• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

INOVASI TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG RAMAH LINGKUNGAN PADA KAWASAN

MODEL PENGEMBANGAN PERTANIAN PERDESAAN MELALUI INOVASI (m-P3MI)

DI KABUPATEN PASAMAN BARAT

Edy Mawardi

BPTP Sumatera Barat

Jalan Raya Padang Solok km 40, Kabupaten Solok Sumatera Barat Telp (0755)31564 fax (0755)31138

ABSTRAK

Kabupaten Pasaman Barat merupakan daerah sentra utama produksi jagung dengan memberikan kontribusi 53,2% terhadap total produksi jagung Sumatera Barat. Pada tahun 2012, luas areal pertanaman jagung Kabupaten Pasaman Barat diperkirakan sebesar 42.350 ha dengan tingkat produktifitas rata-rata 6,4 ton/ha dan produksi 263.722 ton. Kabupaten ini memiliki sebagian besar lahan pertanaman jagung berada pada kawasan agroekosistem berpotensi tinggi. Eksploitasi sumberdaya lahan yang sangat intensif untuk budidaya jagung dilakukan petani mulai tanam sampai panen yang kurang mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan berdasarkan Peraturan Presiden No 61 Tahun 2011. Masalah utama yang dihadapi terkait dengan pencemaran logam berat, kerusakan dalam sistem tanah, dan cara bakar pada saat panen. Untuk mengatasi masalah usahatani jagung ini, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat mulai tahun 2011 mengimplementasikan Model Pengembangan Pertanian Melalui Inovasi (m-P3MI) berbasis integrasi tanaman jagung dan ternak sapi di Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Diuo, Kabupaten Pasaman Barat. Inovasi teknologi budidaya jagung yang dikembangkan dalam kawasan m-P3MI ini adalah uji adaptasi jagung hibrida Bima 3, pengolahan dan pemanfaatan berangkasan tanaman jagung untuk pakan sapi, dan pengolahan dan penggunaan urine dan kompos kotoran sapi dalam meningkatkan produktifitas tanaman. Hasil pengamatan lapangan budidaya jagung yang berwawasan lingkungan yang dimplementasikan pada unit percontohan m-P3MI menunjukkan bahwa jagung hibrida Bima 3 menghasilkan biji dan berangkasan lebih tinggi untuk mendukung integrasi tanaman dan ternak, terjadi peningkatan produktifitas jagung hibrida 25,7% melalui pemanfaatan pupuk organic padat dan cair, dan meningkatnya pendapatan usahatani jagung 29,5% dibandingkan sistem budidaya yang diterapkan petani. Penerapan teknologi budidaya jagung yang diintegrasikan dengan usaha peternakan sapi merupakan salah satiu komponen dalam pengembangan sistem usahatani jagung ramah lingkunan di Kabupaten Pasaman Barat.

Kata kunci: inovasi, jagung, ramah lingkungan

PENDAHULUAN

Jagung merupakan komoditas unggulan kedua setelah padi dalam pembangunan sektor pertanian Sumatera Barat dengan target produksi 1 juta ton pada tahun 2015. Menurut Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar (2009) target swasembada jagung Sumatera Barat pada awalnya telah tercapai pada tahun 2006 dimana produksi jagung yang didapat sebesar 202.298 ton dengan kelebihan produksi sebesar 79.122 ton dari kebutuhannya. Peningkatan produksi jagung secara signifikan ini didukung kontribusi Kabupaten Pasaman Barat sebagai sentra utama produksi jagung yang meningkat menjadi 67% dan didukung Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Agam, Kabupaten 50 Kota, dan Kabupaten Tanah Datarsebagai sentra penyangga produksi jagung di Sumatera Barat. Sejak tahun 2009, kebutuhan jagung Sumbar terus meningkat secara signifikan jauh melampaui pertumbuhan produksinya. Peningkatan kebutuhan jagung ini seiring dengan makin berkembangnya industri pakan ayam ras petelur di daerah ini. Stabilitas permintaan jagung dengan harga yang lebih kompetitif menyebabkan makin intensifnya sistem usaha tani yang menggunakan pendekatan high input guna meningkatkan produktifitasnya, terutama di Kabupaten Pasaman Barat. Saat ini, teknologi produksi yang diterapkan sebagian besar petani jagung daerah ini ternyata tidak mengacu pada sistem usaha tani ramah lingkungan. Eksploitasi sumberdaya lahan yang tidak terkendali merupakan tantangan yang harus diatasi dalam rangka mengembangkan sistem usahatani jagung yang berkelanjutan di Kabupaten Pasaman Barat. Berkaitan dengan pertanian ramah lingkungan, Hendriadi (2013) mengungkapkan bahwa pengembangan sistem usahatani ramah lingkungan sejalan dengan kebijakan Badan Litbang Pertanian yang merumuskan Model Perencanaan Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan.

