KERAJAAN BANJAR DAN PERANG BANJAR (1859-1905 M)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana dalam Program Strata Satu (S-1) Pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI)
Oleh: Nisa Ushulha NIM: A82212155
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
ABSTRAK
Skripsi ini membahas tentang “Kerajaan Banjar Dan Perang Banjar 1859-1905 M.” Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini meliputi, (1) bagaimana sejarah berdirinya Kerajaan Banjar? (2) bagaimana kondisi dan situasi Kerajaan Banjar masa terjadinya Perang Banjar? (3) apa dampak-dampak dari Perang Banjar bagi Kerajaan Banjar.
Penelitian dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah yang dapat mendeskripsikan dan menganalisis secara mendetail tentang Kerajaan Banjar masa Perang Banjar dengan menggunakan pendekatan
historis. Menggunakan teori konflik Karl Max, dalam teori
pengaplikasiannya yakni melihat manusia sebagai proses perkembangan yang menyudahi konflik melalui konflik yang terjadi dalam Kerajaan Banjar.
ABSTRACT
This thesis discusses “Kingdom Banjar and Banjarmasin wartime 1859-1905
M”. The problems discusse in the paper include, (1) how the history of the kingdom banjar? (2) how the condition and situational of the kingdom train future war banjar? (3) what the effect of war banjar for the kingdom of banjar.
In this study using methods of historical research to describe and analyze in detail about kingdom wartime banjar using a historical approach. Using conflict theory Karl Marx, in theory to apply that see humans as a developmental process to finish the conflict through conflict occurred in the kingdom banjar.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR... vii
PERSEMBAHAN ... viii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
TRANSLITERASI ... xii
BAB I: PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kegunaan Penelitian ... 7
E. Pendekatan dan Kerangka Teoritik... 7
F. Penelitian Terdahulu ... 8
G. Metode Penelitian ... 10
H. Sistematika Pembahasan ... 12
BAB II: KERAJAAN BANJAR DI BANJARMASIN... 15
A. Berdirinya Kerajaan Banjar... 15
B. Struktur Pemerintahan Kerajaan Banjar... 18
C. Perkembangan Kerajaan Banjar Sampai Masa Sultan Tamijidillah II ... 23
BAB III: KERAJAAN BANJAR PADA MASA PERANG BANJAR 33 A. Latar Belakang Perang Banjar ... 33
1. Faktor dari Luar Kerajaan Banjar ... 34
2. Faktor dari Dalam Kerajaan Banjar ... 36
B. Proses Jalannya Perang Banjar Terhadap Kolonial Belanda dalam Perebutan Kerajaan Banjar ... 38
1. Perlawanan Ofensif yang Berlangsung dalam Jangka Pendek (1859-1863 M) ... 39
2. Perlawanan Defensif yang Berlangsung dalam Jangka Panjang (1863-1905 M) ... 46
BAB IV: DAMPAK PERANG BANJAR TERHADAP KERAJAAN BANJAR... 51
B. Bidang Pendidikan ... 54
C. Bidang Sosial-Ekonomi ... 55
D. Bidang Budaya ... 57
BAB V: PENUTUP ... 61
A. Kesimpulan ... 61
B. Saran ... 63
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam sejarah Banjar pada perkembangan Kerajaan Banjar secara garis
besarnya ada tiga tahapan: Pertama, masa masuknya Islam, dimana Pangeran
Samudera beserta seluruh kerabat Kraton dan penduduk Banjar menyatakan diri
masuk Islam. Pangeran Samudera sendiri, setelah masuk Islam diberi nama
Sultan Suriansyah, yang dinobatkan sebagai Sultan pertama Kerajan Islam
Banjar. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1526 M.1Kedua, masa kejayaan
wilayah Kerajaan Banjar meliputi seluruh daerah Kalimantan Selatan dan kota
Waringin sampai ke pulau laut, terjadi sekitar abad 17 sampai akhir abad
ke-18. Ketiga, masa kemunduran yang terjadi pada abad ke-18 sampai abad ke-19.2
Sebelum Kerajaan Banjar mengalami masa kemunduran, Kerajaan Banjar
berkembang sebagai negara merdeka dan kerajaan maritim utama sampai dengan
akhir abad ke-18.3Perekonomian Kalimantan Selatan mengalami kemajuan yang
signifikan karena Banjarmasin dengan pelabuhan lautnya menjadi kota dagang
tradisional, ini yang menjadi penyangga utama perekonomian Kerajaan Banjar.
1Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2003), 221.
2
Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional IndonesiaIV(Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 52.
3
2
Kalimantan Selatan memiliki perairan yang strategis sebagai lalu lintas
perdagangan. Perdagangan di Banjarmasin pada permulaan abad ke-17
dimonopoli golongan Tionghoa. Kuatnya penarikan lada dari mereka untuk
perdagangan ke Tiongkok mengakibatkan penanaman lada di Banjarmasin
mengalami kemajuan,4 dan lagi pada abad ke-17 dominasi politiknya
berkembang ke Kalimantan Timur, kota Waringin di Kalimantan Tengah dan
Sambas di Kalimantan Barat. Orientasi perdagangannya ditunjukkan ke Jawa
Timur, Ujung Padang, Banten, Sumatera sampai dengan Aceh dan Siam.
Perdagangan Banjar berkembang dengan sangat pesat setelah Bandar
utama pantai Jawa Utara dikuasai Mataram dan banyak sekali pedagang Jawa
yang pindah untuk bermukim ke Banjar. Dorongan utama datang dari eksport
Lada Banjar yang merubah perdagangan lokalnya menjadi perdagangan dunia,
selain pedagang-pedagang Nusantara juga pedagang-pedagang Barat, seperti
Belanda, Inggris, Perancis, Portugis datang dan memilih untuk bermukim di
Banjar.Perdagangan dan segala macam monopolinya yang berkaitan dengan
kegiatan-kegiatan tersebut, membawa kekayaan dan kekayaan-kekayaan baru,
bahkan menimbulkan konsentrasi-konsentrasi kekuasaan yang baru.
Masuknya pengaruh-pengaruh asing dalam istana dipermudah akibat
konflik-konflik kepentingan kelompok dalam istana ini dengan segala macam
3
akibat yang ditimbulkannya,5 seperti yang terjadi pada abad ke-18 adanya
pertentangan di kalangan para bangsawan mengenai kedudukan Sultan, yaitu
antara Pangeran Nata dengan Pangeran Amir, untuk mempertahankan
kedudukannya Pangeran Nata meminta bantuan kepada Belanda. Kesempatan
baik ini tidak disia-siakan Belanda, dengan bantuan dari Belanda, akhirnya
Pangeran Amir dapat ditangkap dan dibuang ke Ceylon. Akan tetapi Pangeran
Nata sebagimana disebutkan dalam perjanjian tanggal 13 Agustus 1787, harus
menyerahkan sebagian wilayah kesultanan kepada Belanda seperti daerah Tanah
Bumbu, Pegatan, Kutai, Bulongan, dan Kotawaringin. Sedangkan wilayah lain
tetap dikuasai oleh Sultan tetapi sebagai wilayah pinjaman.6
Abad ke-19 kedudukan Kerajaan Banjar semakin terdesak, tambang batu
arang yang terdapat di tanah Kerajaan sangat diinginkan Belanda, untuk
mendapatkan konsensi ini, agar seluruh tanah tambang tersebut bisa dikuasai
Belanda, maka diangkatlah menjadi putera mahkota yang tidak disukai baik oleh
rakyat, para ulama dan kaum bangsawan yaitu pangeran Tamjidillah.7Di
kalangan rakyat sudah lama terpendam rasa tidak senang karena persoalan pajak
dan kerja wajib yang memberatkan. Pajak yang semakin berat ini berhubungan
dengan semakin kecilnya daerah kekuasaan kesultanan.
5
Idwar Saleh, Sek ilas Mengenai Daerah Banjar Dan Kebudayaan Sungainya Sampai Dengan Ak hir(Kalimantan Selatan: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1983), 14.
6
Poesponegoro, Sejarah Nasional IndonesiaIV, 218.
7
4
Penyempitan daerah Banjar dari waktu ke waktu berdasarkan perjanjian
dengan Belanda, berpangkal pada adanya hasil tertentu di daerah kesultanan yang
dapat diperdagangkan. Hasil tersebut yaitu lada, rotan, damar, emas, dan intan.
Hasil-hasil inilah yang membuat orang asing seperti Belanda dan Inggris datang
ke tempat ini. Rasa tidak senang dalam hal campurtangan Belanda dalam urusan
intern dimulai tahun 1851, yaitu ketika Mangkubumi meninggal dunia. Timbul
perbedaan pendapat mengenai penggantinya. Sultan Adam menginginkan Prabu
Anom, ia adalah putranya yang ke-4, sebagai pengganti, sedangkan Belanda
tidak menyetujui dan kemudian yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah
selain karena Pangeran Tamjidillah, ia adalah putra dari kakak Prabu Anom,
yaitu Raja Muda Abdurrakhman dengan Nyai Aminah, dan juga ia sangat
menghina agama Islam.
Pengangangkatan Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan menimbulkan
kekecewaan baik dikalangan bangsawan maupun dikalangan rakyat. Kekecewaan
itu disebabkan Pangeran Tamjidillah adalah anak Sultan Muda, Pangeran
Abdurrakhaman dengan Nyai Aminah, turunan Cina. Ia amat dibenci baik oleh
golongan kraton maupun rakyat. Kebiasaan mabuk menyebabkan ia dimusuhi
oleh golongan agama. Sedangkan Pangeran Hidayat adalah seorang yang
sebenarnya berhak atas tahta, karena sebelum ia lahir telah dijanjikan oleh Sultan
Sulaiman dan Sultan Adam untuk naik tahta sesuai perjanjian antara Sultan
berdua dengan Mangkubumi Nata ayah Ratu Siti sebelum ibu Pangeran Hidayat
5
Menurut tradisi, hanya Sultan yang ibunya seorang turunan yang boleh
naik tahta. Selain itu, Pangeran Hidayat mempunyai sifat yang baik, yaitu rendah
hati, ramah tamah dan karena itu dia disenangi oleh rakyat dan yang terakhir
adanya surat wasiat dari Sultan Adam bahwa dialah yang akan menggantikannya.
Kekecewaan dikalangan rakyat di Batang Balangan memperoleh saluran setelah
Penghulu Abdulgani dengan terang-terangan mengecam pengangkatan Pangeran
Tamjidillah, suatu pengangkatan seseorang yang tidak berhak menjadi raja
dipandang dari adat sebagai tanda kemerosotan Kerajaan. Mereka lebih menaruh
simpati kepada Pangeran Hidayat. Sebaliknya Belanda memandang
pengangkatan Pangeran Tamjidillah lah yang lebih menguntungkan bagi
pihaknya.
Kericuhan ini dijadikan Belanda untuk mencampuri urusan dalam
Kerajaan Banjar. kemudian datanglah Kolonel Andresen, utusan pemerintah
Belanda di Batavia, datang ke Banjarmasin untuk menyelidiki dari dekat apa
sebab-sebab kericuhan. Andresen kemudian berkesimpulan bahwa Pangeran
Tamjidillah yang tidak disenangi oleh rakyat adalah sumber dari kericuhan itu.
Kemudian Sultan Tamjidillah diturunkan dari tahta dan kekuasaan Kerajaan
Banjar diambil alih kekuasaan Kerajaan oleh pihak Belanda. Penentangan rakyat
terhadap Sultan Tamjidillah kemudian beralih kepada pemerintah Belanda.
6
mengambil kembali kekuasaan Kerajaan Banjar.8Politik inilah yang kemudian
menyebabkan pecahnya perang Banjardalam Kerajaan Banjar pada tahun
1859-1905 M.9
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Kerajaan Banjar?
2. Bagaimana situasi dan kondisi Kerajaan Banjar masa terjadinya Perang
Banjar?
3. Apa saja dampak dari berakhirnya Perang Banjar terhadap Kerajaan Banjar?
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai penelitian
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Sejarah Berdirirnya Kerajaan Banjar.
2. Untuk mengetahui situasi dan kondisi Kerajaan Banjar masa terjadinya
Perang Banjar.
3. Untuk mengetahui dampak dari Perang Banjar terhadap Kerajaan Banjar.
8Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia IV, 218.
9
7
D. Kegunaan Penelitian
Dengan memperhatikan hasil penelitian ini secara menyeluruh maka kita
akan padat mengambil maanfaat sebagai berikut:
1. Sumbangan literature Sejarah Perang Banjar bagi masyarakat ilmiah di UIN
Sunan Ampel Surabaya khususnya dan Indonesia pada umumnya.
2. Menambah khazanah ilmu penegetahuan tentang Kerajaan Banjar di
Banjarmasin masa Perang Banjar (1859-1905 M).
E. Pendekatan dan Kerangka Teori
Pembahasan dalam skripsi ini, penulis lebih menggunakan pada
pendekatan historis, yang mana pendekatan historis dimaksudkan adalah
memandang suatu peristiwa yang berhubungan dengan masa lampau.10Dengan
pendekatan ini penulis mengharapkan dapat mengungkapkan secara jelas tentang
Situasi dan Kondisi Kerajaan Banjar masa Perang Banjar (1859-1905 M). Hal ini
juga termasuk mengenai pada perlawanan masyarakat muslim melawan pihak
Belanda (Perang Banjar).
Selain pendekatan historis tersebut, dalam penulisan ini penulis
memakai teori konflik menurut Karl Marx. Konflik menurut Karl Marx adalah
melihat suatu manusia sebagai sebuah proses perkembangan yang akan
menyudahi konflik melalui konflik. Ia mengantisipasi bahwa kedamaian dan
10
8
harmoni akan menjadi hasil akhir sejarah perang dan revolusi kekerasan. Dengan
kekecualian masa-masa yang paling awal dari masyarakat, sebelum munculnya
hak milik pribadi, ciri utama hubungan-hubungan sosial adalah perjuangan
kelas.Karl Marx melihat konflik sosial lebih terjadi di antara
kelompok-kelompok atau kelas-kelas daripada diantara individu-individu.11Teori ini
diharapkan dapat mengungkapkan konflik-konflik yang ada didalam Kerajaan
Banjar masa Perang Banjar sehingga dapat diketahui situasi dan kondisi Kerajaan
Banjar selama masa Perang Banjar.
F. Penelitian Terdahulu
Tema Kerajaan Banjar Dan Perang Banjar, yang difokuskan pada
situasi dan kondisi Kerajaan Banjar pada masa perlawanan rakyat muslim Banjar
(Perang Banjar), sebagai objek penelitian ini betul-betul relevan, dan menarik.
Namun belum dikaji serta diteliti oleh penulis-penulis. Meski banyak penulis
temui beberapa literatur yang membahas tentang Sejarah Perang Banjar, di
antaranya:
1. Drs. M. Idwar Saleh dalam buku “Lukisan Perang Banjar (1859-1865)”.
Dalam buku ini menjabarkan tentang Sejarah Perang Banjar yang disebut
gerakan perlawanan semesta rakyat Banjar sampai pada masa kehancuran
atau keruntuhan Kerajaan Banjar Islam. Selain itu juga, buku ini juga
11 Tom Campbell, Tujuh Teori Sosial Sk etsa, Penilaian, Perbandingan(Yogyakarta: KANISIUS,1994),
9
memusatkan perhatiannya pada persoalan di kawasan Banjarmasin, yang
tentu saja membicarakan bagaimana perlawanan masyarakat muslim
Banjarmasin terhadap Belanda untuk merebut kembali kekuasaan di wilayah
asalnya sendiri yang mana Kerajaan Banjar itu sendiri telah lama dihapuskan
oleh Pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1860.
2. Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusantodalam buku
“Sejarah Nasional Indonesia IV”. Pada dasarnya, pembahasan dalam buku
ini mempunyai kesamaan atau tidak jauh beda dengan apa yang telah
dijelaskan dalam buku karangan Idwar Shaleh yang berjudul “Lukisan
Perang Banjar”. Hanya saja dalam buku karangan Idwar Shaleh ini lebih
luas dalam memberikan penguraian dan sekaligus membedah lebih detail
dan mendalam.
3. Dr. Badri Yatim, MA dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Peradaban
Islam Dirasah Islamiyah II”. Badri Yatim didalam bukunya memberikan
penjelasan tentang tumbuh dan berkembangnya Kerajaan Islam Banjarmasin
dan Perang Banjarmasin tetapi sangat sedikit atau bisa juga dikatakan hanya
secara garis besarnya saja. Karenanya, didalam buku ini tidak hanya
menjelaskan Sejarah Perang Banjar saja, tetapi membahas juga tentang
sejarah-sejarah lain.
4. Sartono Kartodirdjo dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Sejarah
Indonesia Baru 1500-1900”. Sartono Kartodirdjo didalam bukunya
10
kumpeni dan dididapati juga Perang Banjarmasin, didalam buku ini juga
tidak memfokuskan pembahasan itu saja, banyak juga sejarah
Kerajaan-kerajaan lainnya.
G. Metodologi Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini, metode yang digunakan oleh penulis adalah
metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah ini berfungsi untuk
mendeskripsikan dan menganalisis peristiwa masa lampau. Terdapat beberapa
tahap yang harus dilalui dalam metode penelitian sejarah, pengumpulan data
sebagai sumber (Heuristik), Verifikasi (kritik sejarah/keabsahan sumber),
interpretasi, historiografi.12 Aplikasi (penerapan) dari metode tersebut adalah
sebagai berikut:
Pertama, Pengumpulan data sebagai sumber. Pengumpulan sumber di
sini adalah pengumpulan sumber yang sesuai dengan jenis sejarah yang akan
ditulis. Untuk memperoleh sumber-sumber yang diperlukan dalam penulisan
skripsi ini, penulis mengumpulkan berbagai data yang ada hubungannya dengan
penulisan skripsi ini. Data penulisan ini diperoleh melalui sumber primer, yakni
mengambil data dari berbagai sumber yang ada hubungannya dengan “Kerajaan
Banjar Dan Perang Banjar (1859-1863 M)”. Sebuah sumber data yang nantinya
dihasilkan dalam penulisan karya ilmiah tersebut dapat diterima dan dapat
12
11
diertanggungjawabkan kebenarannya. Sumber primer yang dimaksud adalah
Hikajat Bandjar (Bahasa Inggris), silsilah raja-raja Banjar, cap Kerajaan
Banjarmasin, peta Kerajaan Banjar, fotocopy naskah proklamasi penghapusan
Kerajaan Banjar oleh Belanda dan foto-foto yang bersangkutan. Adapun sumber
sekunder yang mendukung dalam penelitian ini adalah sumber kepustakaan
(literatur) yang ada hubungnnya dengan Kerajaan Banjar pada masa Perang
Banjar tahun 1859-1905 M.
Kedua, Kritik: Verifikasi (kritik sejarah/keabsahan sumber), yaitu
untuk membuktikan apakah sumber-sumber tersebut memang yang dibutuhkan
atau tidak.13Dalam hal ini penulis tidak melakukan kritik terhadap sumber, baik
intern maupun ekstern karena tidak diketemukannya sumber primer dalam
penulisan skripsi ini, sehingga tidak memungkinkan penulis untuk melakukan
kritik. Untuk dapat menilai apakah sumber yang penulis peroleh memang yang
diperlukan atau tidak maka yang penulis lakukan adalah dengan validitas
eksternal yaitu dengan melakukan perbandingan antara satu sumber dengan
sumber yang lain.14Agar mendapatkan sumber yang betul-betul sesuai dan
diperlukan, karena tidak semua sumber yang penulis dapatkan tersebut sesuai
dengan kebutuhan penulis untuk menyusun skripsi ini.
Ketiga, Interpretasi atau penafsiran sejarah. Analisis seringkali disebut
juga dengan analisi sejarah. Analisis sejarah berarti menguraikan data-data
13
Nugroho Noto Susanto, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Jakarta: Yayasan Idayu, 1978), 36.
12
sejarah setelah datanya terkumpul kemudian dibandingkan lalu disimpulakan
untuk ditafsirkan. Analisis penulis yang digunakan untuk interpretasi adalah
analisis yang berusaha mendeskripsikan sesuatu secara obyektif dan sistematis
yang terdapat dalam isi tulisan. Dalam hal ini penulis mengaitkan data-data yang
penulis peroleh dengan pembahasan dalam judul skripsi ini. Untuk menganalisis
sumber-sumber sejarah yang penulis peroleh tersebut adalah dengan menyusun
dan mendaftar sumber sejarah yang diperoleh, selanjutnya penulis menganalisis
sumber-sumber tersebut sesuai dengan judul skripsi yaitu Kerajaan Banjar Dan
Perang Banjar (1859-1905 M )”.
Keempat, Historiografi yaitu penulisan, pemaparan atau pelaporan
hasil penelitian. Layaknya laporan-laporan penelitian ilmiah, penulis mencoba
menuangkan penelitian sejarah ke dalam satu karya proposal yang berjudul
“Kerajaan Banjar Dan Perang Banjar (1859-18905 M). Penulisan ini
diharapkan memberikan gambaran yang jelas mengenai proses peneletian dari
awal hingga akhir.
H. Sistematika Bahasan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis akan memberikan suatu
sistematikan pembahasan yang terdiri dari lima bab. Yang mana sistematika
pembahasan ini merupakan satu kesatuan yang utuh, sehingga dapat
13
memberikan kemudahan bagi pembaca untuk lebih paham pada penelitian ini. Ke
lima bab sistematika pembahasan tersebut adalah:
Bab I adalah babpendahuluan. Bab ini memuat tentang latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, pendekatan dan
kerangka teori, tinjauan penelitian terdahulu, bahan sumber, metode penelitian,
sistematika bahasan. Bab pertama ini merupakan pondasi bagi bab-bab
selanjutnya, karena pada bab pertama inilah segala hal yang berhubungan dengan
penulisan skripsi ini diatur.
Bab II membahas tentang Berdirinya Kerajaan Banjar di Banjarmasin.
Didalamnya akan membahas tetangsejarah berdirinya Kerajaan Banjar, wilayah
kekuasaan Kerajaan Banjar, struktur pemerintahan, dan periode pemerintahan
Sampai masa Pangeran Tamjidillah II.
Bab III akan diuraikan tentang latar belakang dan faktor-faktor dari dalam
dan luar Kerajaan Banjar atas terjadinya Perang Banjar dan proses jalannya
Perang Banjar terhadap kolonial Belanda dalam perebutan Kerajaan Banjar.
Bab IV berkaitan dengan pembahasan tersebut, maka mengetahui
kelanjutan dampak-dampak setelah berakhirnya Perang Banjar atas Kerajaan
Banjar.
Bab V akan diuraikan kesimpulan dari keseluruhan isi skripsi ini dari bab
satu sampai bab empat, di samping kesimpulan dalam bab ini juga akan diisi
14
Pada bagian akhir dari sekripsi ini memuat tentang daftar pustaka dan
BAB II
KERAJAAN BANJAR DI BANJARMASIN
A. Berdirinya Kerajaan Banjar Di Banjarmasin
Semula Kerajaan Banjar merupakan kelanjutan dari Kerajaan Daha yang
beragama Hindu. Pada akhir abad ke-15 Kalimantan Selatan masih dibawah
pimpinan Kerajaan Daha, yang pada saat itu dipimpin oleh Pangeran Sukarama,
ia mempunyai tiga orang anak yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran
Tumenggung, dan Putri Galuh. Peristiwa kelahiran Kerajaan Banjar bermula dari
konflik yang dimulai ketika terjadi pertentangan dalam keluarga istana.Konflik
terjadi antara Pangeran Samudera dengan pamannya Pamengaran Tumenggung,
yang mana Pangeran Samudera adalah pewaris sah Kerajaan Daha.1
Dikisahkan dalam Hikayat Banjar, ketika raja Kerajaan Daha yaitu Raja
Sukarama merasa sudah hampir tiba ajalnya, ia berwasiat agar yang
menggantikannya nanti adalah cucunya Raden Samudera. Mengetahui keputusan
ayahnya ini tentu saja keempat puteranya tidak menyetujuinya, terlebih Pangeran
Tumenggung yang sangat berambisi terhadap kekuasaan Kerajaan Daha, setelah
Pangeran Sukarama meninggal, jabatan raja dipegang ole anak tertuanya yaitu
1
16
Pangeran Mangkubumi. Karena pada saat itu Pangeran Samudera masih berumur
7 tahun.
Pangeran Mangkubumi tidak lama berkuasa, ia dibunuh oleh seorang
pegawai istana, ia berhasil dahasut oleh Pangeran Tumenggung. Dengan
meninggalnya Pangeran Mangkubumi maka Pangeran Tumenggunglah yang
menggantikannya sebagai raja Kerajaan Daha.2 Pada saat itu, Pangeran Samudera
menjadi musuh besar Pangeran Tumenggung, oleh karena itu Pangeran
Samudera memilih untuk meninggalkan istana dan menyamar menjadi nelayan di
Pelabuhan Banjar, namun keberadannya diketahui oleh diketahui oleh Patih
Masih, yang menguasai Bandar. Karena tidak mau daerahnya mengantar upeti ke
Daha kepada Pangeran Tumenggung, maka Patih Masih mengangkat Pangeran
Samudera sebagai Raja.3
Dalam sejarah Daha, tersebutlah seorang perdana mentri yang cakap,
bernama Patih Masih, walau tak sebesar Patih Gajah Mada, ia mampu
mengendalikan pemerintahan dengan teratur dan maju. Patih ini banyak bergaul
dengan Mubaligh Islam yang datang dari Tuban dan Gresik, dari para Mubaligh
inilah ia mendengar kisah tentang Wali Songo dalam mengemban Kerajaan
Demak dan dalam membangun masyarakat yang adil dan makmur. Bagi Patih
Masih, kisah tersebut sangat mengagumkan, seiring berjalannya waktu, dari
2
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 1997), 386.
