NORHADIE KARBEN, GIGIH UPAYAKAN PERTANIAN TANPA BAKAR DI LAHAN GAMBUT

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

NORHADIE KARBEN, GIGIH

UPAYAKAN PERTANIAN TANPA

BAKAR DI LAHAN GAMBUT

USAID LESTARI: CERITA DARI LAPANGAN

Oleh: Indra Nugraha

Di lahan gambut seluas dua hektar itu, tanaman padi terhampar. Ia terletak di Desa Mantangai Hulu, Ke-camatan Mantangai, Kuala Kapuas-Kalteng. Tanaman padi itu terlihat tumbuh subur, tegak setinggi ping- gang orang dewasa. Butir-butir biji padinya terlihat padat, sebagian sudah menguning dan tinggal me- nunggu beberapa saat lagi siap untuk dipanen. Tak ada yang menyangka tanaman padi yang subur ter-hampar itu ditanam dengan cara tanpa membakar lahan gambut.

Adalah Norhadie Karben, seorang pegiat Kelompok Tani Karya Sakti yang melakukan uji coba penana-man padi tersebut. Bersama sembilan orang sesama petani lainnya, Norhadie berjibaku mencari berbagai cara guna menemukan metode terbaik untuk mena-nam padi di lahan gambut, tanpa membakar. Apa yang ia lakukan seolah ingin mematahkan anggapan bahwa tanaman padi tak bisa ditanam di lahan gam-but jika tak melalui proses pembakaran.

“Ini berawal dari kondisi di lahan kami. Seusai panen,

kami melihat ada tanaman padi yang awalnya jatuh

“Ketika pemerintah melarang

membakar seharusnya peme-

rintah juga memberikan solusi

bagi petani terutama bagi

petani lokal yang masih

meng-gantungkan hidup dari penge-

lolaan lahan dengan cara

mem-bakar,” katanya.

(2)

di tanah ladang kami ada yang tumbuh. Melihat se- perti itu muncul inisatif kami untuk memanfaatkan bibit itu kemudian kami melakukan rembug bersama kelompok tani. Kami ingin melakukan uji coba me- ngolah lahan tanpa bakar,” kata Norhadie yang dite-

mui LESTARI dan Mongabay di ladang miliknya be-berapa waktu yang lalu.

Sebelumnya, Norhadie mengatakan, ia bersama para petani di Mantangai Hulu sudah terbiasa mengelo- la lahan dengan cara dibakar. Tradisi itu dilakukan secara turun temurun sejak dari zaman nenek mo- yang. Tapi ia melihat ada potensi yang bisa ia am- bil sebagai bibit sekaligus melakukan ujicoba menge- lola lahan tanpa bakar.

“Dari buah padi ladang yang kita panen itu kan tak

semuanya kita ambil. Ada juga padi yang roboh oleh angin kemudian terendam di air sehingga dia tumbuh. Menurut kami ini salah satu potensi yang bisa dikem-bangkan untuk membuka lahan ladang itu tanpa ba-kar. Bibit itu yang kami pindahkan ke ladang yang ka- mi bersihkan dengan tanpa dibakar. Jadi sebenarnya bibitnya itu tak dipersiapkan. Itu yang kami pikir adalah sebuah peluang agar bisa menegembangkan lahan ini ke depannya tak ada waktu jeda, tak ada waktu istira-hat,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, lahan seluas dua hek-tar itu bukan murni milik ia sendiri. Sebagian dian-taranya juga milik rekan-rekannya sesama anggota Kelompok Tani Karya Sakti namun berada dalam satu hamparan. Lahan yang ia punya untuk melakukan uji coba itu sendiri seluas 60x70 meter. Beberapa re- kannya mengalokasikan luas lahan yang beragam un-tuk melakukan uji coba tersebut. Semua tergantung pada kemampuan masing-masing.

“Teknik dalam membuka lahan pun beragam. Ada

yang ditebas, kemudian semak dan rumput yang ada dicincang lalu disemprot dengan rondap atau DNA4. Kemudian ada juga ada yang tanpa DNA4. Ditebas dan langsung ditanam. Tapi tentu saja dengan tanpa membakar,” katanya.

