• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Penelitian Aini dan Zuraida (2020) berjudul Pengaruh Arus Kas Operasi,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Penelitian Aini dan Zuraida (2020) berjudul Pengaruh Arus Kas Operasi,"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

A. Reviu Penelitian Terdahulu

Penelitian Aini dan Zuraida (2020) berjudul “Pengaruh Arus Kas Operasi, Tingkat Utang, Dan Opini Audit Terhadap Persistensi Laba Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar di BEI Periode 2013-2016”. Penelitian ini bertujuan untuk menguji variabel independen (arus kas operasi, tingkat utang, dan opini audit) terhadap variabel dependen (persistensi laba) dengan pengujian hipotesis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa arus kas operasi dan tingkat utang berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba, sedangkan opini audit tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2013-2016.

Penelitian Salsabiila, Pratomo dan Nurbaiti (2016) berjudul “Pengaruh Book Tax Differences Dan Aliran Kas Operasi Terhadap Persistensi Laba”. Objek dalam

penelitian ini yaitu perusahaan manufaktur sub sektor food and baverages yang terdaftar di BEI tahun 2010 sampai 2014. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Metode kuantitaif yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis ekonometrik kausal dinamis dengan mengaplikasikan metode kuadrat terkecil pada model efek tetap atau model efek acak. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan perbedaan permanen,perbedaan temporer dan aliran kas berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba, sedangkan secara parsial hanya aliran kas operasi yang berpengaruh signifikan dengan arah positif terhadap persistensi laba.

(2)

7

Penelitian Hidayat dan Fauziyah (2020) berjudul “Pengaruh Book Tax Differences, Arus Kas Operasi, Tingkat Utang dan Ukuran Perusahaan Terhadap

Persistensi Laba”. Objek dalam penelitian ini yaitu perusahaan sektor manufaktur sub sektor basic dan chemical yang terdaftar di BEI periode 2014-2018).

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa arus kas operasi bepengaruh positif terhadap persistensi laba, sedangkan book tax differences, tingkat utang dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap persistensi laba.

B. Landasan Teori

Teori Sinyal (Signaling Theory)

Teori Sinyal (signal) adalah suatu tindakan yang diambil oleh manajemen suatu perusahaan untuk memberikan petunjuk kepada investor tentang bagaimana manajemen mendatang dapat menilai prospek perusahaan tersebut (Brigham &

Houston, 2011:186). Informasi dapat memberikan sinyal terhadap investor dalam berinvestasi. Teori sinyal dapat menunjukkan pentingnya informasi yang diungkapkan melalui laporan keuangan yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi investor sebelum mengambil keputusan untuk berinvestasi (Fransisca. 2020). Teori sinyal dapat menggambarkan pentingnya informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan untuk investasi pihak diluar seperti investor dan pemegang kepentingan dan pelaku bisnis lainnya, oleh karena itu teori sinyal atau signaling theory menjadi landasan teori dalam penelitian ini.

Pihak manajemen perusahaan menyajikan informasi keuangan (khususnya laba) diharapkan dapat memberikan sinyal kemakmuran kepada para pemegang saham, investor dan pelaku bisnis. Sinyal yang diberikan berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemiliknya.

Signaling theory menjelaskan perusahaan untuk mempunyai dorongan dalam

(3)

8

memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dengan adanya dorongan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar untuk dapat mengetahui lebih banyak mengenai prospek perusahaan yang akan datang. Kualitas informasi yang didapat pihak luar juga berkaitan dengan pengambilan keputusan, pembuatan kontrak dan keputusan investasi.

Salah satu alat ukur kualitas laba dimana laba yang berkualitas dapat menunjukkan kesinambungan laba yaitu persistensi laba, sehingga laba yang persisten cenderung untuk berulang pada periode selanjutnya.

Persistensi Laba

Persistensi laba merupakan salah satu komponen dari kualitas laba. Persistensi laba merupakan laba yang dapat digunakan sebagai indikator koreksi laba akuntansi yang diharapkan di masa mendatang (future earnings) yang di implementasikan pada laba tahun berjalan. Laba yang tidak sering mengalami fluktuasi pada setiap periodenya dan cenderung lebih stabil merupakan laba yang persisten. (Penman and Zhang, 2002) menyatakan bahwa persistensi laba yang suistainable dinyatakan sebagai laba yang mempunyai kualitas tinggi, sebaliknya jika laba unsuistainable dinyatakan sebagai laba yang mempunyai kualitas kurang baik. Laba akuntansi yang mengarah pada persistensi laba tergantung dengan tiga asumsi. Pertama, laba memberikan informasi kepada pemegang saham tentang profitabilitas saat ini dan ekspetasi periode mendatang.

