• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keketusan dan Kekarangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Keketusan dan Kekarangan"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Keketusan, Pepatraan dan Kekarangan Oleh: I Made Pande Artadi, S. Sn., M. Sn

a. Keketusan

Mengambil bagian terpenting dari suatu tumbuh-tumbuhan yang dipolakan berulang dengan

pengolahan untuk memperindah penonjolannya. Keketusan dalam ragam hias tradisional sangat

banyak jenisnnya, seperti: keketusan wangga yang menggambarkan bunga-bunga besar yang

mekar dari jenis tanaman yang berdaun lebar; keketusan bungan tuwung adalah hisan berpola

bunga terung dalam bentuk liku-liku segi banyak berulang atau bertumpuk menyerupai bunga

terung; keketusan bun-bunan adalah hiasan berpola tumbuh-tumbuhan jalar atau jalar bersulur.

Keketusan lainnya seperti:mas-masan, kakul-kakulan,batun timun, pae, ganggong, dan lain

sebagainya. (lihat Gambar 3. 8)

b. Pepatran

Jenis ragam hias ini berwujud gubahan-gubahan keindahan hiasan dalam patern-patern yang juga

disebut patra. Ide dasar pepatran banyak diambil dari bentuk-bentuk keindahan flora.

Keindahan flora diambil sedemikian rupa sehingga jalur daun, bunga, putik dan ranting dibuat

berulang-ulang. Masing-masing pepatra memiliki identitas yang kuat dalam penampilannya,

sehingga mudah diketahui, seperti: Patra Punggel yang ide dasarnya diambil dari potongan

tumbuh-tumbuhan menjalar, terutamanya ujung daun paku yang masih muda. Punggel berarti

potongan. Jenis pepatran yang lain adalah Patra Cina. Karena namanya, kehadiran dari patra ini

diyakini oleh masyarakat Bali sebagai pengaruh dari kebudayaan Cina. Patra Cina merupakan

stiliran dari tumbuhan kembang sapatu yang dalam pengolahan batang, daun dan bunganya

dibuat dengan garis tegas sehingga mencerminkan pola yang konstruktif. Patra Samblung ide Gambar 2. 8 Keketusan. Sumber: Glebet, 1982.”Arsitektur Tradisional Daerah Bali”

(2)

dasarnya diambil dari tanaman Samblung, yakni tanaman menjalar dengan daun-daun yang

lebar. Dalam pepatran tanaman samblung ini dibuat berupa tanaman yang ujung-ujungnya

menjalar dan melengkung harmonis. (lihat Gambar 3. 9) Dalam bangunan tradisional Bali jenis

pepatran ini menempati bidang-bidang yang panjang karena polanya yang berulang dan

memanjang.

c. Kekarangan

Menampilkan suatu bentuk hiasan dengan suatu karangan yang berusaha mendekati

bentuk-bentuk flora yang ada dengan penekanan bagian-bagian keindahan. Seperti jenis keketusan atau

pun pepatran, jenis kekarangan sangat banyak ditemukan dalam ragam hias tradisional Bali,

seperti: Karang Simbar merupakan hisan yang menyerupai atau mendekati tumbuh-tumbuhan

yang mirip tanduk menjangan dengan daun terurai menjalar kebawah; Karang Bunga adalah

jenis ragam hias yang berbentuk bunga dengan kelopak dan seberkas daun. Disamping bentuk

flora, ide dasar bentuk kekarangan juga bersumber dari bentuk binatang atau jenis fauna yang

dikarang keindahannya, seperti: Karang Guak adalah stiliran dari kepala burung tanpa rahang

bawah, dan dari mulutnya keluar tumbuh-tumbuhan sejenis pidpid dan simbar; Karang Gajah

disebut juga Karang Asti merupakan stiliran dari binatang gajah; Karang Bentulu adah

kombinasi dari kepala burung yang bermata satu tanpa hidung dan tanpa rahang bawah.

Kekarangan yang lainnya seperti: Karang Tapel, Karang Sae, Karang Boma dan lain

Patra Cina Patra Samblung

[image:2.612.97.467.185.393.2]

Patra Punggel

(3)

sebagainya. Dalam arsitektur rumah tinggal tradisional Bali kekarangan umumnya menempati

bidang-bidang tonjolan terutama di sudut-sudut.

Penempatan jenis kekarangan dalam arsitektur rumah tinggal tradisional Bali tetap

memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang logis, seperti: Karang Guak, karena burung

diasosiasikan bersayap maka hidupnnya selalu di alam atas, maka letaknya pada bangunan selalu

di bagian atas. Demikian pula dengan Karang Gajah yang letaknya selalu di bawah (bebaturan

rumah), karena gajah dianggap memiliki kekuatan yang sangat tinggi, sehingga ia akan dapat

menopang beban bangunan yang dimaksud.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kehadiran unsur-unsur estetik arsitektur

tradisional Bali tidak terlepas dari kepercayaan religius masyarakatnya melalui penyatuan

unsur-unsur yang bersifat transendental. Ungkapan ini sangat sejalan dengan pandangan asitektur

tradisional menurut Widagdo yang mengatakan bahwa kematangan desain dalam arsitektur

tradisional terlihat pada kemampuan dalam memadukan unsur ideal estetis dan

unsur paraktis. Adapun yang dimaksud dengan unsur ideal di sini adalah menyatukan

unsur-unsur transedental dan kepercayaan masyarakatnya dalam konteks kosmologis dengan Karang Guak

Karang Bentulu Karang Gajah

[image:3.612.98.437.97.355.2]

Karang Tapel

(4)

pengungkapan bahasa arsitektur. Ekspresi dari karya arsitektur tradisional adalah keterpaduan.

Dalam estetikanya tidak pernah ada sebuah dikotomi antara fungsi arsitektur dengan estetika,

jadi bentuk arsitektur adalah ekspresi dari berbagai aspek desain.(Widagdo, 2000; 38) Melalui

kaidah-kaidah estetikanya bentuk arsitektur tradisional Bali mencapai kewajaran sesuai dengan

hakekat keberadaan arsitektur itu sendiri.

Kehadiran unsur-unsur estetika dalam arsitektur rumah tinggal tradisional Bali sarat

dengan pesan-pesan religi, sehingga keindahan arsitektur rumah tinggal bagi masyarakatnya

dinilai pada sejauh mana kemampuan udagi Bali menyatukan unsur-unsur transeden dalam bahasa arsitektur. Oleh karena itu arsitektur yang ‘indah’ bagi masyarakatnya dikatakan sebagai karya arsitektur yang memiliki ‘taksu’, yakni bangunan yang lahir dari kreativitas budaya murni

Gambar

Gambar 2. 9  Pepeteran. Sumber: Glebet, 1982.”Arsitektur Tradisional Daerah Bali”
Gambar 2. 10  Kekarangan. Sumber: Glebet, 1982.”Arsitektur Tradisional Daerah Bali”

Referensi

Dokumen terkait

Jumlah bentuk dan motif ragam hias tradisional tidak bertambah sedangkan kebutuhan akan variasi ragam hias sebagai penghias produk yang dapat memperlihatkan citra budaya

Tanaman Indonesia yang berpotensi sebagai pengawet alami sangat banyak dan beraneka ragam, beberapa diantaranya adalah daun jeruk bali, daun kecombrang, dan daun

Ragam hias yang sangat banyak dari suku Melayu Riau biasanya digunakan dalam ukiran dan kerajinan tangan, dalam penulisan ini berkosentrasi pada perancangan dan pengembangan

Ragam hias khas Bali juga dipergunakan pada ornamen bangunan di Masjid Desa, sehingga memberikan karakter yang sangat khas, berbeda dengan umumnya masjid di jawa, usaha

Berkaitan dengan bentuk ragam hias, terdapat sejumlah ahli yang telah meneliti objek tersebut, khususnya ragam hias pada rumah tradisional Nias.. Ketut Wiradnyana (2010) dalam

Tujuan dari penelitian „Ragam Hias Tradisional Jawa pada Interior Lobby Hotel Sahid Jaya Surakarta‟ ini adalah untuk mengetahui ragam hias apa saja yang digunakan, kemudian untuk

Kesan Tradisional Bali timbul dari bentuk arsitektur pintu gerbang Royal Pita Maha yang menyerupai undakan, aling-aling dan terdapat beberapa patung tradisional

 Malaikat (pakaian dan perhiasan dengan gaya khas Bali). Malaikat dalam gaya khas Bali dalam bentuk ukiran, gambar, dan patung merupakan perpaduan ragam hias