• Tidak ada hasil yang ditemukan

tambh bndelan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "tambh bndelan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PERCOBAAN III

PERCOBAAN III

SIFAT BAIK DAN TAK BAIK UNTUK KEPERLUAN ANALISIS

SIFAT BAIK DAN TAK BAIK UNTUK KEPERLUAN ANALISIS

KOLORIMETRI

KOLORIMETRI

I.

I. Tujuan PercobaanTujuan Percobaan

1.

1. Mengetahui sifat baik dan sifat tak baik dari kalori meterMengetahui sifat baik dan sifat tak baik dari kalori meter 2.

2. Dapat memahami dan menggunakan Dapat memahami dan menggunakan kolorimeterkolorimeter 3.

3. Dapat mengukur absorbansi menggunakan spectronic-20Dapat mengukur absorbansi menggunakan spectronic-20

II.

II. Landasan TeoriLandasan Teori

Kolorimetri adalah suatu metode analisa kimia yang berdasarkan pada Kolorimetri adalah suatu metode analisa kimia yang berdasarkan pada perbandingan intensitas warna larutan satndarnya. Metode ini merupakan perbandingan intensitas warna larutan satndarnya. Metode ini merupakan bagian dari fotometri. Cara mengukur jumlah zat dalam larutan sekaligus bagian dari fotometri. Cara mengukur jumlah zat dalam larutan sekaligus mengetahui warnanya yaitu dengan cara melewatkan sebuah sinar dari mengetahui warnanya yaitu dengan cara melewatkan sebuah sinar dari pelarutnya. Pengamatan dapat kita lakukan dengan cara melihat perubahannya pelarutnya. Pengamatan dapat kita lakukan dengan cara melihat perubahannya atau alat yang disebut fotosel (Underwood, 1988).

atau alat yang disebut fotosel (Underwood, 1988).

Dalam hal ini terjadi bila sinar baik yang polikromatis atau Dalam hal ini terjadi bila sinar baik yang polikromatis atau monokromatis mengenai suatu zat atau media perantara maka intensitas sinar monokromatis mengenai suatu zat atau media perantara maka intensitas sinar tersebut akan berkurang. Hal ini terjadi karena sebagian cahaya tersebut tersebut akan berkurang. Hal ini terjadi karena sebagian cahaya tersebut diserap oleh media perantaranya dan sebagian kecil dipantulkan kembali atau diserap oleh media perantaranya dan sebagian kecil dipantulkan kembali atau dihamburkan dapat ditulis:

dihamburkan dapat ditulis:

Metode kolorimetri merupakan metode spektroskopi sinar tampak oleh Metode kolorimetri merupakan metode spektroskopi sinar tampak oleh suatu larutan berwarna,hanya senyawa yang dapat ditentukan denngan metode suatu larutan berwarna,hanya senyawa yang dapat ditentukan denngan metode spektroskopi senyaw ayanng tidak berwarna dapat

spektroskopi senyaw ayanng tidak berwarna dapat dibuat menjadi warna sepertidibuat menjadi warna seperti ion Fe

ion Fe3+3+ dan SCN menghasilkan larutan warna merah. Kolorimeter dilakukandan SCN menghasilkan larutan warna merah. Kolorimeter dilakukan

dengan membandingkan larutan standar denga aplikasi yang dibuat pada dengan membandingkan larutan standar denga aplikasi yang dibuat pada keadaan yang sama dengan menggunakan tabung meester atau kolorimeter keadaan yang sama dengan menggunakan tabung meester atau kolorimeter dubosque. Dengan kolorimetri elektrik jumlah cahaya yang diserap berbanding dubosque. Dengan kolorimetri elektrik jumlah cahaya yang diserap berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Metode ini sering digunakan dalam lurus dengan konsentrasi larutan. Metode ini sering digunakan dalam menetukan konsentrasi besi dalam air minum. Spektrofotometri merupakan menetukan konsentrasi besi dalam air minum. Spektrofotometri merupakan suatu metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar suatu metode analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan mengguankan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan spesifik dengan mengguankan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan

(2)

nm), daerah Visible (380-700 nm), daerah Inframerah (700-3000 nm) (khopkar, nm), daerah Visible (380-700 nm), daerah Inframerah (700-3000 nm) (khopkar, 1990).

1990).

Keuntungan dari metode dari kolorimetri adalah bahwa metode ini Keuntungan dari metode dari kolorimetri adalah bahwa metode ini memberikan cara yang sederhana untuk menetapkan kuantitas-kuantitas suatu memberikan cara yang sederhana untuk menetapkan kuantitas-kuantitas suatu zat yang dilakukan. Selain daripada itu keuntungan lain dar

zat yang dilakukan. Selain daripada itu keuntungan lain dar i metode kolorimetrii metode kolorimetri itu hemat biaya tentunya, sedangkan kerugiannya yaitu hanya dapat itu hemat biaya tentunya, sedangkan kerugiannya yaitu hanya dapat menentukan kuantitas suatu zat yang sangat kecil (Basset,

menentukan kuantitas suatu zat yang sangat kecil (Basset, 1994).1994).

Kolorimetri merupakan suatu metode analisa kimia yang didasarkan Kolorimetri merupakan suatu metode analisa kimia yang didasarkan pada tercapainya keasaman besaran warna antara larutan sampel dengan pada tercapainya keasaman besaran warna antara larutan sampel dengan larutan strandar dengan mengguankan sumber cahaya polikromatis dan larutan strandar dengan mengguankan sumber cahaya polikromatis dan dsetektor maka metode ini didasarkan pada penyerapan cahaya tampak dan dsetektor maka metode ini didasarkan pada penyerapan cahaya tampak dan energi radiasi lainnya oleh suatu larutan. Metode ini dapat diterapkan untuk energi radiasi lainnya oleh suatu larutan. Metode ini dapat diterapkan untuk penentuan komponen yang belum berwarna, namun dengan menguunakan penentuan komponen yang belum berwarna, namun dengan menguunakan reagen yang sesuai dapat menghasilkan senyawa berwarna yang merupakan reagen yang sesuai dapat menghasilkan senyawa berwarna yang merupakan fungsi dari kandungan komponennya. Jika telah tercapai keasaman warna fungsi dari kandungan komponennya. Jika telah tercapai keasaman warna berarti jumlah molekul zat penyerap yang dilewati sinar pada kedua sisinya berarti jumlah molekul zat penyerap yang dilewati sinar pada kedua sisinya tersebut telah sama dan ini dijadikan dasar perhitungan dari percobaan(Vogel, tersebut telah sama dan ini dijadikan dasar perhitungan dari percobaan(Vogel, 1985).

1985).

Kolorimetri merupakan metode analisa yang didasarkan pada Kolorimetri merupakan metode analisa yang didasarkan pada tercapainya keasaman besarnya warna antara suatu sel-sel diantara tercapainya keasaman besarnya warna antara suatu sel-sel diantara sampel-sampel yang dipercobaan dengan larutan

sampel yang dipercobaan dengan larutan standar dengan menggunakan sumberstandar dengan menggunakan sumber cahaya polikromatis dan sumber cahaya dari detektor mata. Intensitas warna cahaya polikromatis dan sumber cahaya dari detektor mata. Intensitas warna kemudian dapat dibandingkan dengan yang diperoleh dengan menangani kemudian dapat dibandingkan dengan yang diperoleh dengan menangani kuantitas yang diketahui dalam zat (Situmorang, 2012).

kuantitas yang diketahui dalam zat (Situmorang, 2012).

