• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERAJAAN BANJAR DAN PERANG BANJAR (1859-1905 M).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KERAJAAN BANJAR DAN PERANG BANJAR (1859-1905 M)."

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

KERAJAAN BANJAR DAN PERANG BANJAR (1859-1905 M)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)

Oleh: Nisa Ushulha NIM: A82212155

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi ini membahas tentang “Kerajaan Banjar Dan Perang Banjar 1859-1905 M.” Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini meliputi, (1) bagaimana sejarah berdirinya Kerajaan Banjar? (2) bagaimana kondisi dan situasi Kerajaan Banjar masa terjadinya Perang Banjar? (3) apa dampak-dampak dari Perang Banjar bagi Kerajaan Banjar.

Penelitian dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah yang dapat mendeskripsikan dan menganalisis secara mendetail tentang Kerajaan Banjar masa Perang Banjar dengan menggunakan pendekatan

historis. Menggunakan teori konflik Karl Max, dalam teori

pengaplikasiannya yakni melihat manusia sebagai proses perkembangan yang menyudahi konflik melalui konflik yang terjadi dalam Kerajaan Banjar.

(7)

ABSTRACT

This thesis discusses “Kingdom Banjar and Banjarmasin wartime 1859-1905

M”. The problems discusse in the paper include, (1) how the history of the kingdom banjar? (2) how the condition and situational of the kingdom train future war banjar? (3) what the effect of war banjar for the kingdom of banjar.

In this study using methods of historical research to describe and analyze in detail about kingdom wartime banjar using a historical approach. Using conflict theory Karl Marx, in theory to apply that see humans as a developmental process to finish the conflict through conflict occurred in the kingdom banjar.

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR... vii

PERSEMBAHAN ... viii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... xi

TRANSLITERASI ... xii

BAB I: PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Kegunaan Penelitian ... 7

E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik... 7

F. Penelitian Terdahulu ... 8

G. Metode Penelitian ... 10

H. Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II: KERAJAAN BANJAR DI BANJARMASIN... 15

A. Berdirinya Kerajaan Banjar... 15

B. Struktur Pemerintahan Kerajaan Banjar... 18

C. Perkembangan Kerajaan Banjar Sampai Masa Sultan Tamijidillah II ... 23

BAB III: KERAJAAN BANJAR PADA MASA PERANG BANJAR 33 A. Latar Belakang Perang Banjar ... 33

1. Faktor dari Luar Kerajaan Banjar ... 34

2. Faktor dari Dalam Kerajaan Banjar ... 36

B. Proses Jalannya Perang Banjar Terhadap Kolonial Belanda dalam Perebutan Kerajaan Banjar ... 38

1. Perlawanan Ofensif yang Berlangsung dalam Jangka Pendek (1859-1863 M) ... 39

2. Perlawanan Defensif yang Berlangsung dalam Jangka Panjang (1863-1905 M) ... 46

BAB IV: DAMPAK PERANG BANJAR TERHADAP KERAJAAN BANJAR... 51

(9)

B. Bidang Pendidikan ... 54

C. Bidang Sosial-Ekonomi ... 55

D. Bidang Budaya ... 57

BAB V: PENUTUP ... 61

A. Kesimpulan ... 61

B. Saran ... 63

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam sejarah Banjar pada perkembangan Kerajaan Banjar secara garis

besarnya ada tiga tahapan: Pertama, masa masuknya Islam, dimana Pangeran

Samudera beserta seluruh kerabat Kraton dan penduduk Banjar menyatakan diri

masuk Islam. Pangeran Samudera sendiri, setelah masuk Islam diberi nama

Sultan Suriansyah, yang dinobatkan sebagai Sultan pertama Kerajan Islam

Banjar. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1526 M.1Kedua, masa kejayaan

wilayah Kerajaan Banjar meliputi seluruh daerah Kalimantan Selatan dan kota

Waringin sampai ke pulau laut, terjadi sekitar abad 17 sampai akhir abad

ke-18. Ketiga, masa kemunduran yang terjadi pada abad ke-18 sampai abad ke-19.2

Sebelum Kerajaan Banjar mengalami masa kemunduran, Kerajaan Banjar

berkembang sebagai negara merdeka dan kerajaan maritim utama sampai dengan

akhir abad ke-18.3Perekonomian Kalimantan Selatan mengalami kemajuan yang

signifikan karena Banjarmasin dengan pelabuhan lautnya menjadi kota dagang

tradisional, ini yang menjadi penyangga utama perekonomian Kerajaan Banjar.

1Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

2003), 221.

2

Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional IndonesiaIV(Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 52.

3

(11)

2

Kalimantan Selatan memiliki perairan yang strategis sebagai lalu lintas

perdagangan. Perdagangan di Banjarmasin pada permulaan abad ke-17

dimonopoli golongan Tionghoa. Kuatnya penarikan lada dari mereka untuk

perdagangan ke Tiongkok mengakibatkan penanaman lada di Banjarmasin

mengalami kemajuan,4 dan lagi pada abad ke-17 dominasi politiknya

berkembang ke Kalimantan Timur, kota Waringin di Kalimantan Tengah dan

Sambas di Kalimantan Barat. Orientasi perdagangannya ditunjukkan ke Jawa

Timur, Ujung Padang, Banten, Sumatera sampai dengan Aceh dan Siam.

Perdagangan Banjar berkembang dengan sangat pesat setelah Bandar

utama pantai Jawa Utara dikuasai Mataram dan banyak sekali pedagang Jawa

yang pindah untuk bermukim ke Banjar. Dorongan utama datang dari eksport

Lada Banjar yang merubah perdagangan lokalnya menjadi perdagangan dunia,

selain pedagang-pedagang Nusantara juga pedagang-pedagang Barat, seperti

Belanda, Inggris, Perancis, Portugis datang dan memilih untuk bermukim di

Banjar.Perdagangan dan segala macam monopolinya yang berkaitan dengan

kegiatan-kegiatan tersebut, membawa kekayaan dan kekayaan-kekayaan baru,

bahkan menimbulkan konsentrasi-konsentrasi kekuasaan yang baru.

Masuknya pengaruh-pengaruh asing dalam istana dipermudah akibat

konflik-konflik kepentingan kelompok dalam istana ini dengan segala macam

(12)

3

akibat yang ditimbulkannya,5 seperti yang terjadi pada abad ke-18 adanya

pertentangan di kalangan para bangsawan mengenai kedudukan Sultan, yaitu

antara Pangeran Nata dengan Pangeran Amir, untuk mempertahankan

kedudukannya Pangeran Nata meminta bantuan kepada Belanda. Kesempatan

baik ini tidak disia-siakan Belanda, dengan bantuan dari Belanda, akhirnya

Pangeran Amir dapat ditangkap dan dibuang ke Ceylon. Akan tetapi Pangeran

Nata sebagimana disebutkan dalam perjanjian tanggal 13 Agustus 1787, harus

menyerahkan sebagian wilayah kesultanan kepada Belanda seperti daerah Tanah

Bumbu, Pegatan, Kutai, Bulongan, dan Kotawaringin. Sedangkan wilayah lain

tetap dikuasai oleh Sultan tetapi sebagai wilayah pinjaman.6

Abad ke-19 kedudukan Kerajaan Banjar semakin terdesak, tambang batu

arang yang terdapat di tanah Kerajaan sangat diinginkan Belanda, untuk

mendapatkan konsensi ini, agar seluruh tanah tambang tersebut bisa dikuasai

Belanda, maka diangkatlah menjadi putera mahkota yang tidak disukai baik oleh

rakyat, para ulama dan kaum bangsawan yaitu pangeran Tamjidillah.7Di

kalangan rakyat sudah lama terpendam rasa tidak senang karena persoalan pajak

dan kerja wajib yang memberatkan. Pajak yang semakin berat ini berhubungan

dengan semakin kecilnya daerah kekuasaan kesultanan.

5

Idwar Saleh, Sek ilas Mengenai Daerah Banjar Dan Kebudayaan Sungainya Sampai Dengan Ak hir(Kalimantan Selatan: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1983), 14.

6

Poesponegoro, Sejarah Nasional IndonesiaIV, 218.

7

(13)

4

Penyempitan daerah Banjar dari waktu ke waktu berdasarkan perjanjian

dengan Belanda, berpangkal pada adanya hasil tertentu di daerah kesultanan yang

dapat diperdagangkan. Hasil tersebut yaitu lada, rotan, damar, emas, dan intan.

Hasil-hasil inilah yang membuat orang asing seperti Belanda dan Inggris datang

ke tempat ini. Rasa tidak senang dalam hal campurtangan Belanda dalam urusan

intern dimulai tahun 1851, yaitu ketika Mangkubumi meninggal dunia. Timbul

perbedaan pendapat mengenai penggantinya. Sultan Adam menginginkan Prabu

Anom, ia adalah putranya yang ke-4, sebagai pengganti, sedangkan Belanda

tidak menyetujui dan kemudian yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah

selain karena Pangeran Tamjidillah, ia adalah putra dari kakak Prabu Anom,

yaitu Raja Muda Abdurrakhman dengan Nyai Aminah, dan juga ia sangat

menghina agama Islam.

Pengangangkatan Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan menimbulkan

kekecewaan baik dikalangan bangsawan maupun dikalangan rakyat. Kekecewaan

itu disebabkan Pangeran Tamjidillah adalah anak Sultan Muda, Pangeran

Abdurrakhaman dengan Nyai Aminah, turunan Cina. Ia amat dibenci baik oleh

golongan kraton maupun rakyat. Kebiasaan mabuk menyebabkan ia dimusuhi

oleh golongan agama. Sedangkan Pangeran Hidayat adalah seorang yang

sebenarnya berhak atas tahta, karena sebelum ia lahir telah dijanjikan oleh Sultan

Sulaiman dan Sultan Adam untuk naik tahta sesuai perjanjian antara Sultan

berdua dengan Mangkubumi Nata ayah Ratu Siti sebelum ibu Pangeran Hidayat

(14)

5

Menurut tradisi, hanya Sultan yang ibunya seorang turunan yang boleh

naik tahta. Selain itu, Pangeran Hidayat mempunyai sifat yang baik, yaitu rendah

hati, ramah tamah dan karena itu dia disenangi oleh rakyat dan yang terakhir

adanya surat wasiat dari Sultan Adam bahwa dialah yang akan menggantikannya.

Kekecewaan dikalangan rakyat di Batang Balangan memperoleh saluran setelah

Penghulu Abdulgani dengan terang-terangan mengecam pengangkatan Pangeran

Tamjidillah, suatu pengangkatan seseorang yang tidak berhak menjadi raja

dipandang dari adat sebagai tanda kemerosotan Kerajaan. Mereka lebih menaruh

simpati kepada Pangeran Hidayat. Sebaliknya Belanda memandang

pengangkatan Pangeran Tamjidillah lah yang lebih menguntungkan bagi

pihaknya.

Kericuhan ini dijadikan Belanda untuk mencampuri urusan dalam

Kerajaan Banjar. kemudian datanglah Kolonel Andresen, utusan pemerintah

Belanda di Batavia, datang ke Banjarmasin untuk menyelidiki dari dekat apa

sebab-sebab kericuhan. Andresen kemudian berkesimpulan bahwa Pangeran

Tamjidillah yang tidak disenangi oleh rakyat adalah sumber dari kericuhan itu.

Kemudian Sultan Tamjidillah diturunkan dari tahta dan kekuasaan Kerajaan

Banjar diambil alih kekuasaan Kerajaan oleh pihak Belanda. Penentangan rakyat

terhadap Sultan Tamjidillah kemudian beralih kepada pemerintah Belanda.

(15)

6

mengambil kembali kekuasaan Kerajaan Banjar.8Politik inilah yang kemudian

menyebabkan pecahnya perang Banjardalam Kerajaan Banjar pada tahun

1859-1905 M.9

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah berdirinya Kerajaan Banjar?

2. Bagaimana situasi dan kondisi Kerajaan Banjar masa terjadinya Perang

Banjar?

3. Apa saja dampak dari berakhirnya Perang Banjar terhadap Kerajaan Banjar?

C. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai penelitian

adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui Sejarah Berdirirnya Kerajaan Banjar.

2. Untuk mengetahui situasi dan kondisi Kerajaan Banjar masa terjadinya

Perang Banjar.

3. Untuk mengetahui dampak dari Perang Banjar terhadap Kerajaan Banjar.

8Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia IV, 218.

9

(16)

7

D. Kegunaan Penelitian

Dengan memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh maka kita

akan padat mengambil maanfaat sebagai berikut:

1. Sumbangan literature Sejarah Perang Banjar bagi masyarakat ilmiah di UIN

Sunan Ampel Surabaya khususnya dan Indonesia pada umumnya.

2. Menambah khazanah ilmu penegetahuan tentang Kerajaan Banjar di

Banjarmasin masa Perang Banjar (1859-1905 M).

E. Pendekatan dan Kerangka Teori

Pembahasan dalam skripsi ini, penulis lebih menggunakan pada

pendekatan historis, yang mana pendekatan historis dimaksudkan adalah

memandang suatu peristiwa yang berhubungan dengan masa lampau.10Dengan

pendekatan ini penulis mengharapkan dapat mengungkapkan secara jelas tentang

Situasi dan Kondisi Kerajaan Banjar masa Perang Banjar (1859-1905 M). Hal ini

juga termasuk mengenai pada perlawanan masyarakat muslim melawan pihak

Belanda (Perang Banjar).

Selain pendekatan historis tersebut, dalam penulisan ini penulis

memakai teori konflik menurut Karl Marx. Konflik menurut Karl Marx adalah

melihat suatu manusia sebagai sebuah proses perkembangan yang akan

menyudahi konflik melalui konflik. Ia mengantisipasi bahwa kedamaian dan

10

(17)

8

harmoni akan menjadi hasil akhir sejarah perang dan revolusi kekerasan. Dengan

kekecualian masa-masa yang paling awal dari masyarakat, sebelum munculnya

hak milik pribadi, ciri utama hubungan-hubungan sosial adalah perjuangan

kelas.Karl Marx melihat konflik sosial lebih terjadi di antara

kelompok-kelompok atau kelas-kelas daripada diantara individu-individu.11Teori ini

diharapkan dapat mengungkapkan konflik-konflik yang ada didalam Kerajaan

Banjar masa Perang Banjar sehingga dapat diketahui situasi dan kondisi Kerajaan

Banjar selama masa Perang Banjar.

F. Penelitian Terdahulu

Tema Kerajaan Banjar Dan Perang Banjar, yang difokuskan pada

situasi dan kondisi Kerajaan Banjar pada masa perlawanan rakyat muslim Banjar

(Perang Banjar), sebagai objek penelitian ini betul-betul relevan, dan menarik.

Namun belum dikaji serta diteliti oleh penulis-penulis. Meski banyak penulis

temui beberapa literatur yang membahas tentang Sejarah Perang Banjar, di

antaranya:

1. Drs. M. Idwar Saleh dalam buku “Lukisan Perang Banjar (1859-1865)”.

Dalam buku ini menjabarkan tentang Sejarah Perang Banjar yang disebut

gerakan perlawanan semesta rakyat Banjar sampai pada masa kehancuran

atau keruntuhan Kerajaan Banjar Islam. Selain itu juga, buku ini juga

11 Tom Campbell, Tujuh Teori Sosial Sk etsa, Penilaian, Perbandingan(Yogyakarta: KANISIUS,1994),

(18)

9

memusatkan perhatiannya pada persoalan di kawasan Banjarmasin, yang

tentu saja membicarakan bagaimana perlawanan masyarakat muslim

Banjarmasin terhadap Belanda untuk merebut kembali kekuasaan di wilayah

asalnya sendiri yang mana Kerajaan Banjar itu sendiri telah lama dihapuskan

oleh Pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1860.

2. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusantodalam buku

Sejarah Nasional Indonesia IV”. Pada dasarnya, pembahasan dalam buku

ini mempunyai kesamaan atau tidak jauh beda dengan apa yang telah

dijelaskan dalam buku karangan Idwar Shaleh yang berjudul “Lukisan

Perang Banjar”. Hanya saja dalam buku karangan Idwar Shaleh ini lebih

luas dalam memberikan penguraian dan sekaligus membedah lebih detail

dan mendalam.

3. Dr. Badri Yatim, MA dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Peradaban

Islam Dirasah Islamiyah II”. Badri Yatim didalam bukunya memberikan

penjelasan tentang tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Islam Banjarmasin

dan Perang Banjarmasin tetapi sangat sedikit atau bisa juga dikatakan hanya

secara garis besarnya saja. Karenanya, didalam buku ini tidak hanya

menjelaskan Sejarah Perang Banjar saja, tetapi membahas juga tentang

sejarah-sejarah lain.

4. Sartono Kartodirdjo dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Sejarah

Indonesia Baru 1500-1900”. Sartono Kartodirdjo didalam bukunya

(19)

10

kumpeni dan dididapati juga Perang Banjarmasin, didalam buku ini juga

tidak memfokuskan pembahasan itu saja, banyak juga sejarah

Kerajaan-kerajaan lainnya.

