Satu hal yang pasti adalah, anda sudah pasti gagal jika anda tidak melakukan apapun

Teks penuh

(1)
(2)

“ Satu hal yang pasti adalah,

anda sudah pasti gagal jika anda

tidak melakukan apapun ”

Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.

Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris disana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.

“Aku ingin kuliah di Amerika” tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.

Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.

(3)

“Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya,” tutur sang guru. “Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat.”

Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tidak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.

Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.

“Maukah Anda mengirimkan namaku?” pintanya untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa.

“Aku tidak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya” ujar sang guru.

“Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil.”

Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat dari asosiasi beasiswa itu.

“Inilah saat yang kejam, penolakan” pikir sang guru.

Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya, Ia diterima! Hani diterima...

(4)

“Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah diketahui Hani sejak awal, bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tetapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri” tutur sang guru menutup kisahnya.

Kisah Hani ini diungkap oleh sang guru bahasa Inggris itu, Jamie Winship dan dimuat dalam buku “Chicken Soup for the College Soul” yang edisi Indonesianya telah diterbitkan.

Cerita inspiratif yang menggugah hati dan pentingnya rasa percaya diri dipupuk sejak dini untuk sukses tercipta bukan?

Perjalanan menuju kedalam diri adalah bagian yang paling menyenangkan bagi kita yang ingin terus meningkatkan kualitas karakter kita, ini disebabkan karena ada kepuasan tersendiri dalam diri kita jika mampu “menaikkan derajat karakter”. Apalagi itu adalah karakter seseorang yang kita cintai, berubah lebih baik dan jauh lebih baik lagi. Siapa lagi kalau bukan anak kita tercinta.

E-book ini akan sedikit menampar dan membuat anda tidak nyaman membacanya, terutama tentang apa yang anda anggap benar tentang cara mendidik anak dan meningkatkan rasa percaya diri anak, namun ternyata kebenaran anda salah.

Dalam keseharian kita kita percaya bahwa percaya diri atau “nyali” adalah modal dasar keberhasilan atau sukses. Jika kita tidak percaya dengan diri sendiri lalu apa kita bisa memaksa orang lain percaya dengan kita? Tidak bisa, percaya diri adalah modal dasar untuk sukses di segala bidang, saat seorang anak percaya diri mampu menguasai pelajaran tertentu maka dengan mudahnya ia dapat menyerap pelajaran tersebut, saat kita orang yang jauh lebih dewasa percaya diri bahwa sanggup menyelesaikan tantangan pekerjaan maka pekerjaan itu akan selesai dengan maksimal. Tentunya anda para pembaca pernah mengalami hal serupa bukan?

(5)

Betul sekali bahwa ada baiknya jika masalah percaya diri ini kita bahas dan tanamkan pada anak sedini mungkin, mengapa? Karena ini adalah “Mental Tools” yang mutlak dibutuhkan agar anak berhasil di dalam kehidupan pembelajarannya dan kelak kehidupan pilihannya sendiri. Percaya diri tidak diajarkan atau masuk dalam daftar mata pelajaran di sekolah, sebab tidak ada sekolah yang khusus mengajarkan materi percaya diri. Banyak sekali anak-anak muda sekarang ini setelah selesai sekolah butuh ilmu khusus untuk sukses dan ilmu ini bernama “percaya diri”, dan mereka belajar kesana–kesini, keluar–masuk kantor, ganti-ganti pekerjaan, untuk menemukan “Feel of Success” yang merupakan inti dari percaya diri.

Percaya diri adalah modal dasar untuk sukses di segala bidang

Baiklah, kita mulai. Seandainya anak-anak kita takut menghadapi kegagalan, niscaya mereka tak akan bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut, entah berapa kali mengalami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang. Apakah anda kenal dengan orangtua yang seperti ini?

Seandainya anak-anak kita takut menghadapi kegagalan, niscaya mereka tak akan bisa berjalan hingga kini

(6)

Banyak sekali orangtua dan guru bertanya tentang topik ini “kenapa anak saya pemalu, anak saya tidak punya rasa percaya diri, anak saya penakut” dan sebutan lainnya untuk memperjelas maksud yang sebenarnya adalah masalah rasa percaya diri. Apakah ini menjadi sebuah masalah? Tentu iya. Karena banyak yang yang tanya dan berulangkali tanya untuk mendapatkan solusi atas masalah ini. Anda pasti khawatir akan perkembangan kehidupan sosial anda anda di masa depan. Selain itu, anak-anak juga akan selalu tergantung pada orangtuanya. Anak-anak pemalu cenderung membatasi pengalaman mereka, tidak mengambil risiko sosial yang diperlukan dan hasilnya mereka tidak akan memperoleh kepercayaan diri dalam berbagai situasi sosial.

