• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA UNTUK ME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA UNTUK ME"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA UNTUK

MENCAPAI PILIHAN KARIR YANG TEPAT

Disusun sebagai Tugas Tengah Semester

Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian

oleh:

Dwi Apriyogo

091224253001

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

PROGRAM PASCASARJANA

(2)

1 PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN REMAJA UNTUK MENCAPAI PILIHAN

KARIR YANG TEPAT

Oleh

Dwi Apriyogo/09122423001

PENDAHULUAN

Penulis menemui fenomena bahwa placement pada pengelolaan sumber daya manusia

sekarang ini sering kali terjadi inkonsistensi antara fungsi kerja dan jurusan selam menjalani

kuliah atau gelar dari perguruan tinggi. Salah satu contohnya misalkan seorang lulusan teknik

mesin yang bekerja di bidang public relations. Fenomena lain yang menunjukkan hal serupa

adalah rekrutmen dengan metode management trainee (MT). MT dikenal sebagai program

pengembangan sumber daya manusia untuk menempati posisi manajer sebuah perusahaan

dengan menjalani pendidikan yang singkat dan cepat untuk mengetahui seluk beluk perusahaan

sebelum menjabat sebagai manajer1. Salah satu prasyarat dalam rekrutmen MT adalah semua

jurusan boleh melamar dengan minimal pendidikan adalah sarjana. Lulusan sarjana menilai

MT sebagai jalan pintas untuk mendapatkan pekerjaan layak. Sehingga Program MT di banyak

perusahaan banyak diminati oleh fresh graduate. Keberagaman (diversity) sumber daya

manusia memang harus dipertahankan dalam sebuah organisasi. Tetapi, jika terjadi

inkonsistensi dalam pengembangan sumber daya manusia. Maka fungsi pendidikan formal dan

pendidikan tinggi diragunkan efektivitas dan efisiensinya dalam menciptakan sumber daya

manusia yang kompeten.

Fenomena lain yang ditemui oleh penulis adalah pengangguran intelektual yang beredar di

Indonesia. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi bahwa terdapat 610 ribu pengangguran

intelektual diantara 7.17 juta pengangguran di Indonesia pada tahun 20132. Hal tersebut

seharusnya menjadi perhatian dan peringatan bahwa terjadi darurat sumber daya manusia di

Indonesia. Pada tahun 2015, ketika ASEAN Economic Community berlaku, mungkin saja

kondisi menjadi semakin parah karena tenaga professional dari luar negeri bisa datang untuk

1 Anonim. 2010. Management Trainee. Terdapat dalam

http://www.psikologizone.com/management-trainee/06511928, diakses pada [19 Januari 2014].

2 Reza Gunadha. 2013. Muhaimin Iskandar: 600 Ribu Sarjana di Indonesia menjadi Pengangguran. Terdapat

(3)

2 bekerja di Indonesia. Fakta tersebut juga memperkuat pernyataan sebelumnya mengenai

efektivitas dari pendidikan di Indonesia.

Pemilihan jurusan di pendidikan tinggi yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kemampuan

adalah fenomena yang menjadi salah satu pemicu dari kedua fenomena sebelumnya. Fenomena

tersebut terjadi karena remaja kurang memiliki self-awareness dan self-concept atau

self-identity. Diketahui bahwa pada masa remaja, individu berada dalam masa pencarian jati diri

atau identitas diri3. Selain sifat yang terbentuk secara alami, remaja juga mendapatkan

pengaruh dari lingkungan sekitar. Orang tua, teman, dan media merupakan faktor-faktor yang

memengaruhi identitas atau jati diri remaja termasuk dalam memilih jurusan kuliah ketika lulus

dari SMU. Pemilihan jurusan kuliah sering kali diwarnai dengan alasan-alasan pragmatis, salah

satunya adalah gaji yang besar ketika bekerja setelah kuliah4. Pilihan orang tua dan mengikuti

pilihan teman adalah faktor lain yang menyebabkan remaja salah dalam menentukan jurusan

kuliah yang tidak sesuai dengan kepribadian mereka. Kepribadian individu dan lingkungan

saling memengaruhi secara positif. Kumpulan individu yang memiliki persamaan kepribadian

akan menciptakan kinerja yang tinggi. Lingkungan yang sesuai dengan kepribadian individu

akan meningkatkan kinerja individu tersebut. Oleh karena itu, individu seharusnya mengenal

kepribadian diri sendiri untuk mencapai kesuksesan, bukan hanya karena pengaruh lingkungan

yang tidak sesuai dengan kepribadian individu tersebut.

