• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN

IMPLEMENTASI SURVEILANS MIGRASI DI DAERAH TAMBANG UNTUK ELIMINASI MALARIA DI KABUPATEN TANAH BUMBU

PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

Oleh :

Nita Rahayu, S.KM., M.Sc. dan

Tim

BALAI LITBANG KESEHATAN TANAH BUMBU

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

(2)

2

(3)
(4)
(5)

5

SUSUNAN TIM PENELITI

No Nama Kedudukan

Dalam Tim

Keahlian/

Kerjaan Uraian Tugas Waktu

1 dr Hijaz Nuhung, M.Sc Pembina Penginderaan

Jarak Jauh Konsultan Jan-Des

2 Nita Rahayu, SKM, M.Sc Ketua

Pelaksana Parasitologi

Bertanggung jawab pada keseluruhan penelitian

Jan-Des

3 Yuniarti Suryatinah, Apt Peneliti Apoteker

Bertanggung jawab pada aspek manajemen pengendalian dan manajemen data kualitatif Jan-Des

4 Gusti Meliyanie, S.KM. Litkayasa Kesehatan Masyarakat

Membantu pada aspek

data kualitatif Feb-Nov 5 Muttaqien Ramdani Pembantu

Peneliti Administrasi

Membantu pada aspek

data kualitatif Feb-Nov

6 M.Rasyid Ridha, SKM, M.Sc Peneliti Entomologi

Bertanggung jawab pada aspek

entomologi, vektor, dan Lingkungan

Feb-Okt

7 Budi Hairani, S.Si. Peneliti Entomologi Membantu aspek

entomologi, vektor Feb-Okt 8 Hamsyah, S.KM. Litkayasa Entomologi Membantu aspek

entomologi, vektor Feb-Okt 9 Abdullah Fadilly Litkayasa Entomologi Membantu aspek

entomologi, vektor Feb-Okt

10 Juhairiyah, SKM Peneliti Kesehatan Masyarakat

Bertanggung jawab pada aspek

parasitologi

Feb-Okt

11 Annida, SKM, MSc Peneliti Parasitologi

Bertanggung jawab pada aspek

parasitologi

Feb-Okt

12 Deni Fakhrizal, SKM Peneliti Kesehatan Masyarakat

Bertanggung jawab pada aspek

parasitologi

Feb-Okt

13 Akhmad Wahyudin, SKM Litkayasa Analis Kesehatan Membantu pada aspek parasitologi

Feb-Okt

14 Erli Hariyati Litkayasa Analis Kesehatan Membantu pada aspek parasitologi

Feb-Okt

15 Dwi Candra Ariyanti, Litkayasa Analis Kesehatan Membantu pada aspek parasitologi

Feb-Okt

16 Dahlia Sekretariat Administrasi Membantu pada aspek administrasi

(6)

6

(7)

7

PERSETUJUAN ATASAN

Laporan Akhir Hasil Penelitian Tahun 2018

IMPLEMENTASI SURVEILANS MIGRASI DI DAERAH TAMBANG UNTUK ELIMINASI MALARIA DI KABUPATEN TANAH BUMBU

(8)

8

PERSETUJUAN ATASAN

Laporan Akhir Hasil Penelitian Tahun 2018

IMPLEMENTASI SURVEILANS MIGRASI DI DAERAH TAMBANG UNTUK ELIMINASI MALARIA DI KABUPATEN TANAH BUMBU

(9)

9

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga pelaksanaan penelitian berjudul: ―Implementasi Surveilans Migrasi di Daerah Tambang untuk Eliminasi Malaria di Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan‖ dapat diselesaikan dengan baik. Penelitian ini merupakan penelitian untuk menganalisa implementasi surveilans migrasi di daerah tambang melalui kegiatan identifikasi daerah malaria, penemuan dan pengobatan kasus malaria, pengambilan SDJ pada pekerja tambang, rujukan, penyuluhan, dan pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan program surveilans malaria oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu dan keterlibatan kabupaten tetangga yang warganya bekerja di daerah tambang di Kabupaten Tanah Bumbu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar program surveilens malaria untuk strategi program peningkatan kewaspadaan terhadap timbulnya malaria khususnya di daerah tambang menuju akselerasi eliminasi malaria di Kabupaten Tanah Bumbu. Penulisan laporan dilakukan setelah rangkaian proses penelitian selesai dilaksanakan. Laporan penelitian ini merupakan pertanggungjawaban ilmiah dan administrasi.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada :

1. Kepala Badan Litbangkes dan jajaran;

2. Kepala Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat dan jajaran; 3. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan dan jajaran; 4. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu dan jajaran; 5. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin dan jajaran;

6. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar dan jajaran;

7. Ketua Pembina Ilmiah Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat;

8. Panitia Pembina Ilmiah Puslitbang Upaya Kesehatan Masyarakat (Ibu Dr. Dra. Woro Riyadina, M.Kes dan Bapak Anorital, SKM, M.Kes);

9. Konsultan penelitian kualitatif (Ibu Dra Rr Rachmalina M.Sc PH); 10.Kepala Balai Litbang Kesehatan Tanah Bumbu;

(10)

10

12.Kepala Puskemas Teluk Kepayang dan jajaran; 13.Kepala Puskesmas Banua Padang dan jajaran; 14.Kepala Puskesmas Sungai Pinang dan jajaran ; 15.Tim Peneliti Balai Litbang Kesehatan Tanah Bumbu; 16.Tim Litkayasa Balai Litbang Kesehatan Tanah Bumbu; 17.Staf Balai Litbang Kesehatan Tanah Bumbu ;

18.Semua pihak yang telah bekerja dan membantu proses penelitian di lapangan maupun di laboratorium.

Penulis menyadari bahwa dalam laporan akhir ini masih memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh karena itu masukan, saran, dan kritik sangat penulis harapkan. Semoga laporan ini memberikan manfaat bagi semua pihak.

Tanah Bumbu, Desember 2018 Penulis,

Nita Rahayu, SKM, M.Sc NIP 197812062002122003

(11)

11

RINGKASAN EKSEKUTIF

Situasi malaria di Indonesia tahun 2015, sebagian besar wilayah di Indonesia telah mencapai tingkat endemis rendah atau menengah atau bahkan bebas malaria. Percepatan mencapai bebas malaria perlu dilakukan Provinsi Kalimantan Selatan dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama seluruh jajaran pemerintahan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat diharapkan Indonesia Bebas Malaria terwujud sebelum tahun 2030.

Kabupaten Tanah Bumbu merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan. Pada tahun 2015 Kabupaten Tanah Bumbu memiliki angka Annual Parasite Incidence (API) sebesar 0,82 dan pada tahun 2016 terjadi penuruan angka API menjadi sebesar 0,48. Beberapa upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu dan Puskesmas untuk menurunkan angka API tersebut yaitu antara lain mass blood survey, penyelidikan epidemiologi, pembagian kelambu, penyemprotan rumah, penyuluhan, pengobatan, keberadaan posmaldes, dan tenaga kesehatan serta kader malaria. Akan tetapi kasus malaria masih terjadi di 5 (lima) titik lokasi dengan kategori High Case Incidence (HCI).

Pada tahun 2017 nilai API tetap di dua wilayah kerja Puskesmas yaitu Puskesmas Teluk Kepayang dan Puskesmas Mentewe. Akan tetapi jumlah desa HCI bertambah dari yang semula 5 (lima) desa endemis kategori merah menjadi 6 (enam) titik lokasi yaitu Desa Temunih, Desa Batu Bulan, Desa Dadap, Desa Emil Baru, Desa Mentawakan Mulia, dan Desa Gunung Raya.

Desa endemis malaria di Kabupaten Tanah Bumbu merupakan daerah fokus penularan berupa tambang, hutan, dan perkebunan. Hal ini terlihat dari data Dinas Kesehatan Tanah Bumbu tahun 2015 di mana sebaran jenis pekerjaan penderita malaria terjadi pada buruh tambang (57,8%), perambah hutan (7,54%), dan berkebun (8,00%) serta petani (5,03%). Hal ini sejalan juga dengan hasil wawancara mendalam dengan pengelola program malaria Kabupaten A yang menyatakan mayoritas warga di 5 (lima) daerah endemis bekerja di perkebunan dan pekerja tambang khususnya tambang emas. Penemuan kasus yang kebanyakan dialami oleh pekerja tambang, hutan, dan kebun, diperkuat pula dengan data kasus pada tahun 2016 di mana sebagian besar penderita kasus

(12)

12

malaria adalah laki-laki sebesar 75% dan paling banyak pada penderita berumur produktif yaitu 15-54 tahun sebanyak 95,20%. Parasit malaria yang ditemukan pada kasus malaria yang terjadi Kabupaten Tanah Bumbu yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax dan mix. Kasus malaria yang terjadi tahun 2015 di Kabupaten Tanah Bumbu kebanyakan merupakan kasus indegenous (41,7%), import (24,6), relaps (8%) dan tidak diketahui (25,7%). Hal ini sejalan juga dengan hasil wawancara mendalam dengan pengelola program malaria Kabupaten A pada tanggal 23 Oktober 2017 yang menyatakan bahwa selain SPR yang masih ada 6% dan juga masih adanya kasus indegenous.

