• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 2_usada Bali

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kelompok 2_usada Bali"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

USADHA BALI SEBAGAI PUSTAKA DALAM PENGOBATAN

USADHA BALI SEBAGAI PUSTAKA DALAM PENGOBATAN

TRADISIONAL DI BALI

TRADISIONAL DI BALI

“Diajukan untuk pemenuhan salah satu tugas

“Diajukan untuk pemenuhan salah satu tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan mata kuliah Ilmu Kesehatan  Masyarakat jurusan farmasi

 Masyarakat jurusan farmasi””

OLEH : OLEH : KELOMPOK 2/C KELOMPOK 2/C

ILMU KESEHATAN MASYARAKAT ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

I

I GEDE GEDE BAYU BAYU SOMANTARA SOMANTARA 161094161094 EKA

EKA SRI SRI DIAH DIAH DHARMAYANTI DHARMAYANTI 161095161095 I

I GST GST A A ARYA ARYA DITHA DITHA SUARI SUARI 161096161096 NI

NI PUTU PUTU SASMITA SASMITA CLAUDIA CLAUDIA 161097161097 I

I GEDE GEDE AGUS AGUS SUYOGA SUYOGA ADI ADI P. P. 161098161098

YAYASAN PERGURUAN RAKYAT MAHA SARASWATI DENPASAR YAYASAN PERGURUAN RAKYAT MAHA SARASWATI DENPASAR

AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR

TAHUN AKADEMIK 2016/2017 TAHUN AKADEMIK 2016/2017

(2)
(3)

KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR

Om Swastyastu, Om Swastyastu,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kerta waranugraha-NYA lah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini atas asung kerta waranugraha-NYA lah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Adapun judul makalah

tepat pada waktunya. Adapun judul makalah yang kami buat adalah ”yang kami buat adalah ”Usada BaliUsada Bali sebagai Pustaka dalam Pengobatan Tradisional di Bal

sebagai Pustaka dalam Pengobatan Tradisional di Balii” Judul tersebut merupakan” Judul tersebut merupakan  judul

 judul yang yang telah kami pilih sendiri menurut pertimbangan pribadi kami.telah kami pilih sendiri menurut pertimbangan pribadi kami.

Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya masih memiliki budaya Bali pada khususnya dan Indonesia pada umumnya masih memiliki budaya  pengobatan

 pengobatan yang yang ternyata ternyata cukup cukup manjur manjur dan dan masih masih dipercayai dipercayai oleh oleh masyarakatnyamasyarakatnya untuk menang

untuk menanggulangi penyakgulangi penyakit yang ada. it yang ada. Peninggalan budPeninggalan budaya ini hendaya ini hendaknya tetapaknya tetap dipelihara dan dilestarikan, sehingga mampu dipergunakan untuk menunjang dipelihara dan dilestarikan, sehingga mampu dipergunakan untuk menunjang  pembangunan

 pembangunan manusia manusia Indonesia Indonesia seutuhnya seutuhnya lahir lahir dan dan bathin. bathin. Dewasa Dewasa iniini  pengetahuan

 pengetahuan orang orang Bali Bali tentang tentang penyembuhan penyembuhan (usadha) (usadha) masih masih mempunyaimempunyai kehidupan yang sungguh-sungguh berhubungan dengan agama Hindu, hanya sedikit kehidupan yang sungguh-sungguh berhubungan dengan agama Hindu, hanya sedikit orang yang mau mempelajari secara seksama. Namun banyak umat Hindu yang orang yang mau mempelajari secara seksama. Namun banyak umat Hindu yang mengabaikan ajaran tersebut. Pengobatan tradisional Bali (usadha) yang dikenalkan mengabaikan ajaran tersebut. Pengobatan tradisional Bali (usadha) yang dikenalkan oleh para leluhur merupakan ilmu pengetahuan penyembuhan yang dijiwai oleh oleh para leluhur merupakan ilmu pengetahuan penyembuhan yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu.

nilai agama Hindu.

Karya tulis ini kami buat agar bisa lebih mengerti dan paham tentang ajaran Karya tulis ini kami buat agar bisa lebih mengerti dan paham tentang ajaran tersebut. Setelah membaca makalah ini, kami mengharapkan kritik dan saran yang tersebut. Setelah membaca makalah ini, kami mengharapkan kritik dan saran yang  bersifat

 bersifat membangun membangun dari dari bapak/ibu bapak/ibu dosen dosen demi demi kesempurnaan kesempurnaan makalah makalah kami kami ini.ini. Sekian dan terima kasih, kami akhiri dengan parama s

Sekian dan terima kasih, kami akhiri dengan parama santih.antih. Om Santih, santih, santih Om.

Om Santih, santih, santih Om.

Denpasar, 5 Mei 2017 Denpasar, 5 Mei 2017

Penulis Penulis

(4)

DAFTAR ISI DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL LEMBAR JUDUL KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR ISI BAB

BAB 1 1 PENDAHULUAN ...PENDAHULUAN ... 4.. 4 1.1

1.1 Latar Latar Belakang ...Belakang ... 4... 4 1.2

1.2 Rumusan Rumusan Msalah ...Msalah ... 5... 5 1.3

1.3 Tujuan Tujuan ... 6... 6 1.4

1.4 Manfaat Manfaat ... 6... 6 1.4.1

1.4.1 Manfaat Manfaat Praktis ...Praktis ... 6... 6 1.4.2

1.4.2 Manfaat Manfaat Teoritis ...Teoritis ... 7... 7 BAB

BAB 2 2 ISI ISI ... 8... 8 2.1

2.1 Pengertian Pengertian Usada Usada Bali ...Bali ... 8... 8 2.2 Konsep Sehat dan

2.2 Konsep Sehat dan Sakit serta Sakit serta Pengobatannya dalam Usadha Bali ... Pengobatannya dalam Usadha Bali ... 1111 2.2.1

2.2.1 Konsep Konsep Sehat Sehat dan dan Sakit...Sakit... ... 1111 2.2.2 Pengobatan

2.2.2 Pengobatan dalam dalam Usada Usada Bali...Bali... .... 1717 2.3

2.3 Jenis-Jenis Jenis-Jenis Usada Usada Bali Bali ... ... 1919 2.4

2.4 Penggunaan Usada Penggunaan Usada Bali di Bali di Masyarakat Masyarakat ... .... 2424 2.5 Jenis-jenis Tanaman yang Terdapat Pada Usadha Bali Baik yang Telah 2.5 Jenis-jenis Tanaman yang Terdapat Pada Usadha Bali Baik yang Telah Terbukti Secara empirik dan Secara Ilmiah yang Didukung Oleh Terbukti Secara empirik dan Secara Ilmiah yang Didukung Oleh Jurnal-Jurnal

Jurnal Penelitian Penelitian Ilmiah ...Ilmiah ... ... 3434 2.5.1

2.5.1 Tanaman yang Tanaman yang terdapat pada terdapat pada Usada Bali Usada Bali yang yang Teruji secaraTeruji secara Empiris

Empiris ... 34... 34 2.5.2

2.5.2 Tanaman yang Tanaman yang terdapat pada terdapat pada Usada Bali Usada Bali yang yang Teruji secaraTeruji secara Ilmiah

Ilmiah ... 39... 39 BAB

BAB 3 3 PENUTUP PENUTUP ... 50... 50 3.1 3.1 Kesimpulan Kesimpulan ... 50. 50 3.2 3.2 Saran ...Saran ... 51... 51 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN LAMPIRAN-LAMPIRAN

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah suatu negara yang berbentuk kepualaun. Pulau-pulau tersebut membentang dari ujung Sabang hingga Merauke. Indonesia, dengan 1001 keanekaragaman adat, tradisi, dan budaya yang dimilikinya telah tumbuh dan  berkembang hingga mendarah daging pada generasinya. Adat, tradisi, dan budaya tersebut memberi warna warni tersendiri yang patut dijaga keharmonisannya. Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang masih sangat kental dengan budaya dan tradisi leluhurnya, tak pelak lagi Bali telah terkenal ke pelosok manca negara dengan tradisi dan budayanya tersebut. Implementasi budaya, adat, dan tradisi tersebut dapat berupa dalam bentuk seni ataupun pengetahuan. Pengetahuan yang diwariskan memang cukup luas cakupannya, salah satu diantaranya yaitu mengenai  pengetahuan tentang pengobatan tradisional. Indonesia pada umumnya, dan Bali pada khususnya telah didukung dengan biodiversitas hayati yang melimpah dan menjadi modal tersendiri untuk mengembangkan pengobatan tradisional ini.

Pengobatan tradisional di Bali disebut dengan “usada”, k 

ata usada berasal dari kata

“ausadhi” (bahasa

Sansekerta) yang berarti tumbuh-tumbuhan yang mengandung khasiat obat-obatan (Nala, 1992:1). Dewasa ini pengetahuan orang Bali tentang penyembuhan (usada) masih mempunyai relasi yang erat dengan agama Hindu, karena usada ini dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu. Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, namun masih sedikit orang yang tertarik untuk mempelajari usada dengan seksama. Hal ini disebabkan masyarakat Bali mengalami hambatan sosio-psikologis untuk mempelajari

usada yang masih dalam bentuk “

lontar 

” (usada

dan tutur). Karena ada wacana yang ditafsirkan dan ditransformasikan secara keliru sehingga masyarakat merasa sungkan dan ragu bahkan takut untuk mempelajari teks lontar tersebut. Misalnya adanya wacana

“aywa wera”  (pengendalian diri atau agar

hati-hati) dalam belajar, hal ini diartikan tidak boleh diberitahu atau dipelajari.

Sukantra (1992) menyatakan, usada adalah ilmu pengobatan tradisional Bali yang sumber ajarannya terdapat pada lontar. Lontar usada di Bali dapat dibagi menjadi dua golongan yakni golongan lontar usadha dan lontar tutur (Nala, 2002). Di dalam lontar tutur (tatwa) berisi tentang ajaran aksara gaib atau wijaksara. Ajaran anatomi, phisiologi, falsafah sehat-sakit, padewasaan mengobati orang sakit, sesana

(6)

 balian, tatenger sakit. Sedangkan di dalam Lontar Usada berisi tentang cara memeriksa pasien, memperkirakan penyakit (diagnosa), meramu obat (farmasi), mengobati (terapi), memperkirakan jalannya penyakit (prognosis), upacara yang  berkaitan tentang masalah pencegahan (preventif), dan pengobatan (kuratif).

