SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING
WPK213
Pendekatan Psikologi/Epistemologi & Matlamat Psikologi Islam
(Minggu 2)
Pensyarah:
Ustazah Dr Nek Mah Bte Batri PhD
Menurut :
Psikologi merupakan suatu kajian tingkah laku yang berkaitan dengan naluri, keperluan, desakan dan motivasi yang mempengaruhi tingkah laku seseorang. Beliau telah membahagikan naluri kepada 2:
1. Naluri hidup yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan 2. Naluri kematian iaitu bunuh diri
Naluri adalah perlakuan semula jadi yang merupakan kuasa daripada dalam yang menggerakkan seseorang meneruskan hidupnya.
Naluri ingin tahu mendorong manusia menyiasat
Naluri melarikan diri (menolong utk melepaskan diri dari ketakutan atau tekanan)
Naluri ingin berkumpul
Naluri ingin melawan Naluri ingin meniru
(menggerakkan seseorang utk melakukan
perbuatan orang lain)
ANTARA NALURI-NALURI YANG UTAMA
ANTARA NALURI-NALURI YANG UTAMA
Naluri mencari makan-dorongan yang wujud ketika dilahirkan
Naluri minta
pertolongan-berkehendakkan bantuan orang lain.
Naluri merendahkan diri-wujud apabila seseorang Naluri ingin runtuh dan
membina- kanak-kanak suka
Naluri memperaga diri-apabila berasa diri
Pendekatan Psikologi
Pendekatan
Behaviorisme
Pendekatan
Kognitif
Pendekatan
Humanisme
Pendekatan
Psikoanalisis
Pendekatan
Neurobiologi
Pendekatan Behaviorisme
Umumnya behaviorisme adalah teori pembelajaran yang menumpukan kajian tentang tingkah laku nyata yang boleh diperhatikan dan diukur (Othman Mohamad, 2000).
Ia dilihat satu gerak balas terhadap rangsangan yang boleh dilihat secara kuantitatif.
Pendekatan ini juga disebut sebagai rangsangan gerak balas atau psikologi R-G
(ringkasan) . Contohnya apabila pelajar berdiri ketika diarah oleh guru. Berdiri adalah gerak balas, rangsangan daripada arahan guru.
Pavlov (1849-1939) seorang ahli psikologis Rusia yang terkenal dengan kajian pelaziman klasik. Pavlov menggunakan rangsangan bunyi loceng dengan makanan. Apabila mendengar loceng, air liur anjing akan keluar. Hal ini adalah reaksi balas terhadap bunyi loceng walaupun tanpa makanan.
Kemunculan John Watson (1874-1957) dengan memfokus kepada aturan pembelajaran yang memperkenalkan psikologi sekolah. Mengasaskan teori behaviorisme. Idea utama beliau adalah mengkaji perkembangan kanak-kanak dengan teori pembelajaran. Kajiannya menggunakan kanak-kanak yang takut dengan bunyi tikus akan menjahui tikus. Kanak-kanak belajar dengan pengalamannya (Skinner,1904-1990).
Skinner (1904-1990) –teori pelaziman operasi yang berhubung
dengan perubahan dalam tingkah laku yang tidak menghiraukan
apa proses yang terhasil dalam minda.
Kajian menggunakan tikus dengan tuil. Jika dia meletakkan tikus
di dalam sangkar, tikus tersebut akan mengambil masa yang lama
untuk menekan tuil bagi mendapatkan makanan. Mula-mula
mungkin makanan akan diperoleh dengan menekan tuil, tetapi
lama-kelamaan makanan sudah habis tanpa menekan tuil tersebut.
Pendekatan Kognitif
Edward Tolman mula mengkaji tikus melalui eksperimen peta minda.
Dia meletakkan tikus dalam kotak maze, di dapati tikus tidak putus asa
untuk belajar mencari jalan hingga berjumpa makanan (operasi
pelaziman).
Teori ini menggunakan pengamatan, penyelesaian masalah, ingatan.
Ahli psikologi lain yang terkenal ialah Brunner, Ausubel dan Piaget.
Teori ini mendapati yang kebanyakan pembelajaran melibatkan
Pendekatan yang menumpukan apa yang berlaku dalam diri
seseorang seperti perasaan atau emosi.
Menurut pendekatan ini, kuasa motivasi yang menyebabkan
seseorang individu cenderong untuk mencapai kebenaran diri.
Setiap individu mempunyai keperluan untuk memperkembangkan
potensi sehingga ke tahap maksimum (Konsep Maslow)
Psikologi yang dipelopori oleh Sigmud Freud. Ia melibatkan
diri dalam penyelidikan yang menumpukan kepada
kecelaruan saraf - penyakit mental.
Dia percaya manusia dilahirkan dengan desakan naluri
semula jadi.
Fahaman in menyatakan yang manusia tidak rasional, tidak
sosial dan penuh dengan desakan yang merosakkan diri
(Othman Mohamed ,2000).