Pemilihan jurusan yang salah dalam perkuliahan akan menimbulkan banyak akibat yang antara

lain adalah:

1. Prestasi Kuliah yang Buruk

Hal tersebut adalah akibat yang paling cepat terjadi apabila individu tersebut merasa

menyesal dalam memilih jurusan. Hal tersebut dikarenakan individu tersebut tidak

mampu mengikuti materi perkuliahan dan tidak mempunyai semangat untuk belajar

karena tidak suka dengan pelajaran tersebut.

2. Sulit untuk Lulus

Dampak kedua ini merupakan kelanjutan dari dampak yang pertama. Karena tidak

mempunyai semangat belajar, maka individu dalam menjalani masa perkuliahan

dengan santai bahkan malas untuk kuliah. Hal tersebut membuat masa kuliah berjalan

semakin lama. Hal tersebut juga merugikan diri sendiri dan orang lain. Kerugian bagi

3 Tina Abbot. 2001. Social and Personality Development. New York: Kogan Pages. Hal. 77.

4 Anonim. 2014. Akibat Salah Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi. Terdapat dalam

(4)

3 diri sendiri yaitu frustasi dan kehilangan kepercayaan diri. Kerugian untuk orang lain

adalah dana atau investasi pendidikan yang dikeluarkan orang tua hilang dengan

sia-sia.

3. Pekerjaan Tidak Sesuai dengan Kepribadian dan Kemampuan

Terdapat banyak lulusan sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan kompetensi yang

individu dapatkan ketika belajar di perguruan tinggi. Hal tersebut dikarenakan individu

tersebut setelah lulus dari perguruan tinggi mengejar pekerjaan yang sesuai dengan

kepribadian mereka, bukan sesuai dengan kompetensi yang didapatkan dari kegiatan

belajar di perguruan tinggi. Individu pada umumnya menyadari bahwa jurusan yang

dipilih tidak memuaskan ketika telah menjalani pendidikan. Sehingga hal tersebut

merugikan karena menghabiskan biaya dan tenaga dengan sia-sia.

Pemilihan jurusan dalam perkuliahan ternyata berdampak sistemik sampai dengan pemilihan

pekerjaan individu. Waktu, tenaga dan biaya banyak terbuang karena salah dalam pemilihan

jurusan dalam perkuliahan yang dikarenakan pengaruh lingkungan yang buruk.

Penulis menitikberatkan makalah ini kepada bagaimana seharusnya pengembangan

kepribadian individu berpengaruh kepada preferensi pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian

individu. Hal tersebut menjadi penting karena dampak negatif sistemik yang terjadi apabila

pemilihan pekerjaan tidak sesuai dengan kepribadian individu seperti yang telah dibahas dalam

paragraf sebelumnya. Penulis juga meragukan efektivitas dan efisiensi dari sistem pendidikan

dalam menciptakan sumber daya manusia yang sesuai. Hal tersebut berdasarkan fakta bahwa

masih terdapat banyak pengangguran intelektual yang seharusnya mampu berkontribusi bagi

masyarakat. Fakta lain yang mendukung pernyataan penulis adalah terdapat banyak individu

yang memilih jurusan di pendidikan tinggi yang tidak sesuai dengan kepribadian.

Penulis mengkolaborasikan metode dalam pengembangan kepribadian dengan pengembangan

karir pada remaja. Penulis berasumsi bahwa seharusnya remaja mengetahui kepribadian

mereka sejak dini. Kepribadian tersebut kemudian bisa diarahkan kepada suatu pilihan

pekerjaan tertentu yang bisa dikembangkan dengan pendidikan di perguruan tinggi.

Penulis menggunakan Teori Human Capital dalam kolaborasi antara pengembangan

kepribadian dengan pengembangan karir. Stakeholder dari remaja dalam konteks ini adalah

orang tua dan insitusi pendidikan. Pendekatan nomotetik juga menjadi landasan dari penulis

untuk menggambarkan pengembangan kepribadian individu. Sementara itu, Teori Kepribadian

(5)

4 TUJUAN

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan kombinasi antara pengembangan kepribadian

dengan pengembangan karir untuk mendorong remaja memilih jurusan di pendidikan tinggi

yang sesuai dengan kepribadian. Kepribadian tersebut menunjukkan pilihan pekerjaan di masa

depan.

PERSPEKTIF DAN TEORI

Dalam makalah ini, penulis menggunakan beberapa perspektif atau teori untuk mendukung

terciptanya metode atau strategi efektivitas dan efisiensi pendidikan dalam menciptakan

sumber daya manusia yang kompeten dan mempunyai kepribadian yang sesuai dengan

pekerjaan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing perspektif atau teori yang digunakan

oleh penulis:

1. Pendekatan Nomotetik

Pendekatan nomotetik menyatakan bahwa individu mempunyai persamaan

karakteristik dengan individu lain dan studi mengenai perilaku individu menuntun

kepada pemahaman yang mendalam terhadap manusia5. Penerapan pendekatan

nomotetik dilakukan dengan melakukan eksperimen dan pengukuran terhadap individu.

Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kategori dari individu. Seperti yang telah

dinyatakan bahwa pendekatan nomotetik mencoba untuk menggolongkan individu ke

dalam kategori kepribadian tertentu berdasarkan teori yang berkembang. Pendekatan

nomotetik termasuk dalam psikologi kognitif. Teori yang termasuk dalam pendekatan

ini antara lain adalah Teori Tipe Eysenck dan Teori Psikoanalitik.

Dalam makalah ini, pendekatan nomotetik digunakan sebagai pondasi dalam fungsi

kategorisasi saja tanpa menggunakan atau menjelaskan teori yang terdapat dalam

pendekatan tersebut. Pendekatan nomotetik disebutkan oleh penulis untuk memperkuat

pernyataan bahwa individu mempunyai karakteristik dan yang sama dengan individu

lain dan bisa dikategorisasikan.

2. Teori Kepribadian di Lingkungan Pekerjaan oleh John Holland

(6)

5 John Holland merumuskan suatu teori yang menyatakan bahwa lingkungan yang sesuai

dengan kepribadian individu akan menciptakan kinerja yang tinggi dalam bekerja. John

Holland menyatakan bahwa individu yang mempunyai informasi lebih mengenai

lingkungan pekerjaan memilih pilihan pekerjaan yang sesuai dengan dirinya daripada

individu yang kurang mengetahui informasi tersebut6. Berikut adalah asumsi-asumsi

yang ada dalam Teori Holland:

 Dalam kebudayaan kita, kebanyakan individu dikategorikan dalam satu satu

dari enam kategori yaitu Realistis, Investigatif, Artistik, Sosial, Enterprising,

Konvensional.

 Terdapat enam model lingkungan pekerjaan yaitu Realistis, Investigatif,

Artistik, Sosial, Enterprising, Konvensional.

 Individu mencari lingkungan yang akan membiarkan individu tersebut untuk

menunjukkan keahlian dan kemampuan, mengekspresikan perilaku dan nilai,

dan mengambil keputusan dan peran.

 Perilaku ditentukan oleh interaksi antara kepribadian dengan lingkungan.

Dalam Teori tersebut, kepribadian individu dikategorikan ke dalam enam kelompok

begitu pula lingkungan pekerjaan. Seorang individu akan menghasilkan kinerja yang

maksimal ketika terdapat kesamaan antara kategori kepribadian dengan kategori

lingkungan pekerjaan. Misalkan individu yang mempunyai kepribadian artistik

maksimal kinerjanya apabila ditempatkan pada lingkungan kerja yang berisikan

individu lain yang mempunyai kategori kepribadian yang artistic.

Dari asumsi-asumsi tersebut tercipta diagram hexagonal yang menggambarkan

interaksi antara kepribadian dengan lingkungan.

