• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kompilasi manusia dan sejarah ys full

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kompilasi manusia dan sejarah ys full"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

MANUSIA DAN SEJARAH

(Kajian Subjek Historis di Provinsi Lampung)

Disusun Oleh:

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Semester 3

Tahun Pelajaran 2015-2016

Editor:

YULIA SISKA, M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH

JURUSAN PENDIDIKAN IPS

STKIP PGRI BANDAR LAMPUNG

(4)
(5)

CATATAN EDITOR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang

Maha Esa atas karunia dan pertolongan-Nya sehingga kami dapat

menyelesaikan penyusunan kompilasi makalah ini. Dalam penyelesaian

kompilasi ini, kami selaku penyusun banyak mendapat bantuan,

bimbingan, dan pengarahan dari berbagai pihak yang tidak dapat

disebutkan satu persatu.

Buku yang berisi kompilasi makalah ini merupakan kumpulan

tugas individu mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Semester 3

pada Matakuliah Manusia dan Sejarah, Jurusan Pendidikan IPS, STKIP

PGRI Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2015-2016. Meskipun masih

terdapat kekurangan dalam berbagai hal terkait kajian yang masih lemah

setidaknya sudah menjadi hasil dari usaha maksimal dari mahasiswa.

Untuk tahun-tahun berikutnya semoga akan lebih ditingkatkan lagi, baik

dari sisi subjek kajian, metodologi, dan kedalaman kajian.

Akhirnya, kami selaku penyusun hanya dapat berdoa semoga

Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan berkat dan rahmat-Nya dan semoga

karya sederhana ini bermanfaat bagi pembaca.

Bandarlampung, Desember 2015

(6)
(7)

HALAMAN JUDUL ... i

CATATAN EDITOR ... iii

DAFTAR ISI ... v

1. IRIGASI ARGOGURUH 1935 - Anis Ma’rifatul Jannah ... 1

2. Situs Peninggalan Makam MINAK PATEH NGECANG BUMI - Antonius Kristian Ade ... 9

3. MENARA AIR PADA ZAMAN KOLONIAL BELANDA - Arum Kusuma Darmawati ... 13

4. BATU KATUN/PANGALIYOH - Delia Febriana ... 16

5. BATU SEPADU ATAU BATU PUTRI - Dewi Wahyunita... 19

6. AKSARA LAMPUNG - Dina Purwaningsih ... 21

7. MERIAM BUMBUNG (MERIAM LELA) - Een Rohayati ... 32

8. MAKAM ALHABIB HUSAIN BIN USTMAN ALAIDRUS - Fajar Andreansyah ... 36

9. SITUS MAKAM PAHLAWAN NASIONAL RADIN INTAN II - I Putu Budi Sandika ... 39

10.TERDAMPARNYA KAPAL BEROUW - Kadek Resi ... 58

11.RUMAH ADAT JAJAR INTAN KERATUAN BALAW - Laksmita Permana Sari ... 62

12.RUMAH SINGGAH Ir. SOEKARNO - Mila Gustina ... 68

13.TUGU METERM (Situs Peninggalan Zaman Kolonial Kota Metro) - Gusti Ayu Putu Eka Indra Yani ... 72

14.MAKAM MINAK INDAH - Muhammad Ali Umron ... 76

15.MONUMEN KRAKATAU - Muhammad Dani Dzulfikar ... 82

(8)

vi

Nurhusamawati ... 91

18.MEGALITIK PRASEJARAH DAN KERAJAAN SEKALA

BRAK LAMPUNG BARAT - Renaldy Syaputra ... 97

19.TALANG AIR DI PRINGSEWU - Riky Oktariza ... 111

20.LAMBAN BALAK/ GEDUNG DALOM (Rumah Adat

Saibatin) - Rizki Fitria Ulfa ... 113

21.MAKAM MINAK NYERANGGEN (Panglima Perang dari

Gedong Aji) - Rizky Perdana Arisandi ... 120

25.PUNDEN ENAM (Peninggalan Sejarah Zaman Hindu Budha

di Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur) – Wartono .. 136

26.GEDONG AER (Situs Peninggalan Zaman Kolonial) - Ni Luh

Susanti ... 140

27.PERNIKAHAN DAN PEMBERIAN GELAR (BEGAWI)

ADAT PEPADUN – Dewi Sartika ... 144

31.TEROWONGAN BAWAH TANAH (Peninggalan Belanda di

(9)

1

IRIGASI ARGOGURUH 1935

Anis Ma’rifatul Jannah

14140003

Pendahuluan

Provinsi Lampung memiliki kedudukan yang strategis dalam

pembangunan nasional. Di samping letaknya yang strategis karena

merupakan pintu gerbang selatan Sumatera, Provinsi Lampung juga

memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar terutama potensi

sumber daya air. Pelaksanaan pembangunan di bidang sumber daya air di

Provinsi Lampung masih dilaksanakan sampai dengan saat ini, mulai dari

perencanaan, pelaksanaan fisik konstruksi, sampai dengan operasional dan

pemeliharaannya. Pembangunan di bidang sumber daya air tersebut

dilakukan untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat terutama untuk

bidang pertanian. Di samping itu penyediaan fasilitas air bersih, drainase,

dan penanggulangan bencana juga menjadi tujuan lain dalam

pembangunan di bidang sumber daya air.

Bendungan Batutegi adalah multi purpose dam di Lampung mulai

dibangun sejak tahun 1994 dengan ditandatanganinya kontrak

pembangunan sistem pengelak dan terowong pengambilan pada 1 Februari

1994. Pengisian waduk awal (initial ponding) dimulai pada 23 Agustus

2001 dan muka air mencapai ketinggian muka air normal (penuh) pada +

274 m baru pada 3 Maret 2003. Pemeliharaan bendungan tersebut

(10)

Untuk melestarikan bendungan beserta waduknya atau mengurangi risiko

kegagalan/keruntuhan bendungan maka diperlukan pengelolaan Operasi

dan Pemeliharaan yang teratur dan baik, dan pelaksanaan perbaikan segera

agar kerusakan kerusakan tidak berkembang akibat hujan, rembesan atau

penyebab lainnya. Selain pemeliharaan rutin, juga diperlukan perbaikan

perbaikan ringan/rehabiltasi. Untuk pekerjaan rehabilitasi berat perlu

dilakukan studi desain yang lebih lengkap didukung dengan pekerjaan

survei dan investigasi. Bendungan/Waduk Batutegi dibangun sebagai

alternatif penyedia air untuk daerah irigasi Way Sekampung, di samping

adanya manfaat lain seperti pembangkit listrik, air baku, air minum,

pariwisata dan lain-lain.

Selain Bendungan Batutegi, untuk mendukung pelaksanaan irigasi di

Sungai Way Sekampung, telah dibangun Bendung Argoguruh pada tahun

1935. Bendung Argoguruh ini pada musim kemarau menerima aliran air

dari Bendungan Batutegi. Daerah yang diairi oleh Bendung Argoguruh ini

adalah Daerah Irigasi Sekampung atau lebih dikenal dengan Sekampung

System.

Irigasi

Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan

pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang

dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air

melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air,

maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke lahan

pertanian. Namun, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air

(11)

per satu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut

menyiram.

Sebagaimana telah diungkapkan, dalam dunia modern ini sudah banyak

cara yang dapat dilakukan untuk melakukan irigasi dan ini sudah

berlangsung sejak Mesir Kuno.

Sungai

Sungai-sungai yang mengalir di daerah Lampung menurut panjang dan

cathment area (c.a)-nya adalah:

 Way Sekampung, panjang 265 km, c.a. 4.795,52 km2

 Way Semaka, panjang 90 km, c.a. 985 km2

 Way Seputih, panjang 190 km, c.a. 7.149,26 km2

 Way Jepara, panjang 50 km, c.a. 1.285 km2

 Way Tulangbawang, panjang 136 km, c.a. 1.285 km2

 Way Mesuji, panjang 220 km, c.a. 2.053 km2

Way Sekampung mengalir di daerah kabupaten Tanggamus, Pringsewu,

Pesawaran dan Lampung Selatan. Anak sungainya banyak, tetapi tidak ada

yang panjangnya sampai 100 km. Hanya ada satu sungai yang panjangnya

51 km dengan c.a. 106,97 km2 ialah Way Ketibung di Kalianda.

Way Seputih mengalir di daerah kabupaten Lampung Tengah dengan

anak-anak sungai yang panjangnya lebih dari 50 km adalah:

 Way Terusan, panjang 175 km, c.a. 1.500 km2

 Way Pengubuan, panjang 165 km, c.a. 1.143,78 km2

(12)

 Way Raman, panjang 55 km, c.a. 200 km2

Way Tulangbawang mengalir di kabupaten Tulangbawang dengan

anak-anak sungai yang lebih dari 50 km panjangnya, di antaranya:

 Way Kanan, panjang 51 km, c.a. 1.197 km2

 Way Rarem, panjang 53,50 km, c.a. 870 km2

 Way Umpu, panjang 100 km, c.a. 1.179 km2

 Way Tahmy, panjang 60 km, c.a. 550 km2

 Way Besay, panjang 113 km, c.a. 879 km2

 Way Giham, panjang 80 km, c.a. 506,25 km2

Pembahasan

Irigasi argoguruh adalah irigasi yang di

buat oleh kolonial belanda pada tahun

1935, bendungan ini merupakan taktik

politik belanda pada zaman itu untuk

dapat menghasilkan lahan pertania yang

sangat menguntungkan, di buat lah

irigasi Argoguruh.

