• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DALAM MENDUKUNG PENGADAAN KTP-EL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DALAM MENDUKUNG PENGADAAN KTP-EL"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DALAM MENDUKUNG PENGADAAN KTP-EL

( Studi Pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Simalungun)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara

Disusun Oleh :

JOSEFA MERDIKASARI LINGGA 130903164

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2017

(2)
(3)

Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan Dalam Mendukung Pengadaan KTP-El

(Studi Pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Simalungun)

Nama : Josefa Merdikasari Lingga

NIM : 130903164

Departemen : Ilmu Administrasi Negara

Dosen Pembimbing : Drs.M.Ridwan Rangkuti,MS

Abstrak

Dengan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) diharapkan dapat meningkatkan kualitas data kependudukan pemerintah. Data kependudukan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menyelenggarakan berbagai program-program pemerintah, baik dalam proses perencanaan hingga tahap implementasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat dan mendeskripsikan pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) kepada masyarakat. Dalam penelitian ini juga akan dilihat realisasi pelayanan yang diberikan untuk tercapainya tujuan yang telah ditetapkan pemerintah. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode bentuk deskriptif dengan analisa data kualitatif, unit analisis yang terdiri dari informan kunci yaitu Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Simalungun, informan utama yaitu Kepala Bidang Informasi Kependudukan dan Kepala Seksi Identitas Kependudukan. Sedangkan Informan Tambahan adalah pegawai operasional di dinas dan operator, serta masyarakat yang datang ke dinas. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah pelaksanaan pelayanan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan kepada masyarakat terlaksana secara baik yang sesuai dengan indikator-indikator implementasi yang ditetapkan peneliti melalui model implementasi kebijakan.

Kata kunci : Implementasi Kebijakan, SIAK

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria atas berkat, kasih, dan pertolongan, serta segala kebaikan-Nya atas segala perjuangan saya dalam menyelesaikan skipsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata-1 (S-1) Ilmu Administrasi Negara. Skripsi ini berjudul “Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan Dalam Mendukung Pengadaan Ktp-El ( Studi Pada Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten Simalungun)”.

Selama dalam proses penyelesaian skripsi ini penulis banyak menerima bantuan, bimbingan, dan dukungan, serta doa dari berbagai pihak.

Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang tulus saya ajukan kepada :

1. Kedua orangtuaku tercinta dan terkasih, J.Lingga dan N.Situmorang atas segala cinta, arahan, dan doa yang tiada hentinya serta pengorbanan yang sangat berharga untukku.

Segalanya ini kupersembahkan kepada Ayah dan Ibu, semua ini tidak akan kulupakan dan semoga Tuhan memberi berkat senantiasa untuk keluarga kita.

2. Kedua adikku tersayang, Joseph Genaro Lingga dan Josepindo Pio Stevent Lingga yang telah banyak memberi dukungan dan semangat, serta doa.

3. Bapak Drs. Tunggul Sihombing,MA selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. M.Ridwan Rangkuti,MS selaku dosen pembimbing yang telah banyak membantu selama masa perkuliahan, penyusunan skripsi, hingga penyelesaian skripsi. Terima kasih banyak Pak atas ilmu yang begitu hebat dan bermanfaat.

5. Bapak Bontor Manullang,S.Sos,M.Si selaku Kepala Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan dan Pengembangan Daerah

(5)

(BAPPEDA) Kabupaten Simalungun yang telah memberikan izin penelitian kepada saya.

6. Bapak Jonrismantuah Damanik,SH,M.Si selaku Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Simalungun yang telah memberikan saya izin untuk penelitian di Disdukcapil, arahan dan nasihat, serta memberikan informasi terkait skripsi.

7. Bapak Fiker Silalahi,S.AP selaku Kepala Bidang Informasi dan Pengembangan Kependudukan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Simalungun yang selalu memberikan arahan, bimbingan, dan informasi penting selama penelitian dikantor.

8. Staf/pegawai Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Simalungun, terkhusus untuk bang Robby Habibie Hutabarat,SE, Meinson Hermanto Sinaga,ST , Bayu Aminullah, Okto Christ Sinaga,S.Kom, Rahmat Harahap,SH, dan Roy Ivan Siringo-ringo, SE. Terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya.

9. Kak Mega dan Kak Dian selaku staf departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang selalu membantu dan memberikan dukungannya.

10. Bapak dan Ibu dosen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan ilmu kepada peneliti selama mengikuti perkuliahan.

11. Kepada Ikatan Mahasiswa Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang dimana sebagai wadah internal mahasiswa Ilmu Administrasi Negara untuk belajar dan berlatih mengasah ilmu dan kemampuan masing-masing, terutama di kepengurusan periode 2015-2016.

12. Kepada UKM-KMK Santo Albertus Magnus Universitas Sumatera Utara sebagai wadah untuk mahasiswa Katolik dalam berkumpul,

(6)

bertumbuh, dan berkembang dalam iman ke-Katolikan, serta mempererat persaudaraan antar Fakultas.

13. Kepada UKM-KMK Santo Yohanes Don Bosco Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Utara sebagai wadah untuk mahasiswa Katolik dalam berkumpul, bertumbuh, dan berkembang dalam iman ke-Katolikan, serta mempererat persaudaraan antar Jurusan.

14. Kepada Sahabatku tersayang Mipa Sere Sumantri Sihotang yang selalu ada disetiap keluh kesah, memberi motivasi dan doa serta sudah seperti kakak kandung dan sahabat seperjuangan di Medan dan di kmk juga. Tuhan memberkatimu sayang.

15. Kepada keluarga kecilku “Small Family” yang sudah menjadi salah satu keluarga seiman dan seperjuangan di Medan Kak Lilis Cahyani, S.AB, Glori Simbolon, S.Sos, Debora Yuliana Gultom, dan Dicky Munthe yang memberikan dukungan dan motivasi selalu. Semoga Tuhan selalu memberkati.

16. Kepada sahabatku seperjuangan di Ilmu Administrasi Negara, Iga Belinda Larasati Sinaga, S.Sos, Elysa Minarni Pakpahan,S.Sos.

dan Vivi Adilla Ramadhani,S.Sos yang selalu memberikan semangat,dukungan dan doa selama perkuliahan.

17. Kepada teman-teman Kelompok PKL Tanjung Barus,tetap semangat kita dan terima kasih atas pengalaman hidup yang sangat berharga selama pkl, terutama dalam mendewasakan diri.

18. Kepada seluruh mahasiswa Ilmu Administrasi Negara stambuk 2013, terima kasih atas kebersamaan kita selama kurang lebih 4 tahun berproses di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera, semangat dan sukses untuk kita semua.

Kemudian untuk stambuk 2014-2016 tetap semangat adik-adik dalam menjalani masa perkuliahan, nikmati prosesnya dan percayalah proses tidak akan mengkhianati hasil.

19. Untuk Abang, Kakak, dan teman-teman Alumni Indonesian Youth Day II Manado Keuskupan Agung Medan terima kasih atas

(7)

semangat dan pengalaman berharga, serta doanya. Semoga selalu menjadi sukacita injil ditengah masyarakat.

20. Semua pihak yang berpartisipasi dalam proses penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebut secara satu persatu.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna dalam penyajiannya. Penulis mengharapkan kritik dan saran untuk menjadikan penelitian ini lebih sempurna dan lebih baik lagi. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi bahan referensi untuk peneliti selanjutnya.