Selain persoalan tersebut diketahui faktor geografis, sistem pencatatan mobilitas pekerja, perilaku pekerja, dan dukungan dari kabupaten tetangga juga turut berpengaruh pada kasus kejadian malaria di Kabupaten Tanah Bumbu mengingat mayoritas warga yang terkena merupakan warga yang berasal dari kabupaten lain yang bekerja ke daerah fokus penularan. Hal ini sesuai dengan hasil indepth interview pengelola program malaria yang menyatakan bahwa adanya pekerja tambang yang berasal dari Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tapin, dan untuk pekerja perkebunan ada yang berasal Indonesia bagian Timur.

Permasalahan lemahnya sistem pencatatan mobilitas penduduk yang bekerja ke daerah fokus penularan menjadi salah satu faktor penyebab intervensi penanggulangan terhadap program malaria kurang maksimal. Pengelola program malaria Dinas Kesehatan Kabupaten A menyatakan bahwa hasil koordinasi dengan salah satu Kepala Desa yang menyatakan bahwa beberapa penduduk yang bekerja tidak melapor dan terdata, dan mayoritas penduduk yang bekerja akan kontak dengan petugas kesehatan bila sakit. Mobilitas penduduk yang cepat di lokasi penambangan menyebabkan kendala pada distribusi kelambu ke pekerja yang sering berganti-ganti. Sehingga perlu dukungan atau peran serta aktif dari kabupaten tetangga yang warganya turut bekerja di Kabupaten Tanah Bumbu baik penyuluhan dan pendistribusian kelambu.

Surveilans migrasi telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu baik melalui active case detection (ACD) ataupun passive case detections (PCD). Berdasarkan indepth interview dengan Pengelola Program Malaria Dinas Kesehatan Kabupaten A diketahui bahwa ada dua kemungkingan

(13)

13

terjadinya kasus malaria baik karena penambang luar kabupaten yang membawa kasus atau potensi alam Tanah Bumbu yang berpeluang untuk menularkan kepada pendatang karena ada nyamuk potensial serta kemampuan parasit Plasmodium yang berkembang dengan cepat. Akan tetapi belum diketahui apakah Dinas Kesehatan Kabupaten tetangga yang penduduknya bekerja di tambang di Kabupaten Tanah Bumbu juga melakukan surveilans migrasi.

Berdasarkan persoalan tersebut maka dilakukan penelitian untuk menganalisa implementasi surveilans migrasi pada pekerja tambang yang bekerja di daerah fokus penularan khususnya daerah tambang dengan mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan perilaku, serta pelaksanaan program pengendalian malaria oleh pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu, dan keterlibatan kabupaten tetangga yang warganya bekerja di daerah tambang. Sehingga dapat mempercepat proses eliminasi malaria di Kabupaten Tanah Bumbu.

Penelitian dilaksanakan di 5 (lima) lokasi desa endemis malaria kategori HCI yang memiliki daerah tambang yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu pada bulan Februari-November 2018. Pengumpulan data meliputi identifikasi karakteristik pekerja tambang, indetifikasi program pengendalian malaria di daerah tambang, focus group discussion (FGD) tentang malaria pada pekerja tambang, mass blood survey (MBS), survei vektor, survei lingkungan, indepth interview kepada petugas kesehatan dan pemangku kebijakan di Kabupaten Tanah Bumbu dan kabupaten tetangga yang warganya teridentifikasi bekerja di daerah fokus penularan.

Hasil penelitian didapatkan total SPR 1,45% dari total 1996 slide dan kasus malaria impor sebanyak 75 orang. Nyamuk Anopheles dan larva potensial di temukan di lingkungan rawa, sungai, bekas kolam, kolam, dan sumur. Pengobatan yang diberikan sudah sesuai standar, karakteristik pekerja tambang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (95%), berusia 15 tahun sampai dengan 45 tahun. berpendidikan tidak bersekolah (80%), Pengetahuan sikap dan perilaku pekerja tambang menganggap malaria sebagai salah satu resiko dari pekerjaan di hutan baik karena faktor ekonomi. Adanya keengganan dari beberapa pekerja tambang untuk diperiksa MBS secara dini ataupun untuk melapor ke Puskesmas atau tenaga kesehatan baik sebelum maupun sesudah berpergian ke daerah endemis.

(14)

14

Kerjasama dan koordinasi lintas sektor dilakukan antara lain Pemberdayaan masyarakat melalui (pos malaria desa). Upaya pengendalian malaria telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu melalui penemuan penderita secara dini, pengobatan, pembagian kelambu massal, penyemprotan rumah, IRS dan salah satu peran pemerintah Kabupaten tetangga dan pemerintah Provinsi dalam surveilans migrasi yaitu koordinasi dalam bentuk kartu notifikasi penderita malaria dan komunikasi baik melalui whatsapp grup maupun telepon ataupun sms. Tetapi masih ditemukan adanya kendala terkait kelengkakapan isi data yang tertulis dalam kartu notifikasi, sehingga menyebabkan petugas kesehatan di daerah asal kesulitan dalam penelusuran penderita.

Berdasarkan hasil di atas maka disarankan kepada pengelola program malaria dapat mengaktifkan kembali survei migrasi pada daerah endemis malaria, mengaktifkan kembali kartu notifikasi penemuan kasus positif malaria dengan data yang lebih lengkap agar mempermudah proses pelacakan kelanjutan Penyelidikan Epidemiologi (Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Tetangga), menjadikan ketua kelompok penambang sebagai kader JMD untuk mempercepat penemuan kasus malaria, dan membuat portal (masuk – keluar) harus di MBS. melanjutkan model pengobatan sesuai standar dengan pendampingan pengawasan kepatuhan minum obar oleh kader JMD khususnya ketua kelompok pekerja tambang , meletakkan hewan ternak besar sebagai cattle barrier

Dari beberapa kegiatan tersebut diharapkan dapat dijadikan dasar atau acuan dalam hal pengendalian malaria khususnya di daerah tambang untuk eliminasi malaria tahun 2020 yang akan diterapkan oleh pelaksana program dalam pencegahan dan pengendalian malaria.

(15)

15 ABSTRAK

Latar belakang: Dinkes Kabupaten Tanah Bumbu menerapkan surveilans migrasi di daerah fokus penularan khususnya tambang ilegal, tetapi pelaksanaannya belum pernah dievaluasi. Tujuan penelitian untuk menganalisa implementasi surveilans migrasi di daerah tambang

Metode: Cross-sectional pada Februari - November 2018 di lima desa endemis malaria. Pengumpulan data yaitu identifikasi karakteristik pekerja, FGD, MBS, survei vektor, survei lingkungan, indepth interview kebijakan

Hasil: SPR 1,45% dari 1996 slide dan kasus malaria impor sebanyak 75 orang. Penemuan nyamuk Anopheles di 2 desa dan larva potensial di lingkungan rawa, sungai, bekas kolam, dan sumur. Pengobatan diberikan sudah sesuai standar, karakteristik pekerja 95% laki-laki, berusia 15-45 tahun, tidak bersekolah (80%). Pengetahuan sikap dan perilaku pekerja menganggap malaria sebagai salah satu resiko pekerjaan di hutan karena faktor ekonomi. Adanya keengganan dari beberapa pekerja untuk diperiksa MBS atau melapor ke Puskesmas sebelum maupun sesudah berpergian ke daerah endemis. Kerjasama dan koordinasi lintas sektor dilakukan antara lain pemberdayaan masyarakat melalui pos malaria desa

Kesimpulan: Upaya pengendalian malaria telah dilakukan Dinkes Kabupaten Tanah Bumbu melalui penemuan penderita secara dini, pengobatan, pembagian kelambu massal, penyemprotan rumah, IRS dan salah satu peran pemerintah Kabupaten tetangga dan pemerintah Provinsi yaitu koordinasi dalam bentuk kartu notifikasi penderita malaria dan komunikasi baik melalui whatsapp grup, telepon dan sms. Tetapi masih ditemukan kendala kelengkapan isi kartu notifikasi, sehingga menyebabkan petugas kesehatan di daerah asal kesulitan dalam penelusuran penderita

Saran : Mengaktifkan kembali survei migrasi pada daerah endemis dan kartu notifikasi, menjadikan ketua kelompok penambang sebagai kader JMD malaria, dan membuat portal (masuk – keluar) harus di MBS

(16)

16 ABSTRACT

Background: Tanah Bumbu District Health Office implements migration surveillance of malaria in the focus areas especially in the illegal mine area. The research objective is to analyze it in the mine area

Method: Cross-sectional in February - November 2018 in five malaria endemic villages. Data collection is identification workers characteristics, FGD, MBS, vektor surveys, environmental surveys and indepth interview of policy

Results: SPR 1.45% from 1996 slides and 75 imported malaria cases. Anopheles mosquitoes are found in 2 villages and potential larvae are found in swamps, rivers, ponds, and wells. The treatment given is in accordance with the standard, the characteristics workers are men (95%), aged 15-45 years, not attending school (80%). Workers considers malaria as one of the risks of employment in the forest. The reluctance of some workers with MBS or report before or after traveling to endemic areas. Cooperation and coordination across sectors is carried out, among others, community empowerment through village malaria post

Conclusion: Tanah Bumbu District Health Office controls malaria by early patient discovery, treatment, distribution of bulk mosquito nets, house spraying, IRS and the roles of neighboring regency governments and the provincial government in the form of notification cards and communication through whatsapp groups, call and text. There are still uncomplete contents of the notification card, it can make difficulty in tracing the sufferer

Suggestion: Reactivating the migration survey in endemic areas and notification cards, making the head of the mining group as JMD malaria, and making the portal (entry - exit) MBS

(17)

17 DAFTAR ISI

Halaman

Judul Penelitian... 1

SK Penelitian... 2

Susunan Tim Penelitian... 5

Persetujuan Etik... 6 Persetujuan Atasan... 7 Kata Pengantar... 9 Ringkasan Ekskutif... 11 Abstrak... 15 Daftar Isi... 17 Daftar Tabel... 19 Daftar Gambar... 20 Daftar Lampiran... 21 BAB I PENDAHULUAN... 22 1.1 Latar Belakang... 22 1.2 Perumusan Masalah... 23 1.3 Tujuan Penelitian... 24 1.3.1 Tujuan Umum... 24 1.3.2 Tujuan Khusus... 25 1.4 Manfaat Penelitian... 25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 26

2.1 Kerangka Konsep dan Definisi Operasional... 26

2.2 Desain Penelitian... 28

2.3 Tempat dan Waktu Penelitian... 29

2.4 Populasi dan Sampling... 30

2.5 Instrumen Pengumpul Data... 32

2.6 Bahan dan Prosedur Pengumpulan Data... 33

2.7 Pengolahan dan Analisis Data... 38

BAB III HASIL... 39

3.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian... 39

3.2 Penemuan Penderita Secara Dini... 40

3.3 Identifikasi Kasus Malaria Impor... 41

3.4 Analisis Kejadian Malaria (Survei entomologi)... 42

3.5 Identifikasi Pengobatan yang diberikan kepada Penderita Malaria... 43

3.6 Karakteristik Pekerja Tambang... 44

3.7 Identifikasi Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku... 44

3.8 Peningkatan Jejaring Kemitraan dan Pemberdayaan Masyarakat... 49

3.9 Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Bumbu pada Pengendalian Malaria... 51

3.10 Peran Pemerintah Kabupaten Tetangga (Surveilans Migrasi Lintas Kabupaten)... 53

BAB IV PEMBAHASAN... 55

BAB V KESIMPULAN... 60

5.1 Kesimpulan... 60

(18)

18

DAFTAR PUSTAKA... 63 LAMPIRAN... 65

(19)

19

DAFTAR TABEL

Halaman 2.1 Definisi Operasional Variabel... 27 2.2 Metode Kuantitatif dan Kualitatif pada Penelitian... 29 2.3 Lokasi Penelitian... 30 3.1.4 Kategori Desa Endemis Malaria Kabupaten Tanah Bumbu Tahun

2011-2016... 39 3.1.5 Data API di Daerah HCI di Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2017.... 39 3.2.6 Hasil Mass Blood Survey di Wilayah Kerja Puskesmas Mantewe

Kecamatan Mantewe dan Puskesmas Teluk Kepayang oleh Tim Parasitologi Balai Litbangkes Tanah Bumbu (Agustus-September

Tahun 2018)... 40 3.2.7 Hasil Mass Blood Survey di 5 (lima) Desa Endemis di Wilayah Kerja

Kecamatan Kusan Hulu dan Mantewe oleh Tim Parasitologi Balai

Litbangkes Tanah Bumbu (Agustus-September Tahun 2018)... 41 3.3.8 Data Surveilans Migrasi Desa Batu Bulan... 42 3.4.9 Hasil Survei Lingkungan di 5 (lima) Desa Endemis oleh Tim

Entomologi Balai Litbangkes Tanah Bumbu (Agustus-September

2018)... 43 3.6.10 Karakteristik Pekerja Tambang Berdasarkan Aspek Sosio Demografi 44 3.7.11 Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Pengetahuan tentang

Malaria... 45 3.7.12 Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Sikap tentang Malaria

3.7.13 Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Perilaku tentang

Malaria... 46 3.9.14 Indikator Program Malaria Kabupaten Tanah Bumbu Tahun

(20)

20

DAFTAR GAMBAR

Halaman

2.1 Kerangka Konsep... 26 2.2 Kerangka Operasional... 27 3.1.3 Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan,... 39 3.1.4 Peta Endemis Malaria di Lokasi Kerja Puskesmas Teluk Kepayang.... 40 3.2.5 Kegiatan Mass Blood Survey... 41 3.3.6 Klasifikasi Asal Penularan Kasus di Kabupaten Tanah Bumbu Tahun

2015...

42 3.7.1.7 Kehidupan Para Pekerja Tambang Dusun Miing Kecamatan Kusan

(21)

21

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Foto Kegiatan... 66 2 Kuesioner... 67

(22)

22 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Situasi malaria di Indonesia tahun 2015, sebagian besar wilayah di Indonesia telah mencapai tingkat endemis rendah atau menengah atau bahkan bebas malaria. Percepatan mencapai bebas malaria perlu dilakukan Provinsi Kalimantan Selatan dan 13 Kabupaten/Kota dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama seluruh jajaran pemerintahan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat diharapkan Indonesia Bebas Malaria terwujud sebelum tahun 2030.

Kabupaten Tanah Bumbu merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan dengan nilai Annual Parasite Incidence (API) yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu memperlihatkan nilai API pada tahun 2015 sebesar 0,82 dan pada tahun 2016 terjadi penurunan nilai API menjadi sebesar 0,48.

Beberapa upaya telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu dan Puskesmas untuk menurunkan angka API antara lain mass blood survey, penyelidikan epidemiologi, pembagian kelambu, penyemprotan rumah, penyuluhan, pengobatan, keberadaan posmaldes, dan tenaga kesehatan serta kader malaria. Akan tetapi kasus malaria masih terjadi di 5 (lima) desa/titik lokasi dengan kategori High Case Incidence (HCI) pada tahun 2015-2016 dan pada tahun 2017 menjadi 6 (enam) desa/titik lokasi HCI.

Desa endemis malaria di Kabupaten Tanah Bumbu merupakan daerah fokus penularan berupa tambang, hutan dan perkebunan. Hal ini terlihat dari Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2015 dan diperkuat hasil wawancara mendalam dengan pengelola malaria Kabupaten A pada tanggal 23 Oktober 2017 di mana sebaran jenis pekerjaan penderita pada tahun 2015 yang didapat diketahui bahwa mayoritas kasus terjadi pada buruh tambang (57,8%), perambah hutan (7,54%), dan berkebun (8,0%) serta petani (5,03%). Kasus malaria yang terjadi tahun 2015 kebanyakan merupakan kasus indegenous (41,7%), import (24,6), relaps (8%), dan tidak diketahui (25,7%). Faktor geografis, sistem pencatatan mobilitas pekerja, perilaku pekerja, dan dukungan

(23)

23

dari kabupaten tetangga turut berpengaruh pada kasus kejadian malaria di Kabupaten Tanah Bumbu karena mayoritas pekerja yang terkena di daerah fokus penularan merupakan warga yang berasal dari kabupaten lain.

Surveilans migrasi telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu baik active case detection (ACD) ataupun passive case detections (PCD). Kemungkinan kasus malaria terjadi baik karena penambang luar kabupaten yang membawa kasus atau potensi alam Tanah Bumbu yang berpeluang menularkan kepada pendatang yang bekerja di Kabupaten Tanah Bumbu. Berdasarkan persoalan tersebut maka dilakukan penelitian untuk menganalisa implementasi surveilans migrasi pada pekerja tambang di Kabupaten Tanah Bumbu.

Penelitian dilaksanakan di 5 (lima) lokasi desa endemis malaria kategori HCI yang memiliki daerah tambang yang ada di Kabupaten Tanah Bumbu. Dalam pelaksanaannya ada beberapa kegiatan pengumpulan data yang meliputi meliputi identifikasi karakteristik pekerja tambang, indetifikasi program pengendalian malaria di daerah tambang, focus group discussion (FGD) tentang malaria pada pekerja tambang, mass blood survey, survei vektor, survei lingkungan, indepth interview kepada petugas kesehatan dan pemangku kebijakan di Kabupaten Tanah Bumbu dan kabupaten tetangga yang warganya teridentifikasi bekerja di daerah fokus penularan. Dari beberapa kegiatan tersebut diharapkan dapat dijadikan dasar program surveilens malaria untuk strategi program peningkatan kewaspadaan terhadap timbulnya malaria khususnya di daerah tambang menuju akselerasi eliminasi malaria di Kabupaten Tanah Bumbu.

1.2 Perumusan Masalah

Komitmen Global Resolusi WHA 60/ 2007 mengenai Eliminasi Malaria, Presiden menyatakan untuk eliminasi malaria tahun 2030, sesuai keputusan menteri kesehatan tentang Eliminasi Malaria (2009). Pembentukan FNGM tahun 2012, salah satunya Komisi Penilaian Eliminasi. Salah satu SDGs : 3.3 By 2030, end the epidemics of AIDS, tuberculosis, malaria, and neglected tropical diseases and combat hepatitis, water-borne diseases and other communicable diseases. WHA 68 (2015) : Global Technical Strategy for Malaria 2016-2030.

(24)

24

Akselerasi Perwujudan Indonesia Bebas Malaria didukung oleh kerjasama regional Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA). APLMA adalah forum kepala negara/kepala pemerintahan negara-negara ASEAN bersama dengan Amerika Serikat, Jepang, Cina, Korea Selatan, India, Australia, dan New Zealand yang dibentuk pada The 2013 East Asia Summit. APLMA bertujuan mempercepat pengendalian malaria menuju eliminasi di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2030.

Situasi malaria di Indonesia tahun 2015, sebagian besar wilayah di Indonesia telah mencapai tingkat endemis rendah atau menengah atau bahkan bebas malaria. Percepatan mencapai bebas malaria perlu dilakukan di antaranya Provinsi Kalimantan Selatan dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama seluruh jajaran pemerintahan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat diharapkan Indonesia Bebas Malaria terwujud sebelum tahun 2030.

Kabupaten Tanah Bumbu merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Kalimantan Selatan. Pada tahun 2015, Kabupaten Tanah Bumbu memiliki angka API sebesar 0,82 dan pada tahun 2016 terjadi penuruan angka API menjadi sebesar 0,48. Akan tetapi kasus malaria masih terjadi di 5 (lima) desa/titik lokasi dengan kategori High Case Incidence (HCI) pada tahun 2015-2016 dan pada tahun 2017 menjadi 6 (enam) desa/titik lokasi HCI. Penurunan angka API perlu dilakukan secara berkelanjutan, sebagai salah satu upaya percepatan bebas malaria. Sehingga perlu dilakukan upaya lain yang dapat memperkuat serta mempercepat proses eliminasi tersebut dengan menganalisa implementasi surveilans migrasi melalui kegiatan identifikasi daerah malaria, penemuan dan pengobatan kasus malaria, pengambilan SDJ pada pekerja tambang, rujukan, penyuluhan, dan pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan program surveilans malaria oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu dan keterlibatan kabupaten tetangga yang warganya bekerja di daerah tambang di Kabupaten Tanah Bumbu.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisa implementasi surveilans migrasi di daerah tambang melalui kegiatan identifikasi daerah malaria, penemuan dan pengobatan kasus malaria, pengambilan SDJ pada pekerja tambang, rujukan, penyuluhan, dan

(25)

25

pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan program surveilans malaria oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu dan keterlibatan kabupaten tetangga yang warganya bekerja di daerah tambang di Kabupaten Tanah Bumbu

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Menemukan penderita malaria secara dini yang datang dari dearah endemis malaria

2. Mengidentifikasi terjadinya penularan malaria terutama yang berasal dari kasus impor

3. Melakukan analisis kejadian malaria terhadap penduduk migrasi, data vektor malaria dan lingkungan perkembangbiakannya

4. Mengidentifikasi kesesuaian pengobatan yang diberikan kepada penderita malaria dengan standar pedoman

5. Mengidentifikasi karakteristik pekerja tambang (usia, jenis kelamin, asal, lama tinggal/kerja di tambang, riwayat terkena malaria) di daerah fokus penularan khususnya daerah tambang

6. Mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan perilaku pekerja tambang di daerah fokus penularan khususnya daerah tambang

7. Meningkatkan jejaring kemitraan dengan berbagai program/ sektor terkait termasuk pemberdayaan masyarakat (JMD, kader)

8. Mengidentifikasi peran pemerintah daerah (petugas kesehatan, kader, pemangku kebijakan, dan stakeholder) Kabupaten Tanah Bumbu pada program pengendalian malaria di daerah fokus penularan malaria khususnya daerah tambang

9. Mengidentifikasi peran pemerintah kabupaten tetangga pada program pengendalian malaria di daerah fokus penularan malaria khususnya daerah tambang

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar program surveilens malaria untuk strategi program peningkatan kewaspadaan terhadap timbulnya malaria khususnya di daerah tambang menuju akselerasi eliminasi malaria di Kabupaten Tanah Bumbu.

(26)

26 BAB II METODE

2.1 Kerangka Konsep dan Definisi Operasional

Gambar 2.1 Kerangka Konsep

Kerangka Teori :

Jika digunakan model pendekatan berdasarkan teori H.L Blum, keberhasilan eliminasi dipengaruhi atas faktor lingkungan, perilaku, pelayanan, dan genetik. Enam faktor dalam diagram kerangka konsep dapat dikelompokkan sebagai faktor lingkungan (vektor, reservoar, lingkungan fisik), perilaku (perilaku masyarakat), pelayanan (pemberian obat pencegah dan manajemen pengendalian), sedangkan faktor genetik kontribusinya kecil dan dapat diabaikan.

(27)

27 Gambar 2.2 Kerangka Operasional

Definisi Operasional Variabel

Tabel 2.1 Definisi Operasional Variabel

Variabel Defenisi Operasional Cara Pengumpulan Data

Skala/ Instrumen Malaria Penyakit infeksi yang di

sebabkan oleh plasmodium dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina

Data unit pelayanan penelitian dan hasil penelitian terdahulu

1. Buku 2. Format 3. Pemeriksaan

Darah Malaria P.falciparum Penyebab penyakit malaria

tropika

Survei darah jari

P.vivax Penyebab Penyakit malaria

tertiana

Survei darah jari

P. malariae Penyebab penyakit malaria quartana

Survei darah jari

Lingkungan Tempat hidup dan berkembangbiaknya hospes dan tanaman air, kondisi sekitar tempat tinggal masyarakat yang potensial tertular malaria

Observasi lingkungan Format Survei Lapangan dan alat alat observasi lingkungan, dokumentasi Hutan Penggunaan lahan berupa jenis

tanaman keras dengan intensitas tutupan lahannya yang padat

Survei lingkungan Observasi lingkungan hutan

Sawah Penggunaan lahan yang tergenang, berlumpur dan ditutupi oleh beberapa jenis tanaman air

Survei lingkungan sawah

Observasi lingkungan

(28)

28 Pengetahuan Pengetahuan adalah pemahaman

intelektual dengan fakta, kebenaran, dan prinsip yang diperoleh melalui penglihatan, pengalaman, dan laporan terhadap malaria

Focus Group Discussion tentang malaria

Catatan hasil FGD

Sikap Sikap adalah perasaan disposisi, atau posisi, suka, tidak suka, setuju, tak setuju terhadap penyakit malaria,

Focus Group Discussion (FGD) tentang malaria

Catatan hasil FGD

Perilaku Perilaku adalah tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang yang mendukung terjadinya malaria

Focus Group Discussion tentang malaria

Catatan hasil FGD

Umur Umur adalah usia dalam tahun yang disampaikan pada saat MBS

Mass Blood Survey (MBS)

Data hasil MBS

Jenis Kelamin Jenis kelamin pada seseorang baik wanita ataupun pria diukur dengan wawancara dan dicatat jenis kelamin pada waktu sebelum MBS

Mass Blood Survey (MBS)

Skala pengukuran nominal

Pekerjaan Pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan secara rutin dalam usaha mencari nafkah, yang diukur dengan wawancara dan dicatat pada waktu sebelum MBS

Mass Blood Survey (MBS)

Skala pengukuran nominal

Surveilans migrasi

Kegiatan pengambilan Sampel darah pada orang orang yang menunjukkan suspek malaria yangdatang dari daerah endemis malaria.

Mass Blood Survey (MBS)

Skala pengukuran nominal

Surveilens Suatu kegiatan yang dilakukan secara terus menerus berupa pengumpulan data secara sistematik análisis dan

interpretasi data mengenai suatu peristiwa yang terkait dengan kesehatan untuk digunakan dalam tindakan kesehatan.

Mass Blood Survey (MBS)

Skala pengukuran nominal

Migrasi Perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat ke tempat lain melewati batas administrasi.

Mass Blood Survey (MBS)

Skala pengukuran nominal

2.2. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah deskriptif observasi potong lintang (cross sectional) dengan metode kuantitatif dan kualitatif.

(29)

29

Tabel 2.2 Metode Kuantitatif dan Kualitatif pada Penelitian

No Tujuan Khusus Jenis Data

1 Menemukan penderita malaria secara dini Data Kuantitatif melalui Mass Blood Survey

2 Mengidentifikasi terjadinya penularan malaria terutama yang berasal dari kasus impor

Data Kuantitatif melalui Data Sekunder Dinkes

3 Mengidentifikasi pengobatan pada penderita malaria apakah sesuai standar

Data Kuantitatif melalui Data Sekunder Puskesmas

4 Melakukan analisis kejadian malaria terhadap penduduk migrasi, data vektor malaria dan lingkungan perkembangbiakannya

Data Kuantitatif melalui Data entomologi

5 Mengidentifikasi karakteristik pekerja tambang di daerah fokus

Data Kualitatif melalui Observasi KTP informan

6 Mengidentifikasi pengetahuan, sikap dan perilaku pekerja tambang

Data Kualitatif melalui Indepth interview

7 Meningkatkan jejaring kemitraan dengan berbagai program/sector terkait termasuk pemberdayaan masyarakat (JMD, kader)

Data Kualitatif melalui Indepth interview

8 Mengidentifikasi peran pemerintah daerah (petugas kesehatan, kader, pemangku kebijakan dan stakeholder) Kabupaten Tanah Bumbu pada program pengendalian malaria di daerah fokus penularan malaria khususnya daerah tambang

Data Kualitatif melalui Indepth interview

9 Mengidentifikasi peran pemerintah kabupaten tetangga pada program pengendalian malaria di daerah fokus penularan malaria khususnya daerah tambang

Data Kualitatif` melalui Indepth interview

2.3 Tempat dan Waktu Penelitian

Waktu: Penelitian akan dilakukan pada tahun 2018 selama 10 (sepuluh) bulan dimulai dari bulan Februari sampai dengan November 2018.

Tempat/Lokasi penelitian adalah 5 (lima) lokasi desa yang endemis malaria di Kabupaten Tanah Bumbu. Pemilihan lokasi sampel berdasarkan nilai API tahun 2015 dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu, di mana ke 5 (lima) lokasi termasuk kategori HCI dan ditemukan keberadaan pos malaria desa.

(30)

30 Tabel 2.3 Lokasi Penelitian

No Desa Kategori

1 Gunung Raya Sangat Terpencil

2 Temunih Sangat terpencil

3 Dusun Belanai Desa Mangkal api Terpencil 4 Dusun Pawaluhan Desa Guntung Terpencil 5 Dusun Miing Desa Teluk Kepayang Terpencil

Pelaksana dan Penanggung Jawab adalah Balai Litbang Kesehatan Tanah Bumbu bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu.

Sumber Biaya Penelitian berasal dari dana APBN pada DIPA Balai Litbang Kesehatan Tanah Bumbu.

2.4 Populasi dan Sampling

2.4.1 Mass Blood Survey (MBS)

Tujuan dari Mass Blood Survey adalah untuk mengetahui jumlah kasus malaria (penduduk yang darahnya positif mengandung Plasmodium). MBS dilakukan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Tanah Bumbu khususnya Puskesmas Mantewe dan Puskesmas Teluk Kepayang.

Pada MBS dibuat sediaan darah tebal dan tipis serta pengecatan giemsa. Apabila hasil pemeriksaan positif, dilihat macam spesies dan stadium dari Plasmodium tersebut.

Populasi: masyarakat atau penduduk yang berada di daerah endemis malaria di 5 (lima) titik lokasi

Sampel: masyarakat atau penduduk yang bersedia di ambil darahnya sesuai dengan kriteria inklusi. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling. Estimasi besaran sampel dihitung menggunakan rumus Lemeshow, et al. (1990) dan Murti (2006):

Keterangan :

n = jumlah sampel

= statistik Z, dengan tingkat kepercayaan 95% dan α = 5%, sehingga Z=1,96

p = perkiraan proporsi (prevalensi)= 0,5 q = 1-p = 0,5

d = delta, presisi absolut atau margin of error yang diinginkan di kedua sisi proporsi = 10%

(31)

31

Hasil perhitungan didapatkan jumlah sampel minimal adalah 100 responden. Pengambilan sampel akan ditambahkan 10 % menjadi 110 responden. Kriteria Sampel

Inklusi: Penduduk berumur 5 tahun ke atas dan bersedia berpartisipasi dalam persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subjek penelitian agar dapat diikutsertakan dalam penelitian, sehingga termasuk dalam kriteria pemilihan. Eksklusi: Sampel terpilih yang tidak bersedia diambil darahnya

Lokasi: 5 (lima) titik lokasi endemis malaria kategori HCI yang merupakan daerah tambang

2.4.2 Focus Group Discussion (FGD) tentang Malaria

FGD survei malaria yaitu survei untuk mengetahui aspek pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terkait dengan malaria (penyebab penyakit, pengobatan, dan pencegahan).

Populasi: pekerja tambang di sekitar tempat lokasi yaitu 5 (lima) titik daerah endemis malaria kategori HCI yang merupakan daerah tambang

Sampel: Jumlah sampel sebanyak 10 orang pekerja tambang. Kriteria Sampel:

Inklusi: pekerja usia 15 tahun ke atas yang tinggal lebih dari 3 bulan

Eksklusi: penduduk yang kesulitan dalam berkomunikasi (tuna wicara dan tuna rungu), dan lansia dementia.

Lokasi: Lokasi sesuai dengan lokasi tempat pelaksanaan Mass Blood Survey di 5 (lima) titik daerah endemis malaria kategori HCI yang merupakan daerah tambang.

2.4.3 Wawancara Mendalam (In-depth Interview)

Wawancara mendalam ditujukan kepada informan (stake holder) mengetahui masalah yang terkait dengan program eliminasi malaria ada di desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten lokasi penelitian (Kabupaten Tanah Bumbu) dan kabupaten tetangga yang warganya bekerja di daerah tambang di Kabupaten Tanah Bumbu

Populasi : Para pejabat dan petugas kesehatan di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa (lintas program dan lintas sektor

(32)

32

Lokasi: Lokasi adalah desa/kelurahan, kecamatan, dan desa tempat pelaksanaan penelitian.

2.4.4 Survei Vektor (Nyamuk).

Survei vektor (nyamuk) dilakukan untuk melihat spesies nyamuk yang potensial menjadi vektor penular malaria, kepadatan maupun titik puncak penularan.

Selain survei vektor, juga dilakukan survei habitat vektor. Dalam survei ini dilakukan pengamatan dan pencatatan habitat vektor potensial penular malaria yang meliputi type breeding site, pengamatan flora, dan fauna (naungan dan kepadatan flora), kondisi ekologi (tanaman air, lumut, ganggang), dan keberadaan hewan air predator, jarak dari rumah penduduk, penggunaan lahan, dan total larva yang ditemukan per spesies.

Lokasi: Desa/kelurahan tempat pelaksanaan Mass Blood Survey di 5 (lima) titik daerah endemis malaria kategori HCI yang merupakan daerah tambang

2.4.5 Survei Lingkungan

Survei lingkungan adalah pengumpulan data dan informasi yang terkait dengan lingkungan dari vektor pada daerah tempat pelaksanaan penelitian.

Lokasi: Lingkungan rumah penduduk di desa/kelurahan tempat pelaksanaan Mass Blood Survey di 5 (lima) titik daerah endemis malaria kategori HCI yang merupakan daerah tambang

2.5 Instrumen Pengumpul Data Instrumen pengumpulan data yaitu : a) Pedoman pengamatan

b) Pedoman FGD tentang malaria kepada pekerja tambang c) Pedoman MBS dan form pengisian MBS

d) Pedoman wawancara mendalam e) Form pengisian penangkapan nyamuk f) Form pencatatan survei lingkungan

(33)

33 2.6 Bahan dan ProsedurPengumpulan Data

2.6.1 Mass Blood Survey (MBS)

Bahan dan alat pengambilan darah massal dan pewarnaan (slide preparat, box slide, vaksinostil/blood lancet, dipstick RDT, kapas, alkohol 70%, formulir pengambilan darah, giemsa, gelas ukur 10 cc dan 100 cc, pipet, tissue gulung, box pewarnaan, dan Aquadest), compound microscope dan dissecting microscope. Cara kerja (Dirjen P2M & PLP, 1999):

A. Pembuatan sediaan darah

Pembuatan SD ini harus dilakukan secara berurutan agar didapatkan hasil SD yang memenuhi syarat-syarat teknis :

a. Jari manis/tengah tangan kiri pasien dipegang dan dibersihkan dengan kapas beralkohol 70% sampai bersih.

b. Ujung jari agak di pinggir (kulit lebih tipis) ditusuk dengan cepat dan perlu diperhatikan cara mengurangi rasa sakit dan takut. Pada bayi umur 6 – 12 bulan, bagian yang akan ditusuk adalah ujung jempol kaki dan bayi yang kurang dari 6 bulan sebaiknya bagian yang ditusuk adalah tumit kakinya. c. Tetes darah pertama yang masih di ujung jari dilap dengan kapas kering

untuk menghilangkan sel darah pembeku (trombosit) terdapat pada SD dan agar SD terbebas dari alkohol.

d. Ujung jari ditekan sampai tetesan darah kedua yang agak besar keluar. Kaca sediaan dari bungkus yang sudah dirobek diambil. Darah ditempelkan pada permukaan bawah kaca sediaan. Kaca Sediaan tidak digosok-gosokkan pada kulit, sebab sel darah putih dapat pecah dan granula-granulanya menyebar pada SD.

e. Darah (2 – 3 tetes) ditempelkan pada kaca sediaan sesuai dengan banyaknya darah yang keluar

f. Kaca sediaan yang sudah berisi darah diletakkan di atas meja dan jari pasien dibersihkan dengan kapas kering.

g. SD dapat segera dibuat sebelum darah menggumpal :

 Dengan ujung kaca sediaan lain, 2 –3 tetes darah itu diputar perlahan-lahan dan teratur mulai dari luar ke dalam sehingga menyatu merupakan bulatan dengan diameter  1 cm.

(34)

34

 Darah pada ujung Kaca Sediaan harus dibersihkan agar tidak terjadi kontaminasi antar SD.

 Kaca sediaan yang dipakai memutar pembuatan SD dapat dipakai untuk membuat SD lainnya.

 Diameter 1 cm tidak mutlak, sebab tujuan utama adalah membuat ketebalan SD yang baik. Jadi lebar diameter tergantung pada volume darah yang terambil.

h. SD yang telah dibuat diletakkan di tempat yang datar sampai darah kering sempurna oleh udara dan dijaga dari gangguan debu dan lalat. Pengeringan dapat dipercepat dengan bantuan kipas angin atau lainnya.

B. Pewarnaan sediaan darah

Pewarnaan dilakukan secara massal.

a. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan untuk pewarnaan perlu dipersiapkan.

b. Jumlah SD yang akan diwarnai secara masal dihitung

c. Menghitung kebutuhan volume (cc) larutan Giemsa 5 % yang harus dibuat dengan ketentuan 1 cc larutan untuk satu kaca sediaan (1 cc larutan dapat menutupi seluruh permukaan kaca sediaan).

d. Kaca benda (slide) disusun satu persatu pada rak pewarnaan atau tempat yang datar dan darah harus berada di bagian atas. Kaca benda satu dengan lainnya tidak bersentuhan, agar larutan giemsa tidak meleleh waktu dituangkan ke atas kaca benda.

e. Membuat larutan Giemsa 5 % sebanyak yang dibutuhkan dan dilarutkan sampai homogen.

f. Mencatat waktu dimulainya pewarnaan atau pasang timer.

g. Meneteskan larutan Giemsa dengan pipet tetes pada SD satu persatu secara teratur, dimulai dari satu arah dan berakhir pada arah yang lain. Penetesan harus dilakukan cepat dan larutan Giemsa harus menutupi seluruh permukaan darah.

h. Proses pewarnaan berlangsung selama 45 menit. Peralatan dan bahan-bahan pewarnaan yang tidak diperlukan lagi sudah dapat dibersihkan dan disimpan.

(35)

35

i. Sesudah 45 menit, satu persatu SD itu dapat dibilas dengan cepat dimulai dari awal SD diwarnai.

j. Bila pembilasan sudah bersih, tegakkan kaca sediaan yang ada SD nya itu di tempat yang bersih dan aman supaya kering.

k. Bila semua SD sudah kering, SD dapat dibungkus supaya tidak tercemar debu selama menunggu pemeriksaan

C. Pemeriksaan parasit malaria

Peralatan dan bahan yang digunakan adalah

a. Mikroskop yang berfungsi baik. Pemeriksaan SD malaria menggunakan lensa okuler dengan pembesaran 10x. Lensa obyektif yang digunakan dengan pembesaran 100x.

b.buku untuk mencatat hasil pemeriksaan. c.SD yang telah diwarnai, siap untuk diperiksa.

d. Oli imersi/immersion oil (cedar oil) atau anisol, digunakan untuk memperkuat fungsi lensa dalam memperjelas tampilan gambar di lapangan pandang (l.p)

2.6.2 Focus Group Discussion (FGD)

Bahan dan alat yaitu Pedoman FGD tentang malaria, form catatan hasil FGD, recorder dan kamera digital

Cara Kerja :

a. Tim Pengumpul data akan mendatangi informan di daerah tambang di desa/kelurahan yang endemis malaria

b. Tim menentukan 10 (sepuluh) informan setiap titik lokasi yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi.

c. Sebelum pelaksanaan FGD, tim memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan survey KAP Malaria. Informan diminta untuk membaca dan menandatangani PSP.

d. Informan berdiskusi tentang Malaria 2.6.3 Wawancara Mendalam (Indepth Interview)

Bahan dan alat yaitu instrument pedoman wawancara, formulir PSP, kamera digital, dan tape recorder.

(36)

36

a. Tim wawancara mendalam terdiri atas (1) pewawancara, dan (2) pencatat (notulis).

b. Tim wawancara akan mendatangi informan di desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten.

c. Sebelum pelaksanaan wawancara mendalam, pewawancara memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan wawancara mendalam. Informan diminta untuk membaca dan menandatangani PSP.

d. Tim wawancara akan menanyakan dan mengobservasi peraturan/instruksi/surat edaran Kepala Daerah (Bupati) terkait migrasi atau keluar masuknya penduduk antar wilayah (Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tapin) serta menelaah kasus malaria impor di wilayah Puskesmas dengan masalah malaria pada pekerja tambang

2.6.4 Survei Vektor (Nyamuk).

Bahan dan Alat : paper cup, aspirator, alat pencidukan, mikroskop, buku identifikasi, senter, pipet, botol, kloroform, timer, dan form pengisian penangkapan nyamuk.

Cara Kerja :

a. Tim survei vektor (nyamuk) berjumlah 3 (tiga) orang dan dibantu tenaga lokal sebanyak 8 (delapan) orang. Salah seorang dari tiga peneliti tersebut menjadi ketua tim/ kordinator.

b. Sehari sebelum pelaksanaan survei, ketua tim/kordinator mendatangi lokasi penangkapan vektor untuk menentukan lokasi penangkapan, dan lokasi survei habitat vektor serta melakukan kordinasi dengan aparat desa/kelurahan setempat.

c. Dilakukan penangkapan nyamuk sepanjang malam (all night collection) untuk melihat fauna nyamuk, khususnya vektor penyebab malaria di lokasi hutan (tenda/camp) tersebut, kepadatan nyamuk berdasarkan jumlah nyamuk yang tertangkap per orang per jam serta fluktuasi kepadatan nyamuk yang menggigit orang di dalam maupun di luar rumah per jam.8

(37)

37

d. Penangkapan nyamuk dilakukan di lokasi hutan tempat para pekerja beristirahat/bermalam (tenda/camp/pondok) dengan menggunakan cara landing collection technique. Penangkapan nyamuk dengan umpan orang dilakukan mulai pukul 18.00 sore s/d pukul 06.00 pagi yang dilakukan oleh 6 orang kader penangkap nyamuk (kolektor) di tiga buah tenda/camp/pondok di lokasi hutan, yang masing-masing tenda/camp di lakukan penangkapan nyamuk oleh dua penangkap, satu berada di luar tenda/ camp (UOL) dan satunya lagi berada di dalam tenda/camp/pondok (UOD). Setiap jam selama 45 menit dilakukan penangkapan nyamuk dan 15 menit di gunakan untuk menangkap nyamuk yang hinggap di dinding dalam tenda/camp (IDR) dan luar (ILR) tenda/camp, dengan menggunakan aspirator. Nyamuk yang tertangkap diidentifikasi.

e. Alasan menentukan kepadatan nyamuk, dihitung dengan MHD (man haur density) yaitu jumlah penangkap nyamuk di kali jumlah nyamuk per spesies di bagi jumlah jam penangkapan di kali 100%.

f. Berdasarkan literature dari penelitian sebelumnya bahwa vektor malaria di Kalimantan Selatan khususnya Kabupaten Tanah Bumbu adalah Anopheles Balabacensis. Hasil dari penangkapan nyamuk yang ditangkap diidentifikasi dan apabila spesies anopheles yang ditangkap paling banyak itu adalah anopheles balabacensis, maka kemungkinan besar nyamuk anopheles sp tersebut masih di duga sebagai vektor dan dilakukan pembedahan ovary/abdomen untuk melihat umur nyamuk dan pembedahan thorak/ kelenjar ludah untuk melihat sporozoid . g. Pencarian larva dilakukan pada siang hari di tempat-tempat

perkembangbiakan berupa sungai, sawah, kolam, tambak, dan mata air yang potensial di daerah penelitian untuk mengetahui habitat pradewasa. Larva diambil dengan menggunakan cidukan atau pipet, larva yang tertangkap dikumpulkan dalam botol. Untuk kepadatan larva dilakukan dengan cara pencidukan sesuai dengan standar WHO. Semua larva yang tertangkap dibawa ke laboratorium dan dikoloni.

(38)

38 2.6.5 Survei Lingkungan

Bahan dan Alat : form pencatatan dan kamera digital Cara Kerja :

a. Survei Lingkungan dilakukan oleh 1 orang peneliti sebagai pengamat lingkungan.

b. Pengamat lingkungan akan mendatangi setiap rumah yang akan menjadi sampel pengamatan. Selain membawa form pencatatan, perlengkapan lain yang digunakan adalah kamera pada telepon genggam atau gadget guna merekam situasi dan kondisi yang ditemukan.

c. Hasil pengamatan dicatat peneliti dalam form pencatatan pengamatan lingkungan

2.7 Pengolahan dan Analisis Data

Data dan informasi yang diperoleh diedit, coding dan dientri langsung di lapangan dengan program yang telah disiapkan. Entri data dilakukan oleh tim pengumpul data. Analisis implementasi surveilans migrasi dilakukan dengan mengobservasi aspek epidemiologi penularan (host, agent, dan enviroment), menanyakan dan mengobservasi peraturan/instruksi/surat edaran Kepala Daerah (Bupati) terkait migrasi atau keluar masuknya penduduk antar wilayah (Kabupaten Tanah Bumbu, Kabupaten Banjar, dan Kabupaten Tapin) serta menelaah kasus malaria impor di wilayah Puskesmas dengan masalah malaria pada pekerja tambang.

Analisis dilakukan berdasarkan jenis data. Data kuantitatif berupa aspek epidemiologi penularan (host, agent, dan environment) dan data kasus malaria import akan digambarkan secara deksriptif melalui grafik/tabel/gambar. Data kualitatif berupa hasil FGD pekerja tambang dan data kualitatif hasil wawancara mendalam dengan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu dan Dinas Kesehatan kabupaten tetangga akan dilakukan kompilasi.

(39)

39 BAB III

HASIL

3.1 Gambaran Umum Daerah Penelitian

Gambar 3.1.3 Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu

Geologi wilayah Kabupaten Tanah Bumbu yang mempunyai ketinggian di atas 100 meter sebesar 31,01% dari wilayah Kabupaten Tanah Bumbu, sehingga terdapat beberapa daerah yang merupakan dataran tinggi. Daerah dataran tinggi tersebut sebagian besar termasuk dalam jalur barisan pegunungan Meratus. Tercatat setidaknya ada 18 puncak pegunungan yang berada di wilayah ini. Gunung Mariringin, Mengili, Baturaya, dan Gunung Gara Kunyit merupakan puncak pegunungan yang puncaknya mencapai 600 meter lebih di atas permukaaan air laut (dpl).

Tabel 3.1.4 Kategori Desa Endemis Malaria Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2011-2016

Kategori 2011 2012 2013 2014 2015 2016 HCI 59 52 29 10 5 5 MCI 46 48 58 36 25 9 LCI 1 10 16 29 26 20 FREE 30 29 44 72 Total 136 139 147 147 147

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu

Tabel 3.1.5 Data API di Daerah HCI di Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2017 Puskesmas Desa Endemis Kategori Merah Nilai API

Teluk Kepayang Temunih 7,1

Batu Bulan 80,8

Dadap 10,1

Mentewe Emil Baru 28,7

Mentawakan Mulia 25,4

Gunung Raya 54,7

Sumber: Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu

Luas Wilayah : 5.066.96 Km2 Jumlah Kecamatan : 10 Kecamatan Jumlah Desa : 150 Desa Jumlah Penduduk : 311.210 jiwa Kelembapan Udara : 85 & 92

Temperatur Udara : 24,5ºC & 27,1ºC Curah Hujan Tertinggi : 389,4 mm(Juli) Luas Hutan : 319.476 Ha Luas Pertambangan : 1.563 Ha Luas Sawah : 14.329 Ha Perkebunan : 42.367 Ha

(40)

40

Gambar 3.1.4 Peta Endemis Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Teluk Kepayang Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu

3.2 Penemuan Penderita Secara Dini

Penemuan penderita secara dini di 5 (lima) desa didapatkan total SPR 1,45% yaitu 29 orang yang positif menderita malaria dari total 1996 slide yang diperiksa dengan rincian sebagai berikut: Plasmodium falciparum-vivax (mix) sebanyak 10 responden, Plasmodium falciparum sebanyak 3 responden dan Plasmodium vivax sebanyak 16 responden. Daftar rincian hasil MBS dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.2.6 Hasil Mass Blood Survey di Wilayah Kerja Puskesmas Mentewe Kecamatan Mentewe dan Puskesmas oleh Tim Parasitologi Balai Litbangkes Tanah Bumbu (Agustus-September Tahun 2018)

No Mass Blood Survey Total Slide Slide positif SPR Keterangan 1 Puskesmas Mentewe (Januari-September 2018 di Desa Gunung Raya)

639 18 2,82% 5 slide positif mix

2 slide positif Plasmodium falciparum

11 slide positif Plasmodium vivax

2 Puskesmas Teluk Kepayang (Januari-Agustus 2018)

773 11 1,42% 5 slide positif mix

1 slide positif Plasmodium falciparum

5 slide positif Plasmodium vivax 3 Balai Litbangkes Tanah Bumbu

(Agustus-September 2018)

584 0 0% 0

Total 1996 29 1,45% 10 slide positif mix

3 slide positif Plasmodium falciparum 16 slide positif Plasmodium vivax Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu kerjasama dengan Balai Litbangkes Tanah Bumbu Tahun 2018

(41)

41

Hasil Penemuan penderita secara dini dilaksanakan oleh Tim Parasitologi Balai Litbangkes Tanah Bumbu berhasil terkumpul sebanyak 584 sampel, kegiatan survei malaria didapatkan dari sampel pada pekerja (pendulang emas, pengayu, petani, dan peladang) musiman/ilegal di wilayah kerja Kecamatan Mantewe Desa Gunung Raya dan Kecamatan Kusan Hulu di Desa Temunih, Pewaluhan, Guntung, dan Miing Kabupaten Tanah Bumbu.

Sm uber

Gambar 3.2.5 Kegiatan Mass Blood Survey tahun 2018 Sumber: Data Primer, 2018

Sampel penelitian diambil hapusan darahnya untuk diperiksa apakah positif menderita malaria atau tidak, hasil pemeriksaan di dapatkan hasil semua negatif. Daftar rincian hasil MBS dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.2.7 Hasil Mass Blood Survey di 5 (Lima) Desa Endemis malaria di Wilayah Kerja Kecamatan Kusan Hulu dan Mentewe oleh Tim Parasitologi Balai Litbangkes Tanah Bumbu (Agustus-September Tahun 2018)

Total Slide Gunung Raya Temunih Mangkal Api Guntung Teluk Kepayang Jumlah slide positif 0 0 0 0 0 Jumlah slide negatif 128 113 116 116 111 Total slide 128 113 116 116 111

Sumber: Data Primer, 2018

3.3 Identifikasi Kasus Malaria Impor

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2015 mengklasifikasikan asal penularan dari kasus indegenous dan impor, serta masih ditemukannya kasus relaps. Keberadaan kasus malaria impor diperjelas dengan

(42)

42

data survei migrasi kasus malaria impor di Desa Batu Bulan (wilayah kerja Puskesmas Teluk Kepayang) sebanyak 75 orang.

22.8

41.7

33.25

24.6

3.1

8

40.85

25.7

0

20

40

60

2014

2015

Indegenous Import Relaps Tdk diketahui

Gambar 3.3.6 Klasifikasi Asal Penularan Kasus di Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2015 Sumber : Dinas Kesehatan Tanah Bumbu

Tabel 3.3.8 Data Surveilans Migrasi Desa Batu Bulan Kabupaten Tanah Bumbu No Asal Penderita

(Kabupaten/Kota)

Jumlah (Orang)

Keterangan

1 Tapin 4  Kecamatan Binuang

 Kecamatan Bungur  Kecamatan Bakarong 2 Banjar 59  Kecamatan Pengaron  Kecamatan Simpang Empat  Kecamatan Kertak Hanyar  Kecamatan Sungai Pinang  Kecamatan Kintapuri  Kecamatan Matraman  Kecamatan Aranio

3 Balangan 1 Kecamatan Hawayan 4 Hulu Sungai Selatan 6 Kecamatan Kandangan 5 Banjarbaru 3 Kecamatan Karang Intan 6 Hulu Sungai Tengah 1

7 Kotabaru 1

Total 75 orang Sumber: Data Primer, 2018

3.4 Analisis Kejadian Malaria (Survei Entomologi)

Berdasarkan hasil penemuan vektor potensial nyamuk dan larva pada survei entomologi didapatkan : keberadaan nyamuk Anopheles potensial antara lain di 2 (dua) desa antara lain Mangkalapi dan Teluk Kepayang, sedangkan keberadaan larva Anopheles potensial di 4 (empat) desa antara lain: Desa Gunung Raya,Temunih, Mangkalapi, dan Teluk Kepayang dengan lingkungan potensial yang ditemukan larva Anopheles yaitu rawa, sungai, bekas kolam, kolam, dan sumur (Tabel 3.4.10).

(43)

43

Tabel 3.4.9 Hasil Survei Lingkungan di 5 Desa Endemis malaria di Wilayah Kerja Kecamatan Kusan Hulu dan Mentewe oleh Tim Entomologi Balai Litbangkes Tanah Bumbu (Agustus-September Tahun 2018)

Desa Vektor potensial Keberadaan larva Anopheles

potensial

Lingkungan Potensial

Gunung Raya 0 Ada Rawa (+), Kolam, Sungai

(+), Sungai, Ban bekas, Drum

Temunih 0 Ada Sungai (+), Rawa,

Kolam, Kolam, Sumur Mangkalapi 1 ekor An. nigerimus Ada Bekas kolam (+), Kolam

(+), Kolam (+), Sumur (+), Pohon pisang Guntung 0 Tidak ada Jerigen bekas, Rawa,

Sumur, Kolam, Sumur, Sumur, Kolam, Rawa, Rawa Teluk Kepayang 11 ekor dengan rincian: 3 ekor An barbirostris, 8 ekor An vagus

Ada Bekas tambang emas, Kubangan, Genangan air, Kolam (+), Pembuangan limbah rumah tangga, Sungai

Total 12 ekor Anopheles potensial di 2 (dua) desa dengan rincian : 1 ekor An nigerimus, 3 ekor An barbirostris, 8 ekor An vagus Larva Anopheles potensial ada di 4 (empat) desa Lingkungan potensial ditemukan keberadaan larva yaitu: Rawa, Sungai

Bekas Kolam, Kolam, Sumur

Sumber: Data Primer, 2018

3.5 Identifikasi Pengobatan yang diberikan Kepada Penderita Malaria Berdasarkan data sekunder (Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Bumbu) didapatkan hasil laporan e-Sismal dari Pengelola Malaria di Puskesmas Mentewe dan Teluk Kepayang di sebutkan bahwa pengobatan yang diberikan kepada penderita sudah sesuai standar yaitu ACT dan Non ACT.