Dengan kompleksitas yang dimiliki oleh usada sebagai ilmu pengobatan tradisional mengenai seluk beluk dari pengobatan tradisional, maka sangat ideal untuk menjadikan lontar usada Bali sebagai suatu pegangan pengobatan tradisional.  Namun, jauh diluar ekspektasi, eksistensi Usada Bali hanya masih berupa suatu  budaya saja, dan dengan paradigma masyarakat bahwa Usada Bali (pengobatan tradisional) merupakan suatu pilihan terakhir bahkan telah jarang digunakan untuk  pengobatan pada dewasa ini seiring maraknya obat-obat sintetis. Selain itu, menurut

Adiputra (2016) masih diperlukan suatu pengkajian lebih mendalam terutama untuk menyamakan persepsi dari apa yang tersurat dalam lontar usadha dengan dunia medis, khusunya farmasi. Berbagai jenis tanaman obat seharusnya diberi nama sesuai dengan nama daerahnya juga, sehingga dikenal bisa nama Jawa, Sunda, Batak, Bali, Dayak, dllnya. Dalam beberapa buku referensi yang memuat tanaman obat di Indonesia, banyak tanaman obat tidak disebutkan nama Balinya sehingga seolah-olah tumbuhannya tidak terdapat di Bali. Padahal penggunaan tanaman sebagai bahan obat, sudah dikenal di Bali sejak dahulu kala. Kurangnya edukasi dan juga minimnya  pengembangan atau pengkajian tentang Usada Bali menyebabkan Usada Balikini

kian tergerus dan dilupakan dengan segudang pengetahuan dan ilmu tentang  pengobatannya, padahal Usada Bali berpotensi menjadi tolak ukur dan pegangan dalam mengembangkan pengobatan tradisional. Dengan adanya ketimpangan antara ekpekstasi dengan realita yang terjadi seperti yang telah disebutkan diatas, maka dalam makalah ini, penulis bermaksud untuk mengeksplorasi lebih jauh mengenai Usada Bali. Dengan demikian penulis membuat suatu makalah yang berjudul “Usada Bali sebagai Pustaka dalam Pengobatan Tradisional di Bali”

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan-rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa yang dimaksud dengan Usada Bali?

2. Bagaimana konsep sehat dan sakit serta pengobatannya dalam Usadha Bali? 3. Apa saja jenis-jenis Usadha Bali?

(7)

4. Bagaimana penggunaan Usadha Bali di masyarakat?

5. Tanaman apa saja yang terdapat pada Usadha Bali baik yang telah terbukti  baik secara empiris maupun secara ilmiah yang didukung oleh jurnal-jurnal  penelitian ilmiah?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk memecahkan rumusan masalah yang diantaranya :

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Usada Bali

2. Untuk mengetahui bagaimana konsep sehat dan sakit serta pengobatannya menurut Usadha Bali

3. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis Usadha Bali

4. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan Usadha Bali di masyarakat

5. Untuk mengetahui tanaman apa saja yang terdapat pada Usadha Bali yang telah terbukti baik secara empiris dan secara ilmiah yang didukung oleh  jurnal-jurnal penelitian ilmiah

1.4 Manfaat

Dengan dibuatnya makalah ini, penulis berharap karya tulis ini dapat memberi manfaat baik secara praktis maupun secara teoritis.

1.4.1 Manfaat Praktis

1. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat kepada masyarkat yang sebagai  pelaku dalam pemanfaatan atau pengimplementasian dari Usadha Bali sebagai salah satu pegangan dalam membuat atau memanfaatkan  pengobatan tradisional.

2. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai gambaran teknis  pengembangan obat tradisional di dunia medis untuk meminimalisir  penggunaan obat modern sehingga sesuai dengan gerakan untuk kembali

ke alam “Back to Nature”

(8)

1. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai tambahan sumbangan khazanah ilmu pengetahuan di bidang kesehatan khususnya pengobatan tradisional Usadha Bali.

2. Dapat bermanfaat bagi peneliti atau penulis lain sebaagi referensi atau literatur dalam mengeksplorasi dan mengeksistensikan Usadha Bali sebagai salah satu warisan leluhur nenek moyang dalam bidang  pengobatan tradisisonal.

(9)

BAB II ISI

2.1 Pengertian Usada Bali

Kata usadha berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “ausadha”  yang berarti tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat, atau dibuat dari tumbuh-tumbuhan. Tetapi  batasan usadha di Bali lebih luas, usadha adalah semua tata cara untuk

menyembuhkan penyakit, cara pengobatan, pencegahan, memperkirakan jenis  penyakit/diagnosa, perjalanan penyakit dan pemulihannya. Jika dilihat secara analogi, hampir sama dengan pengobatan modern. Pengobatan tradisional Bali (usada) yang dikenalkan oleh para leluhur merupakan ilmu pengetahuan penyembuhan yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu Bali/ Siwasidhanta. Usada Bali merupakan suatu  pengetahuan pengobatan yang disusun berdasarkan suatu acuan tertentu digabungkan dengan pengalaman praktik pengobatan di Bali selama ratusan tahun. Dalam usada tidak hanya terdapat penyakit dengan ramuan tumbuhan saja, tetapi mencangkup  pengetahuan tentang medico-psikomatik, farmakologi, farmasi, cara mendiagnosis  penyakit, tanda –   tanda kehamilan, merawat bayi, hari baik untuk melaksanakan  pengobatan, sampai tanda-tanda seseorang yang akan meninggal (Sutara, 2007). Usada umumnya terdapat dalam naskah kuno lontar yang ditulis dengan Bahasa kuno (Sansekerta) tersebar di masyarakat atau etnis Bali, terutama dari Balian, pemuka adat, para pelaksana upakara adat dan ada yang telah tersimpan di Gedung Kertya (Singaraja), Perpustakaan Pusat Denpasar, dan Fakultas Sastra Universitas Udayana. Isi dari satu usada dengan usada lain terdapat persamaan pengobatan tetapi  penggunaan bahan dapat berbeda, selalu ada kekhasan masing –  masing sesuai nama usada. Pokok pengetahuan yang menjadi dasar usada adalah mencangkup pandangan masyarakat Bali tentang sifat manusia (Bhuana alit, mikroskosmos) dan hubungannya dengan alam nyata (sekala), alam gaib (niskala), dan lingkungan tempat manusia hidup (Bhuana agung, makrokosmos) (Sutara, 2007).

Sukantra (1992) menyatakan, usada adalah ilmu pengobatan tradisional Bali, yang sumber ajarannya terdapat pada lontar. Lontar tersebut dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu lontar tutur dan lontar usadha. Di dalam lontar tutur (tatwa) berisi tentang ajaran aksara gaib atau wijaksara. Ajaran anatomi, phisiologi, falsafah sehat-sakit, padewasaan mengobati orang sehat-sakit, sesana balian, tatenger sakit. Sedangkan di dalam Lontar Usada berisi tentang cara memeriksa pasien, memperkirakan penyakit

(10)

(diagnosa), meramu obat (farmasi), mengobati (terapi), memperkirakan jalannya  penyakit (prognosis), upacara yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan  pengobatannya. Pengobatan penyakit dalam Usada didasarkan pada konsep sekala dan niskala. Dari aspek sekala, pengobatan dilakukan dengan menggunakan bahan- bahan obat dari tumbuhan, hewan, maupun mineral, sedangkan dari aspek niskala  proses pengobatan dipadukan dengan mantra-mantra yang lebih ditujukan untuk menenangkan pikiran dan mental pasien (pengobatan secara spiritual). Dasar  pengobatan dalam Usada Dalem juga berpedoman pada kepercayaan agama Hindu  bahwa sejak semula dalam tubuh manusia terdapat kandungan alam semesta, di mana sumber penyakit senantiasa melekat dan sumber penyakit baru akan hilang setelah Sanghyang Atma meninggalkan badan manusia tersebut. Dengan demikian, sumber  penyakit tidak sepenuhnya bisa dihilangkan dari tubuh manusia, melainkan dapat dijaga keseimbangannya agar tidak menimbulkan penyakit berbahaya (Sutara, 2007). Usada Dalem membahas tentang penyakit dalam terutama penyakit tuju. Penyakit tuju biasa dikenal dengan nama penyakit rematik, yaitu penyakit yang menyebabkan rasa nyeri dan kaku pada sendi, otot, dan tendon. Dalam lontar Usada Dalem memuat 10 jenis penyakit tuju dengan gejala atau tanda-tanda yang berbeda, penyakit gila,  barah, buh, badasa, gering agung atau kusta lepra, gudig, kurap gatal dan hangus, gigitan ular, gigitan anjing, obat muka, sasak, sakit bagian pelepasan, penyakit kulit,  penyakit perut, penyakit yang tidak mempan diobati, tuju dan bebai, dan cara membuat banten untuk orang sakit. Bila dibandingkan dengan cara pengobatan lain, dengan pengobatan tuju menurut Usada Dalem lebih banyak menggunakan bahan,  biasanya dibuat boreh. Dari 10 jenis penyakit tuju, dapat digunakan 30 jenis

tumbuhan dari 17 suku, tumbuhan yang digunakan umumnya, mengandung minyak atsiri dan glukosida yang bersifat antiradang, antipiretik, dan analgesic (Prastika, 2008).

Dalam dunia kedokteran modern, kita mengenal dokter sebagai pelaksana  praktisi sedangkan dalam usadha Bali, dokternya dikenal dengan istilah Balian. Balian adalah pengobat tradisional Bali yakni, orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit. Balian juga beragam jenis dan klasifikasinya yang diuraikan sebagai berikut.

A. Jenis balian berdasarkan pengetahuan yang diperoleh (berdasarkan lontar Boda Kecapi) :

(11)

1. Balian katakson (tetakson) adalah balian yang mendapat keahlian melalui taksu, roh atau kekuatan gaib yang memiliki kecerdasan, mukzijat ke dalam dirinya. Taksu adalah kekuatan gaib yang masuk kedalam diri seseorang dan mempengaruhi orang tersebut, baik cara  berpikir, berbicara maupun tingkah lakukanya. Karena kemasukan taksu

inilah orang tersebut mampu untuk mengobati orang yang sakit.