(2)

ramah lingkungan melalui penggunaan varietas unggul adaptif dalam rangka meningkatkan produktifitas hasil biji jagung dan berangkasan tanaman untuk pakan, perbaikan cara panen, pengolahan limbah kotoran sapi, dan pemanfaatan pupuk organik padat maupun cair sebagai upaya meningkatkan efisiensi pemupukan dan pengurangan pemakaian pupuk anorganik (Mawardi, Imran, Zulrasdi, Siska, dan Yulianti, 2011).

SISTEM USAHATANI JAGUNG KABUPATEN PASAMAN BARAT

Kabupaten Pasaman Barat memiliki sejarah perkembangan usahatani jagung yang cukup panjang. Pada tahun 1993, kabupaten ini memiliki luas areal tanam jagung hanya sektar 2.130 ha atau setara dengan 11,2% dari luas areal pertanaman Sumatera Barat. Pada periode itu, Kabupaten Pasaman Barat lebih dikenal sebagai sentra produksi kedelai dengan luas areal pertanaman mencapai 5.879 ha atau setara dengan 30,9% dari total luas Sumatera Barat (Balittan Sukarami, 1994). Pasaman Barat mulai mengembangkan usaha tani jagung secara intensif pada tahun 1993 yang distimulasiPT Tanindo sebuah perusahaan swasta nasinal yang bergerak dalam penyediaan sarana produksi pertanian. Perusahaan nasional ini awalnya memperkenalkan CPI 1 dan CPI 2dengan produktifitas masing-masingnya 4.5 dan 5.5 t/hadan mensosialisasikan kepada petani melalui kegiatan demonstrasi plot pada beberapa lokasi didaerah ini(Yusdarman, 2009).

Pengembangan jagung hibrida makin pesat sejalan dengan kebijakan peningkatan produksi jagung nasional melalui intensifikasi penggunaan varietas unggul jagung yang memiliki potensi hasil tinggi dan adaptif pada kawasan sentra produksi. Varietas jagung komposit yang selama ini digunakan petani, seperti Arjuna, Kalingga, dan H-6 secara turun temurun dengan produktivitas rata-rata hanya sebesar 2,3 t/ha diganti dengan beberapa varietas unggul baru. Jagung hibida, seperti Pioneer, Bisi, NK, dan varietas lainnya ternyata mampu meningkatkan produktifitas jagung mencapai 5-6 t/ha pada tingkat petani. Di Pasaman Barat, penggunan jagung hibrida secara luas terdapat pada kawasan sentra produksi di Kecamatan Kinali, Kecamatan Luhak Nan Duo, dan Kecamatan Pasaman dengan luas areal pertanaman masing-masing keamatan sebesar 20.841, 4.282, dan 5.807 ha. Ketiga daerah sentra produksi ini memberikan kontribusi 75,5% luas pertanaman jagung di Kabupaten Pasaman Barat (Mawardi, Imran, Ali, dan Sudaryono, 2008).

Jagung mempunyai keunggulan komperatif dan kompetitif dibandingkan kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan kedelai. Beberapa keunggulan dalam usahatani jagung adalah (1) teknologi budidaya lebih sederhana dengan resiko kegagalan usahatani yang lebih rendah dibandingkan tanaman pangan lainnya, (2) ketersedian lahan yang cukup luas dengan agroekosistem berpotensi sedang sampai tinggi, (3) biaya produksi per satuan unit lebih rendah,(4) adanya dukungan penyedian sarana produksi, dan (5) rantai sistem pemasaran hasil lebih pendek dan menguntungkan petani. Selanjutnya, pengembangan usahatani jagung ini saling terkait dengan pesatnya pengembangan usaha peternakan, khususnya unggas sebagai subsistem hilir dari rangkaian agribisnis. Peningkatan pertumbuhan usaha tani jagung lebih disebabkan perkembangan permintaan pakan ternak dan didorong inovasi teknologi benih unggul hibrida beberapa perusahaan swasta (Mawardi, Imran, Ali, dan Sudaryono, 2008).

(3)

Tabel 1. Paket teknologi budidaya jagung diterapkan petani Kabupaten Pasaman Barat.

No. Kompenen teknologi

Uraian Pelaksanaannya

1. Persiapan lahan

 Persiapan areal pertanaman dilakukan tanpa olah tanah (TOT)

 Semua gulma dan bekas pertanaman sebelumnya disemprot dengan herbisida.  Pembakaran gulma dan bekas tanaman dilakukan setelah semuanya kering 2. Penanaman  Populasi tanaman bervariasi antara 66.000-75.000 tanaman per hektar

 Jarak tanam umumnya 80 cm x 15 cm (1 biji per lobang tanam).

3. Pemupukan  Paket pemupukan per hektar adalah urea: 250-300 kg,TSP/SP-36: 100 kg, KCl: 0-50 kg atau urea: 300 kg + Ponska 200 kg per hektar

 Cara pemberian pupuk dilakukan 2 tahap, yaitu:. pemberian pupuk pada umur 15 hari dilakukan petani untuk takaran pupuk 50% Urea, 100% TSP/SP-36, dan KCL atau 100% Ponska. Pupuk urea tersisa (50%) diberikan saat tanaman berumur 30-35 hari.

4. Pemeliharaan tanaman

 Pembumbunan umumnya tidak dilakukan petani  Penyiangan gulma menggunakan herbisida

 Petani melakukan pengendalian hama penyakit tanaman sesuai petunjuk pengamat lapangan 5. Panen dan

pasca panen

 Panen jagung dilakukan petani bila kelobot tongkol telah mengering sempurna.  Tanaman jagung ditebang, dijajarkan, dibakar, dan buahnya dipetik.

 Pengeringkan biji dilakukan petani umumnya menggunakan sinar matahari

Sumber: Mawardi, Jhoniwar, dan Noven (2009)

Komponen teknologi yang dominan terkait dengan masalah lingkungan penggunaan herbisida dalam penyiapan tanpa olah tanah, pemupukan yang kurang memperhitungkan hasil analisis tanah dan tanaman, dan pembakaran dalam melakukan pemanenan. Penerapan sistem tanpa olah tanah menggunakan herbisida round up dan gromoxne dengan takaran masing-masing 3 dan 2 liter per hektar dianggap petani lebih menguntungkan secara ekonomi dan efisien dalam penggunan tenaga kerja. Penggunaan herbisida secara intensif dilakukan petani untuk persiapan lareal pertanaman dan mengendalikan gulma dalam jangka waktu yang cukup lama menyebabkan pencemaran lingkungan yang cukup mengkhawatirkan berbagai pihak.

Jenis dan takaran pupuk yang digunakan petani umumnya 250-300 kg urea, 100 kg TSP/SP-36, 0-50 kg KCl perhektar atau 300 kg urea dan 200 kg Ponska per hektar. Namun, penggunaan pupuk semakin besar jumlahnya bila ketersediannya pada pedagang kios yang menyediakan sarana produksi bagi petani. Penggunaan pupuk anorganik dalam jumah yang besar oleh petani telah berlangsung cukup lama akan mengganggu keseimbangan unsur hara di daerah ini (Mawardi, Imran, Zulrasdi, dan Syafrial, 2010).

(4)

INOVASI TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG RAMAH LINGKUNGAN

Pengembangan Jagung hibrida

Pada tahun 2011, Balai Pengkajian Teknologi Petanian (BPTP) Sumatera Barat mulai mengimplementasikan Model Pengembangan Pertanian Perdesaan Melalui Inovasi (m-P3MI) budidaya jagung di Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat. Paket teknologi budidaya jagung berwawasan lingkungan yang diformulasikan terdiri dari beberapa komponen utama berikut: (1) pengembangan varietas unggul jagung hibida yang adaptif, (2) pemanfaatan berangkasan jagung untuk pakan sapi, dan (3) pemanfaatan limbah usaha peternakan sapi unutk meningkatkan efisiensi pemupukan.

