• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Mahkamah Konstitusi sebagai Yuri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Putusan Mahkamah Konstitusi sebagai Yuri"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Putusan Mahkamah Konstitusi sebagai Yurisprudensi untuk

Pembangunan Hukum di Indonesia

*

Oleh: Rimas Kautsar, S.H., M.H.**

Berdasarkan Pasal 4 Peraturan Mahkamah Konstitusi (PMK) Nomor 1 Tahun 2012 tentang Produk Hukum Mahkamah Konstitusi, yang dimaksud dengan Putusan Mahkamah Konstitusi adalah pernyataan Mahkamah Konstitusi yang diucapkan dalam sidang pleno terbuka untuk umum dalam rangka menjalankan kewenangan dan kewajiban Mahkamah Konstitusi untuk mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final:1

1. Menguji undang-undang terhadap UUD 1945;

2. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945;

3. Memutus pembubaran partai politik;

4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum;

5. Memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagai dimaksud dalam UUD 1945.

Selain putusan, Mahkamah Konstitusi (MK) juga mengeluarkan produk hukum lainnya baik di bidang yudisial maupun non yudisial, yaitu antara lain:

1. Ketetapan Mahkamah Konstitusi, adalah penetapan tertulis Mahkamah Konstitusi yang berisi tindakan hukum, baik yang bersifat konkret-tertentu maupun bersifat konkret-individual, dan final untuk menindaklanjuti hal-hal yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas, wewenang, dan kewajiban Mahkamah Konstitusi dalam bidang yudisial berdasarkan peraturan perundang-undangan [Pasal 9 PMK No. 1 Tahun 2012];

1*Makalah disampaikan dalam acara Kelompok Diskusi Terbatas “Penyusunan Modul Restatement: Mendorong Kualitas dan Akuntabilitas Hukum” yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia (PSHK), pada Rabu, 31 Mei 2017. Makalah ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pendapat Mahkamah Konstitusi lembaga tempat penulis bekerja.

**Pemerhati Hukum, alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) angkatan 2003, saat ini berprofesi sebagai PNS di Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi

(2)

2. Peraturan Mahkamah Konstitusi, adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum, baik dalam bidang yudisial maupun non-yudisial [Pasal 13 PMK No. 1 Tahun 2012];

3. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi merupakan penetapan tertulis yang berisi tindakan hukum yang bersifat konkret, individual, dan final dalam bidang non-yudisial [Pasal 18 PMK No. 1 Tahun 2012].

Sifat dari putusan MK adalah bersifat final, hal tersebut dapat ditinjau dari peraturan perundang-undangan sebagai berikut,

1. Ditinjau dari pengaturan di tingkat Undang-Undang Dasar (konstitusi):

Pasal 24C ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

“(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final ...”

2. Ditinjau dari pengaturan di tingkat Undang-Undang:

a. Pasal 29 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman: “(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final ...”

b. Pasal 10 ayat (1) UU No. 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi:

“(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final ....”

Penjelasan:

“(1) Putusan Mahkamah Konstitusi bersifat final, yakni putusan Mahkamah Konstitusi langsung memperoleh kekuatan hukum tetap sejak diucapkan dan tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh. Sifat final dalam putusan Mahkamah Konstitusi dalam Undang-Undang ini mencakup pula kekuatan hukum mengikat (final and binding).”

(3)

“Secara umum putusan Putusan MK berisi pernyataan apa yang menjadi hukumnya dan sekaligus dapat meniadakan keadaan hukum dan menciptakan keadaan hukum baru. Dalam perkara pengujian UU, putusan yang mengabulkan bersifat declaratoir karena menyatakan apa yang menjadi hukum dari suatu norma undang-undang, yaitu bertentangan dengan dengan UUD 1945. Pada saat yang bersamaan, putusan tersebut meniadakan keadaan hukum berdasarkan norma yang dibatalkan dan menciptakan keadaan hukum baru (bersifat constitutief-tambahan penjelasan oleh penulis). Demikian pula dalam putusan perselisihan hasil Pemilu, putusan MK menyatakan hukum dari penetapan KPU tentang hasil Pemilu apakah benar atau tidak. Apabila permohonan dikabulkan, MK membatalkan penetapan KPU itu yang berarti meniadakan keadaan hukum dan menciptakan keadaan hukum baru.”2

