1
Studi Deskriptif Tentang Program Disperindag Dalam Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Kerajinan Tangan (Handycraft) Di Kelurahan
Wonorejo Kecamatan Tegalsari Kota Surabaya Bagus Suryolaksono
Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga
ABSTRACT
Small and Medium Enterprises has a significant role in addressing unemployment and poverty, this is evidenced by the amount of labor that is able to absorb more. One industry promising SMEs is handicraft. This is indicated by the large contribution to export handicraft SMEs, amounting to (29.71%), then the garment (23.20%), food and beverages (18.84%).
One of the obstacles of SME industry today is in terms of empowerment. Therefore, the Department of Trade and Industry, the city of Surabaya did empowerment of the Small and Medium Enterprises (SMEs). So the purpose of this study was to determine the Industrial and Trade Policy in Small and Medium Enterprise Empowerment Crafts in the Village Handicraft Wonorejo Tegalsari District of Surabaya.
The method used is a method of qualitative research with descriptive type. Determination of informants using purposive sampling and continued with snowball sampling. This study took place in the Village District of Tegalsari Surabaya Wonorejo because there are villages Handicraft Handicraft seed, and this study was also conducted in the Department of Trade and Industry, the city of Surabaya. Data collected through observation, interviews, secondary data collection in the form of documents. Data analysis technique used is data reduction, data presentation, and conclusion.
The results of this study are contained programs Disperindag policy in empowering small and medium businesses in the Village Wonorejo Tegalsari District of the city of Surabaya. such as Assistance Facility, Facility Internship, Facilities Production Tool Supply, Implementation and Promotion of Foreign Affairs, and Training Small and Medium Enterprise Development
Keywords: Policy, Small and Medium Enterprises, Empowerment
I.1 Latar Belakang Masalah
Sejak Krisis Moneter yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 dan telah berkembang menjadi krisis ekonomi, pertumbuhan ekonomi nasional relatif masih rendah, yang mengakibatkan masalah-masalah sosial mendasar belum dapat dipecahkan. Permasalahan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia merupakan masalah yang kompleks dan bersifat multi dimensi.
Kegagalan dalam proses penanggulangan kemiskinan dan pengangguran terjadi akibat kurang pemahaman atas penyebab kemiskinan itu sendiri
.Pada tahun 2004, jumlah pengangguran terbuka mencapai 9,5 juta jiwa atau 9,5 persen dan setiap tahunnya jumlah angkatan kerja baru bertambah sekitar 2,5 juta orang sehingga pada tahun 2006 jumlah pengangguran semakin bertambah menjadi 10,9 juta atau 10,3% dari angkatan kerja yangh ada.Demikian juga halnya masalah kemiskinan, jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 sebesar 16,6% atau sekitar 36,1
juta jiwa dan telah bertambah menjadi 39,05 juta atau 17,75% pada tahun 2006.
(http://www.smecda.com/deputi7/file_Infokop/EDI SI%2030/5_Strategi_Penguatan_Pdf)
Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka proses pembangunan ke depan diarahkan pada upaya pemberdayaan masyarakat secara luas yang berdasarkan pada semangat kekayaan, kemartabatan, dan kemandirian.
Dalam kaitan ini, upaya pemberdayaan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah menjadi sangat penting dalam mengusung proses perubahan ke depan, khususnya dalam menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan.
Pemerintahan indonesia bersatu sepakat akan berusaha untuk menurunkan tingkat pengangguran menjadi 5,1% dan tingkat penduduk menjadi 8,2% pada tahun 2009.
Kemiskinan dan pengangguran diatasi
dengan strategi pembangunan ekonomi
yang mendorong pertumbuhan yang
berkualitas dan berdimensi pemerataan
melalui penciptaan lingkungan usaha yang
sehat. Sedangkan untuk mewujudkan
pertumbuhan ekonomi, maka orientasi
2 pembangunan akan ditujukan kepada
revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan serta pengembangan sektor riil, khususnya koperasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah. Peran penting tersebut telah mendorong bangyak negara termasuk indonesia untuk terus berupaya mengembangkan UKM. Peranan UKM terutama sejak krisis moneter tahun 1998 dapat dipandang sebagai katup penyelamat dalam proses pemilihan ekonomi nasional, baik dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja.
Disamping berbagai keunggulan yang dimiliki. UKM juga menghadapi berbagai masalah, antara lain kesulitan akses terhadap a) sumberdaya-sumberdaya produktif, informasi dan pasar. Kelemahan UKM dari aspek pemasaran yang sekarang banyak terlihat terutama untuk produk- produk UKM yang tergolong dalam kelompok barang keperluan sekunder dan tersier. Walaupun demikian nampaknya kendala tersebut belum menjadi penghambat yang potensial untuk lebih memperkuat kedudukan dan peran UKM dalam sistem perekonomian nasional.
Kesulitan UKM dalam membangun akses pasar lebih disebabkan oleh adanya beberpa faktor yang belum dapat dieliminasi terutama yang berkaitan dengan informasi. Tetapi kendala tersebut bukanlah harga mati, karena banyak variabel-variabel pemasaran produk UKM yang dapat diandalkan seperti rendahnya harga jual produk UKM yang menjadi daya tarik bagi sebagian kalangan di pasar internasional. Rendahnya eksistensi UKM dalam penguasaan pasar memang lebih terlihat sebagai dampak dari kondisi pasar yang tidak kondusif, namun sesungguhnya kondisi pasar yang demikian merupakan indikator dari adanya masalah pokok yang tidak terlihat secara nyata, yaitu sistem pemasaran yang dikuasai oleh komponen
sistem yang lebih kuat, sehingga UKM selalu hanya berperan sebagai Price Taker (penerima harga). Dengan mengembangkan kemampuan menagkap informasi, maka diharapkan dominasi komponen lainnya (para pedagang besar dan eksportir) yang memiliki bargainning lebih kuat, yang selama ini berperan sebagai price maker (pembuat harga) akan dipatahkan.
Program pemberdayaan UKM secara umum diarahkan untuk mendukung upaya penanggulangan kemiskinan dan kesenjangan penciptaan kesempatan kerja, peningkatan ekspor dan daya saing, serta revitalisasi pertanian dan perdesaan yang menjadi prioritas pembangunan nasional.(http://www.bappenas.go.id/get- file-server/node/6173)
Kota Surabaya memiliki potensi unggulan yang dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah.
Potensi unggulan yang dimiliki kota Surabaya merupakan produk yang berasal dari usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).(http://www.damandiri.or.id/file /sitiumajahmasjkuriunairbab5.pdf). Usaha ini bukan hanya berfungsi dalam penyerapan tenaga kerja, namun terbukti sebagai suatu bentuk kegiatan usaha yang memiliki fleksibilitas dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Beberapa produk unggulan yang ada antara lain makanan dan minuman, pakaian jadi, kerajinan tangan dan olahan hasil laut.
Kerajinan tangan (Handycraft)
telah dianggap sebagai komoditi yang bisa
diandalkan, akan tetapi untuk peningkatan
sumber keuangan daerah dalam
pengelolaannya masih belum optimal. Hal
itu dikarenakan pengelolaan terhadap
pengrajin tangan di Indonesia khususnya
di Surabaya masih menggunakan alat
sederhana dan pemahaman yang masih
kurang mengenai model model yang
sedang tren di pasar baik domestik maupun
global. Perlu adanya suatu peran dari
pemerintah khususnya pemerintah daerah
kota surabaya secara optimal. Peran
3 pemerintah daerah yang terkait adalah
Dinas Perindustrian dan Perdaganan Kota Surabaya yang dapat melakukan perbaikan terhadap kondisi pengrajin tangan dalam hal memberi jalan dan sebagai distributor sebagai produk kerajinan tangan (handycraft). Usaha Pemberdayaan secara berkelanjutan oleh dinas perindustrian dan perdagangan kota surabayaa sangat penting dilakukan, hal ini mengingat pada upaya untuk menjadikan kerajinan tangan di Surabaya semakin baik dalam pasar global di Indonesia.
Di Wilayah kota Surabaya khususnya di kelurahan Wonorejo kecamatan Tegalsari terdapat kampung binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kota Surabaya yang telah menjalankan Usaha kecil Menengah di bidang kerajinan tangan (Handycraft). Dalam mengembangkan UKM Kerajinan Tangan (Handycraft) tersebut Disperindag memberikan pelatihan terhadap masyarakat di Wilayah kelurahan wonorejo kecamatan Tegalsari agar masyarakat di wilayah kampung tersebut lebih produktif untuk membuat produk secara maksimal supaya dapat bersaing di pasar global. Karena masyarakat di wilayah kelurahan Wonorejo kecamatan Tegalsari sampai saat ini masih kurang mampu untuk membuat kerajinan tangan (Handycraft) yang dapat diterima di pasar modern.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah Program
Disperindag dalam Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Kerajinan Tangan Handycraft di Kelurahan Wonorejo Kecamatan Tegalsari Kota Surabaya?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan umum penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran dari Program Disperindag dalam Pemberdayaan Usaha Kecil Menengah Kerajinan tangan (Handycraft) di Kelurahan Wonorejo Kecamatan Tegalsari Surabaya.
I.4 Manfaat Penelitian I.4.1 Manfaat Akademis
Dapat menjadi bahan perbandingan dalam rangka penelitian dan pengembangan lebih lanjut bagi bidang studi Ilmu Administrasi Negara mengenai kajian tentang Kebijakan Disperindag dalam pemberdayaan usaha kecil menengah. Serta diharapkan mampu menambah referensi kepada pihak-pihak yang terkait mengenai kebijakan pemberdayaan usaha kecil menengah di wilayah Kota Surabaya.
I.4.2 Manfaat Praktis
Memberikan gambaran bagi aparat- aparat instansi perindustrian dan perdagangan pemerintah khususnya di wilayah Tegalsari maupun komponen masyarakat agar dapat mengetahui kebijakan dalam pemberdayaan usaha kecil menengah. Melihat hubungannya dengan UKM, terutama untuk memecahkan masalah UKM untuk meningkatkan kualitas produk agar bisa diterima di pasar global.
1.5 Tinjauan Teori 1.5.1 Kebijakan Publik
Konsep kebijakan Harold D.
Laswell dan Abraham Kaplan mengartikan kebijaksanaan sebagai”a projected program of goals, values and practices”,(suatu program pencapaian tujuan, nilai-nilai dan praktek-praktek yang terarah). (Said Zainal Abidin (2012) Kebijakan Publik, Jakarta, Penerbit Salemba Humanika, Halaman 6)
Definisi yang sering dikutip adalah definisi yang dikemukakan oleh Thomas R.Dye yang mengemukakan bahwa kebjakan publik adalah sesuatu yang dikerjakan pemerintah, mengapa mereka melakukan dan hasil yang membuat sebuah kehidupan bersama tampil berbeda.
Kebijakan publik adalah kewenangan
pemerintah dalam pembuatan suatu
kebijakan yang digunakan ke dalam
4 perangkat peraturan hukum. Kebijakan
tersebut bertujuan untuk menyerap dinamika sosial dalam masyarakat, yang akan dijadikan acuan perumusan kebijakan agar tercipta hubungan sosial yang harmonis.
(Leo Agustino (2008) Dasar Dasar Kebijakan Publik, (Bandung, Penerbit Alfabeta)