• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nana Sekarsari Makalah permintaan dan pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Nana Sekarsari Makalah permintaan dan pe"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“PENAWARAN DAN PERMINTAAN

AGREGRAT”

Makalah disusun untuk memenuhi tugas individu mata kuliah

Pengantar Mikro

Dosen Pengampu:

Nina Lelawati, S.E.,M.M

Disusun Oleh

Nana Sekarsari 16630100

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah PERMINTAAN DAN PENAWARAN AGREGRAT kelompok mata kuliah Pengantar Mikro.

Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi-materi yang ada. Materi-materi yang bertujuan agar dapat menambah pengetahuan, wawasan bagi para pembaca mengenai Permintaan dan Penawaran Agregrat. Penyusun makalah ini, kami penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehingga dapat terselesaikan. Tidak lupa juga kami ucapkan terimakasih kepada dosen pengajar mata kuliah ekonomi moneter yang telah membimbing kami.

Penulis menyadari bahwa isi dari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat umumnya bagi para pembaca dan khususnya bagi penulis.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Metro, 10 November 2016

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Judul...i

Kata Pengantar...ii

Daftar Isi...iii

Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan Penulisan...2

Bab II Pembahasan 2.1 Penawaran Agregrat...3

2.2 Permintaan Agregrat...4

2.3 Keseimbangan Jangka Pendek...5

2.4 Keseimbangan Jangka Panjang...6

2.5 Permintaan Penawaran Agregrat dalam Pandangan Klasik...7

2.6 Permintaan Penawaran Agregrat dalam Pandangan Keynes...8

2.7 Pergeseran Kurva Permintaan Dan Penawaran Agregat...10

2.8 Penawaran Agregat: Sejumlah Pertanyaan...11

Bab III Penutup 3.1 Kesimpulan...14

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Penawaran agregat (aggregat suply) dan permintaan agregat (aggregat demand) sebagai model analisis dalam teori makro ekonomi, terutama dalam kaitannya dengan bagaimana tingkat harga ditentukan. Selain itu, juga akan dibahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi dan menentukan permintaan agregat (AD) dan penawaran agregat (AS). Dalam analisis AD-AS istilah penawaran agregat mempunyai pengertian yang sedikit berbeda. Pertama, dalam analisis AD-AS penawaran agregat diartikan sebagai penawaran barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam suatu Negara. Berarti penawaran agregat sama dengan barang dan jasa yang ditawarkan (diproduksikan) perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Perbedaan lainnya, yang merupakan perbedaan yang lebih penting, bersumber dari ciri pokok konsep tersebut. Dalam analisis AD-AS cirri penawaran agregat dikaitkan dengan tingkat harga.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dari penawaran agregat?

2. Apa pengertian dari permintaan agregat?

3. Bagaimana keseimbangan jangka pendek pada keseimbangan penawaran dan permintaan?

4. Bagaimana keseimbangan jangka panjang pada keseimbangan permintaan-penawaran agregat?

5. Bagaimana permintaan dan penawaran agregat dalam pandangan klasik?

6. Bagaimana permintaan dan penawaran agregat dalam pandangan Keynes?

7. Bagaimana pergeseran kurva permintaan dan penawaran agregat?

(5)

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah

1. Untuk memenuhi tugas individu dari mata kuliah Pengantar Ekonomi Mikro sebagai tugas individu.

2. Untuk mengetahui faktor - faktor yang menentukan kurva permintaan dan penawaran agregrat.

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penawaran Agregat

Adapun yang dimaksud dengan penawaran agregat adalah (aggregate supply,AS) adalah jumlah seluruh barang akhir dan jasa-jasa di dalam perekonomian yang dijual atau ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan (firms) pada berbagai tingkat harga. Dengan perkataan lain, dapat dikatakan bahwa penawaran agregat itu pada dasarnya merupakan nilai total dari seluruh barang akhir dan jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian.

Penawaran agregat didalam suatu perekonomian di pengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut :

 Besarnya angkatan kerja (size of the labor force).

 Besarnya stok kapital (size of capital stock).

 Keadaan atau tingkat teknologi (state of technology).

 Tingkat pengangguran alamiah (natural rate of unemployment).

 Harga faktor-faktor produksi.

(7)

2.2 Permintaan Agregat

Permintaan agregatif adalah seluruh permintaan terhadap barang dan jasa yang terjadi dalam suatu perekonomian, baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri.

Banyak faktor yang mempengaruhi besarnya permintaan agregatif, diantaranya tingkat harga secara umu, jumlah uang yang beredar nominal, jumlah obligasi pemerintah, defisit tertimbang dan pemanfataan tenaga kerja secara penuh dan lain-lain.

Dalam pembahasan ini, akan menganalisis pengaruh perubahan harga secara umum terhadap permintaan agregatif disini di tunjukkan oleh besarnya pendapatan nasional (Y).

Dengan demikian kurva permintaan agregatif dapat digunakan untuk melihat hubungan antara tingkat harga dengan besarnya pendapatan nasional.

Perubahan tingkat harga akan mempengaruhi keseimbangan melalui pengaruhnya terhadap penawaran uang riil. Jumlah penawaran uang riil adalah sebagai berikut :

M’s = Ms P

Dimana Ms adalah penawaran uang mnominal dan p adalah tingkat harga. Jelas bahwa kenaikan tingkat harga akan menurunkan penawaran uang riil dan penurunan tingkat harga umum akan meningkatkan penawaran uang yang sesungguhnya. Pada ekonomi islam, peningkatan penawaran uang riil karena penurunan tingka harga akan berakibat meningkatnya jumlah uang tunai yang di pegang oleh perorangan maupun perusahaan. Oleh karena mereka berkepentingan untuk mengurangi jumlah uang tunai agar zakat dab biaya lainya yang di kenakan atas penarikan modalnya dapat di bayar dari keuntungan, bukan dari modal itu sendiri, maka mereka akan mencairkan tabunganya.

Dengan begitu investasi berhubungan dengan tingkat keuntungan yang di harapkan, dan melalui proses pengandaan akan meningkatkan pendapatan nasional. Sebagian dari uang yang diiaktifkan itu mungkin diarahkan kepada peningkatan konsumsi dan ini juga akan menaikkan pendapatan nasional.

Faktor-faktor yang menyebabkan Kurva permintaan agregat ber-slope negatif adalah:

(8)

Biaya yangdugunakan oleh produsen tergantung pada kekayaan yang dimiliki. Keduanya memiliki satu hubungan yang positif. (Kekayaan mengacu pada pemegangan uang, saham, obligasi, rumah serta asset fisik yang lain. Kekayaan yang dimiliki dipengaruhi oleh tingkat harga).

b.Dampak Harga Bunga

Efek harga bunga ditujukan karena perubahan tingkat haraga mempengaruhi harga bunga. Efek ini mempengaruhi produksi & investasi

c.Efek Pembelian Asing (Ekspor & Impor)

Jumlah ekspor & impor dalam suatu ekonomi tergantung pada harga Domestic & asingKurva permintaan agregat (aggregate demand curve ) adalah kurva yang menjelaskan hubungan antara jumlah output agregat yang diminta dengan tingkat harga ketika semua variabel lain dianggap konstan.ada dua cara yang digunakan untuk menurunkan kurva permintaaan agregat. Pendekatan yang pertama dan yang paling sederhana adalah penekatan teori jumlah uang dimena permintaan agregat ditentukan semmata-mata oleh jumlah uang. Sementara pedekatan yang kedua didasarkan pada pengujian perilaku bagian-bagian komponen permintaan agregat seperti konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih.

2.3 Keseimbangan Jangka Pendek

Keseimbangan jangka pendek antara penawaran agregat dan permintaan agregat ditunjukkan dengan gambar sebagai berikut.

(9)

terjdi kelebihan penawaran atau axcess supply), dan harga barang-barang dan jasa akan turun dan oleh karenanya tingkat harga mencapai tingkat harga keseimbangan yaitu P 0 pada titik E.

Sebaliknya, apabila tingkat harga berada di bawah tingkat harga keseimbangan, misalnya P2, maka disini akan terjadi ketidakseimbangan dimana jumlah output yang diminta adalah lebih besar daripada jumlah output yang ditawarkan (artinya terjadi kelebihan permintaan atau Excess demand).Dalam kondisi yang demikian, tingkat harga akan naik karena orang ingin untuk membeli banyak barang daripada yang ditawarkan orang lain. Kenaikan harga ini akan terus berlangsung sampai mencapai kembali tingkat harga keseimbangan (P0) di titik E.5.

2.4

Keseimbangan Jangka Panjang

Keseimbangan Jangka Panjang Pendek pada Keseimbangan Permintaan agregat (AD) dan Penawaran Agregat (AS) ditunjukkan pada gambar berikut. Pada gambar 7.5.a, ditunjukkan dimana keseimbangan mula-mula terjadi di atas tingkat output natural rate (above full employment output), yaitu pada titik A, yang merupakan titik perpotongan antara SRAS0 dengan AD. Karena tingkat output (Y0) keseimbangan lebih besar daripada tingkat output kesempatan kerja penuh (natural rate,YN) maka pengangguran yang terjadi (actual) akan menjadi lebih kecil daripada tingkat pengangguran alamiah (natural rate level) dan kekakuan berlebihan (ecxcessive tightness) terjadi di pasar tenaga kerja. Kekakuan di pasar tenaga kerja tersebut akan mendorong upah atau biaya tenaga kerja mengalami dan menggeser kurva SRAS ke dalam yaitu ke SRAS1. Oleh karena itu, keseimbangan kini berada pada titik B dan output turun ke Y1. Karena output agregat (Y) masih di atas tingkat alamiah yaitu Y1 > Y, maka upah teru menerus naik, yang pada akhirnya menngeser kurva SRAS ke SRAS2. Keseimbangan tercapai di titik C yaitu pada garis vertikal YN dan sekaligus merupakan titik keseimbangan jangka panjang. Karena output berada pada tingkat alamiah, maka tidak akan terdapat tekanan lebih lanjut atas upah untuk naik dan begitu juga kecenderungan lebih lanjut bagi kurva SRAS untuk bergeser.

(10)

panjang untuk setiap harga, dan dapatkita sebut sebagai kurva penawaran agregat jangka panjang (LRAS).

Pada gambar 7.5.b, ditunjukkan dimana keseimbangan terjadi di bawah output tingkat alamiah (below employment output). Karena penganguran actual lebih tinggi dari pada tingkat penganguran alamiah (natural rate of employment), maka upah akan turun, yang selanjutnya bergeser kurva SRAS ke luar atau ke kanan sampai mencapai SRAS2. Perekonomian bergerak turun sepanjang kurva AD sampai mencapai keseimbangan jangka panjangnya yaitu di titik perpotongan antara kurva ADdan kurva LRAS pada YN. disini seperti halnya pada gambar 7.5.b, perekonomian akan berhenti ketika output telah kembali lagi ke tingkat alamiah (natural rate).

2.5 Permintaan-Penawaran agregat dalam pandangan klasik

Model klasik didasarkan pada asumsi bahwa perekonomian beroperasi ibarat sebuah mekanisme yang dapat melakukan pengaturan, penyesuain, atau koreksi secara otomatis (self-regulating,self –adjusting, atau self- correcting), cenderung bergerak menuju kepada keseimbangan pada tingkat kesempatan kerja penuh (full employment level). Mengenai factor yang mempengaruhi permintaan agregat (AD) menurut pandangan kaum klasik secara actual hanyalah faktor jumlah uang beredar (money supply). Perubahan di dalam permintaan agregat.

Kebijakan fiskal (perubahan di dalam pengeluaran pemerintah dan atau pajak) menurut kaum klasik tidak mempunyai pengaruh terhadap permintaan agregat dan output. Hal tersebut disebabkan karena adanya crowding-outeffect dari ekspansi fikal terhadap investasi swasta. Kenaikan di dalam pengeluaran pemerintah (G) atau penurunan di dalam pajak (T) menurut kaum Klasik akan menyebabkan tingkat bunga naik, yang pada gilirannya menurunkan investasi swasta (I), dan bahkan juga pengeluaran konsumsi (C).

(11)

kseimbangan dengan kesempatan kerja (employment) berada dalam kondisi full employment. Dalam pandangan klasik, kurva SRAS selaulu bergerak ka arah tingkat output full employmentuntuk berpotongan antara kurva LRAS. Dengan perkataan lain, keseimbangan di tentukan oleh perpotongan antara kurva AD dan kurva LRAS.

Dengan perkataan lain, keseimbangan ditentukan oleh perpotonngan antara kurva permintaan agregat (AD) dengan kurva penawaran agregat jangka panjang (LRAS). Di dalam model makro ekonomi klasik, keseimbangan terjadi dimana kekuatan permintaan agregat (AD) dan penawaran agregat (AS) adalah seimbang. Permintaan agregat menurut kaum klasik hanya bergantung pada tingkat teknologi dan sekaligus merupakan tingkat output atau GNP riil kesempatan kerja penuh (full employment level of realGNP).

2.6 Permintaan-Penawaran agregat dalam pandangan Keynes

Di dalam model makro ekonomi Keynes, faktor paling penting yang menentukan tingkat permintaan agregat (AD) adalah kebijakan fiskal (fiscal policy). Sedangkan kebijakan moneter atau perubahan dalam jumlah uang beredar (money supply) menurut Keynes pengaruhnya terhadap permintaan agregat adalah lemah dan bahkan dapat dikatakan tidak ada. dalam model Keynes, perubahan dalam jumlah uang beredar mempengaruhi permintaan agregat melalui efeknya atas investasi. Pengaruh uang beredar terhadap investasi bersifat tidak langsung (indirect), yaitu melalui tingkat bunga. Menurut Keynes, suatu kenaikan di dalam jumlah uang beredar tidak mepunyai pengaruh yang berarti terhadap penurunan dalam tingkat bunga, dan tingkat bunga itu sendiri menurut Keynes pengaruhnya terhadap investasi adalah lemah.

(12)

berubah walau terjaddi perubahan dalam tingkat outputnya. Mereka menawarkan berapapun yang diminta pada tingkat harga yang berlaku. Kurva penawaran agregat jangka pendek (short-run aggregate supply curve,SRAS) menurut Keynes hanya akan bergeser secara perlahan apabila suatu perekonomian berada di luar tingkat pengangguran alamiah (natural rate of unemployment). Pergeseran yang lamban dari kurva penawaran agregat jangka pendek menurut Keynes terjadi sebagai akibat dari adanya perubahan upah dan harga yang lamban (ingat asumsi ‘sticky prices and wages’). Menurut model Keynes, kalau jumlah pengangguran besar (berada di atas natural rate), akan menyebabkan atau mendorong penyesuain yang sangat lambat di dalam upah relative terhadap harga-harga. Hal yang sama terjadi apabila jumlah pengangguran berada dibawah tingkat alamiah dimana tekanan bagi upah untuk meningkatkan lebih cepat kecil sekali.

Secara grafik, pandangan kaum klasik dan Keynes tentang penawaran agregat dan permintaan agregat, dapat digambarkan sebagai berikut.

Dari gambar A diatas ditunjukkan bahwa permintaan agregat klasik merupakan fungsi dari jumlah uang beredar (Ms). Dengan perkataan lain, perubahan permintaan agregat (AD) hanya terjadi perubahan di dalam peubah jumlah uang beredar (money supply). Only monetary factors shift tha classical agregat demand cruve. sedangkan gambar yang B ditunjukkan bahwa permintaan agregat (AD) tidak hanya dipengaruhi oleh peubah jumlah uang yang beredar (Ms), tetapi juga dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah (G0), investasi otonom (I0) dan pajak (T0). Perbedaan factor penentu permintaan agregat di dalam model Klasik dan Keynes menghasilkan perbedaan penting di dalam penjelasan mereka menyangkut sumber-sumber instabilitas di dalam perekonomian dan jenis kebijakan stabilitas yang harus di ambil untuk mengatasi instabilitas tersebut.

(13)

2.7

Pergeseran Kurva Permintaan Dan Penawaran Agrega

t

2.7.1 Pergeseran Kurva Permintaan Agregat

Ef

ek dari pergeseran ke luar (outward shift) di dalam kurva AD yang disebabkan antara lain oleh kenaikan didalam jumlah uang beredar (Ms), kenaikan di dalam pengeluaran pemerintah (G), kenaikan di dalam ekspor netto (Xn), penurunan di dalam pajak (T), atau kenaikan di dalam kemauan dari konsumen dan dunia bisnis untuk membelanjakan karena mereka menjadi lebih optimistic (C,I).

 Faktor-Faktor yang Menggeser Kurva Permintaan Agregat

Untuk setiap harga tertentu, kenaikan jumlah uang beredar menyebabkan uang beredar riil meningkat (M/P), yang menyebankan kenikan permintaan agregat. Dengan demikian, kenaikan uang beredar menggeser kurva permintaan agregat ke kanan , hal ini dikarenakan kenaikan uang beredar akan menurunkan suku bunga dan mendorong pengeluaran investasi yang direncanakan dan ekspor bersih.Pendekatan komponen menyatakan bahwa faktor lain juga merupakan penyebab penting bergesernya kurva permintaan agregat.

2.7.2

Pergeseran Kurva Penawaran Agregat

Tidak hanya pergeseran di dalam kurva AD yang dapat menjadi sumber fluktuasi di dalam output agregat (siklus bisnis), tetapi juga bisa terjadi karena pergeseran di dalam kurva penawaran agregat. Kurva penawaran agregat dapat bergeser karena factor-faktor yang mempengaruhi biaya pruduksi, sebagai berikut :

1. Kekuatan Pasar Tenaga Kerja

Ketika output agregat berada di atas tingkat output natural rate (Y > Yn), maka kurva penawaran agregat (SRAS) akan bergeser ke dalam atau ke kiri ; ketika output agregat berada di bawah tingkat output alamiah (Y<Yn), maka kurva SRAS akan bergeser ke luar atau ke kanan.

(14)

Perubahan di dalam tingkat harga yang di harapkan (expected price level) akan menyebabkan kurva SRAS bergeser ke kanan tau ke kiri ; semakin besar kenaikan yang diharapkan di dalam tingkat harga (yaitu semakin tinggi tingkat harga yang di harapkan), maka semakin besar pergeseran ke dalam dari kurva SRAS tersebut.

3. Dorongan upah

Keberhasilan para pekerja untuk mendorong upah (wages push) naik juga akan menyebabkan kurva SRAS bergeser ke dalam (inward shift) atau ke kiri.

4. Perubahan dalam biaya produksi yang tidak terkait dengan upah

Suatu guncangan penawaran yang negatip (negative supply shock) yang menaikan biaya produksi akan mendorong kurva SRAS bergeser ke dalam atau ke kiri, sementara suatu guncangan penawaran yang positip (positive supply shock) yang menurunkan biaya produksi akan menggeser kurva SRAS ke luar.

Dapat di tunjukkan bagaimana respons output agregat dan tingkat harga apabila terjadi pergeseran kurva SRAS, Misalakan perekonomian mula-mula berada pada tingkat output natural rate yaitu dititik A. ketika kurva penawaran agregat (SRAS) mebgalami pergeseran dari SRAS0 ke SRAS1 yang disebababkan oleh adanya guncangan penawaran yang negatip (negative supply shock), maka perekonomian akan bergerak dari titik A ke titik B , dimana tingkat harga naik tetapi output agregat turun. Situasi dimana harga naik tetapi output Negara turun, disebut dengan istilah stagflasi (stagflasion) yaitu kombinasi antara stagnasi (pengangguran) dan inflasi yang tinggi.

2.8 Penawaran Agregat: Sejumlah Pertanyaan

(15)

dengan penawaran) dan, jika tidak, sekurang-kurangnya bergerak menuju titik itu. Dengan demikian, para ekonom memiliki bias karena bisa menyukai keseimbangan.

1. Output tidak selalu berada pada tingkat penggunaan tenaga kerja penuh. Tingkat pengangguran selalu berbeda, dan kadang-kadang sangat tinggi ; seringkali terdapat sejumlah orang yang ingin bekerja tetapi tidak dapat menemukanya, dan karenanya, jumlah penawaran tenaga kerja melibihi jumlah yang diminta.

2. Lebih lanjut, kalau output selalu berada pada tingkat pengguanaan tenaga kerja penuh, maka perubahan jumlah peredaran uang hanya akan mempengaruhi harga, bukan output: uang selalu bersifat netral. Tetapi perubahan kebijakan moneter seringkali terlihat sebagai tidak netral. Penurunan pertumbuhan uang secara tajam, misalnya, ketika pemerintah berusaha memotong tingkat inflasi, seringkali memicu terjadinya resesi. Menyebabkan terjadinya pertumbuhan output riil secara sangat cepat.

Sebenarnya kebanyakan fakta lebih mendukung kurva penawaran agregat Keynesian ketimbang pandangan klasik tentang hal yang sama. Kenaikan permintaan agregat, misalnya, yang terjadi karena terjadi kebijaksanaan fiscal dan moneter yang ekspansioner, dalam jangka pendek lebih cenderung akan meningkatkan output riil ketimbang harga.

Betapapun, asumsi bahwa harga-harga bersifat tetap, yang mendasari fungsi penawaran Keynesian cukup merepotkan. Bila harga-harga tetap dan pasar tidak berada pada kondisi keseimbangan, orang dapat menarik keuntungan dengan mengubah harga. Pada penganggur bersedia bekerja dengan upah yang lebih rendah dari upah yang diterima oleh orang-orang yang sekarang sedang bekerja. Para pengusaha sangat senanag menerima tenaga kerja dengan upah yang lebih rendah. Mengapa majikan dan para pengangguran tidak segera bergabung dan sepakat dengan tingkat upah yang lebih rendah dan mengatasi masalah pengangguran bersama? Dengan kata lain, mengapa pasar tenaga kerja tidak bergeser cepat kearah keseimbangan?

Ada dua pendekatan yang dikenal dalam menerangkan dekatnya hubungan jangka pendek antara upah dan harga, ketidaknetralan uang dalam jangka pendek dan tingkat pengangguran yang tinggi yang sangat variabel, berikut pembahasan yang lebih sistematis :

1.

Pendekatan aliran Keynesian modern

(16)

pendek dan mendekati vertical dalam jangka panjang. Perhatian terutama tertuju pada upah dan proses penyesuaianya untuk menjelaskan mengapa penyesuaian tidak segera terjadi atau paling tidak mengapa ia tidak cepat.

2.

Pendekatan klasik baru

Pendekatan-pendekatan klasik modern siap untuk mengasumsikan bahwa pasar tidak selalu berada dalam kondisi keseimbangan. Sebaliknya pendekatan-pendekatan klasik baru menganut asumsi yang berlawanan dengan itu. Kita telah mengembangkan satu dari pendekatan klasik baru,yakni pendekatan keseimbangan harapan yang rasional, yang kita gunakan untuk fungsi penawaran lucas.

(17)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Penawaran agregat adalah (aggregate supply,AS) adalah jumlah seluruh barang akhir dan jasa-jasa di dalam perekonomian yang dijual atau ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan (firms) pada berbagai tingkat harga.Permintaan agregatif adalah seluruh permintaan terhadap barang dan jasa yang terjadi dalam suatu perekonomian, baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri.Permintaan dan penawaran agregat dibedakan menjadi 2 yaitu jangka panjang dan jangka pendek.

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Nanga, Muana. (2005). Ekonomi Makro :teori, masalah, dan kebijakan. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta

Suprayitno, Eko. (2005). Ekonomi Islam : Graha Ilmu. Yogyakarta

Dornbusch, Rudiger. (1997). Ekonomi Makro : PT RINEKA CIPTA, Jakarata

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/12/25/tahun-2014-ekonomi-indonesia-terancam-lebih-terpuruk. diakses pada tanggal 12 juni 2014 pukul 21.06

[1] Muana nanga, ekonomi makro, Jakarta : PT RajaGrafindo persada, 2005, hlm. 133-134

[2] Eko Suprayitno, Ekonomi Islam, Yogyakarta : Graha Ilmu, 2005, hlm. 213-214

[3]Ibid., hlm. 141-150

[4] Rudiger, Dornbusch, Ekonomi Makro, Jakarta : PT Rineka Cipta, 1997, hlm. 314-317

[5] http://www.tribunnews.com/nasional/2013/12/25/tahun-2014-ekonomi-indonesia-terancam-lebih-terpuruk. diakses pada tanggal 12 juni 2014 pukul 21.06

Referensi

Dokumen terkait

Pengenaan pajak sebesar t atas setiap unit barang yang dijual menyebabkan kurva penawaran bergeser ke atas, dengan penggal yang lebih besar (lebih tinggi) pada sumbu harga.

Seiring berjalannya waktu ketika perubahan pada tingkat harga harapan menyebabkan upah, harga, dan persepsi menyesuaikan diri, kurva penawaran agregat jangka pendek

Dari gambar 15 terlihat adanya kemiringan kurva yang hampir sama, dan dengan rasio yang semakin besar ( R = 0.3 ) kurva agak bergeser ke kiri karena dengan laju perambatan

Bila harga atau tingkat upah tenaga kerja naik, kuantitas tenaga kerja yang diminta akan menurun, ini diperlihatkan oleh kenaikan arus upah yang berpotongan dengan

Penawaran Agregat (aggregate supply) adalah jumlah barang dan jasa akhir perekonomian, yang dimintaa pada berbagai tingkat harga yang berbeda.Kurva Penawaran Agregat adalah kurva

Perintah “ICDSL” akan menampilkan penulisan dimana kursor bergeser ke kanan setiap kali selesai menuliskan satu karakter kemudian tampilan bergeser ke kiri. Hal ini membuat

 Pengenaan pajak sebesar t atas setiap unit barang yang dijual menyebabkan kurva penawaran bergeser ke atas, dengan penggal yang lebih tinggi pada sumbu harga...  Pajak

• Apabila ramalan ekonomi di masa mendatang baik maka investasi akan meningkat pada berbagai tingkat bunga sehingga kurva investasi akan bergeser ke kanan.. ■ Pengaruh