PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

122  Download (0)

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN LOMPATAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

DARIPADA PELATIHAN INTERVAL MODEL LARI GAWANG 30

CM PADA SISWA SMP NEGERI 5 KUPANG TIMUR SATAP

KABUPATEN KUPANG

CORNALIUS O. LENATI

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2014

(2)

i

TESIS

PELATIHAN INTERVAL MODEL LARI GAWANG 45 CM LEBIH

MENINGKATKAN LOMPATAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

DARIPADA PELATIHAN INTERVAL MODEL LARI GAWANG 30

CM PADA SISWA SMP NEGERI 5 KUPANG TIMUR SATAP

KABUPATEN KUPANG

CORNALIUS O. LENATI

NIM 1290361028

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI FISIOLOGI OLAHRAGA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(3)

ii

TESIS

PELATIHAN INTERVAL MODEL LARI GAWANG 45 CM LEBIH

MENINGKATKAN LOMPATAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK

DARIPADA PELATIHAN INTERVAL MODEL LARI GAWANG 30 CM

PADA SISWA SMP NEGERI 5 KUPANG TIMUR SATAP

KABUPATEN KUPANG

Tesis Untuk memperoleh Gelar Magister

Pada Program Magister, Program Studi Fisiologi Olahraga Program Pascasarjana Universitas Udayana

CORNALIUS O. LENATI

NIM 1290361028

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI FISIOLOGI OLAHRAGA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(4)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

TESIS INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL : 27 JUNI 2014

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. dr. J.Alex Pangkahila, M.Sc, Sp.And. AIFO Drs. Oktovianus Fufu, M.Pd

NIP. 1944 0201 196409 1 001 NIP. 1960 0105198803 1 004

Mengetahui :

Ketua Program Studi Direktur

Magister Fisiologi Olahraga Program Pascasarjana

Program Pascasarjana Universitas Udayana, Universitas Udayana

Dr. dr. Susy. Purnawati, M.KK, AIFO Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

(5)

iv

PENETAPAN PANITIA PENGUJI

TESIS INI TELAH DIUJI PADA TANGGAL : 27 JUNI 2014

Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana :

No : 1749/UN.14.4/HK/2014

Tanggal : 16 Juni 2014

Ketua : Prof. Dr. dr. J.Alex Pangkahila, M.Sc, Sp.And, AIFO Sekertaris : Drs. Oktovianus Fufu, M. Pd

Anggota :

1. Prof. Dr. dr. N. T. Suryadhi, MPH, PH. D 2. Dr. dr. Susy. Purnawati, M. KK, AIFO 3. Dr, Ir. I Ketut. Wijaya, M. Eng

(6)

v

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT TESIS

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Cornalius O. Lenati

NIM : 129036028

Program studi : Fisiologi Olahraga

Judul Tesis : Pelatihan Interval model lari gawang 45 cm lebih

meningkatkat lompatan lompat jauh gaya jongkok daripada pelatihan interal model lari gawang 30 cm pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang

Dengan ini menyatakan bahwa karya ilmiah ini bebas plagiat

Apabila dikemudian hari terbukti plagiat dalam karya ilmiah ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan Mendiknas RI No. 17 Tahun 2010 dan peraturan perundang – Uandangan yang berlaku.

Dempasar, 27 Juni 2014 Yang membuat pernyataan Materai

6000.

(7)

vi

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur peneliti panjatkan kehadapan Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat, rahmat dan anugerah-Nyalah peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Fisiologi Olahraga (M. Fis) pada Program Studi Fisiologi Oahraga Program Pascasarsarjana Universitas Udayana. Tesis ini berjudul “Pelatihan interval model lari gawang 45 cm lebih meningkatkan lompatan lompat jauh gaya jongkok daripada pelatihan interval model lari gawang 30 cm pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang” dalam penyusunan tesis ini tidak terlepas dari Motivasi, Semangat, Bimbingan, Petunjuk dari berbagai pihak untuk itu penulis menyampaikan terima kasih

Kepada :

1. Rektor Universitas Udayana. Dekan Fakultas Kedokteran. dan koordinator program Pascasarjana Universitas Udayana atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan Pascasarjana di Universitas Udayana.

2. Samuel Haning, S.H, M.H. selaku Rektor Universitas PGRI Kupang NTT atas kesempatan yang diberikan untuk mengikuti pendidikan Program Studi Magister Fisiologi Olahraga Universitas Udayana.

3. Dr.dr. Susy. Purnawati, M. KK, AIFO. Sebagai Ketua Program Studi Magister Fisiologi Olahraga atas saran dan bimbingannya.

4. Prof. Dr.dr. J. Alex Pangkahila, M. Sc Sp. And. AIFO. Sebagai pembimbing I atas petunjuk motivasi serta dorongannya

(8)

vii

5. Drs. Oktovianus Fufu, M. Pd sebagai pembimbing II atas petunjuk dan dorongannya.

6. Para Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah membekali penulis dengan berbagai disiplin ilmu sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

7. Rekan – rekan Mahasiswa Program Pascasarjana yang turut membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

8. Istri Tercinta dan anak tersayang yang selalu mendoakan dalam segala hal. 9. Kakak dan adik tercinta yang selalu memberikan dukungan dan Doa serta

motivasi dalam menyelesaikan studi ini.

10. Pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu persatu yang telah membantu dalam penulisan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa isi dari tesis ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga bila terdapat kesalahan- kesalahan dalam penulisan. Penulis sangat mengharapkan saran bahkan kritik demi kesempurnaan penulisan ini. Sebagai penutup penulis sampaikan terima kasih dan semoga tesis ini bermanfaat bagi dunia pendidikan khusunya bidang olahraga di Nusa Tenggara Timur (NTT)

Dempasar, 27 Juni 2014 Penulis.

(9)

viii

PELATIHAN INTERVAL MODEL LARI GAWANG 45 CM LEBIH MENINGKATKAN LOMPATAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK DARIPADA PELATIHAN INTERVAL MODEL LARI GAWANG 30 CM

PADA SISWA SMP NEGERI 5 KUPANG TIMUR SATAP KABUPATEN KUPANG

ABSTRAK

Lompat jauh gaya jongkok merupakan bagian dari nomor lompat yang bertujuan untuk memindahkan tubuh jauh kedepan tanpa jatuh ke belakang disaat mendarat. Penelitian terhadap siswa SMP Negeri-5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang Telah dilakukan untuk meningkatkan lompatan lompat jauh gaya jongkok. Pada penelitian ini dilakukan dengan dua tipe pelatihan yaitu pelatihan interval model lari gawang 30 cm (3 repetisi 5 set), dan pelatihan interval model lari gawang 45 cm (5 repetisi 3 set). Pelatihan dilakukan di lapangan SMP Negeri-5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang pukul 16.00 sampai dengan 18.00 Wita selama delapan minggu dengan frekuensi tiga kali seminggu.

Sampel dipilih secara acak sederhana sebanyak 24 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel yang terpilih dibagi menjadi dua kelompok, sehingga masing-masing kelompok berjumlah 12 orang, kemudian setiap kelompok diberikan pelatihan yang sama namun berbeda di repetisi dan set Kelompok-1 diberikan pelatihan interval model lari gawang 30 cm (3 repetisi 5 set) dan kelompok-2 diberikan pelatihan interval model lri gawang 45 cm (5 repetisi 3 set). Data berupa hasil lompatan yang diambil setelah pelatihan selesai, dianalisis dengan perangkat lunak komputer. Uji t berpasangan dipakai untuk menganalisis perbedaan lompatan lompat jauh gaya jongkok antara sebelum dan sesudah pelatihan pada masing-masing kelompok dan uji t tidak berpasangan dipakai untuk menganalisis perbedaan lompatan lompat jauh gaya jongkok antar kelompok pelatihan baik pada tes awal maupun tes akhir. Batas kemaknaan yang digunakan adalah p < 0,005.

Rerata lompatan lompat jauh gaya jongkok pada pelatihan interval model lari gawang 30 cm sebelum pelatihan 2,21 meter dan sesudah pelatihan 3,59 meter yang secara statistik menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna p = 0,02 (p < 0,05). Rerata lompatan sebelum pelatihan pada pelatihan interval model lari gawang 45 cm sebelum pelatihan 2,21 meter dan sesudah pelatihan 4,30 meter yang juga menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna p = 0,002 p < 0,05).

Ini berarti bahwa pelatihan interval model lari gawang 45 cm lebih meningkatkan lompatan lompat jauh gaya jongkok pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang.

(10)

ix

THE INTERVAL TRAINING OF HURDLE RUN MODEL 45 CM IS MORE INCREASE THE JUMPING MOVEMENT LONG JUMP SQUAT STYLE THAN THE INTERVAL TRAINING RUN GATE MODEL 30 CM AT SMP

NEGERI 5 STUDENTS KUPANG TIMUR SATAP KUPANG REGENCY

ABSTRACT

The long jump squat style is a part of the jump number which aims to move the body far forward without falling over backwards while landing. The research of SMP Negeri 5 students East Kupan Satap Kupang Regency has been done to improve the jumping movement long jump squat style. In this study conducted with two types of training that the interval training hurdle run model 30 cm (3 reps 5 sets), and interval training hurdle run model 45 cm (5 reps 3 sets). The training is done in the yard of SMP Negeri 5 East Kupang Satap Kupang Regency beginning at 4 pm - 6 pm for eight weeks with a frequency of three times a week.

