BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Terminologi Judul
Judul yang menjadi usulan dari proyek ini adalah Hotel Bisnis NEA Avenue Kualanamu. Berikut ini merupakan penjelasan terhadap judul kasus proyek tersebut.
Hotel
Pengertian hotel atau definisi hotel cukup beragam, di antaranya:
1. Hotel adalah salah satu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau keseluruhan bagian untuk jasa pelayanan penginapan, penyedia makanan dan minuman serta jasa lainnya bagi masyarakat umum yang dikelola secara komersil.1
2. Hotel adalah suatu bangunan yang dikelola secara komersil guna memberikan fasilitas penginapan kepada masyarakat umum dengan fasilitas antara lain jasa penginapan, pelayanan barang bawaan, pelayanan makanan dan minuman, penggunaan fasilitas perabot dan hiasan-hiasan yang ada di dalamnya serta jasa pencucian pakaian.2
3. Hotel adalah sarana tempat tinggal umum untuk wisatawan dengan memberikan pelayanan jasa kamar, penyedia makanan dan minuman serta akomodasi dengan syarat pembayaran.3
Bisnis
Bisnis menurut beberapa ahli memiliki arti: - Urwick dan Hunt
Bisnis ialah setiap perusahan yang memproduksi dan mendistribusikan serta menyediakan barang atau jasa yang diperlukan masyarakat dan atas dasar kesediaannya dalam membeli atau membayar.
1
Keputusan Menteri Parpostel no Km 94/HK103/MPPT 1987
2
Endar, Sugiarto dan Sri Sulartiningrum. 1996. Pengantar Industri Akomodasi dan Restoran. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
3
- Prof.L.R.Dicksee
Bisnis ialah suatu bentuk kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan bagi yang berkepentingan atau mengusahakan kegiatan tersebut.
- William Spregal
Mengatakan bahwa bisnis ialah suatu kegiatan yang berhubungan dengan produksi dan distribusi barang atau jasa yang bisa diklasifikasikan dalam kegiatan-kegiatan bisnis.
- Hooper
Menyatakan bahwa bisnis merupakan keseluruhan yang kompleks pada bidang-bidang industri dan penjualan, industri dasar, prosesnya, industri manufaktur dan jaringan, insuransi, perbankan, distribusi, transportasi dan lainnya yang kemudian masuk secara menyeluruh dalam dunia bisnis. Tujuannya memperoleh keuntungan bagi yang mengusahakannya.
- Merriam Webster
- Bisnis merupakan segala aktifitas pembuatan dan jual beli barang jasa kemudian ditukar dengan uang, kegiatan atau kerja merupakan suatu pekerjaan dan jumlah kegiatan tersebut terselesaikan oleh sebuah perusahaan, pabrik ataupun toko.
- Brown dan Petrello (1976)
- Bisnis merupakan suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan masyarakat. Jika kebutuhan masyarakat meningkat, maka jumlah produksinya di tingkatkan agar memenuhi segala kebutuhan masyarakat sambil memperoleh laba.
- Musselman dan Jackson (1992)
NEA
Merupakan singkatan dari huruf awal nama penulis (perancang bangunan) yaitu Nurul – Eddy – Adenan. NEA hanya sekedar nama pelengkap untuk menghargai kolaborasi perancang.
Avenue
Dalam bahasa Inggris Avenue memiliki beberapa arti, yang paling umum arti avenue adalah jalan besar dan kesempatan.
Berdasarkan beberapa arti di atas, maka maksud dari NEA Avenue adalah bangunan yang dirancang oleh penulis beserta rekan, yang lokasinya dilalui oleh jalan besar atau jalan lintas utama menuju bandara.
Kualanamu
- Kualanamu adalah tempat bertemu, kata ‗kuala‘ berasal dari bahasa melayu yang berarti muara sungai atau pertemuan sungai dengan laut.
Sementara ‗namu‘ atau ‗namo‘ berasal dari bahasa karo yang berarti
lubuk. Kuala Namo atau Kuala Namu merupakan kombinasi bahasa dua suku asli sumatera timur (sumtim) yang sesuai dengan segi bahasa dua etnis asli penduduk daerah setempat.1
- Kuala Namu merupakan sebuah bandar udara baru untuk kota Medan, Indonesia. Lokasinya terletak di Kuala Namu, Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang.
Jadi pengertian dari Hotel Bisnis NEA Avenue Kualanamu adalah :
Suatu tempat akomodasi penginapan khususnya bagi para pelaku bisnis (pengusaha, chief executive pedagang, peserta konvensi, pejabat yang melakukan dinas, dll.) yang didukung dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung kelancaran aktivitas bisnis, yang berada di gedung NEA Avenue yang merupakan bangunan multi massa dengan tiga fungsi (shopping mall, hotel, office) yang terletak di jalan besar (jalan utama) menuju Bandara Internasional Kuala Namu, yang mana bangunan tersebut dirancang oleh 3 rekan (orang) dengan harapan untuk menciptakan suatu kesempatan atau peluang bisnis.
1
2.2. Tinjauan Umum 2.2.1. Tinjauan Umum Hotel
A. Sejarah Hotel
Menurut Drs. Oka A.A. Yoeti, dalam bukunya yang berjudul ―Strategi
Pemasaran Hotel‖ tahun 1996, sejarah perhotelan sebenarnya sudah dimulai semenjak Mariam dan Yusuf membutuhkan tempat menginap sewaktu Mariam akan melahirkan Nabi Isa, hal ini sejalan dengan peradaban manusia yang selalu memerlukan tempat untuk berlindung sementara terhadap cuaca panas dan dingin dalam melakukan kegiatan perjalanan.
Pada masa kerajaan Romawi telah dibangun rumah penginanpan yang
disebut ―Mansiones‖ yang berlokasi sepanjang jalan raya utama dengan jarak masing-masing sekitar 40 KM. Kemudian selama abad pertengahan, peraturan keagamaan di Eropa memerintahkan agar dibangun tempat-tempat menginap di sepanjang jalan yang dilalui orang (road side inn).
Menurut Jusupadi Salmun SH, dalam film - film Western ( cowboy ) sekitar tahun 1800 s.d 1900, sudah terdapat hotel yang bersebelahan dengan saloon dan bar restaurant, yang berarti sejak kehidupan tahun tersebut penyediaan hotel, motel, penginapan atau losmen telah dikenal orang sebagai sarana atau penunjang bagi para pelancong.
Beberapa kalangan Amerika menganggap hotel yang benar-benar hotel dengan 170 kamar didirikan di New York tahun 1794 dengan nama City Hotel.
Kemudian menyusul Boston‘s Tremont House dengan 270 kamar di tahun 1829
yang tidak hanya memberikan pelayanan untuk tinggal sementara, tetapi juga menyediakan ruangan untuk converence bagi masyarakat setempat. Sejak itu maka menyusul hotel-hotel seperti ini :
Thn 1830-1850 - berdirinya Hotel Aster, The Palmer House dan The Sherman House di Chicago, Hotel planters di St. Louis.
Thn 1865 - berdiri The St. Pancras Station and Hotel di London.
Thn 1875 – berdiri The Palace di San Fransisco dengan biaya $ 5 Juta, merupakan hotel terbesar dan termegah pada saat itu dengan jumlah 800 kamar.
Thn 1880 – berdiri Ellsworth Milton Statler di New York, yaitu hotel pertama yang dibangun untuk kepentingan ―Business Travellers‖ dan merupakan
―Chain Hotel‖ pertama di dunia.
