1
Banyak cara dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dalam memenangkan persaingan, salah satunya dengan mengembangkan perusahaan yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan nilai perusahaan. Salah satu strategi manajemen untuk membuat perusahaan tetap hidup dan berkembang adalah dengan melakukan ekspansi atau perluasan usaha. Menurut Riyanto (1995), ekspansi dimaksudkan sebagai perluasan modal, baik perluasan modal kerja saja, atau modal kerja dan modal tetap, yang digunakan secara tetap dan terus menerus di dalam perusahaan (p.301). Diharapkan dalam melakukan ekspansi, perusahaan dapat memperbesar kemungkinan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan ekonomis seperti pembelanjaan yang ekonomis, manajemen yang ekonomis, pembelian dan penjualan yang ekonomis, dan adanya produksi yang ekonomis (Riyanto 1995:304-305).
Dibutuhkan dana yang sangat besar untuk suatu perusahaan dapat melakukan ekspansi, sehingga perusahaan harus memperoleh sumber dana yang kuat. Sumber dana perusahaan untuk melakukan ekspansi berasal dari sumber internal perusahaan dan sumber eksternal perusahaan. Sumber internal berupa laba/profit perusahaan dan cadangan ekspansi yaitu dana khusus yang dikumpulkan untuk melakukan ekspansi. Sedangkan dana eksternal berupa sumber dana yang berasal dari luar perusahaan yaitu kredit bank, kredit penjualan, kredit jangka menengah dan lain-lain.
Penggabungan beberapa usaha merupakan bentuk ekspansi yang dianggap sebagai wacana untuk mencapai tujuan dan kepentingan usaha yang memberikan pertumbuhan yang relatif cepat atau memenangkan pangsa pasar baru sehingga lebih menarik dibandingkan pengembangan usaha secara normal. Pada dasarnya penggabungan usaha merupakan bentuk penggabungan satu perusahaan dengan perusahaan lain dalam rangka mendapatkan pengendalian atas aktiva maupun operasional. Bentuk penggabungan usaha yang sering dilakukan dalam dua dekade
terakhir ini adalah merger dan akuisisi di mana strategi ini dipandang sebagai salah satu cara untuk mencapai beberapa tujuan yang lebih bersifat ekonomis dan jangka panjang (Dharmasetya dan Sulaimin, 2009).
Akuisisi adalah pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham atau asset suatu perusahaan oleh perusahaan lain dan dalam peristiwa ini baik perusahaaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah (Moin 2007:8). Pada umumnya perusahaan pengakuisisi/akuisitor memiliki ukuran yang lebih besar dibanding perusahaan yang diakuisisi. Akuisisi pada umumnya bertujuan meningkatkan nilai perusahaan, dilihat melalui profit dan nilai saham, sehingga membantu manajemen untuk melakukan tugasnya yaitu meningkatkan kekayaan pemegang saham.
Menurut Brown dalam bukunya Mergers and Acquisitions Vs Strategic Alliances, salah satu keuntungan melakukan akuisisi adalah meningkatnya nilai perusahaan. Hal ini dikarenakan melakukan akuisisi akan mengefisiensikan biaya dan meningkatkan profit. Nilai perusahaan dapat dilihat dari besarnya profit yang dihasilkan perusahaan dan harga saham yang ada di Bursa Efek. Penilaian perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa model pendekatan. Beberapa model-model pendekatan menurut Moin (2007:157):
Model Pertumbuhan Dividen, model ini memerlukan input data berupa jumlah dividen yang dibayarkan dan men-discounted dengan cost of equity untuk menentukan nilai ekuitas, beberapa variasi model ini adalah apabila dividen tersebut mengalami pertumbuhan sangat tinggi dan pertumbuhan konstan.
Discounted Cash Flow memerlukan input berupa perkiraan cash flow dimasa yang akan datang dan di-discounted dengan biaya modal (cost of capital). Selanjutnya untuk menentukan nilai ekuitas, nilai perusahaan ini harus dikurangkan dengan nilai pasar hutang.
Price Earning Ratio pendekatan ini hanya memerlukan satu periode prakiraan harga saham dan prakiraan laba per lembar saham.
Return on investment pendekatan ini memerlukan input data berupa prakiraan tingkat pengembalian investasi (ROI) dan prakiraan laba sebelum bunga dan pajak untuk menentukan nilai perusahaan.
Dari model-model tersebut yang paling dapat mewakili besarnya profit yang dihasilkan perusahaan adalah rasio Return on Investment (ROI) sedangkan yang mewakili nilai surat-surat berharga atau saham perusahaan adalah Price Earning Ratio (PER).
Tabel 1.1
Daftar Net Income Perusahaan Semen Periode 2006-2010
Perusahaan Tahun (jutaan)
2006 2007 2008 2009 2010
Holcim Ltd (Franc Swiss) 2.719 4.545 2.226 1.958 1.621 China National Building
Material (Yuan)
489 1.149 1.873 3.078 4.743
CEMEX (Peso Mexico) 25.745 26.096 2.278 1.409 (16.5516)
Lafarge (€) 1.373 1.909 1.939 736 827
CRH plc (€) 1.211 1.428 1.262 592 432
Cimpor (€) 292 304 233 246 252
Sumber: www.idx.co.id dan www.morningstar.com
Pada Mei 2008 PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) telah mengambil alih kepemilikan dari PT Bintang Polindo Perkasa (BPP), melalui akuisisi sebuah grinding plant dengan produksi 600.000 ton per tahun. Akuisisi ini diharapkan bisa mendukung Holcim dalam memantapkan pasarnya di Pulau Jawa, khususnya Banten dan Jawa Barat. Proses pengambilalihan ini akan menciptakan keunggulan sinergi guna meningkatkan pelayanan konsumen Holcim. BPP grinding plant ini juga akan memperkuat posisi Holcim Indonesia sebagai produsen bahan bangunan berbasis semen yang terpadu dengan Holcim Beton Indonesia, salah satu produsen agregate dan beton siap pakai (sumber http://lifestyle.okezone.com/read/2008/05/09/21 /107878/holcim-rampungkan-akuisisi-bpp)
Serupa dengan Holcim Indonesia, Lafarge perusahaan semen Prancis melakukan akuisisi terhadap Larsen & Tourbro’s (L&T’s) sebuah perusahaan ready-mix concrete (RMC) sebagai bagian dari rencana ekspansi memasuki pasar dan mengukuhkan kepemimpinannya di India. Lafarge membeli perusahaan-perusahaan beton L&T yang berlokasi di pasar-pasar utama, termasuk Delhi, Kolkata, Mumbai dan Bangalore, dengan perkiraan total kapasitas 4,1 juta meter kubik di 2008. Dengan akuisisi ini Lafarge akan memimpin pasar RMC India dan merebut 25% pasar India (sumber http://www.business-standard.com/india/news/lafarge-buys-lt-concrete-for-rs-1480-cr/323020/).
Namun menurut Moin (2007) melakukan akuisisi tidak menjamin adanya peningkatan nilai perusahaan. Hal ini diperkuat oleh Selden dan Colvin (2003) bahwa 70%-80% akuisisi mengalami kegagalan, yang artinya akuisisi tidak meningkatkan kekayaan pemegang saham dan tidak menambah nilai perusahaan. Penggabungan usaha ini malah merugikan perusahaan akuisitor dan perusahaan target (perusahaan yang diakuisisi).
Melihat perbedaan pandangan tersebut, maka penulis tertarik untuk menganalisis seberapa besar pengaruh akuisisi terhadap nilai perusahaan dengan membandingkan nilai perusahaan pada sektor semen sebelum dan sesudah melakukan akuisisi. Model pendekatan untuk meneliti masalah ini yaitu Price Earning Ratio (PER) dan Return On Investment (ROI) yang penulis tuangkan dengan judul
“Analisis Perbandingan Nilai Perusahaan Akuisitor Sektor Semen Sebelum Dan Sesudah Akuisisi Periode (2006-2010)”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, penelitian dilakukan untuk meneliti nilai perusahaan sebelum dan sesudah diakuisisi. Secara spesifik, masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana nilai perusahaan berdasarkan Price Earning Ratio (PER) dan Return On Investment (ROI) sebelum mengakuisisi?
