KURIKULUM 2013 DAN PROFESIONALISME GURU UNTUK PERBAIKAN KUALITAS PENDIDIKAN
Oleh: Zulrahmat
A. Pendahuluan
B. Gambaran Pendidikan Nasional
Pendidikan dipandang sebagai salah satu investasi yang sangat menentukan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sejauh ini pembangunan pendidikan telah menunjukkan hasil yang cukup signifikan bagi pembangunan nasional. Namun demikian kemajuan tersebut dirasakan belum optimal karena masih terdapat kesenjangan yang sangat menonjol utamanya jika dilihat dari aspek wilayah pedesaan dan perkotaan, Jawa dan luar jawa, atau wilayah barat dan timur Indonesia, adanya ketimpangan pemenuhan sarana dan prasarana, mahalnya biaya pendidikan, diskriminasi kesempatan mengenyam pendidikan yang masih mengkotak-kotakkan antara kaya dan miskin, maupun kualitas sumber daya manusia pendidikan sendiri. Dualisme penyelenggaraan pendidikan oleh Kementerian Agama untuk Madrasah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk Sekolah, belum lagi dengan rencana kebijakan privatisasi pendidikan yang dikhawatirkan akan mengarah ke kapitalisme pendidikan, sampai pada tingginya pengaruh politik dalam dunia pendidikan menjadi bumbu pelengkap kompleksnya permasalahan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.
C. Kurikulum sebagai Perbaikan Kualitas Pendidikan
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum, yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sebagai mana diketahui, pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan dalam tahun pelajaran 2013/2014 akan segera memberlakukan kurikulum 2013, pemerintah perlu masyarakat pendidikan, merupakan prakondisi menggembirakan terhadap strategi pembangunan pendidikan nasional jangka panjang.
mengenai fungsi, peran, dan konteks kurikulum akan membantu para pemangku kepentingan sistem pendidikan nasional (baik pendukung maupun pengkritik) bisa bekerja sama mencapai tujuan bersama bangsa ini melalui pembangunan pendidikan, sambil tetap menghormati ruang untuk bisa ”sepakat untuk berbeda dan sepakat untuk tidak sepakat”.
Sebagai acuan terlaksananya pendidikan nasional, kurikulum adalah salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi kesuksesan proses pembelajaran. Namun sebaik apapun rancangan yang dimuat didalam kurikulum tidak akan memberikan dampak yang maksimal jika tidak didukung oleh kesiapan dan kemauan seluruh stakeholder yang ada di dunia pendidikan tersebut.
D. Peningkatan Profesionalisme Guru
Kualitas profesionalisme guru kita ibarat, Titian reot yang lemah, namun tidak ada pilihan lain harus dilewati. Untuk mengantarkan peserta didik pada tuntutan menyeberangi jurang dengan beban kompetensi yang harus dimilikinya hanya titian reot yang sudah lemah ini harapan mereka satu-satunya. Mengapa titian reot itu tidak pernah terpikirkan untuk diperbaiki, secara perlahan dan terus menerus agar menjadi jembatan yang kuat, sehingga bisa mengantarkan peserta didik sekaligus beban kompetensi yang harus ada padanya sampai pada tujuannya.
kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan, memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya, dan memiliki organisasi profesi yang berbadan hokum.
Sangat ironis dengan kondisi guru kita di lapangan, banyak di antara guru mengajarkan mata pelajaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang dimilikinya, tidak memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas, hal ini diperparah dengan tidak maksimalnya program pencerdasan guru, kurangnya dukungan pemerintah pusat dan daerah memberikan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.
Akhirnya, tuntutan profesionalisme guru harus berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan yang layak sebagai penghargaan bagi usaha dan kerja keras mereka dalam meningkatkan kinerja. Usaha pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru dengan sertifikasi melalui portofolio, PLPG, atau pendidikan profesi guru, perlu ditinjau kembali, tujuannya adalah untuk mengurangi praktek-prakterk curang dalam pelaksanaannya apa lagi jika kebijakan tersebut ditujukan untuk menghambat pemberian kesejahteraan dengan alasan kurangnya dana dalam merealisasikan kesejahteraan. Hal ini akan sangat mencederai niat guru dalam mencerdaskan anak bangsa.
E. Kesimpulan
Kebijakan pendidikan yang diputuskan oleh pemerintah seharusnya bisa menjamin terlaksananya penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Kebijakan yang akan diambil tersebut mempertimbangkan berbagai aspek yang bisa mempengaruhinya, misalnya aspek budaya, ekonomi, pemerintahan, bahkan aspek sosial dan politik. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan transdisiplin dalam mengurai permasalahan sekaligus mencarikan solusi yang tepat untuk mengatasinya.
Perubahan kurikulum memang perlu dilakukan jika pendidikan akan berubah kea rah yang lebih baik, Namun sebaik apapun rancangan yang dibuat dalam perubahan sebuah kurikulum tidak akan memberikan dampak yang maksimal jika tidak didukung oleh kesiapan dan kemauan untuk berubah ke arah yang lebih baik dari seluruh stakeholder yang ada di dunia pendidikan, termasuk peningkatan profesionalisme guru.