• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses dan pola interaksi sosial siswa di fabel dan non-difabel di sekolah eksklusif di kota Surakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proses dan pola interaksi sosial siswa di fabel dan non-difabel di sekolah eksklusif di kota Surakarta"

Copied!
237
0
0

Teks penuh

  • Penulis:
    • Joko Teguh Prasetyo
  • Pengajar:
    • Drs. Argyo Demartoto, M.Si
  • Sekolah: Universitas Sebelas Maret
  • Mata Pelajaran: Sosiologi
  • Topik: Proses dan Pola Interaksi Sosial Siswa Difabel dan Non-Difabel di Sekolah Inklusif di Kota Surakarta
  • Tipe: skripsi
  • Tahun: 2010
  • Kota: Surakarta

I. PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan menjelaskan latar belakang masalah mengenai interaksi sosial siswa difabel dan non-difabel di sekolah inklusif. Penelitian ini berfokus pada pentingnya pendidikan inklusif untuk mengatasi stigma negatif terhadap siswa difabel. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan gambaran tentang proses dan pola interaksi sosial di Sekolah Dasar Al Firdaus, Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana siswa difabel berinteraksi dengan teman-teman non-difabel dan untuk menilai aksesibilitas yang diberikan oleh sekolah. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan manfaat teoritis dan praktis bagi pengembangan pendidikan inklusif.

1.1. Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah menguraikan kondisi sosial yang dihadapi oleh siswa difabel di Indonesia, termasuk diskriminasi dan stigma yang mereka alami. Penelitian ini menjelaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan solusi untuk memberikan kesempatan yang sama bagi siswa difabel dan non-difabel. Melalui pendidikan inklusif, diharapkan siswa difabel dapat berinteraksi secara sosial dengan baik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kehidupan mereka.

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini berfokus pada dua pertanyaan utama: pertama, bagaimana proses dan pola interaksi antara siswa difabel dan non-difabel di Sekolah Dasar Al Firdaus? Kedua, bagaimana aksesibilitas yang diberikan oleh sekolah kepada siswa difabel untuk mencapai hasil yang berkualitas? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi panduan dalam proses penelitian dan analisis data yang dikumpulkan.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis proses serta pola interaksi sosial antara siswa difabel dan non-difabel di sekolah inklusif. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aksesibilitas pendidikan yang diberikan kepada siswa difabel di Sekolah Dasar Al Firdaus, serta dampaknya terhadap kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Dengan tujuan ini, diharapkan penelitian dapat memberikan wawasan bagi pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua kategori: manfaat teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran untuk penelitian sejenis dan menjadi referensi bagi penelitian di masa mendatang. Secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pendidikan bagi siswa difabel, serta menjadikan Sekolah Dasar Al Firdaus sebagai contoh sekolah inklusif yang baik.

1.5. Landasan Teori

Landasan teori dalam penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi, yang mempelajari hubungan dan interaksi sosial antar individu dalam kelompok. Teori-teori yang relevan mencakup teori interaksionisme simbolik yang menekankan pentingnya makna dalam interaksi sosial, serta teori kritis yang mengkaji bagaimana masyarakat dapat membebaskan diri dari diskriminasi dan stigma. Pendekatan ini memberikan kerangka untuk memahami dinamika interaksi antara siswa difabel dan non-difabel dalam konteks pendidikan inklusif.

II. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Deskripsi lokasi penelitian memberikan informasi tentang Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus di Surakarta, yang menjadi fokus penelitian ini. Di sini, dijelaskan sejarah berdirinya lembaga, visi, misi, dan tujuan pendidikan inklusif yang diterapkan. Penjelasan ini penting untuk memberikan konteks mengenai bagaimana sekolah tersebut beroperasi dan bagaimana kebijakan pendidikan inklusif diimplementasikan.