Besi merupakan salah satu logam yang banyak di gunakan dalam Besi merupakan salah satu logam yang banyak di gunakan dalam industri. Besi merupakan unsur terbanyak keempat dalam litosfer bumi setelah industri. Besi merupakan unsur terbanyak keempat dalam litosfer bumi setelah oksigen,silicon,dan alumunium. Kegunaan besi yang paling penting adalah oksigen,silicon,dan alumunium. Kegunaan besi yang paling penting adalah dalam pembuatan baja (alloy). Di dalam besi terdapat mineral oksida seperti dalam pembuatan baja (alloy). Di dalam besi terdapat mineral oksida seperti magnetik (Fe

magnetik (Fe33OO44),hematite (Fe),hematite (Fe22OO33)),,dan dan limonit/butir limonit/butir (Fe(Fe22OO33.H.H22O),sebagaiO),sebagai

karbonat: siderite (FeCO

karbonat: siderite (FeCO33) dan sebagian sebagai sulfide : pirit (FeS) dan sebagian sebagai sulfide : pirit (FeS22).).

Spektrofotometer adalah suatau alat yang di gunakan untuk mengukur persen Spektrofotometer adalah suatau alat yang di gunakan untuk mengukur persen

(3)

Besi merupakan salah satu elemen kimiawi yang banyak terdapat di Besi merupakan salah satu elemen kimiawi yang banyak terdapat di perairan tanah,besi diperairan terdapat Fe

perairan tanah,besi diperairan terdapat Fe2+2+ dan Fedan Fe3+3+. Ortho fenantrolin (atau. Ortho fenantrolin (atau

0-fenantrolin) sebagai agen pengompleks dapat berikatan dan membentuk 0-fenantrolin) sebagai agen pengompleks dapat berikatan dan membentuk kompleks berwarna berbeda sehingga di harapkan dalam campuran bisa di kompleks berwarna berbeda sehingga di harapkan dalam campuran bisa di tentukan secara langsung sebagai senyawa kompleks dengan metode tentukan secara langsung sebagai senyawa kompleks dengan metode spektrofotometri. Spektrofotometer sesuai dengan nama nya adalah alat yang spektrofotometri. Spektrofotometer sesuai dengan nama nya adalah alat yang terdiri dari spectrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar terdiri dari spectrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditrensmisikan atau yang di adsorpsi. Jadi pengukur intensitas cahaya yang ditrensmisikan atau yang di adsorpsi. Jadi spektrofotometer di gunakan untuk mengukur energi secara relative jika energi spektrofotometer di gunakan untuk mengukur energi secara relative jika energi tersebut d

tersebut di transmitansi, i transmitansi, direfleksikan atau direfleksikan atau di emsdi emsikan ikan sebagai fungsi sebagai fungsi daridari panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer di bandingkan fotometer adalah panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer di bandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini di peroleh panjang gelombang dari sinar putih dapat lebih terseleksi dan ini di peroleh dengan pengurai seperti prisma, grating atau celah optis. Pada fotometer filter dengan pengurai seperti prisma, grating atau celah optis. Pada fotometer filter dari berbagai warna melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada dari berbagai warna melewatkan trayek panjang gelombang tertentu. Pada fotometer filter tidak mungkin di peroleh panjang gelombang yang fotometer filter tidak mungkin di peroleh panjang gelombang yang monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm, sedang monokromatis, melainkan suatu trayek panjang gelombang 30-40 nm, sedang kan pada panjang gelombang spektrofotometer benar benar monokromatis kan pada panjang gelombang spektrofotometer benar benar monokromatis (Yuniati, 2009).

(4)

III.

III. Alat Dan BahanAlat Dan Bahan

3.1. Alat 3.1. Alat

A. Sistem besi (III) -

A. Sistem besi (III) - tiosianattiosianat

Kertas indicatorKertas indicator 

Labu volumetricLabu volumetric 

Spectronik-20Spectronik-20

B. Sistem besi (III) - ortofenantrolin B. Sistem besi (III) - ortofenantrolin

Kertas IndikatorKertas Indikator 

Labu volumetric 100 mlLabu volumetric 100 ml 

Spectronik-20Spectronik-20

3.2 Bahan 3.2 Bahan

A. Sistem besi (III)

A. Sistem besi (III)  –  –  tiosianat tiosianat

 FeClFeCl  HClHCl  Na-dihidrogenfosfatNa-dihidrogenfosfat  NaFNaF  NaOHNaOH  Na-oklsalatNa-oklsalat  Na-tartatNa-tartat  NHNH44 SCN SCN

B. Sistem besi (III)

B. Sistem besi (III)  –  –  ortofenantrolin ortofenantrolin

 FeClFeCl33  Na-dihidrogenfosfatNa-dihidrogenfosfat  Na-asetatNa-asetat  Na-oksalatNa-oksalat  Na-tatratNa-tatrat  NaFNaF  NaOHNaOH  NHNH22OH . HClOH . HCl  NHNH33pekatpekat  OrtofenantrolinOrtofenantrolin

(5)

IV.

IV. Skema KerjaSkema Kerja

4.1 Sistem besi (III)

4.1 Sistem besi (III) –  –  tiosianat tiosianat

A. Peng

A. Pengaruh waktu tearuh waktu terhadap absorhadap absorbansi rbansi mutlakmutlak

Di ambil dengan pipet tetes Di ambil dengan pipet tetes Di masuk kan dalam labu ukur Di masuk kan dalam labu ukur Di encerkan sampai 100ml Di encerkan sampai 100ml

Di ukur absorbansi pada 480 nm

Di ukur absorbansi pada 480 nm menggunakanmenggunakan spectronic-20 Di pengukuran absorbansi setiap 20 spectronic-20 Di pengukuran absorbansi setiap 20 menit

menit

Dilanjut kan dengan percobaan lain sambil Dilanjut kan dengan percobaan lain sambil menunggu

menunggu

Di alur kan plot A terhadap waktu (menit) untuk Di alur kan plot A terhadap waktu (menit) untuk semua pengukuran

semua pengukuran

B. Pengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi B. Pengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi

Dimasuk kan dalam labu takar 100ml Dimasuk kan dalam labu takar 100ml Diencer kan tiap kali sampai tempat 100ml Diencer kan tiap kali sampai tempat 100ml dengan air

dengan air

Diukur A pada 480 nmDialur kan di atas keatas Diukur A pada 480 nmDialur kan di atas keatas kertas grafik

kertas grafik

Hasil

Hasil

Larutan Fe(III) yang mengandung berbagai jumlah tiosianat Larutan Fe(III) yang mengandung berbagai jumlah tiosianat

Hasil Hasil 5 ml larutan FeCl

(6)

C. Pe

C. Pengaruh ngaruh pH pH terhadap absterhadap absorbansiorbansi 1. pH = 0

1. pH = 0

Diambil dengan pipet tetes sebanyak 4 ml Diambil dengan pipet tetes sebanyak 4 ml