Medan, Maret 2017 Penulis

Josefa Merdikasari Lingga

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

Abstrak ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... v

Daftar Tabel ... vi

Daftar Gambar ... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

1.5 Kerangka Teori ... 8

1.5.1 Kebijakan Publik ( Public Policy) ... 8

1.5.2 Implementasi Kebijakan Publik ... 9

1.5.2.1 Model Implementasi Publik ... 19

1.5.2.2 Model Implementasi Publik yang digunakan ... 20

1.5.3 Kebijakan Administrasi Kependudukan ... 21

1.5.3.1 UU No. 24 Tahun 2013 ... 21

1.5.3.2 KEPPRES RI No.88 Tahun 2004 ... 22

1.5.3.3 Peraturan Daerah No.3 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan Kabupaten Simalungun ... 23

1.5.4 Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ... 24

1.5.4.1 Definisi Sistem ... 24

1.5.4.2 Definisi Informasi ... 24

1.5.4.3 Administrasi Kependudukan ... 25

1.5.4.4 Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ... 26

1.5.4.5 Tujuan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) ... 28

1.5.4.6 Manfaat Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) ... 29

1.5.4.7 Peranan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) ... 30

1.5.5 Sistem Informasi Administrasi Kependudukan dalam Pengadaan KTP-el ... 30

1.6 Definisi Konsep ... 35

1.7 Sistematika Penulisan ... 36

(9)

BAB II METODE PENELITIAN

2.1 Bentuk Penelitian ... 38

2.2 Lokasi Penelitian ... 38

2.3 Informan Penelitian ... 39

2.4 Teknik Pengumulan Data ... 39

2.5 Teknik Analisis Data ... 40

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN 3.1 Deskripsi Kabupaten Simalungun ... 48

3.1.1 Kondisi Geografis dan Iklim ... 52

3.1.2 Wilayah Administrasi ... 59

3.1.3 Aparatur Pemerintah Daerah ... 60

3.2 Deskripsi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Simalungun ... 63

3.2.1 Visi dan Misi ... 63

3.2.2 Struktur Organisasi ... 66

3.2.3 Keadaan Pegawai ... 82

3.2.4 Aspek Strategis Organisasi ... 83

BAB IV PENYAJIAN DATA 4.1 Data Primer ... 85

4.1.1 Pelaksanaan Wawancara ... 85

4.1.2 Karakteristik Informan ... 86

4.1.2.1 Data Informan Berdasarkan Jenis Kelamin ... 86

4.1.2.2 Data Informan Berdasarkan Usia ... 86

4.1.2.3 Data Informan Berdasarkan Pendidikan ... 87

4.1.3 Deskripsi Hasil Wawancara ... 87

4.2 Data Sekunder ... 112

4.2.1 Jumlah penduduk yang belum melakukan perekaman KTP-El ... 113

4.2.2 Data perekaman KTP-El ... 115

4.2.3 Data Penduduk yang berstatus print ready record untuk KTP-El .. 117

4.2.4 Daftar Kecamatan dan kode kecamatan pada Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ... 118

4.2.5 Data kondisi peralatan setiap kecamatan di Kabupaten Simalungun ... 120

BAB V ANALISIS DATA 5.1. Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Simalungun ... 121

5.1.1 Komunikasi ... 122

5.1.2 Sumber Daya ... 123

5.1.3 Disposisi ... 125

5.1.4 Struktur Birokasi ... 126

(10)

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan ... 127 6.2 Saran ... 128 DAFTAR PUSTAKA… ... 129 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(11)

DAFTAR BAGAN DAN TABEL

Halaman

1.1 Proyeksi Penduduk menurut provinsi, 2010-2025 (Ribuan) ... 2

1.2 Jumlah Penduduk kecamatan-kecamatan di Kabupaten Simalungun 2014- 2015 ... 3

3.1 Pembagian wilayah Simalungun pada masa Kolonial ... 49

3.2 Jarak Ibukota Kabupaten ke Ibukota Kecamatan ... 54

3.3 Suhu Udara Menurut Bulan, Jam, Rata-rata, Maksimum, dan Minimum, 2015 (oC) ... 55

3.4 Kelembaban Nisbi Menurut Bulan, Jam, dan Rata-rata, 2015 (%) ... 56

3.5 Jumlah Curah Hujan, Hari Hujan, dan Terpanjang Tidak Hujan Menurut Bulan ... 58

3.6 Banyaknya Nagori dan Kelurahan ... 59

3.7 Jumlah PNS pada Sekretariat/Kantor/Badan/Dinas Menurut Golongan ... 61

3.8 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Kabupaten Simalungun ... 65

3.9 Pegawai Negeri Sipil berdasarakan golongan ... 82

3.9.1 a. Pegawai Negeri Sipil berdasarkan golongan ... 82

b. Pegawai Negeri Sipil berdasarkan eselon ... 82

c. Pegawai Negeri Sipil berdasarkan non PNS ... 82

4.1 Daftar Jumlah penduduk yang belum perekaman KTP-El ... 114

4.2 Data perekaman KTP-El per tanggal 31 Agustus 2016 ... 115

4.3 Data penduduk yang berstatus print ready record untuk KTP-El ... 117

4.4 Daftar kode kecamatan ... 118

(12)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1.1 Gambar Model Implementasi Kebijakan Publik Menurut Van Metter dan

Van Horn ... 11

1.2 Gambar Model Implementasi Kebijakan Publik Menurut Daniel Mazmanian dan Paul A.Sabatier ... 14

1.3 Gambar Model Implementasi Kebijakan Publik Menurut George C. Edwards III ... 17

1.4 Model Implementasi Kebijakan Publik Menurut Grindle ... 19

1.5 Definisi Sistem ... 26

3.1 Peta Kabupaten Simalungun ... 52

3.2 Persebaran Wilayah Kabupaten Simalungun ... 53

3.3 Persentase PNS Laki-laki dan Perempuan ... 55

3.4 Persentase PNS Menurut Pendidikan ... 61

3.5 Struktur Organsisasi pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ... 58

4.1 Sosialisasi Kebijakan Kependudukan tahun 2016 di Panombeian Panei ... 93

4.2 Sosialisasi Kebijakan Kependudukan tahun 2016 di Pamatang Sidamanik ... 93

4.3 Perekaman KTP-EL dilapangan daerah Pamatang Sidamanik ... 96

4.4 Peralatan Admnistrator Database ... 99

4.5 Peralatan untuk Administrator Database (Server) ... 100

4.6 Peralatan perekaman KTP-E ... 101

4.7 SOP Pelayanan dokumen kependudukan ... 111

4.8 Format Resi KTP-EL ... 116

4.9 Data keterangan peralatan SIAK ... 120

(13)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Negara kita Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam namun potensi sumber daya manusia yang tergolong rendah akan sulit dalam menghadapi arus globalisasi yang semakin lama semakin mendesak setiap orang untuk mengalami perubahan. Tidak hanya itu Indonesia juga sekarang dihadapkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang tergolong tinggi, seperti yang dimuat oleh Badan Pusat Statistika ada sekitar 305 juta jiwa penduduk Indonesia untuk jangka waktu yang akan datang.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah sebanyak 237.641.326 jiwa, yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 118 320 256 jiwa (49,79 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 119 321 070 jiwa (50,21 persen).Penyebaran penduduk menurut pulau- pulau besar adalah: pulau Sumatera yang luasnya 25,2 persen dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh 21,3 persen penduduk, Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.

Diantara negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, Indonesia menempati posisi keempat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat.

(www.bps.go.id). Berarti Indonesia tergolong negara yang cukup besar dalam pertumbuhan pendudukan. Seperti proyeksi penduduk berikut ini :

(14)

Sumber : www.bps.go.id

Tabel 1.1 Proyeksi Penduduk menurut Provinsi, 2010-2035 (Ribuan)

Provinsi Tahun

2010 2015 2020 2025 2030 2035

Aceh 4523.1

0

5002.0 0

5459.9 0

5870.0 0

6227.6

0 6541.40

Sumatera Utara 13028.

70

13937.

80

14703.

50

15311.

20

15763.

70

16073.4 0 Sumatera Barat 4865.3

0

5196.3 0

5498.8 0

5757.8 0

5968.3

0 6130.40

Riau 5574.9

0

6344.4 0

7128.3 0

7898.5 0

8643.3

0 9363.00

Jambi 3107.6

0

3402.1 0

3677.9 0

3926.6 0

4142.3

0 4322.90

Sumatera Selatan 7481.6 0

8052.3 0

8567.9 0

9000.4 0

9345.2

0 9610.70

Bengkulu 1722.1 0

1874.9 0

2019.8 0

2150.5 0

2264.3

0 2360.60

Lampung 7634.0 0

8117.3 0

8521.2 0

8824.6 0

9026.2

0 9136.10

KepulauanBangk a Belitung

1230.2 0

1372.8 0

1517.6 0

1657.5 0

1788.9

0 1911.00

Kepulauan Riau 1692.8 0

1973.0 0

2242.2 0

2501.5 0

2768.5

0 3050.50

Pulau Sumatera

50860.

30

55272.

90

59337.

10

62898.

60

65938.

30

68500.0 0

(15)

i data ini dapat diketahui bahwa tingkat pertumbuhannya penduduk dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera mengalami peningkatan yang cukup signifikan dimana setiap per lima tahun yang akan dating ±500 jiwa yang bertambah. Artinya kedepannya sangat tinggi pertumbuhan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sebagai negara yang sedang berkembang tentunya hal ini memberi pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi dan keberlangsungan proses berjalannya roda rumah tangga Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi tantangan yang besar bagi Pemerintah untuk bekerja keras mengatur segala urusan rumah tangga negara.

Kemudian, kita bisa melihat jumlah penduduk salah satu Kabupaten di Sumatera Utara yaitu Simalungun sebagai berikut.

