• Tidak ada hasil yang ditemukan

A Women 51 Years with Decompensated Liver Cirrhosis with Gastritis Chronic and Kidney Chronic Disease Stage III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "A Women 51 Years with Decompensated Liver Cirrhosis with Gastritis Chronic and Kidney Chronic Disease Stage III"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

A WOMEN 51 YEARS WITH DECOMPENSATED LIVER CIRRHOSIS

WITH GASTRITIS CHRONIC AND KIDNEY CHRONIC DISEASE

STAGE III

Dyah Gaby Kesuma

Faculty of Medicine, Lampung University

Abstract

Chronic liver disease and cirrhosis is a liver disease with high morbidity and mortality. Cirrhosis worldwide ranks seventh leading cause of death. Treatment for patients with liver cirrhosis in Indonesia mostly still suportif.Case. Mrs. P, women aged 51 years came with complaints of stomach getting bigger, tense and hard since 2 weeks before hospital admission. Increasing the perceived tightness, nausea, vomiting and urinating like tea. The patient had a history of ulcer. When he arrived at the hospital, the patient's condition compos mentis: Blood pressure 120/80 mm Hg, pulse 80x / min, respiration 28x / min, temperature 37,3ºC, weight 55 kg, 150 cm TB, anemic conjunctiva, sclera jaundice , ascites and pitting edema. Obtained blood tests: SGOT 40 U / L, urea 84 mg / dl, creatinine 1.55 mg / dl, GFR value 37 ml / min (CKD Stage III). On abdominal ultrasound showed liver shrink, solidified with more echogenic edge, followed by massive ascites with liver cirrhosis according intestine floating. Patients diagnosed with cirrhosis of the liver with chronic gastritis and chronic renal failure stage III treated with a diet low in salt I, III liver diet, fluid intake restriction, furosemide, spironolactone, omeprazole, propranolol, sucralfate syrup and plans paracentesis. Conclusions. Stages of liver cirrhosis treatment in Indonesia is mainly supportive. Cirrhosis therapy aimed at reducing disease progression, avoid ingredients that could increase the liver damage, prevention and treatment of complications.

Keywords: Acites, hepatic cirrhosis, liver

Abstrak

Penyakit hati menahun dan sirosis merupakan salah satu penyakit hati dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Di seluruh dunia sirosis menempati urutan ketujuh penyebab kematian. Pengobatan untuk penderita sirosis hati di Indonesia kebanyakan masih bersifat suportif. Kasus. Ny. P, perempuan usia 51 tahun datang dengan keluhan perut semakin membesar, tegang dan keras sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Sesak yang dirasakan semakin bertambah, mual, muntah dan BAK seperti teh. Pasien memiliki riwayat maag. Saat tiba di rumah sakit, pasien dalam kondisi compos mentis.Temuan fisik: Tekanan darah 120/80 mmHg, Nadi 80x/menit, respirasi 28x/menit, suhu 37,3ºC, BB 55 kg, TB 150 cm, konjungtiva anemis, sklera ikterik, asites dan pitting edema. Pemeriksaan darah didapatkan: SGOT 40 U/L, Ureum 84 mg/dl, Kreatinin 1,55 mg/dl, Nilai GFR 37 ml/menit (CKD Stage III). Pada USG abdomen didapatkan hasil hepar yang mengecil, memadat dengan tepi lebih ekogenik, diikuti

ascites massive dengan floating intestine sesuai sirosis hepatis. Pasien didiagnosa sirosis hati dengan gastritis kronik

dan gagal ginjal kronik derajat III diobati dengan diet rendah garam I, diet hati III, pembatasan intake cairan, furosemid, spironolakton, omeprazol, propanolol, sukralfat sirup dan rencana parasentesis. Simpulan. Tahapan pengobatan sirosis hati di Indonesia masih bersifat suportif. Terapi sirosis ditujukan untuk mengurangi progresi penyakit, menghindarkan bahan-bahan yang bisa menambah kerusakan hati, pencegahan dan penanganan komplikasi.

Kata kunci: Acites, hepar, sirosis hepatis,

. . .

Korespondensi: Dyah Gaby Kesuma | [email protected]

Pendahuluan

Penyakit hati menahun dan sirosis merupakan salah satu penyakit hati dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Banyak pasien yang

meninggal pada dekade keempat atau kelima kehidupan mereka akibat penyakit hati ini. Sirosis hati merupakan penyebab kematian ke-9 di Amerika Serikat, sedangkan di seluruh

(2)

dunia sirosis menempati urutan ke-7 penyebab kematian.1

Setiap tahun ada tambahan 2000 kematian pasien sirosis hati yang disebabkan karena gagal hati fulminan. Mortalitas gagal hati fulminan sangat tinggi sebesar 50-80%

kecuali bila ditolong dengan

transplantasi hati. Pengobatan untuk penderita sirosis hati di Indonesia kebanyakan masih bersifat suportif.1

Peningkatan kejadian sirosis hati sebagian disebabkan oleh insidensi hepatitis virus yang meningkat terutama hepatitis B dan C serta asupan alkohol yang tinggi, meskipun di Indonesia pasien sirosis hati yang disebabkan alkohol jumlahnya sangat sedikit. Data epidemiologi di Indonesia

belum ada yang dapat

mere-presentasikan jumlah penderita sirosis hati secara akurat.2

Terapi sirosis ditujukan untuk

mengurangi progresi penyakit,

menghindarkan bahan-bahan yang bisa menambah kerusakan hati,

pencegahan dan penanganan

komplikasi. Walaupun sampai saat ini belum ada bukti bahwa penyakit sirosis hati reversibel, tetapi dengan kontrol pasien yang teratur pada fase dini diharapkan dapat memperpanjang status kompensasi dalam jangka panjang dan mencegah timbulnya komplikasi.3

Kasus

Ny.P, perempuan usia 51 tahun datang dengan keluhan perut semakin membesar, tegang dan keras sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Tiga bulan yang lalu, pasien merasa perut membesar, penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan dari sebelumnya 55 kg menjadi

35 kg dalam jangka waktu 2 bulan. Mual-mual juga dirasakan, tetapi tidak muntah. Karena keluhan tersebut, pasien mencari pengobatan ke RS. Di Metro dan dirawat selama dua hari, kemudian berobat jalan di Puskesmas. Pasien tidak mengetahui penyakit yang diderita dan tidak ingat obat-obatan yang telah diberikan. Enam minggu sebelum masuk rumah sakit (SMRS), perut semakin membesar, sehingga menjadi tegang dan keras. Sesak juga dirasakan, tetapi berkurang jika duduk dan jika tidur memerlukan 3-4 bantal. Pasien juga merasakan mudah kenyang jika meminum 1 gelas air putih.

Dua minggu SMRS pasien

mengeluhkan perut semakin

membesar, sehingga menjadi tegang dan keras, kemudian sesak yang

dirasakan semakin bertambah,

sehingga pasien selalu mengeluh panas di dalam tubuhnya. Pasien juga mengeluhkan mual dan muntah. Muntah berwarna kuning frekuensi 3-4 kali/hari, volume ¼ gelas belimbing (±50 cc), durasi selama 2 hari.Pasien juga mengeluh BAK berwarna kuning pekat seperti teh dengan frekuensi tetap 3-4x/hari, volume ¼- ½ gelas belimbing (± 50-100 cc). Pasien tidak mengetahui bahwa selaput matanya (sklera), berwarna kuning, tetapi menurut keluarga mata pasien kuning sejak ± 1 minggu SMRS. Keluhan tersebut membuat pasien mencari pengobatan ke RS. Imanuel dan dirawat selama 5 hari dan diberitahukan menderita penyakit hati. Pasien sempat menjalani pemeriksaan endoskopi, dengan hasil terdapat jamur di tenggorokan dan luka di lambung. Pasien mengeluhkan kedua kaki yang lama kelamaan membengkak dan

(3)

karena keluhan tidak berkurang pasien dirujuk ke RS Abdul Moeloek.

