TUGAS ASUHAN GIZI III Penyakit Saluran Pernafasan
“Penyakit Pernafasan dengan Gagal Nafas”
Dosen Pembimbing : dr. Etisa Adi Murbawani, M.Si,. Sp.GK
Fatih Az Zahra 22030112120009
Adisty Nurul Husna 22030112130019
Nindya Marta G. P. 22030112130021
Syahrani Aulia Lubis 22030112130025
Cahyani Kusumaningtyas 22030112130047
Silmi Mahardini 22030112110069
Eka Indah Yuniarti 22030112140099
ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Gambaran Kasus
Keterangan Pasien: gangguan pernapasan akut, COPD, gangguan vascula perifer dengan intermittent claudication
Riwayat pasien:
Onset penyakit: Pasien memiliki riwayat penyakit paru obstruktif kronis, yang mungkin disebabkan dari penggunaan tembakau berat yakni dalam jangka waktu yang lama dan jumlah yang banyak, menjalani tes PPD sebanyak 2 tahap (purified protein derivative) selama 50 tahun untuk melihat apakah terdapat infeksi tuberculosis atau tidak. Hari ini, kondisinya terlihat seperti keadaan biasanya ditandai dengan adanya pembatasan frekuensi olahraga yang berhubungan dengan dyspnea (kesulitan bernafas) saat aktivitas. Dia juga memperhatikan adanya kebutuhan terhadap penggunaan 2 bantal akibat adanya orthopnea (bentuk gangguan seperti dyspnea dimana pasien hanya dapat bernafas dengan nyaman saat ia duduk atau berdiri tegak), pembengkakan di kedua ekstremitas bawah. Hari ini, ketika dia sedang berkebun, tiba-tiba dia merasakan adanya gangguan pernafasan (dyspnea). Istrinya langsung membawanya ke UGD. Di UGD, pasien diberikan hasil rontgen dadanya yang menunjukkan adanya pneumothorax pada paru-paru bagian kiri. Pasien mengatakan bahwa ia juga merasakan kram di betis bagian kanan saat ia berjalan.
Riwayat Medis: Kolesistektomi (pengangkatan kantung empedu) 20 tahun yang lalu. Ekstraksi total gigi (pencabutan gigi) 5 tahun yang lalu. Pasien merasakan adanya gangguan intermittent claudication (kondisi medis yang ditandai dengan rasa gatal atau nyeri kram pada tungkai kaki ketika berjalan). Pasien memiliki alergi terhadap penicillin. Didiagnosis dengan emfisema lebih dari 10 tahun yang lalu. Obat yang digunakan oleh pasien yaitu, Combivent (metered dose inhaler) - 2 inhalasi 4 kali sehari (masing-masing inhalasi mengandung 18 mcg bromide ipratropium dan 130 mcg albuterol sulfat).
Obat yang digunakan saat ini: Combivent, Lasix, O2 2 L / jam melalui nasal canula pada malam hari
Penggunaan tembakau: Ya; tes PPD sebanyak 2 tahap selama 50 tahun
Penggunaan alkohol: Ya; 1-2 botol miras, 1-2 kali / minggu
Riwayat keluarga: Ayahnya memiliki riwayat kanker paru-paru
Demografi:
Status pernikahan: Menikah, tinggal bersama istri yang berusia 62 tahun dan memiliki empat orang anak yang keempatnya tidak tinggal bersama dalam satu atap.
Pendidikan: Sarjana
Bahasa: Inggris dan Jepang
Pekerjaan: Pensiun dari manajer supermarket lokal
Jam kerja: N/A
Kebangsaan: Nisei
Agama: Methodist
Riwayat fisik:
Keluhan utama: "Suami saya telah memiliki emfisema selama bertahun-tahun Ia bekerja di kebun hari ini dan merasakan sesak napas secara tiba-tiba. Pada akhirnya saya menelepon dokter dan dia meminta saya untuk segera membawanya ke UGD.”
Tanda-tanda vital:
Suhu: 98oF Denyut nadi: 118 Tingkat pernapasan: 36
TD: 110/80 Tinggi badan: 162,56 cm Berat badan: 55,33 kg
HEENT (Kepala, Mata, Telinga, Hidung, Tenggorokan): dalam batas normal; tes funduskopi mengindikasikan adanya AV nicking (suara memekik)
Mata: refleks pupil normal
Telinga: Penurunan neurosensorik
Hidung: Normal
Tenggorokan: vena jugularis terlihat menggembung. Trakea bergeser ke kanan. Karotis berbentuk simetris.
