• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN DETEKSI DINI STROKE DENGAN METODE SEGERA KE RS BAGI WARGA MUHAMMADIYAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELATIHAN DETEKSI DINI STROKE DENGAN METODE SEGERA KE RS BAGI WARGA MUHAMMADIYAH"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

76

PELATIHAN DETEKSI DINI STROKE DENGAN METODE SEGERA KE RS

BAGI WARGA MUHAMMADIYAH

STROKE EARLY DETECTION TRAINING APPLIED “SEGERA KE RS” METHOD FOR THE MEMBERS OF MUHAMMADIYAH

1)Sodikin, 2)Asiandi, 3)Supriyadi

1)Program Studi Ilmu Keperawatan DIII, 2,3) Program Studi Ilmu Keperawatan S1, Fakultas Ilmu Kesehatan,

Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. Supardjo Rustam KM. 7, Sokaraja 53181

E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Tujuan: kegiatan ini merupakan salah satu upaya promotif serta preventif dalam menurunkan prevalensi stroke. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan kemampuan melakukan deteksi dini dari serangan penyakit sroke. Metode: Program ipteks bagi masyarakat ini dilakukan dengan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab simulasi/demonstrasi terkait dengan cara melakukan deteksi dini stroke. Alat evaluasi keberhasilan program ini dilakukan dengan melihat skor pengetahuan dan kemampuan detesksi dini stroke ”SEGERA KE RS” pre dan post test dari edukasi dan pelatihan.

Hasil: Berdasar uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan variabel pengetahuan tentang stroke berdistribusi normal, p = 0,173 sehingga analisis menggunakan uji t paired. Sedangkan variabel pengetahuan tentang deteksi dini stroke menggunakan slogan ”SEGERA KE RS” tidak berdistribusi normal, p <0,001 sehingga analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks. Berdasarkan hasil program ipteks bagi masyarakat menunjukkan skor rata-rata pengetahuan peserta IbM tentang stroke sebelum pelatihan adalah 89 (dengan skor minimum-maksimum adalah 80-100) dan setelah pelatihan adalah 93,50 (dengan skor minimum-maksimum adalah 70-100). Skor rata-rata pengetahuan tentang deteksi dini stroke dengan slogan ”SEGERA KE RS” sebelum pelatihan adalah 73,20 (dengan skor minimum-maksimum adalah 0-100) dan sesudah pelatihan adalah 96,85 (dengan skor maksimum-minimum adalah 67-100). Sedangkan berdasarkan analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan pada pengetahuan tentang stroke antara sebelum dan sesudah pelatihan, t(df) = -1,917(19), p = 0,070, r = 0,40; untuk pengetahuan tentang deteksi dini dengan menggunakan slogan ”SEGERA KE RS” menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pelatihan, z = -2,238, p = 0,025, r = -0,50.

Kesimpulan: berdasarkan analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pengetahuan tentang deteksi dini stroke dengan slogan ”SEGERA KE RS” sebelum dan sesudah pelatihan.

Kata Kunci: deteksi, stroke, segera, rs

ABSTRACT

Outcome: this activity was one of the promote and preventive efforts to reduce the prevalence of stroke. The purpose of

this activity is to increase knowledge and ability to do early detection of stroke.

Method: This IbM program was carried out by lectures, discussions and simulation/demonstration, and questions and

answers method related to early detection of stroke. The tool for evaluating the achievements in this program was carried out by looking at the score of knowledge and ability for early detection of stroke "SEGERA KE RS" (immediately to hospital) pre and post-test of education and training.

Result: Based on the normality test using the Kolmogorov-Smirnov test, it was showed that the knowledge variable about

stroke was normally distributed, p = 0.173, so the analysis was used the paired t test. While the knowledge variable about early detection of stroke using the slogan "SEGERA KE RS" was not normally distributed, p <0.001, so the analysis was used the Wilcoxon Signed Ranks test. Based on the results of the IbM program, the average score of IbM participants' knowledge of stroke before training was 89 (with a minimum to maximum score was 80 to 100) and after training was 93.50 (with a minimum to maximum score was 70 to 100). The mean score of knowledge about early detection of stroke with the slogan "SEGERA KE RS" before training was 73.20 (with a minimum to maximum score was 0 to 100) and after training was 96.85 (with a maximum to minimum score was 67 to 100). Meanwhile, based on the analysis, there was no significant difference in knowledge about stroke between before and after training, however, it was showed that the training effect was moderate, t(df) = -1.917(19), p = 0.070, r = 0.40; for knowledge about early detection using the slogan "SEGERA KE RS" was showed that there was a significant difference between before and after training with a large training effect, z = -2.238, p = 0.025, r = -0.50. This training was showed no significant results on

(2)

77

participants' knowledge of stroke. This was caused by the participants' knowledge about stroke was homogeneously very good. However, the participants' knowledge of early detection of stroke using the slogan "SEGERA KE RS" was showed a significant difference. Thus, we recommend the importance of disseminating the slogan “SEGERA KE RS" to increase public awareness of early detection in preventing stroke.

Keywords: early detection, stroke, segera ke rs PENDAHULUAN

Meningkatnya kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) secara signifikan akan menambah beban masyarakat dan pemerintah, karena penanganannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar, biaya yang besar dan teknologi tinggi. Kasus PTM memang tidak ditularkan namun mematikan dan mengakibatkan individu menjadi tidak atau kurang produktif namun PTM dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko melalui deteksi dini. Dalam menurunkan kasus PTM melalui pengendalian faktor risiko PTM di masyarakat maka diperlukan upaya dan pemahaman yang sama terhadap pembagian peran dan dukungan manajemen program pengendalian PTM. Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pada indikator-indikator kunci PTM yang tercantum dalam RPJMN 2015-2019. Salah satu jenis penyakit yang termasuk PTM adalah stroke. Stroke adalah kejadian sakit tiba-tiba yang ditandai dengan adanya lumpuh pada sebagian sisi tubuh, bicara pelo dan dapat disertai turunnya kesadaran yang di sebabkan oleh gangguan peredaran darah ke otak akibat sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak (Riskesdas, 2018).

Stroke menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia untuk kategori penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kecacatan nomor satu di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas (2018) prevalensi stroke pada penduduk umur ≥ 15 tahun meningkat dari 7 menjadi 10,9 per mil. Prevalensi stroke di Jawa Tengah masih menunjukkan angka di atas angka prevalensi tersebut. Berdasarkan laporan World Stroke Organization dilaporkan, bahwa 17 juta kasus stroke, 6,5 juta mengalami kematian dan 26 juta sebagai penyintas. Lebih dari 67,5 juta orang mengalami stroke iskemik baru pada tahun 2016 dan lebih dari 2,7 juta orang meninggal karena stroke iskemik setiap tahunnya. Demikian pula, lebih 15 juta orang di dunia hidup dengan pengaruh stroke perdarahan dan 51% dari semua kematian adalah disebabkan stroke perdarahan (Lindsay et al., 2019). Menurut America Heart Asociation bahwa 1 dari 6 orang didunia akan mengalami stroke, setiap 2 detik seseorang didunia akan mengalami stroke, dan 80% terjadi stroke ulangan akibat sumbatan yang sebenarnya dapat dicegah. Laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menunjukkan pada tahun 2018 serta 2019 menunjukkan peningkatan prevalensi stroke secara bermakna dimana pada tahun 2018 sebanyak 1905 kasus dan tahun 2019 dilaporkan sebanyak 3001 kasus (DKK Kabupaten Banyumas, 2020). Peningkatan kasus PTM secara signifikan diperkirakan akan menambah beban masyarakat dan juga pemerintah, karena penangannya membutuhkan biaya besar dan memerlukan dukungan teknologi tinggi. Hal ini dapat terlihat dari data yang dilaporkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) tahun 2017 sebesar 10.801.787 juta orang (5,7% peserta JKN) yang mendapat pelayanan untuk penyakit katastropik. Biaya yang telah dihabiskan sebesar 14,6 triliun rupiah (21,8%) dari seluruh biaya pelayanan kesehatan (P2PTM, 2019). Dalam upaya Pencegahan dan Pengendalian PTM di Indonesia maka perlu di kelola dengan baik sehingga dipandang perlu untuk melibatkan berbagai pihak dilapisan masyarakat. Termasuk dalam hal ini adalah pengurus, warga, dan simpatisan Muhammadiyah khususnya di Ranting Muhammadiyah Pekuncen Cabang Pekuncen. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah selain sebagai bentuk pengabdian Fikes UMP Prodi Keperawatan DIII kepada masyarakat juga untuk memperoleh gambaran risiko stroke melalui pemeriksaan dini risiko stroke dan meningkatkan pemahaman masyarakat awam di wilayah PRM Ranting Muhammadiyah Pekuncen tentang pencegahan stroke sedini mungkin.

Alat penilaian sederhana untuk stroke adalah “SEGERA KE RS”, yang merupakan kepanjangan dari Senyum tidak simetris. Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba, BicaRa pelo atau tiba-tiba tidak dapat bicara atau tidak mengerti kata-kata/bicara. Kebas atau baal. Rabun. Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan gangguan fungsi keseimbangan. Jangan menganggap remeh bila merasakan gejala atau tanda tanda terserang stroke seperti diatas, jangan tunggu sampai menjadi parah segera berobat ke rumah sakit. Anjuran ini juga untuk keluarga atau teman yang kebetulan menjumpai saudaranya/temannya menunjukan gejala dan tanda tersebut segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan secepat mungkin, karena ada periode emas penanganan stroke agar penderita tertolong dan mengurangi risiko kematian atau kecacatan menetap/permanen.

(3)

78 METODE

Upaya untuk mencapai tujuan dan manfaat yang ditargetkan maka dilakukan dengan pendekatan metode dalam bentuk kegiatan berikut ini: (a) Persiapan untuk melaksanakan kegiatan penyuluhan dan pelatihan, koordinasi kerja denga mitra; (b) Kegiatan penyamaan persepsi (apresepsi) dan pre tes; (c) Mengadakan kegiatan penyuluhan cara melakukan deteksi dini stroke dengan metode ”SEGERA KE RS” pada pengurus

ranting, anggota, dan simpatisan Muhammdiyah di Ranting Pekuncen; (d) Mendemontrasikan metode deteksi dini untuk stroke dengan melibatan Pengurus ranting, anggota, dan simpatisan Muhammadiyah Ranting Pekuncen; (e) Mengadakan sesi tanya jawab atau sesi diskusi setelah kegiatan penyuluhan; dan (f) Melakukan evualsi program.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelaksanaan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) ini dilaksanakan di wilayah Pengurus Ranting

Muhammadiyah (PRM) Pekuncen bulan Juni-Agustus 2020 (Gambar 1). Hasil uji normalitas menggunakan

uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan variabel pengetahuan tentang stroke berdistribusi normal, p = 0,173 sehingga analisis menggunakan uji t paired. Sedangkan variabel pengetahuan tentang deteksi dini stroke menggunakan slogan ”SEGERA KE RS” tidak berdistribusi normal, p <0,001 sehingga analisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks. Hasil pelaksanaan IbM selanjutnya dapat dilihat pada uraian di bawah ini.

Gambar 1. Foto kegiatan sosialisasi deteksi dini stroke dengan metode ”SEGERA KE RS”

Tabel 1. Karakteristik peserta ipteks bagi masyarakat

Karakteristik n (%) Usia (tahun), M (SD) 45,20 (13,00) Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 9 (45,00) 11 (55,00) Pendidikan SMA Sarjana Doktoral 8 (40,00) 11 (55,00) 1 (5,00)

Berdasarkan tabel 1 di atas karakteristik peserta IbM menunjukkan rata-rata berusia 45,20 tahun (SD: 13,00 tahun), dengan rentang usia antara 25-69 tahun. Mayoritas peserta adalah perempuan sejumlah 11 orang (55,00%) dan terbanyak berpendidikan sarjana sejumlah 11 orang (55,00%).

(4)

79

Tabel 2. Rata-rata pengetahuan peserta ipteks bagi masyarakat tentang stroke dan deteksi dini stroke dengan

slogan ”SEGERA KE RS” sebelum dan sesudah pelatihan

Variabel

N

Sebelum Sesudah

M SD Min. Maks. M SD Min. Maks.

Pengetahuan 20 89,00 7,88 80,00 100 93,50 8,13 70,00 100 Deteksi dini 20 73,20 42,31 0,00 100 96,85 8,55 67,00 100

Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan skor rata-rata pengetahuan peserta IbM tentang stroke sebelum pelatihan adalah 89 (dengan skor minimum-maksimum adalah 80-100) dan setelah pelatihan adalah 93,50 (dengan skor minimum-maksimum adalah 70-100). Skor rata-rata pengetahuan tentang deteksi dini stroke

dengan slogan ”SEGERA KE RS” sebelum pelatihan adalah 73,20 (dengan skor minimum-maksimum adalah

0-100) dan sesudah pelatihan adalah 96,85 (dengan skor maksimum-minimum adalah 67-100).

Tabel 3. Perbedaan rata-rata pengetahuan peserta ipteks bagi masyarakat tentang stroke antara sebelum dan sesudah pelatihan

Perbedaan t(df) P r

M SD

Pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan

-4,50 10,50 -1,917(19) 0,070 0,40

Berdasarkan tabel 3 di atas menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan pada pengetahuan tentang stroke antara sebelum dan sesudah pelatihan, t(df) = -1,917(19), p = 0,070, r = 0,40. Meskipun analisis statistik menunjukan tidak adanya perbedaan yang signifikan, efek pelatihan ini menunjukkan efek sedang (Cohen, 1988).

Tabel 4. Perbedaan rata-rata pengetahuan tentang deteksi dini stroke menggunakan slogan”SEGERA KE RS

z p r

Nilai sebelum dan

sesudah ”SEGERA KE RS

-2,238 0,025 -0,50

Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada pengetahuan tentang deteksi dini stroke menggunakan slogan ”SEGERA KE RS” antara sebelum dan sesudah pelatihan, z = -2,238,

p = 0,025, r = -0,50.