Apakah ada kasus serupa? Banyak! Salah satu fenomena ini dapat menjadi ilustrasi nyata dalam kehidupan yang berkembang saat ini, ada banyak alasan orangtua memanjakan anak. Di kota besar, sudah menjadi alasan klasik apabila orangtua kasihan dengan anak yang ditinggal sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Maka semua fasilitas pun disediakan. Sementara itu, ada orangtua yang tergoda memanjakan anak karena trauma dengan masa

(7)

lalunya yang sulit dan pahit. Hidup dalam kemiskinan orangtua yang menyakitkan. Setelah dia menjadi “orang” alias kaya, dia ingin anaknya senang dan fasilitas diberikan secara berlebihan. Akhirnya harga diri mereka pun relatif rendah dan percaya diri mereka tidak murni dari dalam diri mereka, tetapi bergantung pada “alat” yang mereka miliki (HP, Mobil, Perhiasan) sebab harga diri dan rasa percaya diri mereka dibangun atas apa yang mereka miliki (secara lahiriah) bukan pada karakter dan nilai hidup yang sehat.

Akibat dimanjakan, daya tahan stres mereka pun tidak terbangun dengan baik. Tantangan dan kesulitan menjadi barang mewah bagi anak yang dimanjakan ini. Hingga masa remaja, mereka tidak cakap membedakan mana itu keinginan (wants) dan kebutuhan (needs). Dalam pengalaman kerja, di beberapa pusat rehabilitasi dan depresi ditemukan banyak dari remaja tersebut besar dengan dimanjakan. Mereka tidak cakap mengelola konflik saat berada di bangku SMP dan SMU. Mereka mulai menghadapi berbagai kesulitan yang mereka tidak jumpai di rumah.

Sebelum bisa mengendalikan keadaan, kau harus terlebih dulu

mengendalikan diri sendiri ~ Napoleon Hill

Disiplin muncul bersama kendali diri, itu artinya orang harus mengendalikan semua kualitas negatif. Hal yang menyiksa hidup anak kita sesungguhnya bukanlah kesusahan tetapi justru kesenangan berlebih. Mereka yang terbiasa dengan kesenangan, sering merasa tak pernah puas dengan kesenangan. Sedangkan mereka yang terbiasa hidup dengan disiplin dan hidup dengan kesusahan, justru lebih tahan banting dengan kesusahan serta secara tidak langsung belajar percaya bahwa diri mereka sendiri yang mampu menciptakan keberhasilan mereka. Nah dari beberapa penjabaran ini semoga kita diberi hikmat, kasih dan kebijaksanaan mengasuh anak-anak titipan. Terhindar dari perilaku yang bisa menjadi “penyiksa” anak-anak dengan memanjakan mereka secara berlebihan dan bukannya memupuk sesuatu yang lebih permanen bagi kesuksesan mereka kelak.

(8)

Komitmen dalam menuntaskan masalah ini perlu kontribusi dari orangtua langsung. Kami akan berikan solusi praktisnya dan aplikatif kepada anda yang memiliki masalah serupa, atau kepada guru agar bisa memberikan saran kepada wali murid jika ada anak yang mengalami permasalahan serupa. Jika anda benar-benar memahami dan menerapkan semua yang ada di dalam E-book ini, anda akan merasakan indahnya memiliki anak yang percaya diri, kehidupan sosial anak yang sehat, pertumbuhan karakter yang signifikan dan kebahagiaan luar biasa saat jiwa anda “terpadu” dengan indahnya momen yang akan anda lalui bersama keluarga anda.

Berikut adalah ciri dari anak yang memiliki rasa percaya diri rendah : 1. Anak takut berinteraksi dengan lingkungan sosial

2. Anak enggan untuk berangkat ke sekolah dan tempat-tempat keramaian

3. Anak tidak mau berkenalan dengan teman sebaya atau orang lain, cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain, menarik diri, cemas ketika berhadapan dengan orang lain

4. Anak selalu menempel pada orangtua atau pengasuhnya, tidak mau ditinggal di sekolah

5. Rendahnya kepercayaan diri anak, memiliki konsep negatif takut tidak diterima di lingkungan

(9)

Ada 2 isu penting yang menjadi penyebab mengapa anak mengalami gangguan percaya diri, penyebab itu adalah :

1. Pola asuh yang salah

Pola asuh yang salah dapat menyebabkan perkembangan kemandirian sosial anak terhambat, misal orangtua dengan pengasuhan yang otoriter, cara mendidik yang salah dan berdasar pada ancaman, kekerasan dan pemukulan setiap kali anak berbuat kesalahan atau bermain-main sesuatu, sering disalahkan, dipukul, diancam, dicela dan direndahkan atau pengasuhan yang over protektif.

Kepercayaan diri anak sangat berhubungan dengan perlakuan orangtua kepada si anak justru pada masa-masa sebelum dia bersekolah. Dengan kata lain apa yang kita berikan kepada anak-anak pada usia dibawah misalnya 5 atau 6 tahun akan sangat mempengaruhi kepercayaan dirinya sewaktu dia nanti memasuki sekolah. Perlakuan orangtua yang penuh kehangatan itu adalah suatu modal yang akan memberikan si anak kekuatan melangkah keluar dari lingkup rumahnya memasuki tempat yang asing baginya.

Semakin seorang anak kuat berakar karena dia tahu dicintai dan diterima apa adanya di rumahnya sendiri, dia seolah-olah akan mendapatkan lebih banyak energi untuk melangkah keluar menghadapi tantangan dan tuntutan dari luar. Kebalikannya, anak yang mengalami banyak ketegangan dan perlakuan orangtua lebih bersifat kritis, memarahinya atau hidup dimana orangtua mempunyai hubungan pernikahan yang tidak baik, anak justru tidak mempunyai kekuatan, dia justru merasa lemah dan akhirnya waktu dia harus melangkah keluar, dia bukannya berani tetapi justru merasa takut.

Pola asuh yang salah dapat menyebabkan perkembangan kemandirian sosial anak terhambat

(10)

2. Trauma

Hal yang menjadi penyebab trauma bisa berasal dari pengalaman atau hal-hal yang tidak menyenangkan di masa lalunya, misal saat dia mengerjakan soal dan kemudian jawabannya salah, respon orangtuanya adalah memahari dan membentaknya. Atau saat salah mengerjakan soal di sekolah dia disuruh berdiri dipojok kelas sehingga malu, hal ini menyebabkan anak takut untuk menjawab pertanyaan karena trauma. Dan hal ini bisa saja terjadi bukan hanya dalam kegiatan belajar saja tetapi dalam lingkungan sosialnya (diejek dan ditertawakan teman, perlakuan kasar dari teman dan lain-lain)

Salah satu penyebab paling umum kegagalan adalah kebiasaan

berhenti ketika seseorang ditundukkan oleh kekalahan sementara ~

Napoleon Hill

Saya pernah mengamati seorang anak membantu mamanya yang sedang sibuk mempersiapkan sebuah acara di rumahnya. Karena melihat beberapa orang dewasa dan mamanya sibuk memindahkan piring dari satu ruangan ke ruangan yang lain, sang anak pun tanpa disuruh segera membantu mamanya dengan melakukan hal yang sama. Apa yang terjadi? Saat melihat anaknya membawa piring, meski tidak terlalu banyak, sang mama langsung marah dan mengatakan, ”nanti kalau pecah bagaimana? Nanti kalau jatuh dan terkena kaki bagaimana?” Sang anak pun menangis karena dimarahi. Entah apa yang ada di dalam hati sang anak saat itu. Saat saya melihat kejadian itu langsung menebak kalau sebenarnya sang anak hanya ingin membantu mamanya yang kelihatan capek karena memindahkan piring dan sang anak hanya ingin membantu. Bila itu yang ada di dalam hati sang anak, tentu sang anak merasa sangat sedih dan bingung karena dia baru tahu kalau membantu orang itu adalah sebuah kesalahan. Di lain waktu, bisa jadi sang anak menjadi takut membantu sang mama dan melakukan hal-hal yang lain yang dia rasa “berbahaya”.

(11)

Jadi apabila anda menghadapi situasi yang sama, akan lebih baik bila anda meminta sang anak untuk membantu malakukan hal yang lain, misalnya memindahkan sendok atau hal-hal lain yang mudah untuk dilakukan seorang anak, dan diusahakan tidak memakai “marah” agar trauma tidak tercipta.

Atau bahkan sering menakut-nakuti anak pada saat “menasehati” mereka, dengan mengatakan ”nak jangan masuk ke dalam ruangan itu, disana banyak kecoak, nanti digigit lho...” Mungkin sang anak akan langsung menuruti apa yang kita katakan. Namun mungkin kita tidak pernah memikirkan efek negatifnya. Hal-hal yang berbau “menakut-nakuti” tersebut, ternyata bisa menjadi salah satu penyebab anak tidak percaya diri. Bila kita mengalami kasus di atas, alangkah baiknya bila kita tidak menggunakan kata-kata yang bersifat menakut-nakuti, misalnya ”nak… main disini saja ya, disini kan tempatnya lebih luas dan lebih terang.” Intinya adalah hindari kata-kata yang membuat anak takut dan ketakutan itu bukan pada anaknya tetapi orangtuanya yang takut, sehingga secara tidak sadar hal ini menghambat anak di masa depannya.

