PENANGANAN KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT P

14 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengelolaan Sumber Daya Alam di era Otonomi daerah banyak menimbulkan dampak negatif keinginan Pemda untuk menghimpun pendapatan asli daerah (PAD), telah menguras sumber daya alam potensial yang ada, tanpa mempertimbangkan dampak negatif/kerusakan lingkungan. Era Otonomi daerah tidak disikapi baik oleh aparat Pemda, DPRD maupun warga masyarakat dengan kematangan berfikir, bersikap dan bertindak. Masing-masing elemen masyarakat lebih menonjolkan hak dari pada kewajiban dalam mengatur dan mengurus sesuatu yang menjadi kepentingan umum. Dengan kata lain, masing-masing lebih mengedepankan egonya untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Pemahaman terhadap Otonomi daerah yang keliru, baik oleh aparat maupun oleh warga masyarakat menyebabkan pelaksanaan Otonomi daerah menyimpang dari tujuan mewujudkan masyarakat yang aman, damai dan sejahtera. Keterbatasan sumberdaya dihadapkan dengan tuntutan kebutuhan dana (pembangunan dan rutin operasional pemerintahan) yang besar, memaksa Pemda menempuh pilihan yang membebani rakyat, misalnya memperluas dan atau meningkatkan objek pajak dan retribusi, menguras sumberdaya alam yang tersedia, dan lain-lain. Kesempatan seluas-luasnya yang diberikan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan mengambil peran, juga sering disalah artikan, seolah-olah merasa diberi kesempatan untuk mengekspolitasi sumber daya alam dengan cara masing-masing semaunya sendiri.

(2)

Selain itu, pembangunan di daerah banyak yang yang tidak berprinsip pada pembangunan berkelanjutan (suistanable development). Pembangunan yang dilakukan serigkali menimbulkan kerusakan lingkungan ekosistem. Kewenangan daerah untuk memberikan izin usaha industry maupun petambangan sumberdaya mineral nampaknya tidak diindahkan oleh para pelaku usaha untuk menjaga kelestaraian lingkungan hidup. Seperti yang kita tahu bahwa banyak daerah yang mengalami kerusakan lingkunga akibat dari eklpoitasi sumber daya alam dan pembangunan industri. Seperti contoh daerah Papua dengan PT Freeportnya, Kalimantan Timur dengan Pertambanganya, Jakarta dengan Industrinya, dan seperti daerah penulis sendiri yaitu Kab Sinjai banyak pembangunan perumahan tanpa memperhatikan ketersedissan lahan pertanian yang patutnya tetap dipertahankan.

Kewenangan yang diberikan pemerintah pusat dalam bentuk otonomi daerah nampaknya belum dimaknai secara benar, banyak daerah yang karena terobsesi dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, membiarkan lingkunganya mengalami kerusakan. Dimana hal itu jelas melanggar daripada UU nomor 32 tahun 2009 tentang UUPLH. Pelanggaran atas UU tersebut jelas tidak sesuai dengan tujuan awal dengan otonomi daerah.

Berpijak pada latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk menggungkapkan dan membahas dalam bentuk penulisan makalah yang berjudul: “Penanganan Kerusakan Lingkungan Akibat Pelaksanaan Otonomi Daerah”

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas dan untuk lebih memfokuskan penulisan makalah ini, maka rumusan masalah yang diangkat adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana langkah strategis yang digunakan untuk mengatasi kerusakan lingkungan hidup dalam hal pelaksanaan otonomi daerah?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penulisan

Adapun dari tujuan penulisan ini adalah:

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Otonomi Daerah

1. Pengertian dan Hakikat Otonomi Daerah

Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (pasal 1 huruf (h) UU NOMOR 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah). Daerah Otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (pasal 1 huruf (i) UU NOMOR 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah).

Dalam Undang-Undang No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi derah adalah hak ,wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan menurut Suparmoko (2002:61) mengartikan otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Otonomi daerah dengan sistem desentralisasi yaitu penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam rangka negara kesatuan.

(4)

Pelaksanaan otonomi daerah pada hakikatnya adalah upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan sesuai dengan kehendak dan kepentingan masyarakat. Berkaitan dengan hakikat otonomi daerah tersebut yang berkenaan dengan pelimpahan wewenang pengambilan keputusan kebijakan, pengelolaan dana publik dan pengaturan kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat maka peranan data keuangan daerah sangat dibututuhkan untuk mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan daerah serta jenis dan besar belanja yang harus dikeluarkan agar perencanaan keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Data keuangan daerah yang memberikan gambaran statistik perkembangan anggaran dan realisasi, baik penerimaan maupun pengeluaran dan analisa terhadapnya merupakan informasi yang penting terutama untuk membuat kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah untuk meliahat kemampuan/ kemandirian daerah.

2.2 Lingkungan

1. Pengertian Lingkungan

Hamparan laut biru yang luas, dataran, bukit-bukit, pegunungan, langit yang biru yang disinari matahari, semuanya merupakan lingkungan alam. Lingkungan hidup mencakup lingkungan alam yang meliputi lingkungan fisik, biologi, dan budaya.

Berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 menyebutkan pengertian lingkungan hidup sebagai berikut: “Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”

(5)

makhluk hidup berhimpun dalam satu wadah yang menjadi tempat berkumpulnya komponen itu disebut ruang.

Pada ruang ini berlangsung ekosistem, yaitu suatu susunan organisme hidup dimana diantara lingkungan abiotik dan organisme tersebut terjalin interaksi yang harmonis dan stabil, saling memberi dan menerima kehidupan.

Kita sepakat bahwa lingkungan hidup sangatlah penting. Kita juga perlu menyadari bahwa masalah lingkungan adalah masalah bersama, masalah masa depan bagi kita semuadan masalah bagi generasi mendatang. Seharusnya kita sebagai manusia yang mempunyai akal pikiran tidak akan membiarkan kerusakan lingkungan terus terjadi. Dengan kita mengabaikan lingkungan hidup sama saja dengan kita membunuh diri kita sendiri dengan perlahan-lahan melalui lingkungan yang lebih kita rusak.

2.3 Kerusakan Lingkungan

1. Pengertian Kerusakan Lingkungan

Kerusakan lingkungan hidup dapat diartikan sebagai proses deteriorasi atau penurunan mutu (kemunduran) lingkungan. Deteriorasi lingkungan ini ditandai dengan hilangnya sumber daya tanah, air, udara, punahnya flora dan fauna liar, dan kerusakan ekosistem.

Kerusakan lingkungan menjadi masalah yang telah menjadi perhatian dunia secara global. Hal tersebut dikarenakan oleh berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai negara yang semakin parah, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan hidup, di antaranya disebabkan oleh berbagai kegiatan industri modern yang menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan serta disebabkan dampak negatif dari kemiskinan. Berbagai masalah kerusakan lingkungan yang banyak terjadi antara lain, kerusakan hutan, erosi tanah, kepunahan satwa liar, kepunahan tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain.

(6)

pantai oleh air laut yang terjadi secara alami. Peristiwa gempa bumi merupakan kekuatan alam yang berasal dari dalam bumi dan dapat menyebabkan getaran di permukaan bumi. Gempa bumi sering terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia sehingga menimbulkan kerusakan pada lingkungan. Kerusakan lingkungan hidup oleh alam terjadi karena adanya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat sehingga memengaruhi keseimbangan lingkungan hidup.

Proporsi kerusakan lingkungan yang disebabkan kegiatan manusia sebetulnya jauh lebih besar dibandingkan dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh alam. Bentuk keruskan lingkungan yang disebabkan oleh manusia di antaranya pencemaran sungai oleh limbah industri, penebangan hutan secara massal dan ilegal, dan sebagainya. Penebangan-penebangan hutan untuk keperluan industri, lahan pertanian, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya telah menimbulkan kerusakan lingkungan hidup yang luar biasa. Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi menyebabkan timbulnya lahan kritis, ancaman terhadap kehidupan flora dan fauna, dan kekeringan.

(7)

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Langkah Strategis Yang Digunakan Untuk Mengatasi Kerusakan Lingkungan Hidup Dalam Otonomi Daerah

Sumber daya alam merupakan kekayaan yang dimiliki suatu daerah untuk memajukan daerah tersebut. Sumber daya yang melimpah menjadi sumber ekonomi untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Dalam usahanya itu pemerintah daerah memanfaatkan ketersediaan sumber daya untuk dikelola sebagai sumber pendanaan penyelenggaraan otonomi daerah. Kerusakan lingkungan yang tenjadi di daerah jelas melaggar UU tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Terkait dengan hal itu sebenarnya pemerintah perlu melakukan langkah-langkah alternatif baik menyangkut komitmen para pengambil keputusan di derah maupun kemampuan teknis untuk menentukan potensi dan masalah dalam penggunaan SDA.

