Meningkatkan Kesadaran Multikultural Konselor
Thrisia Febrianti
1, Susilawati Susanto
2, Mungin Eddy Wibowo
3Prodi Bimbingan dan Konseling, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
[email protected]
[email protected]
Abstrak : Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengkaji secara teoritik mengenai kesadaran multikultural seorang konselor.
Kesadaran
multikultural adalah tugas mediator dalam
membuka komunikasi antara dua subjek
yang berinteraksi dan tidak mengenal satu
sama lain dan tinggal dalam budaya dan
bahasa yang berbeda. Proses
intervensi yang
digunakan untuk meningkatkan kesadaran
pribadi, telah terbukti berdampak pada
kesadaran multikultural, pengetahuan, dan
keterampilan.
Adapun hambatan dalam meningkatkan kesadaran multikultural konselor antara lainpenggunaan bahasa dalam
penyediaan layanan konseling.
Diharapkan artikel ini memberikan perspektif untuk meningkatkan kesadaran multikultural konselor dan meningkatkan efektifitas program pelatihan multikultural konselor.Kata Kunci : kesadaran, multikultural, konselor.
PENDAHULUAN
Budaya terdiri dari semua hal-hal yang dapat dipelajari untuk melakukan keyakinan, menghargai, dan menikmatinya. Hal itu adalah totalitas dari cita-cita, keyakinan, keterampilan, alat, adat istiadat, dan lembaga-lembaga dimana
setiap anggota masyarakat lahir. Sementara multikultural adalah sumber kekuatan, proses negosiasi keanggotaan kelompok yang dapat menyebabkan masalah bagi banyak minoritas.
Faktor budaya sangat penting untuk diagnosis, pengobatan, dan perawatan. membentuk keyakinan yang berhubungan dengan kesehatan, perilaku, dan nilai-nilai. Namun klaim besar tentang nilai kompetensi budaya untuk perawatan professional tidak didukung oleh penelitian evaluasi yang kuat, yang menunjukkan bahwa perhatian sistematis untuk budaya benar-benar meningkatkan layanan klinis (Kleinman & Benson, 2006).
Kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang semakin meningkat. Kompetensi penting, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Di dunia kontemporer, batasan tidak memiliki jalur tetap, setidaknya dalam arti ekonomi, budaya dan bahasa. Kompetensi multikultural konselor penting bagi pengayaan individu dan kemampuan komunikatif tetapi juga untuk menyediakan pendidik masa depan, profesional, dan pemimpin dengan kemampuan yang diperlukan untuk mempromosikan kolaborasi multikultural (Sinicrope, Norris & Watanabe, 2007).
berbeda. Kode simbolis dari mereka yang terdidik dalam satu konteks budaya mengacu pada nilai dan asumsi yang berbeda (Stewart, Danelian & Foster, 2002), mereka mewujudkan pandangan berbeda tentang manusia dan dunia.
Definisi kesadaran diri adalah kapasitas untuk memusatkan perhatian pada diri sendiri, dan mengevaluasi diri sendiri apakah dalam penegasan positif atau negatif (Silvia & O'Brien, 2004). Dalam profesi konseling, kesadaran diri dikaitkan dengan etika reflektif pengambilan keputusan, pedagogi pelatihan konseling, dan konseling (Evans, Levitt,& Henning, 2012). Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui kesadaran diri yang dirasakan dan kompetensi multikultural konselor.
Budaya dapat berfungsi sebagai wahana perubahan dalam konseling. Multikulturalisme dapat membantu konselor keluar dari asumsi mereka (Burnett, Long & Horne, 2005; Pedersen, 1991; Sue dan Sue, 2008), memahami nilai mereka sendiri (Reynolds, 2001), dan mendapatkan perspektif dan berempati (Chung & Bemak, 2002; West-Olatunji, 2010).
PEMBAHASAN
Pengembangan Kesadaran Budaya
Menurut Sue & Sue (2008) ketika konselor berhadapan langsung dengan rasisme budaya mereka sendiri, mungkin pengalaman yang sangat meresahkan. Kebanyakan orang tidak sengaja mendiskriminasikan orang lain. Perasaan marah, bersalah, sedih, atau bingung tentang partisipasi pribadi dalam rasisme budaya mungkin terjadi. Namun, perasaan ini adalah tanda positif dalam banyak hal. Pertama, merupakan indikasi bahwa konselor tidak masuk pada penolakan pengaruh rasisme budaya, yang dipelajari termasuk seluruh keberadaannya, dan perubahan emosional dan kognitif.
Kedua, konselor bisa menggunakan dirinya sendiri sebagai sumber empati baru bagi
klien. Ketiga, efek rasisme budaya, idealnya dialami oleh konselor dalam situasi yang lebih terkontrol, seperti sesi lokakarya, kelas, atau pelatihan.