Alat vital: normal
Rectal: normal
Ekstremitas: Edema
Kulit: tekstur kering, hangat
Dada / paru-paru: hiper resonansi di dada kiri pada bagian depan dan belakang. Suara tarikan napas yang kencang terdapat pada dada sebelah kanan.
Perut: bekas luka bedah pada perut bagian kanan atas. Tidak ada organomegali atau massa.
Sirkulasi: terdapat suara menekik. Tidak ditemukan adanya denyut nadi di bagian PT (Posterior Tibialis) dan DP (Dorsalis Pedis).
Pengkajian keperawatan 3/26
Penampakan abdomen obesitas sentral
Palpasi abdomen lembut
Fungsi usus tidak berfungsi
Suara perut
RUQ Ada
LUQ Ada
RLQ Ada
LLQ Ada
Warna feses Coklat
Konsistensi feses Lembut
Pipa/ostomy (tindakan operasi yang dilakukan dengan membuat lubang stoma)
Genitourinari
Pembatasan urinari Kateter
Sumber urin Kateter
Penampakan Kuning
Integumen
Warna kulit Pucat
Suhu Hangat
Turgor kulit Normal
Kondisi kulit Normal
Membran mukosa Normal
Komponen lain pada skor braden tekanan sensorik, 18, tidak beresiko
Zat Gizi
Riwayat: Menurut istrinya, biasanya sarapan adalah makan yang terbesar. Namun, selama beberapa minggu terakhir nafsu makan Bapak H menurun. Istri bapak H menyatakan bahwa berat badan suaminya paling berat mencapai 61.2 kg, tetapi menurutnya bapak H berat badannya lebih dari 61.2 kg.
Kebiasan asupan sehari:
Makan pagi : telur, sereal panas, roti atau muffin, teh panas (dengan susu dan gula)
Makan siang : sup, sandwich, teh panas (dengan susu dan gula)
Makan malam : sedikit daging, nasi, 2-3 macam buah-buahan, teh panas (dengan susu dan gula)
Recall 24 jam: 2 telur telur orak-arik, krim gandum, teh panas, roti; tidak ada makanan sisa.
Alergi terhadap makanan : tidak ada
Terapi gizi sebelumnya : tidak ada
Pembelian/persiapan makan : istri bapak H
Asupan vitamin : tidak ada
Nama substansi kimia Rentang normal 3/26
Bilirubin (mg/dL) < 0,3 0.8
Kolesterol (mg/dl) 120 - 199 155
LDL (mg/dl) <130 142
Rasio LDL/HDL <3.22 F
<3.55 M
4,44
TGS (Trigliserida) 35 – 135 F 40 – 160 M
155
BAB II
NUTRITION CARE PROCESS 2.1. Skrining Gizi
Nama belakang : Mr. Hayato Berat badan : 55.33 kg dengan edema
Nama Depan : Daishi Tinggi Badan : 16.56 cm
Skrining
A Apakah terdapat penurunan asupan makanan selama 3 bulan terakhir akibat dari kehilangan nafsu makan , masalah pencernaan , kesulitan mengunyah atau menelan?
0 = Penurunan asupan makanan berat 1 = Penurunan asupan makanan sedang 2 = Penurunan asupan makanan ringan
√
B Penurunan berat badan selama 3 bulan terakhir 0 = Penurunan berat badan lebih besar dari 3 kg (6.6 lbs) 1 = Tidak diketahui
2 = Penurunan berat badan antara 1 dan 3 kg (2.2 dan 6.6 lbs) 3 = Tidak terdapat penurunan berat badan
√ C Mobilitas
0 = Tempat tidur atau kursi dorong
1 = Mampu untuk bangkit dari tempat tidur / kursi tetapi tidak dapat keluar
2 = Keluar √
D Apakah pasien menderita stres psikologis atau penyakit akut dalam 3 bulan terakhir ?
0 = Ya
2 = Tidak √
Masalah neuropsikologi 0 = Dementia atau depresi berat 1 = Dementia ringan
2 = Tidak terdapat masalah psikologi √
F1 Indeks massa tubuh (IMT) (berat badan dalam kg) / (tinggi dalam m2)
0 = IMT kurang dari 19
1 = IMT 19 sampai kurang dari 21 2 = IMT 21 sampai kurang dari 23 3 = IMT 23 atau lebih
√
Jika tidak tersedia indeks massa tubuh (IMT), ganti pertanyaan F1 dengan pertanyaan F2. Jangan menjawab pertanyaan F2 jika pertanyaan F1 sudah selesai.
F2 Lingkar betis (LB) dalam cm 0 = LB kurang dari 31
-3 = LB -31 atau lebih
2.2. Nutrition Assessment1,2
Domain Data Identifikasi Masalah Interpretasi
BD-1.1.3
keras dan kasar pada dada kanan tanpa adanya suara yang sama pada dada kiri
- Sianosis, edema
PD-1.1.5
per hari menurun dan ketidak mampuan untuk makan dan minum disebabkan terganggunya saluran pernafasan akibat nafas yang pendek.
Asupan oral berdasarkan hasil recall 24 jam yakni 1446 kkal kurang dari batasan normal yakni 1655,11 kkal.
2. Asupan cairan inadekuat (NI-3.1)
Daya terima makanan terbatas dan ketidak mampuan untuk makan dan minum.
Asupan cairan berdasarkan hasil recall 24 jam yakni 965,3 ml kurang dari batasan normal yakni 1,3 – 2,2 liter per hari. 3. Altered
nutrition-related laboratory mengkonsumsi makanan ditandai dengan swallowing difficulty.
2. Inadequate fluid intake (NI-3.1) berkaitan dengan kurangnya akses untuk minum (manula) berkaitan dengan kurangnya perkiraan asupan cairan dari kebutuhan yaitu 830,3 ml.
3. Altered nutrition-related laboratory values (NC-2.2) berkaitan dengan pulmonary disfunction ditandai dengan perubahan pO2 dan pCO2 (pulmonary disorder)
2.4. Nutrition Intervensi
Intervensi dibagi menjadi dua ketika kondisi pasien belum dapat mengasup makanan per oral sehingga harus diberi nutrisi enteral dan ketika kondisi sudah membaik dan mampu makan melalui oral
a. Memenuhi kebutuhan asupan zat gizi dengan mempertimbangkan keadaan COPD yang dialami oleh pasien
b. Memenuhi kebutuhan cairan dengan mempertimbangkan kondisi odema
c. Memberi rekomendasi asupan yang tidak memberatkan kondisi paru-paru pasien
2.1.2. Preskripsi
a. Pemberian asupan energi yaitu 1780,55 kkal/hari sesuai dengan kebutuhan pasien. b. Pemberian protein 89 gram sesuai dengan kebutuhan pasien.
c. Pemberian karbohidrat 200,3 gram sesuai dengan kebutuhan pasien.
d. Pemberian cairan yang cukup yaitu 1,3-2,1 liter/hari dengan pemberian secara bertahap, cairan yang tidak berkafein dapat membantu membuat lapisan mukosa disaluran nafas menjadi tipis dan dapat batuk dengan mudah
e. Makanan yang diberikan dibagi menjadi 6 kali makan dalam porsi kecil
f. Pemberian makanan yang dapat memenuhi kebutuhan mikronutrien, seperti Ca = 1877,1 mg, Vit D = 5,5 µg, Vit A = 766,9 µg, Vit C = 53,2 mg, Vit E = 13,5 mg, Mg = 420 mg, Fosfor = 700 mg
g. Pembatasan asupan natrium agar tidak lebih dari 2400 mg karena natrium dapat menyebabkan retensi cairan
2.1.3. Perhitungan Kebutuhan
BB = 55,33 kg
Koreksi BB karena adanya odema 5%
BB aktual = BB saat ini x 5%
= 55,33 x 5%
= 52,56 kg
BMR = 9.99 x 52,56 kg + 6.25 x 162,56 cm - 4.92 x 65 + 5 = 525,07 + 1016 – 319,8 +5
= 1226,27 kkal
Koreksi BMR yang meningkat 10-15% akibat COPD BMR = 1226,27 x 10%
= 1348,9 kkal AF = 20% x 1348,9 = 269,78 kkal
SDA = 10% x (1348,9 + 269,78) = 161,87 kkal
TEE = 1348,9 +269,78+161,87 = 1780,55 kkal
Lemak = 35% x 1780,55 kkal = 623,2 kkal atau 69,2 gr
Protein = 20% x 1780,55
= 356,11 kkal atau 89 gr KH = 45% x 1655,11
= 801,3 kkal atau 200,3 gr Cairan = (25-40) ml x 52,56 kg / 24 jam = (1314 – 2102,4) ml / 24 jam
= 1,3 -2,1 liter per hari
Kebutuhan cairan dipenuhi secara bertahap agar tidak menyebabkan retensi cairan yang dapat memperparah odema.
Tahapan pemberian cairan pertama diberi sesuai dengan kebiasaan pasien yaitu 800 mL, kemudian bertahap menjadi 900 mL, 1000 mL, 1200 mL, 1300 mL. Pemberian tersebut tidak bisa dipaksakan, ketika pasien mampu untu mengasup lebih banyak cairan dianjurkan untuk menuju ke tahap pemberian cairan yang lebih banyak hingga memenuhi kebutuhan. Retensi cairan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya efek samping dari terapi medis misalnya obat-obatan, efek samping dari kondisi penyakit. Retensi cairan juga dapat disebabkan terlalu banyak mengonsumsi garam, dan jarang diakibatkan karena konsumsi cairan yang berlebihan3, sehingga pemenuhan kebutuhan sesuai dengan kebutuhan harus dicapai secara bertahap.
2.1.4. Implementasi
Terdapat formula nutrisi enteral yang dijual komersial yang dibuat khusus untuk pasien dengan penyakit pernafasan yang mengandung karbohidrat rendah (30%) dan lemak yang lebih tinggi (50%)4, misalnya yang tertera sebagai berikut5:
Produk Produsen Kkal/m
L % KH
%
Protein % Lemak
Harga/1000 kkal (dlm USD) NovaSourc
e
Pulmonary
Novartis 1,5 40,0 20,0 40,0 6,72
NutriVent Nestle 1,5 27,0 18,0 55,0 5,33
Pulmocare Ross 1,5 28,2 16,7 55,1 4,28
Respalor Novartis 1,5 40,0 20,0 40,0 7,50
2. Tahap II (Ketika keadaan sudah lebih baik dan dapat mengasup makanan melalui oral)
Menu 1 hari (1780,55 kkal) Sarapan
½ cangkir (120 ml) jus apel
2 lbr roti tawar dengan mentega, keju dan daging asap ½ gelas (120 ml) susu (whole milk)
Snack 1
Chocolate Peanut Butter Shake ½ cangkir heavy whipping cream 3 sdm creamy peanut butter 3 sdm sirup cokelat
1 ½ cangkir es krim cokelat
Makan siang
100 gr nasi dengan 50 gr kacang, bawang dan paprika Scramble egg
2 bh Biskuit
1 cangkir (240 ml) teh tidak berkafein
Snack 2
Great Grape Slush
2 bh es krim anggur
½ cangkir jus anggur atau soda lemon
2 sdm sirup jagung 1 sdm minyak jagung
Makan malam Sushi Mr Crab
50 gr Nasi Rumput laut Timun Wortel Crab stick Chicken katsu
50 gr Dada ayam Tepung
Salad Kubis Wortel
Saus tousand island
Snack 3 Super Pudding
1 bks agar-agar instan ¾ cangkir susu bubuk
Perhitungan Menu
Zat Gizi Asupan Kebutuhan
energi 1778,5 kkal 1780,55 kkal
Air 1418,1 g 1300-2100 ml
protein 85,0 g 89 gr
lemak 72,2 g 69,2 gr
karbohidrat 192,7 g 200,3 gr
Vit. A 993,3 µg 766,9 µg
Vit. E 10,2 mg 13,5 mg
Vit. C 56,8 mg 53,2 mg
sodium 1568,9 mg <2400 mg
kalsium 834,8 mg 1877 mg
magnesium 284,9 mg 420 mg
fosfor 1282,6 mg 700
2.5. Nutrition Monitoring dan Evaluasi
Diagnosis Intervensi Evaluasi
Asupan oral tidak adekuat (NI-2.1)
Memenuhi kebutuhan asupan
zat gizi dengan
mempertimbangkan keadaan COPD yang dialami oleh pasien.
Kebutuhan makanan terpenuhi sesuai dengan kebutuhan pasien yang dipantau dengan recall 24 jam.
Asupan cairan tidak adekuat (NI-3.1)
Memenuhi kebutuhan cairan dengan mempertimbangkan kondisi odema.
porsi karbohidrat (45%), lemak (35%), protein (20%).
BAB III PEMBAHASAN
PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri atas bronkitis kronis dan emfisema atau gabungan keduanya. Pada pasien dalam kasus ini, didiagnosis bahwa pasien mengalami emfisema lebih dari 10 tahun yang lalu. Pada emfisema ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal disertai kerusakan dinding alveoli, sehingga klien selalu kehabisan napas dan lebih sulit untuk menjadi aktif.
Pada assessment domain data biokimia, ditemukan bahwa kadar gas-gas dalam darah di bagian arteri, kesemuanya memiliki kadar diluar kisaran normal. Ditunjukkan bahwa pH arteri dan pO2 pasien tersebut memiliki kadar yang lebih rendah dari normal ditandai dengan skor pH arteri adalah 7.2↓ ; 7.3↓ ; 7.36 ; 7.22↓ lebih rendah dibandingkan skor normal yakni 7.35-7.45 dan skor pO2 adalah 56↓ ; 58↓ ; 60↓ ; 57↓ lebih rendah dibandingkan skor normal yakni ≥80mm Hg. Sedangkan untuk status kadar pCO2 dan bikarbonat arteri memiliki kadar yang lebih tinggi dibandingkan kadar normal ditandai dengan skor pCO2 adalah 65↑ ; 59↑ ; 50↑ ; 66↑ lebih tinggi dibandingkan skor normal yakni 35-45mm Hg dan skor bikarbonat arteri adalah 38↑ ; 33↑ ; 32↑ ; 37↑ lebih tinggi dibandingkan skor normal yakni 24-28. Hal ini mengindikasikan bahwa tubuhnya mengalami kondisi kompensasi terhadap adanya asidosis pada pernafasannya disebabkan oleh tingginya kadar CO2 yang menyebabkan pH arteri turun, dan disertai dengan kadar bikarbonat arteri yang tinggi menunjukkan bahwa ginjalnya mencoba untuk menormalkan kadar pH dengan mengubah bikarbonat arteri basa melalui proses metabolik.
Tingginya rasio LDL/HDL disebabkan Bapak H cenderung memakan banyak telur dan olahannya. Sedangkan rendahnya kadar hemoglobin dan hematokrit berhubungan dengan kurangnya konsumsi makanan yang kaya akan protein dan zat besi.
Kebiasaan merokok pada bapak H menjadi salah satu factor resiko terpenting, jauh lebih penting dari factor resiko lainnya. Penyebab lain adalah riwayat terpajan polusi udara (lingkungan dan tempat kerja) dimana dahulu pasien tersebut bekerja sebagai manajer di pasar local. Selain itu factor hipereaktiviti bronkus, riwayat infeksi saluran napas bawah berulang, jenis kelamin laki-laki dan ras (kulit putih lebih berisiko).
Pasien dengan PPOK memiliki status gizi yang lebih rendah dibandingkan dengan orang normal tanpa PPOK disebabkan kesulitan pasien untuk makan dan nafsu makan pasien yang menurun. Pasien dengan PPOK pada umumnya mengalami penurunan berat badan yang disebabkan adanya peningkatan kebutuhan energi dimana energy tersebut digunakan untuk bernafas dan akibat dari adanya penurunan nafsu makan menyebabkan penurunan terhadap asupan makan.
kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) yang penting untuk dimonitoring karena seluruh kontraksi otot perlu bernafas. Pasien tersebut memiliki risiko osteoporosis yang lebih besar jika asupan kalsium tidak terpenuhi. Asupan vitamin D perlu ditingkatkan untuk mendukung absorpsi kalsium. Monitoring terhadap status vitamin K, natrium dan kalium menyesuaikan terhadap kondisi pasien dan obat yang digunakan.
