BAB I PENDAHULUAN
Proyek akhir ini membahas mengenai analisis pengembangan jasa internet yang menerapkan teknologi Broadband Wireless Access (BWA) pada sebuah Konsorsium ISP di Bandung, oleh karena itu pada bagian ini akan diuraikan mengenai profil Konsorsium, sekilas mengenai anggota-anggota Konsorsium, visi, misi, dan tujuan, sumber daya manusia, dan isu bisnis yang dihadapi oleh anggota Konsorsium.
1.1. Profil Konsorsium PIB
Perkumpulan ISP Bandung berdiri pada tanggal 6 Februari 2008 sebagai Konsorsium bersama antara para aktor industri internet di kota Bandung. PIB terbentuk atas cita-cita bersama untuk mewujudkan kota Bandung pada khususnya, dan kota-kota lain di Jawa Barat pada umumnya sebagai wilayah yang memiliki jaringan dan infrastruktur internet yang terpadu, sehingga layanan internet dapat menjangkau area yang lebih luas dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai langkah awal untuk mewujudkan cita-cita bersama tersebut, Perkumpulan ISP Bandung, bekerja sama dengan penyedia perangkat jaringan terpercaya di Indonesia, saat ini sedang membangun infrastruktur internet dan teknologi terkini, yang dapat menghantarkan akses informasi kepada masyarakat dengan biaya yang relative terjangkau.
Perkumpulan ISP Bandung diharapkan dapat menjadi wadah komunikasi terarah antara para pelaku internet di kota bandung, dan lebih luas lagi, Indonesia agar dapat sama-sama turut membangun masyarakat Indonesia yang melek informasi.
1.2. Anggota Konsorsium PIB
Anggota Konsorsium PIB ialah:1. PT Reseler NAP (RNAP) 2. PT ISP-I (ISP1)
4. PT ISP-III (ISP3) 5. PT ISP-IV (ISP4)
Masing-masing anggota Konsorsium tersebut akan dibahas profilenya sebagai berikut.
1.2.1. PT Reseler NAP (RNAP)
PT. Reseler NAP dengan trade mark RNAP adalah perusahaan yang bergerak di bisnis utama Data Center dan penyedia Backbone internet di kota Bandung dan sekitarnya. RNAP menyediakan layanan untuk kebutuhan local access serta international access dengan kapasitas saat ini sebesar 100 Mega Bites Per Second.
Saat ini RNAP memiliki interkoneksi dalam satu jaringan data center dengan peering connectionn ke banyak ISP di Indonesia, serta koneksi ke Backbone internet international T1 dengan kualitas layanan yang baik, dan memperkaya content traffic internet Indonesia dengan berkerja sama dalam pembangunan serta pengembangan portal-portal, game online service dan produk teknologi baru seperti IPTV, GPRS Mobile WiMAX dsb.
Sebagai implementasi content traffic internet di Indonesia RNAP bekerja sama dengan perusahaan dunia yaitu AKAMAI yang menampung ribuan content online dunia melalui traffic Backbone ke luar negeri.
1.2.2. PT ISP-I (ISP1)
ISP1 didirikan pada awal Januari 2007 oleh seorang praktisi yang berpengalaman di bisnis Penyediaan Jasa Internet. Hingga saat ini ISP1 terus berkembang dan jangkauan layanannya adalah kota Bandung dan Cimahi. Dengan kapasitas Bandwith yang dimiliki yaitu sebesar 5 Mbps, ISP1 terus berupaya mengoptimalkan kapasitas pelayanannya.
Dari sejak berdiri hingga saat ini client ISP1 tidak pernah mengalami penurunan. 50% dari seluruh jumlah client tersebut adalah personal seperti rumah, kost, dan toko, 50 % sisanya adalah corporate client dan warnet. Untuk personal, ISP1 menyediakan Bandwith up-to 128 Kbps dan untuk coorporate/warnet bervariasi dengan minimalnya adalah 256 Kbps. Pertambahan client setiap bulannya sekitar 11 hingga 12
orang dan hampir tidak pernah ada penurunan, yang ada adalah tingkat turn over antara 2 – 5 client per bulan.
