• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH STUDI AGAMA KELOMPOK 9

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH STUDI AGAMA KELOMPOK 9"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

A. LatarBelakang...1

B. RumusanMasalah...2

BAB II...3

PEMBAHASAN...3

A. ManusiaTerikatatauBebas ( antarapredeterminismedan Free will )...3

B. ProblematikaPredeterminismedan Free will...9

BAB III...12

PENUTUP...12

A. Kesimpulan...12

B. Saran danKritik...12

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Keinginan manusia untuk hidup dengan bebas merupakan salah satu keinginan insani yang mendasar. Karena adanya naluri manusia yang tidak ingin terikat oleh aturan-aturan yang menjadikan belenggu karena manusia memiliki potensi yang lebih tinggi daripada potensi hewan. Potensi ini adakalanya tergolong potensi-potensi emosional dan kecendrungan insaniah yang tinggi atau kategori indrawi. Potensi inilah yang merupakan kemampuan instrinsik dan kebutuhan manusia yang mendasar untuk hidup bebas, bagaimana keadaan sekelilingnya, baik itu menekan, menonjolkan atau menenggelamkan individu oleh karena itu, kebebasan merupakan kebutuhan dasar manusia dan kebutuhan yang bersifat fundamen.

Titik tolak untuk mempersoalkan kebebasan manusia dan jawaban-jawaban yang diberikan terhadap persoalan itu bukan saja sering kali tidak sama, bahkan tidak jarang saling bertentangan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pemikiran tentang kebebasan selalu mengandung kontroversi.

(3)

Dengan latar belakang tersebut penulis hendak memaparkan materi manusia antara keterikatan atau bebas, antara predeterminisme dan free will.

B. Rumusan Masalah

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Manusia Terikat atau Bebas ( Antara predeterminisme dan Free will )

Kaum mu’tazilah, karena dalam sistim teologi mereka manusia dipandang mempunyai daya yang besar lagi bebas, sudah barang tentu menganut paham qadariyah atau free will. Dan memang mereka juga disebut kaum qadariyah. Pula keterangan-keterangan dan tulisan-tulisan para pemuka mu’tazilah banyak mengandung paham kebebasan dan berkuasanya manusia atas perbuatan-perbuatannya.

Al-jubba’i, umpamanya, menerangkan bahwa manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya, manusia berbuat baik dan buruk, patuh dan tidak patuh kepada Tuhan atas kehendak dan kemauannya sendiri. Dan daya untuk mewujudkan kehendak itu telah terdapat dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan. 1 pendapat

yang sama diberikan pula oleh ‘Abd Al-Jabbar. Perbuatan manusia bukanlah diciptkan tuhan pada diri manusia, tetapi manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatan. Perbuatan ialah apa yang dihasilkan dengan daya yang bersifat baharu. Manusia adalah makhluk yang dapat memilih.

Keterangan-keterangan di atas dengan jelas mengatakan bahwa kehendak untuk berbuat adalah kehendak manusia. Tetapi tidak jelas apakah daya yang dipakai untuk mewujudkan perbuatan itu adalah pula daya manusia sendiri. Dalam hubungan ini perlu kiranya ditegaskan bahwa untuk terwujudnya perbuatan, harus ada kemauan atau

(5)

kehendak dan daya untuk melaksanakan kehendak itu, dan kemudian barulah terwujud perbuatan.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa bagi mu’tazilah. Daya manusialah dan bukan daya tuhan yang mewujudkan perbuatan manusia. Daya tuhan tidak mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatan manusia. Perbuatan ini diwujudkan semata-mata oleh daya yang diciptakan tuhan di dalam diri manusia. Jadi dalam paham kaum mu’tazilah, kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia adalah kemauan dan daya manusia sendiri dan tak turut campur dalamnya kemauan dan daya tuhan. Oleh karena itu perbuatan manusia adalah sebenarnya perbuatan manusia dan bukan perbuatan Tuhan.

Untuk memperkuat paham di atas, kaum mu’tazilah membawa argumen-argumen rasional dan ayat-ayat al-qur’an. Ringkasan argumen-argumen yang dimajukan oleh ‘Abd al-Jabbar umpamanya, adalah sebagai berikut. Manusia dalam berterima kasih atas kebaikan-kebaikan yang diterimanya, menyatakan terima kasihnya kepada manusia yang berbuat kebaikan itu. Demikian pula dalam melahirkan perbuatan tidak senang atas perbuatan-perbuatan tidak baik yang diterimanya, manusia menyatakan rasa tidak senangnya kepada manusia yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tidak baik itu. Sekiranya perbuatan-perbuatan tidak baik atau buruk adalah perbuatan Tuhan dan bukan perbuatan manusia, tentunya rasa terima kasih dan rasa tidak senang itu ditujukan manusia kepada Tuhan dan bukan kepada manusia.2

(6)

Seterusnya perbuatan-perbuatan manusia terjadi sesuai dengan kehendak manusia. Jika seseorang ingin berbuat sesuatu, perbuatan itu terjadi. Tetapi sebaliknya, jika sesorang tidak ingin berbuat sesuatu itu tidak terjadi. Jadi sekiranya perbuatan manusia bukanlah perbuatan manusia, tetapi perbuatan tuhan, maka perbuatannya tidak akan terjadi sungguhpun ia mengingini dan menghendaki perbuatan itu, atau perbuatannya akan terjadi sungguhpun ia tidak mengingini dan tidak menghendaki perbuatan itu. Lebih lanjut lagi ia menerangkan bahwa manusia berbuat jahat terhadap sesama manusia. Jika sekiranya perbuatan manusia adalah perbuatan tuhan dan bukan perbuatan manusia, perbuatan jahat itu mestilah perbuatan Tuhan dan Tuhan dengan demikian berbuat zalim. Hal ini tak dapat diterima akal.

Ayat yang dimajukan ‘Abd al-Jabbar, untuk memperkuat argumen-argumen rasional di atas, antara lain adalah :

َن ْوُلَمْعَي اْوُناَك اَمِب ًءآَزَج

Artinya : .... sebagai upah atas apa yang mereka perbuat. ( Q.S Al-Sajadah (32) – 17) Sekiranya perbuatan manusia adalah perbuatan tuhan dan bukan perbuatan manusia, pemberian balasan dari Tuhan atas perbuatan manusia, seperti disebut dalam ayat ini, tidak ada artinya. Agara ayat ini tidak mengandung dusta, demikian ‘Abd al-Jabbbar, perbuatan-perbuatan manusia haruslah betul-betul perbuatan manusia. 3

(7)

Jadi, dari pernyataan dan perdapat yang telah dikemukakan di atas dapat lah disimpulkan bahwa manusia itu bebas dan tidak ada keterikatan dengan tuhan. Dan pendapat kaum mu’tazilah ini pun mendukung bahwa manusia itu adalah bebas ( Free will ).

Pindah ke aliran Asy-Ariyah, di sini, karena manusia dipandang lemah, paham qadariyah tidak terdapat. Kaum Asy-Ariyah dalam hal ini lebih dekat kepada paham jabariyah daripada ke paham Mu’tazilah. Manusia dalam kelemahannya banyak bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kemauan dan kekuasaaan Tuhan, Al-Asy’Ari memakai kata al-Kasb ( Perolehan ). Paham al-Kasb sulit untuk ditangkap, dan demikian sulitnya, sehingga ucapan “ lebih sulit dari al-Kasb Asy’ari” menurut Abu Uzbah telah menjadi perumpamaan.

Arti Ikhtisab menurut al-Asy’ari sendiri ialah bahwa sesuatu terjadi dengan perantaraan daya yang diciptakan dan dengan demikian menjadi perolehan atau kasb bagi orang yang dengan adanya perbuatan itu timbul. Di dalam bukunya al-Luma’, ia memberi penjelasan yang sama. Arti yang sebenarnya dari al-Kasb ialah bahwa sesuatu timbul dari ak-Mukhtasib (yang memperoleh) dengan perantaraan daya yang diciptakan.

(8)

pertanggungjawaban manusia atas perbuatan-perbuatannya. Kata-kata “timbul dari yang memperoleh” membayangkan kepasifan dan kelemahan manusia. Kasb atau perolehan mengandung arti keaktifan dan dengan demikian tanggungjawab manusia atas perbuatannya. Tetapi keterangan bahwa kasb itu adalah ciptaan Tuhan, menghilangkan arti keaktifan itu, sehingga akhirnya manusia bersifat pasif dalam perbuatan-perbuatannya.

Sebenarnya pendapat al-Asy-ari yang demikian dapat dilihat dari uraiannya mengenai perbuatan-perbuatan involunter dari manusia. Dalam perbuatan-perbuatan involunter, kata al-Asy’ari, terdapat dua unsur, penggerak yang mewujudkan gerak dan badan yang bergerak. Penggerak yaitu pembuat gerak yang sebenarnya adalah Tuhan dan yang bergerak adalah manusia. Yang bergerak tidaklah Tuhan karena gerak menghendaki tempat yang bersifat jasmani. 4

Dari uraian al-Asy’ari ini jelaslah bahwa kiranya bahwa arti Tuhan menciptakan perbuatan-perbuatan manusia adalah “ Tuhanlah yang menjadi pembuat sebenarnya dari perbuatan-perbuatan manusia,” dan arti “ timbulnya perbuatan-perbuatan dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan” adalah “ manusia sebenarnya merupakan tempat bagi perbuatan-perbuatan Tuhan.” Oleh karena itu dalam teori al-Kasb sebenarnya tidaklah ada perbedaan antara al-al-Kasb dengan perbuatan involunter dari manusia. Pembuat dalam kedua hal ini, seperti ditegaskan oleh al-Asy’ari sendiri adalah Tuhan; dan selanjutnya dalam kedua hal itu, manusia hanya merupakan tempat

(9)

berlakunya perbuatan-perbuatan Tuhan. Tetapi bagaimanapun, pembuat sebenarnya dari kedua macam perbuatan itu, adalah Tuhan dan manusia hanya merupakan alat untuk berlakunya perbuatan Tuhan. Dalam kedua rupa perbuatan itu, manusia terpaksa melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.

Bahwa perbuatan manusia yang disebut al-Asy’ari al-Kasb adalah sebenarnya perbuatan Tuhan, dapat pula dilihat dari pendapat al-Asy’ari tentang kehendak dan daya.

Keterangan al-Asy’ari ini juga mengandung arti bahwa daya untuk berbuat sebenarnya bukanlah daya manusia, tetapi daya Tuhan. Dan dalam menyerang kaum qadariyah. Al-Asy’ari memang menentang pendapat mereka dalam hal ini. Dalam paham mereka seperti telah dilihat, daya untuk berbuat adalah daya manusia sendiri dan bukan daya Tuhan. Al-Asy’ari menyatakan sebaliknya, yaitu bahwa daya untuk berbuat adalah daya Tuhan dan bukan daya manusia.5

Ayat-ayat yang dipakai untuk memperkuat pendapat mereka adalah :

ُاَءاَشَت ْنَا ّلِا َن ْوُءآَشَت اَمَو

Artinya : Kamu tidak menghendaki kecuali Allah Menghendaki ( Q.S Al-Insan (76) – 30)

Yang oleh al-Asy’ari diartikan bahwa manusia tak bisa menghendaki sesuatu, kecuali jika Allah menghendaki manusia supaya menghendaki seuatu itu. Jadi

(10)

seseorang tidak bisa menghendaki pergi ke Mekkah, kecuali jika Tuhan menghendaki sesorang itu supaya berkehendak pergi ke Mekkah.

Ayat lain yang di majukanoleh al-Asy’ari adalah :

َن ْوُلَمْعَت اَمَو ْمُكْقَلَخ ُاَو

Artinya : Tuhan menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. ( Q.S Al-Saffat (37)-96)

Wa ma ta’malun, disini diartikan oleh ayat al-Asy’ari “ apa yang kamu perbuat” dan

bukan “apa yang kamu buat”. Dengan demikian ayat ini mengandung arti Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu. Jadi, dalam paham al-Asy’ari, perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan tuhan.

Jadi, dari pernyataan dan pendapat seperti yang telah diterangkan di atas bahwasanya pendapat al-Asy’ari ini memandang bahwa perbuatan manusia itu sebenarnya adalah perbuatan tuhan. Jadi pendapat ini mendukung bahwa manusia itu terikat.

B. Problema Predeterminisme dan Free will

(11)

yang pasti, kita juga menghadapi persoalan serius untuk menilai tindakan moral seseorang. Bukankah seseorang tidak bisa dihakimi sebagai pembunuh kalau kematian seseorang tidak bisa dihakimi sebagai pembunuh kalau kematian seseorang tak ada hubungannya dengan tindakan penusukan, misalnya? Kalau kita berpandangan seperti David Hume atau Al-Ghazali bahwa api itu tak ada kaitan absolut dengan peristiwa kebakaran, bagaimana kita akan mengadili penjahat yang di tuduh melakukan pembakaran?

Dari premis di atas, tampaknya teori al-Qur’an dan fisika ( kuantum) memberikan jawaban yang lebih mudah diterima. Bahwa sebagian dari taqdir itu berlakunya dengan melibatkan manusia. 6

Sabagai penutup, kami ingin memberikan ilustrasi yang kami kutip dari buku rekonstruksi dan renungan religius islam mengenai hubungan antara keterikatan dan kebebasan manusia. Yaitu, melalui membayangkan orang yang menulis atau bermain dengan komputer. Dia bebas menulis atau menggambar apa saja, tetapi jangan harap ia bisa keluar dari disket program yang telah disediakan sebelumnya. Ia bebas tetapi terikat, ia terikat tetapi tetap memiliki wilayah kebebasan. Contoh yang mirip adalah orang yang bermain catur. Ia terikat oleh taqdir berupa peraturan-peraturan yang berlaku dalam papan catur, namun tetap memiliki kebebasan untuk memilih gerakan-gerakan yang dikehendakinya.

6 Djalaluddin Rakahmaa, Rekainsarukasi dan Renungan Religius Islam. ( Jakaaraa Paramidana, 1996) Hal

(12)

Hidup memang kadangkala bagaikan main catur ataupun bola. Ia dijalani begitu serius, mati-matian, tetapi dalam format dan keterbatasan permainan. Lapangannnya sesungguhnya sempit, terbatas, telah ditentukan, tetapi memerlukan pikiran, gerakan, dan kebebasan untuk memenangkan sebuah pertandingan. Bukankah hidup ini juga bertanding melawan umur dan serba keterbatasan demi memenangkan kehidupan yang abadi dan lebih luas? 7

BAB III

(13)

PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut penulis bahwa manusia benar-benar memiliki kebebasan berkehendak dan karenanya ia akan dimintai pertanggungjawaban atas keputusannya, meskipun demikian keputusan tersebut pada dasarnya merupakan pemenuhan takdir (ketentuan) yang telah ditentukan. Dengan kata lain, kebebasan berkehendak manusia tidak dapat tercapai tanpa campur tangan Allah SWT, seperti seseorang yang ingin membuat meja, kursi atau jendela tidak akan tercapai tanpa adanya kayu sementara kayu tersebut yang membuat adalah Allah SWT. manusia adalah pelaku kebaikan dan juga keburukan, keimanan dan juga kekufuran, ketaatan dan juga ketidaktaatan.

B. Saran

Kami selaku penulis dari makalah ini meminta kepada Dosen Pembimbing ataupun teman-teman untuk memberikan saran atau kritik yang bisa mendukung perbaikan dari makalah ini.

(14)

Djalaluddin Rakhmat, Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam. Jakarta: Paramidana, 1996

Referensi

Dokumen terkait

Dari definisi-definisi di atas, baik yang dikemukakan UU Sisdiknas 2003 maupun para tokoh pendidikan, dapat disimpulkan bahwa tujuan akhir pendidikan

Dari hasil analisis penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa perempuan mempersepsikan poligami yang dilakukan para tokoh agama Islam “ustadz” yaitu poligami mempunyai arti

1) Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa DPR adalah pembuat undang- undang tetapi harus mendapat persetujuan dari Presiden. Presiden yang sebenarnya adalah badan eksekutif,

Dari pemaparan makalah di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu usaha dan upaya untuk menciptakan perlindungan dan keamanan dari

Dalam konteks sosiologi, Durkheim tidak mengaitkan unsur teologi ke dalam moralitas, akan tetapi Durkheim memprioritaskan bahwa masyarakat merupakan tujuan dari

Akhirnya penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh mencapai kesempurnaan dalam arti yang sebenarnya, namun penulis berharap semoga skripsi ini dapat

Berdasarkan dalil di atas jelaslah bahwa ada perbedaan yang mendasar antara yang memiliki ilmu dengan yang tidak memiliki ilmu, ilmu didapat dari pendidikan

Clark, seorang ahli Ilmu Jiwa Agama, sebagaimana dikutip Zakiah Daradjat 1985: 14 mengatakan, bahwa tidak ada yang lebih sukar dari pada mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk