• Tidak ada hasil yang ditemukan

Walter Spies Pelopor Seni Rupa dan Pariw

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Walter Spies Pelopor Seni Rupa dan Pariw"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Walter Spies, Pelopor Seni Rupa dan Pariwata Bali Agus Nur Setyawan, Seni Rupa Murni, FSSR, Universitas Sebelas Maret.

(2)

Dalam percaturan kepariwisataan internasional, bahwa Bali lebih dikenal

daripada Indonesia bukanlah sekedar anekdot, akan tetapi suatu kenyataan yang

menunjukkan keberhasilan Bali dalam mengembangkan dirinya. Pada

keberhasilan itu, adalah sosok seorang seniman (musisi, sasterawan dan pelukis)

kelahiran Belanda, Walter Spies namanya, yang dengan jeli telah mampu

melakukan suatu modifikasi jenius, dengan mengubah suatu bentuk ritus tradisional

yang sarat makna simbolis, menjadi sebuah bentuk sajian hiburan (entertaintmen),

sesuai dengan kebutuhan wisatawan.

Bermula dari pemahamannya soal selera dan keinginan para pelancong yang

datang ke Bali, Spies sampai pada suatu gagasan untuk mengembangkan

bentuk-bentuk tarian upacara sakral, Barong dan Rangda, suatu tarian yang mengisahkan

legenda Calonarang, menjadi suatu kemasan seni pertunjukan yang berhasil

memenuhi tuntutan wisatawan (kitsch). Pada dasarnya tarian Barong dan Rangda

(3)

masyarakat desa Pagutan dan Tegal Tamu di Batubulan, Spies berhasil

menyelenggarakan tarian tersebut, tiga kali dalam seminggu. Selama beberapa

tahun drama tari Calonarang ini terus dipentaskan, tanpa adanya keluhan atau

tanggapan negatif dari masyarakat sekitarnya. Dalam perkembangannya, Tarian

Barong dan Rangda ini mendapatkan bentuknya yang semakin canggih

(sophisticated) atas saran seorang manajer Bali Hotel, di Denpasar untuk

mengurangi kesakralan Calonarang. Maka digubahlah drama tari baru yang

mengangkat cerita dari Wiracarita Mahabarata, yaitu Kuntisraya, yang juga dikenal

sebagai cerita Sudamala, yang sama-sama bertemakan ruwatan sebagaimana kisah

Calonarang.

Dalam bidang seni rupa, nama Walter Spies juga tak bisa dipisahkan dari

perkembangan seni patung tradisional (terutama) di samping perannya dalam

meletakkan dasar keorganisasian seniman Bali (Ubud khususnya) dalam wadah

yang diberi Pita Maha.

Keterlibatan Spies dalam perkembangan seni patung Bali (desa Mas, Ubud

khususnya) boleh dkatakan terjadi secara kebetulan. Dalam suatu peristiwa, Spies

menemui seorang pematung utama dari desa Mas, bernama I Tegelan, untuk

memintanya dibuatkan dua buah patung dari sebatang kayu yang dibawanya.

Singkat kisah, pematung tersebut datang kepada Spies sambil membawa hasil

pahatannya, bukan dua buah patung sebagaimana dipesan, akan tetapi sebuah

(4)

Tegelan, pematung tersebut, menyerahkan hasil pahatannya sambil mengatakan:”

sayang untuk memotong potongan indah dari kayu ini menjadi dua, … dengan

demikian saya membuat satu togog dari kayu itu”. Rasa heran dan kekagetan yang

semula menyelimuti perasaan Spies, perlahan sirna menyadari bahwa I Tegelan

adalah seorang tokoh yang diperhitungkan dalam bidangnya. Pada sisi lain, pada

kenyatannya patung Gadis Penari itu juga tampak indah dalam posturnya yang

mengalami pengubahan bentuk dan proporsi (deformasi). Kelak peristiwa ini

menjadi tonggak penting dalam perkembangan seni patung tradisional Bali.

Pada sisi lain Spies sangat berperan dalam membawa para seniman

tradisional Bali, Ubud terutama, dalam memperkenalkan sistem seleksi dan kurasi

untuk menentukan karya-karya yang layak dipamerkan kepada khalayak, dalam

sebuah wadah kooperatif bernama Pita Maha pada tahun 1930-an. Dalam

poendiriannya, Pita Maha juga dimaksudkan untuk meniadakan dampak negatif

pariwisata bagi produk-produk seni Bali.

(5)

Istilah pseudo-tradisional art dipakai oleh J. Maquet untuk menandai suatu

bentuk kesenian tradisional (yang sakral dan penuh nuansa simbolik)yang dikemas

demi tujuan pariwisata (beberapa istilah lain yang memiliki pengertian sama

adalah toursit art, art by metamorphosis, atau art of acculturartion). Beberapa

pengertian di muka mengacu pada terjadinya pergeseran makna dari tujuan

diselenggarakannya bentuk kesenian dimaksud (seni pertunjukan), dari bentuk

aslinya dengan segala persyaratannya yang khusus, baik dalam hal ceritera, waktu

pertunjukan (durasi maupun saat pertunjukan), serta tempatnya, kemudian dimodifi

dan disesuaiakan dengan tujuan praktis dalam memenuhi tuntutan dunia

kepariwisataan.

Tari Barong and Kris Dance, pada mulanya adalah tari ritual yang hanya

dipertunjukkan pada saat peristiwa adat upacara Odalan, di Pura.

Diselenggarakannya ritus ini berkaitan erat dengan tujuan komunitas pura (warga

desa) dalam menjaga keutuhan dan keselamatan warga setempat. Bagi komunitas

pura yang menganut paham Hindu Dharma, mereka percaya bahwa ketenteraman

hidup berlangsung berkat terjadinya keseimbangan antara sifat baik dan sifat buruk,

atau pandangan rwa bhineda. Pandangan spiritual ini secara tradisional

diimplementasikan dalam bentuk pergulatan Barong dan Rangda, yang

merepresentasikan pandangan kearifan dan kejahatan.

Dalam seni pertunjukan tari Barong dan Rangda versi Bali di Batubulan,

(6)

sedangkan Rangda merupakan penjelmaan Walu Nateng Girah, atau dikenal juga

sebagai Matah Gede. Keduanya masing-masing melambangkan kebaikan dan

keburukan yang dibingkai dalam cerita kisah Calonarang dan diwujudkan sebagai

binatang mitologis.

Berkaitan dengan perkembangan kepriwisataan di Bali, adalah Walter Spies,

seniman asal Belanda yang sangat memahami selera para pelancong itu, kemudian

berinisiatif mempertunjukkan atau tepatnya menyuguhkan tarian sakral tersebut

kepada para wisatawan. Hingga dalam bentuknya sebagaimana dewasa ini,

ditunjang oleh prakarsa seorang manajer Bali Hotel yang memungkinkan tarian

Barong and Kris Dance dipertunjukkan di loby-loby hotel.

Dalam hal kisah cerita, kemudian diangkat wiracarita Mahabharata, yaitu

Kuntisraya, karena dipandang kisah Calonarang yang sakral tersebut sudah tak

cocok lagi untuk dipentaskan sebagai sajian wisata.

Kisah cerita Kuntisraya sendiri menuturkan kutukan Dewa Siwa, suami

Dewi Uma yang mengakibatkan sang istri berubah wujud menjadi dewi Durga,

yang harus tinggal di dunia roh-roh jahat. sebagai upaya untuk melepaskan diri dari

kutuk. Durga kemudian meminta dewi Kunti, ibunda para Pandawa agar

mengijinkan putra bungsunya, Sahadewa agar terlepas dan terbebas dari bentuknya

yang mengerikan, dengan harapan dapat kembali ke wujud semula dan kembali

hidup mendampingi suami di kahyangan. Singkat cerita, Sahadewa terlibat

(7)

siapa dirinya sesungguhnya, sekaligus meminta Sahadewa untuk bersedia

meruwatnya. Mengetahui kenyataan itu, Sahadewa seketika menghaturkan sembah

kepada Durga, dan seketika itu pula berubah wujud kembali menjadi dewi Uma,

dan kembali ke kahyangan, mendampingi suaminya, dewa Siwa. Sedangkan tubuh

raksasa wanita Durga lenyap seketika.

Adalah seekor burung Garuda raksasa penjelmaan salah seorang pengikut

Durga, bernama Kalika yang murka mengetahui kejadian tersebut. Akan tetapi

dengan mudah ia dapat dikalahkan oleh Sahadewa setelah berubah diri menjadi

Barong guna mengimbangi kekuatan supranatural sang Garuda. Untuk melawan

kekuatan Barong, kemudian Kalika berubah wujud lagi menjadi Rangda, seorang

raksasa wanita yang berwajah merah denga kuku-kukunya yang panjang.

Dalam adegan pergulatan yang melambangkan perseteruan antara kebaikan

dan keburukan ini, Barong dibantu oleh sejumlah penari keris yang tampil dengan

dada bertelanjang, berusaha untuk menyerang Rangda. Namun Rangda tak mudah

dikalahkan, bahkan dengan kesaktian selendang putih yang dikibas-kibaskannya ke

arah para penari keris itu, mengakibatkan para penari keris merasakan kesakitan

yang luar biasa, sehingga justru membalikkan arah kerisnya untuk menusuk dirinya

sendiri. Adegan ini menjadi klimaks dari pertunjukan Barong and Kris Dance yang

sangat mengundang kekaguman wisatawan.

Bentuk tarian baru berupa tarian Barong and Kris Dance ini dengan kisah

(8)

seperti di loby hotel, atau tempat-tempat lain yang mudah dijangkau penonton

(turis), namun masih mengacu pada bentuk tarian sakral Barong dan Rangda yang

semula adalah merupakan tarian adat/ tradisional, disebut sebagai salah satu bentuk

simbol semu dari tari tradisional, atau psuedo tradisional art.

Walter Spies dengan kecintaannya terhadap kesenian tradisional Bali, dan

kepekaannya terhadap karakteristik keingin-tahuan wisatawan dalam keterbatasan

waktu yang dimiliki, telah meletakkan dasar pijakan penting bagi kehidupan

pariwisata Bali dewasa ini. Seni tradisi yang pada dasarnya merupakan elemen ritus

relijius, bersifat sakral, dan”dipertunjukkan” hanya pada tempat-tempat dan waktu

tertentu, dimodifikasi sedemikian rupa dengan tanpa meninggalkan narasi aslinya,

sehingga mampu dinikmati dan diapresiasi oleh khalayak, sekaligus melestarikan

nafas kehidupan kepariwisataan Bali serta masyarakat pendukungnya.

(disadur dan disarikan kembali dari RM Soedarsono: Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia, Bandung, Artline 2000, terjemahan dari Claire Holt: Art in Indonesia, Continuous and Change, Ithaca, New York, Cornel University Press, 1967, dan Seni Pertunjukan Indonesia dan Pariwisata, RM Soedarsono, 1999).

Agus Nur Setyawan

(9)

Perum. Gajahan Permai A-6, Gajahan, Colomadu, Karanganyar. Email:

[email protected] [email protected]

Referensi

Dokumen terkait

Menteri BUMN, Rini M Soemarno, memastikan Bank Mandiri (BMRI) menunda pelaksanaan rencana rights issue (penerbitan kembali saham baru) senilai Rp 5,6 triliun pada tahun tahun 2015,

Terminologi ankih}u> dalam ayat ini adalah indikator kuat perintah bagi para wali, orang tua, atau bahkan majikan untuk menikahkan laki-laki atau perempuan

Beberapa batuan vulkanik berupa aliran lava dan endapan piroklastik yang dijumpai di lereng Gunung Semeru sebagai bukti terjadinya letusan samping pada masa pra sejarah maupun

Penelitian pendahuluan ini dilakukan untuk menentukan formula terbaik dengan memberikan pilihan kombinasi perbandingan antara tempe dan formula bahan pendukung dalam

Setelah praktikan terjun langsung mengajar di dalam kelas sedikit demi sedikit dapat mengembangkan dalam mengajar baik itu metodenya maupun model pembelajaran,

lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa yang menggunakan yang menggunakan metode ceramah [5] dan penelitian lain juga meyebutkan bahwa metode

Umur petani adalah salah satu faktor yang berkaitan erat dengan kemampuan kerja dalam melaksanakan kegiatan usahatani, umur dapat dijadikan sebagai tolak ukur dalam melihat

Adapun langkah-langkah rekonstruksi rantai RNA dari intisari enzim lengkapnya adalah sebagai berikut: sebagai prasyarat maka terlebih dahulu harus ada minimal 2 buah