Demonstrasi plot (Demplot) jagung hibrida Bima 3 produksi Badan Litbang Pertanian seluas 5 ha pada kawasan pengembangan cluster jagung dilaksanakan secara TOT (tanpa olah tanah) dengan takaran pupuk 200 kg urea, 200 kg Ponska, dan 75 kg KCl per hektar. Pemberian pupuk dilakukan 2 kali, yaitu pada saat tanaman berumur 15 hari dan 45 hari. Pengembangan Bima 3 diarahkan pada jagung hibrida yang menghasilkan biji dan brangkasan untuk mendukung integrasi tanaman dan ternak.

Tabel 2. Produktifitas biji dan berangkasan Bima 3 di Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kabupaten Pasaman Barat. Tahun 2011. peningkatan sebesar 25,7% dibandingkan produktifitas Pionir 12 yang telah lama berkembang pada tingkat petani. Hasil pengamatan ini menunjukkan besarnya potensi Bima 3 dimanfaatkan untuk mendukung integrasi tanaman dan ternak di daerah ini. Secara kualitas, Gunawan, Daryanto, dan Azmi (2006)mengemukakan jerami tanaman jagung segar yang selama ini dianggap limbah mempunyai nilai gizi hampir mendekati nilai gizi rumput gajah dan cukup disukai ternak sapi. Jumlah sapi yang dapat dipelihara minimal bertambah menjadi 2-3 ekor perhektar dengan memanfaatkan tongkol dan kulit buah dapat diolah juga menjadi bahan hijauan pakan sapi.

Demplot varietas jagung hibrida Pionir yang ilakkan pada Unit Percontohan Kelompok Tani Sehjahtera 2 menunjukkan bahwa produktifitas biji jagung hibrida Pionir 12, Pionir 27, dan Pionir 29 masing-masing sebesar 7,8; 11,6; dan 9,6 ton/ha. Sedangkan produktifitas berangkasan Pionir 12, Pionir 27 masing-masing sebesar 8,3; 10,8; dan 10 ton/ha (Tabel 3).

Tabel 3. Produktifitas dan berangkasan Pionir di Nagari Koto Baru, KecamatanLuhak Nan Duo, Kabupaten memilki potensi untuk mendukung program integrasi tanaman dan ternak dalam perspektif menngembangkan sistem budida tanaman ramah lingkungan.

Penerapan Sistem Integrasi Jagung dan Sapi

(5)

dengan populasi sapi potong yang jumlahnya saat ini hanya 12.685 ekor atau setara dengan 3,8% dari jumlah sapi potong Sumatera Barat (BPS, 2012). Pada hal, berangkasan tanaman jagung yang selama ini dibakar petani dapat digunakan sebagai sumberdaya pakan lokal sebanyak 35.277 ekor di Kabupaten Pasaman Barat.

Inovasi teknologi integrasi jagung dan sapi dilakukan Kelompok Tani Sejahtera 2 sebagai unit percontohan kegiatan m-P3MI mencakup teknologi silase jagung Bima 3 dan pengolahan serta pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi untuk pupuk cair dan padat. Penerapan teknologi silase jagung dan sawit yang dilakukan Kelompok Tani Sejahtera 2 telah mampu menyediakan pakan 41 ekor sapi bantuan Dinas Peternakan Sumbar. Disamping itu, limbah berupa kotoran padat dan cair dari usaha peternakan sapi ini telah berhasil diolah petani untuk kompos dan pupuk cair urine. Saat ini, penggunaan pupuk cair urine dan kompos mulai berkembang secara luas pada tingkat petani Nagari Koto Baru untuk tanaman jagung, kelapa sawit, padi, dan tanaman sayuran. Pemakaian pupuk organik cair dan padat ini dapat meningkatkan produktifitas, efisiensi pemakaian pupuk anorganik, dan diterapkannya sistem usaha pertanian ramah lingkungan.

