• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyakit Ginjal Parenkim Ginjal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Penyakit Ginjal Parenkim Ginjal"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

Hipertensi essensial atau hipertensi primer adalah hipertensi dimana

penyebabnya tidak diketahui terjadi pada ± 90-95% kasus hipertensi (Beevers,

2001). Hipertensi essensial didiagnosis jika semua penyebab hipertensi yang lain

telah dapat disingkirkan ( Blumenfeld and Laragh, 2008). Penyebab hipertensi yang dapat diketahui seperti yang tertera pada tabel di bawah ini (Blumenfeld and Laragh, 2008)

Penyakit Ginjal

Parenkim Ginjal

Glomerulonephritis akut dan kronis; pyelonefritis; nefrokalsinosis; neoplasma; glomerulosklerosis; nefritis interstisial, herediter atau radiasi.

Obstructive uropathy and hidronefrosis

Renin-secreting renal tumors (hemangioperisitoma, Wilmsataurenal cell, tumor pankreas, ovarium)

Defek kongenital pada transpor natrium (sindroma Liddle's)

Trauma ginjal

Renovaskuler

Lesi arterial ginjal, oklusi, stenosis, aneurysma, trombosis

Renal vasculitis atau glomerulitis

Coarctatio aorta dengan iskemik ginjal

Aortitis dengan iskemik ginjal

(2)

Sindroma Cushing (kelebihan kortisol)

Aldosteronism disebabkan adenoma (Sindroma Conn )

Aldosteronism Pseudoprimer (bilateral adrenocortical hyperplasia) Kongenital atau acquired enzymatic defects with excess Na+

Karsinoma Adrenal

-retaining steroids (defisiensi 11β-hydroxylase; defisiensi 11β-hydroxysteroid dehydrogenase, defisiensi 17α-hydroxylase)

Ectopic corticotropin-secreting tumor

Feokromositoma (adrenal medullaryatau extraadrenal chromaffin tumoryang mensekresi norepinefrin atau epinefrin

Penyebab endokrin yang lain Hipotiroid (hipertensi diastolik)

Hipertiroid (hipertensi sistolik)

Status Hiperkalsemia, hiperparatiroid

Akromegali

Toksemia Gravidarum

Faktor Neurogenik

Peningkatan tekanan intra kranial

Familial dysautonomia

Porfiria akut , Buffer denervation, poliomyelitis, cedera korda spinalis Psikogenik?

Iatrogenikdan penyebab-penyebab lain Terapi kontrasepsi oral atau estrogen

Terapi mineralokortikoid atau glukokortikoid, menelan licorice (seperti defisiensi acquired 11β-hydroxysteroid dehydrogenase)

Obat-obatan simpatomimetik (dekongestan)

Antidepressan

Alkohol

Intoksikasi timbal

Penghambat monoamine oxidase (interaksi dengan obat-obat lain) Intake garam yang berlebihan

(3)

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII) (2004) mengklassifikasikan tekanan darah pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas

menjadi kelompok normal, prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 seperti

yang tertera pada tabel di bawah ini.

Klassifikasi tekanan darah untuk dewasa (JNC VII) Klassifikasi Tekanan

Sedangkan European Society of Hypertension (ESH) dan WHO tahun 2007 mengklassifikasikan hipertensi seperti tabel yang tertera dibawah ini.

Klassifikasi tekanan darah menurut European Society of Hypertension (ESH/WHO) 2007 Diagnosis hipertensi essensial ditegakkan berdasarkan data anamnesis,

pemeriksaan fisik dan laboratorium maupum pemeriksaan penunjang lainnya.

(4)

keluarga, walaupun hal ini belum dapat memastikan diagnosis hipertensi

essensial. Apabila riwayat hipertensi didapatkan pada kedua orangtua, maka

dugaan hipertensi essensial lebih besar. Mengenai usia penderita hipertensi

essensial mayoritas timbul pada usia 25-45 tahun, dan hanya 20% yang timbulnya

kenaikan darah di bawah usia 20 tahun dan diatas usia 50 tahun. Bila telah

diketahui adanya riwayat hipertensi sebelumnya, perlu informasi tentang

pengobatan, efektifitas dan efek samping obat (Sidabutar, 1990).

Keterangan obat yang sedang di makan penderita yang mungkin

menimbulkan hipertensi seperti golongan kortikosteroid, golongan monoamine oxidase inhibitor, dan golongan simpatomimetik. Konsumsi makanan yang banyak mengandung garam juga harus ditanyakan. Pada wanita keterangan

mengenai hipertensi pada kehamilan, riwayat eklamsi, penggunaan pil kontrasepsi

juga ditanyakan. Data riwayat keluarga tentang penyakit ginjal polikistik, kanker

tiroid, feokromositoma, batu ginjal dan hiperparatiroidisme perlu ditanyakan

untuk melengkapi anamnesis(Sidabutar, 1990).

Diagnosis hipertensi tidak dapat ditegakkan dalam satu kali pengukuran.

Diagnosis baru dapat ditetapkan setelah dua kali atau lebih pengukuran pada

kunjungan yang berbeda kecuali terdapat kenaikan yang tinggi atau gejala-gejala

klinis.Dalam pemeriksaan fisik dilakukan pengukuran tekanan darah setelah

pasien beristirahat 5 menit. Posisi pasien adalah duduk bersandar dengan kaki di

lantai dan lengan setinggi jantung. Ukuran dan letak manset serta stetoskop harus

benar. Ukuran manset standar untuk orang dewasa adalah panjang 12-13 cm dan

lebar 35 cm. Penentuan sistolik dan diastolik dengan menggunakan Korotkofffase I dan V. Pengukuran dilakukan dua kali dengan jeda 1-5 menit. Pengukuran

tambahan dilakukan jika hasil kedua pengukuran sangat berbeda. Konfirmasi

pengukuran pada lengan kontralateral dilakukan pada kunjungan pertama dan jika

didapatkan kenaikan tekanan darah (Yogiantoro, 2006).

Sampai saat ini hipertensi masih merupakan masalah yang kompleks

karena merupakan penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi

antara faktor-faktor risiko tertentu antara lain diet dan asupan garam, stres, ras,

(5)

vasokonstriksi serta pengaruh sistem otokrin setempat yang berperan pada sistem

renin, angiotensin dan aldosteron (Kaplan, 2002; Oparil et al, 2003).Mekanisme

pengaturan tekanan darah seperti tertea pada gambar di bawah ini

(Sherwood,2001).

Hipertensi essensial cenderung terjadi pada kelompok keluarga dan

muncul sebagai sekumpulan penyakit atau sindrom yang berbasis genetik dengan

beberapa abnormalitas biokimia yang diturunkan. Fenotif yang dihasilkan dapat

dimodulasi oleh berbagai macam faktor lingkungan yang kemudian

mempengaruhi derajat kenaikan tekanan darah dan waktu onset hipertensi (Oparil

et al, 2003).

Peranan faktor genetik disini biasanya dijembatani suatu fenotip

(6)

Dengan demikian individu yang mempunyai riwayat keluarga hipertensi, asupan

tinggi natrium akan menyebabkan retensi natrium dan air yang selanjutnya akan

meningkatkan tekanan darah (Melander et al, 2001; Oparil et al, 2003).

2.2 Hiperurisemia

Hiperurisemia (HU) didefinisikan bila kadar AUs lebih besar dari dua

standar deviasi di atas rerata hasil laboratorium pada populasi normal (Kuang,

2006). Kadar AU normal menurut Roche ± 3,4 - 7,0 mg/dl untuk laki-laki dan 2,4

- 5,7 mg/dl untuk wanita sebelum menopause.Kejadian yang pasti dari HU dan

gout di masyarakat pada saat ini belum jelas. Prevalensi HU di masyarakat

diperkirakan antara 2,3 sampai 17,6% (Kelly and Wortmann, 1997). Prevalensi

HU pada masyarakat Indonesia belum ada data yang pasti. Penelitian lapangan

yang dilakukan pada penduduk kota Denpasar Bali mendapatkan prevalensi HU

sebesar 18,2% (Wisesa dan Suastika, 2009).

Asam urat serum merupakan hasil akhir dari metabolisme purin. Proses

pembentukan AU sebagian besar berasal dari metabolisme nukleotida purin

endogen, guanylic acid(GMP), inosinic acid(IMP), dan adenylic acid(AMP). Perubahan intermediate hypoxanthine dan guanine menjadi xanthine dikatalisis oleh enzim xanthine oxidase dengan produk akhir AU. Asam urat merupakan produk yang tidak dapat dimetabolisme lebih lanjut. Hanya 5% AU yang terikat

plasma dan sisanya akan difiltrasi secara bebas oleh glomerulus. Dari semua AU

yang difiltrasi,99% akan direabsorpsi oleh tubulus proksimal. Kemudian 7-10%

fraksi AU akan disekresi oleh tubulus distal (Vedercchia et al, 2000; Berry et al,

2004). Mekanisme yang menjelasan tentang proses katabolisme purin dan sintesis

(7)

Kadar AU manusia dan beberapa primata seperti simpanse memiliki

rentang yang luas (2 mg/dl sampai 12 mg/dl) dan lebih tinggi dari mamalia lain.

Hal itu disebabkan oleh mutasi gen pengode uricase, suatu enzim hepar yang berfungsi mengubah AU menjadi allantoinyang lebih larut dan dapat diekskresi

lewat urine. Ketiadaan enzim tersebut menyebabkan hampir 100% AU yang

difiltrasi di glomerulus akan mengalami reabsorpsi dan sekresi pada tubulus

proksimal ginjal. Proses tersebut dimediasi oleh urate exchangerdan voltage sensitive urate channel(Johnson et al, 2003; Hediger et al, 2005; Hernig andJohnson, 2006).

Kadar AU pada tiap individu sangat bervariasi tergantung pada sintesis

dan ekskresinya. HU terjadi bila kadar AU melebihi daya larutnya dalam plasma

yaitu 6,7 mg/dl pada suhu 37°C. Kondisi ini dapat disebabkan karena

ketidakseimbangan antara produksi yang berlebihan, penurunan ekskresi atau

gabungan keduanya. Produksi yang berlebihan terjadi pada keadaan diet tinggi

(8)

dislipidemia. Sedangkan penurunan ekskresi AU terjadi pada penyakit ginjal,

hipertensi, penggunaan diuretik, resistensi insulin, dan kadar estrogen yang rendah

(Johnson et al, 2003; Berry et al, 2004; Hediger et al, 2005). Berdasarkan

penyebabnya, Hiperurisemia dapat diklasifikasikan menjadi (Putra, 2006):

a. Hiperurisemia primer

Merupakan HU yang tidak disebabkan oleh penyakit lain. Biasanya

berhubungandengan kelainan molekuler yang belum jelas dan adanya kelainan

enzim.

b. Hiperurisemia sekunder

Merupakan HU yang disebabkan oleh penyakit atau penyebab lain. HU jenis ini

dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu kelainan yang menyebabkan

peningkatan biosintesis denovo, peningkatan degradasi ATP, dan underexcretion. c. Hiperurisemia idiopatik

Merupakan jenis HU yang tidak jelas penyebab primernya dan tidak ada kelainan

genetik, fisiologi serta anatomi yang jelas.Penegakkan diagnosa HU meliputi

anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis bertujuan

untuk mengetahui ada tidaknya faktor keturunan, kelainan atau penyakit lain

sebagai peyebabHU sekunder. Pemeriksaan fisik untuk mencari kelainan atau

penyakit sekunder seperti tanda-tanda anemia, pembesaran organ limfoid, keadaan

KV dan tekanan darah, keadaan dan tanda kelainan ginjal serta kelainan pada

sendi. Pemeriksaan penunjang bertujuan untuk mengarahkan dan memastikan

peyebab HU..Pemeriksaan penunjang yang rutin dilakukan adalah pemeriksaan

darah rutin AU darah, kreatinin darah,pemeriksaan urin rutin, dan kadarAU urin

24 jam (Putra, 2006).

2.3 Hubungan antara Hipertensidengan Hiperurisemia

Mekanisme yang dapat menerangkan mengapa pada penderita hipertensi

terjadi HU masih belum sepenuhnya dapat dideskripsikan. Tiga kesimpulan yang

(9)

1. Hipertensi dapat menyebabkan hiperurisemia.

HU dijumpai pada 25-60% penderita hipertensi essensial yang tidak

diobati, 50% penderita hipertensi yang menggunakan diuretik dan > 75%

penderita hipertensi maligna (Feig et al, 2008). Meningkatnya kadar AUs

dihubungkan secara langsung dengan peningkatan resistensi vaskular ginjal dan

berkorelasi terbalik dengan perfusi ginjal. Selain itu AUsberkorelasi dengan

eksresi albumin urin yang dianggap berperan terhadap timbulnya nefrosklerosis

dan abnormalitas hemodinamik ginjal yang mengawali timbulnya gangguan

metabolisme asam urat pada pasien dengan familial nefropati yang disertai dengan HU (Ruilope and Puig, 2001).

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya yang telah menjelaskan

hubungan antara hipertensi dengan HU, terjadinya HUtelah dihubungkan dengan

penurunan sekresi AU di tubulus ginjal. UnderekskresiAU mungkin dapat dihubungkan dengan peningkatan reabsorpsi natrium yang dimediasi oleh insulin.

Meningkatnya kadarAUs akibat hipertensi disebabkan karena menurunnya perfusi

ginjal yang menyertai kondisi hipertensi. Penurunan perfusi ginjal akan

menstimulasi reabsorpsi urat. Hipertensi juga dapat menimbulkan penyakit

mikrovaskuler yang dapat menyebabkan iskemik jaringan lokal (Puig and

Ruilope, 2001).

Iskemik jaringan lokal dapat menyebabkan peningkatan sintesis AUs dan

pelepasan laktat yang memblokade sekresi AU di tubulus proksimal.Pada saat

iskemik, ATP didegradasi menjadi adenine dan xanthine yang juga meningkatkan pembentukan xanthine oxidase (XO). Peningkatan availibilitas substrat (xanthine) dan enzim (xanthine oxidase) mengakibatkan meningkatnya pembentukan asam urat sama seperti pembentukan oksidan (02-). Temuan iskemik yang

menyebabkan peningkatan kadar AUs juga telah menjelaskan mengapa HU

terjadi pada preeklamsia dan gagal jantung kongestif (Leyva et al, 1997).

Pemakaian diuretik pada pasien hipertensi dapat menyebabkan berkurangnya

sekresi AU dan meningkatkan resiko terjadinya HU(Conen et al, 2004)

(10)

Asam urat berperan dalam produksi radikal bebas yang menyebabkan

stress oksidatif yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Beratnya

hipertensi mengakibatkan peningkatan resistensi vaskular ginjal serta penurunan

perfusi ginjal. Perkembangan nefrosklerosissebagai perubahan vaskuler dini pada

hipertensi dapat meningkatkan kadar AUs dengan cara menurunkan aliran darah

diantara sirkulasi korteks dan medulla (Yeon, 1986; Neil, 2005).

Hubunganantara kadar AUs dengan resiko KV telah diketahui lebih dari

50 tahun yang lalu. Beberapa studi menunjukkan peningkatan kadar AUs

memegang peranan pada terjadinya morbiditas KV di populasi umum, pada

pasien hipertensi, Diabetes Melitus (DM) tipe 2, dan pada pasien penyakit jantung

dan vaskuler (Schumacer, 1992; Lehto et al, 1998; Alderman et al, 1999;

Verdecchia et al, 2000; Ruilope and Rodicio, 2001; Johnson et al, 2003; Waring et

al, 2005; Nisnaken et al, 2006; Nakagawa et al, 2006; Kuang et al, 2006; Lippi et

al, 2008; Yongkuan et al, 2008;).

Resistensi insulin sering terjadi pada pasien hipertensi essensial, insulin

mempunyai efek kekuatan untuk menahan natrium yang disertai dengan

penurunan ekskresi AUs. Selain itu HU dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf

simpatis yang dapat mempengaruhi peningkatan kadar AUs. Ide bahwa HU dapat

menjadi indikator resistensi insulin telah ditunjukkan pada penelitian longitudinal

selama 8 tahun yang telah meneliti bahwa HU berkaitan dengan resistensi insulin.

Karena itu HU pada pasien hipertensi dapat menjadi petanda adanya resistensi

insulin yang dihubungkan langsung dengan peningkatan risiko penyakit KV

(Ruilope and Puig, 2001).

Asam urat serummerangsang produksi sitokin dari leukosit dan kemokin

dari otot polos pembuluh darah, merangsang perlekatan granulosit pada

endothelium, adhesi platelet dan pelepasan radikal bebas peroksida dan

superoksida serta memicu stress oksidatif (Johnson et al, 2003; Oparil et al, 2003;

Culleton et al, 2006; Obermayr et al, 2008). Dari sini diduga terdapat peranan

(11)

dalam memediasi respon inflamasi sistemik yang akhirnya bermuara pada

eventKV(Johnson et al, 2003; Oparil et al, 2003).

Berbagai bukti eksperimental, studi epidemiologis serta klinis juga

mendapatkan AUs sebagai faktor resiko KV yang relevan dan independen

khususnya pada pasien hipertensi, gagal jantung atau DM (Zoccali et al, 2006;

Obermayr et al, 2008).Faktor risiko mayor KV yang berhubungan dengan

peningkatan kadar AUs dijelaskan pada tabel di bawah ini(Verdecchia et al,

2000; Johnson et al, 2003)

Kelompok Mekanisme yang berhubungan

Pria dan Wanita paska menopause Estrogen bersifat urikosurik

Bangsa Afrika Amerika Belum diketahui

Hipertensi Reabsorpsi AUs meningkat pada keadaan dimana resistensi vaskuler ginjal meningkat; penyakit mikrovaskuler mempredisposisi timbulnya iskemik jaringan yang menyebabkan peningkatan pembentukan AUs (dari pemecahan adenosin) dan berkurangnya ekskresi AUs (disebabkan kompetisi antara laktat dengan transporter urat di tubulus proksimal); beberapa kasus hipertensi HU disebabkan karena intake alkohol atau intoksikasi timbal

Gagal Jantung Kongestif ↑ aktivitas xanthine oxidase dan produksi AUs

↓ aliran darah ginjal

Diuretik Thiazide ↓ klirens ginjal

Diuretik kuat (Loop) Hemokonsentrasi

Hipovolemia karena reabsorbsi tubulus↑

Hipertrigliseridemia Resistensi insulin seletif: ↓ insulin yang menjadi perantara uptake glukosa dan asam lemak bebas tetapi tertahan oleh senstivitas ginjal terhadap insulin yang memediasi reabsorpsi AU

Penyakit Ginjal ↓ laju filtrasi ginjal akan ↑kadar AUs

(12)

kemudian dimetabolisme menjadi AUs

Obesitas dan DM tipe 2 Hiperinsulinemia ↑ insulin yang memediasi reabsorpsi AU di tubulus renalis

Konsumsi alkohol ↑ pembentukan AUs dan ↓ eksresinya

Asam urat diketahui sebagai antioksidan dan mungkin sebagai antioksidan

yang penting dalam plasma dengan kontribusi sampai 60% dari seluruh aktivitas

pembersihan radikal bebas dalam serum manusia (Waring et al, 2000; Johnson et

al, 2003). Urat yakni bentuk AU yang larut dalam darah dapat menangkap

superoksida, radikal hidroksil, oksigen tunggal dan juga mempunyai kemampuan

untuk kelasilogam-logam transisi (Waring et al, 2000). Asam urat dapat

berinteraksi dengan peroxynitrit, ” suatu produk toksik yang terbentuk dari reaksi antara anion superoksida dengan nitric oxide (NO) yang dapat merusak sel

melalui proses nitrosilasi residu protein tirosin (terbentuknya nitrotirosin)”, dan

membentuk donor NO yang stabil, sehingga menyebabkan vasodilatasi dan

meminimalkan kerusakan oksidatif yang diinduksi oleh peroxynitrit tadi (Waring

et al, 2000).

Asam urat dapat mencegah degradasi extracellular superoxide dismutase (SOD3) yang merupakan enzim penting dalam mempertahankan fungsi

endoteldan vaskuler. SOD3 merupakan enzim ekstraseluler yangmengkatalisasi

reaksi anion superoksida (O2-) menjadi hidrogen peroksida (H202). Pembuangan

(O2-) oleh SOD3 mencegah reaksi dan inaktivasi (O2

-Namun demikian AUs juga bersifat prooksidatif pada kondisi tertentu,

khususnya bila antioksidan lain berada dalam kadar yang rendah (Johnson et al.,

2003). Diketahui AU dapat merangsang oksidasi Low Density Lipoprotein (ox-LDL) in vitro yang merupakan langkah kunci dalam progresifitas atherosklerosis. Efek merusak AU pada sel endotel diperkirakan melalui aktivasi leukosit dan

terdapat korelasi yang konsisten antara peningkatan konsentrasi AU dengan

marker inflamasi di sirkulasi (Culleton et al, 2006). Jadi walau mempunyai ) oleh NO, sehingga hal ini

membantu mempertahankan konsentrasi NO dan fungsi endotel dengan baik

(13)

peranan sebagai antioksidan yang signifikan, AU baik secara langsung maupun

tidak langsung dapat menyebabkan kerusakan vaskuler (Waring et al, 2000;

Obermayr et al, 2008). Mekanisme HU disfungsi vaskuler yang memicu

timbulnya atherosklerosis dan peningkatan risiko KVtertera pada gambar berikut

ini. (Waring et al, 2005).

+

+ +atau - + +

Radikal bebas

Relaksasi otot polos

Dua studi epidemiologi yang besar telah menunjukkan bahwa AU

merupakan prediktor mayor terhadap perkembangan insidensi penyakit ginjal.

Selanjutnya HU sering dihubungkan dengan insiden penyakit ginjal tahap akhir Asam Urat

Agregasi trombosit

LDL

Perlekataan netrofil, degranulasi, inflamasi

ox-LDL

L-arginine

NO NO synthase L-citrulline

Endotel yang sehat

_

NO memerantarai disfungsi

endotel

Disfungsi Endotel

Perkembangan plak

(14)

yang lebih besar (Obermayr et al, 2008; Domrongkitchaiporn et al, 2005; Iseki et

al, 2001; Johnson et al, 2005). Efek HU yang meliputi hiperplasia sel otot

pembuluh darah, disfungsi endotel dan aktivasi sistem

renin-angiotensin-aldosteron mungkin sebagai kandidat yang menghubungkan antara hipertensi

terhadap kerusakan KV dan ginjal (Yeon et al, 1986).

Hiperurisemia dan hipertensi essensial memiliki hubungan kausatif.

Hiperurisemia sendiri dapat menyebabkan timbulnya hipertensi. Beberapa studi

eksperimental telah mendukung adanya hubungan yang kuat antara HU dengan

hipertensi dini, sebelum terjadi penyakit mikrovaskuler. Mazzali dkk (2010) telah

membuktikan adanya hubungan antara antara AU dengan tekanan darah pada

>150 remaja yang dirujuk dari klinik hipertensi anak. Penemuan ini telah

menunjukkan terjadi peningkatan kadar AUs (.>5.5 mg/dl) pada hampir 90%

remaja dengan hipertensi primer dan tidak terjadi pada hipertensi sekunder dan

subjek sehat (Mazzali, et al 2010). Mekanisme bagaimana AU dapat

menyebabkan hipertensi disajikan pada gambar berikut (Mazzali, et al 2010).

Referensi

Dokumen terkait

dikumpulkan dengan menggunakan teknik pengambilan atau pengumpulan data berupa angket. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Hadiwarno dan pihak- pihak yang

Sedangkan kondisi lain yang dipengaruhi, karena sebagian besar masyarakat berasal dari golongan masyarakat bawah, sehingga tekanan ekonomi ini juga membuat

Hubungan etika dengan profesi hukum, bahwa etika profesi adalah sebagai sikap hidup yang mana berupa kesediaan untuk memberikan pelayanan profesional dibidang hukum terhadap masyarakat

Bahan Stabilisasi Pada Tanah Lempung Ditinjau dari Nilai CBR dan Pengujian Kuat Tekan Bebas (Unconfined Compression Test) ”.. Tugas Akhir ini disusun untuk diajukan

As an ekphra- sis agalmatôn, the cup description is a potentially valuable source of verbally articulated evidence for Hellenistic viewing: apart from descriptions in poetry like it

Berdasarkan hasil jawaban pada tabel 8, mahasiswa matematika dapat membangun model sebab akibat dari suatu sifat yang diberikan baik bentuk integral tak tentu mapun integral

Dalam pendidikan sangat penting adanya sarana dan prasarana, yakni fasilitas yang seharusnya mendapat perhatian utama oleh setiap pengelola pendidikan. Sarana

a. Peran reproduktif adalah peran yang berhubungan dengan tugas-tugas domestik yang menyangkut kelangsungan keluarga. contohnya, melahirkan, memasak, mengasuh anak,