2. Balian kapican adalah balian yang mendapat keahlian karena memperoleh suatu pica atau benda bertuah dan berkhasiat yang dapat dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Dengan mempergunakan pica yang didapatkan balian tersebut mampu untuk mendiagnosis, menyembuhkan penyakit dan memperkirakan berat  penyakit yang dideritanya. Pica ini dapat berupa batu permata, lempengan logam, keris, cincin, kalung, tulang dan benda lainnya. Pica ini diperoleh baik melalui mimpi, petunjuk misterius atau cara lainnya. 3. Balian usada adalah seseorang dengan sadar belajar tentang ilmu

 pengobatan, baik melalui guru waktra, belajar pada balian, maupun  belajar sendiri melalui lontar usada. Adapun yang termasuk balian golongan ini adalah tidak terbatas hanya mempergunakan ramuan obat dari tumbuhan saja, tetapi termasuk balian lung (patah tulang), limpun (pijat), uut, manak(melahirkan) dan sebagainya, yang keahliannya diperoleh melalui proses belajar (aguron-guron). Mereka mempelajari masalah penyakit yang disebabkan baik oleh sekala (natural) maupun niskala (supernatural).

B. Jenis balian berdasarkan atas tujuannya, dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Balian penengen yaitu balian yang beraliran kanan, pengobatannya

ditujukan untuk kebaikan, menyembuhkan orang yang sakit.

2. Balian pangiwa atau dukun aliran kiri dimana tujuannya adalah membuat orang jatuh sakit/ membencanai orang lain.

C. Balian berdasarkan sifat kekuatan yang dimiliki terdiri atas : 1. Balian lanang (maskulin, sifat kejantanan)

2. Balian wadon (feminim)

(12)

2.2 Konsep Sehat dan Sakit serta Pengobatannya dalam Usadha Bali 2.2.1 Konsep Sehat dan Sakit

Secara komprehensif yang dimaksud dengan sehat, yaitu suatu keadaan dalam mana seseorang dapat mempergunakan secara efektif keseluruhan fungsi fisik, mental dan sosial yang dia miliki dalam berhubungan dengan lingkungannya, sehingga hidupnya berbahagia dan bermanfaat bagi masyarakat. Menurut definisi Word Health Organization (WHO) sehat adalah suatu kondisi manusia yang bukan saja bebas dari penyakit dan kecacatan fisik, tetapi juga bebas dari gangguan mental. Sebaliknya secara mikro dan emik, oleh karena adanya perbedaan latar belakang  budaya dan lingkungan masyarakat menyebabkan konsepsi tentang sehat

 – 

sakit sering

dijumpai sangat bervariasi dan bersifat subyektif antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain.

Pada dasarnya masalah kesehatan bersifat biologis. Namun kesehatan dapat ditinjau dari segi sosial dan kebudayaan karena ternyata pandangan dan konsepsi tetang sehat-sakit tidak selalu sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Perbedaan itu timbul karena adanya perbedaan-perbedaan pola adaptasi masyarakat terhadap lingkungan baik fisik maupun sosialnya, sumber daya kesehatan yang tersedia, serta kemampuan cara berpikir dari masing-masing masyarakat. Dengan kata lain pandangan masyarakat terhadap kesehatan merupakan  bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan dan pola-pola adaptasi suatu

masyarakat terhadap lingkungannya.

Pada masyarakat Bali konsepsi tentang kondisi sehat atau sakit mengacu pada  prinsip keseimbangan dan ketidakseimbangan sistemik unsur-unsur pembentuk tubuh dan unsur-unsur yang ada di dalam tubuh manusia, serta keseimbangan hubungan dengan lingkungan yang lebih luas. Keseimbangan dan berfungsinya unsur-unsur sistemik dalam tubuh serta terpeliharanya keharmonisan hubungan dengan lingkunggan, baik fisik maupun sosial, budaya dan psikis menjadi penyebab utama terbentuknya kondisi sehat. Sebaliknya, ketidakseimbangan unsur-unsur tersebut menjadi faktor utama gangguan kesehatan atau penyebab sakit. Dengan demikian, menurut konsepsi orang Bali sehat tidak hanya menyangkut bebas dari sakit atau  penyakit, tetapi juga untuk menikmati seterusnya tanpa terputus-putus terhadap keadaan fisik, mental dan spiritual yang bahagia dan utuh. Konsep dari keadaan keseimbangan yang benar dan hakeki, tidak hanya menyangkut berfungsinya sistem dan organ tubuh manusia dengan baik dan lancar, psikis dan spiritual, tetapi juga

(13)

menyangkut keseimbangan hubungan secara dinamis dengan lingkungan yang lebih luas, yakni hubungan harmonis dengan sesama ciptaan Tuhan (bhuana, makrokosmos), antaranggota keluarga sendiri, tetangga, teman dekat dan anggota masyarakat secara lebih luas, dan antara kita dengan Tuhan Sang Pencipta.

Dalam kosmologi Bali alam semesta dipandang sebagai sesuatu yang bersifat nyata ( sekala) dan dapat ditangkap dengan panca indra serta bersifat tidak nyata (niskala/ gaib) yang tidak dapat ditangkap dengan panca indra, tetapi dipercaya ada. Secara keseluruhan isi alam semesta ini terdiri atas lima unsur, yaitu (1 ) bayu, (2) teja, (3) apah, (4) akasa, dan (5) pertiwi. Semua unsur itu disebut Panca Maha Bhuta yang keseluruhannya merupakan sumber dari kehidupan manusia.

Alam semesta sebagai kesatuan kehidupan terwujud dalam dua kosmos, yaitu makrokosmos  dan mikrrolosmos.  Makrokosmos  merupakan suatu wadah keseimbangan dunia yang amat besar tak terhingga, tetapi tetap diakui memiliki batas yang jelas dengan keadaan yang bersifat teratur dan tetap ( fixed)  dengan Tuhan sebagai pusat pengendali keseimbangan alam sermesta. Sebaliknya, mikrokosmos adalah manusia itu sendiri yang merupakan reflika dari makrokosmos dengan unsur-unsur Panca Maha Bhuta  sebagai inti kehidupan. Walaupun manusia merupakan reflika dari makrokosmos dan memiliki kemampuan untuk mencipta, namun mereka  pun menyadari akan keterbatasan akan kemampuannya dan tidak pernah bisa menolak kehendak-Nya. Dalam kehidupan masyarakat Bali, penggambaran keterbatasan manusia dihadapan-Nya tererfleksi dalam sebutan-sebutan, seperti Tuhan Maha Besar (Sang Hyang Widhy), Maha Tahu (Sang Hyang Wisesa), Maha Kosong ( Sang Hyang Embang ), Maha Kuasa (Sang Hyang Wisesa), Maha Pencipta (Sang Hyang Rekha), dan seterusnya.

Orang Bali, di samping percaya bahwa mereka tidak kuasa untuk menolak kehendak-Nya, baik berkenaan dengan hal-hal yang dianggap buruk, seperti kematian, kesakitan, kecelakaan, kesengsaraan, dan lain-lain, maupun hal-hal yang  baik, seperti keselamatan, kebahagiaan, kesehatan, kemuliaan dan rejeki, dan sebagainya. Mereka juga percaya bahwa manusia akan bisa terhindar dari hal-hal yang dianggap buruk jika mereka senantiasa mampu menjaga dan menciptakan keseimbangan atau keharmonisan hubungan dengan alam, dengan manusia lain, dan dengan Tuhan. Prinsip keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan oleh orang Bali sangat populer disebut dengan Tri Hita Karan, yaitu tiga penyebab utama kebahagian dan keselarasan hidup

(14)

manusia. Kosmologi orang Bali yang menekankan pada prinsip keseimbangan atau keteraturan hubungan dan ketidakseimbangan kosmos (mikrokosmos-makrokosmos) tersebut senantiasa dijadikan sebagai konsep dasar untuk mencegah dan sekaligus menanggulangi berbagai hal yang dianggap buruk, seperti terganggunya kesehatan atau sakit, kecelakaan, kesengsaraan, ketidakberuntungan,  perceraian, dan bahkan kematian.

Dalam konteks sistem medis etnis Bali atau Usada  dan konsepsi balian tentang sehat-sakit, bahwa orang bisa disebutkkan sebagai manusia sehat apabila semua sistem dan unsur pembentuk tubuh ( panca maha bhuta) yang terdiri dari: pertiwi, apah, bayu, teja dan akasa, dan unsur dalam tubuh (tri dosha), yaitu udara (vatta), api ( pitta), dan air (kapha) sertaaksara panca brahma yang terdiri dari: aang, bang, tang, ang, ing ) dan aksara panca tirta yang terdiri dari: nang, mang,  sang, sing, dan  wang, berada dalam keadaan seimbang dan dapat berfungsi dengan  baik. Sebaliknya manusia akan menjadi sakit apabila unsur-unsur  panca brahma sebagai kekuatan panas, dan unsur-unsur panca tirta  sebagai kekuatan dingin saat  berinteraksi dengan udara, ada dalam keadaan tidak seimbang. Atau di antara keduanya, (unsur panas dan dingin ) ada dalam kondisi yang berlebihan sehingga fungsi-fungsi unsur pembentuk tubuh ( panca maha butha) terganggu. Terganggunya fungsi unsur-unsur tubuh inilah yang menyebabkan orang menjadi sakit. Dengan kata lain, terganggunya keseimbangan unsur-unsur pembentuk tubuh dan fungsi unsur dalam tubuh manusia dapat menyebabkan orang bersangkutan menjadi sakit. Karena itu, mengembalikan keseimbangan seperti semula usur-unsur dan fungsi pembentuk tubuh merupakan prinsip dan tindakan utama dalam proses penyembuhan penyakit.

Menurut sistem pengobatan usada Bali  yang bersandarkan pada sistem  pengobatan Ayurveda dan naskah-naskah pengobatan kuno yang ada di Bali, bahwa  berfungsinya sistem organisme tubuh manusia secara normal dikendalikan oleh tiga unsur humoral, yaitu unsur udara (vatta), unsur api (pitta),  dan unsur air (kapha). Ketiga unsur tersebut dalam sistem pengobatan Ayurveda dan pengobatan usada Bali disebut dengan istilah Tridosha. Konsepsi tentang Tridosha (adanya tiga unsur cairan dalam tubuh) manusia itu selajutnya dijadikan sebagai salah satu kerangka dasar pijakan oleh sebagian balian usada  di Bali dalam menjalankan  profesinya, baik dalam tahap menegakkan diagnosis maupun terapinya.

