BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini memilih Harian Rakyat Merdeka dan Tempo. Alasan yang cukup menguatkan penelitian ini mengapa memilih kedua Harian tersebut karena kedua media tersebut merupakan representasi Koran Politik terbitan Nasional. Tentu, dalam pemberitaan politik, pemilu dan propaganda serta secara ideologis sangat kuat. Harian Rakyat Merdeka berafiliasi pada Dahlan Iskan, sedang Tempo diketahui khalayak sebagai Koran pendukung Joko Widodo, hal tersebut diketahui dari aktifitas Goenawan Mohamad sebagai salah satu pemimpin Tempo.
Isu konglomerasi turut serta dalam dialektika pemberitaan pemilu, konglomerasi media disini dimaksudkan oleh politisi. Selain itu, isi pemberitaan kedua media tersebut sangat lugas dan tegas serta gamblang, di sisi lain cenderung manipulatif terhadap isu politk kepemilikan. Selain itu koran yang jumlah Oplahnya cukup besar serta memiliki pembaca yang mempunyai segmentasi khusus.
3.2. Paradigma
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah Paradigma Kontruktivis. Secara Ontologis, Paradigma Konstruktivis bersifat relatif, dimana Realitas dapat dipahami sebagai bentuk konstruksi mental yang diperoleh secara
alami melalui kehidupan sosial atau pengalaman dan seringkali diperlukan diantara sejumlah individu.
Secara Epistimologis, paradigma konstruktivis bersifat transaksional dan subjektif. Peneliti dan objek penelitian diasumsikan terhubungkan secara interaktif sehingga temuan dari penelitian tersebut tercipta seiring pelaksanaan penelitian. Secara Metodologis, Paradigma konstruktivisme bersifat Hermeneutikal dan dialektikal. Dimana variabel dan sifat personal dari konstruksi sosial menyebabkan konstruksi individual.
Matriks 3.1
Perbandingan Paradigma Penelitian
Keterangan Classical Paradigm Critical Paradigm
Perbedaan Ontologis
Critical Realism:
Ada realitas yang “real” yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku
universal walaupun kebenaran pengetahuan tentang itu mungkin hanya bisa diperoleh secara probabilistik.
Historical Realism :
Realitas yang teramati (virtual reality) merupakan realitas ―semu‖ yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi politik
Perbedaan Epistemologis
Dualist/objectivist :
Ada realitas obyektif, sebagai suatu realitas yang external di luar diri peneliti. Peneliti harus sejauh mungkin membuat jarak deng s ;
an obyek penelitian.
Transactionalist/ Subjectivist
Hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti selalu dijembatani oleh nilai-nilai tertentu.
Pemahaman suatu realitas merupakan value mediated
finding.
Perbedaan Aksiologis
Nilai, etika dan pilihan moral harus berada di luar proses penelitian
Peneliti berperan sebagai
disinterested scientist
Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari suatu penelitian Peneliti menampatkan
Keterangan Classical Paradigm Critical Paradigm Tujuan Penelitian:
eksplanasi, diri sebagai transformative intelectual, advokat
dan aktivis Tujuan Penelitian:
kritik sosial, transformasi,
emansipasi dan social
empowerment
Perbedaan Metodologis
Interventionist:
Pengujian hipotesis dalam struktur hipothetico deductive method; melalui lab,
eksperimen atau survey eksplanatif, dengan analisis kuantitatif
Participative:
Mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual dan multi level analysis yang 49ias dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktivis/partisipan dalam transformasi social Kriteria kualitas penelitian:
Objectivity, realibility and validity (internal dan externalvalidity)
Kriteria kualitas penelitian:
Historical situadness;
sejauh mana penelitian memperhatikan konteks historis, sosial, budaya, ekonomi dan politik Sumber: Dedy N. Hidayat, Paradigma dan Perkembangan Penelitian
Komunikasi, dalam Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, No. 3/April
1999, hal: 34-35 3.3. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan grand teory Framing Pan dan Kosicki. Metode ini diarahkan pada latar dan fenomena isu secara utuh dalam teks. Dengan demikian tidak boleh mengisolasi isu atau objek penelitian kedalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan penelitian. Proses pemberitaan dalam organisasi media akan sangat
mempengaruhi frame berita yang akan di produksinya. Proses framing dalam organisasi media menurut George Junus Aditjondro (Sobur, 2002:165), yaitu:
a. Proses framing sebagai metode penyajian realitas dimana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibalikkan secara halus, dengan memberi sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan mengunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu dengan bantuan foto, karikatur dan alat ilustrasi lainnya.
b. Proses framing bagian tak terpisahkan dari proses penyuntingan yang melibatkan semua pekerja di bagian keredaksian media cetak, redaktur, dengan atau tanpa konsultasi dengan redaktur pelaksana, menentukan apakah laporan si reporter akan dimuat ataukah tidak, serta menentukan judul yang akan diberitakan.
Proses framing tidak hanya melibatkan para pekerja media, juga pihak-pihak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu yang masing-masing berusaha ditampilkan sisi informasi yang ingin ditonjolkan (sambil menyembunyikan sisi lain). Proses framing menjadikan media massa sebagai arena dimana informasi tentang masalah tertentu diperebutkan dalam suatu perang simbolik antara berbagai pihak yang sama-sama menginginkan pandangannya.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
3.4.1. Observasi Partisipasi
Observasi partisipasi merupakan pengamatan langsung pada lokasi penelitian untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas terhadap objek penelitian. Observasi dilakukan secara langsung ke media yang menjadi objek penelitian. Dari sana peneliti dapat mengetahui seperti apa realitas kerja jurnalisme yang tergambarkan dari kedua media cetak tersebut di atas.
3.4.2 Dokumentasi
Teknik pengumpulan data lain yang peneliti gunakan adalah dengan dokumentasi, teknik ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data penelitian berdasarkan kliping koran yang terkait pemberitaan politik, terutama isu-isu berkaitan dengan kepemilikan secara politis. Selain itu data-data dari berbagai tulisan ilmiah, literatur serta laporan penelitian yang berhubungan dengan konstruksi realitas media dan analisis Framing.
4.1 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data untuk Teks, menggunakan analisis tekstual berdasarkan Framing model pan dan Kosicki. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan dan pertautan fakta kedalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai dengan perspektifnya sesuai dengan elemen Framing Pan dan Kosicki. Penonjolan merupakan suatu proses pembuatan informasi menjadi lebih bermakna. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok sudah barang tentu memiliki
peluang besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami realitas.
Dalam prakteknya, Framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isi yang lainnya, serta menonjolkan aspek isu tersebut dengan mengunakan berbagai strategi wacana seperti penempatan yang mencolok (menempatkan berita di Headline, halaman depan), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika mengambarkan peristiwa tertentu (Sobur, 2006:164).
Kesimpulannya, penelitian ini penulis menggunakan pisau analisis dari Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Mereka menjabarkan framing dari empat aspek struktur dalam berita. Empat aspek tersebut di antaranya adalah struktur sintaksis, skrip, tematik, dan struktur retoris.
a. Struktur Sintaksis
Dalam pengertian umum, sintaksis adalah susunan kata atau frase dalam kalimat. Sedangkan dalam wacana berita, struktur sintaksis terdiri atas susunan atau kerangka dari sebuah penyusunan artikel atau wacana berita. Analisis sintaksis terdiri dari: struktur piramida terbalik, yang di dalamnya memuat tentang head line, lead, background, source,
conclusion.
b. Struktur Skrip
Skrip adalah cara wartawan mengisahkan fakta.Struktur skrip dapat dilihat dari kelengkapan unsur 5W+1H : Siapa (Who), Apa
Bagaimana (How). Dengan menghilangkan salah satu dari enam kelengkapan berita tersebut, wartawan mampu menekankan atau menghilangkan bagian terpenting dalam mengisahkan sebuah fakta. c. Struktur Tematik
Struktur tematik digunakan untuk melihat bagaimana fakta ditulis, kalimat (proposisi) yang dipakai, serta menempatkan dan menulis pernyataan dari sumber ke dalam teks berita secara keseluruhan, pertalian atau jalinan kata yang digunakan, serta koherensi yang digunakan. Dalam menulis berita, seorang wartawan mempunyai tema tertentu untuk peristiwa dan tema inilah yang akan dibuktikan dengan susunan atau bentuk tertentu.
d. Struktur Retoris
Struktur ini menggambarkan pilihan-pilihan gaya bahasa yang disusun oleh para jurnalis dalam hubungannya dengan akibat yang diharapkan. Perangkat framing yang termasuk ke dalam struktur ini adalah leksikon, grafis, bold, underline, kapital, caption, raster, grafik,
picture, and table. Dari unsur inilah kita bisa mengetahui idiologi yang
digunakan oleh wartawan.
Dalam kaitannya dengan level pengaruh yang menentukan isi berita, framing model Zhongdang Pan dan Kosicki ini lebih cenderung menekankan bahasannya pada level pengaruh ditingkat individu aatau pada wartawan baik dalam konsepsi psikologis dan konsepsi sosiologis yang keduanya digabung dalam model frame Pan dan Kosicki. Pan dan Kosicki dalam buku analisis
framing karya Eriyanto berpendapat ‖framing dimaknai sebagai suatu strategi atau cara wartawan dalam mengkonstruksi dan memproses peristiwa untuk disajikan kepada khalayak‖.
Gambar 3.4
Struktur Framing Pan dan Kosicki
Melalui empat sruktut pembentuk frame media seperti yang diulas dalam teori framing Pan dan Kosicki di atas itulah yang akan menjadi alat analisis dalam penelitian ini, konsep pemetaan berita yang dirumuskan Pan dan Kosicki sangat memungkinkan untuk memahami realitas yang ditampilkan berkaitan dengan isu propaganda dalam pemberitaan masa kampanye Capres 2014 pada umumnya dan
Struktur Perangkat Framing Unit Yang Diamati
1.Skema Berita 7. Leksikon 8. Grafis 9. Metafora 2. Kelengkapan Berita 3. Detail 4. Koheremsi 5. Bentuk kalimat 6. Kata Ganti SINTAKSIS Cara Wartawan Menyusun Fakta SKRIP Cara Wartawan Mengisahkan Fakta TEMATIK Cara Wartawan Menulis Fakta RETORIS Cara Wartawan Menekankna Fakta
Headline, lead, latar informasi, kutipan, sumber, pernyataan, penutuup
5W=1H
Paragraf, proposisi, kalimat, hubungan, antar kalimat
Kata, idiom, gambar/foto, grafik
pemberitaan isu proganda itu sendiri khususnya. Dari data yang peneliti ambil sebagai instrument penelitian, yakni Rakyat Merdeka dan Tempo memiliki kecenderungan yang berbeda, baik dalam memaknai masing-masing Capres pada kampanye 2014 maupun dalam aspek penonjolan penulisan berita, termasuk tata letak bahasa. Sebagaimana di jabarkan dalama matriks berikut;
Judul Utama Head Line Masa Kampanye Presiden 2014 Koran Harian Rakyat Merdeka dan Tempo
Koran Harian Rakyat Merdeka Koran Harian Tempo
Judul Utama Hari/ Tanggal Judul Utama Hari/ Tanggal Jokowi Minta
Bantuan JK Prabowo ditolong Hatta
Selasa, 10 Juni
2014 Debat Perdana Capres Jokowi Ungguli Prabowo
Selasa, 10 Juni 2014
Debat Capres Tanpa Cawapres Prabowo Kecapean Jokowi Intip Contekan
Senin, 16 Juni
2014 Prabowo Konseptual Jokowi Tonjolkan Bukti Penggunaan Twiter Menganggap Jokowi Lebih Unggul
Senin, 16 Juni 2014
Buka Tabir Kasus Penculikan Wiranto Panaskan Kubu Prabowo
Jumat, 20 Juni
2014 Wiranto Sudutkan Prabowo ―DKP dibentuk Untuk Membunuh Karakter Prabowo‖
Jumat, 20 Juni 2014
Hasil Survey Capres Prabowo VS Jokowi Makin Tipis Bedanya
Jumat, 27 Juni
2014 Pemilih Jokowi ‖Kampanye Hitam Terhadap Jokowi Sembilan Kali Lebih Banyak dibanding Kepada Prabowo Jumat, 27 Juni 2014 Obor Rahmat dinyalakan Obor Rakyat Kini Punya Tandingan.
Sabtu, 28 Juni
2014 Kasus Kampanye Hitam Presiden dituding Memihak
Sabtu, 28 Juni 2014
Hasil Penelitian 200-an Psikolog Prabowo Tegas Berani Jokowi Pekerja Jujur
Jumat, 4 Juli
2014 Survey Terhadap 204 Psikolog Prabowo Otoriter, Jokowi Demokratis ―Jokowi Diyakini Mampu Melibatkan Partisipasi Masyarakat‖ Jumat, 4 Juli 2014