STANDARD OPERATING PROSEDUR (SOP)
PEMBATASAN SOSIAL BERSKALA BESAR
KASUBSATGAS PSIKOLOGI SATGAS REHABILITASI
OPERASI KEPOLISIAN AMAN NUSA II SEMERU
PENANGANAN COVID-19 TAHUN 2020
Maret 2020
I. PENDAHULUAN
Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) melibatkan anjuran social distancing dengan cara kerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah; serta pemberlakukan karantina bagi mereka yang terdampak COVID-19. Berdasarkan telaah ilmiah, pengalaman karantina dapat memberikan dampak psikologis yang signifikan, termasuk bagi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) maupun Orang dalam Pemantauan (ODP).
Dampak negatif psikologis meliputi post-traumatic stress symptoms termasuk di dalamnya kecemasan, kebingungan, dan kemarahan. Sumber stress saat dikarantina meliputi durasi karantina, ketakutan atas infeksi, frustasi, bosan, persediaan kebutuhan yang tidak cukup, informasi tidak cukup, kerugian finansial dan stigma.
Dalam konteks ini, Psikologi memandang social distancing sebagai physical
distancing atau berjarak secara fisik ketika berinteraksi sosial. Koneksi atau kontak
sosial dapat terjalin dengan baik dan efektif sekalipun dalam berjarak fisik melalui berbagai media. Pemberi bantuan psikologis dapat berkontribusi mengurangi dampak buruk ini dengan cara mengurangi tingkat stress pada saat ini maupun mencegah dampak psikologis jangka panjang.
Kajian ilmiah yang telah disebutkan di atas, secara empiris membuktikan hal yang dapat dialami PDP maupun ODP yang ada di sekitar kita. Ketika seseorang diindikasikan terpapar COVID-19 (PDP atau ODP) maka terdapat kemungkinan peningkatan tekanan psikologis yang dirasakan orang/pasien tersebut. Kondisi psikologis berpotensi memburuk ketika identitasnya terpapar media, terkait dengan pandangan negatif yang ia atau masyarakat yakini sebagai ‘pembawa virus’ (potensial stigma). Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi pada pasien yang terindikasi tetapi juga keluarganya. Hal ini menyebabkan persoalan kesehatan fisik yang dialami pasien meluas pada masalah psikologis.
Subsatgas Psikologi Satgas Rehabilitasi yang memiliki tugas memberikan bantuan konseling dan trauma healing baik kepada pasien terinfeksi corona maupun keluarga pasien serta bekerjasama dengan instansi terkait untuk melaksanakan psikoedukasi kepada masyarakat agar tidak panik dalam menghadapi peyebaran virus COVID-19.
Di sisi lain, layanan yang biasanya dilakukan secara tatap muka perlu dipertimbangkan kembali mengingat anjuran social distancing demi pengurangan penyebaran COVID 19 dan keselamatan bersama. Oleh karena itu perlu disusun suatu panduan agar pasien mendapatkan layanan terbaik dan beretika dan pemberi layanan psikologi atau konselor psikologi Polri yang menanganinya tetap terjaga keamanan fisik maupun psikologis.
II. LINGKUP PEMBERIAN LAYANAN
A. Pemberi Layanan/ Konselor Psikologi Polri
Dalam layanan psikologi ini, pemberi layanan adalah semua lulusan psikologi namun mempunyai kewenangan berbeda karena proses pendidikan yang diselesaikannya. Terdapat tiga kelompok pemberi layanan psikologi, yaitu:
1. Psikolog
Adalah profesional psikolog baik Polri maupun PNS Polri dengan latar belakang pendidikan psikologi dan memiliki Surat Ijin Praktik Psikologi yang dikeluarkan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).
2. Sarjana Psikologi dan/atau Asisten Psikolog
Adalah yang membantu psikolog dalam melakukan praktik psikolog. Asisten psikolog dan/atau sarjana psikologi baik Polri maupun PNS Polri yang memberi layanan terkait COVID-19 dan telah mendapatkan pengayaan dan atau pelatihan yang memadai tentang penanganan klien dalam situasi tanggap darurat COVID-19.