Bahaya di masa lalu adalah orang menajdi budak

Bahaya di masa depan adalah orang menjadi robot ~ Erich Fromm

Hal yang menjadi penyebab trauma bisa berasal dari pengalaman atau hal-hal yang tidak menyenangkan di masa lalunya

(12)

Proses penumbuhan kepercayaan diri tidak melulu pada diri anak. Untuk membuat anak-anak percaya diri, orangtua harus percaya diri terlebih dahulu. Orangtua harus menjadi role model yang sehat bagi anak-anaknya.

Meningkatkan rasa percaya diri pada anak tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bisa jadi karena metode yang digunakan oleh orangtua kurang sesuai, maka rasa percaya diri anak justru semakin lama semakin pudar. Peran orangtua dalam usaha meningkatkan rasa percaya diri pada anak sangat diharapkan. Rasa percaya diri pada anak akan berguna sepanjang hidupnya. Itulah hal yang dapat menguatkan motivasi pada seorang anak untuk tetap survive dalam kondisi yang berat. Ketika problematika sosial semakin kompleks maka rasa percaya diri juga akan semakin memegang perannya yang penting.

Untuk membuat anak-anak percaya diri, orangtua harus percaya diri terlebih dahulu Orangtua harus menjadi role model yang sehat bagi anak-anaknya

(13)

Berikut ini adalah 7 cara meningkatkan rasa percaya diri pada anak : 1. Mengevaluasi pola asuh

Idealnya setiap orangtua bersikap demokratis, memegang kendali namun tetap memberikan kebebasan anak untuk berpendapat. Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orangtua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orangtua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan atau melampaui kemampuan anak. Orangtua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

Hasil dari pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru dan koperatif terhadap orang lain.

Kita tahu, bahwa persoalan anak adalah persoalan orangtua dan juga persoalan keluarga. Anak yang bermasalah akan mempengaruhi keseluruhan sistem keluarga, sebaliknya, keseluruhan sistem keluarga atau pola asuh juga dapat berkontribusi terhadap persoalan pada anak.

Nah, pahami hal berikut dengan seksama. Sikap orangtua, akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. Orangtua yang menunjukkan kasih, perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kedekatan emosional yang tulus dengan anak, akan membangkitkan rasa percara diri pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di hadapan orangtuanya. Dan meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orangtua anak dapat melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan tergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya, namun karena eksisitensinya. Dikemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang realistik terhadap diri sendiri, seperti orangtuanya meletakkan harapan realistik terhadap dirinya.

(14)

Anak perlu diajarkan untuk memiliki rasa percaya diri, yaitu mempunyai perasaan yang teguh pada pendiriannya, tabah apabila menghadapi masalah, kreatif dalam mencari jalan keluar dan ambisi dalam mencapai sesuatu. Ia juga perlu diajarkan untuk mempunyai self respect (hormat pada diri sendiri), yaitu mempunyai perasaan yang konstruktif, hormat pada orang lain dan bersyukur pada apa yang dimilikinya.

Hal ini dapat diupayakan untuk menumbuhkan rasa percaya diri serta rasa hormat diri pada anak oleh orangtua. Diantaranya adalah dengan mendorongnya untuk selalu berupaya, menerima kelebihan dan kekurangannya, dan memberikan pujian dan hadiah pada perilakunya yang mengarah pada rasa percaya diri dan rasa hormat dirinya tersebut.

2. Pujian yang tepat

Pujian memang baik untuk anak, namun jangan berlebihan. Jangan mengulang pujian pada anak yang sifatnya membangga-banggakan talenta dirinya. Seperti "kamu adalah anak terpintar di sekolah" atau "kamu adalah pebasket terhandal". Jangan memberikan pujian yang membuatnya terbebani untuk selalu menjadi yang terhebat. "Berikan pujian pada usahanya dalam meraih sukses, bukan pada talenta yang dimilikinya," jelas Shari Young Kuchenbecker, PhD, asisten profesor psikologi di Chapman University, Orange, California. Menurut penelitian di Columbia University, anak-anak merasa lebih senang dan mampu menghadapi tantangan ketika mereka mendapatkan pujian atas usahanya. Seperti dengan mengatakan, "kamu bekerja keras" atau "hebat, kamu bisa menyelesaikan tugas dengan baik". Kata-kata motivasi lebih berbekas bagi anak-anak ketimbang pujian seperti "ayah bangga denganmu nak"

Berikan pujian pada usahanya dalam meraih sukses, bukan pada

talenta yang dimilikinya

(15)

3. Agenda sosialisasi

Masukkan jadwal sosialisasi dalam jadwal kegiatan anak. Anak sebaiknya tidak teralu disibukkan dengan les privat sehingga membuat ia lupa bermain dengan teman-temannya. Pastikan anak mempunyai waktu untuk menambah koleksi teman dan berinteraksi dengan teman lama. Perhatikan lingkungan sosialisasi yang tepat buat anak, karena lingkungan sosialisasi yang salah dapat memberikan pengaruh buruk. Pengaruh yang seperti apa? Antara lain sikap lingkungan yang membuat kita takut untuk mencoba, takut untuk berbuat salah, semua harus seperti yang sudah ditentukan. Karena ada rasa takut dimarahi inilah, kita jadi malas untuk melakukan hal-hal yang berbeda dari orang kebanyakan. Mau tunjuk tangan waktu guru memberikan pertanyaan di dalam kelas, takut! Nah perhatikan hal-hal tersebut, jangan-jangan anak kita sudah “keracunan” oleh hal tersebut.

Disamping itu, sering mengajak anak bermain dan bertemu dengan kerabat, sepupu, tetangga, bermain di taman bermain dan tempat keramaian lain juga sangat membantu anak. Siapkan anak untuk menghadiri acara sosial yang akan segera diselenggarakan dengan menjelaskan latar belakang, ekspektasi, serta para hadirin yang kira-kira datang ke acara itu. Kemudian, bantu anak berlatih bagaimana cara bertemu orang lain, tata krama di meja makan, keterampilan dasar berbicara dan bagaimana cara mengucapkan salam perpisahan dengan anggun. Ini akan sangat membantu anak untuk menjadi lebih percaya diri.

Belajar atau melatihnya untuk peduli dan berbagi terhadap sesama merupakan cara yang baik untuk melatih kepercayaan diri anak. Dengan demikian mereka akan mempunyai kepekaan dan empati yang baik terhadap lingkungan sosialnya, sehingga merasa akan merasakan betapa hidup ini begitu berarti bila bisa berbuat sesuatu yang positif.

(16)

4. Kenalkan anak pada beragam karakter melalui cerita

Hal ini dapat dilakukan dengan membacakan cerita fiksi, mengenalkan tokoh-tokoh yang ada didalam cerita tersebut, atau bisa juga menceritakan pengalaman berteman guru atau orangtua, kemudian membiarkan anak memperlajari tokoh-tokoh yang diceritakan dan minta anak untuk menceritakan kembali apa yang ia dengar dan pahami dari karakter tokoh-tokoh tersebut.

Selain itu, melalui penerapan kegiatan bercerita ini dapat membiasakan anak untuk menjadi lebih terbuka mengekspresikan rasa senang dan rasa tidak senangnya terhadap berbagai hal yang dialaminya dan berani tampil di depan kelas. Hal ini sesuai dengan hakikat belajar itu sendiri, yakni memperoleh perubahan perilaku yang bersifat permanen yang dapat bermanfaat untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Dan tidak mungkin tercapai tanpa disertai upaya, motivasi serta kemauan guru dan orangtua untuk lebih memahami dan melaksanakan peranan, tugas-tugas dan fungsinya sebagai pengelola proses pembelajaran

(17)

Melalui kegiatan bercerita, kepercayaan diri anak dapat ditingkatkan. Setelah diberi contoh dan dibiasakan, anak akan lebih percaya diri ketika bercerita di depan kelas dan mampu mengungkapkan pendapatnya dengan baik. Anak tidak malu lagi saat bergabung dengan anak lain dan mau berkomunikasi dengan anak lain, serta mengerjakan setiap kegiatan yang diberikan tanpa mengeluh. Hal ini akan membuat anak menjadi orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi dan tidak mudah menyerah serta putus asa sebelum mencoba suatu tantangan.

Agar penerapan kegiatan bercerita dapat dioptimalkan dengan baik maka materi harus disesuaikan dengan karakteristik anak, misalnya dalam pemilihan buku cerita yang akan digunakan, media yang digunakan harus lebih menarik perhatian anak sehingga anak tidak merasa bosan dengan kegiatan tersebut. Selain dua hal diatas, penerapan kegiatan bercerita pun harus didukung dengan suasana hati anak (mood) dan tempat sekitar untuk bercerita (hindari ruang berisik) yang mendukung proses kegiatan tersebut. Variasi kegiatan bercerita yang dilakukan mampu menarik perhatian anak untuk mengikuti kegiatan bercerita sampai akhir. Dengan adanya penyajian dan pemberian kegiatan bercerita yang dilakukan dengan menggunakan berbagai media yang bervariasi (boneka peraga, sambil menggambar dan lain-lain) dapat melatih kepercayaan diri anak untuk melakukan setiap kegiatan baru tanpa adanya ketakutan dalam diri untuk mencoba.

5. Bermain peran

Hal ini untuk melatih anak berkomunikasi interpersonal. Misal, bermain telpon-telponan, guru atau orangtua sebagai penelpon, anak sebagai penerima. Atau bermain dengan bertamu ke rumah tetangga, guru atau orangtua sebagai tuan rumah, anak sebagai tetangga yang berkunjung.

Buat daftar berisi kalimat pembuka percakapan yang mudah digunakan anak untuk bercakap-cakap dengan berbagai kelompok orang, misalnya orang yang telah dikenalnya, orang dewasa yang belum pernah ditemuinya, teman lama yang jarang dijumpainya, anak

(18)

baru di sekolah, atau anak yang sering bermain dengannya di taman bermain. Setelah itu, ajak anak untuk berlatih menggunakan kalimat-kalimat tersebut sampai merasa terbiasa dan nyaman mengucapkannya.

Salah satu trik yang dapat digunakan adalah mempraktikkan perbincangan via telepon dengan pendengar suportif di ujung lain. Dengan demikian, anak tidak akan merasa tertekan seperti jika melakukan pembicaraan tatap muka.

Philip Zimbardo, orang yang terkenal sebagai pakar dalam mengatasi rasa malu, merekomendasikan untuk memasangkan anak pemalu dengan anak yang lebih muda darinya untuk berlatih dalam periode singkat. Ciptakan kesempatan bagi anak untuk bermain dengan anak lain yang lebih muda darinya, misalnya adik, sepupu, anak tetangga atau salah satu anak kenalan Anda.

Jika anak yang pemalu berusia remaja, coba menyuruhnya mengasuh anak kecil untuk mempraktikkan keahlian bersosialisasi yang enggan dipraktikkannya dengan anak-anak seusianya.

6. Biarkan kesalahan terjadi dan berikan resiko teringan

Apa maksudnya? Tentu sebagai orangtua kita seringkali mendapati anak kita frustasi karena belum berhasil memasangkan gambar puzzle, sehingga seringkali ditengah-tengah bermain tiba-tiba mereka menjerit dan bahkan menangis sendiri. Apa yang perlu anda lakukan adalah, dukunglah anak anda untuk mencoba sesuatu yang baru, selama hal tersebut tidak membahayakan dirinya, mengurangi campur tangan anda untuk menjadi problem solving dalam tantangan baru yang sedang dihadapinya. Biarkan anak anda melakukan ujicoba

(19)

selama hal tersebut tidak membahayakannya. Jangan anda buru-buru mengatakan "sini, biar mama saja yang buatin" karena hal ini akan membuat anak anda tidak belajar untuk mendiri dan percaya diri.

Anak yang tidak percaya diri sangatlah sensitif dengan hal ini, kesalahan dan kegagalan adalah hal yang paling menghantui mereka dan bisa menjadi trauma bagi mereka, bahkan memikirkan resiko saja sudah seperti mendengar cerita horor. Kita sebagai orang dewasa sangat paham jika kegagalan adalah proses yang menjadi satu paket dengan sukses. Dan pahamilah, setiap manusia punya jatah gagal. Habiskan jatah tersebut ketika masih muda. Persiapkan anak anda untuk menemuinya dan belajar serta berespon positif dari setiap kegagalannya.

Salah satu hal terberat bagi orangtua adalah melihat anak mereka "merasa kalah dan akhirnya menyerah, betul? Saya ingin mengakhiri bagian ini dengan mengutip kata-kata bijak dari Robert T. Kiyosaki: "Di sekolah kita belajar bahwa kesalahan itu buruk dan kita dihukum karena membuat kesalahan. Tetapi, jika kita melihat bagaimana manusia dijadikan untuk belajar, kita belajar dari membuat kesalahan. Kita belajar berjalan saat

terjatuh. Jika kita tidak pernah terjatuh, kita tidak akan pernah berjalan."

Kunci lepas dari hambatan ini adalah cara nomor 1, pola asuh orangtua. Pahami dan terima anak apa adanya saat menemui kegagalan dan dukung terus sampai terbentuk ”Mental Kebal” terhadap kegagalan. Kegagalan yang tidak diolah dengan baik oleh anak-anak sering kali berdampak menjadi trauma.

Dukunglah anak anda untuk mencoba sesuatu yang baru, selama

hal tersebut tidak membahayakan dirinya

(20)

7. Pahami kepribadian mereka

Inilah jebakan yang sering terlewatkan. Maksudnya? Setiap manusia yang lahir didunia selalu dilengkapi dengan Kepribadian (Personality) dan kepribadian setiap manusia tidak bisa dipilih, karena sudah dikasi dari “sono” nya.

Mengapa kita perlu membahas tentang kepribadian? Karena kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu. Dengan memahami kepribadian anak berarti kita telah menyingkat waktu kita untuk menebak-nebak, berusaha mengerti dan memahami anak kita, kita bisa jauh lebih mudah untuk memahami seseorang anak dengan memperhatikan tipologi kepribadiannya. Kepribadian ini membagi manusia menjadi empat golongan besar yaitu korelis, sanguinis, phlegmatis dan melankolis.

Koleris mewakili tipe kepribadian yang tegas dan cenderung untuk memimpin, dia adalah seorang pemimpin yang dilahirkan. Pemimpin yang dilahirkan secara alamiah begitulah koleris. Ciri-cirinya To The Point, dia ingin segala sesuatunya cepat dan dilakukan saat itu juga, dia tidak bertele-tele tetapi pada titik ekstrimnya adalah dia bisa menjadi terlalu dominan dan terlalu mengatur, terlalu mengontrol, sehingga orang lain bisa tidak tahan. Dia ingin segala sesuatunya dilakukan dengan sangat cepat kemudian bisa jadi dia lupa beberapa detail-detail tentang hal penting yang harus dilakukan. Itulah tipe kepribadian koleris yang sejati. Orang koleris akan berpakaian dengan praktis, simple, tidak mementingkan model

Koleris mewakili tipe kepribadian yang tegas dan cenderung untuk memimpin, dia adalah seorang pemimpin yang dilahirkan

(21)

pakaian tetapi lebih mementingkan fungsi dari pakaian itu. Dan orang koleris biasanya duduknya sangat tegak sekali dan ia berjalan dengan sangat tegak dengan kepala terangkat ke atas. Pada kenyataannya tiap kepribadian itu memiliki kadarnya masing-masing, sangat kecil sekali kemungkinan kita untuk menemukan seseorang yang koleris sejati. Artinya seratus persen koleris sementara di lain-lainnya itu nol semuanya. Seorang anak yang koleris, biasanya memiliki motivasi yang kuat dari dalam, istilahnya “ku tahu yang ku mau”. Jika ingin mengarahkan mereka, tunjukan keuntungan bagi anak jika mereka melakukan hal tersebut. Misal: “jika kamu les bahasa inggris maka mudah bagi kamu untuk memahami aturan dari permainan yang sering papa dan kamu lakukan, masih banyak permainan serupa yang bisa kita mainkan”.

Kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik

dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk

merespon segala sesuatu

Sanguinis adalah orang yang cerah, ceria, bisa mendengar suaranya jauh sebelum melihat orangnya, heboh sekali dan jika memakai pakaian pakaian biasanya berwarna cerah meriah dengan banyak sekali aksesoris, yah sanguinis adalah orang yang senang menjadi pusat perhatian. Jika anda datang ke pesta dan melihat satu orang dikelilingi yang lain, bercerita, semua terhibur dan tertawa, maka orang yang bercerita itulah seorang sanguinis. Ya, sanguinis adalah pusat perhatian. Jika Anda melihat orang sanguinis berpakaian cerah warna warni dan banyak aksesoris, dia tidak akan risih dengan itu semua bahkan dia akan suka, karena dengan begitu dia bisa menarik perhatian orang lain. Orang sanguinis akan berjalan dengan gayanya yang ceria dan akan menoleh ke kanan kiri dan melempar banyak senyum kepada orang-orang di sekitarnya. Seorang anak sanguinis merupakan anak yang sangat senang sekali bermain dan berkumpul dengan banyak teman-temannya. Senang dengan

(22)

aktivitas “outdoor” atau kebersamaan yang menyenangkan. Tentu mudah bagi anda menerjemahkan bahasa saya berkaitan dengan anak sanguinis.

Tipe koleris dan tipe sanguinis adalah tipe yang Ekstrovert, yaitu tipe yang terbuka kepada orang. Orang sanguinis begitu sangat terbukanya, sehingga bisa cerita tentang banyak hal kepada orang lain dan kemudian bisa dengan mudah melupakannya. Orang sanguinis dengan begitu mudahnya melupakan janjinya dan juga dengan begitu mudahnya dia akan langsung minta maaf. Orang koleris tidak akan melakukannya, dia akan gengsi untuk minta maaf kepada kita. Tapi mereka dasarnya adalah orang-orang yang terbuka, orang-orang yang ekstrovert. Berikutnya kita akan membahas bagian kepribadian yang Introvert yang tertutup. Di bagian ini ada dua jenis kepribadian dua tipelogi kepribadian yaitu Melankolis dan Phlegmatis.

Melankolis adalah seorang yang rapi, biasanya tulisannya rajin, rapi, lengkap, detail karena itu jika mereka kuliah catatan mereka biasanya akan dipinjam oleh teman-temannya. Dan kemudian dia akan memiliki gaya dandan yang rapi, tidak ada satu helai pun rambut yang tersisir keluar, semuanya rapi seperti diatur pada tempatnya. Seorang melankolis berpakaian selalu sangat rapi sekali, dimasukkan dan suka warna warna yang memiliki perpaduan warna yang cocok. Jadi tidak akan sembarangan, artinya dia tidak akan memakai bawahan yang berwarna hijau dan kemudian atasnya berwarna kuning cerah. Dia akan mempertimbangkan segala sesuatunya, itulah ciri orang melankolis. Jika memendam sesuatu bisa dipendam sangat lama, ngambeknya bisa sangat lama sekali, tetapi orang

