1 4 9
UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS,
FINANCIAL
LEVERAGE, DIVIDEND PAYOUT RATIO
DAN
KECENDERUNGAN PERATAAN LABA
Umi Murtini Aditya Denny O.S
Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana Jl. Dr. Wihidin Sudiro Husodo 5 - 25, Yogyakarta, 55224
ABSTRACT
This study aims to exmine the effect of firm size, profitability, financial leverage, and dividend payout ratio on income smoothing tendency. The grouping of firms with income smoothing and without income smoothing use eckel index. Using binary logistic regression analysis, results shows that firm size and profitabilitas influence on income smoothing tendency. Meanwhile, financial leverage and dividend payout ratio don’t influence on income smoothing tendency.
Keywords: income smoothing, profitabilty, size
PENDAHULUAN
Manajemen melakukan manajemen laba karena laba merupakan salah satu informasi dalam laporan keuangan yang sering digunakan sebagai dasar penentuan kompensasi manajemen. Usaha untuk mengurangi fluktuasi laba adalah suatu bentuk manipulasi laba agar jumlah laba suatu periode tidak terlalu berbeda dengan jumlah laba periode sebelumnya. Perataan laba meliputi penggunaan teknik-teknik tertentu untuk memperkecil atau memperbesar jumlah laba suatu periode, supaya laba yang dihasilkan relative tetap (tidak terlalu berfluktuatif). Ada beberapa alasan perusahaan melakukan perataan laba, antara lain. Pertama, berdasar pada asumsi bahwa suatu aliran laba yang stabil dapat mendukung dividen dengan tingkat yang lebih tinggi daripada suatu aliran laba yang lebih variabel, yang memberikan
pengaruh yang menguntungkan bagi nilai saham perusahaan seiring dengan turunnya tingkat risiko perusahaan secara keselu-ruhan. Sejauh pengamatan atas keanekara-gaman variabilitas suatu tren laporan keuangan mempengaruhi harapan subjektif investor akan hasil laba dan dividen yang mungkin akan terjadi, manajemen mungkin dapat memengaruhi nilai saham perusahaan dengan meratakan laba. Kedua, pengembalian yang mengalami penurunan terhadap pasar diakui oleh para investor dan perusahaan untuk melakukan proses evaluasi mereka, perataan laba akan memberikan pengaruh tambahan yang menguntungkan dalam nilai saham.
1 5 0
BEI.Variabel independen yang diuji yaitu ukuran perusahaan, profitabilitas, financial leverage, dan Dividend Payout Ratio. Penelitian ini menyatakan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, dan Dividend Payout Ratio berpengaruh terhadap kecenderungan praktik perataan laba. Variabel financial leverage tidak berpe-ngaruh terhadap perataan laba. Penulis tertarik untuk menguji kembali mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kecen-derungan praktik perataan laba, yaitu ukuran perusahaan, profitabilitas, financial leverage, dan Dividend Payout Ratio
dengan menambah rentang waktu periode penelitian menjadi 10 tahun (2000-2009) dan menggunakan teknik analisis binary logistic regression dengan harapan bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi untuk menguji apakah terjadi penguatan konsistensi terhadap teori maupun penelitian yang ada selama ini atau sebaliknya.
KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Kecenderungan Perataan Laba
Perataan laba (income smoothing) terkait erat dengan konsep manajemen laba(earnings management).Pada dasar-nya, definisi operasional dari manajemen laba adalah potensi penggunaan manaje-men akrual dengan tujuan memperoleh keuntungan pribadi (Belkaoui, 2004). Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, karena manajemen laba membuat laporan keuangan menjadi bias dan dapat menyesatkan pemakai laporan keuangan yang mempercayai nilai atau angka laba hasil rekayasa tersebut.
Penjelasan konsep manajemen laba menggunakan pendekatan teori keagenan yang menyatakan bahwa praktik manaje-men laba dipengaruhi oleh konflik kepenti-ngan antara manajemen dan pemilik yang
timbul ketika setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmurannya yang dikehendakinya. Dalam hubungan keagenan, manajemen memiliki asimetri informasi terhadap pihak-pihak eksternal perusahaan, seperti investor dan kreditor. Asimetri informasi terjadi ketika pemilik sebagai principal tidak dapat memonitor langsung aktivitas manajemen sehari-hari untuk memastikan manajemen bekerja sesuai dengan keingi-nan pemilik atau dengan kata lain
principal tidak memiliki informasi yang cukup mengenai kinerja agent. Sedangkan manajemen sebagai agent memiliki kelebihan informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja dan perusahaan secara keseluruhan.Adanya asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memak-simalkan dirinya sendiri, mengakibatkan manajemen memanfaatkan adanya asimetri informasi yang dimilikinya untuk me-nyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui pemilik dan untuk menyajikan informasi yang tidak sebenar-nya kepada pemilik terutama bila infor-masi tersebut berkaitan dengan pengukur-an kinerja mpengukur-anajemen (Syahripengukur-ana, 2006).
Perataan laba seringkali digunakan oleh manager untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik melalui meto-da akuntansi maupun melalui transaksi. Alasan perataan laba yang lain adalah untuk memperbaiki hubungan dengan kreditur, investor, dan karyawan merata-kan siklus bisnis melalui proses psikologis.
Teori Keagenan
1 5 1
antara manajemen dan pemilik dapat timbul ketika setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendakinya. Ketika manajer mempunyai informasi yang lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan pihak eksternal, manajer kemudian dapat meng-gunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan keuangan dalam usaha memaksimalkan kemakmu-rannya.
Di dalam sebuah perusahaan terdapat tiga pihak utama (major participant) yang memiliki kepentingan berbeda yaitu :manajemen, pemegang saham (sebagai pemilik), dan buruh atau tenaga kerja. Prinsip pengambilan keputusan yang diambil oleh manajer adalah bahwa manajer harus memilih tindakan-tindakan yang akan memaksimalkan kekayaan pemegang saham. Dengan kata lain, pengambilan keputusan tidak didasarkan atas kepentingan manajemen namun harus mengacu pada kepentingan pemegang saham. Namun kenyataan yang terjadi dibanyak perusahaan adalah manajer cenderung memilih tindakan yang meng-untungkan kepentingannya, misalnya memaksimalkan kekayaannya daripada menguntungkan pemegang saham.
Brigham dan Houston (2006), menyatakan bahwa para manajer dapat didorong untuk bertindak demi
kepen-tingan utama dari pemegang saham melalui insentif-insentif yang memberikan imbalan atas setiap kinerja yang baik atau hukuman untuk kinerja yang buruk. Beberapa mekanisme spesifik yang digunakan untuk memotivasi para manajer untuk bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham antara lain: (1) kompen-sasi manajerial, (2) intervensi langsung oleh pemegang saham, (3) ancaman peme-catan, dan (4) ancaman pengambilalihan.
Informasi akuntansi juga digunakan
principal untuk menilai kinerja manajer, yang selanjutnya dijadikan dasar pemberian reward (biasanya dalam bentuk bonus). Konsekuensi logis dari penggunaan informasi akuntansi sebagai dasar pemberian reward tersebut adalah munculnya perilaku tidak semestinya dikalangan manajer. Manajer cenderung melakukan perataan dengan memanipulasi informasi sedemikian rupa agar kinerjanya tampak bagus.
Penelitian empiris terdahulu telah menguji faktor-faktor yang mempengaruhi perataan laba, dan temuan empiris yang didapat menunjukkan simpulan yang belum sepakat, karena untuk beberapa faktor masih disimpulkan berpengaruh dan tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Di bawah ini adalah tabel ringkasan hasil penelitian terdahulu:
Tabel 1
Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Variabel Kesimpulan
1 Kustiani (2006)
Analisis Perataan Laba dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi: Studi Empiris pada Perusahaan di Indonesia
Besaran Perusahaan, NPM, Kelompok Usaha, Leverage
Operasi
(-) Besaran Perusahaan dan NPM berpengaruh negatif (-) Leverage dan
1 5 2
Tabel 1 (Lanjutan)
No Peneliti Judul Variabel Kesimpulan
2 Yulianto (2007)
Analisis Perataan Laba : Faktor-faktor yang Mempengaruhi dan Kaitannya dengan Kinerja Perusahaan Publik di Indonesia
Besaran Perusahaan, Kelompok Usaha,
OPM, NPM, dan
Winner/Losser Stocks
Besaran Perusahaan, Kelompok Usaha,
OPM, NPM, dan
Winner/Losser Stocks
tidak berpengaruh
3 Herni dan Susanto (2008)
Pengaruh Struktur Kepemilikan Publik, Praktik Pengelolaan Perusahaan, Jenis Industri, Ukuran Perusahaan,
Profitabilitas, dan Risiko Keuangan Terhadap Tindakan Perataan Laba
Struktur Kepemilikan Publik, Praktik Pengelolaan Perusahaan, Jenis Industri, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Risiko Keuangan
(-) Struktur
Kepemilikan Publik, Praktik Pengelolaan Perusahaan, Jenis Industri, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas
berpengaruh (-) Risiko Keuangan tidak berpengaruh 4 Syahriana
(2006)
Analisis Perataan Laba dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi pada Perusahaan Manufaktur di BEJ
Besaran Perusahaan,
NPM, OPM, ROA
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba (Income
Smoothing) dan Bukan Perataan Laba( non-Income Smoothing)
Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,
Financial Leverage, Sektor Industri, dan WLS
Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,
Financial Leverage, Sektor Industri, dan WLS berpengaruh
6 Abiprayu (2011)
Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan,
Financial Leverage, Kualitas Audit, dan
dividend Payout Ratio
terhadap Perataan Laba
Profitabilitas, Ukuran Perusahaan,
Financial Leverage, Kualitas Audit, dan DPR
(-) Profitabilitas, Financial Leverage, Kualitas Audit tidak
berpengaruh (-) Ukuran Perusahaan dan DPR berpengaruh Sumber: Berbagai Jurnal setelah diolah
Pengembangan Hipotesis
Ukuran perusahaan dapat menunjuk-kan besar-kecilnya kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut, dimana besar-kecilnya perusahaan tersebut dapat diukur dengan beberapa cara, yaitu total aktiva dan nilai pasar saham. Ukuran perusahaan dapat dikelompokkan menjadi tiga
1 5 3
subjek pemeriksaan yang lebih ketat dari pemerintah dan masyarakat umum. Michelson et al. (1995) dalam Subhekti (2008) berhasil membuktikan bahwa per-usahaan besar cenderung berperilaku pera-ta. Untuk itu, perusahaan besar diperkira-kan adiperkira-kan menghindari fluktuasi laba yang terlalu drastis, sebab kenaikan laba yang drastis akan menyebabkan bertambahnya pajak.
Sebaliknya, penurunan laba yang drastis akan memberikan image yang kurang baik dan menjadi subyek penelitian pemerintah. Ukuran perusahaan yang diukur dengan total aktiva mempunyai pengaruh yang positif terhadap indeks perataan laba. Jadi, semakin besar perusa-haan, maka semakin besar pula kecende-rungan perusahaan tersebut untuk melakukan praktik perataan laba. Berdasar uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1: Ukuran perusahaan berpengaruh
positif terhadap praktik perataan laba
Profitabilitas merupakan kemam-puan perusahaan dalam memperoleh laba dan mengetahui efektifitas perusahaan dalam mengelola aset yang dimiliki.Laba yang dihasilkan oleh perusahaan merupa-kan perhatian investor dalam menilai kinerja manajemen dan investor menggu-nakan informasi tersebut sebagai pertim-bangan dalam menentukan kebijakan investasi.Perhatian investor yang besar pada tingkat profitabilitas perusahaan dapat mendorong manajer untuk melaku-kan perataan laba (Assih dan Gudono, 2000) dalam Subhekti (2008).Pendapat ini didukung oleh hasil penelitian Moses (1987) dalam Subhekti (2008) yang menunjukkan bahwa income smoothing
berkaitan dengan jumlah aktual dari profit
atau loss yang diperoleh oleh perusahaan. Perusahaan dengan tingkat profita-bilitas rendah cenderung melakukan prak-tik perataan laba.Profitabilitas yang rendah dianggap tidak menarik perhatian investor,
untuk mengimbanginya, maka perusahaan melakukan kebijakan perataan laba agar nilai perusahaan meningkat.Tindakan tersebut dilakukan untuk menunjukkan bahwa walaupun perusahaan memiliki tingkat profitabilitas rendah, namun memiliki laba yang stabil dan memiliki risiko yang rendah (Foster, 1986) dalam Subhekti (2008).Ashari et al. (1994) dalam Herni dan Susanto (2008) membuktikan bahwa perusahaan yang melakukan perataan laba memiliki profitabilitas lebih rendah daripada perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
H2: Profitabilitas berpengaruh negatif
terhadap praktik perataan laba
Leverage ratio digunakan untuk mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang. Perusahaan dengan tingkat hutang yang tinggi akan mem-punyai risiko yang tinggi pula, maka laba perusahaan berfluktuasi dan perusahaan cenderung untuk melakukan perataan laba supaya laba perusahaan terlihat stabil karena investor cenderung mengamati fluktuasi laba suatu perusahaan (Kustiani, 2006).
Sartono dalam Budiasih (2008) menyatakan bahwa financial leverage
1 5 4
tinggi cenderung untuk melakukan praktik perataan laba. Dari uraian tersebut, hipotesis yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
H3: Financial Leverage berpengaruh
positif terhadap praktik perataan laba
Dividen merupakan bagian keuntu-ngan yang diperoleh perusahaan dan diberikan kepada pemegang saham. Besar-kecilnya laba akan mempengaruhi besar-kecilnya dividen yang akan dibagikan pada para pemegang saham. Investor akan tertarik dengan besarnya dividen yang diberikan oleh perusahaan, dan kecilnya risiko yang akan diterima oleh investor tersebut. Salah satu upaya perusahaan untuk meyakinkan investor bahwa risiko yang ada dalam perusahaan kecil, adalah dengan melakukan perataan laba.Jika perusahaan bisa membagikan dividen yang tinggi, berarti laba pada perusahaan tersebut bisa dikatakan besar.Jika dalam kondisi laba yang tinggi tetapi laba yang diperoleh perusahaan tidak terus menerus atau bisa dikatakan tidak stabil yang berarti risiko pada perusahaan tinggi, maka perusahaan akan melakukan perataan laba (Abiprayu, 2011). Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis yang dapat diambil adalah sebagai berikut :
H4: Dividend Payout Ratio berpengaruh
positif terhadap praktik perataan laba
METODA PENELITIAN
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI).Metoda pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode purposive judgement sampling, yaitu sampel yang dipilih atas dasar kesesuaian karakteristik sampel dengan kriteria sampel yang diperlukan. Kriteria tersebut: 1) Perusa-haan manufaktur terdaftar berturut-turut di BEI dari tahun 2000-2009. 2) Perusahaan
tidak berturut-turut merugi dari tahun 2000-2009. 3) Perusahaan yang minimal membagikan dividen 2 tahun berturut-turut. Berdasarkan kriteria diatas, diperoleh perusahaan yang akan dijadikan sebagai sampel.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perataan laba, sedangkan variabel independen menggunakan va-riabel ukuran perusahaan, profitabilitas,
financial leverage, dan Dividend Payout Ratio.Variabel dependen berupa tindakan perataan laba diukur menggunakan model indeksEckel. Indeks perataan laba dihitung sebagai berikut :
Indeks Eckel =
Dimana :
: Perubahan laba dalam suatu periode : Perubahan penjualan dalam suatu periode
CV : Koefisien variasi dari variabel yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai yang diharapkan
CV dan CV dapat dihitung dengan :
CV dan CV =
Perusahaan yang memiliki nilai indeks kurang dari satu, dikategorikan sebagai perusahaan yang melakukan tindakan perataan laba, sedangkan perusahaan yang memiliki nilai indeks lebih dari satu merupakan termasuk perusahaan nonperata laba
1 5 5
Total Asset. Dividend Payout Ratio
mencerminkan proporsi dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. Varia-bel ini diukur dengan membandingkan antara Dividend Per Share dengan Earning Per Share.
Pengujian hipotesis menggunakan
binary logistic regression, karena variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tindakan perataan laba, menggunakan variabel dummy. Persamaannya adalah sebagai berikut :
LN = b0 + b1 LN_TA + b2 ROA + b3
LEV + b4 DPR + e
Keterangan :
LN : Status perata laba perusahaan,
1 = perusahaan melakukan tindakan perataan laba dan 0 jika sebaliknya.
LN_TA : Natural Logaritma dari Total Asset
ROA : Profitabilitas perusahaan LEV : Financial Leverage
DPR : Dividend Payout Ratio e : Error
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dengan menggunakan metoda pur-posive sampling, yaitu perusahaan manufaktur yang tidak berturut-turut merugi dan melakukan pembagian dividen minimal 2 tahun berturut-turut antara tahun 2000-2009, maka diperoleh 56 perusahaan dengan jumlah observasi 560. Di bawah ini adalah proporsi perusahaan yang melaku-kan perataan laba dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba :
Tabel 2
Jumlah Perusahaan Perata Laba dengan Bukan Perata Laba Berdasarkan Indeks Eckel
No. Keterangan Jumlah
1 Perata 199
2 Bukan Perata 361
Jumlah Observasi 560
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa prosentase untuk perusahaan perata laba adalah sebesar 34% dan 66% untuk perusahaan bukan perata laba. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan ternyata per-usahaan yang melakukan perataan laba lebih sedikit disbanding perusahaan yang tidak melakukan perataan laba.
Hasil pengujian regresi logistik disajikan dalam tabel 3. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap perataan laba.
1 5 6
Tabel 3
Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Financial Leverage Dan Devident Pay Out Ratio Terhadap Tindakan Perataan Laba
Keterangan B Sig.
LN_TA .146 .011
ROA .024 .009
LEV -.210 .342
DPR .002 .279
Constant -2.813 .001
Profitabilitas berpengaruh positif terhadap tindakan perataan laba. Hal ini berarti perusahaan yang memilliki laba semakin besar maka memiliki kecende-rungan semakin besar melakukan perataan laba. Perusahaan dengan profitabilitas yang besar biasanya dikategorikan sebagai perusahaan besar dan mendapat perhatian lebih oleh masyarakat, sehingga perusaha-an berusaha agar terlihat baik oleh pihak eksternal. Hasil penelitian ini terdukung oleh penelitian Assih dkk., (2000) dalam Budiasih (2008), yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki ROA yang lebih tinggi cenderung melakukan perataaan laba dibandingkan dengan perusahaan yang lebih rendah karena manajemen tahu akan kemampuan untuk mendapatkan laba pada masa mendatang sehingga memudah-kan dalam menunda atau mempercepat laba.
Financial leverage tidak berpengaruh terhadap tindakan perataan laba diduga karena adanya perbedaan tipe investor dalam menghadapi risiko. Sebagai contoh, investor yang menyukai risiko tinggi, karena beranggapan ketika risiko yang diterima tinggi, maka tingkat pengem-balian yang akan diperoleh juga tinggi (high risk high return), sehingga financial leverage tidak berpengaruh terhadap tindakan perataan laba. Hasil ini didukung oleh penelitian Kurniati (2010).
DPR tidak berpengaruh terhadap tindakan perataan laba, diduga dikarenakan
kebijakan pembagian dividen berada di Rapat Umum Pemegang Saham (principal), sehingga manajemen tidak memiliki kendali atas besarnya dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham.Hasil ini didukung oleh penelitian Alwan (2009).
SIMPULAN, KETERBATAN, DAN SARAN
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, financial leverage dan dividend payout ratio(dpr) terhadap kecenderungan tindakan perataan laba. Tindakan perataan laba diukur dengan menggunakan metode Indeks Eckel. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan binary logistic regression, karena variabel dependen dalam penelitian ini, yaitu tindakan perataan laba menggunakan variabel dummy. Dari hasil pengujian yang dilakukan, menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan dan return on asset
berpengaruh terhadap tindakan perataan laba, sedangkan variabel financial leverage
dan dividend payout ratio tidak ber-pengaruh terhadap tindakan perataan laba.
mem-1 5 7
pengaruhi perataan laba. Penelitian ini menggunakan variabel ukuran perusahaan,
return on asset, financial leverage, dan
dividend payout ratio. Untuk penelitian selanjutnya dapat menambahkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi tindakan perataan laba, seperti jenis industri, kualitas audit, dan lain-lain.
DAFTAR REFERENSI
Abiprayu, K. B. 2011. Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Financial Leverage, Kualitas Audit, dan Dividend Payout Ratio Terhadap Perataan Laba (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006-2009), Skripsi, Universitas Diponegoro. www.eprints.undip.ac.id.
Belkaoui, A. R. 2007. Accounting Theory.
Jakarta: Salemba Empat.
Brigham and Houston. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi 10 Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.
Budiasih, I. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba, Skripsi, Universitas Udayana. www.ejournal.unud.ac.id.
Herni dan Susanto. 2008. “Pengaruh Struktur Kepemilikan Publik, Praktik Pengelolaan Perusahaan, Jenis Industri, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas dan Risiko Keuangan Terhadap Tindakan Perataan Laba (Studi Empiris pada Industri yang Listing di Bursa Efek Jakarta)”.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 23 (3): 302-314.
Kustiani, D dan Ekawati, E. 2006.“Analisis Perataan Laba dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi:
Studi Empiris pada Perusahaan di Indonesia”. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan. 2 (1): 53-56.
Subhekti, Y. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba (Income Smoothing) dan Bukan Perataan Laba (Non-Income Smoothing) (Studi pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2002-2006).Skripsi, Universitas Sebelas Maret. www.digilib.uns.ac.id.
Syahriana, N. 2006. Analisis Perataan Laba dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta (2000-2004).Skripsi, Universitas Islam Indonesia. www.rac.uii.ac.id.