• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 7 NO. 2 September 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 7 NO. 2 September 2014"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

200

HUBUNGAN BIMBINGAN KARIR DAN PENGALAMAN PRAKTIK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) DENGAN KESIAPAN KERJA DI BIDANG

KOMPUTER DAN JARINGAN SISWA SMK KELAS XII KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK

KOMPUTER DAN JARINGAN DI KOTA SOLOK

Ika Parma Dewi1 ABSTRACT

This study aims at revealing the relationship of career guidance (X1) and the students’ experience on Industrial Working Practice (Prakerin) (X2) with Student Work Readiness Class XII SMK at Solok City to data of Pra-Survey executed on the 1 October 2012. It was assumed because of the problem above proceeded by some factors such as career guidance and students’ experience on Industrial Working Practice (Prakerin). The purpose of this research was to find out the correlation between: student achievement in productive subject and Prakerin experience, prakerin experience and work readiness, productive achievement and Prakerin experience Class XII SMK of Computer and Network at Solok City; The study was conducted using quantitative methods to the type of correlational research. Penilitian works by using three hypotheses. The research sample consists of 68 class XII student of the semester from January to June 2013. The result of this study found out that there was a significant and positive correlation between: (a) career guidance and work readiness; (b) prakerin experience and work readiness; (c) career guidance and Prakerin experience with readiness. Based on the findings of this study concluded that the two independent variables are career guidance and Prakerin experience of work plays a very important role in preparing students to SMK in solok City ready to work, in addition there are other variables not examined in this study.

Keywords: career guidance, Prakerin Experinces, Students working practice INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hubungan bimbingan karir (X1) dan pengalaman siswa tentang Praktek Industri Kerja (Prakerin) (X2) dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas XII SMK di Kota Solok untuk data Pra-Survey dilaksanakan pada 1 Oktober 2012 . diasumsikan karena masalah di atas berjalan oleh beberapa faktor seperti bimbingan karir dan pengalaman siswa tentang Praktek Kerja Industri (Prakerin). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara: prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran produktif dan pengalaman Prakerin, pengalaman dan kesiapan kerja, prestasi produktif dan Prakerin pengalaman Kelas XII SMK Komputer dan Jaringan di Kota Solok Prakerin; Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Penilitian bekerja dengan menggunakan tiga hipotesis. Sampel penelitian terdiri dari 68 kelas XII

(2)

mahasiswa semester Januari-Juni 2013 Hasil penelitian ini menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan dan positif antara: (a) bimbingan karir dan kesiapan kerja; (b) Pengalaman prakerin dan kesiapan kerja; (c) bimbingan karir dan pengalaman Prakerin dengan kesiapan. Berdasarkan temuan dari penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua variabel independen adalah bimbingan karir dan pengalaman Prakerin kerja memainkan peran yang sangat penting dalam mempersiapkan siswa untuk SMK di Kota Solok siap untuk bekerja, selain ada variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

(3)

202

PENDAHULUAN

Dari beberapa Sekolah Menengah Kejuruan kelompok teknologi dan rekayasa di Kota Solok, yang

memiliki kompetensi keahlian

Komputer dan Jaringan hanya di SMK N 1 Kota Solok dan SMK

Kosgoro 1 Solok. Sekolah

Menengah Kejuruan kelompok

teknologi dan rekayasa lainnya belum memiliki kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.

Berdasarkan pra-survey yang

dilaksanakan pada tanggal 1Oktober 2012 di sekolah sendiri yaitu di SMK

Kosgoro 1 Solok, ternyata

pelaksanaan Praktik Kerja Industri di

kompetensi keahlian Teknik

Komputer dan Jaringan masih

memiliki beberapa masalah.

Masalah umum yang terjadi ketika siswa melaksanakan Praktik Kerja

Industri yaitu siswa hanya

membantu saat melakukan

perbaikan.Siswa bukan membantu

dalam perbaikan tetapi hanya

sebagai pembantu mengambilkan

alat yang dibutuhkan teknisi.