3Harun Yahya, Kerajaan Islam Nusantara: Abad XVI Dan XVII (Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera,
17
pergaulannya ini, ia akhirnya memeluk agama Islam.4 Atas bantuan Patih Masih
Pangeran Samudera dapat menghimpun kekuatan perlawanan dan memulai
menyerang Pangeran Tumenggung. Dimulainya dalam serangan pertamanya
Pangeran Samudera berhasil menguasai Muara Bahan, sebuah pelabuhan
strategis yang sering dikunjungi para pedagang luar, seperti utara Jawa, Gujarat,
dan Malaka.
Peperangan terus berlangsung, Patih Masih mengusulkan kepada
Pangeran Samudera untuk meminta bantuan kepada Kerajaan Demak. Sultan
Demak bersedia membantu pada waktu itu Sultan Kerajaan Demak adalah Sultan
Trenggono. Tetapi dalam itu Sultan Demak memberikan dengan syarat agar
Pangeran Samudera masuk Islam.Sultan Demak kemudian mengirimkan bantuan
seribu orang tentara beserta dan seorang penghulu bernama Khatib Dayan untuk
mengislamkan Pangeran Samudera beserta seluruh masyarakat Banjar.5
Dalam peperangan dan atas bantuan itu, Pangeran Samudera
memperoleh kemenangan dan sesuai dengan janjinya, ia beserta seluruh kerabat
kraton dan rakyat Banjar untuk menyatakan diri masuk Islam.6 Setelah masuk
Islam pada tahun 1526 M, seketika itu Kerajaan Daha berubah menjadi Kerajaan
Islam Banjar dan Pangeran Samudera pun diberi gelar Sultan Suryanullah atau
4 Zuhri, Sejarah Kebangk itan Islam dan Perk embangannya di Indonesia, 392. 5 Ibid.,220.
18
Sultan Suriansyah, yang dinobatkan sebagai raja pertama dalam Kerajaan Islam
Banjar.7
B. Struktur Pemerintahan Kerajaan Banjar
Kepemimpinan, struktur kekuasaan dan kekayaan menjadi saling
berhubungan erat satu sama lain didalam Kerajaan Banjar.8 Sultan Suriansyah
merupakan raja pertama dari Kerajaan Banjar dan raja pertama yang memeluk
agama Islam, setelah merebut kembali kekuasaan yang menjadi haknya dari
Pangeran Tumenggung. Agama Islam merupakan agama resmi Kerajaan dan
menempatkan kedudukan para ulama pada tempat yang terhormat dalam
Kerajaan, tetapi selama berabad-abad lamanya hukum-hukum Islam tidak
diutamakan dan belum melembaga dalam pemerintahan karena pada saat itu
belum ada ulama yang mendampinginya. Setelah Sultan Tahmidullah II berkuasa
pada tahun 1761-1801 M, barulah hukum Islam itu melembaga di Kerajaan
Banjar dengan didampingi oleh Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, salah
seorang ulama besar yang telah berhasil membina masyarakat Banjar untuk
mengamalkan ajaran Islam.9
Peristiwa ini menimbulkan terjadinya perubahan dalam pemerintahan,
terutama setelah Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari datang dari Mekah dan
7 Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, 220.
8 Idwar Saleh, Sejarah Daerah Kalimantan Selatan (Kalimantan Selatan: Proyek Penelitian dan
Pencatatan Kebudayaan Daerah Kalimanta Selatan, 1977), 34.
9
19
tiba di Martapura pada tahun 1772 M.10 Ia sangat disegani oleh Sultan karena
kedalaman ilmunya. Kitab Sabilul Muhtadin“ seorang raja yang amat besar
fahamnya dan memiliki kecerdikan dan memperbaiki segala pekerjaan agama
dan pekerjaan dunia”. Sedangkan Sultan sendiri ketika akan meninggal dunia
berwasiat kepada keturunannya bahwa: “Syeikh Muhammad Arsyad adalah
seorang sahabatku dan dia pila seorang guruku, maka aku wasiatkan kepada
anak cucuku turun temurun janganlah durhaka kepadanya dan anak cucu serta
zuriatnya, jika durhaka tidaklah ia selamat”. Hubungan sultan ini diperkuat lagi
dengan ikatan perkawinan, ketika Sultan mengawinkan Syeikh Muhammad
Arsyad dengan cucunya Ratu Aminah binti Pangeran Thoha bin Sultan
Tahmidillah.11
Dengan kedatangan Syeikh al-Banjari, perlahan-lahan membawa
perbaikan dalam bidang pengadilan. Syeikh Al-Banjari juga mengusulkan kepada
Sultan untuk membentuk Mahkama Syari’ah dan disetujui Sultan, yakni suatu
lembaga pengadilan agama, yang dipimpin seorang mufti sebagai ketua hakim
tertinggi pengawas pengadilan umum dan Qadhi bertugas mengurusi masalah
hukum waris, pembagian harta dan urusan Mu’amalat (jual-beli). Dengan
kepastian hukum Islam yang diterapkan dalam Kerajaan, segala urusan dalam
10
Azzumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII
(Bandung: Mizan, 1994), 252.
11Abu Daudi, Maulana Syeik h Muhammad Arsyad al-Banjari (Kalimantan Selatan: Sekretariat
20
masyarakat dapat diselesaikan dalam pengadilan agama yang mendapat
legitimasi dari Kerajaan.12
Hukum Islam dijadikan hukum pemerintahan sebagai sumber pokok
dalam membuat undang-undang dan peraturan yang berdasarkan Al-qur’an dan
Hadist.Hukum yang berlaku berdasarkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mazhab
Syafi’i. Jabatan Qadi pertama yang diangkat Sultan ialah cucu Syeikh
Muhammad Arsyad, ia adalah Muhammad As’ad. Disamping mengajar pada
lembaga pesantren di dalam pagar Martapura untuk mendidik para da’i, beliau
juga banyak mengarang bermacam-macam kitab sebagai penuntun bagi umat
Islam. Karangan itu antara lain ialah:
1. Ushuluddin, yang berisi sifat-sifat Tuhan semacam pelajaran Sifat Dua
Puluh yang umum sekarang.
2. Luqthatul ‘Ajlam, berkenaan dengan sifat perempuan yang mengalami masa
haid yang bertalian dengan masalah ibadah.
3. Kitab Faraidh, yang berhubungan dengan masalah warisan dan cara
pembagiannya.
4. Kitabunnikah, berisi tentang pengertian tentang wali dan bagaimana cara
akad-nikah.
12
21
5. Kitab Tuhfaturraghibien, berisi penjelasan menurut para Ahlussunahwal
Jamaah untuk menghapus kebiasaan yang menyebabkan orang tergelincir
kearah syirik dan murtad.
6. Qaulul Mukhtashar, berisi tentang penjelasan tanda-tanda akhir zaman dan
tanda-tanda datangnya Imam Mahdi.
7. Kitab Kanzu Ma’rifah kitab yang membahas masalah tasawuf.
8. Sabilul Muhtadin Lit-Tafaqquh Fi Amriedien, Kitab Fiqih dalam bahasa
Melayu, huruf Arab yang sangat mendalam disertai berbagai
masalah-masalah sulit.
Kitab Sabilal Muhtadin, ditulis atas permintaan Sultan Tahmidullah
(Pangeran Nata Dilaga) bin Sultan Tamjidillah. Kitab tersebut ditulis pada tahun
1193 H dan selesai pada tahun 1195 H (1779-1780 M), baru dicek untuk pertama
kali dengan serempak pada tahun 1300 H (1882 M) di Mekkah, Istambul dan
Kairo. Kitab ini sangat terkenal diseluruh Asia Tenggara seperti Filipina,
Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Brunai Darussalam, Kampuchea,
Vietnam, dan Laos, karena kaum muslimin di daerah-daerah tersebut masih
menggunakan bahasa melayu.13
Kedudukan agama Islam sebagai agama Negara terlihat dengan jelas
pada masa pemerintahan Sultan Adam Al-Wasik Billah yang memerintah pada
13 M Arsyad al-Banjari, Kitab Sabial Muhtadin, terj. M Asywadie Syukur(Surabaya: PT Bina Ilmu,
22
tahun 1825-1857 M, ia mendapatkan gelar Sultan Muda sejak tahun 1782. Ia
mengeluarkan Undang-Undang Negara pada tahun 1835 yang kemudian dikenal
sebagai Undang-Undang Sultan Adam, yang mana dalam Undang-Undang
tersebut terlihat jelas bahwa sumber hukum yang dipergunakan adalah hukum
Islam.14 Oleh karena itu, Kerajaan Banjar disebut sebagai Kerajaan Islam, dan
oleh karena itu pulalah orang Banjar dikenal sebagai orang yang beragama Islam.