Pendekatan Neurobiologi
Pendekatan ini berkaitan dengan proses biologi yang berlaku di
dalam otak dan sistem saraf manusia.
Mengkaji aktiviti sel dan saraf di dalam otak ketika mata kita
melihat sesuatu. Jadi seseorang ahli psikologi neurobiologi
menyiasat jenis perubahan di dalam sistem saraf ketika belajar.
Kajian menunjukkan integrasi aktiviti otak (otak kiri dan otak
PENDEKATAN PSIKOLOGI ISLAM
Othman Mohamad (2000), telah menyusun empat dimensi konstruk diri mengikut psikologi kognitif Ad-din yang terdiri daripada :
i Ruh atau Roh-keupayaan mendapatkan ilmu yang menjadi salah satu keistimewaan manusia sebagai khalifah
ii Al-qalb atau Qalbu - membolehkan manusia membuat pertimbangan antara benar, baik dan salah. Dengan ini dapatlah manusia memahami tentang diri sendiri.
iii Al-Nafs atau Diri- membolehkan manusia memahami tingkah laku diri. Diri terbahagi kepada 2 nilai iaitu nilai material dan fizikal dan nilai bukan material (spiritual). Dalam diri terkandung pelbagai bentuk, pola, kederiaan, idea,
Dalam konteks Islam, aksiologi merupakan weltanschaung (pandangan hidup) yang berfungsi sebagai landasan di dalam mengkonstruksi fakta.
Dalam pandangan Islam, ilmu dan sistem nilai tidak dapat dipisahkan, keduamya saling berhubungan erat, karena ilmu merupakan fungsionalisasi ajaran wahyu. Secara aksiologi Psikologi Islam bersumber dari al-Quran:
(Ini adalah) Kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan
Aksiologi membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Aksiologi ilmu terdiri dari nilai-nilai yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan seperti yang dijumpai dalam kehidupan, yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik ataupun fisik material (Koento, 2003: 13).
Definisi Kattsoff (2004: 319), aksiologi sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.
Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
Secara epistemologi (berasal dari kata Yunani, Episteme dan Logos. Episteme
ertinya adalah pengetahuan. Logos pula adalah teori.
Epistemologi adalah sebuah kajian yang mempelajari asal mula, atau sumber, struktur dan metode pengetahuan. Metodologi Psikologi Islam
merupakan jalan untuk mencari kebenaran perihal substansi yang ingin diungkapkan.
Epistemologi membicarakan apa yang dapat diketahui dan bagaimana cara mengetahuinya.
Epistemologi berusaha menjawab bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar?
Al-Ghazali dalam kitab “Ihya ‘Ulum al-Din membahas secara aksiologi, tasawuf al-Ghazali bersumber dari wahyu, dasar epistemolognya adalah nisbah akal dan dasar ontologinya adalah al-aql, al-nur dan etika/moral. Ontologi adalah analisis yang membahas tentang objek yang diteliti ilmu. Bagaimana wujud yang sebenar-benarnya dari objek tersebut? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (misalnya:
PENDEKATAN PSIKOLOGI ISLAM
Pendekatan spritual
Pendekatan yang mengacu kepada wahyu. Pendekatan spritual dalam
pengkajian Psikologi Islam didasarkan pada teks-teks al-Quran atau Hadis
dengan lafaz-lafaz yang terkandung di dalamnya merupakan petunjuk (dilalah) yang sudah dianggap jelas (sharih).
Asumsi filosofisnya adalah bahwa Allah menciptakan nafs manusia dengan segala hukum psikologisnya. sedangkan prosedur metodologinya dapat
ditempuh dengan empat cara iaitu Tafsir Maudhu’i (tematis), Tahlili (analisis), Maqarin (perbandingan) dan Ijmali (global).
Pendekatan filosofis
Pendekatan yang mengacu kepada akal (burhan). Pendekatan filosofi dalam pengkajian Psikologi Agama ini didasarkan atas prosedur berfikir spekulatif (sistematis dan universal melalui akal yang sehat).
Pendekatan ini mengutamakan akal tanpa meninggalkan nash, hanya cara memahaminya dengan mengambil makna esensi yang tersirat di dalamnya. Jika terjadi pertentangan antara akal dan wahyu, bererti akal belum mampu menangkap pesan nash tadi.
PENDEKATAN PSIKOLOGI ISLAM
Pendekatan tasawwufis/sufistik
Pendekatan yang mengacu kepada intuisi (irfan).
Pendekatan sufistik dalam pengkajian Psikologi Islam didasarkan pada prosedur intuitif (al-hadsiyah), ilham dan cita-cita (al-zauqiah) dengan cara menajamkan struktur kalbu melalui proses penyucian diri (tazkiyah al-nafs) untuk membuka tabir (hijab) yang menjadi penghalang ilmu-ilmu Allah dengan jiwa manusia, hingga memperoleh ketersingkapan (al-kasyaf) dan mampu mengungkapkan hakikat jiwa sesungguhnya.
Dalam terminologi Ilmu Tafsir, pendekatan sufistik disebut juga dengan Itsari. (setiap ayat mempuyai makna lahir dan batin. Lahir
Metode-Metode Dalam Perumusan Psikologi Islam
Adapun metode-metode dalam perumusan Psikologi Islam meliputi: metode keyakinan, metode rasionalisasi, integrasi metode keyakinan dengan
rasionalisasi, metode otoritas dan metode instuisi. 1) Metode Keyakinan
Dalam metode keyakinan seseorang meyakini betul tentang kebenaran sesuatu (tanpa keraguan) yang bersumber dari al-Quran dan Hadis.
Keyakinan bahwa Allah adalah pencipta kehidupan yang mengetahui seluk beluk dari makhluk ciptaan-Nya. Inilah ciri khas Psikologi Islam yang menempatkan wahyu di atas rasio.
3) Metode integrasi metode keyakinan dengan rasionalisasi
Metode ini dapat digunakan untuk memahami al-Quran dan Hadis. Metode yang dipergunakan oleh mufassirin dengan Tafsir bil Ra’yi dapat dipergunakan pula oleh Psikolog Muslim. Contoh tafsir dari jenis ini adalah Tafsir al-Azhar karya Hamka.
Tafsir Bil-Ra’yi ialah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya atau maksudya, mufassir hanya berpegangan pada pemahamannya sendiri, pengambilan kesimpulan (Istinbath) pun berdasarkan pada logikanya semata.
4) Metode Otoritas
Metode otoritas bersandarkan kepercayaan kepada orang yang mempunyai
Metode-Metode Dalam Perumusan Psikologi Islam
5) Metode Intuisi
Pendayagunaan kalbu atau hati nurani dapat membantu seseorang melihat dengan mata batinnya kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan oleh pancaindranya. Metode eksperimen spritual adalah membuat perlakuan tertentu dengan secara rohani mencuba untuk mengetahui kesannya.
Sebagai contoh membiasakan shalat malam, lalu ia berusaha mengetahui bagaimana rasa hati terhadap Tuhan dengan kebiasaan demikian.
Psikologi Islam: Tujuan dan Fungsi
Sebagai sebuah ilmu, sama seperti ilmu-ilmu lainnya psikologi berfungsi sebagai berikut:
1. Fungsi Pemahaman.
Mampu menerangkan berbagai gejala perilaku manusia, corak kehidupannya
2.Fungsi Pengendalian.
Memanfaatkan temuannya untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan kehidupan manusia, serta mencegak praktik yang tidak benar dan efek negatif dari psikologi itu sendiri dan ilmu lainnya.
3. Fungsi Peramalan.
Melalui teori-teorinya, Psikologi Islami berusaha meningkatkan kesejahteraan hidup manusia dengan menerapkan prinsip “Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Al Ra’d (13): 11) melalui
berbagai upaya pendidikan, seperti belajar-mengajar, pelatihan, kaunseling, psikoterapi, bimbingan, nasihat, pembiasaan, dan peneladanan.
Usaha mendidik manusia tidak hanya dilakukan dengan memanfaatkan strategi-strategi pendidikan yang psikologis (seperti pemahaman diri, pengubahan sikap, motivasi, penyelesaian masalah, dan penerimaan diri), tetapi juga melibatkan asas-asas keagamaan (seperti ikhlas, sabar, syukur, tawakal, berdoa, dan beribadah).
TUGASAN KUMPULAN
• Naluri meminta pertolongan-berkehendakkan bantuan orang lain.Bincangkan dalam perspektif Psiokologi Islam berlandaskan kepada 3 deminsi iaitu roh, akal & nafsu.
• Jelaskan persamaan dan perbezaan pendekatan kognitif psikologi Barat dan Islam
• Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Al Ra’d (13): 11) melalui berbagai upaya pendidikan, seperti belajar-mengajar, pelatihan, kaunseling, psikoterapi,
Rujukan:
Sabri, Drs. M. Ausuf., Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta, Rada Jaya Offset, 1997.
Hassan Langgulung (1990) ‘Kaunseling dalam masyarakat islam’. Kertas kerja dibentangkan di Seminar Kebangsaan Kaunseling dalam masyarakat Islam, YADIM, Kuala Lumpur.
Abdul Halim Othman. 1986. ‘Beberapa isu kaunseling barat dan
implikasinya terhadap praktik kaunseling di Malaysia’. Kertas kerja
dibentangkan di Seminar Kaunseling, Universiti KebangsaanMalaysia.
Ishammudin Ismail. 2000. ‘Panduan asas kaunselor muslim’. Kajang: Aras Mega (M) Sdn Bhd.
Wan Hashim Wan Teh & Mahayudin Yahaya. 1996. ‘Sains sosial dari perspektif islam’. Bangi: PenerbitUniversiti Kebangsaan Malaysia.