Bendungan ini merupakan alah satu

peninggalan zaman belanda yang ada di

Kecamatan Tegineneng. Bisa dikatakan bahwa bendungan ini merupakan

salah satu peninggalan Belanda karena pada awalnya Belanda ingin

membuat irigasi yang di gunakan untuk mengairi sawah yang berada di

(13)

yang mendirikan pondok-podok di dekat daerah aliran sungai karna lahan

nya yang cocok dan bagus untuk bertani. Oleh karena itu, Belanda

berinisiatif membuat Bendungan Argoguruh, di mana di sana terdapat

tahun pembuatan. Debit air di bendungan ini tidak selalu stabil, tetapi

cukup untuk mengairi persawahan warga. Bendungan Argoguruh

mendapatkan kiriman air dari Sungai Sekampung, dan Bendungan

Batutegi. Hal itu diketahui berdasarkan hasil wawancara dengan

narasumber, yaitu Bapak Sukoco, pegawai dinas PU Pengairan yang

bertugas di UPT Bendungan Argoguruh.

Dahulunya, masyarakat Jawa yang bertrasmigrasi ke daerah Lampung

pada mulanya mendirikan pemukiman di sepanjang sungai karna di kira

cocok untuk mengembangkan pertanian dan perkebunan dan juga sungai

sangat bermanfaat bagi masyarakat di samping sebagai tempat alat

transportasi jalur air, sungai juga sebagai sarana mendapatkan lahan yang

baik untuk pertanian.

Bendungan Argoguruh dibangun

sekaligus menjadi saluran irigasi yang

mengairi persawahan di Lampung

Tengah, Lampung Timur, dan kota

Metro. tujuan utamanya adalah untuk

memberikan pelayanan air baku untuk

daerah irigasi Way Sekampung. Di

antaranya Bekri dan Rumbia Barat

sehingga di harapkan dapat mengairi

sawah seluas 12000 Ha dan

meningkatkan produktifitas beras. Pembangunan mencangkup bendungan

(14)

bekri seluas 6500 ha dan daerah irigasi Rumbia seluas 5790 ha. Total

pembiyaan adalah sebesar Rp 763,9 miliar dari dana APBN.

Pemerintah kini mulai mengembangkan daerah irigasi di luar pulau

Jawa salah satunya adalah Provinsi Lampung. Hal ini mengingat bahwa

propinsi Lampung termasuk ke dalam 13 provinsi penyangga ketahanan

pangan nasional. Di provinsi Lampung ada sekitar 219.000 Ha sawah.

Hasil dari daerah pertanian itu, di konsumsi oleh masyarakat Lampung

yakni 70 ribu ton beras. Sisanya di export antar provinsi dan antarpulau.

Saat ini telah terjadi oversupply sudah mencapai 360.000 ton.

Untuk mendukung pangan di Lampung, salah satu yang harus menjadi

perhatian adalah keberadaan jaringan irigasi yang cukup kondusif. Jika

jaringan irigasi rusak maka hal itu akan mempengaruhi system pertanian

di daerah itu.

Bidang pertanian di Provinsi Lampung benar-benar menjadi

prioritas pemerintah pusat. Itu terlihat

dari rencana pemerintah pusat

mengguyurkan dana ke Pemprov

Lampung untuk pembenahan sarana

irigasi di Sai Bumi Ruwa Jurai. Tidak

tanggung-tanggung, dana yang bakal

dialokasikan nilainya mencapai Rp1

triliun.

Hal ini diungkapkan Ketua Komisi IV

DPRD Lampung Imer Darius usai

rapat sinkronisasi program pengairan

untuk mendukung peningkatan

(15)

Dia menjelaskan, untuk Lampung, dana revitalisasi irigasi di

hampir seluruh kabupaten/kota menggunakan APBN 2015. ‘‘Kalau

masalah dana pendamping, ya kita harapkan kecil saja kan. Kalau ada

DAK juga kan otomatis kecil yang dikeluarkan,‖ katanya usai rapat.

Menurutnya, revitalisasi jaringan irigasi ini penting untuk

mendukung rencana perluasan lahan sawah 5.200 hektare. ―Ya dilihat

bagaimana air itu sampai ke lahan pertanian. Mana yang menjadi

wewenang provinsi, kabupaten/kota maupun pemerintah pusat,‖ tuturnya.

Sementara untuk masalah waduk, lanjutnya, hal itu bakal menjadi

wewenang penuh pemerintah pusat. ―Kalau waduk itu kan masih tahap

DED (Detail Engginering Desain). Pengerjaan fisiknya juga baru di tahun

depan. Untuk tahun ini hanya mengenai masalah revitalisasi irigasinya

saja,‖ jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Pengairan dan Pemukiman Robinsyah

belum bisa menyebutkan daerah mana saja yang akan direvitalisasi.

Pasalnya, sambung dia, hal itu masih dalam tahap perencanaan dan baru

akan keluar besaran angkanya di APBN Perubahan.

―Kan lagi dibahas. Banyak sekali titik-titiknya, saya nggak hafal itu. Angka pastinya juga ya belum ada dong. Kita kan masih mengajukan.

Lagipula irigasi ini kan tidak hanya provinsi saja yang berwenang. Akan

tetapi juga kan kabupaten/kota dan pusat juga,‖ terangnya.

Diketahui, berdasarkan data ada 19 daerah irigasi yang ada di

Provinsi Lampung. Di antaranya irigasi Way Payung, Argoguruh,

Batanghari Utara, Raman Utara, Punggur Utara, Way Seputih, Way

Rarem, Way Semangka, Way Curup, Rawa Seragi, Rawa Mesuji, dan

(16)

Untuk tercapainya program swasembada pangan, tak hanya terfokus

kepada masalah pupuk saja. Akan tetapi irigasi ini juga penting

diperhatikan. Setiap lahan baik pertanian atau perkebunan memerlukan

irigasi. Untuk itu, kita juga saat ini melakuan koordinasi dengan Dinas

Kehutanan terkait masalah pelestarian airnya.

Mengenai faktor pendukung, Pemerintah Pusat akan membangun dua

waduk di Desa Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu dan Desa Sukaraja,

Kabupaten Tanggamus. Pembangunan akan terealisasi pada 2016.

Pembangunan ini direncanakan untuk membantu Program Swasembada

Pangan.

Mungkin untuk saat ini masih dalam proses perencanaan pembuatan

master plan-nya. Saya kira, untuk proses perencanaan itu pada 2015

(17)

2

Situs Peninggalan Makam

MINAK PATEH NGECANG BUMI

Antonius Kristian Ade

14140005

Pendahuluan

Provinsi Lampung menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah, salah

satunya yang terdapat di Kabupaten Tulang Bawang. Tulang Bawang

merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Lampung. Pada

awalnya, Tulang Bawang merupakan sebuah kerajaan yang bernama

kerajaan Tulang Bawang.

Kerajaan Tulang Bawang merupakan sebuah kerajaan kecil yang di kuasai

oleh kerajaan Sriwijaya, namun di kerajaan ini terdapat sebuah jalur

perdagangan yang cukup besar. Batas-batas wilayah kerajaan ini di jaga

oleh seorang Minak, salah satunya Minak Pateh Ngecang Bumi dan Minak

Kanggahan yang membuka dan menjaga daerah Kampung Bangun Rejo

kecamatan Meraksa Aji kabupaten Tulang Bawang, dulunya daerah ini

merupakan perbatasan kerajaan Tulang Bawang dengan kerajaan

Sriwijaya.

Pembahasan

Minak Pateh Ngecang Bumi dan Minak Kanggahan merupakan utusan

(18)

saat ini di kenal dengan kampung Bangun Rejo kecamatan Meraksa Aji

kabupaten Tulang Bawang.

Rumah makam (cungkup) Minak Pateh Ngecang Bumi dan Minak Kanggahan (tampak belakang dan tampak depan )

Beliau diutus oleh Minak Pejurit Sakti. Tujuan dibukanya daerah ini agar

masyarakat kerajaan Tulang Bawang bisa tinggal di daerah tersebut.

Selain membuka daerah baru, Beliau berdua ditugaskan untuk menjaga

jalur perdagangan yang ada di kerajaan tersebut serta menjaga batas

wilayah. Dahulu kala Kerajaan Sriwijaya ingin merebut daerah tersebut

karena terdapat aliran sungai Tulang Bawang yang merupakan jalur

perdagangan yang cukup besar.

(19)

Menurut tokoh adat setempat, Minak Pateh Ngecang Bumi merupakan

tangan kanan Minak Pejurit Sakti, sedangkan Minak Kanggahan

merupakan rekan dari Minak Pateh Ngecang Bumi. Minak Pateh Ngecang

Bumi sangat dipercaya oleh Minak Pejurit Sakti sehingga diberi tugas

untuk menjaga daerah tersebut yang merupakan pintu masuk kerajaan

Tulang Bawang melalui aliran sungai Tulang Bawang.