Thn 1894 – berdiri The Netherlands Hotel di New York sebagai hotel pertama yang menggunakan sambungan telepohone yang connecting ke dalam setiap kamarnya.
Thn 1896 – berdiri hotel The Waldorf Astoria di New York.
Satu hal yang dapat dicatat mengenai lokasi hotel sebelum dan sesudah tahun 1900 di Amerika dan Eropa, umumnya berlokasi tidak jauh dari station kereta api. Akan tetapi, ketika dunia telah mengenal mobil dan pesawat terbang, lokasi hotel tidak lagi tergantung pada station kereta api, karena pemenuhan aspek aksibilitas melalui alat transportasi sudah bersifat diversifikatif sekali.
B. Sejarah Perkembangan Hotel di Indonesia
sarana akomodasi pariwisata bersifat memadai, maka semasa penjajahan kolonial Belanda, mulai berkembanglah hotel-hotel di Indonesia. Dari buku Pariwisata Indonesia Dari Masa Ke Masa tercatat hotel-hotel yang sudah hadir pada saat itu
diantaranya :
Jakarta, dibangun Hotel Des Indes, Hotel Der Nederlanden, Hotel Royal dan Hotel Rijswijk.
Surabaya, berdiri Hotel Sarkies dan Hotel Oranje. Semarang, berdiri Hotel Du Pavillion.
Malang, Palace Hotel. Solo, Slier Hotel.
Yogyakarta, Grand Hotel ( sekarang Hotel Garuda )
Bandung, Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger dan Pension Van Hangel ( kini Hotel Panghegar ).
Bogor, Hotel Salak.
Medan, Hotel de Boer dan Hotel Astoria. Makasar, Grand Hotel dan Staat Hotel.
Kebanyakan hotel-hotel itu sampai sekarang masih ada, ada yang menjadi Herritage, ada yang sudah direnovasi menjadi lebih baik dan ada juga yang telah diredevelopment total sehingga tidak ada lagi bentuk aslinya, seperti Hotel Des Indes yang dalam perkembangannya pernah menjadi Hotel Duta Indonesia, kini pertokoan Duta Merlin.
Setelah periode pemerintahan Orde Baru, pembangunan dan kehadiran hotel di Indonesia jauh dan sangat berkembang pesat. Terutama setelah masuknya
beberapa chains ‗management‘ hotel international yang banyak merambah ke kota-kota besar di Indonesia. Sejalan dengan berkembangnya hotel di indonesia, wajah arsitektur hotel di Indonesia pun sangat berkembang dan inovative. Akan tetapi hal ini menjadi satu tolak ukur sejarah baru untuk Hotel di Indonesia.
beberapa lama kata hospice tidak mengalami perubahan. Dalam perkembangan selanjutnya, setelah melalui proses pengertian dan analogi yang sangat lama untuk membedakan antara guest house dengan mansion house (sebuah rumah besar), maka rumah besar tersebut disebut hostel. Kata hostel ini terus menerus
digunakan orang, lambat laun huruf ‖s‖ pada kata hostel menghilang atau
dihilangkan, menjadi hotel seperti apa yang kita kenal sekarang ini.
2.2.2. Klasifikasi atau Penggolongan Hotel
Yang dimaksud dengan klasifikasi atau penggolongan hotel ialah suatu sistem pengelompokkan hotel-hotel kedalam berbagi kelas atau tingkatan, berdasarkan ukuran penilaian tertentu.
Berdasarkan ukuran penilaian tertentu (Naimuddin : 15). Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor : KM.3 / HK.001 / MKP.02 tanggal 27 Februari 2002, tentang penggolongan kelas hotel BAB III penggolongan hotel bagian kesatu jenis golongan hotel :
Pasal 3
Ayat 1 (satu) : Golongan kelas hotel terdiri atas : a. Golongan kelas hotel bintang. b. Golongan kelas hotel melati.
Ayat 2 (dua) : Golongan kelas hotel bintang sebagaimana dimaksud dalam ayat satu, dibagi atas 5 (lima) kelas yaitu hotel bintang 1 (satu) sampai bintang 5 (lima).
Ayat 3 (tiga) : Golongan kelas hotel melati sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) hanya terdiri atas satu kelas sebagai hotel melati.
Pasal 4
Ayat 2 (dua) : Hotel yang belum memenuhi persyaratan minimal sebagai hotel bintang, digolongkan ke dalam kelas hotel melati.
Ayat 3 (tiga) : Golongan kelas hotel melati dapat ditingkatkan menjadi hotel bintang setelah memenuhi persyaratan sebagai hotel bintang sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu).
Disamping penggolongan hotel di atas, usaha perhotelan juga dapat digolongkan ke dalam kelompok – kelompok tertentu berdasarkan hal – hal sebagai berikut :
1. Plan 2. Size
3. Type of Patromage 4. Long of Guest Stay 5. Location
6. Under the Government Regulations (sesuai dengan peraturan pemerintah setempat).
Penggolongan hotel juga dapat dilakukan berdasarkan peraturan pemerintah setempat yang disahkan, dalam hal ini beberapa Negara menganut penggolongan kelas hotel berdasarkan Grade System (system tarif) dan Star System (urutan bintang).
Hotel dapat dikelompokkan kedalam berbagai kriteria menurut kebutuhannya, namun ada beberapa kriteria yang dianggap paling lazim digunakan. Berdasarkan kriteria dalam hal kondisi atau fasilitas yang tersedia dalam suatu hotel, maka klasifikasi tersebut dapat dikatakan sebagai berikut : A. Pengelompokan Berdasarkan Standar Hotel
1. Hotel Internasional 2. Hotel Semi Internasional 3. Hotel Nasional
B. Klasifikasi Hotel Sesuai dengan Jumlah Kamar
2. Medium, dengan jumlah kamar 50 s/d 100 kamar 3. Large, dengan jumlah kamar 100 keatas
C. Klasifikasi Hotel Sesuai dengan Jenis Tamu (Types of Guest)
Hotel ini umumnya berada didalam perkotaan ataupun didaerah yang jenis tamunya terdiri atas beberapa klasifikasi sebagai berikut :
1. Family Hotel, tamu-tamu yang menginap bersama keluarga
2. Bussines Hotel, tamu-tamu yang menginap kebanyakan bussinesman, maka dengan demikian diperlukan tata cara praktis dan cepat dalam pelayanan serta fasilitas bussines sebagai penunjang.
3. Commercial Hotel 4. Tourist Hotel 5. Official Hotel 6. Transit Hotel 7. Cure Hotel 8. Hotel Konvensi
D. Klasifikasi Hotel sesuai dengan Lama Tinggal 1. Hotel Resident
2. Hotel Transit (Komersial) 3. Hotel Daerah (Resort) 4. Motel
E. Klasifikasi Hotel berdasarkan jenis kamar
1. Menurut Sulastiono (2001, p. 25), jenis-jenis kamar hotel pada dasarnya dibedakan atas :
a. Single room: kamar untuk satu orang yang dilengkapi dengan satu buah tempat tidur berukuran single untuk satu orang
b. Twin room: kamar untuk dua orang yang dilengkapi dengan dua buah tempat tidur masing-masing berukuran single.
c. Double room: kamar yang dilengkapi dengan satu buah tempat tidur berukuran double (untuk dua orang).