Pasien juga mengeluh selama sakit sering merasakan mual dan terkadang-kadang disertai muntah. Sebelumnya pasien mengeluh adanya riwayat penyakit maah. Kesehariannya pasien sering terlambat makan, dengan frekuensi makan 2-3 kali per hari bahkan pasien sering seharian tidak makan. Pasien sering mengonsumsi makanan yang merangsang asam lambung seperti makanan pedas, asam dan minum kopi. Pasien sempat mengeluh ± 1 tahun yang lalu mengeluh nyeri pada pinggang yang menjalar hingga ke punggung kanan, tetapi pasien tidak pernah melakukan pemeriksaan dan pengobatan karena keluhan tersebut hilang timbul dan dianggap hanya penyakit sakit pinggang biasa. Pasien sering mengkonsumsi makanan mengandung santan dan yang digoreng. Riwayat penyakit kuning sebelumnya tidak diketahui, tetapi pasien pernah merasakan mual, muntah, BAK berwarna kuning pekat seperti teh, demam selama seminggu, yang dialami setahun yang lalu. Pasien rutin mengkonsumsi jamu kunyit asem yang dibuat sendiri, dengan frekuensi 1gelas/hari. Pasien minum penghilang rasa sakit hanya jika pusing yang tidak mereda dengan istirahat, dengan frekuensi maksimal ± 1x/bulan.

Pemeriksaan fisik didapatkan

keadaan umum tampak sakit sedang, kesadaran kompos mentis dengan

Glasgow Coma Scale(GCS) 15, tekanan darah 120/80 mmHg, frekuensi nadi 80x/menit (teratur, isi dan tegangan cukup), frekuensi pernapasan 28x /menit, suhu 37,3oC, BB 55 kg, TB 150

cm. Pada mata ditemukan konjuntiva palpebra anemis dan sklera ikterik.

Pada inspeksi abdomen ditemukan abdomen yang cembung dan simetris, pada palpasi ditemukan ukuran lingkar perut 92 cm, didapatkan undulasi yang merupakan tanda adanya asites, hati dan limpa sulit teraba. Pada perkusi didapatkan redup seluruh lapang abdomen yang merupakan tanda adanya acites. Auskultasi didapatkan Bising usus (+) normal 3-5x/menit. Pada ekstremitas inferior ditemukan pitting edema pada regio cruris serta dorsalis pedis dextra dan sinistra. Pemeriksaan penunjang didapatkan SGOT 40 U/L, Ureum 84 mg/dl, Kreatinin 1,55 mg/dl, Nilai GFR 37 ml/menit (CKD Stage III). Pada USG abdomen didapatkan hasil hepar yang mengecil, memadat dengan tepi lebih ekogenik, diikuti ascites massive dengan floating intestine

sesuai sirosis hepatis. Sludge dalam vesica felea. Lien dan pancreas serta kedua renal dan vesica urinaria tak tampak ada dalam batas normal.

Penatalaksanaan pada kasus ini adalah tirah baring, pemberian O2 2-3 L/menit jika perlu, diet hati III dan diet rendah garam I, cairan dibatasi, urin output, TTV dan diuresis dievaluasi, IVFD D5 gtt X/menit (mikro), spironolakton tablet 1x100 mg, seftriakson vial 1 gr/12 jam IV , furosemid ampul 3x20 mg IV, omeprazol 2x40 mg tablet, sukralfat sirup 3xC1, parasetamol 500 mg dan N-asetilsistein 200 mg tablet 3x1 (jika demam), propanolol 1x10 mg tablet, rencana dilakukan parasentesis jika tidak berespon setelah pemberian diuretik setelah dosis maksimal.

Pembahasan

Pasien datang dengan keluhan

(4)

penyakit yang dapat menyebabkan perut membesar diantaranya adalah kelainan ginjal, penyakit jantung, hatidan malnutrisi.

Pada penyakit jantung

bengkak diawali dari kedua tungkai karena venous return yang berkurang dikarenakan gangguan aliran balik ke jantung, pengaruh gaya gravitasi dan tahanan perifer pada tungkai yang

tinggi teruma fossa poplitea dan

inguinal dan apabila terjadi penurunan sintesis protein sehingga terjadi hipoalbuminemia yang menurunkan tekanan osmotik intravaskular yang menyebabkan terjadinya ekstravasasi cairan dan terjadi perut membesar. Selanjutnya adalah organ hepar. Bengkak ini diawali dari perut dikarenakan fibrosis pada hepar yang mengakibatkan bendungan sehingga

venous return berkurang dan terjadi hipertensi porta, penurunan sintesis

protein sehingga terjadi

hipo-albuminemia yang menurunkan

tekanan osmotik intravaskular yang menyebabkan terjadinya ekstravasasi cairan. Lalu alergi juga dapat menyebabkan bengkak tetapi hanya pada tempat tertentu yang sifatnya non pitting edema dan tidak berlangsung lama. Selanjutnya malnutrisi, bengkak terjadi diseluruh tubuh tanpa penyebab yang jelas biasanya pada kwashiorkor atau marasmus-kwashiorkor. Pada kelainan ginjal bengkak dimulai dari kelopak mata. Hal ini dikarenakan pengaruh gaya gravitasi. Kelopak mata merupakan jaringan yang banyak mengandung jaringan ikat longgar dan apabila terjadi penurunan sintesis

protein sehingga terjadi

hipo-albuminemia yang menurunkan

tekanan osmotik intravaskular yang

menyebabkan terjadinya ekstravasasi cairan dan terjadi perut membesar.

Pada pasien ini bengkak dimulai dari perut yang membesar yang berlanjut hingga terjadi edema pada tungkai bawah dan kaki kanan serta kiri. Hal ini menunjukan bahwa perut membesar pada pasien ini mengarah pada kelainan hati. Untuk membantu

menegakkan diagnosis maka

dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium darah lengkap, kimia darah dan urin lengkap.

Dari hasil pemeriksaan

laboratorium didapatkan SGOT 40 U/L, Ureum 84 mg/dl, Kreatinin1,55 mg/dl, Nilai GFR 37 ml/menit (CKD Stage III). Pada USG abdomen didapatkan hasil hepar yang mengecil, memadat dengan tepi lebih ekogenik, diikuti ascites massive dengan floating intestine

sesuai sirosis hepatis. Sludge dalam vesica felea. Lien dan pancreas serta kedua renal dan vesica urinaria tak tampak ada dalam batas normal.

Dari hasil anamnesis,

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium, pasien ini didiagnosa menderita sirosis hati karena hepatitis B kronik dengan gastritis kronik dan gagal ginjal kronik derajat III. Sirosis merupakan konsekuensi dari penyakit hati kronis yang ditandai dengan penggantian jaringan hati oleh fibrosis, jaringan parut dan nodul regeneratif (benjolan yang terjadi sebagai hasil dari sebuah proses regenerasi yang rusak) akibat nekrosis hepatoseluler yang mengakibatkan penurunan hingga hilangnya fungsi hati.4 Sirosis hati

secara klinis dibagi menjadi sirosis hati kompensata yang berarti belum jelas gejala klinis yang nyata dan sirosis hati dekompensata yang ditandai dengan

(5)

gejala-gejala dan tanda klinis yang jelas. Sirosis hati kompensata merupakan kelanjutan dari proses hepatis kronik pada satu tingkat tidak terlihat perbedaannya secara klinis, tetapi dapat dibedakan melalui pemeriksaan biopsi hati.5

Sirosis hati sering didahului oleh hepatitis dan fatty liver (steatosis),

sesuai dengan etiologinya. Jika

etiologinya ditangani pada tahap ini, perubahan tersebut masih sepenuhnya reversibel. Ciri patologis dari sirosis adalah pengembangan jaringan parut yang menggantikan parenkim normal, memblokir aliran darah ke portal melalui organ dan mengganggu fungsi organ normal. Penelitian terbaru menunjukkan peran penting sel stellata, tipe sel yang biasanya

menyimpan vitamin A dalam

pengembangan sirosis. Kerusakan

parenkim hati menyebabkan sel stellata menjadi kontraktil (miofibroblast) dan menghalangi aliran darah dalam sirkulasi. Sel ini mengeluarkan TFG-β1

