Pengertian Sejarah Pendidikan Islam

17  26 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN PADA MASA AWAL ISLAM

MAKALAH

Diajukan Untuk Bahan Seminar

Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Sutrisno, M.A

Dr. Sopiah, M.Ag

Disusun oleh:

KUDUNG ISNAINI 2052113023

PROGRAM PASCASARJANA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN PEKALONGAN

(2)

PENDIDIKAN PADA MASA AWAL ISLAM

I. PENDAHULUAN

Berbicara mengenai masa atau waktu tidak bisa lepas dari membicarakan mengenai sejarah. Dalam bahasa Arab sejarah disebut dengan “tarikh” yang berarti “masa atau waktu”. Dalam bahasa Inggris sejarah dikenal dengan sebutan “History” yang berarti uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian masa lampau.1 Dalam kamus-kamus bahasa Inggris dijelaskan bahwa sejarah

adalah “peristiwa-peristiwa masa lampau”. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti sejarah adalah asal-usul (keturunan) silsilah; atau kejadian dan peristiwa yg benar-benar terjadi pada masa lampau.2

Secara terminologi sejarah dapat diartikan sebagai sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia.3 Sedangkan pengertian yang lain sejarah juga mencakup

perjalanan hidup manusia dalam mengisi perkembangan dunia dari masa ke masa karena sejarah mempunyai arti dan bernilai sehingga manusia dapat membuat sejarah sendiri dan sejarah pun membentuk manusia.4

Pokok persoalan sejarah sarat dengan pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut perkembangan keseluruhan keadaan masyarakat. Menurut Sayid Quthub “Sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat”.5

Melihat tentang sejarah, pendidikan Islam yang ada saat sekarang ini, tidak akan bisa lepas dari awal pendidikan Islam itu berdiri atau terbentuk. Lantas sejak kapan pendidikan Islam itu mulai terbentuk dan siapa yang

1 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

Jakarta, 1995), hlm. 7

2 http://kbbi.web.id/ 3 Hasbullah., hlm. 1

4 Departemen Agama, Rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta:

Departemen Agama RI), 2005, hlm. 1

(3)

memulainya. Dari sini pembahasan akan dimulai dengan lebih dahulu mengenal arti dari pendidikan Islam, untuk selanjutnya dapat kita telusuri lebih lanjut pendidikan pada awal Islam dan ruang lingkup yang mempengaruhinya serta bagaimana perkembangan pendidikan Islam serta lembaga-lembaga yang digunakan pada masa awal pendidikan Islam atau pada saat periode Rasulullah

saw., sehingga kita bisa mengambil manfaatnya setelah mempelajari sejarah pendidikan pada awal Islam.

II. PEMBAHASAN

Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya manusia di permukaan bumi.6 Adam, sebagai manusia pertama dimuka bumi ini sekaligus

sebagai seorang rasul Allah, telah merintis dan memancangkan tonggak budaya awal di bidang tarbiyah, ta’lim dan ta’dib langsung dengan petunjuk Allah swt. Yang kemudian diteruskan oleh para Nabi dan rasul setelahnya seperti Nuh a.s. yang telah meluruskan kembali penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia. Begitu pula Ibrahim a.s. dengan karya besarnya membangun sebuah Ka’bah yang pertama di Makkah,7 serta

Nabi dan rasul Allah yang lain berdasarkan petunjuk yang telah diberikan oleh Allah swt.

Pendidikan adalah sesuatu yang essensial bagi umat manusia. Dengan pendidikan manusia bisa belajar menghadapi alam untuk mempertahankan kehidupannya. Karena pentingnya pendidikan Islam menempatkan pendidikan pada kedudukan yang paling tinggi. Hal ini dapat dilihat dalam Al-Quran dalam surat Ad-Dzariyat ayat 1-5. Dalam surat ini disebutkan bahwa manusia diberi tujuan akhir sebagai “Kholifah Allah”.8 Dan tugas tersebut dapat

dilaksanakan dengan baik oleh manusia melalui pendidikan.