Perhitungan effect size pada uji t paired menggunakan rumus: 𝑟 = √ 𝑡2

𝑡2+𝑑𝑓

di mana, r adalah effect size, t adalah nilai t, pada pelatihan ini nilai t = -1,917, df adalah derajat kebebasan, df

= 19. Sehingga effect size dari pengetahuan tentang stroke setelah pelatihan ini, r = 0,40, menujukkan efek sedang (Cohen, 1988).

Perhitungan effect size pada uji Wilcoxon signed ranks menggunakan rumus: 𝑟 = 𝑧

√𝑁

di mana, r adalah effect size, z adalah nilai z, pada pelatihan ini nilai z = -2,238, N adalah sampel total, N = 20. Sehingga effect size pengetahuan deteksi dini stroke menggunakan slogan “SEGERA KE RS”, r = -0,50, menunjukkan efek besar (Cohen, 1988).

Hasil pelatihan terhadap 20 peserta (usia rata-rata 42,2±13,0 tahun) ini menunjukkan bahwa pengetahuan peserta pelatihan tentang stroke sebelum pelatihan sudah menunjukkan pengetahuan sangat baik dengan skor rata-rata sebelum pelatihan adalah 89 dan skor sesudah pelatihan adalah 93,50, sehingga secara statistik tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan efek pelatihan yang sedang (r = 0,40). Pengetahuan tentang gejala awal stroke paling dipengaruhi informasi sebelumnya tentang stroke (p = 0,012) dan latar belakang pendidikan (p <0,001) (Rachmawati et al., 2020). Sejalan pula dengan survei cross-sectional Naguib et al. (2020) terhadap 600 partisipan di Mesir pada dewasa muda (usia rata-rata 27,7±11,5 tahun), menunjukkan terbanyak (59,3%) dapat menyebutkan 5 atau lebih faktor risiko stroke, 68,3% dapat mengidentifikasi sedikitnya 3 tanda peringatan stroke, sedangkan 9,5% tidak dapat mengidentifikasi tanda peringatan stroke.

Partisipan pada pelatihan ini terbanyak berpendidikan sarjana (55%). Meskipun kami tidak melakukan penyelidikan terhadap implikasi langsung dari tingkat pendidikan pada pelatihan ini, tingkat pendidikan

(5)

80

tampak berpengaruh terhadap pengetahuan dan tindakan yang akan dilakukan partisipan. Hasil penelitian Rachmawati et al. (2020) membuktikan bahwa latar belakang pendidikan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap pengetahuan pada risiko stroke (p <0,001). Naguib et al. (2020) mengidentifikasi lebih dari 70% yang ingin menelepon ambulans dalam 3 jam, mereka berusia lebih muda (76,1%), terutama adalah pelajar (45,4%) dan mampu mengidentifikasi sedikitnya 5 faktor risiko (64,5%) dan 3 tanda peringatan stroke (74,1%). Hasil penelitian Komolafe et al. (2015) di Nigeria juga mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin tinggi pula kemampuan dalam kesadaran terhadap faktor risiko dan tanda peringatan stroke. Tingkat pendidikan sarjana dan paska sarjana lebih menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mengenali faktor risiko dan tanda peringatan (warning signs) stroke jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan SMA dan SMP. Penelitian Hickey et al. (2018) terhadap 1010 responden dewasa (18+) di Irlandia yang dipilih secara acak dan mengisi the Stroke Awareness Questionnaire tentang pengetahuan terhadap tanda peringatan, faktor-faktor risiko dan respons terhadap stroke menunjukkan hasil lebih dari dua pertiga (67%) responden mampu mengidentifikasi dengan benar dua atau lebih tanda peringatan stroke dan mayoritas partisipan (70%) mampu menyebutkan dua atau lebih faktor risiko stroke dengan benar dan hanya 14% partisipan yang tidak bisa mengidentifikasi satu pun faktor risiko stroke. Jika mengalami tanda stroke, peserta gelombang 2 menunjukkan peningkatan untuk merespons dengan menelepon ambulans (OR 1,5, p

<0,001), 57,2% dibandingkan dengan 47,1% pada gelombang 1.

Pelatihan ini menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada pengetahuan peserta tentang deteksi dini stroke menggunakan slogan “SEGERA KE RS” antara sebelum dan sesudah pelatihan. Frase atau slogan ”SEGERA KE RS” adalah kependekan dari Senyum tidak simetris, Gerak separuh anggota tubuh melemah tiba-tiba, BicaRa pelo atau tiba-tiba tidak dapat bicara atau tidak mengerti kata-kata/pembicaraan, Kebas atau baal, Rabun, dan Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan gangguan fungsi keseimbangan(Sriwahyuni & Sulistyowati, 2018). Frase “SEGERA KE RS” yang digunakan pada pelatihan ini serupa dengan kampanye FAST yang dilakukan di beberapa negara lain (Hickey et al., 2018; Kleindorfer et al., 2007; Kothari et al., 1999; Trobbiani et al., 2013). Trobbiani et al. (2013) membandingkan dampak setelah kampanye tanda peringatan stroke di Inggris (menggunakan pesan FAST), Kanada (menggunakan istilah SUDDENS yang berfokus pada onset tiba-tiba [sudden onset] dari lima tanda stroke), dan Australia (menggunakan pesan

FAST). Survei paska kampanye terhadap 400 orang di Australia, 1921 orang di Inggris, dan 2.703 orang di

Kanada menunjukkan 68% di Australia vs. 57% di Kanada dapat menyebutkan dua atau lebih tanda stroke, p

<0,001. Pengetahuan tentang masing-masing elemen kampanye (face, arm, speech, time) signifikan lebih tinggi di Inggris dibandingkan Australia, p <0,001 untuk setiap item. Partisipan melaporkan akan menelepon layanan emergensi jika terjadi stroke (97% di Inggris, 90% di Australia, dan 67% di Kanada). Di Indonesia penyuluhan FAST dilakukan Alfira (2019) untuk mengetahui pengetahuan perawat dalam deteksi dini stroke. Pelatihan IbM ini menunjukkan peningkatan skor rata-rata yang signifikan pada pengetahuan tentang deteksi dini stroke menggunakan slogan “SEGERA KE RS”; peningkatan skor rata-rata pengetahuan

meningkat secara bermakna dari skor minimal 0 (nol) menjadi skor minimal 67 setelah pelatihan.

Hasil pelatihan ini didukung oleh hasil penelitian Hickey et al. (2018) yang menunjukkan ada peningkatan pada pengetahuan terhadap tanda peringatan stroke antara kampanye FAST (Face, Arm, Speech, Time) gelombang 1 dan gelombang 2. Terjadi peningkatan dalam mengenali tanda peringatan stroke antara gelombang 2 dibandingkan dengan gelombang 1, yaitu: kelemahan wajah/wajah terjatuh, meningkat 8 kali lipat (OR 8,3, p <0,001); bicara cadel, meningkat 4 kali lipat (OR 4,1, p <0,001); tidak bisa menggunakan kaki, meningkat 5 kali lipat (OR 5,2, p <0,001); face, arm, speech, time (FAST), meningkat 3 kali lipat (OR

2,9, p <0,001); kelemahan pada satu sisi tubuh, meningkat hampir 2 kali lipat (OR 1,6, p <0,001); dan tidak bisa mengidentifikasi tanda peringatan stroke menunjukkan penurunan (OR 0,15, p <0,001). FAST adalah kampanye yang mirip dengan slogan “SEGERA KE RS”, merupakan suatu jembatan keledai (mnemonic) untuk mengenali tanda peringatan stroke terdiri dari: F = face, wajah mati rasa atau kelemahan wajah terutama satu sisi; A = arm, lengan mati rasa atau kelemahan lengan satu sisi tubuh; S = speech, bicara cadel atau kesulitan berbicara dan memahami; T = time, saatnya untuk menelpon layanan gawat darurat jika hal-hal tersebut terjadi tiba-tiba atau disertai dengan hilang penglihatan, hilang keseimbangan disertai pusing atau memburuknya sakit kepala dengan penyebab yang tidak diketahui terjadi secara tiba-tiba dan berat (Kleindorfer et al., 2007). FAST dikembangkan mengacu pada the Cincinnati Prehospital Stroke Scale (CPSS) (Kothari et al., 1999).

Kampanye FAST menyebabkan adanya perubahan yang signifikan pada kunjungan pasien ke IGD

(6)

81

Presentasi IGD terkait FAST dalam 3,5 jam berhubungan dengan aktivasi pelayanan medis kedaruratan (OR

3,1, p <0,001) dan rujukan mandiri (self-referral) ke IGD (OR 2,67, p <0,001) (Mellon et al., 2014).

Pelatihan ini membuktikan adanya efek pelatihan yang besar (r = -0,50) dalam meningkatkan pengetahuan deteksi dini stroke dengan slogan “SEGERA KE RS”. Agar efek dari pelatihan ini dapat terus

dipertahankan, maka diperlukan upaya berkelanjutan dalam bentuk kampanye atau iklan. Meskipun kampanye atau iklan sendiri sebenarnya juga belum tentu memberikan dampak untuk jangka panjang (Mellon et al., 2014). Kampanye selama empat tahun (2005-2009) di Republik Czech misalnya, menunjukkan tidak adanya peningkatan pengetahuan tentang faktor risiko stroke atau tanda peringatan stroke (Mikulík et al., 2011), namun upaya pelatihan atau kampanye tetap perlu terus digalakkan mengingat beberapa penelitian lainnya menujukkan efektivitas upaya kampanye faktor risiko stroke atau tanda peringatan stroke. Di Amerika Serikat, setelah implementasi kampanye pendidikan masyarakat selama 20 minggu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tanda peringatan stroke dan kebutuhan untuk menelepon 911, menunjukkan adanya peningkatan kesadaran yang signifikan terhadap dua atau lebih tanda peringatan stroke dari waktu awal sampai waktu tindak lanjut pada daerah intervensi (73%-82%) tetapi tidak pada daerah pembanding (68%-69%) (Fogle et al., 2010). Penelitian lebih awal yang dilakukan Silver et al. (2003) untuk menentukan keefektivan kampanye media masa dengan menyebutkan ≥ 2 tanda peringatan stroke juga menunjukkan bahwa komunitas yang terpapar iklan televisi meningkat kemampuannya secara signifikan. Tidak ada perubahan signifikan pada komunitas yang menerima iklan cetak (koran) dan iklan televisi meningkatkan pengetahuan pria dan wanita dan orang dengan pendidikan SMA ke bawah (usia muda), tetapi tidak pada usia ≥65 tahun. Selain itu, efektivitas kampanye kesadaran stroke dipengaruhi oleh beberapa prediktor. Orang dengan faktor risiko stroke termasuk penyakit jantung dan obesitas menunjukkan responsif terhadap informasi tentang stroke, tetapi perokok menunjukkan penurunan responsivitas sehingga perlu menjadi target kampanye kesadaran stroke (Sobotková et al., 2014). Mengingat Indonesia adalah negara dengan prevalensi perokok tembakau yang tinggi (Venketasubramanian et al., 2017), maka menjadikan perokok sebagai target kampanye kesadaran stroke menjadi sangat relevan.

Pelatihan ini memiliki beberapa kelemahan yang bermakna. Pelatihan ini dilakukan hanya pada sejumlah 20 partisipan, sehingga simpulan dari hasil pelatihan ini tidak dapat digeneralisasikan. Untuk mendapatkan hasil yang representatif, maka pada pelatihan atau kampanye faktor risiko stroke atau deteksi tanda peringatan stroke yang akan datang perlu meningkatkan jumlah partisipan yang lebih besar dari beberapa pengurus ranting dan cabang Muhammadiyah atau komunitas lainnya. Pelatihan ini belum mengukur karakteristik partisipan seperti tekanan darah dan faktor risiko stroke lainnya, sehingga belum dapat diperoleh gambaran yang jelas keterkaitan antara faktor-faktor risiko stroke dengan pengetahuan pada deteksi tanda peringatan stroke.

Pelatihan ini hanya dilakukan sebanyak dua kali pertemuan dalam rentang bulan Juni-Juli 2020, sehingga tidak dapat diketahui efek waktu dan frekuensi (intensitas pelatihan) terhadap pengetahuan deteksi tanda peringatan stroke. Sehingga, pada pelatihan atau kampanye deteksi tanda peringatan stroke yang akan datang perlu mempertimbangkan durasi yang lebih lama dan frekuensi paparan yang lebih intensif. Metode pelatihan ini mungkin kurang efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang risiko stroke atau tanda peringatan stroke, tetapi merupakan metode yang cukup mudah dilakukan dan dapat dijangkau oleh masyarakat. Menurut Rasura et al. (2014) kampanye media masa mungkin lebih efektif, tetapi membutuhkan dana yang kuat. Intervensi promosi stroke berbasis komunitas secara parsial efektif dan kampanye berbasis web juga efisien dalam menjangkau orang banyak, tetapi cenderung hanya menarik minat populasi tertentu dan bagi peminat saja (self-selected). Marx et al. (2008) telah membuktikan bahwa program-program edukasi memiliki efek yang berbeda-beda pada pengetahuan stroke masyarakat dan risiko stroke individu, tetapi tidak mengarahkan pada perubahan dalam perilaku mencari perawatan (care-seeking behavior). Intervensi Marx et al. (2008) kepada 500 orang anggota masyarakat di Jerman selama tiga bulan dengan iklan poster, flyers, surat berantai (mail circular), slogan, cerita menarik stroke (stroke interest stories) dan lain-lain pada koran lokal, televisi dan radio, dan kegiatan-kegiatan masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan umum tentang stroke (65,7% jawaban benar sebelum versus 84,9% sesudah kampanye, p <0,001) dan meningkatkan kesadaran memiliki risiko stroke (32,7% vs. 41,9%, p <0,001) setelah kampanye, khususnya pada responden dengan latar belakang pendidikan rendah. Tetapi, tidak ada efek yang signifikan dalam mencari pelayanan medis darurat setelah intervensi (81% vs. 82%). Informasi berulang menggunakan slogan-slogan pendek dan cara-cara mengatasi stroke meningkatkan pengetahuan umum khususnya pada populasi risiko tinggi berlatar belakang pendidikan rendah.