Dari sudut pandang Islam, otoritas sultan berasal dari perannya sebagai
pelaksana hukum Islam (Syari’ah). Menurut teori tentang pemerintahan, sultan
bertanggung jawab kepada syari’ah, sedangkan rakyat bertanggung jawab
kepadanya. Bahkan sebuah pemerintahan yang dikelilingi kekuatan militer
dipandang sebagi pemerintahan yang sah sepanjang ia menghormati kekuatan
syari’ah dan menghargai interes komunitas muslim yang mendasar.15
Pergantian kepemimpinan di Kerajaan Banjar terkadang banyak
menimbulkan kekacauan untuk memperebutkan dan merampas kekuasaan mulai
dari adu kekuatan militer sampai membunuh di antara pangeran dan
menyebabkan perang saudara. Hal tersebut dikarenakan cara pergantian
kepemimpinan berdasarkan keturunan. Seorang sultan yang masih berkuasa bisa
menetapkan salah satu putranya yang bakal menggantikannya dengan
memberinya dalam perjuangan memperebutkan kekuasaan. Tetapi hal itu tidak
14 Undang-Undang Negara, Undang-Undang Sultan Adam, 1835.
23
selalu terjadi pada Kerajaan Banjar ini, pengganti Sultan yang juga bisa berasal
dari keluarga terdekat seperti cucunya.
C. Perkembangan Kerajaan Sampai Masa Sultan Tamjidillah
Sejak masa Sultan Suriansyah hingga masa pemerintahan Sultan
Tamjidillah Kerajaan Banjar mengalami begitu banyak konflik. Kerajaan Banjar
berkembang sampai akhir abad ke-18. Banjarmasin sebagai ibukota Kerajaan
Banjar mulai berkembang menjadi bandar perdagangan yang besar. Para
pedagang dari berbagai suku datang ke Banjarmasin untuk mencari berbagai
barang dagangan seperti lada hitam, rotan, dammar, emas, intan, madu, dan kulit
binatang.16
Khususnya lada hitam, komoditi yang satu ini menjadi primadona dalam
perdagangan internasional, selain berfungsi sebagai bandar perdagangan,
penduduk di Banjarmasin juga banyak yang berstatus sebagai pedagang. Mereka
juga melakukan perdagangan sampai ke Pulau Jawa, tepatnya ke pelabuhan
Banten. Lewat perdagangan tersebut, informasi tentang bandar perdagangan di
Banjarmasin terdengar sampai ke telinga orang Belanda. Kontak awal antara
pedagang Banjar dengan Belanda terjadi sekitar tahun 1596 M, ketika orang
Banjar berdagang ke Banten. Dari sinilah Belanda tahu bahwa di Banjarmasin
16 Suriansyah Ideham, Urang Banjar dan Kebudayaannya (Banjarmasin: Badan Penelitian dan
24
terdapat komoditi lada hitam yang mempunyai nilai ekonomi tinggi di pasaran
internasional.
Pertemuan dengan para pedagang Banjar tersebut kemudian berlanjut
dengan pengiriman ekspedisi oleh Belanda ke Kesultanan Banjar pada tahun
1603 M, di bawah pimpinan Admiral van Wouwijck. Tujuan pengiriman
ekspedisi tersebut adalah untuk menjalin hubungan perdagangan antara Belanda
dan Sultan Mustain Billah. Puncak kejayaan Kerajaan Banjar terjadi di masa
Sultan Mustain Billah, ia menggantikan ayahnya setelah ayahnya meninggal
dunia, yaitu Sultan Hidayatullah. Pada masa ini, lada menjadi komoditas
perdagangan utama di Kesultanan Banjar.
Pada tanggal 14 Februari 1606, Belanda kembali mengirimkan ekspedisi
ke Kesultanan Banjar, tetapi ekspedisi kedua ini gagal karena semua orang
Belanda yang turut dalam ekspedisi kali ini dibunuh oleh Orang Banjar.
Terbunuhnya orang-orang Belanda oleh Orang Banjar membuat Belanda
semakin berambisi untuk memaksakan hubungan dagang, bahkan jika perlu
menguasai Kerajaan Banjar. Maka dikirimlah ekspedisi ketiga pada tahun 1612
M. Ekspedisi kali ini diperkuat dengan pengiriman kapal perang, yaitu de
Hzewind, de Brack, de Halve Maan, dan Klein van de Veer. Akibat serbuan
Belanda, Sultan Mustain Billah terpaksa memindahkan pusat pemerintahan ke
Martapura. Upaya Belanda untuk menjalin hubungan dagang dengan Kerajaan
25
Sekitar tahun 1635 M, Belanda memaksa Sultan Ratu Agung bin
Marhum Panembahan yang bergelar Sultan Inayatullah untuk menandatangani
perjanjian monopoli lada hitam dengan harga yang ditetapkan oleh Belanda.
Perjanjian tersebut tidak berjalan lancar karena pada tahun 1638 orang-orang
Belanda dibunuh dan kapal-kapal perangnya ditenggelamkan oleh orang
Banjar.17Sulitnya menjalin hubungan dengan Kerajaan Banjar membuat Belanda
bersiasat untuk menunggu tanpa mengurangi gairahnya untuk menguasai
perdagangan lada hitan di Kerajaan Banjar. Siasat Belanda ini menemukan waktu
yang tepat ketika terjadi perebutan tahta kepemimpinan di Kerajaan Banjar,
antara Pangeran Muhammad Aminullah, anak dari Sultan Kuning dengan
Hamidullah, adik dari Sultan Kuning.
Perebutan kekuasaan diawali ketika Sultan Kuning meninggal pada
tahun 1734 M dengan meninggalkan seorang putra yang masih berusia 5 tahun
bernama Muhammad Aminullah. Sebagai pengganti Sultan sementara, ditunjuk
adik Sultan Kuning bernama Hamidullah, yang setelah diangkat bergelar Sultan
Tamjidillah I.18 Setelah Muhammad Aminullah dewasa dan meminta hak atas
tahta kekuasaan Kerajaan Banjar, ternyata Sultan Tamjidillah I tidak memberikan
hak tersebut kepada Muhammad Aminullah. Ia bahkan hanya diberikan jabatan
mangkubumi dan dikawinkan dengan putri sulung Sultan Tamjidillah I.
17
Ibid., 21.
18 Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500 -1900 Jilid I (Jakarta:PT Gramedia
26
Belanda yang sejak awal berniat untuk menanamkan pengaruh di
Kerajaan Banjar melihat peluang untuk mendekati salah satu pihak dalam
perebutan kekuasaan. Belanda akhirnya mendekati Sultan Tamjidillah I. Berkat
bantuan Belanda, Muhammad Aminullah terus dipojokkan dengan cara ditahan
di istana. Tetapi pada tahun 1753 M, Muhammad Aminullah berhasil melarikan
diri ke Tabanio, suatu daerah yang terletak di Tanah Laut, ujung Selatan dari
Kalimantan Selatan yang menghadap ke barat laut Jawa. Ditempat tersebut
Muhammad Aminullah bekerjasama denga beberapa bajak laut dan membangun
markas perlawanan dengan tujuan awal untuk mengacaukan jalur perdagangan
dari dan menuju ke Kerajaan Banjar. Sebagai balasan atas jasanya dalam
mendesak Muhammad Aminullah untuk keluar dari istana, Belanda memaksa
Sultan Tamjidillah I untuk menandatangani perjanjian perdagangan lada hitam
pada tahun 1747 M dan member izin untuk mendirikan kota di Tabanio.
Belanda yang telah menanamkan pengaruh di Kerajaan Banjar, melalui
siasat politiknya, Belanda juga menjalin hubungan dengan Muhammad
Aminullah yang telah bergabung dengan komplotan bajak laut di Tabanio.
Belanda melihat kekuatan kelompok Muhammad Aminullah untuk memotong
jalur perdagangan di Kerajaan Banjar mempunyai akibat yang cukup besar. Maka
akan berimbas pada salah satu rencananya untuk menguasai lada hitam bisa
menjadi kacau, jika terus menerus mendapat gangguan dari Muhammad
Aminullah. Inilah alasan Belanda untuk mendekati Muhammad Aminullah.
27
kembali meminta haknya sebagai pewaris tahta Kerajaan Banjar. Namun sikap
Belanda dengan memihak kedua kubu dibuktikan ketika Belanda yang diwakili
oleh J.A. Paraficini membuat surat perjanjian dengan Sultan Tamjidillah I pada
tanggal 20 Oktober 1756.
Seminggu kemudian, tepatnya tanggal 27 Oktober 1756, Parficini juga
membuat perjanjian dengan Muhammad Aminullah di Tabanio tepatnya
Kayutangi, Tatas. Dalam pernyataannya, Paracifini menjanjikan kepada Sultan
Tamjidillah I bahwa Belanda akan cenderung memberikan dukungan dan
bantuan kepada Sultan Tamjidillah I. Tetapi pada kesempatan lain, Paraficini
juga memberikan pernyataan yang sama kepada Muhammad Aminullah. Siasat
Belanda yang disadari oleh kekhawatiran atas kekuatan Muhammad Aminullah,
ternnyata menemukan jawaban. Dengan laskar yang sangat besar, Muhammad
Aminullah menyerang Sultan Tamjidillah I pada tanggal 2 Agustus 1759.Atas
dasar inilah, Sultan Tamjidillah terpaksa menyerahkan tahta Kerajaan Banjar
kepada Muhammad Aminullah yang akhirnya dijadikanlah sebagai Sultan pada
tanggal 3 Agustus 1759.
Masa pemerintahan Sultan Muhammad Aminullah berlangsung sangat
singkat karena beliau meninggal dunia. Sebagaimana halnya denganayahnya,
Sultan Kuning, di akhir hayatnya Sultan Muhammad Aminullah juga
meninggalkan dua orang putra yang masih kecil,19 bernama Pangeran Abdullah
19 Bayu Widiyatmoko, Kronik Peralihan Nusantara Liga Raja-Raja Hingga Kolonial (Yogyakarta: PT
28
dan Pangeran Amir. Dengan alasan yang sama, belum cukup umur untuk
menjabat sebagai Sultan Kerajaan Banjar, maka jabatan Wali Sultan di Kerajaan
Banjar untuk sementarabdiserahkan kepada Pangeran Nata Dilaga, anak dari
Sultan Tamjidillah I, yang bergelar Sultan Tahmidillah seperti ayahnya, seperti
ayahnya Sultan Tahmidillah II juga memutuskan secara sepihak dengan
menyatakan bahwa pengganti dirinya kelak sebagai Sultan di Kerajaan Banjar
bukan Pangeran Abdullah atau Pangeran Amir, melainkan putranya yang
bernama Sulaiman Saidullah. Pernyataan itu disampaikan oleh Sultan
Tahmidillah II sepelas melaksanakan sembahyang Jumat pada bulan Januari
1767 M. Dengan pernyataan tersebut, maka peluang bagi Pangeran Abdullah
maupun Pangeran Amir untuk menduduki tahta di Kerajaan Banjar telah ditutup.
Pada usia sekita 18 tahun pada tahun 1772 M, bersama seorang Belanda
W.A. Palm, Pangeran Abdullah berencana untuk merebut kembali tahta Kerajaan
Banjar. Perencanaan tersebut ternyata memerlukan waktu yang cukup lama
sampai akhirnya siap untuk dijalankan. Akan tetapi rencana penyerbuan ke
Kerajaan Banjar ternyata telah diketahui oleh Sultan Tahmidillah II, dengan
berpura-pura mengundang jamuan makan malam, Pangeran Abdullah diracun,
dicekik, dan dibunuh oleh kaki orang suruhan Sultan Tahmidillah II. Kejadian ini
berlangsung pada tanggal 16 Maret 1772.
Pembunuhan terhadap Pangeran Abdullah ternyata berimbas langsung
kepada Pangeran Amir. Atas dasar kebijakan agar tidak mengobarkan
29
Pangeran Amir untuk meninggalkan Kerajaan Banjar. Pada tahun 1782 M,
Pangeran Amir meninggalkan Banjarmasin menuju ke daerah yang bernama
Pasir, daerah tersebut terdapat paman beliau, seorang keturunan Bugis bernama
Arung Torawe.
Arung Torawe adalah saudara dari ibu Pangeran Amir yang merupakan
seorang putri Bugis. Pangeran Amir menyusun kekuatan di Pasir dengan Arung
Torawe untuk merebut kembali tahta Kerajaan Banjar. Rencana untuk
menyerang Kerajaan Banjar akhirnya dilaksanakan pada bulan Oktober 1785 M.
pasukan Pangeran Amir dan Arung Torawe yang terdiri dari sekurangnya 60
kapal mendarat di Tabanio dan mulai merebut benteng-benteng yang termasuk ke
dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Banjar.
Di sisi lain, kekuatan Kerajaan Banjar mulai bertambah karena
mendapat bantuan dari Belanda. Gabungan kekuatan antara Sultan Tahmidillah II
dan Belanda pada akhirnya berhasil mematahkan perlawanan yang dilakukan
oleh orang-orang Bugis dan Pangeran Amir dalam suatu perang pada tanggal 14
Maret 1786. Pangeran Amir akhirnya dikalahkan, ditangkap dan diasingkan ke
Ceylon, Srilanka pada tahun 1789 M.20 Setelah perang, Belanda meminta
sejumlah kompensasi kepada Sultan Tahmidillah berupa lada, emas, permata,
serta izin untuk mendirikan kantor di Tabanio, Hulu sungai, Pulau Kaget dan
Tatas.
30
Pernjanjian antara Kerajaan Banjar yang diwakili oleh Sultan
Tahmidillah II dan Belanda yang diwakili oleh Kapten Christoffel Hoffman
ditandatangani pada tanggal 13 Agustus 1787. Dalam perjanjian itu, salah satu
poin penting yang menunjukkan bahwa Belanda telah menanamkan pengaruh
yang kuat di Kerajaan Banjar adalah pengalihan kedaulatan atas Kerajaan Banjar
kepada Belanda dan penyerahan bagian-bagian penting dari Kerajaan Banjar
kepada Belanda yang kemudian menjadi wilayah milik Belanda.21 Daerah
tersebut, menurut Pasal 6 perjanjian 13 Agustus 1787, membentang dari pantai
Timur Kalimantan ke Barat, termasuk Pasir, Pulau Laut, Tabanio, Mendawai,
Sampit, Pembuang, dan Kota Waringin dengan lingkungan sekitar dan daerah
taklukannya, serta sebagian dari desa Tatas.22
Pada tahu 1801 M, Sultan Tahmidillah II meninggal dunia. Sebagi
pengganti kedudukan Sultan Tahmidillah II, pada tahun 1801, adalah putra beliau
bernama Sulaiman Saidullah, dijadikanlah sebagai Sultan di Kerajaan Banjar
dengan gelar Sultan Suleman Almutamidullah bin Sultan Tahmidullah II tahun
1801-1825 M. Pada tahun 1825 M, Sultan Suleman mengundurkan diri sebagai
Sultan Kerajaan Banjar, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Adam
Al-Wasik Billah tahun 1825-1857 M. Pada masa pemerintahannya Sultan Adam
Al-Wasik Billah, dikeluarkan sebuah undang-undang Negara pada tahun 1835 M,
31
yang dikenal sebagai Undang-undang Sultan Adam.23 Oleh karena itulah
Kerajaan Banjar disebut sebagai Kerajaan Islam Banjar dan penduduk Banjar
dikenal sebagi orang yang beragama Islam.
Akar permasalah perlawanan terhadap Belanda dimulai dari perbutan
tahta Kerajaan Banjar. Perebutan diawali dari meninggalnya putra mahkota
Kerajaan Banjar yaitu Sultan Muda Abdurrahman pada tahun 1852 M.
Meninggalnya putra makhota meninggalkan bibit-bibit perpecahan di Kerajaan
Banjar. Pihak-pihak yang bertikai terbagi menjadi tiga kelompok: Pertama,
Pangeran Tamjidillah yang mempunyai kedekatan dengan Belanda. Beliau
adalah anak dari hasil perkawinan anatara Sultan Muda Abdurrahman dengan
seorang selir bernama Nyai Besar Aminah. Kedua, Pangeran Hidayatullah yang
mempunyai kedekatan dengan rakyat di Kerajaan Banjar. Beliau adalah anak dari
hasil perkawinan kedua Sultan Muda Abdurrahman dengan permaisuri Ratu Siti,
putri Mangkubumi Nata. Perkawinan pertama Sultan Muda Abdurrahman dengan
permaisuri Ratu Antasari, saudara perempuan Pangeran Antasari, tidak
menghasilkan putra. Dan ketiga, Pangeran Prabu Anom, adik dari Sultan Muda
Abdurrahman yang mempunyai kedekatan birokrasi istana.
Dari ketiga kelompok tersebut, Pangeran Tamjidillah mempunyai
kedudukan yang menguntungkan karena kedekatannya dengan Belanda. Hal ini
dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Pangeran Tamjidillah untuk menguatkan
posisinya dalam menduduki jabatan Sultan di Kerajaan Banjar. Di sisi lain,
32
Belanda juga mempunyai kepentingan di Kerajaan Banjar, dengan diangkatnya
Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan, maka secara langsung kepentingan dan
pengaruh Belanda di Kerajaan Banjar akan terjamin. Sikap Belanda dibuktikan
dengan pengangkatan secara sepihak Pangeran Tamjidillah sebagai putra
mahkota pada tanggal 8 Agustus 1825. Sementara itu, pada tanggal 9 Oktober
1856, Pangeran Hidayatullah diangkat sebagai Mangkubumi.