Hasil pengujian pemakaian pupuk cair urine dengan dosis 15 liter dalam 100 air dan 1,5 ton/ha kompos yang diberikan pada umur 15 dan 45 hari ditambah pupuk anorganik dengan takaran 200 kg urea, 100 kg SP 36, dan 50 kg KCl per hektar mampu meningkatkan produktifitas jagung hibrida Pionir 27 sebesar 13,6 ton per hektar. Peningkatan produktifitas ini lebih tinggi 17-30% dibandingkan perlakuan tanpa pemberian pupuk organik (Mawardi, Nusyirwan, Zulrasdi, Yulianti, dan Nasril, 2012). Berkembangnya pemakaian pupuk organik cair dan padat ini berdampak pada peningkatan pendapatan peternak sebagai produsen pupuk organik dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani dalam sistem usaha taninya.

Tabel 4. Analisis usahatani pemakaian kompos dan urine pada jagung di Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kab. Pasaman Barat.Tahun 2012.

Uraian Sebelum pemakaian pupuk

organik

Sesudah pemakaian pupuk organik

Penerimaan usaha (Rp/ha/ 4 bulan) Rp 8.148.000,- Rp. 10.548.000,-

Penyerapan tenaga kerja per unit usaha (HOK)

26 HOK 31 HOK

Imbalan tenaga kerja (Rp/hari) Rp.313.000,- Rp.340.000,-

Sumber Data: (Mawardi, Nusyirwan, Zulrasdi, Yulianti, dan Nasril, 2012).

Saat ini, usaha pengolahan urine dan kompos yang dilakukan Keltan Sejahtera 2

masing masing telah mampu menghasilkan 200 liter pupuk organik cair dan 300 kg

kompos per hari dengan tambahan pendapatan kelompok tani sebesar Rp. 380.000,- per

hari. Pendapatan ini digunakan Kelompok Tani Sejahtera 2 untuk biaya operasional harian

yang selama ini menjadi permasalahan bagi sistem pemeliharaan sapi secara kandang

komunal. Selanjutnya, pemakaian pupuk organik cair dan padat dalam usahatani jagung

meningkatkan penerimaan usaha sebesar Rp. 2.400.000,-/ha selama 4 bulan dibandingkan

tanpa pemakaian pupuk organik. Peningkatan penerimaan sesudah menggunakan pupuk

organik mencapai 29,5% lebih tinggi dibandingkan tanpa pemakaian pupuk organik. Bila

berangkasan tanaman jagung sebagai pakan diperhitungkan secara ekonomis bernilai Rp.

450.000,- per hektar maka total penerimaan mengalami peningkatan 35% dibandnkan

tanpa menerapkan sistem integrasi jagung dan sapi.

(6)

KESIMPULAN

1)

Posisi Kabupaten Pasaman Barat dalam program pengembangan jagung sangat

strategis dengan memberikan kontribusi 53,2% terhadap total produksi jagung

Sumatera Barat. Teknologi budidaya jagung dalam upaya peningkatan produksi

dilakukan petani secara intensif tanpa memperhitungkan aspek ramah lingkungan yang

menjadi kebijakan pembangunan petanian nasional kedepan.

2)

Permasalahan yang terjadi dalam budidaya jagung di Kabupaten Pasaman Barat

mencakup penggunaan herbisida secara masif, pemakaian pupuk dan pestisida secara

berlebihan, dan panen sistem bakar. Pengembangan budidaya jagung yang terintegrasi

dengan usaha peternakan merupakan pendekatan yang lebih aplikatif untuk mengatasi

permasalahan lingkungan ini.

3)

Jagung hibrida Bima 3 merupakan varietas unggul Badan Litbang Pertanian yang

memiliki produktifitas biji dan berangkasan masing-masing sebesar 9,3 dan 12,6 ton/ha

berpotensi untuk mendukung penerapan sistem integrasi tanaman dan ternak.

4)

Pengolahan dan pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai pupuk organik cair dan

padat dapat menekan pemakaian pupuk anorganik sekaligus meningkatkan

pendapatan petani 29,5% lebih tinggi dibandingkan tanpa pemakaian pupuk organik.