Ciri-ciri anak melankolis yang sangat tampak adalah anak ini sangat teratur, suka kerapian, seringkali mereka secara akademis adalah anak

(23)

melankolis sangat detail, begitu suka dengan data-data dan fakta-fakta. Yah itulah seorang melankolis. Ia begitu ahli dalam perencanaan dan analisa. Ciri-ciri anak melankolis yang sangat tampak adalah anak ini sangat teratur, suka kerapian, seringkali saya jumpai mereka secara akademis adalah anak yang cerdas dan pandai. Anak melankolis sangat suka “mengontrol” semuanya sendiri. Terkadang menentukan pakaian yang akan dipakainya, makan apa sore ini dan sebagainya. Mereka terkadang suka mengingatkan kita, jika keluar kamar lampu dimatikan, tv atau laptop dimatikan.

Phlegmatis adalah kepribadian yang suka melakukan segala sesuatu berdasarkan urutan yang telah diberikan, jika memang sudah begini ya begini tidak usah dipikirin yang lain lagi, yah pokoknya ikuti saja. Itulah phlegmatis, tipe pengikut yang setia. Dia bisa tahan duduk berjam-jam melakukan sesuatu berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan dimana itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang yang koleris ataupun seorang sanguinis. Mereka tidak akan tahan duduk berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan melakukan satu hal yang sama berulang-ulang kali. Phlegmatis sangat cocok melakukan itu semua, sangat setia dan bisa dipercaya untuk memegang rahasia. Itulah orang phlegmatis, mereka sangat mudah diatur mereka sangat toleran. Jika Anda punya anak phlegmatis, Anda bisa mengatakan “nak sekarang makan ya”, “ya” kalau anda sibuk, anda bisa mengatakan “nak, sekarang mama lagi sibuk, nanti aja makannya ya”, “iya” anak phlegmatis tidak akan menuntut anda. Itu akan sangat berbeda dengan anak koleris “nak makannya nanti ya”, “tidak! Aku maunya sekarang” itulah anak koleris. Anak phlegmatis biasanya cenderung diam dan mengalah. Mereka sering menghindari konflik dan seringkali merelakan peralatan tulisnya untuk dipinjam dan tak jarang terkadang merasa “ngga enak” untuk memintanya.

Anak yang dari lahir dengan kepribadian koleris ataupun sanguinis yang kuat, maka rasa berani dan percaya dirinya sudah ada di dalam diri mereka, sejalan dengan aliran darah mereka, alias sudah include. Tetapi anak yang memiliki kepribadian phlegmatis dan melankolis, cenderung akan dianggap anak yang kurang berani atau tidak percaya diri.

(24)

Nah, pertanyaan saya apakah anda paham dengan kepribadian anak anda? Anda mengetahuinya? Banyak orangtua yang tidak memahami ini dan langsung main vonis anak saya tidak percaya diri dan konsultasi sana-sini (bisa jadi konsultasi ke tetangganya yang bukan pakar anak, bahkan sampai ke psikolog anak). Jangan salah, walaupun diatas dituliskan bahwa anak dengan kepribadian melankolis dan phlegmatis tidak sepercaya diri koleris dan sanguinis, bukan berarti tidak dapat membantu anak melankolis dan phlegmatis untuk percaya diri. Sangat bisa dan sangat mungkin sekali.

Tetapi tidak jarang juga seorang anak koleris dan sanguinis yang salah pengasuhan juga menjadi anak yang “pesakitan”, menjadi anak yang tidak percaya diri dan bermasalah dalam kehidupannya. Karena apa? Tidak ada buku panduan resmi saat anak itu lahir di dunia sehingga orangtua tidak tahu bagaimana memperlakukannya. Seperti halnya saat anda membeli Blackberry, anda mendapat buku panduannya bukan? Untuk mengetahui cara mengoperasikannya. Tapi hal ini tidak berlaku bagi anak kita, sehingga seringkali kita jumpai anak yang bermasalah karena salah perlakuan dalam mengasuhnya.

Kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu

(25)

Baiklah kita sudah sampai pada penghujung dari e-book ini, satu hal yang pasti dari kami adalah harapan dan doa agar yang terbaik terjadi di dalam keluarga anda semua. Rasa percaya diri anak adalah warisan terindah bagi anak dari orangtua. Semoga apa yang kami berikan ini dapat membantu generasi-generasi emas berikutnya menciptakan sesuatu yang lebih baik dan berguna bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Salam

pendidikankarakter.com

Hard Cover, Full Colour, Limited Edition

Dapatkan di toko buku Gramedia terdekat

Figur

Memperbarui...

Referensi

  1. langsung marah
Related subjects :