• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan leukosit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "laporan leukosit"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

JENIS-JENIS LEUKOSIT DAN

HITUNG JENIS LEUKOSIT

OLEH :

PUTU RINA WIDHIASIH

(P07134014002)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN ANALIS KESEHATAN TAHUN AKADEMIK 2015/2016

(2)

Tanggal Praktikum : 9, 16, 23 Mei 2016

Materi Praktikum : Jenis-jenis Leukosit dan Hitung Jenis Leukosit

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Mahasiswa dapat mengetahui cara menghitung jenis-jenis leukosit II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

1. Mahasiswa dapat melakukan hitung jenis leukosit dengan baik dan benar 2. Mahasiswa dapat membedakan jenis-jenis leukosit

III. METODE

Diff count

IV. PRINSIP

Apusan darah diamati dengan mikroskop binokuler pada pembesaran objektif 100x dengan penambahan oil imersi. Diff count dilakukan pada counting area dimana eritrosit menyebar merata. Bentuk –bentuk leukosit dihitung hingga 100 sel.

V. DASAR TEORI Darah

Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut Plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.

Leukosit

Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Di dalam tubuh, leukosit tidak berasosiasi secara ketat dengan organ atau

(3)

jaringan tertentu, mereka bekerja secara independen seperti organisme sel tunggal. Leukosit mampu bergerak secara bebas dan berinteraksi dan menangkap serpihan seluler, partikel asing, atau mikroorganisme penyusup. Selain itu, leukosit tidak bisa membelah diri atau bereproduksi dengan cara mereka sendiri, melainkan mereka adalah produk dari sel punca hematopoietic pluripotent yang ada pada sumsum tulang (Hoffbrand,A.V.2012)

Nilai normal jumlah leukosit dalam tubuh yaitu : Bayi baru lahir 9000 - 30.000 /mm3

Bayi/anak 9000 - 12.000/mm3 Dewasa 4000 - 10.000/mm3

Berdasarkan granulasi sitoplasmanya, leukosit dibedakan menjadi granuler meliputi Basofil, Eosinofil, dan Neutrofil serta agranuler meliputi Limfosit dan Monosit..

Fungsi umum leukosit sebagai berikut:

1. Defensif yaitu mempertahankan tubuh dari benda benda asing yng dilakukan oleh neutofil dan monosit.

2. Reparatif yaitu memperbaiki jaringan yang rusak yang dilakukan oleh basofil. Fungsi khusus leukosit sebagai berikut:

1. Neutrofil berperan dalam fagositosis.

2. Eosinofil berperan dalam respon terhadap penyakit parasit dan penyakit alergi.

3. Basofil berperan dalam mengeluarkan histamin, heparin dan dilepaskan setelah pengikatan IgE ke reseptor permukaan, berperan penting pada reaksi hipersensitivitas segera.

4. Limfosit berperan dalam pertahanan tubuh lewat sel ( sel B sel T) sel B memperantarai imunitas humoral. Sel T memperantarai imunitas seluler.

5. Monosit berperan dalam fagositosis ekstravaskuler. Sifat-sifat leukosit sebagai berikut:

1. Kemoktaksis yaitu tertarik pada daerah yang mengeluarkan zat kimia tertentu. 2. Amoeboid motion yaitu dapat bergerak seperti amoeba.

3. Diapedesis yaitu dapat melewati membran kapiler sehingga dapat melewati pembuluh darah dengan mengerutkan sel nya.

(4)

4. Fagositosis yaitu menghancurkan benda benda asing yang masuk ke dalam tubuh yang dilakukan oleh neutrofil dan monosit.

Kelainan kuantitatif leukosit meliputi:

1. Leukositosis yaitu jumlah leukosit lebih dari normal.

 Fisiologik pada latihan jasmani berat akhir kehamilan (terutama 2 bulan terakhir), waktu partus / melahirkan, neonates, idiopathic normal.

 Peningkatan jumlah leukosit (disebut Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut, misalnya pneumonia (radang paru-paru), meningitis (radang selaput otak), apendiksitis (radang usus buntu), tuberculosis, tonsilitis, dan lain-Iain. Selain itu juga dapat disebabkan oleh obat-obatan misalnya aspirin, antibiotika terutama ampicilin, eritromycin, kanamycin, streptomycin, dan Iain-Iain

 Kenaikan jumlah neutrofil pada keadaan patologik seperti pada infeksi kerusakan jaringan (crush syndrome, neoplasma, luka bakar,keracunan CO dan Pb, kelainan metaboli (eklampsia, Gout, ketosis diabetes, syndroma cushing)

2. Leukopenia yaitu jumlah leukosit kurang dari normal (granulosit berkurang)  Agranulositosis , neutropenia karena obat.

 Depresi sumsum tulang pada anemia aplastik, osteosklerosis, mielofibrosis, infiltrasi neoplasma.

 Iradiasi.

 Keracunan oleh zat benzene, urethan , Au, dll.

 Obat-obat sitostatika (myleran, mercaptopurin), dan obat-obatan asetaminofen (parasetamol), kemoterapi kanker, antidiabetika oral, dan antibiotika (penicillin, cephalosporin).

 Infeksi oleh bakteri (thypus abdominalis, parathypus, brucellosis), virus (influenza, campak, rubella, hepatitis), rickettsia (thypus, scrub thypus), protozoa (malaria), infeksi berat (TBC miller,osteomyelitis berat, septicemia, alkoholik

 Benda imun (PAP).  Defisiensi.

(5)

Reaksi leukemoid merupakan produksi berlebihan sel leukosit kadang kadang bertambahnya sel muda baik di darah perifer maupun di sumsum tulang. Biasanya jumlah leukosit lebih dari 30.000 sel /ul darah atau kurang dari jumlah tersebut tetapi ada sel muda. Keadaan ini perlu dibedakan dari leukemia. Penyebabnya adalah infeksi (pneumoni, TBC miller) tumor (limfoma hodgin) penyakit lain (reaksi hipersensitivitas, luka bakar, metaplasia myeloid, reaksi hemolitik).

Shift to the left (terjadi bila sel yang didapat lebih banyak granulosit muda batang dan mieolosit) pada infeksi, toksemia, perdarahan akut. Shift to the right (hipersegmentasi) terjadi pada penyakit hati, anemia megaloblastik herediter.

Leukosit terdiri dari dua golongan utama, yaitu agranular dan granular. Leukosit agranular mempunyai sitoplasma yang tampak homogen, dan intinya berbentuk bulat atau berbentuk ginjal. Leukosit granular mengandung granula spesifik (yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair) dalam sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkan banyak variasi dalam bentuknya. Terdapat 2 jenis leukosit agranular yaitu; limfosit yang terdiri dari sel-sel kecil dengan sitoplasma sedikit, dan monosit yang terdiri dari sel-sel yang agak besar dan mengandung sitoplasma lebih banyak. Terdapat 3 jenis leukosit granular yaitu neutrofil, basofil, dan asidofil (eosinofil).

Jenis –jenis Leukosit  Leukosit Granular

o Basofil

Basofil adalah jenis leukosit yang terlibat dalam reaksi alergi jangka panjang seperti asma, alergi kulit, dan lain-lain. Nilai normal dalam tubuh: 0 - 1%. Sel ini jarang ditemukan dalam darah tepi normal. Sel ini mempunyai banyak granula sitoplasma yang gelap menutup inti serta mengandung heparin dan histamin. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya. Di dalam jaringan basofil berubah menjadi sel mast basofil mrmpunyai tempat perlekatan immunoglobulin E (IgE) dan degranulasinya disertai dengan pelepasan histamin. Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi

(6)

reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan. Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil lebih dari 100/µl darah. o Eosinofil

Eosinofil merupakan jenis leukosit yang terlibat dalam alergi dan infeksi (terutama parasit) dalam tubuh. Nilai normal dalam tubuh: 1 - 3%. Sel ini mirip dengan neutrofil kecuali granula sitoplasmanya lebih kasar, lebih berwarana merah tua, jarang dijumpai lebih dari 3 lobus inti. Sel ini memasuki eksudat inflamatorik dan berperan khusus dalam respon alergi, pertahanan terhadap parasit, dan pembuangan fibrin yang terbentuk selama inflamasi. Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil lebih dari 300/µl darah. Eosinopenia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil kurang dari 50/µl darah. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil. o Neutrofil

Neutrofil merupakan sel yang paling cepat bereaksi terhadap radang dan luka dibanding leukosit yang lain dan merupakan pertahanan selama fase infeksi akut. Sel ini mempunyai inti padat khas yang terdiri atas 2-5 lobus dan sitoplasma yang pucat dengan batas tida beraturan, mengandung banyak granula merah-biru (azurofilik) atau kelabu - biru. Granula terbagi menjadi granula primer yang muncul pada stadium promielosit, dan sekunder yang muncul pada stadium mielosit dan terbanyak pada neutrofil matang. Selama infeksi akut, netrofil berada paling depan di garis pertahanan tubuh. Netrofil yang beredar di darah tepi terbanyak

Neutropil Segmen

Neutropil Batang

(7)

adalah segmen, yaitu netrofil yang matur. Batang atau stab adalah netrofil imatur yang dapat bermultiplikasi dengan cepat selama infeksi akut. Nilai normal dalam tubuh adalah 1 – 5% untuk neutrofil batang dan 50 – 70% untuk neutrofil segmen. Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil lebih dari 7000/µl dalam darah tepi. Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari 2500/µl darah.

