KORUPSI DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI SOSIAL
(Makalah)
Disusun untuk memenuhi Ujian Tengah Semester (UTS) semester genap Matakuliah Psikologi Sosial 1
Dosen Pengampu : Ikhwan Luthfi, M.Si
Disusun Oleh :
ANA MARIANA NIM. 11140700000068
Fakultas Psikologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT. karena rahmat dan hidayah-Nya lah, penulis telah menyelesaikan karya ilmiah berbentuk makalah ini.
Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas Ujian Tengah Semester (UTS) semester genap matakuliah Psikologi Sosial 1 tahun ajaran 2014/2015, yang diberikan oleh dosen yaitu, bapak Ikhwan Lutfi, M.Si.
Dalam kesempatan ini pula, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan membantu proses penyusunan makalah ini.
Akhir kata, penulis memohon maaf bila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam berbagai penulisan di makalah ini. Penulis juga memohon kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan penulisan di waktu yang akan datang, Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Jakarta, Mei 2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akhir-akhir ini masalah korupsi sedang hangat-hangatnya dibicarakan publik, terutama dalam media masa baik lokal maupun nasional. Banyak para ahli mengemukakan pendapatnya tentang masalah korupsi ini. Akan tetapi walau bagaimanapun korupsi ini merugikan negara dan dapat merusak sendi-sendi kebersamaan bangsa. Pada hakekatnya, korupsi adalah “benalu sosial” yang merusak struktur pemerintahan, dan menjadi penghambat utama terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan pada umumnya.
Dalam prakteknya, korupsi sangat sukar bahkan hampir tidak mungkin dapat diberantas, oleh karena sangat sulit memberikan pembuktian-pembuktian yang eksak. Disamping itu sangat sulit mendeteksinya dengan dasar-dasar hukum yang pasti. Namun akses perbuatan korupsi merupakan bahaya latent yang harus diwaspadai baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat
itu sendiri.
Korupsi adalah produk dari sikap hidup satu kelompok masyarakat yang memakai uang sebagai standard kebenaran dan sebagai kekuasaaan mutlak. Sebagai akibatnya, kaum koruptor yang kaya raya dan para politisi korup yang berkelebihan uang bisa masuk ke dalam golongan elit yang berkuasa dan sangat dihormati. Mereka ini juga akan menduduki status social yang
tinggi dimata masyarakat.
Dalam perspektif agama Islam korupsi dapat digolongkan sebagai ghulul yaitu tindakan orang yang diberi amanah jabatan tapi mengambil keuntungan yang tidak seharusnya dari jabatan tersebut. Seperti dalam hadits: dalam riwayat Buraidah, Rasulullah juga menegaskan makna ghulul, beliau bersabda, “Barangsiapa yang kami tugaskan dengan suatu pekerjaan, lalu kami tetapkan imbalan (gaji) untuknya, maka apa yang dia ambil di luar itu adalah harta ghulul (korupsi).” (HR. Abu Daud). Serta dalam hadis riwayat Adi bin Amirah al-Kindi, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat.”
Belum lagi kasus-kasus lain seperti kepala daerah yang tahun 2012 ini tercatat sekitar 137 kepala daerah terbelit kasus korupsi. sungguh ironis. ada apa dengan para penguasa saat ini. Apakah korupsi ini paksaan orang lain atau memang inisiatif dari dirinya sendiri. Oleh karena banyaknya kasus korupsi yang diberitakan saya tertaruk untuk melihat pandangan korupsi dalam perspektif Psikologi Sosial.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1. Bagaimana pandangan Psikologi sosial terhadap korupsi ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
BAB II KAJIAN TEORI
Kasus korupsi yang mewabah di Negara Indonesia ini dapat kita kaji dan analisa dengan beberapa pendekatan teori psikologi berikut :
1. Pendekatan teori biologis
2. Pendekatan teori belajar
3. Pendekatan teori insentif
4. Pendekatan teori kognitif
Walaupun tidak bisa menggambarkan secara sempurna hasil analisa mengenai kasus korupsi ini, paling tidak sedikit mendekati agar kita bisa melakukan tindak pencegahan atas kasus korupsi ini.
2.1. Pendekatan Biologis
tenaga menolong anak. Perilaku ayah tersebut bukan hanya sekedar mempertahankan nilai-nilai sosial, melainkan lebih dari itu dan menjadi dasar sosiobiologis, karena ayah mempertahankan kelangsungan keturunannya.
Fenomena korupsi yang terjadi di berbagai daerah di Negara kita ini jika kita kaji berdasarakan pendekatan biologis, memang pada dasarnya manusia merupakan mahluk yang tidak ada puasnya dengan masalah yang menyangkut masalah kebutuhan biologis dan itu merupakan suatu sifat yang melekat pada diri manusia atau sifat bawaan yang ada sejak lahir dengan berbagai karakterisrik, namun manusia mempunyai pilihan untuk menentukan perilakunya karna perbedaan perilaku ini yang membedakan karakteristik seseorang antara satu
dengan yang lain.
Fenomena korupsi yang terjadi diberbagai daerah di Negara kita ini telah melampaui batas ketidakwajaran. Jika kita kaji masalah ini berdasarkan pendekatan biologis memang pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang tidak mempunyai rasa puas akan apa yang telah mereka dapat selama ini. Manusia lahir dengan berbagai karakteristik yang membedakan dengan yang lain dan berperan menentukan perilakunya.
Karakteristik biologis dalam kontek ini adalah :
a. Naluri (karakteristik bawaan)
Manusia memiliki naluri untuk selalu memenuhi kebutuhan dan tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimiliki.
b. Faktor Genetika (karakteristik fisik yang berkembang sejak lahir)
Secara biologis, perbedaan genetika menimbulkan perbedaan perilaku. Misalnya, sebagian dari kita ada perempuan (bisa melahirkan) dan ada pria (tak dapat melahirkan), ada yang tumbuh lebih besar dan kuat, ada pula yang kurus dan kecil.
c. pertumbuhan fisik sementara .
Yang di maksud disini adalah pengaruh produksi hormonal atau perangsang otak yang di pengaruhi oleh lingkungan dan kebutuhan biologisnya.
Dengan adanya faktor yang sedemikian rupa, masih ada lagi factor yang mempengaruhi orang tersebut melalukan tindakan korupsi, yakni dengan adanya kesempatan untuk dapat melakukan tindakan korupsi. Dengan adanya kesempatan yang seperti ini, dan para koruptor beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan tidak akan diketahui oleh pihak lain. Faktor kesempatan ini juga dipengaruhi oleh genetis. ketika orang mendapat kesempatan untuk berbuat jelek tapi factor genetis maupun nalurinya tidak terbiasa dengan hal tersebut, maka orang itu tidak akan melakukan tindakan korupsi. berbeda dengan orang yang tidak melatih nalurinya untuk menjaga dari hal-hal yang jelek. atau malah akan jauh berbeda dengan orang-orang yang punya genetis egoisme untuk berusaha memenuhi kebutuhan pribadinya mengalahkan rasa
kasihannya kepada orang lain.
2.2. Pendekatan Belajar
Teori belajar menjelaskan fenomena perilaku sosial melalui peran-peran atau aturan-aturan situasional dan lingkungan sebagai penyebab tingkah laku. Dalam teori ini terdapat tiga pendekatan; proses belajar operant, proses belajar sosial, dan kerja sama dengan individu yang lebih mahir (baca Sarwono, 2002:68). Proses belajar melalui pendekatan operant dalam mengamati perilaku manusia didasari atas stimulus-respons, reinforcement, dan reward & punishment. Beberapa nama seperti Ivan Pavlov, J.B. Watson, dan B.F. Skinner merupakan tokoh pendekatan ini. Sedangkan proses belajar sosial dipelopori oleh Albert Bandura mengakui adanya faktor internal (kognitif) sebagai penyebab tingkah laku disamping juga faktor-faktor eksternal (lingkungan). Pendapat ini menambah faktor internal atau kesadaran dalam mempelajari tingkah laku manusia. Perilaku baru di peroleh karena seseorang melakukan suatu
modelling pada pengamatannya terhadap perilaku yang terjadi. Pendekatan ketiga dalam teori belajar adalah kerja sama dengan individu yang dianggap lebih mahir. Lev Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar sosial juga dapat terjadi dengan bekerja sama dengan orang yang lebih mahir (orang tua, kakak, guru, dan sebagainya). Proses belajar yang terarah ini lebih cepat karena anak dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu (Sarlito WS, 2002:73). Kali ini kita menganalisis permasalahan tindak korupsi ditinjau dari pendekatan belajar, yang seakan-akan fenomena ini terjadi hanyalah dianggap sebagai masalh biasa yang sering terjadi dikalangan hidup sesorang terlebih para petinggi-petinggi Negara. Dalam teori belajar dikatakan bahwa perilaku banyak ditentukan oleh apa yang telah dipelajarinya sebelumnya.
Ada 3 mekanisme dalam belajar, yaitu :
b. Reinforcement; Orang belajar menampilkan perilaku karena disertai sesuatu yang menyenangkan, (demikian juga sebaliknya)
c. Imitasi; Sering kali seseorang mempelajari sikap dan perilaku dengan mengimitasi sikap dan perilaku orang yang menjadi model.
Pendekatan belajar memiliki tiga karakteristik yaitu :
a. Sebab-sebab perilaku terletak pada pengalaman belajar individu dimasa lampau.
b. Menempatkan sumber perilaku pada lingkungan eksternal, bukan pada pengartian subyektif individu terhadap apa yang terjadi.
c. Pendekatan belajar, untuk menjelaskan perilaku yang nyata, bukan keadaan subyektif/psikologis tertentu.
Pada kasus kali ini para koruptor telah mempelajari perilaku sebagai kebiasaan. Saat mereka dihadapkan pada situasi yang sama, maka merekan akan melakukan halsama seperti apa yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Dalam kasus korupsi ini dapat dikatan bahwa para petinggi-petinggi Negara telah melakukan tindak korupsi dikarenakan sebelumnya mereka mengalami atau bahkan melakuakan perbuatan ini. Dengan adanya hal yang demikian maka mereka mengimitasi perbuatan korupsi tersebut.
2.3. Pendekatan Insentif
Berdasarkan pandangan teori insentif, para koruptor melakuakn tindakan yang seperti itu berdasarkan pada keuntungan dan kerugian yang akan diterima setelah mereka melakukan tindakan tersebut usai. Pada kasus ini para koruptor mempunyai beberapa pilihan yakni mereka dapat melarikan diri atau menyerah pada KPK. Jika mereka menyerah maka akan ditangkapdan dipenjarakan (insentif negatif). Dengan melarikan diri maka merekan akan bersenang-senang dengan hasil uang korupsi yang mereka dapat (insentif positif).
Para pelaku korupsi dalam melakukan tindakan yang seperti ini tentunya mereka sudah memikirkan terlebih dahulu secara rasional dengan memperhitungkan keuntungan dan kerugian dari tindakan yang di lakukannya dan secara rasional akan memilih alternatif yang terbaik. Para pelaku korupsi memilih alternative yang di dasarkan pada prinsip nilai dari perbuatan yang mereka lakukan yang akan timbul dan dugaan keputusan dari tindakan mereka yang akan timbul. Dalam kasus ini dapat di analisis karna adanya kesempatan dan niat yang ada dalam diri pelaku korupsi yang bertentangan dengan nilai-nilai dan peraturan hukum yang ada.
2.4. Teori Kognitif
Teori yang didasarkan pada pendekatan kognitif sebagai pijakannya adalah teori Gestalt. Sekalipun teori gestalt sering kali digunakan dalam area atau penelitian mengenai persepsi, namun dalam aplikasinya teori ini berimplikasi pada psikologi sosial. Alasannya adalah para psikolog gestalt telah mengembangkan teknik eksperimen dalam mempelajari fenomena dan studi mengenai struktur kelompok, komunikasi interpersonal, dan perubahan sikap adalah yang memungkinkan untuk dieksperimenkan oleh pendekatan gestalt. (Feldman,1985:14-15). Wiggins, Wiggins, & Zanden (1994:7-9) membagi teori psikologi sosial berbasis kognitif menjadi empat pendekatan yaitu Teori Lapangannya Kurt Lewin, Teori Atribusi dan Sikap Konsistensinya Fritz Heider, Teori Belajar Sosialnya Albert Bandura, dan Teori Kognitif Kontemporer. Kurt Lewin dengan teori lapangannya beranggapan bahwa perilaku (behavior)
adalah fungsi dari keadaan diri pribadi (personality) dan lingkungan (environment) (Sarwono, 2002:81). Sedangkan menurut Fritz Heider beranggapan bahwa seseorang cenderung mengatur sikapnya untuk tidak mengalami konflik. Ia juga mengemukakan teori tentang hubungan antara dua orang. Hubungan antara orang pertama (P) dengan orang kedua (O) dapat dipengaruhi oleh faktor lain (X). Sementara Albert Bandura memodifikasi teori belajar sosial dengan memasukkan intervensi kesadaran (kognitif) seseorang dalam perilakunya. Bahwa perilaku kita dipengaruhi oleh reinforcement, proses imitasi, dan proses kognisi. Agak melangkah kedepan pendekatan kognitif kontemporer memandang manusia sebagai agen aktif dalam menerima, menggunakan, memanipulasi, dan mentransformasi informasi. Fokus utama pendekatan kognitif kontemporer adalah bagaimana kita secara mental menstruktur dan memproses informasi yang datang dari lingkungan. Kita tidak dapat memahami perilaku sosial, jika tanpa mendapatkan informasi dan memprosesnya dalam kognisi (Wiggins, Wiggins, & Zanden, 1994:9-10) Pada dasarnya perilaku seseorang sangat tergantung pada persepsinya terhadap situasi sosial, dan hukum persepsi sosial mirip dengan hukum persepsi obyek. Orang mengorganisasikan persepsi, pikiran dan keyakinannya tentang situasi sosial kedalam bentuk yang sederhana dan bermakna dan pengorganisasian itu mepengaruhi perilaku sesorang dalam situasi sosial.
Secara umum, prinsip-prinsip dasar kognitif bisa di kategorikan menjadi beberapa bagian seperti berikut:
a. Secara kognitif, orang cenderung mengkelompokkan obyek atas dasar prinsip kesamaan, kedekatan, dan pengalaman.
b. Secara kognitif, orang cenderung memperhatikan (tertarik) pada sesuatu yang mencolok (figure) berwarna-warni, bergerak-gerak, bersuara, unik & antik.
c. Secara kognitif orang cenderung menginter- pretasi aspek yang tak jelas pada diri orang, (tujuan, motif, sikap, ciri kepribadian, perasaan, dll). Interpretasi ini merupakan implikasi dari caranya mengamati orang lain dan situasi sosial.
Proses interpretasi dan organisasi kognitif sangatlah penting (dalam kontek ini), karena merupakan implikasi dari cara seorang mengamati orang lain dan situasi sosialnya.
Kembali pada kasus korupsi yang telah dikaji, para pelaku korupsi tidak mengamati KPK atau hukum dan perangkatnya yang berlaku di Indonesia sebagai bagian-bagian yang terpisah, melainkan secara keseluruhan para koruptor melihatnya sebagai KPK secara umum yang tugasnya, sifatnya, perilakunya, dll seperti yang telah ia ketahui sebelumnya. Sehingga seperti apa yang telah mereka persepsi, KPK merupakan ancaman baginya. Atas dasar interpretasi dan organisasi kognitif tersebut, para pelaku korupsi berekaksi untuk dapat melarikan diri dan dapat bersenang-senang dengan uang hasil korupsinya.
Teori kognitif menekankan pada dua hal yaitu:
1. Memusatkan perhatian pada interpretasi (organisasi perseptual) mengenai keadaan saat ini bukan keadaan masa lalu. (bagaimana korupsi itu dilakukan karena kebutuhannya sekarang untuk memperkaya dirinya tanpa melihat keadaan masa lalunya. Sehingga bisa jadi dulu yang dia adalah orang yang baik namun karena dalam kesempatan yang dia dapatkan dia dapat melakukan korupsi karena posisi dia saat ini yang menguntungkan)
DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, S.W. 1999. Psikologi Sosial, Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
Walgito, B. 1999. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: CV Andi. Offset.
BAB III ANALISA KASUS
3.1 Analisa Kasus
kasus korupsi melalui perspektif psikologi ini. melalui pendekatan teori biologis bisa di lihat bahwa naluri (karakter bawaan) manusia siapapun meskipun bukan pejabat dia pasti akan cenderung memperkaya dirinya untuk memenuhi kebutuhannya dan akan selalu menambah dan
menumpuk kekayaannya.
Dari sini bisa sedikit memberi gambaran bahwa tindakan korupsi merupakan tindakan yang bisa dilakukan oleh siapapun karena naluri bawaannya yang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki dan cenderung memperkaya diri sendiri. Faktor genetik juga punya peranan penting, karena naluri memperkaya diri antar orang yang satu dengan yang lain akan beda. Demikian pula sebagian orang mungkin karena alasan-alasan genetik, lebih mempunyai nilai egois untuk memperkaya diri sendiri dari pada yang lain bahkan yang dilakukan itu bisa membuat orang sengsara seperti halnya korupsi. Dalam kasus diatas, Korupsi bisa saja para pejabat memiliki genetic yang lebih dominan nilai egoisya sehingga selalu mementingkan
Jika melalui pendekatan teori insentif, ada alasan lain kenapa koruptor melakukan tindak korupsi. Perilaku (seorang) ditentukan oleh insentif yang tersedia. Orang bertindak berdasarkan pada keuntungan & kerugian yang akan diterima setelah perilakunya selesai, Pada kasus korupsi oleh beberapa para pejabat, para pejabat mempunyai beberapa pilihan yang bisa diuraikan
sebagai berikut:
a. Jika korupsi tidak terbongkar maka pelaku akan menjadi orang yang kaya dan bisa melakukan apapun dengan uang yang dimilikinya (insentif positif)
b. Jika dia tidak korupsi maka kesempatan untuk menjadi kaya dengan menggunakan jabatannya
akan hilang (insentif positif)
c. Jika korupsi dan tertangkap maka akan menjadikan dia dipenjara dan dipenjara juga masih bisa dibeli dengan uang sehingga dia masih bisa bebas dari penjara bahkan uang hasil korupsi masih lebih dari cukup untuk suap dipenjara (insentif positif)
d. Jika korupsi maka nilai moral pribadi akan turun dan terhinakan (insentif negative)
kuat dalam nilai moralnya maka insentif positif yang bernilai moral negative itu tidak akan menjadi insentif yang positif tetapi justru menjadi insentif yang negatif. sehingga pejabat yang mempunyai kepribadian dan bermoral tinggi tidak akan pernah melakukan korupsi.
Dari pendekatan teori kognitif didapat hasil analisa bahwa pejabat yang korupsi saat ini tidak mempunyai rasa bersalah sama sekali sehingga menimbulkan saat ini bahwa korupsi merupakan hal yang biasa dalam persepsi masyarakat. Sehingga saat ini korupsi merupakan hal yang wajar dilakukan karena situasi sosial yang tercipta saat ini menjadikan korupsi adalah hal
yang biasa terjadi pada para pejabat.
3.2 Saran/Solusi
Korupsi merupakan suatu fenomena, dan fonomena yang melekat ini sedang menikmati hasil karyanya di bumi nusantara tercinta ini. Kebiasaan korupsi terutama di institusi pemerintah nampaknya benar-benar terstruktur dan bahkan kebiasaan ini seakan terwariskan dari satu generasi ke generasi yang lainnya. Untuk itu perlu diadakan tindak pencegahan, diantaranya yang di usulkan penulis adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan dini kepada masyarakat tentang bagaimana menjadi pribadi yang selalu menjauhi cara-cara kotor dalam hidupnya.
2. Pendidikan kepada masyarakat agar cerdas dalam melihat kebijakan dan regulasi-regulasi yang ada di wilayahnya.
3. Perkuat sistem pengawasan intern pemerintah (SPIP), agar para pemegang kebijakan merasa terawasi.
4. Bagi yang sudah menjadi terdakwa harus diberikan hukuman maksimal agar muncul efek jera. misal terpidana kasus korupsi mendapat hukuman penjara seumur hidup dan penyitaan atas seluruh harta bendanya sehingga dia dan keluarganya mengalami pemiskinan. Hukuman seperti ini akan benar-benar membuat takut para pemegang kebijakan untuk melakukan korupsi.
5. Setelah selesai masa hukumannnya, terpidana kasus korupsi tidak boleh mencalonkan diri menjadi pemegang kekuasaan agar tidak punya kesempatan untuk mengulang tindakannya. Karena regulasi yang ada saat ini masih mengijinkan mantan terpidan kasus korupsi
mencalonkan diri menjadi penguasa.