(7)

82 SIMPULAN

Melalui kegiatan program ipteks bagi masyarat dengan topik ”Pelatihan deteksi dini stroke dengan metode SEGERA KE RS bagi warga Muhammdiyah di Ranting Pekuncen Cabang Muhammdiyah Pekuncen”, ini dapat memberikan kontribusi berupa: (a) Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pengurus ranting, warga, dan simpatisan di Ranting Muham madiyah Pekuncen dalam hal pengetahuan dan ketrampilan cara melakukan deteksi dini stroke dengan ”SEGERA KE RS”; (b) Peningkatan pemahaman tentang pengertian, tanda dan gejala serangan stroke; (c) Peningkatan pengetahuan tentang gejala dini serangan stroke; dan (e) Peningkatan ketrampilan melakukan deteksi dini terhadap serangan stroke dengan metode ”SEGERA KE RS”.

DAFTAR PUS TAKA

Alfira, N. (2019). Pengaruh penyuluhan metode FAST terhadap pengetahuan perawat dalam deteksi dini

penyakit stroke di RSUD H. A. Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba. Jurnal Ilmiah Kesehatan

Diagnosis, 14(1), 58–61. https://doi.org/10.35892/jikd.v14i1.98

Cohen, J. (1988). The concepts of power analysis. In Statistical power analysis for the behavioral sciences

(2nd ed., pp. 1–17). Lawrence Elbaum Associate.

Fogle, C. C., Oser, C. S., McNamara, M. J., Helgerson, S. D., Gohdes, D., & Harwell, T. S. (2010). Impact of media on community awareness of stroke warning signs: A comparison study. Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, 19(5), 370–375. https://doi.org/10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2009.06.007 Hickey, A., Mellon, L., Williams, D., Shelley, E., & Conroy, R. M. (2018). Does stroke health promotion

increase awareness of appropriate behavioural response? Impact of the face, arm, speech and time (FAST) campaign on population knowledge of stroke risk factors, warning signs and emergency response. European Stroke Journal, 3(2), 117–125. https://doi.org/10.1177/2396987317753453

Kleindorfer, D. O., Miller, R., Moomaw, C. J., Alwell, K., Broderick, J. P., Khoury, J., Woo, D., Flaherty, M. L., Zakaria, T., & Kissela, B. M. (2007). Designing a message for public education regarding stroke:

Does FAST capture enough stroke? Stroke, 38(10), 2864–2868.

https://doi.org/10.1161/STROKEAHA.107.484329

Komolafe, M. A., Obembe, A. O., Olaogun, M. O., Adebiyi, A. M., Ugalahi, T., Dada, O., Kanu, A., Adebiyi, O. C., Akilo, F., Ogunkoya, B., & Fawale, B. (2015). Awareness of stroke risk factors and warning signs in nigerian adolescents compared with adults. Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, 24(3), 687–693. https://doi.org/10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2014.11.013

Kothari, R. U., Pancioli, A., Liu, T., Brott, T., & Broderick, J. (1999). Cincinnati prehospital stroke scale:

Reproducibility and validity. Annals of Emergency Medicine, 33(4), 373–378.

https://doi.org/10.1016/S0196-0644(99)70299-4

Lindsay, M. P., Norrving, B., Sacco, R. L., Brainin, M., Hacke, W., Martins, S., Pandian, J., & Feigin, V. (2019). World Stroke Organization (WSO): Global stroke fact sheet 2019. International Journal of Stroke, 14(8), 806–817. https://doi.org/10.1177/1747493019881353

Marx, J. J., Nedelmann, M., Haertle, B., Dieterich, M., & Eicke, B. M. (2008). An educational multimedia campaign has differential effects on public stroke knowledge and care-seeking behavior. Journal of Neurology, 255(3), 378–384. https://doi.org/10.1007/s00415-008-0673-5

Mellon, L., Hickey, A., Doyle, F., Dolan, E., & Williams, D. (2014). Can a media campaign change health service use in a population with stroke symptoms? Examination of the first Irish stroke awareness

campaign. Emergency Medicine Journal, 31(7), 536–540.

https://doi.org/10.1136/emermed-2012-202280

Mikulík, R., Goldemund, D., Reif, M., Brichta, J., Neumann, J., Jarkovský, J., & Krýza, J. (2011). Calling 911 in response to stroke: No change following a four-year educational campaign. Cerebrovascular Diseases, 32(4), 342–348. https://doi.org/10.1159/000330339

Naguib, R., Fayed, A., AlFadhliah, A. B., AlMansour, N. S., AlDakheel, R. M., & AlQahtani, R. M. (2020). Awareness about stroke and proper actions to be taken: A room for improvement. Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, 29(6), 104794. https://doi.org/10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2020.104794 P2PTM, D. (2019). Buku pedoman manajemen penyakit tidak menular. Direktorat Jenderal Pencegahan dan

Pengendalian Penyakit, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular. http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/VHcrbkVobjRzUDN3UCs4eUJ0dVBndz09/2019/03/Buku_Pedoman

(8)

83

_Manajemen_PTM.pdf

Rachmawati, D., Ningsih, D. K., & Andarini, S. (2020). Factors affecting the knowledge about stroke risks

and early symptoms in emergency department. Malang Neurology Journal, 6(1), 11–19.

https://doi.org/10.21776/ub.mnj.2020.006.01.3

Rasura, M., Baldereschi, M., Di Carlo, A., Di Lisi, F., Patella, R., Piccardi, B., Polizzi, B., & Inzitari, D. (2014). Effectiveness of public stroke educational interventions: A review. European Journal of Neurology, 21(1), 11–20. https://doi.org/10.1111/ene.12266

Riskesdas, K. (2018). Hasil utama Riset Kesehata Dasar (RISKESDAS).

Silver, F. L., Rubini, F., Black, D., & Hodgson, C. S. (2003). Advertising strategies to increase public

knowledge of the warning signs of stroke. Stroke, 34(8), 1965–1968.

https://doi.org/10.1161/01.STR.0000083175.01126.62

Sobotková, P., Goldemund, D., Reif, M., & Mikulík, R. (2014). Predictors of noticing stroke educational

campaign. Journal of Stroke and Cerebrovascular Diseases, 23(6), 1662–1668.

https://doi.org/10.1016/j.jstrokecerebrovasdis.2014.01.013

Sriwahyuni, L., & Sulistyowati. (2018). Kebijakan dan strategi pencegahan dan pengendalian stroke di

Indonesia. In Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/VHcrbkVobjRzUDN3UCs4eUJ0dVBndz09/2017/10/Kebijakan_dan _Strategi_Pencegahan_dan_Pengendalian_Stroke_di_Indonesia_dr_Lily_Sriwahyuni_Sulistyowati_MM 1.pdf

Trobbiani, K., Freeman, K., Arango, M., Lalor, E., Jenkinson, D., & Thrift, A. G. (2013). Comparison of stroke warning sign campaigns in Australia, England, and Canada. International Journal of Stroke,

8(100 A), 28–31. https://doi.org/10.1111/j.1747-4949.2012.00917.x

Venketasubramanian, N., Yoon, B. W., Pandian, J., & Navarro, J. C. (2017). Stroke epidemiology in South,

East, and South-East Asia: A review. Journal of Stroke, 19(3), 286–294.

Gambar

Gambar 1. Foto kegiatan sosialisasi deteksi dini stroke dengan metode ”SEGERA KE RS”  Tabel 1
Tabel 2. Rata-rata pengetahuan peserta ipteks bagi masyarakat tentang stroke dan deteksi dini stroke   dengan  slogan ”SEGERA KE RS” sebelum dan sesudah pelatihan

Referensi

Dokumen terkait

Roda Express Sukses Mandiri mengalami peningkatan bisnis yang signifikan, namun dengan kondisi perusahaan yang kuat, ancaman yang ada tidak dapat diremehkan karena semakin

Jumlah Tenaga Gizi yang mengikuti Pelatihan; Jumlah Tenaga Administrasi Kesehatan yang mengikuti Pelatihan; Jumlah Tenaga Penyuluh Kesehatan yang mengikuti Pelatihan;

Kepala Sekolah : Dalam rangka menjadikan guru yang hebat dan bermutu kita harus merencanakan dan melakukan cara untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas guru terlebih

Adapun penelitian- penelitian terdahulu yang digunakan penulis sebagai bahan acuan dalam penelitian ini antara lain Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor terhadap

Data yang dikumpulkan merupakan data primer, yaitu data berasal dari penelitian perubahan makroskopis dan mikroskopis hepar tikus wistar dari kelompok kontrol dan

Orang yang berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar bukanlah kafir tetapi mukmin dan tidak akan kekal dalam neraka, mereka memberi pengharapan kepada yang berbuat

pengaruh sistem pengendalian internal, asimetri informasi, perilaku tidak etis dan kesesuaian kompensasi terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi pada pemerintah

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat, hidayah, dan petunjuk-Nya, sehingga penulis dapat diberikan kelancaran dalam