6Ibid., hlm. 9 7Ibid., hlm. 10-11

8 Ainurrofi’ah (FAI) Unipdu, “Kedudukan pendidikan dalam Islam”, dalam

(4)

Namun demikian, telah diketahui bahwa Allah menurunkan ajaran Islam kepada umat manusia melalui proses yang sangat panjang, melalui serangkaian urutan rasul-rasul yang di utus oleh Allah untuk menyempurnakan dan meluruskan kembali ajaran Islam yang telah diselewengkan atau sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan perkembangan budaya manusia. Muhammad saw. sebagai rasul terakhir dengan Islam sebagai agama dan al-Qur’an sebagai kitab sucinya telah menjadi penyempurna dan pelengkap bagi kebutuhan perkembangan dan budaya manusia hingga sampai akhir zaman nanti.9

Dari sini pendidikan Islam dimulai, dengan Nabi Muhammad saw

sendiri sebagai guru besarnya dan Allah swt sebagai pembimbing Nabi Muhammad saw dalam menjalankan misi pendidikan yang telah ditugaskan oleh Allah swt.

1. Awal Pendidikan Islam

Menjelang pertengahan abad keenam sesudah masehi, dunia Arab pada saat itu berada dalam keadaan gelap dan parah dengan takhayul yang merusak kehidupan spiritual manusia. Keserakahan dan tirani telah menjarah kesejahteraan moralnya, dan penindasan telah melumpuhkan mayoritas penduduknya.10 Agama mereka, yang sebenarnya merupakan

monoteisme paling murni, yakni agama Nabi Ibrahim a.s. telah diselewengkan oleh generasi demi generasi yang bekerja-sama dengan bangsa lain. Ketika manusia melupakan sumber mulia kehidupan batinnya dan secara tamak sibuk dengan dunia dan kemegahannya, seorang rasul diutus oleh Allah untuk menunjukkan kepada jalan yang telah dilupakannya, dan memperingatkan mereka akan ajaran yang telah dilalaikan atau diabaikannya.11

Dalam sejarah Islam, kerasulan Nabi Muhammad saw secara resmi ditandai dengan turunnya wahyu yang pertama yaitu Q.S. al-‘Alaq: 1-5

9Opcit., Zuhairini, dkk. hlm. 12

10 Tahia al-Ismail, Tarikh Muhammad Teladan Perilaku Ummat, diterjemahkan oleh A.

Nashir Budiman, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hlm. 1

(5)

kepada Nabi Muhammad saw, dan Khadijah (istri beliau) menjadi orang pertama yang mengimani kenabian beliau, atau yang pertama kali masuk Islam. Dari sinilah awal pendidikan Islam dimulai. Kemudian Nabi Muhammad saw diutus Allah swt untuk mendakwahkan Islam kepada manusia. Perintah ini mengisyaratkan konsep-konsep aqidah yang manafikan eksistensi tubuh-tubuh yang disembah oleh masyarakat Arab (Makkah) pada waktu itu. Dan selanjutnya berganti menjadi aqidah Islam, yang mengakui Tuhan itu satu, atau ajaran tauhid.12

Turunnya ayat pertama kepada Rasulullah merupakan pertanda bangkitnya suatu peradaban baru di atas permukaan bumi ini. Dimana pada ayat pertama pada surat tersebut menyuruh manusia untuk membaca

(

ءارقا

). Di satu pihak “membaca” melibatkan proses mental yang tinggi,

melibatkan proses pengenalan (cognition), ingatan (memory) pengamatan (perception), pengucapan (verbalzation), pemikiran (reasoning), daya kreasi (creativity) di samping proses fisiologi.13 Disamping itu,

“membaca” mempunyai aspek sosial, yaitu proses yang menghubungkan perasaan, pemikiran dan tingkah laku seseorang manusia dengan manusia yang lain, pembacaan menghendaki adanya simbol yang dapat dibaca yaitu tulisan. 14

Pada tahap awal dalam berdakwah Nabi Muhammad saw

berdakwah tidak secara terang-terangan, meskipun perintah ini sudah cukup jelas dan tegas. Beliau melakukan dakwah secara bertahap dan secara rahasia ± 3 tahun lamanya, dan hanya beberapa orang saja yang masuk Islam. Dimulai dari keluarga Nabi sendiri kemudian sahabat-sahabat terdekat beliau yang dilakukan secara hati-hati sekali. Kemudian pada tahap berikutnya, Nabi Muhammad saw mulai mendakwahkan Islam secara terang-terangan kepada bangsa Arab yang kemudian banyak

12 Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: Sukses Offset, 2011), hlm. 6 13 Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam: Suatu Analisa Sosio-Psikologi,

(Jakarta: PT. Maha Grafindo, 1985), hlm. 9

(6)

mendapat reaksi dari pihak kaum musyrik Quraisy15 sehingga nanti pada

akhirnya Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya melakukan hijrah ke Madinah karena sebab-sebab tertentu.

Orang pertama yang beriman kepadanya dari kalangan dewasa adalah sahabatnya sendiri yang bernama Abu Bakar, dari kalangan wanita adalah istrinya sendiri Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan budak adalah Zaid bin Haritsah.16

Sesudah Nabi mendapat pengikut, beliau menghimpun mereka untuk menerima penjelasan yang diajarkan secara sembunyi-sembunyi dirumah Arqam di bukit Shafa. Menurut Syalabi, rumah Arqam ini merupakan lembaga pendidikan Islam pertama. Di rumah Arqam, Rasulullah mengajarkan pokok-pokok agama Islam dan membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabat dan pengikut-pengikut Nabi. Pendidikan pertama yang dilakukan Nabi adalah membina pribadi Muslim agar menjadi kader-kader yang berjiwa kuat dan tangguh dari segala cobaan untuk dipersiapkan menjadi masyarakat Islam dan mubaligh serta pendidik yang baik.17

Pendidikan Islam tidak hanya diarahkan untuk membentuk pribadi kader Islam, tetapi juga membina aspek-aspek kemanusiaan sebagai hamba Allah untuk mengelola dan menjaga kesejahteraan alam semesta. Untuk itu, umat Islam dibekali dengan pendidikan tauhid, akhlaq, amal ibadah, kehidupan sosial kemasyarakatan dan keagamaan, ekonomi, kesehatan, bahkan kehidupan bernegara.18

2. Perkembangan Pendidikan Islam

Pendidikan secara umum dapat didefinisikan dalam dua macam pengertian. Pertama, pendidikan sebagai proses pewarisan, penerusan atau

15 Lihat Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX,

(Jakarta: Akbar Media, 2011), hlm. 88

16 Ahmad al-‘Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta:

Akbar Media, 2011), hlm. 86

(7)

enkulturasi dan sosialisasi perilaku sosial dan individual, yang telah menjadi model anutan masyarakat secara baku. Kedua, pendidikan diartikan sebagai upaya fasilitatif yang memungkinkan terciptanya situasi atau lingkungan, di mana potensi-potensi dasar anak dapat berkembang sesuai dengan tuntutan zaman di mana mereka harus survive.19

Menurut Prof. H. M. Arifin, M. Ed., dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam; suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan pendekatan interdisipliner” mengatakan bahwa “hakikat pendidikan Islam adalah usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya”.20

Muhaimin dalam “Paradigma Pendidikan Islam”, memberikan beberapa definisi pendidikan Islam, yaitu Pertama pendidikan menurut Islam atau pendidikan Islami, yaitu pendidikan yang dipahami dan dikembangkan dari ajaran Islam. Pendidikan Islam dapat berwujud teori atau pemikiran pendidikan yang dikembangkan dari sumber pokok ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kedua, pendidikan keislaman atau Pendidikan Agama Islam, suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk menanamkan nilai-nilai Islam agar menjadi pandangan dan sikap hidup.

Ketiga, pendidikan dalam Islam, atau proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dalam sejarah umat Islam. Pada pengertian ini, pendidikan Islam dapat dipahami sebagai segala macam bentuk pendidikan yang dikembangkan umat Islam dari generasi ke generasi.21

Setelah melewati masa pembinaan pendidikan Islam yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw kepada umat muslim sejak awal datangnya Islam atau awal kerasulan Nabi Muhammad saw yaitu pada malam 17 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M, ketika

19 Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia; Rekonstruksi Sejarah untuk Aksi

(edisi revisi), (Malang: UMM Press, 2006), hlm. 15-16

20 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam; suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan

pendekatan interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 32

(8)

Muhammad saw sedang ber-tahannus di gua Hira. Disusul kemudian dengan ayat dan surat-surat berikutnya22. Dilakukan Nabi Muhammad saw

di Makkah baik secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terang-terangan yang kemudian Nabi melakukan hijrah ke Madinah sekaligus berdakwah disana.

Dari kejadian tersebut maka kita bisa membagi pendidikan yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw kedalam dua periode, yakni periode Makkah dan periode Madinah.

a. Periode Makkah

Pada masa periode ini berlangsung ±13 (tiga belas) tahun. Masa ini merupakan masa peletakan dasar-dasar aqidah dan pengajaran baca tulis huruf al-Qur’an. Yunus dalam “Sejarah Pendidikan Islam” juga memberikan keterangan yang sama, bahwa periode Makkah adalah periode pembinaan i’tiqad (kepercayaan) dan keimanan disamping amaliyah ibadah dan akhlak.

Sekalipun banyak informasi yang sama-sama memberikan kepastian, bahwa pada periode ini adalah periode pembinaan aqidah, namun masa-masa pertama sejarah Islam tampaknya antara kegiatan dakwah dan kegiatan pendidikan, adalah dua hal yang sulit dibedakan. Pada masa itu, semua persoalan selalu dikembalikan pada ucapan dan perbuatan Nabi.23 Adapun untuk tahapan, materi, metode, kurikulum,

serta lembaga pendidikan Islam pada periode Makkah ini, akan diterangkan lebih lanjut pada pembahasan tentang “Lembaga Pendidikan dan Sistem Pembelajaran”.

b. Periode Madinah

Peristiwa hijrah menandai berakhirnya periode Makkah, dan perjuangan Nabi mulai memasuki babak baru. Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari tekanan dan ancaman kaum Quraisy dan penduduk Makkah yang tidak menghendaki pembaharuan terhadap ajaran nenek moyang mereka, 22 Khozin, hlm. 62

(9)

tetapi juga mengandung maksud untuk mengatur potensi dan menyusun kekuatan dalam menghadapi tantangan-tantangan lebih lanjut.24 Ada sebuah keterangan bahwa sebelum Nabi hijrah beliau

mengirimkan seorang guru dari kalangan orang Makkah. Di Madinah Nabi mengadakan konsolidasi dengan langkah positifnya, menyebarluaskan pendidikan, melenyapkan kebodohan dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Periode Madinah berlangsung ± 10 (sepuluh) tahun, lebih pendek tiga tahun dari periode sebelumnya, benar-benar dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh Nabi.25 Meskipun demikian, bukan

berarti di Madinah Nabi tidak ada kendala sama sekali, karena kedatangan Nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya (kaum Muhajirin) di Madinah, meskipun disambut baik oleh kaum Ansor (penduduk asli Madinah) tetapi bagaimana selanjutnya dengan hidup dan penghidupan mereka yang tentunya akan menjadi beban kaum Ansor.

Melihat kenyataan tersebut, Nabi mulai mengatur dan menyusun segenap potensi yang ada dalam lingkungannya, memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan potensi dan kekuatan yang ada, dalam rangka menyusun suatu masyarakat baru yang terus berkembang, yang mampu menghadapi segenap tantangan baru dan rintangan yang berasal dari luar dengan kekuatan sendiri.26 Oleh karenanya maka kegiatan yang

pertama-tama dikerjakan oleh Nabi Muhammad saw bersama dengan kaum muslimin adalah membangun masjid.27

Selanjutnya langkah yang ditempuh oleh Nabi adalah melakukan negosiasi dengan berbagai kelompok/suku untuk kepentingan perdamaian dan keamanan negara. Maka langkah

24 Zuhairi, dkk., hlm. 31-32 25 Khozin, hlm. 64

(10)

berikutnya sebagai prioritas programnya, diletakkan pada pendidikan kepada kaum muslimin. Sebagai pusat pendidikannya adalah as-Suffah, sedangkan bidang studi yang diajarkan meliputi al-Qur’an,

tajwid, dan semua ilmu keislaman di samping membaca dan menulis. Untuk tenaga pengajarnya Nabi memanfaatkan para sahabatnya di samping beliau sendiri sebagai guru utamanya. Selain itu Nabi juga pernah memanfaatkan sebagian dari para tawanan perang Badar untuk mengajar baca tulis.