Pada tanggal 1 November 1857, Sultan Adam Al-Wasik Billah
meninggal dunia. Pada tanggal 3 November 1857 secara sepihak Belanda
mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan di Kerajaan Banjar dengan
gelar Sultan Tamjidillah II. Disisi lain, untuk menghindari perebutan tahta,
Belanda menangkap Pangeran Anom dan membuangnya ke Jawa. Terpilihnya
Sultan Tamjidillah II tidak secara langsung bisa meredakan ketegangan seputar
perebutan tahta. Kedekatan dengan Belanda diartikan sebagai keberpihakan
secara total Kerajaan Banjar kepada kekuasaan Belanda. Selain itu Sultan
Tamjidillah II merupukan anak dari seorang selir yang menurut tradisi Kerajaan
Banjar, tidak berhak untuk diangkat sebagai putra mahkota, terlebih lagi menjadi
Sultan.Hal inilah yang menimbulkan perpecahan di antara pihak Sultan, birokrasi
istana khususnya Pangeran Hidayatullah, dan rakyat.24
24
BAB III
KERAJAAN BANJAR PADA MASA PERANG BANJAR
A. Latar Belakang Perang Banjar
Pada pertengahan abad ke-19 pecahlah perang Banjar yang terjadi di
wilayah Kerajaan Banjar. Perang ini merupakan gerakan perlawanan semesta
dari rakyat Banjar melawan musuh babuyutannya, yaitu imperialis Belanda.
Rakyat disini yang dimaksud adalah sebagian besar bubuhan1 raja-raja Banjar,
golongan bangsawan, golongan ulama, golongan tetuha masyarakat dan para
petani yang mendiami daerah Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan.
Dalam Kerajaan Banjar dahulu hingga sekarang ada tiga jenis golongan
orang Banjar, yaitu:
1. Orang Banjar Kuala yang tinggal di daerah Banjarmasin sampai Martapura.
2. Orang Banjar Batang Banyu yang tinggal di daerah sungai Tabalong dari
Margasari sampai Kelua.
3. Orang Banjar Pahuluan yang mendiami daerah luar Martapura arah ke Utara
sampai dengan Tanjung.
Perang Banjar disebut gerakan perlawanan semesta rakyat Banjar, karena
dalam waktu yang singkat telah meliputi daerah perlawanan yang lebih luas dari
34
daerah Kerajaan Banjar sendiri, yaitu daerah Barito (Muara Teweh) di Utara
sampai Tabonia di Selatan, pulau Petak disebelah Barat (dekat Kuala Kapuas)
sampai Sebuhur di sebelah Timur. Perang ini berlangsung dari tahun 1859-1865
M. Perlawanan rakyat masih tetap berlangsung walaupun terputus-putus dan baru
selesai pada tahun 1905 M setelah kekuasaan Pagustian di Menawing habis dan
Sultan Muhammad Seman meninggal dunia dalam pertempuran itu. Kerajaan
Banjar sendiri telah dihapus sepihak oleh Belanda pada tahun 1860 M.2
1. Faktor-Faktor dari luar Kerajaan Banjar
Abad ke-19 adalah abad kolonialisme dan imperialisme modern. Hal
ini terjadi akibat revolusi industri yang berkembang pesat setelah
ditemukannya teknologi baru yaitu mesin uap pada kapal api, kereta api dan
pabrik-pabrik yang menggunakan mesin uap, cepat merubah keadaan dunia.
Sebagian daerah kapal-kapal Belanda yang berlayar ke Indonesia atau
berlayar interkontinental saja, baik kapal-kapal perang Pemerintah Hindia
Belanda maupun kapal dagang sipilnya, memerlukan batu bara untuk bahan
bakar mesinnya. Batubara itu di import dari Eropa dan biayanya mahal.
Kemudian Belanda mengetahui bahwa di wilyah Kerajaan Banjar terdapat
batubara yang ditambang oleh rakyat secara tradisional. Kerajaan Banjar
sejak tahun 1787 M merupakan tanah pinjaman VOC kepada raja-raja
35
Banjar,3 oleh pihak Belanda dipaksa untuk memberikan konsesi
penambangan pada Pemerintah Hindia Belanda dan setelah dipaksa baru
mendapatkan konsesi pada tahun 1846 M.
Daerah Riam Kanan ternyata penuh dengan lapisan-lapisan batu bara.
Tetapi sebagai tanah lungguh ia adalah milik Mangkubumi Kerajaan.
Akhirnya pada tahun 1849 M berdirilah tambang batubara, yang diberi nama
Oranje Nassau. Tambang batu bara ini dibuka oleh Gubernur Jenderal
Ruchussen pada tanggal 21 September 1849 M. Pada tanggal 29 September
1849 Ruchussen menulis surat rahasia kepada Residen Gallois di
Banjarmasin mengenai tambang batu bara itu, yang isinya antara lain:
a. Selama Sultan aktif pada kewajibannya dan tak menghambat produksi
tambang batubara, Belanda akan tetap bersahabat, menolong dan
melindunginya.
b. Sangat menginginkan daerah tambang tersebut dan Martapura menjadi
wilayah Belanda dengan cara membelinya dari Sultan.
c. Ibukota Kerajaan dipindahkan ke Negara. Politik untuk mengambil alih
wilayah tembang batubara di Pengaron dan ibukota Martapura ini, baru
bisa dijalankan setelah Sultan Adam meninggal dunia, dan penggantinya
yang sedapat mungkin pro dengan pihak Belanda.4
3 FotocopyTractaat, 13 Agustus 1787. 4
36
2. Faktor-Faktor dari dalam Kerajaan Banjar
Pada tahun 1825 M Sultan Adam naik tahta Kerajaan Banjar.
Kerajaan Banjar menjalankan sistem pemerintahan dyarchi.5 Dibawah
Sultan, putra mahkota diangkat sebagai Sultan Muda, menjadi pembantunya
selain dari Mangkubumi. Oleh karena itu putra mahkota Abdurrakhman
diangkat menjadi Sultan Muda. Pengangkatan ini bertujuan untuk
memperkuat kedudukan putra mahkota baik dalam pemerintahan maupun
dalam bidang keuangan sehingga jika Sultan meninggal tidak ada lagi orang
yang dapat menjatuhkan putra mahkota.
Dengan Sultan Adam oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun
1826 M diadakan sebuah kontrak baru yang ternyata bertahan sampai
penghapusan sepihak Kerajaan Banjar oleh Belanda pada tahun 1860 M.6
Kontrak itu isinya antara lain adalah:
a. Pemilihan atas penetapan putra mahkota harus disetujui oleh pemerintah
Hindia Belanda. Demikian pula penunjukan perdana menteri yang
bertugas melaksanakan perintah Sultan atas seluruh daerah kekuasaan
Kerajaan Banjar.
5 Menurut Governments, bentuk pemerintahan diarchyberasal dari bahasa Yunani yang berarti “dua
yang memerintah”. Yang artinya satu negara dipimpin oleh dua penguasa yang memiliki kedudukan dan peran yang setara.
6
37
b. Tidak ada seluruh wilayahpun yang diperintah Sultan bisa di serahkan
kepada pihak lain tanpa seizin Gubernemen.
c. Sultan, anak-anaknya, dan keluarganya tidak diizinkan menerima surat
atau duta dari negara-negara asing, raja-raja lain atau mengirimkannya
kepada mereka tanpa memberitahu sebelumnya kepada Residen.
d. Mangkubumi dan masyarakat Banjar yang tinggal di daerah Sultan di
Banjarmasin atau di tempat-tempat lain, bila berbuat kejahatan terhadap
pemerintah Hindia Belanda atau pegawainya akan dihukum oleh
pengadilan yang didirikan oleh Sultan dan Gubernemen wilayah
Banjarmasin.
e. Semua orang Banjar yang tinggal dalam wilayah Kerajaan Banjar akan
diadili oleh pengadilan yang diatur oleh Kerajaan Banjar itu sendiri.
Semua hukuman yang merusak badan misalnya memotong tangan, dan
sebagainya dihapuskan.
f. Tiap orang diizinkan berdagang dan raja mempunyai hak untuk
mengadakan cukai dan pajak yang adil, dan lain sebagainya.7
Dalam kontrak ini terdapat sejumlah fasal yang terlihat jelas
bertentangan dengan adat Kerajaan Banjar dan merusaknya. Sehingga
menimbulkan kemarahan rakyat yang luar biasa, seperti penunjukan putra
7
38
Mahkota, penunjukan Mangkubumi, penerimaan surat dari negara atau raja
lain, atau sebaliknya sebagai negara berkurang kedaulatannya.
Belanda terus ikut campur dalam urusan Kerajaan, ekonomi, dan
sosial keagamaan. Setelah sepeninggal Sultan Adam tanggal 1 November
1857,8 pada tahun 1857 M Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah
sebagai Sultan secara sepihak dengan tidak menghiraukan surat wasiat
Sultan Adam yang berisi Pangeran Hidayatullah lah sebagai pengganti
ayahnya Sultan Abdurrahman. Pangeran Hidayatullah berhak atas tahta
Kerajaan. Pengangkatan Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan dalam
Kerajaan Banjar menimbulakan banyak kekecewaan di kalangan rakyat, para
ulama dan kerabat kraton. Selain itu, Tamjidillah memiliki sifat yang
buruk.Ia dikenal gemar mabuk-mabukkan dan senang berjudi, wajar saja bila
rakyat tidak menerimanya sebagai pemimpin atas tahta Kerajaan Banjar.
Kebencian dan kemarahan rakyat Banjar terhadap pengangkatan Sultan
Tamjidillah dan terhadap Pemerintah Hindia Belanda sangatlah besar hingga
memuncak, yang pada akhirnya menimbulkan Perang Banjar.9
B. Proses Jalannya Perang Banjar Terhadap Kolonial Belanda Dalam Perebutan Kerajaan Banjar
8
Amir Hasan Bondan, Suluh Kerajaan Kalimantan (Banjarmasin: Fajar, 1953), 39.
9 Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara ”Penelusuran Kepustakaan Sejarah” (Jakarta: PT
39
1. Perlawanan Ofensif Yang Berlangsung Dalam Jangka Pende k (1859-1863 M)
Perlawanan rakyat terhadap Belanda mulai berkobar di daerah-daerah
yang dipimpin oleh Pangeran Antasari yang berhasil menghimpun 3.000
orang dan menyerbu pos-pos Belanda. Pos-pos Belanda di Martapura dan
Pangaron diserang oleh Pangeran Antasari pada tanggal 28 April 1859.
Disamping itu, kawan-kawan seperjuangan Pangeran Antasari juga telah
melakukan penyerangan terhadap pasukan-pasukan Belanda yang
dijumpainya. Pada saat Pangeran Antasari mengepung benteng Belanda di
Pengaron10, Kyai Demang Leman dengan pasukannya telah bergerak di
sekitar Riam Kiwa dan mengancam benteng Belanda di Pengaron. Lalu
bersama-sama dengan Haji Nasrun pada tanggal 30 Juni 1859 ia menyerbu
pos Belanda yang berada di istana Martapura. Dalam bulan Agustus 1859
Kyai Demang Leman bersama Haji Buyasin dan Kyai Langlang berhasil
merebut benteng Belanda di Tabanio.
Pada tanggal 27 September 1859 pertempuran juga terjadi di benteng
Gunung Lawak yang dipertahankan oleh Kyai Demang Leman dengan para
pasukannya. Dalam pertempuran ini kekuatan pasukan Demang Leman
ternyata lebih kecil dari kekuatan musuh, sehingga ia terpaksa
mengundurkan diri. Karena rakyat berkali-kali melakukan penyerangan
10 Soeri Soeroto, Perang Banjar (Jakarta: Departemen Ketahanan dan Keamanan Pusat Sejarah ABRI,
40
gerliya, maka Belanda yang menduduki benteng tersebut dalam waktu yang
beberapa lama kemudian merusak dan meninggalkannya. Ketika
meninggalkan benteng, pasukan Belanda mendapatkan penyerangan
terhadap pasukan Kyai Demang Leman yang masih aktif melakukan perang
gerliya di daerah sekitarnya.
Sementara itu Tumenggung Surapati menyanggupi Belanda untuk
membantu menangkap Pangeran Antasari. Setelah mengadakan perundingan
di atas kapal Onrust pada bulan Desember 1859, ia dengan anak buahnya
berbalik menyerang tentara Belanda yang berada di atas kapal tersebut,
kemudian merebut senjata mereka dan menenggelamkannya. Benteng
pertahanan Tumenggung Surapati di Lambang mendapat serangan dari
Belanda dalam bulan Februari 1860. Serbuan yang kuat dari pasukan
Belanda menyebabkan Tumenggung Surapati meninggalkan benteng
tersebut.
Tumenggung Jalil yang mengadakan perlawanan di daerah Amuntai
dan Negara mendapat serangan dari pasukan Belanda dengan bantuan
Adipati Danureja, yang sejak semula setia kepada Belanda.Atas jasanya
dalam turut mengalahkan Tumenggung Jalil, Danureja dijadikan kepala
daerah Benua Lima. Nampaklah bahwa dalam perang ini Belanda
41
perlawanan.11 Kemudian Pangeran Hidayat yang condong kepada rakyat,
karena sikapnya ini maka ia kemudian diturunkan dari kedudukannya
sebagai Mangkubumi oleh Belanda. Desakan Belanda, melalui suratnya
yang tertanggal 7 Maret 1860 yang berisi permintaan supaya ia menyerah
dalam waktu 12 hari, telah mendapatkan jawaban tegas dari Pangeran bahwa
ia tidak akan menyerah. Dengan demikian ia dianggap benar-benar
memberontak terhadap Belanda.
Dengan kosongnya jabatan Sultan dan Mangkubumi dalam Kerajaan
Banjar, maka Kerajaan Banjar secara sepihak dihapuskan oleh pemerintah
Hindia Belanda pada tanggal 11 Juni 1860. Wilayahnya dimasukkan ke
dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Karena tindakan Belanda itu,
maka disamping perlawanan-perlawanan yang sedang berlagsung, di
daerah-daerah juga timbul perlawanan-perlawanan baru, seperti di daerah-daerah Hulu
Sungai, Tanah Laut, Barito, dan Kapuas Kahayan. Tempat-tempat seperti
Tembarang, Muning, Amawang, Gadung, dan Barabai dijadikan pusat-pusat
perlawanan untuk daerah Hulu Sungai, sedangkan di daerah Tanah Laut
pusat perlawanan terdapat antara lain di Riam Kiwa, Riam Kanan, dan
Tabanio.
Dengan meluasnya perlawanan rakyat ini pemerintah Hindia Belanda
di Banjar menghadapi kesulitan. Meluasnya pengaruh perlawanan di
kalangan rakyat diusahakan untuk dibatasi. Kepala-kepala daerah dan para
42
ulama diberi peringantan, agar mereka menunjukkan sikap setia kepada
pemerintah Belanda, dan agar mereka mengecam kaum pejuang. Peringatan
tersebut dikemukakan dengan disertai suatu ancaman yang berat bagi siapa
saja yang tidak mengindahkannya.
Kepala-kepala daerah dan para ulama menjadi cemas karena adanya
pengumuman tersebut. Namun kebanyakan dari mereka tidak mau
mengindahkan ancaman tersebut. Mereka melarikan diri dan bergabung
dengan para pejuang. Sementara itu Pangeran Hidayat melakukan
perlawanan dari daerah satu ke daerah lainnya bersama-sama dengan
orang-orang yang setia kepadanya.
Pada tanggal 16 Juni 1860 Pangeran Hidayat bertempur selama
seminggu di Ambawang, kemudian terpaksa mundur karena persenjataan
Belanda ternyata lebih kuat. Pasukan Pangeran Hidayat akhirnya sampai di
Wang Bangkal. Tidak lama di sini pasukan diserang oleh pasukan Belanda
pada tanggal 2 Juli. Pasukan yang datang ke Wang Bangkal ini berasal dari
posnya di Martapura. Dalam pertempuran ini pun Pangerah Hidayat terdesak
dan terpaksa mundur lagi. Selama dalam pengundurannya ini pasukannya
selalu mengadakan gangguan-gangguan terhadap pasukan-pasukan Belanda
berupa penyergapan secara gerliya. Mereka bertahan di tempat itu dan baru
tanggal 10 Juli pasukan Pangeran Hidayat pindah ke tempat lain setelah
43
Sementara di daerah lain pasukan Pangeran Antasari masih giat
melakukan serangan terhadap pos-pos Belanda. Pada permulaan bulan
Agustus 1860 pasukan Antasari berada di Ringkau Katan, dan pada tanggal
9 Agustus terjadi kontak senjata dengan pasukan Belanda. Pasukan Belanda
berkekuatan 225 orang tentara bersenjata senapan berbayonet dan diperkuat
oleh 125 orang hukuman yang dipersenjatai serta 10 orang penembak
meriam. Dalam pertempuran itu pasukan Antasari dapat membunuh dan
melukai beberapa orang tentara Belanda dan kemudian Pangeran Antasari
bersama pasukannya mengundurkan diri dari Ringkau Katan. Kekalahan
Pangeran Antasari ini terutama karena datangnya bala bantuan Belanda yang
bergerak dari Amuntai melalui Awang menuju Ringkau Katan. Di Tameang
Layang kemudian didirikan pos penjagaan Belanda yang dimaksudkan untuk
menjaga kemungkinan masuknya kembali pasukan Antasari ke Ringkau
Katan.12
Gerakan cepat dari pasukan Pangeran Hidayat dari satu daerah ke
daerah lain cukup menyulitkan Belanda. Pasukan Pangeran Hidayat yang
berada di gunung Mandela dapat diketahui. Belanda mendatang