Respiratory quotient (RQ) merupakan rasio antara karbondioksida dengan oksigen yang dikonsumsi oleh organisme pada waktu tertentu. Terdapat perbedaan jumlah karbondioksida yang diproduksi ketika masing-masing makronutrien (karohidrat, lemak dan protein) yang dikonsumsi. RQ untuk karbohidrat adalah 1, lemak adalah 0.7, dan protein adalah 0.8. Maka baik untuk pasien PPOK untuk meningkatkan asupan lemak dan menurunkan asupan karbohidrat sehingga dapat menurunkan kadar CO2 dalam darah. Anjuran asupan karbohidrat sebanyak 40-55%, lemak sebanyak 30-45% dan protein sebanyak 15-20% dari total kalori sehari.
Adapun gejala dan tanda PPOK sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala, gejala ringan hingga gejala berat. Diagnosis PPOK ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan yang terarah dan sistematis meliputi gambaran klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisis) dan pemeriksaan penunjang baik yang bersifat rutin maupun pemeriksaan khusus. Pada kasus Bapak H, diagnosis yang dibuat adalah sebagai berikut;
1. Inadekuat oral intake (NI-2.1) berkaitan dengan menurunnya kemampuan untuk mengkonsumsi makanan ditandai dengan swallowing difficulty.
2. Inadequate fluid intake (NI-3.1) berkaitan dengan kurangnya akses untuk minum (manula) berkaitan dengan kurangnya perkiraan asupan cairan dari kebutuhan yaitu 830,3 ml.
3. Altered nutrition-related laboratory values (NC-2.2) berkaitan dengan pulmonary disfunction ditandai dengan perubahan pO2 dan pCO2 (pulmonary disorder)
Berdasarkan perhitungan kebutuhan kalori dan protein, dengan rumus didapatkan hasil kalori: 1655,11 Kcal/hari; protein: 64-85 g/hari Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan kalori sehari Bapak H adalah ± 1700 Kkal/hari dan kebutuhan protein sehari Bapak H antara 65-85 gram/hari Adapun kebutuhan asupan cairan Bapak H sehari adalah 1,3 – 2,2 L/hari.
PPOK merupakan penyakit paru kronik progresif dan nonreversibel, sehingga
penatalaksanaan PPOK terbagi atas penatalaksanaan pada keadaan stabil dan penatalaksanaan pada eksaserbasi akut.Tujuan umum penatalaksanaan PPOK adalah untuk mengurangi gejala, mencegah eksaserbasi berulang, memperbaiki dan mencegah penurunan faal paru serta meningkatkan kualiti hidup penderita. Penatalaksanaan meliputi edukasi, obat-obatan, terapi oksigen, ventilasi mekanik, nutrisi dan rehabilitasi.
Tujuan penatalaksanaan gizi pada Bapak H adalah sebagai berikut;
1. Gol pertama akan meningkatkan kebutuhan kalori sehingga ia dapat mempertahankan atau meningkatkan berat badan saat ini.
2. Gol kedua akan tetap dengan lemak tinggi, diet karbohidrat rendah sehingga RQ-nya tetap rendah dan memiliki lebih sedikit karbon dioksida dalam tubuh.
3. Gol terakhir akan meningkatkan makanan padat gizi dalam makanan, terutama produk susu, sehingga meningkatkan status gizi dan ia dapat mengurangi risiko osteoporosis.
berpendapat bahwa pada pasien dengan PcxPOK stabil, tidak ada keuntungan tambahan dari suplementasi nutrisi oral (oral nutritional supplement/ONS) berupa rendah karbohidrat-tinggi lemak dibandingkan ONS standar atau tinggi protein atau tinggi energi. Pemberian ONS dengan porsi kecil lebih disukai untuk menghindari sesak nafas setelah makan dan untuk memperbaiki kepatuhan pasien. Ringkasan pernyataan ESPEN untuk pemberian EN pada pasien PPOK dapat dilihat pada Tabel 1.6
Tabel 1. Ringkasan Pernyataan ESPEN untuk Enteral Nutrisi pada PPOK Subyek Rekomendasi
Indikasi Terdapat bukti yang terbatas bahwa pasien PPOK mendapatkan keuntungan dari pemberian enteral nutrition (EN) saja.
Aplikasi Oral Nutrition Supplements (ONS) dengan porsi kecil dan sering lebih disukai untuk mencegah sesak dan kekenyangan postpandrial, serta untuk meningkatkan kepatuhan pasien.
Tipe Formula
Pada pasien PPOK yang stabil, tidak terdapat keuntungan tambahan dari ONS disease specific yang rendah karbohidrat, tinggi lemak, dibandingkan dengan ONS standar yang tinggi protein dan tinggi energi
Edukasi merupakan hal penting dalam pengelolaan jangka panjang pada PPOK stabil. Edukasi pada PPOK berbeda dengan edukasi pada asma. Karena PPOK adalah penyakit kronik yang ireversibel dan progresif, inti dari edukasi adalah menyesuaikan keterbatasan aktiviti dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru. Tujuan edukasi adalah supaya pasien PPOK mengenal perjalanan penyakit, melaksanakan pengobatan yang maksimal, mencapai aktiviti optimal dan meningkatkan kualiti hidup.
Bronkodilator diberikan secara tunggal atau kombinasi sesuai dengan klasifikasi derajad beratnya penyakit. Diutamakan bentuk obat inhalasi, nebulisasi tidak dianjurkan pada penggunaan jangka panjang. Pada derajat berat diutamakan pemberian obat lepas lambat (slow release) atau obat berefek panjang (long acting).
mempertahankan oksigenasi seluler dan mencegah kerusakan sel baik di otot maupun organ-organ lainnya. Terapi oksigen bermanfaat untuk mengurangi sesak napas, hipertensi pulmoner, vasokonstriksi pembuliuh darah paru, hematokrit dan memperbaiki kualiti dan fungsi neuropsikologik.
Ventilasi mekanik pada PPOK digunakan pada eksaserbasi dengan gagal napas akut, gagal napas akut pada gagal napas kronik atau pada pasien PPOK derajat berat dengan gagal napas kronik. Ventilasi mekanik dapat digunakan di rumah sakit di ruang ICU atau di rumah Ventilasi mekanik dapat dilakukan dengan intubasi maupun tanpa intubasi.
Ventilasi mekanik tanpa intubasi digunakan pada PPOK dengan gagal napas kronik dan dapat digunakan selama di rumah. Bentuk ventilasi mekanik tanpa intubasi adalah NIPPV (noninvasive intermitten positive pressure) atau NPV (negative pressure ventilation). NIPPV bila digunakan dengan terapi oksigen terus menerus (LTOT/long term oxygen therapy) akan memberikan perbaikan bermakna pada AGD, kualitas dan kuantitas tidur serta kualiti hidup. NIPPV dapat diberikan dengan tipe ventilasi volume control, pressure control dan BiPAP (bilevel positive airway pressure) dan CPAP (continuous positive airway pressure).
Ventilasi mekanik dengan intubasi. Pasien PPOK dipertimbangkan untuk menggunakan ventilasi mekanik di rumah sakit bila ditemukan keadaan sebagai berikut:
1. Gagal napas yang pertama kali
2. Perburukan yang belum lama terjadi dengan penyebab yang jelas dan dapat diperbaiki (misalnya pneumonia)
3. Aktivitas sebelumnya tidak terbatas.
4. Ventilasi mekanik sebaiknya tidak dilakukan pada pasien PPOK dengan kondisi sebagai berikut:
a. PPOK derajat berat yang telah mendapat terapi maksimal sebelumnya b. Terdapat ko-morbid yang berat, misalnya edema paru, keganasan c. Aktiviti sebelumnya terbatas meskipun terapi sudah maksimal
DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.copdeducation.org.uk/Category-284/COPD-Nutrition
2. Mahan LK, Escott-Stump S, Raymod JL. Krause’s Food and the Nutrition Care Process, ed 13th.
3. Web MD. COPD Diet Guidelines: Protein, Calcium, Reducing Sodium, and More. Dapat diakses melalui: http://www.webmd.com/lung/copd/more-essential-dietary-guidelines-for-copd-patients.
4. Marcia Nelms, et al. 2010. Nutrition Therapy and Patophysiology 2/e. Bab 21 Disease of The Respiratory System. p 662.
5. Ainsley Malone. 2005. Enteral Formula Selection: A Review of Selected Product Categories. Practical Gastroenterology • June 2005. Dapat diakses melalui:
http://www.medicine.virginia.edu/clinical/departments/medicine/divisions/digestive-health/nutrition-support-team/nutrition-articles/MaloneArticle.pdf