Periode ini juga mengintrodusir kelas-kelas khusus yang membidangi spesialisasi tertentu. Bagi yang berminat pada studi Qur’an, harus belajar pada seorang guru yang menguasai masalah al-Qur’an, Tajwid, Syari’ah dan sebagainya.28 Dalam mengajarkan

al-Qur’an Nabi menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana diajarkannya. Beliau juga sering mengadakan ulangan-ulangan dalam pembacaan al-Qur’an, yaitu dalam sholat, dalam pidato-pidato, dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain kesempatan.29 Pendidikan bagi kaum wanita juga mendapat

perhatian. Bidang-bidang studi yang memberikan ketrampilan/skill secara khusus juga mendapatkan prioritas, seperti halnya cara memanah, berenang, meramu obat-obatan, astronomi dan lain sebagainya.

Sebagai akibat dari semakin meluasnya wilayah kekuasaan Islam, maka Nabi mulai menginstruksikan kepada para sahabatnya untuk mempelajari bahasa asing. Dalam sebuah hadisnya, Nabi bersabda:

“Siapa yang mempelajari bahasa suatu kaum, maka ia akan aman dari kejahatannya.”30

(11)

Begitu besar perhatian umat Islam terhadap ilmu pengetahuan, sehingga sedikit demi sedikit mulai ada pengaruhnya, sebagaimana yang telah dianjurkan Nabi dalam sabda-sabdanya;

“Carilah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat”; “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”; “Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”; “Barang siapa mati ketika sedang mengembangkan ilmu untuk menghidupkan Islam, maka di surga ia sederajat dibawa para Nabi”; “Ilmu pengetahuan itu adalah miliknya orang mukmin yang hilang, dimana saja ia mendapatkannya, maka ia lebih berhak memilikinya dari orang lain”.31

Manusia diciptakan Allah dilengkapi dengan berbagai kelengkapan sesuai dengan kebutuhan hidupnya, sehingga ia dapat menata kehidupan di muka bumi dengan baik. Segala kelengkapan itu bersifat potensial. Potensi yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan berkembang dengan sendirinya secara sempurna tanpa adanya bantuan dari pihak-pihak lain sekalipun potensi yang dimilikinya bersifat aktif dan dinamis.32

3. Lembaga Pendidikan dan Sistem Pembelajaran

Secara keseluruhan, lembaga-lembaga pendidikan Islam bukanlah sesuatu yang datang dan diambil dari kebudayaan-kebudayaan luar atau kebudayaan lama akan tetapi, lembaga-lembaga pendidikan Islam merupakan hasil pemikiran setempat yang dicetuskan oleh kebutuhan-kebutuhan masyarakat Islam dan perkembangannya yang digerakkan oleh jiwa Islam dan berpedoman kepada ajaran-ajaran yang didasarkan pada al-Qur’an dan Sunah Nabi Muhammad saw.33

31ibid, hlm. 63

32 Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam al-Qur’an, (Bandung: Alfabeta, 2009),

hlm. 23

33 Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,

(12)

Lembaga pendidikan dimulai dari fase Makkah, yang kemudian perjalanannya berikutnya menuju ke kota Madinah setelah Nabi beserta para sahabatnya melakukan perjalanan hijrah ke kota Madinah.34

Membicarakan lembaga-lembaga pendidikan Islam era awal, berarti melihat dari dekat berbagai komponen dan sistem serta metode yang digunakan dalam pelaksanaan pendidikan Islam masa itu. Diantara bentuk-bentuk lembaga pendidikan Islam yang telah digunakan oleh Rasulullah saw, para sahabat, tabi-tabiin sampai masa mutaakhirin sebagai lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan periode awal.

Didalam mengungkap pola pendidikan Islam periode Rasulullah

saw dapat dibedakan menjadi dua fase sebagaimana yang telah dijelaskan diatas pada “periode perkembangan pendidikan Islam” diatas, yaitu (1) fase Makkah; (2) fase Madinah.35

a. Fase Makkah

Pada fase ini, pola pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah

saw sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikannya kepada kaum Quraisy. Tahapan-tahapan itu dapat di bagi menjadi tiga tahap:

1) Tahap pendidikan Islam secara rahasia dan perorangan

Pada tahap ini, mula-mula Rasulullah saw mendidik istrinya, Khadijah untuk beriman kepada Allah dan menerima petunjuk dari Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali ibn Abi Thalib, dan Zaid ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangga yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya). Kemudian sahabat karibnya Abu Bakar Sidiq. Secara berangsur-angsur ajakan tersebut disampaikan secara meluas tetapi masih terbatas di kalangan keluarga dekat dari suku Quraisy saja, seperti Usman ibn Affan, Zubair ibn Awan, Sa’ad ibn Abi Waqas, dan

34 Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era

Rasulullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm. 7

(13)

beberapa orang lainnya, mereka semua disebut sebagai Assabiquna al awwalun.

2) Tahap pendidikan Islam secara terang-terangan

Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam.

3) Tahap pendidikan Islam untuk umum

Setelah melewati dua tahap diatas dirasa tidak maksimal, maka Rasulullah saw mengubah strategi dakwahnya dari seruan keluarga dekat beralih kepada seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut didasarkan kepada perintah Allah, surat al-Hijr ayat 94-95.

Adapaun materi pendidikan pada fase Makkah dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu:

1) Pendidikan Tauhid

Materi ini lebih di fokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliah.

2) Pengajaran al-Qur’an

Materi ini dapat dirinci kepada; (1) Materi baca tulis al-Qur’an, (2) Materi menghafal ayat-ayat al-Qur’an, dan (3) Materi pemahaman al-Qur’an.

(14)

Lembaga pendidikan Islam pada fase Makkah ada dua macam tempat, yaitu:36

1) Rumah Arqam ibn Arqam; merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah saw untuk belajar hukum-hukum dan dasar-dasar ajaran Islam.

2) Kuttab; pendidikan di kuttab pada awalnya lebih terfokus pada materi baca tulis sastra, syair Arab, dan pembelajaran berhitung. Namun setelah datangnya Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis al-Qur’an dan memahami hukum-hukum Islam.

b. Fase Madinah

Kedatangan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin Makkah, disambut oleh penduduk Madinah dengan gembira dan penuh rasa persaudaraan. Pada periode ini kebijasanaan Nabi Muhammad

saw dalam mengajarkan al-Qur’an adalah menganjurkan pengikutnya untuk menghafal dan menuliskan ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana diajarkannya.

Lembaga pendidikan yang digunakan pada fase ini adalah masjid. Dimana ketika Rasulullah saw dan para sahabat hijrah ke Madinah, dan setelah sampai di Madinah, salah satu program pertama yang beliau lakukan adalah membangun sebuah masjid.

Masjid itulah pusat kegiatan Nabi Muhammad saw bersama kaum muslimin, untuk secara bersama membina masyarakat baru, masyarakat yang disinari oleh tauhid, dan mencerminkan persatuan dan kesatuan umat.

Sedangkan untuk materi pendidikan Islam pada periode Madinah yang diberikan cakupannya lebih kompleks dibandingkan dengan materi pendidikan fase Makkah. Di antara pelaksanaan pendidikan Islam di Madinah adalah37:

1) Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum muslimin.

(15)

2) Pendidikan kesejahteraan sosial. Terjaminnya keserjahteraan sosial, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok dari pada kehidupan sehari-hari.

3) Pendidikan kesejahteraan kaum kerabat. Yang dimaksud keluarga adalah suami, istri, dan anak-anaknya.