Terdapat pula jenis-jenis kamar yang dibedakan menurut fasilitas yang tersedia dari satu hotel dengan hotel lainnya, hal tersebut dikarenakan harga kamar selalu dikaitkan dengan fasilitas kamar. Makin lengkap fasilitas kamarnya, makin mahal pula harganya. Contoh jenis kamar menurut fasilitas adalah standard room, superior room, moderate, suite room, executve suite room, dan penthouse.
Menurut Kasavana (1998), hotel berdasarkan jumlah kamarnya dibagi menjadi empat kategori yaitu kurang dari 150 kamar, 150 hingga 299 kamar, 300 hingga 600 kamar, lebih dari 600 kamar.
F. Klasifikasi Hotel Berdasarkan Target Market Jenis hotel berdasarkan target market antara lain :
a. Commercial Hotels
Ditujukan kepada orang yang pekerjaannya berhubungan dengan berpergian, seperti bisnis manajer, kelompok meeting dan seminar. Tipe hotel komersial merupakan tipe hotel terbesar dan fungsi utamanya adalah untuk melayani klien bisnis.
b. Airport hotels
Airport hotel atau hotel bandara terkenal karena kedekatannya dengan pusat perjalanan terbesar. Airport hotel merupakan hotel yang memiliki ukuran pelayanan yang luas. Airport hotel ditujukan untuk klien bisnis, penumpang pesawat dengan penerbangan malam atau pembatalan penerbangan dan pegawai perusahaan penerbangan. Hotel memiliki limousine dan van yang banyak dimanfaatkan untuk mengantar dan menjemput tamu antara hotel dan bandara. Beberapa airport hotel menyediakan fasilitas ruang pertemuan bagi tamu yang datang dengan pesawat terbang dan hendak melakukan sebuah pertemuan.
Menurut Sugiarto (1996), ―Airport hotel adalah hotel yang terletak ssatu kompleks bangunan dengan lapangan udara atau berada disekitar Bandar udara. Target market dari jenis tamu hotel ini adalah para usahawan aau penumpang pesawat yang mengalami penundaan
penerbangan, juga para kru pesawat‖ (p.27).
Hotel ini ditujukan untuk keluarga yang berlibur dan seseorang yang ingin menikmati kenyamanan saat berpergian jauh dari rumah. Hotel ini dimanfaatkan pula oleh para professional, seperti akuntan, pengacara, para executive karena salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh kamar suite hotel, yaitu disetiap kamar hotel terdapat ruang tamu dan kamar mandi yang terpisah dengan kamar memberikan kenyamanan bagi para professional ini dalam bekerja.
d. Extended Stay Hotels
Hotel ini didirikan untuk menyediakan layanan bagi tamu yang datang dengan tujuan untuk tinggal selama lima hari atau waktu yang lebih lama. Tamu yang menginap di extended stay hotel biasanya tidak terlalu membutuhkan layanan dari hotel. Tidak seperti tipe hotel lainnya, tariff kamar ditentukan dari lamanya tamu tinggal dihotel tersebut. Jenis hotel ini memiliki kesamaan dengan suite hotel, hotel ini menyediakan kebutuhan dapur dalam kamar dimana suite hotel tidak menyediakan. e. Residential Hotels
Ditujukan pada tamu yang ingin tinggal dihotel dalam jangka waktu yang panjang dengan melakukan kontrak tinggal terlabih dahulu. Kamar akomodasi dengan kamar mandi dan ruang tamu terpisah, tipe kamarnya seperti kamar suite. Jenis akomodasi ini disediakan untuk orang yang berada dipinggiran kota, bersifat permanen atau jangka panjang. f. Leisure market (resort hotel)
Hotel ini ditujukan untuk orang yang berpergian, rekreasi, olahraga atau untuk hiburan. Hotel ini bersifat musiman, pada saat high season aktivitas hotel tinggi dan sebaliknya.
g. Bed and Breakfaast Hotels
Sebuah hotel yang terdiri dari 20-30 kamar. Hotel ini memberikan penawaran kamar dan makan pagi. Pemilik hotel biasanya tinggal didalam hotel tersebut dan bertanggung jawab pada penyediaan makan pagi tamu. h. Casino Hotels Sebuah hotel yang fungsi utamanya adalah sebagai
keuntungan. Tamu yang ingin mencari kesenangan dan melakukan perjalanan berlibur untuk menggunakan fasilitas kasino menginap dihotel ini.
i. Conference Centers
Conference centers di-design untuk kelompok meeting dan hampir
keseluruhan pelayanan hotel ini menawarkan akomodasi bermalam selama meeting diadakan. Hotel ini menekankan pada penyediaan layanan dan peralatan yang dibutuhkan untuk kelancaran jalannya meeting.
j. Convention Hotels
Menawarkan ± 2000 kamar. Fasilitas hotel ini di-design untuk mengakomodasi rapat besar.
G. Klasifikasi Hotel Sesuai dengan Bintang
Pelayanan hotel ditentukan dalam 5 (lima) golongan kelas berdasarkan kelengkapan dan kondisi bangunan, peralatan, pengelolaan, serta mutu pelayanan sesuai dengan persyaratan penggolongan hotel sebagaimana yang ditetapkan dalam lampiran Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi tentang Ketentuan Usaha dan Penggolongan Hotel.
1. Hotel bintang satu (*)
Jumlah kamar standar minimum 15 kamar Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 20 m² 2. 2. Hotel bintang dua (**)
Jumlah kamar standar minimum 20 kamar Jumlah kamar suite, minimum 1 kamar Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 22 m² Luas kamar suite minimum 44 m² 3. 3. Hotel bintang tiga (***)
Jumlah kamar standar minimum 30 kamar Jumlah kamar suite minimum 2 kamar Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 48 m² 4. Hotel bintang empat (****)
Jumlah kamar standar minimum 50 kamar Jumlah kamar suite minimum 3 kamar Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 24 m² Luas kamar suite minimum 48 m² 5. Hotel bintang lima (*****)
Memiliki 3 tingkatan yaitu Palm, Bronze, dan Diamond Jumlah kamar standar minimum 100 kamar
Jumlah kamar suite minimum 4 kamar Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 26 m² Luas kamar suite minimum 52 m² H.
H. Klasifikasi Hotel sesuai dengan Tipe Harga Kamar atau Plan
Yang dimaksud dengan plan adalah suatu sisem yang dipergunakan dihotel dalam menetukan pentarifan yang ada hubungannya dengan penyediaaan atau penjualan makanan.
1. European Plan 2. American Plan 3. Continental Plan 4. Bermuda Plan
I. Klasifikasi Hotel Berdasarkan Tarif Kamar 1. Economy Hotel
2. First Class Hotel 3. Deluxe Hotel
J. Klasifikasi Hotel Berdasarkan Lama Operasi Hotel a. Season Hotel
b. Arround The Year Operation Hotel K. Klasifikasi Hotel Berdasarkan Lokasi Hotel
3. Ressort Hotel 4. Motel
5. Beach Hotel 6. Mountain Hotel 7. Airport Hotel 8. Guest Faccilities
Berdasarkan keterangan diatas maka disimpulkan bahwa hotel pada proyek ini termasuk kedalam klasifikasi:
1. Hotel berdasarkan standar merupakan hotel semi Internasional
2. Hotel berdasarkan jumlah kamar merupakan hotel dengan jumlah kamar large (100 keatas).
3. Hotel berdasarkan jenis tamu merupakan hotel transit. 4. Hotel berdasarkan lama tinggal merupakan hotel transit. 5. Hotel berdasarkan target market merupakan airport hortel.
6. Hotel sesuai dengan bintang merupakan hotel bintang empat (****) 7. Hotel berdasarkan lokasi hotel merupakan airport hotel
2.2.3. Tinjauan Hotel Bisnis
Dilatarbelakangi kebutuhan akan akomodasi bagi pebisnis di kawasan pengembangan dekat Bandara Kuala Namu, maka hotel yang dipilih adalah hotel bisnis dengan tema Arsitektur Hemat Energi.
Hotel bisnis dapat didefinisikan sebagai suatu hotel yang timbul akibat kebutuhan konsumen golongan-golongan tertentu, biasanya usahawan, pejabat dinas, dan para pelaku bisnis lainnya, dan memiliki fasilitas-fasilitas untuk mendukung kegiatan mereka dalam hal yang berhubungan dengan bisnis. Hotel bisnis biasanya terletak dekat dengan kawasan komersil.
Beberapa pertimbangan konsumen dalam memilih sebuah hotel bisnis untuk dijadikan tempat menginap, pertemuan atau rapat, yaitu :
Fasilitas : Mengetahui kelengkapan fasilitas yang disediakan oleh pihak hotel
Kapasitas : Memperkirakan jumlah peserta dan menyesuaikan terhadap kapasitas ruang hotel
2.2.4. Karakteristik Hotel Bisnis
Karakteristik utama hotel bisnis di antaranya :
Memiliki fasilitas yang mendukung kegiatan bisnis seperti ballroom dan banquet hall
Berdekatan dengan pusat bisnis
Berada dekat dengan pusat perbelanjaan
Keberadaannya dapat menaikkan prestis dan citra kota
2.3. Lokasi
Daerah Kecamatan Batang Kuis terletak di wilayah Kabupaten Deli Serdang dengan jarak dari Ibukota Kabupaten (Lubuk Pakam) sebesar ± 15 Km. Ketinggian wilayahnya dari atas permukaan laut antara 4-30 meter, dan dikategorikan daerah dataran rendah yang luasnya ±40,34 km2. Terdiri dari 11 Desa (Status Desa) dan 72 Dusun.
Kecematan Batang Kuis terletak 3o35-3o41 LU 41o-46o BT. Curah hujan Kecamatan Batang Kuis 1.821 mm/tahun dengan kecepatan angin 1,33 mm/dt serta iklim rata-rata Kecamatan Batang Kuis Max 32OC Min 22,4oC dan penguapan 4,08 mm/hr. Batas-batas dari Kecamatan Batang Kuis sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pantai Labu, sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Beringin dan Kec. Pantai Labu, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Morawa, sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Percut Sei Tuan. 1
1
Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 57 Tahun 2007 tentang Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) bandara Kualanamu, wilayah sekitar Kualanamu terbagi atas:
Kawasan Permukaan Dalam
Kawasan ini ditentukan oleh bidang setengah lingkaran dengan radius 4000 meter dari titik tengah ujung permukaan utama, kawasan ini tidak termasuk Kawasan Pendekatan dan Lepas Landas serta Kawasan di Bawah Permukan Transisi. Ketinggian Bangunan di Kawasan permukaan Dalam adalah 46 meter.
Kawasan Permukaan Kerucut
Kawasan ini ditentukan mulai dari tepi luar Kawasan Permukaan Horizontal Dalam meluas keluar dengan jarak mendatar 2.000 m dan Ketinggian bangunan di kawasan ini 46 meter sampai 151 meter.
Kawasan di Bawah Permukaan Horizontal Dalam
Kawasan ini ditentukan oleh lingkaran dengan radius 15.000 meter dari titik tengan Ujung Permukaan Utama. Kwasan ini tidak termasuk Kawasan Pendekatan dan Lepas Landas dan Kawasan di Bawah Permukaan Kerucut. Ketinggian bangunan pada Kawasan di Bawah Permukaan Horizontal Dalam adalah +151 meter.
Gambar 2.1. KKOP Bandar Udara
Kawasan Pendekatan dan Lepas Landas
Tepi dalam kawasan ini berimpit dengan ujung-ujung permukaan utama, berjarak 60 meter darri ujung landas pacu dengan lebar 300 meter.
Site perancangan berada pada ring 2 ketinggian bangunan 46 sampai 151 meter merupakan lapisan pertama yang dimanfaatkan untuk komponen yang mendukung kegitan bandar udara seperti, rumah sakit, jasa komersial dan perdagangan yang bertujuan untuk memudahkan para pengguna jasa angkutan bandara dalam memenuhi kebutuhannya.
2.3.1. Kriteria Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi site dipilih berdasarkan kriteria berikut:
a. Sesuai arahan Struktur Ruang Mebidangro dalam Rencana Pusat Kegiatan sistem perkotaan di Kabupaten Deli Serdang tahun 2025, dijelaskan bahwa Kawasan Batang Kuis ini merupakan kawasan yang dikembangkan dalam sektor perdagangan, jasa lokal, pengolahan pertanian, perkebunan, TOD, perumahan, permukiman, kota transit dan wisata yang didukung oleh perannya sebagai jalur transportasi regional di Kawasan Mebidangro.
b. Berdasarkan KKOP Bandara Kualanamu yang terletak pada ring 2. c. Kawasan berada di jalan besar Bandara Kualanamu sehingga mudah
di capai
d. Lokasi site berada di lokasi yang strategis, yaitu dekat dengan bandara.
Pertimbangan yang dilakukan untuk pemilihan lokasi di kawasan, sebagai berikut :
2. Pencapain ke kawasan mudah dicapai, dan dekat dengan Bandara Kualananamu.
Tabel 2.1. Kriteria Pemilihan Lokasi
No. Kriteria Lokasi 1 Tinjauan
terhadap struktur kota
Berada di kawasan strategis yang merupakan daerah komersil mengingat bangunan yang dirancang memiliki fungsi komersil yang berskala kota sehingga mendukung fungsi bangunan untuk komersil.
2 Wilayah Pengembangan
Berada di WPP yang sesuai dan merupakan termasuk dalam wilayah pengembangan kota Medan – Deli Serdang.
3 Lingkungan Berada di lingkungan yang strategis dan memiliki fungsi eksisting yang dapat mendukung bangunan.
4 Pencapaian atau aksesibilitas
• Mudah diakses karena berada di jalur lintas utama, baik angkutan umum, mapun pribadi.
• Tidak di kawasan macet, karena dapat semakin
menambah kekacauan pada lalu lintas.
• Transportasi menuju dan keluar site mudah
didapat.
5 Area pelayanan Lingkungan sekitar merupakan fungsi-fungsi yang dapat saling mendukung dengan bangunan yang direncanakan seperti fungsi komersial, community dan fungsi training. 6 Utilitas kota /
lingkungan
Dekat dengan jaringan utilitas yang memadai sebagai pendukung dalam lokasi site ( listrik, air, telefon, drainase, dll.)
7 Status
kepemilikian Ada status hak milik.
8 Orientasi Orientasi bangunan sebaiknya dapat mengurangi cahaya yang masuk ke dalam bangunan.
10 Ukuran lahan Harus mencukupi untuk program fungsional dan fasilits-fasilitas yang direncanakan. ( > 1 Ha )
11 Kontur tapak / topografi
Sebaiknya relatif datar untuk memudahkan perencanaan bangunan.
Sumber : Time-Saver Standard for Building Types dan hasil olah data 2.3.2. Deskripsi Kondisi Eksisting Lokasi
Perancangan Hotel Bisnis merupakan suatu kelengkapan sarana akomodasi, dalam hal ini hotel bisnis, yang mampu menunjang aktivitas dan keberadaan bandara Kuala Namu serta pemenuhan kebutuhan para pengusaha atau pelaku bisnis yang akan melakukan perjalanan bisnis di Medan.
Secara umum dapat dijabarkan tinjauan umum proyek Hotel Bisnis sebagai berikut:
Judul Proyek : Hotel Bisnis NEA Avenue Kuala Namu Status Proyek : Fiktif
Pemilik Proyek : Pihak Swasta
Lokasi Tapak : Jln. Bandara Kuala Namu, Kec. Batang Kuis, Kab. Deli Serdang
Batas-batas site
Batas Utara : Perkebunan jagung Batas Timur : Perkebunan jagung
Batas Selatan : Jl. Kuala Namu (jalan menuju bandara) Batas Barat : lahan komersil lainnya
Luas Lahan : ± 4 Ha (3 fungsi/mixed used) Kontur : Relatif datar
KDB : 60 % KLB : 4-8
Fungsi Eksisting : lahan kosong Potensi Lokasi :
Berada dekat kawasan sekitar bandar udara berjarak 9 km.
Memiliki jalur sekunder sehingga dapat digunakan sebagai jalur servis. Luas site mendukung ± 4 Ha.
Berada di kawasan perdagangan dan jasa.
2.4. Tinjauan Fungsi
2.4.1. Deskripsi Pengguna dan Kegiatan
Berikut adalah deskripsi para pengguna dan kegiatan yang ada di Hotel Bisnis NEA Avenue Kuala Namu :
Deskripsi Pengguna
Pengguna kegiatan dalam Hotel Bisnis ini terdiri atas pengunjung, penyewa, pengelola, dan servis.
1. Pengunjung
Pengunjung adalah pihak yang melakukan kunjungan ke Hotel Bisnis di NEA Avenue, yang dibagi berdasarkan pertimbangan tertentu seperti: o Berdasarkan golongan :
- Masyarakat berpenghasilan menengah - Masyarakat berpenghasilan tinggi o Berdasarkan asal-usul :
- Pengunjung yang datang dari kota Medan, Deli Serdang, dan sekitarnya
- Pengunjung yang datang dari luar kota dan luar negeri o Berdasarkan klasifikasi umur :
- Anak-anak ( usia 5-13 tahun ) - Remaja ( usia 14-24 tahun ) - Dewasa ( usia 25-45 tahun ) - Lanjut usia
o
Berdasarkan motivasi atau tujuan :-
Pedagang-
Pengusaha-
Peserta konvensi-
Wisatawan-
Dan lain-lain2. Penyewa
Penyewa adalah pihak yang menyewa ballroom, ruang rapat, dan fasilitas bisnis lainnya yang disediakan guna menjalankan aktivitas bisnis.
3. Pengelola
Pengelola adalah pihak yang melakukan pengelolaan kegiatan administrasi dan operasional yang dikelompokkan dalam 2 tingkatan, yaitu :
o Pimpinan, terdiri dari direktur dan wakil direktur. Direktur ini dibantu oleh sekretaris yang bertanggung jawab langsung kepada direktur.
o Kepala bagian, terdiri dari kabag operasional, pemasaran, keuangan, keamanan, pemeliharaan, dan perawatan gedung.
4. Servis
Servis adalah pihak yang melakukan pelayanan bangunan seperti masalah teknis, kebersihan, keamanan, utilitas, pantry, dan pergudangan.
Deskripsi Kegiatan
Berdasarkan pelaku kegiatan, maka kegiatan yang dilakukan adalah :
1. Kegiatan pengunjung, aktivitas umum yang dilakukan pengunjung adalah:
- Tidur
- Makan/minum
- Melakukan kegiatan bisnis
- Menghadiri pertemuan (rapat, seminar, workshop, dll.)
- Menggunakan fasilitas penunjang yang ada di Hotel Bisnis ini 2. Kegiatan penyewa, aktivitas yang dilakukan penyewa adalah :
- Melakukan kegiatan bisnis
- Menggunakan fasilitas penunjang yang ada di Hotel Bisnis ini 3. Kegiatan pengelola, aktivitas yang dilakukan pengelola adalah :
- Mengelola dan mengatur jalannya operasional bangunan - Melayani kebutuhan para pengunjung dan penyewa
- Persiapan peralatan dan tempat sebelum melangsungkan kegiatan bisnis
- Memberikan informasi singkat - Melakukan kegiatan administrasi
- Penyelenggaraan kegiatan penunjang (bisa bekerja sama dengan lembaga/perusahaan lain yang bersangkutan)
- Mengadakan publikasi atau pemasaran 4. Kegiatan servis, aktivitas yang dilakukan adalah :
- Membersihkan setiap ruangan
- Melakukan perawatan dan perbaikan terhadap bangunan dan peralatan-peralatan yang ada di dalamnya
- Mengurus loading dock - Mengurus utilitas bangunan - Menjaga keamanan
Fungsi Fasilitas Pengguna Kegiatan Kebutuhan Ruang Fasilitas
Penginapan
Kamar Hotel Pengelola Mengatur pemasukan dan
Karyawan Melayani pengunjung,
Pengunjung Menginap, membayar administrasi Fasilitas
Pertemuan
Ball Room Pengelola Mengatur jadwal acara, mengontrol,
Meeting Room Pengelola Mengatur jadwal, mengontrol,
Pengunjung Menghadiri rapat/ pertemuan
Hiburan dan Rekreasi
Restoran Pengelola Administrasi, mengontrol
R. Pengelola R. Karyawan Toilet Karyawan Melayani
pengunjung, servis`
Kasir Gudang Lounge Pengelola Administrasi,
mengontrol, isoma
R. Pengelola R. Karyawan Toilet Karyawan Melayani
pengunjung,
Pengunjung Makan/minum, duduk-duduk, memesan, bayar Fitness & Gym Karyawan Menyimpan
peralatan olahraga,
Pengunjung Berolahraga, ganti pakaian,
SPA Karyawan Membersihkan
ruangan, melayani
Toilet/shower
Administrasi, isoma R. Pimpinan R.wakil
Karyawan Admintrasi R. Manajer R. Sekretaris Bread Shop Karyawan Administrasi,
mengontrol, isoma
Kasir Ruang Saji Dapur Pengunjung Membeli roti Ruang Saji
Kasir Drug Store Karyawan Administrasi,
mengontrol, isoma Travel Agent Karyawan Administrasi,
melayanai pemesanan tiket mengontrol, isoma
Resepsionis
Pengunjung Memesan tiket Resepsionis
Toilet Umum Pengunjung, penyewa,
karyawan
Keamanan Petugas Menjaga keamanan, menindak kriminal, istirahat
Pos jaga
Utilitas Karyawan Mengawasi alat bekerja, Pergudangan Karyawan Mengontrol, servis,
administrasi
R. Bongkar muat Gudang utama House Keeping karyawan Mencuci dan
menjemur pakaian, menyiapkan dan menyimpan linen meyimpan peralatan kebersihan
Loundry washer & dryer
R. House keeping Gudang house
keeping Gudang linen R. Cleaning servis Parkir Pengelola,
karyawan
Parkir mobil dan motor
R. Parkir pengelola dan karyawan Pengunjung Parkir mobil dan
motor
R. Parkir pengunjung
2.4.2. Deskripsi Perilaku
1. Bersifat Statis
Perilaku pengguna bangunan lebih bersifat menetap pada satu tempat atau ruang. Kebiasaan pengguna ini merupakan kegiatan yang menjadi rutinitas atau sementara dengan intensitas waktu yang lebih lama dibandingkan aktifitas pengelola dan para pemilik retail sewa.
2. Bersifat Dinamis
Berbeda dengan prilaku bersifat statis, perilaku bersifat dinamis pengguna bangunannya lebih cenderung berpindah atau bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya dalam ruang lingkup bangunan, diantaranya aktifitas pengunjung dan perkantoran dengan menggunakan fasilitas yang disediakan pada bangunan.
Berdasarkan pola kegiatannya, pengguna bangunan dibagi atas 4, yaitu : 1. Kegiatan Pengunjung
2. Kegiatan Penghuni / Tamu Hotel
Datang
Parkir
Entrance Lobby/Pusat
Informasi
Entrance Lobby/Check
In/ADM
Diagram 2.1. Skema Perilaku Pengunjung Sumber : Pribadi
3. Kegiatan Pengelola dan Karyawan Hotel
4. Kegiatan Servis
2.4.3. Deskripsi Kebutuhan Ruang dan Besaran Ruang
Ruang Sub Ruang Unit / Standart (m2) Luas (m2)
Luas Total Sementara 5488
Sirkulasi 20% Luas 1097,6
Entrance Registrasi Bangunan Side
Entrance
Diagram 2.3. Skema Perilaku Pengelola dan Karyawan Hotel Sumber : Pribadi
Diagram 2.4. Skema Perilaku Karyawan Servis Sumber : Pribadi
Tabel 2.3. Program Ruang
R. Pengelola 7% R. Makan 6,3
Toilet / WC 12 8 x 6 m 48
Wastafel 4 0,45 1,8
Total Sementara 667,85
Sirkulasi 30% luas 200,355
Subtotal Luas Restaurant 868,205
Subtotal Luas Spa 154,68
Subtotal Luas Fitness Centre 355,68
Subtotal Luas Swimming Pool 354
Ballroom Ballroom 500 0,9 450
Gudang 1 20% Hall 99
Toilet 8 0,96 7,68
R. ME 1 20 20
Subtotal Ballroom 582,68
Meeting Room
R. Rapat 4 4 x 8 m 128
Meeting Pod 4 4 x 5,5 m 88
Total Luas Sementara 216
Sirkulasi 20% Luas 43,2
Subtotal Meeting Room 259,2
Mushollah
Sholat 100 1 100
Toilet / WC 2 8 x 6 m 96
Gudang 1 20% Mushollah 20
Subtotal Luas 216
Subtotal Luas 157,42
Subtotal Luas 68,5
Counter
R. Lift 6 9 54
R. Kontrol 1 16 16
Toilet 20 0,96 19,2
Subtotal Luas 343,2
Subtotal Luas 261,8
Subtotal Luas 130
2.4.4. Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang
Fungsi Kelompok Fungsi
Kebutuhan
Ruang Persyaratan
Hotel Utama Kamar tidur Ketinggian antara lantai dan plafond sesuai fungsi ruang
Jendela bertirai yang tidak tembus sinar dari luar
Harus kedap suara Penghawaan yang sesuai
Kamar mandi Tertutup dan tidak tembus pandang Penghawaan yang sesuai
Pencahayaan yang cukup Bersih
Kantor pengelola
Mudah dalam pencapaian Pencahayaan cukup Penghawaan yang sesuai
Lobby Lokasi strategis sehingga mudah ditemukan
Pencahayaan baik Penghawaan baik Cukup luas
Meja resepsion berukuran standart Ballroom Pencahayaan cukup dan sesuai
Ketinggian antara lantai dan plafond sesuai fungsi ruang
Tidak ada kolom penghalang di tengah ruang
Penghawaan yang tepat dan sesuai Suasana interior yang sesuai konsep
Tabel 2.4. Persyaratan dan Kriteria Ruang
Meeting room Pencahayaan cukup dan sesuai Ketinggian antara lantai dan plafond
sesuai fungsi ruang
Tidak ada kolom penghalang di tengah ruang
Penghawaan yang tepat dan sesuai Suasana interior yang sesuai konsep Restoran Memerlukan view yang bagus
Tidak banyak dibatasi oleh kolom bagian tengah bangunan
Kursi dan meja diklasifikasikan berdasarkan jumlah kursi (dua kursi, empat, dsb)
Material yang dipakai di dalam restaurant harus berdasarkan konsep yang diusung
Kenyamanan terjamin Penghawaan baik
Pencahayaan yang sesuai Kebersihan dan kerapian baik
Area parkir Kemudahan pencapaian dan sirkulasi
Menggunakan perkerasan yang aman Ukuran parkir untuk kendaraan
diklasifikasikan berdasarkan jenis kendaraan
Ukuran sesuai standard
Lounge bar Kursi dan meja diklasifikasikan berdasarkan jumlah kursi (dua kursi, empat, dsb)
yang diusung
Kenyamanan terjamin Penghawaan baik
Pencahayaan yang sesuai Kebersihan dan kerapian baik Tersedia berbagai jenis minuman Fitness & Gym Pencahayaan baik
Penghawaan baik
Luas ruang yang sesuai standard Lantai parquet, jalur jogging yang
terbuat dari blok beton Bread Shop Pencahayaan baik
Penghawaan baik Bersih
Drug Store Pencahayaan baik Penghawaan baik Bersih
Travel Agent Pencahayaan baik Penghawaan baik Bersih
Pelengkap Toilet/ rest room Ruangan cukup untuk pengunjung Tertutup dan tidak tembus pandang Penghawaan yang sesuai
Pencahayaan yang cukup Bersih
House keeping
& loundry
Pencahayaan yang baik Penghawaan baik
2.4.5. Studi Banding Arsitektur yang Mempunyai Fungsi Sejenis a. Berry Biz Hotel, Bali, Indonesia
Berry Biz Hotel merupakan hotel bisnis bintang tiga yang berlokasi di Jl. Sunset Road No 99, Legian Kaja, Denpasar, Area Kuta, Bali. Hotel yang baru saja beroperasi pada pertengahan tahun 2014 ini memiliki desain yang cantik dengan tema desain yang tak jauh-jauh dari dunia bisnis.
Lobby hotel didominasi warna putih dan warna biru. Di langit-langitnya, terlihat instalasi lampu-lampu yang bergantungan pada struktur bilah-bilah kawat.
Instalasi ini terlihat ―techno‖ dan menyerupai rasi bintang di langit malam. Gambar 2.2. Eksterior Fasad Berry Biz Hotel
Sumber : http://www.berrybizhotel.com/
Berry Biz Hotel menyediakan 90 kamar tamu yang terdiri dari beberapa tipe kamar, yaitu: 60 unit Superior Room, 10 Deluxe Room, dan dan 3 unit Berry Biz Suite. Selain itu, Berry Biz Hotel menyediakan 17 unit Female Only Room.
Kamar-kamar di Berry Biz Hotel ini dilengkapi dengan mural bergambar karikatur para tokoh bisnis terkenal lengkap dengan quotes-nya. Ada mural karikatur Steve Jobs, Anita Roddick, Dahlan Iskan, Warren Buffet, Hermawan Kertajaya, dan Tony Hsieh. Motivating quotes yang terpajang di samping gambar karikatur para tokoh bisnis itu bertujuan agar penghuni kamar menjadi lebih bersemangat. Bukan hanya memiliki desain yang unik, setiap kamar di Berry Biz Hotel pun memiliki fasilitas lengkap, antara lain: AC, bath amenities, coffee maker, hair dryer, TV kabel, safety deposit box, shower dengan air panas, wifi, dan working desk.