Kedua, profitabilitas saat ini dan periode mendatang memberikan informasi kepada para pemegang saham tentang deviden saat ini dan periode. Ketiga, harga saham dan nilai sekarang dari ekspetasi dividen periode mendatang (Nichols and Wahlen 2004).

Terdapat dua sudut pandang yang berbeda dalam hal mengartikan persistensi laba perusahaan. Pandangan pertama mengartikan bahwasannya persistensi laba

(4)

9

berkaitan dengan kinerja yang perusahaan miliki secara keseluruhan yang terjabarkan di dalam laba perusahaan, jika laba perusahaan persisten tinggi akan terefleksi pada laba dan dapat berkelanjutan untuk rentang waktu yang lama. Hal ini berbeda dengan pandangan yang lain menyatakan bahwa semakin kuat hubungan antara laba perusahaan dengan imbal hasil bagi investor dalam bentuk return saham dapat menunjukkan tingginya persistensi laba yang perusahaan miliki (Ayres, 1994; dalam Aini dan Zuraida, 2020).

Persistensi laba adalah salah satu alat ukur kualitas laba, dimana laba yang berkualitas dapat menunjukkan kesinambungan laba, sehingga laba yang persisten tidak berfluktuasi di setiap periode. Berfluktuasi yaitu sebuah kondisi atau keadaan yang tidak stabil, sehingga menunjukkan gejala yang tidak tetap dan selalu berubah-ubah.

Pengawasan terhadap laba juga perlu dilakukan. Jika suatu entitas tiba-tiba melaporkan laba dengan tingkat laba yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya maka ada kemungkinan bahwa pihak manajemen perusahaan telah merekayasa laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Begitu sebaliknya, jika perusahaan melaporkan laba dengan tingkat penurunan yang sangat drastis maka juga patut dicurigai, kemungkinan manajemen berusaha untuk menghindari pajak.

Persistensi laba juga sering digunakan sebagai pertimbangan kualitas laba karena persistensi laba memiliki nilai prediksi. Mengingat bahwa laba merupakan salah satu indikator yang menarik bagi pengguna laporan keuangan, maka laba yang seharusnya diperhatikan oleh pihak investor yaitu bukan laba yang tinggi melainkan laba yang persisten. Persistensi laba bisa dipergunakan untuk mengukur laba itu sendiri, dimana laba yang dihasilkan oleh perusahaan pada saat ini dipergunakan untuk indikator laba pada masa yang akan datang (Susilo dan Anggraeni, 2017). Jadi, secara

(5)

10

keseluruhan persistensi laba merupakan harapan yang diinginkan oleh para pemegang saham (Nurochman dan Solikhah, 2015).

Book Tax Differences

Book Tax Differences merupakan perbedaan besaran laba komersial dengan

laba fiskal. Laba akuntansi atau laba komersial adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak yang dihitung berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan lebih ditujukkan untuk menilai kinerja ekonomi, sedangkan laba fiskal adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan lebih ditujukan untuk menjadi dasar perhitungan PPh (Poernomo, 2008). Penyebab terjadinya laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal adalah karena terdapat perbedaan prinsip akuntansi, perbedaan metode dan prosedur akuntansi, perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya (Resmi, 2016:386; dalam Fransisca, 2020).

Book tax differences atau perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal

merupakan salah satu isu yang berkembang. Hal ini termasuk salah satu penyebab dari terjadinya persistensi laba, baik dari internal maupun eksternal perusahaan. Book tax differences disebabkan karena adanya peraturan yang berbeda antara PSAK dan

peraturan perpajakan. Dalam setiap tahunnya manajemen perusahaan menghitung laba perusahaan untuk dua tujuan, yaitu pelaporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi berterima umum (PABU) dan pelaporan pajak berdasarkan peraturan pajak untuk dapat menentukan penghasilan kena pajak atau laba fiskal (Fransisca, 2020). Setiap entitas diharuskan untuk membuat koreksi fiskal, hal ini dikarenakan adanya perbedaan.

Dengan adanya koreksi fiskal maka akan menimbulkan perbedaan diantaranya yaitu perbedaan permanen dan perbedaan temporer. Menurut PSAK 46 Perbedaan permanen

(6)

11

adalah perbedaan pengakuan pajak yang timbul karena terjadi transaksi-transaksi pendapatan dan biaya yang diakui menurut akuntansi komerisal dan tidak diakui menurut fiskal. Sedangkan perbedaan temporer atau waktu disebabkan karena adanya perbedaan waktu pengakuan penghasilan dan biaya untuk penghitungan laba.

Komersial mengakuinya sebagai penghasilan atau biaya pada periode yang bersangkutan (Lestari, 2011; dalam Septavita, 2016).

Arus Kas Operasi

Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Setara kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan. (PSAK, 2009 No.2 paragraf 05). Informasi arus kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan kas berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para pengguna mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari arus kas masa depan (future cash flows) dari berbagai perusahaan. Informasi tersebut juga meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai perusahaan karena dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaski dan peristiawa yang sama (PSAK, 2009 No.2 paragraf 03).

Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan entitas dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan (PSAK, 2009 No.2 paragraf 05). Arus kas dari aktivitas operasi diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan sehingga semakin tingginya aliran kas operasi terhadap laba maka akan semakin tinggi pula kualitas laba (Barus dan Rica, 2014),.

(7)

12

Kepercayaan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba pada periode mendatang cenderung dipengaruhi oleh keadaan arus kas dengan nilai positif (Putri dkk, 2017). Jumlah arus kas operasi yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator yang menentukan apakah operasi perusahaan dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar deviden, dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Informasi mengenai unsur tertentu arus kas historis bersama dengan informasi lain, berguna dalam memprediksi arus kas operasi masa depan (PSAK, 2009 No.2 paragraf 12). Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih.

Beberapa transaksi arus kas dari aktivitas operasi adalah : 1. Penerimaan kas dari penjualan barang atau jasa

2. Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi, dan pendapatan lain 3. Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa

4. Pembayaran kas kepada karyawan

5. Penerimaan dan pembayaran kas oleh perusahaan asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas, dan manfaat asuransi lainnya.

6. Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan

7. Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang diadakan untuk tujuan transaksi usaha dan perdagangan.

Didalam aktivitas operasi terdapat dua metode yang dapat digunakan dalam menghitung dan melaporkan jumlah kas bersih yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Menurut PSAK 2009:No.2 paragraf 17 (a) dan (b) memiliki pengertian untuk

(8)

13

metode langsung yaitu metode yang kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto diungkapkan, sedangkan untuk metode tidak langsung yaitu metode laba rugi yang disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan. Perusahaan dianjurkan untuk melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode langsung. Metode ini menghasilkan informasi yang berguna dalam mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan dengan metode tidak langsung (PSAK, 2009 No.2 paragraf 18).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa arus kas operasi adalah arus kas masuk dan arus kas keluar atau setara kas yang berkaitan dengan penghasil utama pendapatan perusahaan. Arus kas terdiri dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Arus kas dari aktivitas operasi melaporkan ikhtisar penerimaan dan pembayaran kas pada operasi perusahaan. Persistensi laba perusahaan akan meningkat apabila komponen aliran kas kian meningkat. Kondisi inilah yang membuat aliran kas operasi disebut sebagai proksi kualitas laba, semakin tingginya aliran kas operasi terhadap laba maka kualitas laba akan semakin baik (Dewi dan Putri, 2015; dalam Aini dan Zuraida, 2020).

Tingkat Hutang

Tingkat utang merupakan besaran utang yang dimiliki oleh perusahaan. Hutang diartikan sebagai seluruh kewajiban perusahaan kepada kreditor atau pihak lain yang memberikan pinjaman modal kepada perusahaan (Munawir, 2004:18). Besarnya tingkat utang perusahaan akan menyebabkan perusahaan meningkatan persistensi laba dengan tujuan untuk mempertahankan kinerja yang baik dimata investor dan kreditur.

(Fanani, 2010). Dengan kinerja yang baik tersebut, diharapkan kreditur tetap memiliki

(9)

14

kepercayaan terhadap perusahaan, tetap mudah memberi dana, dan perusahaan akan memperoleh kemudahan dalam proses pembayaran.

Besarnya tingkat utang akan berelevansi pada arus masuk dari sumber daya eksternal yang mengandung manfaat ekonomi di masa yang akan datang. Namun disisi lain, perusahaan memiliki kewajiban untuk melunasi utang pada saat jatuh tempo (Kasiono dan Fachrurrozie, 2016). Pembagian utang terdiri dari utang jangka pendek yang periode peminjamannya dalam setahun maupun kurang dari setahun, dan utang jangka panjang yang pada praktiknya perusahaan menggunakan untuk pengembangan usaha dalam kurun waktu cukup lama untuk mengembalikan modal (Setiana, 2002).

Menurut (Putri dkk, 2017) penggunaan utang didalam perusahaan menambah laba operasi yang lebih meningkat dari bunga yang dimiliki, jika pencapaiannya berupa laba operasi lebih besar dan penggunaannya ditujukan salah satunya dengan persediaan yang dijual kembali. Hasil penelitian Amira dan Zuraida (2020) menunjukkan bahwa tingkat utang berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba.

C. Pengembangan Hipotesis

Pengaruh Book Tax Differences Terhadap Persistensi Laba

Jika laba fiskal bertambah maka beban pajak yang harus dibayarkan akan semakin besar. Semakin besar beban pajak yang harus dibayarkan maka semakin kecil laba yang dihasilkan. Koreksi negative menyebabkan laba fiskal berkurang sehingga beban pajak yang harus dibayarkan semakin kecil. Beban pajak yang semakin kecil membuat laba bersih menjadi semakin besar (Hidayat dan fauziyah, 2020).

Besar laba menurut pajak dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, serta apabila kewajiban fiskal perusahaan lebih banyak maka para pengguna informasi juga akan meragukan kinerja perusahaan tersebut. Book tax differences dapat memberikan sinyal pada kualitas laba. Sinyal kualitas menjelaskan

(10)

15

bahwa semakin besar perbedaan yang terjadi, maka semakin rendah kualitas laba yang ada dan juga dapat mempengaruhi persistensi laba yang semakin rendah.

Berdasarkan teori signalling, perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal memberikan sinyal negative bagi investor, karena jika book tax differences semakin tinggi maka menggambarkan bahwa perusahaan tidak konsisten sehingga persistensi laba akan rendah.

H1 : Book Tax Differences berpengaruh terhadap Persistensi Laba Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap Persistensi Laba

Arus kas dari aktivitas operasi merupakan arus kas yang diperoleh dari kegiatan usaha perusahaan. Kegiatan utama perusahaan adalah menghasilkan barang atau jasa dan menjualnya. Banyaknya aliran kas operasi maka dapat meningkatkan persistensi laba. Sehingga aliran kas operasi sering digunakan sebagai cek atas persistensi laba dengan pandangan bahwa semakin tinggi aliran kas operasi terhadap laba maka semakin tinggi pula kualitas laba atau persistensi tersebut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Amira dan Zuraida (2020), menyatakan bahwa arus kas operasi berpengaruh secara signifikan terhadap persistensi laba.

Penelitian ini memperkuat hasil penelitan dari Salsabiila, dkk (2016) dan Hidayat dan Fauziyah (2020) yang juga menyatakan bahwa arus kas operasi berpengaruh secara signifikan terhadap persistensi laba.

Dalam mengukur persistensi laba dibutuhkan arus kas operasi yang stabil, yaitu arus kas yang mempunyai tingkat fluktuasi lebih kecil. Apabila arus kas operasi tidak stabil, maka semakin sulit untuk memprediksi arus kas di masa depan. Dengan adanya teori signalling, arus kas mampu memberikan sinyal terhadap investor, karena akan menggambarkan laba perusahaan.

H2 : Aliran Kas Operasi berpengaruh terhadap Persistensi Laba

(11)

16

Pengaruh Tingkat Utang Terhadap Persistensi Laba

Tingkat utang berpengaruh terhadap persistensi laba karena setiap perusahaan selalu ingin mengembangkan perusahaannya dengan cara mendapatkan utang sebagai tambahan modal dan perusahaan harus menjaga persistensi laba perusahaannya agar dinilai baik oleh investor dan auditor demi keberlanjutan perusahaan di masa yang akan datang (Septavita, 2016). Aini dan Zuraida (2020) menjelaskan bahwa tingkat utang berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Hal tersebut berbeda dengan Hidayat dan Fauziyah (2020) yang menyatakan bahwa tingkat utang tidak berpengaruh terhadap persistensi laba.

Dengan adanya teori signalling, maka tingkat utang akan memberikan sinyal positif bagi para investor. Tingkat hutang atau solvabilitas mencerminkan tingkat penggunaan hutang jangka panjang perusahaan. Apabila solvabilitas tinggi, maka perusahaan mampu memenuhi kebutuhan jangka panjangnya dengan baik sehingga persistensi laba akan tinggi. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi tingkat utang perusahaan maka perusahaan akan semakin memiliki laba yang lebih persisten.

H3 Tingkat Utang berpengaruh terhadap Persistensi Laba D. Kerangka Pemikiran

Laba merupakan salah satu indikator dalam menilai kinerja suatu perusahaan.

Menurut Schipper dan Vincent (2003), kinerja perusahaan yang baik tercermin pada laba yang berkualitas, pengelompokan konstruk kualitas laba dan pengukurannya, berdasarkan sifat runtun waktu dari laba, kualitas laba meliputi : persistensi, prediktabilitas dan variabilitas.

Persistensi laba merupakan ukuran yang menjelaskan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan jumlah laba yang diperoleh saat ini sampai satu periode masa depan, atau persistensi laba merupakan laba yang mempunyai kemampuan sebagai indikator laba periode mendatang (future earnings) dan merupakan nilai prediktif yang

(12)

17

tercermin dalam komponen akrual dan aliran kas. Laba juga dipengaruhi oleh pajak yang perhitungannya melibatkan laba kena pajak atau yang biasa disebut dengan laba fiscal, besar kecilnya pajak kini ditentukan oleh jenis transaksi yang terjadi. Pengakuran transaksi-transaksi tersebut ada yang diakui oleh fiskal dan tidak, sehingga menyebabkan perbedaan antara laba komersial dan laba fiskal (book tax differences).

Selain itu penggunaan utang di dalam perusahaan juga akan menambah laba operasi yang lebih meningkat dari bunga yang dimiliki, jika pencapaiannya berupa laba operasi lebih besar dan penggunaannya ditujukan salah satunya dengan persediaan yang dijual Kembali.

Berdasarkan dari pembahasan dan pengembangan hipotesis yang telah dijelaskan terkait pengaruh book tax differences, arus kas operasi dan tingkat utang terhadap persistensi laba, dapat dilihat dalam kerangka pemikiran pada gambar 2.1 sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Book Tax Differences

Arus Kas Operasi Tingkat Utang

Persistensi Laba

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran   Book Tax Differences

Referensi

Dokumen terkait

campuran aspal berpengaruh terhadap nilai densitas aspal dimana penambahan CNR mengakibatkan nilai densitas (berat isi) aspal semakin meningkat Hal ini bisa terjadi

Apabila diperhatikan dari hak dan kewajiban anak tersebut di atas merupakan suatu upaya dimana hak asasi seorang anak harus tetap diperhatikan dalam usaha

Untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) maka pemerintah desa memiliki kewenangan secara luas untuk memanfaatkan segala sumber kekayaan Desa, termasuk didalamnya tanah

Bahwa dalam rangka meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas - tugas operasional Pemerintah Kabupaten Aceh Timur yang lebih berdaya guna dan berhasil guna dan menindaklanjuti

Alhamdulillahirobbil’alamiin puji syukur kehadirat Allah SWT, atas karunia nikmat serta hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul

Kompetensi pedagogik dikontribusi oleh Kegiatan kelompok kerja Guru sebesar 49,7%; (3)Terdapat pengaruh yang kuat antara kegiatan supervisi yang dilakukan kepala Madrasah

a) Metode moora dapat menentukan suatu penilaian kinerja pegawai honorer yang terbaik pada sistem pendukung keputusan pada kantor dinas ketenagakerjaan kota

Untuk melihat kemampuan keuangan daerah dalam melaksanakan pembangunan bidang Cipta Karya dalam lima tahun ke depan (sesuai jangka waktu RPI2-JM) maka dibutuhkan analisis