• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Komponen komponen Sekolah PEND

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Manajemen Komponen komponen Sekolah PEND"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Manajemen Komponen-komponen Sekolah

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sekolah adalah sebuah aktifitas besar yang di dalamnya ada empat komponen yang saling berkaitan. Empat komponen yang di maksud adalah Staf Tata laksana Administrasi, Staf Teknis Pendidikan yang didalamnya meliputi Kepala Sekolah dan Guru, Komite sekolah sebagai badan independent yang membantu terlaksananya operasional pendidikan, dan siswa sebagai peserta didik yang bisa di tempatkan sebagai konsumen dengan tingkat pelayanan yang harus memadai. Hubungan keempatnya harus saling berkaitan, karena keberlangsungan operasioal sekolah terbentuknya dari hubungan keempat komponen tersebut karena kebutuhan akan pendidikan demikian tinggi. Salah satu unsur yang penting dimiliki oleh suatu sekolah agar menjadi sekolah yang dapat mencetak anak didik yang baik adalah dari segi keuangan. Manajemen pembiayaan atau anggaran sekolah sangat penting hubungannya dalam pelaksanaan kegiatan sekolah.

Istilah administrasi umumnya digunakan bilamana merujuk pada proses kerja manajerial tingkat puncak yang dilihat dari konteks keorganisasian, sedangkan istilah manajemen merujuk pada proses kerja manajerial pada tingkat yang lebih operasional.

Komponen-komponen sekolah itu adalah siswa, tenaga kependidikan (guru pegawai), kurikulum, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan layanan khusus (Adam,2003; Soetjipto dan Kosasi, 1994, dan Bafadal, 2003).

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan sekolah. Alasannya, tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pembelajaran di sekolah dapat diwujudkan secara optimal, efisien dan efektif.

B. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah dari makalah ini adalah:

1. Apa saja yang termasuk dalam komponen komponen sekolah ?

2. Bagaimanakah Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran pada manajemen sekolah?

3. Bagaimanakah Manajemen Tenaga Kependidikan pada manajemen sekolah ? 4. Bagaimanakah Manajemen Kesiswaan pada manajemen sekolah ?

(2)

6. Bagaimanakah Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan pada manajemen sekolah?

7. Bagaimanakah Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat? 8. Bagaimanakah Manajemen Layanan Khusus pada manajemen sekolah ?

C. Tujuan

Dari rumusan masalah di atas, tujuan penulisan dari makalah ini adalah:

1. Mengetahui Apa saja yang termasuk dalam komponen komponen sekolah.

2. Mengetahui Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran pada manajemen sekolah.

3. Mengetahui Manajemen Tenaga Kependidikan pada manajemen sekolah. 4. Mengetahui Manajemen Kesiswaan pada manajemen sekolah.

5. Mengetahui Manajemen Keuangan dan Pembiayaan pada manajemen sekolah. 6. Mengetahui Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan pada manajemen

sekolah.

(3)

PEMBAHASAN

A.

Komponen-komponen Sekolah

Komponen-komponen sekolah itu adalah siswa, tenaga kependidikan (guru pegawai), kurikulum, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan sekolah dengan masyarakat, dan layanan khusus (Adam,2003; Soetjipto dan Kosasi, 1994, dan Bafadal, 2003).

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan sekolah. Alasannya, tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pembelajaran di sekolah dapat diwujudkan secara optimal, efisien dan efektif.

B.

Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran

Ada beberapa pengertian mengenai kurikulum. Kurikulum berasal dari kata ”curere” yang dikatabendakan menjadi “curiculum”. Kurikulum kemudian digunakan dalam dunia pendidikan dan diberi arti (ditinjau dari segi sistematik)

a. Secara tradisional antara lain seperti:

1. Mata pelajaran yang diajarkan di sekolah

2. Suatu bahan pelajaran tertentu yang dipelajari oleh anak 3. Sesuatu yang diharapkan dipelajari anak di sekolah.

4. Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat atau ijasah (Degree)

b. Secara konsepsi baru dalam pendidikan modern, kurikulum diartikan antara lain: 1. Semua pengalaman anak yang menjadi tanggung jawab sekolah

2. Keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar anak di kelas,tempat bermain, dan di luar sekolah.

Pasal 1 butir 19 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman menyelenggarakan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

(4)

Manajemen kurikulum dan program pengajaran merupakan bagian integral dari manajemen berbasis sekolah, mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan penilainnya kurikulum.