Masyarakat kampung Bangun Rejo sampai saat ini masih menjaga situs

sejarah ini karena menurut mereka makam Minak Pateh Ngecang Bumi ini

sangat keramat. Setiap hari Jumat pagi masyarakat pribumi kampung ini

melakukan ziarah ke makam dan membersihkan makam. Namun,

masyarakat di kampung ini sengaja tidak menunjuk orang khusus untuk

menjaga makam ini atau yang sering di sebut kuncen. Menurut mereka,

seluruh masyarakat di kampung ini mempunyai kewajiban untuk menjaga

makam ini karena Minak Pateh Ngecang Bumi dan Minak Kanggahan rela

mengorbankan nyawa demi keutuhan kerajaan Tulang Bawang. Tanpa

(20)

Di dekat makam ini dibangun sebuah Mushola agar masyarakat yang

berziarah ke makam ini bisa menunaikan ibadah sholat. Menurut

masyarakat setempat pula jika Minak Pateh Ngecang Bumi suka dengan

orang yang berziarah ke makam ini karena orang tersebut baik, sopan

maka akan muncul sebuah kursi santai dan seekor ayam jago. Konon

selama menjaga daerah tersebut Minak Pateh Ngecang Bumi memelihara

seekor ayam jago yang biasa diadu.

Kesimpulan

Kerajaan Tulang Bawang merupakan sebuah kerajaan kecil yang di kuasai

oleh kerajaan Sriwijaya. Namun, sampai saat ini belum dapat dipastikan

letak kerajaan ini walaupun kerajaan ini di akui adanya. Hal tersebut dapat

dilihat dari prasasti kedukan (batu bertulis). Batas-batas kerajaan ini dijaga

oleh seorang Minak, salah satunya Minak Pateh Ngecang Bumi dan Minak

Kanggahan. Beliau berdua merupakan orang yang membuka daerah

(21)

3

MENARA AIR PADA ZAMAN KOLONIAL

BELANDA

Arum Kusuma Darmawati

14140006

Pendahuluan

Kota metro adalah salah satu kota di provinsi Lampung. Kota metro

adalah kota terbesar kedua setelah Bandar Lampung. Sebelum menjadi

kota otonom, Metro merupakan kota administratif yang berfungsi sebagai

ibukota Lampung Tengah hingga tahun 1999. Pada tahun 1937 kota Metro

adalah Onder Distrik Sukadana. Masing-masing onder distrik dikepalai

oleh asisten Demang. Pada saat itu masyarakat yang tinggal di antara

Bedeng 1-67 membuat sebuah menara air. Menara air ini mencapai

ketinggian sekitar 53M. pada saat itu menara air digunakan untuk

menampung air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, karena pada

saat itu kota Metro masih berupa hutan belantara dan untuk mencari air

pun sangat susah.

Pembahasan

Menara air ini terletak di dusun Krajan, Desa Pasinan, Kecamatan Lekok,

Kabupaten Pasuruan Metro. Tepatnya didepan RSUD Ahmad Yani.

(22)

kolonisasi belanda sejak tahun

pemerintah colonial saat itu

mendirikan menara ini untuk

memudahkan para

kolonisasi-kolonisasi mendapatkan air.

Menara air ini sudah ada sejak

tahun 1937, saat kedatangan Belanda ke kota Metro. Menara air ini

tingginya sekitar 53 meter. Air dari menara ini berasal dari Sungai Way.

Menara air ini pada zaman dahulu digunakan sebagai pusat penyimpanan

air untuk kelangsungan kehidupan masyarakat zaman kolonisasi dan

sebagai sumber air untuk bedeng 1-67 karena kesulitan akan ketersediaan

air bersih yang sulit untuk dicari.

Menara ini sekarang akan dijadikan ikon Kota Metro, dan akan dibangun

sebuah Jam raksasa yang berdiameter 6 meter. Selain itu, kita juga bisa

melihat Seluruh kota metro dari atas ketinggian. Tetapi, tidak untuk

sembarang orang, hanya orang-orang yang berkepentingan saja yang

diperbolehkan naik. Ketika interview dengan narasumber (Bapak

Jamaludin), tower air ini baru saja dicat ulang.

Selain dari menara air, pada saat kolonisasi Belanda dibangun juga Klinik

(23)

dibangun karena pada saat itu banyak wabah atau penyakit yang

menyerang warga kolonisasi, salah satunya adalah malaria.

Klinik ini digunakan penduduk untuk berobat. Klinik tersebut sekarang

dijadikan RSIA Santa Maria. Bangunannya pun sampai sekarang masih

(24)

4

BATU KATUN/PANGALIYOH

Delia Febriana

14140009

Pendahuluan

Sejarah merupakan ilmu pengetahuan yang membahas tentang segala

peritiwa yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia

melalui bukti tertulis baik kitab,dokumen kuno dan lisan misalnya tradisi

turun temurun dan mitos. Sangat penting untuk melestarikan hasil dari

budaya dan sejarah yang nantinya akan sangat berguna bagi generasi

penerus agar mereka dapat menikmati dan agar dapat menumbuhkan rasa

cinta dan nasionalisme dalam diri para generasi penerus bangsa yang akan

datang.

Peninggalan-peninggalan yang memiliki nilai sejarah patut untuk

dilestarikan dan dijaga keasliannya. Salah satu yang harus kita jaga adalah

yang ditemukan di daerah Lampung. Ada banyak sekali peninggalan

sejarah yang berkaitan dengan pola kehidupan masyarakat Lampung pada

masa terdahulu, salah satunya adalah batu tulis Kramat Batin Katun di

sekitar Danau Ranau yang berada di Pekon Lumbok.

Pembahasan

Dari cerita yang telah turun menurun warga sekitar Danau Ranau yang

berada di Pekon Lumbok, Keramat ini di katakan sebagai Kramat Batin

(25)

sebagai penyebar agama Islam pertama kali setelah kawasan Lombok di

kuasi oleh orang Bugis dan dipercaya sampai sekarang. Masyarakat

Lombok, Kecamatan Lumbok Seminung, Lampung Barat menyebutkan

bahwa batu tulis tersebut merupakan serpihan batu dan tanah akibat

tumbangnya Pohon Ara Besar yang berada di sekitar Danau Ranau.

Cerita bermula dari kepercayaan masyarakat sekitar bahwa Danau Ranau

berasal dari Pohon Ara berwarna hitam yang sangat besar dan tumbuh di

tengah daerah yang kini telah berubah menjadi sebuah Danau. Pohon Ara

tersebut ditebang oleh masyarakat yang berasal dari berbagai daerah

seperti Ogan, Krui, Muara Dua, dan lain-lain. Mereka menebang Pohon

Ara itu setelah mendapatkan kabar harus menebang pohon tersebut jika

ingin mendapatkan air yang mereka butuhkan.

Setelah pohon Ara ditebang maka keluarlah air dari dalam tanah bekas

lubang pohon, air meluas hingga membentuk danau yang saat ini dikenal

dengan Danau Ranau. Sedangkan Pohon Ara yang telah ditebang dan dengan membawa sesajian atau seperti telur

(26)

membuat air di sekitar Danau Ranau ada yang panas akibat ludah tersebut.

Gambar yang terlihat di bawah batu keras tersebut bentuknya sederhana,

sebagian warga setempat, yaitu di Pekon/desa Lumbok, Kecamatan

Lumbok Seminung Lampung Barat menerjemahkan gambar itu bahwa

daerah Lumbok Seminung adalah daerah yang Makmur. Selain bidang

perikanan dari Danau Ranau yang menghidupi masyarakat setempat, juga

bidang pertanian dengan kesuburan lahan persawahan yang di topang

melimpahnya sumber air turut menentukan kemakmuran warga.

Keadaan di sekitar Batu Tulis

Batu Tulis tersebut terletak dalam lingkungan Sekolah SLTP, hanya

beberapa ratus meter dari jalan raya.

Hendri (36tahun) warga setempat kepada Mahameru FM Liwa

mengatakan bahwa batu tulis tersebut pertama kali ditemukan oleh Agus

Effendi (alm) pada tahun 1961." Ada yang memperkirakan batu tulis yang

dibuat dengan jari tangan itu dibuat pada tahun 1400-an Masehi atau

sudah berumur lebih dari 600 tahun!" Prasasti Batu Tulis tersebut juga

(27)

5

BATU SEPADU ATAU BATU PUTRI

Dewi Wahyunita

14140012

Di Kenali, Lombok, Lampung Barat terdapat situs yang disebut Batu

Sepadu atau Batu Putri. Menuju situs ini harus melewati jalanan kecil

beraspal, dengan turunan dan tanjakan yang lumayan curam.

Di bawahnya terdapat sebuah batu seperti perempuan berambut panjang

sedang duduk. Pagar tembok mengelilingi batu itu.

Di situs ini ada jamur yang menempel di batu. Warga yakin, jika

ditempelkan di kulit, jamur ini langsung jadi panu; yang obatnya ada di

salah satu batang pohon di lokasi ini.

(28)

Menurut Mawardi, tokoh pemuda Kenali, Batu Sepadu ini dulunya

seorang putri. Dengan janji akan memberi imbalan, sang putri meminta

seseorang memindahkan air dari Way Besohan di Krui ke Kenali.

Ternyata, setelah air dipindahkan, putri itu ingkar. Lalu, dia disumpah jadi

(29)

6

AKSARA LAMPUNG

Dina Purwaningsih

14140013

Pendahuluan

Suku Lampung, baik Pepadun maupun Saibatin menggunakan Bahasa dan

Aksara Lampung dalam berkomunikasi di lingkungan keluarga sesama

suku Lampung dan pada upacara adat. Aksara Lampung disebut oleh

masyarakat Lampung dengan nama Had Lampung atau Aksara Lampung.

Noeh dan Bakr mengatakan aksara Lampung termasuk dalam rumpun

tulisan KAGANGA. Bentuknya mirip dengan aksara Rejang, Pasemah,

Batak, dan Makasar.

Peranan aksara sangat penting dalam mendokumentasikan dan

mengabadikan suatu peristiwa komunikasi. Sampai saat ini, jumlah tulisan

khusus yang mengkaji aksara Lampung dapat dikatakan masih sangat

sedikit. Kebanyakan tulisan yang ada sifatnya terbatas sebagai buku

pelajaran untuk membaca dan menulis atau sekedar pengenalan kepada

bentuk tulisan Lampung.

Aksara Lampung menurut periodisasi pada Aksara Nusantara yang terbagi

dalam zaman kerajaan Hindu-Budha maupun Zaman Kerajaan Islam

termasuk dalam periodisasai Zaman Kerajaan Islam dimana ciri aksara

yang berkembang pada zaman ini memiliki huruf untuk menuliskan bunyi

(30)

Sejarah Aksara Lampung

Tulisan memegang peranan penting dalam sejarah manusia dalam

kehidupan sehari-hari, dibidang ilmu pengetahuan, kekuasaan politik dan

sebagainya. Tulisan juga menunjukan perbedaan mendasar antara

peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan.

Sampai saat ini, jumlah tulisan khusus yang mengkaji aksara Lampung

dapat dikatakan masih sangat sedikit. Kebanyakan tulisan yang ada

sifatnya terbatas sebagai buku pelajaran untuk membaca dan menulis atau

sekedar pengenalan kepada bentuk tulisan Lampung. Tulisan yang

membahas masalah sejarah, perkembangan dan perubahan bentuk dan

fungsi aksara Lampung masih sangat kurang.

Tulisan Lampung atau aksara Lampung disebut oleh masyarakat Lampung

dengan nama Had Lampung atau Aksara Lampung. Noeh dan Bakr

mengatakan aksara Lampung termasuk dalam rumpun tulisan

KAGANGA. Bentuknya mirip dengan aksara Rejang, Pasemah, Batak,

dan Makasar. Namun dari semua bentuk tulisan itu, menurut Hadikusuma

(1988 : 18) tulisan Lampung paling mirip dengan tulisan Rejang.

Asal Mula Aksara Lampung

Selama penelitian yang diperoleh bahwa legenda ataupun cerita rakyat

mengenai asal usul aksara Lampung tidak begitu diketahui oleh

mansayrakat pendukungnya. Sementara itu, kebanyakan peneliti

beranggapan bahwa aksara Lampung sebenarnya merupakan

(31)

Cerita Rakyat

Berdasarkan penelitian hanya diperoleh satu versi cerita mengenai asal

usul aksara Lampung. Versi ini diceritakan oleh Razi Arifin yang

memperoleh pengetahuan itu dari neneknya (menurut Razi, cerita ini

diwariskan secara lisan dan turun-menurun).

Arifin hanya menjelaskan bentuk hurufnya, yaitu aksara Lampung dahulu

diciptakan oleh penduduk sebagai tanda-tanda yang digoreskan pada

batang kayu dan jalan. Goresan-goresan itu dimaksudkan sebagai

penunjuk arah atau tanda agar tidak tersesat. Tanda-tanda berbentuk

goresan inilah yang kemudian pada perkembangannya menjadi aksara

Lampung yang sekarang.

Koleksi naskah kuno beraksara Lampung

Pendapat Para Peneliti

Kebanyakan peneliti,seperti Van Der Tuuk, Hadikusuma, Arifin, Walker

dan tim peneliti dari Depertemen Pendidikan Kebudayaan Daerah

Lampung beranggapan bahwa aksara Lampung merupakan perkembangan

(32)

Aksara Devanagari berasal dari India. Aksara itudianggap suci karena

sering dipakai untuk menulis kitab-kitab suci dalam bahasa Sansekerta dan

sekarang diakui sebagai aksara resmi Republik India (Depdikbud,

1985/1986 : 54)

Kerajaan Sriwijaya berkembang pada masa abad ke-7 sampai ke-13. Pada

waktu itu penyebaran agama budha menggunakan menebarkan pengaruh

yang besar sekali ketika kerajaan Tulangbawang runtuh. Orang Lampung

banyak yang berhubungan dengan Sriwijaya. Sejak itulah, secara

berangsur-angsur aksara Palawa masuk dan mempengaruhi perkembangan

aksara Lampung, sampai kepada bentuknya yang sekarang.

Aksara Lampung

Tulisan Lampung ini mempunyai 3 macam unsur, yaitu (1) induk huruf

(kelabai surat), (2) Anak huruf atau tanda bunyi (benah surat) dan (3)

Tanda-tanda baca. Menulis aksara Lampung dari kiri kekanan. Tulisan

Lampung disebut juga dengan tulisan KAGANGA karena hurunf awal

dari urutan abjadnya berbunyi demikian.

Aksara Lampung seperti juga aksara Jawa merupakan aksara sukukata.

Artinya satu tanda berlaku untuk satu kata. Oleh karena itu, orang

Lampung menyebutnya sebagai tulisan Bajasa karena setiap hurufnya

mengandung bunyi yang berbeda-beda.

Aksara Lampung dengan berbagai komboinasi huruf dapat membentuk

variasi bunyi, seperti mi, mu to, te dan sebagainya. Dengan demikian,

susunan aksara Lampung merupakan gabungan dari dua cara penulisan,

(33)

ini kemudian disebut sebagai tulisan Syliabisi (Ullman melalui Van Der

Molen, 1994 : 2).

Pada umumnya orang Lampung berpendapat bahwa bentuk aksara

Lampung ada dua macam yaitu Aksara Lampung Lama dan Aksara

Lampung Sekarang. Kedua aksara ini mempunyai beberapa perbedaan

antara lain :

a. Dari segi jumlahnya

Aksara Lampung lama terdiri atas 19 huruf sedangkan aksara Lampung

sekarang terdiri atas 20 huruf

b. Mengenai tanda bunyi

c. Tanda bacanya

Aksara Lampung Lama

Aksara Lampung Sekarang

Aksara Lampung sekarang merupakan perkembangan dari Aksara

(34)

sudah dikenal dan dipakai oleh masyarakat Lampung sejak tahun tiga

puluhan.

Aksara Lampung sekarang berjumlah 20 huruf, dengan tambahan satu

huruf gra. Bentuk tulisan dan beberapa tanda bunyi dan tanda bacanya

juga berbeda dengan bentuk tulisan Lampung Lama. Untuk itu orang yang

dapat membaca jenis tulisan Lampung sekarang belum tentu dapat

membaca tulisan Lampung lama.

Seperti halnya aksara Lampung Lama, istilah tanda baca Aksara Lampung

sekarang juga mengikuti istilah tanda baca aksaraArab. Fattah untuk tanda

baca yang di tempatkan di atas huruf dan Kasrah adalah tanda baca yang

di tempatkan di bawah huruf.

Sependapat dengan Van Der Tuuk, menurut Said Arifin budayawan dan

penyimbang adat yang bertugas sebagai Pecalang dan bergelar Raja

Perbasa juga mengatakan bentuk tulisan Lampung itu bermacam-macam.

Menurut Said Arifin ada enam macam variasi Had Lampung yang

diketahui antara lain :

(35)

b. Had Lampung Jebi

c. Had Lampung Tumbal

d. Had Lampung Ampai

e. Had Lampung Angka

f. Had Lampung Ganta

Setiap bentuk tulisan Had Lampung menunjukan pengaruh zaman yang

memasukinya, sehingga masing-masing tulisan mempunyai cirri khas

yang berbeda-beda.

Bentuk tulisan aksara Lampung dari Had Lampung Ho sampai had

Lampung Angka pada saat ini dikenal oleh masyarakat Lampung asli

tulisan Lampung Lama. Sedangkan Had Lampung Ganta dikenal sebagai

aksara Lampung Sekarang.

Perbandingan Aksara Lampung dengan Aksara Daerah Lain

Menurut pengataman Van Der Molen, berdasarkan tulisan Holle (1882)

dan Pigeaud (1967) macam-macam tulisan yang masuk dan dikenal

diindonesia ada tiga macam.

a. Tulisan India

TulisanIndonesia yang mempunyai tipe tulisan ini dapat dirinci lagi

menjadi lima kelompok.

1) Kelompok tulisan Jawa-Bali dipakai untuk menulis bahasa Jawa,

Sunda, Madura dan Sasak.

2) Kelompok tulisan Batak, dipakai untuk menulis bahasa-bahasa

Batak. Seperti Mandeling, Ankola, Toba dan Daeri dengan variasi

(36)

3) Kelompok tulisan Rejang-Lampung dipakai untuk menulis bahasa

Melayu, Bengkulu, Krui dan Lampung dengan berbagai variasi

bentuknya.

4) Kelompok tulisan Bugis dan MAkasar dipakai untuk menulis

bahasa Bugis, Makasar, Bima dan Enda.

5) Kelompok Filipin dipakai untuk menulis bahasa Tagalok, Bikol,

Bisaya dan Pangsinal.

b. Tulisan Arab

Bentuk tulisan Arab yang dikenal di Indonesia ada dua macam.

1) Tulisan Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Arab

2) Tulisan Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Daerah.

c. Tulisan Latin

Tulisan Latin merupakan jenis tulisan ketiga yang masuk ke Indonesia.