yang mengarah pada respon fibrosis dan proliferasi jaringan ikat. Selain itu, juga mengganggu keseimbangan antara matriksmetalloproteinasedan inhibitor

alami (TIMP 1dan 2) yang

menyebabkan kerusakan matriks. Pita jaringan ikat (septa) memisahkan nodul-nodul hepatosit yang pada

akhirnya menggantikan arsitektur

seluruh hati yang berujung pada penurunan aliran darah di seluruh hati. Limpa menjadi terbendung mengarah ke hipersplenisme dan peningkatan sekuesterasi platelet. Hipertensi portal bertanggung jawab atas sebagian besar komplikasi parah sirosis.6,7

Sirosis hati bisa disebabkan oleh

Alcoholic liver disease, hepatitis C kronis, hepatits B kronis, Non-alcoholic

steatohepatitis (NASH), Sirosis bilier primer, kolangitis sklerosis primer, autoimun hepatitis, sirosis jantung dan penyakit Keturunan dan metabolik Pada kasus ini terjadi sirosis hati dengan kemungkinan akibat hepatitis B yang kronik.6 Pada anamnesa pasien

tidak mengetahui secara jelas tentang penyakit kuning yang dialami, tetapi menurut keterangan pasien ± 1 tahun yang lalu pasien merasakan mual, muntah, BAK berwarna kuning pekat seperti teh, demam selama seminggu. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala penyakit hepatitis akut, tetapi karena pasien tidak melakukan pengobatan terhadap penyakitnya

kemungkinan penyakit tersebut

berkembang menjadi penyakit hepatitis B yang kronik. Untuk memastikannya pada kasus ini dianjurkan melakukan pemeriksaan imunoserologi (HbeAg, IgG Anti HBc). Hepatitis B kronik bisa menyebabkan terjadi nekrosis sel-sel hati yang akhirnya berkembang menjadi sirosis hati.

Pada pasien dengan sirosis hati, edema yang pertama kali muncul adalah pada bagian abdomen. Hal ini dapat dijelaskan karena pada sirosis hati terjadi jaringan fibrosis yang mengakibatkan terjadinya tahanan pada vena porta akibatnya terjadi peningkatan tekanan dari vena tersebut. Akibat dari peningkatan ini, terjadi pengalihan aliran darah ke pembuluh darah mesenterika sehingga terjadi filtrasi bersih cairan keluar dari

pembuluh darah ke rongga

peritoneum. Cairan tersebut mengan-dung albumin yang tinggi sehingga pada darah terjadi penurunan kadar albumin. Pada keadaan lanjut karena ada kerusakan pada hepatosit yang menyebabkan terjadinya kegagalan

(6)

fungsi hati salah satunya gagalnya sintesis dari albumin. Inverted albumin-globulin ratio terjadi karena penurunan produksi albumin oleh hati yang disertai peningkatan produksi globulin. Hati merupakan tempat produksi protein seperti albumin dan globulin, sehingga kerusakan hepar akan membuat produksi protein tersebut berkurang.8,9,10

Selain asites dan edema tungkai pada pasien dengan sirosis hati juga ditemukan hati yang membesar pada awal sirosis, bila hati mengecil artinya prognosis kurang baik. Pada sirosis hati, konsistensi hati biasanya kenyal/firm, pinggir hati biasanya tumpul dan ada nyeri tekan pada perabaan hati. Pada

limpa terdapat pembesaran

limpa/slenomegali. Pada kasus sulit dilakukan penilaian terhadap hepar dan limpa karena terdapat asites sehingga hepar dan limpa sulit teraba. Kemudian

didapatkan vena kolateral yang

merupakan hasil dari hipotensi porta yang disebabkan peningkatan resistensi intrahepatis. Darah yang tidak dapat melewati sistem porta akan berjalan di vena-vena di sekitar vena porta, menyebabkan shunting porta-sistemik.

Manifestasi diluar perut perhatikan adanya spider navy pada bagian atas, bahu, leher, dada , pinggang, caput medusa dan tubuh bagian bawah. Perlu diperhatikan adanyaeritema Palmaris, ginekomastia dan atrofi testis serta bisa juga dijumpai hemoroid. Untuk kasus ini tidak ditemukan temuin klinis sirosis.8,9,10

Pada kasus didapatkan pasien memiliki riwayat pasien sehari-hari

pasien sering terlambat makan.

Keadaaan ini berakibat terjadinya peningkatan asam lambung sehingga

menyebabkan mukosa lambung

teriritasi dalam waktu yang lama. Untuk itu pasien ini menderita gastritis kronik.

Pada pemeriksaan laboratorium

didapatkan peningkatan dari SGOT.

Peningkatan SGOT menunjukkan

adanya kelainan di hati. SGOT dan SGPT meningkat cukup tinggi, dengan SGOT > SGPT. Namun, SGPT normal tidak menyingkirkan sirosis.11,12

Pada kasus didapatkan nilai SGOT tinggi dan SGPT normal yaitu 40 U/L dan 11 U/L. pada pemeriksaan fungsi ginjal didapatkan peningkatan ureum dan kreatinin 84 mg/dl dan 1,55 mg/dl. Hal ini menunjukkan adanya penurunan daru fungsi ginjal. Salah satu kompikasi dari sirosis hati adalh sindrom hepatorenal, terjadi gangguan fungsi ginjal akut berupa oliguria, peningkatan ureum dan kreatinin tanpa adanya

kelaianan organik ginjal.13,14

Kerusakan hati lanjut menyebabkan penurunan perfusi ginjal yang berakibat pada penurunan laju filtrasi glomerulus

(LFG). Pada kasus didapatkan

penurunan nilai GFR 37 ml/menit. Pada kasus gagal ginjal kronik nilai GFR 37 ml/menit termasuk ke dalam stadium III.

Penatalaksanaan pada kasus diberikan diet hati III dan diet rendah garam I. Diet hati III diberikan pada pasien hepatitis akut dan sirosis hati

yang nafsu makan baik, dapat

menerima protein, lemak dan mineral serta vitamin serta tinggi protein. Bila ada acites ditambah dengan diet rendah garam I yaitu mengandung kadar natrium 200-400 mg.15,16,17

Penatalaksanaan medikamentosa

diberikan spironolakton 1x25 mg dan furosemid ampul 3x20 mg IV. Obat-obatan ini diberikan untuk membantu dalam mengeluarkan cairan pada kasus asites dan edema tungkai. Omeprazol

(7)

2x40 mg tablet dan sukralfat sirup 3xCI diberikan untuk mengurangi asam lambung dengan menghambat pompa

proton dan melindungi mukosa

lambung dari zat yang bersifat iritatif. Pada kasus obat penurun panas diberikan parasetamol 500 mg dan n-asetilsistein 200 mg. N-n-asetilsistein merupakan suatu antioksidan, yaitu

sumber glutation yang efektif

mencegah proses oksidasi pada tubuh (Oksidasi ialah hancurnya jaringan tubuh karena radikal bebas. Sebagai antioksidan dan diduga berfungsi sebagai protektor kanker dengan pasien yang belum menderita kanker. Ini di simpulkan dari hasil epidemiologi, ada hubungan meningkatnya konsumsi

antioksidan dalam diet dan

menurunnya insidensi kanker.

Antioksidan juga bersifat menghambat apoptosis (kematian sel terprogram) justru memicu terjadinya kanker pada pasien yang sedang menderita kanker karena kerusakan atau perubahan DNA.16 Propanolol 1x10 mg tablet

diberikan untuk mencegah terjadinya

perdarahn akibat varises

esophagus.18,19 Pada pasien

direncanakan parasentesis dengan

alasan pengambilan cairan untuk mengurangiasites massive. Parasintesis dilakukan jika tubuh tidak respon terhadap pemberian diuretik dosis maksimal dan nilai albumin harus ≥ 3 gr/dl. Disarankan pemberian 10 g albumin intravena untuk tiap 1 liter cairan yang diaspirasi untuk mencegah penurunan volume plasma dan gangguan keseimbangan elektrolit.20,21

Prognosis sirosis sangat

bervariasi dipengaruhi sejumlah faktor, meliputi etiologi, beratnya kerusakan hati, komplikasi dan penyakit lain yang menyertai. Klasifikasi Child-Pugh juga

digunakan untuk menilai prognosis pasien sirosis yangakan menjalani

operasi, variabelnya meliputi

konsentrasi bilirubin, albumin, ada tidaknya asites, enselopati dan juga status nutrisi.22,23 Klasifikasi ini terdiri

dari Child A, B, dan C. Klasifikasi Child-Pugh berkaitan dengan kelangsungan hidup. Angka kelangsungan hidup selama 1 tahun untuk pasienChildA, B, dan C berturut-turut 100%, 80% dan 45%.24,25

Pada kasus belum bisa

ditentukan prognosis berdasarkan klasifikasi Child-Pugh karena belum dilakukan pemeriksaan bilirubin serum pada pasien. Berdasarkan hasil dari pemeriksaan yang dilakukan prognosis pada kasus ini dubia ad malam karena pada pasien ini sudah mengalami komplikasi dari sirosis hati berupa sindroma hepatorenal.25

Simpulan

Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang berlangsung

progresif. Penyebab tersering di

Indonesia kebanyakan disebabkan

akibat hepatitis B atau C.

Penatalaksanaan kasus sirosis hepatis dipengaruhi oleh etiologi dari sirosis

hepatis. Terapi yang diberikan

bertujuan untuk mengurangi

progresifitas dari penyakit. Prognosis

sirosis sangat bervariasi dan

dipengaruhi oleh sejumlah faktor,

diantaranya etiologi, beratnya

kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit yang menyertai.

DaftarPustaka

1 Kusumobroto Hernomo O. Sirosis Hati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi 1. Jakarta: Jayabadi; 2007.

2 Don C. Rockey, Scott L. Friedman. Hepatic Fibrosis And Cirrhosis [Internet]. 2006

(8)

[cited 2014 August 15]. Available fromNetlibrary:http://www.eu.elsevierhe alth.com/media/us/samplechapters/9781 416032588/9781416032588.pdf.

3 Riley TR, Taheri M, Schreibman IR. Does weight history affect fibrosis in thesetting of chronic liver disease: J Gastrointestin Liver.2009; Dis18(3): 299-302.

4 Nurdjanah Siti. Sirosis Hati. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006.

5 Kuntz Erwin, Kuntz Hans-Dieter. Liver Cirrhosis, Hepatology Principles and Practice 3th Springer. 2008; p. 738-768. 6 Jagiello, J.Z.,Simon, M.P., Simon, K.,

Warwas, M. Advanced Oxidation Protein Product and Inflamatory Markers in Liver Cirrhosis : A Comparison Between Alcohol Related and HCV related cirrhosis: Acta Biochimica Polonica. 2011; 58 (1) 59-65.

7 Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia [Internet]. Jakarta: Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia: 2010[cited 2014 August 15]. Available from:http://pphi-online.org 8 Guadalupe Garcia-Tsao. Prevention and

Management of GastroesophagealVarices and Variceal Hemorrhage in Cirrhosis: Am J Gastroenterol. 2007; 102: 2086-2102.

9 Lindseth Gleda N. 2005. Sirosis Hati. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume I. Edisi VI. Jakarta: EGC; 2005.

10 Shimizu,I., Kohno, N., Tamaki, K., Shono, M., Huang, H.W., Jiang, H.H., Yaio,D.F. Female hepathology: Favorable role of estrogen in chronic liver disease with hepatitis B virus infection: World J Gastroenterol 13 (32). 2007; 4295-305. 11 Kusumobroto O Hernomo. Sirosis Hati.

Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Hati, edisi I. Jakarta: Jayabadi; 2009.

12 Compean D, Quintana JOJ. Liver Cirrhosis and diabetes: Risk factor, pathofisiology clinical implication and management: World Gastroenterol. 2009; 2115-2118.

13 Campillo Bernard. Assessment of Nutritional Status and Diagnosis of Malnutrition in Patients with Liver

Disease. Nutrition, Diet Therapy and the Liver, chap. 3, p. 33-45: CRC Press, Taylor & Francis Group. 2010.

14 Carvalho Luciana. Parise Edison R., Evaluation of nutritional status of nonhospitalized patients with liver cirrhosis: Arq Gastroenterol. 2006; 43(4): 269-274.

15 Kondrup Jens. Nutrition in End-stage Liver Diseases. Nutrition, Diet Therapy and the Liver, chap. 22, p. 337-346: CRC Press, Taylor & Francis Group. 2010.

16 Durand F, Valla D. Assesment of the prognosis of cirrhosis Child-Pugh versus MELD: Hepatology. 2005; 42 : S100-107. 17 Fernandes Sabrina A., et al. Nutritional

assessment in patients with cirrhosis: Arq Gastroenterol.2012; 49(1): 19-27.

18 Setiawan, Poernomo Budi.Sirosis hati. In: Askandar Tjokroprawiro, Poernomo Boedi Setiawan, et al. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2007. Page 129-136.

19 Khan, H dan Zarif, M. Risk Factors, Complications and Prognosis of Cirrhosis in a Tertiary Care Hospital of Pashawar: Hep Mon, 2006; 6 (1) : 7-10.

20 Dancygier, Henryk. Liver Cirrhosis: Clinical Hepatology. Principles and Practice of Hepatobiliary Disease vol. 2 chap. 79. 2010; p.949-964.

21 Robert S. Rahimi, Don C. Rockey. Complications of Cirrhosis: Curr Opin Gastroenterol. 2012; 28(3):223-229. 22 Setiawan Poernomo. Nutrisi pada Penyakit

Hati. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 1st edition: Jayabadi. 2007; p. 619-624.

23 Heidel

baugh, J & Bruderly, M. Cirrhosis and Chronic Liver Failure : Part I. Diagnosis and Evaluation: Am Fam Physician. 2006; 74 (2) :756-62.

24 Caroli

ne R Taylor. Cirrhosis Imaging[Internet]. North America: Yale University School of Medicine. 2011.[cited 2014 August 15].

Available from Netlibrary

http://emedicine.medscape.com/article/ 366426-overview#showall.

25 Guada

lupe Garcia-Tsao. Prevention and Management of Gastroesophageal

(9)

Varices and Variceal Hemorrhage in Cirrhosis. Am J Gastroenterol. 2007: 102:2086–2102

Referensi

Dokumen terkait

Wawancara dilakukan secara informal dengan melakukan kunjungan ke rumah atau lahan petani di empat dusun, yaitu Brobahan, Rejadadi, Kaliurip, dan Kaliurip Gunung untuk

heading. Semua tulisan harus dalam font 10pt. Setiap kata dalam suatu tulisan harus huruf kecil kecuali untuk kata-kata pendek seperti yang tercantum dalam Bagian III-B.

Janganlah engkau taqlid (mengekor) kepada orang lain dengan buta (tanpa memilih dan memilah mana yang baik dan yang buruk serta mana yang sesuai dengan sunnah/syari’at dan mana

Silogisme hipotetik adalah pernyataan yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, tapi untuk premis minornya adalah proposisi kategorik yang menetapkan atau mengingkari

Dalam hal pemenuhan terhadap ruang lingkup tersebut, akan menggunakan sebuah rangka kerja (framework) yang dapat mengintegrasikan setiap bagian pada ruang lingkup dokumen

Setelah penambahan madu dengan persentase yang sama yaitu 4% dari berat daging sebagai substrat fermentasi, ternyata kadar gula reduksi masing-masing kaldu juga tidak

Hasil temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa remaja memaknai perilaku phubbing dalam komunikasi peer group sebagai tindakan sadar maupun tidak sadar yang dilakukan sebagai

Perlakuan kapur 100 % setara Al-dd yang diberikan lebih awal ditambahltan TSP nyata lebih tinggi dibandingkan perlakuan kombinasi lainnya terhadap bobot