(16)

Tabel 1. 2 Jumlah Penduduk kecamatan-kecamatan di Kabupaten Simalungun tahun 2014-2015

Kecamatan

2014 2015

Jumlah Penduduk (Jiwa) Jumlah Penduduk (Jiwa) Laki-

laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

Laki-

laki Perempuan Laki-laki + Perempuan

Silimakuta 7658 7456 15114 7828 7624 15452

Pamatang

Silimahuta 5361 5331 10692 5397 5369 10765

Purba 11780 11593 23373 11946 11761 23708

Haranggaol

Horison 2547 2511 5058 2553 2517 5070

Dolok

Pardamean 8171 7986 16157 8181 7999 16180

Sidamanik 13540 13972 27512 13579 14018 27597 Pamatang

Sidamanik 8204 8356 16560 8228 8383 16611

Girsang Sipangan Bolon

7292 7438 14730 7330 7479 14810

Tanah Jawa 23186 24176 47362 23254 24255 47508 Hatonduhan 10757 10559 21316 10768 10573 21342 Dolok

Panribuan 8961 9292 18253 8987 9322 18309

Jorlang

Hataran 7723 7851 15574 7746 7877 15623

Panei 10755 11229 21984 10807 11288 22095

Panombeian

Panei 9823 9633 19456 9845 9658 19503

Raya 16044 15825 31869 16142 15928 32070

Dolok Silou 7178 7035 14213 7228 7087 14314

Silou

Kahean 8752 8651 17403 8790 8692 17482

Raya

Kahean 8953 8762 17715 8982 8793 17775

Tapian

Dolok 20381 19856 40237 20616 20091 40708

Dolok Batu

Nanggar 20375 19931 40306 20465 20025 40490

Siantar 32490 32845 65335 32733 33100 65833

Gunung

Malela 16945 17217 34162 17097 17376 34473

(17)

Maligas Hutabayu

Raja 14545 15085 29630 14588 15134 29722

Jawa Maraja

Bah Jambi 10497 10906 21403 10651 11069 21719 Pamatang

Bandar 15545 16053 31598 15563 16077 31640

Bandar

Huluan 13165 13109 26274 13214 13163 26377

Bandar 33271 34105 67376 33666 34521 68187

Bandar

Masilam 12252 12476 24728 12288 12516 24804

Bosar

Maligas 20095 20041 40136 20209 20161 40371

Ujung

Padang 20613 20479 41092 20661 20533 41193

Kabupaten

Simalungun 420591 423442 844033 423202 426203 849405 Sumber : www.simalungunkab.bps.go.id

Pertumbuhan penduduk yang tergolong tinggi menimbulkan dampak terhadap kemerataan persebaran penduduk Indonesia dan disertai dengan tingkat kualitas sumber daya manusia yang rendah. Hal inilah yang menjadi sumber permasalahan terkait dengan kependudukan di Indonesia seperti kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) terutama kepemilikian Kartu Tanda Penduduk Elektronik.

Jika kita lihat melihat berita dibawah dapat kita lihat persentase sementara jumlah penduduk Indonesia yang sudah memiliki KTP-el menurut Litbang Kemendagri sebagai berikut :

Jakarta – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terus mendorong masyarakat Indonesia mengganti data kependudukan dari manual ke elektronik.

Penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik ini dilakukan untuk mencegah pemalsuan dan penggandaan data penduduk termasuk juga investor di pasar modal.

(18)

Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Irman menyebutkan, saat ini dari potensi jumlah penduduk yang sudah berstatus memiliki KTP sebanyak 190 juta, setidaknya sudah 175 juta orang atau sekitar 95% sudah berpindah memakai e-KTP.

“Jumlah penduduk 253 juta, yang harus lakukan perekaman kan nggak semua penduduk, yang sudah umur 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah.

Potensinya yang seperti itu ada 190 juta, tapi yang baru lakukan perekaman 175 juta atau 95-an persen. Dengan kerjasama ini diharapkan ada peningkatan, dan data yang sudah dibangun dimanfaatkan oleh lembaga, termasuk KSEI,” jelas dia saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (25/8/2014).

Dia menjelaskan, pembentukan e-KTP juga merujuk pada banyaknya masyarakat yang memiliki identitas ganda bahkan tidak tanggung-tanggung, satu orang bisa memiliki 10-15 KTP.

“Ada yang punya KTP ganda bahkan lebih dari 10-15 karena penggunaan identitas nggak efektif, jadi kita gunakan e-KTP,” katanya.

Melalui e-KTP, Irman menjelaskan, kemungkinan penyalahgunaan identitas tidak bisa dilakukan lagi. Pasalnya, dalam e-KTP ini setiap orang wajib merekam sidik jari dan iris mata sehingga data tidak bisa dipalsukan dan tidak bisa digunakan yang bukan pemiliknya.

“Kita pakai sidik jari dan iris mata, didukung juga elektronik yang canggih, maka mendukung ketunggalan data, saat ini belum 100 persen. Baru 90- 95 persen sudah merekam, sekitar 5 persen belum melakukan rekaman,” katanya.

Irman menyebutkan, penggunaan e-KTP ini juga perlu terus didorong untuk keakuratan data. Sistem ini tengah berkembang di negara maju namun belum begitu banyak.

(19)

“KTP-el ada perubahan mendasar, perekaman sidik jari dan iris mata.

Sama dengan negara maju di dunia belum banyak lakukan perekaman sidik jari dan iris mata. Kita bersamaan dengan Jerman mulai 2010, dan programnya sampai 2016,” ucap dia.

Irman meminta kepada pihak termasuk KSEI untuk mendorong penggunaan e-KTP kepada setiap nasabahnya.

“Kami meminta dukungan termasuk KSEI dan BEI agar 5 persen ini kita dorong melakukan perekaman sehingga ketunggalan data menjadi 100 persen.

Saat ini yang mendukung Kemenpan, salah satu persyaratan mendaftar CPNS untuk testing harus punya e-KTP. Saya ingin BEI dan KSEI melalui broker agar persyaratan menjadi nasabah salah satu syaratnya harus punya e-KTP,”

tandasnya.

Sumber : www.detik.com

Kabupaten Simalungun merupakan salah satu daerah yang turut melaksanakan program nasional dalam pengadaan KTP-el demi menjamin data penduduk dalam sistem informasi administrasi kependudukan. Namun pada kenyataannya KTP-el belum merata di Kabupaten Simalungun. Dapat dilihat dari kutipan berita dalam Sumut Berita,dibawah terkait jumlah penduduk Simalungun yang belum memiliki KTP-el.

SIMALUNGUN– (Agustus 2016) Masih sekitar 98.000 warga Kabupaten Simalungun yang belum terlayani perekaman program kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Padahal batas waktu perekaman e-KTP sudah mendekati deadline.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Pemkab Simalungun, Albert Sinaga, melalui Kabag Humasy,M Andreas Simamora mengatakan, warga yang belum terlayani adalah warga yang sakit atau tinggal di desa-desa terpencil. Bahkan bisa jadi sudah pindah alamat dan meninggal dunia.

(20)

Namun,menurut Simamora dari persentase realisasi pencapaian, warga yang memiliki KTP yang sudah menjalani proses perekaman e-KTP mencapai 82%

atau sekitar 449.000 jiwa dari target 547.000 jiwa lebih. ”Pemkab Simalungun tetap optimistis pencapaian wajib e- KTP akan terealisasi mendekati 100%

hingga April nanti,karena saat ini pencapaiannya sudah 82%,”ujar Simamora, kemarin.

Dia menambahkan pencapaian target wajib e-KTP tidak mungkin terealisasi 100%, karena banyak juga warga yang pindah atau meninggal dunia, sehingga realisasinya kemungkinan mendekati 100%.Untuk melakukan perekaman e-KTP bagi warga yang jauh dari kantor kecamatan atau sedang sakit, Dinas Dukcapil akan melakukan jemput bola dengan mengerahkan mobil operasional yang dilengkapi fasilitas perekaman dan internet. .

Sebelumnya Bupati Simalungun JR Saragih menyatakan akan menindak tegas camat yang tidak mendukung upaya jemput bola Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dinas Dukcapil) Pemkab Simalungun dalam menyukseskan program nasional e-KTP melalui pengoperasian mobil keliling.

Kemudian Berita terbaru pada 9 September 2016,

80 Persen dari 1.276.000 Warga Simalungun Sudah Rekam Data E-KTP, Dukcapil ‘Diserbu’ Masyarakat

BeritaSimalungun.com, Raya-Masyarakat 'menyerbu' kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Pamatangraya Kabupaten Simalungun, guna pengurusan administrasi kependudukan, Kamis (8/9/2016).

Hal ini menyusul intruksi Mendagri soal batas mengurus E-KTP hingga akhir September 2016. Ratusan warga datang dari berbagai kecamatan dan memadati ruangan kantor tersebut, bahkan tidak sedikit yang mengantri di luar gedung. Nora, seorang warga asal Sondiraya mengaku tetap bersabar menunggu giliran hingga berharap dapat selesai pengurusan administrasinya. Para pegawai Dinas Dukcapil Simalungun juga terlihat sibuk memberikan pelayanan.

Perekaman e-KTP paling banyak didatangi warga.

Kepala Dinas Dukcapil Simalungun, Jon R Damanik MSi mengapresiasi kesabaran masyarakat mengingat banyaknya pengurusan administrasi

(21)

kependudukan terutama KTP. Jon sendiri turun langsung melayani masyarakat.

Ia mengatakan, tidak ada kendala soal ketersediaan blanko KTP. Stok blanko masih mencukupi, namun bila sudah menipis, cepat berkordinasi dengan pemerintah pusat agar tidak sempat terjadi kekosongan blanko.

Dapat kita lihat perbandingan antara jumlah penduduk Simalungun yang belum memiliki e-KTP dengan yang jumlah total penduduk Simalungun 2 tahun terakhir.

Jika dilihat dari presentase jumlah penduduk secara menyeluruh dari berbagai kecamatan yang menyebar sangatlah minim warga yang memiliki e-Ktp.

Sekitar 98000 lagi yang harus dilayani oleh pemerintah kabupaten Simalungun.

Maka dari itu, sehubungan dengan Program Nasional dalam pengadaan e- KTP terhadap pembangunan administrasi kependudukan maka pemerintah membuat kebijakan untuk memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan terhadap hak-hak individu penduduk. Perlindungan tersebut berupa pelayanan publik melalui penerbitan dokumen kependudukan seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Tanda Penduduk(KTP), Kartu Keluarga(KK), dan akta-akta catatan sipil, termasuk Akta Kelahiran.

Untuk itu Pemerintah Pusat telah menyiapkan suatu sistem yang diberi nama ”Sistem Informasi Administrasi Kependudukan”(SIAK) yang telah dikukuhkan dengan Keputusan Presiden Nomor 88 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (Insani, 2006).

Melihat sudah adanya program yang diadakan pemerintah tersebut makan penulis ingin mengetahui lebih lanjut mengenai implementasinya oleh Dinas Catatan Sipil dan Kependukan, apakah benar telah menerapkannya dengan baik dan benar. Oleh sebab itu peneliti mengambil judul penelitian “Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan dalam pengadaan KTP-el oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Simalungun”.

(22)

1.2 Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam pengadaan e-KTP oleh Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan jawaban terhadap perumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, yakni untuk:

1. Untuk mengetahui bagaimana Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Simalungun.

2. Untuk mengetahui hambatan apa saja yang dialami dalam Implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Simalungun.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

Dapat meningkatkan wawasan yang lebih luas tentang pelaksanaan program Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam pengadaan e-KTP oleh Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan.

2. Bagi Pemerintah

Dapat dijadikan sebagai masukan bagi Pemerintah terkait program Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam pengadaan e-KTP oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

3. Bagi Akademis

Hasil penelitian diharapkan dapat berguna bagi pustakawan dan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.

1.5 Kerangka Teori

(23)

Kerangka teori adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan factor- faktor penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Penyusunan teori merupakan tujuan utama dari ilmu karena teori merupakan alat untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena yang diteliti.

1.5.1 Kebijakan Publik ( Public Policy)

Kebijakan public adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan bernegara baik pemerintahan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat banyak.

Menurut H. Hugh Heglo dalam Abidin (2004:21) kebijakan adalah suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapai suatu tujuan tujuan tertentu. Sedangkan Anderson dalam Abidin (2004:21) mendefenisikan kebijakan sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah tertentu. Sedangkan menurut Woll dalam Tangkilisan (2003:2) kebijakan publik adalah sejumlah aktivitas pemerintah untuk memecahkan masalah dimasyarakat, baik secara langsung maupun melalui lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaan kebijakan publik terdapat tiga tingkat pengaruh sebagai implikasi dari tindakan pemerintah yaitu:

a. Adanya pilihan kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai pemerintah atau yang lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk mempengaruhi kehidupan masyarakat.

b. Adanya output kebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran, pembentukan personil dan membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat.

c. Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat.

Konsep kebijakan publik ternyata juga dimaknai dan dirumuskan secara beragam. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa sebagian besar defenisi yang

(24)

dikemukakan dipengaruhi oleh masalah-masalah tertentu yang ingin dilihat.

Pandangan pertama, ialah pendapat para ahli yang mengidentikkan kebijakan publik dengan tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah. Beranggapan bahwa semua tindakan yang dilakukan oleh pemerintah pada dasarnya disebut sebagai kebijakan publik.

R.S Parker dalam Wahab (2008:51), menyatakan bahwa kebijakan publik adalah suatu tujuan tertentu, atau serangkaian asas tertentu, atau tindakan yang dilaksanakan oleh pemerintah pada suatu waktu tertentu dalam kaitannya dengan suatu subjek atau sebagai respon terhadap keadaan yang kritis.

1.5.2 Implementasi Kebijakan Publik ( Policy Adaption)

Implementasi kebijakan adalah tahap ketiga dalam proses kebijakan public, dimana pada tahapan ini terjadi penerapan kebijakan yang sudah ditentukan sejak awal sesuai dengan kebutuhan masyrakat.

1.5.2.1 Model Implementasi Kebijakan Publik a. Model Van Metter dan Van Horn

Dalam Wayne Parson ( 2001:465) model inilah yang muncul pertama kali. Pengabaian terhadap politik mulai berakhir setelah terbitnya studi oleh Martha Derthick tentang kebijakan urban, New Towns in Town : Why a federak Program Failed (1972) dan Implementation oleh Pressman dan Wildavsky (1973).

Meskipun studi Derthick merupakan terobosan penting dalam perkembangan kajian implementasi, namun karya Pressman dan Wildavsky jauh lebih berpengaruh.

Model pendekatan Top - Down yang dirumuskan oleh Donald Van Metter dan Carl Van Horn yaitu disebut dengan “A Model of The Policy Implementation”. Proses implementasi ini merupakan sebuah abstraksi atau performansi suatu implementasi kebijakan yang secara sengaja dilakukan untuk meraih kinerja implementasi kebijakan publik yang tinggi.

Gambar 1.1 Model Kebijakan Implementasi Kebijakan Publik menurut Van Metter dan Van Horn

(25)

Ada 6 (enam) variabel menurut Van Metter dan Van Horn dalam Solahuddin Kusumanegara (2010 :112) yang mempengaruhi kinerja kebijakan publik yaitu:

1) Ukuran dan Tujuan Kebijakan Kinerja implementasi kebijakan dapat diukur tingkat keberhasilannya jika kebijakan tersebut realistis dengan sosio-kultur yang ada di level pelaksana kebijakan. Ketika ukuran kebijakan atau tujuan kebijakan terlalu ideal untuk dilaksanakan di tingkat masyarakat, maka sulit merealisasikan kebijakan publik hingga dapat dikatakan sukses ataupun berhasil.

2) Sumber Daya Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Manusia merupakan sumber daya yang terpenting dalam menentukan keberhasilan proses implementasi. Sumber daya lain yang perlu diperhitungkan yaitu sumber daya finansial dan sumber daya waktu.Ketika SDM yang berkompeten dan capable telah tersedia sedangkan anggaran dana tidak tersedia, maka akan sulit untuk merealisasikan tujuan kebijakan publik. Begitu juga saat SDM giat bekerja dan kucuran dana berjalan dengan baik tetapi terbentur dengan

(26)

persoalan waktu yang terlalu ketat, maka hal ini pun dapat menjadi faktor ketidakberhasilan implementasi kebijakan.

3) Karakteristik Agen Pelaksana Pusat perhatian pada agen pelaksana meliputi organisasi formal dan organisasi informal yang akan terlibat dalam pengimplementasian kebijakan publik. Hal ini sangat penting sekali karena kinerja implementasi kebijakan publik sangat dipengaruhi oleh ciri-ciri yang tepat dengan para agen pelaksananya. Jadi keduanya saling mendukung dan selaras.

4) Sikap / Kecenderungan (Disposition) Pelaksana Sikap penerimaan atau penolakan dari agen pelaksana sangat mempengaruhi keberhasilan kinerja implementasi kebijakan publik. Hal ini terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukan hasil dari formulasi warga setempat yang mengenal betul persoalan dan permasalahan yang sedang mereka rasakan, tetapi kebijakan yang akan implementor laksanakan adalah kebijakan “dari atas” (topdown) yang sangat mungkin para pengambil keputusan tidak pernah mengetahui kebutuhan, keinginan, atau permasalahan yang warga ingin selesaikan.

5) Komunikasi Antar organisasi dan Aktivitas Pelaksana Koordinasi merupakan mekanisme yang ampuh dalam implementasi kebijakan publik. Semakin baik koordinasi komunikasi diantara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proses implementasi, maka sangat kecil kemungkinan akan terjadi kesalahan, begitu pula sebaliknya.

6) Lingkungan Ekonomi, Sosial dan Politik Lingkungan sosial, ekonomi dan politik yang tidak kondusif dapat menjadi faktor kegagalan kinerja implementasi kebijakan, karena itu upaya untuk mengimplementasikan suatu kebijakan harus memperhatikan kekondusifan kondisi lingkungan eksternal.

b. Model Mazmanian dan Sabatier

(27)

Model implementasi kebijakan publik menurut Daniel Mazmanian dan Paul Sabatier disebut dengan “A Framework for Policy Implementation Analysis”.

Mereka berpendapat bahwa peran penting dari implementasi kebijakan publik adalah kemampuannya dalam mengidentifikasikan variabel-variabel yang mempengaruhi tercapainya tujuan-tujuan formal dari keseluruhan proses implementasi. Kemudian untuk lebih menjelaskan bagaimana indicator keberhasilan implementasi kebijakan, mereka mengidentifikasi kedalam 16 variabel. Namun digolongkan menjadi 3 kategori besar.( Solahuddin, 2010:115) Gambar 1.2 Model Mazmanian dan Sabatier

Variabel-variabel tersebut diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kategori besar yaitu:

1) Mudah atau Tidaknya Masalah yang akan Digarap

a) Kesukaran-kesukaran Teknis Tercapai atau tidaknya tujuan suatu kebijakan tergantung pada sejumlah persyaratan teknis seperti kemampuan untuk dapat mengembangkan indikator-indikator pengukur prestasi kerja yang tidak

(28)

terlalu mahal serta pemahaman mengenai prinsip-prinsip hubungan kausal yang mempengaruhi masalah. Disamping itu, tingkat keberhasilan suatu kebijakan juga dipengaruhi oleh tersedianya atau telah dikembangkannya teknik-teknik tertentu.

b) Keberagaman Perilaku yang Diatur Semakin beragam perilaku yang diatur maka semakin beragam pula pelayanan yang diberikan, sehingga semakin sulit membuat peraturan yang tegas dan jelas. Jadi, semakin besar kebebasan bertindak yang harus dikontrol oleh para pejabat pelaksana (administratur atau birokrat) di lapangan.

c) Persentase Totalitas Penduduk yang Tercakup dalam Kelompok Sasaran Semakin kecil dan semakin jelas kelompok sasaran yang perilakunya akan diubah melalui implementasi kebijakan maka semakin besar peluang untuk memobilisasikan dukungan politik terhadap sebuah kebijakan dan akan lebih terbuka lagi peluang bagi pencapaian tujuan kebijakan.

d) Tingkat dan Ruang Lingkup Perubahan Perilaku yang Dikehendaki Semakin besar jumlah perubahan perilaku yang dikehendaki oleh kebijakan maka semakin sulit para pelaksana memperoleh implementasi yang berhasil. Artinya, ada sejumlah masalah yang lebih dapat dikendalikan apabila tingkat dan ruang lingkup perubahan yang dikehendaki tidak terlalu besar.

2) Kemampuan Kebijakan Menstruktur Proses Implementasi Secara Tepat Para pembuat kebijakan dapat mendayagunakan wewenang yang dimilikinya untuk menstruktur proses implementasi secara tepat melalui beberapa cara yaitu:

a) Kecermatan dan Kejelasan Penjenjangan Tujuan Resmi yang Akan Dicapai Semakin mampu suatu peraturan memberikan petunjukpetunjuk yang cermat dan disusun secara jelas skala prioritas kepentingan bagi para pejabat pelaksana dan aktor lainnya, maka semakin besar pula kemungkinan output kebijakan dari badan-badan pelaksana sejalan dengan petunjuk tersebut.

(29)

b) Keterandalan Teori Kausalitas yang Diperlukan

Memuat teori kausalitas yang di dalamnya menjelaskan bagaimana tujuan usaha pembaharuan yang akan dicapai melalui implementasi kebijakan.

c) Ketetapan Alokasi Sumber Dana Tersedianya dana pada tingkat tertentu agar terbuka peluang untuk mencapai tujuan-tujuan formal.

d) Keterpaduan Hierarki di Lingkungan dan Diantara Lembagalembaga atau Instansi-instansi Pelaksana Yang perlu dimiliki oleh setiap peraturan perundangan yang baik ialah kemampuannya untuk memadukan hierarki badan- badan pelaksananya.

e) Aturan-aturan Pembuat Keputusan dari Badan-badan Pelaksana Selain dapat memberikan kejelasan dan konsistensi tujuan, memperkecil jumlah titik-titik veto, dan intensif yang memadai bagi kepatuhan kelompok sasaran, suatu undang- undang juga harus dapat mempengaruhi proses implementasi kebijakan dengan menggariskan secara formal aturan-aturan pembuat keputusan dari badan-badan pelaksana.

f) Kesepakatan Para Pejabat Terhadap Tujuan yang Termaktub dalam Undang-undang Para pejabat pelaksana memiliki kesepakatan yang diisyaratkan demi tercapainya tujuan. Hal ini sangat signifikan karena top-down policy bukanlah perkara yang mudah untuk dapat diimplementasikan kepada para pejabat pelaksana di level lokal.

g) Akses Formal Pihak-pihak Luar Peluang-peluang yang terbuka bagi partisipasi para aktor di luar badan pelaksana dapat mendukung tujuan resmi yang dimaksudkan agar kontrol kepada para pejabat pelaksana yang ditunjuk,pemerintah pusat dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya.

3) Variabel di Luar Undang-undang yang Mempengaruhi Implementasi

a) Kondisi Sosial - Ekonomi dan Teknologi Perbedaan waktu dan wilayah- wilayah hukum pemerintah dalam hal kondisi sosial, ekonomi dan teknologi sangat signifikan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan yang digariskan dalam suatu

(30)

undang-undang. Untuk itu factor eksternal menjadi hal penting untuk diperhatikan guna keberhasilan suatu upaya implementasi kebijakan publik.

b) Dukungan Publik Hakekat perhatian publik yang bersifat sesaat menimbulkan kesukaran-kesukaran tertentu, karena untuk dapat mendorong tingkat keberhasilan suatu implementasi kebijakan sangat dibutuhkan adanya sentuhan dukungan dari warga. Untuk itu, mekanisme partisipasi publik sangat penting artinya dalam proses pelaksanaan kebijakan publik di lapangan.

c) Sikap dan Sumber-sumber Kelompok Masyarakat Perubahan- perubahan yang hendak dicapai oleh suatu kebijakan publik akan sangat berhasil di tingkat masyarakat yang memiliki sumber-sumber dan sikap-sikap yang kondusif terhadap kebijakan yang ditawarkan kepada mereka. Ada semacam local genius (kearifan lokal) yang dimiliki oleh warga yang mempengaruhi keberhasilan atau ketidakberhasilan implementasi kebijakan publik. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh sikap dan sumber yang dimiliki oleh warga masyarakat setempat.

d) Kesepakatan dan Kemampuan Kepemimpinan Para Pejabat Pelaksana Kesepakatan para pejabat instansi merupakan suatu fungsi dari kemampuan undang-undang untuk melembagakan pengaruhnya pada badan-badan pelaksana melalui penyeleksian institusi-institusi dan pejabat-pejabat terasnya. Kemampuan berinteraksi antar lembaga atau individu di dalam lembaga untuk menyukseskan implementasi kebijakan menjadi indikasi penting dalam keberhasilan kinerja kebijakan publik.

c. Model George Charles Edward III

Edward III menamakan model implementasi kebijakan publik dengan

“Direct and Indirect Impact on Implementation”. Menurut Edward (dalam Subarsono 2005:90) ada 4 (empat) variabel yang sangat menentukan keberhasilan implementasi suatu kebijakan yaitu:

Gambar 1.3 Model George Charles Edward III

(31)

1) Komunikasi Kebijakan yang dikomunikasikan harus tepat, akurat dan konsisten. Komunikasi atau disebut dengan pentransmisian informasi diperlukan agar para pembuat keputusan / implementor semakin konsisten dalam melaksanakan setiap kebijakan yang akan diterapkan dalam masyarakat.