B. Pasien/ Klien
Dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar COVID-19, ada beberapa kemungkinan permintaan layanan psikologi oleh klien, baik klien/ pasien individu, kelompok, atau komunitas. Konseling yang diberikan oleh Subsatgas Psikologi Satgas Rehabilitasi pada pasien yang terdampak COVID-19 adalah pasien yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung COVID-19. Yakni Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien dalam Pengawasan (PDP). Berdasarkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease (Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020, terdapat tiga istilah mereka yang terdampak COVID-19, yaitu:
a. Orang Dalam Pemantauan (ODP)
ODP adalah seseorang yang mengalami demam >380C atau gejala gangguan sistem pernafasan dan memiliki riwayat perjalanan ke daerah transmisi lokal COVID-19 baik di dalam maupun di luar negeri pada masa 14 hari sebelum timbul gejala; atau, seseorang yang tidak memiliki gejala gangguan sistem pernafasan tetapi memiliki kontak erat dengan pasien positif COVID-19.
b. Pasien Dalam Pengawasan: Suspek
PDP yaitu pasien dengan infeksi saluran pernafasan (ISPA) yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah transmisi lokal COVID-19 baik di dalam maupun di luar negeri pada masa 14 hari sebelum timbul gejala; memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probable COVID-19; atau mengalami kondisi ISPA berat bertempat tinggal di wilayah transmisi lokal COVID-19.
c. Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan Positif
Kasus Positif adalah PDP yang telah mendapatkan pemeriksaan laboratorium dan dinyatakan positif COVID-19.
III. PRINSIP-PRINSIP DALAM PEMBERIAN LAYANAN PSIKOLOGI
Dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar COVID-19, terdapat 6 prinsip dalam pemberian layanan psikologi, yaitu:
1. Semua konselor psikologi Polri, dalam melaksanakan tugasnya berpegang teguh pada kode etik psikologi.
2. Konselor psikologi Polri tidak melakukan tindakan yang mempersulit pasien maupun dirinya sendiri.
3. Konselor psikologi Polri perlu berupaya semaksimal mungkin untuk memimalisir kontak langsung tatap muka dengan klien ODP maupun PDP, karena beberapa alasan, yaitu:
a. Konseling psikologi memerlukan waktu yang cukup lama.
b. Klien ODP/PDP mungkin mengalami hambatan dalam berkomunikasi karena kendala instalasi perawatan, obat yang diberikan, atau perlengkapan yang melekat pada dirinya.
c. Dampak risiko penularan yang tinggi tanpa APD.
4. Konselor psikologi Polri disarankan menggunakan bentuk-bentuk konseling dengan meminimumkan kontak sebagai prioritas utama, baik dalam prosese konseling maupun trauma healing. Dalam hal ini, perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Konselor psikologi Polri disarankan menggunakan teknologi komunikasi yang aman dan sesuai dengan kondisi klien maupun pemberi layanan psikologi. b. Konselor psikologi Polri disarankan melakukan pencatatan psikologis
(psychological record) dengan memanfaatkan teknologi, atau didampingi asisten/sejawat lain.
IV. PANDUAN PENANGANAN PASIEN/ KLIEN
A. Panduan Layanan Klien dengan status ODP dan PDP
Dalam kondisi ini, langkah-langkah pengamanan bagi pemberi layanan perlu diperhitungkan sesuai standar yang berlaku.
Di samping itu, sebelum memutuskan untuk memberi konseling, konselor psikologi Polri perlu memastikan bahwa pasien tidak memiliki kondisi internal (misalnya: status kesehatan fisik dan psikologis) yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Konselor psikologi Polri perlu memperoleh persetujuan klien mengenai pelaksanaan layanan (informed consent) sebelum layanan psikologi dimulai. Konselor psikologi Polri perlu menjaga kerahasiaan klien, menjaga/membatasi diri dari eksposure media, dan tidak membuat pernyataan yang berpotensi meresahkan masyarakat, baik melalui media sosial, maupun media lain yang dapat diakses oleh publik.