Superior Room Deluxe Room
Suite Room Female Room
Sebagai hotel bisnis, Berry Biz Hotel menyediakan berbagai fasilitas yang dapat mendukung kelancaran perjalanan bisnis. Berry Biz Hotel menyediakan stationery shop yang cukup lengkap. Berry Biz Hotel juga menyediakan lima
meeting pods dengan desain yang dinamis untuk berbagai keperluan meeting. Ada
Mind Works, Thought Bank, Think Hive, Idea Connection, dan Brain Buzz dengan
desain berwarna cerah ceria. Kelima tipe meeting room ini dapat menampung antara 6 – 10 orang. Berry Biz Hotel juga menyediakan Training Room dengan enam tipe yang dapat menampung antara 30 hingga 100 orang. Ada U-Shape, Class Room, Board Room, Theatre, Banquet Dinner, dan Double U-Shape.
b. Palace Hotel, Tokyo
Palace Hotel Tokyo adalah sebuah hotel mewah yang terletak di Marunouchi distrik bisnis Tokyo, Jepang. Hotel ini memiliki 290 kamar tamu dan fasilitas, termasuk 10 restoran dan bar, spa, pusat kebugaran, kolam renang, dan pusat bisnis.
Palace Hotel Tokyo terletak di 1-1-1 Marunouchi seberang Gerbang Otemon dari Istana Kekaisaran di Chiyoda ward di pusat kota Tokyo.
Palace Hotel Tokyo dimiliki oleh Palace Hotel Co Ltd, sebuah konsorsium pemegang saham swasta pertama kali dibentuk pada tahun 1961. Pendiri dan presiden pertama adalah perusahaan Masatomo Yoshihara.
Palace Hotel merupakan hotel baru yang sukses dari hotel sebelumnya yaitu Hotel Teito yang dibangun pada lokasi yang sama tahun 1947.
Tanah dan bangunan Hotel Teito dijual kepada sektor swasta pada tahun 1959 dan hotel dibangun kembali menjadi Palace Hotel, yang dibuka untuk bisnis pada tanggal 1 Oktober 1961. Palace Hotel dianugerahi Architectural Industry Association Prize Award pada tahun 1963 atas keberhasilannya mencampurkan gaya arsitektur modern dengan estetika Jepang.
Palace Hotel memiliki 278 kamar tamu dan 12 suite dengan interior yang mewah nyaman dan kontemporer.
Hotel ini memiliki beberapa restoran dan bar, ruang fungsi yang luas dan Evian Spa Jepang pertama yang menghadap pemandangan taman Imperial Palace dengan latar belakang langit sekitarnya. Sebagian besar kamar tamu memiliki balkon pribadi, ini sangat jarang di Tokyo.
Deluxe Room with balcony 1 king bed 45 sqm
Deluxe Room with balcony 2 twin beds 45 sqm
Club Deluxe room 1 king bed 45 sqm
Gambar 2.7. Deluxe Room 1 King Bed 45 sqm Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.8. Deluxe Room with balcony 1 King Bed 45 sqm Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Grand Dluxe room w/ balcony 1 king bed 55 sqm
Grand Deluxe room 2 twin beds 55 sqm
Club Deluxe room w/ balcony 1 king bed 45 sqm lounge access imperial palace view
Club Deluxe room w/ balcony 2 twin beds 45 sqm lounge access imperial palace view
Gambar 2.11. Grand Deluxe Room w/ Balcony 1 King Bed 55 sqm Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.12. Grand Deluxe Room 2 twin Bed 55 sqm http://en.palacehoteltokyo.com/
Club Grand Deluxe room w/out balcony 2 twin 55 sqm lounge access imperial palace view
Chiyoda Suite w/ balcony double bed 80 sqm club lounge access, imperial palace view
Park Suite w/ balcony 2 twin 120 sqm club lounge access incl comp breakfast
Gambar 2.14. Club Deluxe room w/ balcony 2 twin beds 45 sqm lounge access imperial palace view
Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.15. Club Grand Deluxe room w/out balcony 2 twin 55 sqm lounge access imperial palace view
Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.16. Chiyoda Suite w/ balcony double bed 80 sqm club lounge access, imperial palace view
Terrace Park Suite w/ balcony 120 sqm club lounge access, imperial palace view
Palace Suite w/ balcony 1 king bed 210 sqm lounge access imperial palace view
Garden suite w/ balcony 1 king bed 75 sqm club lounge access, imperial palace view
Gambar 2.17. Park Suite w/ balcony 2 twin 120 sqm club lounge access incl comp breakfast
Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.18. Terrace Park Suite w/ balcony 120 sqm club lounge access, imperial palace view
Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.19. Palace Suite w/ balcony 1 king bed 210 sqm lounge access imperial palace view
Executive Suite w/ balcony 1 king 75 sqm club lounge access, imperial palace view
Club Grand Deluxe Room w/ balcony 1 king 55 sqm lounge access imperial palace view
Gambar 2.20. Garden suite w/ balcony 1 king bed 75 sqm club lounge access, imperial palace view
Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.21. Executive Suite w/ balcony 1 king 75 sqm club lounge access, imperial palace view
Sumber : http://en.palacehoteltokyo.com/
Gambar 2.22. Club Grand Deluxe Room w/ balcony 1 king 55 sqm lounge access imperial palace view
2.5. Elaborasi Tema 2.5.1. Pengertian Tema
Pendekatan tema perancangan hotel bisnis ini ialah tema arsitektur hemat energi. Pengertian arsitektur hemat energi akan diuraikan sebagai berikut:
a. Pengertian Arsitektur
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arsitektur diartikan sebagai seni bangunan dan gaya bangunan. Arsitektur merupakan metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan. Arsitektur adalah seni dan keteknikan bangunan yang digunakan untuk memenuhi keinginan praktis dan ekspresif dari manusia-manusia beradab.
Arsitektur adalah seni yang dilakukan pleh setiap individu untuk mengimajinasikan diri mereka dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan. Arsitektur juga merujuk kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut. (wikipedia.org)
b. Pengertian Hemat Energi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hematberarti berhati-hati; tidak boros; cermat.
Energi berarti daya (kekuatan) yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan, misal dapat merupakan bagian suatu bahan atau tidak terikat pada bahan (seperti sinar matahari); tenaga.
c. Arsitektur Hemat Energi
Dari penjabaran pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian arsitektur hemat energi adalah suatu seni merancang bangunan dengan berhati-hati dan cermat dalam menggunakan energi.
Menurut Jimmy Priatman, staf pengajar Fakultas Teknik dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra, Arsitektur Hemat Energi adalah
―Arsitektur yang berlandaskan pada pemikiran ‗meminimalkan penggunaan
produktivitas penghuninya‘ dengan memanfaatkan sains dan teknologi
mutakhir secara aktif.‖
2.5.2. Interpretasi Tema
Penerapan Efesiensi energi pada arsitektur melalui pendekatan perancangan yang dapat dibagi dua, yaitu:
Perancangan Pasif
Perancangan pasif merupakan cara penghematan energi melalui pemanfaatan energi matahari secara pasif, yaitu tanpa mengonversikan energi matahari menjadi energi listrik. Rancangan pasif lebih bagaimana rancangan bangunan dengan sendirinya mampu dan dapat mengantisipasi iklim luar. Perancangan pasif di wilayah tropis basah seperti Indonesia umumnya dilakukan untuk mengupayakan bagaimana pemanasan bangunan karena radiasi matahari dapat dicegah, tanpa harus mengorbankan kebutuhan penerangan alami. Perancangan Aktif.