 Leukosit Agranular o Limfosit

Limfosit adalah jenis leukosit agranuler dimana sel ini berukuran kecil dan sitoplasmanya sedikit. Salah satu leukosit yang berperan dalam proses kekebalan dan pembentukan antibodi. Nilai normal: 20 - 40% dari seluruh leukosit. Limfosit adalah sel yang kompeten secara imunologik dan membantu fagosit dalam petahanan tubuh terhadap infeksi dan invasi asing lain. Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit, yaitu: a. Sel B.

Berfungsi membuat antbodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya (sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen tetapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori').

b. Sel T = CD+4 (pembantu)

Berfungsi mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) serta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD+8 (sitotoksik) dapat membunuh sel yang terinfeksi virus

c. Sel natural killer

Sel pembunuh alami (NK, Natural Killer) dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibinuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker.

Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit lebih dari 8000/µl pada bayi dan anak-anak serta lebih dari 4000/µl darah pada dewasa. Pada orang

(8)

dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari 1000/µl dan pada anak-anak kurang dari 3000/µl darah.

o Monosit

Monosit merupakan salah satu leukosit yang berinti besar dengan ukuran 2x lebih besar dari eritrosit sel darah merah, terbesar dalam sirkulasi darah dan diproduksi di jaringan limpatik. Nilai normal dalam tubuh: 2 - 8% dari jumlah seluruh leukosit. biasanya berukuran lebih besar dari leukosit darah tepi lainnya dan mempunyai inti sentral berbentuk lonjong atau berlekuk dengan kromatin yang menggumpal. Sitoplasmanya yang banyak berwarna biru dan mengandung banyak vakuola halus sehingga memberikan gambaran kaca asah (ground-glass-apperance). Granula sitoplasma juga sering d-glass-apperance. granula sitoplasma juga sering dijumpai. Monosit membagi fungsi 'pembersih vakum' (fagositosis) dari neutrofil tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan yaitu memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk menjaga. Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit lebih dari 750/µl pada anak dan lebih dari 800/µl darah pada orang dewasa. Differential Count

Diff Count atau yang sering kita ketahui dengan pemeriksaan hitung jenis leukosit. Diff Count ini merupakan salah satu pemeriksaan penting dalam bidang hematologi, jadi tidak boleh dilewatkan dan harus dipahami tujuan, prinsip, alat dan bahan yang digunakan, cara, harga normal, dan cara menghitungnya.

Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/μl).

(9)

Hitung jenis leukosit adalah penghitungan jenis leukosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/µl). Sebagai contohnya, dengan limfosit 30% dan leukosit 10.000, limfosit mutlak adalah 30% dari 10.000 atau 3.000. Hasil pemeriksaan ini dapat menggambarkan secara spesifik kejadian dan proses penyakit dalam tubuh, terutama penyakit infeksi.

Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. (Radias, 2012). Bila pada hitung jenis leukosit, diperoleh eritrosit berinti lebih dari 10 per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/µl perlu dikoreksi.

VI. ALAT DAN BAHAN A. Alat

1. Mikroskop binokuler B. Bahan

1. Sediaan apus darah 2. Oil imersi

3. Tissue lensa VII. CARA KERJA

1. Semua alat dan bahan yang diperlukan dipersiapkan 2. Mikroskop dihidupkan dengan menekan tombol on

3. Sediaan apusan darah yang telah diwarna atau dicat diletakkan di atas meja mikroskop 4. Sediaan diamati pada pembesaran lensa objektif 10X untuk menemukan lapang

pandang

5. Pembesaran lensa objektif diubah ke pembesaran 100X dengan penambahan oil imersi

6. Diamati sediaan apus darah, dicari daerah counting area (daerah pembacaan dimana pada daerah ini eritrosit tampak tersebar merata

(10)

7. Penghitungan jenis leukosit dilakukan pada counting area dengan penghitungan sebanyak 100 sel leukosit, melipuiti basofil, eosinofil, neutrofil stab, neutrofil segmen, limfosit, dan monosit.

8. Hasil diff count dinyatakan dalam %

Hitung jenis leukosit dapat dilakukan dgn alat diff-counter atau secara manual dari tabel seperti:

VIII. NILAI NORMAL

IX. HASIL PENGAMATAN

 Identifikasi Jenis Leukosit

Neutropil segmen Neutropil batang

(11)

 Hitung Jenis Leukosit

LP/

Leukosit I II III IV V VI VII VIII IX X Total

Basofil 0% Eosinofil 2% Stab 6% Segmen 56% Limfosit 25% Monosit 11% Total 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 100% Limfosit Eosinofil Neutrofil segmen Neutrofil segmen Monosit Preparat yang digunakan dengan kode 614

(12)

Eosinofil / Basofil /

Stab

/ Segmen / Limfosit

/ Monosit

2% / – / 6% / 56% / 25% / 11%

Sementara menggunakan alat didapatkan hasil

Eosinofil / Basofil /

Neutropfil / Limfosit

/ Monosit

2% / – / 64% / 22% / 10%

X. PEMBAHASAN

Leukosit dalam sirkulasi perifer, secara morfologi dan fungsional, normalnya terdiri dari dua jenis yaitu granulosit (Neutrofil, Basofil dan Eosinofil) karena memiliki granul didalam sitoplasma selnya sehingga jika dilihat dibawah mikroskop, selnya tampak berbintik. Selain itu, ketiga sel tersebut juga disebut sebagai sel polymorphonuclear (PMN) karena memiliki bentuk inti sel (nucleus) yang beragam. Dan Agranulosit (Limfosit dan Monosit). karena tidak memiliki granul. Kedua sel ini juga disebut dengan mononuclear (MN) karena bentuk inti selnya tidak beragam. Sel-sel ini membentuk populasi sel normal, tetapi juga terdapat sejumlah kecil leukosit yang mungkin berada dalam stadium kedua dari terakhir pematangan, karakteristik morfologi nucleus dan sitoplasma sel-sel ini menentukan kategori spesifik dan tingkat pemantangannya. Leukosit berada dalam sirkulasi darah untuk melintas saja menuju ke lokasi lain, mereka tidak mempunyai fungsi didalam pembuluh darah (Riswanto.2013).

Pada praktikum pada hari pertama dilakukan identifikasi dari bentuk-bentuk leukosit. Untuk dapat membedakan jenis leukosit hal yang pertama harus dilakukan yaitu membuat sediaan hapusan darah, pada praktikum kali ini digunakan hapusan darah yang sudah jadi yang diwarnai dengan cat Wright dan cat Giemsha, dilihat lapang pandangnya pada pembesaran 100x dicari daerah counting area yang persebaran eritrositnya merata, lalu ditambahkan dengan oil imersi dan diamati pada perbesaran 1000x, amati jenis-jenis leukosit. Berikut adalah jenis-jenis leukosit yang didapatkan pada saat praktikum dan fungsinya :

(13)

Neutrofil Batang (Stab)

Ukuran :9-15 um. Sitoplasma:

 Jumlah sedang

sampai banyak. Tidak ada granula non spesifik, semuanya terisi oleh granula spesifik (Granula lebih merah muda dan lebih banyak.) Warna sitoplasma: pink

Inti:

Bentuk batang atau bentuk pita. Lebih tipis daripada metamielosit. Kromatin kasar.  Menanggapi mikroba  Antibiotik dalam tubuh  Berfungsi dalam proses peradangan  Menghancurkan

mikro organisme dan benda asing dengan memakannya atau fagositosis  Sebagai sel pertahanan tubuh dalam melawan infeksi  Membantu menghapuskan stimulus yang berbahaya penyebab matinya sel (nekrosis).

 Membuat daerah yang kekurangan racun Neutrofil Segmen

Ukuran : 9-15 um. Sitoplasma:

Dipenuhi oleh granula spesifik yang berwarna merah muda sampai ungu kemerahan (rose violet). Jumlahnya banyak. Inti: Normal 2-5 lobus,Kromatin kasar, clumping. Basofil Ukuran : 9-15 um. Sitoplasma:

Berwarna agak merah muda sampai tidak berwarna. Mengandung granula spesifik berwarna ungu (purple) gelap. Lebih sedikit

 Basofil berfungsi memberi reaksi antigen dan alergi dengan mengaktifkan atau mengeluarkan histamin sehingga terjadi peradangan

(14)

mengandung granula dibandingkan dengan eosinofil. Granula bersifat larut dalam air dan cendrung hilang bila diwarna.

Inti:

Tidak sejelas seperti pada neutrofil maupun eosinofil, karena tertutup granula. Tampak seperti bayangan. Pada umumnya mempunyai 2-4 lobus.  Mencegah adanya penggumpalan dalam pembuluh darah  Membantu dalam memperbaiki luka  Memperbesar pembuluh darah NB : Namun pada praktikum kali ini tidak ditemukannya sel basophil dalam sediaan apusan darah.

Eosinofil

Ukuran :9-15 um. Sitoplasma:

Dipenuhi oleh granula besar, berwarna orange kemerahan Inti:

Pada umumnya tidak lebih dari 2 lobus. Bentuk seperti kacamata. Kromatin kasar, clumping.  Mencegah alergi  Menghancurkan antigen antibodi  Berfungsi dalam menghancurkan parasit-parasit besar

 Berperan dalam respon alergi

Limfosit

Ukuran : 12-16 µm

Sitoplasma : Banyak, Warna biru pucat. Dapat mengandung sedikit atau tidak mengandung granula azurofilik non spesifik. Inti : Bentuk bulat atau oval dan disertai cekungan ringan.