Dalam kosmologi berkenaan dengan konsepsi orang Bali tentang Tuhan atau  Ida Sang Hyang Widhi Wasa,  bahwa  Bhatara Ciwa dipandang sebagai segala

(15)

sumber yang ada di dunia, atau menciptakan semua yang ada di jagad raya ini, termasuk berbagai jenis penyakit dan obatnya. Tuhan dalam wujudnya sebagai Trimurti  bermanifestasi sebagai dewa Brahma yang menjadi sumber panas, dewa Wisnu menjadi sumber air yang bersifat dingin, dan dewa Iswara menjadi sumber udara. Dengan mengacu pada konsepsi itu, maka masyarakat Bali secara global menggolongkan jenis dan penyebab sakit menjadi dua, yaitu penyakit yang bersifat fisik ( sekala)  dan nonfisik (niskala); demikian juga penyebabnya ada yang dipandang karena faktor yang bersifat alamiah (naturalistik), ada juga yang bersifat nonalamiah (personalistik), dan supranaturalistik, atau gabungan dari kedua atau ketiganya.

Secara fisik atau naturalistik, berdasarkan pada gejala-gejala atau simtomatisnya, masyarakat Bali menggolongkan penyakit ke dalam tiga kelompok, yaitu (1) penyakit yang tergolong panes  (panas), (2) nyem (dingin), dan (3) sebaa (panas-dingin). Sebaliknya, kualitas dan kasiat bahan obat dan obat yang dibuat untuk mengobati jenis penyakit tersebut, juga diklasifikasi ke dalam tiga kelompok, yaitu (1) berkasihat anget   (hangat), (2) berkasiat tiis  (sejuk), dan (3) berkasiat dumelada (sedang). Penggolongan penyakit dan jenis obat tersebut jika mengacu pada konsep kepercayaan terhadap wujud Tuhan sebagai Brahma, Wisnu dan Iswara (Trimurti/Tripusrusa/Trisakti  ) maka Brahma  dipandang sebagai wujud api yang menciptakan penyakit panes, maka obat yang diciptakan kualitasnya berkasiat anget ; Wisnu yang menciptakan penyakit nyem, maka obat yang diciptakan berkasiat tiis, dan Iswara yang menciptakan penyakit sebaa, maka obat yang diciptakan berkasiat dumelade/jumelade.

Sebagaimana telah juga disinggung di atas, bahwa dalam kosmologi dan sistem medis orang Bali, masalah sehat sakit merupakan masalah yang berkaitan dengan harmoni/keseimbangan dan disharmoni/ketidakseimbangan hubungan antara buana agung   (makrokosmos) atau alam semesta, dan buana alit   (mikrokosmos) manusia itu sendiri, dan Sang Hyang Widhi (Tuhan) sebagai pencipta dan pengendali. Oleh karena itu, orang Bali percaya dan yakin, bahwa sehat, bahagia, dan sejahtera  sekala-niskala (lahir-batin) akan terwujud atau terjadi apabila hubungan antara ketiga

komponen tersebut berada dalam keadaan seimbang. Hubungan serasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam lingkungannya, dan manusia dengan Tuhan sebagai pencipta segala yang ada di jagat raya ini disebut dengan Tri Hita Karana. Artinya hubungan harmonis ketiga unsur tersebut merupakan sumber penyebab

(16)

kesejahteraan, kebahagiaan dan kesehatan bagi manusia. Sebaliknya kondisi buruk seperti sakit, tidak bahagia, sengsara, dan sebagainya, bisa terjadi manakala hubungan ketiga komponen tersebut terganggu atau tidak harmonis. Bagi orang Bali, apabila hal ini terjadi, maka upaya mengembalikan keseimbangan hubungan sistem, baik dalam konteks mikrokosmos maupun makrokosmos merupakan upaya yang penting. Dalam konteks sehat-sakit, terganggungnya fungsi-fungsi elemen tubuh (panca maha butha dan tri dosha) baik karena faktor alamiah, personalistik maupun supranatural, menyebabkan seseorang menjadi sakit.

Dalam lontar Wrehaspati Tatwa ( sloka 33) penyakit diistilahkan dengan dukha.  Menurut lontar ini terdapat tiga macam dukha atau penyakit, yaitu , (1)  penyakit yang diakibatkan oleh kekuatan supranatural, (2) adhyatmika duka  yaitu  penyakit yang disebabkan oleh adanya gangguan mental, dan (3) bhautika dukha adalah penyakit yang diakibatkan oleh berbagai mahluk renik yang disebut butha. Lebih lanjut dalam sloka 52 dijelaskan bahwa ada tiga cara mengatasidukha tersebut, yaitu (1) tresna dosaksaya, yaitu berusaha melenyapkan dosa akibat dari perbuatan atau dengan pengendalian diri, (2) indriya yogamarga  yaitu melepaskan diri dari kitan duniawi dengan melakukan yoga, dan (3 ) jnana bhudireka  yaitu memupuk  pengetahuan spiritual.

Menurut orang Bali, oleh karena sakit dipandang tidak hanya merupakan gejala biologis yang bersifat individual, tetapi dipandang berkaitan secara holistik dengan alam, masyarakat dan Tuhan, maka setiap upaya kesehatan yang dilakukan tidak hanya menggunakan obat sebagai sarana pengobatan, tetapi juga menggunakan sarana ritus-ritus tertentu, mantra-mantra yang termuat dalam aksara suci sebagai  bagian dari proses tersebut. Dengan demikian, menyembuhkan atau menanggulangi suatu penyakit tertentu umumnya yang digarap oleh balian  usada di Bali, bukan hanya aspek biologis dari pasien, tetapi juga aspek sosial-budaya dan spiritualnya.

Pada masyarakat Bali umumnya seseorang mencari pertolongan pengobatan ke sektor-sektor perawatan kesehatan yang tersedia, seperti ke balian (dukun), dokter, atau para medis bukan saja karena faktor penyakit yang patogen, tetapi sering juga akibat dirasakan adanya kelainan atau gangguan fungsi unsur-unsur dari tubuh (illness). Sehubungan dengan hal ini, secara empiris tampak bahwa walaupun telah  banyak ada Puskesmas tersebar merata di setiap kecamatan, dan sistem pengobatan  barat (moderen) sudah sangat lama dikenal, namun sebagian masyarakat Bali baik yang tinggal di kota maupun di desa masih banyak yang suka dan sering

(17)

menggunakan balian atau pengobatan usada Bali  sebagai alternatif pilihan,  berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Secara empiris menurut keterangan  beberapa pasien yang sempat diwawancarai di rumah balian yang ada di desa Sanur, Kota Madya Denpasar, dan desa Pemaron, Kapupaten Buleleng, bahwa kepercayaan terhadap etiologi penyakit, tingkat keparahan, dan pengalaman pengobatan sebelumnya menjadi alasan utama mereka memilih balian sebagai alternatif. Dengan demikian, respons dan penghargaan masyarakat Bali terhadap pengobatan tradisional atauusada di Bali masih tinggi. Secara umum penyakit ada tiga jenis, yakni

· penyakit panes (panas), · nyem (dingin), dan · sebaa (panas-dingin).

Demikian pula tentang obatnya. Ada obat yang berkasihat · anget (hangat),

· tis (sejuk),dan · dumelada (sedang).

Untuk melaksanakan semua aktifitas ini adalah · Brahma,

· Wisnu, dan · Iswara.

Disebut juga dengan Sang Hyang Tri Purusa atau Tri Murti atau Tri Sakti wujud Beliau adalah api, air dan udara. Penyakit panes dan obat yang berkasihat anget, menjadi wewenang Bhatara Brahma. Bhatara Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkasihat tis. Bhatara Iswara mengadakan penyaki sebaa dan obat yang berkasihat dumelada. Penyakit seperti kita ketahui, tidaklah hanya merupakan gejala biologi saja, tetapi memiliki dimensi yang lain yakni sosial budaya. Menyembuhkan suatu penyakit tidaklah cukup hanya ditangani masalah biologinya saja, tetapi harus digarap masalah sosial budayanya. Masyarakat pada umumnya mencari pertolongan pengobatan bukanlah karena  penyakit yang patogen, tetapi kebanyakan akibat adanya kelainan fungsi dari tubuhnya. Masyarakat di Bali masih percaya bahwa pengobatan dengan usada banyak maanfaatnya untuk menyembuhkan orang sakit. Walaupun telah banyak ada Puskesmas tersebar merata di setiap kecamatan, tetapi berobat ke pengobat tradisional Bali (balian) masih merupakan pilihan yang tidak dapat dikesampingkan  begitu saja baik bagi orang desa maupun orang kota.

(18)

Penyakit secara umum dapat dibedakan atas dua macam yaitu : 1. Penyakit Sekala (Penyakit naturalistik) :

a) Dalem (Penyakit Dalam)  Penyakit Panas

 Penyakit Panas-Dingin  Penyakit Dingin.

 b) Barah (Bengkak local)

c) Mokan (Badan bengkak dan sakit) d) Buh (perut bengkak dan berair) e) Pemali (Sakit seperti ditusuk-tusuk) f) Sula (Sakit melilit di perut atau kolik) g) Sirah (sakit kepala, pusing)

h) Kulit (Penyakit kulit)

i) Tuju (Rematik, bengkak berpindah)  j) Tiwang (Sakit ngilu atau kejang)

k) Upas (Gatal dari dalam badan atau luar badan) 2. Penyakit Niskala (Penyakit Personalistik)

a) Leyak (Penyakit disebabkan oleh manusia yang dilihat lain)

 b) Desti (Penyakit dengan mempergunakan media milik yang akan dituju) c) Teluh (Penyakit yang disebabkan oleh makhluk mirip manusia seperti

 bayangan, dll)

d) Papasangan (Penyakit disebabkan oleh benda yang berkekuatan magis ditanam di tempat orang yang dituju)

2.2.2 Pengobatan dalam Usadha Bali

Pengobatan yang dilakukan oleh Balian di Bali dikenal dengan istilah Tatambaan, dimana Tamba berarti obat (ubad). Dalam prosesi pembuatan obat oleh  balian ada dua hal yang perlu mendapat perhatian yakni serana dan tamba. Tamba adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit,  pada umumnya terdiri dari ramuan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan serana adalah merupakan alat penghubung antara kekuatan Balian dengan penyebab penyakit yang ada pada pasien. Obat yang diberikan oleh orang biasa tanpa disertai dengan kekuatan gaib, maka dikatakan bahwa obat itu tanpa serana. Tamba dan serana merupakan satu

(19)

kesatuan sebagai suatu alat untuk menyembuhkan orang yang sakit. Keduanya saling menunjang agar dapat berfungsi maksimal.