G. Metodologi Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini, metode yang digunakan oleh penulis adalah

metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah ini berfungsi untuk

mendeskripsikan dan menganalisis peristiwa masa lampau. Terdapat beberapa

tahap yang harus dilalui dalam metode penelitian sejarah, pengumpulan data

sebagai sumber (Heuristik), Verifikasi (kritik sejarah/keabsahan sumber),

interpretasi, historiografi.12 Aplikasi (penerapan) dari metode tersebut adalah

sebagai berikut:

Pertama, Pengumpulan data sebagai sumber. Pengumpulan sumber di

sini adalah pengumpulan sumber yang sesuai dengan jenis sejarah yang akan

ditulis. Untuk memperoleh sumber-sumber yang diperlukan dalam penulisan

skripsi ini, penulis mengumpulkan berbagai data yang ada hubungannya dengan

penulisan skripsi ini. Data penulisan ini diperoleh melalui sumber primer, yakni

mengambil data dari berbagai sumber yang ada hubungannya dengan “Kerajaan

Banjar Dan Perang Banjar (1859-1863 M)”. Sebuah sumber data yang nantinya

dihasilkan dalam penulisan karya ilmiah tersebut dapat diterima dan dapat

12

(20)

11

diertanggungjawabkan kebenarannya. Sumber primer yang dimaksud adalah

Hikajat Bandjar (Bahasa Inggris), silsilah raja-raja Banjar, cap Kerajaan

Banjarmasin, peta Kerajaan Banjar, fotocopy naskah proklamasi penghapusan

Kerajaan Banjar oleh Belanda dan foto-foto yang bersangkutan. Adapun sumber

sekunder yang mendukung dalam penelitian ini adalah sumber kepustakaan

(literatur) yang ada hubungnnya dengan Kerajaan Banjar pada masa Perang

Banjar tahun 1859-1905 M.

Kedua, Kritik: Verifikasi (kritik sejarah/keabsahan sumber), yaitu

untuk membuktikan apakah sumber-sumber tersebut memang yang dibutuhkan

atau tidak.13Dalam hal ini penulis tidak melakukan kritik terhadap sumber, baik

intern maupun ekstern karena tidak diketemukannya sumber primer dalam

penulisan skripsi ini, sehingga tidak memungkinkan penulis untuk melakukan

kritik. Untuk dapat menilai apakah sumber yang penulis peroleh memang yang

diperlukan atau tidak maka yang penulis lakukan adalah dengan validitas

eksternal yaitu dengan melakukan perbandingan antara satu sumber dengan

sumber yang lain.14Agar mendapatkan sumber yang betul-betul sesuai dan

diperlukan, karena tidak semua sumber yang penulis dapatkan tersebut sesuai

dengan kebutuhan penulis untuk menyusun skripsi ini.

Ketiga, Interpretasi atau penafsiran sejarah. Analisis seringkali disebut

juga dengan analisi sejarah. Analisis sejarah berarti menguraikan data-data

13

Nugroho Noto Susanto, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Jakarta: Yayasan Idayu, 1978), 36.

(21)

12

sejarah setelah datanya terkumpul kemudian dibandingkan lalu disimpulakan

untuk ditafsirkan. Analisis penulis yang digunakan untuk interpretasi adalah

analisis yang berusaha mendeskripsikan sesuatu secara obyektif dan sistematis

yang terdapat dalam isi tulisan. Dalam hal ini penulis mengaitkan data-data yang

penulis peroleh dengan pembahasan dalam judul skripsi ini. Untuk menganalisis

sumber-sumber sejarah yang penulis peroleh tersebut adalah dengan menyusun

dan mendaftar sumber sejarah yang diperoleh, selanjutnya penulis menganalisis

sumber-sumber tersebut sesuai dengan judul skripsi yaitu Kerajaan Banjar Dan

Perang Banjar (1859-1905 M )”.

Keempat, Historiografi yaitu penulisan, pemaparan atau pelaporan

hasil penelitian. Layaknya laporan-laporan penelitian ilmiah, penulis mencoba

menuangkan penelitian sejarah ke dalam satu karya proposal yang berjudul

“Kerajaan Banjar Dan Perang Banjar (1859-18905 M). Penulisan ini

diharapkan memberikan gambaran yang jelas mengenai proses peneletian dari

awal hingga akhir.

H. Sistematika Bahasan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan memberikan suatu

sistematikan pembahasan yang terdiri dari lima bab. Yang mana sistematika

pembahasan ini merupakan satu kesatuan yang utuh, sehingga dapat

(22)

13

memberikan kemudahan bagi pembaca untuk lebih paham pada penelitian ini. Ke

lima bab sistematika pembahasan tersebut adalah:

Bab I adalah babpendahuluan. Bab ini memuat tentang latar belakang,

rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, pendekatan dan

kerangka teori, tinjauan penelitian terdahulu, bahan sumber, metode penelitian,

sistematika bahasan. Bab pertama ini merupakan pondasi bagi bab-bab

selanjutnya, karena pada bab pertama inilah segala hal yang berhubungan dengan

penulisan skripsi ini diatur.

Bab II membahas tentang Berdirinya Kerajaan Banjar di Banjarmasin.

Didalamnya akan membahas tetangsejarah berdirinya Kerajaan Banjar, wilayah

kekuasaan Kerajaan Banjar, struktur pemerintahan, dan periode pemerintahan

Sampai masa Pangeran Tamjidillah II.

Bab III akan diuraikan tentang latar belakang dan faktor-faktor dari dalam

dan luar Kerajaan Banjar atas terjadinya Perang Banjar dan proses jalannya

Perang Banjar terhadap kolonial Belanda dalam perebutan Kerajaan Banjar.

Bab IV berkaitan dengan pembahasan tersebut, maka mengetahui

kelanjutan dampak-dampak setelah berakhirnya Perang Banjar atas Kerajaan

Banjar.

Bab V akan diuraikan kesimpulan dari keseluruhan isi skripsi ini dari bab

satu sampai bab empat, di samping kesimpulan dalam bab ini juga akan diisi

(23)

14

Pada bagian akhir dari sekripsi ini memuat tentang daftar pustaka dan

(24)

BAB II

KERAJAAN BANJAR DI BANJARMASIN

A. Berdirinya Kerajaan Banjar Di Banjarmasin

Semula Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang

beragama Hindu. Pada akhir abad ke-15 Kalimantan Selatan masih dibawah

pimpinan Kerajaan Daha, yang pada saat itu dipimpin oleh Pangeran Sukarama,

ia mempunyai tiga orang anak yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran

Tumenggung, dan Putri Galuh. Peristiwa kelahiran Kerajaan Banjar bermula dari

konflik yang dimulai ketika terjadi pertentangan dalam keluarga istana.Konflik

terjadi antara Pangeran Samudera dengan pamannya Pamengaran Tumenggung,

yang mana Pangeran Samudera adalah pewaris sah Kerajaan Daha.1

Dikisahkan dalam Hikayat Banjar, ketika raja Kerajaan Daha yaitu Raja

Sukarama merasa sudah hampir tiba ajalnya, ia berwasiat agar yang

menggantikannya nanti adalah cucunya Raden Samudera. Mengetahui keputusan

ayahnya ini tentu saja keempat puteranya tidak menyetujuinya, terlebih Pangeran

Tumenggung yang sangat berambisi terhadap kekuasaan Kerajaan Daha, setelah

Pangeran Sukarama meninggal, jabatan raja dipegang ole anak tertuanya yaitu

1

(25)

16

Pangeran Mangkubumi. Karena pada saat itu Pangeran Samudera masih berumur

7 tahun.

Pangeran Mangkubumi tidak lama berkuasa, ia dibunuh oleh seorang

pegawai istana, ia berhasil dahasut oleh Pangeran Tumenggung. Dengan

meninggalnya Pangeran Mangkubumi maka Pangeran Tumenggunglah yang

menggantikannya sebagai raja Kerajaan Daha.2 Pada saat itu, Pangeran Samudera

menjadi musuh besar Pangeran Tumenggung, oleh karena itu Pangeran

Samudera memilih untuk meninggalkan istana dan menyamar menjadi nelayan di

Pelabuhan Banjar, namun keberadannya diketahui oleh diketahui oleh Patih

Masih, yang menguasai Bandar. Karena tidak mau daerahnya mengantar upeti ke

Daha kepada Pangeran Tumenggung, maka Patih Masih mengangkat Pangeran

Samudera sebagai Raja.3

Dalam sejarah Daha, tersebutlah seorang perdana mentri yang cakap,

bernama Patih Masih, walau tak sebesar Patih Gajah Mada, ia mampu

mengendalikan pemerintahan dengan teratur dan maju. Patih ini banyak bergaul

dengan Mubaligh Islam yang datang dari Tuban dan Gresik, dari para Mubaligh

inilah ia mendengar kisah tentang Wali Songo dalam mengemban Kerajaan

Demak dan dalam membangun masyarakat yang adil dan makmur. Bagi Patih

Masih, kisah tersebut sangat mengagumkan, seiring berjalannya waktu, dari

2

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 1997), 386.

3Harun Yahya, Kerajaan Islam Nusantara: Abad XVI Dan XVII (Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera,

(26)

17

pergaulannya ini, ia akhirnya memeluk agama Islam.4 Atas bantuan Patih Masih

Pangeran Samudera dapat menghimpun kekuatan perlawanan dan memulai

menyerang Pangeran Tumenggung. Dimulainya dalam serangan pertamanya

Pangeran Samudera berhasil menguasai Muara Bahan, sebuah pelabuhan

strategis yang sering dikunjungi para pedagang luar, seperti utara Jawa, Gujarat,

dan Malaka.

