• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. Pendahuluan. ini dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I. Pendahuluan. ini dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Salah satu cabang studi di Sastra Indonesia adalah filologi. Filologi selama ini dikenal sebagai ilmu yang berhubungan dengan karya masa lampau yang berupa tulisan (Baroroh-Baried dkk., 1994: 1). Karya-karya masa lampau tersebut dikaji karena ada anggapan bahwa kandungan atau isi dari karya tersebut masih relevan dengan masa kini. Berbeda dengan produk sastra modern, hasil ciptaan masa lampau berada dalam kondisi yang tidak selalu dapat diterima dengan jelas dan sering dikatakan “gelap” atau “tidak jelas” oleh pembaca masa kini sehingga banyak karya tulisan masa lampau dirasakan tidak mudah dipahami (Baroroh-Baried dkk., 1994: 1).

Hal tersebut merupakan suatu masalah karena nilai-nilai yang terkandung pada karya sastra klasik menjadi tidak dapat diinformasikan kepada masyarakat luas. Terlebih lagi, karya sastra tersebut merupakan manifestasi dari pikiran, gagasan, maupun rekaman peristiwa sejarah pada masanya. Karya-karya dengan kandungan informasi mengenai masa lampau itu tercipta dari latar sosial budaya yang tidak ada lagi atau yang tidak sama dengan latar sosial budaya masyarakat pembaca masa kini (Baroroh-Baried dkk., 1994: 1).

Akan tetapi, karena karya sastra klasik itu sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun, besar kemungkinan manuskrip-manuskrip yang bisa dihadirkan untuk dibaca dan diinterpretasi sudah rusak atau tidak sempurna lagi penampilan

(2)

fisiknya. Kerusakan tersebut bisa saja disebabkan oleh faktor ketahanan alas naskah, kondisi iklim, cara penyimpanan dan perlakuan pada teks, dst. Selain itu, terkadang ditemukan pula beberapa naskah yang jamak. Pada masa lalu, ketika mesin cetak belum begitu dikenal di Indonesia, cara memperbanyak teks adalah dengan menyalinnya. Proses penulisan di nusantara mayoritas bersifat kreatif atau tidak patuh dengan naskan asli yang sedang disalinnya. Penulis memberikan perbaikan, penambahan, dan pengurangan di beberapa bagian. Pada titik ini, muncul masalah baru, yaitu sulitnya pelacakan naskah asli sebuah karya sastra.

Oleh karena permasalahan-permasalahan di atas, muncullah filologi. Filologi merupakan satu disiplin yang diperlukan untuk satu upaya yang dilakukan terhadap peninggalan tulisan masa lampau dalam rangka kerja menggali nilai-nilai masa lampau (Baroroh-Baried dkk., 1994: 2). Naskah-naskah yang menjadi objek kajian filologi adalah naskah-naskah kuno. Pada masa lalu, karya sastra untuk masyarakat umum hanya tersedia dalam sebuah atau sejumlah kecil naskah—masing-masing ditandai oleh keunikan tersendiri dan ditulis dengan tangan yang khas (Robson, 1994: 11). Selain itu, masalah lain yang muncul adalah teks dalam naskah tersebut kemungkinan ditulis dalam bahasa atau idiom yang tidak kita kenal (Robson, 1994: 11).

Berdasarkan hal di atas, tugas filolog menjadi penting. Menurut Robson (1994: 12), tugas filolog tidak hanya “kritik teks”, tetapi pada dasarnya ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu menyajikan dan menafsirkan. Sebelum menyajikan dan menafsirkan, tentunya peneliti harus memilih naskah yang akan

(3)

menjadi dasar kajiannya. Setelah menentukan naskah sebagai dasar kajian, langkah selanjutnya ialah menyajikan teks terbaca kepada pembaca masa kini.

Beberapa ahli yang pernah melaksanakan tugas filologis tersebut misalnya Shellabear (via Liaw Yock Fang, 2011: 442) dengan naskah Sejarah Melayu, J.J. Ras (via Liaw Yock Fang, 2011: 492) dengan naskah Hikayat Banjar dan Kota

Waringin, Iskandar (via Liaw Yock Fang, 2011: 464) dengan naskah Hikayat

Aceh, dan lain sebagainya. Hal serupa juga dilakukan oleh Russell Jones ketika menjadikan Hikayat Raja Pasai (HRP) dengan kode naskah MS Raffles No. 67 sebagai dasar kajian dari kegiatan penyuntingan naskahnya. Naskah bersih yang merupakan hasil suntingan Jones tersebut yang kemudian peneliti gunakan sebagai dasar kajian.

Hikayat Raja Pasai (HRP) adalah salah satu hikayat yang oleh Liaw Yock Fang dikategorikan ke dalam sastra sejarah sehingga hikayat ini berkisah seputar keluarga kerajaan. Satu istilah yang sering dipakai untuk pengertian sejarah ialah salasilah, silsilah. Dari istilah yang dipakai dapat ditarik kesimpulan bahwa silsilah, daftar keturunan, adalah intisari dari sastra sejarah (Liaw Yock Fang, 2011: 433). Karya-karya yang termasuk dalam sastra sejarah adalah Hikayat Hang Tuah, Hikayat Merong Mahawangsa, Hikayat Bandjar, dst. Menurut Liaw Yock Fang (2011: 436), HRP adalah hasil sastra sejarah tertua yang menceritakan peristiwa yang terjadi antara tahun 1250—1350. Winstedt (via Liaw Yock Fang, 2011: 436) menyimpulkan bahwa HRP ditulis pada abad ke-14. Hikayat ini diperkirakan telah ada sebelum Sejarah Melayu (SM) ditulis sehingga mungkin penulis SM telah mengutip HRP karena ditemukan persamaan-persamaan di

(4)

beberapa bagian. Braginsky (1998: 79) kemudian menyimpulkan lagi bahwa tarikh saat diciptakannya HRP adalah dalam peralihan abad ke-14 ke abad ke-15 atau dalam permulaan abad ke-15.

Dalam buku Karya Agung HRP, Jones (1999) membagi hikayat ini menjadi tiga bab. Hal itu sejalan dengan yang dilakukan Hill (via Iskandar, 1996: 152) ketika ia mengenalkan dan menganalisis HRP yang berkode naskah MS Raffless Malay No. 67. Di sana, Hill (via Iskandar, 1996: 152) juga membagi isi HRP ke dalam tiga bagian, yaitu:

(1) dari awal sejarah Pasai hingga dengan disebut Sultan Malikul Mahmud dan naiknya takhta Sultan Ahmad,

(2) kerajaan Sultan Ahmad dan riwayat putera baginda Tun Beraim Bapa, dan (3) riwayat Putri Gemerencang, putri Raja Majapahit yang jatuh cinta pada Tun Abdul Jalil, putera Sultan Ahmad, dan Pasai dikalahkan oleh Majapahit.

Kisah dalam HRP (Jones, 1999) bermula saat Raja Muhammad menemukan seorang putri yang kemudian diangkatnya sebagai anak di tengah rimbunan betung. Tidak lama berselang, Raja Ahmad, saudara Raja Muhammad, menemukan putra yang hidup diasuh oleh seekor gajah. Waktu berlalu dan dua anak tersebut dinikahkan. Dari perkawinan tersebut, lahirlah Merah Silau (yang kelak bergelar Sultan Malikul Saleh) dan Merah Hasum. Merah Silau menikah dengan Puteri Ganggang dari Perlak. Dari pernikahan tersebut, Malikul Tahir lahir dan kemudian memiliki keturunan bernama Malikul Mahmud (yang berkuasa di Pasai) dan Malikul Mansur (yang berkuasa di Samudera). Malikul Mansur kemudian memiliki seorang putera bernama Ahmad Perumudal Perumal dan dua

