang direpersentasikan melalui TDM. Di Bunguran, Kabupaten Natuna, tempat Dewa Mendu pertama dimainkan sebagai bukti bahwa kehidupan sosial masyarakat memiliki tatanan lapisan sosial yang ditampilkan pada TDM. Hal lainnya, sebagai peranan adanya suatu kepercayaan yang terdapat pada TDM masih mempengaruhi kehidupan dalam bermasyarakat di Dusun I Desa Mampok.
Kepercayaan masyarakat pada penampilan Dewa Mendu yang menggunakan syekh masih sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Dusun I Desa Mampok. Kepercayaan akan hal ghaib terimplikasi kepada kehidupan nyata.
mampu memberikan pelayan kepada masyarakat terhadap kesehatan, namun masyarakat masih menggunakan jasa dukun untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dukun atau disebut juga orang pintar, dipercayai masyarakat sebagai perantara untuk memohon pertolongan kepada Tuhan untuk menyembuhkan penyakit. Hal ini membuat dukun sebagai syekh dalam kehidupan masyarakat yang dapat membawa hal ghaib untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Sama halnya dengan syekh dalam pementasan Dewa Mendu, syekh sebagai sutradara mempunyai tugas sebagai perantara yang berhubungan dengan makhluk ghaib tidak mengganggu selama pertunjukan berlangsung.
4.2.3 Sebagai Alat Pendidikan Anak
Secara umum dikatakan anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap dikatakan anak.
Anak adalah bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumber daya manusia yang merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus memerlukan pembinaan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, sosial secara utuh, serasi, selaras dan seimbang.
Sebagai aset bangsa yang akan menjalankan roda estafet kehidupan dalam bangsa dan negara. Arah dan sasaran dalam pendidikan anak harus disesuaikan dengan apa yang telah menjadi norma-norma dalam kehidupan masyarakat.
Penanaman nilai-nilai kearifan lokal tidak boleh dikesampingkan dalam mendidik seorang anak. Kebudayaan-kebudayaan yang ada dan memiliki nilai- nilai yang dapat mengarahkan pada perkembangan positif bagi seorang anak haruslah ditanamkan kepada anak. Dengan begitu seorang anak bukan hanya mengenal kebudayaan sebagai identitas dirinya namun dapat menjadikan suatu sikap dan prinsip bagi kehidupannya di masa mendatang. Hal inilah yang penulis lakukan, yang sejatinya TDM bukalah tontonan bagi suatu golongan dalam arti, tua, dewasa, dan remaja. Namun sebagai media penyampaian pesan yang tersirat juga dapat memberikan nilai atau fungsi bagi seorang anak.
Meszaros (dalam Ulya, 2011: 10) menyatakan, tiga karakteristik utama dari teater dalam pendidikan yakni : (a) belajar melalui kegiatan; (b) penyelesaian masalah di dalam kelas; dan (c) mengungkapkan makna tersembunyi melalui pengalaman pribadi.
Berdasarkan uraian Meszaros inilah penulis menguraikan fungsi TDM dalam pendidikan anak.
a. Belajar Melalui Kegiatan
Kecenderungan untuk mencoba hal baru merupakan bagian dari proses pertumbuhan seorang anak. Hal-hal baru yang akan dicoba seorang anak haruslah bersifat positif sehingga pertumbuhan prilaku dan mental seorang anak dapat ke arah yang lebih baik. Dalam memulainya seorang anak dengan usianya. Hal lain yang perlu ialah kesiapan seorang anak itu sendiri yang akan menghadapi proses belajar.
Dwekc (dalam Seefeldt 2008: 41) mengatakan manipulasi atau pengendalian anak-anak lewat jadwal penguatan eksternal, dengan mengajarkan mereka agar menaruh kepercayaan kepada orang lain yang akan membuat keputusan mereka. Penguatan eksternal, yang mungkin mempunyai keuntungan jangka pendek, telah diperlihatkan guna mengurangi motivasi intrinsik anak-anak untuk belajar dan mencapai prestasi jangka panjang.
Dari pernyataan tersebut kita melihat faktor eksternal atau lingkungan sosial dapat menjadi sarana di mana seorang anak dapat memulai kegiatan dengan kesiapan yang dimilikinya. Peranan seorang pengarah perlu mendapat tekanan agar motivasi seorang anak tidak hanya di lingkungan intern melainkan seorang anak dapat mengembangkan bakatnya untuk jangka yang panjang.
TDM memberikan nilai-nilai motivasi yang dapat mendorong seorang anak tergerak untuk mencoba hal-hal baru yang positif disekelilingnya. Dalam penampilannya TDM memperkenalkan beragam kebudayaan yang ada dimasyarakat Melayu. Seperti permainan rakyat Melayu, pada adegan malam ke tiga, pada saat Raja Langkedure mengadakan pesta sebagai bentuk doa keselamatan atas Mahdewi yang merupakan anaknya. Raja Langkedure mengadakan pertunjukan permainan rakyat baik, congkah, galah panjang, gasing, dan lain-lain. Hal ini tentunya bagi seorang anak akan mendorong untuk memulai kegiatan barunya akan hal-hal yang tampak olehnya untuk diaplikasikan di kehidupan kesehariannya.
b. Penyelesaian Masalah di dalam Kelas