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 Ja n-07 Feb-0 7 M ar-07 Apr-07 May-0 7 Ju n-07 Jul-07 Aug-0 7 Se p-07 Oct-07 N ov-0 7 D ec-0 7 Ja n-08 Feb-0 8 M ar-08
Gambar 1.1 Jumlah Pelanggan ISP1
Jumlah karyawan ISP1 sebanyak 12 orang. Organisasinya terdiri dari Divisi Marketing, Management dan Teknisi. Jumlah karyawan tersebut dirasakan cukup efisien mengingat jumlah client yang relative banyak.
Strategi yang dipergunakan oleh ISP1 untuk bisa bertahan pada masa yang akan datang adalah improvement/inovasi dan kerjasama. Kedua strategi tersebut dianggap sangat ampuh terutama dalam menghadapi competitor yang besar. Strategi kerjasama yang dilakukan oleh ISP1 menyebabkan modal investasi yang harus disediakan menjadi tidak mahal. ISP1 melakukan kerjasama baik dari sisi Operasi, Bandwith, maupun Infrastruktur.
1.2.3. PT ISP-II (ISP2)
PT. ISP-II didirikan di Bandung pada tahun 1999 oleh sekelompok profesional muda yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman di bidang jasa internet serta mempunyai komitmen untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan teknologi informasi khususnya internet di Indonesia.
Pada tahap pertama perusahaan ini membuat sebuah gateway untuk akses internet dan membangun sebuah komunitas ISP2 Sharing Bandwith dengan
Seiring dengan perkembangan waktu perusahaan berkembang menjadi sebuah perusahaan penyedia jasa internet dan mengembangkan layanan nilai tambah dari akses internet seperti perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jaringan komputer baik intranet maupun internet serta pengembangan aplikasi berbasiskan web.
Waktu mulai berdirinya hingga tahun 2005, bisnis ISP ISP2 sangat bagus. Tahun 2005, ISP2 mengalami penurunan jumlah pelanggan karena munculnya ISP-ISP baru. Perusahaan ini pernah memiliki jumlah pelanggan hingga 32 client, sedangkan saat ini hanya memiliki pelanggan sebanyak 12 client.
ISP2 mempunyai beberapa jenis layanan yaitu: 1. Sharing Bandwidth ISP2
Sharing Bandwidth ISP2 merupakan koneksi internet secara tetap dan unlimited (tidak dibatasi waktu) melalui media yang digunakan secara khusus, pada saat ini Sharing Bandwidth ISP2 menggunakan media radio dengan alokasi frekwensi 2,4 GHz. 2. ISP2 Web Integrator
ISP2 Web Integrator merupakan solusi terpadu untuk membangun sebuah web site di Internet.
3. Network Integrator
Dalam suatu jaringan komunikasi, tidak dapat dipisahkan dari sistem jaringan tersebut yang akan digunakan yang baerkaitan dengan efisiensi, efektifitas, keamanan, dan kenyamanan. ISP2 yang mempunyai pengalaman dalam pembangunan jaringan komunikasi khususnya jaringan komunikasi intranet dan internet dapat memberikan solusi yang meliputi pembangun infrastruktur dan sistem jaringan.
4. Sistem Informasi Manajemen (SIM)
Pembangunan Sistem Informasi manajemen (SIM) merupakan sebuah gabungan dari software aplikasi yang direkayasa sesuai dengan kebutuhan lingkungan organisasi saat ini dan saat mendatang, dengan tujuan:
1. Meningkatkan produktifitas kerja
2. Meningkatkan efesiensi dan efektifitas proses pekerjaan 3. Meningkatkan keterampilan sumber daya manusia
1.2.4. PT ISP-III (ISP3)
Berdiri pada tahun 2003, PT. ISP3 Communication adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa layanan Teknologi Informasi berupa koneksi internet dan solusi jaringan lainnya yang berlokasi di Yogyakarta.
PT. ISP3 Communication di kenal dengan nama ISP3 sudah memiliki izin untuk pelayanan koneksi internet (ISP) dari DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI Indonesia dan sudah terdaftar sebagai anggota Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
Mulai tahun 2007 ISP3 bekerjasama dengan PT. Citra Jelajah Informatika mengembangkan jaringan pemasarannya ke kota Bandung dengan nama CIFO - ISP3 Bandung dengan cakupan jenis layanan yang lebih luas, diantaranya yaitu:
• Wireless ISP3 Infrastruktur/Pembangunan Infrastruktur Jaringan Wireless Untuk saat ini, ISP3 telah mempunyai 10 titik lokasi BTS (Base Transceiver Station) yang tersebar di wilayah Kotamadya Bandung, Kabupaten Bandung dan Kota Cimahi dengan cakupan sinyal wireless yang tersebar luas. Infrastruktur MAN (Metropolitan Area Network) ini dapat dimanfaatkan oleh para pelanggan sebagai sarana lalulintas data lokal dengan tingkat sekuritas dan kestabilan yang tinggi. Misal: komunikasi data antar kantor cabang.
• Multimedia, Webdesign dan Webhosting
Menyediakan berbagai pembuatan content multimedia dan website dengan sistem yang mempermudah pelanggan untuk updating, upgrading maupun maintenance.
• Software House/Program Aplikasi
Menyediakan berbagai solusi program-program aplikasi seperti program perkantoran, program keuangan, program pergudangan maupun program-program perusahaan dengan berbagai bahasa program-program yang akan menunjang kinerja dan operasional usaha yang jauh lebih baik dan efisien.
• Internet Service Provider (ISP)
Menyediakan berbagai jenis layanan akses intenet ke internasional Backbone dan link IIX berbasis Fiber Optic dengan penyebaran ke client melalui teknologi wireless yang stabil.
1.2.5. PT ISP-IV (ISP4)
Pada tahun 2000 ISP4 didirikan sebagai suatu perusahaan yang melayani proyek pembangunan jaringan wireless Indonet Bandung, Indonet Solo dan Nusanet Medan. Jenis pelayanannya saat itu adalah sewa perangkat jaringan wireless. Tahun 2002 ISP4
Jumlah karyawan ISP4 adalah 12 personnel, dengan pembagian tugas yaitu Marketing, Teknisi, dan HRD. ISP4 sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya, hal ini diwujudkan dengan pemberian upah yang lebih tinggi dari rata-rata upah para ISP dan juga pemberian fasilitas asuransi.
Target market dari ISP4 adalah corporate dan pendidikan. ISP4 tidak mengejar target personal karena biaya investasi dan cost operasional cukup tinggi sehingga price juga akan tinggi dan tidak mungkin dapat bersaing dengan para penyelenggara internet lainnya saat ini. Jangkauan pelayanan ISP4 adalah Bandung dan sekitarnya
Dengan kapasitas sebesar 4 Mbps, ISP4 mampu untuk menangani hingga 40 clients, tetapi munculnya para pesaing menyebabkan penurunan jumlah client personal ISP4. Saat ini jumlah client ISP4 turun hingga 25% dari total client tahun 2006. Berikut adalah grafik yang menunjukkan keadaan tersebut.
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Persentase Jumlah Pelanggan 2006 2007 2008 Tahun
Gambar 1.2 Jumlah Pelanggan ISP4
1.3. Kerjasama di dalam Konsorsium PIB
Konsorsium bermaksud mengembangkan bisnis penyedia layanan internet berbasis Broadband wireless access Technology. Dalam pengembangan bisnis tersebut, strategi yang dipergunakan adalah mengadakan kerjasama dengan para vendor Last Mile dan investor. Kerjasama ditujukan untuk menghasilkan suatu produk/layanan internet yang tidak membebani pelanggan dengan start-up cost.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa Konsorsium ini terdiri dari 4 ISP dan 1 Reseller Bandwith, jadi apabila dikaitkan dengan gambaran bisnis internet communication service (- lihat lampiran A), bidang Backbone, ISP, dan NAP sudah siap. Satu bidang yang menjadi perbincangan di dalam Konsorsium dan sedang diupayakan pengadaannya adalah bidang Last Mile.
Perihal badan hukum yang mewadahi kegiatan Konsorsium, berdasarkan hasil diskusi anggota Konsorsium bentuk badan hukum sebagai wadah Konsorsium untuk sementara tetap sebagai aliansi (bukan bentuk perusahaan) dengan kesepakatan kerja bersama yang ditanda-tangani oleh semua anggota Konsorsium serta disaksikan oleh seorang saksi, dalam hal ini adalah notaris. Kerjasama akan mengarah ke dalam bentuk sebuah perusahaan terbuka (PT.) apabila upaya start-up bisnis berjalan mulus dan dinilai memiliki potensi sangat besar.
Kesepakatan kerja bersama memuat suatu klausul yang isinya adalah dalam menjalankan bisnis penyedia layanan internet ini anggota Konsorsium memperbolehkan penggunaan resource miliknya (resource sharing). Tentunya penggunaan resource tersebut diperhitungkan sehingga dapat saling menguntungkan baik pemilik maupun si pemakai. Resource yang dimiliki oleh anggota-anggota Konsorsium yaitu jumlah BTS yang lebih dari 30 titik tersebar di kota Bandung dan Cimahi, tenaga teknisi yang berpengalaman, serta tenaga marketing.
1.4. Visi, Misi dan Tujuan Konsorsium
Berikut adalah visi, misi dan tujuan dari Konsorsium PIB:
Visi.
Menjadikan Bandung sebagai pelopor pengembang infrastruktur jaringan yang terpadu, komunitas internet yang aktif, dan industri kreatif yang inovatif dalam mengembangkan teknologi informasi.
Misi
• Membangun komunitas internet Bandung yang tersinergi dengan infrastruktur yang efisien
• Menjadi forum komunikasi dan pusat informasi bagi komunitas internet, tidak hanya forum bagi pelaku industri, tetapi juga masyarakat pada umumnya.
• Menjadi wadah bagi pengembangan ide-ide kreatif yang terkait dengan teknologi informasi.
Tujuan
Membangun dan menggunakan infrastruktur jaringan bersama sehingga dapat meningkatkan revenue dan growth dari masing-masing anggota Konsorsium.
1.5. Sumber Daya Manusia
Konsorsium PIB dikelola oleh sumber daya manusia yang berasal dari masing-masing anggota Konsorsium. Pengelolaannya terbagi menjadi dua, yaitu: ada yang bertindak sebagai dewan dan ada yang menjadi pengurus harian. Masing-masing anggota Konsorsium mengajukan satu orang sebagai anggota dewan dan satu orang sebagai pengurus harian. Penempatan sumber daya manusia tersebut dimaksudkan untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas kegiatan Konsorsium terhadap masing-masing anggotanya. Dewan Konsorsium Ketua Harian Koordinator Teknis Koordinator
Marketing AdministrasiKoordinator
Gambar 1.3. Gambar Struktur Organisasi Konsorsium
1.6. Isu Bisnis yang Dihadapi Konsorsium
Isu-isu bisnis yang tengah dihadapi Konsorsium yaitu: munculnya ISP baru dengan teknologi yang baru (Lintasarta dan First Media), teknologi BWA baru telah dikembangkan oleh vendor-vendor dalam dan luar negeri, revenue beberapa anggota Konsorsium mulai menurun, fasilitas fiber optic mulai dibangun oleh PT. PLN, PT. Telkom telah meluncurkan internet Speedy, alokasi frekwensi sedang ditertibkan oleh
Ditjen Postel, dan perijinan tower dan antenna sedang ditertibkan oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung.