2) Sumber Daya Indikator sumber daya terdiri dari beberapa elemen yaitu:

a) Staf

b) Informasi

c) Wewenang

d) Fasilitas

3) Disposisi Disposisi yaitu sikap dari pelaksana kebijakan. Jika pelaksanaan suatu kebijakan ingin efektif maka para pelaksana kebijakan harus mengetahui apa yang akan dilakukan tetapi juga memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga dalam praktiknya tidak terjadi bias.

4) Struktur Birokrasi Kebijakan yang begitu kompleks menuntut adanya kerja sama dari banyak orang, ketika struktur birokrasi tidak kondusif pada kebijakan yang tersedia maka sumber-sumber daya yang ada juga menjadi tidak efektif dan menghambat jalannya kebijakan. Birokrasi sebagai pelaksana sebuah kebijakan harus dapat mendukung kebijakan yang telah diputuskan secara politik dengan jalan melakukan koordinasi dengan baik.

(32)

Ada 2 (dua) karakteristik menurut Edward III yang dapat mendongkrak kinerja struktur birokrasi / organisasi ke arah yang lebih baik yaitu dengan melakukan Standar Operating Prosedures (SOPs) dan melaksanakan Fragmentasi.

SOPs adalah suatu kegiatan rutin yang memungkinkan bagi para pegawai atau pelaksana kebijakan/administratur/birokrat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pada tiap harinya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, sedangkan pelaksanaan fragmentasi adalah upaya penyebaran tanggung jawab kegiatan- kegiatan atau aktivitas-aktivitas pegawai yang ada diantara beberapa unit kerja.

d. Model Merilee S. Grindle

Pendekatan implementasi kebijakan publik yang dikemukakan oleh Grindle dikenal dengan “Implementation as a Political and Administrative Process”. Menurut Grindle dalam Tangkilisan (2003:19), keberhasilan implementasi suatu kebijakan publik dapat diukur dari proses pencapaian hasil akhirnya (outcomes) yaitu tercapai atau tidaknya tujuan yang ingin diraih.

Gambar1.4 Model Grindle

Pengukuran keberhasilan tersebut dapat dilihat dari 2 (dua) hal yaitu:

(33)

1) Prosesnya Apakah pelaksanaan kebijakan telah sesuai dengan yang ditentukan dengan merujuk pada aksi kebijakannya.

2) Pencapaian Tujuan Kebijakan

a) Impact atau efeknya pada masyarakat secara individu dan kelompok.

b) Tingkat perubahan yang terjadi dan juga penerimaan kelompok sasaran. Selain itu, keberhasilan suatu implementasi kebijakan publik juga sangat ditentukan oleh tingkat implementability kebijakan itu sendiri yang terdiri atas Content of Policy dan Context of Policy.

1) Content of Policy, meliputi:

a) Interest Affected Yaitu kepentingan yang dapat mempengaruhi implementasi kebijakan, karena implementasi kebijakan melibatkan banyak kepentingan dan sejauhmana kepentingan tersebut membawa pengaruh terhadap implementasi kebijakan.

b) Type of Benefits Yaitu dalam implementasi kebijakan terdapat beberapa jenis manfaat yang menunjukkan dampak positif yang dihasilkan.

c) Extent of Change Envision Yaitu seberapa besar perubahan yang hendak atau ingin dicapai melalui suatu implementasi sehingga harus mempunyai skala yang jelas.

d) Site of Decision Making Yaitu letak pengambilan keputusan dari suatu kebijakan yang akan diimplementasikan.

e) Program Implementer Yaitu implementasi kebijakan atau program yang harus didukung oleh adanya pelaksana yang berkompeten dan capable.

(34)

f) Resources Commited Yaitu sumber daya yang harus mendukung agar implementasi kebijakan dapat berjalan dengan baik.

2) Context of Policy, meliputi:

a) Power, Interest and Strategy of Actor Involved yaitu kekuasaan, kepentingan dan strategi dari aktor yang terlibat.

b) Institution and Regime Characteristic yaitu karakteristik lembaga dan rezim yang sedang berkuasa sebagai lingkungan dimana implementasi kebijakan dijalankan.

c) Compliance and Responsiveness yaitu sejauh mana tingkat kepatuhan dan respon dari para pelaksana dalam menanggapi implementasi kebijakan yang dilakukan. Pendekatan Bottom-Up menurut Grindle yaitu memandang bahwa implementasi kebijakan tidak dirumuskan oleh lembaga yang tersentralisir dari pusat saja, namun berpangkal dari keputusan- keputusan yang ditetapkan di level warga atau masyarakat yang merasakan sendiri persoalan / permasalahan yang mereka alami.

Pada intinya, pendekatan Bottom-Up adalah model implementasi kebijakan dimana formulasi kebijakan berada di tingkat warga, sehingga mereka dapat lebih memahami dan mampu menganalisis kebijakan- kebijakan apa yang cocok dengan sumber daya yang tersedia di daerahnya dengan sistem sosio-kultur yang ada agar kebijakan tersebut tidak kontraproduktif dan dapat menunjang keberhasilan dalam implementasi kebijakan itu sendiri.

1.5.2.2 Model Implementasi Kebijakan yang digunakan

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan model George Edwards III yang dianggap mempengaruhi, antara lain:

1. Komunikasi

(35)

Komunikasi merupakan salah satu urat nadi dari sebuah organisasi agar program-programnya tersebut dapat direalisasikan dengan tujuan serta sasarannya. Komunikasi ialah sarana untuk menyebarluaskan informasi, baik dari atas ke bawah maupun sebaliknya. Komunikasi dilakukan untuk menghidari distorsi implementasi. Sementara itu, koordinasi menyangkut persoalan bagaimana praktik pelaksanaan kekuasaan. Koordinasi berarti adanya kerjasama yang saling terkait dan saling mendukung antar pelaksana kebijakan dalam guna pencapaian tujuan implementasi kebijakan.

2. Sumber Daya

Sumber Daya Manusia (SDM) yang tidak memadai (jumlah dan kemampuan) berakibat tidak dapat dilaksanakannya program secara sempurna karena mereka tidak bisa melakukan pengawasan dengan baik.

Keberhasilan proses implementasi kebijakan sangat tergantung dari kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya menunjukkan setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia, fasilitas dan finansial. Ketersediaan sumber daya mempengaruhi efektivitas implementasi suatu program kebijakan. Oleh karena itu, dinas-dinas yang memiliki tugas dalam mempertimbangkan sumber daya yang sudah tersedia sebelumnya.

3. Disposisi

Salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas implementasi kebijakan adalah sikap implementor. Jika implementor setuju dengan bagian-bagian isi dari kebijakan, maka mereka akan melaksanakan dengan senang hati tetapi jika pandangan mereka berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi akan mengalami banyak masalah. Ada tiga bentuk sikap atau respon implementor terhadap kebijakan, yaitu:

1. Kesadaran pelaksana

(36)

2. Petunjuk/arahan pelaksana untuk merespon program kearah penerimaan atau penolakan

3. Intensitas dari respon tersebut 4. Struktur Birokrasi

1.5.3.1 Kebijakan Administrasi Kependudukan

1.5.3.1.1.1 UU No. 24 Tahun 2013 perbaharuan dari UU No. 23 Tahun 2006

Dalam rangka mewujudkan tertib administrasi kependudukan secara nasional, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada hakikatnya berkewajiban memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk dan/atau Warga Negara Indonesia yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; Kemudian dalam rangka peningkatan pelayanan Administrasi Kependudukan sejalan dengan tuntutan pelayanan Administrasi Kependudukan yang profesional, memenuhi standar teknologi informasi, dinamis, tertib, dan tidak diskriminatif dalam pencapaian standar pelayanan minimal menuju pelayanan prima yang menyeluruh untuk mengatasi permasalahan kependudukan, perlu dilakukan penyesuaian terhadap beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan; bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut sebagaimana membentuk Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

1.5.3.1.2 Peraturan Presiden No. 112 tahun 2013 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk berbasis Nomor Induk Kependudukan secara Nasional

(37)

Informasi administrasi kependudukan memiliki nilai strategis bagi penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga perlu pengelolaan informasi administrasi kependudukan secara terkoordinasi dan berkesinambungan; untuk menjamin akuntabilitas pelayanan kepada masyarakat di bidang kependudukan, perlu menetapkan kebijakan dan sistem informasi administrasi kependudukan secara nasional oleh Presiden.

Pengelolaan informasi administrasi kependudukan adalah pengumpulan, perekaman, pengolahan dan pemutakhiran data hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil untuk penerbitan dokumen penduduk, pertukaran data penduduk dalam rangka menunjang pelayanan publik, serta penyajian informasi kependudaukan guna perumusan kebijakan dan pembangunan. Sistem Informasi Administrasi Kependudukan yang selanjutnya disingkat SIAK adalah sistem informasi nasional yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi pengelolaan informasi administrasi kependudukan di setiap tingkatan wilayah administrasi pemerintahan..

Peraturan Presiden ini adalah Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 Tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional, termuat dalam Pasal berikut:

Pasal I

Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional yang telah beberapa kali diubah dengan Peraturan Presiden:

a. Nomor 35 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional;

b. Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional; dan

(38)

c. Nomor 126 Tahun 2012 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 293);

diubah sebagai berikut:

1. Ketentuan Pasal 1 angka 3 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

3. Kartu Tanda Penduduk Elektronik, selanjutnya disingkat KTP-el, adalah Kartu Tanda Penduduk yang dilengkapi cip yang merupakan identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana.

2. Ketentuan Pasal 10 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 10

KTP Non Elektronik tetap berlaku bagi Penduduk yang belum mendapatkan KTP-el sampai dengan paling lambat tanggal 31 Desember 2014.

3. Ketentuan ayat (3) Pasal 10 B diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 10 B

(1) KTP-el sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 A merupakan:

a. Identitas resmi bukti domisili penduduk;

b. Bukti diri penduduk untuk pengurusan kepentingan yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan;

c. Bukti diri penduduk untuk pengurusan kepentingan pelayanan publik di Instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, Lembaga Perbankan, dan Swasta yang berkaitan dengan dan tidak terbatas pada Perizinan, Usaha, Perdagangan, Jasa Perbankan, Asuransi, Perpajakan dan Pertanahan.

(2) Instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, Lembaga Perbankan, dan Swasta wajib memberikan pelayanan bagi penduduk dengan dasar KTP-el dengan tidak mempertimbangkan tempat penerbitan KTP-el.

(3) Instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, Lembaga Perbankan, dan Swasta tetap memberikan pelayanan kepada penduduk yang memiliki KTP Non Elektronik dengan lingkup kabupaten/kota tempat penerbitan KTP Non

(39)

Elektronik sampai dengan tanggal 31 Desember 2014.

4. Ketentuan ayat (1) Pasal 10 E diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

Pasal 10 E

(1) Instansi Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Lembaga Perbankan wajib melaporkan penyeleng-garaan pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 B ayat (2) kepada Presiden melalui Menteri setiap 6 (enam) bulan sekali sampai dengan tanggal 31 Desember 2014.

(2) Menteri berhak meminta laporan penyelenggaraan pelayanan dengan menggunakan KTP-el yang dilaksanakan oleh swasta.

(3) Ketentuan mengenai pelaporan atas penyelenggaraan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal II

Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

1.5.3.2 Peraturan Daerah No.3 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan Kabupaten Simalungun

Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan dan Catatan Sipil dibuat dalam rangka tertib administrasi pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil, tujuannya untuk penataan dokumen kependudukan secara terpadu, terarah, dan terkoordinasi dan berkesinambungan. Dalam Perda ini diatur bagaimana ketentuan pendaftaran penduduk dan catatan sipil, Kartu Keluarga, Kartu Tanda Penduduk, Mutasi Kependudukan,Pengelolaan Data dan Pelaporan Kependudukan, Sistem Informasi Administrasi Kependudukan, Retribusi, Pengawasan, Pembatalan, Ketentuan Pidana, Ketentuan Pendidikan, dan Ketentuan Peralihan, serta Ketentuan Penutup.

(40)

Pada Sistem Informasi Administrasi Kependudukan, pengelolaannya dilakukan oleh Menteri melalui pembangunan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan. Data yang sudah ada akan disimpan dalam database kependudukan. Dimana data yang ada dapat dimanfaatkan sesuai izin dan hak akses dari Menteri Dalam Negeri.

1.5.4 Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) 1.5.4.1 Definisi Sistem

Sistem adalah sekelompok komponen dan elemen yang digabungkan menjadi satu untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Kumorotomo (1994:8), sistem dapat diartikan sebagi suatu kumpulan atau himpun dari unsur, komponen atau variabel-variabel yang terorganisasi, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain dan terpadu. Secara umum sebuah sistem yang ideal memiliki unsur-unsur (Odgers, 2005 dalam Sukoco, 2007:32) sebagai berikut: masukan (input), pengolahan (processing), keluaran (output), umpan balik (feedback), dan pengawasan. Keberadaan tiap unsur tersebut di atas sangatlah penting, karena masing-masing memainkan peranan yang penting dalam menjalankan sistem.

Berikut ini adalah gambar siklus sistem.

Gambar 1.5Definisi Sistem

1.5.4.2 Definisi Informasi

(41)

Dalam kehidupan sehari-hari, informasi sering diartikan sebagai data.

Dalam ruang lingkup ilmiah hal ini berbeda walaupun hubungannya sangat erat.

Burch dan Grudnitski (dalam Kumorotomo, 1994, 11) menyebutkan adanya tiga pilar utama yang menentukan kualtas informasi, yaitu: akurasi, ketepatan waktu dan relevansi. Syarat-syarat tentang informasi yang lebih baik yang lebih lengkap diuraikan oleh Parker (dalam Kumorotomo, 1994, 11). Berikut ini adalah syarat- syarat yang dimaksud:

a. Ketersediaan b. Mudah dipahami c. Relevansi d. Bermanfaat e. Ketepatan waktu f. Keandalan g. Akurasi h. Konsisten

Syarat yang mendasar bagi suatu informasi adalah tersedianya informasi itu sendiri. Informasi harus dapat diperoleh bagi orang yang hendak memanfaatkannya.

1.5.4.3 Administrasi Kependudukan

Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada hakikatnya berkewajiban memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap penduduk. Untuk memberikan perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi dan status hukum setiap Penduduk Indonesia, perlu dilakukan pengaturan tentang Administrasi Kependudukan (UU No. 23 Tahun 2006).

Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan

(42)

pembangunan sektor lain (UU No. 23 Tahun 2006 pasal 1). Dengan demikian, administrasi kependudukan merupakan hal yang sangat penting untuk dilaksanakan mulai dari satuan pemerintahan terkecil seperti desa/ kelurahan hingga pada skala nasional. Pengelolaan Administrasi kependudukan memiliki fungsi strategis sebagai dukungan informasi tentang kependudukan bagi pembuatan kebijakan dalam rangka pelayanan publik serta kepentingan warga untuk mengakses informasi hasil administrasi Kependudukan tersebut.

I.5.4.4 Sistem Informasi Administrasi Kependudukan

Informasi terkait administrasi kependudukan sangatlah penting dalam penyelenggaraan kinerja pemerintah baik dalam pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat umum,sehingga perlu pengelolaan informasi administrasi kependudukan secara terkoordinasi dan berkesinambungan. Untuk menjamin akuntabilitas pelayanan kepada masyarakat di bidang kependudukan, perlu menetapkan kebijakan dan sistem informasi administrasi kependudukan secara nasional. Pengelolaan informasi administrasi kependudukan dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) (Keppres No. 88 Tahun 2004 Pasal 3). Sistem Informasi Administrasi Kependudukan adalah software Pemerintahan yang berguna untuk menunjang kinerja Pemerintah dalam mendata data-data kependudukan pada setiap tingkatan wilayah pemerintahan mulai dari tingkatan yang tertinggi sampai tingkatan yang paling rendah.

Di dalam KEPRES RI No. 88 Tahun 2004 dikemukakan bahwa Sistem Informasi Administrasi Kependudukan adalah sistem informasi nasional yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi pengelolaan informasi administrasi kependudukan di setiap tingkatan wilayah administrasi pemerintahan (pasal 1 ayat 3). Adapun tujuan diselenggarkannya Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ( SIAK ) adalah sebagai berikut:

1. peningkatan kualitas pelayanan kualitas penduduk dan pencatatan sipil.

2. penyediaan data untuk perencanaan pembangunan dan pemerintahan;

(43)

3.penyelenggaraan pertukaran data secara tersistem dalam rangka verifikasi data individu dalam pelayanan publik.

Penyelenggaraan pengumpulan dan pengolahan data kependudukan dilaksanakan mulai dari tingkatan propinsi, kabupaten/kota, kecamatan atau kelurahan. Dalam rangka penyelenggaraan pengumpulan dan pengolahan data kependudukan tersebut maka dibangun fasilitas pada kabupaten/kota, kecamatan atau kelurahan untuk melakukan pengumpulan, pengolahan dan pemutakhiran data hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil untuk penerbitan dokumen penduduk, serta penyajian informasi kependudukan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) adalah sistem informasi yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memfasilitasi administrasi kependudukan di tingkat penyelenggara dan instansi pelaksana sebagai satu kesatuan. Dalam hal meliputi:

1. Penduduk, yaitu Warga Negara Indonesia (WNI) dan Orang Asing yang bertempat tinggal di Indonesia.

2. Dokumen kependudukan adalah dokumen resmi yang diterbitkan oleh Instansi pelaksana yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti autentik yang dihasilkan dari pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.

3. Data kependudukan adalah data perseorangan atau data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan pendaftaran penduduk dan catatan sipil.

4. Pendaftaran penduduk adalah pencatatan biodata, pencatatan atas laporan peristiwa kependudukan dan pendataan penduduk tentang

(44)

administrasi kependudukan serta penertiban dokumen kependudukan berupa kartu identitas atau surat keterangan penduduk.

5. Pencatatan sipil adalah pencatatan peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi pelaksana.

Dalam Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) terdapat tiga komponen, diantaranya yaitu:

1. Pendaftaran Penduduk

Sarana untuk membangun basis data dan menerbitkan identitas bagi setiap penduduk dewasa dengan mencantumkan nomor penduduk sebagai identitas tunggal. Dari kegiatan pendaftaran penduduk ini kemudian diterbitkan tiga dokumen, yaitu Biodata Penduduk, Kartu Keluarg a (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Beberapa tahap akan dilalui terutama pembuatan KTP-el yaitu perekaman biometrik sebagai berikut :

Proses Pembuatan KTP-el

Tahap pertama masyrakat harus mengambil form F1.01 yang sudah disediakan. Setelah mengisi form tersebut, masyarakat akan melalui pengambilan sidik jari, pemotretan, dan juga verifikasi data. Setelah proses pengambilan sidik jari selesai maka akan ditampung di database sidik jari, dan juga apabila verifikasi biodata sudah selesai, data akan dimasukan di database kependudukan berbasis NIK. Setelah proses itu dijalani maka KTP elektronik sudah bisa di ambil, dan proses pembuatannya sangat cepat dibandingkan dengan proses pembuatan KTP biasa.

Kelebihan Kartu Tanda Penduduk Elektronik

Dilengkapi Biometrik dan Chip, berbasis Nomor Induk Kependudukan(NIK) nasional, chip data KTP-el memuat biodata, photo, sidik jari dan tanda tangan digital.

Kegunaan Biometrik

a. Sebagai identifikasi Jati diri, yaitu data yang termuat dalam dokumen menunjukkan identitas diri penduduk bersangkutan secara akurat dan cepat.

(45)

b. Sebagai autentifikasi diri, yaitu sebagai alat memastikan dokumen sebagai milik orang tsb (mencegah pemalsuan dokumen sekaligus mencegah dokumen ganda, dan mempunyai sistem pengamanan data yang independen) dan sebagai password bagi individu penduduk.

Kegunaan Chip

1. Sebagai alat penyimpanan data elektronik penduduk yang diperlukan, termasuk data biometrik.

2. Data yang termuat dalam Chip dapat dibaca secara elektronik dengan alat baca (card reader) dimana saja.

3. Dilengkapi dengan pengaman data di dalam chip itu sendiri.

4. Dapat berfungsi untuk berbagai kebutuhan dengan chip dimaksud (ID Card, ATM Card, Access Card) dan relatif mudah diintegrasikan dengan sistem lain.

Nomor Induk Kependudukan (NIK)

1. Nomor Induk Kependudukan, selanjutnya disingkat NIK adalah nomor identitas penduduk yang bersifat unik dan khas, tunggal dan melekat pada seseorang yang terdaftar sebagai penduduk Indonesia.

2. NIK berlaku seumur hidup dan selamanya, yang diberikan oleh Pemerintah dan diterbitkan oleh Instansi pelaksana kepada setiap penduduk setelah dilakukan pencatatan biodata.

3. NIK terdiri dari 16 digit, 6 digit pertama memuat kode wilayah (kode provinsi, kabupaten).

4. 6 digit kedua memuat tanggal lahir, khusus untuk perempuan tanggal lahir ditambah 40.

5. 4 digit terakhir memuat nomor urut.

Fungsi Dasar KTP-el

- Sebagai identitas jati diri, berlaku Nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk pengurusan izin, pembukaan rekening Bank, dan sebagainya.

- Mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP

(46)

- Dapat digunakan sebagai ID Card untu ATM, Asuransi atau sebagai kartu pemilih pada pemilu legislatif/Presiden/wakil presiden/pemilukada. Terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program Pembangunan.

Proses Pembuatan KTP-el

Proses Pembuatan KTP-el, Kurang Lebih Sama dengan Pembuatan SIM dan Passport (tata cara, prosedur).

Proses pembuatan KTP-el (Secara Umum) - Ambil nomor antrean

- Tunggu pemanggilan nomor antrean - Menuju ke loket yang ditentukan - Entry data dan foto

- Pembuatan KTP selesai :

- Penduduk datang ke tempat pelayanan membawa surat panggilan

- Petugas melakukan verifikasi data penduduk dengan database

- Foto (digital)

- Tandatangan (pada alat perekam tandatangan)

- Perekaman sidik jari (pada alat perekam sidik jari) & scan retina mata

- Petugas membubuhkan TTD dan stempel pada surat panggilan yang sekaligus sebagai tanda bukti bahwa penduduk telah melakukan perekaman foto tandatangan sidikjari.

- Penduduk dipersilahkan pulang untuk menunggu hasil proses pencetakan 2 minggu setelah permohonan pembuatan.

(47)

Syarat pengurusan KTP 1. Berusia 17 tahun

2. Menunjukkan surat pengantar dari kelurahan

3. Mengisi formulir F1.01 (bagi penduduk yang belum pernah mengisi/belum ada data di sistem informasi administrasi kependudukan) ditanda tangani oleh keuchik.

4. Foto copy Kartu Keluarga (KK) 2. Pencatatan Sipil

Merupakan sarana untuk mencatat peristiwa penting yang dialami penduduk dan perlu dilegalisir oleh negara melalui penerbitan dokumen yang sah menurut hukum dalam bentuk akta catatan sipil. Beberapa peristiwa penting yang harus dilaporkan, diantaranya:

1. Kelahiran 2. Kematian 3. Perkawinan 4. Perceraian

5. Pengesahan Anak

3. Pengelolaan Informasi Kependudukan

Pengelolaan data hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil melalui suatu media atau alat yang akan menjadikannya sebagai informasi tentang perkembangan penduduk dari waktu ke waktu. Karena outputnya informasi, maka komponen ini sering disebut juga sebagai pengelolaan informasi.

Dalam Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK), database antara kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan Departemen Dalam Negeri (Depdagri) akan terhubung dan terintegrasi. Seseorang tidak bisa memiliki identitas ganda dengan adanya Nomor Identitas Kependudukan (NIK). Sebab,

Gambar

Tabel 1.1 Proyeksi Penduduk menurut Provinsi, 2010-2035 (Ribuan)
Tabel 1. 2 Jumlah Penduduk kecamatan-kecamatan di Kabupaten Simalungun  tahun 2014-2015
Gambar 1.5Definisi Sistem
Tabel 3.1 Pembagian Wilayah Simalungun pada Masa Kolonial
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tim BOS Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangannya harus memastikan bahwa sekolah mencadangkan separuh dari dana BOS triwulan II (20% dari alokasi satu tahun) di

Karakteristik residu yang demikian diduga bernilai positif dalam hubungannya dengan proses hidrogenasi dalam pencairan batubara karena dapat menurunkan konsumsi hydrogen

Sumber Andalan Mandiri PT SAM (Sumber Andalan Mandiri) bergerak di bidang pekerjaan kontraktor. PT SAM mepunyai misi dan visi ingin menjadi perusahaan berskala

Pokja ULP Pengadaan pada Satker Direktorat Advokasi dan KIE akan melaksanakan Pelelangan Sederhana dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan pengadaan Jasa

Pokja ULP Pengadaan pada Satker Direktorat Advokasi dan KIE akan melaksanakan Pelelangan Sederhana dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan pengadaan Jasa

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan Surat izin usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) Bidang Arsitektur pada Subbidang Bangunan

Pada hari ini Jumat tanggal Lima bulan Agustus tahun Dua ribu enam belas, Pokja ULPD Kepulauan Riau akan melaksanakan E-lelang Sederhana untuk paket pekerjaan Pengadaan

Pokja ULP Pengadaan pada Satker Direktorat Advokasi dan KIE akan melaksanakan Pelelangan Sederhana dengan pascakualifikasi untuk paket pekerjaan pengadaan Jasa