• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Metamorf yang diiajukan sebagai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Metamorf yang diiajukan sebagai"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di bumi terdapat banyak sekali kandungan sumber daya alam, diantaranya yaitu batuan . Batuan mempunyai manfaat yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral yang menjadi satu. Bisa terdiri dari satu atau lebih mineral. Sedangkan mineral adalah substansi yang terbentuk karena kristalisasi dari proses geologi, yang memiliki komposisi fisik dan kimia. . Batuan dan mineral merupakan sumber daya alam yang banyak dibutuhkan dan digunakan untuk kehidupan manusia, sebagai bahan dasar industri. Batuan terbentuk dari kumpulan magma yang membeku di permukaan bumi dan berakhir menjadi berbagai jenis batuan. Sedangkan mineral terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan memiliki atom-atom yang tersusun secara teratur, mineral merupakan komponen batuan yang membentuk lapisan kerak bumi.

Batuan penyusun kerak bumi berdasarkan kejadiannnya (genesis), tekstur, dan komposisi mineralnya dapat dibagi menjadi 3, yaitu : Batuan beku (Igneous Rocks), Batuan sedimen (Sedimentary Rocks), Batuan metamof/malihan (Metamorphic Rocks). Dalam makalah ini membahas mengenai batuan metamorf.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka didapatkanlah identifikasi masalah

(2)

3. Pembentukan Batuan Metamorf ;

4. Mendeskripsikan Batuan Metamorf ;

5. Manfaat Batuan Metamorf ;

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka didapatkan batasan masalah berikut.

1. Pengertian Batuan Metamorf ;

2. Pembentukan Batuan Metamorf ;

3. Mendeskripsikan Batuan Metamorf ;

4. Manfaat Batuan Metamorf ;

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka didapatkan rumusan masalah

1. Apakah Pengertian dari Batuan Metamorf ?

2. Bagaimanakah Pembentukan Batuan Metamorf ?

3. Bagaimanakah Mendeskripsikan Batuan Metamorf ?

4. Apa sajakah Manfaat dari Batuan Metamorf ?

1.5 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka didapatkan tujuan 1. Memiliki pemahaman dan pengertian tentang batuan metamorf , 2. Memiliki pemahaman mengenai mendeskripsikan batuan metamorf , 3. Memiliki pemahaman mengenai mengklasifikasi batuan metamorf , 4. Memiliki keterampilan untuk mendeskripsikanbatuan metamorf secara

cepat ,

(3)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1. Pengertian Batuan Metamorf

Batuan yang mengalami penambahan tekanan (P) atau temperatur (T) atau kenaikan (P) dan (T) secara bersamaaan sehingga mengalami perubahan susunan mineraloginya (susunan kimianya tetap) yang berlangsung dari fase padat ke fase padat tanpa mengalami fase cair.

2.1.2. Asal Batuan Metamorf

Batuan Metamorf berasal dari bahasa Yunani “Meta” berarti “Perubahan” dan “Morphe” berarti “Bentuk”. Merupakan hasil transportasi atau perubahan atau rekristalisasi dalam keadaan padat dari batuan beku, sedimen, dan bahkan metamorf.

Perubahan meliputi kondisi fisika dan kondisi kimia, terutama panas (Temperatur), tekanan dan pengenalan pada cairan kimia aktif dan gas. Aktivitas metamorfisme ini juga dapat mengubah komposisi mineral termasuk pembentukan mineral baru.

(4)

pelelehan secara keseluruhan atau sebagian atau secara keseluruhan. Akibat dari metamorfisme ini menyebabkan hilangnya perbedaan tajam antara batuan beku dengan batuan sedimen dan mineral-mineral pelengkap metamorfisme, seperti kemungkinan dolerites akan bergabung menjadi hornblende sekis dan batugamping berubah menjadi marmer.

2.1.3. Pembentukan Batuan Metamorf

Batuan beku dan sedimen dibentuk akibat interaksi dari proses kimia, fisika, biologi dan kondisi-kondisinya di dalam bumi serta di permukaannya. Bumi merupakan sistim yang dinamis, sehingga pada saat pembentukannya, batuan-batuan mungkin mengalami keadaan yang baru dari kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan perubahan yang luas di dalam tekstur dan mineraloginya. Perubahan-perubahan tersebut terjadi pada tekanan dan temperatur di atas diagenesa dan di bawah pelelehan, maka akan menunjukkan sebagai proses metamorfisme.

(5)

lain yang dipertimbangkan terbentuk pada awal metamorfisme adalah laumonit, lawsonit, albit, paragonit atau piropilit. Masing-masing terbentuk pada temperatur yang berbeda di bawah kondisi yang berbeda, tetapi secara umum terjadi kira-kira pada 150°C atau dikehendaki lebih tinggi. Di bawah permukaan, temperatur di sekitarnya 150°C disertai oleh tekanan lithostatik kira-kira 500 bar.

Batas atas metamorfisme diambil sebagai titik dimana kelihatan terjadi pelelehan batuan. Di sini kita mempunyai satu variabel, sebagai variasi temperatur pelelehan sebagai fungsi dari tipe batuan, tekanan lithostatik dan tekanan uap. Satu kisaran dari 650°C – 800°C menutup sebagian besar kondisi tersebut. Batas atas dari metamorfisme dapat ditentukan oleh kejadian dari batuan yang disebut migmatit. Batuan ini menunjukkan kombinasi dari kenampakan tekstur, beberapa darinya muncul menjadi batuan beku dan batuan metamorf yang lain.

Gambar 1 memperlihatkan batuan asal yang mengalami

metamorfisme tingkat rendah – medium dan tingkat tinggi (O’Dunn dan Sill, 1986).

(6)

Metamorfisme regional, terpengaruh P & T, serta daerah luas. Metamorfisme kontak terjadi pada zona kontak atau sentuhan langsung dengan tubuh magma (intrusi) dengan lebar antara 2 – 3 km. Metamorfisme dislokasi terjadi pada daerah sesar besar/ utama yaitu pada lokasi dimana masa batuan tersebut mengalami penggerusan. Sedangkan metamorfisme regional terjadi pada kulit bumi bagian dalam dan lebih intensif bilamana diikuti juga oleh orogenesa. penyebaran tubuh batuan metamorf ini luas sekali mencapai ribuan kilometer.

Gambar 2 memperlihatkan lokasi batuan metamorf (Gillen, 1982).

2.1.4. Metamorfisme

(7)

Menurut Doe, 2013 Metamorfisme dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Metamorfisme termal

Batuan metamorf yang terbentuk pada zone kontak dengan magma, intrusi maupun ekstrusi, yang memiliki tekanan 1.000 - 3.000 atm dan suhu 300°C -800°C.

2. Metamorfisme dinamo

Proses metamorfisme yang membentuk batuan terjadi pada daerah yang mengalami pensesaran intensif atau tekanan yang tinggi.

3. Metamorfisme regional

Batuan metamorf yang terbentuk dihasilkan oleh proses metamorfisme pada daerah yang luas akibat orogenesis, yang memiliki tekanan dan suhu yang tinggi. Metamorfosa ini dibedakan menjadi tiga yaitu: metamorfosa orogenik, burial, dan dasar samudera (ocean-floor).

Gambar 3 Lokasi dan tipe metamorfisme

2.1.5. Jenis Metamorfisme

(8)

merupakan proses perubahan komposisi mineral serta pembentuk-an mineral-mineral baru, dimana H2O dan CO2 terlepas akibat kenaikan suhu. Perbedaan jenis metamorfime mencerminkan perbeda-an tingkat atau derajat kedua proses itu.

1 Metamorfisme Kataklastik (Cataclastic Metamorphism)

Kadang-kadang deformasi mekanik pada meta-morfisme dapat berlangsung tanpa disertai rekristalisasi kimia. Meskipun hal ini jarang terjadi namun apabila terjadi, sifatnya hanya setempat-setempat saja. Misalnya batuan berbutir kasar, granit, jika mengalami deferensial stress yang kuat, butiran mineralnya hancur dan juga menjadi halus. Deformasi ini terjadi pada batuan yang bersifat regas (britle) dan dinamakan metamorfisme kataklastik. Apabila metamofisme berlanjut maka butiran dan fragmen batuan akan menjadi lonjong (elongated), dan berkembanglah foliasi.

2 Metamorfisme Kontak (Contact Metamorphism)

(9)

aureol metamorf lebar ini yang telah dilalui cairan, terjadi zonasi himpunan mineral yang konentris. Zona himpunan mineral ini mencirikan kisaran suhu tertentu. Dekat dengan terobosan, dimana suhu sangat tinggi, dijumpai mineral-mineral anhidrous, garnet dan piroksen. Kemudian dijumpai mineral-mineral hidrous seperti amfibol dan epidot. Selanjutnya mika dan klorit, gambar 4. Zonasi himpunan-himpunan mineral tersebut tekstunya tergantung pada komposisi kimia batuan yang diterobos, cairan yang melaluinya serta suhu dan tekanan.

Gambar 4 Metamorfisme Kontak

3 Metamorfisme Timbunan (Burial Metamorphism)

Sedimen bersama perselingan piroklastik yang tertimbun sangat dalam pada cekungan dapat mencapai suhu 3000 atau lebih. Adanya H2O yang terperangkap dalam pori-pori sedimen mempercepat proses rekristalisasi kimia dan membantu pembentuk-an mineral-mineral baru. Oleh karena sedimen yang mengandung air lebih bersifat cair dari pada Metamorfisme kontak sekitar suatu intrusi porfiri granit. Komposisi batu gamping terubah oleh cairan yang keluar dari granit yang mendingin, menghasilkan metamorfisme aureole. Mineral-mineral baru membentuk satu seri kulit konsentris dalam aureole, masing-masing dengan

(10)

deferensial. Akibatnya pada metamorfisme timbunan pengaruh deformasi mekanik kecil sekali sehingga teksturnya mirip dengan batuan asalnya, meskipun himpunan mineralnya sama sekali berbeda.

Ciri khas untuk metamorfisme ini adalah kelompok mineral zeolit, yang merupakan kelompok mineral berstruktur kristal polymer silikat. Komposisi kimianya sama dengan kelompok felspar, yang juga mengandung H2O. Metamorfisme timbunan merupakan tahap pertama setelah diagenesa, terjadi pada cekungan sedimen yang dalam, seperti palung-palung pada batas lempeng. Apabila suhu dan tekanan naik, maka metamorfisme timbunan meningkat menjadi metamorfisme regional.

4 Metamorfisme Regional

Batuan metamorf yang umum dijumpai pada kerak benua dengan penyebaran yang sangat luas, sampai puluhan ribu kilometer persegi, dibentuk oleh proses metamorfisme regional. Pada metamorfisme ini melibatkan juga deformasi mekanik selain rekristalisasi kimia. Oleh karena itu batuannya memperlihatkan adanya foliasi.

Batuan metamorf regional pada umumnya dijumpai pada deretan pegunungan atau yang sudah tererosi, berupa batu sabak (slate), filit, sekis dan gneiss. Deretan pegunungan dengan batuan metamof regional terbentuk akibat subduksi atau tumbukan (collision) kerak benua. Pada saat tumbukan benua, batuan sedimen sepanjang batas lempeng mengalami diferensial stress yang intensif.

Dan mengakibatkan berkembangnya foliasi yang khas pada batusabak, sekis, dan gneiss. Sekis hijau dan amfibolit juga merupakan hasil metamorfisme regional, umumnya dijumpai dimana segmen kerak samudra purba yang berkomposisi basaltis bersatu dengan kerak benua dan kemudian termetamorfosa. Gambar 5 memperlihatkan bagaimana terjadinya metamorfisme regional.

(11)

akan menebal pada satu tempat, seperti diperlihatkan pada gambar 5. Dasar kerak yang menebal akan terdorong lebih kedalam selubung.

Akibatnya bagian dasar kerak tersebut mengalami peningkatan suhu dan tekanan, dan mineral-mineral baru mulai tumbuh. Aliran panas dari dasar keatas sangat lambat karena batuan bukan penghantar panas yang baik. Pencapaian panas sangat bergantung pada kedalaman dan waktu batuan yang terbenam dalam timbunan yang menebal. Bila perlipatan dan penebalan berlangsung sangat lambat, pemanasan timbunan sesuai dengan suhu pada bagian batas mantel dan kerak (gradient geotermal benua). Sedangkan jika penimbunan berlangsung sangat cepat, seperti halnya pada daerah subduksi, sedimen tertarik dan terseret kebawah , timbunan sedimen tidak sempat mengalami pemanasan, sehingga peran tekanan lebih besar dibandingkan dengan suhu.

Berdasarkan kecepatan penimbunan, dari batuan yang sama, dapat terjadi dua batuan metamorf yang berbeda, karena perbedaan suhu dan tekanan yang mempengaruhinya.

Gambar 5 Metamorfisme Regional

(12)

2.1.6. Zona Metamorfisme

Derajat metamorfisme dicirikan oleh himpunan mineral baru yang tumbuh pada kondisi tertentu (derajat rendah, menengah dan tinggi). Mineral-mineral tersebut dinamakan mineral indeks, umumnya adalah klorit, biotit, garnet, staurolit, kyanit,dan silimanit. Tempat-tempat pemunculan pertama mineral indeks diplot pada peta.

Garis yang menghubungkan lokasi-lokasi di awal pemunculan mineral indeks yang sama dinamakan garis-isograd. Konsep isograd banyak digunakan dalam mempelajari semua jenis batuan metamorfosa. Dan daerah diantara garis isograd dalam peta dinamakan zona

metamorfisme, misalnya zona-biotit dan sebagainya.

2.1.7. Fasies Metamorfisme

Hasil pengamatan batuan metamorf diberbagai tempat di bumi memperlihatkan bahwa komposisi kimia batuan metamorf hanya sedikit terubah oleh proses metamorfisme. Perubahan utama yang terjadi adalah bertambah atau berkurangnya volatile, H2O dan CO2, tetapi bahan utamanya, seperti SiO2, Al2O3 dan CaO tidak berubah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa himpunan mineral batuan metamorf dari batuan sedimen atau batuan beku ditentukan oleh suhu dan tekanan saat metamorfisme berlangsung. Berdasarkan kesimpulan ini, Pennti Eskola dari Finlandia (1915), mengusulkan konsep fasies metamorfisme. Yang intinya menyatakan bahwa dari komposisi batuan tertentu, himpunan mineral yang mencapai keseimbangan selama metamorfisme dibawah kisaran kondisi fisik tertentu, termasuk dalam fasies metamorfisme yang sama.

(13)

Gambar 6 Fasies Metamorfisme

Fasies metamorfisme adalah sekelompok batuan yang termetamorfosa pada kondisi yang sama yang dicirikan oleh kumpulan mineral yang tetap. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Pennti Eskola tahun 1915. Dalam hal ini, Pennti Eskola mengemukakan bahwa kumpulan mineral pada batuan metamorf merupakan karakteristik genetik yang sangat penting sehingga terdapat hubungan antara kelompok mineral dengan komposisi batuan pada tingkat metamorfosa tertentu. Dalam hal ini berarti tiap fasies metamorfik dibatasi oleh tekanan dan temperature tertentu serta dicirikan oleh hubungan teratur antar komposisi kimia dan mineralogi batuan.

(14)

cara yakni dengan cara menentukan mineral penyusun batuan atau dengan menggunakan reaksi metamorf yang dapat diperoleh dari kondisi tekanan dan temperature tertentu dari batuan metamorf.

Jadi, fasies metamorfisme intinya menyatakan bahwa pada komposisi batuan tertentu, kumpulan mineral yang mencapai keseimbangan selama metamorfisme di bawah kisaran kondisi fisik tertentu, termasuk dalam fasies metamorfisme yang sama. Prinsip fasies metamorfisme bersamaan dengan gradien hidrotermal dan kondisi geologi.

Gambar 7 Diagram Fasies Metamorf

Untuk mengklasifikasikan batuan metamorf, kita dapat menggunakan

(15)

2.1.8 Metasomatisme

Proses metamorfisme berkaitan dengan komposisi tetap dan sejumlah cairan yang relatif sedikit.

Sedikitnya cairan disebabkan volume pori-pori batuan yang termetamorf kecil, dan pelepasan H2O dan CO2 dari mineral-mineral yang termetamof berlangsung lambat dibandingkan keluar dengan segera. Oleh karena itu hanya cukup untuk proses metamorf, dan tidak cukup untuk melarutkan dan mengubah komposisi batuan.

Pada kondisi tertentu perbandingan air dan batuan dapat besar, 10 : 1 bahkan sampai 100 : 1, misalnya mengalirnya cairan yang banyak melalui rekahan terbuka pada batuan. Batuannya dapat terubah (altered) secara drastis oleh penambahan ion-ion baru, melarutkan batuan atau kedua-duanya.

Proses dimana komposisi kimia batuan terubah oleh penambahan atau pelepasan (removal) ion-ion dinamakan metasomatisme (meta berarti berubah dan soma, dari bahasa Latin yang berarti juice). Biasanya metasomatisme berasosiasi dengan metamorfose kontak, terutama dengan batu gamping, gambar 3.4. Cairan metasomatisme yang dilepaskan magma yang mendingin, menembus batuan yang termetamorf. Karena boleh jadi cairannya membawa bahan-bahan seperti silika, besi, dan magnesium dalam larutan, komposisi batu gamping yang dekat dengan magma yang mendingin dapat terubah dengan drastis, dan yang diluar jangkauan cairan tidak terubah. Tanpa adanya penambahan material, batu gamping menjadi marmer, tetapi akibat metasomatisme berubah menjadi himpunan garnet, pyroksen hijau, dinamakan diopsit dan kalsit.

2.1.9 Larutan Hidrotermal dan Cebakan Mineral

(16)

urat-urat (veins) dengan mengendapkan bahan yang terlarut seperti kwarsa atau kalsit dalam rekahan-rekahan.

Selain itu dapat juga menghasilkan ubahan pada batuan yang dialirinya. Larutan hidrotermal mempunyai peranan penting dalam pembentukan cebakan mineral berharga., dengan membentuk urat-urat dan alterasi batuan. Cebakan mineral berharga hasil larutan hidrotermal lebih banyak dijumpai dari pada tipe lainnya. Komposisi utama larutan hidrotermal adalah air.

Dalam airnya selalu mengandung garam-garam, sodium khlorida, potasium khlorida, kalsium sulfat, dan kalsium khloride. Kadar garam terlarut bervariasi, berkisar dari salinitas air laut, 3.5 persen berat, sampai puluhan kalinya. Larutan yang sangat ‘asin’ (barin) dapat melarutkan sedikit mineral-mineral yang tampaknya tidak larut, seperti emas, khalkopyrit, galena dan sfalerit.

Larutan hidrotermal terjadi dalam beberapa cara. Salah satunya adalah saat magma yang terjadi oleh peleburan parsial basah yang mendingin dan mengkristal, air yang menyebabkan peleburan parsial basah dilepaskan. Namun tidak sebagai air murni, tapi mengandung semua unsur yang dapat larut yang terdapat dalam magma, seperti NaCl, dan unsur-unsur kimia, emas, perak, tembaga, timbal, zinc, merkuri dan molybdinum, yang tidak terikat kwarsa, feldspar, dan mineral lain dengan substitusi ion.

(17)

2.1.10 Tektonik Lempeng, Metamorfisme dan Metasomatisme

Metamorfisme regional terjadi pada batas subduksi lempeng, seperti terlihat pada gambar .

Metamorfisme timbunan (burial metamorphisml) terjadi pada bagian bawah tumpukan tebal sedimen yang terakumulasi pada paparan benua (continental shelf) dan lereng benua (continental slope).

Suhu dan tekanan karakteristik untuk fasies metamorfosis sekis biru dan eklogit tercapai saat batuan kerak tertarik kebawah dengan cepat oleh lempeng yang menunjam. Pada kondisi demikian tekanan naik lebih cepat dibandingkan dengan suhu dan hasilnya adalah batuan metamorf tekanan tinggi - suhu rendah, fasies metamorf sekis biru dan eklogit. Kondisi karakteristik fasies metamorf sekis hijau dan amfibolit terdapat dimana kerak menebal akibat tumbukan benua atau pemanasan oleh magma yang naik. Tumbukan benua umumnya merupakan penyebab metamorfisme regional dan aktivitas magma.

Magma yang menghasilkan gunung api strato terjadi oleh peleburan parsial basah kerak samudra yang menunjam. Magma juga merupakan sumber panas untuk larutan hidrotermal yang menghasilkan endapan bijih.

(18)

Gambar 8 Diagram Batas Lempeng

Gambar 8 Tektonik Lempeng, Metamorfisme Dan Metasomatisme

2.1.11 Proses metamorfisme

Proses metamorfisme, meliputi:

1. Proses perubahan fisik yang menyangkut struktur dan tekstur oleh tenaga kristaloblastik (tenaga dari sedimen-sedimen kimia untuk menyusun susunan sendiri).

2. Proses-proses perubahan susunan mineralogi, sedangkan susunan kimianya tetap (isokimia) tidak ada perubahan komposisi kimiawi, tapi hanya perubahan ikatan kimia.

Tahap-tahap proses metamorfisme:

1.) Rekristalisasi

Proses ini dibentukoleh tenaga kristaloblastik, di sini terjadi penyusunan kembali kristal-kristal dimana elemen-elemen kimia yang sudah ada sebelumnya.

Diagram batas lempeng konvergen, memperlihatkan daerah-daerah metamorfisme yang berbeda. Garis putus-putus memperlihatkan kotur suhu. (1) Zona metamorfisme timbunan. (2) Zona metamorfisme sekis biru dan eklogit. Gradient geotermal C pada Gambar 3.6. (3) Zona

(19)

2.) Reorientasi

Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, di sini pengorientasian kembali dari susunan kristak-kristal, dan ini akan berpengaruh pada tekstur dan struktur yang ada.

3.) Pembentukan mineral-mineral baru

Proses ini terjadi dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimiawi yang sebelumnya sudah ada.

a. Dalam metamorfosa yang berubah adalah : tekstur dan asosiasi mineral, yang tetap adalah komposisi kimia dan fase padat (tanpa melalui fase cair).

b. Teksturnya selalu mereflesikan sejarah pembentukannya.

c. Ditinjau dari perubahan P & T, dikenal :

1) Progresive metamorfosa : perubahan dari P & T rendah ke P & T tinggi.

2) Retrogresive metamorfosa : perubahan dari P & T tinggi ke P & T rendah.

Kondisi yang mengontrol metamorfosa/mempengaruhi rekristalisasi dan tekstur.

1) Tekanan : - Tekanan Hidrostatik - Tekanan searah (stress)

Di sini dikenal 2 kelompok mineral yaitu :

a. Stress mineral : yaitu mineral-mineral yang tahan terhadap tekanan.

Contoh : staurolit, kinit

b. Anti stress mineral : yaitu mineral-mineral yang jarang dijumpai pada batuan yang mengalami stress.

(20)

2) Temperatur : pada umumnya perubahan temperatur jauh lebih efektif daripada perubahan tekanan dalam hal pengaruhnya bagi perubahan mineralogi.

Katalisator : berfungsi mempercepat reaksi, terutama pada metamorfose bertemperatur rendah.

Ada 2 hal yang dapat mempercepat reaksi yaitu :

(a) Adanya larutan-larutan kimia yang berjalan antar ruang butiran. (b) Deformasi batuan, dimana batuan pecah-pecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga memudahkan kontak antar larutan nimia dengan fragüen-fragmen.

3) Fluid 4) Komposisi

Proses metamorfisme membentuk batuan yang sama sekali berbeda dengan batuan asalnya, baik tekstur maupun komposisi mineral. Mengingat bahwa kenaikan tekanan atau temperatur akan mengubah mineral bila batas kestabilannya terlampaui, dan juga hubungan antar butiran / kristalnya. Proses metamorfisme tidak mengubah komposisi kimia batuan. Oleh karena itu disamping faktor tekanan dan temperatur, pembentukan batuan metamorf ini jika tergantung pada jenis batuan asalnya.

2.1.12 Agen-agen Metamorfisme

Adapun agen-agen metamorfisme yaitu:

1. Suhu (temperatur).

(21)

2. Tekanan (Pressure).

Tekanan atau pressure merupakan faktor pengontrol atau agen dari proses metamorfisme. Kenaikan tekanan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan rekristalisasi pada mineral dalam batuan yang telah ada sebelumnya. Pada kondisi ini tekanan sekitar 1-10.000 bar (Jackson) = (0,9869) atm. Ada dua tipe tekanan yaitu :

1) Tekanan Statis, yaitu tekanan yang disebabkan oleh berat batuan diatasnya. Makin dalam letak batuan maka semakin besar tekanan statisnya.

2) Tekanan Dinamis, yaitu tekanan yang dihasilkan oleh pergerakan kerak bumi atau tektonisme.

(22)

3. Cairan panas/aktivitas larutan kimia.

Pori-pori pada batuan sedimen atau batuan beku terisi oleh cairan, yang merupakan larutan dari gas-gas, garam dan mineral yang terdapat pada batuan yang bersangkutan. Pada suhu tinggi cairan intergranular ini lebih bersifat uap dari pada cair, dan mempunyai peran penting dalam metamorfisme. Dibawah suhu dan tekanan yang tinggi terjadi pertukaran unsur dari larutan ke mineral-mineral dan sebaliknya. Fungsi cairan ini merupakan media transport dari larutan ke mineral dan sebaliknya, sehingga mempercepat proses metamorfisme. Dan jika tidak ada larutan atau sadikit sekali, maka metamorfisme berlangsung lambat, karena perpindahannya melalui diffusi antar mineral yang padat.

Aktivitas larutan kimia juga merupakan agen dari proses metamorfisme. Adanya cairan panas/aktivitas larutan kimia dapat menyebabkan terjadinya alterasi atau perubahan pada batuan yang telah ada sebelumnya.

Berat dari sedimen-sedimen overburden akan berpengaruh kecil pada transformasi, selain pemadatan dan litifikasi yang termasuk cairan pelarut yang mengangkut material-material sekaligus berperan sebagai pengikat butiran di batuan sedimen. Perubahan bentuk oleh gaya geser dapat menjadi agen yang berpotensi dalam proses metamorfisme, kristal – kristal besar dan mineral berukuran kerikil akan diratakan memanjang, meratakan dan gaya ini juga merusak struktur asli mineral tersebut. Peringkatan temperatur merupakan agen yang paling berpengaruh dalam proses metamorfisme, ada tiga faktor yang menyebabkan peringkatan temperatur pada litosfer

1. Panas Bumi meningkat secara bertahap kira-kira 25-30 C untuk setiap penambahan kedalam 33-40 m

2. Efek dari panas tubuh magmatic yang dicetak dibagian dalam litosfer

(23)

4. Waktu

Untuk mengetahui berapa lama berlangsungnya proses metamorfisme tidaklah mudah dan sampai saat ini masih belum diketahui bagaimana caranya. Dalam percobaan di laboratorium memperlihatkan bahwa di bawah tekanan suhu tinggi serta waktu reasi yang lama akan menghasilkan kristal dengan ukuran yang besar. Dan dalam kondisi yang sebaliknya dihasilkan kristal yang kecil. Dengan demikian untuk sementara ini disimpulkan bahwa batuan berbutir kasar merupakan hasil metamorfisme dalam waktu yang panjang serta suhu dan tekanan yang tinggi. Sebaliknya yang berbutir halus, waktunya pendek serta suhu dan tekanan yang rendah. Batuan metamorf terbentuk akibat perubahan tekanan dan atau temperatur, dalam keadaan padat serta tanpa merubah komposisi kimia batuan asalnya. Proses metamorfosa/malihan dipengaruhi oleh komposisi batuan asal dan kondisi

metamorfosis.

2.1.13 Tekstur Batuan Metamorf

Tekstur batuan metamorf secara umum dibagi menjadi dua yaitu tekstur kristaloblastik dan tekstur sisa (relict) (Mulyo, 2013).

• Tekstur kristaloblastik

Merupakan tekstur yang terbentuk oleh proses metamorfisme. Tekstur ini sudah berbeda dengan tekstur batuan asalnya ( protolith ) . Macam – macam tekstur kristaloblastik :

- Lepidoblastik, adalah tekstur batuan metamorf dengan mineral – mineral penyusun berbentuk tabular.

- Nematoblastik, adalah tekstur batuan metamorf dengan mineral – mineral penyusun berbentuk prismatik.

- Granoblastik – granular, dalam tekstur ini tersusun oleh butiran yang relatif equidimensional (granular) dengan batas kristal suture

(24)

-Granuloblastik, tekstur ini tersusun oleh butiran yang relatif equidimensional (granular) dengan batas kristal unsuture. - Granoblastik – polygonal,

- Dekusat, tekatur granoblastik dengan individu kristalnya cenderung berbentuk subidioblastik, prismatik dan tersusun secara acak.

- Porpiroblastik, tektur dengan mineral besar di dalam mineral kecil - Tekstur mortar, tektur batuan metamorf akibat penggerusan

• Tekstur sisa ( relict )

Merupakan tekstur batuan metamorf yang masih memperlihatkan tekstur batuan asalnya.

(25)

Gambar 10 Tekstur batuan metamorf (Compton, 1985).

A. Tekstur Granoblastik, sebagian menunjukkan tekstur mosaik; B. Tekstur Granoblatik berbutir iregular, dengan poikiloblast di kiri atas; C. Tekstur Skistose dengan porpiroblast euhedral; D. Skistosity dengan domain granoblastik lentikuler; E. Tekstur Semiskistose dengan meta batupasir di dalam matrik mika halus; F. Tekstur Semiskistose dengan klorit dan aktinolit di dalam masa dasar blastoporfiritik metabasal; G. Granit milonit di dalam proto milonit; H. Ortomilonit di dalam ultramilonit; I. Tekstur Granoblastik di dalam blastomilonit.

2.1.14 Struktur Batuan Metamorf

Secara umum struktur batuan metamorf dapat dibadakan menjadi struktur foliasi dan nonfoliasi (Jacson, 1997 di dalam Setyobudi, 2012).

Tabel 1. Kondisi foliasi dan non foliasi pada batuan metamorf

FOLIASI NON FOLIASI

Komposisi mineralnya bermacam-macam,/kompleks

Komposisi mineralnya sederhana, hanya terdiri dari beberapa mineral seperti calcite atau kuarsa.

(26)

dan/atau P.

Teksturnya berlapis, foliasi, liniasi, banded.

Mineral mempunyai orientasi yang relatif sama.

Teksturnya granular dan equi- dimensional.

Mineral tidak mempunyai orientasi.

Banyak batuan dengan komposisi yang beragam

Batuan dalam jumlah terbatas dengan mineral sederhana. Contohnya:

kuarsa - Quartzite batugamping - Marble lanau – Hornfels

1. Struktur Foliasi

Merupakan kenampakan struktur planar pada suatu massa. Foliasi ini dapat terjadi karena adnya penjajaran mineral-mineral menjadi lapisan-lapisan (gneissoty), orientasi butiran (schistosity), permukaan belahan planar (cleavage) atau kombinasi dari ketiga hal tersebut.

Struktur foliasi yang ditemukan adalah :

- Slaty Cleavage

(27)

Gambar 11 Struktur Slaty Cleavage dan Sketsa Pembentukan Struktur

- Phylitic

Struktur ini hampir sama dengan struktur slaty cleavage tetapi terlihat rekristalisasi yang lebih besar dan mulai terlihat pemisahan mineral pipih dengan mineral granular. Batuannya disebut phyllite (filit)

Gambar 12 Struktur phylitic

- Schistosic

(28)

Gambar 13 Struktur Schistosic dan Sketsa Pembentukan Struktur

- Gneissic/Gnissose

Terbentuk oleh adanya perselingan., lapisan penjajaran mineral yang mempunyai bentuk berbeda, umumnya antara mineral-mineral granuler (feldspar dan kuarsa) dengan mineral-mineral-mineral-mineral tabular atau prismatic (mioneral ferromagnesium). Penjajaran mineral ini umumnya tidak menerus melainkan terputus-putus. Batuannya disebut gneiss.

Gambar 14 Struktur Gneissic dan Sketsa Pembentukan Struktur

2. Struktur Non Foliasi

(29)

- Hornfelsic/granulose

Terbentuk oleh mozaic mineral-mineral equidimensional dan equigranular dan umumnya berbentuk polygonal. Batuannya disebut hornfels (batutanduk).

Gambar 15 Sruktur Granulose

- Kataklastik

Berbentuk oleh pecahan/fragmen batuan atau mineral berukuran kasar dan umumnya membentuk kenampakan breksiasi. Struktur kataklastik ini terjadi akibat metamorfosa kataklastik. Batuannya disebut cataclasite (kataklasit).

- Milonitic

(30)

Gambar 16 Struktur Milonitic

- Phylonitic

Mempunyai kenampakan yang sama dengan struktur milonitik tetapi umumnya telah terjadi rekristalisasi. Cirri lainnya adlah kenampakan kilap sutera pada batuan yang ,mempunyai struktur ini. Batuannya disebut phyllonite (filonit).

2.1.15 Komposisi Batuan Metamorf

Pertumbuhan dari mineral-mineral baru atau rekristalisasi dari mineral yang ada sebelumnya sebagai akibat perubahan tekanan dan atau temperatur menghasilkan pembentukan kristal lain yang baik, sedang atau perkembangan sisi muka yang jelek; kristal ini dinamakan idioblastik, hypidioblastik, atau xenoblastik.

(31)

Setelah kita menentukan batuan asal mula metamorf, kita harus menamakan batuan tersebut. Sayangnya prosedur penamaan batuan metamorf tidak sistematik seperti pada batuan beku dan sedimen. Nama-nama batuan metamorf terutama didasarkan pada kenampakan tekstur dan struktur. Nama yang umum sering dimodifikasi oleh awalan yang menunjukkan kenampakan nyata atau aspek penting dari tekstur (contoh gneis augen), satu atau lebih mineral yang ada (contoh skis klorit), atau nama dari batuan beku yang mempunyai komposisi sama (contoh gneis granit). Beberapa nama batuan yang didasarkan pada dominasi mineral (contoh metakuarsit) atau berhubungan dengan facies metamorfik yang dipunyai batuan (contoh granulit).

(32)

mineralogi yang berbeda menunjukkan tekstur gnessik dan batuannya dinamakan gneis. Kumpulan yang terdiri dari lapisan yang relatif kaya kuarsa dan feldspar, kemungkinan kumpulan tersebut terdiri dari mineral yang mengandung feromagnesium (mika, piroksin, dan ampibol). Komposisi mineralogi sering sama dengan batuan beku, tetapi tekstur gnessik biasanya menunjukkan asal metamorfisme; dalam kumpulan yang cukup orientasi sering ada. Penambahan metamorfisme dapat mengubah gneis menjadi migmatit. Dalam kasus ini, kumpulan berwarna terang menyerupai batuan beku tertentu, dan perlapisan kaya feromagnesium mempunyai aspek metamorfik tertentu.

Jenis batuan metamorf lain penamaannya hanya berdasarkan pada komposisi mineral, seperti:Marmer disusun hampir semuanya dari kalsit atau dolomit; secara tipikal bertekstur granoblastik. Kuarsit adalah batuan metamorfik bertekstur granobastik dengan komposisi utama adalah kuarsa, dibentuk oleh rekristalisasi dari batupasir atau chert/rijang. Secara umum jenis batuan metamorfik yang lain adalah sebagai berikut:

1. Amphibolit : Batuan yang berbutir sedang sampai kasar komposisi utamanya adalah ampibol (biasanya hornblende) dan plagioklas.

2. Eclogit : Batuan yang berbutir sedang komposisi utama adalah piroksin klino ompasit tanpa plagioklas felspar (sodium dan diopsit kaya alumina) dan garnet kaya pyrop. Eclogit mempunyai komposisi kimia seperti basal, tetapi mengandung fase yang lebih berat. Beberapa eclogit berasal dari batuan beku.

3. Granulit : Batuan yang berbutir merata terdiri dari mineral (terutama kuarsa, felspar, sedikit garnet dan piroksin) mempunyai tekstur granoblastik. Perkembangan struktur gnessiknya lemah mungkin terdiri dari lensa-lensa datar kuarsa dan/atau felspar.

(33)

5. Milonit : Cerat berbutir halus atau kumpulan batuan yang dihasilkan oleh pembutiran atau aliran dari batuan yang lebih kasar. Batuan mungkin menjadi protomilonit, milonit, atau ultramilomit, tergantung atas jumlah dari fragmen yang tersisa. Bilamana batuan mempunyai skistosity dengan kilap permukaan sutera, rekristralisasi mika, batuannya disebut philonit. 6. Serpentinit : Batuan yang hampir seluruhnya terdiri dari mineral-mineral dari kelompok serpentin. Mineral asesori meliputi klorit, talk, dan karbonat. Serpentinit dihasilkan dari alterasi mineral silikat feromagnesium yang terlebih dahulu ada, seperti olivin dan piroksen. 7. Skarn : Marmer yang tidak bersih/kotor yang mengandung kristal dari mineral kapur-silikat seperti garnet, epidot, dan sebagainya. Skarn terjadi karena perubahan komposisi batuan penutup (country rock) pada kontak batuan beku.

(34)

Gambar 17 Klasifikasi Metamorf

2.1.16 Klasifikasi Batuan Metamorf

Klasifikasi yang paling sering digunakan adalah berdasarkan keadaan foliasi yang berkembang, dengan komposisi mineral berperan sebagai tambahan. Berdasarkan foliasi, batuan metamorf dibedakan menjadi tiga, yaitu batuan yang:

1. Berfoliasi sangat kuat, yaitu yang mudah pecah melalui bidang foliasi, biasanya karena melimpahnya Mika yang terorientasi. Batuannya adalah:

a. Slate (Batusabak). Bersifat afanitik, mempunyai kilap suram pada bidang foliasi. Berkomposisi utama mineral lempung. Batusabak tampak merah bila mengandung banyak Hematite, hijau bila Klorit, dan umumnya abu-abu sampai hitam bila banyak Grafit.

b. Phyllite (Fillit). Bersifat afanitik, berbutir lebih kasar daripada batusabak dan bidang foliasinya mengkilat karena Mika atau Klorit yang sudah lebih banyak daripada batusabak. Batuan ini merupakan peralihan dari batusabak ke batusekis.

(35)

pecah melalui bidang foliasi. Orientasi mineral-mineral pipih berselingan dengan mineral-mineral yang tidak pipih yang berbutir sama besar. Butirannya antara lain: Gneiss (Gneis), bersifat fanerik, berbutir sedang sampai kasar. Komposisi yang utama: Kuarsa, Feldspar, Mika, dan kadang-kadang Hornblende.

3. Berfoliasi sangat lemah sampai nonfoliasi: batuan didominasi oleh mineral-mineral berbentuk kubus, mineral-mineral pipih bila ada orientasinya acak. Batuan ada yang granular atau berlineasi. Batuannya antara lain:

a. Quartzite (Kuarsit). Komposisinya yang sangat utama adalah Kuarsa, bila pecah tak rata dan tidak mengelilingi butiran, nonfoliasi.

b. Marble (Marmer). Berkomposisi utama Kalsit, warna abu-abu (biasanya) karena Grafit (bereaksi positif dengan HCl).

c. Hornfels. Bersifat afanitik sampai fanerik halus, berkomposisi Kuarsa, Feldspar, Mika (diketahui dari pengamatan lapangan).

d. Granofels. Bersifat fanerik kasar, nonfoliasi, berkomposisi Kuarsa dan

Feldspar (yang berbentuk kubus).

e. Granulite. Bersifat fanerik kasar, nonfoliasi, berkomposisi Piroksin dan Garnet disamping Kuarsa dan Feldspar.

f. Serpentinite. Nonfoliasi sampai lineasi, berwarna hijau, hijau sampai kuning pucat. Komposisi utamanya Serpentin. Selain penamaan-penamaan dasar di atas, penamaan-penamaan batuan dapat diberi awalan pada nama-nama dasar seperti:

 Kloritik Skis: artinya Skis yang banyak mengandung Klorit.

 Skis Kuarsa: artinya Skis yang banyak mengandung Kuarsa. Di samping itu, ada beberapa awalan atau akhiran yang perlu diperhatikan (hanya sekedar diketahui):

(36)

2. Blastik- sebagai akhiran, menunjukkan akhir kristalisasi dalam kondisi padat.

3. Meta- sebagai awalan, yang diikuti oleh nama batuan asal, menunjukkan kenampakan sisa dari tekstur dan komposisi mineralogi yang masih bertahan, misal:

- Metaandesit, artinya masih ada kenampakan sisa Andesit pada batuan metamorf.

- Metasedimen, artinya masih ada kenampakan sisa batuan sedimen pada batuan metamorf.

2.1.17 Penamaan Batuan Metamorf

Penamaan batuan metamorf dapat didasarkan pada foliasi dan komposisi:

a. Penamaan berdasarkan komposisi, misal: - Kuarsit - Granofels

- Granulit - Serpentinit - Marmer

b. Penamaan berdasarkan foliasi, misal:

- Skis - Filit

- Gneiss - Slate

Penamaan dengan foliasi dapat diikuti dengan nama mineral bila mineral tersebut cukup banyak, misal:

- Skis Mika: Skis yang banyak Mika

- Gneiss Hornblende: Gneiss yang banyak mengandung Hornblende

BAB III

(37)

3.1 Tujuan Penelitian

3.1.1 Tujuan umum untuk mengetahui batuan metamorf 3.1.2 Tujuan khusus penelitian

1. Memiliki pemahaman dan pengertian tentang batuan metamorf , 2. Memiliki pemahaman mengenai mendeskripsikan batuan metamorf , 3. Memiliki pemahaman mengenai mengklasifikasi batuan metamorf , 4. Memiliki keterampilan untuk mendeskripsikanbatuan metamorf secara cepat ,

5. Memiliki kepekaan terhadap aplikasi batuan dalam kehidupan

3.2 Sumber Data

Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh peeliti secara langsung. Dara sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian, teknik pengumpulan data merupakan factor penting demi keberhasilan penelitian. Hal ini berkaitan dengan bagaimana cara mengumpulkan data, siapa sumbernya, dan apa alat yang digunakan.

3.4 Metode Observasi

Pengumpulan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Pengamatan baru tergolong sebagai teknik mengumpulkan data, jika pengamatan tersebut mempunyai kriteria berikut :

 Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik.

 Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan pnelitian yang telah direncanakan.

 Pengamatan tersebut dicatat secara sistematis dan ddihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik

3.5 Study literature (kajian pustaka)

Merupakan penelurusan literature yang bersumber dari buku, media, pakar ataupun dari hasil penelitian orang lain yang bertujuan untuk menyusun dasar teori yang kita gunakan dalam melakukan penelitian.

(38)

 Institut Teknologi dan Sains Bandung Jalan Ganesha Boulevard, LOT A-1 CBD Kota Deltamas, Cikarang Pusat Kabupaten Bekasi. Provinsi Jawa Barat

3.6.2 Jadwal penelitian :

- Senin, 1 Desember 2014 (melakukan diskusi pertama) - Rabu, 3 Desember 2014 (melakukan diskusi kedua) - Kamis, 4 Desember 2014 (melakukan diskusi ketiga) - Senin, 8 Desember 2014 (melakukan diskusi keempat) - Rabu, 10 Desember 2014 (melakukan diskusi kelima)

3.7 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis batu Sampel dalam penelitian ini adalah batuan metamorf

3.8 Desain penelitian

3.9 Form Deskripsi Batuan

3.9.1 Form Deskripsi Batuan Metamorf 1

(39)

       8. Gambar :

Pembahasan :

3.9.2 Form Deskripsi Batuan Metamorf 2

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(40)

Pembahasan :

3.9.3 Form Deskripsi Batuan Metamorf 3

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(41)

Pembahasan :

3.9.4 Form Deskripsi Batuan Metamorf 4

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(42)

Pembahasan :

3.9.5 Form Deskripsi Batuan Metamorf 5

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(43)

Pembahasan :

3.9.6 Form Deskripsi Batuan Metamorf 6

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(44)

Pembahasan :

3.9.7 Form Deskripsi Batuan Metamorf 7

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(45)

Pembahasan :

3.9.8 Form Deskripsi Batuan Metamorf 8

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(46)

Pembahasan :

3.9.9 Form Deskripsi Batuan Metamorf 9

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(47)

Pembahasan :

3.9.10 Form Deskripsi Batuan Metamorf 10

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut :

2. Warna :

3. Jenis Batuan :

4. Struktur :

5. Tekstur :

(48)

Pembahasan :

BAB IV

Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.1 Variabel Penelitian / Pratikum

Ada dua variabel yang diajukan dalam penelitian ini.kedua variabel itu diberi variabel X dan variabel Y.Variabel X adalah variabel bebas yang menyebabkan terjadinya Y.Variabel Y adalah variabel terikat atau tergantung yang disebabkan oleh variabel X.

Variabel X dalam penelitian ini adalah Batuan. Variabel Y adalah Batuan Metamorf.

4.2 Hasil Penelitian / Pratikum

(49)

4.2.1 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 1

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 1

2. Warna : Putih

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Regional 4. Struktur : Non Foliasi (Granulose)

5. Tekstur : Granoblastik 6. Komposisi Mineral : Kuarsa 7. Nama Batuan : Kuarsit        8. Gambar :

Pembahasan :

(50)

Komposisi dari kuarsit adalah kuarsa yang mengalami metamorphose regional, batuan ini mengalami kristalisasi pda suhu 8000 C dan pada tkanan 5,5 kilobar.Kuarsit terbentuk dari batuan sedimrn yang banyak mengandung mineral kuarsa seperti graywack, jasper, flint dan lain-lain. Dalam keadaan belum diolah kuarsit dimanfaatkan sebagai agregat bahan bangunan, sedangkan setelah diolah dengan persyaratan tertentu dapat dimanfaatkan seperti mineral kuarsa antara lain untuk pembuatan bata refraktori, bahan abrasiv, industri gelas, kramik dan lain-lain.

Kuarsit (dari Jerman Quarzit) adalah batuan metamorf yang keras yang semula batu pasir. Sandstone diubah menjadi kuarsit melalui pemanasan dan tekanan biasanya berkaitan dengan kompresi tektonik dalam orogenic ikat 24 Petrologi batuan metamorf pinggang. Kuarsit murni biasanya putih menjadi abu-abu, meskipun quartzites sering terjadi dalam berbagai nuansa pink dan merah karena jumlah yang metamorphism. Minor jumlah mantan bahan penyemenan, oksida besi, karbonat dan tanah liat, sering bermigrasi selama rekristalisasi dan metamorfosis. Ini menyebabkan coretan dan lensa untuk membentuk dalam kuarsit. Kuarsit sangat resisten terhadap pelapukan kimia dan sering bentuk dan tahan puncak bukit pegunungan. Hampir murni kadar silika menyediakan batu kecil untuk membentuk tanah dari dan oleh karena itu kuarsit punggung sering telanjang atau hanya ditutupi dengan tanah yang sangat tipis dan sedikit vegetasi.

(51)

digunakan dalam pembangunan jalan dan rel kereta api pemberat. Kuarsit kemurnian tinggi digunakan untuk memproduksi ferrosilicon, industri pasir silika, silikon karbida logam dan silikon. Deskripsi dari komposisi mineralnya antara lain:

Mineral kuarsa dengan warna yang dimiliki yaitu putih mengkilap, kilapny vitreous, dan kekerasannya 7, pecahannya conchoidal, belahannya tidak dapat terlihat dengan jelas,system Kristal yang dimiliki oleh mineral kuarsa yaitu trigonal atau hexagonal, termasuk kedalam kelompok mineral Silicates ; Tectosilicates ; Silica group. Quartz adalah paling banyak kedua mineral di Bumi kerak benua, setelah feldspar. Ini terdiri dari kerangka kontinu SiO 4 silikon - oksigen tetrahedra, dengan setiap oksigen yang dibagi antara dua tetrahedra, memberikan formula keseluruhan SiO 2.Pada suhu dan tekanan permukaan, kuarsa adalah bentuk paling stabil silikon dioksida. Kuarsa akan tetap stabil sampai 25 Petrologi batuan metamorf dengan 573 ° C pada 1 kilobar tekanan.Ketika tekanan meningkat temperatur di mana kuarsa akan kehilangan stabilitas juga meningkat.

Kegunaan kuarsit secara umum, sebagai bahan , pembuatan refraktor, bahan penggosok, untuk industry gelas, keramik, bahan bangunan sebagai agregat lantai dan dinding. Kuarsit menjadipopuler sebagai batu dimensi dalam industry kontruksi. Penggunaan kuarsit sebagai batu hias kontruksi bangunan tumbuh setiap tahunnya. Kuarsit di poles salah satu permukaaanya datar digunakaan untuk menutupi dinding. Sebagai alas lantai da anak tangga. Kuarsit juga digunakan untuk tingkat kecil, seperti batu hancur. Digunakan dalam kontruksi jalan dan perbaikan. Popularitas kuarsit seperti dimensi dalam kontruksi tumbuh secara dramatis setiap tahun . ni adalah batu menarik dengan daya tahan besar dan tekstur unik.

4.2.2 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 2

(52)

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Thermal 4. Struktur : Non Foliasi (granulose)

5. Tekstur : Granoblastik 6. Komposisi Mineral : Kalsit 7. Nama Batuan : Marmer        8. Gambar :

Pembahasan :

Batu Marmer pada hasil praktikum memiliki kenampakan warna putih, dengan tekstur pada batu Marmer ini ialah Gronoblastik, struktur batuannya Non-Foliasi, dengan komposisi mineral yang terkandung dalam batu Marmer ini ialah mineral kalsit (30%). Komposisi mineral pada batu Marmer ini terdapat mineral – mineral kuarsa.

Pada batu Marmer memiliki petrogenesa batuannya merupakan batuan marmer ini terbentuk dari kristal – kristal kalsit yang merupakan proses metamorfisme pada batu gamping. Batuan ini padat, kompak dan massive, dapat terjadi karena metamorfosa kontak / regional.

(53)

Batuan metamorf ini termasuk tipe metamorf kontak dengan sifat kimia kalkaris. Beberapa yang dimiliki oleh marmer ini antara lain wananya putih tulang sampai kekuning – kuningan tanpa adanya bintik – bintik. Dibawah mikroskop dengan pembesaran 15 kali terdapat campuran warna – warni mineral asesoris. Komposisi utamanya adalah kalsit (CaCO3) dengan sedikit kuarsa dan pirit serta gravit sehingga variasi warna marmer sangat ditentikan oleh adanya mineral kalsium dan magnesium. Marmer adalah batuan metamorf non foliated dihasilkan dari metamorphism kapur, sebagian besar terdiri dari kalsit (suatu bentuk kristal kalsium karbonat, CaCO3).

Hal ini secara luas digunakan untuk patung, sebagai bahan bangunan, dan dalam banyak aplikasi lain. Marmer adalah batuan metamorf yang dihasilkan dari regional atau, jarang, hubungi metamorphism dari batuan sedimen karbonat (baik batu kapur atau dolomit) atau yang lebih tua metamorphism dari marmer. Proses malihan ini menyebabkan rekristalisasi lengkap dari batu asli menjadi mosaik yang saling kalsit, aragonite dan / atau dolomit kristal. Suhu dan tekanan yang diperlukan untuk membentuk marmer biasanya menghancurkan setiap fosil dan tekstur sedimen hadir di batu asli.

(54)

bias kalsit memungkinkan cahaya untuk menembus beberapa milimeter ke dalam batu sebelum tersebar ke luar, sehingga karakteristik "lilin" pandangan yang memberikan "kehidupan" kepada patung-patung marmer tubuh manusia. Tidak berwarna atau berwarna terang kelereng sumber yang sangat murni kalsium karbonat, yang digunakan dalam berbagai industri. Tanah halus marmer atau kalsium karbonat bubuk adalah komponen kertas, dan produk produk konsumen seperti pasta gigi, plastik, dan cat. Ground kalsium karbonat dapat dibuat dari batu kapur, kapur, dan marmer; sekitar tiga-perempat dari kalsium karbonat tanah di seluruh dunia adalah terbuat dari marmer. Tanah kalsium karbonat digunakan sebagai lapisan pigmen untuk kertas karena kecerahan yang tinggi dan sebagai pengisi kertas karena memperkuat lembaran dan menanamkan kecerahan tinggi. Tanah kalsium karbonat digunakan dalam produk konsumen seperti bahan tambahan makanan, dalam pasta gigi, dan sebagai pengisi inert dalam bentuk pil. Digunakan dalam plastik karena menanamkan kekakuan, dampak kekuatan, stabilitas dimensi, dan konduktivitas termal. Digunakan dalam cat karena pengisi yang baik dan professional, memiliki kecerahan tinggi, dan tahan cuaca. Namun, pertumbuhan permintaan kalsium karbonat tanah dalam dekade terakhir ini kebanyakan karena pigmen dalam lapisan kertas. Kalsium karbonat juga dapat dikurangi di bawah panas tinggi kalsium oksida (juga dikenal sebagai "jeruk nipis"), yang memiliki banyak aplikasi termasuk menjadi komponen utama dari banyak bentuk semen. Marmer yang telah dipoles sangat baik untuk didnding maupun lantai, selain itu juga dapat dibuat sebagai barang hiasan seperti patung ataupun meja.

4.2.3 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 3

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 3

2. Warna : Hitam , abu-abu

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Regional 4. Struktur : Foliasi (Schistose)

5. Tekstur : Lepidoblastik

(55)

       8. Gambar :

Pembahasan :

Sekismika dihasilkan oleh metamorfosa regional dengan tingkat lebih tinggi dibandingkan phyllite, mempunyai foliasi dan kristalin. Ummnya berbutir lebih kasar dari slate dan phyllite tetapi lebih halus dari gneias. Foliasi tersebut terbentuk oleh kristal-kristal berbentuk lempeng (play) dan kristal-kristal prismatik.

Mineral-mineral berbentuk lempengan tersebut antara lain : chlorite, sericite, muscovite, biotite, dan tolc, sedangkan mineral-mineral prismatik adalah actinolite, kyanite, hornblede, staurolite, dan silimanite. Kadang-kadang schist hanya terdiri dari satu macam mineral saja, contohnya talc schist, tetapi pada umumnya terdiri dari dua atau lebih mineral seperti calcite – sericalcite – albite schist.

(56)

salah satu komponen penting dalam pembuatan kondensator dan kapasitor dalam industri elektronika.

4.2.4 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 4

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 4

2. Warna : Abu-abu, hijau

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Regional 4. Struktur : Foliasi (gneissic)

5. Tekstur : Granoblastik 6. Komposisi Mineral : Mika, feldspar 7. Nama Batuan : Gneiss

       8. Gambar :

Pembahasan :

(57)

goresan yang tersusun dari mineral mineral seperti hornblende yang tidak terdapat pada batuan batuan sediment.

Pada batuan gneiss, kurang dari 50 persen dari mineral mineral menjadi mempunyai bentuk bentuk penjajaran yang tipis dan terlipat pada lapisan-lapisan. Kita dapat melihat bahwasannya tidak seperti pada batuan schist yang mempunyai pensejajaran mineral yang sangat kuat, batuan gneiss tidak retak atau hancur sepanjang bidang dari pensejajaran mineral tersebut, dan terbentuk urat-urat yang tebal yang terdiri dari butiran-butiran mineral di dalam batuan tersebut, hal ini tidak seperti kebanyakan bentuk bentuk perlapisan yang terdapat pada batuan schist. Dengan proses metamorfosa lebih lanjut batuan gneiss dapat berubah menjadi magmatite dan akhirnya terkristalisasi secara total menjadi batuan granit.

Meskipun batuan ini terubah secara alamiah, gneiss dapat mengekalkan bukti terjadinya proses geokimia di dalam sejarah pembentukannya, khususnya pada mineral mineral seperti zircon yang bertolak belakang dengan proses metamorfosa itu sendiri. Batuan batuan keras yang berumur tua seperti pada batuan gneiss yang berasal dari bagian barat Greenland, Isotop atom karbon dari batuan tersebut menunjukkan bahwasannya ada kehidupan pada masa batuan tersebut terbentuk , yaitu sekitar 4 millyar tahun yang lalu.

(58)

induknya) adalah sari batuan mafic tertentu, mungkin greiss tersebut dapat berkembang manjadi serpentine olivin, augite, horblede dan biotite. Jika bahan beku (sebagian bahan induknya) dapat dikenal maka nama batuan dapat ditentukan seperti misalnya : gabbro gneiss, syenite gneiss ataupun granite gneiss. Gneiss yang berasal dari batuan sedimen, contohnya : quatzite gneiss conglomerate gneiss, politic gneiss (dari sedimen clay) dan calc gueniss (dari cilliceous limetone dan dolomite) gneiss yang berbentuk oleh penerobosan mineral-mineral batuan beku kedalam folisasi akan menghasilkan campuran batuan dalam bentuk dike yang tipis dari material-material quartzfeldspathic. Ini disebut “injection” gneiss. Batuan ini tersebar luas dan mungkin menempati bagian terbesar dari tipe gneiss lainnya. Batu Gneiss atau genes banyak digunakan dan manfaatkan untuk membuat barang kerajinan seperti asbak, jambangan bunga dan patung.

4.2.5 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 5

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 5

2. Warna : Abu-abu, hijau

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Regional 4. Struktur : Non Foliasi (Liniasi)

(59)

Pembahasan :

Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi serpentinit. Asal Batuan beku basa , bewarna Hijau terang / gelap, Ukuran butir Medium grained, Struktur Non foliasi, Komposisi Serpentine, Ciri khas Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari

Metamorf yang terbentuk dari mineral serpentin akibat perubahan basalt dasar laut yang bertekanan tinggi pada temperatur rendah. Mineral serpentin tergolong dalam kelas mineral Silikat yaituPhyllosilicates. Batuan Serpentinit sering digunakan untuk batu hias dan dipakai untuk industri mineral. Batuan ini banyak ditemukan di negara Swedia, Italia, Rusia, di wilayah California, dan pertambangan Norberg.

Mineral Serpentin mengandung chrysotile yaitu mineral serpentin yang mengkristal membentuk serat tipis yang panjang. Mineral serpentin memiliki beberapa senyawa kimia antara lain:

Antigorite; (Mg, Fe)3 Si2 O5 (OH)4

Clinochrysotile; Mg3 Si2 O5 (OH)4

Lizardite; Mg3 Si2 O5 (OH)4

Orthochrysotile; Mg3 Si2 O5 (OH)4

Parachrysotile; (Mg,Fe)3 Si2 O5 (OH)4

(60)

4.2.6 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 6

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 6

2. Warna : Abu-abu, hijau , coklat

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Regional 4. Struktur : Foliasi (Slaty-Schistose)

5. Tekstur : Lepidoblastik 6. Komposisi Mineral : Mika, kuarsa 7. Nama Batuan : Filit

       8. Gambar :

Pembahasan :

Batu Filit terbentuk dari derajat metamorfisme lebih tinggi dari slate, dimana lembar mika sudah cukup besar untuk dapat dilihat secara megaskopis, memberikan belahan Phylitic berkilap sutra pecahan – pecahannya.

Batu Filit Merupakan batuan metamorf yang terbentuk dari metamorfisme batuanshale dan merupakan proses lanjutan metamorfosisme batu Slate. Batu Filit adalah batuan metamorphic berbutir halus yang terbentuk pada temperature dan tekanan lebih tinggi disbandingkan dengan slate, tetapi pada temperatur dan tekanan yang lebih rendah dibanding dengan sekis. Batu metamorf filit umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit.

(61)

dengan komposisi mineral yang terkandung dalam batu Filit ini ialah mineral pipih (30%). Komposisi mineral pada batu Filit ini terdapat mineral – mineral pipih yang sangat luas. Pada batu Filit memiliki petrogenesa batuannya merupakan batu Filit terbebtuk dari derajat metamorfisme lebih tinggi dari slate, dimana lembar mika sudah cukup besar untuk dapat dilihat secara megaskopis, memberikan belahan phylitic, berkilap sutra pecahan – pecahannya.

Nama batuan metamorf ini adalah Phyllite yang termasuk tipe batuan metamorf secara regional dengan sifat kimia pelitik. Komposisi mineral yang terkandung di dalamnya berupa kuarsa, serisit, mika, khlorit, albit, grafit dan kadang – kadang dijumpai adanya garnet dan khloritoid. Warna batuan metamorf tersebut pada umumnya terang, kelabu perak dan kadang – kadang kehijau – hijauan.

Pada umumnya banyak di jumpai dipegunungan Alpen, Skotlandia, Inggris, Belgia, Australia, Jerman, Cekoslavia, Irlandia Utara. Untuk di daerah Indonesia batuan metamorf ini belu banyak diketahui dan di perkirakan terdapat banyak di daerah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Timur serta hampir semua pulau irian jaya. Kegunaan dari batuan metamorf ini sebagian besar untuk perhiasan dan bahan bangunan berupa bahan lantai dan dinding. Phyllite adalah jenis batuan metamorf foliated terutama terdiri dari kuarsa, sericite mika, dan klorit; batu mewakili gradasi di tingkat metamorphism antara batu tulis dan mika schist. Menit kristal grafit, sericite, atau menanamkan klorit sutra, kadang-kadang kilau keemasan ke permukaan belahan dada (atau schistosity).

(62)

Mineral Pipih, Mineral kecil, berwarna hitam mengkilat. Kelompok ini m udah dikenali dengan bidang belah yang searah dan mudah dibelah. Dua macam mika yang sering dijumpai dalam batuan adalah biotit K(Mg, Fe)3(Si3Al)O10(OH)2 dan muscovit Kal2(Si3Al)O10(OH)2. Biotit berwarna coklattua sampai hitam yang disebabkan oleh adanya unsur besi (Fe) didalamnya, sedangkan muscovit bening (tidak berwarna) muscoviy berasal dari kata muscovy yang merupakan istilah lama untuk Rusia. Dahulu Rusia terkenal sebagai penghasil lembaran – lembaran muscovit yang lebar, dapat dipergunakan sebagai kaca jendela.

Filit berwarna hitam terdapat pada dinding sungai yang terjal. Batuan ini terbentuk selama proses penunjaman serta merupakan batuan metamorf berderajat rendah. Proses tektonik dan deformasi lebih lanjut berupa patahan geser searah aliran sungai, membentuk lipatan-lipatan kecil serta struktur gores garis pada batuan filit. Ditemukan di Bayat, klaten.

Filit berkaitan dengan perkembangan aktivitas metamorfik yaitu baliknya temperatur atau bertambah besarnya rekristalisasi maka slate berubah menjadi filit. Filit secara dominan tersusun dari mineral-mineral kelompok mika seperti: mika, maricite, dan chlorite. Batuan ini lebih kasar daripada slate, tetapi ada batas yang tegas antara keduanya baik dalam hal ukuran butir maupun kandungan mineralnya. Mineral-mineral seperti muscovit, mika, sericite, dan cholite terdapat dalam jumlah yang besar. Mineral-mineral asesore dalam jumlah yang sedikit antara lain megnetit, hematit, graphite, dan tourmaline. Filit disebut pula sericite phllite, chlorite phyllite atau sericite phyllite. Warna dari putih perak, merah sampai kehijau-hijauan. Sifat dalam (tenacery) : brittle dan sering mempunyai pegangan halus hingga agak kasar. Filit dihasilkan oleh metamorfose regional tingkat rendah terutama dari mineral clay, shall, dan juga tuff dan tuffacous sedimen.

Keguanaan dan manfaat batu filit antara lain adalah sebagai bahan isolator/isolasi elektrik dan bahan bangunan. Batu filik merupakan bahan isolator yang baik dan tahan terhadap api. Sebagai bahan bangunan, biasanya batu filitik di gunakan sebagau bahan interior dan exterior untuk lantai dan dinding serta untuk bahan atap.

(63)

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 7

2. Warna : Abu-abu Kehitaman

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Kontak 4. Struktur : Non foliasi (Hornfelsik) 5. Tekstur : Granoblastik

6. Komposisi Mineral : Kuarsa, Mika 7. Nama Batuan : Hornfels        8. Gambar :

Pembahasan :

Hornfels ( Jerman , yang berarti "hornstone," setelah sering hubungan dengan glasial "puncak" tanduk di Alps, menjadi batu yang sangat keras dan dengan demikian lebih mungkin untuk menolak tindakan glasial dan tanduk berbentuk seperti bentuk puncak Matterhorn ) adalah kelompok peruntukan untuk serangkaian metamorf kontak batuan yang telah dipanggang dan indurated oleh panas mengganggu massa beku dan telah diberikan besar, keras, splintery, dan dalam beberapa kasus yang sangat tangguh dan tahan lama. Ditemukan di watumpang, Kebumen.

(64)

Hornfels berstruktur hornfelsik dan merupakan hasil metamorfisme termal. Hornfels mempunyai butiran yang halus dan merupakan batu metamorf non-foliasi. Hornfels adalah batuan yang terbakar oleh suhu yang sangat tinggi ,dan biasanya terjadi di magma.

Mineral utama : andalusit, silimanit, kordierit, biotit, k-felsfar. Warna : terang, merah, coklat, ungu dan hijau. Struktur : masif kadang-kadang dengan sisa foliasi. Tekstur : hornfelsik, granoblastik, poikiloblastik, kadang-kadang porfiroblastik, dengan tekstur mosaik, butiran ekuidimensional, tidak berorientasi, butiran halus. Metamorfosa : kontak.

4.2.8 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 8

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 8

2. Warna : Abu-abu, hitam

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Regional 4. Struktur : Foliasi (Slaty clearge)

5. Tekstur : Lepidoblastik 6. Komposisi Mineral : Kuarsa, mika 7. Nama Batuan : Sabak

(65)

Pembahasan :

Batu sabak merupakan batuan hasil proses metamorfosa dari mudstone (batu lumpur). Mudstone yan gterdiri dari butiran-butiran kuarsa di dalam masa liat yang lebih halus, karena tertekan maka butiran kuarsa menjadi pipih sedangkan partikel liat mengkristal kembali menjadi lapisan mika. Batu sabak termasuk dalam batuan metamorf Foliasi

Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan sedimen Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah. Memiliki struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus (very fine grained).

Kegunaan dan manfaat batu Sabak atau batu Slate. batu sabak atau batu slate banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Slate terbagi menjadi beberapa lapisan tipis dengan permukaan yang halus dengan warna yang tergantung pada kandungan mineralnya. Slate telah digunakan dalam konstruksi selama ratusan tahun dalam aplikasi yang beragam sebagai atap untuk paving, dan Walling untuk dekorasi taman. Slate juga dapat di manfaatkan sebagai batu asahan

4.2.9 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 9

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 9

2. Warna : Coklat, abu-abu

(66)

Pembahasan :

Batuan metamorf yang terbreksiasi dan biasanya ditemukan pada zona sesar. Batuan ini terbentuk akibat pergerakan sesar tersebut. Terbentuk karena rekristalisasi akibat tekanan. Berdasarkan genesanya tersebut, milonit merupakan batuan metamorf kataklastik.

Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butir-butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose . berasal dari Metamorfisme dinamik. bewarna Abu-abu, kehitaman, coklat, biru

berukuran butir Fine grained, Non foliasi, Komposisi Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan . Derajat metamorfisme Tinggi , Ciri khas Dapat dibelah-belah, tekstur granoblastik, poikiloblastik, dengan tekstur mosaik

4.2.10 Form Deskripsi & Pembahasan Batuan Metamorf 10

DESKRIPSI BATUAN

1. No. Urut : 10

2. Warna : Abu-abu

3. Jenis Batuan : Batuan Metamorfisme Kataklastik 4. Struktur : Non Foliasi

(67)

7. Nama Batuan : Filonit        8. Gambar :

Pembahasan :

(68)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 Kesimpulan

Untuk mengidentifikasi batuan metamorf ada beberapa kategori sifat fisis yang dapat diidentifikasi secara megaskopis yakni; warna, tekstur, struktur dan komposisi mineral penyusun batuan

Dari hasil identifikasi batuan metamorf yang dilakukan secara megaskopis terhadap beberapa sampel batuan, dapat diketahui nama dari beberapa sampel batuan tersebut berdasarkan Prakikum Geologi Dasar 1, Acara 4 mengenai Batuan Metamorf, maka dapat dibuat kesimpulan :

1. Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme pada batuan yang telah ada sebelumnya.

2. Dalam mengidentifikasi batuan metamorf kita harus melihat berdasarkan sifat fisiknya secara khusus antara lain :

1) Warna 2) Tektur 3) Struktur

4) Komposisi Mineral

Untuk mengidentifikasi batuan metamorf ada beberapa kategori sifat fisis yang dapat diidentifikasi sacara megaskropis yakni : warna, tekstur, struktur, dan komposisi mineral penyusun batuan.

Dari hasil identifikasi batuan metamorf yang dilakukan secara megaskropis terhadap beberapa sampel batuan, dapat diketahui nama dari beberapa sampel batuan tersebut berdasarkan hasil praktikum Acara 4

3. Klasifikasi dan Deskripsi Batuan Metamorf, antara lain : 1) Berfoliasi Sangat Kuat

Gambar

Gambar 1 memperlihatkan batuan asal yang mengalami
Gambar 2 memperlihatkan lokasi batuan metamorf (Gillen, 1982).
Gambar 4 Metamorfisme Kontak
Gambar 5 Metamorfisme Regional
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan menggunakan dua lapisan adalah untuk mengkombinasikan efek alir air pada lapis permukaan lapis bawah (base layer) yang menggunakan agregat yang lebih kasar dengan

Prinsip dari metode hitungan cawan adalah jika sel jasad renik yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan berkembangbiak dan membentuk

Apabila ukuran inti kristal menjadi lebih besar dari inti kritis, maka akan mulailah pertumbuhan kristal, dari kristal kecil membentuk kristal dengan ukuran yang lebih

Deposito DSO biasanya jarang daripada BIF bantalan atau batuan lainnya yang membentuk sumber utama atau rock sumber daya magnetit yang paling tidak relevan karena BIF formasi

Batuan dengan tingkat pelapukan yang rendah akan memiliki nilai densitas yang tinggi, karena pelapukan akan mengganti mineral primer menjadi mineral sekunder yang

Deposito DSO biasanya jarang daripada BIF bantalan atau batuan lainnya yang membentuk sumber utama atau rock sumber daya magnetit yang paling tidak relevan karena BIF formasi

semen dan sedikit air membentuk pasta semen yang berfungsi sebagai perekat kemudian pasta semen agregat halus (pasir) membentuk mortar untuk mengikat agregat

 Persentase mineral berat dan ringan tanah ini menunjukkan jenis batuan di daerah Gunung Tangkuban Parahu adalah porfiri tuf kristal dengan sifat batuan andesit yang