2.1. Profil Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus

Profil Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus mencakup informasi mengenai sejarah berdirinya lembaga, yang didirikan untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak, baik yang difabel maupun non-difabel. Visi dan misi lembaga ini adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah bagi semua siswa. Dengan adanya profil ini, pembaca dapat memahami tujuan dan komitmen lembaga dalam mendukung pendidikan inklusif.

2.2. Visi Misi dan Tujuan

Visi dan misi Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus berfokus pada penyediaan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak tanpa memandang latar belakang atau kondisi fisik. Tujuannya adalah untuk menciptakan generasi yang beriman dan berakhlak mulia, serta mampu bersaing di masyarakat. Dengan visi dan misi ini, lembaga berusaha untuk memfasilitasi kebutuhan pendidikan siswa difabel dan non-difabel secara bersamaan.

2.3. Kurikulum dan Pembelajaran

Kurikulum yang diterapkan di Sekolah Dasar Al Firdaus dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua siswa, termasuk siswa difabel. Pembelajaran dilakukan dengan pendekatan yang beragam, sehingga setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya. Penjelasan mengenai kurikulum ini penting untuk menunjukkan bagaimana sekolah beradaptasi dengan kebutuhan siswa difabel dan non-difabel dalam proses belajar mengajar.

2.4. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia di Sekolah Dasar Al Firdaus terdiri dari tenaga pengajar yang terlatih dan berpengalaman dalam menangani siswa difabel. Selain itu, dukungan dari konselor dan staf pendukung lainnya juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Penjelasan mengenai sumber daya manusia ini menunjukkan komitmen lembaga dalam menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi semua siswa.

2.5. Unit-unit Pendidikan

Unit-unit pendidikan di Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus meliputi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Setiap unit pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan pendekatan yang sesuai. Penjelasan mengenai unit-unit pendidikan ini memberikan gambaran tentang struktur pendidikan yang inklusif dan bagaimana sekolah berusaha untuk menjangkau semua siswa.

2.6. Unit-unit Pendukung

Unit-unit pendukung di Sekolah Dasar Al Firdaus termasuk pusat layanan anak berkebutuhan khusus yang menyediakan dukungan tambahan bagi siswa difabel. Unit ini berfungsi untuk membantu siswa dalam proses belajar dan berinteraksi dengan teman-teman mereka. Penjelasan mengenai unit-unit pendukung ini penting untuk menunjukkan upaya lembaga dalam memastikan aksesibilitas dan dukungan bagi siswa difabel.

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bagian ini menyajikan hasil penelitian yang diperoleh dari pengamatan dan wawancara dengan siswa, guru, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa difabel dapat berinteraksi dengan baik dengan siswa non-difabel, meskipun ada beberapa tantangan yang dihadapi. Pembahasan ini juga mencakup analisis tentang aksesibilitas yang diberikan oleh sekolah dan dampaknya terhadap interaksi sosial siswa.

3.1. Profil Informan

Profil informan mencakup deskripsi tentang siswa difabel yang menjadi subjek penelitian. Informan dipilih berdasarkan kriteria tertentu, termasuk jenis kecacatan dan kemampuan berinteraksi. Profil ini penting untuk memberikan konteks mengenai latar belakang siswa difabel yang terlibat dalam penelitian dan bagaimana pengalaman mereka di sekolah inklusif.

3.2. Proses dan Pola Interaksi Sosial

Proses dan pola interaksi sosial antara siswa difabel dan non-difabel menunjukkan bahwa interaksi tersebut berlangsung positif. Siswa difabel berusaha untuk beradaptasi dan terlibat dalam kegiatan kelas, sementara siswa non-difabel menunjukkan sikap inklusif. Pembahasan ini menyoroti pentingnya lingkungan yang mendukung bagi siswa difabel untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka.

3.3. Aksesibilitas Sekolah Dasar Al Firdaus

Aksesibilitas yang diberikan oleh Sekolah Dasar Al Firdaus mencakup fasilitas fisik dan dukungan pendidikan untuk siswa difabel. Meskipun ada beberapa keterbatasan dalam sarana dan prasarana, sekolah berusaha untuk memenuhi kebutuhan siswa difabel melalui program-program khusus. Pembahasan ini penting untuk menunjukkan bagaimana sekolah beradaptasi dengan kebutuhan siswa difabel.

3.4. Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian mengaitkan temuan dengan teori-teori yang relevan, termasuk teori interaksionisme simbolik dan teori kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial siswa difabel dan non-difabel dapat berlangsung dengan baik dalam lingkungan yang inklusif. Pembahasan ini juga menyoroti pentingnya dukungan dari guru dan orang tua dalam menciptakan lingkungan yang mendukung bagi siswa difabel.

IV. PENUTUP

Bagian penutup menyajikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan, serta saran untuk pengembangan pendidikan inklusif di masa mendatang. Kesimpulan diambil berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan sebelumnya. Saran yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi siswa difabel dan non-difabel di sekolah inklusif.

4.1. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses dan pola interaksi sosial antara siswa difabel dan non-difabel di Sekolah Dasar Al Firdaus berjalan dengan baik. Meskipun ada beberapa tantangan, siswa difabel mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan teman-teman mereka. Aksesibilitas yang disediakan oleh sekolah juga berkontribusi pada kualitas interaksi sosial ini.

4.2. Saran

Saran yang diberikan mencakup perlunya peningkatan fasilitas dan dukungan pendidikan bagi siswa difabel di sekolah inklusif. Selain itu, disarankan agar sekolah terus mengembangkan program-program yang mendukung interaksi sosial antara siswa difabel dan non-difabel, serta melibatkan orang tua dalam proses pendidikan. Dengan demikian, diharapkan pendidikan inklusif dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat bagi semua siswa.

Referensi Dokumen

  • Pendidikan Inklusif : Teori dan Implementasinya ( Abdul Salim Choiri )
  • Sindrom Asperge. Panduan Bagi Orangtua dan Profesional ( Tony Attwood )
  • Rintisan Pendidikan Inklusi di Jawa Tengah ( Soebagyo Brotosedjati )
  • Menyibak Sensitivitas Gender Dalam Keluarga Difabel ( Argyo Demartoto )
  • Teori Sosiologi Klasik dan Modern ( Doyle Paul Johnson )

Gambar

Tabel 1.2
Tabel 1.3 Daftar Penyandang Cacat Menurut Jenis Kelamin di Kota Surakarta Tahun 2006
Tabel 1.4
Gambar 1.1 Skema Alur Penelitian
+5

Referensi

Dokumen terkait

1) Interaksi sosial yang bersifat assosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk-bentuk asosiasi seperti kerja sama, akomodasi, asimilasi dan akulturasi.. Kerjasama

Menurut Saptono(2006: 69)”Interaksi yang baik antara guru dan siswa dapat terlihat seperti adanya kontak sosial dan komunikasi sosial yang terjadi pada saat pembelajaran

Kemampuan komunikasi sosial adalah suatu kesatuan social yang terdiri dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan

Hal ini diduga bahwa siswa tidak memiliki pengetahuan dan keretampilan yang baik tentang interaksi sosial terhadap teman sebayanya di sekolah dalam belajar, serta

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, maka simpulannya ialah faktor yang mempengaruhi interaksi sosial antara siswa difabel dengan siswa non-difabel adalah karena

Bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam pembelajaran online yaitu asosiatif berupa kerjasama dan asimilasi, dan bentuk disosiatif berupa konflik/pertentangan; 2 Faktor pendukung

Bentuk interaksi sosial yang dilakukan siswa ABK di sekolah inklusi SD Negeri 136 Pekanbaru sudah berjalan dengan baik, karena Kerjasama dan bentuk akomodasi seperti mediasi,kompromi

Pengaruh Pola Asuh Demokratis Dengan Interaksi Sosial Anak Hasil penelitian pada 40 responden sampel anak usia dini di Desa Bulila Kecamatan Telaga yang menunjukkan bahwa hipotesis