4) Pendidikan hankam (pertahanan dan keamanan) dakwah Islam. Pendidikan pada fase Makkah ini memang sudah kompleks, dan memiliki pengaruh yang sangat besar sekali, dimana kondisi sosial semua golongan baik dari kaum Muhajirin, Anshor atau selain dari dua golongan itu bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing. A. Mukti Ali berkenaan dengan masalah kerukunan hidup dalam bukunya yang berjudul “Pemikiran Keagamaan A. Mukti Ali” menegaskan bahwa “kerukunan dapat tercapai jika masing-masing pemeluk agama bersikap lapang dada satu sama lainnya”, selain itu A. Mukti Ali mengajarkan suatu prinsip dimana seseorang harus mau menerima dan menghormati orang lain dengan seluruh totalitas, aspirasi, keyakinan, kebiasaan dan pola hidupnya. Hal ini dikatakan oleh A. Mukti ali dengan prinsip “setuju dalam perbedaan”.38. Dan itu sudah dibuktikan oleh ajaran Islam sejak

kehadirannya, baik dari periode Makkah, periode Madinah hingga sampai saat ini, dengan di dukung dari firman Allah swt dalam al-Qur’an “lakum dīnukum waliyadīni”. Sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Allah swt kepada Rasulullah saw. Bahwa tidaklah Nabi Muhammad saw di utus melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

III. PENUTUP

Sejarah memiliki faktor yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Karena sejarah menyimpan kekuatan yang dapat menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru bagi pertumbuhan serta 38 A. Singgih Basuki, Pemikiran Keagamaan A. Mukti Ali, (Yogyakarta: Suka-Press,

(16)

perkembangan kehidupan umat manusia. Sumber utama ajaran Islam adalah al-Qur’an, mengandung cukup banyak nilai-nilai kesejahteraan, yang langsung atau tidak langsung mengandung makna yang besar, pelajaran yang sangat tinggi dan pimpinan utama, khususnya bagi umat Islam.39

Perhatian agama Islam dalam dunia pendidikan sangatlah besar. Itu terbukti dari banyaknya anjuran baik berupa perintah dari Allah seperti yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5 ataupun dari hadis Nabi tentang pentingnya mencari ilmu. Sehingga dapat dikatakan40 pendidikan Islam

merupakan suatu hal yang paling utama bagi warga suatu negara, karena maju dan keterbelakangan suatu negara akan ditentukan oleh tinggi dan rendahnya tingkat pendidikan warga negaranya. Salah satu bentuk pendidikan yang mengacu kepada pembangunan tersebut, yaitu pendidikan agama. Dimana pendidikan agama merupakan modal dasar sebagai penggerak yang tidak ternilai harganya bagi pengisian aspirasi bangsa, karena dengan terselenggaranya pendidikan agama secara baik akan membawa dampak terhadap pemahaman dan pengamalan ajaran agama.

Pendidikan Islam bersumber kepada al-Qur’an dan Hadis untuk membentuk manusia seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Allah swt., dan untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan seluruh kehidupannya, sebagaimana yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Usairy, Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX,

Jakarta: Akbar Media, 2011

Al-Ismail, Tahia, Tarikh Muhammad Teladan Perilaku Ummat, diterjemahkan oleh A. Nashir Budiman, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996

Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam; suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan pendekatan interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara, 1996

Basuki A.S., Pemikiran Keagamaan A. Mukti Ali, Yogyakarta: Suka-Press, 2013

Departemen Agama, Rekontruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Departemen Agama RI, 2005

Fahmi, Asma Hasan, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979

Fu’adi, Imam, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Sukses Offset, 2011

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995

http://ainurrofiahfaiunipdu.blogspot.com/2010/06/pendidikan-islam-dan-sejarahnya-di-masa.html

http://kbbi.web.id/

Khozin, Jejak-jejak Pendidikan Islam di Indonesia; Rekonstruksi Sejarah untuk Aksi (edisi revisi), Malang: UMM Press, 2006

Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam: Suatu Analisa Sosio-Psikologi, Jakarta: PT. Maha Grafindo, 1985

Nizar, Samsul, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009

Syahidin, Menelusuri Metode Pendidikan dalam al-Qur’an, Bandung: Alfabeta, 2009

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...