Kemudian selain bersifat declaratoir dan constitutief, menurut Maruarar Siahaan (Hakim Konstitusi periode 2003-2009), putusan MK juga dimungkinkan memiliki sifat condemnatoir, hal ini diketahui dari uraian sebagai berikut,

“Menurut Maruarar Siahaan, putusan MK yang mungkin memiliki sifat condemnatoir adalah dalam perkara sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara, yaitu memberi hukuman kepada pihak termohon untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Pasal 64 ayat (3) UU MK menyatakan bahwa dalam hal permohonan dikabulkan untuk perkara sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara, MK menyatakan dengan tegas bahwa termohon tidak mempunyai kewenangan yang dipersengketakan.”3

Sebagaimana layaknya putusan badan peradilan yang lain, MK juga memiliki dua jenis putusan, yaitu:

1. Putusan sela atau putusan provisi adalah putusan yang diberikan oleh majelis hakim atas permohonan pihak yang bersengketa terkait dengan suatu hal yang berhubungan dengan perkara yang diperiksa atau atas pertimbangan hakim. Putusan sela diartikan juga sebagai putusan yang dibuat dalam dan menjadi bagian dari proses peradilan yang belum mengakhiri perkara atau sengketa. Putusan sela dapat berupa permintaan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau terkait dengan status hukum tertentu sebelum putusan akhir dijatuhkan.4

2 Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI,

Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2010), hlm. 55.

(4)

Terkait dengan putusan sela Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI memberikan penjelasan sebagai berikut,

“Dalam hukum acara MK, putusan provisi pada awalnya hanya terdapat dalam perkara sengketa kewenangan konstitusional lembaga negara. Pasal 63 UU MK menyatakan bahwa MK dapat mengeluarkan penetapan yang memerintahkan pada pemohon dan/atau termohon untuk menghentikan sementara pelaksanaan kewenangan yang dipersengketakan sampai ada putusan MK.

Pada perkembangannya, putusan sela juga dikenal dalam pengujian UU dan perselisihan hasil Pemilu. Putusan sela dalam perkara pengujian UU pertama kali dijatuhkan dalam proses pengujian UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK), perkara Nomor 133/PUU-VII/2009. Dalam proses persidangan perkara tersebut atas permohonan dari pemohon, MK memberikan putusan sela yang pada intinya menyatakan bahwa ketentuan Pasal 30 UU KPK mengenai pemberhentian pimpinan KPK yang menjadi terdakwa tidak dapat dilaksanakan terlebih dahulu sebelum ada putusan MK mengenai pengujian pasal dimaksud.

Untuk perkara perselisihan hasil Pemilu, putusan sela diatur dalam PMK Nomor 15 tahun 2008 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah; PMK Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara Dalam Perselisihan Hasil Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD; dan PMK Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pedoman Beracara Dalam Pemilihan Umum Presiden Dan Wakil Presiden. Putusan sela dalam PMK Nomor 16 Tahun 2009 dan PMK Nomor 17 tahun 2009 diartikan sebagai putusan yang dijatuhkan oleh hakim sebelum putusan akhir berupa putusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu berkaitan dengan objek yang dipersengketakan yang hasilnya akan dipertimbangkan dalam putusan akhir.

Salah satu contoh putusan sela pada perkara perselisihan hasil Pemilu adalah dalam Perkara Nomor 47-81/PHPU.A-VII/2009 yaitu Putusan Sela Nomor 47-81/PHPU.AVII/2009, tanggal 9 Juni 2009. Di dalam putusan sela tersebut MK memerintahkan kepada Termohon (Komisi Pemilihan Umum), Turut Termohon I (Komisi Pemilihan Umum Provinsi Papua) dan Turut Termohon II (Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Yahukimo) untuk melaksanakan pemungutan suara ulang pemilihan umum calon anggota DPD pada Distrik Ninia, Distrik Holuwon, Distrik Soba, … .”5

2. Putusan akhir adalah putusan yang mengakhiri suatu perkara atau sengketa yang diadili.6

(5)

Berdasarkan Pasal 48 UU No. 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, isi putusan MK harus memuat:

a. Kepala putusan berbunyi: “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”;

b. Identitas pihak, dalam hal ini terutama identitas pemohon dan termohon (jika dalam perkara dimaksud terdapat pihak termohon), baik principal maupun kuasa hukum;

c. Ringkasan permohonan;

d. Pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam persidangan; e. Pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan;

f. Amar putusan; dan

g. Hari, tanggal putusan, nama hakim konstitusi, dan panitera.

Terkait isi putusan MK Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI memberikan penjelasan sebagai berikut,

Bagian “ringkasan permohonan” dan “pertimbangan terhadap fakta yang terungkap dalam persidangan” dalam praktik putusan MK dimuat pada bagian “Duduk Perkara”. Pada bagian ini memuat ringkasan seluruh proses persidangan yang terjadi, mulai dari ringkasan permohonan, alat bukti yang diajukan, keterangan pihak terkait, keterangan saksi pemohon, keterangan ahli ahli pemohon, keterangan saksi termohon/pihak terkait, keterangan ahli termohon/pihak terkait, serta keterangan ahli dari MK (jika ada).

Pada bagian pertimbangan hukum terdiri dari dua bagian, yaitu tentang kewenangan Mahkamah dan legal standing pemohon, serta tentang pokok perkara. Pada bagian pertama, MK akan mempertimbangkan apakah permohonan merupakan kewenangan MK untuk memeriksa, mengadili, dan memutus. Jika merupakan kewenangan MK, pertanyaan selanjutnya yang dipertimbangkan adalah apakah pemohon memiliki legal standing mengajukan permohonan dimaksud.

(6)

Menurut penulis salah satu cara terbaik untuk melakukan analisis putusan MK adalah dengan memperhatikan struktur putusan MK berdasarkan Pasal Pasal 48 UU No. 8 Tahun 2011, kemudian dengan seksama memperhatikan putusan MK pada bagian “Duduk Perkara”, kemudian berlanjut pada bagian “Pertimbangan Hukum”, pertama pada sub bagian kewenangan Mahkamah dan legal standing pemohon, apabila di sub bagian kewenangan Mahkamah dan legal standing pemohon tidak terpenuhi maka hal ini akan menyebabkan permohonan pemohon tidak dapat diterima dan eksepsi termohon diterima (apabila dalam permohonan terdapat pihak termohon dan pihak termohon mengajukan eksepsi). Dalam perkara tertentu yang terikat dengan batas waktu (time frame) dalam hal pengajuan permohonan seperti perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden dan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, maka perlu juga diperhatikan mengenai Tenggang Waktu Pengajuan Permohonan, apakah tenggang waktu pengajuan permohonannya terpenuhi atau tidak? Karena apabila tidak terpenuhi, maka hal itu juga berakibat pada permohonan pemohon tidak dapat diterima dan eksepsi termohon diterima (apabila pihak termohon mengajukan eksepsi).

Selanjutnya pada bagian “Pertimbangan Hukum” di sinilah letak pendapat hukum dari Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi terhadap pokok perkara, di mana setiap dalil pemohon, dalil termohon, keterangan saksi dan ahli juga dijawab oleh majelis hakim. Pada bagian ini setiap isu hukum yang harus dipertimbangkan dan dijawab satu per satu oleh Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi sehingga menentukan amar putusan. Di akhir pertimbangan, dicantumkan kesimpulan (konklusi) dan dilanjutkan dengan amar putusan, dengan demikian akan menjadi runtut bagaimana argumentasi atau pertimbangan hukum dari Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi dalam menjatuhkan amar putusannya.

Selain cara sebagaimana penulis kemukakan di atas, dalam menganalisis suatu putusan MK penulis menyarankan untuk berkaca atau mempertimbangkan Teknik menganalisis putusan yang dikemukakan oleh Sudikno Mertokusumo, yang dijelaskannya sebagai berikut,

(7)

untuk membacanya. Itu semuanya pada hakekatnya adalah demi kepastian hukum.