(5)

anak yang tidak diceritakan lebih lanjut. Konflik sedarah mulai timbul ketika Raja Ahmad Perumudal Perumal ini birahi terhadap dua anak gadisnya yang bernama Tun Medam Peria dan Tun Takiah Dara. Putera Raja Ahmad Perumudal Perumal yang lain, yaitu Tun Beraim Bapa dan Tun Abdul Jalil tewas di tangannya sehingga hanya menyisakan Tun Abdul Fadil.

Hikayat ini diwarnai keajaiban-keajaiban yang dimunculkan penulisnya, misalnya dengan kemunculan Puteri Betung, penyebab lenyapnya Puteri Betung dari muka bumi karena sehelai rambutnya yang seperti emas di tengah kepala dicabut oleh suaminya, dan proses pengislaman Sultan Malikul Saleh yang dijalaninya melalui mimpi. Hal itu sejalan dengan yang disebutkan Liaw Yock Fang (2011: 434) bahwa sastra sejarah biasanya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian yang bersifat dongeng dan bagian yang berupa fakta sejarah.

Selama proses peninjauan pustaka, banyak ditemukan penelitian-penelitian mengenai HRP ini. Mayoritas penelitian itu membahas HRP dari sisi historisnya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan suatu kebaruan dalam penelitian, kajian tentang sisi dongeng akan menjadi pokok bahasan, seperti, mengapa kejaiban-keajaiban itu dimunculkan dalam HRP. Berdasarkan uraian tersebut, salah satu pendekatan yang sesuai untuk memahami permasalahan tersebut adalah kajian mitologi Roland Barthes. Teori tersebut dapat digunakan untuk mengungkapkan makna di balik makna. Dalam karya sastra, menggunakan sesuatu untuk mengungkapkan sesuatu itu adalah hal yang lazim. Oleh karena itu, teori ini dinilai dapat menjadi alat untuk menemukan makna dari HRP melalui analisis

(6)

struktur linguistik dan struktur mitis untuk kemudian diungkapkan ideologi yang berusaha disampaikan penulisnya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut.

1. Apa saja struktur linguistik dalam Hikayat Raja Pasai?

2. Apa saja struktur mitis dan ideologi dalam Hikayat Raja Pasai?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan butir-butir yang telah dituliskan pada rumusan masalah di atas, penelitian ini mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan teoretis dan tujuan praktis. Tujuan teoretis yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(1) mendeskripsikan struktur linguistik dan

(2) menginterpretasi struktur mitis dan ideologi dalam Hikayat Raja Pasai. Adapun tujuan praktis dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan apresiasi dan pemahaman terhadap naskah Melayu di Indonesia. Penelitian ini dimaksudkan pula agar kandungan-kandungan dalam naskah warisan leluhur itu dapat menambah khazanah penelitian terhadap Sastra Indonesia lama.

1.4 Tinjauan Pustaka

HRP merupakan karya sastra yang termasuk dalam kategori kesusastraan sejarah. Karya ini bisa dikatakan kanon sehingga banyak ahli yang tertarik untuk

(7)

mengkajinya. Winstedt (via Iskandar, 1996: 150) membahas tentang persamaan-persamaan antara HRP dengan Sejarah Melayu dalam makalahnya yang berjudul The Chronicles of Pasai. Selain itu, Winstedt (via Iskandar, 1996: 150) dalam The

Malay Annals or Sejarah Melayu dan A History of Malay Literature juga

membahas mengenai HRP. Di sana dia menjelaskan bahwa HRP ditulis lebih dulu dibandingkan dengan Sejarah Melayu. Setelah itu, R. Roolvink (via Iskandar, 1996: 150) dalam Hikajat Radja-Radja Pasai, Bahasa dan Budaja juga turut memberikan pendapat mengenai mana yang lebih dulu ditulis antara HRP dan

Sejarah Melayu. Kemudian, nama A. Teeuw (via Iskandar, 1996: 151) juga

muncul untuk memberikan pendapat mengenai hal yang sama, tetapi dengan hasil yang berbeda. Makalahnya tentang hal tersebut berjudul Hikayat Raja-Raja Pasai and Sejarah Melayu. Menurut Teeuw, HRP diciptakan setelah Sejarah Melayu. Akan tetapi, pendapat Teeuw tersebut dibantah oleh Sweeney (via Iskandar, 1996: 151) dalam tulisannya yang berjudul The Connection between the Hikayat

Raja-raja Pasai and the Sejarah Melayu. Sweeney kembali meyakinkan bahwa HRP

ditulis lebih dulu daripada Sejarah Melayu berdasarkan internal evidence yang ada.

Selain penelitian di atas, hikayat ini juga ditempatkan oleh peneliti sebagai sebuah dokumen sejarah. Kronika Pasai (KP) Sebuah Tinjauan Sejarah adalah buku yang ditulis oleh Teuku Ibrahim Alfian (2004). Dalam buku tersebut, Alfian mencoba mencari beberapa kemungkinan fakta historis. Alfian menyimpulkan bahwa sumber-sumber seperti KP meskipun bersifat sekunder, bisa membantu untuk memberikan petunjuk agar sampai pada sumber pimer.

(8)

Bahan penelitian para ahli yang kemudian dituangkan dalam bentuk makalah, essai, dan buku itu juga pernah menjadi naskah dasar kajian seorang mahasiswa Program Studi Indonesia, FIB UI, Rindias Helenamartha Fatmasari (2010), dalam skripsinya yang berjudul “Nomina Berafiks Pe-, Per-, Pe—an, dan Per—an dalam Naskah Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Muhammad Hanafiyyah, dan Hikayat Raja Pasai”. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa perbedaan pola pembentukan nomina berafiks pe-, per-, pe--an, dan per—an, perbedaan makna afiks pembentuk nomina pe-, per-, pe--an, dan per—an, perbedaan makna afiks pe-, per-, pe--an, dan per--an pada beberapa nomina.

“Terjemahan Alat Kohesi pada Teks HRRP dalam Bahasa Inggris The Chronicle of The Kings of Pasai” adalah tesis yang ditulis oleh Juliana (2014), mahasiswi pascasarjana USU, Medan. Melalui analisis tersebut dapat diketahui bahwa terdapat terdapat 533 data kohesi grammatika yang terdiri dari 268 data kohesi referensi (50.3%), 0 data kohesi elipsis (0 %), 31 data kohesi subtitusi (5.8%), dan 234 data kohesi konjungsi (43.8%). Kedua, terdapat 483 data kohesi grammatika) yang terdiri dari 262 data kohesi referensi (54.24%), 11 data kohesi elipsis (2.3 %), 9 data kohesi subtitusi (1.86%), dan 201 data kohesi konjungsi (41.6%). Berdasarkan hasil analisis terhadap teks The Chronicle of the Kings of

Pasa;, terdapat 89 penerjemahan data alat kohesi grammatika yang berbeda

meliputi alat kohesi referensi dan konjungsi. Kedua, tingkat kekohesifan teks the Chronicle of the Kings of Pasai; tergolong sangat tinggi yaitu 90 % dengan menggunakan formula Scinto oleh Hartentt (1986). Ketiga, ada 89 data

(9)

menunjukkan perbedaan penggunaan alat kohesi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 71 data kohesi referensi dan 18 data kohesi konjungsi. Keempat, aspek keberterimaan terjemahan, terdapat 87 data penerjemahan berterima, 2 data penerjemahan tidak berterima.

Tidak jauh berbeda dengan objek material yang sudah banyak digunakan peneliti sebelumnya, teori semiologi Roland Barthes ini juga banyak diaplikasikan dalam analisis karya sastra. Beberapa penelitian yang menggunakan teori semiologi Roland Barthes adalah skripsi yang ditulis oleh Eka Nurhatika Putri Septiana (2014), mahasiswi program studi Sastra Indonesia UGM. Skripsi yang berjudul “Mitos Kunang-Kunang dalam Cerpen “Requiem Kunang-Kunang” Karya Agus Noor: Analisis Semiotika” ini berfokus pada pengungkapan makna mitos kunang-kunang dari ketiga kisah dan penanda-penanda yang terdapat dalam cerpen “Requiem Kunang-Kunang” dan memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis “Requiem Kunang-Kunang”.

Selanjutnya, terdapat skripsi “Mitos Kecantikan dalam Novel Maya Karya Ayu Utami” yang ditulis oleh Galih Pangestu Jati (2016). Hasil dari penelitian ini adalah mengenai mitos kecantikan yang terdapat di dalam novel Maya yang merupakan representasi dari kekuasaan pemerintahan orde baru. Kekuasaan orde baru yang diangkat oleh novel ini merupakan sebuah peringatan dini atas kepemimpinan Prabowo Subianto. Hal ini disebabkan citra Soeharto yang melekat padanya. Novel ini pun sarat dengan ideologi liberalisme.

“Mitos Batu dalam Cerpen "Menjadi Batu" dan "Batu Menjadi" Karya Taufik Ikhram Jamil: Kajian Mitos Roland Barthes” merupakan skripsi yang

(10)

ditulis oleh Novita Desy Prasetyowati (2016), mahasiswi Sastra Indonesia FIB UGM. Hasil dari penelitian tersebut ialah batu yang dimitoskan sebagai representasi sikap masyarakat daerah Riau yang terdiskriminasi. Selain itu, kedua cerpen tersebut juga menggambarkan keadaan Riau pada masa transisi dari orde baru ke reformasi. Berdasarkan pemitosan tersebut, terungkap bahwa terdapat ideologi tertentu, yaitu ideologi konservatisme dan marhaenisme.

Selain itu, terdapat sebuah tesis yang ditulis oleh Alvi Puspita (2013), mahasiswa program pascasarjana FIB UGM yang berjudul “Mitos tentang Petalangan dalam Bujang Tan Domang Susunan Tenas Effendy (Kajian Mitos Roland Barthes)”. Penelitian tersebut mengungkapkan sistem semiologi dari buku Bujang Tan Domang yang terdiri dari sistem linguistik dan sistem mitisnya. Hasil dari penelitian ini bahwa buku Bujang Tan Domang merupakan sebuah buku yang politis dan ideologis. Pemitosan Petalangan sebagai Riau berhubungan dengan dua ideologi utama dalam buku ini yaitu nasionalisme Riau dan penjunjungan nilai-nilai Melayu. Teori yang digunakan dalam skripsi dan tesis tersebut memiliki kesamaan dengan teori yang diterapkan dalam skripsi ini. Akan tetapi, objek kajian yang digunakan berbeda sehingga hasil yang akan ditemukan akan berbeda pula.

1.5 Landasan Teori

Mitos adalah cerita suatu bangsa atau dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal usul semesta alam, manusia, dan bangsa, mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib (Tim Penyusun,

(11)

2008: 922). Akan tetapi, Barthes menawarkan definisi mitos yang lebih luas. Menurut Barthes (2011), segala sesuatu bisa menjadi mitos karena alam semesta ini ramah terhadap interpretasi. Artinya, Barthes menawarkan alternatif pemaknaan terhadap suatu hal yang dianggap mitos. Karena disebut sebagai sebuah alternatif, interpretasi suatu mitos menjadi terbuka. Pembacaan dan pemaknaan dapat terus menerus dilakukan untuk menghindari pemaknaan tunggal.

1.5.1 Mitos sebagai tipe wicara

Mitos merupakan sistem komunikasi (Barthes, 2011: 151). Segala sesuatu bisa menjadi mitos selama hal tersebut disajikan dalam sebuah wacana. Mitos memiliki batas-batas formal, tetapi semua itu tidak begitu substansial karena alam semesta ini begitu subur bagi dugaan dan saran (Barthes, 2011: 152). Lebih lanjut dikatakan oleh Barthes (2011: 153) bahwa mitos tidak dibatasi hanya pada wicara lisan. Pesan bisa terdiri dari bebagai bentuk tulisan atau representasi. Dengan demikian, hikayat termasuk di dalamnya.

1.5.2 Mitos sebagai Sistem Semiologi

Karena mitologi adalah studi tentang tipe wicara, maka sesungguhnya ia adalah satu bagian dari ilmu tanda yang diperkenalkan Saussure dengan nama semiologi (Barthes, 2011: 155). Semiologi adalah ilmu tentang bentuk karena mempelajari penanda secara terpisah dari kandungannya (Barthes, 2011: 156).

(12)

menjadi bagian dari ideologi sekaligus ilmu historis yang mengkaji ide-ide sebagaimana yang mewujud ke dalam bentuknya (ideas in-form) (Barthes, 2011: 157). Untuk membongkar suatu mitos, perlu diketahui bahwa sebuah mitos terdiri dari dua tingkatan, yaitu sistem linguistik dan sistem mitis. Tataran pertama ialah sistem linguistik atau bahasa yang digunakan mitos untuk membentuk sistemnya sendiri, sedangkan tataran kedua ialah sistem mitis atau tempat sistem pertama dibicarakan. Barthes (2011: 161) menegaskan bahwa mitos berada pada sistem semiologi tingkat kedua.

1.5.3 Bentuk dan Konsep

Untuk membongkar mitos, bentuk dan konsep harus dianalisis secara terpisah. Hal itu disebabkan oleh permainan petak umpet yang terus berlangsung antara makna dan bentuk (Barthes, 2011: 168). Bentuk menempatkan keberlimpahan sistem nilai: sebuah sejarah, sebuah geografi, sebuah moralitas, sebuah literatur pada jarak tertentu. Hal itu yang disebut dengan pemiskinan makna. Bentuk tampil sebagai kesan atau citra yang seolah tak terbantahkan. Sebaliknya, ketika sistem nilai menguap keluar dari bentuk, akan ditampung oleh konsep secara utuh. Konsep adalah sesuatu yang ditentukan. Ia adalah motivasi yang menyebabkan mitos diungkapkan atau dituturkan. Konsep menysun kembali rentetan sebab akibat, alasan, dan tujuan (Barthes, 2011: 168). Konsep adalah unsur yang membentuk mitos, jika ingin mengurai sejumlah mitos, bagaimanapun peneliti harus bisa menamai sejumlah konsep.

(13)

1.5.4 Pembacaan dan Pengurai Mitos

Barthes menemukan tiga model pembacaan berdasarkan titik tekan apakah pada makna, atau pada bentuk, atau pada kedua-duanya sekaligus.

(1) Tipe pembacaan ini adalah tipe pembacaan produsen (penghasil) mitos karena fokus pembacaannya pada penanda yang kosong dan membiarkan konsep mengisi bentuk mitos. Tipe pemfokusan ini contohnya adalah seorang jurnalis yang memulai kerjanya dari konsep dan berusaha mencari bentuk di dalamnya.

(2) Memfokuskan pembacaan pada penanda yang penuh, membedakan makna dari bentuk sehingga menerima sistem mitis ini sebaga tipuan. Ini adalah model pemfokusan seorang mitolog.

(3) Terakhir, memfokuskan pembacaan pada penanda mitis sebagai sesuatu yang secara utuh terdiri dari makna dan bentuk dan menerima penandaan yang ambigu. Ketika menanggapi mekanisme pembentukan mitos dan menanggapi kedinamisannya, hal itu menjadikannya sebagai seorang pembaca mitos (Barthes, 2011: 184—185). Pembacaan ini memungkinkan adanya pemaknaan mitos sesuai dengan kemampuan dirinya.

1.5.5 Ideologi

Mitos membuat segala sesuatu menjadi lugu dan polos. Oleh karena itu, seorang mitolog harus berhati-hati dalam membaca sebuah mitos karena mitos adalah salah satu produk “penyalahgunaan ideologi” yang selalu ada dalam setiap kebudayaan (Barthes via Hoed, 2011: 18). Berdasarkan hal itu, Barthes menggunakan bukunya, Mitologi, sebagai alat untuk mengkritik ideologi pada

(14)

masa itu. Ideologi dan semiologi adalah dua teori yang berbeda. Begitu pula dengan metode yang digunakan juga berbeda. (Barthes, 2011: 199—200).

Berjalan dari semiologi menuju ideologi, orang harus menempatkan dirinya pada tipe pemfokusan pembacaan dan penguraian mitos yang ketiga: pembaca mitos sendirilah yang harus mengungkapkan fungsi esensialnya. Dalam prakteknya, mitos tidak akan menyembunyikan dan tak memamerkan apapun. Mitos (Barthes, 2011: 186) bukanlah suatu dusta maupun pengakuan: ia hanyalah sebuah infleksi (pembelokan). Artinya, mitos menjadikan konsumennya tidak menyadari bahwa ada motivasi dan kepentingan di balik ideologi yang sedang ditawarkannya sehingga konsep yang ada dalam benak produsen mitos bisa tetap termanifestasi dalam bentuk meskipun tanpa harus tampak memiliki kepetingan akan hal itu.

Barthes tidak mengatakan secara eksplisit definisi ideologi. Meskipun demikian, Barthes menyebut terma ini berulang kali. Barthes (2011: 201) mengatakan bahwa beberapa tipe borjuasi silih berganti duduk di tampuk kekuasaan; namun status yang sama -sebuah rezim kepemilikan, sebuah aturan, sebuah ideologi- tetap berada pada level yang lebih dalam. Melalui pemaparan singkat tersebut, peneliti mencoba memformulasikan definisi mengenai ideologi sebagai cara pandang atau gagasan yang diyakini oleh kelompok tertentu. Gagasan tersebut dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan sesuai dengan yang diinginkan pembuat ideologi atau rezim saat itu. Oleh karena itu Barthes (2011: 211) menyebutkan bahwa bersama mitos manusia tidak memiliki hubungan yang

(15)

didasarkan pada kebenaran, melainkan pada manfaat dan kegunaan: mereka mendepolitisasi sesuai dengan kebutuhan.

1.6 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara untuk memperoleh pengetahuan mengenai objek tertentu, dan karenanya, harus sesuai dengan kodrat keberadaan objek itu sebagaimana yang dinyatakan oleh teori (Faruk, 2012: 55). Ada dua tahapan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu pengumpulan data dan analisis data. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilaksanakan dalam penelitian ini.

1.6.1 Penentuan objek penelitian

Objek penelitian yang menjadi landasan kajian dalam penelitian ini adalah Hikayat Raja Pasai yang telah disunting oleh Jones (1999). Tahap awal yang Jones lakukan adalah membuat resensi yang berisi tentang pendataan dan pengelompokan naskah. Terdapat tiga buah naskah atau manuskrip, yaitu MS Raffles Malay No. 67 (Manuskrip A), salinan dari manuskrip A yaitu No. Mal. Pol. 50, dan MS Or. 14350 (Manuskrip B). Hasil suntingan tersebut dipilih karena telah dikerjakan secara filologis oleh seorang filolog. Jadi, hasil suntingannya bisa dipertanggungjawabkan keakuratannya. Jones membuat suntingan edisi naskah berdasarkan pada Manuskrip A. Akan tetapi, di beberapa bagian Jones menambahkan kata-kata yang berasal dari Manuskrip B sehingga menjadi edisi

(16)

seperti yang diterbitkan dalam bukunya yang berjudul Karya Agung Hikayat Raja Pasai tersebut. Hal itu dapat dipastikan dari kutipan berikut ini:

Beberapa kata daripada Manuskrip A telah digugurkan daripada teks edisi 1987 dan beberapa kata daripada Manuskrip B dimasukkan ke dalam teks edisi yang terbaharu ini (Jones, 1999:xvii).

Jadi, penelitian ini tidak menggunakan metode filologi tahap satu atau penyajian teks. Fokus penelitian ini ialah pada penafsiran teks dengan menggunakan metode penelitian sastra. Untuk pemilihan HRP sebagai objek kajian, hal itu berdasarkan pada pertimbangan bahwa naskah ini telah dikerjakan secara filologis oleh seorang filolog sehingga hasil suntingannya bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya.

1.6.2 Pengumpulan dan klasifikasi data

Langkah selanjutnya ini banyak dilakukan dengan melakukan studi pustaka atau menggunakan teknik simak. Pembacaan terhadap karya sastra terpilih dilakukan berulang-ulang agar pemahaman terhadap isinya semakin dalam. Dengan demkian, peneliti dapat melanjutkan langkah penelitian dengan mulai mengidentifikasi dan mengklasifikasikan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan topik yang telah dipilih sesuai dengan rumusan masalah yang ada.

1.6.3 Analisis

Kemudian, tahapan kedua adalah tahap analisis data. Data-data yang telah ditemukan itu disusun, diklasifikasi, dan diolah. Dalam penelitian ini, data-data

(17)

tersebut akan dianalisis dengan menggunakan teori semiologi Roland Barthes seperti yang telah dipaparkan pada subbab landasan teori.

1.7 Sistematika Penyajian

Sistematika laporan penelitian ini terdiri dari empat bab. Bab pertama berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika laporan penelitian. Selanjutnya, pembahasan dituliskan di Bab II dan Bab III. Bab II berisi deskripsi sistem linguistik HRP. Uraian mengenai sistem mitis dan ideologi HRP dipaparkan di Bab III. Kemudian, Bab IV berisi kesimpulan.

Referensi

Dokumen terkait

Kelompok Pertanian dan Kehutanan terdiri atas beberapa program pendidikan yang mempersiapkan tamatan untuk bekerja dan mengembangkan profesi pada berbagai jenis pekerjaan di

Yang dilaporkan dalam pos ini adalah pendapatan bunga dari penanaman yang dilakukan oleh BPR Pelapor dalam bentuk aset produktif antara lain SBI, penempatan pada bank

1) Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja. Untuk mendorong pembentukan tenaga kerja yang memiliki karakter, mampu dalam mengantisipasi perubahan

Relokasi Pasar Warungkondang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dapat memberikan dampak terhadap keberlangsungan pelayanan bagi pengunjung Pasar Warungkondang. Karena

Karena pada dasarnya, pendidikan Amerika mengikuti konsep desentralisasi pendidikan, sebagaimana yang terjadi di Indonesia sekarang ini, yang memberikan kewenangan

Perubahan di bidang pendidikan dapat menjadi langkah yang sangat strategis, karena menyentuh pada pelaku perubahan dan pembangunan bangsa menuju Indonesia baru..

Untuk mendapatkan pemeriksa baru dengan tingkat employee engagement yang tinggi maka perlu dilakukan pembenahan pada proses seleksi pegawai pemeriksa, baik seleksi

(1) Pengelolaan CPPD Provinsi dimaksudkan untuk mendorong tersedianya penyediaan cadangan pangan daerah Provinsi dalam menghadapi keadaan darurat dan pasca bencana