Perancangan aktif bersifat tambahan. Pengertian perancangan aktif adalah salah cara penghematan energi dengan bantuan alat-alat teknolgi yang dapat mengontrol, mengurangi pemakaian, atau menghasilkan energi baru. Dalam rancangan aktif, energi matahari dikonversi menjadi energi listrik sel solar, kemudian energi listrik inilah yang digunakan memenuhi kebutuhan bangunan. Dalam perancangan secara aktif, harus menerapkan strategi perancangan secara pasif. Tanpa penerapan strategi perancangan pasif, penggunaan energi dalam bangunan akan tetap tinggi apabila tingkat kenyamanan termal dan visual harus dicapai.
2.5.3. Keterkaitan Tema Dengan Judul
hotel adalah chiller yang kelebihan kapasitas. Artinya, ada pemborosan investasi karena chiller dirancang lebih tinggi dari kebutuhan gedung tersebut. Hal yang sama juga ditemukan pada sistem penerangan dan termal.
Dari kenyataan tersebut maka sudah seharusnya diperlukan kesadaran untuk memeperhatikan pembangunan yang sifatnya keberlanjutan yaitu salah satunya dengan cara menghemat pemakaian energi khususnya energi listrik.
2.5.4. Studi Banding Tema Sejenis
a. MEWC (Ministry of Energy, Water & Communication) Building
- Lokasi : Malaysia
- Pengembang : Putrajaya Holding Sdn. Bhd (PJH) - Kontraktor D & B : Putra Perdana Construction Sdn. Bhd. - Arsitek : SNO Architects Sdn Bhd
- Konsultan EE Design : Danish International Development Agency - Biaya Dasar Bangunan : RM 50 Juta
- Masa Konstruksi : Maret 2002 - September 2004 - Jumlah Lantai : 6
- Luas Lantai Kotor : 38.606 m2 - Luas Parkir Mobil : 8.602 m2 - Luas Lantai Dikondisikan : 19.237 m2 - Luas Kantor Dikondisikan : 17.280 m2
- Penghargaan : 1st prize 2006 Asean Energy Efficient Buildings Best Practices Competition (new and existing category)
- Elemen Desain Pasif : Orientasi Bangunan, Selubung Bangunan, Ventilasi Udara Alami, Desain Layout Interior - Elemen Aktif : AC & Ventilasi Mekanis, Sistem Pencahayaan
Inovatif, Peralatan kantor yang hemat energi, Sistem Manajemen Energi yang Komprehensif
Elemen Desain Pasif : 1. Orientasi Bangunan
(a) (b)
(c) (d)
- Sebagian besar jendela menghadap ke Utara dan Selatan. - Sesedikit mungkin jendela menghadap ke Timur dan Barat.
Dengan demikian :
Mengurangi intensitas sinar matahari langsung yang masuk ke bangunan (karena matahari terbit di Timur dan tenggelam di Barat) Meminimalkan perolehan panas dari sinar matahari
Mengurangi beban pendinginan.
2. Jendela Punch Hole dengan Light Shelves
- Kedalamannya bergantung pada posisi hadap jendela (pada dinding yang menghadap ke timur—100mm, Utara & Selatan— 600mm).
- Memiliki efek pembayangan yang lebih baik—mendifusikan lebih banyak sinar matahari ke dalam bangunan.
- Memungkinkan cahaya merambat lebih jauh ke dalam bangunan.
Gambar 2.25. Fasad Utara MEWC Building (a), Fasad Selatan MEWC Building (b), Fasad Timur MEWC Building (c), Fasad Barat MEWC Building
Sumber : KETTHA Building
3. Ventilasi dan cahaya alami dalam atrium
- Ventilasi alami yang dibantu dengan cerobong matahari. Tidak memerlukan AC.
- Memasukkan cahaya lebih jauh ke dalam inti bangunan.
- Internal landscaping dan cahaya siang hari membantu menciptakan suasana alami.
- Dinding bagian dalam cerobong dicat warna hitam sehingga memaksimalkan penyerapan panas dari sinar matahari langsung.
- Udara panas akan naik dan keluar melalui cerobong akibat adanya perbedaan tekanan.
- Udara di dalam atrium akan mengalir menuju cerobong untuk menggantikan udara panas yang keluas dan dengan demikian akan menciptakan aliran udara (ventilasi alami)
Pencahayaan Alami :
- Skylight pada atrium memungkinkan cahaya alami pada siang hari untuk masuk lebih jauh ke dalam bangunan.
- Kanopi warna putih yang dikendalikan secara otomatis akan membayangi atrium dari sinar matahari langsung pada tengah hari.
- Kipas mekanis tambahan yang beroperasi secara otomatis untuk memberikan ventilasi yang cukup pada daerah atrium ketika langit mendung.
4. Desain Layout Ruang Interior yang memaksimalkan penetrasi cahaya matahari
Elemen Desain Aktif :
1. Partisi Ruang Interior
Gambar 2.28. Ventilasi Alami dengan Thermal Flue / Chimney Effect Sumber : KETTHA Building
Gambar 2.29. Desain Layout Interior MEWC Building Sumber : KETTHA Building
Perencanaan ruang interior yang baik akan memaksimalkan penetrasi cahaya siang ke dalam ruang dalam. Kantor-kantor yang terletak di keliling bangunan memiliki partisi interior yang diglazur untuk meneruskan cahaya ke dalam area yang lebih dalam. Dengan demikian, kebutuhan pencahayaan buatan bagi koridor dapat berkurang.
Pemandangan ke luar dan cahaya siang hari dapat diakses oleh semua staf dengan cara mendesain area terbuka di beberapa titik di sekeliling bangunan. Interior yang berwarna muda juga akan membantu menerangi bagian dalam bangunan.
2. Sistem Pencahayaan yang Hemat Energi
- Dua sistem sirkuit pencahayaan (pada ruang yang dekat dengan fasad bangunan) dikendalikan oleh Occupancy sensor dan Photo sensor.
- Sistem yang terintegrasi dengan Building Energy Management System.
- Perletakan lampu yang hemat energi (HF electronic ballasts). - Mendesain tingkat luminansi pada kantor sebesar 350 lux. 3. Peralatan Kantor yang Hemat Energi
- Membutuhkan lebih sedikit listrik
- Menghasilkan lebih sedikit panas dan otomatis mengurangi beban pendinginan pada sistem pengudaraan.
- Penggunaan peralatan kantor yang hemat energi diperkirakan dapat mengurangi konsumsi energi sebesar 11,5 W/m2 -- 20 W/m2.
Kesimpulan :
Penggunaan teknologi baru dan fitur hemat energi dapat mengurangi konsumsi energi dalam bangunan
Desain bangunan yang terintegrasi meningkatkan performa energi bangunan Perlu pengawasan yang teliti setelah bangunan dioperasikan untuk mencapai
penghematan energi yang optimal
Prinsip-prinsip dari setiap elemen aktif dan pasif harus dipahami sepenuhnya untuk menghindari aplikasi yang salah.
Tahap pengoperasian dan perawatan memiliki peran penting dalam pencapaian target hemat energi pada bangunan.