Peperangan terus berlangsung, Patih Masih mengusulkan kepada

Pangeran Samudera untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Demak. Sultan

Demak bersedia membantu pada waktu itu Sultan Kerajaan Demak adalah Sultan

Trenggono. Tetapi dalam itu Sultan Demak memberikan dengan syarat agar

Pangeran Samudera masuk Islam.Sultan Demak kemudian mengirimkan bantuan

seribu orang tentara beserta dan seorang penghulu bernama Khatib Dayan untuk

mengislamkan Pangeran Samudera beserta seluruh masyarakat Banjar.5

Dalam peperangan dan atas bantuan itu, Pangeran Samudera

memperoleh kemenangan dan sesuai dengan janjinya, ia beserta seluruh kerabat

kraton dan rakyat Banjar untuk menyatakan diri masuk Islam.6 Setelah masuk

Islam pada tahun 1526 M, seketika itu Kerajaan Daha berubah menjadi Kerajaan

Islam Banjar dan Pangeran Samudera pun diberi gelar Sultan Suryanullah atau

4 Zuhri, Sejarah Kebangk itan Islam dan Perk embangannya di Indonesia, 392. 5 Ibid.,220.

(27)

18

Sultan Suriansyah, yang dinobatkan sebagai raja pertama dalam Kerajaan Islam

Banjar.7

B. Struktur Pemerintahan Kerajaan Banjar

Kepemimpinan, struktur kekuasaan dan kekayaan menjadi saling

berhubungan erat satu sama lain didalam Kerajaan Banjar.8 Sultan Suriansyah

merupakan raja pertama dari Kerajaan Banjar dan raja pertama yang memeluk

agama Islam, setelah merebut kembali kekuasaan yang menjadi haknya dari

Pangeran Tumenggung. Agama Islam merupakan agama resmi Kerajaan dan

menempatkan kedudukan para ulama pada tempat yang terhormat dalam

Kerajaan, tetapi selama berabad-abad lamanya hukum-hukum Islam tidak

diutamakan dan belum melembaga dalam pemerintahan karena pada saat itu

belum ada ulama yang mendampinginya. Setelah Sultan Tahmidullah II berkuasa

pada tahun 1761-1801 M, barulah hukum Islam itu melembaga di Kerajaan

Banjar dengan didampingi oleh Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, salah

seorang ulama besar yang telah berhasil membina masyarakat Banjar untuk

mengamalkan ajaran Islam.9

Peristiwa ini menimbulkan terjadinya perubahan dalam pemerintahan,

terutama setelah Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari datang dari Mekah dan

7 Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, 220.

8 Idwar Saleh, Sejarah Daerah Kalimantan Selatan (Kalimantan Selatan: Proyek Penelitian dan

Pencatatan Kebudayaan Daerah Kalimanta Selatan, 1977), 34.

9

(28)

19

tiba di Martapura pada tahun 1772 M.10 Ia sangat disegani oleh Sultan karena

kedalaman ilmunya. Kitab Sabilul Muhtadinseorang raja yang amat besar

fahamnya dan memiliki kecerdikan dan memperbaiki segala pekerjaan agama

dan pekerjaan dunia”. Sedangkan Sultan sendiri ketika akan meninggal dunia

berwasiat kepada keturunannya bahwa: “Syeikh Muhammad Arsyad adalah

seorang sahabatku dan dia pila seorang guruku, maka aku wasiatkan kepada

anak cucuku turun temurun janganlah durhaka kepadanya dan anak cucu serta

zuriatnya, jika durhaka tidaklah ia selamat”. Hubungan sultan ini diperkuat lagi

dengan ikatan perkawinan, ketika Sultan mengawinkan Syeikh Muhammad

Arsyad dengan cucunya Ratu Aminah binti Pangeran Thoha bin Sultan

Tahmidillah.11

Dengan kedatangan Syeikh al-Banjari, perlahan-lahan membawa

perbaikan dalam bidang pengadilan. Syeikh Al-Banjari juga mengusulkan kepada

Sultan untuk membentuk Mahkama Syari’ah dan disetujui Sultan, yakni suatu

lembaga pengadilan agama, yang dipimpin seorang mufti sebagai ketua hakim

tertinggi pengawas pengadilan umum dan Qadhi bertugas mengurusi masalah

hukum waris, pembagian harta dan urusan Mu’amalat (jual-beli). Dengan

kepastian hukum Islam yang diterapkan dalam Kerajaan, segala urusan dalam

10

Azzumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII

(Bandung: Mizan, 1994), 252.

11Abu Daudi, Maulana Syeik h Muhammad Arsyad al-Banjari (Kalimantan Selatan: Sekretariat

(29)

20

masyarakat dapat diselesaikan dalam pengadilan agama yang mendapat

legitimasi dari Kerajaan.12

Hukum Islam dijadikan hukum pemerintahan sebagai sumber pokok

dalam membuat undang-undang dan peraturan yang berdasarkan Al-qur’an dan

Hadist.Hukum yang berlaku berdasarkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mazhab

Syafi’i. Jabatan Qadi pertama yang diangkat Sultan ialah cucu Syeikh

Muhammad Arsyad, ia adalah Muhammad As’ad. Disamping mengajar pada

lembaga pesantren di dalam pagar Martapura untuk mendidik para da’i, beliau

juga banyak mengarang bermacam-macam kitab sebagai penuntun bagi umat

Islam. Karangan itu antara lain ialah:

1. Ushuluddin, yang berisi sifat-sifat Tuhan semacam pelajaran Sifat Dua

Puluh yang umum sekarang.

2. Luqthatul ‘Ajlam, berkenaan dengan sifat perempuan yang mengalami masa

haid yang bertalian dengan masalah ibadah.

3. Kitab Faraidh, yang berhubungan dengan masalah warisan dan cara

pembagiannya.

4. Kitabunnikah, berisi tentang pengertian tentang wali dan bagaimana cara

akad-nikah.

12

(30)

21

5. Kitab Tuhfaturraghibien, berisi penjelasan menurut para Ahlussunahwal

Jamaah untuk menghapus kebiasaan yang menyebabkan orang tergelincir

kearah syirik dan murtad.

6. Qaulul Mukhtashar, berisi tentang penjelasan tanda-tanda akhir zaman dan

tanda-tanda datangnya Imam Mahdi.

7. Kitab Kanzu Ma’rifah kitab yang membahas masalah tasawuf.

8. Sabilul Muhtadin Lit-Tafaqquh Fi Amriedien, Kitab Fiqih dalam bahasa

Melayu, huruf Arab yang sangat mendalam disertai berbagai

masalah-masalah sulit.

Kitab Sabilal Muhtadin, ditulis atas permintaan Sultan Tahmidullah

(Pangeran Nata Dilaga) bin Sultan Tamjidillah. Kitab tersebut ditulis pada tahun

1193 H dan selesai pada tahun 1195 H (1779-1780 M), baru dicek untuk pertama

kali dengan serempak pada tahun 1300 H (1882 M) di Mekkah, Istambul dan

Kairo. Kitab ini sangat terkenal diseluruh Asia Tenggara seperti Filipina,

Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Brunai Darussalam, Kampuchea,

Vietnam, dan Laos, karena kaum muslimin di daerah-daerah tersebut masih

menggunakan bahasa melayu.13

Kedudukan agama Islam sebagai agama Negara terlihat dengan jelas

pada masa pemerintahan Sultan Adam Al-Wasik Billah yang memerintah pada

13 M Arsyad al-Banjari, Kitab Sabial Muhtadin, terj. M Asywadie Syukur(Surabaya: PT Bina Ilmu,

(31)

22

tahun 1825-1857 M, ia mendapatkan gelar Sultan Muda sejak tahun 1782. Ia

mengeluarkan Undang-Undang Negara pada tahun 1835 yang kemudian dikenal

sebagai Undang-Undang Sultan Adam, yang mana dalam Undang-Undang

tersebut terlihat jelas bahwa sumber hukum yang dipergunakan adalah hukum

Islam.14 Oleh karena itu, Kerajaan Banjar disebut sebagai Kerajaan Islam, dan

oleh karena itu pulalah orang Banjar dikenal sebagai orang yang beragama Islam.

Dari sudut pandang Islam, otoritas sultan berasal dari perannya sebagai

pelaksana hukum Islam (Syari’ah). Menurut teori tentang pemerintahan, sultan

bertanggung jawab kepada syari’ah, sedangkan rakyat bertanggung jawab

kepadanya. Bahkan sebuah pemerintahan yang dikelilingi kekuatan militer

dipandang sebagi pemerintahan yang sah sepanjang ia menghormati kekuatan

syari’ah dan menghargai interes komunitas muslim yang mendasar.15

Pergantian kepemimpinan di Kerajaan Banjar terkadang banyak

menimbulkan kekacauan untuk memperebutkan dan merampas kekuasaan mulai

dari adu kekuatan militer sampai membunuh di antara pangeran dan

menyebabkan perang saudara. Hal tersebut dikarenakan cara pergantian

kepemimpinan berdasarkan keturunan. Seorang sultan yang masih berkuasa bisa

menetapkan salah satu putranya yang bakal menggantikannya dengan

memberinya dalam perjuangan memperebutkan kekuasaan. Tetapi hal itu tidak

14 Undang-Undang Negara, Undang-Undang Sultan Adam, 1835.

(32)

23

selalu terjadi pada Kerajaan Banjar ini, pengganti Sultan yang juga bisa berasal

dari keluarga terdekat seperti cucunya.

C. Perkembangan Kerajaan Sampai Masa Sultan Tamjidillah

Sejak masa Sultan Suriansyah hingga masa pemerintahan Sultan

Tamjidillah Kerajaan Banjar mengalami begitu banyak konflik. Kerajaan Banjar

berkembang sampai akhir abad ke-18. Banjarmasin sebagai ibukota Kerajaan

Banjar mulai berkembang menjadi bandar perdagangan yang besar. Para

pedagang dari berbagai suku datang ke Banjarmasin untuk mencari berbagai

barang dagangan seperti lada hitam, rotan, dammar, emas, intan, madu, dan kulit

binatang.16

Khususnya lada hitam, komoditi yang satu ini menjadi primadona dalam

perdagangan internasional, selain berfungsi sebagai bandar perdagangan,

penduduk di Banjarmasin juga banyak yang berstatus sebagai pedagang. Mereka

juga melakukan perdagangan sampai ke Pulau Jawa, tepatnya ke pelabuhan

Banten. Lewat perdagangan tersebut, informasi tentang bandar perdagangan di

Banjarmasin terdengar sampai ke telinga orang Belanda. Kontak awal antara

pedagang Banjar dengan Belanda terjadi sekitar tahun 1596 M, ketika orang

Banjar berdagang ke Banten. Dari sinilah Belanda tahu bahwa di Banjarmasin

16 Suriansyah Ideham, Urang Banjar dan Kebudayaannya (Banjarmasin: Badan Penelitian dan

(33)

24

terdapat komoditi lada hitam yang mempunyai nilai ekonomi tinggi di pasaran

internasional.

Pertemuan dengan para pedagang Banjar tersebut kemudian berlanjut

dengan pengiriman ekspedisi oleh Belanda ke Kesultanan Banjar pada tahun

1603 M, di bawah pimpinan Admiral van Wouwijck. Tujuan pengiriman

ekspedisi tersebut adalah untuk menjalin hubungan perdagangan antara Belanda

dan Sultan Mustain Billah. Puncak kejayaan Kerajaan Banjar terjadi di masa

Sultan Mustain Billah, ia menggantikan ayahnya setelah ayahnya meninggal

dunia, yaitu Sultan Hidayatullah. Pada masa ini, lada menjadi komoditas

perdagangan utama di Kesultanan Banjar.

Pada tanggal 14 Februari 1606, Belanda kembali mengirimkan ekspedisi

ke Kesultanan Banjar, tetapi ekspedisi kedua ini gagal karena semua orang

Belanda yang turut dalam ekspedisi kali ini dibunuh oleh Orang Banjar.

Terbunuhnya orang-orang Belanda oleh Orang Banjar membuat Belanda

semakin berambisi untuk memaksakan hubungan dagang, bahkan jika perlu

menguasai Kerajaan Banjar. Maka dikirimlah ekspedisi ketiga pada tahun 1612

M. Ekspedisi kali ini diperkuat dengan pengiriman kapal perang, yaitu de

Hzewind, de Brack, de Halve Maan, dan Klein van de Veer. Akibat serbuan

Belanda, Sultan Mustain Billah terpaksa memindahkan pusat pemerintahan ke

Martapura. Upaya Belanda untuk menjalin hubungan dagang dengan Kerajaan

(34)

25

Sekitar tahun 1635 M, Belanda memaksa Sultan Ratu Agung bin

Marhum Panembahan yang bergelar Sultan Inayatullah untuk menandatangani

perjanjian monopoli lada hitam dengan harga yang ditetapkan oleh Belanda.

Perjanjian tersebut tidak berjalan lancar karena pada tahun 1638 orang-orang

Belanda dibunuh dan kapal-kapal perangnya ditenggelamkan oleh orang

Banjar.17Sulitnya menjalin hubungan dengan Kerajaan Banjar membuat Belanda

bersiasat untuk menunggu tanpa mengurangi gairahnya untuk menguasai

perdagangan lada hitan di Kerajaan Banjar. Siasat Belanda ini menemukan waktu

yang tepat ketika terjadi perebutan tahta kepemimpinan di Kerajaan Banjar,

antara Pangeran Muhammad Aminullah, anak dari Sultan Kuning dengan

Hamidullah, adik dari Sultan Kuning.

Perebutan kekuasaan diawali ketika Sultan Kuning meninggal pada

tahun 1734 M dengan meninggalkan seorang putra yang masih berusia 5 tahun

bernama Muhammad Aminullah. Sebagai pengganti Sultan sementara, ditunjuk

adik Sultan Kuning bernama Hamidullah, yang setelah diangkat bergelar Sultan

Tamjidillah I.18 Setelah Muhammad Aminullah dewasa dan meminta hak atas

tahta kekuasaan Kerajaan Banjar, ternyata Sultan Tamjidillah I tidak memberikan

hak tersebut kepada Muhammad Aminullah. Ia bahkan hanya diberikan jabatan

mangkubumi dan dikawinkan dengan putri sulung Sultan Tamjidillah I.

17

Ibid., 21.

18 Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500 -1900 Jilid I (Jakarta:PT Gramedia

(35)

26

Belanda yang sejak awal berniat untuk menanamkan pengaruh di

Kerajaan Banjar melihat peluang untuk mendekati salah satu pihak dalam

perebutan kekuasaan. Belanda akhirnya mendekati Sultan Tamjidillah I. Berkat

bantuan Belanda, Muhammad Aminullah terus dipojokkan dengan cara ditahan

di istana. Tetapi pada tahun 1753 M, Muhammad Aminullah berhasil melarikan

diri ke Tabanio, suatu daerah yang terletak di Tanah Laut, ujung Selatan dari

Kalimantan Selatan yang menghadap ke barat laut Jawa. Ditempat tersebut

Muhammad Aminullah bekerjasama denga beberapa bajak laut dan membangun

markas perlawanan dengan tujuan awal untuk mengacaukan jalur perdagangan

dari dan menuju ke Kerajaan Banjar. Sebagai balasan atas jasanya dalam

mendesak Muhammad Aminullah untuk keluar dari istana, Belanda memaksa

Sultan Tamjidillah I untuk menandatangani perjanjian perdagangan lada hitam

pada tahun 1747 M dan member izin untuk mendirikan kota di Tabanio.

Belanda yang telah menanamkan pengaruh di Kerajaan Banjar, melalui

siasat politiknya, Belanda juga menjalin hubungan dengan Muhammad

Aminullah yang telah bergabung dengan komplotan bajak laut di Tabanio.

Belanda melihat kekuatan kelompok Muhammad Aminullah untuk memotong

jalur perdagangan di Kerajaan Banjar mempunyai akibat yang cukup besar. Maka

akan berimbas pada salah satu rencananya untuk menguasai lada hitam bisa

menjadi kacau, jika terus menerus mendapat gangguan dari Muhammad

Aminullah. Inilah alasan Belanda untuk mendekati Muhammad Aminullah.

(36)

27

kembali meminta haknya sebagai pewaris tahta Kerajaan Banjar. Namun sikap

Belanda dengan memihak kedua kubu dibuktikan ketika Belanda yang diwakili

oleh J.A. Paraficini membuat surat perjanjian dengan Sultan Tamjidillah I pada

tanggal 20 Oktober 1756.

Seminggu kemudian, tepatnya tanggal 27 Oktober 1756, Parficini juga

membuat perjanjian dengan Muhammad Aminullah di Tabanio tepatnya

Kayutangi, Tatas. Dalam pernyataannya, Paracifini menjanjikan kepada Sultan

Tamjidillah I bahwa Belanda akan cenderung memberikan dukungan dan

bantuan kepada Sultan Tamjidillah I. Tetapi pada kesempatan lain, Paraficini

juga memberikan pernyataan yang sama kepada Muhammad Aminullah. Siasat

Belanda yang disadari oleh kekhawatiran atas kekuatan Muhammad Aminullah,

ternnyata menemukan jawaban. Dengan laskar yang sangat besar, Muhammad

Aminullah menyerang Sultan Tamjidillah I pada tanggal 2 Agustus 1759.Atas

dasar inilah, Sultan Tamjidillah terpaksa menyerahkan tahta Kerajaan Banjar

kepada Muhammad Aminullah yang akhirnya dijadikanlah sebagai Sultan pada

tanggal 3 Agustus 1759.

Masa pemerintahan Sultan Muhammad Aminullah berlangsung sangat

singkat karena beliau meninggal dunia. Sebagaimana halnya denganayahnya,

Sultan Kuning, di akhir hayatnya Sultan Muhammad Aminullah juga

meninggalkan dua orang putra yang masih kecil,19 bernama Pangeran Abdullah

19 Bayu Widiyatmoko, Kronik Peralihan Nusantara Liga Raja-Raja Hingga Kolonial (Yogyakarta: PT

(37)

28

dan Pangeran Amir. Dengan alasan yang sama, belum cukup umur untuk

menjabat sebagai Sultan Kerajaan Banjar, maka jabatan Wali Sultan di Kerajaan

Banjar untuk sementarabdiserahkan kepada Pangeran Nata Dilaga, anak dari

Sultan Tamjidillah I, yang bergelar Sultan Tahmidillah seperti ayahnya, seperti

ayahnya Sultan Tahmidillah II juga memutuskan secara sepihak dengan

menyatakan bahwa pengganti dirinya kelak sebagai Sultan di Kerajaan Banjar

bukan Pangeran Abdullah atau Pangeran Amir, melainkan putranya yang

bernama Sulaiman Saidullah. Pernyataan itu disampaikan oleh Sultan

Tahmidillah II sepelas melaksanakan sembahyang Jumat pada bulan Januari

1767 M. Dengan pernyataan tersebut, maka peluang bagi Pangeran Abdullah

maupun Pangeran Amir untuk menduduki tahta di Kerajaan Banjar telah ditutup.

Pada usia sekita 18 tahun pada tahun 1772 M, bersama seorang Belanda

W.A. Palm, Pangeran Abdullah berencana untuk merebut kembali tahta Kerajaan

Banjar. Perencanaan tersebut ternyata memerlukan waktu yang cukup lama

sampai akhirnya siap untuk dijalankan. Akan tetapi rencana penyerbuan ke

Kerajaan Banjar ternyata telah diketahui oleh Sultan Tahmidillah II, dengan

berpura-pura mengundang jamuan makan malam, Pangeran Abdullah diracun,

dicekik, dan dibunuh oleh kaki orang suruhan Sultan Tahmidillah II. Kejadian ini

berlangsung pada tanggal 16 Maret 1772.

Pembunuhan terhadap Pangeran Abdullah ternyata berimbas langsung

kepada Pangeran Amir. Atas dasar kebijakan agar tidak mengobarkan

(38)

29

Pangeran Amir untuk meninggalkan Kerajaan Banjar. Pada tahun 1782 M,

Pangeran Amir meninggalkan Banjarmasin menuju ke daerah yang bernama

Pasir, daerah tersebut terdapat paman beliau, seorang keturunan Bugis bernama

Arung Torawe.

Arung Torawe adalah saudara dari ibu Pangeran Amir yang merupakan

seorang putri Bugis. Pangeran Amir menyusun kekuatan di Pasir dengan Arung

Torawe untuk merebut kembali tahta Kerajaan Banjar. Rencana untuk

menyerang Kerajaan Banjar akhirnya dilaksanakan pada bulan Oktober 1785 M.

pasukan Pangeran Amir dan Arung Torawe yang terdiri dari sekurangnya 60

kapal mendarat di Tabanio dan mulai merebut benteng-benteng yang termasuk ke

dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar.

Di sisi lain, kekuatan Kerajaan Banjar mulai bertambah karena

mendapat bantuan dari Belanda. Gabungan kekuatan antara Sultan Tahmidillah II

dan Belanda pada akhirnya berhasil mematahkan perlawanan yang dilakukan

oleh orang-orang Bugis dan Pangeran Amir dalam suatu perang pada tanggal 14

Maret 1786. Pangeran Amir akhirnya dikalahkan, ditangkap dan diasingkan ke

Ceylon, Srilanka pada tahun 1789 M.20 Setelah perang, Belanda meminta

sejumlah kompensasi kepada Sultan Tahmidillah berupa lada, emas, permata,

serta izin untuk mendirikan kantor di Tabanio, Hulu sungai, Pulau Kaget dan

Tatas.

(39)

30

Pernjanjian antara Kerajaan Banjar yang diwakili oleh Sultan

Tahmidillah II dan Belanda yang diwakili oleh Kapten Christoffel Hoffman

ditandatangani pada tanggal 13 Agustus 1787. Dalam perjanjian itu, salah satu

poin penting yang menunjukkan bahwa Belanda telah menanamkan pengaruh

yang kuat di Kerajaan Banjar adalah pengalihan kedaulatan atas Kerajaan Banjar

kepada Belanda dan penyerahan bagian-bagian penting dari Kerajaan Banjar

kepada Belanda yang kemudian menjadi wilayah milik Belanda.21 Daerah

tersebut, menurut Pasal 6 perjanjian 13 Agustus 1787, membentang dari pantai

Timur Kalimantan ke Barat, termasuk Pasir, Pulau Laut, Tabanio, Mendawai,

Sampit, Pembuang, dan Kota Waringin dengan lingkungan sekitar dan daerah

taklukannya, serta sebagian dari desa Tatas.22

Pada tahu 1801 M, Sultan Tahmidillah II meninggal dunia. Sebagi

pengganti kedudukan Sultan Tahmidillah II, pada tahun 1801, adalah putra beliau

bernama Sulaiman Saidullah, dijadikanlah sebagai Sultan di Kerajaan Banjar

dengan gelar Sultan Suleman Almutamidullah bin Sultan Tahmidullah II tahun

1801-1825 M. Pada tahun 1825 M, Sultan Suleman mengundurkan diri sebagai

Sultan Kerajaan Banjar, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Adam

Al-Wasik Billah tahun 1825-1857 M. Pada masa pemerintahannya Sultan Adam

Al-Wasik Billah, dikeluarkan sebuah undang-undang Negara pada tahun 1835 M,

(40)

31

yang dikenal sebagai Undang-undang Sultan Adam.23 Oleh karena itulah

Kerajaan Banjar disebut sebagai Kerajaan Islam Banjar dan penduduk Banjar

dikenal sebagi orang yang beragama Islam.

Akar permasalah perlawanan terhadap Belanda dimulai dari perbutan

tahta Kerajaan Banjar. Perebutan diawali dari meninggalnya putra mahkota

Kerajaan Banjar yaitu Sultan Muda Abdurrahman pada tahun 1852 M.

Meninggalnya putra makhota meninggalkan bibit-bibit perpecahan di Kerajaan

Banjar. Pihak-pihak yang bertikai terbagi menjadi tiga kelompok: Pertama,

Pangeran Tamjidillah yang mempunyai kedekatan dengan Belanda. Beliau

adalah anak dari hasil perkawinan anatara Sultan Muda Abdurrahman dengan

seorang selir bernama Nyai Besar Aminah. Kedua, Pangeran Hidayatullah yang

mempunyai kedekatan dengan rakyat di Kerajaan Banjar. Beliau adalah anak dari

hasil perkawinan kedua Sultan Muda Abdurrahman dengan permaisuri Ratu Siti,

putri Mangkubumi Nata. Perkawinan pertama Sultan Muda Abdurrahman dengan

permaisuri Ratu Antasari, saudara perempuan Pangeran Antasari, tidak

menghasilkan putra. Dan ketiga, Pangeran Prabu Anom, adik dari Sultan Muda

Abdurrahman yang mempunyai kedekatan birokrasi istana.

Dari ketiga kelompok tersebut, Pangeran Tamjidillah mempunyai

kedudukan yang menguntungkan karena kedekatannya dengan Belanda. Hal ini

dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Pangeran Tamjidillah untuk menguatkan

posisinya dalam menduduki jabatan Sultan di Kerajaan Banjar. Di sisi lain,

(41)

32

Belanda juga mempunyai kepentingan di Kerajaan Banjar, dengan diangkatnya

Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan, maka secara langsung kepentingan dan

pengaruh Belanda di Kerajaan Banjar akan terjamin. Sikap Belanda dibuktikan

dengan pengangkatan secara sepihak Pangeran Tamjidillah sebagai putra

mahkota pada tanggal 8 Agustus 1825. Sementara itu, pada tanggal 9 Oktober

1856, Pangeran Hidayatullah diangkat sebagai Mangkubumi.

Pada tanggal 1 November 1857, Sultan Adam Al-Wasik Billah

meninggal dunia. Pada tanggal 3 November 1857 secara sepihak Belanda

mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan di Kerajaan Banjar dengan

gelar Sultan Tamjidillah II. Disisi lain, untuk menghindari perebutan tahta,

Belanda menangkap Pangeran Anom dan membuangnya ke Jawa. Terpilihnya

Sultan Tamjidillah II tidak secara langsung bisa meredakan ketegangan seputar

perebutan tahta. Kedekatan dengan Belanda diartikan sebagai keberpihakan

secara total Kerajaan Banjar kepada kekuasaan Belanda. Selain itu Sultan

Tamjidillah II merupukan anak dari seorang selir yang menurut tradisi Kerajaan

Banjar, tidak berhak untuk diangkat sebagai putra mahkota, terlebih lagi menjadi

Sultan.Hal inilah yang menimbulkan perpecahan di antara pihak Sultan, birokrasi

istana khususnya Pangeran Hidayatullah, dan rakyat.24

24

(42)

(43)

BAB III

KERAJAAN BANJAR PADA MASA PERANG BANJAR

A. Latar Belakang Perang Banjar

Pada pertengahan abad ke-19 pecahlah perang Banjar yang terjadi di

wilayah Kerajaan Banjar. Perang ini merupakan gerakan perlawanan semesta

dari rakyat Banjar melawan musuh babuyutannya, yaitu imperialis Belanda.

Rakyat disini yang dimaksud adalah sebagian besar bubuhan1 raja-raja Banjar,

golongan bangsawan, golongan ulama, golongan tetuha masyarakat dan para

petani yang mendiami daerah Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan.

Dalam Kerajaan Banjar dahulu hingga sekarang ada tiga jenis golongan

orang Banjar, yaitu:

1. Orang Banjar Kuala yang tinggal di daerah Banjarmasin sampai Martapura.

2. Orang Banjar Batang Banyu yang tinggal di daerah sungai Tabalong dari

Margasari sampai Kelua.

3. Orang Banjar Pahuluan yang mendiami daerah luar Martapura arah ke Utara

sampai dengan Tanjung.

Perang Banjar disebut gerakan perlawanan semesta rakyat Banjar, karena

dalam waktu yang singkat telah meliputi daerah perlawanan yang lebih luas dari

(44)

34

daerah Kerajaan Banjar sendiri, yaitu daerah Barito (Muara Teweh) di Utara

sampai Tabonia di Selatan, pulau Petak disebelah Barat (dekat Kuala Kapuas)

sampai Sebuhur di sebelah Timur. Perang ini berlangsung dari tahun 1859-1865

M. Perlawanan rakyat masih tetap berlangsung walaupun terputus-putus dan baru

selesai pada tahun 1905 M setelah kekuasaan Pagustian di Menawing habis dan

Sultan Muhammad Seman meninggal dunia dalam pertempuran itu. Kerajaan

Banjar sendiri telah dihapus sepihak oleh Belanda pada tahun 1860 M.2

1. Faktor-Faktor dari luar Kerajaan Banjar

Abad ke-19 adalah abad kolonialisme dan imperialisme modern. Hal

ini terjadi akibat revolusi industri yang berkembang pesat setelah

ditemukannya teknologi baru yaitu mesin uap pada kapal api, kereta api dan

pabrik-pabrik yang menggunakan mesin uap, cepat merubah keadaan dunia.

Sebagian daerah kapal-kapal Belanda yang berlayar ke Indonesia atau

berlayar interkontinental saja, baik kapal-kapal perang Pemerintah Hindia

Belanda maupun kapal dagang sipilnya, memerlukan batu bara untuk bahan

bakar mesinnya. Batubara itu di import dari Eropa dan biayanya mahal.

Kemudian Belanda mengetahui bahwa di wilyah Kerajaan Banjar terdapat

batubara yang ditambang oleh rakyat secara tradisional. Kerajaan Banjar

sejak tahun 1787 M merupakan tanah pinjaman VOC kepada raja-raja

(45)

35

Banjar,3 oleh pihak Belanda dipaksa untuk memberikan konsesi

penambangan pada Pemerintah Hindia Belanda dan setelah dipaksa baru

mendapatkan konsesi pada tahun 1846 M.

Daerah Riam Kanan ternyata penuh dengan lapisan-lapisan batu bara.

Tetapi sebagai tanah lungguh ia adalah milik Mangkubumi Kerajaan.

Akhirnya pada tahun 1849 M berdirilah tambang batubara, yang diberi nama

Oranje Nassau. Tambang batu bara ini dibuka oleh Gubernur Jenderal

Ruchussen pada tanggal 21 September 1849 M. Pada tanggal 29 September

1849 Ruchussen menulis surat rahasia kepada Residen Gallois di

Banjarmasin mengenai tambang batu bara itu, yang isinya antara lain:

a. Selama Sultan aktif pada kewajibannya dan tak menghambat produksi

tambang batubara, Belanda akan tetap bersahabat, menolong dan

melindunginya.

b. Sangat menginginkan daerah tambang tersebut dan Martapura menjadi

wilayah Belanda dengan cara membelinya dari Sultan.

c. Ibukota Kerajaan dipindahkan ke Negara. Politik untuk mengambil alih

wilayah tembang batubara di Pengaron dan ibukota Martapura ini, baru

bisa dijalankan setelah Sultan Adam meninggal dunia, dan penggantinya

yang sedapat mungkin pro dengan pihak Belanda.4

3 FotocopyTractaat, 13 Agustus 1787. 4

(46)

36

2. Faktor-Faktor dari dalam Kerajaan Banjar

Pada tahun 1825 M Sultan Adam naik tahta Kerajaan Banjar.

Kerajaan Banjar menjalankan sistem pemerintahan dyarchi.5 Dibawah

Sultan, putra mahkota diangkat sebagai Sultan Muda, menjadi pembantunya

selain dari Mangkubumi. Oleh karena itu putra mahkota Abdurrakhman

diangkat menjadi Sultan Muda. Pengangkatan ini bertujuan untuk

memperkuat kedudukan putra mahkota baik dalam pemerintahan maupun

dalam bidang keuangan sehingga jika Sultan meninggal tidak ada lagi orang

yang dapat menjatuhkan putra mahkota.

Dengan Sultan Adam oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun

1826 M diadakan sebuah kontrak baru yang ternyata bertahan sampai

penghapusan sepihak Kerajaan Banjar oleh Belanda pada tahun 1860 M.6

Kontrak itu isinya antara lain adalah:

a. Pemilihan atas penetapan putra mahkota harus disetujui oleh pemerintah

Hindia Belanda. Demikian pula penunjukan perdana menteri yang

bertugas melaksanakan perintah Sultan atas seluruh daerah kekuasaan

Kerajaan Banjar.

5 Menurut Governments, bentuk pemerintahan diarchyberasal dari bahasa Yunani yang berarti “dua

yang memerintah”. Yang artinya satu negara dipimpin oleh dua penguasa yang memiliki kedudukan dan peran yang setara.

6

(47)

37

b. Tidak ada seluruh wilayahpun yang diperintah Sultan bisa di serahkan

kepada pihak lain tanpa seizin Gubernemen.

c. Sultan, anak-anaknya, dan keluarganya tidak diizinkan menerima surat

atau duta dari negara-negara asing, raja-raja lain atau mengirimkannya

kepada mereka tanpa memberitahu sebelumnya kepada Residen.

d. Mangkubumi dan masyarakat Banjar yang tinggal di daerah Sultan di

Banjarmasin atau di tempat-tempat lain, bila berbuat kejahatan terhadap

pemerintah Hindia Belanda atau pegawainya akan dihukum oleh

pengadilan yang didirikan oleh Sultan dan Gubernemen wilayah

Banjarmasin.

e. Semua orang Banjar yang tinggal dalam wilayah Kerajaan Banjar akan

diadili oleh pengadilan yang diatur oleh Kerajaan Banjar itu sendiri.

Semua hukuman yang merusak badan misalnya memotong tangan, dan

sebagainya dihapuskan.

f. Tiap orang diizinkan berdagang dan raja mempunyai hak untuk

mengadakan cukai dan pajak yang adil, dan lain sebagainya.7

Dalam kontrak ini terdapat sejumlah fasal yang terlihat jelas

bertentangan dengan adat Kerajaan Banjar dan merusaknya. Sehingga

menimbulkan kemarahan rakyat yang luar biasa, seperti penunjukan putra

7

(48)

38

Mahkota, penunjukan Mangkubumi, penerimaan surat dari negara atau raja

lain, atau sebaliknya sebagai negara berkurang kedaulatannya.

Belanda terus ikut campur dalam urusan Kerajaan, ekonomi, dan

sosial keagamaan. Setelah sepeninggal Sultan Adam tanggal 1 November

1857,8 pada tahun 1857 M Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah

sebagai Sultan secara sepihak dengan tidak menghiraukan surat wasiat

Sultan Adam yang berisi Pangeran Hidayatullah lah sebagai pengganti

ayahnya Sultan Abdurrahman. Pangeran Hidayatullah berhak atas tahta

Kerajaan. Pengangkatan Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan dalam

Kerajaan Banjar menimbulakan banyak kekecewaan di kalangan rakyat, para

ulama dan kerabat kraton. Selain itu, Tamjidillah memiliki sifat yang

buruk.Ia dikenal gemar mabuk-mabukkan dan senang berjudi, wajar saja bila

rakyat tidak menerimanya sebagai pemimpin atas tahta Kerajaan Banjar.

Kebencian dan kemarahan rakyat Banjar terhadap pengangkatan Sultan

Tamjidillah dan terhadap Pemerintah Hindia Belanda sangatlah besar hingga

memuncak, yang pada akhirnya menimbulkan Perang Banjar.9

B. Proses Jalannya Perang Banjar Terhadap Kolonial Belanda Dalam Perebutan Kerajaan Banjar

8

Amir Hasan Bondan, Suluh Kerajaan Kalimantan (Banjarmasin: Fajar, 1953), 39.

9 Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara ”Penelusuran Kepustakaan Sejarah” (Jakarta: PT

(49)

39

1. Perlawanan Ofensif Yang Berlangsung Dalam Jangka Pende k (1859-1863 M)

Perlawanan rakyat terhadap Belanda mulai berkobar di daerah-daerah

yang dipimpin oleh Pangeran Antasari yang berhasil menghimpun 3.000

orang dan menyerbu pos-pos Belanda. Pos-pos Belanda di Martapura dan

Pangaron diserang oleh Pangeran Antasari pada tanggal 28 April 1859.

Disamping itu, kawan-kawan seperjuangan Pangeran Antasari juga telah

melakukan penyerangan terhadap pasukan-pasukan Belanda yang

dijumpainya. Pada saat Pangeran Antasari mengepung benteng Belanda di

Pengaron10, Kyai Demang Leman dengan pasukannya telah bergerak di

sekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng Belanda di Pengaron. Lalu

bersama-sama dengan Haji Nasrun pada tanggal 30 Juni 1859 ia menyerbu

pos Belanda yang berada di istana Martapura. Dalam bulan Agustus 1859

Kyai Demang Leman bersama Haji Buyasin dan Kyai Langlang berhasil

merebut benteng Belanda di Tabanio.

Pada tanggal 27 September 1859 pertempuran juga terjadi di benteng

Gunung Lawak yang dipertahankan oleh Kyai Demang Leman dengan para

pasukannya. Dalam pertempuran ini kekuatan pasukan Demang Leman

ternyata lebih kecil dari kekuatan musuh, sehingga ia terpaksa

mengundurkan diri. Karena rakyat berkali-kali melakukan penyerangan

10 Soeri Soeroto, Perang Banjar (Jakarta: Departemen Ketahanan dan Keamanan Pusat Sejarah ABRI,

(50)

40

gerliya, maka Belanda yang menduduki benteng tersebut dalam waktu yang

beberapa lama kemudian merusak dan meninggalkannya. Ketika

meninggalkan benteng, pasukan Belanda mendapatkan penyerangan

terhadap pasukan Kyai Demang Leman yang masih aktif melakukan perang

gerliya di daerah sekitarnya.

Sementara itu Tumenggung Surapati menyanggupi Belanda untuk

membantu menangkap Pangeran Antasari. Setelah mengadakan perundingan

di atas kapal Onrust pada bulan Desember 1859, ia dengan anak buahnya

berbalik menyerang tentara Belanda yang berada di atas kapal tersebut,

kemudian merebut senjata mereka dan menenggelamkannya. Benteng

pertahanan Tumenggung Surapati di Lambang mendapat serangan dari

Belanda dalam bulan Februari 1860. Serbuan yang kuat dari pasukan

Belanda menyebabkan Tumenggung Surapati meninggalkan benteng

tersebut.

Tumenggung Jalil yang mengadakan perlawanan di daerah Amuntai

dan Negara mendapat serangan dari pasukan Belanda dengan bantuan

Adipati Danureja, yang sejak semula setia kepada Belanda.Atas jasanya

dalam turut mengalahkan Tumenggung Jalil, Danureja dijadikan kepala

daerah Benua Lima. Nampaklah bahwa dalam perang ini Belanda

(51)

41

perlawanan.11 Kemudian Pangeran Hidayat yang condong kepada rakyat,

karena sikapnya ini maka ia kemudian diturunkan dari kedudukannya

sebagai Mangkubumi oleh Belanda. Desakan Belanda, melalui suratnya

yang tertanggal 7 Maret 1860 yang berisi permintaan supaya ia menyerah

dalam waktu 12 hari, telah mendapatkan jawaban tegas dari Pangeran bahwa

ia tidak akan menyerah. Dengan demikian ia dianggap benar-benar

memberontak terhadap Belanda.

Dengan kosongnya jabatan Sultan dan Mangkubumi dalam Kerajaan

Banjar, maka Kerajaan Banjar secara sepihak dihapuskan oleh pemerintah

Hindia Belanda pada tanggal 11 Juni 1860. Wilayahnya dimasukkan ke

dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Karena tindakan Belanda itu,

maka disamping perlawanan-perlawanan yang sedang berlagsung, di

daerah-daerah juga timbul perlawanan-perlawanan baru, seperti di daerah-daerah Hulu

Sungai, Tanah Laut, Barito, dan Kapuas Kahayan. Tempat-tempat seperti

Tembarang, Muning, Amawang, Gadung, dan Barabai dijadikan pusat-pusat

perlawanan untuk daerah Hulu Sungai, sedangkan di daerah Tanah Laut

pusat perlawanan terdapat antara lain di Riam Kiwa, Riam Kanan, dan

Tabanio.

Dengan meluasnya perlawanan rakyat ini pemerintah Hindia Belanda

di Banjar menghadapi kesulitan. Meluasnya pengaruh perlawanan di

kalangan rakyat diusahakan untuk dibatasi. Kepala-kepala daerah dan para

(52)

42

ulama diberi peringantan, agar mereka menunjukkan sikap setia kepada

pemerintah Belanda, dan agar mereka mengecam kaum pejuang. Peringatan

tersebut dikemukakan dengan disertai suatu ancaman yang berat bagi siapa

saja yang tidak mengindahkannya.

Kepala-kepala daerah dan para ulama menjadi cemas karena adanya

pengumuman tersebut. Namun kebanyakan dari mereka tidak mau

mengindahkan ancaman tersebut. Mereka melarikan diri dan bergabung

dengan para pejuang. Sementara itu Pangeran Hidayat melakukan

perlawanan dari daerah satu ke daerah lainnya bersama-sama dengan

orang-orang yang setia kepadanya.

Pada tanggal 16 Juni 1860 Pangeran Hidayat bertempur selama

seminggu di Ambawang, kemudian terpaksa mundur karena persenjataan

Belanda ternyata lebih kuat. Pasukan Pangeran Hidayat akhirnya sampai di

Wang Bangkal. Tidak lama di sini pasukan diserang oleh pasukan Belanda

pada tanggal 2 Juli. Pasukan yang datang ke Wang Bangkal ini berasal dari

posnya di Martapura. Dalam pertempuran ini pun Pangerah Hidayat terdesak

dan terpaksa mundur lagi. Selama dalam pengundurannya ini pasukannya

selalu mengadakan gangguan-gangguan terhadap pasukan-pasukan Belanda

berupa penyergapan secara gerliya. Mereka bertahan di tempat itu dan baru

tanggal 10 Juli pasukan Pangeran Hidayat pindah ke tempat lain setelah

(53)

43

Sementara di daerah lain pasukan Pangeran Antasari masih giat

melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda. Pada permulaan bulan

Agustus 1860 pasukan Antasari berada di Ringkau Katan, dan pada tanggal

9 Agustus terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda. Pasukan Belanda

berkekuatan 225 orang tentara bersenjata senapan berbayonet dan diperkuat

oleh 125 orang hukuman yang dipersenjatai serta 10 orang penembak

meriam. Dalam pertempuran itu pasukan Antasari dapat membunuh dan

melukai beberapa orang tentara Belanda dan kemudian Pangeran Antasari

bersama pasukannya mengundurkan diri dari Ringkau Katan. Kekalahan

Pangeran Antasari ini terutama karena datangnya bala bantuan Belanda yang

bergerak dari Amuntai melalui Awang menuju Ringkau Katan. Di Tameang

Layang kemudian didirikan pos penjagaan Belanda yang dimaksudkan untuk

menjaga kemungkinan masuknya kembali pasukan Antasari ke Ringkau

Katan.12

Gerakan cepat dari pasukan Pangeran Hidayat dari satu daerah ke

daerah lain cukup menyulitkan Belanda. Pasukan Pangeran Hidayat yang

berada di gunung Mandela dapat diketahui. Belanda mendatang

Referensi

Dokumen terkait

Masyarakat Banjar berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.Mereka bukan hanya dikenali sebagai sebuah masyarakat yang gemar merantau tetapi turut mempunyai

KOPERTIS Wilayah XI Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah, termasuk pengembangannya 7.. KOPERTIS Wilayah XII Ambon

orang pertama yang menerima Islam adalah mangkubumi Kerajaan Gowa yang juga menjabat sebagai Raja Tallo, bernama I Malingkang Daeng Manyonri (Sultan Abdullah

Kota Qandahar (sekarang termasuk wilayah Aghanistan) lepas dari kekuasaan kerajaan Safawi, diduduki oleh kerajaan Mughal yang ketika itu diperintah oleh Sultan Syah Jehan,

pernah memberikan 20000 ekor sapi kepada para Brahmana sebagai hadiah... • Wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara hampir meliputi seluruh wilayah Jawa Barat, dengan pusat

Kerajaan Vijayanagar yang memerintah seluruh wilayah India Selatan pada tahun 1343-1565 M membangun sejumlah kuil di ibukota Vijayangar dengan menggabungkan beberapa langgam yang

Sebelum kerajaan Banjar berdiri, para pendatang Melayu di Kalimantan Selatan telah bertemu dengan penduduk asli daerah ini, yaitu suku Dayak Bukit (pegunungan

Hp: 0896-9131-4553 ABSTRAK Urang Banjar Orang Banjar nama untuk yang mendiami daerah yang sekarang menjadi Provinsi Kalimantan Selatan, meskipun penduduk Kalimantan Selatan bukan