Membaca putusan tidak cukup hanya membaca dictum atau amarnya saja, tetapi pertimbangan mengenai duduk perkaranya dan pertimbangan hukumnya tidak kurang pentingnya untuk dibaca, karena peristiwa konkrit merupakan dasar penemuan hukum yang harus diterjemahkan dalam bahasa hukum, kemudian dicarikan hukumnya dan akhirnya diputuskan. Bahkan membaca kaedah hukumnya saja yang telah diseleksi atau dimuat tersendiri dan diletakkan dalam suatu bingkai di dalam buku-buku kumpulan yurisprudensi tidaklah cukup. Kecuali itu membaca putusan pengadilan tidak cukup hanya membaca putusan dalam tingkat peradilan pertama saja, tetapi juga harus pula dilengkapi dengan membaca putusan dalam tingkat banding atau kasasi kalau ada.

Apa yang harus diperhatikan dalam menganalisis putusan ialah siapa para pihaknya dana apa peranannya (sebagai penggugat, tergugat, pemohon banding, terbanding dan sebagainya), peristiwa yang menjadi sengketa (untuk ini perlu dipelajari upaya-upaya hukum yang dipergunakan) kemudian penerapan hukumnya.

Pada dasarnya yang dicari dalam membaca putusan ialah kaedah hukum yang terdapat dalam putusan itu.

Membaca putusan Mahkamah Agung pada umunya sukar dan melelahkan dibandingkan membaca putusan-putusan peradilan negeri, karena pertimbangan Mahkamah Agung lebih dipusatkan pada masalah-masalah penafsiran yang sangat rinci.

Dari putusan sebagai sumber hukum hakim tidak dapat menemukan semua alasan atau argument yang dicarinya, bahkan kadang-kadang tidak dapat menemukan alasan-alasan yang dicarinya.

Perlu diketahui bahwa putusan itu tidak secara langsung dijabarkan dari peraturan-peraturan yang bersangkutan. Putusan itu dibentuk dari pelbagai penilaian dan sikap hakim. Pemecahannya untuk sebagian besar tergantung dari motif-motif etis, kesusliaan, religius, politik, ekonomi dan sebagainya.”7

Putusan MK sebagai Yurisprudensi Hukum

Dinamika hukum di Indonesia di era reformasi pasca amandemen UUD 1945 yang memunculkan ide dibentuknya Mahkamah Konstitusi, menandai perubahan era supremasi politik menjadi supremasi hukum, yaitu perubahan dalam ketatanegaraan Indonesia dari supremasi MPR menjadi supremasi konstitusi. Agar konstitusi tersebut benar-benar dilaksanakan dan tidak dilanggar maka harus dijamin bahwa ketentuan hukum di bawah konstitusi tidak bertentangan dengan konstitusi itu sendiri dengan memberikan wewenang pengujian serta membatalkan jika memang ketentuan hukum dimaksud bertentangan dengan konstitusi, hal ini menjadi menjadi

(8)

penting karena aturan hukum berupa undang-undang itulah yang menjadi dasar penyelenggaraan negara.8

Pada umumnya masyarakat memahami bahwa putusan Mahkamah Konstitusi yang mengandung kaedah hukum9 yang bisa merubah suatu peraturan

perundang-undangan adalah putusan Mahkamah Konstitusi dalam pelaksanaan kewenangan pengujian undang-undang terhadap undang-undang dasar atau konstitusi,10 padahal

Mahkamah Konstitusi dalam menjalankan kewenangannya memeriksa, mengadili, dan memutus perkara tertentu berdasarkan pertimbangan konstitusional, dengan sendirinya setiap putusan MK merupakan penafsiran terhadap konstitusi.11

Berdasarkan latar belakang tersebut, setidaknya MK memiliki 5 (lima) fungsi yang melekat pada keberadaan MK dan dilaksanakan melalui pelaksanaan kewenangannya12, yaitu:

a. MK sebagai pengawal konstitusi (the guardian of the constitution);

b. MK sebagai penafsir final konstitusi (the final interpreter of the constitution); c. MK sebagai pelindung hak asasi manusia (the protector of human rights); d. MK sebagai pelindung hak konstitusional warga negara (the protector of

citizen’s constitutional rights); dan

e. MK sebagai pelindung demokrasi (the protector of democracy).