Kromatin kasar. Tidak tampak anak inti. Lokasi

 Menghasilkan antibodi  Mengaktifkan sistem kekebalan tubuh  Mengeluarkan bahan kimia dan menghancurkan pathogen

 Melindungi sel normal tubuh

 Mengetahui patogen tertentu

(15)

dapat.  Berubah menjadi antibodi (sel Plasma)  Melawan kanker

Monosit

khas karena intinya besar, berlekuk dalam pada satu sisinya, seperti bentuk ginjal, kadang-kadang tidak beraturan, sitoplasmanya abu kemerahan mengandung granula halus yang terisi enzim proteolisis.

Monosit keluar dari pembuluh darah, lalu tersebar di seluruh jaringan menjadi makrofag.

 Menghancurkan sel-sel asing.

 Mengangkat jaringan yang telah mati

 Membunuh sel-sel kanker

 Pembersih dari

fagositosis yang dilakukan neutrofil  Meransang jenis sel

darah putih yang lain dalam melindungi tubuh  Menunjukkan perubahan dalam kesehatan pasien dengan banyak sedikitnya monosit dalam tubuh.

Hitung differensial leukosit menentukan jumlah relative atau presentase dari berbagai populasi leukosit yang ada dalam darah yang dapat memberikan informasi mengenai berbagai keadaan penyakit. Hitung differensial leukosit ini seringkali diabaikan bila jumlah leukosit dalam darah adalah normal dan tidak ada kelainan hematologik, baik klinis maupun laboratoris. Namun demikian, banyak kelainan seperti keganasan, inflamasi dan kelainan imunologik dapat menyebabkan perubahan presentase ini, walaupun jumlah leukosit masih dalam batas normal.

Pemeriksaan hitung differensial leukosit atau hitung jenis leukosit merupakan bagian dari tes darah lengkap (complete blood count, CBC) yang bermanfaat untuk :

(16)

 Mendeteksi keparahan reaksi alergi dan obat ditambah repon terhadap jenis parasite dan infeksi lainnya

 Mengevaluasi reaksi terhadap infeksi virus dan respon kemoterapi  Mengidentifikasi berbagai tahap leukemia

Indikasi dilakukannya pemeriksaan hitung jenis leukosit adalah  Penderita dengan dugaan infeksi atau keganasan hematologic

 Pemeriksaan dasar bagi penderita yang menjalani pengobatan rumah sakit (pemeriksaan rutin)

Untuk melakukan hitung jenis leukosit, pertama membuat sediaan apus darah yang diwarnai dengan pewarna Giemsa, Wright atau May Grunwald. Amati di bawah mikroskop dan hitung jenis-jenis leukosit hingga didapatkan 100 sel. Tiap jenis sel darah putih dinyatakan dalam persen (%). Jumlah absolut dihitung dengan mengalikan persentase jumlah dengan hitung leukosit, hasilnya dinyatakan dalam sel/μL

Hitung jenis leukosit dilakukan pada counting area, mula-mula dengan pembesaran 100x kemudian dengan pembesaran 1000x dengan minyak imersi. Pada hitung jenis leukosit hapusan darah tepi yang akan digunakan perlu diperhatikan hapusan darah harus cukup tipis sehingga eritrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan yang lainnya, hapusan tidak boleh mengandung cat, dan eritrosit tidak boleh bergerombol

Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/μl).

Hitung differensial atau hitung jenis leukosit dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu manual (visual) dan elektronik/otomatik. Pemeriksaan visual apusan darah yang diwarnai dengan pewarnaan tertentu masih merupakan cara utama, tetapi prosedur-prosedur elektronik kini semakin luas digunakan. Hitung jenis leukosit manual dilakukan dengan mengamati apusan darah dibawah mikroskop menggunakan apusan darah. Sementara metode elektronik/otomatik adalah dengan memanipulasi sifat-sifat kimiawi medium dalam suatu sistem aliran kontiyu (continuous flow system) dan kemudian dilakuakn perhitungan masing-masing populasi leukosit denagn teknik impedansi, dan pembaruan cahaya. Prosedur ini

(17)

dilakukan dengan menggunakan analyzer hematologi, yaitu sebuah mesin penghitung sel darah otomatis yang mampu menghitung jumlah yang jauh lebih besar (hingga 10.000 sel).

Pada praktikum kedua dan ketiga dilakukan hitung jenis leukosit didapatkan hasil yaitu : Basofil 0% dengan nilai normal 0-1%, Eosinofil 2% dengan nilai normal 1-6%, neutrophil batang (stab) 6% dengan nilai normal 3-5%, neutrophil segmen 56% dengan nilai normal 40-70%, limfosit 25% dengan nilai normal 30-45%, dan monosit 11% dengan nilai normal 2-10%. Dari hasil yang didapatkan bila dibandingkan dengan nilai normal terjadi peningkatan pada neutrophil batang, penurunan pada limfosit dan peningkatan pada monosit, namun dari hasil yang didapat belum dapat ditemukan bahwa itu adalah kelainan jumlah dari jenis leukosit karena selisih pada nilai normal hanya sekitar 1-5%, jika terjadi peningkatan ataupun penurunan 2 kali lipat baru dapat disimpulankan bahwa itu adalah kelainan jumlah dari jenis leukosit. Dari hasil yang didapatkan dengan cara manual dibandingkan dengan hasil yang didapatkan dari alat otomatik terdapat perbedaan, selisih yang didapatkan tidak terlalu jauh sekitar 0-3% yaitu :

Jenis Leukosit Hasil Manual Hasil Otomatik

Basofil 0% 0% Eosinofil 2% 2% Neutrofil batang 6% 64% Neutrofil segmen 56% Limfosit 25% 22% Monosit 11% 10%

Cara melaporkan hasil hitung jenis leukosit yaitu sebagai berikut:

Eosinofil / Basofil /

Stab

/ Segmen / Limfosit

/ Monosit

2% / – / 6% / 56% / 25% / 11%

Pergeseran leukosit (leukocytes shift) menunjukan adanya sel leukosit yang dominan di dalam darah berdasarkan tingkat kematangannya. Apakah itu sel leukosit yang sudah matang (mature)atau yang masih muda (immature). Pergeseran leukosit ini bisa diketahui melalui pemeriksaan hitung jenis. Istilah shift (pergeseran) ini lebih digunakan untuk melihat sel granulosit saja, lebih spesifiknya neutrofil, karena jumlahnya yang paling banyak dibandingkan leukosit lain. Pergeseran yang terjadi bisa bergeser ke kiri (shift to the left) maupun bergeser ke kanan (shift to the right). Biasanya sel yang sudah mature akan disimpan di kanan dan sel yang immature akan di simpan di kiri. Sehingga jika sel immature meningkat

(18)

jumlahnya, maka disebut bergeser ke kiri dan jika sel mature lebih meningkat jumlahnya, maka disebut bergeser ke kanan.

Shift to the left, atau sering disebut juga left shift, adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan peningkatan bentuk immature dari sel neutrofil. Shift to the left menandakan adanya fase akut dari suatu proses imunologi, baik itu infeksi akut, inflamasi akut, ataupun proses nekrosis akut. Shift to the right, atau sering disebut juga right shift, menunjukan peningkatan jumlah sel matureneutrofil dibandingkan dengan jumlah sel immature-nya. Shift to the right terjadi akibat kerusakan "pabrik" pembuat sel darah di sum-sum tulang. Hal ini menyebabkan jumlah sel yang immature mengalami penurunan produksi atau tidak diproduksi sama sekali. Shift to the left menunjukan tanda infeksi akut, akan tetapi shift to the right bukan kebalikannya menunjukan infeksi kronis. Shift to the right merupakan tanda spesifik dari penyakit anemia pernisiosa (pernicious anemia) dan keracunan radiasi (radiation sickness) Pada pemeriksaan hitung jenis, jumlah sel neutrofil mature ini menjadi tampak meningkat didarah. Sebetulnya jumlah sel neutrofil mature ini tetap. Akan tetapi, karena sel immature-nya menurun atau tidak ada, mengakibatkan sel yang mature tampak lebih banyak atau lebih dominan. Selain dari itu, akibat dari tidak adanya neutrofil immature, neutrofil mature bekerja lebih ekstra dalam sistem pertahanan tubuh. Hal ini mengakibatkan sel-sel neutrofil mature menjadi membesar menjadi neutrofil raksasa (giant neutrophil). Berikut ini merupakan beberapa hasil yang mungkin diperoleh pada hitung jenis leukosit:

Netrofilia

Netrofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil melebihi nilai normal. Penyebab biasanya adalah infeksi bakteri, keracunan bahan kimia dan logam berat, gangguan metabolik seperti uremia, nekrosia jaringan, kehilangan darah dan kelainan mieloproliferatif.

Banyak faktor yang mempengaruhi respons netrofil terhadap infeksi, seperti penyebab infeksi, virulensi kuman, respons penderita, luas peradangan dan pengobatan. Infeksi oleh bakteri seperti Streptococcus hemolyticus dan Diplococcus pneumoniae menyebabkan netrofilia yang berat, sedangkan infeksi oleh Salmonella typhosa dan Mycobacterium tuberculosis tidak menimbulkan netrofilia. Pada anak-anak netrofilia biasanya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada penderita yang lemah, respons terhadap infeksi kurang sehingga sering tidak disertai netrofilia. Derajat netrofilia sebanding dengan luasnya jaringan yang meradang karena jaringan nekrotik akan melepaskan leukocyte promoting substance

(19)

sehingga abses yang luas akan menimbulkan netrofilia lebih berat daripada bakteremia yang ringan. Pemberian adrenocorticotrophic hormone (ACTH) pada orang normal akan menimbulkan netrofilia tetapi pada penderita infeksi berat tidak dijumpai netrofilia.

Rangsangan yang menimbulkan netrofilia dapat mengakibatkan dilepasnya granulosit muda keperedaran darah dan keadaan ini disebut pergeseran ke kiri atau shift to the left. Pada infeksi ringan atau respons penderita yang baik, hanya dijumpai netrofilia ringan dengan sedikit sekali pergeseran ke kiri. Sedang pada infeksi berat dijumpai netrofilia berat dan banyak ditemukan sel muda. Infeksi tanpa netrofilia atau dengan netrofilia ringan disertai banyak sel muda menunjukkan infeksi yang tidak teratasi atau respons penderita yang kurang. Pada infeksi berat dan keadaan toksik dapat dijumpai tanda degenerasi, yang sering dijumpai pada netrofil adalah granula yang lebih kasar dan gelap yang disebut granulasi toksik. Disamping itu dapat dijumpai inti piknotik dan vakuolisasi baik pada inti maupun sitoplasma

Netropenia

Netropenia adalah suatu keadaan dimana jumlah netrofil kurang dari nilai normal. Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.

Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.

Eosinofilia

Eosinofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah eosinofil melebihi nilai normal. Eosinofilia terutama dijumpai pada keadaan alergi. Histamin yang dilepaskan pada reaksi antigen-antibodi merupakan substansi khemotaksis yang menarik eosinofil. Penyebab lain

(20)

dari eosinofilia adalah penyakit kulit kronik, infeksi dan infestasi parasit, kelainan hemopoiesis seperti polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik.

Eosinopenia

Eosinopenia terjadi bila jumlah eosinofil kurang dari nilai normal. Hal ini dapat dijumpai pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi korteks adrenal dan pengobatan dengan kortikosteroid.

Pemberian epinefrin akan menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinik. Pada hitung jenis leukosit pada pada orang normal, sering tidak dijumlah basofil maupun eosinofil.

Basofilia

Basofilia adalah suatu keadaan dimana jumlah basofil melebihi nilai normal. Basofilia sering dijumpai pada polisitemia vera dan leukemia granulositik kronik. Pada penyakit alergi seperti eritroderma, urtikaria pigmentosa dan kolitis ulserativa juga dapat dijumpai basofilia. Pada reaksi antigen-antibodi basofil akan melepaskan histamin dari granulanya.

Limfositosis

Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit melebihi nilai normal. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.

Limfopenia

Pada orang dewasa limfopenia terjadi bila jumlah limfosit kurang dari nilai normal. Penyebab limfopenia adalah produksi limfosit yang menurun seperti pada penyakit Hodgkin, sarkoidosis; penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis; dan kehilangan yang meningkat seperti pada thoracic duct drainage dan protein losing enteropathy.

(21)

Monositosis

Monositosis adalah suatu keadaan dimana jumlah monosit melebihi nilai normal. Monositosis dijumpai pada penyakit mieloproliferatif seperti leukemia monositik akut dan leukemia mielomonositik akut; penyakit kollagen seperti lupus eritematosus sistemik dan reumatoid artritis; serta pada beberapa penyakit infeksi baik oleh bakteri, virus, protozoa maupun jamur.

Perbandingan antara monosit : limfosit mempunyai arti prognostik pada tuberkulosis. Pada keadaan normal dan tuberkulosis inaktif, perbandingan antara jumlah monosit dengan limfosit lebih kecil atau sama dengan 1/3, tetapi pada tuberkulosis aktif dan menyebar, perbandingan tersebut lebih besar dari 1/3.

Ciri sediaan yang baik sebagai berikut:

1. Sediaan tidak melebar samoa tepi kaca objek. Panjang 1/2 - 2/3 panjang objek glass. 2. Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa. Pada bagian ini eritrosit terletak

berdekatan tidak bertumpukan atau menggumpal atau membentuk Roleaux. 3. Pinggir sediaan rata dan tidak berlubang-lubang/bergaris-garis.

4. Penyebaran leukosit baik tidak berkumpul pada pinggir atau tepi sediaan

5. Jika lebih dari 24 jam penundaan maka sel akan mengalami lisis, vakuolisasi, degranulasi, hipersegmentasi inti dan karioreksis. Efek antikoagulan EDTA:

- Bila jumlah yang dipakai kurang maka darah membeku.

- Bila jumlah pemakaian berlebih maka akan mempengaruhi morfologi leukosit.

6. Lebar dan panjangnya tidak memenuhi seluruh kaca benda sehingga masih ada tempat untuk pemberian label.

7. Secara granula penebalannya nampak berangsur-angsur menipis dari kepala ke arah ekor.

8. Ujung atau ekornya tidak berbentuk bendera robek.

9. Tidak berulang-ulang karena bekas lemak ada di atas kaca benda.

10.Tidak terputus-putus karena gerakan gesekan yang ragu-ragu.

11.Tidak terlalu tebal (karena sudut penggeseran yang sangat kecil) atau tidak terlalu tipis (karena sudut penggeseran yang sangat besar)

(22)

12.Pewarnaan yang baik

13.Lapisan darah harus cukup tipis sehingga eryhtrosit dan leukosit jelas terpisah satu dengan lainnya.

14.Hapusan tidak boleh mengandung cat.

15.Eryhtrosit, leukosit dan thrombosit harus tercat dengan baik

16.Leukosit tidak boleh menggerombol pada akhir (ujung) hapusan.

XI. KESIMPULAN

Pada praktikum kali ini digunakan preparat indirect untuk mengamati, mengidentifikasi dan menghitung jumlah dari jenis leukosit. Pada praktikum kali ini dengan kode preparat 614 didapatkan hasil yang bila dibandingkan dengan nilai normal adalah peningkatan jumlah neutrophil batang, penurunan jumlah limfosit, dan peningkatan jumlah monosit namun peningkatan dan penurunnya tidak bermakna karena hanya sekitar 1-5%. Jadi dapat disimpulkan bahwa preparat dengan kode 614 adalah normal

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Dasar Teori Pemeriksaan Hitung Jenis Lekosit.

(23)

extension=docx&ft=1464327885&lt=1464331495&user_id=248087244&uahk=Fc7lL rhbL0YI1QUUfXOb99EL0NE.[diakses 23 Mei 2016, 08.34]

Arga Aditya.2015.Pergeseran Leukosit Leukocytes Shift.[online].tersedia : http://www.argaaditya.com/2015/03/pergeseran-leukosit-leukocytes-shift.html.[diakses 23 Mei 2016, 08.46]

Anonim.2013.Pemeriksaan Hitung Jenis Leukosit Diff.[online].tersedia : http://kuliahanaliskesehatan.blogspot.co.id/2013/05/pemeriksaan-hitung-jenis-leukosit-diff.html.[diakses 23 Mei 2016, 09.01]

Joy LeFever Kee.2007.Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik.Jakarta : EGC Lia Dwi Sari.2009.makalah hematologi differential counting hitung jenis leukosit diffcount.

[online].tersedia : http://labkesehatan.blogspot.co.id/2009/11/hitung-jenis-lekosit.html. [diakses 23 Mei 2016, 09.32]

Novi, Ianti.2014.Hitung Jenis Sel Darah Putih.[online].tersedia : http://iantinovi.blogspot.co.id/2014/01/hitung-jenis-sel-darah-putih.html.[diakses 23 Mei 2016, 07.12]

Riswanto. 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Yogyakarta: Alfamedia Kanal Medika

Yully.2013.Hitung Jenis Leukosit Differential Count dan Evaluasi Hapusan Darah Tepi. [online].tersedia : https://yullyanalis.wordpress.com/2013/06/28/hitung-jenis-leukosit-differential-count-dan-evaluasi-hapusan-darah-tepi-hdt/.[diakses 23 Mei 2016, 07.45]

Denpasar, 30 Mei 2016 Praktikan

(24)

Putu Rina Widhiasih P07134014002

Lembar Pengesahan

Mengetahui,

Pembimbing I Pembimbing II

dr. Sianny Herawati, Sp.PK Rini Riowati, B.Sc

Pembimbing III Pembimbing IV

I Ketut Adi Santika, A.Md.AK Luh Putu Rinawati, S.Si

Pembimbing V

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan perlindungan hukum klub PSIS Semarang kepada pemain sepak bola yang didasarkan atas perjanjian kontrak pemain.. Dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian fraksi n-heksan dan PE terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus jantan yang diinduksi aloksan

Hasil Belajar kelas V SDN 1 Banyusri tergolong masih rendah hal ini terbukti dari kebanyakan siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Selain itu ketrampilan siswa

Dari hasil wawancara mendalam dengan informan, informan S dan F kurang paham bagaimana cara memilih bahan makanan yang baik dalam hal ini yang dilihat adalah makanan

Programa eta autoreak Lagina Helburuak Programaren edukiak Ikerketaren diseinua Ebaluazio tresnak Emaitzak Social and.. emotional aspects of learning (SEAL) programme [2007-

Abstrak. Perpustakaan merupakan bagian integral dilingkungan sekolah, oleh karena itu perlu adanya kerjasama dalam memaksimalkan potensi layanan perpustakaan

Temuan ini di harapkan dapat berguna sebagai acuan untuk membuat kebijakan- kebijakan selanjutnya dalam menghadapi masalah terkait pengetahuan nasabah yang

menampilkan informasi data teks, data gambar diam atau bergerak, data animasi suara, video dan atau gabungan dari semuanya, baik yang bersifat statis maupun