Tulisan ini dikenal di Indonesia sejak abad ke-17. Namun digunakan

secara praktis sebagai sarana tulis baru pada abad ke-19.

Pemakaian Aksara Lampung

Sejak sebelum perang dunia kedua, masyarakat Lampung telah

mempelajari tulisan Lampung baik dalam bentuknya yang lama maupun

yang sekarang. Kedua jenis tulisan itu dipelajari bersama-sama baik secara

informal di dalam keluarga maupun di sekolah-sekolah rendah. Mereka

juga menggunakan kedua jenis aksara itu untuk berbagai hal, dari alat

komunikasi, sarana pergaulan sampai kepada penulisan surat-surat

penting. Oleh karena itu, masyarakat Lampung dapat dikatakan sudah

(37)

Masa Lampau

Berdasarkan informasi Razi Arifin, Hadikusuma, dan Said Arifin dimasa

lampau kira-kira tahun 40-an semua orang Lampung Asli pandai membaca

dan menulis Surat Lampung. Apabila ada orang yang mengaku dirinya

sebagai orang Lampung, tetapi tidak dapat menulis dan membacanya dia

akan merasa sangat malu. Dengan kata lain, sampai sebelum perang dunia

kedua Surat Lampung sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat

Lampung. Keperluan yang sering digunakan dalam pemakaian Surat

Lampung antara lain :

a) Sarana komunikasi

b) Sebagai alat pergaulan muda-mudi

c) Sebagai alat untuk menulis hal-hal yang bersifat rahasia

d) Penulisan mantra, memang, petuah dan larangan

e) Penulisan karya sastra dan hukum adat

f) Menulis surat-surat penting

Masa Kolonial Belanda

Menurut Bakr (19..:15), bahwa ketika masa penjajahan Belanda. Aksara

Lampung ternyata juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara

lain:

a) Untuk menulis Surat Keputusan Pengangkatan Kepala Kampung

b) Untuk membuat surat daftar lahir atau Surat Keterangan Kematian

c) Untuk membuat Surat Dinas lainnya

(38)

Masa Kini

Dari penelitian yang diperoleh bahwa aksara Lampung pada masa

sekarang juga tengah diusahakan untun membudayakan Lampung. Hal ini

dibuktikan dari pemakaian aksara Lampung untuk menulis sebagai

berikut:

a) Nama jalan

b) Plat nomro alamat rumah

c) Hiasan rumah

d) Undangan untuk pesta adat

Usaha Pelestarian Aksara Lampung

Arifin mengatakan bahwa pada masa sekarang Aksara Lampung sudah

mulai menghilang. Aksara Lampung hanya tinggal dikenali dan

dimanfaatkan oleh orang-orang tua sedangkan di kalangan angkatan muda

dan para cendikiawan sudah tidak memerlukannya lagi. Beberapa cara

yang ditempuh untuk mewujudkan usaha pelesratian aksara Lampung

sebagai berikut :

Melalui Surat Keputusan tentang Pengajaran Bahasa dan Had Lampung di

SD,SMTP, dan SMTA. Surat keputusan itu berisi ketetapan garis-garis

besar program pengajaran (GBPP) Bahasa dan Had Lampung untuk

pelajaran Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama, dan

Sekolah Menengah Tingkat Atas.

dan Melalui Lomba Penulisan Had Lampung dimana hal ini yang di

(39)

yaitu dengan menyelenggarakan lomba menulis dan membaca Had

Lampung.

Kesimpulan

Aksara Lampung disebut oleh masyarakat Lampung dengan nama Had

Lampung atau Aksara Lampung. Aksara Lampung termasuk dalam

rumpun tulisan Kaganga. Bentuknya mirip dengan Aksara Rejang, Khusus

di Lampung sekarang dikenal dengan tulisan Lampung karena pada zaman

modern ini Lampunglah yang lebih dulu mengangkat Aksara Kaganga

tersebut.

Penduduk asli suku Lampung secara umum menggunakan Bahasa dan

Aksara Lampung dalam berkomunikasi di lingkungan keluarga sesama

suku Lampung dan pada upacara adat. Karena peranan aksara sangat

penting dalam mendokumentasikan dan mengabadikan suatu peristiwa

melalui komunikasi dalam bentuk tulisan.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Lampung. (1997). Sejarah Daerah _____Lampung. Bandar Lampung: Disdik Prov. Lampung.

Kantor Bahasa Provinsi Lampung. (2008). Persebaran Bahasa-Bahasa Di Provinsi Lampung. Bandar Lampung: Kantor Bahasa Prov. Lampung.

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI. (1996). Aksara Dan Naskah Kuno Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Putra _____Sejati Raya.

https://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Nusantara [24 November 2015].

https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Lampung [24 November 2015].

(40)

7

MERIAM BUMBUNG (MERIAM LELA)

Een Rohayati

14140014

Pendahuluan

Lampung adalah sebuah provinsi paling selatan di pulau Sumatera,

Indonesia. Provinsi Lampung dengan ibukota Bandar Lampung yang

merupakan gabungan dari dua kota kembar yaitu Tanjung Karang dan

Teluk Betung. Provinsi Lampung merupakan keresidenan yang tergabung

dengan provinsi sumatera selatan. Dimana provinsi Lampung ini sendiri

terdapat beberapa kabupaten dan kota yang salah satunya yaitu Bandar

Lampung dimana tempat yang saya teliti atau lebih tepatnya di museum

Lampung. Di provinsi Lampung juga terdapat berbagai peningganlan

bersejarah baik peniggalan pada zaman megalitikum, kolonial maupun

zaman kerajaaan.

Peninggalan-peninggalan yang memiliki nilai sejarah di dalamnya patut

untuk di lestarikan dan di jaga keaslian nya. Salah satu peniggalan yang

harus kita jaga yaitu peninggalan yang di temukan di daerah Bandar

Lampung khususnya ialah terdapat peninggalan sejarah yaitu meriam kuno

seperti meriam bumbung atau meriam lela yang ada di museum Lampung,

yang sudah ada pada zaman kolonialisme di Indonesia. Meriam yang di

(41)

1601-1700 SM. yang saat itu meriam di temukan di daerah cukuh

Balak,Tanggamus.

Pembahasan

Lokasi awal Meriam Bumbung atau Meriam Lela di temukan yaitu di

daerah cukuh balak,Tanggamus. Meriam kuno ini di temukan pada abad

ke 17 pada tahun 1601-1700 SM. Sejarah tentang meriam bumbung yang

terpajang di depan museum Lampung dengan kepentingan Belanda di

karesidenan Lampung pada saat itu meliputi 2 karesidenan yatu Krui dan

Tanjung Karang, meriam bumbung dengan ukuran paling besar terletak

disebelah kanan museum Lampung.

Pada saat itu masyarakat Lampung menggunakan meriam bumbung atau

meriam lela untuk melengkapi prosesi adat istiadat. Meriam bumbung atau

meriam lela di gunakan salah satu adat untuk upacara adat di kalangan

masyarakat Lampung karena dentumannya yang sangat besar membuat

Benda peninggalan pada situs kolonial Belanda (meriam bumbung) di Cukuh Balak, Tanggamus.pada abad ke 17 pada

(42)

meriam meriam ini lebih menarik untuk upacara adat . Sedangkan menurut

yang terpajang di musium tersebut hanya ada 3 buah sementara yang lain

nya akan di keluarkan pada acara-acara adat saja.

Pada proses pengambilan meriam ini para penyelam membutuhkan waktu

sepekan untuk mengangkat benda bersejarah yang berusia ratusan tahun

ini, benda-benda kuno yang di temukan antara lain adalah meriam lontar

yang di duga berasal dari kapal-kapal perang bangsa berat. Meriam ini

beratnya mencapai 300 kg lebih setelah di angkat kedaratan meriam ini

lalu dibawa ke markas polda Lampung untuk di teliti oleh para ahli sejarah

dan selanjutnya senjata-senjata kuno ini diserahkan ke museum Lampung

sebagai aset peninggalan sejarah provinsi Lampung yang harus dijaga.

Tujuh meriam ini awalnya ditemukan oleh para nelayan yang sedang

berlayar mencari ikan, mereka lalu melaporkan hal tersebut pada

pemerintah karena mereka khawatir meriam ini akan meledak jika

tersangkut jangkar perahu.

Jenis- jenis meriam tersebut antara lain :

1) Meriam bumbung

2) Meriam lela

(43)

Sebagai cindera mata penggunaan di kapal dan di benteng pertahanan

biasanya barisan terdepan

Kedua meriam ini termasuk peninggalan sejarah Historika (benda-benda

bukti sejarah).

Untuk perawatan meriam tersebut di bedakan menjadi 2 yaitu :

1) Perawatan terhadap biotik (benda mati)

2) Perawatan terhadap abiotik (benda hidup)

Kerusakan meriam tersebut disebabkan oleh kandungan garam, polusi,

cuaca, dan sebagainya. Bahan pembuatan meriam ini adalah tembaga dan

ada juga yang besi.

Kesimpulan

Meriam bumbung atau meriam lela yang berada di museum Lampung

dengan kepentingan Belanda di karesidenan Lampung pada saat itu

meliputi 2 karesidenan yaitu Krui dan Tanjung Karang. Meriam

Bumbung dengan ukuran paling besar terletak disebelah kanan museum

Lampung. Pada saat itu masyarakat Lampung menggunakan meriam

bumbung atau meriam lela untuk melengkapi prosesi adat istiadat.

Sementara pada zaman dulu meriam bumbung atau meriam lela ini di

gunakan oleh Belanda untuk menyerang Raden Intan yang menjadi salah

satu pimpinan keratuan darah putih di Kalianda, meriam ini digunakan

untuk pertempuran jarak jauh. Meriam ini ditemukan di daerah Cukuh

Balak Tanggamus. Meriam Bumbung yang di miliki musium Lampung ini

ada 7 buah, akan tetapi yang terpajang di musium tersebut hanya ada 3

(44)

8

MAKAM ALHABIB HUSAIN

BIN USTMAN ALAIDRUS

Fajar Andreansyah

14140015

Makam ini berada di Muara Gading Mas Labuhan Maringgai Lampung

Timur,Lampung.Makam ini adalah salah satu makam yang

bersejarah.pasalnya,Habib Husain sendiri sangat berperan penting dalam

penyebaran agama Islam di Lampung khususnya di labuhan maringgai

,Lampung Timur.

Beliau sendiri keturunan dari Ustman bin Ali bin Alwi bin

Abdurahman.Mereka semua adalah keturunan arab ,yang semula

abdurahman yang hijrah ke Indonesia tepatnya di Kalimantan

Barat.Kemudian anaknya yang bernama Alwi bin abdurahman beserta

putranya yang bernama Ali bin alwi hijrah ke Lampung pada tahun 1815

M untuk menyiarkan agama islam .sedangkan ayah dari habib alwi sendiri

menyiarkan agama islam di Kalimantan barat .menurut narasumber

abdurahman wafat di Kalimantan tepatnya di Batu Layang Pontianak,

Kalimantan barat.

Pada saat itu Alwi bin Abdurahman kembali ke Kalimantan untuk

melanjutkan siar agama islam yang di lakukan oleh sang ayah.Sedangkan

Ali bin Alwi tetap tinggal di Lampung hingga mempunyai putra yang

(45)

Husain.Pada tahun 1883 M kakek dari habib Husain bin Ustman wafat

yang di makamkan di Ketapang .

Pada saat itu Habib Husain dan ayah serta bersama sahabatnya menyusuri

daerah Lampung di bagian selatan tepatnya di Labuhan Maringgai yang

kala itu masih daerah hutan dan jarang penduduk. Oleh sebab itu, Habib

Husain bersama ayahnya dan sahabatnya membuka lahan di daerah

Labuhan Maringgai.

Pada tahun 1902 M. Ustman bin Ali wafat dan di makamkan di Labuhan

Maringgai. Pada saat itu Habib Husain bersama sahabat menyiarkan

agama di daerah itu dengan

masih memegang erat kebudayaan

leluhurnya. Tetapi, dengan

kesabaran habib Husain

lama-kelamaan penduduk mulai antusias

untuk memeluk agama islam.

Habib Husain pun mendirikan mushola yang bernama Al-Mujahidin.di

mushola itu habib Husain membentuk majelis serta melaksanakan ibadah

lima waktu di mushola tersebut.

Daerah tersebut yang semula hutan dan sepi penduduk ,kemudian banyak

umat dari habib Husain mendiami serta bercocok tanam dan berdagang di

daerah tersebut.karena penduduk di daerah tersebut semakin ramai dan Masjid Al-Mujahidin yang berada di

(46)

memeluk agama islam ,maka habib mengubah mushola al mujahidin

tersebut menjadi masjid Al-Mujahidin.

Hingga akhirnya pada tahun 1931 M Habib Husain wafat .dan di

makamkan di depan masjid Al-mujahidin .sampai saat ini banyak

warga,baik itu dari daerah Labuhan Maringgai maupun dari daerah lainnya

sengaja datang ke makam habib Husain bin Ustman untuk berziarah.

(47)

9

SITUS MAKAM PAHLAWAN NASIONAL

RADIN INTAN II

I Putu Budi Sandika

14140020

Pendahuluan

Makam adalah tempat peristirahatan terakhir bagi seseorang jadi kita

jangan mengkeramatkan makam walaupun itu makam pahlawan kita,yang

kita ambil dari situ adalah semangat perjuangannya dan jasa beliau bagi

bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki sejarah dan budaya.

Radin Intan II adalah salah satu pahlawan nasional dari Propinsi

Lampung. Dahulu ia adalah pejuang yang memimpin perlawanan rakyat

Lampung ketika melawan penjajahan Belanda. Atas jasa dan

pengorbanannya dalam membela kepentingan rakyat, oleh pemerintah

dijadikan sebagai pahlawan nasional. Radin Intan II Lahir pada tahun

1834 dan gugur pada tanggal 5 oktober 1856 dengan Gelar Kusuma Ratu

Berjuang (1850 -1856).

Sejarah Makam Pahlawan Nasional Radin Intan II

Radin Intan II adalah salah satu pahlawan nasional dari Propinsi

Lampung. Dahulu ia adalah pejuang yang memimpin perlawanan rakyat

(48)

pengorbanannya dalam membela kepentingan rakyat, oleh pemerintah

dijadikan sebagai pahlawan nasional, dan dibuatlah monumen di sekitar

lokasi makamnya.

Radin Intan II tewas atau gugur di

tangan Belanda yang tak kehabisan akal

untuk mencoba taktik licik, yakni

dengan membayar dan memperalat

salah seorang pasukan Radin Intan II

yaitu Kepala Kampung Tataan Udik

Raden Ngarupat, untuk mengatur

kondisi dimana Belanda bisa

menyergap dan mengalahkan Radin

Intan II. Caranya Raden Ngarupat

mengundang Radin Intan II untuk

makan malam di rumahnya. Ketika Raden Ngarupat sedang menghadapi

hidangan, pasukan Belanda langsung menyergapnya.. Rencana mereka

pun berhasil, hingga terjadi pertempuran antara Radin Intan II melawan

beberapa pasukan Belanda. Meskipun telah berusaha dengan sekuat tenaga

untuk mengalahkan Belanda, namun akhirnya Radin Intan II gugur di

tangan Belanda karena kalah persenjataan dan kalah jumlah. Beliau wafat

pada 5 Oktober 1856 pada usia 22 tahun. Lahir pada tahun 1834 dan gugur

sebagai Pahlawan pada tanggal 5 Oktober 1856 dan berdasarkan SK

Presiden RI No. 082/TK/Tahun 1986, tanggal 23 Oktober 1986 diangkat

sebagai Pahlawan Nasional.

Lokasi Makam Pahlawan Nasional Radin Intan I

Dengan gugurnya Radin Intan II oleh pemerintah ia diangkat sebagai

(49)

Gedungharta, Kelurahan Cempaka Kecamatan Penengahan, Kabupaten

Lampung Selatan. Apabila akan mengunjungi tempat ini pengunjung

dapat menuju ke Komplek Makam Radin Intan II yang berjarak 75 km

dari Kota Tanjungkarang, dan 167 km dari Bakauheni.

Dari Lamban Balak berjalan kaki menuju lokasi makam hanya sekitar 10

menit, sebelumnya bapak Budiman sempat menceritakan bahwa Radin

Intan II di makamkan di Benteng Cempaka. Benteng Cempaka sendiri

merupakan salah satu dari 17 benteng yang di bangun oleh Radin Intan II

ketika melawan penjajah Belanda. Dari luar, kompleks makam terlihat

megah. Pagar besi bercat hitam mengelilingi areal makam, hamparan

lapangan parkirnya pun sangat luas.

Dari pintu masuk, terlihat patung Radin Intan II bercat cokelat dan putih

berdiri diatas sebuah batu yang besar di tengah kompleks makam Radin

Intan II. Disisi kiri patung ada aula terbuka yang bentuk nya seperti rumah

panggung. Makam Radin Intan II berada di sebelah kanan pintu masuk.

Makam nya yang beratap genting dan berlantai mamer dengan pagar

keliling, dan di batu nisan terdapat tulisan Radin Intan II.

Lokasinyapun mudah dijangkau dengan semua jenis kendaraan, sebab

berada di pinggir jalan yang memakan area 3.750 m² yang terdiri dari

makam, taman, benteng, dan rumah informasi.

Semasa hidupnya Radin Intan II mendirikan benteng-benteng yang pada

umumnya berupa benteng alam berbentuk gundukan tanah dan parit-parit

buatan. Saat ini Benteng-benteng tersebut sebagian telah hilang dan tidak

ditemukan sisa-sisanya. Sedangkan benteng pertahanan yang masih tersisa

adalah benteng pertahanan Radin Intan II di Desa Gedungharta Kelurahan

(50)

Gambar Benteng Cempaka

Gambar Makam Radin Intan II

Pada benteng ini di dalamnya terdapat makam Radin Intan II. Saat ini,

benteng dan makam telah dijadikan sebagai makam pahlawan dan juga

objek wisata sejarah yang diharapkan dapat menarik pengunjung. Adapun

para pengunjung yang datang kebanyakan dari masyarakat Lampung dan

bertujuan untuk berziarah ke Makam Radin Intan II.

Berikut adalah bangunan-bangunan yang ada di lokasi makam yang

(51)

Rumah Adat di Lokasi Taman

Gapura Siger Dan Monumen Pahlawan Nasional Radin Intan II

(52)

Menurut keterangan dari salah seorang yang merupakan tokoh dari

kompleks makam yang bernama bapak Budiman Yakub gelar Radin

Kesuma Yuda diterangkan tentang sejarah pemugaran kompleks Makam

Pahlawan Nasional Radin Intan II:

1) Tahun 1980 : Di pugar oleh Purna Pugar Dirjen Kebudayaan Pusat 2) Tahun 1999 : Dinas Sosial masuk memberikan atap bagi makam

Radin Intan

3) Tahun 2000 : PEMDA mengganti atap, lalu membangun rumah dan gapura dengan gaya arsitek lambang Lampung Selatan.

Silsilah Pahlawan Nasional Radin Intan II

Beliau juga memberikan informasi mengenai silsilah keluarga dari

Pahlawan Radin Intan II

Fatahillah

Dari Banten Abad Ke 16

Putri Sinar Alam Putri Ratu Pugung Lampung

Ratu Darah Putih Gelar Minak Kejala Ratu

Tun Panatih Putri Sultan ACEH

Ratu Batin Ratu Gelar Dalom Kusuma Ratu I

(53)

Pahlawan Nasional Radin Intan II

Radin Intan II adalah salah satu pahlawan nasional dari Propinsi

Lampung. Dahulu ia adalah pejuang yang memimpin perlawanan rakyat

Lampung ketika melawan penjajahan Belanda. Atas jasa dan

pengorbanannya dalam membela kepentingan rakyat, oleh pemerintah

dijadikan sebagai pahlawan nasional, dan dibuatlah monumen di sekitar

lokasi makamnya. Radin Intan II sebenarnya putra dari Raden Imba II,

sedangkan Raden Imba II adalah putra dari Radin Intan.

Apabila dilihat dari silsilahnya Radin Intan I adalah keturunan dari

Fatahillah yang merupakan anak dari Ratu Darah Putih dan Tun Penatih. Radin Imba I

Gelar Dalom Kusuma Ratu III

Radin Imba I

Gelar Dalom Kusuma Ratu IV (1821-1828)

Radin Imba II

Gelar Kusuma Ratu (1828 – 1834)

Ratu Mas

(54)

Dia adalah pemimpin Keratuan Darah Putih di Lampung. Sedangkan

Raden Imba II adalah keturunan Fatahillah anak dari Ratu Darah Putih dan

Tun Penatih yang menikah dengan Ratu Mas. Sedangkan Radin Intan II

adalah satu keturunan dari Fatahillah yang menyebarkan agama Islam di

Banten sekitar abad XVI. Radin Intan II dikenal sebagai pejuang dalam

menentang penjajahan Belanda di Lampung dan gugur sebagai pahlawan.

Ia adalah putra dari Raden Imba II, beliau dipelihara dan dibesarkan oleh

ibu dan keluarganya dengan penuh rahasia. Ia lahir di hutan tahun 1831.

Ketika Benteng Raja Gepei jatuh ke pemerintahan Belanda tahun 1834, ia

berusia 3 tahun. Saat kecil Radin Intan II diliputi suasana perang melawan

Belanda dan sekutu-sekutunya. Raden Intan II meninggal saat usia masih

muda di saat ia belum menikah, sehingga tidak mempunyai keturunan lagi.

Perlawanan Radin Intan Dan Raden Imba Terhadap Penjajahan Belanda

Sebelum kedatangan Belanda ke Lampung, Lampung merupakan salah

satu daerah yang mendapat pengaruh kekuasaan dari Banten, hal itu

disebabkan Lampung waktu itu, kaya akan rempah-rempah. Namun di saat

kedatangan Belanda, secara perlahan Lampung dapat dikuasai oleh

Belanda. Kedatangan Belanda ke Indonesia, tujuan utama adalah

berdagang sambil mencari rempah-rempah.

Perlawanan Radin Intan terhadap penjajahan Belanda, pertama dilakukan

oleh Radin Intan I. Raden Intan I (1751-1828), adalah penguasa Keratuan

Darah Putih atau Negara Ratu yang berpusat di Kahuripan. Daerah ini

sekarang termasuk wilayah Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung

Selatan. Bagi Belanda Radin Intan I dianggap sebagai orang yang keras

kepala, ia tidak mau menuruti apa perintah Belanda, bahkan iapun

cenderung untuk melawan dari segala kebijakan yang dibuat pemerintah

Belanda, seperti monopoli perdagangan lada. Bagi Belanda sikap dan

(55)

menjengkelkan. Meskipun demikian dibalik sikap Radin Intan I yang

keras kepala tersebut, Belanda tetap memperlakukan Radin Intan I dengan

sifat yang lunak. Sikap lunak sengaja diperlakukan oleh pemerintah

Belanda (khususnya Gubernur Jenderal Belanda, H.W. Daendels), sebab

Daendels mengakui kepemimpinan Raden Intan I sebagai penguasa di

Lampung. Disamping itu, perlakukan lunak Belanda khususnya Daendels

tersebut didasarkan atas perhatian Belanda yang terpecah, dikarenakan

perhatian Belanda lebih tercurah pada persiapan untuk menghadapi

ancaman pasukan Inggris. Selanjutnya pada kwartal I abad 19 ini, Belanda

juga harus menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah

(1825-1830). Dengan ketidak mampuan Daendels dalam mendekati Radin

Intan I tersebut, akhirnya Radin Intan I mengambil langkah-langkah yang

bagi Belanda sangat membahayakan, seperti menjalin hubungan

persahabatan dengan Daeng Gajah dari Tulang Bawang dan Seputih.

Raden Intan pun sengaja melepaskan diri dari ikatan Belanda. Dengan

tindakan yang diambil Raden Intan ini, menandakan bahwa Radin Intan I

dianggap oleh Belanda sebagai pemberontak dan akan melakukan suatu

pemberontakan. Dengan adanya kekhawatiran tersebut, akhirnya fihak

Belanda mengadakan perundingan dengan Radin Intan I yang isinya :

a. Radin Intan I bersedia mengakiri kekerasan dan membantu

pemerintah Belanda.

b. Raden Intan I akan diakui kedudukannya, sebagaimana pada masa

pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels.

c. Radin Intan I mendapat pensiun sebesar f.1200 per tahun dan

saudara-saudaranya masing-masing sebesar f.600 per tahun.

Dari isi perundingan tersebut, pemerintah Belanda memberikan janji-janji

(56)

damai tersebut, ternyata tidak memakan waktu lama, karena hubungan

antara pemerintah Belanda dengan Radin Intan I kembali meruncing.

Sebab-sebab meruncingnya hubungan kedua belah pihak tersebut

dikarenakan Pemerintah Belanda secara sepihak melanggar kesepakatan

damai dan dengan terang-terangan menempuh jalan kekerasan. Pada awal

bulan Desember 1825 pemerintah Belanda mengirim utusan untuk

menangkap Radin Intan I, dengan cara mengirim Gezaghebber Lelievre di

Telukbetung bersama Letnan Misonius. Kedatangan kedua orang Belanda

tersebut dilengkapi dengan 35 serdadu dan 7 opas, bergerak menuju

Negara Ratu. Awalnya Radin Intan I menerima dengan baik kedatangan

kedua orang Belanda tersebut, dan Radin Intan pun bersedia dibawa ke

Teluk Betung, tetapi dengan syarat Radin Intan meminta waktu 2 hari

dikarenakan sedang sakit. Tatkala kedua orang Belanda tersebut sedang

istirahat di Negara Ratu, tiba-tiba diserang oleh pasukan Radin Intan I

tanggal 13 Desember 1825, dan orang-orang Belanda pun berhasil

dilumpuhkan. Korban tewas menimpa Lelievre bersama seorang sersan,

sedangkan Letnan Misonius luka tertembak. Dengan kekalahan Belanda

ini maka untuk sementara keadaan di Lampung kembali tenang, sebab

Belanda mulai mencurahkan kekuatannya untuk menghadapi penyerangan

Pangeran Diponegoro. Tiga tahun kemudian Radin Intan I jatuh sakit

hingga meninggal dunia, sedangkan tahta sebagai pemimpin di Keratuan

Darah Putih diwariskan kepada putranya yaitu Raden Imba II.

Raden Imba II yang mewarisi tahta sebagai Ratu di Lampung ternyata

juga mewarisi sifat-sifat ayahnya yaitu anti terhadap penjajahan Belanda,

dan berusaha untuk melawannya. Sikap anti terhadap penjajahan Belanda

tersebut juga mendapat dukungan dari ayah mertuanya yaitu Kiai Arya

Natabraja dan Kepala Marga Teratas Batin Mangundang, serta rakyat

(57)

Lampung, ia mempunyai hubungan ke luar istana yang sangat luas, yaitu

menjalin hubungan persahabatan dengan kesultanan Lingga yang

diwujudkan dengan perkawinan saudara perempuannya dengan Sultan

Lingga, disamping itu Raden Imba II juga menjalin persahabatan dengan

pelaut Bugis dan Sulu. Dengan jalinan persahabatan yang dibina Raden

Imba dengan beberapa wilayah di luar Lampung, membuat kekhawatiran

di pihak tentara Belanda, sebab dikhawatirkan Raden Imba II menjalin

suatu kekuatan untuk menyerang Belanda. Ternyata dugaan Belanda

tersebut benar, Raden Imba II melakukan penyerangan di Teluk Lampung.