Langkah kedua dalam mengembangkan kesadaran budaya adalah saat konselor mulai meningkatkan apresiasi terhadap perbedaan budaya. Allport (1954) (dalam Sue & Sue, 2008) berpendapat bahwa kontak dengan anggota kelompok minoritas berakibat pada meningkatnya pengetahuan dan pemahaman sehingga menjadi lebih akurat dan menumbuhkan kepercayaan yang stabil tentang kelompok minoritas dan akhirnya mengurangi prasangka.
Seorang konselor dapat mencari orang dan pengalaman dalam kehidupan pribadi yang meningkatkan eksistensinya terhadap budaya lain. Arredondo (1999) (dalam Sue & Sue, 2008) merekomendasikan agar konselor menjadi peserta aktif di luar pengaturan konseling untuk memperluas perspektif minoritas mereka.
Klien yang berbeda secara kultural dalam konseling untuk menerima dan membantu, bukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengalaman konselor. Lebih tepat pada saat ini adalah agar konselor menjadi professional dalam kegiatan pengembangan, kursus, dan lokakarya dengan fokus budaya, dan untuk berkonsultasi dengan rekan kerja dengan latar belakang budaya yang berbeda agar profesional.
Sedangkan menurut Isom, Evans, & Burkhalter (2015) intervensi proses konseling multikultural yang paling banyak dilakukan dan efektif untuk meningkatkan kesadaran diri dalam ranah intervensi yaitu: 1. penggunaan refleksi diri dalam pelatihan konselor dan memberikan wawasan tentang proses pengembangan kesadaran diri dalam pelatihan konselor. 2. eksplorasi kritis mengenai peristiwa yang berkontribusi terhadap pengembangan kompetensi konselor.
Multikultural dalam Profesi Konseling
Fokus yang paling mencolok dari multikulturalisme adalah keunikan dan konsep kelompok yang terpisah yang memfasilitasi perhatian pada perbedaan individual. Oleh karena itu, konseling multikultural dapat dilihat secara umum sebagai konseling dimana konselor dan kliennya berbeda ( Gladding, 2012).
Proses konseling multikultural di sekolah harus terwujudkan dalam program konseling perkembangan komprehensif yang sesuai dengan latar belakang budaya yang berberda-beda dari siswa di sekolah. Tantangan bagi konselor profesional yang bekerja di sekolah adalah mereka harus mencapai tingkat kompetensi kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan untuk membuat perbedaan dalam kehidupan semua siswa menjadi seragam.
Hays dan McLeod (2010) mendefinisikan pandangan dunia sebagai, konseptualisasi individu tentang hubungan mereka dengan dunia. Hal ini berperan penting dalam konseling sekolah dengan membantu konselor mengerti bagaimana siswa melihat dunia selain bagaimana konselor melihat dunia.
Seorang konselor menyebutkan bahwa untuk memberikan intervensi khusus budaya multikultural di sekolah, konselor mencari pelatihan khusus budaya untuk diberikan layanan konseling. Peserta mengembangkan
apresiasi untuk memahami pandangan dunia klien mereka, dan menemukan nilai dalam belajar lebih banyak tentang budaya klien. Inisiatif tersebut dirujuk di Pedersen (2000) sebagai hasil yang diinginkan dari pelatihan kompetensi multikultural, dan Ibrahim (1991) menunjukkan hal itu Pandangan dunia adalah variabel penting yang membuat intervensi pengetahuan dan budaya menjadi berarti.
Meningkatkan Kesadaran Multikultural Konselor
Menurut penelitian Silvia dan Phillips (2004) menunjukkan bahwa kesadaran diri, mengenai pandangan internal, berdampak positif pada kepentingan kinerja masa depan seseorang. Selain itu, kesadaran diri seseorang, positif atau negatif dalam sesi konseling dapat mempengaruhi penerapan keterampilan konseling (Fauth & Williams, 2005).
Menurut Sue & Sue (2008) terdapat tiga kompetensi multikultural yang harus dimiliki oleh konselor, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kesadaran konselor sendiri berdasarkan asumsi, nilai, dan bias
Dalam konseling atau terapi multikultural menekankan pentingnya tidak membiarkan bias, nilai-nilai diri sendiri, atau menyerah dengan kemampuan kita untuk bekerja dengan klien.
2. Pemahaman pandangan dunia dari klien dengan budaya beragam
3. Mengembangkan strategi intervensi dan teknik yang tepat
Efektivitas kemungkinan besar ditingkatkan ketika konselor menggunakan terapi modalitas dan mendefinisikan tujuan yang konsisten dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai budaya dari klien.
Hambatan dalam Meningkatkan Kesadaran Multikultural Konselor
Adapun hambatan dalam meningkatkan kesadaran multikultural konselor antara lain penggunaan bahasa dalam penyediaan layanan konseling (Vedantam, 2005 dalam Sue & Sue, 2008). Ketimpangan ini terjadi dalam sistem pendidikan kita dan juga dalam pelayanan konseling. Latar belakang bilingual (penggunaan dua bahasa) dari kebanyakan orang Asia dapat menyebabkan banyak kesalahpahaman. Hal ini berlaku bahkan jika anggota kelompok minoritas tidak dapat berbicara bahasa ibunya sendiri.
