BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Jumlah penduduk yang semakin meningkat, kebutuhan dan tuntutan hidup juga meningkat, serta teknologi dan informasi yang terus berkembang, sedangkan sumber daya alam, sumber-sumber penghasilan, dan sumber daya manusia yang tidak bisa mengimbangi peningkatan-peningkatan tersebut, menyebabkan munculnya permasalahan-permasalahan sosial yang begitu banyak dan kompleks. Hampir di setiap daerah di Indonesia khususnya di daerah perkotaan, permasalahan sosial ini ada dengan jenis yang beragam. Jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) berdasarkan Permensos No.08 Tahun 2012 adalah 26 jenis, begitu banyak menurut kami. Pengemis adalah salah satu jenis PMKS yang begitu banyak baik dari segi jumlah maupun kompleksitas masalahnya. Rentang usia pengemis mulai dari balita sampai dengan lanjut usia ada, bahkan pengemis yang membawa anaknya yang masih bayi pun ada. Pengemis dengan kondisi fisik yang tergolong normal dan pengemis dengan kedisabilitasan pun ada. Hal ini menarik untuk diamati, sehingga kami pun memilih pengemis sebagai sasaran kami dalam observasi ini.
menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut dan mencapai tujuan negara, yaitu kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pertanyaannya, kenapa permasalahan-permasalahan sosial tersebut tidak kunjung teratasi? Sebuah pertanyaan besar bagi pemerintah dan masyarakat. Ini pun merupakan tugas dan tanggung jawab kita bersama, jangan saling menyalahkan, yang kita butuhkan adalah solusi untuk permasalahan-permasalahan tersebut.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang makalah ini dan hasil observasi yang telah kami lakukan terhadap salah satu jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), setidaknya ada beberapa rumusan masalah yang kami angkat di dalam makalah ini, di antaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan pengemis ?
2. Apa saja kriteria dan penyebab munculnya pengemis ?
3. Bagaimana hubungan antara pengemis dan nilai-nilai yang ada di masyarakat ?
4. Apa saja jenis-jenis dari pengemis itu ?
5. Siapa saja pihak yang teribat dalam permasalahan pengemis ?
6. Sistem sumber apa sajakah yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan pengemis ?
1. 3 Tujuan Penulisan
Tujuan pembuatan makalah ini, di antaranya :
1. Memenuhi tugas mata kuliah Analisis Masalah Sosial.
2. Mengetahui dan memahami definisi, kriteria, jenis, dan penyebab munculnya masalah pengemis.
3. Mengetahui dan memahami hubungan antara masalah pengemis dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.
4. Mengetahui dan memahami siapa saja pihak yang terlibat dalam permasalahan pengemis ini.
5. Mengetahui dan memahami sistem sumber apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan pengemis.
BAB II
PEMBAHASAN
2. 1 PENGERTIAN PENGEMIS
Berdasarkan Permensos No.08 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial yang dimaksud dengan pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain.
Mengemis/meminta-minta adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang karena membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal atau hal lainnya, bahkan jabatan atau pekerjaan dari orang yang mereka temui atau dari orang yang memiliki pengaruh. Kegiatan ini dilakukan karena mereka tidak dapat memenuhi apa yang mereka butuhkan, entah itu karena keterbatasan pengetahuan, fisik, keterampilan, informasi, ataupun hal lainnya. Tetapi, di dalam makalah ini yang kami maksud dengan mengemis/meminta-minta adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengharapkan sedikit belas kasihan orang di tempat-tempat umum, baik itu uang recehan ataupun sedikit makanan untuk mengganjal perut mereka.
Penampilan mereka pun beragam, tetapi tujuannya sama yaitu untuk menarik simpati dan belas kasih orang yang melihatnya. Penampilan mereka untuk menarik simpati dan belas kasihan orang pun bermacam-macam, ada yang memakai pakaian compang-camping, tubuhnya di cat warna perak, dsb.
2. 2 KRITERIA PENGEMIS
Berdasarkan Permensos No.08 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial, kriteria bahwa seseorang dikatakan sebagai pengemis adalah sebagai berikut:
a. mata pencariannya bergantung pada belas kasihan orang lain; b. berpakaian kumuh dan compang camping;
c. berada di tempat-tempat ramai/strategis; dan
d. memperalat sesama untuk merangsang belas kasihan orang lain.
Berdasarkan hasil observasi kami di sekitar Jalan Asia-Afrika dan Masjid Raya Bandung dengan sasaran observasi adalah pengemis, memang seluruh kriteria di atas ada pada mereka yang mengemis/meminta-minta di daerah tersebut. Selain itu, kami sedikit meminta keterangan kepada beberapa orang pengemis di sana, ternyata penghasilan mereka pun tidak pasti/tetap dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Kriteria tersebut berdasarkan Permensos No.08 Tahun 2012 merupakan kriteria untuk para gelandangan. Oleh karena itu, kami menyimpulkan bahwa sebagian pengemis di sekitar Jalan Asia-Afrika dan Masjid Raya Bandung pun bisa dikatakan sebagai gelandangan juga karena memang ada keterkaitan di antara keduanya.
2. 3 JENIS-JENIS PENGEMIS
pengemis. Berikut adalah beberapa jenis pengemis yang dapat kami identifikasi dari berbagai sumber serta dari hasil observasi kami, di antaranya:
1. Pengemis Dengan Anak
Pengemis dengan anak adalah orang-orang yang meminta-minta di muka umum dengan cara memperalat anak baik anak kandung ataupun anak pinjaman untuk mendapat belas kasihan orang lain. Anak yang mereka bawa biasanya di gendong atau si anak dibuat tertidur lelap di jalanan sehingga orang yang lewat di depannya merasa iba dan memberi kepada mereka. Tapi tidak semua anak yang mereka bawa adalah keinginan si anak, ada juga yang karena paksaan dari orang tuanya walaupun anak melawan dan mereka hanya ingin bermain, jika si anak melawan orang tuanya kadang memukul atau memarahi mereka agar menuruti apa kemauan dari sang orang tua.
Seperti contoh kita lihat banyak di jalanan baik di daerah metropolitan atau di kota-kota besar seperti Bandung, mereka mengemis dengan membawa anak sebagai bentuk untuk menarik simpati orang lain. Fenomena pengemis dengan membawa anak sudah tidak asing lagi kita temui di setiap persimpangan lampu merah. Selain kaum marginal ini malas, tidak ada suatu badan usaha baik swasta ataupun pemerintah yang “mau” dan peduli untuk memberdayakan mereka. Mereka malah dimanfaatkan oleh mafia pengemis.
2. Pengemis Bocah
Seperti kasus di Batam, seorang anak yang dipaksa oleh ayahnya untuk bekerja di jalanan dengan cara mengemis tapi karena dia tidak mau maka dia sering di pukul dan disundut rokok ke pipinya. Selain itu juga dia harus membawa hasil uang mengemisnya itu ke bapaknya atau menyetor.
3. Pengemis Cacat atau Disabilitas
Pengemis cacat atau disabilitas adalah pengemis yang memiliki keterbatasan baik secara fisik, mental atau ganda. Umumnya mereka mengemis karena tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain dengan meminta-minta di jalanan. Hal ini disebabkan karena kecacatan yang mereka alami sehingga sulit untuk memperoleh atau melakukan pekerjaan yang lebih baik. Dengan keterbatasan atau kecacatan mereka, maka sangat memungkinkan orang lain untuk berbelas kasih dengan memberikan sumbangan seikhlasnya.
4. Pengemis Professional dan Terorganisir
Pengemis professional yaitu orang-orang yang meminta-minta di tempat umum untuk mendapat belas kasihan orang lain sebagai profesinya untuk memeroleh pendapatan. Professional di sini maksudnya bahwa mereka punya strategi dan cara-cara khusus untuk menarik simpati orang lain sehingga mau berbelas kasih kepada mereka. Selain mereka dikategorikan profesinal, mereka juga terorganisir. Terorganisir disini maksudnya bahwa kegiatan atau aksi yang mereka lakukan biasanya sudah ada yang menaunginya. Biasanya mereka adalah orang-orang yang sengaja ditampung oleh seseorang atau kelompok tertentu untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan bagi seseorang atau kelompok tersebut.
menyewanya dari orang lain untuk dijadikan alat bagi mereka memeroleh belas kasihan orang lain.
Berdasarkan hasil observasi kami, yang kami lihat dan kami temui di sekitar jalan Asia-Afrika dan Masjid Raya Bandung kebanyakan adalah pengemis cacat/disabilitas dan pengemis profesional. Kami sedikit bertanya kepada beberapa pengemis di sana, hasilnya ternyata ada seorang pengemis yang memang profesinya adalah pengemis. Beliau berasal dari Brebes dan tinggal di Brebes, beliau ke Bandung hanya untuk mengemis kemudian sore harinya pulang lagi ke Brebes. Ketika ditanya tentang penghasilannya dari mengemis beliau hanya menjawab, “penghasilannya ya sedikit” tanpa menyebutkan nominalnya. Kebanyakan dari pengemis yang kami wawancarai di sana adalah berasal dari luar Kota Bandung, mereka ada yang dari Surabaya, Garut, dan Brebes.
2. 4 FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA PERMASALAHAN PENGEMIS Berikut adalah beberapa faktor penyebab munculnya permasalahan pengemis, di antaranya:
1. Himpitan ekonomi (kemiskinan);
2. Keterbatasan fisik (penuaan/cacat tubuh);
3. Tradisi suatu masyarakat yang menjadikan mengemis sebagai profesi; 4. Kekurangan potensi sumber daya baik alam, manusia maupun lingkungan
untuk dapat mengembangkan peluang dan kesempatan kerja; 5. Kondisi musiman, seperti pada saat hari raya; dan
6. Nilai-nilai hidup yang dianut individu.
faktor kemiskinan; keterbatasan fisik; tradisi; kekurangan sumber daya; apalagi hanya sekadar faktor musiman: menjelang hari raya, kemarau, dan gagal panen.
Begitu banyak orang-orang yang menurut kami “luar biasa”, ketika orang-orang seperti mereka dan bahkan yang lebih beruntung dari mereka memutuskan menjadi pengemis, mereka justru dengan tegar, dan tak kenal menyerah melakukan pekerjaan yang mungkin kita anggap remeh, namun jauh lebih terhormat daripada mengemis.
Berdasarkan penelitian tentang pengemis oleh Dr. Engkus Kuswarno (Penelitian Konstruksi Simbolik Pengemis Kota Bandung) menyebut ada lima ketegori pengemis menurut faktor penyebab di atas, sehingga mereka memutuskan untuk menjadi pengemis, yaitu:
1. Pengemis Berpengalaman: lahir karena tradisi. Bagi pengemis yang lahir karena tradisi, tindakan mengemis adalah sebuah tindakan kebiasaan. Mereka sulit menghilangkan kebiasaan tersebut karena orientasinya lebih pada masa lalu (motif sebab).
2. Pengemis kontemporer kontinyu tertutup: hidup tanpa alternatif. Bagi kelompok pengemis yang hidup tanpa alternatif pekerjaan lain, tindakan mengemis menjadi satu-satunya pilihan yang harus diambil. Mereka secara kontinyu mengemis, tetapi mereka tidak mempunyai kemampuan untuk dapat hidup dengan bekerja yang akan menjamin hidupnya dan mendapatkan uang.
peluang tersebut dengan sebaik-baiknya atau karena kekurangan potensi sumber daya untuk dapat mengembangkan peluang tersebut.
4. Pengemis kontemporer temporer: hidup musiman. Pengemis yang hanya sementara dan bergantung pada kondisi musim tidak dapat diabaikan keberadaannya. Jumlah mereka biasanya meningkat jika menjelang hari raya. Daya dorong daerah asalnya karena musim kemarau atau gagal panen menjadi salah satu pemicu berkembangnya kelompok ini.
5. Pengemis rencana: berjuang dengan harapan. Pengemis yang hidup berjuang dengan harapan pada hakikatnya adalah pengemis yang sementara (kontemporer). Mereka mengemis sebagai sebuah batu loncatan untuk mendapatkan pekerjaan lain setelah waktu dan situasinya dipandang cukup.
Berdasarkan hasil observasi kelompok kami sendiri dan hasil wawancara dengan beberapa orang pengemis di sana sebagai sampel kami, mereka kebanyakan menyatakan bahwa mereka mengemis karena himpitan ekonomi terutama pasca krisis moneter, sehingga mereka sulit memenuhi kebutuhan pokoknya karena harganya yang mahal, sulit mendapatkan pekerjaan yang layak karena memang pendidikan mereka pun hanyalah sampai sekolah dasar. Faktor lain adalah karena keterbatasan fisik mereka, sehingga mereka sulit memenuhi kebutuhan pokoknya dengan bekerja sebagaimana orang biasanya orang-orang bekerja, pilihan satu-satunya adalah dengan cara mengemis. Kami pun melihat sekilas, ada seorang pengemis cacat/disabilitas yang dimanfaatkan oleh seorang laki-laki, entah benar atau tidaknya kami tidak berani meminta keterangan darinya karena laki-laki di dekatnya terus mengawasi.
2. 5 HUBUNGAN MASALAH PENGEMIS DENGAN NILAI-NILAI
mengenai sesuatu yang dianggap baik atau buruk. Penilaian ini memang sangat dipengaruhi kebudayaan apa yang dianut oleh masyarakat penganut nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, setiap kelompok masyarakat memiliki nilai-nilai yang bisa saja sama atau berbeda dengan kelompok lainnya. Nilai-nilai inilah yang memberikan penilaian terhadap sesuatu hal, baik itu berupa keadaan, perbuatan, ataupun hal lain, apakah itu suatu masalah atau bukan. Nilai juga mempengaruhi orientasi dasar, sistem kepercayaan serta tindakan-tindakan individu ataupun lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Fenomena pengemis merupakan suatu hal yang sampai saat ini masih ada dan terus bertambah terutama di kota-kota besar. Tentu hal ini sangat memprihatinkan, di satu sisi Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya, tetapi di sisi lain banyak penduduk Indonesia yang miskin dan hidup kekurangan. Dahulu ketika orde lama Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi semangat “BERDIKARI” berdiri di kaki sendiri, tetapi saat ini Indonesia sangatlah bergantung pada negara lain khususnya negara maju. Fenomena pengemis pun secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat ketergantungan yang tinggi, walaupun memang kita ketahui bahwa manusia tidaklah bisa hidup sendiri.
Pertanyaannya, kenapa hal ini bisa terjadi?
Berdasarkan analisis kami mengenai fenomena pengemis, hal ini memiliki hubungan dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat, sehingga dikatakan bahwa fenomena pengemis adalah suatu masalah dan nilai-nilai ini pun menyebabkan fenomena pengemis saat ini banyak bermunculan, di antaranya:
memberi/bersedekah kepada orang lain dan berusaha untuk tidak cenderung individualis dan mengabaikan orang lain, kalau tidak diminta jarang sekali orang itu memberi. Kepekaan sosial sepertinya mulai pudar sedikit demi sedikit, sehingga fenomena pengemis pun mulai bermunculan.
3. Paham kapitalis yang menjadikan masyarakat sangat ketergantungan dan tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Siapa yang punya modal, maka ia yang menguasai pasar. Sumber-sumber penghidupan seperti air, tanah, barang-barang kebutuhan pokok, dan sebagainya banyak dikuasai para kapital/pemilik modal, sehingga masyarakat yang tidak memiliki modal tidak bisa berbuat banyak dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karena itu, mengemis sepertinya menjadi salah satu jalan yang dapat memenuhi kebutuhannya, tidak butuh modal yang besar, hanya mengharapkan belas kasih orang itu sudah cukup.
4. Sikap permisif masyarakat yang memandang permasalahan pengemis ini sebagai suatu hal yang wajar dan biasa terjadi, sehingga mereka pun memakluminya. Hal ini mengakibatkan fenomena pengemis semakin banyak bermunculan.
pengemis daripada bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga.
Dari hasil observasi yang dapat kita kumpulkan, nilai-nilai memang sangat berpengaruh dalam menentukan tindakan-tindakan seorang individu, kelompok, masyarakat, ataupun lembaga-lembaga. Ketika kami bertanya kepada salah seorang pengemis yang menjadi sasaran observasi kami di sana, beliau mengatakan, “Hidup sekarang mah susah, serba mahal, kepedulian juga seperti tidak ada” kurang lebih seperti itu. Kebanyakan dari mereka adalah dari luar Kota Bandung, pertanyaannya apakah di daerah asal mereka sama sekali tidak ada sumber untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka dan keluarga?
Jawabannya adalah karena memang nilai-nilai masyarakat untuk saling membantu satu sama lain, semangat gotong-royong, nilai agama, nilai-nilai sosial yang ada saat ini sedikit demi sedikit mulai pudar dan berganti menjadi nilai-nilai yang sifatnya individualis dan mementingkan kepentingannya sendiri.
2. 6 PIHAK YANG TERLIBAT DALAM KAITANNYA DENGAN MASALAH PENGEMIS
Berdasarkan hasil analisis kami dari berbagai sumber yang kami dapatkan, ada beberapa pihak yang terlibat dalan kaitannya dengan masalah pengemis ini, di antaranya:
1. Keluarga
mencukupi atau penanaman nilai-nilai yang salah di dalam keluarga, sehingga menyebabkan kemalasan pada diri seseorang dan tidak mau bekerja keras. Selain itu, dapat pula disebabkan karena tidak adanya keluarga yang melindungi seseorang tersebut sehingga harus mengemis demi bertahan hidup.
Apabila seseorang masih memiliki keluarga yang utuh, atau keluarga yang masih mampu menjalankan fungsi sosialnya dengan baik, tidak mungkin keluarga tersebut membiarkan salah seorang dari anggota keluarganya menjadi pengemis. Oleh karena itu, dalam menangani masalah pengemis ini, perlu ditinjau mengenai kondisi keluarganya baik secara ekonomi, pendidikan, maupun keberfungsian sosial keluarga tersebut dalam memenuhi kebutuhan anggotanya.
2. Masyarakat
Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem
semi tertutup (atau semi terbuka) dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling bergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu pada sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur dalam jangka waktu yang lama.
mencapai pemenuhan kebutuhan mereka pun menjadi sulit dan memilih untuk mejadi pengemis di jalanan.
3. Pemerintah
Pemerintah adalah lembaga yang berkuasa untuk menjalankan pemerintahan di suatu negara. Segala sistem yang ada di masyarakat dapat berjalan dengan baik maupun tidak adalah bergantung dari kinerja pemerintah sendiri. Pemerintah memiliki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Berkaitan dengan permasalahan pengemis disini, pemerintah bertugas untuk bisa mengurangi angka pengemis sebagai wujud dari peningkatan angka kesejahteraan masyarakat di negaranya.
Peran pemerintah adalah membuat kebijakan-kebijakan dan pemberian bantuan material ataupun pelayanan untuk bisa mengurangi jumlah pengemis di seluruh wilayah di Indonesia. Namun, kebijakan yang dibuat ini harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Karena, apabila tidak disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan hanya menguntungkan sebagian orang saja maka kebijakan-kebijakan tersebut tidak akan berjalan dengan baik atau tidak akan mengurangi angka pengemis di Indonesia.
4. Pekerja Sosial
satu alat pemerintah untuk membantu pemerintah dalam mengatasi masalah-masalah sosial sehingga terwujud suatu kesejahteraan masyarakat.
Para pekerja sosial berkiprah dalam tiga tingkatan yaitu di ranah mikro, mezzo, dan makro. Di ranah mikro, pekerja sosial menolong individu berdasarkan relasi satu per satu. Di ranah mezzo, pekerja sosial membantu keluarga dan kelompok kecil lainnya. Sedangkan, di ranah makro, pekerja sosial memperbaiki organisasi dan komunitas atau mengupayakan perubahan-perubahan dalam kebijakan sosial dan peraturan hukum lainnya. Ketiga tingkatan tersebut membentuk setting praktik pekerja sosial yang meliputi, enam bidang praktik pekerjaan sosial atau sering pula disebut sebagai strategi, pendekatan atau metoda utama pekerjaan sosial. Keenam bidang praktik pekerja sosial tersebut, di antaranya:
a. Terapi Individu
Dikenal dengan nama casework atau social case work, terapi individu ditunjukan untuk membantu seseorang menyesuaikan diri dengan lingkungan atau mengubah tekanan-tekanan ekonomi dan sosial yang mengganggu kehidupan individu. Merupakan strategi memecahkan masalahy emosional dan personal seperti trauma, stress, burnout, grief, dan loss secara individu. Sering disebut terpai atau intervensi langsung seperti pelayanan konseling terhadap remaja yang lari dari rumah, penempatan anak yatim ke panti asuhan, pelayanan perlindung terhadap anak korban kekerasan.
b. Terapi Kelompok
pengalaman dan informasi, olah raga, perawatan rumah, perawatan diri, atau keterampilan hidup.
c. Terapi Komunitas
Terapi komunitas memiliki banyak nama yang berbeda, antara lain community development, community organization, community organizing, commuinty work, community action. Tujuan utamanya adalah mendorong komunikasi local agar mampu mengidentifikasi masalah dan kebutuhan sosial di wilayahnya, merencanakan dan mengkoordinasikan kegiatan bersama untuk mengatasi masalah atau memenuhi kebutuhan sosial, mengevaluasi hasil yang dicapai. Pekerja sosial biasanya berperan sebagai broker yang menghubungkan komunitas dengan sumber-sumber pelayanan sosial di luar wilayahnya.
d. Terapi Organisasi
Terapi organisasi merupakan strategi pekerjaan sosial dalam mengoptimalkan pencapaian tujuan organisasi dan menjamin pelayanan sosial berkualitas bagi stakeholder-nya. Melibatkan kegiatan administrasi dan pengelolaan lembaga-lembaga, struktur organisasi, program kegiatan, serta mengimplementasikan kebijakan public kedalam pelayanan-pelayanan lembaga. Manajemen kasus, perekeaman kasus, dan konferensi kasus juga sering termasuk dalam tera0pi organisasi. Social welfare administration, human service managemenrt, social administration adalah beberapa istilah lain utnuk terapi organisasi.
e. Analisis Kebijakan Sosial
merefleksikan agenda masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup para anggotanya.
Analisis kebijakan sosial adalah asesmen dan evaluasi secara sistematis dan akurat terhadap konsekuensi-konsekuensi kebijakan sosial, baik sebelum maupun sesudah kebijakan tersebut di implementasikan. Analisis kebijakan sosial biasanya dilakukan untuk mengetahui apakah program-program kesejahteraan sosial, seperti bantuan sosial, asuransi sosial, mencapai sasarannya.
f. Penelitian Pekerjaan Sosial
Penyelidikan secara sistematis menyangkut pertanyaan kritis tentang bidang garapan dan isu-isu kesejahteraan sosial yang didesain untuk memperluas pengetahuan dan konsep-konsep pekerjaan sosial. Metoda yang digunakan dalam penelitian pekerjaan sosialtidak jauh-jauh dengan yang digunakan sosiaologi, antropologi, psikologi sosial atau sejarah. Menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dalam garis besar prosedur penelitian pekerjaan sosial yang terdiri dari:
Pemilihan masalah penelitian
Perumusan hipotesis
Penetapan desain penelitian
Proses pengumpulan data dan fakta dengan observasi
Analisis dan pelaporan
2. 7 SISTEM SUMBER KESEJAHTERAAN SOSIAL
Max Siporin D.S.W. mengatakan bahwa “A resource any valuable thing, or recerve or at hand, that one can mobilie and put to instrumental use in order to function, meet a need resolve a problem” (Siporin, 1975 : 22). Lebih lanjut ia mengatakan bahwa jenis sumber dapat dipandang dari beberapa hal, yaitu:
a. Sumber Internal dan Eksternal
Sumber internal dapat berupa kemampuan intelektual, imaginasi, kreativitas, motivasi, kegairahan, karakter moral kekuatan dan ketahanan fisik/jasmani, stamina, ketampanan/kecantikan serta pengetahuan. Sedangkan sumber eksternal dapat berupa harta kekayaan, prestise, mata pencaharian sanak-saudara yang kaya, teman yang berpengaruh dan hak jaminan.
b. Sumber official/formal dan sumber non-official/non-formal
Sumber official dapat berupa tokoh-tokoh formal, organisasi-organisasi yang secara formal mewakili mayarakat seperti guru, pekerja sosial, badan konseling, dan badan-badan sosial pemberdayaan. Sedang sumber non-offisial dapat berupa dukungan emosional maupun sosial dari kerabat, teman serta tetangga. Sumber non-offisial tersebut merupakan bagian dari sistem sumber pertolongan alamiah.
c. Sumber manusia dan non-manusia
d. Sumber simbolik-partikularistik, kongkrit-universal dan pertukaran nilai
Sumber simbolik-partikularistik dapat berupa informasi dan status sosial seseorang. Informasi dan status sosial seseorang di dalam masyarakat mempunyai arti simbolik yang khusus dan dapat dipergunakan sebagai sumber yang dapat digali dan dimanfaatkan. Sumber kongkrit-universalistik dapat berupa pelayanan-pelayanan maupun benda-benda kongkrit. Sedang sumber pertukaran nilai dapat berupa kasih sayang maupun uang.
Berdasarkan keterangan dari Max Siporin di atas, setidaknya ada beberapa sumber di daerah observasi kami, yaitu di sekitar Jalan Asia-Afrika dan Masjid Raya Bandung yang berpotensi dalam menangani permasalahan pengemis di daerah tersebut, di antaranya:
1) Pemerintah Kota Bandung
Pemerintah Kota Bandung adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, walaupun tidak semua penegemis di sana adalah masyarakat Bandung. Tetapi, setidaknya ada upaya-upaya dari Pemkot Bandung dalam menangani permasalahan pengemis di daerah tersebut.
2) Kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung
mereka ke lembaga-lembaga yang bisa memberikan pelayanan kepada mereka seperti panti-panti, LSM, dsb.
3) Pusat Perbelanjaan dan Pertokoan
Daerah observasi yang kami pilih merupakan pusat perbelanjaan dan pertokoan yang sangat ramai, wajar saja kalau benyak pengemis di daerah tersebut. Tetapi, kami melihat bahwa hal ini pun bisa menjadi salah satu sumber yang dapat mereka manfaatkan untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhannya. Mereka yang tidak mengalami kecacatan bisa menjadi petugas kebersihan, tukang parkir, jualan koran, dsb.
4) Para Pengunjung
Tentunya para pengunjung tidak semuanya ingin berbelanja. Seperti halnya kami yang memilih ke daerah tersebut untuk melakukan observasi. Hal ini bisa menjadi peluang bagi mereka untuk menggali informasi ataupun meminta dihubungkan dengan sistem sumber yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.
5) Masjid Raya Bandung
Tentunya Masjid Raya Bandung pun memiliki program-program untuk menangani permasalahan-permasalahan sosial di sekitarnya. Ini bisa menjadi peluang bagi para pengemis, bukan hanya untuk mendapatkan zakat, infak, dan sedekah tetapi, untuk mengikuti program-program pemberdayaannya seperti training-training, penguatan spiritual, dsb. 6) Pekerja Sosial
2. 8 UPAYA/SOLUSI PEMERINTAH DALAM MENGATASI MASALAH PENGEMIS
Berikut adalah beberapa upaya/solusi yang telah di lakukan pemerintah dalam mengatasi masalah pengemis :
a. Membuat peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan sosial secara umum yang di dalamnya termasuk juga permasalahan pengemis seperti UU No.11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Permensos No.08 Tahun 2012 tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial, dsb.
b. Mendirikan kementerian-kementerian, badan-badan, ataupun lembaga-lembaga yang memiliki program untuk kesejahteraan masyarakat baik berupa bantuan tunai maupun bantuan pemberdayaan.
c. Mengadakan razia di daerah rawan gelandangan dan pengemis melalui Satpol PP,
d. Mengadakan penampungan sementara,
e. Melakukan pembinaan mental dan ketrampilan sesuai bakat lewat lembaga-lembaga pelayanan yang ada,
g. Menyadarkan dan membina pihak-pihak yang terkait dalam jaringan gelandangan-pengemis dan menindak secara yuridis jaringan gelandangan-pengemis tersebut.
Berikut adalah solusi dari kami berdasarkan hasil observasi dan sumber-sumber yang kami peroleh, di antaranya:
a. Semua pihak dapat bekerja sama dalam memberikan pelayan-pelayanan tidak hanya bantuan tunai tetapi juga berupa pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan keterampilan dan keberfungsian sosial mereka. b. Kebijakan yang di buat pemerintah seharusnya berorientasi dan
memihak kepada masyarakat miskin.
c. Bagi para pelaksana program ataupun kebijakan tersebut, haruslah memiliki komitmen untuk dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.
d. Masyarakat pun harus ikut berpartisipasi pula di dalam upaya penangan masalah pengemis ini.
BAB III
PENUTUP
3. 1 KesimpulanBerdasarkan keterangan dari berbagai sumber yang kami dapatkan serta hasil observasi di sekitar Jalan Asia-Afrika dan Masjid Raya Bandung. Kami menyimpulkan bahwa permasalahan pengemis ini merupakan permasalahan sosial yang kompleks dengan jenis dan motif yang beragam. Tidak hanya berkaitan dengan si pengemis saja, tetapi juga ada kaitannya dengan kondisi keluarga si pengemis, kondisi masyarakat, serta pemerintah. Pengemis tidak hanya mereka yang lanjut usia atau cacat, tetapi ada juga yang dijadikan sebagai profesi. Menjadi pengemis tidak hanya karena himpitan ekonomi tetapi, tradisi masyarakat, momen-momen tertentu, serta nilai-nilai yang dianut individu pun bisa menjadi motif mereka untuk menjadi seorang pengemis.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Mengemishttp://www.bisnis-jabar.com/index.php/berita/pengemis-di-bandung-naik-20
Soehartono, Irawan. 2007. Kebijakan Sosial. Bandung : Alfabeta.
http://forget-hiro.blogspot.com/2010/05/mengapa-pengemis-menjadi-pengemis.html
Permensos No.08 Tahun 2012 tentang PedomanPendataan dan Pengelolaan Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial.
Siporin, Max. 1970. Introduction to Social Work Practice. New York : Macmillah Publishing Co. Inc. London : Collier Macmillah Publisher.
LAMPIRAN
Berikut adalah lampiran hasil observasi kami di daerah sekitar Jalan Asia-Afrika dan Masjid Raya Bandung yang memuat mengenai identitas lima orang pengemis yang kami wawancarai sedikit dan hal yang melatarbelakangi mereka menjadi seorang pengemis, di antaranya:
1. Nama : Ely
Umur : 35 tahun
Asal : Cicalengka
Pendidikan : SD
2. Nama : Ro Umur : 70 tahun
Asal : Garut
Pendidikan : Kelas 4 SD
Pak Ro berasal dari dari Garut tetapi, sudah lama tinggal di Bandung tepatnya di daerah Caringin. Pak Ro hanyalah bersekolah sampai kelas 4 SD, hal inilah yang membuat beliau sulit mendapatkan pekerjaan yang layak, pilihan satu-satunya adalah dengan mengemis. Setiap hari, beliau berangkat pulang dari Caringin ke daerah Asia-Afrika dan Masjid Raya Bandung dengan menggunakan angkot. Di Bandung beliau tinggal sendiri karena seluruh keluarganya berada di Garut.
3. Nama : Usman
Umur : 68 tahun Asal : Surabaya Pendidikan : Lulusan SD
Pak Usman berusia sekitar 68 tahun, pendidikan terakhirnya adalah kelas 6 sekolah dasar, berasal dari Surabaya, memiliki istri dan anak serta keluarga di Surabaya, di Bandung mulai menjadi pengemis ketika reformasi dimana saat itu pekerjaan menjadi sulit didapatkan dan kebutuhan-kebutuhan pokok harganya begitu mahal, ketika ditanya soal agama dia tidak menjawab secara tegas, bapak itu hanya menjawab, “kalau orang Islamkan shalat dan pakaiannya bersih, saya mah tidak shalat, pakaian juga kotor”.
4. Nama : ade
Umur : 62
Asal : brebes, jawa tengah Pendidikan : tidak ada
Ibu ade adalah salah seorang pengemis yang kami temui saat observasi di pasar baru Bandung. Beliau berasal dari brebes jawa tengah dan setiap hari pergi dan pulang dari brebes ke bandung hanya untuk mencari nafkah dengan meminta-minta. Ibu ade memiliki seorang suami, tujuh orang anak, dan sepuluh orang cucu yang semuanya ada di brebes. Beliau mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sementara suaminya berada di brebes. Kesemua anknya sudah berkeluarga, dan beliau sendiri tidak ingin merepotkan anaknya untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya bersama suami. Beliau sengaja datang ke Bandung karena menurut beliau dengan beliau pergi kesini akan mendapatkan pendapatan yang lebih besar daripada ketika berada di sana.
5. Nama : Sobirin Umur : 61 tahun
Asal : Bandung
Pendidikan :