Dengan bantuan rakyat setempat, Raden Imba II berhasil mengalahkan

pasukan Belanda di dekat Kampung Muton. Serangan yang dilakukan

Raden Imba II ini berakibat buruk, sebab petinggi pemerintah Belanda

menderita kerugian, sehingga Asisten Residen Belanda untuk Lampung

yaitu J.A. Dubois meminta bantuan bala tentaranya dari Batavia, untuk

segera mengirim bantuannya guna memadamkan perlawanan Raden Imba

II. Bala bantuan pun datang dengan kekuatan lima buah Kapal Alexander

dan Dourga, 300 serdadu Belanda, serta 100 serdadu Bugis. Bala bantuan

tersebut dibawah pimpinan Kapten Hoffman dan Letda Kobold. Pasukan

Belanda ini mendarat di Kalianda tanggal 8 Agustus 1832. Pasukan

Belanda juga menuju Kampung Kesugihan dan Negara Putih, tapi sayang

tempat tersebut sudah ditinggalkan oleh Raden Imba II. Untuk

melampiaskan kekesalannya, Belanda membakar semua rumah yang ada

di kampung tersebut.

Raden Imba II yang mengetahui kejadian tersebut langsung membangun

kubu pertahanan yang tersebar di beberapa daerah, seperti di Raja Gepeh,

Pari, Bedulu, Huwi Perak, Merambung, Katimbang, dan Sakti. Agar tidak

kehabisan bahan makanan, Raden Imba II juga membangun

(58)

Belanda, Raden Imba II menambah senjata, dengan cara melakukan barter

dengan Inggris yang berkuasa di Bengkulu. Pertempuran melawan

Belanda pun kembali terjadi tanggal 9 September 1832 di daerah Gunung

Tanggamus. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Belanda dibawah

pimpinan Kapten Hoffman. Namun dalam perlawanan melawan Belanda

kali ini pasukan Raden Imba II kembali mengalami kemenangan. Dari

pasukan Belanda banyak yang tewas, sedangkan Kapten Hoofman

mengalami luka-luka. Dengan kekalahan tersebut, akhirnya pasukan

Belanda ditarik mundur.

Dengan ditariknya pasukan Belanda dari daerah Gunung Tanggamus

tersebut, bukan berarti pasukan Belanda menerima kekalahan. Artinya

justru pasukan Belanda membangun kekuatan untuk membalas

kekalahannya terhadap Raden Imba II. Kapten Hoffman untuk kedua

kalinya memimpin penyerangan terhadap Raden Imba II. Kali ini Kapten

Hofman mengerahkan kekuatan yang lebih besar, yaitu ditemani oleh 600

serdadu Belanda yang direkrut dari pasukan yang telah berpengalaman

dalam melawan Pangeran Diponegoro. Kapten Hoffman juga mendapat

bantuan pasukan dari Letnan Vicq de Cumtich. Pertempuran kali ini dapat

dikatakan pertempuran besar yang terjadi di Benteng Raja Gepei. sebab

dari keduanya mengalami kerugian yang sangat besar, yaitu pasukan

Raden Imba II kehilangan 100 pasukannya, sedangan pasukan Belanda

hanya 65 orang termasuk Letnan Neuenborger dan Letan Huiseman.

Namun demikian Raden Imba II masih dapat berhasil memimpin

pasukannya untuk mempertahankan Benteng Raja Gepei. Begitu pula

pasukan Belanda masih tertahan dan mendapat bantuan pasukan dibawah

pimpinan Kapten Beldhouder dan Kapten Pouwer. Namun kedua kapten

(59)

Beberapa kali kekalahan yang dialami oleh pasukan Belanda dalam

menghadapi setiap perlawanan, bagi Belanda menjadikan suatu cambuk

untuk mengirimkan bala bantuan yang lebih besar, begitu pula yang

dialami Belanda dalam menghadapi beberapa kali perlawanan yang

dilakukan oleh Raden Imba II. Tanggal 23 September 1834, pemerintah

Belanda di Batavia kembali mengirimkan bantuan dalam jumlah yang

besar, yaitu 21 opsir (perwira), dan 800 serdadu istimewa yang dilengkapi

dengan meriam besar, bantuan tersebut dibawah pimpinan Kolonel Elout.

Benteng Raja Gepei yang selama ini dijadikan tempat persembunyian

Raden Imba II, oleh Belanda berhasil dihancurkan dan diduduki, namun

Raden Imba II dan mertuanya Kyai Arya Natabraja berhasil meloloskan

diri. Selanjutnya Raden Imba dan beberapa pasukannya menyingkir ke

Kesultanan Lingga sekaligus minta perlindungan. Namun sayang tempat

persembunyiannyapun diketahui oleh Belanda. Raja Lingga akhirnya

mendapat tekanan dari Belanda, yang isinya apabila tidak menyerahkan

Raden Imba II, Kerajaan Lingga akan mendapat serangan dari Belanda.

Akhirnya Raden Lingga pun menyerahkan Raden Imba II meskipun

dengan terpaksa.

Dengan diserahkannya Raden Imba II dan beberapa pengikutnya ke

Belanda, maka mereka ditangkap dan dibawa ke Batavia. Pada saat di

Batavia itulah mertua Raden Imba II dan hulu balangnya Raden

Mangunang meninggal dunia. Sedangkan Raden Imba II dibuang ke Pulau

Timor. Raden Imba II pun akhirnya meninggal di Pulau Timor. Sedangkan

istrinya yang sedang hamil tua dipulangkan ke Lampung.

Dengan meninggalnya Raden Imba II, maka kekuasaan Lampung berada

sepenuhnya di tangan Belanda. Selama itulah kurang lebih 15 tahun,

Lampung sepi dari pemberontakan. Istri Raden Imba yang telah hamil,

(60)

yatim, karena Raden Imba II telah meninggal dunia. Anak tersebut diberi

nama Radin Intan II. Ia meneruskan jejak leluhurnya sebagai orang yang

anti penjajahan.

Pada tahun 1850, Radin Intan II telah menginjak usia 15 tahun, karena ia

sebagai anak tunggal dari Raden Imba II, maka ia pun berhak meneruskan

tahta memimpin Keratuan Darah Putih di Lampung, sehingga ia pun

dilantik sebagai penguasa Negara Ratu tersebut. Ia mulai menata segala

sarana dan prasarana yang telah rusak akibat perlawanan ayahnya terhadap

Belanda. Di antaranya Radin Intan II memperbaiki benteng yang rusak,

dan Ia pun membangun kembali benteng-benteng baru di antaranya di

Galah Tanah, Pematang Sentok, Kahuripan, dan Salaitahunan. Semua

benteng tersebut dilengkapi dengan parit dan terowongan rahasia.

Sedangkan persenjataannya masih sangat sederhana untuk ukuran

sekarang, seperti keris, badik, pedang, dan meriam besar dan kecil.

Sedangkan pasukannya dibagi menjadi unit-unit kecil yang terdiri atas 40

orang dengan dipimpin oleh seorang komandan prajurit, begitu pula sarana

lain juga dipersiapkan seperti dapur umum atau pejunjongan (untuk

menopang pejuang). Pertahanan dipusatkan di Gunung Rajabasa, yang

secara militer letak gunung ini sangat strategis dalam menghadapi

serangan lawan dari manapun karena letaknya yang dikelilingi

benteng-benteng pertahanan, seperti sebelah barat dan utara terdapat Benteng

Merabung, Galah Tanah, Pematang Sentok, Katimbang, dan Salai

Tabuhan. Sebelah timur terdapat Benteng Bendulu dan Hawi Perak,

sedangkan di kaki-kaki gunung terdapat Benteng Raja Gepei Cempaka

dan Kahuripan Lama.

Sepak terjang Radin Intan II hampir menyerupai ayahnya, yaitu

menggalang persahabatan dengan beberapa tokoh penting seperti

Gambar

Gambar yang terlihat di bawah batu keras tersebut bentuknya sederhana,
Gambar Benteng Cempaka
Gambar Prasasti Pemugaran Komplek Makam Dan Benteng Cempaka
Gambar Rumah Singgah Ir. Soekarno yang tampak tak terawat

Referensi

Dokumen terkait

Suku-Suku bangsa itu tinggal di desa-desa berumah persegi bertingkat-tingkat yang terbuat dari tanah liat (pueblo), dan yang sering dibangun di atas puncak

28 Oleh karena itu, Provinsi Banten adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia yang masih membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah terutama pada bidang

Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) Kelas IIA Kalianda Lampung Selatan, merupakan salah satu lapas yang ada di Indonesia yang mempunyai peranan sangat penting dalam memberikan

musik totobuang juga telah dipromosikan sampai ke luar kebu- dayaan dari masing-masing suku-suku bangsa yang ada di Maluku salah satunya adalah suku bangsa Ambon

Ketiga “Tuan” yang menempati Komering Ulu adalah mengambil tempat masing-masing Tuan Umur Baginda Saleh di dusun Mendayun, Marga Madang Suku Satu (beliau mulai

Peninggalan sejarah yang ada di sepanjang Hulu DAS Batanghari yang terdapat di wilayah Provinsi Sumatera Barat, terutama berada di Kabupaten Dharmasraya yang di

Sudirman yang ada di sebelah barat alun-alun merupakan salah satu jalan arteri yang ada di Kota Cilacap.. Sedangkan

Begitu juga dengan Kecamatan Ngambur, Kecamatan Ngambur sebagai salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung merupakan Kecamatan yang sering mengalami