Dimasuk kan ke dalam dalam labu takar 100 ml Dimasuk kan ke dalam dalam labu takar 100 ml Di tambah kan 2 ml larutan jenuh NH

Di tambah kan 2 ml larutan jenuh NH44SCN dan 8SCN dan 8

ml larutan HCL pekat sehingga konsentrasi H ml larutan HCL pekat sehingga konsentrasi H menjadi 1 M setelah diencer kan sampai 100 ml menjadi 1 M setelah diencer kan sampai 100 ml Di kocok larutan dengan baik

Di kocok larutan dengan baik

Di ukur absorbansinya pada 480 nm Di ukur absorbansinya pada 480 nm

2. pH = 1 2. pH = 1

Diambil 4 ml dengan pipet Diambil 4 ml dengan pipet tetestetes Ditambah kan 2 ml larutan NH

Ditambah kan 2 ml larutan NH44SCN dan SCN dan 13 te13 tetes tes HClHCl

pekat pekat

Diencer kan sampai 100 ml Diencer kan sampai 100 ml

Diukur absorbansinya pada 480 nm Diukur absorbansinya pada 480 nm

3. 3. pH pH bermacam-macambermacam-macam a. pH 6 a. pH 6 Ditambah kan 2 ml NH Ditambah kan 2 ml NH44SCNSCN

Diencer kan hingga 100 ml Diencer kan hingga 100 ml Di tambah 0 tetes NaOH 4 M Di tambah 0 tetes NaOH 4 M Diukur

Diukur A A pada pada 480 nm480 nm Diukur pH

Diukur pH Larutan induk Fe (III) Larutan induk Fe (III)

Hasil Hasil

Larutan Fe (III) induk Larutan Fe (III) induk

Hasil Hasil 4 ml Fe (III) 4 ml Fe (III) Hasil Hasil

(7)

b. pH 8 b. pH 8

Di tambah 2 ml NH Di tambah 2 ml NH44SCNSCN

Di tambah 9 tetes NaOH 4 M Di tambah 9 tetes NaOH 4 M Di encerkan hingga 100 ml Di encerkan hingga 100 ml Diukur A pada 480 nm Diukur A pada 480 nm Diukur pH Diukur pH

c. pH 10

c. pH 10

Ditambah 2 ml NH Ditambah 2 ml NH44SCNSCN

Di tambah 9 tetes NaOH 4 M Di tambah 9 tetes NaOH 4 M Di encerkan hingga 100 ml Di encerkan hingga 100 ml Diukur A pada 480 nm Diukur A pada 480 nm Diukur pH Diukur pH

d.

d.

Diplotkan A terhadap pH Diplotkan A terhadap pH untuk semua hasil pengukuranuntuk semua hasil pengukuran D. Pengaruh anion terhadap absorbansi

D. Pengaruh anion terhadap absorbansi

Ditambah kan sebutir kecil NaF padat Ditambah kan sebutir kecil NaF padat Diocok dengan kuat

Diocok dengan kuat Diukur A

Diukur A

Di tambah kan sebutir kecil Na

Di tambah kan sebutir kecil Na-oksalat,kocok kuat-oksalat,kocok kuat Dicatat kalau ada perubahan

Dicatat kalau ada perubahan

Diulangi dengan penembahan Na-tatrat dan kandungan Diulangi dengan penembahan Na-tatrat dan kandungan k-dihidrogenfosfat

k-dihidrogenfosfat

Dilapor kan pengaruh penambahan masing masing Dilapor kan pengaruh penambahan masing masing garam garam 4 ml Fe (III) 4 ml Fe (III) Hasil Hasil 4 ml Fe (III) 4 ml Fe (III) Hasil Hasil Larutan pH 1 Larutan pH 1 Hasil Hasil

(8)

4.2

4.2 Sistem Sistem besi besi (III)-ortopenentrolin(III)-ortopenentrolin

A. pengaruh waktu terhadap absorbansi mutlak A. pengaruh waktu terhadap absorbansi mutlak

Ditambah 3 ml NH

Ditambah 3 ml NH44SCN jenuh dalam labu takarSCN jenuh dalam labu takar

Diencer kan sampai 100 ml Diencer kan sampai 100 ml

Ditambah kan 2 ml larutan ortopenantrolin 0,3 % Ditambah kan 2 ml larutan ortopenantrolin 0,3 % Dimasukkan kertas merah kongokan larutan 2 m Dimasukkan kertas merah kongokan larutan 2 m N-asetat

asetat

Diencer kan hingga 100 ml Diencer kan hingga 100 ml Diukur A pada 512 nm Diukur A pada 512 nm

Diulangi pengukuran setiap 20 menit selama 100 m Diulangi pengukuran setiap 20 menit selama 100 m enitenit Dialur kan plot A terhadap waktu

Dialur kan plot A terhadap waktu

B. pengaruh kelebihan preaksi terhadap absorbansi mutlak B. pengaruh kelebihan preaksi terhadap absorbansi mutlak

Dibuat dengan menambah kan berturut turut 0,0 ; 0,2 ; Dibuat dengan menambah kan berturut turut 0,0 ; 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 1,0 ; 3,0 ; dan 4,0 ml larutan 0-fn 0,3%

0,4 ; 0,6 ; 1,0 ; 3,0 ; dan 4,0 ml larutan 0-fn 0,3% Diukur A pada 512 nm

Diukur A pada 512 nm

Di alur kan plot A terhadap ml 0-fn Di alur kan plot A terhadap ml 0-fn

C. pengaruh pH terhadap

C. pengaruh pH terhadap absorbansi mutlakabsorbansi mutlak 1. pH = 1,7

1. pH = 1,7

Ditambahkan 1 ml Ng

Ditambahkan 1 ml Ng22OH.HClOH.HCl

Diputar

Diputar –  – putar beberapa detikputar beberapa detik

Dibiarkan 2 menit Ditambah 2 ml 0-Fn 0,3% Dibiarkan 2 menit Ditambah 2 ml 0-Fn 0,3% Diencerkan sampai 100 ml Diencerkan sampai 100 ml Diukur A pada 512 nm Diukur A pada 512 nm 5 ml Fe (III) 5 ml Fe (III) Hasil Hasil Larutan Fe Larutan Fe Hasil Hasil 4 ml Fe (III) 4 ml Fe (III)

(9)

2. pH = 2 2. pH = 2

Ditambah 1 ml NH

Ditambah 1 ml NH22OH.HClOH.HCl

Dibiar kan 2 menit Dibiar kan 2 menit

Ditambah 2 ml 0-Fn 0,3% Ditambah 2 ml 0-Fn 0,3% Diencer kan sampai 100 ml Diencer kan sampai 100 ml Diukur A pada 512 nm Diukur A pada 512 nm

3. pH = 5 3. pH = 5

Digunakan hasil pengkuran A pertama pada percobaan B1 Digunakan hasil pengkuran A pertama pada percobaan B1 4. pH = 9

4. pH = 9

Ditambah 1 ml NH

Ditambah 1 ml NH22OH.HClOH.HCl

Ditambah 2 ml o-fn 0,3% Ditambah 2 ml o-fn 0,3% Diencerkan sampai 100ml Diencerkan sampai 100ml

Dikocok dan di ukur A pada 512 nm Dikocok dan di ukur A pada 512 nm

5. pH = 12 5. pH = 12

Ditambah 1 ml NH

Ditambah 1 ml NH22OH.HClOH.HCl

Ditambah 2 ml o-fn 0,3% Ditambah 2 ml o-fn 0,3% Diencerkan sampai 100ml Diencerkan sampai 100ml

Dikocok dan di ukur A pada 512 nm Dikocok dan di ukur A pada 512 nm

6. Dibanding kan (plot) A terhadap pH 6. Dibanding kan (plot) A terhadap pH

4 ml Fe (III) 4 ml Fe (III) Hasil Hasil 4 ml Fe(III) 4 ml Fe(III) Hasil Hasil 4 ml Fe (III) 4 ml Fe (III) Hasil Hasil

(10)

D. Pengaruh anion terhadap absorbansi mutlak D. Pengaruh anion terhadap absorbansi mutlak

Ditambah NaF Ditambah NaF Dikocok

Dikocok dan dan diukur diukur AA

Ditambah kan Na-oksalat akuades Ditambah kan Na-oksalat akuades

Diulangi dengan penembahan Na-tartiat dan Diulangi dengan penembahan Na-tartiat dan hidrogenfosfat hidrogenfosfat Larutan B I Larutan B I Hasil Hasil

(11)

V.

V. Hasil dan PembahasanHasil dan Pembahasan

Pada praktikum ini dilakukan percobaan mengenai sifat baik dan tak Pada praktikum ini dilakukan percobaan mengenai sifat baik dan tak baik untuk keperluan analisis kalorimeter untuk sistem besi (III)- tiosianat dan baik untuk keperluan analisis kalorimeter untuk sistem besi (III)- tiosianat dan besi (III)-ortopenantrolin. Menggunakan metode kalorimetri yang merupakan besi (III)-ortopenantrolin. Menggunakan metode kalorimetri yang merupakan suatu analisis berdasarkan penyerapan cahaya tampak oleh molekul atau ion suatu analisis berdasarkan penyerapan cahaya tampak oleh molekul atau ion suatu sampel dalam larutan. Metode standar penentuan tiosanat dan suatu sampel dalam larutan. Metode standar penentuan tiosanat dan ortopenatrolin dilakukan dengan spektrofotometri dengan penambahan besi (III) ortopenatrolin dilakukan dengan spektrofotometri dengan penambahan besi (III) sehingga terbentuk besi (II)

sehingga terbentuk besi (II)

4.2.1 Sistem Besi (III)- Tiosianat 4.2.1 Sistem Besi (III)- Tiosianat

Percobaan pertama dilakukan penentuan pengaruh waktu terhadap Percobaan pertama dilakukan penentuan pengaruh waktu terhadap absorbansi mutlak. Besi (III) klorida sebanyak 5 ml ditambahkan 3 ml NH

absorbansi mutlak. Besi (III) klorida sebanyak 5 ml ditambahkan 3 ml NH44SCN,SCN,

lalu diencerkan dalam labu akar 100 ml , diperoleh larutan berwarna lalu diencerkan dalam labu akar 100 ml , diperoleh larutan berwarna kecoklatan. NH

kecoklatan. NH44SCN ini digunakan sebagai reagen pengompleks untuk besiSCN ini digunakan sebagai reagen pengompleks untuk besi

sehingga larutan menjadi berwarna yang merupakan syarat dari analisis sehingga larutan menjadi berwarna yang merupakan syarat dari analisis menggunakan spektrofotometer. Larutan kecoklatan tersebut merupakan menggunakan spektrofotometer. Larutan kecoklatan tersebut merupakan larutan kompleks besi (III)

larutan kompleks besi (III) tiosianat.tiosianat.

1. Pengaruh waktu terhadap absorbansi mutlak 1. Pengaruh waktu terhadap absorbansi mutlak Pada percobaan ini larutan FeCl

Pada percobaan ini larutan FeCl33  yang digunakan dilakukan  yang digunakan dilakukan

penambahan NH

penambahan NH44SCN sebagai pengompleksnya untuk dapat memberikan warnaSCN sebagai pengompleksnya untuk dapat memberikan warna

pada larutan sehingga dapat sesuai dengan syarat dari hukum lambert beer pada larutan sehingga dapat sesuai dengan syarat dari hukum lambert beer agar dapat dianalisis dan dilakukan pengukuran nilai absorbansinya ada agar dapat dianalisis dan dilakukan pengukuran nilai absorbansinya ada panjang gelombang 480 nm. Adapun data hasil pengamatan yang didapakan panjang gelombang 480 nm. Adapun data hasil pengamatan yang didapakan pada percobaan sistem besi (III) tissianat ini

pada percobaan sistem besi (III) tissianat ini yaitu sebagai berikut ini:yaitu sebagai berikut ini:

Tabel 1

Tabel 1.Hasil data pengamatan Pengaruh waktu .Hasil data pengamatan Pengaruh waktu terhadap pengukuranterhadap pengukuran absorbansi mutlak

absorbansi mutlak

Perlakuan Hasil

Perlakuan Hasil

-5 ml larutan induk Fe (III) -5 ml larutan induk Fe (III) klorida + 2 ml NH

klorida + 2 ml NH44SCNSCN

Diukur absorbansi dengan Diukur absorbansi dengan panjang gelombang 480 nm panjang gelombang 480 nm

Larutan berwarna merah pekat Larutan berwarna merah pekat

Menit ke 1 = 3,021 A Menit ke 1 = 3,021 A Menit ke 2 = 3,021 A Menit ke 2 = 3,021 A Menit ke 3 = 3,275 A Menit ke 3 = 3,275 A Menit ke 4 = 3,280 A Menit ke 4 = 3,280 A Menit ke 5 = 3,285 A Menit ke 5 = 3,285 A Menit ke 6 = 3,286 A Menit ke 6 = 3,286 A

(12)

Pada percobaan sistem besi(III)tiosianat memiliki rentang panjang Pada percobaan sistem besi(III)tiosianat memiliki rentang panjang sekitar480 nm, dengan warna komplementer merah da warna yang diserapyaitu sekitar480 nm, dengan warna komplementer merah da warna yang diserapyaitu warna hijau. Pada percobaan ini terjadi penguraian on dari kompleks[Fe(SCN) warna hijau. Pada percobaan ini terjadi penguraian on dari kompleks[Fe(SCN)33],],

sebelum sampel dilakukan pengukuran larutan tersebut diencerkan, karna sebelum sampel dilakukan pengukuran larutan tersebut diencerkan, karna sampel yang sebelum nya masih terlalu pekat, karna tidak akan terbaca kalau sampel yang sebelum nya masih terlalu pekat, karna tidak akan terbaca kalau sampel yang pekat didalam spektronik-20, diencer kan menggunakan aquades sampel yang pekat didalam spektronik-20, diencer kan menggunakan aquades dengan labu 100 ml untuk mendapatkan larutan

dengan labu 100 ml untuk mendapatkan larutan

  yang berwarna cerah

  yang berwarna cerah

dimana besi(III)tiosianat ini mudah larut dalam air dan menghasilkan larutan dimana besi(III)tiosianat ini mudah larut dalam air dan menghasilkan larutan berwarna merah. Merah ini disebabkan oleh adanyaion terhidrasi FeSCN²

berwarna merah. Merah ini disebabkan oleh adanyaion terhidrasi FeSCN²ᶧᶧ yang yang

tidak sesuai dengan Fe³

tidak sesuai dengan Fe³ᶧᶧ  dan SCN¯. Pada percobaan ini praktikan  dan SCN¯. Pada percobaan ini praktikan

mengidentifikasi pengaruh pengaruh waktu terhadap proses oksida tiosanat mengidentifikasi pengaruh pengaruh waktu terhadap proses oksida tiosanat seperti yang terimentlasi pada kurva berikut ini.

seperti yang terimentlasi pada kurva berikut ini.

Gambar 1. Kurva kalibrasi Grafik pengaruh waktu terhadap Absorbansi (A) Gambar 1. Kurva kalibrasi Grafik pengaruh waktu terhadap Absorbansi (A)

mutlak pada panjang gelombang 480 nm mutlak pada panjang gelombang 480 nm

Kemudian diukur nilai absorbansinya pada panjang gelombang 480 nm Kemudian diukur nilai absorbansinya pada panjang gelombang 480 nm setipa 20 menit sebanyak 5 kali hinggan 100 menit. Diperoleh nilai setipa 20 menit sebanyak 5 kali hinggan 100 menit. Diperoleh nilai absorbansinya pada menit ke 0, 20, 40, 60, 80 dan 100 secara berturut-turut absorbansinya pada menit ke 0, 20, 40, 60, 80 dan 100 secara berturut-turut hingga di hasilkan nilai absorbansi yang tertinggi sebesar 3,286 A.Hasil yang hingga di hasilkan nilai absorbansi yang tertinggi sebesar 3,286 A.Hasil yang ditunjukkan pada kurva diatas mengalami kejadian dimana nilai absorbansi ditunjukkan pada kurva diatas mengalami kejadian dimana nilai absorbansi

3 3..002211 33..002211 3.275 3.275 3.283.28 3.2853.285 3.2863.286 y = 0.0606x + 2.9825y = 0.0606x + 2.9825 R² = 0.7103 R² = 0.7103 2.8 2.8 2.9 2.9 3 3 3.1 3.1 3.2 3.2 3.3 3.3 3.4 3.4 0 0 2200 4400 6060 8800 110000    A    A     b     b   s   s    o    o    r    r     b     b   a   a    n    n    s    s    i    i waktu ( menit) waktu ( menit)

Grafik pengaruh waktu terhadap Absorbansi (A)

Grafik pengaruh waktu terhadap Absorbansi (A)

mutlak pada panjang gelombang 480 nm

mutlak pada panjang gelombang 480 nm

Absorbansi (A) Absorbansi (A)

Linear (Absorbansi (A)) Linear (Absorbansi (A))

(13)

sampel berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan yang menyebabkan naik sampel berpengaruh terhadap waktu yang diperlukan yang menyebabkan naik turun nya nilai absorbansi.

turun nya nilai absorbansi.

2. Pengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi mutlak 2. Pengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi mutlak

Percobaan kedua menentukan pengaruh kelebihan pereaksi terhadap Percobaan kedua menentukan pengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi mutlak. Sebanyak 5 ml besi (III) yang mengandung berbagai jumlah absorbansi mutlak. Sebanyak 5 ml besi (III) yang mengandung berbagai jumlah tiosianat ditambahkan reagen pengompleks NH

tiosianat ditambahkan reagen pengompleks NH44SCN dengan berbagai variasiSCN dengan berbagai variasi

volume untuk mengetahui apakah variasi volume pereaksi yang digunakan volume untuk mengetahui apakah variasi volume pereaksi yang digunakan dapat mempengaruhi absorbansi. Hasil yang diperoleh ditunjukkan pada tabel dapat mempengaruhi absorbansi. Hasil yang diperoleh ditunjukkan pada tabel hasil pengamatan dan kurva dibawah ini.

hasil pengamatan dan kurva dibawah ini.

Tabel 2.

Tabel 2. Data hasil pengamatan p Data hasil pengamatan pengaruh kelebihan pereaksi terhadapengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi mutlak

absorbansi mutlak No

No Perlakuan Perlakuan Hail Hail PengamatanPengamatan 1

1 5 5 ml ml Fe(III) Fe(III) ditambah ditambah 10 10 mlml NH

NH44SCN diencerkan hingga 100 mlSCN diencerkan hingga 100 ml

dan diukur nilai absorbansinya dan diukur nilai absorbansinya

Larutan menjadi merah darah dan Larutan menjadi merah darah dan nilai absorbansnya yaitu A : 3,306 nilai absorbansnya yaitu A : 3,306 A

A 2

2 5 5 ml ml Fe(III) Fe(III) ditambah ditambah 20 20 mlml NH

NH44SCN diencerkan hingga 100 mlSCN diencerkan hingga 100 ml

dan diukur nilai absorbansinya dan diukur nilai absorbansinya

Larutan menjadi merah darah dan Larutan menjadi merah darah dan nilai absorbansnya yaitu A : 3,321 nilai absorbansnya yaitu A : 3,321 A

A 3

3 5 5 ml ml Fe(III) Fe(III) ditambah ditambah 30 30 mlml NH

NH44SCN diencerkan hingga 100 mlSCN diencerkan hingga 100 ml

dan diukur nilai absorbansinya dan diukur nilai absorbansinya

Larutan menjadi merah darah dan Larutan menjadi merah darah dan nilai absorbansnya yaitu A : 3,042 nilai absorbansnya yaitu A : 3,042 A

A

 Tujuan

 Tujuan dari dari proses proses penambahan penambahan pereaksi pereaksi pada pada percobaan percobaan ini ini yaituyaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh hasil yang didapatkan jika pereaksi untuk mengetahui bagaimana pengaruh hasil yang didapatkan jika pereaksi  yang

 yang ditambahkan ditambahkan pada pada sampel sampel yang yang digunakan digunakan berbeda-beda berbeda-beda volumenya.volumenya. Berdasarkan tabel data hasil pengamatan tersebut volume pereaksiyang Berdasarkan tabel data hasil pengamatan tersebut volume pereaksiyang ditambah

ditambah secara secara berturut-turut berturut-turut sebesar sebesar 10, 20 10, 20 dan 30 dan 30 ml NHml NH44SCN yangSCN yang

digunakan sebagai pengompleks ada sstem besi (III) tiosianat dan bila larutan digunakan sebagai pengompleks ada sstem besi (III) tiosianat dan bila larutan pengompleks yang ditambahkkan semakin banyak, maka secara otomatis pengompleks yang ditambahkkan semakin banyak, maka secara otomatis larutan sampel sistem besii (III) tiosianat tersebut akan mengalami perubahan larutan sampel sistem besii (III) tiosianat tersebut akan mengalami perubahan warna larutan yang semakin mejadi lebih pekat dari warna awalnya.