Pengobatan yang diberikan kepada penderita malaria yaitu ACT (D-ARTEPP) untuk penderita hasil SDJ positif, dengan ketentuan :

 Jika tanpa komplikasi harus di obati dengan terapi kombinasi ACT di tambah Non ACT yaitu Primaquine;

 Jika berat artesunate IM lanjut ACT oral ---- hasil dari data sekunder dari laporan e- sismal malaria Puskesmas Teluk Kepayang dan Mantewe.

(44)

44 3.6 Karakteristik Pekerja Tambang

Karakteristik pekerja tambang saat indepth interview yaitu sebagian besar informan atau pekerja tambang berjenis kelamin laki-laki (84%) dan perempuan hanya 16%. Informan rata –rata berusia 15 tahun sampai dengan 25 tahun (36 %). Tingkat Pendidikan informan sebagian besar tidak bersekolah (52%), tidak tamat SD sebanyak 32%, dan Tamat SD sebanyak 8 %.

Tabel 3.6.10 Karakteristik Pekerja Tambang berdasarkan Aspek Sosio Demografi No Karakteristik Item pilihan Jumlah (%)

1 Jenis kelamin Laki-laki 21 84

Perempuan 4 16 2 Umur responden 15-25 9 36 26-35 3 12 36-45 6 24 46-55 3 12 >55 4 16 3 Agama Islam 19 76 Kristen 6 24

4 Pendidikan terakhir Tidak sekolah 13 52

Tidak tamat sd/ibtidaiyah 8 32

Tamat sd/ibtidaiyah 2 8

Tamat sltp/tsanawiyah 2 8

5 Pekerjaan responden Peladang 3 12

Pekerja sawit 2 8

Penambang batu bara 3 12

Pengayu 5 20 Pendulang Emas 12 48 6 Pernah mendengar tentang malaria Pernah 20 80 Tidak pernah 5 20

Sumber: Data Primer, 2018

3.7 Identifikasi Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 25 informan, didapatkan hasil bahwa hampir seluruh informan (84%) tidak tahu penyebab malaria, akan tetapi berdasarkan hasil indepth informan (masyarakat setempat lebih mengenal dengan istilah wisa) sehingga sebagian besar tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab malaria, dan hanya 16% yang menjawab bahwa malaria disebabkan oleh parasit, walaupun (60%) informan tidak mengetahui bahaya malaria dapat menyerang semua golongan umur. Informan beranggapan bahwa malaria adalah penyakit dari hutan (alam) sehingga siapapun dapat terkena malaria ketika memasuki hutan dan tidak tahu bahwa malaria dapat menular. Rincian pengetahuan responden tentang malaria dapat dilihat selengkapnya pada tabel di bawah ini.

(45)

45

Tabel 3.7.11 Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Pengetahuan tentang Malaria No Karakteristik Item pilihan Jumlah (%)

1 Malaria disebabkan oleh? Parasit 4 16

Tidak tahu 21 84

2 Malaria dapat menyerang? Orang dewasa 7 28

Semua umur 3 12

Tidak tahu 15 60

3 Tahu gejala penyakit malaria?

Ya 12 48

Tidak 13 52

4 Apa saja gejala malaria? Demam berkeringat 13 52

Pingsan 7 28

Tidak tahu 5 20

5 Apa bahaya malaria? Kematian 11 44

Pingsan 7 28

Tidak tahu 7 28

6 Penyakit malaria dapat menular?

Ya 10 40

Tidak tahu 15 60

Sumber: Data Primer, 2018

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 25 informan, didapatkan hasil bahwa hampir seluruh informan (80%) setuju penyakit malaria itu berbahaya, setuju (60%) untuk menghindari diri dari gigitan nyamuk untuk mencegah malaria dan memakan obat malaria jika sakit( 52%), dan bersedia diambil darahnya untuk di periksa (60%).

Rincian sikap informan tentang malaria dapat dilihat selengkapnya pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.7.12 Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Sikap tentang Malaria No Karakteristik Item pilihan Jumlah (%)

1 Penyakit malaria berbahaya Setuju 20 80

Tidak tahu 5 20

2 Menghindarkan diri dari gigitan nyamuk untuk mencegah malaria

Setuju 15 60

Tidak tahu 10 40

3 Memakan obat untuk mencegah malaria walaupun tidak sakit

Setuju 13 52

Tidak tahu 12 48

4 Penderita malaria diambil darah untuk diperiksa

Setuju 10 40

Tidak tahu 15 60

5 Bersedia diambil darahnya walaupun tidak sakit

Setuju 8 32

Tidak tahu 17 68

6 Anggota keluarga ikut merawat penderita

Setuju 10 40

Tidak tahu 15 60

Sumber: Data Primer, 2018

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan diketahui bahwa sebagian besar (64%) responden tidak tahu tentang adanya penyuluhan tentang malaria, jika terkena deman sebagian besar (60%) memilih berobat sendiri dengan ramuan

(46)

46

tradisional (80%), dan sering keluar camp pada malam hari hanya untuk santai dan ngobrol dengan teman-teman (60%), dan hanya sebagian kecil tidur menggunakan kelambu (40%). Data perilaku masyarakat terangkum secara rinci pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.7.13 Karakteristik Responden Berdasarkan Aspek Perilaku tentang Malaria No Karakteristik Item pilihan Jumlah (%)

1 Penyuluhan tentang malaria Pernah 9 36

Tidak tahu 16 64

2 Apa yang dilakukan bila mengalami demam

Diobati sendiri 15 60

Lapor ke puskesmas 5 20

Ke dukun 6 24

3 Bila diobati sendiri apa jenis obat yang dipakai

Ramuan tradisonal 20 80

Tidak menjawab 5 20

4 Dari mana obat diperoleh Warung 17 68

Apotik /puskesmas 8 32

5 Sering keluar dari camp pada malam hari

Ya 15 60

Kadang-kadang 10 40

6 Kegiatan yang dilakukan bila keluar malam

Ngobrol 13 52

Buang air besar/kecil 12 48 7 Yang dilakukan untuk menghindari

gigitan nyamuk

Memakai kelambu 10 40

Memakai obat nyamuk 7 28

Repalent 8 32

Sumber: Data Primer, 2018

3.7.1 Berdasarkan Indepth Interview dengan Pekerja Tambang

Pengetahuan tentang daerah endemis pekerja tambang menyebutkan bahwa mereka mengetahui daerah tersebut endemsis. Sesuai dengan pernyataan :

―He eh tahu sudah‖ (Informan PD B KA)

Adapun alasan pekerja tambang bekerja ke daerah endemis malaria karena faktor ekonomi. Hal ini sesuai dengan beberapa pernyataan dalam focus group disscusion (FGD) yatu :

―Masalahnya begawi lo..hehe..tepaksa ae‖ (Informan PD B KA) ―amun mencari rezeki tu lo di datangi ae‖ (Informan PD B KA)

―Oh..kd jua lah..jadi selama ini pasrah ae lah amun kena..jd dianggap anu takdir ae lah..‖ (Informan PD B KA)

―Handak kada digawi katia gawian disitu bu ai..paksa ai digawi tarus modelnya‖

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Tabel 2.1 Definisi Operasional Variabel
Tabel 2.2 Metode Kuantitatif dan Kualitatif pada Penelitian
Tabel 3.1.4 Kategori Desa Endemis Malaria Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2011-2016
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tabel 4 menunjukkan bahwa karakteristik produk yang diinginkan oleh konsumen adalah jenis produk murni, bentuk produk cair, warna produk kuning muda, penampilan produk bening atau

memaksimalkan hasil terhadap penyembuhan phlebitis tersebut tindakan lain yang dapat membantu mempercepat kesembuhan phlebitis juga perlu dilakukan seperti pendapat

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas LBB-AVBP dalam menyisihkan Fe dan Mn pada air sumur bor menggunakan tanaman Typha latifolia dan Cyperus papyrus

Kebutuhan energi listrik di kabupaten Bolaang Mangondow, Sulawesi utara dari tahun ke tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kegiatan pembangunan

Pengukuran kedalaman sadap ini dilakukan dengan menusuk kulit persis di atas alur yang baru disadap pada 3 tempat yaitu di atas / muka, di tengah dan di bawah / depan dari arah alur

 Obat pelega dipakai pada saat serangan  Antiinflamasi atau obat pengontrol. diberikan pada semua asma

dalam rangkaian acara yang digelar hingga 12 Februari ini juga terdapat prosesi pengangkatan jabatan yang dilakukan langsung oleh Dirut Sumber Daya Manusia

Teori yang digunakan yaitu bahasa ragam jual beli, pragmatik dalam teori pregmatik terdiri dari pengertian pragmatik dan aspek-aspek situasi tutur, dalam