1. Penyakit Sekala :

 Bahan Obat :

 Taru (tanaman)

 Sato atau Buron (binatang)  Yeh atau Toya (air)

 Sarana pertiwi (garam, mineral)  Madu, susu, arak, tuak, dan brem.  Bentuk Obat

 Padet (padat)  Enceh (cair)

 Belek (setengah padat-cair)  Cara Pembuatan :  Ulig (digerus)  Pakpak (dikunyah)  Lablab (direbus)  Goreng (digoreng)   Nyahnyah (dioseng)

 Tambus (dimasukkan diabu panas)  Tunu (dipanggang)

 Cara Penggunaan :

 Tetes (diteteskan)

 Tutuh (dimasukkan melalui hidung)  Loloh (diminum)

 Oles (dioleskan)  Boreh (dilulur)  Simbuh (disembur)  Uap (diurapkan)

(20)

 Usug (dikompres)  Ses (pembersihan luka)  Limpun (diurut)  Kacekel (dipijat)  Tampel (ditempel).  Khasiat obat :  Anget (panas)  Tis (dingin)  Dumalada (sedang). 2. Penyakit Niskala :

 Dengan mempergunakan prana (energi) melalui :

 Meditasi

 Menghidupkan chakra.

 Menghidupkan aksara dalam diri  Dengan dasa bayu

 Dengan kanda pat.  Dan Lain Sebagainya.

2.3 Jenis-jenis Usada Bali

Pada dasarkan usada-usada tersebut dapat diklasi kasi ke dalam beberapa  jenis, di antaranya Usada buduh, Usada Rarae, Usada kacacar, Usada Tuju, usada Paneseb, Usada Dalem, Usada Ila, Usada bebai, Usada Ceraken Tingkeb, Usada Tiwang, Usada Darmosada, Usada Uda, Usada Indrani, Usada Kalimosada, Usada Kamarus, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala, Usada Rukmini Tatwa, Usada Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda Kecapi, Usada Cukil Daki, Usada Kuda, Usada Pamugpug, dan Usada Pamugpugan. Usada yang terekam dalam lontar-lontar tersebut sangat menarik dan berbagai obat yang disajikan dijelaskan dengan sangat rinci dan renik. Masing –  masing usada tersebut memiliki spesialis penjelasan tentang penyakit, bahan-bahan pembuatan obat, cara pembuatan obat, hingga cara  penggunaan obat. Dibawah ini merupakan penjelasan dari masing-masing jenis usada

(21)

1. Usada Buduh, yakni usada yang dipakai untuk pengobatan penderita  penyakit jiwa. Dalam naskah ini dijelaskan bahwa penyakit jiwa ini  bermacam-macam dan cara pengobatannya juga berbeda-besa. Dalam usada itu ada sekitar 11 jenis orang yang berpenyakit jiwa. Pertama,  penyakit jiwa yang diderita oleh orang gila yang suka bernyanyi-nyanyi. Kedua, penyakit jiwa pada orang yang perpenyakit sering menangis. Obat lainnya adalah obat untuk orang gila yang senang tertawa, orang gila yang senang bermain kotoran, orang gila yang sering disertai epilepsi, orang gila yang sering berbicara tidak karuan, orang gila yang dengan ciri yang suka tidur dan tidak mau makan, orang gila dengan ciri galak, orang gila dengan  perut bengkak, obat untuk orang gila yang umum, dan orang gila yang sering memaki-maki dukun. Adapun obat penyakit orang gila yang suka memaki-maki (dukun) atau yang dalam bahasa Bali disebut bebainan adalah daun pungut (tanaman liar di daerah tropis) yang tumbuhnya mengapit jalan masing-masing 3 helai, daun lada dakep (yang menjalar di tanah), 3 helai, 3 biji merica gundul. Obat ini disemburkan pada yang sakit, setelah itu dipijit. Setelah terlihat penyakitnya lalu ambil dan tarik dengan cepat. (2) mantranya Ih madra macah, sira anikep larane I yono....  dan diberi rajah. Obat lainnya adalah untuk mengobati orang gila dengan ciri yang suka tidur dan tidak enak makan dan minum. Obat yang harus diberikan adalah 7 helai daun sirih yang urat daun kiri dan kanan bertemu di tengah-tengah, dirajah seluruhnya, 7 butir merica, garam diminumkannya. Ampasnya dipakai untuk menyemburi seluruh ubunya. Obat untuk orang gila dengan ciri suka meratap dan menangis tidak karuan siang dan malam adalah kelapa mulung, kemiri jetung (biji buahnya satu), kemiri biasa sama-sama satu biji, bawang, mungsi, ketumbar diteteskan di hidung, di mata, dan di telinga. Ampasnya dipakai untuk membedaki seluruh tubuhnya (FS Unud, 2007, hlm.10

 — 

11).

2. Usada Rare , adalah Usada yang ditujukan untuk anak-anak. Dalam bagian ini dijelaskan tanda-tanda bayi jika terkena penyakit. Misalnya jika bayi lemah tanpa tenaga, bayi terkena penyakit upas tawun, obatnya adalah ramuan yang terdiri atas gula, sinrong , dan air jeruk nipis. Obat ini diramu lalu diminum. Obat lainnya adalah jika bayi terkena penyakit tiwang  penyu, tanda-tandanya jika tangan, kaki, dan tubuh bayi kejang-kejang,

(22)

matanya merah. Ramuan obatnya adalah tuba jenu, buah pala, kemenyan,  sarilungid , sinrong , lalu diramu dan diminum (FS Unud, 2007, hlm. 693). 3. Usada Kacacar, adalah usada yang digunakan untuk mengobati penyakit

orang sakit cacar. Dalam dunia kesehatan, sakit cacar disebut penyakit varisela yang berasal dari bahasa Latin. Penyakit ini sangat menular dan  banyak menyerang anak-anak di bawah usia 10 tahun. Pengobatan  penyakit cacar ini agak rumit karena disertai dengan upacara pengobatan dan dalam pengobatan itu harus digunakan kepeng. Pada halaman

289--290 dinyatakan “Ini kurban orang sakit kacacar, bila penyakitnya dikira

akan menjumpai kematian, upakaranya, 1 buah tumpeng brumbun, dialasi dengan daun andong merah, dialalsi dengan sengkwi yang berekor, diisi seekor daging ayam brumbun, dibelah dari punggungnya, isi jeroannya masih utuh, hanya dibelah dalam keadaan masih mentah, disertai ketupat sidapurna, diisi telur bekasem 1 butir, serta 11 buah kewangen, yang 3  buah diisi uang jepun masing-masing 1 kepeng. Yang 8 buah lagi diisi uang kepeng yang biaisa saja serta canang gantal, canang rokok, serta canang lengawangi buratwangi, panyeneng, tulung, ras, dan satu buah daksnina dengan perlengkapan secukupnya. Kurban tersebut diisi uang kepeng sebanyak 175 kepeng. Ketupatnya diisi 33 kepeng, canang diisi uang 11 kepeng, masing-masing 3 tanding (buah). Daksina tersebut diisi uang 225 kepeng.

4. Usada Tuju (Pemkab Buleleng, 2007:49), Usada ini di antaranya menyebutkan beberapa obat. Obat tuju adanya di dalam perut. Kalau mempunyai penyakit ini, obatnya jeruk 2 butir, muncuk uyah- uyah hitam 3 muncuk, kapur bubuk sedikit saja. Kamudian dimasak lalu dipergunakan mengobati si sakit disertai dengan perapalan mantra yang bunyinya antara lain, Om tuju klinglang anta, duk sateka sabrang malayu mwah po kitaa ring bali, amatenin tuju teluh trajanan. Obat lainnya yang direkam dalam usada tuju adalah obat pinggang panas. Jika sakit pinggang yang tarasa  panas sarana obatnya adalah isi buah kemiri, beras yang telah direndam,  bawang merah yang dibakar (metambus). Lalu obat ini dihaluskan dan digunakan dengan menyemburkan ke pinggang yang sakit. Obat badan  panas diobati dengan sarana kulit kayu puri, nasi yang dijemur yang masih mentah, lalu kedua benda itu digiling dan cara menggunakannya dengan

(23)

membedaki badan yang panas tersebut. Obat menyakit lainnya adalah jika darah keluar terus menerus tanpa henti, obatnya dengan sarana tempel  perut disertai dengan perapalan “Rapet, Banyah pet, teka pet, mising ne  syanu, ya teka di tambun aku warana.” Pengobatan bermacam-macam  penyakit yang sudah disebutkan di atas harus dilakukan dengan penuh kepercayaan bahwa penyakit itu akan sembuh. Kepercayaan itu penting karena dalam tradisi usada di Bali, masyarakatnya yang beragama Hindu mempunyai keyakinan bahwa obat-obatan yang menjadi warisan nenek moyang itu menjadi bermanfaat.

5. Usada Paneseh, adalah pengobatan dan pemeliharaan untuk ibu-ibu hamil. Dalam buku Dinas Kebudayaan (2015:49) dinyatakan jika plasenta tidak keluar harus diobati dengan air tawar putih yang masih baru lalu air itu ditempatkan pada tempurung hitam lalu dirajah sangga dan minum airnya. Mantranya adalah ong luwu tumbuh di duhur batu, teka kapo blabare uli di gunung, teka anud. Untuk mengeluarkan plasenta dapat juga diobati dengan kaun kamurugan dan arak lalu diminum. Penyakit itu bisa diobati dengan jahe 7 iris, urang-aring lalu keduanya dilumatkan di depan pintu. Kemudian obat itu diminum.

6. Usada Dalem adalah pengobatan untuk penyakit dalam. Penyakit ini sangat  banyak jenisnya sehingga berakibat juga pada macam-macam pengobatan.

Dalam “Usada Dalem” di antaranya diuraikan berbagai obat yang berkaitan

dengan tubuh manusia bagian dalam, seperti penyakit terkena racun, sakit  perut, obat anyang- anyangan, perut bengkak, tanda orang meninggal, dan obat yang berkaitan dengan kesehatan alat reproduksi wanita dan pria. Misalnya obat perut bengkak dan batuk- batuk keluar nanah diobati dengan kunyit warangan, kulit pohon pule, kayu batu maswi, tumukus, 3 ketumbar, minyak kelapa lalu diminum. Daun kemiri muda, cendana, pohon kembang sepatu, maswi, kemiri lalu disemburkan (Dinas Kebudyaan, 2015: hlm. 169).

7. Usada ila, adalah usada yang digunakan untuk penyakit lepra. Jenis  penyakit ini ditandai dengan warnanya. Pada halaman 1 dinyatakan waspadailah penyakit lepra dari warnanya. Jika warnanya putih disebut ila lungsir, bila berwarna merah disebut ila brahma. Bila putih berbintik-bintik disebut ila kangka dan bila berwarna merah dan tebal dinamai ila dedek

(24)

dan bila merah dan melingkar-lingkar dengan pinggir putih disebut ila kakarangan. Jika lepra itu warnanya merah bertumpuk-tumpuk disebut ila  buta. Dalam teks tersebut berbagai ila diobati sesuai dengan jenis  penyakitnya. Salah satu jenis pengobatan jika terkena penyakit ila lungsir (Dinas Kebudyaan, 2015: hlm. 3) adalah sebagai berikut. Obat itu adalah kulit kayu pangi, kulit kayu bila, dan sinrong wayah. Lalu kulit kayu tersebut dilumatkan sampai lembut dan ditambah dengan air cuka tahun. Kemudian obat-obat itu diramu menjadi seperti bedak. Bila pengakit ila lungir dengan gejala melingkar-lingkar tebal warna putih, obatnya adalah  jahe pahit, isin orong, bunga cengkeh, cabe jawa, terusi warangan, belerang merah, dan belerang kuning lalu ditumbuk dan dicampur dengan air jeruk limau. Obat itu dipakai untuk mengolesi pada bagian tubuh yang sakit

8. Usada Bebahi, adalah usada yang khusus menjelaskan tentang seseorang yang kena santet atau guna-guna ilmu hitam. Menurut Usada Sasah Bebai tanda-tanda orang bebainan ialah orang merasakan sakit di daerah siksikan (perut diatas kemaluan, di bawah pusar). Terasa seperti ada benda keras sebesar pisang menyumbat di hulu hati.Akhirnya si sakit jatuh pingsan. Ada pula yang berasal dari nyeri, diikuti kesemutan,gelisah dan terasa sakit seperti ditusuk-tusuk di seluruh tubuh serta badan terasa bengkak. Bila sakitnya sampai ke kepala, si sakit seperti orang gila. Jika sakitnya menjalar ke pergelangan tangan, maka penderita akan kejang-kejang dan mengigau. Jika sakitnya di lidah, maka penderita akan berbicara tak karuan-karuan. Sering pula menjerit-jerit dan menangis sejadi-jadinya. Kalau penderita ini dipegang, dia akan meronta-ronta dan mengeluarkan tenaga yang luar biasa, melebihi kekuatan orang biasa.

9. Lontar usada cukil daki, menjelaskan tentang berbagai teknik pengobatan dalam berbagai jenis penyakit seperti rematik/tuju, lemah syahwat/impoten, sperma encer, sakit kusta., beberapa jenis caru yang digunakan di sawah dan tidak kalah pentingnya dicantumkan ilmu kawisesan yang wajib dimengerti dan dijalani oleh para pengusadha (balian) yang hendak mengobati dengan metode alternatif.

Selanjutnya untuk jenis-jenis Usada yang lain, diantaranya usada Paneseb, Usada Ceraken Tingkeb, Usada Tiwang, Usada Darmosada, Usada Udan, Usada Indrani, Usada Kalimosada, Usada Kamarus, Usada Kuranta Bolong, Usada Mala,

(25)

Usada Rukmini Tatwa, Usada Smaratura, Usada Upas, Usada Yeh, Usada Buda Kecapi, Usada Cukil Daki, Usada Kuda, Usada Pamugpug, dan Usada Pamugpugan telah dijelaskan langsung dengan terjemahan lontarnya masing-masing pada bagian lampiran.

2.4 Penggunaan Usada Bali di Masyarakat

Usada Bali merupakan ilmu pengobatan yang tumbuh dan berkembang Di Bali, sehingga masyrakat Bali tidak akan asing lagi dengan adanya berbagai macam  pengobatan tradisional seperti yang terdapat pada Usada Bali. Penggunaaan atau

implementasi Usada Bali di masyarakat Bali sendiri berkembang dengan adanya suatu pembicaraan dari mulut ke mulut tentang khasiat tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit tertentu. Bentuk pengobatan yang biasanya digunakan oleh masyarakat Bali ini lumayan beragam, mulai dari sediaan obat yang  berbentuk cair seperti loloh, air kumkuman, hingga campuran bahan cair lainnya. Sediaan yang berbentuk padatan atau serbuk seperti boreh  (semacam lulur),  simbuhan (campuran rempah-rempah yang dikunyag/dihaluskan) dan lain

sebagainya. Dalam Usada Bali dikenal telah beberapa jenis penyakit beserta dengan  pengobatan yang dilakukan dengan tradisional serta bahan-bahanya pun diperoleh dari alam. Penyakit-penyakit yang diuraikan dalam Usada Bali diberi nama sesuai dengan daerahnya (Bali) lokal dan sering dilakukan atau digunakan oleh masyarakat Bali. Adapun beberpa penyakit dan obatnya yang lumrah atau lazim digunkan oleh masyarakat menurut Usada Bali dikelompokkan menjadi beberpa jenis penyakit yaitu sebagai berikut :

A. Kelompok Penyakit Kulit :

1. Tilas Naga

 Bahan Obat Luat: Kules lelipi (kulit ular), Daun Nasi-Nasi, Injin, Kunyit, Hati ayam Bihing (merah) dibakar.

 Cara Pembuatan : Semua bahan obat tersebut di gerus (Ulig) ditambah air panas, setelah itu disaring. Air saringannya ditambahkan bedak. Dipakai sebagai bedak pada kulit yang sakit.

(26)

 Cara Pembuatan : Kunyit (kunir) dikikih (diparut), lunak, gula bali, dan madu di gerus dan ditambahkan air angat satu gelas kemudian disaring. Air saringannya diminum 3 X sehari (Pagi, Sore, dan Malam).

2. Tilas Bunga

 Bahan Obat Luar : Jahe, Kunyit (kunir), Kencur, kerikan pohon cempaka, jajan begina matah dibakar, air cuka.

 Cara Pembuatan : Jahe, Kunir, Kencur, Kerikan Pohon Cempaka, Jajan  begina digerus (ulig) ditambah air cuka kemudia disaring. Air saringan

dipakai obat Oles pada kulit yang sakit.

 Obat Dalam : Padang Sendok, Lamongan, Temu-temu, madu, jeruk  Nipis.

 Cara Pembuatan : Padang Sendok, Lamongan digerus ditambahkan air angat satu gelas kemudian airnya diperas. Air perasan ditambahkan air  jeruk nipis dan madu, diminum 3 kali.

3. Penyakit Lepra

 Bahan Obat : Hong taen sapi, hong tiing, hong telagi, hong dedalu, hong  bulan, buni selem, umbi game, lunak tanek selem, cuka belanda, wiski.  Cara Pembuatan : Hong taen sapi, hong tiing, hong telagi, hong dedalu,

hong bulan, buni selem, umbi game, lunak tanek selem, semua bahan tersebut digerus sampai halus kemudian disaring dan ditambahkan cukabelanda, dan wiski. Catatan dilakukan pembersihan (lukat) di Pemuhun (tempat Pembakaran jenazah; dan disertai dengan mengaturkan caru.

4. kusta, bulenan (kurap), dan Lepra.

 Bahan Obat Dalam : Buah jebug + Kakap Sedah + Buah Base + Gambir

 Cara Pembuatan : Buah jebug + Kakap Sedah + Buah Base + Gambir digerus sampai alus kemudian ditambahkan air panas secukupnya

(27)

disaring; airnya diminum satu sendok makan setiap hari 3 kali (Pagi, Siang, dan Sore).

 Obat Luar : Kakap sedah + Jahe + Isen Kapur + Kesune Jangu + Akah Paku Dukut + Inan Kunyit.

 Cara Pembuatan : Kakap sedah + Jahe + Isen Kapur + Kesune Jangu + Akah Paku Dukut + Inan Kunyit semuanya digerus dipakai boreh.

5. Alergi Kulit

 Bahan Obat : Kakap Base + Inan Kunyit + Dakep-dakep

 Cara Pembuatan : Kakap Base + Inan Kunyit + Dakep-dakep digerus kemudian ditambahkan air panas disaring diminum sebagai loloh.

B. Kelompok Penyakit Saluran Pernapasan :

1. Bengek (Sulingan)

 Bahan Obat : Air Bungkak (kelapa Muda), Daun Kesimbukan, Daun Pancar Sona, Sari Kuning, Air Damuh.

 Cara Pembuatan : Air Bungkak (kelapa Muda), Daun Kesimbukan, Daun Pancar Sona, Sari Kuning direbus. Airnya disaring ditambahkan air Danuh dipakai Tutuh (obat masuk melalui hidung).

2. Batuk Kering

 Obat Dalam : Bunga belimbing Buluh, Daun Pancar Sona, Bawang Metambus, Daun Sulasih mihik, Kencur. Jeruk nipis.

 Cara Pembuatan : Bunga belimbing Buluh, Daun Pancar Sona, Bawang Metambus, Daun Sulasih mihik, Kencur ditumbuk dimasukkan dalam kantong plastik kemudian dikukus setelah itu diperas. Air perasannya ditambahkan jeruk nipis diminum 3 X dalam sehari.

 Obat Luar : Biji Nangka, Mesui, Jebuharum, jahe

 Cara Pembuatan : Biji Nangka, Mesui, Jebuharum, jahe digerus (ulig) ditempelkan pada dada (ulu hati).

(28)

 Obat Dalam : Daun Belimbing Besi, Kunir, Kulit Kelapa Ditambus, Bawang ditambus, Lunak.

 Cara Pembuatan : Daun Belimbing Besi, Kunir, Kulit Kelapa Ditambus, Bawang ditambus, Lunak. Digerus (ulig) ditambahkan air Panas, kemudian disaring. Air saringannya diminum.

 Obat Luar : Bungkil Biu dang saba, Bawang metambus, kepik Waru, minyak kelapa bali.