Manajemen atau administrasi pengajaran adalah keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan dibidang pengajaran yang bertujuan agar seluruh kegiatan pengajaran terlaksana secara efisien dan efektif.

Kepala sekolah harus bertanggung jawab tentang perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian perubahan atau perbaikan program pengajaran di sekolah. Untuk kepentingan tersebut, paling tidak terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yaitu:

1. Menilai kesesuaian program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutahan murid

2. Meningkatkan kualitas perencanaan program 3. Memilih dan melaksanakan program

4. Menilai perubahan program

Menurut Mulyasa (2003) beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh guru adalah :

1. Tujuan yang dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan, makin mudah terlihat dan makin tepat program-program yang dikembangkan untuk mencapai tujuan.

2. Program itu harus sederhana dan fleksibel

3. Program-program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan

4. Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan harus jelas pencapaiannya 5. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.

Oleh karena itu, perlu dilakukan pembagian tugas guru, penyusunan kalender pendidikan dan jadwal pelajaran, pembagian alokasi waktu yang digunakan, penetapan pelaksanaan evaluasi belajar, penetapan penilaian, penetapan norma kenaikan kelas, pencatatan kemajuan belajar siswa, perbaikan pengajaran, serta pengisian waktu jam kosong.

(5)

Secara operasional kegiatan administrasi/manajemen kurikulum itu meliputi tiga kegiaan pokok, yaitu kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru, peserta didik , dan seluruh sivitas akademika atau warga sekolah/lembaga pendidikan.

a. Kegiatan yang berhubungan dengan Tugas Guru/Pengajar

1. Pembagian guru yang dijabarkan dari struktur program pengajaran, dan ketentuan tentang beban mengajar wajib bagi guru.

Beban mengajar maksimum seorang guru adalah 24 jam pelajaran per minggu, dengan ketentuan bahwa tiap jam pelajaran berlangsung 45 menit, jadi

Tugas mengajar seorang guru = 24 jam pelajaran

24 x 0,75 jam = 18 jam

Tugas persiapan dan evaluasi dihitung = 19,5 jam

Jumlah = 18 + 19,5

= 37,5 jam

Berdasarkan hal tersebut dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan jumlah guru untuk masing-masing bidang studi/mata pelajaran dari jumlah seluruh guru yang dibutuhkan.

2. Tugas guru dalam mengikuti jadwal pelajaran Ada 4 jenis jadwal pelajaran untuk guru, yaitu:

a) Jadwal pelajaran kurikurer.

Jadwal pelajaran kurikurer disusun secara edukatif oleh guru/tim guru dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan akademik, seperti

1) Keseimbangan berat/ringannya bobot pelajaran setiap hari.

2) Pengaturan mata pelajaran mana yang perlu didahulukan/ tengah/ di akhir pelajaran, seperti olahraga, matematika, kesenian, seni rupa, dan seterusnya.

3) Mata pelajaran yang bersifat praktikum/PKL/PPL dan sebagainya. b) Jadwal pelajaran kokurikurer.

(6)

Jadwal pelajaran ekstra-kurikurer disusun di luar jam pelajaran kurikurer dan progran kokurikurer. Biasanya bersifat pengembangan hobi, bakat, minat, serta prestasi.

d) Jadwal pelajaran yang tatap muka dan non tatap muka

Jadi pelajaran tatap muka adalah bentuknya seperti formal yang dilaksanakan di dalam kelas dimana guru dan murid bertemu secara langsung. Sedangkan non tatap muka misalnya guru menugaskan muridnya untuk dikirim lewat email, ataupun tugas berupa observasi sehingga siswa dapat terjun langsung dalam masyarakat. Pelajaran non tatap muka ini membantu siswa untuk meningkatkan kreativitasnya, dan kemampuan diluar pengetahuan eksak.

3. Tugas guru dalam kegiatan PBM

Tugas ini merupakan serangkaian kegiatan pengajaran/instruksional untuk mencapai hasil pengajaran yang optimal, yaitu:

a) Membuat desain instruksional b) Melaksanakan pengajaran c) Mengevaluasi hasil pengajaran.

Desain instruksional adalah suatu perencanaan pengajaran yang menggunakan pendekatan sistem, atau pengajaran dianggap sebagai sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang saling berinteraksi dan saling berhubungan satu sama lain untuk mencapai sesuatu tujuan. Bila salah satu komponen tidak berfungsi, maka seluruh sistem akan terganggu sehingga tujuan yang telah ditetapkan tidak dapat tercapai sesuai yang diharapkan. Desain instruksional berusaha untuk menentukan prosedur dan mensistematisasikan proses pengajaran dalam situasi tertentu sedemikian rupa sehingga diharapkan terjadi sesuatu perubahan pada diri peserta didik/siswa. Sebagai langkah pertama adalah merumuskan tujuan insrtuksional, suatu komponen penting dalam penyusunan desain karena merupakan titik tolak bagi penentuan komponen-komponen selanjutnya, seperti bahan pengajaran, kegiatan belajar mengajar, alat/media/sumber yang diperlukan, dan alat evaluasi.

(7)

Desain instruksional merupakan suatu perencanaan yang sistematik dari suatu pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Pada waktu seorang guru memutuskan akan mengajarkan sesuatu kepada siswa-siswinya maka di dalam dirinya terjadilah suatu proses berfikir tentang apa yang akan diajarkannya, prosedur dan materi apa yang diperlukannya untuk mencapai hasil belajar yang diinginkan, serta bagaimana mengetahui bahwa siswa-siswinya itu telah belajar. Karenanya guru harus membuat keputusan tentang tiga hal pokok, yaitu:

1. Apa yang akan diajarkan

2. Bagaimana cara mengajrkannya

3. Bagaimana menilai bahwa tujuannya telah tercapai

Jadi guru adalah pengelola kegiatan belajar mengajar, yaitu sebagai perancang, pelaksana pengajaran, serta penilai/evaluator hasil belajar yang sekaligus sebagai supervisor/pembina seluruh kegiatan belajar mengajarnya.Operasionalisasi dari desain instruksional secara umum dituangkan dalam program Satuan Pelajar (Satpel) di sekolah dan di pergiruan tinggi sering disebut program Satuan Acara, Perkuliahan (SAP) dalam bentuk format vertikal atau horizontal (matriks) sesuai pilihan/kebiasaan masing-masing sebagai model.

Dalam evaluasi kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan atas 3 macam, yaitu: a) Evaluasi formatif bagi siswa

1) Siswa dituntut untuk menguasai materi sebelum melanjutkan ke materi berikutnya, sesuai tujuan belajar yaitu belajar tuntas (mastery learning for) 2) Sebagai dignosis kesulitan belajar dan cara mengatasinya.

b) Evaluasi formatif bagi pengajaran

1) Sebagai umpan balik keberhasilan dalam mengelola kegiatan mengajar untuk mengetahui seberapa materi yang telah atau belum dikuasai siswa.

2) Dapat meramalkan sejauh mana evaluasi sumatif siswanya c) Evaluasi sumatif

1) Sebagai alat pembanding keterampilan dan kecakapan anata siswa yang satu dengan yang lainnya.

2) Sebagai bahan untuk meramal penyelesaian studi siswa 3) Sebagai umpan balik bagi siswa sendiri

4) Sebagai bahan penilai terhadap metode yang telah digunakan d) Evaluasi diagnosis

(8)

Dalam kegiatan evaluasi/penilaian hasil belajar siswa ada 2 acuan, yaitu Norma relatif (relative norm referenced evaluation) atau biasa disebut Penilaian dengan Acuan Norma (PAN) dan penilaian dengan Acuan Kriteria (criterian referenced evaluation) atau sering disebut Penilaian dengan Acuan Patokan (PAP)

1. Dalam pendekatan PAN diasumsikan bahwa suatu populasi itu berdistribusi normal, atau bahwa prestasi yang dicapai oleh siswa dalam keadaan normal (guru, sarana, prasarana, sosial dan sebagainya) hasil dari sebuah tes hasil belajar akan memberi arti setelah mengalami proses pengolahan melalui langkah-langkah pemberian skor pada lembar jawaban, pengolahan skor mentar melalui prosedur statistik, dan pemberian nilai akhir hasil tes.

2. Dalam pendekatan PAP penetapan batas lulus merupakan hal yang pokok.

Dalam penggunaan pendekatan PAN atau PAP, bila seorang pengajar merasa curiga dengan hasil prestasi siswanya, maka perlu dilakukan penelitian seksama terhadap beberapa hal yang mungkin menyebabkan kecurigaannya, seperti:

1. Apakah soal-soal yang diberikan betul-betul sudah mencapai TIK?

2. Apakah soal-soal yang diberikan memang telah mengukur kemampuan siswa sebenarnya?

3. Apakah distribusi tingkat kesukaran telah proporsional?

Oleh sebab itu, alat ukur hasil belajar hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga mampu memberikan informasi yang akurat.

b. Kegiatan yang Berhubungan dengan Tugas Peserta Didik/Siswa

Kegiatan-kegiatan peserta didik demi suksesnya Proses Belajar Mengajar tertera dalam jadwal kegiatan belajar yang telah disusun oleh sekolah secara pedagogis beserta jadwal tes/ ulangan/ ujian, dan jadwal kegiatan belajar yang diatur sendiri oleh siswa dalam strategi mensukseskan hasil studinya.

c. Kegiatan yang Berhubungan dengan Seluruh Sivitas Akademika

Kegiatan ini merupakan pedoman sinkronisasi segala kegiatan sekola, yang kurikurer, ektrakurikurer, akademik/ non akademi, hari-hari kerja, libur, karyawisata, hari-hari besar nasional/ agama, dan sebagainya.

d. Kegiatan-kegiatan penunjang PBM

(9)

C. Manajemen Tenaga Kependidikan

Peningkatan produktivitas dan prestasi kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan sumber daya manusia, Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan dengan cara mengikut sertakan pada kegiatan-kegiatan yang menunjang pada kinerja seluruh unsur sekolah. Manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup beberapa hal yaitu:

1. perencanaan pegawai, 2. pengadaan pegawai,

3. pembinaan dan pengembangan pegawai, 4. promosi dan mutasi

5. pemberhentian pegawai, 6. kompensasi, dan

7. penilaian pegawai.

Hal ini menunjukkan, bahwa keberhasilan pengelolaan pendidikan pada sebuah sekolah apabila Kepala Sekolah memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi yang melibatkan pada semua unsur pengelola sekolah.

D. Manajemen Kesiswaan

Salah satu tugas sekolah diawal tahun pelajaran baru adalah menata siswa. Manajemen kemuridan adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berhubungan dengan peserta didik (murid), awal pendaftaran sampai mereka lulus, tetapi bukan sekedar pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan murid melalui proses pendidikan di sekolah (Mulyasa, 2002:46).

Meskipun Pencatatan sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan manajemen kemuridan, buku presensi murid, buku raport, daftar kenaikan kelas, buku mutasi murid, dan sebagainya. Manajemen kemuridan dimaksudkan bertujuan mengatur berbagai kegiatan pembelajaran di sekolah berjalan.dengan kondusif.

Menurut Sutisna dalam Mulyasa (2002) ada tiga yaitu:(1) penerimaan murid baru, (2) kegiatan pelaporan kemajuan belajar murid, dan (3) bimbingan dan pembinaan disiplin murid. Sedangkan tanggung jawab Kepala sekolah dalam mengelola bidang kemuridan adalah:

(10)

2. Penerimaan, orientasi,klasifikasi, dan pembagian kelas murid dan pembagian program studi.

3. Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar murid

4. Program supervisi bagi murid yang mempunyai kelainan, seperti mengulang pengajaran (remid), perbaikan, dan pengajaran luar biasa

5. Pengendalian kedisiplinan murid belajar di sekolah 6. Program bimbingan dan penyuluhan bagi seluruh murid.

7. Program kesehatan dan keamanan murid belajar, terutama ketenangan belajar murid di kelas.

8. Penyesuaian pribadi, sosial, dan emosional murid (Mulyasa, 2002:46).

E. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan

Dalam suatu lembaga pendidikan, biaya pendidikan merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang tidak dapat ditinggalkan. Dalam kondisi sangat darurat, mungkin pendidikan masih dapat berlangsung tanpa adanya biaya. Akan tetapi setiap usaha meningkatkan kualitas pendidikan selalu mempunyai konsekuensi keuangan dan pembiayaan.

Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efisiensi dan efektivitaas pengelolaan pendidikan. Hal tersebut lebih terasa lagi dalam implementasi manajemen berbasis sekolah, yang menuntut kemampuan sekolah untuk merencanakan, malaksanakan, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan pengelolaan dana secara trasparan kepada masyarakat dan pemerintah.

Dalam penyelenggaraan pendidikan, keuangan dan pembiayaan merupakan potensi yang menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan. Komponen keuangan dan pembiayaan merupakan komponen produksi yang menentukan terlaksananya kegiatan-kegiatan proses pembelajaran di sekolah bersama dengan komponen lain. Atau dengan kata lain setiap kegiatan yang dilakukan sekolah memerlukan biaya. Komponen keuangan dan pembiayaan ini perlu dikelola dengan sebaik-baiknya, agar dana-dana yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang tercapinya tujuan pendidikan di sekolah. Sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah, secara garis besar dapat dikelompokkan atas tiga sumber, yaitu:

(11)

2. Orang tua atau peserta didik (siswa)

3. Masyarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat

Biaya rutin adalah biaya yang harus dikeluarkan dari tahun ke tahun, seperti gaji pegawai(guru, dan bukan guru), serta biaya operasional, biaya pemeliharaan gedung, fasilitas dan alat-alat pengajaran (barang-barang habis dipakai). Biaya pembangunan, misalnya, biaya pembelian atau pengembangan tanah, pembangunan gedung, perbaikan atau rehab gedung, penambahan furnitur, serta biaya atau pengeluaran lain untuk barang-barang tidak habis pakai. Dalam rangka implementasi MBS, manajemen komponen keuangan harus dilaksanakan dengan baik dan teliti mulai tahap penyusunan anggaran, penggunaan, sampai pengawasan dan pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar semua dana sekolah benar-benar dimanfaatkan secara efisien dan efektif, tidak ada kebocoran-kebocoran, serta bebas dari penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme. Komponen utama manajemen keuangan meliputi:

1. Prosedur anggaran

2. Prosedur akuntansi keuangan

3. Pembelanjaan, pergudangan, dan prosedur pendistribusian 4. Prosedur investasi

5. Prosedur pemeriksaan

Dalam pelaksanaannya, manajemen keuangan ini mengabut asas pemisahan tugas antara fungsi otorisator, ordonator dan bendaharawan. Otorisator adalah pejabat yang diberi wewenang uintuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembeyaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Adapun bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan ruang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.

F. Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan

(12)

Manajemen sarana dan prasarana pendidikan bertugas mengatur dan menjaga sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi secara optimal dan berarti pada jalannya proses pendidikan.

Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakakan sekolah yang bersih, rapi, indah, sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah. Selain itu juga diharapkan tersedianya alat-alat atau fasilitas belajar yang memadai secara kuantitatif, kualitatif dan relevan dengan kebutuhan serta dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pengajar maupun siswa sebagai peserta didik.

G. Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontiyu untuk mendapatkan simpati dari masyarakat, sehingga kegiatan operasional sekolah semakin efektif dan efisien,demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua, dan masyarakat.Hubungan serasi, terpadu serta timbal balik yang sebak-baiknya antara sekolah dan masyarakat harus diciptakan dan dilaksanakan agar meningkatkan mutu pendidikan dan pembangunan masyarakat dapat saling menunjang. Secara lebih jelasnya maka Husemas dapat dilihat dari fungsi, tujuan, manfaat, dan bentuk-bentuk operasionalnya.

1. Fungsi dari Husemas adalah menarik simpati masyarakat pada umumnya serta publik, sehingga dapat meningkatkan relasi serta amino masyarakat terhadap sekolah tersebut yang pada akhirnya menambah income bagi sekolah yang bermanfaat bagi bantuan terhadap tercapainya tujuaan yang telah ditetapkan.

2. Tujuan dari Husemas adalah meningkatkan popularitas sekolah di mata masyarakat.

3. Manfaat dari Husemas adalah menambah simpati masyarakat yang dapat meningkatkan harga diri sekolah ,serta dukungan masyarakat terhadap sekolah secara spiritual dan material.

4. Bentuk-bentuk operasional dari Husemas bisa bermavam –macam tergantung pada kreatifitas sekolah, kondisi, dan situasi sekolah , fasilitas dan sebagainya.

(13)

7. Mengikutsertakan sivitas akademika sekolah dalam kegiatan –kegiatan masyarakat.

8. Mengikutsertakan tokoh-tokoh masyarakat dalam kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler sekolah.

Dengan demikian sekolah sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat,sedangkan masyarakat sebagai sumber informasi dan inspirasi bagi sekolah seta sebagai lapangan pengabdian bagi par peserta didik.

H. Manajemen Layanan Khusus

Manajemen layanan khusus meliputi manajemen perpustakaan,kesehatan,dan keamanan sekolah. Perpustakaan yang lengkap dan dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang diperoleh peserta diduk melalui belajar mandiri, baik pada waktu kosong disekolah maupun dirumah. Disamping itu juga memungkinkan guru untuk mengembangkan pengetahuan secara mandiri , dan juga dapat mengajar dengan metode bervariasi misalnya belajar individual.

Sekolah sebagai satuan pendidikan yang bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan proses pembelajaran, juga harus menjaga dan meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani peserta.Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan manusia indonesia seutuhnya (UUSPN, bab 11 pasal 4).

(14)

PENUTUP

A. SIMPULAN

Manajemen adalah proses kegiatan dengan melalui orang lain untuk mencapai suatu tujuan tertentu serta dilaksanakan secara berurutan berjalan ke arah suatu tujuan.

1. Manajemen kurikulum merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan secara sungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinyu terhadap situasi belajar secara efektif dan efesien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetetapkan.

2. Manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup beberapa hal yaitu: a. perencanaan pegawai,

b. pengadaan pegawai,

c. pembinaan dan pengembangan pegawai, d. promosi dan mutasi,

e. pemberhentian pegawai, f. kompensasi, dan

g. penilaian pegawai.

3. Manajemen kemuridan adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berhubungan dengan peserta didik (murid), awal pendaftaran sampai mereka lulus, tetapi bukan sekedar pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan murid melalui proses pendidikan di sekolah (Mulyasa, 2002:46).

4. Manajemen Keuangan dan Pembiayaan

Dalam suatu lembaga pendidikan, biaya pendidikan merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang tidak dapat ditinggalkan. Dalam kondisi sangat darurat, mungkin pendidikan masih dapat berlangsung tanpa adanya biaya. Akan tetapi setiap usaha meningkatkan kualitas pendidikan selalu mempunyai konsekuensi keuangan dan pembiayaan.

5. Manajemen sarana dan prasarana yang baik diharapkan dapat menciptakakan sekolah yang bersih, rapi, indah, sehingga menciptakan kondisi yang menyenangkan baik bagi guru maupun murid untuk berada di sekolah.

(15)

7. Manajemen layanan khusus di suatu sekolah merupakan bagian penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang efektif dan efisien.

B. SARAN

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Drs.Sutomo, M.Pd. dkk. 2010.Manajemen Sekolah.Semarang: Pusat Pengembang MKU/MKDK-LP3.

______. 2006. Pengertian/ Definisi dari Manajemen . Diunduh pada tanggal 7 April 2013 dari http://organisasi.org/pengertian_definisi_dari_manajemen

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak : Manajemen sekolah dapat diartikan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik

Guru memiliki etos kerja yang lebih besar untuk berhasil dalam melaksanakan. proses belajar mengajar dibandingkan dengan guru yang tidak

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan dalam pendidikan, segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar

Faktor penghambat manajemen kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar adalah Faktor guru, faktor penghambat yang datang dari berupa hal-hal, seperti:

Dengan perencanaan pengelolaan kelas yang dilakukan di SMP Nahdhatu Ulama Medan para guru lebih matang dalam proses belajar mengajar mengingat karena dalam manajemen

Abstrak: Manajemen sekolah dapat diartikan segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan

11 PENGARUH KEPEMIMPINAN DIREKTIF KEPALA SEKOLAH TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR GURU DI SLTP NEGERI 1 TENGGARONG Oleh : Arpiah Abstrak Berdasarkan jawaban responden dan ditunjang

dalam proses pendidikan, agar segala sesuatunya dapat berjalan dengan efektif dan efisien diperlukan manajemen pendidikan yang tepat manajemen pendidikan: proses pengelolaan