(14)

Gambar 2. Kurva kalibrasi

Gambar 2. Kurva kalibrasi pengaruh kelebihan pereaksi terhadap Absorbansipengaruh kelebihan pereaksi terhadap Absorbansi (A) mutlak pada panjang gelombang 480 nm

(A) mutlak pada panjang gelombang 480 nm

Dari kurva tersebut menunjukkan perubahan absorbansi yang turun Dari kurva tersebut menunjukkan perubahan absorbansi yang turun naik dengan perbedaan yang tidak terlalu jauh. Jadi dapat disimpulkan bahwa naik dengan perbedaan yang tidak terlalu jauh. Jadi dapat disimpulkan bahwa kelebihan pereaksi yang ditambahkan sedikit berpengaruh terhadap absorbansi kelebihan pereaksi yang ditambahkan sedikit berpengaruh terhadap absorbansi tetapi tidak terlalu signifikan karena pereaksi NH

tetapi tidak terlalu signifikan karena pereaksi NH44SCN ini bermanfaat dalamSCN ini bermanfaat dalam

menjaga keseimbangan jumlah atom yang stabil dengan terionisasi. Hasil menjaga keseimbangan jumlah atom yang stabil dengan terionisasi. Hasil komparator yang diamati secara visual menunjukkan adanya perbedaan komparator yang diamati secara visual menunjukkan adanya perbedaan intensitas warna yang dihasilkan pada masing-masing konsentrasi intensitas warna yang dihasilkan pada masing-masing konsentrasi tiosianat,dimana semaki besar konsentrasi tiosianat maka akan semakin merah tiosianat,dimana semaki besar konsentrasi tiosianat maka akan semakin merah intensitas warna larutan.

intensitas warna larutan.

3. Pengaruh pH terhadap absorbansi 3. Pengaruh pH terhadap absorbansi

Percobaan ketiga dilakukan penentuan pengaruh pH terhadap Percobaan ketiga dilakukan penentuan pengaruh pH terhadap absorbansi. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 480 nm dan berbagai absorbansi. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 480 nm dan berbagai variasi pH yaitu pada pH 0; 1 dan pada pH bermacam-macam pada pH 6; 8 dan variasi pH yaitu pada pH 0; 1 dan pada pH bermacam-macam pada pH 6; 8 dan 10. Pada pH bermacam-macam besi (III) ditambahkan NH

10. Pada pH bermacam-macam besi (III) ditambahkan NH44SCN dan juga NaOHSCN dan juga NaOH

dengan berbagai volume yaitu 0 ml, 4 ml dan 9 ml. kemudian diukur dengan berbagai volume yaitu 0 ml, 4 ml dan 9 ml. kemudian diukur absorbansinya dan diperoleh hasil yang ditunjukkan pada tabel dan kurva absorbansinya dan diperoleh hasil yang ditunjukkan pada tabel dan kurva dibawah ini.

dibawah ini.

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa pada penambahan larutan HCl Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa pada penambahan larutan HCl pekat dan NaOH pada

pekat dan NaOH pada larutan sistem besi (III) tiosianat ini larutan sistem besi (III) tiosianat ini dapat mempengaruhidapat mempengaruhi

3.306 3.306 3.3213.321 3.043.04 y = -0.133x + 3.4883 y = -0.133x + 3.4883 R² = 0.7078 R² = 0.7078 0 0 1 1 2 2 3 3 4 4 1 100 2200 3300    A    A     b     b   s   s    o    o    r    r     b     b   a   a    n    n    s    s    i    i mL NH mL NH44SCNSCN

Grafik pengaruh kelebihan pereaksi terhadap

Grafik pengaruh kelebihan pereaksi terhadap

Absorbansi (A) mutlak pada panjang gelombang

Absorbansi (A) mutlak pada panjang gelombang

480 nm

480 nm

(15)

Tabel 3.

Tabel 3. Data hasil pengamatan pengaruh pH terhadap absorbansi mutlak Data hasil pengamatan pengaruh pH terhadap absorbansi mutlak

pH

pH Fe(III)Fe(III) NHNH44SCNSCN HCl HCl NaOHNaOH AbsorbansiAbsorbansi

0 0 4 4 ml ml 2 2 ml ml 8 tetes 8 tetes - - 3,080 3,080 AA 1 1 4 4 ml ml 2 2 ml ml 13 13 tetes tetes - - 3,095 3,095 AA 6 6 4 4 ml ml 2 2 ml ml - - 0 0 tetes tetes 0,075 0,075 AA 8 8 4 4 ml ml 2 2 ml ml - - 7 7 tetes tetes 3,095 3,095 AA 10 10 4 4 ml ml 2 2 ml ml - - 9 9 tetes tetes 0,038 0,038 AA

Pada percobaan ketiga ini penentuan pengaruh pH terhadap absorbansi , Pada percobaan ketiga ini penentuan pengaruh pH terhadap absorbansi , absorbansi diukur pada panjang gelombang 480 nm dan berbagai variasi pH absorbansi diukur pada panjang gelombang 480 nm dan berbagai variasi pH  yaitu pH=0, pH=1, pH=6,

 yaitu pH=0, pH=1, pH=6, pH=8 dan pH=10. Pada pH pH=8 dan pH=10. Pada pH 0 dan 1 0 dan 1 larutan Fe(III) telajlarutan Fe(III) telaj mengandung HCL 0,5 M sehingga larutan tersebut besifat asam dan pada pH 6 , mengandung HCL 0,5 M sehingga larutan tersebut besifat asam dan pada pH 6 , 8, dan 10 larutan Fe(III) ditambah dengan larutan NH

8, dan 10 larutan Fe(III) ditambah dengan larutan NH44SCN dan jugalarutanSCN dan jugalarutan

NaOH de

NaOH dengan berbagai ngan berbagai volume volume yaitu 0,7 yaitu 0,7 dan 9 dan 9 tetes tetes , kemud, kemudian ian diukurdiukur absorbansinya dan didapatlah absorbansinya pada penambahan HCL 8 tetes absorbansinya dan didapatlah absorbansinya pada penambahan HCL 8 tetes absorbansi yang di dapat 0,dan didapatlah absorbansinya pada penambahan absorbansi yang di dapat 0,dan didapatlah absorbansinya pada penambahan HCL 8 tete

HCL 8 tetes absorbansi s absorbansi yang di dapat 3yang di dapat 3,080 A dan ,080 A dan 13 tetes 13 tetes absorbansinyaabsorbansinya 3,095 A , sselanjutnya pada NaOH absorbansi nya 7 tetes 3,095 A dan terakhir 3,095 A , sselanjutnya pada NaOH absorbansi nya 7 tetes 3,095 A dan terakhir penambahan 9 tetes NaOH absorbansi ysng didapat lebih dari 3,3038 A , hasil penambahan 9 tetes NaOH absorbansi ysng didapat lebih dari 3,3038 A , hasil  yang diperoleh

 yang diperoleh kemudian diolah pada kurva berikukemudian diolah pada kurva berikutt

3.08 3.08 3.0953.095 0.075 0.075 0.0490.049 0.0380.038 y = -0.913x + 4.0064 y = -0.913x + 4.0064 R² = 0.7548 R² = 0.7548 -1 -1 0 0 1 1 2 2 3 3 4 4 0 1 6 8 0 1 6 8 1010    A    A     b     b   s   s    o    o    r    r     b     b   a   a    n    n    s    s    i    i pH pH

Graf

Grafik pen

ik pengaruh

garuh pH ter

pH terhadap

hadap Absorban

Absorbansi

si mutlak

mutlak

pada panjang gelombang 480 nm

pada panjang gelombang 480 nm

Absorbansi (A) Absorbansi (A)

Linear (Absorbansi (A)) Linear (Absorbansi (A))

(16)

Dari kurva tersebut menunjukkan bahwa absorbansi mengalami Dari kurva tersebut menunjukkan bahwa absorbansi mengalami kenaikan dari pH 0 hingga pH 10 dengan perubahan yang sedikit. Jadi dapat kenaikan dari pH 0 hingga pH 10 dengan perubahan yang sedikit. Jadi dapat disimpulkan bahwa larutan kompleks besi (III) tiosianat kurang stabil dalam disimpulkan bahwa larutan kompleks besi (III) tiosianat kurang stabil dalam suasana basa dan lebih stabil dalam asam. Berdasarkan hasil diatas suasana basa dan lebih stabil dalam asam. Berdasarkan hasil diatas menunjukkan

menunjukkan bahwa bahwa nilai nilai absorbansi absorbansi yang yang menurun menurun akan akan menyebabkanmenyebabkan peningkatan pH terhadap suatu sampel.

peningkatan pH terhadap suatu sampel.

Pada percobaan ini menunjukkan bahwa pH mempengaruhi secara Pada percobaan ini menunjukkan bahwa pH mempengaruhi secara konstan penurunan nilai absorbansi yang berbanding lurus dengan penurunan konstan penurunan nilai absorbansi yang berbanding lurus dengan penurunan konsentrasi yang mengakibatkan oleh proses oksidasi tiosianat yang berbeda konsentrasi yang mengakibatkan oleh proses oksidasi tiosianat yang berbeda beda setiap pH nya.

beda setiap pH nya.

4. Pengaruh anion terhadap absorbansi 4. Pengaruh anion terhadap absorbansi

Percobaan terakhir dilakukan penentuan pengaruh anion terhadap Percobaan terakhir dilakukan penentuan pengaruh anion terhadap absorbansi. Larutan pH 1 dari percobaan sebelumnya ditambahkan berbagai absorbansi. Larutan pH 1 dari percobaan sebelumnya ditambahkan berbagai anion yaitu NaF, Na-oksalat, Na-tartrat dan dihidrogenfosfat. Kemudian diukur anion yaitu NaF, Na-oksalat, Na-tartrat dan dihidrogenfosfat. Kemudian diukur absorbansinya dan diperoleh hasil yang ditunjukkan tabel hasil pengamatan absorbansinya dan diperoleh hasil yang ditunjukkan tabel hasil pengamatan pada kurva berikut ini.

pada kurva berikut ini.

Tabel 4.

Tabel 4. Data hasiil pengamatan pengaruh anion pada ppH 1 terhadap Data hasiil pengamatan pengaruh anion pada ppH 1 terhadap absorbansi pada panjang gelombang 480 nm.

absorbansi pada panjang gelombang 480 nm.

pH

pH Garam Garam Warna Warna AbsorbansiAbsorbansi 1

1 NaF NaF Kuning Kuning menjadimenjadi merah pekat merah pekat

0,119 0,119

1

1 Na-Oksalat Na-Oksalat Kuning Kuning menjadimenjadi merah pekat merah pekat

3,24 3,24

1

1 Na-Tartrat Na-Tartrat Kuning menjadiKuning menjadi merah bening merah bening 2,311 2,311 1 1 Na- Na-Dihidrogenfosfat Dihidrogenfosfat Kuning menjadi Kuning menjadi kunng bening kunng bening O,027 O,027

Pada percobaan penagaruh anion ini terhadap absorbansi, untuk Pada percobaan penagaruh anion ini terhadap absorbansi, untuk mengetahui kestabilan senyawa kompleks maka diberi beberapa macam mengetahui kestabilan senyawa kompleks maka diberi beberapa macam

(17)

garam- yang digunakan

 yang digunakan pada percobaan pada percobaan ini dan ini dan juga sekaligus menggambarkan juga sekaligus menggambarkan bahwabahwa terjadi setelah dilakukan penambahan garam anion ini, kestabilan dari senyawa terjadi setelah dilakukan penambahan garam anion ini, kestabilan dari senyawa komplekssistem besi (III) tiosianat ini mrnjadi terganggu sehingga menyebabkan komplekssistem besi (III) tiosianat ini mrnjadi terganggu sehingga menyebabkan nilai absorbansinya menjadi naik turun dan tidak linear pada saat dilakukan nilai absorbansinya menjadi naik turun dan tidak linear pada saat dilakukan proses pengukurannya ini. Dalam hal ini garam anion yang sangat besar proses pengukurannya ini. Dalam hal ini garam anion yang sangat besar mempengaruhi sistem kestabilan sistem besi (III) tiosianat ini adalah garam mempengaruhi sistem kestabilan sistem besi (III) tiosianat ini adalah garam Na-Oksalat. Dari data hasil pengamatan tersebut di dapatlah kurva kalibrasinya Oksalat. Dari data hasil pengamatan tersebut di dapatlah kurva kalibrasinya  yaitu sebagai berikut ini:

 yaitu sebagai berikut ini:

Gambar 4. Kurva kalibrasi anion pH 1 terhadap Absorbansi (A) mutlak pada Gambar 4. Kurva kalibrasi anion pH 1 terhadap Absorbansi (A) mutlak pada

panjang gelombang 480 nm panjang gelombang 480 nm

Dari kurva tersebut menunjukkan nilai absorbansi mengalami Dari kurva tersebut menunjukkan nilai absorbansi mengalami perubahan yang cukup jauh. Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan perubahan yang cukup jauh. Hal tersebut menunjukkan bahwa larutan kompleks besi (III) tiosianat mudah dipengaruhi berbagai anion karena tidak kompleks besi (III) tiosianat mudah dipengaruhi berbagai anion karena tidak dapat mempertahankan nilai absorbansinya pada penambahan berbagai anion dapat mempertahankan nilai absorbansinya pada penambahan berbagai anion  yang berbeda. Ini

 yang berbeda. Ini dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh setiap anionsetiap anion terhadap absorbansi nya yang digunakan pada percobaan ini adalah yang terhadap absorbansi nya yang digunakan pada percobaan ini adalah yang mempuyai pH 1. Berdasarkan grafik hubungan diketahui bahwa setiap anion mempuyai pH 1. Berdasarkan grafik hubungan diketahui bahwa setiap anion mempunyai nilai absorbansi yang berbeda satu sama lainnya dikarenakan mempunyai nilai absorbansi yang berbeda satu sama lainnya dikarenakan setiap anion memiliki sifat fisika dan sifat kimia antara satu dengan yang setiap anion memiliki sifat fisika dan sifat kimia antara satu dengan yang lainnya. lainnya. 0.119 0.119 3.24 3.24 2.311 2.311 0.027 0.027 y = -0.1205x + 1.7255 y = -0.1205x + 1.7255 R² = 0.0094 R² = 0.0094 0 0 0.5 0.5 1 1 1.5 1.5 2 2 2.5 2.5 3 3 3.5 3.5    A    A     b     b   s   s    o    o    r    r     b     b   a   a    n    n    s    s    i    i Garam Garam

Grafik anion pH 1 terhadap Absorbansi (A) mutlak

Grafik anion pH 1 terhadap Absorbansi (A) mutlak

pada panjang gelombang 480 nm

pada panjang gelombang 480 nm

Absorbansi (A) Absorbansi (A)

Linear (Absorbansi (A)) Linear (Absorbansi (A))

(18)

VI.

VI. Kesimpulan dan SaranKesimpulan dan Saran 5.1 Kesimpulan

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang dilakukan diperoleh dapat ditarik kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan diperoleh dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

sebagai berikut. 1.

1. Prinsip analisa kalorimeter pada penentuan besi ,faktor kuncinyaPrinsip analisa kalorimeter pada penentuan besi ,faktor kuncinya adalah pembentukan larutan berwarna dari senyawa kompleks yang adalah pembentukan larutan berwarna dari senyawa kompleks yang terbentuk serta perbandingan warna antara larutan sampel dengan terbentuk serta perbandingan warna antara larutan sampel dengan larutan standar.

larutan standar. 2.

2. Sistem besi (III) tiosianat memiliki kestabilan yang cukup tinggi danSistem besi (III) tiosianat memiliki kestabilan yang cukup tinggi dan tidak mudah dipengaruhi oleh waktu dan stabil pada kondisi asam. tidak mudah dipengaruhi oleh waktu dan stabil pada kondisi asam. Sedangkan pada sistem besi (III) ortopenantrolin mengalami Sedangkan pada sistem besi (III) ortopenantrolin mengalami perubahan absorbansi yang menunjukkan bahwa kestabilannya perubahan absorbansi yang menunjukkan bahwa kestabilannya dapat terganggu

dapat terganggu dan lebih dan lebih stabil pada stabil pada kondisi basakondisi basa. Sementara . Sementara ituitu pada pengaruh kelebihan pereaksi dan anion keduanya mengalami pada pengaruh kelebihan pereaksi dan anion keduanya mengalami perubahan absorbansi yang menunjukkan bahwa keduanya tidak perubahan absorbansi yang menunjukkan bahwa keduanya tidak stabil.

stabil. 3.

3. Alat spectronic-20 pada prinsipnya menganalisa senyawa yang sudahAlat spectronic-20 pada prinsipnya menganalisa senyawa yang sudah dikomplekskan berdasarkan penyerapan cahaya pada panjang dikomplekskan berdasarkan penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu.

gelombang tertentu.

5.2 Saran 5.2 Saran

Diharapkan kepada praktikan melakukan praktikum dengan Diharapkan kepada praktikan melakukan praktikum dengan pemahaman materi yang bagus,lebih teliti dalam melakukan percobaan pemahaman materi yang bagus,lebih teliti dalam melakukan percobaan dan berkoordinasi yang bagus antar praktikan sehingga praktikum dan berkoordinasi yang bagus antar praktikan sehingga praktikum berjalan lancar dan memperoleh hasil yang lebih

(19)

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Basset, J, Denney, R.C. Jeffery, G .H .

Basset, J, Denney, R.C. Jeffery, G .H . Dan Mendeham,J.1994.Dan Mendeham,J.1994.Kimia AnalisisKimia Analisis Kuantitatif

Kuantitatif Anorganik.KedoktAnorganik.Kedokteran.eran. Jakarta :EGC Jakarta :EGC Day, R.A. Dan Underwood,A.L.1986.

Day, R.A. Dan Underwood,A.L.1986. Analisis Kimia Kuantitatif Analisis Kimia Kuantitatif . Jakarta:. Jakarta: Erlangga

Erlangga

Khopkhar, S. M. 1990.

Khopkhar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik Konsep Dasar Kimia Analitik .Jakarta: UI Press.Jakarta: UI Press

Situmorang, M. Silitonga.F.M.Nurwahyuni. I. Siregar. L. S, Dan Purba, R. 2012. Situmorang, M. Silitonga.F.M.Nurwahyuni. I. Siregar. L. S, Dan Purba, R. 2012.

”Pengembangan Metode Analisis Spektofotometri Untuk MenentukanPengembangan Metode Analisis Spektofotometri Untuk Menentukan

Kolestroldidalam Makanan Tradisional

Kolestroldidalam Makanan Tradisional””.. Jurnal Saintika Jurnal Saintika  Vol.12:(2). Vol.12:(2).

Syarifuddin, D.N. 1994.

Syarifuddin, D.N. 1994.Ikatan Kimia Ikatan Kimia . Yogyakarta: UGM Press. Yogyakarta: UGM Press Vogel. 1985.

Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimakro Bagian 1Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimakro Bagian 1..  Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka

 Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka Yuniati, F. 2009.

Yuniati, F. 2009. ““Penentuan Konsentrasi FePenentuan Konsentrasi Fe2+2+  Dan Fe  Dan Fe3+3+  Secara Simultan  Secara Simultan

Dengan Spektrofotometri Tampak Menggunakan Pengompleks Dengan Spektrofotometri Tampak Menggunakan Pengompleks Ortho-Fenantrolin

Gambar

Gambar 1. Kurva kalibrasi Grafik pengaruh waktu terhadap Absorbansi (A)Gambar 1. Kurva kalibrasi Grafik pengaruh waktu terhadap Absorbansi (A)
Gambar 2. Kurva kalibrasi
Tabel 3.  Data hasil pengamatan pengaruh pH terhadap absorbansi mutlak  Data hasil pengamatan pengaruh pH terhadap absorbansi mutlak
Gambar 4. Kurva kalibrasi anion pH 1 terhadap Absorbansi (A) mutlak padaGambar 4. Kurva kalibrasi anion pH 1 terhadap Absorbansi (A) mutlak pada

Referensi

Dokumen terkait

(2014), dari hasil teori mengatakan bahwa ada hubungan antara jenis kelamin dengan perkembangan motorik halus anak autisme dengan kategori anak laki-laki lebih tinggi

Menimbang, bahwa terlepas dari ketentuan-ketentuan formil sebagaimana terurai di atas, dalam perkara aquo, disamping ada kepentingan hukum Para Pemohon, juga

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan APT dengan gangguan pendengaran pada pekerja di bengkel las Kelurahan Suka

e) Konsolidasi, komunikasi, dan lingkungan kerja dikelompokkan ke dalam faktor risiko dengan kategori tinggi menurut persepsi responden. Masalah yang terjadi di lapangan diduga kuat

Keluarga merasa terbebani pada pasien yang menderita diabetes melitus, karena diabetes melitus merupakan penyebab kesakitan dan mematikan , sehingga keluarga

Dengan sokongan polisi yang berterusan, ekonomi Malaysia tetap berada di landasan pemulihan pada tahun 2021 dan seperti yang diunjurkan oleh Bank Negara, ekonomi

Sehingga penulis akan membahas bagaimana implementasi suatu situs yang aman dengan menggunakan secure socket layer (SSL) sehingga data dari server dan client yang

Selanjutnya untuk 2 – 5, tentukan volume benda putar yang dihasilkan jika daerah yang ditentukan berikut diputar terhadap sumbu atau garis yang diberikan; 2.. A diputar terhadap