 Cara pembuatan : Bungkil Biu dang saba, Bawang metambus, kepik Waru digerus kemudian ditambahkan minyak kelapa bali dipakai obat tempel pada tulang Gihing.

4. Penyakit saluran Pernapasan

 Bahan Obat Luar : Liligundi Sekemulan + Kesuna Jangu + Kencur + Beras

 Cara Pembuatan : Liligundi Sekemulan + Kesuna Jangu + Kencur + Beras digerus sampai alus ditambahkan air panas secukupnya.

5. Penyakit batuk Berdarah

 Bahan Obatnya : (Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Minyak Dehe digunakan sebagai loloh).

C. Kelompok Penyakit Perut :

1. Buh (Perut Membesar)

 Bahan Obat : Biji Tabu (waluh), Pepaya matang, Kentang, Wortel, ½ sendok cuka, ½ sendok brem, ½ kecap manis.

 Cara Pembuatan : Biji Tabu (waluh) dinyanyah kemudian digerus, Pepaya matang, Kentang, Wortel dikihkih kemudian dikukus airnya diambil ditambahkan ½ sendok cuka. ½ sendok brem, ½ kecap manis, lalu diminum untuk obat.

(29)

2. Mag.

 Bahan Obat Dalam : Ketela Bun (rambat), Garam sedikit, Air Titisan.  Cara Pembuatan : Ketela Bun (rambat) diparut, ditambahkan Garam

sedikit, Air Titisan kemudian dimakan sehari empat kali.

 Obat Luar : Kulit manggis, Kesuna Jangu, Abu (arang), minyak kelapa  bali.

 Cara Pembuatan : Kulit manggis, Kesuna Jangu, Abu (arang) digerus sampai halus kemudian ditambahkan minyak kelapa bali ditempelkan  pada ulu hati.

3. Perut Panas dan Atau dingin karena infeksi.

 Bahan Obat : Bidara Upas

 Cara Pembuatan : Bidara Upas Direndam Dengan Air Panas, setelah dingin diminum dengan dosis tiga gelas dalam satu hari.

4. Berak Darah

 Bahan Obatnya : Sri Kaya Masak + Es Batu sampai dingin, kemudian dimakan. Babakan Jati + Bawang Adas + asaban Cenana digerus sampai alus kemudian disaring dijadikan loloh.

5. Perut Sakit :

 Bahan Obat : Kerikan Buah + Kerikan Gedang + Bangle Tiga Iria + Uyah Areng.

 Cara Pembuatan : Kerikan Buah + Kerikan Gedang + Bangle Tiga Iria + Uyah Areng dipapak disimbuhkan dibagian perut yang sakit.

D. Kelompok Penyakit Tulang :

 Bahan Obat Luar : Akar Kayu Tulang, Akar Sambung Tulang, Akar kayu Tiwang, Akar liligundi, kelapa ental, sindrong jangkep.

 Cara Pembuatan : Akar Kayu Tulang, Akar Sambung Tulang, Akar kayu Tiwang, Akar liligundi, kelapa ental, sindrong jangkep digerus kemudian digoreng dipakai untuk boreh pada bagian yang sakit. Bata

(30)

merah digambar dengan Ongkara dipanaskan dan diatasnya diisi daun liligundi secukupnya dan diinjak dengan kaki yang sakit sampai keluar air pada kaki yang sakit.

 Obat Dalam : Daun Paye Puuh, Kuncuk Pule, Daun Ginten Cemeng, Temukus, akah kayu angket, temu ireng, jahe pahit

 Cara Pembuatan : Daun Paye Puuh, Kuncuk Pule, Daun Ginten Cemeng, Temukus, akah kayu angket, temu ireng, jahe pahit digerus kemudian ditambahkan air panas secukupnya dan disaring. Air saringannya diminum 3 kali dalam sehari.

E. Kelompok Penyakit Kepala :

1. Puruh atau Belahan

 Obat Luar : kulit telur ayam, daun sembung, mesui, cekuh nunggal,  buah base, daun dagdag.

 Cara Pembuatan : kulit telur ayam, daun sembung, mesui, cekuh nunggal, buah base digerus sampai halus kemudian ditempelkan pada kepala ditutup dengan daun dagdag. Catatan dalam pengobatan tidak  boleh kena asap, merokok, kena air. Dan untuk obat urutnya dipergunakan bawang merah, kayu putih, limo diurut pada tulang  belakang (tulang gihing).

2. Obat Rambut Rontok

 Bahan Obat Luar : Kelabet, daun langir, daun mangkok, lidah buaya,  putih semangka pusuh.

 Cara Pembuatan : Kelabet, daun langir, daun mangkok, lidah buaya,  putih semangka pusuh di lablab kemudian disaring, airnya dimasukkan ke dalam botol ditutup kemudian didinginkan dalam air baru dipakai dikepala sampai kena kulit kepala.

 Obat Dalam : Daun jempiring, gula bali,

 Cara Pembuatan : Daun jempiring, gula bali digerus kemudian disaring diminum.

(31)

F. Kelompok Penyakit Pada Wanita :

1. Keputihan

 Bahan Obat Luar : Daun keliki, kulit manggis, bawang merah.

 Cara Pembuatan : Daun keliki, kulit manggis, bawang merah digerus ditempelkan pada perut.

 Obat Dalam : Akah kemogan, tain yeh, umbi ikose (sejenis isen).

 Cara Pembuatan : Akah kemogan, tain yeh, umbi ikose (sejenis isen) digerus dan ditambahkan air panas secukupnya kemudian disaring dan diminum sebagai loloh.

2. Datang Bulan Tak Lancar.

 Bahan Obat Luar : temako, lunak, minyak tandusan

 Cara Pembuatan : temako, lunak, minyak tandusan digerus ditempelkan  pada pusar pada malam hari.

 Obat Dalam : daun isen, gula bali, akah biu dang saba, blangsah buah, sari kuning.

 Cara Pembuatan : daun isen, gula bali, akah biu dang saba, blangsah  buah, sari kuning digerus kemudian ditambah air panas dan disaring,

airnya diminum untuk obat.

3. Vagina Sakit

 Bahan Obat Luar : untuk Mandi : daun candi late direbus untuk air mandi.

 Untuk oles : jagung muda, gadung cina, buah kem, umbi ilak, daun ilak, semuanya direbus disaring kemudian ditambahkan dengan perbandingan 1 : 1 air mawar.

G. Kelompok Penyakit Gigi :

(32)

 Bahan Obat : Untuk gosok gigi : Getah kamboja ditambah odol atau garam. Obat kumur : Babakan ental, garam direbus, air rebusan dipakai kumurkumur. Obat oles : Daun kayu anyeket, daun tabia lombok, hatin  bawang, air cendana semua bahan digerus sampai halus.

2. Sakit Gigi Yang Berlubang

 Bahan Obat : arang Kau-kau, sembung, trusi.

 Cara Pembuatan : arang Kau-kau, sembung, trusi digerus ditambahkan air panas dijadikan obat kumur.

3. Sakit Gigi

 Bahan Obat : Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Minyak Dehe + Boton Tuwung Kanji yang Tua.

 Cara Pembuatan : Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Minyak Dehe + Botun Tuwung Kanji yang Tua di lablab, kemudian airnya disaring dipakai obat kumur. Air Lumut dipakai Kumur-Kumur.

H. Obat Untuk Vitalitas :

 Bahan Obat Dalam : Kuning Telur ayam, air kunir 1 sendok, serbuk merica, madu dicampur dijadikan satu dan diminum sebagai loloh. Kuud ental, wortel, ketela. Kelapa metunu; semuanya itu digerus kemudian dikukus, airnya diambil dijadikan loloh.

 Obat Luar : Buah Tibah dicocok dimasukkan garam, kemudian ditambus, kemudian diinjak tepat kena cekok kaki. Kelapa hijau muda+27 biji merica --- minum Mempeenak Rasa : sari bunga  pudak+madu+pijer, lalu disaring --- Dioleskan pada kelamin. Menghidupkan Penis : Lawos 3 iris+bawang Tunggal 7 iris+daun jeruju dijadikan loloh + Tuak ----minum.

(33)

 Bahan Obat : Minyak Alu, Yeh Lunak, Yeh Jeruk Purut, dipakai obatBahan Obat : Minyak Alu, Yeh Lunak, Yeh Jeruk Purut, dipakai obat oles luka. Isen, Batang jepun di lablab atau ditambus airnya dipakai obat oles luka. Isen, Batang jepun di lablab atau ditambus airnya dipakai obat oles.

oles.

J.

J. Kelompok Penyakit Mata :Kelompok Penyakit Mata :

1.

1. Mata Mata Merah Merah ::

 Bahan Obat : Air Batang Simbukan, Umbi tunjung, air kakap.Bahan Obat : Air Batang Simbukan, Umbi tunjung, air kakap. 

 Cara Pembuatan : Umbi Tunjung ditambus , ditambah air batangCara Pembuatan : Umbi Tunjung ditambus , ditambah air batang simbukan dan air kakap kemudian disaring; airnya dijadikan obat tetes. simbukan dan air kakap kemudian disaring; airnya dijadikan obat tetes. Air rebusan daun Kelor dipakai air mencuci mata setiap bangun pagi. Air rebusan daun Kelor dipakai air mencuci mata setiap bangun pagi.

2.

2. Mata Tumbuhan Mata Tumbuhan (ada (ada daging daging di di dalam dalam mata)mata)

 Bahan Obatnya : Darah Bulu ekor ayam, Darah Ekor lindung dipakaiBahan Obatnya : Darah Bulu ekor ayam, Darah Ekor lindung dipakai obat tetes mata.

obat tetes mata. 

 K.

K. Kelompok Penyakit Saluran Kencing :Kelompok Penyakit Saluran Kencing :

1.

1. Kencing Kencing DarahDarah

 Bahan Obatnya : Semangka + Gula BatuBahan Obatnya : Semangka + Gula Batu 

 Cara Pembuatan : Semangka dicocok sampai berlubang kemudianCara Pembuatan : Semangka dicocok sampai berlubang kemudian dimasukkan gula batu didiamkan selama satu hari, kemudian air dimasukkan gula batu didiamkan selama satu hari, kemudian air semangka itu diminum untuk obat.

semangka itu diminum untuk obat.

2.

2. Kencing Kencing BatuBatu

 Bahan Obatnya : Kelungah Nyuh Mulung + Bunga Gedang Renteng +Bahan Obatnya : Kelungah Nyuh Mulung + Bunga Gedang Renteng + Bawang Adas + Bulih Sutra + Jeruk Nipis.

Bawang Adas + Bulih Sutra + Jeruk Nipis. 

 Cara Pembuatan : Kelungah Nyuh Mulung dilobangi dan dimasukkanCara Pembuatan : Kelungah Nyuh Mulung dilobangi dan dimasukkan Bunga Gedang Renteng + Bawang Adas + Bulih Sutra + Jeruk Nipis, Bunga Gedang Renteng + Bawang Adas + Bulih Sutra + Jeruk Nipis, kemudian didadah sampai matang. Airnya diminum lebih kurang kemudian didadah sampai matang. Airnya diminum lebih kurang dengan dosis 2 sampai 3 kelapa dalam sehari.

(34)

3.

3. Penyakit Penyakit Kencing Kencing ManisManis

 Bahan Obatnya : Widara Upas + Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Sambi RotoBahan Obatnya : Widara Upas + Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Sambi Roto + Bidara

+ Bidara

L.

L. Kelompok Penyakit Lainnya :Kelompok Penyakit Lainnya :

10.

10. Obat Upas :Obat Upas : 

 Cara Pembuatan : Widara Upas + Jahe Pahit + Jeruk Nipis + SambiCara Pembuatan : Widara Upas + Jahe Pahit + Jeruk Nipis + Sambi Roto + Bidara Upas direbus sampai mendidih dan air tinggal Roto + Bidara Upas direbus sampai mendidih dan air tinggal sepertiganya, kemudian disaring. Air saringannya diminum sebagai sepertiganya, kemudian disaring. Air saringannya diminum sebagai obat.

obat.

10.

10. Obat Asam Urat :Obat Asam Urat : 

 Bahan Obat Luar : Babakan Juwet + Babakan Book + Babakan Jepun +Bahan Obat Luar : Babakan Juwet + Babakan Book + Babakan Jepun + Pomor Bubuk + Kesuna Jangu + Isen Pabuan + Air Cuka.

Pomor Bubuk + Kesuna Jangu + Isen Pabuan + Air Cuka. 

 Cara Pembuatan : Babakan Juwet + Babakan Book + Babakan Jepun +Cara Pembuatan : Babakan Juwet + Babakan Book + Babakan Jepun + Pomor Bubuk + Kesuna Jangu + Isen Pabuan digerus sampai alus Pomor Bubuk + Kesuna Jangu + Isen Pabuan digerus sampai alus kemudian ditambahkan air panas secukupnya disaring kemudian + Air kemudian ditambahkan air panas secukupnya disaring kemudian + Air Cuka.

Cuka.

10.

10. Obat Bengkak :Obat Bengkak : 

 Bahan Obatnya : Jabug Arum 3 Biji + Inan Kunyit + TemutisBahan Obatnya : Jabug Arum 3 Biji + Inan Kunyit + Temutis 

 Cara Pembuatan : Jabug Arum 3 Biji + Inan Kunyit + Temutis diCara Pembuatan : Jabug Arum 3 Biji + Inan Kunyit + Temutis di kunyah sampai alus kemudian disimbuhkan pada

kunyah sampai alus kemudian disimbuhkan pada tempat yang bengkak.tempat yang bengkak.

10.

10. Darah KotorDarah Kotor 

 Bahan Obat : Buah Menori (di ambil bijinya yang muda) + Pancar SonaBahan Obat : Buah Menori (di ambil bijinya yang muda) + Pancar Sona Sekembulan.

Sekembulan. 

 Cara Pembuatan : Buah Menori (di ambil bijinya yang muda) + PancarCara Pembuatan : Buah Menori (di ambil bijinya yang muda) + Pancar Sona Sekembulan di Gerus Sampai Alus ditambahkan air panas Sona Sekembulan di Gerus Sampai Alus ditambahkan air panas secukupnya, kemudian disaring. Diminum sebagai loloh.

(35)

10.

10. Obat JerawatObat Jerawat 

 Bahan Obatnya : Kakap Tabia Bun + Kesuna Jangu + Akah Paku JukutBahan Obatnya : Kakap Tabia Bun + Kesuna Jangu + Akah Paku Jukut + Inan Kunyit.

+ Inan Kunyit. 

 Cara Pembuatan : Kakap Tabia Bun + Kesuna Jangu + Akah Paku JukutCara Pembuatan : Kakap Tabia Bun + Kesuna Jangu + Akah Paku Jukut + Inan Kunyit di gerus sampai alus dijadikan boreh (bedak) pada + Inan Kunyit di gerus sampai alus dijadikan boreh (bedak) pada Jerawat.

Jerawat.

2.5

2.5 Jenis-jenis Jenis-jenis Tanaman Tanaman yang Teryang Terdapat dapat Pada Pada Usadha Usadha Bali Baik Bali Baik yang yang TelahTelah Terbukti Secara empirik dan Secara Ilmiah yang Didukung Oleh Terbukti Secara empirik dan Secara Ilmiah yang Didukung Oleh Jurnal-Jurnal Penelitian Ilmiah

Jurnal Penelitian Ilmiah

2.5.1 Tanaman yang terdapat pada Usada Bali yang Teruji secara Empiris 2.5.1 Tanaman yang terdapat pada Usada Bali yang Teruji secara Empiris 1.

1. Cempaka Cempaka Kuning, Kuning, cempaka cempaka Kuning Kuning digunakan digunakan untuk untuk badan badan sakit, sakit, ngilu ngilu dandan nyeri di seluruh bagian tubuh yang telah lama diderita dan tidak mempan nyeri di seluruh bagian tubuh yang telah lama diderita dan tidak mempan diobati. Bahan-bahan obat yang digunakan, yaitu pohon cempaka kuning, diobati. Bahan-bahan obat yang digunakan, yaitu pohon cempaka kuning,  pohon

 pohon sandat sandat (kenanga), (kenanga), pohon pohon majagaru, majagaru, pohon pohon dedak dedak dan dan ditambah ditambah berasberas merah. Semua bahan-bahan digiling halus. Setelah halus, kemudian dibungkus merah. Semua bahan-bahan digiling halus. Setelah halus, kemudian dibungkus daun pisang lalu dibakar dengan abu bara. Sewaktu diperkirakan matang, diisi daun pisang lalu dibakar dengan abu bara. Sewaktu diperkirakan matang, diisi dengan air cendana. Campuran dibedak paremkan sampai beberapa hari secara dengan air cendana. Campuran dibedak paremkan sampai beberapa hari secara tetap dan teratur (Pulasari, 2009).

tetap dan teratur (Pulasari, 2009). 2.

2. Daun Daun Intaran, Intaran, daun daun intaran intaran digunakan digunakan untuk untuk sakit sakit gila gila dengan dengan gejala gejala selalu selalu maumau melepaskan pakaian dari badannya. Bahan-bahan obat yang digunakan adalah melepaskan pakaian dari badannya. Bahan-bahan obat yang digunakan adalah daun intaran, munggi, sesawi, dan teriketuka. Bahan-bahan tersebut dibuat daun intaran, munggi, sesawi, dan teriketuka. Bahan-bahan tersebut dibuat menjadi obat tetes (Pulasari, 2009).

menjadi obat tetes (Pulasari, 2009). 3.

3. Jeruk Jeruk Nipis, Nipis, jeruk jeruk nipis nipis digunakan digunakan untuk untuk pengobatan pengobatan penyakit penyakit tuju, tuju, gila, gila, badanbadan kotor, dan gudig yang disertai kurap. Untuk pengobatan penyakit tuju dengan kotor, dan gudig yang disertai kurap. Untuk pengobatan penyakit tuju dengan gejala kaki meluang dan sakit berdenyut-denyut, bahan obat yang digunakan gejala kaki meluang dan sakit berdenyut-denyut, bahan obat yang digunakan adalah air jeruk nipis dicampur dengan serbuk batu merah dan teriketuka, adalah air jeruk nipis dicampur dengan serbuk batu merah dan teriketuka, kemudian dibuat menjadi boreh. Untuk penyakit gila dengan gejala berupa kemudian dibuat menjadi boreh. Untuk penyakit gila dengan gejala berupa  penderita berte

 penderita berteriak-teriak riak-teriak atau menjeratau menjerit-jerit it-jerit seperti seperti kesakitan, bahan kesakitan, bahan obat obat yangyang digunakan adalah jeruk nipis dicampur dengan daun keling, sesawi, dan jeruk digunakan adalah jeruk nipis dicampur dengan daun keling, sesawi, dan jeruk  purut, kemudian

 purut, kemudian dibuat dibuat menjadi obat menjadi obat tetes tetes hidung. Untuk hidung. Untuk penyakit penyakit gila dengangila dengan gejala penderita

gejala penderita selalu berbicara sendiri tak selalu berbicara sendiri tak menentu atau menentu atau tak berarti, kadangtak berarti, kadang memaki-maki, dan suka makan sesuatu yang tidak pantas untuk dimakan, bahan memaki-maki, dan suka makan sesuatu yang tidak pantas untuk dimakan, bahan obat yang digunakan adalah merica putih yang digiling halus dicampur dengan obat yang digunakan adalah merica putih yang digiling halus dicampur dengan

Referensi

Dokumen terkait

Diagnosis dari kusta adalah dijumpainya satu atau lebih tiga tanda kardinal yaitu; 1) Kelainan kulit berupa hipopigmentasi atau eritematos yang mati rasa, 2) Penebalan saraf tepi

Pasien didiagnosis dengan kusta atau morbus hansen karena memenuhi kriteria diagnosis untuk penyakit kusta, yaitu terdapat salah satu atau lebih gejala

Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruanG. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau

Ketika suami isteri menemukan pada salah satu pasangannya penyakit gila, jidam, kusta, atau isteri menderita tumbuh tulang dalam lubang kemaluan yang menghalangi

Penyakit kusta atau morbus Hansen merupakan infeksi granulomatosa kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae , terutama menyerang saraf perifer dan kulit,

Berdasarkan kamus Kesehatan dan Kedokteran sembuh bermaksud pulih dari suatu penyakit.Membaik pulih tanda-tanda atau gejala penyakit selama kita melakukan

Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatuc. bagian, ikhtisar,

Bagaimana penjelasan penyakit tersebut dapat menimbulkan tanda dan gejala sesuai kasus yang didapatkan Talasemia dapat muncul akibat perpindahan atau delesi rantai globin alfa ataupun