Pasien dengan status ODP ataupun PDP perlu mempertimbangkan teknik layanan yang digunakan. Dalam menangani pasien dengan status tersebut, maka prioritas konseling yang dilakukan sebagai berikut:
1. Minimum Kontak sebagai Prioritas Utama
Konseling dan trauma healing diberikan untuk mengurangi risiko negatif baik bagi pasien dan keluarganya maupun bagi konselor psikologi Polri. Konselor psikologi Polri yang memberikan konseling kepada pasien yang tinggal di daerah transmisi lokal (sesuai dengan informasi resmi dari pemerintah), direkomendasikan untuk mempertimbangkan alternatif pemberian layanan dengan minimum kontak.
Ketika melakukan konseling dan trauma healing dengan minimum kontak, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
a. Prioritas utama adalah dengan teknik daring atau menggunakan teknologi. Dalam hal ini prioritas layanan yang disarankan adalah:
i. Videoconference, misalnya Whatsapp Video Call, Skype, Zoom,
Google Hangouts/Meeting, Microsoft Teams, atau alternatif lain yang
serupa).
ii. Jika videoconference tidak dimungkinkan, dapat diambil alternatif layanan dengan suara (voice), misalnya telepon, Whatsapp Voice Call, atau alternatif lain yang serupa.
iii. Namun jika jaringan internet tidak memadai, atau klien menghendaki cara lain, dapat dilakukan dengan media layanan pesan tertulis (Whatsapp text, sms, atau e-mail).
b. Konselor psikologi Polri menyiapkan tempat yang bebas dari gangguan suara atau gangguan lain sehingga kerahasiaan pasien/ klien terjaga.
2. Konseling Tatap Muka
Konseling dan trauma healing tatap muka diberikan ketika karena kondisinya pasien/ klien tidak mungkin menerima konseling jarak jauh dengan minimal kontak. Walaupun demikian, konselor psikologi Polri dapat secara berkelanjutan (pada pembicaraan, di tengah, atau di akhir pembicaraan)
menyisipkan persuasi empatetik kepada klien untuk melaksanakan layanan minimum kontak, misalnya dengan mencoba penggunaan
whatsapp video call secara bersama.
Jika klien memerlukan konseling tatap muka; konselor psikologi Polri perlu
mendiskusikan dan memutuskan secara bersama-sama dengan dokter Kepolisian, dan tenaga kesehatan penanggungjawab.
Ketika konseling tatap muka dilakukan, ada pedoman dasar yang tidak boleh diabaikan dalam pertemuan dengan pasien/ klien. Beberapa poin adalah: a. Selama memberi layanan, konselor psikologi Polri wajib menggunakan
APD sesuai standar yang ditetapkan. Jika APD tidak tersedia, konselor psikologi Polri wajib menggunakan layanan dengan minimum kontak.
b. Menjaga jarak tempat duduk konselor psikologi Polri dengan pasien/ klien untuk menghindari sentuhan fisik.
c. Tidak ada kegiatan pencatatan di kertas maupun alat lain; perekaman suara dimungkinkan setelah mendapatkan ijin dari klien.
d. Pencatatan tentang pasien dilakukan segera setelah sesi berlangsung; jika waktu tidak memungkinkan maka konselor psikologi Polri mencatat secara lisan dengan rekam suara (voice record) untuk dituliskan kemudian ke dalam Rekam Status Psikologis klien.
e. Pemberi layanan psikologi menyadari keterbatasannya sehingga jika ada pasien/ klien dengan masalah di luar kemampuannya, dilakukan pengalihan layanan atau rujukan.
f. Setelah sesi konseling berakhir, konselor psikologi Polri melakukan langkah-langkah sesuai dengan standar sanitasi yang diberlakukan oleh otoritas (rumah sakit/pemerintah) terkait kontak dengan klien/pasien.
x. Dalam memberikan konseling, konselor psikologi Polri tidak hanya melakukan tindakan yang terfokus pertolongan hari ini, namun mempertimbangkan pelayanan jangka panjang.
B. Penghentian dan atau Pengalihan Layanan Psikologis
Dalam situasi tanggap darurat COVID-19, penghentian layanan psikologis baik sementara maupun permanen dan pengalihan layanan psikologis dapat disebabkan karena berbagai hal. Jika terjadi penghentian layanan, pemberi layanan psikologi tetap harus mempertimbangkan kode etik psikologi yang berlaku sebagai tanggung jawab profesionalnya. Pengalihan layanan psikologis dimungkinkan dalam konteks rujukan terkait kompetensi pemberi layanan atau situasi lain yang diatur dalam Kode Etik Psikologi Indonesia. Dalam bagian ini akan diuraikan penghentian layanan dan tindak lanjutnya:
V. PANDUAN LAYANAN PSIKOLOGI MENGGUNAKAN MEDIA
TEKNOLOGI KOMUNIKASI (TELEPSIKOLOGI)
Telepsikologi adalah penyediaan/pemberian konseling dan psikoterapi melalui teknologi komunikasi non-daring dan daring. Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para pemberi layanan psikologi sebagai bagian dari kepatuhan terhadap Kode Etik Psikologi Indonesia.
Dalam hal memenuhi kepatuhan etik, maka perlu dilakukan persiapan, kepastian penggunaan IT dan kesesuaian dengan kondisi klien.
Konseling psikologi dengan menggunakan media komunikasi daring merupakan layanan prioritas yang diberikan kepada pasien/ klien dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka percepatan penanganan COVID-19. Penggunaan moda komunikasi teks, voice, maupun video secara daring misalnya Zoom,
Whatsapp, WeCHat Google chat, dan lain-lain perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1. Kesepakatan
Pastikan pasien/ klien menyepakati moda komunikasi yang dipilih dan mendiskusikan keterbatasan kerahasiaan karena sifat alamiah dari aplikasi yang digunakan untuk diskusi tersebut. Kesepakatan (informed consent) tersebut dapat secara lisan terekam, atau lisan yang kemudian diikuti dengan pengisian form elektronik (misalnya google form) yang disiapkan oleh pemberi layanan.
2. Lingkup kesepakatan
Kesepakatan yang mengikat keduabelah pihak juga meliputi -namun tidak terbatas pada- setidaknya hal-hal tersebut di bawah ini:
a. Bahwa klien berkehendak/bersedia mengikuti sesi konseling/ psikoedukasi/jenis layanan lain melalui telepsikologi (sesuai moda komunikasi yang dipilih), atas kemauan sendiri.
b. Bahwa komunikasi ini bersifat personal dan privat yang hanya berlaku untuk klien yang bersangkutan saja.
c. Bahwa komunikasi tertulis maupun rekam tidak akan diteruskan kepada pihak lain, dalam bentuk apapun; termasuk pesan di-forward,
copy paste, screen-capture, , dan lain-lain yang serupa.
d. Data sekuriti yang bersifat teknis terkait keterbatasan sekuriti dari aplikasi, adalah di luar kendali pemberi layanan psikologi oleh karenanya pemberi layanan psikologi membebaskan diri dari tanggungjawab atas keamanan data yang terkait dengan keamanan jaringan. Hal ini perlu disepakati oleh klien dan pemberi layanan psikologi secara ekplisit dan dituliskan dalam kesepakatan (informed
consent).
e. Bahwa privacy terkait tempat di mana diselenggarakan konseling adalah tanggungjawab masing-masing pihak, dalam hal ini:
i. Klien bertanggungjawab atas privasinya sendiri, misalnya menggunakan ruang yang tertutup dan tidak terdengar dari orang lain yang tidak dikehendaki.
ii. Konselor psikologi Polri perlu memastikan klien
telah mengamankan privasinya sendiri dengan bertanya langsung apakah yang bersangkutan telah mengamankan isu
privasi tersebut.
iii. Konselor psikologi Polri menyatakan dengan jelas bahwa pemberi layanan psikologi telah menjaga privasi klien dengan menyatakan kondisi tempat dimana ia melakukan.
3. Konseling menggunakan videoconference
Konselor psikologi Polri yang memberikan konseling dengan media komunikasi daring dengan gambar langsung (videoconference), perlu memastikan:
a. Ruang yang digunakan untuk melakukan video call terjaga ketenangannya dan mampu menjaga privacy klien. Contoh terbaik: tidak ada suara lain (sangat minimum), tidak ada lalu lalang.
b. Penerangan ruangan cukup, sehingga wajah pemberi layanan dapat dilihat jelas oleh klien.
c. Latar belakang/backdrop yang menjadi pemandangan latar di layar
videocall dalam keadaan rapi, netral dan tidak berpotensi
menimbulkan persepsi keliru. Contoh terbaik: ruang kerja dengan
background poster berisi kalimat yang memotivasi.
d. Koneksi internet lancar (pastikan kuota dan kecepatan internet cukup) dan telah diujicoba sebelumnya, dengan memiliki cadangan moda komunikasi dengan klien yang juga diketahui oleh klien. Contoh: Komunikasi dengan menggunakan Webex dengan kesepakatan ketika terjadi gangguan koneksi internet komunikasi di back-up dengan chat-room webex atau email.
4. Konseling melalui teks
Jika konselor psikologi Polri melaksanakan konseling yang dilakukan melalui media komunikasi dengan teks (whatsapp chat, email, LiNE, dan sejenisnya), maka Pemberi Layanan Psikologi perlu memastikan:
a. Penggunaan nomor HP khusus yang hanya digunakan untuk keperluan layanan psikologi. Pemberi layanan sangat direkomendasikan untuk memiliki jam layanan yang disampaikan secara terbuka. Ketika pemberi layanan sedang tidak dalam jam layanan, pemberi layanan sangat direkomendasikan untuk dapat tetap memberikan jawaban singkat.
b. Tidak menggunakan HP yang juga diakses bersama orang lain, misalnya anak, atau anggota keluarga lain.
c. Dalam kondisi sangat mendesak, konselor psikologi Polri tidak mampu mengupayakan HP khusus, maka konselor psikologi Polri harus dapat memastikan bahwa chat segera terhapus secara permanen dari HP dan memindahkan ke pencatatan yang lebih tertata di alat lain (misalnya PC, Laptop) yang terkunci dengan password.
Hal yang perlu dipertimbangkan adalah, bahwa konseling melalui teks memiliki risiko berupa potensi kesalahpahaman antar pemberi dan penerima layanan.
5. Penetapan waktu konseling
Konselor psikologi Polri perlu menetapkan waktu pemberian layanan dengan jelas pada awal sesi, untuk membatasi komunikasi tidak terlalu melelahkan
Sebelum mengakhiri sesi konseling, konselor psikologi Polri meminta pasien/ klien menyampaikan apa yang diperoleh dari sesi dan apa yang menjadi PR untuk di praktikkan secara mandiri oleh pasien/ klien (jika ada).
VI. PENUTUP
Standard operating prosedur ini merupakan Panduan Umum yang bertujuan untuk menjadi pegangan bagi Konselor psikologi Polri dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar guna percepatan penanganan COVID-19. Apabila pemberi layanan menghadapi masalah di luar kompetensinya, memberi layanan harus melaksanakan pengalihan layanan kepada pihak lain yang lebih kompeten.
Apabila ada hal-hal yang belum disampaikan dalam panduan ini, para pemberi layanan dapat mengacu pada sumber-sumber yang dapat dipercaya, misalnya dari World Health Organization, American Psychological Association, maupun peraturan resmi dari pemerintah Republik Indonesia.
Demikian standard operating prosedur ini disusun, untuk menjadi pedoman standar bagi konselor psikologi Polri.
Surabaya, 10 Maret 2021 KABAGPSI RO SDM POLDA JATIM
DIAH IKA RIANTANTI, S.Psi., Psikolog. AJUN KOMISARIS BESAR POLISI NRP 75040860