Dengan pekerjaan seperti di atas, siswa tidak dapat terlibat langsung

dalam mengetahui kerusakan

Komputer maupun Instalasi Jaringan dan bagaimana proses perbaikan yang seharusnya sesuai prosedur kerja. Hal seperti ini yang membuat skill siswa tidak berkembang dan

tidak mendapatkan pengalaman

yang seharusnya didapat setelah melaksanakanPraktik Kerja Industri. Berdasarkan observasi awal di

kompetensi keahlian Teknik

Komputer dan Jaringan diKota Solok yaitu di SMK Negeri 1 Solok dan di SMK Kosgoro 1 Solok, seperti yang terlihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Perbandingan Jumlah Lulusan Siswa Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan dengan Yang Telah Bekerjadi Bidang Teknik Komputer dan Jaringan di Kota Solok

No Tah un

Jumlah Lulusan Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan Tot al Jumlah Lulusan Kompetensi Keahlian TKJ yang Bekerja di Bidang Komputer dan Jaringan Tot al Presen tase (%) SMK N 1 Solok SMK N Kosgoro 1 SMK N 1 Solok SMK N Kosgoro 1 1 2008 20 21 41 6 4 10 24,39 2 2009 29 24 53 5 4 9 16,98 3 2010 25 26 51 4 3 7 13,72 4 2011 49 35 84 2 3 5 5,95 5 2012 53 46 99 3 2 5 5,05 Jumlah 176 152 328 20 16 36 10,97 Berdasarkan Tabel di atas

kompetensi keahlian Teknik

Komputer dan Jaringan di Kota Solok yaitu di SMK Negeri 1 Solok dan di SMK Kosgoro 1 Solok didapati jumlah lulusan Kompetensi Keahlian Komputer dan Jaringan masih banyak yang belum memiliki kesiapan kerja di bidang Komputer dan Jaringan yaitu sebesar 89.03 %

dan hanya 10,97 % lulusan

Kompetensi Keahlian Teknik

Komputer dan Jaringan yang

bekerja di bidang Komputer dan

Jaringan. Rata-rata per tahun

lulusan yang bekerja di bidang Komputer dan Jaringan didapati hanya 5,05 % hingga 24,39 %. Kebanyakan dari lulusan tersebut

setelah selesai menyelesaikan

sekolahnya, masih kebingungan

(4)

yang sesuai dengan pengetahuan yang diperolehnya, Kenyataan ini

menunjukkan bahwa serapan

lulusan SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Kota Solokbelum optimal.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa masih ada lulusan SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringandi Kota Solok memiliki keterampilan yang belum sesuai dengan kebutuhan pasar kerja atau sering dikeluhkan bahwa lulusan SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Kota Solok tidak siap pakai. Masalah ini muncul akibat dari adanya

kesenjangan pengetahuan dan

keterampilan yang dibutuhkan di dunia usaha atau industri dengan pengetahuan yang dimiliki oleh lulusan SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Kota Solok.

Pada abad 21, tuntutan dunia kerja kerja akan SDM yang handal tidak dapat terhindarkan. Pada saat ini, seseorang yang ingin meraih kesuksesan di dunia kerja tidak

cukup hanya dengan memiliki

kemampuan dalam hard skills dalam

pekerjaannya. Dunia kerja saat ini

memerlukan seseorang yang

memiliki pemikiran yang terintegrasi, komunikator yang handal, cerdas emosional, mampu bekerja dalam tim dan beretika, yang semuanya itu

bersifat soft skills. Dalam

menghadapi era global dengan

akselerasi yang cepat maka

diperlukan tenaga kerja yang tidak

hanya mempunyai kemampuan

bekerja dalam bidangnya (hard

skills) namun juga sangat penting

untuk menguasai kemampuan

menghadapi perubahan serta

memanfaatkan perubahan itu sendiri (soft skills). Dari beberapa Sekolah

Menengah Kejuruan kelompok

teknologi dan rekayasa di Kota Solok, yang memiliki kompetensi keahlian Komputer dan Jaringan hanya di SMK N 1 Kota Solok dan

SMK Kosgoro 1 Solok. Sekolah

Menengah Kejuruan kelompok

teknologi dan rekayasa lainnya belum memiliki kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan.

Berdasarkan pra-survey yang

dilaksanakan pada tanggal 1

Oktober 2012 di sekolah sendiri yaitu di SMK Kosgoro 1 Solok, ternyata pelaksanaan Praktik Kerja Industri di kompetensi keahlian Teknik Komputer dan Jaringan masih memiliki beberapa masalah. Masalah umum yang terjadi ketika siswa melaksanakan Praktik Kerja

Industri yaitu siswa hanya

membantu saat melakukan

perbaikan.

Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan (1999:7)

mengemukakan definisi Praktik

Kerja Industri sebagai berikut:

”Praktik Kerja Industri merupakan

suatu bentuk penyelenggaraan

pendidikan keahlian profesional

yang memadukan secara sistematis dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja secara langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkatan keahlian profesional tertentu”.

Pelaksanaan Praktik Kerja Industri secara tidak langsung akan

memberikan pengetahuan dan

pengalaman dalam bekerja.

Pengalaman yang diperoleh pada saat melaksanakan praktik industri, selain mempelajari bagaimana cara

mendapatkan pekerjaan, juga

belajar bagaimana memiliki

pekerjaan yang relevan dengan bakat dan minat yang dimiliki oleh siswa tersebut. Pengalaman dalam hal ini adalah pengalaman yang

didapat setelah melaksanakan

Praktik Kerja Industri, pengalaman kerja inilah yang akan menentukan

kesiapan siswa untuk bekerja,

karena di industri, siswa diajarkan

untuk bekerja sesuai dengan

(5)

204

maupun Swasta yang berada di Kota Solok juga melaksanakan Praktik Kerja Industri sesuai dengan program dari pemerintah. Praktik Kerja Industri dilaksanakan selama tiga bulan berturut-turut, akan tetapi waktu pelaksanaan Praktik Kerja Industri di seluruh SMK yang berada di Kota Solok tidaklah serentak,

disebabkan oleh beberapa

pertimbangan diantaranya

keterbatasan tempat Praktik Kerja Industri.

Diharapkan lulusan SMK

yang siap kerja dan memiliki

kemampuan yang dapat diandalkan

mampu untuk menghadapi

persaingan era globalisasi dan

tantangan masa depan karir.

Dengan kondisi yang demikianlah diharapkan bimbingan karir di SMK dapat terus terlaksana dan semakin ditingkatkan dari tahun ketahun, agar dapat berfungsi secara efektif dan efisien. Sehingga siswa dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan mengembangkan potensi diri dan karirnya nanti. Hardjono (1990:23) mengemukakan bahwa

ada beberapa hal yang

mempengaruhi kesiapan lulusan

sekolah menengah kejuruan untuk

memasuki dunia kerja seperti,

rendahnya motivasi kerja,

kemampuan kerja, persepsi tentang prospek karir, informasi tentang dunia kerja, minat, peluang untuk

mendapatkan kesempatan kerja,

kurikulum. Lulusan SMK yang siap kerja dan memiliki kemampuan

diharapkan dapat diandalkan

mampu untuk menghadapi

persaingan terhadap tuntutan kerja di era globalisasi. Dengan kondisi

yang demikianlah diharapkan

bimbingan karir di SMK dapat terus terlaksana dan semakin ditingkatkan dari tahun ketahun, agar dapat berfungsi secara efektif dan efisien.

Mohamad Surya (1997:31) menyatakan bahwa bimbingan karier merupakan salah satu jenis

bimbingan yang berusaha

membantu individu untuk

memecahkan masalah karier,

memperoleh penyesuaian diri

yang sebaik-baiknya antara

kemampuan dan lingkungan

hidupnya, memperoleh keberhasilan

dan perwujudan diri dalam

perjalanan hidupnya. Kesulitan

sebelum bekerja berupa masalah mencari pekerjaan dan masalah menemukan pekerjaan yang cocok. Ruang lingkup pekerjaan jaman sekarang ini sangat luas dan banyak, sehingga lulusan perlu

dibantu untuk menemukannya.

Kesulitan setelah bekerja adalah pekerja akan dihadapkan pada persoalan-persoalan ketidakcocokan pekerjaan dengan yang ditekuni

sekarang. Ketidakcocokan dapat

terjadi pada aspek bakat dan kemampuan juga penghasilan, serta kondisi sosio-emosional lingkungan pekerjaan. Hal lain adalah persoalan karir dan peluang berkembang serta

perkembangan teknologi yang

pesat.

