IDENTIFIKASI RESIKO PADA DAPUR INDUKSI
MENGGUNAKAN METODE FMEA (
FAILURE MODES AND
EFFECT ANALYSIS
) DAN RCA (
ROOT CAUSE ANALYSIS
)
SERTA EVALUASI MANAJEMEN TANGGAP DARURAT
(STUDI KASUS PADA PT BARATA INDONESIA)
ABSTRAK
PT Barata Indonesia (Persero) Gresik adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha proses
produksi pengecoran menggunakan dapur induksi (induction furnace). Dapur induksi ini memiliki kapasitas produksi 10 ton/hari dan beroperasi pada temperatur mencapai 1550 oC – 1580 oC. Pada pengoperasiannya, dapur induksi ini memiliki risiko peledakan. Peledakan yang
terjadi akan menimbulkan bencana industri yang mengakibatkan banyak kerugian.
Untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko-risiko yang mungkin terjadi pada dapur induksi
digunakan metode FMEA (Failure Modes and Effect Analysis) dan RCA (Root Cause Analysis). Sedangkan untuk memberikan evaluasi terhadap manajemen bencana digunakan checklist dari NFPA (National Fire Protection Association) yang memuat 19 elemen.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ada satu item komponen yang memiliki nilai risiko
sangat tinggi yaitu water cool lead pecah. Dari hasil RCA (Root Cause Analysis) menunjukkan bahwa penyebab water cool lead pecah karena selang yang tersumbat oleh kotoran.
Sedangkan dari hasil evaluasi mengenai manajemen tanggap darurat menunjukkan bahwa perusahaan telah melaksanakan 10 item elemen yaitu program administrasi, koordinator program, program evaluasi, hukum dan wewenang, penilaian risiko, pencegahan insiden, pengelolaan sumber daya dan logistik, komunikasi dan peringatan, fasilitas (pusat operasi darurat), pelatihan/ training.
Kata kunci : Dapur induksi, Bencana, FMEA (Failure Modes and Effect Analysis), RCA (Root Cause
LATAR BELAKANG
industri pada PT. Barata IndonesiaPERUMUSAN MASALAH
Bagaimana identifikasi resiko pada dapur induksi
?
Bagaimana penilaian risiko dan identifikasi
penyebab kegagalan pada dapur induksi?
Bagaimana evaluasi manajemen tanggap darurat
TUJUAN PENELITIAN
Melakukan identifikasi resiko pada dapur induksi
dengan menggunakan metode FMEA (
Failure Modes and
Effect Analysis
).
Melakukan penilaian dan evaluasi risiko dari hasil
metode FMEA (
Failure Modes and Effect Analysis
)
kemudian dicari penyebab dasar suatu kegagalan bisa
terjadi menggunakan RCA (
Root Cause Analysis
).
Melakukan evaluasi manajemen tanggap darurat pada
perusahaan untuk mengetahui sampai sejauh mana
penerapan manajemen tanggap darurat berbentuk
MANFAAT PENELITIAN
Bagi mahasiswa :
Dalam penulisan tugas akhir ini peneliti mendapatkan wawasan
baru mengenai bencana industri, dampak yang di timbulkannya
serta cara memitigasi bencana agar asset perusahaan dapat
terlindungi dengan baik pada PT Barata Indonesia (Persero) Gresik.
Bagi perusahaan :
Memberikan masukan bagi perusahaan PT Barata Indonesia
(Persero) Gresik untuk identifikasi resiko bencana dan memberikan
gambaran dampak mengenai bencana yang dapat terjadi.
Memberikan penilaian dan evaluasi resiko bagi PT Barata Indonesia
(Persero) Gresik untuk dicari penyebab dasarnya.
Memberikan rekomendasi pengendalian bencana pada PT Barata
BATASAN PERMASALAHAN
Penelitian dilakukan hanya pada dapur induksi
Workshop I.
Data kegagalan yang digunakan adalah tahun
2006-2010.
Untuk identifikasi penyebab dasar menggunakan
RCA (
Root Cause Analysis
) adalah komponen
DAPUR INDUKSI
Prinsip dasar dapur induksi yaitu
dapat menimbulkan panas
dengan cara mengubah tenaga
listrik menjadi panas. Listrik yang
dialirkan lewat
coil
melingkar
akan menimbulkan medan
magnet pada inti (material)
sehingga terjadi induksi listrik
yang dapat menimbulkan panas
yang digunakan untuk
Failure Mode and Effect Analysis
(FMEA)
Failure Mode and Effect Analysis
(FMEA)
mengevaluasi bagaimana cara peralatan dapat
gagal (atau tidak dapat beroperasi dengan baik)
dan efek kegagalan ini pada proses. Deskripsi
kegagalan digunakan oleh analis sebagai dasar
untuk menentukan perubahan mana yang dapat
RCA (
Root Cause Analysis
)
Root Cause Analysis
adalah merupakan suatu proses
yang dirancang untuk digunakan dalam menyelidiki
akar penyebab dari suatu kejadian dengan
Manajemen bencana
Manajemen bencana (
disaster management
) adalah
upaya sistematis dan komprehensif untuk
menanggulangi semua kejadian bencana secara
NFPA (
National Fire Protection
Association
)
NFPA (
National Fire Protection Association
) edisi
1600 tentang standard pada program bencana/
manajemen darurat dan kelangsungan bisnis
Mulai Observasi
Identifikasi dan perumusan masalah Penetapan tujuan
Studi Literatur Studi Lapangan
Pengumpulan Data : 1. Gambar Proses 2. Komponen dan fungsi 3. Wawancara dengan pihak
manajemen
Identifikasi dan Penilaian risiko menggunakan FMEA (Failure
Modes and Effect Analysis)
Analisis dan rekomendasi
Selesai Tahap Pendahuluan
Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data
Nilai risiko paling tinggi dicari penyebab dasarnya menggunakan
RCA (root cause analysis)
Kesimpulan dan Saran
Tahap analisis dan rekomendasi
Evaluasi sistem tanggap darurat dengan checklist
Nilai Risiko tinggi ?
Ya
Penilaian risiko
Penilaian likelihood
RCA (
Root Cause Analysis
)
Berdasarkan hasil Penilaian risiko, ada satu nilai
very high
yaitu water cool lead pecah yang
kemudian dicari akar penyebab dari kejadian
Evaluasi Manajemen Tanggap
Darurat
Evaluasi manajemen tanggap darurat ini digunakan
untuk melakukan penilaian terhadap PT Barata
Indonesia (Persero) Gresik tehadap kesiapan dalam
menghadapi suatu bencana. Dalam melakukan
penilaian manajemen tanggap darurat di siapkan
checklist
dari
National Fire Protection Association
HASIL
CHECKLIST
NFPA
Elemen pada checklist NFPA 1600
Analisa Aliran Proses Pada Dapur Induksi
Dapur induksi berfungsi untuk meleburkan besi atau
baja menjadi benda cair dengan kapasitas muat
adalah 10 ton/hari
Kegagalan dapur dapat mengganggu proses
Analisa FMEA (
Failure Mode And Effect Analysis
)
Dari data historis kegagalan yang diperoleh dari
bagian
maintenance
terdapat 17 macam kegagalan
komponen pada dapur induksi pada kurun waktu
selama 2006 hingga 2010.
Berdasarkan probabilitas/ kemungkinan yang telah
dihitung terdapat 5 probabilitas dengan level
Rare, Unlikely, Moderate, Likely, Almost Certain
Berdasarkan
consequence
yang ditimbulkan, diketahui
Analisa Matriks Risiko
Hasil dari nilai risiko didapat dengan
mengkombinasikan nilai
likelihood
dan
consequence
, didapatkan 4 hasil risiko yaitu
low
(rendah),
medium
(sedang),
high
(tinggi) atau
very high
(sangat tinggi). Kegagalan komponen dengan level
risiko rendah adalah as aus. Untuk level risiko sedang
adalah selang air pendingin bocor, busbar rusak, baut
kendor, OCB rusak, seal bocor, ulir dol, jarum pengunci
lepas, katup berkarat. Untuk level risiko tinggi adalah
pompa rusak, v-belt sobek, motor rusak, bearing
aus, kontaktor aus,
coil
bocor, kabel antenna putus. Dan
untuk level risiko sangat tinggi adalah
water cool lead
Analisa RCA (
Root Cause Analysis
)
Dari hasil risk matriks menunjukkan ada 1
Evaluasi Manajemen Tanggap Darurat
Hasil hasil dari evaluasi
checklist
yang telah
dijabarkan dengan diagram batang menunjukkan
prosentase jawaban
“
ya
”.
Untuk jawaban
prosentase elemen sebesar 100% telah dipenuhi
oleh perusahaan yaitu pada elemen program
administrasi, koordinator program, program
evaluasi, hukum dan wewenang, penilaian
risiko, pencegahan insiden, pengelolaan sumber
daya dan logistik, komunikasi dan
KESIMPULAN
Dari hasil identifikasi menggunakan FMEA (Failure Modes and Effect Analysis) terdapat 17
bentuk kegagalan yaitu kegagalan pada komponen coil bocor, selang air pendingin bocor, kerusakan pompa, v belt sobek, motor terbakar, bearing aus, busbar rusak, baut
kendor, Asnya aus, kabel antenna putus, OCB rusak, kontaktor aus, seal bocor, ulir dol, jarum pengunci lepas, katup berkarat, water cool lead pecah.
Pada hasil penilaian risiko FMEA (Failure Modes and Effect Analysis) terdapat 7 bentuk
kegagalan dengan risiko tinggi yaitu coil bocor, pompa rusak, v-belt sobek, motor
rusak, bearing aus, kabel antenna putus, kontaktor aus. Selanjutnya ada 8 komponen dengan risiko sedang yaitu selang air pendingin bocor, busbar rusak, bau kendor, OCB rusak, seal bocor, ulir dol, jarum pengunci lepas, katup berkarat dan 1 komponen dengan risiko rendah yaitu As aus. Selanjutnya didapatkan 1 bentuk kegagalan dengan nilai risiko paling tinggi yaitu water cool lead pecah. Identifikasi penyebab dasar dari water cool lead yang pecah disebabkan karena air kotor yang kemudian menyebabkan selang mengalami kebuntuan.
Dari evaluasi manajemen tanggap darurat menggunakan checklist dari NFPA dihasilkan
prosentase 100% pada elemen program administrasi, koordinator program, program evaluasi, hukum dan wewenang, penilaian risiko, pencegahan insiden, pengelolaan sumber daya dan logistik, komunikasi dan peringatan, fasilitas (pusat operasi darurat), pelatihan/
SARAN
Pihak manajemen perlu melakukan
tindakan-tindakan preventif untuk melindungi dapur induksi
ini sebagai aset perusahaan. Selain itu, dapur
induksi juga memiliki risiko besar sehingga perlu
dilakukan
maintenance
yang baik.