Dengan demikian putusan MK ada baiknya dilihat secara keseluruhan bukan hanya dilihat putusan MK tentang perkara pengujian undang-undang saja, melainkan juga dilihat dalam perkembangan praktik peradilan di MK terkait putusan MK dalam melaksanakan kewenangan-kewenangannya yang lain.

8 Op. Cit. Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI, hlm. 8.

9 Menurut Sudikno Mertokusumo dalam Buku “Penemuan Hukum Suatu Pengantar” halaman 11, kaedah hukum dalam arti sempit adalah nilai yang terdapat dalam peraturan konkrit.

10 Perlu diingat juga bahwa kewenangan MK dalam pengujian undang-undang meliputi uji formil dan uji materiil undang-undang terhadap UUD atau konstitusi.

11 Op. Cit. Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI, hlm. 10.

12 MK sendiri berdasarkan atas Pasal 24C UUD 1945 memiliki kewenangan sebagai berikut: 1. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar;

2. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar;

3. Memutus pembubaran partai politik;

4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum;

(9)

Putusan perkara pengujian undang-undang di MK memiliki dinamika yang menunjukkan bahwa MK menganut paham hukum progresif. Di dalam Pasal 56 UU MK membatasi isi amar putusan MK terkait pelaksanaan kewenangan pengujian undang-undang pada tiga jenis amar saja, yaitu:13

a. Permohonan tidak dapat diterima (Niet Ontvantkelijk Verklaard); b. Permohonan dikabulkan; dan

c. Permohonan ditolak.

Pembatasan isi amar putusan MK tersebut bahkan diperkuat dengan ketentuan Pasal 57 ayat (1), ayat (2), dan ayat (2a) UU MK,

“(1) Putusan Mahkamah Konstitusi yang amar putusannya menyatakan bahwa materi muatan ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang berrtentangan dengan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, materi muatan ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

(2) Putusan mahkamah Konstitusi yang amar putusannya menyatakan bahwa pembentukan undang-undang dimaksud tidak memenuhi ketentuan pembentukan undang-undang berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, undang-undang tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

(2a) Putusan Mahkamah Konstitusi memuat:

a. amar selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2); b. perintah kepada pembuat undang-undang; dan

c. rumusan norma sebagai pengganti norma dari undang-undang yang dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.”14

Dalam praktik peradilan MK, dalam perkembangannya, terdapat pula amar putusan lainnya, yaitu:

a. Konstitusional Bersyarat (Conditionally Constitutional);

Contoh: Putusan Nomor 10/PUU-VI/2008 tanggal 1 Juli 2008 perihal Pengujian UU Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD terhadap UUD Negara RI Tahun 1945. Dalam konklusi putusan dinyatakan bahwa: “pasal 12 dan pasal 67 UU 10/2008

13 Indonesia. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Psl. 56.

(10)

“konstitusional bersyarat” (conditionally constitutional), maka pasal-pasal a quo harus dibaca/ditafsirkan sepanjang memasukkan syarat domisili di provinsi yang diwakilinya bagi calon anggota DPD;”15

b. Tidak Konstitusional Bersyarat (Conditionally Unconstitutional);

Contoh: Putusan Nomor 101/PUU-VII/2009 perihal Pengujian UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat terhadap UUD Negara RI Tahun 1945. Dalam konklusi putusan dinyatakan bahwa: “Pasal 4 ayat (1) UU Advokat adalah tidak konstitusional bersyarat (conditionally unconstitutional) sepanjang tidak dipenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam Amar Putusan ini;16

c. Penundaan Keberlakuan Putusan;

Contoh: Putusan Perkara Nomor 016/PUU-IV/2006 perihal Pengujian UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terhadap UUD Negara RI Tahun 1945;17

d. Perumusan Norma dalam Putusan.

Contoh: Putusan Perkara Nomor 072-073/PUU-II/2004 perihal Pengujian UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah terhadap UUD Negara RI Tahun 1945. Dalam bagian Mengadili dalam putusan tersebut, Mahkamah Konstitusi menyatakan bagian tertentu dalam pasal-pasal yang diajukan permohonan sebagai bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Akibat dari penghapusan bagian tertentu tersebut, maka pasal-pasal tersebut menjadi sebuah norma baru yang berbeda dengan norma sebelumnya, misalnya Pasal 57 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004 mengatur sebagai berikut “Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggungjawab kepada DPR. Dengan Putusan Mahkamah Konstitusi maka pasal tersebut menjadi: “Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah diselenggarakan oleh KPUD.”18

Yurisprudensi menurut Sudikno Mertokusumo mengandung beberapa pengertian. Mengenai hal ini Sudikno Mertokusumo berpendapat sebagai berikut,

15 Op. Cit. Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI, hlm. 142-143.

(11)

“Yurisprudensi dapat berarti setiap putusan hakim. Yurisprudensi dapat pula berarti kumpulan putusan hakim yang disusun secara sistematis dari tingkat peradilan pertama sampai pada tingkat kasasi dan yang pada umumnya diberi annotatie oleh pakar di bidang peradilan. Selanjutnya yurisprudensi diartikan pandangan atau pendapat para ahli yang dianut oleh hakim dan dituangkan dalam putusannya. Di samping itu di lingkungan peradilan dikenal apa yang disebut yurisprudensi tetap. Apabila suatu kaedah atau ketentuan dalam suatu putusan kemudian diikuti secara konstan atau tetap oleh para hakim dalam putusannya dan dapat dianggap sebagai keyakinan hukum umum, maka dikatakan bahwa terhadap permasalahan hukum tersebut telah terbentuk yurisprudensi tetap. Di “putus-ulangnya” kaedah hukum dalam suatu putusan oleh suatu yurisprudensi tetap akan memperkuat wibawa kaedah hukum tersebut. Sebagai contoh yurisprudensi tetap dapat disebut putusan HR 31 Januari 1919. Perlu kiranya mendapat perhatian bahwa “jurisprudence” berbeda artinya dengan yurisprudensi Jurisprudence berarti ilmu hukum.”19

Selanjutnya Sudikno Mertokusumo memberikan penjelasan mengenai putusan pengadilan tidak seluruh bagian mempunyai kekuatan mengikat, sehingga muncul pertanyaan bagian manakah dari putusan itu yang mempunyai kekuatan mengikat? Untuk menjawab pertanyaan tersebut menurut Sudikno Mertokusumo perlu diketahui bahwa putusan hakim itu merupakan penyelesaian perkara, tetapi sekaligus juga merupakan penetapan kaedah hukum untuk waktu yang akan datang.20 Mengenai

hal tersebut Sudikno Mertokusumo menjelaskan sebagai berikut,

“Sebagai penyelesaian perkara maka putusan itu hanya mengikat atau berlaku bagi para pihak atau terhukum saja, dan terutama bagian diktumlah yang mengikat para pihak atau terhukum, baik yang deklaratif maupun yang dispositif: ini berarti bahwa para pihak harus mematuhi dan melaksanakan bunyi diktum.

Putusan sebagai penetapan kaedah hukum untuk waktu yang akan datang merupakan pedoman bagi hakim lain untuk memutus perkara yang serupa dengan yang diputus oleh putusan tersebut, di kemudian hari (stare decisis). Di dalam sistem Anglo-Saks kecuali bagian-bagian yang telah dikemukakan di atas, suatu putusan dapat mengandung pandangan atau pertimbangan yang sifatnya sepintas lalu, tidak relevan, yang tidak secara langsung mengenai pokok perkara yang diajukan (obiter dictum), dan pandangan atau pertimbangan yang mengenai pokok perkara dan yang secara langsung (ratio decidendi). Jadi suatu putusan dapat mengandung pertimbangan atau alasan yang tidak secara langsung mengenai pokok perkara. Apabila putusan dilihat sebagai penetapan kaedah hukum, maka yang mengikat ialah pertimbangan atau alasan yang secara langsung mengenai pokok perkara, yaitu kaedah hukum yang merupakan dasar dictum putusan (ratio decidendi).

(12)

Pertimbangan-pertimbangan mengenai peristiwa konkrit atau pertimbangan-pertimbangan hukum yang tidak relevan (obiter dictum) tidaklah mengikat.”21

Meskipun menurut Sudikno Mertokusumo obiter dictum tidaklah mengikat secara hukum sebagai suatu kaedah hukum dan hanya ratio decidendi yang mengikat secara hukum, namun menurut Satjipto Rahardjo obiter dictum tetap dianggap penting karena bagaimanapun obiter dictum itu mempunyai nilainya sendiri dalam rangka keseluruhan proses penerapan yang berjalan, terlebih lagi bagi penelitian dan ilmu hukum sendiri. Mengenai hal ini, Satjipto Rahardjo memberi penjelasan sebagai berikut,

“… . Ternyata, tidak semua pernyataan yang dikeluarkan hakim dalam proses penerapan hukum itu bisa digolongkan ke dalam keputusan hakim dalam arti yang sesungguhnya. Di sini kita perlu membedakan antara ratio decidende dengan obiter dicta. Yang pertama adalah ketentuan hukum atau proposisi yang diciptakan oleh pengadilan atau yang oleh pengadilan dianggap sebagai ketentuan yang harus diperlakukan terhadap kasus yang dihadapi. Inilah yang disebut sebagai hukum yang diciptakan oleh pengadilan dalam artian sebenarnya itu.

Sementara itu, dalam proses penerapan hukum tersebut, seorang hakim juga bisa menyatakan berbagai pendapat yang tidak langsung berhubungan dengan persoalan yang dihadapi. Ia misalnya, akan memberikan ilustrasi mengenai penalaran hukum pada umumnya dan menyebut situasi yang bersifat hipotesis dan hukum yang seharusnya dikenakan terhadap situasi tersebut. Oleh karena masalah yang disebut-sebut itu tidak langsung berhubungan dengan persoalan yang dihadapi antara pihak yang berkepentingan, adalah tidak adil kalau kepadanya diberikan bobot yang sama dengan keputusan yang sesungguhnya. Tetapi diakui, bahwa bagaimanapun obiter dicta itu mempunyai nilainya sendiri dalam rangka keseluruhan proses penerapan yang berjalan, terlebih lagi bagi penelitian dan ilmu hukum sendiri.”22

Dalam perkembangan kekinian terdapat disertasi yang dikemukakan oleh Janedjri M. Gaffar pada 18 Mei 2013 di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro yang berjudul “Rekontruksi Kewenangan Mahkamah Konstitusi dan Penanganan Perkara Pemilihan Umum untuk Mewujudkan Pemilihan Umum yang Demokratis dalam Perspektif Hukum Progresif”, yang selanjutnya diangkat ke dalam beberapa buku, salah satunya buku karangan Janedjri M. Gaffar yang berjudul “Hukum Pemilu Dalam Yurisprudensi Mahkamah Konstitusi”, yang menarik adalah Janedjri M. Gaffar

21 Ibid., hlm. 53-54.

(13)

mengemukakan konsep-konsep hukum yang dibentuk MK dalam mengadili perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU). Ia berpendapat bahwa konsep-konsep hukum yang terbentuk dalam putusan perkara PHPU tidak hanya berlaku konkret yang diputus final dan mengikat saja, tetapi juga akan menjadi rujukan selanjutnya. Di dalam bukunya Janedjri M. Gaffar mengemukakan putusan PHPU MK yang mengandung judicial review yang olehnya disebut pseudo judicial review dan tafsir MK atas kewenangannya sehingga timbul berbagai model putusan antara lain putusan yang memerintahkan pemungutan suara ulang dan penghitungan suara ulang.23 Menurut hemat penulis, apa yang disampaikan oleh Janedjri M. Gaffar

sebagai putusan PHPU MK yang mengandung judicial review yang olehnya disebut pseudo judicial review dan tafsir MK atas kewenangannya dalam ranah akademis adalah sesuatu hal yang didukung oleh Satjipto Rahardjo, sebab perkara PHPU itu pada pokoknya mengenai perselisihan jumlah suara yang sah yang ditetapkan dengan Keputusan KPU, namun Mahkamah Konstitusi di dalam pertimbangan hukumnya ternyata juga membahas hal-hal yang tidak terkait langsung dengan penghitungan jumlah suara yang sah menurut KPU dan bagaimana faktanya yang terungkap di persidangan sebagai objek perkara (obiter dictum). Selain itu menurut penulis, setiap pertimbangan hukum di dalam putusan MK memiliki nilai tersendiri karena merupakan suatu argumentasi hukum, sebagaimana diungkapkan oleh Philipus M. Hadjon dan Tatiek Sri Djamiati dalam buku “Argumentasi Hukum” terdapat dua kekhususan dalam argumentasi hukum, yaitu:24

1. Tidak ada hakim ataupun pengacara, yang mulai berargumentasi dari keadaan hampa. Argumentasi hukum selalu dimulai dari hukum positif. Hukum positif bukan merupakan suatu keadaan yang tertutup ataupun statis, akan tetapi satu perkembangan yang berlanjut.

Dari ketentuan ketentuan hukum positif, yurisprudensi akan menentukan norma-norma baru. Orang dapat bernalar dari ketentuan hukum positif dari asas-asas yang terdapat dalam hukum positif untuk mengambil keputusan-keputusan baru.

23 Janedjri M. Gaffar, Hukum Pemilu Dalam Yurisprudensi Mahkamah Konstitusi, (Jakarta: Konstitusi Press (Konpress), Cet 1, November 2013) hlm. ix.

(14)

2. Kekhususan yang kedua dalam argumentasi hukum atau penalaran hukum berkaitan dengan kerangka prosedural, yang di dalamnya berlangsung argumentasi rasional dan diskusi rasional.

Dengan demikian menurut penulis setiap pertimbangan-pertimbangan hukum di dalam putusan MK pada intinya memiliki nilai tersendiri untuk dianalisis dan diperdebatkan di dalam forum akademis maupun dijadikan sebagai dasar argumentasi hukum di dalam perdebatan suatu proses peradilan lainnya sehingga dapat menjadi sarana dan masukan yang berguna bagi pembangunan hukum nasional Indonesia.

***

Daftar Pustaka Buku

Hadjon, Philipus M. dan Tatiek Sri Djamiati, Argumentasi Hukum, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Cetakan keenam, Januari 2014.

Gaffar, Janedjri M., Hukum Pemilu Dalam Yurisprudensi Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Konstitusi Press (Konpress), Cet 1, November 2013.

Mertokusumo, Sudikno, Penemuan Hukum: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, Cetakan Keenam, 2009.

Rahardjo, Satjipto, Imu Hukum, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, Cetakan Ke VII, 2012.

Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKRI, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2010.

Peraturan Perundang-undangan

Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Indonesia. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi. Indonesia. Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

Referensi

Dokumen terkait

Dasar Pertimbangan Hukum Mahkamah Konstitusi yang Memberlakukan kembali Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dalam Putusan Nomor 28/PUU-XI/2013 dan

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 92/PUU-X/2012 Tentang Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Dalam Mengajukan Rancangan Undang-Undang. Peraturan Mahkamah

Bahwa dengan dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat pasal 268 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana oleh Putusan Mahkamah Konstitusi

Proses Penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilukada Kota Batu Tahun 2012 Oleh Mahkamah Konstitusi (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 76/PHPU.D-X/2012 Tentang Pemilukada Kota Batu)

Akibat hukum dari putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28/PUU-XI/2013 yang mengakibatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian bertentangan dengan

Dalam Pasal 15 ayat (2) Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia sebagaimana telah dimaknai oleh Mahkamah Konstitusi dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

Bahwa dengan dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat pasal 268 ayat 3 Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor:

PENGARUH PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN TINJAUAN PUTUSAN MAHMAKAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010 DAN PUTUSAN