Studi awal mengenai bahasa (ME Smith, 1957; ME Smith & Kasdon, 1961dalam Sue & Sue, 2008) menunjukkan bahwa jika seseorang hanya datang dari latar belakang dimana salah satu atau kedua orang tua berbicara menggunakan bahasa ibu mereka.
Untuk konselor yang berasal dari latar belakang kelas menengah ke atas, seringkali sulit untuk berhubungan dengan keadaan dan kesulitan yang mempengaruhi klien yang hidup dalam kemiskinan.
Atas dasar pengalaman ini Giele (2008), mengidentifikasi lima hambatan dalam melaksanakan konseling multikultural:
1. Klien datang mencari nasihat dan arahan; konselor mengharapkan klien mencari dan mendapat solusinya sendiri untuk masalah yang dialami.
2. Klien kembali kepada anggota keluarganya untuk bantuan dan saran dalam pengambilan keputusan; terapis mendorong individualitas
dan otonomi dan mempromosikan pilihan pribadi dan keputusan.
3. Klien mengumpulkan nasihat, saran, dan solusi dari para tetua dalam dirinya atau keluarganya; konselor menekankan keahlian teknis sebagai penentangan status sosial berdasarkan reputasi dan senioritas.
4. Klien sering mengekspresikan kesusahannya dalam hal somatik; konselor memfokuskan pada pikiran dan perasaan klien.
5. Klien berharap pada konselor dapat menyelesaikan masalahnya dengan cepat; konselor memahami bahwa penyelesaian masalah dilakuakan secara bertahap.
PENUTUP
Kesimpulan dalam artikel ini adalah pentingnya bagi konselor untuk meningkatkan kesadaran pribadi, yang mana terbukti memiliki dampak pada kesadaran multikultural, pengetahuan, dan keterampilan. Diharapkan artikel ini memberikan perspektif untuk meningkatkan kesadaran multikultural konselor dan meningkatkan efektifitas program pelatihan multikultural konselor.
Disarankan agar konselor dapat mempertimbangkan pentingnya nilai konseling multikultural. Konselor perlu mengeksplorasi dan merenungkan konsep seperti pandangan dunia dan bagaimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi praktik mereka.
REFERENSI
Burnett, J. A., Long, L. L., & Horne, H. L. (2005). Service learning for counselors: Integrating education, training, and the community. Journal of Humanistic Counseling, Education and Development, 44, 158-167.
Counseling and Development, 80, 154-159.
Evans, A. M., Levitt, D., & Henning, S. (2012). The application of ethical decisionmaking and self-awareness in the classroom. The Journal of Counselor Preparation and Supervision, 41(4:2), 41–51.
Fauth, J., & Williams, E. N. (2005). The in-session self-awareness of therapist-trainees: Hindering or helpful?. Journal of Counseling Psychology, 52(3), 443–447.
Giele, Uwe. P; et all. 2008. Principles of Multicultural Counseling and Theraphy. London. Routledge-Taylor &Francis Group.
Gladding, Samuel. T. 2012.Konseling Profesi Yang Menyeluruh. Jakarta: Indeks.
Isom, Evans, & Burkhalter. 2015. Examining Self-Awareness and Perceived
Multicultural Competency:
Recommendations for Practitioners and Educators.VISTAS.
Kleinman, A., & Benson, P. 2006. Anthropology in the clinic: The problem of cultural competency and how to fix it. PLoS Medicine, 3 (294).
Lee. Wanda, L.M; et all. 2007. Introduction to Multicultural Counseling for Helping Professionals. London: Routledge-Taylor & Fracis Group.
Pedersen, P. (1991). Multiculturalism as a generic approach to counseling. Journal of Counseling and Development, 70, 6-12.
Reynolds, A. L. (2001). Multidimensional cultural competence: Providing tools for transforming psychology. The Counseling Psychologist, 29, 833-841.
Silvia, P. J., & O'Brien, M. E. (2004). Self-awareness and constructive functioning:
Revisiting “the human dilemma.” Journal of Social and Clinical Psychology, 23(4), 475–489.
Silvia, P. J., & Phillips, A. G. (2004). Self-awareness, self-evaluation, and creativity. Personality and Social Psychology Bulletin, 30(8), 1009–1017.
Sinicrope, C, Norris, J., & Watanabe, J. 2007. Understanding and Assessing Intercultural Competence: A Summary of Theory, Reseach, and Practice (Technical Report for the Foreign Language Program Evaluation Project). Second Language Studies, 26 (1), 1-58.
Stewart, E.C., Danelian, J., & Foster, R.J. 2002. Assunti culturali evalori. In M. Bennett (Ed.) Principi di comunicazione interculturale. Milano: Franco Angeli, 122-136.
Sue, D. W., & Sue, D. (2008). Counseling the culturally diverse: A theory and practice. (5th ed). New York: John Wiley & Sons. Torres-Rivera, E., Phan, L. T., Maddux, C.,