• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Teh merupakan salah satu minuman yang banyak di konsumsi oleh masyarakat indonesia maupun masyarakat dunia dikarenakan teh mempunyai rasa dan aroma yang khas. Selain itu, teh menjadikan sebagai salah satu komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, yakni sebagai salah satu penghasil devisa negara sesudah minyak dan gas. Hal ini ditunjang dengan perkebunan teh di Indonesia yang cukup luas dan jumlah produksi teh yang besar (Suwardi,1999). Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan areal perkebunan teh yang terluas di Indonesia. Pada tahun 2015 luas areal perkebunan teh yang berada di Provinsi Jawa Barat tercatat seluas 89,54 ribu hektar atau merupakan 75,60 persen dari total luas areal perkebunan teh di Indonesia. Sementara itu, provinsi lainnya yang juga memiliki luas areal perkebunan teh yang cukup besar yakni Jawa Tengah seluas 8,6 ribu hektar (7,48%) dan Sumatera Utara seluas 5,83 ribu hektar (4,92%) (Badan Pusat Statistik 2015).

PT Perkebunan Nusantara VIII merupakan perusahaan yang memproduksi teh yang telah beroperasi selama 59 tahun. PT Perkebunan Nusantara VIII terletak di Ciater kabupaten Subang ini merupakan salah satu diantara perkebunan milik negara yang didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 13 tahun 1996. PT Perkebunan Nusantara VIII sendiri merupakan produsen teh terbesar di Jawa Barat. Produk yang dihasilkan berupa teh ortodoks yang harus berkualitas tinggi sehingga dapat memenuhi kepuasan konsumen. Produk yang dihasilkan harus berkualitas baik dan memenuhi ketepatan waktu produksi. Perusahaan juga harus mengoptimalkan sumber daya yang terdapat pada proses produksi. Karena produksi merupakan salah satu kunci utama keberhasilan dari suatu perusahaan.

Gambar I.1 merupakan data produksi PT Perkebunan Nusantara dari tahun 2011 sampai tahun 2016 :

(2)

2

Gambar I.1 Data Produksi Teh Hitam PT Perkebunan Nusantara VIII Sumber : Data produksi PT. Perkebunan Nusantara VIII Ciater

Pada tahap produksi, bahan baku yang merupakan pucuk teh yang telah dipetik dari kebun diangkat ke pabrik untuk selanjutnya di olah menjadi bubuk teh.

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa produksi teh pada PT Perkebunan Nusantara VIII Ciater berubah pada tiap tahunnya meskipun perusahaan telah menetapkan target tetapi hasil yang diperoleh belum mencapai target. Hal ini bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia dan dari kemampuan dan kapasitas mesin pada PT Perkebunan Nusantara VIII Ciater. Semakin tajamnya persaingan di dunia industri mengharuskan perusahaan meningkatkan kegiatan operasinya. Salah satu hal yang mendukung kelancaran kegiatan operasi pada suatu perusahaan adalah kesiapan mesin–mesin produksi dalam melaksanakan tugasnya. Untuk mencapai hal itu diperlukan adanya suatu sistem perawatan yang baik (Asyari Daryus,2014). Proses pengolahan teh hitam orthodoks pada PT Perkebunan Nusantara VIII dibuat melalui beberapa proses yaitu :

1500000 2000000 2500000 3000000 3500000 4000000

2011 2012 2013 2014 2015 2016 Berat (Kg)

Tahun

Data Produksi Teh Hitam Orthodox PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Ciater

Real Target

(3)

3

Pelayuan Penggilingan Oksidasi

Pengeringan Sortasi

Pengepakan

Penyimpanan Pengangkutan

Gambar I.2 Proses Produksi Teh PT Perkebunan Nusantara VIII Sumber : SOP PT. Perkebunan Nusantara VIII Ciater

Proses pengolahan teh hitam orthodoks pada PT Perkebunan Nusantara VIII pada tiap prosesnya menggunakan mesin yang berbeda beda. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah keandalan dari setiap mesinnya. Kegiatan preventive maintenance berlangsung pada setiap hari senin. Kegiatan preventive maintenance ini bertujuan menjaga kondisi kemampuan mesin pada saat beroperasi.

Pada penelitian ini penulis memilih ruang sortasi, hal ini disebabkan kebutuhan pada ruang sortasi tidak dapat digantikan dengan mesin lain atau dapat juga disebut sebagai sistem kritis dari seluruh ruangan. Ruang sortasi merupakan ruangan yang berguna untuk memperoleh partikel teh yang seragam dalam ukuran, densitas dan kebersihan dari kandungan serat dan tulang sesuai standar yang telah ditetapkan. Pada ruang sortasi juga berguna untuk menentukan kualitas teh yang ingin di olah ke proses selanjutnya. Dapat diketahui bahwa terdapat tiga kualitas teh yang diproduksi oleh pabrik. Ketiga jenis itu dibagi berdasarkan kualitas yaitu, kualitas satu, kualitas dua dan kualitas tiga. Kualitas satu dengan 11 jenis teh adalah teh yang nantinya akan dijual dengan diekspor ke luar negeri.