Sejauh ini katanya, metode yang paling bagus me- nurutnya adalah dengan cara ditebas kemudian rum-put dan semak belukar yang ada dicincang, lalu disem- prot menggunakan DNA4. Setelah itu baru kemu- dian dicangkul.

Bibit yang ditanam berasal dari padi bekas ladang para petani sendiri. Lalu bibit yang tersisa itu diam-bil untuk ditanam di lahan yang diolah tanpa bakar. Tak ada perlakuan khusus dalam hal pembibitan.

Foto:

Norhadi memperlihatkan hasil padi yang ditaman di lahan gambut dengan menggunakan metode tanpa bakar.

(3)

Bibit yang ditanam jenisnya beragam dan menurut Norhadie yang paling bagus adalah jenis bibit padi Geragai dan Nampui. Kedua jenis padi lokal ini lebih tahan terhadap serangan hama penyakit dan kekeri- ngan sehingga cocok untuk ditanam dengan pengola-han lapengola-han tanpa bakar.

“Tak seperti layaknya orang yang bersawah yang

bi-bitnya harus diolah dulu, disemai lalu dipindah ke la- han. Kalau kami tidak. Karena hanya spontan saja padi yang tumbuh di ladang itu kita ambil lalu diambil dan ditanam di ladang yang sudah disiapkan tanpa bakar. Tak menggunakan api sama sekali,” ujarnya. Pola uji coba itu menurutnya, tak serta merta dilaku-kan secara serempak oleh 10 orang. Tapi dikerja-kan di lahan masing-masing, meskipun berada di dalam satu hamparan. Meski saat ini masih dalam masa tanap uji coba. Penanaman dimulai bulan April (2016) yang sebenarnya bukan di musim tanam yang biasa dilakukan oleh para petani.

Antri Traktor

“Uji coba ini hanya untuk mengetahui apakah padi

bisa tumbuh subur jika tanpa dibakar? Hasilnya di luar perkiraan kami. Ternyata padi tumbuh subur, berbuah, bisa dipanenan dan digiling jadi beras. Sekarang petani melakukan pola yang sama dan mengerjakan di lahan masing-masing. Kebetulan bulan Agustus kemarin kita dapat bantuan satu traktor tangan dari Dinas Perta- nian sehingga ini bisa mempercepat pengolahan la- han,” katanya.

Meski sudah mendapatkan bantuan satu unit trak- tor tangan, Norhadie mengatakan hal itu belum cu- kup. Sebab jumlah anggota kelompok tani cukup banyak. Dengan hanya satu unit saja, ini membuat para petani yang ingin membuka lahan harus antri bergantian. Sementara kondisi di lahan juga sangat sulit. Untuk membersihkan lahan dari semak belukar dan kayu-kayuan tentu membutuhkan banyak alat yang lebih banyak.

“Sebenarnya dari kelompok tani kami banyak yang

beminat melakukan pengolahan lahan tanpa bakar. Tetapi apalah daya, traktor tangannya cuma satu se- hingga kami pun harus bergantian. Kalau harus bergan-tian, prosesnya jadi lama,” ujarnya.

Jika membandingkan hasil panen yang didapat an-tara dengan cara dibakar atau tanpa bakar, Norha- die mengatakan ia belum bisa memberikan gamba- ran secara rinci. Sebab apa yang ia lakukan sejauh ini masih dalam tahap uji coba. Kemudian ia juga mela- kukan uji coba itu bukan di bulan yang biasa para pe- tani berladang. Sehingga jelas hasilnya akan berbeda. Dari segi biaya juga jelas berbeda. Norhadie menga-kui butuh biaya ekstra untuk mesin pemotong rum-put, traktor, cess dan senso untuk memotong kayu. Tenaga yang dikeluarkan juga lebih berat. Namun hal tersebut tentu saja tak sampai mematahkan sema- ngatnya.