Kemunculan para ISP baru di Bandung adalah suatu kondisi yang menambah tingkat persaingan bagi Konsorsium. Lintasarta dan First Media merupakan dua ISP yang menggunakan teknologi fiber optic dan satelit. Produk First Media lebih mengejutkan para pebisnis layanan internet, karena dia menawarkan harga yang relative jauh lebih rendah dan Bandwith yang lebih tinggi. Lintasarta menawarkan koneksi ke internet menggunakan fiber optic dan bandwith dedicated (constant), ini berarti kualitasnya jauh lebih baik dari kualitas service ISP lain. Dari segi harga, dengan kualitas yang sangat baik tersebut Lintasarta memberikan penawaran harga di atas para ISP lainnya.
Isu bisnis kedua adalah telah banyak vendor-vendor teknologi BWA yang menawarkan produknya di Indonesia. Dari sekian banyak teknologi BWA yang ditawarkan oleh vendor, teknologi yang belum banyak dan bahkan mungkin belum diimplementasikan untuk tujuan komersil di Indonesia adalah teknologi WiMAX.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anggota Konsorsium terdiri dari empat ISP dan satu reseller Bandwith. Dua dari keempat anggota ISP mengalami kemunduran jumlah pelanggan pada tiga tahun terakhir sehingga revenue mereka turun dan terpaksa melakukan efisiensi pada berbagai hal di perusahaannya. Dua ISP yang lainnya baru berdiri pada awal tahun 2007 dan belum merasakan dampak persaingan pada bisnis yang serupa, namun keduanya mempunyai kekhawatiran yang sama tentang munculnya ISP-ISP yang menggunakan teknologi baru seperti fiber optic dan satelit (tv cable).
PT. PLN pun sudah mulai memasuki bisnis broadband internet access dengan melakukan pembangunan fiber optic dan menamakan produknya dengan brand Icon plus. Icon plus memberikan layanan internet unlimited, dedicated dan 24 jam penuh dengan target market: Multinational Companies, Enterprise, SMB (Small Medium Business) or Dotcom Companies, dan Banks.
PT. Telekomunikasi Indonesia telah sukses dengan internet Speedy. Speedy mengalami perkembangan sangat pesat, pada tahun 2006 jumlah pelanggannya sekitar 93 ribu saja, hingga akhir tahun 2007 telah memiliki pelanggan sebanyak 210,000. Jawa Barat sendiri ditargetkan sebanyak 78.000 pelanggan pada tahun 2007.
telah memiliki izin penggunaan frekwensi, namun izin tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik oleh mereka. Frekwensi yang digunakan memang harus seizin Dirjen Postel agar para pengguna frekwensi mendapatkan perlindungan secara hukum. Setelah izin frekwensi diperoleh, pemilik izin harus menggunakannya secara optimal agar izin penggunaannya tidak dicabut kembali.
Alokasi frekwensi yang telah ditetapkan oleh Dirjen Postel mungkin sudah dipatuhi oleh para pengguna frekwensi. Namun masih ada juga alokasi frekwensi yang belum ditetapkan oleh pemerintah (Postel) mengenai penggunaannya. Untuk alokasi frekwensi rentang 2.3 GHz beberapa waktu yang lalu belum ditetapkan pemanfaatannya, sehingga terlanjur banyak penggunanya. Saat ini setelah ada peraturannya, Postel melalui Balai Monitor melakukan penertiban terhadap para pengguna frekwensi rentang 2.3 GHz tersebut. Selanjutnya hak penggunaan frekwensi akan dijual dengan cara dilelang.
Ternyata tidak hanya frekwensi yang ditertibkan, IMB tower pun mengalami hal yang sama. Pada tanggal 29 Maret 2008 muncul berita di sebuah Koran di Bandung, yaitu Galamedia yang menjelaskan bahwa pada bulan April akan dilakukan kegiatan penertiban tower di Kota Cimahi. Jadi aspek legal sangat penting untuk diperhatikan agar jangan sampai terjadi infrastruktur yang telah kita bangun dengan biaya yang mahal kemudian dibongkar oleh petugas yang berwenang. Masalah perizinan mendirikan bangunan dan tower bisa diperoleh informasinya di Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung.