• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KELAYAKAN BISNIS DAN KREDIT DEBITUR, USAHA PERKREDITAN KOPERASI UNIT DESA. Trio Handoko Fakultas Ekonomi UTP - Jurusan Manajemen

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STUDI KELAYAKAN BISNIS DAN KREDIT DEBITUR, USAHA PERKREDITAN KOPERASI UNIT DESA. Trio Handoko Fakultas Ekonomi UTP - Jurusan Manajemen"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KELAYAKAN BISNIS DAN KREDIT DEBITUR, USAHA PERKREDITAN KOPERASI UNIT DESA

Trio Handoko

Fakultas Ekonomi UTP - Jurusan Manajemen

ABSTRAKSI

Dengan fasilitas kredit yang diperoleh dari unit usaha simpan pinjam KUD, masyarakat pedesaan sebagai debitur dapat mengembangkan usahanya sehingga bisa meningkatkan pendapatannya. Potensi usaha dari para debitur unit usaha simpan pinjam dianalisis dengan likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas. Kelayakan kredit diidentifikasi dengan rate of return dari kredit yang dipinjamnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua debitur likuid terhadap kreditur dan sebagian besar likuid dalam menjalankan usahanya. Seluruh debitur solvabel artinya mampu memenuhi semua kewajiban finansialnya jangka pendek dan jangka panjang. Semua debitur mempunyai rentabilitas positif, berarti memperoleh laba dari usaha yang dikelolanya. Para debitur layak meminjam kredit karena rate of return lebih tinggi dari suku bunga kredit.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendapatan masyarakat desa yang berasal dari kegiatan perdagangan, peternakan, industri rumah tangga dan kerajinan rakyat pada kenyataannya menunjukkan perkembangan yang semakin meningkat dibanding dengan pendapatan di sektor pertanian. Untuk mengembangkan kegiatan non pertanian tersebut, masyarakat desa memerlukan modal yang pada umumnya sulit disediakan sendiri. Maka dari itu masyarakat desa perlu pinjaman dari luar untuk keperluan pengembangan tersebut.

Sejak tahun 1970 pemerintah memperluas daerah jangkauan lembaga kredit formal, khususnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Koperasi Unit Desa (KUD) serta didirikannya Badan Kredit Kecamatan (BKK). Lembaga-lembaga tersebut merupakan langkah konkrit untuk menolong penduduk miskin di desa (Mubyanto dkk, 1986: 425 dan Edy Suandi Hamid, 1986: 4).

KUD sebagai salah satu lembaga koperasi mempunyai beberapa unit usaha yang tidak sama antara KUD satu dengan KUD 1ainnya, yang pada dasarnya daput digolongkan ke dalam unit usaha perdagangan, unit usaha perkreditan atau simpan pinjam, unit usaha penyaluran sarana produksi dan pembimbingan serta unit usaha jasa. Melalui unit usaha perkreditan, KUD menyalurkan berbagai jenis kredit kepada masyarakat pedesaan seperti kredit

(2)

ternak, kredit usaha taksi, kredit koperasi primer untuk anggota, kredit candak kulak dan kredit pedesaan.

B. Perumusan Masalah

Permodalan merupakan unsur yang penting dalam mendukung upaya peningkatan pendapatan dan taraf hidup masyarakat pedesaan. Kekurangan modal sangat membatasi ruang gerak dan kegiatan usaha mereka yang ditujukan untuk meningkatkan pendapatan sehingga keberadaan lembaga kredit formal di pedesaan menjadi amat penting. Salah satu lembaga perkreditan ini adalah KUD, yang melalui unit usaha simpan pinjam melayani keperluan dana pinjaman'atau pennodalan yang dibutuhkan masyarakat pedesaan.

Dengan fasilitas kredit yang diperoleh dad unit usaha simpan pinjam KUD, masyarakat pedesaan sebagai debitur (lanai memperluas dan mengembangkan usahanya sehingga bisa meningkatkan pendapatannya. Pennasalahannya adalah sebagai bedkut:

1. Seberapa besar potensi usaha para debitur yang meliputi likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas.

(3)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi potensi usaha para debitur. 2. Untuk mengetahui kelayakan kredit para debitur. D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan:.

1. Dapat memberikan sunibangan peinikiran bagi pemerintah dalam rangka penyusunan kebijakan pembangunan mengenai perkreditan pedesaan. 2. Dapat memberikan informasi kepada para peneliti untuk dikembangkan

lebih lanjut. TINJAUAN PUSTAKA 1. Laporan Keuangan

Laporan keuangan (financial statements) adalah suatu pernyataan atau statement yang menunjukkan seluk beluk badan usaha pada suatu saat tertentu atau jangka waktu tertentu yang diwujudkan dalam uang. Laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan rugi laba dan laporan perubahan modal.

Neraca (balance sheet) menunjukkan harta Benda, hutang dan modal pada suatu saat, pada suatu titik waktu biasanya pada akhir tahun buku.

Laporan rugi laba (income statement) mengikhtisarkan pendapatan dan biaya atau ongkos untuk suatu jangka waktu tertentu dan menunjukkan laba atau rugi yang dihasilkan setelah biaya dikurangkan dari pendapatan.

2. Analisis Terhadap Laporan Keuangan

Keuangan dari suatu usaha menyajikan banyak inforinasi bagi para pengelola, pemilik, lembaga pemben pinjaman dan pemerintah. Dalam mengadakan interpretasi dari laporan keuangan, para analis finansial (baik pengelola, pemilik, kreditur maupun pemerintah) memerlukan ukuran tertentu. Ukuran yang seeing digunakan dalam analisis finansial adalah “rasio” atau perbandingan, yaitu angka atau persentase yang merupakan hubungan atau perbandingan jumlah nilai-nilai suatu komponen dengan nilai-nilai pada komponen lain dalam suatu neraca atau laporan rugi laba (Ace Partadireja, 1995: 70).

Pada utnumnya, hampir semua pengelola suatu usaha menggunakan rasio likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, prefitabilitas dan efisiensi untuk memantau jalannya suatu usaha yang dikelolanya.

1) Likuiditas, alat ini menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.

2) Solvabilitas, alat ini .menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

(4)

tersebut pada saat itu dilikuidasikan, atau dapat juga dikatakan sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar semua hutang-hutangnya, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

3) Rentabilitas, yaitu kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

Alat ini berguna untuk mengukur efisiensi penggunaan modal dalam suatu perusahaan.

4) Profitabilitas, alat ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba.

Profit Margin menunjukkan besarnya laba (dalam persen) untuk setiap rupiah penjualan, dihitung dengan membanding besarnya laba dan hasil penjualan.

5) Efisiensi, alat ini menunjukkan efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki, terdiri dari Tingkat Perputaran Modal dan Tingkat Perputaran Asset.

3. Potensi Suatu Usaha

Suatu usaha dapat menambah modal yang berasal dari luar perusahaan (disebut modal asing) dengan Galan meminjam dari lembaga kredit. Sebagai calon peminjam atau calon debitur, pihak kreditur atau lembaga kredit akan mempertimbangkan dan selanjutnya mengabulk an perm ohonan kredit tersebut dengan menggunakan kriteria 5C dan melihat kemampuan calon debitur dalam memenuhi kewajiban usahanya yang dalam hal ini hutang-hutangnya. Kriteria 5C tersebut adalah Character, Capacity, Capital, Collateral dan Condition, sedangkan kemampuan calon debitur (perusahaan) dalam memenuhi kewajiban usahanya dapat diketahui dengan menggunakan analisis rasio keuangan yang meliputi likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas (Soediyono Reksoprayitno, 1992: 167-178).

Berdasarkan pada pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa potensi suatu usaha dapat dilihat dari:

1. Likuiditas, meliputi likuiditas badan usaha dan likuiditas perusahaan. 2. Solvabilitas.

3. Rentabilitas, meliputi rentabilitas ekonomi dan modal sendiri. 4. Profit margin.

5. Tingkat perputaran asset. 6. Tingkat perputaran modal. 4. Kelayakan Kredit Usaha

Penambahan modal asing oleh suatu perusahaan, secara finansial dapat menguntungkan, atau merugikan terhadap rentabilitas modal sendiri, tergantung pada rate of return dari tambahan modal asing. Tambahan modal asing akan menguntungkan apabila rate of return lebih besar dari bunga kredit,

(5)

dan sebaliknya akan merugikan apabila rate of return lebih kecil dari bunga kredit. Besarnya rate of return dapat dihitung dengan membandingkan antara bagian laba dari tambahan modal dan besarnya tambahan modal, dinyatakan dalam persentase (Bambang Riyanto, 1994: 38-40).

METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tawangmangu. Responden adalah debitur dad unit usaha simpan pinjam KUD TANI MAKMUR TAWANGMANGU.

(6)

B. Metode Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah debitur dari unit usaha simpan pinjam KUD Tani Makmur Kecamatan Tawangmangu. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling. Dari debitur unit usaha simpan pinjam KUD Tani Makmur Tawangmangu diambil sampel 30 debitur.

C. Jenis Metode Pengambilan Data

Data yang diperlukan penelitian ini adalah data primer yang bersumber dari para debitur unit usaha simpan pinjam KUD Tani Makmur Kecamatan Tawangmangu tahun 2004. adapun pengambilan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan disertai daftar pertanyaan yang telah disusun terlebih

D. Metode Analisis

Alat analisis yang digunakan dalam pcnelitian ini adalah: 1. Potensi usaha diukur dengan :

a. Likuiditas Likuiditas badan usaha: - Likuiditas badan usaha

% 100 Lancar Hutang persediaan piutang Kas x   - Likuiditas perusahaan % 100 Lancar Hutang Piutang Kas x  b. Solvabilitas x100% Hutang Aktiva c. Rentabilitas ekonomi x100% M odal Laba

(7)

d. Profit Margin x100% Penjualan

Laba

e. Tingkat Perputaran Asset Asset

Penjualan

f. Tingkat Perputaran Modal Kerja

M odal Penjualan

2. Kelayakan kredit

Layak atau tidaknya kredit diukur dari perbandingan antara rate of return dengan suku bunga kredit.

ROR = [bagian iaba atas tambahan modal/tambahan modal modal] x 100% Apabila rate of return > suku bunga berarti layak.

Apabila rate of return < suku bunga berarti tidak layak. HASIL DAN PEMBAHASAN

Debitur usaha perkreditan KUD yang diteliti adalah para peminjam dari unit usaha simpan pinjam KUD TANI MAKMUR TAWANGMANGU, berjumlah 30 debitur. Potensi usaha yang diidentifikasi adalah likuiditas, solvabilitas, rentabilitas, profit margin, tingkat perputaran asset, tingkat perputaran modal kerja kalayakan kredit diidentifikasi dad rate of return dari kredit yang dipinjamnya. Kemudian rate of return dibandingkan dengan suku bunga kredit.

A. Karakteristik Debitur 1. Jenis Usaha

Jenis usaha debitur sampel (responden) dagang, industri dan ternak. Termasuk dalam kategori dagang adalah dagang sayur, dagang bergs, dagang buah, dagang palawija. Terinasuk dalam industri adalah industri rumah tangga pembuat tempe, keripik. Termasuk dalam kategori ternak adalah ternak kambing dan ternak ayam.

Sebagian besar debitur mempunyai jenis usaha dagang yaitu ada 15 orang (50%). Debitur yang mempunyai jenis usaha ternak ada 9 orang (30%). Jenis usaha industri rumah tangga ada 6 orang (20)%.

2. Lama Mengelola Usaha

Lama mengelola usaha dari para debitur diukur dengan berapa tahun debitur menjalankan usaha. Rata-rata lama mengelola usaha dari responden adalah 6,5 tahun. Paling lama 15 tahun dan paling rendah adalah 1 tahun.

(8)

Rata-rata umur debitur adalah 40 tahun, dengan umur paling muda 25 tahun dan paling tua 55 tahun.

4. Pendidikan

Pendidikan para debitur sebagian besar SD (45%), SLTP (40%) dan yang 10% adalah berpendidikan SMTA.

5. Nilai Kredit Yang Dipinjam

Debitur sampel dalam penelitian ini adalah debitur simpan pinjam dari unit usaha perkreditan KUD Tani Makmur. Kredit yang diberikan minimal Rp. 50.000,- maksimum 15.000.000,-. Suku bunga kredit 36% pertahun.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata nilai kredit dari responden Rp. 1.090.000,- dengan kredit terendah nilainya Rp. 250.000,- dan tertinggi nilainya Rp. 2.250.000,-.

B. Potensi Usaha

Potensi suatu usaha dari para debitur (responden) unit usaha perkreditan (simpan pinjam) KUD Tani Nilakmur Tawanpnangti dapat diketahui dari:

1. Likuiditas

Likuiditas debitur yang dillitung meliputi likuiditas badan usaha dan likuiditas perusallaan. Likuiditas badan usaha adalah kemampuan suatu usaha untuk memenuhi kewajiban finansial kepada pihak luar (kreditur).

Perhitungan likuiditas badan usaha dari para debitur tampak pada tabel 1. Berdasar tabel tersebut likuiditas badan usaha paling rendah 200% dan paling tinggi 290%. Rata-rata likuiditas badan usaha adalah 226,10%. Ini berarti bahwa para debitur mampu memenuhi kewajiban finansialnya kepada kreditur.

Likuiditas perusahaan adalah kemampuan suatu usaha untuk memenuhi kewajiban finansial dalam menyelenggarakan proses produksi.

Berdasarkan perhitungan tabel 2, menunjukkan bahwa sebagian besar debitur likuid (70%), untuk likuiditas perusahaan. Ini berarti bahwa sebagian besar responden (70%) m.ampu memenuhi kewajiban finansialnya dalam menjalankan usahanya.

2. Solvabilitas

Solvabilitas adalah kemampuan suatu usaha untuk memenuhi semua kewajiban finansialnya kepada pihak luar atau kreditur.

Hasil perhitungan solvabilitas tampak pada tabel 2. berdasarkan perhitungan tersebut seluruh debitur adalah solvabel yaitu mempunyai solvabilitas di atas 100%. Rata-rata solvabilitas 128,85%. Ini berarti

(9)

seluruh debitur unit simpan pinjam dapat memenuhi kewajiban finansialnya.

3. Rentabilitas

Rentabilitas yang dihitung adalah rentabilitas ekonomi.

Rentabilitas ekonomi menunjukkan kemampuan semua modal yang ditanamkan dalam suatu usaha untuk menghasilkan laba.

Perhitungan rentabilitas ekonomi dad para responden dapat dilihat pada tabel 3.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua responden mempunyai rentabilitas ekonomi yang positif. Berarti bahwa modal yang ditanamkan oleh debitur untuk usaha yang dijalankannya menghasilkan laba. Rentabilitas ekonomi paling rendah 37,65% dan paling tinggi 90%. Rentabilitas rata-rata 64,15%.

4. Profit Margin

Profit margin adaalah laba Van° diperoleh dari satu rupiah basil penjualan.

Besarnya profit margin dari para debitur dapat dilihat pada tabel 4. berdasarkan perhilungan tersebut rata-rata besarnya profit margin untuk selurub debitur adalah 8,01%. Artinya bahwa setiap satu rupiah dari basil penjualan menghasilkan laba sebesar Rp. 0,0801. Profit margin paling rendah 5% dan paling tinggi 12,5%.

5. Tingkat Perputaran Asset

Tingkat perputaran asset adalah kemampuan asset untuk berputar dalam satu periode (satu tahun) atau kemampuan asset yang ditanamkan untuk menghasilkan pendapatan.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat perputaran asset adalah 8,03 (tabel 5) artinya asset yang ditanamkan berputar sebesar 8,03 kali dalam satu tahun. Atau setiap satu rupiah asset yang ditanamkan dalam satu tahun menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 8,03. Tingkat perputaran paling rendah 6,36 dan paling tinggi 11,08.

6. Tingkat Perputaran Modal Kerja

Tingkat perputaran modal kerja adalah kemampuan modal kerja untuk berputar dalam satu periode (satu tahun), atau kemampuan modal kerja yang ditanamkan untuk menghasilkan pendapatan.

Perhitungan tingkat perputaran modal kerja dapat diketahui pada tabel 6. Berdasarkan perhitungan tersebut rata-rata tingkat perputaran modal kerja adalah 11,78. Artinya modal kerja yang ditanamkan berputar 11,78 kali dalam satu tahun. Atau setiap satu rupiah dari modal kerja yang ditanamkan dalam satu tahun akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp.

(10)

11,78. Tingkat perputaran modal kerja yang paling rendah 9,93 kali dan paling tinggi 14,90 kali.

C. Kelayakan Kredit Debitur

Kelayakan kredit diukur dengan rate of return dari kredit, yaitu seberapa besar tingkat pengembalian dari kredit yang dipinjam oleh debitur.

Hasil penelitian menunjukkan rate of return yang terendah 37,5% dan yang tertinggi 87,5% (tabel 7). Besarnya rata-rata rate of return dari debitur 63,25%, artinya bahwa setiap satu rupiah kredit yang dipinjam oleh debitur menghasilkan laba Rp. 0,6325.

Para debitur simpan pinjam mempunyai rate of return berkisar dari. 37,5% hingga 87,5%, lebih tinggi dari suku bunga kredit yaitu 35% pertahun. Berarti para debitur layak ineminjam kredit.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasa.rkan hasil analisis mengenai potensi usaha, kelayakan kredit dan fak tor-faktor yang mempengaruhi rentabilitas ekonomi para debitur unit usaha simpan pinjam KUD dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Potensi usaha yang diidentifikasi dengan likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas menunjukkan bahwa semua debitur likuid terhadap kreditur dan sehagian besar (70%) likuid dalam menjalankan usahanya. Ini berarti bahwa semua kreditur mampu memenuhi kewajiban finansial jangka pendek kepada kreditur dan sebagian besar mampu memenuhi kewajiban finansialnya dalam menjalankan usahanya.

Seluruh debitur solvabel, artinya mampu memenuhi kewajiban finansialnya jangka pendek dan jangka panjang. Para debitur mempunyai rentabilitas positif berarti para debitur memperoleh laba dari usaha yang dikelolanya.

(11)

2. Faktor-faktor yang mempengarithi rentabilitas ekonomi adalah profit margin dan tingkal perptttaran asset lebih besar dibanding profit perputaran asset terhadap rentabilitas ekonomi.

3. Para debitur inempunyai rate of return besar dari suku bunga kredit. Berarti para debitur layak untuk kredit.

B. Saran

Saran yang diajukan dalam penelitian inn adalah:

Para debitur perlu meningkatkan potensi usahanya mengingat masih ada debitur yang likuid untuk memenuhi kewajiban finansial dalam menjalankan usahanya. Lni dilakukan dengan menambah proporsi kas atau pitttang sehingga proporsi persediaan berkurang (aktiva lancar jumlahnya tetap).

Daftar pustaka

Mubiyanto, 1995, Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan, BPFE, Yogyakarta Partadireja, 1995, Manajemen Koperasi, Cetakan Keempat, Penerbit Bharata,

Jakarta

Riyanto, Bambang, 1994, Dasar-dasar Pembeljaan Perusahaan, Edisi ketiga, Yayasan Badan Penerbit Gadjah Mada, Yoyakarta

Reksoprayitno, Sugiyono, 1992, Prinsip-prinsip Manajemen Bank Umum,

Penerapannya di Indonesia, Edisi Satu, BPFE Yogyakarta

Sartono, Agus, 1999, Manajemen Keuangan, Edisi Satu, BPFE Yogyakarta Wijaya M. Farid, 1991, Perkreditan & Bank dan Lembaga-lembaga Keuangan

Referensi

Dokumen terkait

Hak untuk memperoleh pendidikan konsumen ini dimaksudkan agar konsumen memperoleh pengetahuan maupun keterampilan yang diperlukan agar terhindar dari kerugian akibat

Hasil penelitian menunjukkan media yang terbaik untuk pemeliharaan gurame coklat adalah media dengan penambahan daun ketapang kering 10 g/40 L sintasan 55%; pertumbuhan panjang

Pada sistem yang ditawarkan ini peneliti mengajukan sistem yang ditawarkan untuk BAZNAS Musi Rawas dimana sistem yang dtawarkan ini adalah humas desa mengajukan

Peran Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang sangat berpengaruh terhadap terwujudnya koperasi-koperasi yang berkualitas terutama

Botol dan alat-alat yang digunakan dalam pembuatan media dan penanaman eksplan dicuci hingga bersih kemudian disterilkan dengan autoclave pada suhu 121 0 C dengan tekanan

Zirconia merupakan bahan keramik yang mempunyai sifat mekanis baik dan banyak digunakan sebagai media untuk meningkatkan ketangguhan retak bahan keramik lain diantaranya

Turbin pelton atau biasa disebut turbin impuls adalah suatu alat yang bekerja untuk merubah energi kinetik air yang diakibatkan karena adanya energi potensial yang dimiliki oleh

Karena setting sosial muculnya pemikiran pendidikan ketiga tokoh ini sama, maka usaha-usaha mereka dalam bidang pendidikan diarahkan pada tujuan yang sama yaitu