Gambar 1. Diagram Hexagonal Teori Kepribadian di Lingkungan Pekerjaan

6 Arnold R. Spokane, et al. 2002. Holland’s Theory of Personalities in Work Environments. Dalam Duane

Brown and Associates. 2002. Career Choice and Development 4th Edition. San Fransisco: Jossie Bass. Hal. 375.

Realistis Investigatif

Artistik

Sosial Enterprising

(7)

6 Diagram tersebut menunjukkan interaksi antara kepribadian dengan lingkungan

pekerjaan. Terlihat dalam diagram bahwa kategori realistis dengan sosial saling

berhadapan atau berjauhan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua kategori tersebut

saling bertolak belakang. Sementara itu, kategori yang dekat dengan kategori realistis

yaitu konvensional dan investigatif memiliki persamaan.

Untuk memahami indikator dari enam kategori hexagonal yang dirumuskan oleh John

Holland, perlu mengetahui kesesuaian (congruence), konsistensi (consistency),

differensiasi (differentiation), dan identitas (identity) dari interaksi antar kategori

tersebut7.

Kesesuaian (congruence) berhubungan dengan interaksi antara kategori lingkungan

pekerjaan dengan kategori kepribadian individu. Berdasarkan kepada diagram

hexagonal tersebut di atas. Kecenderungan kategori kepribadian yang dimiliki individu

bisa dilihat kesesuaiannya dengan kategori lingkungan pekerjan yang dipilih individu.

Konsistensi (consistency) berhubungan dengan interaksi antar kategori dalam diagram

hexagonal. Kategori realistis memiliki konsistensi atau banyak persamaan dengan

kategori investigatif atau konvensional. Sementara itu, kategori sosial bertolak

belakang atau tidak konsisten dengan kategori realistis.

Diferensiasi (differentiation) adalah suatu pengkuruan terhadap kristalisasi ketertarikan

individu dan menyediakan definisi relatif dari tipe dalam profil individu. Diferensiasi

mengidentifikasi skor terendah diantara kategori yang ada dari individu.

Identitas (identity) adalah suatu pengukuran terhadap kejelasan dari gambaran tujuan,

ketertarikan dan talenta dari individu. Identitas berhubungan dengan diferensiasi dan

konsistensi dalam mendifinisikan kekuatan kepribadian dan lingkugan pekerjaan.

Berikut ini adalah deskripsi dari enam kategori dari John Holland:

Tabel 1. Deskripsi Kategori dalam Teori Kepribadian dan Lingkungan Kerja

(8)
(9)
(10)

9

Sumber: Arnold R. Spokane, et al. 2002. Holland’s Theory of Personalities in Work

Environments. Dalam Duane Brown and Associates. 2002. Career Choice and

(11)

10 3. Konsep Human Capital

Konsep Human Capital berfokus kepada investasi terhadap sumber daya manusia

sehingga membawa adding value bagi organisasi8. Adding value yang dimaksudkan

adalah nilai tambah dalam bentuk ide, gagasan atau perspektif baru yang belum pernah

dipikirkan atau dilakukan sebelumnya oleh organisasi. Kreativitas tersebut kemudian

akan bertransformasi menjadi inovasi yang bermanfaat untuk meningkatkan

produktivitas dari organisasi.

Konsep Human Capital juga menekankan kembali pentingya sumber daya manusia

dalam organisasi sebagai aset yang aktif9. Sumber daya manusia tidak bisa

diperlakukan sebagaimana memperlakukan mesin dalam industri. Sumber daya

manusia seharusnya aktif dalam menentukan pekerjaan mereka dalam organisasi. Hal

tersebut terwujud dalam interaksi yang menguntungkan antara pimpinan dngan pekerja.

Pimpinan seharusnya mampu untuk memfasilitasi kebutuhan dan aspirasi pekerja

terutama yang berhubungan dengan kemajuan organisasi. Pekerja harus aktif

memerikan ide dan komitmen serta kinerja yang baik kepada pimpinan. Selama ini,

perhitungan matematis atau akuntansi sumber daya manusia tidak bisa memprediksi

apakah investasi terhadap sumber daya manusia akan menghasilkan keuntungan yang

sepadan di masa depan. Hal tersebut dikarenakan sumber daya manusia adalah aset

yang bersifat intangible. Output yang dihasilkan oleh sumber daya manusia menurut

pendekatan human capital adalah adding value berupa ide, gagasan dan kreativitas.