The samples were selected simple randomly as many as 24 people who have met the inclusion and exclusion criteria. The selected sample was divided into two groups, so that each group totaled 12 people, and each group was given the same training, but different in reps and sets. Group-1 is given interval training hurdle run model 30 cm (3 sets of 5 reps) and group 2 is given hurdle run model 45 cm (5 reps 3 sets). The data is a jump result was taken after the training finished, is analyzed with computer software. T-paired test was used to analyze the differences of the jumping movement long jump squat style between before and after training in each group and the t-unpaired test used to analyze the differences of the jumping movement long jump squat style between each groups either at the initial test and final test. Limit of significance used was p <0.005.

The mean of jumping movement long jump squat style on the interval training hurdle run model 30 cm before training and after training 2.21 meters to 3.59 meters which showed a statistically significant difference p = 0.02 (p <0.05). The mean jump before training on interval training of hurdle run model 45 cm before training is 2.21 meters and after training is 4.30 meters which also showed a significant difference p = 0.002 p <0.05).

It is means that the interval training of hurdle run model 45 cm is more increase the jumping movement long jump squat style of SMP Negeri 5 students East Kupang Satap Kupang Regency.

Keywords: interval training hurdle run model, jumping movement long jump squat style

(11)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSYARATAN GELAR ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT………... v

UCAPAN TERIMA KASIH………. . vi

ABSTRAK………. ... viii

ABSTRACT ………. ... ix

DAFTAR ISI………. ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN – LAMPIRAN ... xiv

BAB. I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB. II KAJIAN PUSTAKA ... 11

2.1 Lompat Jauh Gaya Jongkok ... 11

2.2 Gerak pada Lompat Jauh Gaya Jongkok ... 12

2.3 Metode Pelatihan Interval ... 20

2.4 Pelatihan ... 23

2.4.1 Pelatihan fisik ... 24

2.4.2 Pelatihan teknik ... 24

2.4.3 Pelatihan taktik ... 25

2.4.4 Pelatihan mental ... 25

2.5 Tujuan Pelatihan Fisik ... 25

2.6 Prinsip Pelatihan Fisik ... 27

2.7 Prosedur Pelatihan Fisik ... 28

2.7.1 Pemanasan ... 29

2.7.2 Pelatihan Inti ... 30

2.7.3 Pendinginan ... 31

2.8 Daya Ledak Otot ... 32

2.9 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Lompatan ... 34

2.9.1 Faktor internal ... 35

2.9.2 Faktor eksternal ... 38

2.10 Pelatihan Pliometrik ... 39

2.11 Takaran Pelatihan ... 43

2.12 Pelatihan Interval Model Lari Gawang. ... 47

(12)

xi

BAB. III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS ... 51

3.1 Kerangka Berpikir ... 51

3.2 Kerangka Konsep Penelitian ... 53

3.3 Hipotesis Penelitian ... 53

BAB. IV METODE PENELITIAN ... 55

4.1 Rancangan Penelitian ... 55

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 56

4.3 Populasi dan sampel ... 56

4.3.1 Populasi ... 56

4.3.2 Sampel ... 56

4.3.3 Besar sampel ... 57

4. 3.4 Teknik pengambilan sampel... 58

4.4 Variabel Penelitian ... 59

4.5 Devenisi Operasional Variabel ... 59

4.6 Alat Pengumpulan Data ... 62

4.7 Prosedur Penelitian... 63

4.7.1 Tahap persiapan... 63

4.7.2 Tahap pemelihan dan penentuan pampel ... 64

4.7.3 Tahap pelaksanaan penelitian... 64

4.8 Analisis Data ... 65

4.9 Alur Penelitian ... 67

BAB. V HASIL PENELITIAN ... 68

5.1 Data Analisis Karakteristik Subyek Penelitian ... 68

5.2 Data Karakteristik Lingkungan Penelitian ... 69

5.3 Data Uji Normalitas ... 70

5.4 Data Uji Beda Rerata jarak sebelum dan sesudah pelatihan.... ... 71

5.5 Data Uji Beda peningkatan antara kelompok 1 dan 2 ... 71

BAB. VI PEMBAHASAN ... 73

6.1 Karakteristik Subyek Penelitian ... 73

6.2 Karakteristik Lingkungan Penelitian... 75

6.3 Pengaruh Pelatihan interval model lari gawang 45 cm terhadap peningkatan lomatan lompat jauh gaya jongkok ... 75

6.4Pengaruh Pelatihan interval model lari gawang 30 cm terhadap peningkatan jarak lompatan lompat jauh gaya jongkok ... 76

6.5 Pengaruh Pelatihan Terhadap peningkatan Lompatan lompat jauh gaya jongkok Kelompok 1 dan 2 ... 77

BAB. VII SIMPUL DAN SARAN ... 83

7.1 Simpulan ... 83

7.2 Saran ... 83

DAFTAR PUSTAKA ... 85

(13)

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Start, Ancang- ancang ... 13

Gambar 2.2 Saat Tinggal Landas ... 14

Gambar 2.3 Teknik Terbang ... 17

Gambar 2.4 Teknik Menggantung ... 17

Gambar 2.5 Teknik Menendang ... 18

Gambar 2.6 Teknik Pendaratan ... 19

Gambar 3.1 Kerangka Konsep ... 53

Gambar 4.1 Rancangan Penelitian ... 55

Gambar 4.2 Desain Penelitian pelatihan interval model lari gawang 30 cm 3 repetisi 5 set ... 60

Gambar 4.3 Desain Penelitian pelatihan interval model lari gawang 45 cm 5 repetisi 3 set ... 61

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 5.1. Karakteristik Fisik Siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap

Kabupaten Kupang ... 68 Tabel 5.2. Data Keadaan Lingkungan Pelatihan Pada Kedua Kelompok

pelatihan ... 69 Tabel 5.3. Hasil Uji Normalitas data jarak Lompatan sebelum dan sesudah

pelatihan pada kelompok 1 dan 2 (Uji Saphiro Wilk) ... 70 Tabel 5.4. Hasil Uji Beda peningkatan jarak Lompatan Sesudah Pelatihan

pada kelompok 1 dan 2 (Uji Wilcoxon) ... 71 Tabel 5.5. Hasil uji beda peningkatan jarak lompatan sesudah pelatihan

(15)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran-1 Surat Ijin Penelitian ... 89

Lampiran-2 Surat Ijin Penelitian dari Pemprov NTT ... 90

Lampiran-3 Surat Selesai Penelitian dari Pemda ... 91

Lampiran-4 Surat Selesai Penelitian dari Sekolah ... 92

Lampiran-5 Data Hasil Analisis SPSS ... 93

Lampiran-6 Data Kelembaban ... 97

Lampiran-7 Data Tes Lari 2, 4 KM ... 98

Lampiran-8 Dokumen Penelitian ... 99

(16)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lompat jauh gaya jongkok merupakan cabang olahraga atletik yang bertujuan melompat dengan pencapaian jarak lompatan yang sejauh jauhnya. Maka untuk mencapai jarak lompat yang jauh, terlebih dahulu pelompat harus memahami unsur – unsur pokok pada lompat. Dalam lompat jauh terdapat bak lompat yang berisi pasir sebagai tempat pendaratan akhir dari melompat

Dalam lompat jauh. gaya dibagi menjadi 3 macam gaya, yaitu 1). Gaya jongkok 2). Gaya berjalan, dan 3). Gaya menggantung. Akan tetapi prinsip dasar dari ketiga gaya tersebut tetap sama. Loncat jauh dapat dibagi kedalam ancang- ancang, lepas tapak, melayang, dan mendarat. Pada semua teknik lonpat jauh ancang - ancang merupakan lari dengan percepatan dari start. Ancang - ancang sejauh 30 m- 45m. Frekuensi serta panjang langkah ancang - ancang makin meningkat sampai persiapan lepas tapak. Selama 3 - 5 langkah terakhir pelompat mempersiapkan diri untuk mengalihkan ancang - ancang (kecepatan horizontal) kepada lepas tapak (kecepatan vertical). Pada saat itu sebaiknya kecepatan jangan dikurangi, satu langkah sebelum terakhir, 10 cm - 15 cm lebih panjang dari langkah sebelumnya dan terakhir. Karena itu titik berat badan agak terbawa kebawah, dan sodokan tenaga vertical diperbesar. Dalam penelitian ini peneliti lebih fokus pada Gaya jongkok

Peningkatan prestasi. Prestasi dapat dicapai melalui program pembinaan yang terarah, teratur, sistematis dan berkelanjutan. Pembinaan dan pengembangan

(17)

prestasi dapat dikembangkan sejak Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi. Prestasi olahraga seorang atlet sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kondisi fisik, teknik, taktik, dan mental (Harsono, 1993). Prestasi seorang atlet sangat ditentukan oleh bermacam-macam faktor yang saling berkaitan, termasuk kondisi fisik, keterampilan teknik, taktik serta lingkungan. Semuanya itu dapat dicapai melalui suatu latihan yang sistematis dan terprogram sesuai dengan prinsip pembenan latihan.

Pelatihan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam jangka waktu lama dan sistematis dan progresif sesuai dengan tingkat kemampuan individu dan bertujuan untuk meningkatkan fungsi tubuh sehingga melakukan kegiatan olahraga secara optimal (Soetopo, 2007).

Pelatihan fisik merupakan unsur terpenting diperlukan dalam pelatihan olahraga untuk mencapai prestasi yang tertinggi (Soetopo, 2007). Dengan melakukan pelatihan fisik maka fungsi sistem organ tubuh akan lebih meningkat dibandingkan sebelum berlatih, yang sangat diperlukan untuk memenuhi penampilan dalam beraktivitas (Nala, 2002).