Peningkatan nilai ekonomis dapat mengakselerasikan proses adopsi teknologi integrasi

tanaman dan ternak pada tingkat petani.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami. 1994. Kajian Potensi, Kendala, dan Peluang Pengembangan Agribisnis Jagung dan Kedelai. Laporan Hasil Penelitian Balittan Sukarami

Biro Pusat Statistik Sumbar. 2012. Sumatera Barat Dalam angka. Kerjasama Bappeda Sumbar dan Biro Pusat Statistik Sumbar

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Barat. 2009. Sasaran produksi bidang pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumatera Barat Tahun 2009. Diperta Sumbar. Padang Dismpaikan dalam pertemuan peneliti dan penyuluh di BPTP Sumbar pada tanggal 29 September 2009

Gunawan, Daryanto, dan Azmi. 2006. Peluang dan pola pengembangan sistem integrasi sapi-jagung di Propinsi Bengkulu dalam Jejaring Pengembangan Sistem Integrasi Jagung- Sapi. Prosiding Lokakarya Nasional Jejaring Pengembangan Sistem Integrasi Jagung-Sapi. Puslitbang Peternakan Bogor. Hal 109-121

Hendriadi, A. 2013. Model Perencanaan Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan (m-P3RL). Disampaikan dalam Raker BBSDLP, tanggal 3-6 April 2013di Semarang.

Mawardi, E. 2007. Pelaksanaan PTT dan Teknologi Budidaya Jagung Dalam Rangka Pengembangan Jagung Di Sumatera Barat. Disampaikan dalam Pelatihan PTT jagung bagi petugas teknis/penyuluh pertanian padakawasan sentra produksi Kabupaten/Kota pada tanggal 13-14 November 2007, di UPTD Balai Diklat Diperta Horti Sumb

Mawardi,E., Imran, M. Ali, dan T. Sudaryono. 2008. Kajian Pengembangan Agribisnis Jagung dan Kedelai di Kabupaten Pasaman Barat. Laporan hasil penelitian Tahun 2008. kerjasama BPTP Sumbar dengan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat.

Mawardi,E., Jhoniwar, dan Noven. 2009. Kajian Peningkatan Produksi Jagung Di Sumatera Barat. Laporan hasil penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumatera Barat Tahun 2009.

Mawardi, E., Imran, Zulrasdi, W.Siska, dan V. Yulianti. 2011. Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) Berbasis Jagung dan Sawit terintegrasi Dengan Sapi di Kabupaten Pasaman Barat.Laporan hasil penelitian BPTP Sumbar Tahun 2011.

Mawardi, E., Nusyirwan, Zulrasdi, V. Yulianti, dan Nasril. 2012. Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi (M-P3MI) Berbasis Jsawit, Jagung, dan Sapi di Kabupaten Pasaman Barat.Laporan hasil penelitian BPTP Sumbar Tahun 2012.

Gambar

Tabel 1. Paket teknologi budidaya jagung  diterapkan  petani Kabupaten Pasaman Barat.
Tabel 4. Analisis usahatani  pemakaian kompos dan urine pada jagung di Nagari Koto Baru, Kecamatan Luhak Nan Duo, Kab

Referensi

Dokumen terkait

Pemupukan yang diberikan tidak hanya terbatas pada pemberian pupuk an organik yang merupakan hara makro bagi tanaman tetapi juga pemberian Pupuk Pelengkap Cair

Cara fermentasi dan perlakuan pengkayaan tidak berpengaruh nyata terhadap kualitas pupuk organik berbahan baku limbah ikan.. Kualitas pupuk organik tersebut nyata

Suhu udara berkisar antara 23 – 31°C, bulan basah umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan April, sedangkan bulan kering Mei sampai dengan September

Analisis data yang digunakan meliputi : analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik sari buah belimbing produk petani dan sistem usaha taninya serta

Bahkan menurut Montazeri (2012) minapadi adalah salah satu teknologi lahan pertanian untuk perbaikan kualitas lingkungan hidup sebagai antisipasi anomali iklim,

Gapoktan ini merupakan gabungan dari lima kelompok wanita tani yang mengolah hasil pertanian dari kebun kelompok diantaranya adalah ubi kayu yang diolah menjadi

Penurunan persentase serangan hama PBK pada pengamatan ke-4, menunjukkan hasil berbeda nyata pada penyarungan buah dimana persentase buah terserang 40,00% lebih

Pakan tambahan diberikan pada induk yang sedang bunting tua (dua bulan sebelum melahirkan sampai dua bulan setelah melahirkan). Pakan yang disusun untuk perlakuan pada