Tantangan atau pun tugas dari pengelola sumber daya manusia dalam organisasi untuk

mengidentifikasi sumber daya manusia dalam organisasi yang potensial menghasilkan

inovasi dalam organisasi. Dalam manajemen human capital terdapat mekanisme untuk

menjalankan kosep human capital, yaitu sebagai berikut10:

8 Angela Baron & Michael Amstrong. 2007. Human Capital Management: Achieving Added Value Through

People. London: Kogan Page. Hal. 10.

9 Ibid. hal 12.

(12)

11

Proses tersebut di atas menggambarkan proses pelaksanaan dari manajemen human

capital yang dimulai dari pengukuran terhadap sumber daya manusia dan kebijakan sumber daya manusia yang telah berjalan. Kemudian hasil pengukuran yang berupa

laporan disimpulkan dan kemudian diberikan kepada stakeholder’s untuk merumuskan

strategi atau kebijakan sumber daya manusia ke depannya.

Pada makalah ini, konsep human capital digunakan dalam konteks pendidikan.

Stakeholder utama pada konsep tersebut adalah orang tua yang nantinya akan berinvestasi kepada sumber daya manusia dalam hal ini adalah anak. Orang tua harus

mengetahui kemampuan dan kepribadian anak melalui pengukuran terlebih dahulu

sebelum mengarahkan anak untuk melanjutkan pendidikan. Konsep human capital

menjadi pondasi aplikasi Teori Kepribadian dan Lingkungan Kerja dari John Holland.

STRATEGI PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN BAGI REMAJA

Berdasarkan kepada perspektif dan teori yang telah dibahas pada bagian sebelumnya, penulis

menyimpulkan bahwa untuk mengarahkan remaja memilih jurusan di perguruan tinggi perlu

peran aktif dari orang tua dan institusi pendidikan. Orang tua dan institusi pendidikan (SMU)

harus berkoodinasi dalam memantau perkembangan kepribadian remaja. Insitusi pendidikan

seharusnya melakukan pengukuran berdasarkan kepada Teori Kepribadian dan Lingkungan

Kerja dari John Holland untuk mengetahui pilihan pekerjaan dari remaja tersebut berdasarkan

kategori yang ada dalam teori. Kemudian, institusi pendidikan memberikan hasil dari

pengukuran tersebut kepada orang tua remaja untuk konfirmasi yang juga berfungsi validitas.

Hasil pengukuran juga diberikan kepada remaja untuk memberitahukan kategori kepribadian

mereka dan kategori lingkungan kerja yang seusai dengan kepribadian mereka. Setelah itu,

remaja diarahkan untuk memilih jurusan di perguruan tinggi yang sesuai dengan kompetensi

yang diharapkan dari pekerjaan yang dipilih oleh remaja tersebut sesuai dengan lingkungan

kerja.

Dalam satu kategori kepribadian terdapat beberapa macam pekerjaan yang bisa dipilih. Remaja

dalam memilih jurusan dalam perguruan tinggi harus memperhatikan kesesuaian antara

kepribadian dengan kompetensi yang dihasilkan dari jurusan tersebut. Misalkan seorang

remaja memiliki kategori kepribadian yang realistis, maka sudah pasti remaja tersebut akan

berkembang di lingkungan yang juga realistis. Kepribadian realistis dicirikan dengan individu

(13)

12 lingkungan realistis mempunyai beberapa pilihan pekerjaan yang antara lain adalah mekanik

kendaraan bermotor, mekanik listrik, pemadam kebakaran dan lain-lain. Misalkan remaja

tersebut ingin bekerja di bagian pemeliharaan kendaraan bermotor atau industri yang

dikarenakan oleh minat yang lebih terhadap pekerjaan tersebut dibanding pekerjaan lain dalam

kategori lingkungan realistis. Maka orang tua dan institusi pendidikan mengarahkan remaja

tersebut untuk memilih jurusan teknik mesin di perguruan tinggi. Hal tersebut juga berlaku

bagi kategori kepribadian dan kategori lingkungan kerja lain.

Pada suatu kasus ditemui bahwa pilihan lingkungan pekerjaan remaja dengan kepribadian

realistis adalah lingkungan konvensional. Hal tersebut tidak menjadi masalah karena terdapat

konsistensi atau persamaan antara lingkungan realistis dengan lingkungan konvensional seperti

yang tergambarkan pada diagram hexagonal dari John Holland. Orang tua dan institusi

pendidikan kemudian bisa mengarahkan remaja tersebut untuk memilih jurusan yang

kompetensi yang dihasilkan sesuasi dengan kompetensi yang diharapkan dari pekerjaan yang

telah dipilih dalam lingkungan pekerjaan konvensional.

Berikut adalah tabel yang menjelaskan kecocokan antara kategori kepribadian dengan kategori

lingkungan pekerjaan:

Tabel 2. Kecocokan antara Kepribadian dengan Lingkungan Pekerjaan

Kepribadian Lingkungan Paling Cocok Kecocokan dengan

Lingkungan Lain

Realistis Realistis Konvensional dan

Investigatif

Investigatif Investigatif Artistik dan Realistis

Artistik Artistik Investigatif dan Sosial

Sosial Sosial Artistik dan Enterprising

Enterprising Enterprising Konvensional dan Sosial

Konvensional Konvensional Enterprising dan Realistis

Sumber: Anonim. 2013. Holland’s Theory of Career Chioce. Terdapat dalam

http://www.careerkey.org/choose-a-career/hollands-theory-of-career-choice.html#.UtwToxD-LIV, diakses pada [19 Januari 2014].

Strategi tersebut direkomendasikan oleh penulis untuk mengatasi permasalahan sumber daya

manusia di Indonesia yang kurang terspesialisasi seperti yang sudah dijelaskan penulis pada

(14)

13 di perguruan tinggi karena remaja tersebut masuk ke dalam lingkungan yang mendukung

perkembangan skill dan kompetensi sesuai dengan minat mereka. Ketika lulus dari perguruan

tinggi, diharapkan mereka memiliki adding values berupa inovasi atau ide atau kompetensi

yang prima sesuai bidang yang bisa diaplikasikan secara maksimal di perusahaan atau

organisasi lain. Investasi yang dikeluarkan oleh orang tua pun menjadi keuntungan di masa

depan. Orang tua pasti akan merasa senang ketika anaknya sukses mencapai tujuan.

Waktu & Tempat Pelaksanaan

Pelaksanaan dari strategi yang direkomendasikan oleh sebaiknya dilaksanakan

menjelang kelulusan remaja tersebut dari SMU. Orang tua dan institusi pendidikan

harus memulai koordinasi membicarakan kepribadian dan keinginan remaja tersebut.

Institusi pendidikan kemudian melakukan pengukuran untuk mengetahui kepribadian

remaja yang akan memengaruhi pilihan jurusan di perguruan tinggi. Hasil dari

pengukuran tersebut kemudian dikomunikasikan dengan orang tua dan remaja

bersangkutan. Setidaknya sebulan sebelum remaja tersebut menjalani ujian kelulusan,

strategi tersebut harus dilaksanakan.

Tempat pelaksanaan strategi tersebut dilakukan di sekolah dari masing-masing institusi

pendidikan dengan memanfaatkan ruang kelas dan ruang konseling.

Rintangan atau Hambatan dari Strategi

Strategi yang dikemukakan oleh penulis bukan tanpa hambatan. Terdapat beberapa

hambatan yang ada dalam menjalankan strategi tersebut. Pertama adalah kesadaran

orang tua dalam memperhatikan tumbuh kembang anak mereka yang rendah di

Indonesia. Strategi ini dirumuskan oleh penulis ketika orang tua individu benar-benar

menyadari pentinganya kepribadian seorang anak untuk dikembangkan dan dipantau.

Namun, jumlah dari orang tua dengan kriteria tersebut masih belum diketahui oleh

penulis

Hambatan kedua adalah kemampuan dari institusi pendidikan dalam hal ini adalah

SMU baik negeri maupun swasta dalam menjalankan pengukuran tersebut di atas.

Institusi pendidikan berperan sentral dalam strategi yang dirumuskan oleh penulis. Jika

institusi pendidikan tidak mampu untuk melaksanakan strategi atau pengukuran

tersebut maka institusi pendidikan bisa menggunakan jasa konsultan psikologi untuk

melakukannya. Tetapi, tidak semua sekolah mampu menganggarkan dana untuk hal

(15)

14 belum diketahui oleh penulis. Karena terdapat kriteria tertentu misalnya kualitas

sumber daya manusia di SMU dan pendanaan.

PENUTUP

Stategi pengembangan kepribadian remaja untuk mencapai pengembangan karir dirumuskan

se-ideal mungkin berdasar kepada teori dan perspektif yang penulis kemukakan. Strategi

tersebut bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki

spesialisasi sesuai dengan kepribadian individu tersebut. Tetapi, strategi tersebut masih

memiliki beberapa hambatan dalam implementasinya. Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih

lanjut mengenai topic tersebut untuk memperkaya dan memperbaik ide yang dikemukakan oleh

(16)

15 REFERENSI

Abbot, Tina. 2001. Social and Personality Development. New York: Kogan Pages.

Anonim. 2010. Management Trainee. Terdapat dalam

http://www.psikologizone.com/management-trainee/06511928, diakses pada [19

Januari 2014].

Anonim. 2013. Holland’s Theory of Career Chioce. Terdapat dalam

http://www.careerkey.org/choose-a-career/hollands-theory-of-career-choice.html#.UtwToxD-LIV, diakses pada [19 Januari 2014].

Anonim. 2014. Akibat Salah Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi. Terdapat dalam

http://www.putra-putri-indonesia.com/memilih-jurusan.html diakses pada [19

Januari 2014].

Baron, Angela & Amstrong, Michael. 2007. Human Capital Management: Achieving Added

Value Through People. London: Kogan Page.

Gunadha, Reza. 2013. Muhaimin Iskandar: 600 Ribu Sarjana di Indonesia menjadi

Pengangguran. Terdapat dalam

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/11/03/muhaimin-iskandar-600-ribu-sarjana-di-indonesia-jadi-pengangguran, diakses pada [19 Januari 2014].

Spokane, Arnold R. et al. 2002. Holland’s Theory of Personalities in Work Environments.

Dalam Duane Brown and Associates. 2002. Career Choice and Development 4th

Gambar

Gambar 1. Diagram Hexagonal Teori Kepribadian di Lingkungan Pekerjaan
Gambar 2. Proses Manajemen Human Capital
Tabel 2. Kecocokan antara Kepribadian dengan Lingkungan Pekerjaan

Referensi

Dokumen terkait

pendidikan dan perkembangan yang berupa modul program pengembangan kompetensi sosial pada remaja peserta akselerasi sehingga dapat memperkaya. program -program

Pada penelitian ini terdapat remaja tunanetra dengan kecenderungan ekstrovert dan kompetensi sosial yang tinggi pada remaja tunantera di kota Bandung, sangat membantu

Karena dengan menggunakan media yang baik sesuai dengan trend remaja dan gaya desain yang sesuai dengan gaya remaja akan mampu untuk menarik minat remaja untuk

membuat remaja mengenali dirinya lebih dalam sesuai dengan 4 tipe kepribadian yang menjadi landasan inti dari board game sehingga ke depannya mereka tidak akan bingung

Dapat memilih pekerjaan yang baik sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan.. Mampu memilih perguruan tinggi

Lulusan Jurusan Fisika diharapkan mempunyai kompetensi yang tinggi terutama sesuai dengan visi dan misi yaitu di bidang fisika medis dan fisika lingkungan serta dalam bidang

Dengan memiliki kemampuan penyesuaian diri yang baik maka remaja akan memiliki perilaku yang sesuai dengan tuntutan dari dalam diri dan tuntutan dari lingkungan, sehingga

Label tersebut merupakan suatu tanda pada produk yang membedakannya dari produk lain yang guna membantu konsumen untuk memilih produk yang ramah lingkungan