Salah satu langkah yang strategis adalah pengkajian yang serius tentang kebijakan daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kebijakan yang ideal tentu saja adalah kebijakan yang mempertimbangkan secara tepat berbagai aspek seperti pertumbuhan ekonomi, ketahanan sosial, kerentanan ekologi, dan kepentingan generasi masa depan.

Dalam hal ini ada 2 langkah strategis yang dapat dielaborasikan dengan penanganan kerusakan lingkungan yang terdiri dari :

1. Tindakan Preventif dan Represif

(8)

perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum sebagai landasan bagi perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam serta kegiatan pembangunan lain.

Sesuai dengan ketentuan pasal 76 Undang undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dinyatakan bahwa menteri, gubernur, atau bupati/walikota menerapkan sanksi administratif kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin lingkungan. Sanksi administratif tersebut terdiri atas:

1. Teguran tertulis; 2. Paksaan pemerintah;

3. Pembekuan izin lingkungan; 4. Pencabutan izin lingkungan.

Pengaturan penegakan hukum lingkungan melalui sanksi administrasi disebabkan kondisi bahwa penegakan hukum administrasi mempunyai fungsi sebagai instrumen pengendalian, pencegahan, dan penanggulangan perbuatan yang dilarang oleh ketentuan-ketentuan lingkungan hidup. Melalui sanksi administasi dimaksudkan agar perbuatan pelanggaran itu dihentikan, sehingga sanksi administrasi merupakan instrument yuridis yang bersifat preventif dan represif non-yustisial untuk mengakhiri atau menghentikan pelanggaran ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam persyaratan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

(9)

menegakkan hukum lingkungan. Yang tidak kalah penting dari penerapan sanksi administrasi ini adalah terbukanya ruang dan kesempatan untuk partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian dampak lingkungan.

2. Tindakan Preventif dan Kuratif

Upaya Pelestarian Lingkungan secara Preventif ialah secara pencegahan. Sedangkan kuratif ialah secara perbaikan. Saat ini saya akan menjelaskan tentang beberapa jenis cara pelestarian lingkungan antara lain:

a. Protokol Montreal,1987 b. KTTBumi(EarthSummit),1992 c. Protokol Kyoto,1997

d. KTTPemanasanGlobal(GlobalWarmingSummit),2007 e. PNBL

 Yang pertama adalah Protokol Montreal. Protokol Montreal adalah

sebuah perjanjian internasional yang dirancang untuk melindungi lapisan ozon dengan meniadakan sejumlah zat yang diyakini bertanggung jawab atas berkurangnya lapisan ozon. Perjanjian Internasional ini terbuka untuk ditandatangani pada 16 September 1987 dan berlaku sejak 1 Januari 1989. Protokol Montreal mengandung inti bagi penetapan batas dasar bagi negara-negara industri untuk mengurangi pemakaian enersi zat fosil yang bakal meningkatkan emisi CO2 Gas Rumah Kaca (GRK) ke angkasa. Akan tetapi tetap saja negara-negara industri tidak bersedia menerapkan persetujuan yang dianggap mampu merusak industri dan perekonomian negaranya.Setelah perjanjian itu dibuat, ini menjadi salah satu perjanjian internasional yang berhasil dan tersukses. Ini berarti upaya ini cukup berhasil dan bisa diperoleh hasil yang cukup memuaskan.

 Yang kedua adalah KTT Bumi 1992, yaitu KTT Bumi yang

(10)

tersebut merupakan tindak lanjut dari Konferensi sejenis di Montreal tahun 1985 yang menghasilkan Protokol Montreal. KTT ini ditolak oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat tidak menyetujui Deklarasi Bumi dari KTT Bumi 1992 itu adalah pasal yang menetapkan bahwa negara-negara industri kaya harus mengurangi emisi Gas Rumah Kaca-GRK (gas yang berasal dari enersi fosilnya). KTT Bumi diplot untuk melahirkan sebuah visi bersama memasuki milenium ketiga, “Agenda 21”, dimana tekanannya pada kerjasama merawat lingkungan global, dan membantu pembangunan berkelanjutan bagi negara-negara berkembang.

 Yang ketiga adalah Protokol Kyoto. Kyoto, Jepang sebagai tuan

rumah KTT yang diselenggarakan oleh UNEP berhasil dilahirkan sebuah Protokol Kyoto 1997. Protokol Kyoto (setelah melalui perdebatan sengit) ini bertujuan menurunkan suhu panas bumi dengan mengurangi atau menghilangkan produksi GRK. Tiap Negara , terutama negara industri kaya, diwajibkan untuk menurunkan prosentase emisi GRK-nya ke udara. Ini juga lumayan bagus untuk mengurangi pencemaran udara agar lapisan ozon tidak terlalu cepat berlubang. Akhirnya Protokol Kyoto kesepakatan internasional dengan tujuan mengekang buangan GRK diberlakukan 15 Februari 2005, tujuh tahun setelah pengesahannya pada konferensi PBB (UN Environmental Program) di Kyoto 1997.

 Yang keempat adalah KTT Pemanasan Global (Global Warming

(11)

seperti minyak dan batubara. KTT ini adalah lanjutan dari Protokol Kyoto.

 Selanjutnya adalah PNBL. PNBL adalah Pembangunan Negara

(12)

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Memanfaatkan ketersediaan sumber daya untuk dikelola sebagai sumber pendanaan penyelenggaraan otonomi daerah merupakan wewenang yang dapat dilakukan daerah penyelenggara otonomi di masing-masing wilayahnya. Kerusakan lingkungan yang terjadi di daerah jelas melanggar UU tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Upaya preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup perlu dilaksanakan dengan mendayagunakan secara maksimal instrumen pengawasan dan perizinan. Dalam hal pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sudah terjadi, perlu dilakukan upaya represif berupa penegakan hukum yang efektif, konsekuen, dan konsisten terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dikembangkan satu sistem hukum perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum sebagai landasan bagi perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam serta kegiatan pembangunan lain.

Sesuai dengan ketentuan pasal 76 Undang undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dinyatakan bahwa menteri, gubernur, atau bupati/walikota menerapkan sanksi administratif kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin lingkungan.

Upaya Pelestarian Lingkungan secara Preventif ialah secara pencegahan. Sedangkan kuratif ialah secara perbaikan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya pada bab pembahasan tentang beberapa jenis cara pelestarian lingkungan antara lain:

(13)

c. Protokol Kyoto,1997

d. KTTPemanasanGlobal(GlobalWarmingSummit),2007 e. PNBL

4.2 Saran

Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya maka untuk kembali pada tujuan awal otonomi daerah yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Dimana dalam pelaksanaan otonomi daerah tersebut terdapat pelanggaran berupa kerusakan lingkungan dan eksploitasi daerah. Penulis mengajukan kepada pemerintah, masyarakat dan swasta sebagai berkut:

1. Mempertegas kembali komitmen untuk memberdayakan lembaga lingkungan di kabupaten dan kota baik dari sisi masalah lingkungan yag mendesak, penetapan program prioritas, SDM, dan mitra lingkungan

2. Implikasi dari penguatan lembaga lingkungan di ssemua level SKPD

3. Renegosiasi terhadap pelaku usaha yang terbukti kegiatan usahanya melanggar dan merusak lingkungan

4. Pemberian sanksi yang berat terhadap oknum pejabat atau swasta yang terbukti melakukan pengrusakan lingkungan

5. Pengawasan dan pemberian izin yang ketat terhadap pelaku usaha yang bergerak dibidang eksploitasi SDA.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah

 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan

Pengelolaan Lingkungan Hidup.

 Protokol Montreal, 1987

 KTT Bumi (Earth Summit), 1992

 Protokol Kyoto, 1997

 KTT Pemanasan Global (Global Warming Summit), 2007

 PNBL (Pembangunan Nasional Berbasis Lingkungan)

 Nurcholis dan Hanif. 2005. Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi

Derah. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

 Soemartono dan Gatot R. 1996. Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta:

Sinar Grafika.

 Azwar A. 1990. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Yayasan

Mutiara.

 Kuncoro. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah; Reformasi,

Perencanaan, Strategi dan Peluang. Jakarta: Penerbit Erlangga

 Huda dan Nimatul. 2005. Otonomi Daerah; Filosofi, Sejarah dan

Problematika. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

 Kansil, C.S.T. 2005. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta: PT Bumi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...