Keadaan sistem pendidikan

yang ada saat ini masih

menekankan fungsinya sebagai

pemasok tenaga kerja terdidik dari pada sebagai penghasil tenaga

penggerak pembangunan (driving

force). Tenaga kerja yang dihasilkan

belum mampu melakukan

pembaharuan dan penciptaan

gagasan baru dalam rangka

menciptakan dan memperluas

lapangan kerja. Lulusan pendidikan lebih cenderung meminta pekerjaan (job seeker) dari pada berinisiatif

menciptakan pekerjaan atau

kegiatan baru (job creator).

Kesiapan menurut Slameto

(2010:113) :

Kesiapan adalah “keseluruhan

kondisi seseorang yang

membuatnya siap untuk memberi

respon/jawaban didalam cara

tertentu terhadap suatu situasi”. Penyesuaian kondisi suatu saat

(6)

kecenderungan untuk memberi respon. Kondisi kesiapan mencakup 3 aspek sebagai berikut:

1) Kondisi fisik, mental dan

emosional.

2) Kebutuhan-kebutuhan, motif

dan tujuan.

3) Keterampilan, pengetahuan

dan pengertian yang lain yang telah dipelajari.

Kesiapan kerja adalah

keseluruhan kondisi individu yang meliputi kematangan fisik, mental,

dan pengalaman serta adanya

kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau kegiatan. Ada 2 indikator yang mempengaruhi kesiapan kerja, yaitu (1) faktor intern yang meliputi kematangan fisik, mental, tekanan, kreativitas, minat, bakat, intelegensi,

kemandirian, penguasaan ilmu

pengetahuan dan motivasi; dan (2) faktor ekstern yang mencakup peran masyarakat, keluarga, sarana dan prasarana sekolah, informasi dunia

kerja, dan pengalaman PI.

(http://www.doratekno.blogspot.com /2011/06/ contoh latar - belakang masalah.html, diunduh tanggal 1 Oktober 2012). Kesiapan kerja terbentuk dari tiga aspek yang

mendukung, yaitu: aspek

penguasaan pengetahuan,

penguasaan sikap kerja, dan aspek

penguasaan keterampilan kerja

yang dimiliki siswa SMK.

Dalam konteks

perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia dewasa ini, lembaga pendidikan dituntut untuk menunjukkan peran

dan kemampuannya sebagai

institusi yang mampu "memasok"

sumber daya manusia untuk

kebutuhan masyarakat.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa masih ada lulusan SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Kota Solok memiliki keterampilan yang belum sesuai dengan kebutuhan pasar kerja atau sering dikeluhkan

bahwa lulusan SMK Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan di Kota Solok tidak siap pakai. Masalah ini muncul akibat

dari adanya kesenjangan

pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia usaha atau industri dengan pengetahuan yang

dimiliki oleh lulusan SMK

Kompetensi Keahlian Teknik

Komputer dan Jaringan di Kota Solok.

PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH

Penelitian ini dilaksanakan

dengan menggunakan metode

korelasional, yaitu menggambarkan adanya variabel bebas yang diduga

berhubungan terhadap variabel

terikat. Penelitian ini adalah studi

korelasi yaitu jenis penelitian

deskriptif yang bertujuan

menetapkan besarnya atau ada tidaknya hubungan antara variabel-variabel.

Penelitian ini dilakukan

dengan mengklasifikasi variabel

penelitian kedalam dua kelompok yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya adalah

Bimbingan Karir (X1) dan

pengalaman Praktik Kerja Industri

(Prakerin) (X2), sedangkan variabel

terikatnya adalah kesiapan kerja di bidang Komputer dan Jaringan (Y). Jumlah sampel untuk penelitian ini

adalah 50 orang siswa yang

tersebar dikelas XII TKJ 1 dan XII TKJ 2 di SMK N 1 Solok dan XII TKJ 1 dan XII TKJ 2 di SMK Kosgoro 1 Solok.

Pada bagian ini di analisis

pencapaian responden terhadap

penyebaran kuisener yang

dilakukan, maka pada bagian

deskripsi ini akan tergambar

persentase dan kategori pencapaian

responden. Untuk mengetahui

tingkat pencapaian responden pada

masing-masing variabel

(7)

206

(2011:87) dengan rumus sebagai berikut : % 100 x tertinggi itemXSkala nX X DP

Untuk pengkategorian nilai

pencapaian responden digunakan klasifikasi sebagai berikut (Nana Sudjana, 2009:29), seperti pada tabel 7 berikut:

Tabel 1.Rentang Kategori Ketercapaian Responden

Rentang Persentase Kategori 90 – 100 % Sangat Baik

80 – 89 % Baik 65 – 79 % Cukup 55 – 64 % Kurang Baik

0 – 54 % Tidak Baik Pengujian Persyaratan Analisis. a. Uji normalitas, uji normalitas

tersebut menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov. Variabel X1, variabel X2 dan variabel Y berdistribusi normal.

b. Uji linearitas, untuk mengetahui apakah variabel-variabel yang diteliti memiliki hubungan linear. Uji linearitas ini menggunakan

teknik korelasi dan regresi

sederhana. Variabel Bimbingan karir dan Pengalaman Praktik Kerja Industri dengan Kesiapan Kerja di Bidang komputer dan jaringan terdapat hubungan yang linier

c. Uji multikolinearitas antar variabel

bebas menggunakan teknik

korelasi dan regresi sederhana atau dengan uji signifikan. Uji ini

dimaksudkan untuk melihat

apakah antara variabel bebas terdapat hubungan yang berarti atau tidak. Uji multikolinearitas

antar variabel bebas ini

menggunakan teknik Korelasi

Product Moment. Hubungan antara variabel bimbingan karir

(X1) dengan variabel pengalaman

Praktik Kerja Industri (X2) kecil

dan diabaikan berarti kedua

variabel bebas adalah

independen Pengujian

Setelah dilakukan uji persyaratan, maka dilakukan uji hipotesis. Ada tiga hipotesis yaitu :

a) Hipotesis pertama dan kedua

diuji dengan menggunakan

teknik korelasi dan regresi

sederhana, dengan tujuan untuk melihat hubungan dan bentuk linearitas antara masing-masing variabel bebas (X1) dan (X2) dengan variabel terikat (Y). b) Hipotesis ketiga diuji dengan

menggunakan teknik korelasi dan regresi ganda, dengan tujuan untuk melihat hubungan dan bentuk garis regresi antara variabel bebas secara

bersama-sama (X1.2) dengan variabel

terikat (Y).

c) Korelasi parsial digunakan untuk

mengetahui hubungan dua

variabel dengan meniadakan (control) pengaruh bebas

lainnya, perhitungan ini

dilakukan dengan maksud untuk melihat :

1) Apakah terdapat hubungan antara variabel Bimbingan

Karir (X1), dan variabel

kesiapan kerja di bidang Komputer dan Jaringan (Y) apabila variabel pengalaman

Praktik Kerja Industri

(Prakerin) (X2) dikendalikan.

2) Apakah terdapat hubungan antara variabel pengalaman

praktik kerja industri (X2), dan

variabel kesiapan kerja di

bidang Komputer dan

Jaringan (Y) apabila variabel

Bimbingan Karir (X1)

dikendalikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang meliputi (a) deskripsi data variabel bebas dan variabel terikat yaitu bimbingan karir, pengalaman Praktik Kerja

(8)

Industri dan kesiapan kerja di bidang komputer dan jaringan, (b) pengujian persyaratan analisis untuk menguji

hipotesis yang meliputi uji

normalitas, uji lineritas, uji

independensi antar variabel bebas (c) pengujian hipotesis, (d) diskusi

dan pembahasan, serta (e)

keterbatasan penelitian.

Hubungan yang positif dan signifikan antara bimbingan karir (X1) dengan kesiapan kerja di bidang

komputer dan jaringan (Y)

berkorelasi positif secara signifikan

pada taraf kepercayaan 95%

sebesar 0,608 menunjukkan bahwa

korelasinya sedang (Sugiyono

(2010:257)). Regresi sederhana

yang dapat di hasilkan : Y = 69,870

+ 0,608X1Konstanta sebesar 69,870

menyatakan bahwa jika tidak ada

kenaikan nilai dari variabel

Bimbingan Karir (X1), maka nilai

Kesiapan Kerja di Bidang Komputer dan Jaringan (Y) adalah 69,870. Hal ini berarti semakin tinggi bimbingan karir, maka kesiapan kerja di bidang komputer dan jaringan cenderung

meningkat.. Untuk tingkat

pencapaian responden untuk

variabel Bimbingan Karir ini adalah sebesar 76 % menunjukkan tingkat

pencapaiannya cukup (Nana

Sudjana, 2009). Temuan ini sesuai dengan pendapat Hamalik (2000) mengatakan bahwa guru sebagai

pengajar juga memberikan

pelayanan kepada siswa yang

selaras dengan tujuan sekolah. Pelayanan yang dimaksudkan di sini termasuk juga kepada pelayanan tentang Bimbingan karir tentang informasi dunia kerja dan bimbingan untuk memasuki ke dunia kerja.

Hubungan yang positif dan signifikan pengalaman Praktik Kerja Industri dengan kesiapan kerja di bidang Komputer dan jaringan siswa SMK Kelas XII Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan dengan koefisien korelasi sebesar

0,692 menunjukkan bahwa

korelasinya kuat (Sugiyono.

(2010:257)). Persamaan Regresi

sederhana yang dapat di hasilkan:

Y= 86.016 + 0,692X2 Konstanta

sebesar 86,016 menyatakan bahwa jika tidak ada kenaikan nilai dari variabel Pengalaman Praktek Kerja Industri (X2), maka nilai Kesiapan Kerja di Bidang Komputer dan Jaringan (Y) adalah 86,016. Hal ini

berarti bahwa semakin tinggi

pengalaman Praktik Kerja Industri maka kesiapan kerja di bidang

komputer dan jaringan siswa

cenderung baik. Untuk tingkat

pencapaian responden untuk

variabel pengalaman Praktik Kerja Industri ini adalah sebesar 78,76% menunjukkan tingkat pencapaiannya

cukup (Nana Sudjana, 2009).

Pengalaman Praktik Kerja Industri

merupakan pengalaman yang

diperoleh siswa setelah

melaksanakan Praktik Kerja Industri. Pengalaman Praktik Kerja Industri yang dikemukakan oleh Helmut Nolker dan Ebenhard Schoenfeldt (1988:121) mencakup penguasaan aspek kognitif, psikomotor, afektif, hubungan sosial dan kedisiplinan.

Ada hubungan yang positif dan

signifikan Bimbingan Karir

pengalaman Praktik Kerja Industri dengan kesiapan kerja di bidang Komputer dan jaringan siswa SMK Kelas XII Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan dengan koefisien korelasi sebesar

0,757 menunjukkan bahwa

korelasinya sangat kuat (Sugiyono.

(2010:257). Persamaan regresi ganda, Ŷ = a + b1 X1 + b2 X2, dimana: a = 42,900, b1= 0,651, b2 = 0,649, Sehingga Ŷ = 42,900 + 0,651 X1 + 0,649 X2

Persamaan regresi ini dapat disimpulkan bahwa bimbingan karir (X1) dan pengalaman Praktik Kerja Industri (X2) secara bersama-sama

berkontribusi signifikan dengan

kesiapan kerja di bidang komputer dan jaringan siswa SMK kelas XII

(9)

208

Kompetensi Keahlian Teknik

komputer dan jaringan di Kota Solok.

Hal di atas sesuai dengan definisi berikut, kesiapan kerja yaitu keseluruhan kondisi individu yang meliputi kematangan fisik, mental,

dan pengalaman serta adanya

kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau kegiatan. Di samping itu pendapat lain yang mendukung yaitu pendapat dari Herminanto Sofyan (1992) & Widodo, W (2009) yang menyatakan

bahwa kesiapan kerja dapat

diartikan sebagai upaya mempunyai keterampilan yang sesuai dengan

kebutuhan masyarakat sehingga

peserta didik setelah lulus nanti dapat diserap oleh dunia kerja. KESIMPULAN

a) Hubungan yang positif dan

signifikan Bimbingan Karir

dengan kesiapan kerja di bidang Komputer dan jaringan siswa

SMK Kelas XII Kompetensi

Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan dengan koefisien

korelasi sebesar 0,608

menunjukkan bahwa korelasinya sedang.

b) Hubungan yang positif dan

signifikan pengalaman Praktik Kerja Industri dengan kesiapan kerja di bidang Komputer dan jaringan siswa SMK Kelas XII

Kompetensi Keahlian Teknik

Komputer dan Jaringan dengan koefisien korelasi sebesar 0,692 menunjukkan bahwa korelasinya kuat.

c) Hubungan yang positif dan

signifikan Bimbingan Karir dan pengalaman Praktik Kerja Industri dengan kesiapan kerja di bidang Komputer dan jaringan siswa

SMK Kelas XII Kompetensi

Keahlian Teknik Komputer dan

Jaringan dengan koefisien

korelasi sebesar 0,757

menunjukkan bahwa korelasinya sangat kuat .

DAFTAR PUSTAKA

[1]. Abu Ahmadi dan Ahmad

Rohani. 1991. Bimbingan dan

KonselingdiSekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

[2]. Depdiknas. (2002). Standart

Pelayanan Minimum

Pelaksanaan Sistem

Pendidikan Kejuruan. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

[3]. Dewa Ketut Sukardi. (1987). Bimbingan Karir di Sekolah-Sekolah. Jakarta : Balai Pustaka.

[4]. Hanamicys. (2011). Contoh

Latar Belakang Masalah. [online],

(http://www.doratekno.blogspot .com/2011/06/contoh-latar-belakang-masalah.html,

diakses tanggal 01 Oktober 2012).

[5]. Herminanto Sofyan. (1992). Kesiapan Kerja Siswa STM di

Jawa. Laporan Penelitian.

Yogyakarta: IKIP Yogyakarta

[6]. Mohamad, Surya. (1988).

Bimbingan Karir di Sekolah. Bandung: IKIP(1997).

[7]. Bimbingan untuk

Mempersiapkan Generasi Muda Memasuki Abad 21; (Pidato Pengukuhan Guru Besar). Bandung: IKIP Bandung.

[8]. Slameto. (2010). Belajar Dan

Faktor Yang Mempengaruhi . Jakarta; Rineka Jaya

[9]. Sugiyono. (2010). Metoda

Penelitian Kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

(10)

[10]. Syahron Lubis. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Padang: Sukabina Press

[11]. Nana Sudjana. (1989).

Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. . . (2009). Media Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. [12]. Nolker, Helmut. (1983). Pendidikan Kejuruan. Departemen P & K Dirjen DIKTI : Jakarta.

[13]. Nolker, Helmut & Schoenfeldt,

Ebenhard. (1988). Pendidikan

Kejuruan (Pengajaran, Kurikulum dan Perencanaan). Jakarta : Gramedia.

[14]. Oemar Hamalik. (2000).

Pengembangan Sumber Daya Manusia Manajemen Pelatihan Ketenagakerjaan Pendekatan Terpadu. Jakarta : PT. Bumi Aksara.

[15]. W. Widodo. (2009). Tinjauan

tentang Prestasi Siap Kerja,

diakses 02/10/2012

http://vahonov.files.wordpress.

com/2009/07/

Gambar

Tabel 1.  Perbandingan  Jumlah  Lulusan  Siswa  Kompetensi  Keahlian  Teknik  Komputer  dan  Jaringan  dengan  Yang  Telah  Bekerjadi  Bidang  Teknik Komputer dan Jaringan di Kota Solok

Referensi

Dokumen terkait

government introduced its 12th economic-policy package last year, which in essence aims to simplify procedures, as well as reduce the various costs involved in the establishment

PROSES BERPIKIR SISWA BERDASARKAN TEORI BRUNER DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATERI KESEBANGUNAN DI KELAS IX-A MTs MIFTAHUL HUDA. BANDUNG TULUNGAGUNG TAHUN

Adapun masalah yang penulis bahas dalam penelitian ini mengenai masalah faktor-faktor yang diduga mempengaruhi audit delay, faktor internal: Ukuran perusahaan,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dilihat dari kualitas warna hasil pencapan, maka pencapan kain sutera menggunakan zat warna alam secara keseluruhan dari keenam

bahwa dalam rangka pelaksanaan Kegiatan Mendahului APBD-P (Tambahan) pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Barat Tahun Anggaran 2012 perlu dibuat Rencana Umum

Maka dengan ini kami mengundang perusahaan saudara beserta Personil/Tenaga Ahli yang saudara sampaikan untuk hadir dalam Klarifikasi Teknis pada :.. Hari : Senin

• provide an introduction to sociological concepts, theories and research indings • stimulate awareness of the range and limitations of sociological theory and research •

Berdasarkan uraian hasil analisis regresi sederhana tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif sarana pembelajaran terhadap hasil belajar siswa