Kualitas dua dengan tujuh jenis teh adalah teh yang nantinya akan dijual dengan diekspor juga ke luar negeri tetapi dengan kualitas yang lebih rendah dari kualitas satu. Sedangkan kualitas tiga dengan dua jenis adalah teh yang dapat dikatakan adalah kualitas yang tidak lebih baik dari dua kualitas lainnya. Teh dengan kualitas tiga ini biasanya berupa campuran dengan tulang teh yang disortir dari kualitas satu dan dua. Namun, kualitas tiga ini biasanya diolah lagi dan dijual ke perusahaan teh lokal untuk diolah kembali dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

(4)

4

Pada ruang sortasi, terdapat beberapa mesin antara lain, mesin pemisah tulang, yaitu Middleton dan ITX, serta mesin pemisah serat yaitu Vibro, Nissen, dan Conveyor. Kerusakan yang dialami pada suatu mesin sangat berpengaruh terhadap kinerja mesin yang lain dan dapat menghambat proses produksi yang sedang berjalan. Tabel I.1 merupakan frekuensi kerusakan tiap mesin pada ruang sortasi tahun 2014 - 2016 :

Tabel I.1 Frekuensi kerusakan jumlah komponen Ruang Sortasi Sumber : Data Mesin PT. Perkebunan Nusantara VIII Ciater

Berdasarkan Tabel I.1 riwayat mesin yang paling banyak mengalami kerusakan dari tahun 2014 - 2016 yaitu mesin vibro dengan total kerusakan 154. Mesin vibro merupakan mesin pemisah serat teh yang nantinya akan membagi kualitas teh menjadi kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Frekuensi kerusakan ini juga sejalan dengan total downtime yang besar dari mesin vibro itu sendiri yang dapat dilihat pada Gambar I.3. Dengan demikian, mesin vibro merupakan mesin yang dipilih oleh peneliti untuk melakukan penelitian.

(5)

5

Gambar I.3 Downtime mesin vibro

Sumber :Data Kerusakan Mesin PT. Perkebunan Nusantara VIII

Frekuensi kerusakan yang tinggi dapat menyebabkan kerugian pada perusahan.Pada penelitian ini, metode Risk Based Maintenance (RBM) digunakan untuk mengetahui seberapa besar risiko yang dialami perusahaan melalui biaya perawatan pada mesin vibro.

Kegiatan maintenance pada PT Perkebunan Nusantara VIII dilakukan oleh maintenance crew. Jumlah maintenance crew sangat berpengaruh pada perawatan mesin. Jika mesin mengalami kerusakan, maka harus segera dilakukan perbaikan jika tidak, maka menimbulkan downtime yang tinggi. Dan sebaliknya, jika jumlah maintenance crew yang melakukan perawatan berlebih maka akan menimbulkan cost bagi perusahaan. Selain itu, suatu mesin akan mengalami penuaan pada masanya. Perusahaan harus mengetahui umur mesin yang optimal agar mesin tersebut dapat bekerja sesuai dengan performansinya. Retirement age merupakan umur mesin berdasarkan biaya yang dikeluarkan dari awal pembelian. Metode yang digunakan untuk mengatasi permasalahan pada jumlah maintenance crew dan retirement age ialah Life Cycle Cost (LCC). Model LCC merupakan sebuah pendekatan total biaya yang dikeluarkan dari awal sampai akhir yang mempertimbangkan berbagai variabel karena pada metode ini dilakukan

2015, 66.866669

2016, 34.916666

30 35 40 45 50 55 60 65 70

2015 2016

Waktu (Jam)

Tahun

Total Downtime Mesin Vibro

Downtime

(6)

6

perhitungan terhadap maintenance cost, operating cost, shortage cost, population cost dan purchasing cost (Barringer 2003).

I.2 Perumusan Masalah

1. Berapa konsekuensi dan risiko yang ditimbulkan akibat kerusakan mesin vibro di PT Perkebunan Nusantara VIII ?

2. Berapa jumlah maintenance set crew yang optimal pada mesin vibro ? 3. Berapa retirement age yang optimal pada mesin vibro berdasarkan life

cycle cost di PT Perkebunan Nusantara VIII ? 4. Berapa total life cycle cost dari mesin vibro ? I.3 Tujuan penelitian

1. Mengetahui konsekuensi dan risiko yang ditimbulkan akibat kerusakan mesin vibro di PT Perkebunan Nusantara VIII.

2. Menentukan jumlah maintenance set crew optimal pada mesin vibro.

3. Menentukan retirement age yang optimal pada mesin vibro berdasarkan life cycle cost.

4. Menghitung dan menetukan life cycle cost dari mesin vibro.

I.4 Manfaat Penelitian

1. Menentukan konsekuensi dan risiko yang ditimbulkan akibat kerusakan komponen mesin vibro di PT Perkebunan Nusantara VIII.

2. Memberikan usulan retirement age optimal pada mesin vibro sehingga dapat menjadi pertimbangan dasar pergantian mesin

3. Penelitian ini dapat memberikan usulan jumlah maintenance set crew yang dibutuhkan sehingga dapat meminimasi biaya pengeluaran dalam kegiatan perawatan mesin.

I.5 Batasan Penelitian

1. Mesin yang akan dijadikan objek penelitian menggunakan metode RBM dan LCC merupakan mesin vibro

2. Penelitian ini hanya dibatasi sampai pengajuan usulan, sedangkan implementasi usulan di lapangan tidak termasuk dalam pembahasan.

(7)

7

3. Data kerusakan yang digunakan mulai tahun 2015 – 2016, dikarenakan pada tahun 2014 pada ruang sortasi tidak adanya waktu kerusakan hanya ada jenis kerusakan.

I.6 Sistematika Penelitian

Penelitian ini diuraikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut : Bab I Pendahuluan

Pada bab ini berisi uraian mengenai latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka

Pada bab ini berisi literatur yang relevan dengan permasalahan yang diteliti dan dibahas pula hasil-hasil penelitian terdahulu. Maksud dan tujuan dari bab ini adalah membentuk kerangka berpikir dan menjadi landasan teori yang akan digunakan dalam pelaksanaan penelitian dan perancangan hasil akhir.

Bagian kedua membahas hubungan antar maintenance management, reliabilitas, preventive maintenance, Risk Based Maintenance dan Life Cycle Cost yang menjadi kajian penelitian.

Bab III Metodologi Penelitian

Pada bab ini dijelaskan langkah-langkah penelitian meliputi: tahap merumuskan masalah penelitian, merumuskan tujan penelitian, mengembangkan model penelitian, melakukan uji data, merancang analisis pengolahan data

Bab IV Pengumpulan dan Pengolahan Data

Pada bab ini dijelaskan semua data yang diperlukan untuk penelitian beserta cara pengolahannya, serta hasil daripengolahan data yang nantinya akan dianalisis pada bab selanjutnya.

Bab V Analisis

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai hasil pengumpulan dan pengolahan data yang terdapat pada bab sebelumnya. Analisis yang dilakukan meliputi perhitungann RBM dan perhitungan LCC.

(8)

8 Bab VI Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini berisi kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. Bab ini juga berisi saran bagi perusahaan dan peneliti selanjutnya sebagai masukan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Gambar

Gambar I.1 Data Produksi Teh Hitam PT Perkebunan Nusantara VIII  Sumber : Data produksi PT
Gambar I.2 Proses Produksi Teh PT Perkebunan Nusantara VIII  Sumber : SOP PT. Perkebunan Nusantara VIII Ciater
Tabel I.1 Frekuensi kerusakan jumlah komponen Ruang Sortasi  Sumber : Data Mesin PT. Perkebunan Nusantara VIII Ciater
Gambar I.3 Downtime mesin vibro

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Ozkan (2011:87), perusahaan dengan assetlikuid yang besar dapat menggunakan asset ini untuk berinvestasi.. yang akan diambil perusahan juga berkaitan dengan

tenaga yang dihasilkan. Biasanya, tinggi air jatuh tergantung tinggi dari suatu bendungan. Semakin tinggi suatu bendungan, semakin tinggi air jatuh maka semakin

Mengetahui tingkat akurasi sistem pakar deteksi kerusakan sensor sepeda motor honda beat injection dengan menggunakan metode case based reasoning.1. 1.5

Kondisi existing frekuensi penayangan iklan GrooviaTV di media televisi mengeluarkan biaya yang cukup besar dibandingkan dengan biaya iklan GrooviaTV di media cetak

Sebagai salah satu perusahan besar yang bergerak dibidang buku tahunan sekolah, manajemen komunikasi yang dilakukan abank irenk dalam mempertahankan perusahaan pada masa

Apabila pihak agent melakukan satu kesalahan dalam pengambilan keputusan, maka dapat mengakibatkan kerugian yang besar terhadap perusahaan sehingga dapat berakhir

Kondisi tersebut menyebabkan diperlukan pencegahan dengan melakukan perhitungan untuk mengetahui seberapa baik efektivitas mesin cetak serta mengetahui kondisi mesin cetak

Patahan adalah gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung dalam waktu yang cepat, sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patahn daerah retakan atau