Kondisi fisik, meliputi sepuluh komponen biomotorik yaitu: (1). Kekuatan (2). Daya tahan (3). Kecepatan, (4). Daya ledak (5). Kelentukan (6). Keseimbangan (7). Waktu reaksi (8). Kelincahan (9). Ketepatan (10). Koordinasi (Sajoto, 2002). Masing-masing komponen tersebut tidak dapat disamakan peran dan beban kerjanya, karena setiap cabang olahraga mempunyai persentase kebutuhan komponen biomotorik yang berbeda. Sehingga untuk membuat suatu program latihan pada cabang olahraga tertentu terlebih dahulu perlu diketahui

(18)

komponen biomotorik yang dominan dalam cabang olahraga yang dilatih (Nala, 2002).

Daya ledak otot merupakan salah satu komponen biomotorik yang paling banyak dibutuhkan pada beberapa cabang olahraga seperti atletik khususnya pada lompat jauh. Lompat jauh merupakan bagian dari cabang olaharaga atletik yang bertujuan untuk berusaha memindahkan titik berat tubuh sejauh-jauhnya ke arah mendatar (horisontal), artinya atlet berusaha sedapat mungkin menempatkan kakinya sejauh-jauhnya ke depan tanpa jatuh ke belakang saat mendarat (Hay, 1978). Daya ledak ini ada yang membagi sesuai dengan spesifikasinya atas: daya ledak eksplosif (Explosive Power), daya ledak cepat (Speed Power), daya ledak kuat (Streing Power) dan daya ledak tahan lama (Endurance Power). Daya ledak merupakan kerja yang dapat dilakukan dalam satu kesatuan waktu dalam kepentingan olahraga daya ledak yang dimaksud adalah daya ledak eksplosif yang terdiri atas dua kelompok biomotorik; yaitu unsur kekuatan dan unsur kecepatan (Nala, 1998).

Daya ledak merupakan kemampuan untuk melakukan aktifitas secara tiba - tiba dan cepat dengan mengunakan seluruh kekuatan dalam waktu yang singkat. Daya ledak ini sering pula disebut kekuatan eksplosif, ditandai dengan adanya gerakan atau perubahan yang tiba-tiba yang cepat dimana tubuh terdorong keatas atau vertikal baik dengan cara melompat (satu kaki menapak) ataupun meloncat (dua kaki menapak, lompat tinggi) atau terdorong kedepaan (horizontal, lari cepat dan lompat jauh). Dengan menggerakkan kekuatan olahraga maksimal.

(19)

Prinsip dasar lompat jauh adalah meraih kecepatan awalan yang setinggi- tingginya sambil tetap mampu melakukan tolakan yang kuat ke atas dengan satu kaki untuk meraih ketinggian saat melayang yang memadai sehingga dapat menghasilkan jarak lompatan yang maksimal (Anne, 2010). Ada empat komponen utama pada lompat jauh yaitu: (1). Lari awalan (2). Tumpuan atau tolakan (3). Sikap di udara dan ( 4). Mendarat (Delta, 2010). Gerakan tolakan merupakan bagian yang terpenting dalam teknik gerak lompat jauh gaya jongkok dan untuk dapat melakukan gerakan menolakkan tubuh ke udara dibutuhkan daya ledak otot dan kekuatan tungkai yang maksimal (Jarver, 1999).

Daya ledak ini sering disebut dengan kekuatan eksplosif, yang ditandai dengan adanya gerakan atau perubahan tiba-tiba yang cepat, dimana tubuh terdorong ke depan atas (Vertikal) baik dengan cara melompat (menapak dengan satu kaki) ataupun meloncat (menapak dengan dua kaki), atau terdorong ke arah depan (Horizontal) dengan mengerahkan otot maksimal seperti pada nomor lompat jauh (Nala, 2002).

Daya ledak dalam lompat jauh merupakan kombinasi dari kekuatan dengan kecepatan dan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan lompat jauh (Azmi, 2000). Daya ledak yang diperlukan dalam lompat jauh adalah daya ledak dorongan tubuh ke depan horizontal (Nala, 2002). Kekuatan otot adalah komponen kondisi fisik yang menyangkut masalah kemampuan seseorang pada saat menggunakan otot-ototnya menerima beban dalam waktu kerja tertentu (Hay, 1978). Sedangkan kecepatan gerak adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan berkesinambungan dengan bentuk yang sama dalam waktu

(20)

sesingkat-singkatnya (Sajoto, 2002).

Unsur lain yang perlu diperhatikan pada lompat jauh adalah gerak tolakan dan ancang-ancang. Gerak tolakan dipengaruhi oleh kemampuan melakukan sudut tolakan atau sudut tinggal landas, untuk mencapai tinggi yang optimal agar dapat dicapai jarak lompatan yang terjauh (Azmi, 2000). Untuk mendapatkan hasil lompatan terjauh dibutuhkan sudut lepas landas yang lebih kecil dari 450 yaitu berkisar antara 300. Tetapi pada kenyataannya sangat sulit sekali mendapatkan sudut lepas landas sebesar 450, karena dalam lompat jauh kecepatan ke arah vertikal dihambat oleh percepatan gravitasi sehingga kecepatan gerak ke arah vertikal selalu lebih kecil dari kecepatan gerak kearah horisontal (Linthorne, 2003).

Untuk dapat menghasilkan sudut lompatan tersebut maka kecepatan ke arah vertikal dan daya ledak otot tungkai perlu ditingkatkan. Daya ledak otot dapat ditingkatkan, salah satunya adalah dengan memberikan pelatinan lari gawang. Pelatinan lari gawang saja tidak dapat menghasilkan lompatan yang maksimal akan tetapi harus diimbangi dengan pelatinan kecepatan lari yaitu dengan melatih lari cepat (Bernhard, 1993). Kecepatan lari dibutuhkan pada saat gerakan mengambil awalan atau ancang-ancang. Jarak ancang-ancang akan mempengaruhi hasil lompatan (Mackenze, 2005). Jarak ancang-ancang utuk laki-laki usia 17 tahun cukup 20-25 meter untuk seorang pemula, sedangkan untuk yang sudah berpengalaman dapat ditingkatkan sampai sejauh 30-45 meter, tergantung dari kemampuan yang bersangkutan menambah kecepatannya (Nigel dan Lewis, 2005). Sehingga jarak ancang-ancang tersebut dapat digunakan sebagai dasar

(21)

dalam membuat suatu program pelatihan untuk dapat menghasilkan pelatihan yang efektif.

Usaha yang ditujukan untuk mengembangkan daya ledak eksplosif dan kecepatan reaksi secara efektif adalah dengan memberikan pelatihan pliometrik (Nala, 2002). Pelatihan pliometrik merupakan suatu pelatihan yang mempunyai ciri khusus yaitu kontraksi otot yang kuat dan merupakan respons dari pembebanan dinamik atau regangan yang cepat dari otot terkait (Radcliffe and Farentinos, 1985). Pelatihan pliometrik berhubungan langsung dengan kekuatan dan kecepatan kontraksi otot, maka secara langsung juga akan mempengaruhi daya ledak otot (Nala, 2002).

Beberapa penelitian mengenai pelatihan pliometrik pada lompat jauh sudah dibuktikan menghasilkan pelatihan yang efektif. Hasil penelitian Denny (2004) melaporkan pelatihan lari rintangan dengan tinggi rintangan (55cm, 50 cm dan 45 cm) dapat meningkatkan hasil lompatan pada lompat jauh dan pelatihan dengan tinggi rintangan 55 cm lebih baik dari pelatihan dengan tinggi rintangan 50cm dan 45 cm terhadap lompat jauh siswa putra kelas II SLTP Taleti Kabupaten Minahasa. Hasil penelitian yang menggunakan rintangan gawang juga dilaporkan oleh Purba (2008), bahwa pelatihan yang diterapkan dalam penelitian tersebut dapat meningkatkan hasil lompatan lompat jauh.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, pada umumnya pelatihan lompat jauh yang diterapkan pada atlet menggunakan metode lompat rintangan tanpa awalan serta tinggi rintangan tidak disesuaikan dengan kemampuan atlet atau tanpa melakukan tes awal terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan

(22)

maksimal atlet melompati tinggi rintangan. Sebelum membuat suatu program pelatihan terlebih dahulu sebelum dilakukan tes awal untuk mengetahui kemampuan maksimal atlet dan ini merupakan salah satu prinsip yang harus diterapkan dalam suatu program pelatihan, untuk dapat mengahasilkan suatu pelatihan yang maksimal (Nala, 2002). Namun pada kenyataanya pelatih pada umumnya memberikan pelatihan sesuai dengan kebiasaan dan pengalaman yang pernah mereka dapatkan selama menjadi atlet tanpa memperhatikan prinsip-prinsip pelatihan serta mereka pada umumnya juga tidak memahami tentang tipe dan takaran pelatihan yang tepat.

Berdasarkan hal tersebut di atas perlu dicobakan tipe pelatihan yang berbeda dan disesuaikan dengan kebutuhan komponen biomotorik pada cabang olahraga yang akan dilatih, serta takarannya disesuaikan dengan kemampuan individu, sehingga diharapkan dapat menghasilkan pelatihan yang efektif.

Pelatihan yang diterapkan pada penelitian ini adalah Pelatihan interval model lari gawang dengan takaran repetisi dan set yang berbeda yaitu kelompok satu pelatihan interval model lari gawang 30 cm ( tiga repetisi lima set). sedangkan kelompok dua pelatihan interval model lari gawang 45 cm (lima repetisi tiga set). Penentuan tinggi gawang berdasarkan pada tes pendahuluan kemampuan maksimal subjek melompati rintangan terhadap tujuh orang siswa. Setelah mendapatkan jarak melompat maksimal, hasilnya dikalikan 80% untuk mendapatkan intensitas submaksimal yang disesuaikan untuk pemula (Nala, 2002). Sedangkan jarak berlari adalah 20 meter disesuaikan dengan jarak ancang-ancang untuk umur 13-15 tahun yaitu sejauh 20 meter.

(23)

Takaran pelatihan yang dipergunakan dalam penelitian lima repitisi tiga set atau sebaliknya dengan istirahat antar set selama lima menit (kembali ke denyut nadi istirahat). Dengan pertimbangan, takaran pelatihan yang dianjurkan untuk meningkatkan komponen daya ledak antara lain : repitisi (ulangan) 1-5 kali, set terdiri dari 3-5 set bagi pemula atau 5-8 set bagi atlet terlatih dengan istirahat antar set 2-5 menit, dan frekuensi pelatihan tiga kali seminggu (Nala, 2002). Pelatihan berlangsung selama delapan minggu dengan frekuensi tiga kali seminggu (Senin, Rabu, Jumat). Pelatihan yang berlangsung selama 8 minggu akan memberikan efek yang cukup berarti bagi atlet yaitu mengalami peningkatan 10-20%, maka sebaiknya evaluasi dilaksanakan setelah 6-8 minggu pelatihan (Pate dkk., 1984).

Penelitian ini diterapkan pada siswa kelas VII dan VIII usia 13-15 tahun SMPN 5 Kupang Timur Satap. dengan pertimbangan siswa kelas IX lebih berkonsentrasi pada persiapan Ujian Akhir Nasional. Pertimbangan lain memilih siswa tersebut sebagai subjek penelitian karena peneliti merupakan guru olahraga subjek penelitian. Sehingga mereka akan semangat, serius dan disiplin dalam melakukan pelatihan selama penelitian ini berlangsung, selain pertimbangan teknis, dan kemudahan peneliti untuk memperoleh subjek penelitian serta populasi yang terjangkau oleh peneliti.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian pada cabang olahraga lompat jauh yaitu:

(24)

lompat jauh gaya jongkok, pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang kelompok kontrol ”?

2. Apakah Pelatihan interval model lari gawang 45 cm meningkatkan lompatan lompat jauh gaya jongkok, pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang”?

3. Pelatihan interval model lari gawang 45 cm lebih baik meningkatkan lompatan lompat jauh gaya jongkok dari pada pelatihan interval model lari gawang 30 cm”?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Untuk mengetahui pelatihan interval model lari gawang 30 cm meningkatkan lompatan lompat jauh gaya jongkok, pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang. kelompok kontrol . b. Untuk mengetahui pelatihan interval model lari gawang 45 cm lebih

meningkatkan lompatan lompat jauh gaya jongkok, pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang

c. Untuk mengetahui pelatihan interval model lari gawang 45 cm lebih baik dari pada pelatihan interval model lari gawang 30 cm”?

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut: 1.4.1 Secara teoritis:

Pengembangan teori dan wawasan atlet maupun pelatih serta memperoleh konsep ilmiah tentang metode pelatihan dalam meningkatkan hasil

(25)

lompatan pada lompat jauh 1.4.2 Secara praktis:

Dipergunakan sebagai pedoman oleh pelatih, guru olahraga dan atlet untuk diterapkan di lapangan dalam meningkatkan hasil lompatan pada lompat jauh.

(26)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Lompat jauh gaya jongkok

Lompat jauh gaya jongkok merupakan salah satu nomor dari cabang olahraga atletik yang selalu diperlombakan dalam setiap kejuaraan, baik antar sekolah (O2SN) pada tingkat daerah, Nasional maupun Internasional. Lompat jauh bertujuan untuk berusaha memindahkan titik berat tubuh sejauh-jauhnya ke arah mendatar (horisontal), artinya atlet berusaha sedapat mungkin menempatkan kakinya sejauh-jauhnya ke depan tanpa jatuh ke belakang saat mendarat atau mencapai jarak lompatan yang sejauh-jauhnya (Hay, 1978; and, Kosasih, 1993). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lompatan yang terjauh tanpa jatuh ke belakang yang dicapai oleh seorang atlet adalah merupakan keberhasilan atlet tersebut mencapai target yang diharapkan.

Lompat jauh menurut (Azmi, 2000) adalah suatu yang diawali dengan berlari untuk mengambil awalan (awalan), dilanjutkan dengan menolak memakai satu kaki tumpu (tolakan), melayang di udara dan mendarat dengan dua kaki secara bersamaan (mendarat). Sedangkan gerakan dalam lompat jauh terdiri dari: lari awalan (ancang-ancang), fase tolakan atau persiapan lompat (tinggal landas), fase melayang dan fase pendaratan (Bernhard, 1993).

Beberapa faktor yang menentukan keberhasilan dari atlet lompat jauh diantaranya; kondisi fisik terutama kecepatan dan tenaga lompat, dan faktor teknik yang menyangkut ancang-ancang (run-up), tinggal landas (take-off), saat melayang

(flight), dan pendaratan (landing) (Bernhard, 1993; and, Jarver, 1999). Kecepatan di run-up, atau pendekatan, dan yang tinggi melompat dari papan adalah dasar-dasar

keberhasilan lompat jauh (Delta, 2008).

(27)

2.2. Gerakan pada lompat jauh gaya jongkok

Gerakan-gerakan pada lompat jauh gaya jongkok terdiri dari: gerakan berlari untuk mengambil awalan atau ancang-ancang; tolakan dengan bertumpu pada satu kaki; melayang di udara dan mendarat dengan dua kaki secara bersamaan (Azmi, 2000).

a. Lari Awalan atau Ancang-Ancang (Run Up)

Maksud berlari sebelum melompat ini adalah untuk meningkatkan kecepatan horisontal secara maksimum tanpa menimbulkan hambatan sewaktu Take Off ”. Jarak awalan tidak perlu terlalu jauh, tetapi sebagaimana pelari mendapatkan kecepatan tertinggi sebelum salah satu kaki menolak. Jarak awalan tersebut antara 30-35 meter.Berkaitan dengan awalan lompat jauh. (Jes Jerver, 2005). Tujuan lari awalan atau ancang-ancang adalah untuk mendapatkan kecepatan yang setinggi-tingginya agar dorongan massa ke depan lebih besar atlit lebih besar dari berat badannya (Anonim, 2010).

Jarak lari awalan yang digunakan oleh setiap pelompat berbeda-beda tergantung pada kemampuan untuk mencapai kecepatan maksimalnya. Mereka yang lebih cepat mencapai kecepatan maksimalnya akan memerlukan jarak awalan yang lebih pendek begitu juga sebaliknya (Anne, 2010).

Panjang lari awalan atau ancang-ancang yang dipakai oleh atlet tergantung pada persentase kecepatan maksimal yang mampu dikontrol pada saat tinggal landas dan kemampuannya mempertahankan pola langkah dari satu langkah ke langkah berikutnya (Hay, 1978). Jarak lari harus cukup jauh untuk memungkinkan peningkatan kecepatan sampai maksimal pada menjelang tinggal landas serta gerakan lari harus dilakukan secara konsisten dan seragam sehingga tinggal landas dapat dilakukan

(28)

secara tepat (Jarver, 1999).

Jarak ancang-ancang untuk laki-laki usia 12 tahun adalah sejauh 20-25 meter untuk seorang pemula, sedangkan untuk yang sudah berpengalaman dapat ditingkatkan sampai sejauh 30-45 meter, tergantung dari kemampuan yang bersangkutan menambah kecepatannya (Nigel and Lewis, 2005). Perpanjangan ancang-ancang 10-20 meter terhadap 60 orang remaja pada akhir pubertas tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (Bernhard, 1993). Oleh karena atlet tidak ada yang memakai start jongkok, maka perlu ditambah 3-5 langkah disaat atlet menyiapkan diri secara fisik dan mental untuk tinggal landas (Gambar 2.1).

Makin tinggi umur seseorang jarak ancang-ancang yang dibutuhkan untuk mencapai lompatan maksimal semakin panjang, begitu pula sebaliknya makin rendah umurnya ancang-ancang semakin pendek. Pada umur 11 tahun ancang-ancang yang diperlukan sebanyak 11 langkah, umur 13 tahun sebanyak 13 langkah, umur 15 tahun sebanyak 15 langkah, di bawah umur 17 tahun sebanyak 17 langkah, dan di 17 tahun membutuhkan jarak ancang-ancang 21 langkah (Mackenzie, 2005). Lari awalan dalam penelitian ini adalah disesuaikan dengan kemampuan subjek untuk pemula dengan jarak lari 20 meter.

Gambar 2.1 Ancang-Ancang Diantara Titik Start b. Tolakan ( Take Off)

Maksud dari take off adalah merubah gerakan lari menjadi suatu lompatan, dengan melakukan lompatan tegak lurus,sambil mempertahankan kecepatan horisontal

(29)

semaksimal mungkin” . Lompatan dilakukan dengan mencondongkan badan ke depan

membuat sudut lebih kurang 45ºdan sambil mempertahankan kecepatan saat badan dalam posisi horizontal (Jes Jerver, 2005). Tujuan dari lepas landas adalah untuk menciptakan dorongan vertikal melalui pusat gravitasi tubuh atlet dengan tetap menjaga keseimbangan dan kontrol (Delta, 2010). Tahap ini adalah salah satu bagian gerakan yang paling penting dari lompat jauh untuk menentukan hasil lompatan yang sempurna. Dalam teknik ini pelompat melakukan tolakan pada papan tumpuan menggunakan kaki yang terkuat dengan mengubah kecepatan horizontal menjadi kecepatan vertikal (Anne, 2010). Pada saat menumpu, posisi badan tidak boleh terlalu condong, tumpuan harus kuat, cepat, dan aktif, keseimbangan badan juga harus diperhatikan agar tidak goyang diikuti dengan gerakan ayunan lengan yang akan membantu memberi gaya untuk menambah ketinggian serta menjaga keseimbangan (Anonim, 2010). Gambar saat tinggal landas diperlihatkan seperti gambar dibawah ini.

Gambar 2.2 Posisi Tungkai Atlet Saat Tinggal Landas.

Untuk mendapatkan lompatan maksimal menurut Jarver (1999), perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Perubahan dari kecepatan horisontal menjadi gerakan bersudut didapat dengan cara memberikan tenaga maksimal pada kaki yang akan tinggal landas.

2. Pusat gravitasi tubuh atlet harus langsung jatuh di atas papan tumpuan begitu kaki yang akan tinggal landas menyentuhnya.

(30)

3. Kaki yang akan tinggal landas diletakkan tepat di atas papan tumpuan dengan lutut sedikit ditekuk untuk mendapatkan kekuatan.

4. Gerakan ke atas dan kedepan dilakukan dengan sekuat tenaga dibantu oleh lutut dari kaki yang memimpin dan lengan yang berlawanan dengan kaki yang digunakan saat tinggal landas. Tujuannya adalah untuk memperkuat daya lompat. 5. Paling baik kalau sudut tinggal landas berkisar antara 30°, tergantung dari

kemampuan atlet mengkombinasikan kecepatan horizontal dan gerakan membuat sudut tadi.

6. Lompatan yang lebih jauh dapat diperoleh apabila atlet menurunkan panggulnya sejak dua langkah sampai pada saat tinggal landas. Empat faktor yang mempengaruhi kecepatan arah vertikal menurut (Jarver, 1999), diantaranya:

1) Mekanisme sistem tuas, yang menggambarkan putaran arah maju dan naik dari tubuh atlet disekitar sumbu vertikal melalui pergelangan kaki.

2) Mekanisme konsentrik, yang menggambarkan aksi-aksi dari semua otot ekstensor pada saat tungkai melompat yang memendek tanpa pemanjangan. 3) Mekanisme eksentrik-konsentrik, yang menggambarkan aksi-aksi dari semua

otot pada saat tungkai melompat yang mula-mula meregang dan kemudian memendek.

4) Mekanisme keleluasaan anggota gerak, yang menggambarkau gerakan- gerakan berayun arah naik dari lengan dan keleluasaan tungkai.

c. Gerakan melayang

Gerakan melayang dilakukan setelah meninggalkan balok tumpuan (Anne, 2010). Tujuan utama dari fase melayang adalah persiapan pendaratan dengan cara yang baik dengan tanpa kehilangan keseimbangan (Bernhard, 1993). Pada saat melakukan

(31)

gerakan melayang, keseimbangan badan harus terjaga dengan ayunan kedua tangan yang juga dapat membantu menjaga keseimbangan (Delta, 2010). Pada saat berada di udara tertuju pada bagaimana posisi tubuh mendarat dengan sempurna dengan menghilangkan rotasi ke depan yang hampir didapat setiap tinggal landas. Rotasi ke depan akan membawa kakinya di bawah gaya gravitasi sehingga lebih cepat mendarat. Jadi masalah utama atlet adalah berusaha untuk mengurangi efek dari rotasi ke depan (Anne, 2010).

Sasaran pokok dari teknik melayang diudara merupakan pemelihara keseimbangan badan saat melayang; mengusahakan tahanan udara sekecil mungkin; mengusakan melayang diudara selama mungkin dan menyiapkan letak kaki dalam posisi yang menguntungkan pada waktu mendarat (Anonim, 2010).

Ada tiga teknik melayang yang digunakan oleh para atlet lompat jauh yaitu; teknik terbang, menggantung, dan menendang (Hay, 1978). Teknik-teknik ini merupakan pola gerakan yang digunakan oleh atlet lompat jauh. Teknik-teknik tersebut ditujukan untuk menghindari cedera dan kalau dalam pertandingan- pertandingan resmi menjadi salah satu poin penilaian bagi para juri (Anne, 2010).

1. Teknik terbang

Teknik ini sangat banyak digunakan oleh atlet pemula karena kesederhananya, walaupun kelemahannya sangat besar (Hay, 1978). Kelemahan dari teknik ini adalah pada saat menempatkan titik berat tubuh mendekati sumbu peralihan, dimana hal ini memberikan kemungkinan rotasi ke depan sehingga atlet jatuh kebelakang pada saat mendarat jarang terjadi, tetapi mengakibatkan kaki terlalu dini mendarat. Cara melakukannya adalah atlet membawa kedua tungkainya ke depan setelah tinggal landas seperti pada posisi duduk dengan lutut sedikit bengkok kira-kira membentuk

(32)

siku seperti gambar di bawah ini.

Gambar 2.3 Cara Melakukan Teknik Terbang 2. Teknik Menggantung

Gaya ini cukup membiarkan kaki atlet menjuntai ke bawah dengan posisi badan tegak lurus serta kedua gerakan ini memeriukan keseimbangan badan yang sempurna (Anne, 2010). Kaki tumpu dibiarkan tergantung lurus badan tegak kemudian disusul oleh kaki tumpu dengan sikap lutut ditekuk sambil pinggul didorong ke depan yang kemudian ke dua lengan direntangkan ke atas. Keseimbangan badan perlu diperhatikan agar tetap terpelihara hingga mendarat (Anonim, 2010). Segera setelah menyentuh pasir, lutut ditekuk dan badan bergerak ke depan diatas kaki, dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.4 Cara Melakukan Teknik Menggantung

3. Teknik Menendang

Merupakan gaya yang sekarang paling populer dari pada kedua gaya sebelumnya. Gaya ini lebih menjanjikan tinggal landas yang efisien dan kesempatan mempersiapkan pendapatan yang lebih awal (Anonim, 2010). Cara melakukan teknik

(33)

ini adalah; setelah melakukan ancang-ancang dengan kecepatan maksimal, atlet melakukan tinggal landas dengan kuat. Lutut dari tungkai yang memimpin ditekuk saat tinggal landas, kemudian diluruskan sehingga atlet menirukan sikap melangkah saat di udara. Tungkai yang memimpin diputar ke belakang dalam keadaan lurus dan kedua lutut ditekuk dan digerakkan ke depan untuk mendarat. Lengan diputar ke depan searah jarum jam mengimbangi gerakan tungkai. Atlet meluruskan kedua tungkai untuk mendarat, saat lengan diputar ke depan dan ke belakang. Setelah menyentuh pasir lutut ditekuk dan badan bergerak mendahului tungkai

Gambar 2.5 Cara Melakukan Teknik Menendang

d. Gerakan Mendarat ( Landing)

Gerakan disaat pendaratan harus dilakukan dengan dua kaki yang dijatuhkan secara bersamaan dengan posisi badan condong ke depan. Sewaktu kaki menyentuh pasir kepala dirundukkan dan lengan diayunkan ke depan membawa pinggang ke depan mendekati titik berat badan melawati titik pendaratan di pasir sehingga badan tidak cenderung jaruh ke belakang yang dapat merugikan atlet (Anne, 2010).

Suatu pendaratan yang baik yang telah disiapkan dan ditentukan dalam fase melayang memungkinkan untuk atlet tetap tegak selama mungkin. Dalam hal ini dibutuhkan tenaga otot perut yang tinggi (Bemhard, 1993). Tujuan dari pendaratan adalah untuk mendapatkan suatu posisi dengan kedua kaki menyentuh pasir sejauh mungkin di depan pusat gravitasi tubuh dan untuk menjaga jangan sampai jatuh ke

(34)

belakang (Jarver, 1999).

Dari kedua faktor ini yang terpenting. posisi tubuh condong ke depan terhadap punggung (Gambar 2.6). Jika atlet memutuskan untuk condong ke depan selama akhir gerakan melayang maka kakinya diangkat dalam reaksinya untuk menunda pendaratan. Peningkatan waktu selama berada di udara memungkinkan untuk mendarat lebih jauh sepanjang lintasan parabola. Mencondongkan panggul ke depan mengurangi jarak pendaratan (supaya atlet tidak jatuh ke belakang) dengan memindahkan titik berat lebih dekat ke kakinya kemudian dapat mempertahankan posisi tubuh (Hay, 1978).

Gambar 2.6 Cara Melakukan Pendaratan

Untuk mendapatkan pendaratan yang baik atlet harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Jarver, 1999):

1. Posisi pendaratan yang terbaik hendaknya merupakan lanjutan dari pola melayang pusat gravitasi tubuh. Tentunya harus terletak sejauh mungkin, yaitu pada jarak horisontal terbesar antara tumit dan pusat gravitasi tubuh.

2. Tubuh bagian atas harus setegak mungkin dengan tungkai terjulur lurus ke depan. 3. Lengan yang terletak di belakang tubuh sebelum pendaratan harus segera

dilemparkan ke depan, begitu kaki menyentuh pasir. Gerakan lengan ini akan membantu tubuh untuk bertumpu di atas kaki.

(35)

melayang, yaitu dalam mengurangi atau memperlambat munculnya rotasi sewaktu tinggal landas.

2.3 Metode Pelatihan Interval

Pelatihan Interval merupakan pemberian beban pada tubuh dalam waktu singkat tetapi terus berulang diselingi dengan pemulihan yang memadai (misalnya lari cepat di selang seling dangan jalan) tergantung spesialisasinya (Nala, 2002)

Manfaat yang biasa didapat dari pelatihan interval antara lain memberikan pengaruh yang baik bagi jangtung dan otot, menghasilkan sesuatu yang dikenal dengan istilah After Training Burn yaitu kondisi yang setiap otot tetap melakukan pembakaran lemak, gula dan sedikit protein meski aktifitas suda berhenti. ( Anonim, 2009). Metode pelatihan interval merupakan pemberian beban pada tubuh dalam waktu singkat tetapi teratur yang berulang-ulang diselingi dengan pemulihan yang memadai (misalnya: lari cepat diselingi dengan jalan) dengan takaran yang sudah ditentukan. (Nala, 2002)

Paulus (2003) Menyatakan, latihan dengan metode interval merupakan latihan yang menerapakan istirahat yang menguntungkan. Dalam latihan. Istirahat yang menguntungkan disederhanakan dengan menghitung denyut nadi istirahat diakhiri ketika denyut nadi mencapai 110-130 x/menit.

Sedangkan dalam Sport Science pelatihan berselang intensitas tinggi adalah suatu bentuk pelatihan interval yang terdiri dari aktifitas kompetisi pendek habis-habisan dipisahkan dengan waktu istirahat antara 20 dan 5 menit. Ini adalah strategi volume rendah untuk menghasilkan keuntungan daya aerobik dan daya tahan biasanya terkait dengan serangan pelatihan lagi. Endurance atlit harus secara bartahap- tahap dalam kompetisi. Pelatihan berselang intensitas tinggi dalam membangun mengembalikan

(36)

untuk kompetisi (Alonso and Finn, 1992)

Pelatihan interval merupakan suatu bentuk pelatihan yang diselingi oleh interval berupa masa istirahat (Suherman, 2008) Demikian pula dikatakan oleh (Nala 2002) pelatihan interval merupaka pemberian beban pada tubuh dalam waktu singkat tetapi teratur yang berulang-ulang diselingi dengan pemulihan yang memadai seperti lari diselingi dengan jalan.

Selama berlatih interval atlit secara tidak langsung telah menerapkan ketrampilan atau bersaing, serta secara fisiologis pelatihan interval merangsang perbaikan pengambilan oksigen maksimum (VO2 Max) akibat adanya peningkatan intensitas atau jumlah mitokorida dalam sel otot (Nala, 2002) manfaat lain yang bias di dapatkan dari pelatihan interval antara lain memberikan pelatihan yang baik bagi jantung dan juga otot, menghasilkan sesuatu yang dikenal dengan istilah after training burn yaitu kondisi dimana setiap otot tetap melakukan pembakan karbohidrat, lemak, dan sedikit protein meskipun aktivitas sudah berhenti (Anonim, 2009)

Pelatihan interval juga dapat membantu atlit dari tekanan pada tungkai dan paru yang pasti dirasakan ketika intensitas meningkat (Mamas, 2005) penurunan kadar laktat akan sangat cepat terjadi apabila pada setiap pulih asal diisi dengan istirahat aktif dibandingkan dengan istirahat dengan duduk diam sehingga hal ini akan menyebabkan pelatihan terasa lebih ringan (Fox dkk;1988)

Terdapat beberapa hasil penelitian mengenai pengaruh pelatihan interval dari berbagai cabang olahraga antara lain. Hasil penelitian yang dapat dilaporkan oleh (Ansor, 2007) menyimpulkan metode pelatihan renang interval dapat menurunkan waktu tempuh berenang 1000 dan 50 meter. Penelitian eksperimental laboratories yang dilakukan oleh (Boleng, 2003) tentang pengaruh latihan interval dan kontinyu

(37)

terhadap pemulihan glikogen otot menyimpulkan, pemulihan glokogen otot pada latihan interval lebih meningkatkan dibandingkan dengan kelompok kontrol dan latihan kontinyu sedangkan pemulihan glikogen otot pada latihan kontinyu tidak meningkatkan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Penelitian mengenai pengaruh latihan interval dan kontinyu terhadap perubahan VO2 Max dan denyut nadi istirahat yang di lakukan oleh (Nasution, 2000) bentuk pelatihan interval lebih baik di bandingkan latihan kontinyu terhadap VO2 Max.

Pelatihan interval juga menggunakan prinsip penambahan beban serta memberikan koreksi secara teliti terhadap (a) Jarak yang ditempuh, (b) Waktu istirahat antar ulangan, (c) Banyaknya ulangan yang harus di tempuh, (d) Waktu Pelatihan.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian diatas yang telah membuktikan bahwa bentuk pelatihan interval sangat efektif dipergunakan pada pelatihan beberapa cabang olahraga seperti cabang olahraga atletik nomor Lompat jauh yang juga membutuhkan kecepatan. Hal inilah yang mendasari penulis merancang penelitian bentuk interval dengan dua (2) tipe. Pelatihan interval model lari gawang 30 cm dan Pelatihan interval model lari gawang 45 cm meningkatkan lompatan lompat jauh gaya

jonngkok pada siswa SMP Negeri 5 Kupang Timur Satap Kabupaten Kupang.

Pelatihan meningkatkan komponen bomotorik kecepatan dapat juga ditempuh dengan cara yakni: model progresif atau dengan metode maksimum. Metode agresif adalah pelatihan diawali dengan intensitas, volume, dan frekuensi yang rendah kemudian secara bertahap bebannya di tingkatkan, atau untuk mudahnya diawali dengan kecepatan rendah, kemudian secara bertahap pada pelatihan selanjutnya kecepatan ditingkatkan sampai mencapai kecepatan maksimum. Sedangkan mengunakan metode maksimum dari sejak awal sudah dilatih dengan kemampuan

(38)

maksimumnya. Dimana intensitas, volume dan frekuensi dipilih takaran maksimum. Biasanya metode maksimum ini dipergunakan untuk atlit yang sudah terlatih. (Nala, 2002).

2.4. Pelatihan

Pelatihan terhadap remaja umur 12-15 tahun (remaja pertengahan) baik untuk tumbuh dan berkembang dikarenakan pada umur tersebut kekuatan masih dapat dibentuk. Kekuatan masih dapat dibentuk karena proses tersebut terjadi secara bersamaan dengan perkembangan System Neuromusculoscletal yang cepat dan masih berlangsung (Brandon, 2006).

Hakekat dan tujuan latihan olahraga ialah meningkatkan ketrampilan,dan kinerja peserta pelatihan setinggi mungkin agar para olahragawan mampu berprestasi semaksimal mungkin (Pyke cit Kilpatrick, 2003). Karena itu tugas seorang pelatih adalah membantu atlit-atlitnya untuk meningkatkan prestasi olahraga semaksimal mungkin. Dengan demikian pelatihan merupakan suatu gerakan fisik dan atau aktifitas mental yang dilakukan secara sistematis dan berulang-ulang (repetisi) dalam jangka waktu (durasi) yang lama, dengan pembebanan yang meningkat secara progresif (bertahap) dan individual, dengan tujuan untuk memperbaiki sistem serta fungsi fisiologis dan psikologis tubuh agar pada waktu melakukan aktivitas olahraga dapat mencapai penampilan yang optimal (Nala, 2002).

Pelatihan didefenisikan sebagai suatu gerakan fisik/aktifitas mental yang berulang-ulang (repetitive) dalam jangka waktu (durasi lama) dengan pembebanan yang dapat ditingkatkan secara progresif dan individual serta secara fisiologis merupakan suatu proses pembentukan reflek bersyarat ,proses belajar gerak serta proses menghafalkan gerakan (Nala, 2011).

(39)

Secara garis besar ada empat aspek pelatihan yang diperlukan dalam meningkatkan penampilan seorang atlit yaitu: (1). Pelatihan Fisik (2). Pelatihan Teknik (3). Pelatihan Taktik dan (4). Pelatihan Mental Keempat aspek tersebut harus diterapkan secarasistematis berencana, sinergis dan serempak (Malisoux et al., 2006). 2.4.1. Pelatihan fisik

Pelatihan fisik dilakukan secara teratur, sistematis dan berkesinambungan yang dituangkan dalam program pelatihan akan meningkatkan kemampuan fisik secara nyata akan tetapi tidak tampak bila dilakukan secara tidak teratur (Fox dkk., 1988). Selanjutnya dinyatakan oleh Nala,( 2002), agar pelatihan fisik ini berlangsung efektif, mencapai hasil maksimum sesuai sasaran dan tanpa menimbulkan cidera, beberapa hal yang perlu diperhatikan: beban pelatihan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing individu, pemilihan tipe pelatihan yang spesifik sesuai dengan tujuan pelatihan. Peningkatan beban pelatihan secara bertingkat (progresif), setelah melakukan aktivitas perlu diikuti dengan istirahat (waktu pemulihan).

Adapun cara-cara melakukan pemanasan adalah dengan cara kalistenik, peregangan dan pelemasan gerakan tubuh secara umum yang berubungan dengan aktifitas saraf otot untuk mengantisipasi gerakan berikutnya (Mec Ardle dkk., 2001). Perkembangan kondisi fisik sangatlah penting untuk dapat mengikuti pelatihan dan perlombaan dengan sempurna Ada beberapa kondisi fisik yang perlu dikembangkan: daya tahan kardiovaskuler, daya tahan otot, kekuatan, kelentukan, kecepatan, kelincahan, daya ledak, ketepatan, keseimbangan, waktu reaksi, dan koordinasi (Sajoto, 2002).

2.4.2. Pelatihan teknik

(40)

gerakan untuk dapat melaksanakan cabang olahraga tertentu. Pelatihan teknik merupakan pelatihan yang khusus untuk membentuk dan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan motorik atau perkembangan neuromuscular. Kesempurnaan teknik dasar dari setiap gerakan sangat penting oleh karena akan menentukan gerak keseluruhan. Sehingga setiap gerakan-gerakan dasar dari bentuk teknik yang diperlukan dari cabang olahraga yang bersangkutan harus dapat dilatih dan dikuasai secara sempurna (Nossek, 1982).

2.4.3 Pelatihan taktik

Pelatihan taktik atau siasat adalah cara-cara yang diperlukan untuk memenagkan suatu pertandingan secara sportif sesuai dengan peraturan yang berlaku (Suhamo, 1993). Tujuan pelatihan taktik adalah untuk mengembangkan kemampuan interpretasi atau daya tafsir pada atlet. Teknik gerakan yang sudah dikuasai dengan baik harus dituangkan dan diorganisir dalam setiap tahap pelatihan (Nossek, 1982). 2.4.4. Pelatihan Mental

Kemajuan mental atlet tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan ke tiga faktor pelatihan di atas, karena betapapun sempurnanya perkembangan fisik, teknik dan taktik atlet, apabila mentalnya tidak turut dikembangkan, prestasi maksimal tidak mungkin akan tercapai. Pelatihan mental menekankan pada perkembangan kedewasaan atlet serta penekanan emosi serta implusif, misalnya: semangat bertanding, sikap pantang menyerah, keseimbangan emosi walaupun berada pada keadaan tertekan, sportifitas, percaya diri dan kejujuran.

2.5. Tujuan Pelatihan Fisik

Tujuan pelatihan fisik adalah untuk memperbaiki sistem dan fungsi dari organ tubuh agar penampilan atlet mencapai optimal (Bompa, 1994). Setiap penyusunan

(41)

program pelatihan, terlebih dahulu ditetapkan tujuan pelatihan sehingga perehcanaan dan pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan dengan tujuan (Nala, 2002).

Secara garis besar tujuan pelatihan olahraga menurut (Bompa, 1993) adalah: 1. Mengembangkan komponen fisik umum atau multilateral, yang meliputi

pengembangan kemampuan biomotorik secara umum.

2. Mengembangkan komponen fisik khusus. Pengembangan komponen biomotorik ini disesuaikan tipe atau spesialisasi olahraga yang ditekuninya.

3. Memperbaiki teknik atau keterampilan sesuai dengan tipe atau spesialisasi olahraga yang ditekuninya. Pelatihan ini dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya,

4. Memperbaiki strategi dan teknik bennain. Dalam hal ini diperhitungkan juga kekuatan dan kelemahan serta watak dari lawan yang dihadapi sehingga strategi dapat dipersiapkan dengan matang.

5. Meningkatkan kualitas kemauan atlet. Pelatihan ini lebih banyak menyangkut pelatihan mental.

6. Meningkatkan persiapan dan kerja sama tim. Pelatihan ini untuk cabang olahraga beregu, sehingga membutuhkan kerja sama dan saling pengertian yang baik antara sesama pemain.

7. Meningkatkan kesehatan atlet, melalui pemberian takaran dan peningkatan sesuai dengan kemampuan atlet, yang disertai dengan pemberian gizi yang seimbang. 8. Mencegah cedera dengan cara melakukan pemanasan sebelum pelatihan inti, yang

bertujuan untuk meningkatkan kelentukan, kekuatan otot, tendon dan ligamentum terlebih dahulu bagi atlet pemula.

(42)

pelatihan, perencanaan, gizi dan regenerasi. 2.6 Prinsip-Prinsip Pelatihan

Prinsip pelatihan adalah suatu petunjuk dan peraturan yang sistematis, dengan pemberian beban yang ditingkatkan secara progresif, yang hams ditaati dan dilaksanakan agar tercapai tujuan pelatihan (Nala, 2002). Punguasaan dasar prinsip pelatihan merupakan langkah awal dalam menyusun program pelatihan yang optimal dan efektif untuk dapat diaplikasikan (Soetopo, 2007). Untuk itu pelatih dituntut supaya memiliki pengetahuan kepelatihan, fisiologi dan pengalaman dalam menentukan bentuk pelatihan serta beban pelatihan bagi atlemya (Fox dkk., 1988).

Prinsip-prinsip dasar pelatihan diuraikan oleh (Nala, 2002), terdiri dari 7 prinsip yaitu:

1. Prinsip Aktif dan bersungguh-sungguh

Prinsip ini bertujuan untuk mencapai hasil yang maksimal dalam suatu pelatihan sehingga atlet dituntut untuk selalu bertindak aktif dan mengikuti pelatihan dengan bersungguh-sungguh tanpa ada paksaan.

2. Prinsip pengembangan multilateral

Sebelum pelatihan mengarah kepada spesifikasi hendaknya dibekali terlebih dahulu pelatihan dasar-dasar kebugaran badan dan komponen biomotorik. Selain itu dikembangkan pula seluruh organ dan sistem yang ada dalam tubuh, baik yang menyangkut proses fisiologis maupun psikologisnya.

3. Pinsip spesialisasi dalam pelatihan.

Setelah pelatihan pengembangan multilateral dilatih, dilanjutkan dengan pengembangan khusus atau spesialisasi sesuai dengan cabang olahraga yang dilatih. Pelatihan spesialisasi baru dimulai setelah disesuaikan dengan umur yang

(43)

cocok untuk cabang olahraga yang dipilih oleh anak atau atlet bersangkutan. Untuk melatih cabang olahraga atletik, spesialisasi umur ynag dilatih antara 13-14 tahun. 4. Prinsip pelatihan individualisasi

Setiap orang mempunyai kemampuan, potensi, karakter belajar dan spesifikasi dalam olahraga, yang berbeda satu sama lainnya, sehinggga cara pelatihannyapun akan berbeda.

5. Prinsip variasi atau keseragaman

Pelatihan yang bersifat monoton dan dilakukan secara terus menerus akan cukup membosankan. Untuk menghindari hal tersebut maka dalam pelaksanaan pelatihan perlu dibuatkan variasi pelatihan, tentunya mempunyai tujuan yang sama yaitu tetap mengacu pada tujuan pelatihan dan tidak keluar dari program pelatihan yang ditetapkan, sehingga atlet tetap bergairah dan semangat dalam berlatih.

6. Prinsip mempergunakan model proses pelatihan

Model yang dimaksud dalam prinsip ini adalah imitiasi, suatu simulasi dari kenyataan yang dibuat dari elemen atau unsur spesifik dari fenomena yang diamati yang mendekati keadaan sebenarnya.

7. Prinsip peningkatan beban progresif

Beban pelatihan dimulai dengan beban awal yang ringan, kemudian ditingkatkan secara bertahap disesuaikan dengan kemampuan atlet bersangkutan, makin lama semakin berat atau dapat diawali dengan gerakan sederhana kemudian ditingkatkan menjadi gerakan yang semakin rumit.

2.7 Prosedur Pelatihan Fisik

Prosedur pelatihan fisik terdiri dari tiga bagian yaitu bagian pendahuluan, bagian inti dan bagian pendinginan (Fox dkk., 1988).

(44)

2.7.1 Pemanasan

Pemanasan amat perlu dilakukan oleh setiap atlet baik sebelum berlatih maupun sebelum pertandingan (Nala, 2002). Tujuannya adalah untuk mempersiapkan fisik dan psikis dalam menghadapi pelatihan inti dan untuk menghindari atau untuk mencegah terjadinya cidera (Fox, 1983). Efek paling nyata dan besar manfaatnya dari pemanasan ini tampak berturut-turut terutama pada peningkatan komponen biomotorik kecepatan berlari, kecepatan gerakan lengan, kekuatan otot, daya tahan otot, daya ledak dan daya tahan kardio-vaskular (Nala, 2002).

Selain itu pemanasan akan merangsang aktivitas sistem saraf yang akan mengkoordinasikan kerja sistem organ tubuh lainnya sehingga menjadi lebih baik dan juga mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk merambatnya rangsangan melalui saraf mototrik ke otot skeletal, sehingga mempercepat timbulnya reaksi motorik, meningkatkan refleks dan kontraksi otot dan meningkatkan koordinasinya (Nala, 2002).

Pemanasan yang umum dilakukan dalam olahraga adalah pemanasan aktif, yaitu dengan aktivitas fisik, bukan pemanasan pasif seperti: mandi uap, menggunakan selimut panas, sinar inframerah, dengan bahan kimia yang efeknya sangat terbatas pada organ tubuh, tidak setinggi aktivitas fisik yaitu dengan kontraksi otot (Bompa, 1994).

Intensitas dan durasi pemanasan setiap aktivitas olahraga bervariasi, tergantung dari aktivitas yang dilakukan, misalnya lama pemanasan untuk mengerahkan seluruh otot tubuh berkisar antara 20-30 menit (Bompa, 1994). Ada pula dengan memakai patokan frekuensi denyut nadi, yaitu bila frekuensi denyut nadi telah meningkat 20-40 denyut di atas denyut nadi istirahat (Powers and Howley, 1990). Selain itu durasi

(45)

pemanasan tergantung pula dari berbagai faktor yaitu: suhu dan kelembaban lingkungan, umur, kebugaran fisik, berat ringannya aktivitas dan Iain-lain (Nala, 2002).

Tipe pemanasan yang dilakukan selama pemanasan tergantung dari cabang olahraga yang dilakukan, tipe pemanasan ada tiga antara lain (1) peregangan yang merupakan aktivitas otot pertama kali dilakukan dalam pemanasan; (2) kalistenik dengan cara menggerakkan sekelompok otot yang secara aktif berulang-ulang dengan tujuan untuk meningkatkan suhu dan aliran darah pada otot yang bersangkutan; (3) aktivitas spesifik yaitu aktivitas yang disesuaikan dengan jenis olahraga yang dilatih (Nala, 2002).

Pemanasan yang diberikan dalam penelitian ini, dilakukan dengan berlari mengelilingi lapangan selama 10 menit, bertujuan untuk meningkatkan suhu dan aliran darah ke seluruh otot lurik. Kemudian dilanjutkan dengan peregangan yang meliputi peregangan otot-otot leher, lengan, pinggang dan otot-otot tungkai, sehingga memungkinkan unit motorik otot tungkai mempersiapkan fungsinya.

2.7.2 Pelatihan inti

Takaran pelatihan merupakan hal yang sangat penting peranannya dalam meningkatkan dan mengembangkan fisik olahragawan terutama kemampuan komponen biomotorik secara tepat dan efisien. Takaran pelatihan terdiri dari intensitas, volume dan frekuensi (Nala, 2002).

Metode pelatihan inti yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah lompat rintangan dengan tinggi rintangan 30 dan 45 sentimeter dengan set dan repetisi berbeda. Kelompok satu menggunakan tiga repetisi lima set sedangkan kelompok dua lima repetisi tiga set Metode pelatihan kelompok satu dimana subjek berlari

(46)

secepat-cepaatya sejauh 14 meter kemudian melompati rintangan setinggi 30 sentimeter diulang sebanyak tiga kali (tiga repetisi) dan dilakukan sebanyak lima kali (tiga set) dengan istirahat antar set adalah lima menit (kembali ke denyut nadi semula). Sedangkan kelompok dua mengulang sebanyak lima kali (lima repetisi) dan dilakukan sebanyak tiga kali (tiga set).

Pelatihan ini berlangsung selama enam minggu dengan frekuensi tiga kali seminggu (Senin, Rabu, Jumat). Pelatihan yang berlangsung selama 6-8 minggu dikatakan oleh (Pate dkk, 1984) akan memberikan efek yang cukup berarti bagi atlet yang akan mengalami penigkatan 10%-20%. Selanjutnya Fox (1983), menyatakan pelatihan dengan frekuensi tiga kali seminggu adalah sesuai untuk pemula dan akan menghasilkan peningkatan yang berarti.

2.7.3 Pendinginan

Pendinginan dilakukan untuk mengembalikan kondisi tubuh ke keadaan semula. Tujuan utama dari pendinginan adalah menarik kembali secepatnya darah yang terkumpul di otot skeletal yang telah aktif sebelumnya ke peredaran sentral. Selain itu berfungsi pula untuk membersihkan darah dari sisa hasil metabolisme berupa tumpukan asam laktat yang berada di dalam otot dan darah (Nala, 2002).

Bentuk pelatihan pendinginan yang biasa dianjurkan adalah dengan istirahat aktif. Karena asam laktat cepat di metabolisme secara aerobik sehingga menghasilkan COa+HaO yang menyebabkan asam laktat cepat berkurang. Begitu selesai melakukan aktivitas atau pelatihan tidak langsung duduk tetapi melakukan gerakan-gerakan ringan seperti jalan-jalan atau mengerak-gerakkan anggota tubuh mulai dari anggota gerak atas (AGA) dan dilanjutkan anggota gerak bawah (AGB) secara ringan (Nala, 2002). Lamanya pendinginan berkisar antara 10-15 menit (Powers and Howley, 1990).

(47)

Pelatihan pendinginan yang dalam penelitian mi dilakukan selama 15 menit yang diawali dengan gerakan-gerakan lambat dimulai dari kepala, leher, bahu, lengan, pinggang, dan anggota gerak bawah dengan hitungan delapan kali pada masing-masing gerakan. Selanjutnya dilakukan peregangan mulai dari leher, lengan, bahu, pinggang dan anggota gerak bawah sebanyak delapan kali hitungan pada masing-masing serta menarik nafas panjang secara perlahan dan menghebuskan nafas juga secara perlahan.

2.8 Daya Ledak Otot

Daya ledak merupakan salah satu komponen yang penting untuk melakukan aktivitas yang berat seperti meloncat, melempar, memukul, dan sebagainya (Jensen and Fisher, 1983). Daya ledak merupakan hasil dari kekuatan maksimum dan kecepatan maksimum (Bompa, 1994). Ada dua macam daya ledak ditinjau dari aspek beban yang harus diatasi pada waktu melakukan gerakan yaitu daya ledak absolut dan daya ledak relatif. Daya ledak absolut adalah daya ledak untuk mengatasi beban luar yang maksimum, sedangkan daya ledak relatif berhubungan dengan beban berupa berat badan sendiri (Berger, 1982).

Berdasarkan gerakan olahraga yang dilakukannya maka daya ledak dibagi menjadi dua yaitu: daya ledak asiklik dan daya ledak siklik (Bompa, 1994). Daya ledak

asiklik biasanya digunakan pada cabang olahraga yang gerakannya tidak sama seperti

pada cabang olahraga atletik (lempar dan lompat) dan olahraga yang membutuhkan loncatan ke atas (bola voli, boal basket dan Iain-lain), sedangkan daya ledak siklik biasanya digunakan pada cabang olahraga yang gerakannya sama dan berulang-ulang seperti lari cepat, berenang, balap sepeda dan olahraga yang memerlukan kecepatan tinggi (Bompa, 1994).

(48)

Sedangkan (Nala, 1998) membagi daya ledak menjadi empat sesuai dengan spesifikasinya yaitu: daya ledak eksplosif (eksplosif power), daya ledak cepat (speed power), daya ledak kuat (strength power) dan daya ledak tahan lama (endurance power). Dalam kepentingan olahraga daya ledak yang dimaksud adalah daya ledak eksplosif, yang terdiri atas dua komponen biomotorik yakni unsure kekuatan dan kecepatan (Nala, 1998). Selanjutnya (Nala, 2002) menyatakan, apabila pelatihan ditekankan pada komponen kekuatan maka terjadilah daya ledak kekuatan (strength power), penekanan pada komponen kecepatan maka terjadilah daya ledak cepat (speed power) dan penekan pada daya tahan maka terjadilah daya ledak tahan lama (endurance power).

Daya ledak adalah kemapuan otot untuk mengatasi tahanan dengan kontraksi yang sangat cepat untuk melakukan aktivitas secara tiba-tiba dan sangat penting untuk cabang-cabang olahraga yang eksplosif seperti: sprint, lari gawang, nomor-nomor lempar dan nomor-nomor lompat dalam atletik. Juga dikatakan bahwa power adalah hasil dari Force x velocity, dimana Force adalah sepadan (Equivalen) dengan Strength dan velocity dengan speed) (Harsono, 1993).

Daya ledak berkaitan dengan kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan ekplosif, ini melibatkan pengeluaran kekuatan otot maksimal dalam satu durasi waktu yang singkat (Sudaryanto, 2009). Daya ledak ini sering pula disebut kekuatan ekplosif, ditandai adanya gerakan atau perubahan yang tiba-tiba yang cepat dimana tubuh terdorong keatas atau vertikal baik dengan cara melompat (satu kaki menapak) ataupun meloncat (dua kaki menapak, melompat tinggi) atau terdorong ke depan (horisontal, lari cepat, lompat jauh) dengan menggerakan kekuatan olahraga maksimal (Radcliffe and Farentinos, 1985).

Figur

Gambar 2.1 Ancang-Ancang Diantara Titik Start

Gambar 2.1

Ancang-Ancang Diantara Titik Start p.28
Gambar 2.4  Cara Melakukan Teknik Menggantung

Gambar 2.4

Cara Melakukan Teknik Menggantung p.32
Gambar 2.3 Cara Melakukan Teknik Terbang

Gambar 2.3

Cara Melakukan Teknik Terbang p.32
Gambar 2.5 Cara Melakukan Teknik Menendang

Gambar 2.5

Cara Melakukan Teknik Menendang p.33
Gambar 2.6 Cara Melakukan Pendaratan

Gambar 2.6

Cara Melakukan Pendaratan p.34
Gambar 3.1 Kerangka Konsep

Gambar 3.1

Kerangka Konsep p.68
Gambar 4.1 Rancangan Penelitian  Dimana:

Gambar 4.1

Rancangan Penelitian Dimana: p.70
Gambar 4.2. Disain Pelatihan Interval Model Lari Gawang 30 CM.

Gambar 4.2.

Disain Pelatihan Interval Model Lari Gawang 30 CM. p.75
Gambar 4.3 Disain Pelatihan Interval Model Lari Gawang 45 cm.

Gambar 4.3

Disain Pelatihan Interval Model Lari Gawang 45 cm. p.76

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di