2. Bagaimana nilai perusahaan berdasarkan Price Earning Ratio (PER) dan Return On Investment (ROI) sesudah mengakuisisi?
3. Bagaimanakah perbandingan nilai berdasarkan Price Earning Ratio (PER) dan Return On Investment (ROI) sebelum dan sesudah mengakuisisi secara signifikan?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh syarat kelulusan sarjana dan mengetahui nilai perusahaan sektor semen sebelum dan sesudah diakuisisi secara spesifik. Tujuan dilakukannya penelitian adalah :
1. Untuk mengetahui nilai perusahaan berdasarkan Price Earning Ratio (PER) dan Return On Investment (ROI) sebelum mengakuisisi.
2. Untuk mengetahui nilai perusahaan berdasarkan Price Earning Ratio (PER) dan Return On Investment (ROI) sesudah mengakuisisi.
3. Untuk mengetahui perbandingan nilai perusahaan berdasarkan Price Earning Ratio (PER) dan Return On Investment (ROI) sebelum dan sesudah mengakuisisi secara signifikan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah:
1. Sebagai acuan dan masukan bagi manajemen perusahaan dalam pengambilan keputusan khususnya di bidang keuangan di masa yang akan datang.
2. Bagi penulis penelitian ini menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang manajemen keuangan, khususnya mengenai akuisisi dan dampaknya terhadap nilai perusahaan publik.
3. Bagi peneliti lain penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran serta kajian lebih lanjut mengenai akuisisi dan menambah cakrawala pengetahuan dalam prakteknya.
1.5 Kerangka Pemikiran
Akuisisi dilakukan oleh suatu perusahaan untuk memperluas dan mengembangkan usahanya. Akuisisi dapat dipandang sebagai komponen penting dalam strategi bisnis yang diterapkan oleh manajemen tingkat atas (top level management). Bila akuisisi dilakukan dengan cara membeli aktiva, maka aktiva dan kewajiban perusahaan yang diakuisisi pindah menjadi milik perusahaan akuisitor. Menurut Sudarman P.S. (Andi dan Simon, 1999:12) akuisisi didefinisikan sebagai berikut: Akuisisi merupakan suatu bentuk dari pengambilalihan (take over). Akuisisi merupakan sebuah perjanjian yang mana sebuah perusahaan membeli aset atau saham perusahaan lain atau perusahaan target, dan para pemegang saham perusahaaan berhenti menjadi pemilik perusahaan target.
Akuisisi sebagai salah satu bentuk kombinasi bisnis yang dibagi dua tipe: 1. Akuisisi finansial yaitu tindakan akuisisi terhadap suatu atau lebih perusahaan
dengan tujuan mencapai keuntungan finansial, cenderung untuk beli murah dan jual tinggi.
2. Akuisisi strategis merupakan akuisisi yang dilaksanakan bertujuan untuk menciptakan sinergi pada pertimbangan-pertimbangan jangka panjang (Marcel Go 1990: 22-23).
Suatu perusahaan dapat diakuisisi perusahaan lain dengan beberapa cara (Damodaran 2001 dalam Hadiningsih 2007), yaitu:
a. Merger
Pada merger, para direktur kedua pihak setuju untuk bergabung dengan persetujuan para pemegang saham, contohnya SMARTFREN, Bank OCBC NISP, dan Bank CIMB Niaga.
b. Konsolidasi
Peleburan dua perseroan atau lebih yang membentuk perseroan baru, contohnya Bank Mandiri.
Terjadi ketika sebuah perusahaan membeli saham perusahaan lain yang beredar tanpa persetujuan manajemen target perusahaan, contohnya PT. Carrefour Indonesia terhadap PT. Alfa Retailindo Tbk.
d. Acquisition of asset
Sebuah perusahaan membeli aset perusahaan lain melalui persetujuan pemegang saham target firm, contohnya Kraft Food Inc mengakuisisi divisi biskuit Danone Group SA’s .
Dengan dilakukannya akuisisi akan terjadi perubahan terhadap nilai perusahaan. Jadi dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuisisi adalah strategi ekspansi perusahaan dalam memperbesar kegiatan usahanya dengan tujuan meningkatkan kekayaan perusahaan.
Nilai perusahaan merupakan unsur yang sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham (Bringham dan Gapensi,1996), Semakin tinggi harga saham dan profit suatu perusahaan semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, pendanaan (financing), dan manajemen aset. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan nilai perusahaan adalah sebuah prestasi yang dapat dicapai dengan membandingkan kemampuan perusahaan dengan perusahaan lain. Nilai perusahaan dapat diketahui dengan menganalisis rasio PER dan ROI. Rasio-rasio ini didapat dengan menghitung data-data dari laporan keuangan atau financial statement.
Pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis nilai perusahaan melalui harga saham yaitu Price Earning Ratio (PER). PER menggambarkan harga saham di bursa pada tanggal neraca atau tanggal yang lain dibandingkan laba per saham selama satu periode. Menurut Tandellin (2001:243), PER merupakan ukuran harga relatif dari sebuah perusahaan. Jika PER tinggi, berarti harga saham itu mahal
atau sebaliknya. Price earning ratio merupakan hubungan antara pasar saham dengan earning per share saat ini yang digunakan secara luas oleh investor sebagai panduan umum untuk mengukur nilai saham (Garrison, 1998:788). Menurut Jogiyanto (2009:145) Price Earning Ratio (PER) dapat didefinisikan sebagai rasio yang menunjukkan berapa besar investor menilai harga saham terhadap kelipatan dari earnings. Berdasarkan pendapat di atas yang dimaksud price earning ratio adalah rasio penilaian saham dengan membandingkan harga per lembar saham dengan laba yang dihasilkan per lembar sahamnya.
Rasio ini sering digunakan oleh analis untuk menilai harga saham sebagai dasar penilaian perusahaan. Pada dasarnya PER memberikan indikasi tentang jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian dana pada tingkat harga saham dan keuntungan perusahaan pada suatu periode tertentu. Oleh karena itu rasio ini menggambarkan kesediaan investor membayar suatu jumlah tertentu untuk setiap perolehan laba perusahaan.
Selain PER rasio lain yang digunakan untuk mengukur nilai perusahaan adalah rasio Return On Investment (ROI) melalui tingkat profitabilitasnya. ROI merupakan salah satu dari rasio profitabilitas. Menurut Martono (2003:59) rasio profitabilitas terdiri dari dua jenis rasio yang menunjukkan laba dalam hubungannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukkan laba dalam hubungannya dengan investasi. Munawir juga berpendapat Return on Investment atau Return on Assets (ROA) menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan (2004:89).
Menurut Sartono (2001:123) Return On Investment atau Return On Asset menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan. ROI mengukur efektivitas dan efisiensi perusahaan dengan keseluruhan dana atau sumber daya yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan dalam usaha memperoleh laba. Dengan demikian rasio ini menghubungkan laba bersih setelah pajak yang diperoleh dari kegiatan perusahaan dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba. Jadi
semakin besar jumlah ROI maka semakin besar pula perolehan laba perusahaan yang menunjukkan peningkatan nilai perusahaan.
1.5.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang berkaitan dengan akuisisi, perusahaan akusitor dan penilaian perusahaan telah banyak dilakukan diantaranya:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Annisa MCW (2010: 21) pada perusahaan industri manufaktur dan industri lain selain kelompok perusahaan yang bergerak di bidang asuransi dan industri finance atau perusahaan perbankan dan lembaga keuangan lainnya, membuktikan bahwa kinerja keuangan yang diproksikan dengan total asset turnover (TATO), net provit margin (NPM) dan return on asset (ROA) mengalami perubahan yang berbeda-beda baik sebelum maupun sesudah merger dan akuisisi. TATO mengalami kenaikan sesudah merger dan akuisisi dibandingkan sebelum merger dan akuisisi, sedangkan NPM dan ROA mengalami penurunan sesudah merger dan akuisisi.
2. Payamta & Sholikah (2001) melukukan penelitian tentang pengaruh merger dan akuisisi terhadap kinerja perbankan di Indonesia dengan objek yang diteliti adalah 87 bank daari tahun 1990-1995 dan yang masuk sampel adalah 9 bank. Dari penelitian ini menghasilkan, tidak adanya perbedaan yang signifikan pada tingkat kinerja bank.
3. Dyaksa Widya Putra (2006) dalam “Analisis Perbandingan Kinerja Perusahaan & Abnormal Return Saham Sebelum & Sesudah Merger dan Akuisisi (di bursa efek jakarta periode 1998-2004)”, melakukan penelitian terhadap perusahaan listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang melakukan merger dan akuisisi dari tahun 2000-2002. Kinerja perusahaan publik di Bursa Efek Jakarta setelah melakukan merger dan akuisisi ternyata tidak mengalami perbaikan dibandingkan sebelum melaksanakan merger dan akusisi untuk jangka waktu satu sampai dua tahun kedepan.
4. Penelitian Yudyatmoko dan Na’im (2000) yang melakukan pengujian pada terhadap 34 kasus merger dan akuisisi selama 1989-1995 menunjukan hasil dimana tidak ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah melakukan merger dan akuisisi.
5. Tine D Langhe dan Hubert O (2001) meneliti tentang apakah akuisisi dapat mensejahterakan perusahaan yang melakukannya. Dari penelitian terhadap 143 kasus di Belgia antara tahun 1992-1994 menghasilkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Dari uraian di atas maka dapat disusun bagan kerangka pemikiran sebagai berikut:
Gambar 1.1
Bagan Kerangka Pemikiran
Keterangan garis: Variabel yang tidak diteliti Variabel yang diteliti Sumber : Moin, 2007
Berdasarkan identifikasi masalah dan kerangka pemikiran di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
“Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap nilai perusahaan sebelum dan sesudah melakukan akuisisi.”
Perusahaan Akuisitor Mengakuisisi Perusahaan Target Discounted Cash Flow Model Pertumbuhan Deviden
Laporan Keuangan dan Harga Saham Perusahaan Perbandingan Nilai Perusahaan Nilai Perusahaan Sesudah Mengakuisisi Nilai Perusahaan Sebelum Mengakuisisi Price Earning Ratio Return On Investment Model Pendekatan
1.6 Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan komparatif dan menggunakan metode statistik parametrik, yaitu suatu metode statistik yang memberikan gambaran terhadap fenomena dan hubungan, serta menguji hipotesis untuk mencari jawaban secara mendasar sebab akibat dengan menganalisis faktor-faktor penyebab tejadinya fenomena tersebut (Nazir, 1998:68). Menurut Sugiyono (2006), penelitian komparatif adalah suatu penelitian yang bersifat membandingkan.
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah membandingkan dua macam data nilai saham perusahaan dan melakukan pengujian statistik untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan yang signifikan pada nilai perusahaan sektor semen sesudah mengakuisisi. Menurut Nazir (2005:54), metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya adalah membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.
Gambar 1.2 Paradigma Penelitian
1.7 Waktu dan Tempat
Penelitian dilakukan pada perusahaan semen yang melakukan akuisisi pada tahun 2008, Pojok Bursa Universitas Widyatama, situs-situs keuangan dan bisnis (www.alacrastore.com dan www.mornigstar.com), pencarian melalui google di
Nilai Perusahaan Sebelum Akuisisi
ROI dan PER th 2006 & 2007
Current Data
ROI & PER 2008
Nilai Perusahaan Sesudah Akuisisi
ROI & PER th 2009 & 2010
www.google.com, perpustakaan Universitas Padjadjaran, dan jurnal-jurnal peneliti lain. Penelitian ini dimulai dari Oktober 2011.
Tabel 1.2 Waktu Penelitian
Kegiatan Penelitian
BulanNov Des Jan Feb
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Pencarian dan
pengumpulan data, artikel serta jurnal Pengajuan proposal Revisi bab 1 Pengajuan bab 2 Bab 3 metodologi penelitian Pengambilan data Pengolahan dan analisis data
Bab 4 hasil dan pembahasan
Bab 5 kesimpulan dan saran
Over all Sidang