“Kendala terbesar kami dalam proses uji coba ini

ada-lah serangan hama dan penyakit. Serangannya luar biasa karena hanya beberapa orang saja yang me- lakukan penanaman selama bulan April-September ini akibatnya hama itu sangat banyak. Harapan kami pada musim tanam Oktober-Maret ini kami akan lebih banyak lagi melakukan uji coba tanpa bakar ini. Kami ingin melihat lebih banyak bukti bahwa yang telah kami lakukan berhasil. Jujur saja ini melebihi harapan kami yang awalnya hanya ingin mengetahui apakah tana-man padi lokal ini bisa tumbuh tanpa harus dibakar ternyata padi yang ditanam bisa tumbuh subur bahkan bisa berbuah dengan baik,” katanya.

Jika melihat kebiasaan pada umumnya, Norhadie mengatakan, para petani biasa menanam padi bulan Oktober dan dipanen bulan Maret. Jeda waktu itu biasanya digunakan untuk mengelola kebun karet, mencari ikan di sungai juga memanen hasil dari beje. “Tapi ketika kami melihat peluang di lahan kami de-

ngan ketersediaan bibit untuk melakukan penana- man pada musim tanam April September, kita laku- Foto:

Lahan praktik uji coba pengembangan padi di lahan gambut.

(4)

duga dengan hasil yang kami dapat sekarang. Sayang-nya kami haSayang-nya puSayang-nya satu traktor sehingga semangat teman-teman lain untuk membuka lahan tanpa bakar belum dapat dipenuhi,” katanya.

Berkah Terselubung

Norhadie mengakui larangan pemerintah untuk tak lagi melakukan pembakaran dalam mengelola lahan adalah berkah terselubung. Selama ini aturan terse-but membuat banyak petani mengelola lahan gamterse-but kebingungan. Sebab, sudah sejak lama mereka ter- biasa membuka lahan dengan cara membakar. Abu hasil pembakaran, dipercaya ampuh menjadi pupuk yang membuat padi menjadi subur sekaligus menghi-langkan kadar keasaman lahan gambut.

Larangan membakar itu pun sejatinya tak diser-tai dengan solusi alternatif yang bisa menguntung- kan para petani. Solusi yang ditawarkan, cenderung bersifat jangka panjang seperti mengalihkan kebiasa- an mereka yang semula menanam padi, menjadi tanam sengon, karet dan lainnya. Sementara solusi jangka pendek masih belum ada padahal petani butuh pemasukan untuk menopang kebutuhan hidupnya. Norhadie mengatakan, pengelolaan lahan tanpa ba-kar ini merupakan hal baru baginya. Ia banyak belajar di beberapa tempat khususnya di bagian hilir yang sudah menerapkan konsep mengelola tanpa bakar. Menurutnya, hasilnya lebih bagus dari hasil berladang walaupun mereka tak punya lahan terlalu luas tapi hasilnya hampir sama seperti yang punya lahan luas. “Terkait peraturan larangan itu sebenernya baru-

baru tahun ini saja disosialisasikan. Tahun-tahun sebe- lumnya tak pernah. Sehingga walaupun ada larangan membakar tetap membakar. Karena itu sudah men-jadi suatu pekerjaan yang dimulai dari nenek moyang kami,” ujarnya.

Perjuangan kelompok petani Karya Sakti bisa di- bilang panjang. Awalnya para petani di Desa Man- tangai Hulu cenderung bergerak sendiri-sendiri. Melihat berbagai persoalan yang terjadi, ia akhirnya bergerak untuk mengorganisir mereka dan mendi-rikan kelompok tani. Sebelum kembali ke desanya, Norhadie sempat bekerja di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Seperti Walhi Kaliman- tanTengah, Pokker SHK (Kelompok Kerja Sistem Hutan Kerakyatan) dan lain-lain. Pengetahuan me- ngelola komunitas yang ia peroleh dari pengalaman- nya bekerja di beberapa LSM itu ia terapkan di kelompok tani yang ia bentuk.

“Awalnya petani yang ada di sini mengatur dirinya

sendiri, masing-masing dan tak berkelompok. Sehing-ga petani tersebar dimana-mana dan tak jarang api pun tersebar dimana-mana. Sehingga banyak yang abai melakukan pencegahan. Saya mencoba untuk

di satu tempat. Awalnya mereka sering berpindah- pindah sehingga ada potensi terjadi kebakaran kare- na lahannya gambut. Dan alhamdulilah dari sekarang terkumpul 120 KK anggota kelompok tani yang memi-liki lahan satu hamparan total 140 hektar,” paparnya.

Terkait dengan pengelolaan lahan tanpa bakar, ia berharap pemerintah memberikan bantuan. Misal dalam hal penyediaan sarana, pelatihan pengguna- an pupuk organik dan sebagainya. Sehingga dengan hal itu, kesulitan dalam hal merawat ataupun menja-ga tanaman yang sudah dikelola bisa terjamenja-ga denmenja-gan baik.

“Ketika pemerintah melarang membakar seharus-

nya pemerintah juga memberikan solusi bagi petani terutama bagi petani lokal yang masih menggantung-kan hidup dari pengelolaan lahan dengan cara mem-bakar,” katanya.

Memulai dari Hal Kecil

Sejak awal Nopember, Norhadie bersama kelom- pok taninya berupaya melakukan kegiatan uji coba pengelolaan lahan ladang pertanian pada gambut tipis yang berlokasi di wilayah Handel Karya Sakti Sei Hanbie dan Sei Jangkit Jaya Desa Mantangai Hulu. Dengan luasan yang akan direncanakan un-tuk uji coba ini sekitar 10 hektar kurang lebih unun-tuk periode musim tanam Oktober-Maret. Sedangkan target penggarapan lahan tanpa bakar ini harus sele-sai akhir bulan Oktober mendatang, dan kegiatan ini terus berjalan hingga hari ini. Selain padi, Norhadie dan kelompok taninya berencana untuk mengem-bangkan tanaman sayur-sayuran yang nantinya diker-jakan oleh petani perempuan.

“Kami bersama anggota kelompok tani, memulai dari

hal yang kecil dulu walau pun luasannya tak sebe- rapa. Akan tetapi bisa sedikit mengurangi kebakaran kebun karet dan rotan di sekeliling lahan perladang pertanian sekitar. Dan kegiatan ini tidak semudah apa yang kita bayangkan dan tidak semudah membalik talapak tangan. Yang awalnya tiap tahun membuka lahan selalu membakar sekarang jadi tidak memba-kar,” katanya.

Norhadie sadar bahwa pengetahuannya dalam me- ngolah lahan ladang tanpa bakar di tanah gambut tidaklah istimewa. Ia tak henti menambah pengeta- huannya dalam pengelolaan lahan gambut. Buku, ma- kalah dan bahan referensi lain dari berbagai sumber ia kumpulkan.

Sejak beberapa waktu lalu, rumahnya di Desa Man-tangai Hulu disulap menjadi perpustakaan yang ia beri nama “Balai Belajar Informasi Gambut”. Perpustakaannya jadi tempat berdiskusi dan memba-gi ilmu dengan rekan-rekannya sesama petani. “Agar

(5)

untuk meningkatkan kapasitas selain itu pelatihan pelatihan serta simulasi harus diperbanyak lagi,” ujar Norhadie.

Menurutnya, berladang bukan hanya persoalan memenuhi kebutuhan keluarga namun juga persoa- lan ketersediaan pangan daerah mupun nasional. Sehingga seharusnya masyarakat yang biasa ber-ladang dengan cara tradisional perlu diperkenalkan dengan teknologi yang dapat meningkatkan produksi sehingga kesejahteraan dapat terwujud.

“Bukan hanya bisa melarang membakar hutan dan

lahan tanpa memberi solusi rasa ketakutan pada wong cilik. Cara-cara itu tidak musti menghapus kearifan lokal, tetapi cari jalan yang terbaik. Misal bantu alat pengolah tanah, bantu benih kualitas unggul, pelati- han cara merawat tanaman dan pembuatan pupuk organik agar tidak tergantung pada pupuk pabrik. Kalau Kalimantan Tengah jadi lumbung padi Indonesia, siapa yang tak bangga?” pungkasnya.

Foto:

Norhadie menjadi narasumber di acara dialog interaktif bertema pengelolaan lahan tanpa bakar di Palangkaraya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :